Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tubuh manusia tidak mungkin terhindar dari lingkungan yang


mengandung mikroba pathogen disekelilingnya. Mikroba tersebut dapat
menimbulkan penyakit infeksi pada manusia. Mikroba patogen yang ada
bersifat poligenik dan kompleks. Oleh karena itu respon imun tubuh manusia
terhadap berbagai macam mikroba patogen juga berbeda. Umumnya
gambaran biologic spesifik mikroba menentukan mekanisme imun mana yang
berperan untuk proteksi. Begitu juga respon imun terhadap bakteri khususnya
bakteri ekstraseluler atau bakteri intraseluler mempunyai karakteriskik
tertentu pula.
Tubuh manusia akan selalu terancam oleh paparan bakteri, virus, parasit,
radiasi matahari, dan polusi. Stress emosional atau fisiologis dari kejadian ini
adalah tantangan lain untuk mempertahankan tubuh yang sehat. Biasanya kita
dilindungi oleh system pertahanan tubuh, sistem kekebalan tubuh, terutama
makrofag, dan cukup lengkap kebutuhan gizi untuk menjaga kesehatan.
Kelebihan tantangan negatif, bagaimanapun, dapat menekan system
pertahanan tubuh, sistem kekebalan tubuh, dan mengakibatkan berbagai
penyakit fatal.
Respon imun yang alamiah terutama melalui fagositosis oleh neutrofil,
monosit serta makrofag jaringan. Lipopolisakarida dalam dinding bakteri
Gram negative dapat mangativasi komplemen jalur alternative tanpa adanya
antibody. Kerusakan jaringan yang terjaddi ini adalah akibat efek samping
dari mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeliminasi bakteri. Sitokin juga
merangsang demam dan sintesis protein.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian sistem imun?
2. Bagaimanakah anatomi dan fisiologi sistem imun?
3. Apa sajakah sel sistem imun?

1
4. Apa sajakah organ sistem imun?
5. Apakah fungsi sistem imun?
6. Bagaimanakah fisiologi sistem imun?
7. Bagaimanakah etiologi gangguan sistem imun?
8. Bagaimanakah patofisiologi gangguan sistem imun?
9. Apakah manifestasi gangguan sistem imun?
10. Bagaimanakah konsep asuhan keperawatan pada gangguan sistem imun?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian sistem imun?
2. Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi sistem imun?
3. Untuk mengetahui sel sistem imun?
4. Untuk mengetahui organ sistem imun?
5. Untuk mengetahui fungsi sistem imun?
6. Untuk mengetahui fisiologi sistem imun?
7. Untuk mengetahui etiologi gangguan sistem imun?
8. Untuk mengetahui patofisiologi gangguan sistem imun?
9. Untuk mengetahui manifestasi gangguan sistem imun?
10. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan pada gangguan sistem
imun?

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Fungsi sistem imun adalah melindungi pejamu dari invasi organisme
asing dengan membedakan diri (self) dari bukan diri (non-self). Sistem
semacam ini diperlukan untuk kelangsungan hidup. Sistem imun yang
berfungsi baik tidak saja melindungipejamu dari faktor eksternal seperti
mikroorganisme atau toksin tetapi juga mencegah dan menolak serangan oleh
faktor endogen seperti tumor atau fenomena autoimun.
Disfungsi atau defisiensi komponen sistem imun menimbulkan beragam
penyakit klinis dengan ekspresi dan keparahan yang bervariasi dari penyakit
atopik hingga atritis reumatoid, severe combined immunodeviciency, dan
kanker. Dalam makalah yang saya susun ini akan membahas dan
memperkenalkan fisiologi rumit sistem imun dan kelainan yang menimbulkan
penyakit hipersensitivitas dan imunodefisiensi.
Sistem imun membentuk sistem pertahanan badan terhadap bahan asing
seperti mikroorganisme (bakteria, kulat, protozoa, virus dan parasit),
molekul-molekul berpotensi toksik, atau sel-sel tidak normal (sel terinfeksi
virus atau malignan). Sistem ini menyerang bahan asing atau antigen dan juga
mewujudkan peringatan tentang kejadian tersebut supaya pendedahan yang
berkali-kali terhadap bahan yang sama akan mencetuskan gerak balas yang
lebih cepat dan tertingkat. Keimunan merujuk kepada keupayaan sesuatu
individu yang telah sembuh dari sesuatu penyakit untuk kekal sehat apabila
terdedah kepada penyakit yang sama untuk kali kedua dan seterusnya.
Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme
yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan
mengidentifikasi dan membunuh patogen serta sel tumor. Sistem ini
mendeteksi berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas, organisme
akan melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus sampai cacing parasit, serta
menghancurkan zat-zat asing lain dan memusnahkan mereka dari sel
organisme yang sehat dan jaringan agar tetap dapat berfungsi seperti biasa.

3
Deteksi sistem ini sulit karena adaptasi patogen dan memiliki cara baru agar
dapat menginfeksi organisme.
Suatu ciri sistem imun ialah keupayaan untuk membedakan bahan-
bahan yang wujud secara semula jadi atau normal (diri) dari bahan-bahan atau
agen-agen yang masuk ke dalam tubuh dari luar (bukan diri) dan
menghasilkan gerak balas terhadap bahan bukan diri saja. Ketidakwujudan
khusus suatu gerak balas terhadap diri dikenali sebagai toleransi. Pentingnya
keupayaan untuk membedakan (mendiskriminasi) antara diri dan bukan diri,
serta toleransi diri, ditunjukkan dalam penyakit-penyakit autoimun, apabila
fungsi-fungsi tersebut gagal. Penyakit-penyakit ini berhasil apabila bahan
normal tubuh dicam sebagai asing dan gerak balas imun dihasilkan terhadap
bahan-bahan tersebut. Sistem imun lazimnya amat berkesan membezakan
antara diri dan bukan diri.

B. Anatomi dan Fisiologi


1. Sel Sistem Imun
Sistem imun terdiri atas komponen spesifik dan non spesifik yang
memiliki fungsi tersendiri tetapi tumpang tindih. Sistem imun yang
diperantarai oleh antibodi yang diperantarai oleh sel menghasilkan
spesifisitas dan ingatan akan antigen yang pernah dijumpai. Meskipun
tidak memiliki spesifitas, komponen-komponen ini esensial karena
berperan dalam imunitas alamiterhadap beragam mikroorganisme
lingkungan.
Komponen selular utama sistem imun adalah monosit dan
makrofag, limfosit dan golongan sel granulositik, termasuk neutrofil,
eosinofil dan basofil. Fagosit mononukleus berperan sentral dalam respon
imun. Makrofag jaringan berasal dari monosit darah. Sebagai respon
terhadap rangsangan antigen makrofsg menelan antigen tersebut
(fagositosis) dan kemudian mengolah dan menyajikannya dalam bentuk
yang dapat dikenali oleh limfosit T.
Limfosit bertanggung jawab mengenali secara spesifik antigen dan
bentuk ingatan imunologis, yaitu ciri imunitas adaptif. Sel-sel ini secara

4
fungsional dan fenotipik dibagi menjadi limfosit B yang berasal dari
bursa limfosit T yang berasal dari timus.
Null cell merupakan 75% limfosit darah yaitu limfosit T dan 10% -
15% adalah limfosit B, sisanya bukan limfosit B atau T. Null cell
mungkin mencakup berbagai jenis sel termasuk suatu kelompok yang
dinamai Natural Killer (NK Cells).
Leukosit polimorfonukleus (neutrofil) adalah sel granulosotik yang
berasal dari sumsum tulang dan beredar dalam darah dan jaringan. Fungsi
utamanya adalah fagositosis non-spesifik antigen dan destruksi partikel
asing atau organisme.
Eosinofil sering ditemukan ditempat peradangan atau rektivitasi
imun dan berperan penting dalam pertahanan pejamu terhadap parasit.
Eosinofil memperlihatkan fungsi modulatorik atau regulatorik dalam
berbagai jenis peradangan.
Basofil berperan penting dalam respon alergik fase cepat dan
lambat. Sel-sel ini mengeluarkan banyak mediator poten pada penyakit
peradangan imunologis.
2. Organ Sistem Imun
Semua sel sistem imun berasal dari sumsum tulang. Stem cells
pluripoten berdiferensiasi menjadi limfosit, granulosit, monosit, eritrosit,
dan megakariosit. Defisiensi dan disfungsi stem cells atau berbagai
turunan sel yang berkembang darinya menyebabkan defisiensi imun
dengan beragam ekpresivitas dan keparahan
Timus yang berasal dari kantong faring ketiga dan keempat pada
mudigah, berfungsi menghasilkan limfosit T dann merupakan tempat
diferensiasi awal limfosit T.
Getah bening berbentuk kacang kecil berbaring disepanjang
perjalanan limfatik. Terkumpul dalam situs tertentu seperti leher, aksila,
selangkangan dan daerah para-aorta. Pengetahuan tentang situs kelenjar
getah bening yang penting dalam pemeriksaan fisik pasien.

5
C. Fungsi Sistem Imun
1. Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit menghancurkan dan
menghilangkan mokroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit,
jamur dan virus) yang masuk kedalam tubuh.
2. Menghilangkan jaringan atau sel yang mati atau rusak untuk memperbaiki
jaringan.
3. Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal.

D. Fisiologis Sistem Imun


1. Imunitas Bawaan dan Didapat
Organisme hidup memperlihatkan dua tingkat respon terhadap
invasi eksternal. Sistem imun bawaan (innate) alami dan sistem adaptif
yang bersifat didapat. Imunitas bawaan terdapat sejak lahir, cepat
dimobilisasi dan aktivitasnya bersifat non-spesifik. Permukaan kulit
berfungsi sebagai lini pertahanan pertama sistem imun bawaan,
sementara enzim, jalur sistem komplemen alternatif, protein fase-akut,
sel NK, dan sitokin membentuk lapisan pertahanan tambahan.
Sistem imun adaptif ditandai oleh spesifisitas terhadap benda
asing dan ingatan imunologis yang memungkinkan terjadinya respon
yang lebih intensif terhadap pertemuan berikutnya dengan benda yang
sama atau terkait erat. Introduksi suatu rangsangan ke sistem imun
adaptif memicu suatu rangkaian kompleks proses yang menyebabkan
pengaktifan limfosit.
2. Antigen (Imunogen)
Zat asing yang dapat memicu respons imun disebut antigen atau
imunogen. Imunogenisitas mengisyaratkan bahwa zat tersebut memeiliki
kemampuan untuk bereaksi dengan produk-produk sistem imun adaptif.
Sebgian besar antigen merupakan protein, meskipun karbohidrat murni
juga dapat berlaku sebagai antigen.
Masuknya zat melalui mukosa (saluan napas atau cerna)
merangsang pembentukan antibodi lokal. Antigen larut diangkut ke

6
jaringan limfe regional melalui pembuluh limfe aferen sementara antigen
lainnya diangkut oleh sel dendritik fagositik.
Organ limfoid perifer regional dan limpa adalah tempat bagi
respon imun utama terhadap antigen oleh limfosit dan sel penyaji antigen
(antigen presening cell, APC).
3. Respon Imun
Untuk mengenali dan kemudian mengeliminasi antigen asing,
jaringan kompleks yang terdiri atas sel, organ, dan faktor biologis
spesifik diperlukan. Interaksi selular yang kopmleks memerlukan
lingkungan mikro khusus tempat sel dapat bekerja sama secara efisien.
Baik sel B maupun sel T harus bermigrasi keseluruh tubuh untuk
meningkatkan kemungkinan bawhwa sel-sel tersebut menemukan antigen
yang spesifisitasnya dimiliki kedua sel tersebut.
Respon imun terhadap antigen dalam darah biasanya dimulai di
limpa, sedangkan respon jaringan terhadap mikroorganisme terjadi
dikelenjar limfe lokal. Antigen yang dijumpai melalui rute inhalasi atau
ingesti mengaktifkan sel-sel dijaringan limfoid terkait mukosa.

E. Etiologi Gangguan Sistem Imun


Sistem kekebalan tubuh kurang aktif bisa menyebabkan:
1. Immune deficiency conditions adalah kelompok besar penyakit sistem
kekebalan tubuh yang terdiri dari berbagai macam penyakit yang
menekan sistem imun. Seringkali penyebab immune deficiency
conditions didasari oleh penyakit kronis. Gejala-gejala dari immune
deficiency conditions adalah sama dengan penyakit yang mendasarinya.
2. SCID (Severe Combined Immunodeficiency) adalah gangguan sistem
imun yang diturunkan. Penyebab SCID adalah serangkaian kelainan
genetik, terutama dari kromosom X. Beberapa jenis infeksi yang
berulang umum terjadi pada orang yang menderita SCID. Selain itu,
penderita juga rentan terhadap meningitis, pneumonia, campak, cacar air.
Penyakit sistem imun SCID pada anak akan mulai terlihat dalam 3 bulan
pertama kelahiran.

7
3. HIV/AIDS adalah masalah kegagalan sistem imun yang serius.
Merupakan penyebab terbanyak kematian. AIDS akan terjadi pada tahap
akhir dari perkembangan HIV. Kesehatan klien akan memburuk secraa
perlahan. AIDS akan membuat penderita rentan pilek dan flu dan yang
serius seperti pneumonia dan kanker.

Sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif bisa menyebabkan:


1. Alergi (yang disebabkan oleh jenis makanan, obat-obatan, sengatan
serangga atau zat tertentu) bisa didefinisikan sebagai respon sistem
kekebalan tubuh yang berlebihan terhadap zat yang umumnya tidak
berbahaya. Ada banyak alergen. Dalam banyak kasus, ada lebih dari satu
alergen yang merangsang reaksi alergi. Gejala alergi yang sering
merupakan masalah ringan.
2. Anafilaksis adalah bentuk alergi yang serius dan ekstrim. Alergen dari
makanan, obat-obatan atau gigitan serangga, bisa memicu dan
menyebabkanserangkaian gejala fisik yang tidak menyenangkan. Ruam
gatal, tenggorokan bengkak dan penurunan tekanan darah merupakan
gejala umum anafilaksis.
3. Asma adalah gangguan paru-paru kronis yang disebabkan peradangan
pada saliran udara. Alergen, iritasi atau bahkan stimulan seperti aktivitas
fisik dapat memicu peradangan. Gejala asma meliputi mengi, batuk,
sesak napas, sesak dada.
4. Penyakit autoimun adalah sekelompok gangguan sistem imun. Sel-sel
sistem imun salah menafsirkan sinyal. Dan mulai menyerang sel-sel
tubuh itu sendiri.

Gangguan sistem kekebalan tubuh lainnya:


1. Chediak Higashi Syndrome.
2. Common Immunodeficiency Variable.
3. Hay Fever.
4. Hives.
5. HTLV (Human T-lymphotropic Virus Type 1).
6. Hyper-IgE Syndrome (Hyperimmunoglobulin E Syndrome).

8
7. Hyper-IgM Syndrome (Hyperimunoglobulin M Syndrome).
8. Primary Immune Deficiency.
9. Selective IgA Defisiensi (Selective Immunoglobulin A Defisiensi).
10. Alergi Kulit.
11. XLA (X-Linked Agammaglobulinemia).

F. Patofisiologi Gangguan Sistem Imun


1. Usia
Frekuensi dan intensitas infeksi akan meningkat pada orang yang
berusia lanjut dan peningkatan ini disebabkan oleh penurunan untuk
bereaksi secara memadai terhadap mikroorganisme yang
menginfeksinya. Produksi dan fungsi limfosit Tdan B dapat terganggu
kemungkinan penyabab lain adalah akibat penurunan antibodi untuk
membedakan diri sendiri dan bukan diri sendiri.
Penurunan fungsi sistem organ yang berkaitan dengan
pertambahan usia juga turut menimbulkan gangguan imunitas. Penurunan
sekresi serta motilitas lambung memungkinkan flora normal intestinal
untuk berploriferasi dan menimbulkan infeksi sehingga terjadi
gastroenteritis dan diare.
2. Gender
Kemampuan hormone-hormon seks untuk memodulasi imunitas
telah diketahui dengan baik. Ada bukti yang menunjukkan bahwa
estrogen memodulasi aktifitas limfosit T (khususnya sel-sel supresor)
sementara androgen berfungsi untuk mempertahankan produksi
interleukin dan aktifitas sel supresor. Efek hormon seks tidak begitu
menonjol, estrogen akan memgaktifkan populasi sel B yang berkaitan
dengan autoimun yang mengekspresikan marker CD5 (marker antigenic
pada sel B). Estrogen cenderung menggalakkan imunitas sementara
androgen bersifat imunosupresif. Umumnya penyakit autoimun lebih
sering ditemui pada wanita dari pada pria.

9
3. Nutrisi
Nutrisi yang adekuat sangat esensial untuk mencapai fungsi imun
yang optimal. Gangguan imun dikarenakan oleh defisiensi protein kalori
dapat terjadi akibat kekurangan vitamin yang diperlukan untuk
mensintesis DNA dan protein. Vitamin juga membantu dalam pengaturan
poliferasi sel dan maturasi sel-sel imun. Kelebihan atau kekurangan
unsur-unsur renik (tembaga, besi, mangan, selenium atau zink) dalam
makanan umumnya akan mensupresi fungsi imun Asam-asam lemak
merupakan unsur pembangun (building blocks) yang membentuk
komponen structural membrane sel. Lipid merupakan prekursir vitamin
A,D,E, dan K disamping prekursir kolesterol. Jika kelebihan maupun
kekurangan asam lemak ternyata akan mensupresi fungsi imun.
Deplesi simpanan protein tubuh akan mengakibatkan atrofi
jaringan limfoid, depresi respon anti bodi, penurunan jumlah sel T yang
beredar dan gangguan fungsi fagositosik sebagai akibatnya, kerentanan
terhadap infeksi sangat meningkat. Selama periode infeksi dan sakit yang
serius, terjadi peningkatan kebutuhan nutrisi yang potensialuntuk
menimbulkan deplesi protein, asam lemak, vitamin, serta unsur-unsur
renik dan bahkan menyebabkan resiko terganggunya respon imun serta
terjadinya sepsis yang lebih besar.
4. Faktor -Faktor Psikoneuro Imunologik
Limfosit dan makrofag memiliki reseptor yang dapat bereaksi
terhadap neurotransmitter serta hormon-hormon endokrin.Limfosit dapat
memproduksi dan mengsekresikan ACTH serta senyawa-senyawa yang
mirip endokrin.
Neuron dalam otak, khususnya khusunya dalam hipotalamus,
dapat mengenali prostaglandin, interferon dan interleukin di samping
histamine dan serotoninyang dilepaskan selama proses inflamasi.
Sebagaimana sistem biologi lainnya yang berfungsi untuk kepentingan
homoestasis, sistem imun di integrasikan dengan berbagai proses
psikofisiologic lainnya dan diatur serta dimodulasikan oleh otak.

10
Di lain pihak, proses imun ternyata dapat mempengaruhi fungsi
neural dan endokrin termasuk perilaku. Jadi, interaksi sistem saraf dan
system imun tampaknya bersifat dua arah.
5. Kelainan Organ yang Lain
Keadaan seperti luka bakar atau cedera lain, infeksi dan kanker
dapat turut mengubah fungsi system imun. Luka bakar yang luas atau
faktor-faktor lainnya menyebabkan gangguan integritas kulit dan akan
mengganggu garis pertama pertahanan tubuh hilangnya serum dalam
jumlah yang besar pada luka bakar akan menimbulkan deplesi protein
tubuh yang esensial, termasuk immunoglobulin. Stresor fisiologi dan
psilkologik yang disertai dengan stress karena pembedahan atau cidera
kan menstimulasi pelepasan kortisol serum juga turut menyebabkan
supresi respon imun yang normal.
Keadaan sakit yang kronis dapat turut mengganggu sistem imun
melalui sejumlah cara. Kegagalan ginjal berkaitan dengan defisiensi
limfosit yang beredar. Fungsi imun untuk pertahanan tubuh dapat
berubah karena asidosis dan toksin uremik. Peningkatan insidensi infeksi
pada diabetes juga berkaitan dengan isufisiensi vaskuler, neuropati dan
pengendalian kadar glukosa darah yang buruk. Infeksi saluran nafas yang
rekuren berkaitan dengan penyakit paru obstruksi menahun sebagai
akibat dari berubahnya fungsi inspirasi dan ekspirasi dan tidak efektifnya
pembersihan saluran nafas.
6. Penyakit Kanker
Imunosekresi turut menyebabkan terjadinya penyakit kanker.
Namun, penyakit kanker sendiri bersifat imunosupresif. Tumor yang
besar dapat melepaskan antigen ke dalam darah, antigen ini akan
mengikat antibodi yang beredar dan mencegah antibodi tersebut agar
tidak menyerang sel-sel tumor. Lebih lanjut, sel-sel tumor dapat
memiliki faktor penghambat yang khusus yang menyalut sel-sel tumor
dan mencegah pengahancurannya oleh limposit T killer. Dalam stadium
awal pertumbuhan tumor, tubuh tidak mampu mengenali antigen tumor
sebagai unsure yang asing dan selanjutnya tidak mampu memulai

11
distruksi sel-sel yang maligna tersebut.kanker darah seperti leukemia dan
limpoma berkaitan dengan berubahnya produksi serta fungsi sel darah
putih dan limposit.
7. Obat-obatan
Obat-obatan tertentu dapat menyebabkan perubahan yang
dikehendaki maupun yang tidak dikehendaki pada fungsi sistem imun.
Ada empat klasifikasi obat utama yang memiliki potensi untuk
menyebabkan imunosupresi: antibiotic, kortikostreoid, obat-obat anti-
inflamasi nonsteroid (NSAIDNonsteroidal anti inflamatori drugs) dan
preparat sitotoksik.
Penggunaan preparat ini bagi keperluan terapeutik memerlukan
upaya untuk mencari kesinambungan yang sangat tipis antara manfaat
terapi dan supresi sistem pertahanan tubuh resipien yang berbahaya.
8. Radiasi
Terapi radiasi dapat digunakan dalam pengobatan penyakit
kanker atau pencegahan rejeksi allograft. Radiasi akan menghancurkan
limfosit dan menurunkan populasi sel yang diperlukan untuk
menggantikannya. Ukuran atau luas daerah yang akan disinari
menentukan taraf imunosupresi. Radiasi seluruh tubuh dan dapat
mengakibatkan imunosupresi total pada orang yang menerimannya.
9. Genetik
Interaksi antara sel-sel sistem imun dipengaruhi oleh variabilitas
genetik. Secara genetik respons imun manusia dapat dibagi atas
responder baik, cukup, dan rendah terhadap antigen tertentu.
Ia dapat memberikan respons rendah terhadap antigen tertentu,
tetapi terhadap antigen lain tinggi sehingga mungkin ditemukan
keberhasilan vaksinasi yang tidak 100%. Faktor genetik dalam respons
imun dapat berperan melalui gen yang berada pada kompleks MHC
dengan non MHC.
a. Gen kompleks MHC
Gen kompleks MHC berperan dalam presentasi antigen. Sel
Tc akan mengenal antigen yang berasosiasi dengan molekul MHC

12
kelas I, dan sel Td serta sel Th akan mengenal antigen yang
berasosiasi dengan molekul MHC kelas II. Jadi respons sel T diawasi
secara genetik sehingga dapat dimengerti bahwa akan terdapat
potensi variasi respons imun.
Secara klinis terlihat juga bahwa penyakit tertentu terdapat
lebih sering pada HLA tertentu, seperti spondilitis ankilosing
terdapat pada individu dengan HLA-B27.
b. Gen non MHC
Secara klinis kita melihat adanya defisiensi imun yang
berkaitan dengan gen tertentu, misalnya agamaglobulinemia tipe
Bruton yang terangkai dengan kromosom X yang hanya terdapat
pada anak laki-laki.
Demikian pula penyakit alergi yaitu penyakit yang
menunjukkan perbedaan respons imun terhadap antigen tertentu
merupakan penyakit yang diturunkan.
Faktor-faktor ini menyokong adanya peran genetik dalam
respons imun, namun mekanisme yang sebenarnya belum diketahui.
10. Kehamilan
Salah satunya yaitu Infeksibeberapa infeksi yang terjadi secara
kebetulan selama kehamilan dapat menyebabkan cacat sejak lahir.
Campak jerman (rubella) bisa menyebabkan cacat sejak lahir, terutama
sekali pada jantung dan bagian dalam mata. Infeksi cytomegalovirus bisa
melewati plasenta dan merusak hati dan otak janin.
Listeriosis, infeksi bakteri, juga bisa membahayakan janin. Infeksi
bakteri pada vagina (seperti bakteri vaginosis) selama kehamilan bisa
menyebabkan persalinan sebelum waktunya atau membran yang berisi
janin gugur sebelum waktunya. Pengobatan pada infeksi dengan
antibiotik bisa mengurangi kemungkinan masalah-masalah ini.

13
G. Manifestasi Klinis Gangguan Sistem Imun
Tanda:
1. Sebagian besar bayi yang sehat mengalami infeksi saluran pernafasan
sebanyak 6 kali atau lebih dalam 1 tahun, terutama jika terlular oleh anak
lain. Sebaliknya, bayi dengan gangguan sistem imun, biasanya menderita
infeksi bakteri berat yang menetap, berulang atau menyebabkan
komplikasi. Misalnya infeksi sinus, infeksi telinga menahun dan
bronkitis kronis yang biasanya terjadi setelah demam dan sakit
tenggorokan. Bronkitis bisa berkembang menjadi pneumonia.
2. Kulit dan selaput lendir yang melapisi mulut, mata dan alat kelamin
sangat peka terhadap infeksi.
3. Thrush merupakan suatu infeksi jamur dimulut disertai luka dimulut dan
peradangan gusi, bisa merupakan pertanda awal dari adanya gangguan
sistem kekebalan.
4. Peradangan mata (konjungtivitis) , rambut rontok, eksim yang berat dan
pelebaran kapiler dibawah kulit merupakan pertanda dari penyakit
immunodefisiensi.
5. Infeksi pada saluran pencernaan bisa menyebabkan diare pembentukan
gas yang berlenihan dan penuruna berat badan.

Tanda defisiensi Imun kombinasi yang berat.


1. Terdapat pada minggu atau bulan pertama kehidupan.
a. Sering terjadi infeksi virus atau jamur dibandingkan bakteri.
b. Diare kronik umum terjadi sering disebut gastroenteritis.
c. Infeksi respiratorius dan oral thrush umum terjadi.
d. Tejadi Failure to thrive tanpa adanya infeksi.
e. Limfopenia ditemui pada hampir semua bayi.

Gejala klinis penyakit Imunodefisiensi


1. Gejala yang biasanya dijumpai.
Infeksi saluran napas atas berulang infeksi bakteri yang berat.
Penyembuhan inkomplit antar episode infeksi. Atau respons pengobatan
in komplit.

14
2. Gejala yang sering dijumpai.
a. Gagal tumbuh atau retardasi tumbuh.
b. Jarang ditemukan kelenjar atau tonsil yang membesar.
c. Infeksi oleh mikroorganisme yang tidak lazim.
d. Lesi kulit (Rash, ketombe, pioderma, abses nekrotik/noma, alopesia,
eksim, teleangiektasi, warts yang hebat).
e. Oral thrush yang tidak menyembuh dengan pengobatan.
f. Jati tabuh.
g. Diare dan Mal abrsopsi.
h. Mastoiditis dan otitis persisten.
i. Pneumonia atau bronkitis berulang.
j. Penyakit autoimun.
k. Kelainan helatologis (anemia aplastik, anemia hemolitik,
neutropenia, trombositopenia).
3. Gejala yang jarang dijumpai.
a. Berat Badan Turun.
b. Demam.
c. Peridontitis.
d. Limfadenopati.
e. Hepatosplenomegali.
f. Penyakit virus yang berat.
g. Artritis atau artralgia.
h. Ensefalitis kronik.
i. Meningitis berulang.
j. Pioderma gangrenosa.
k. Kolangitis sklerosa.
l. Hepatitis kronik (virus atau autoimun).
m. Reaksi simpang terhadap vaksinasi.
n. Bronkiektasis.
o. Infeksi saluran kemih.
p. Lepas/ puput tali pusat terlambat.
q. Stomatitis kronik.

15
r. Granuloma.
s. Keganasan limfoid.

H. Konsep Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Imun


1. Pengkajian
a. Anamnesa
1) Identitas pasien
2) Keluhan utama
3) Riwayat penyakit sekarang
4) Riwayat penyakit dahulu
5) Riwayat penyakit keluarga
b. Faktor-faktor dan kejadian yang memperngaruhi system imun:
1) Infeksi
2) Alergi
3) Kelainan autoimun
4) Penyakit neoplasma
5) Keadaan sakit kronis
6) Riwayat pembedahan
7) Imunisasi
8) Penggunaan obat-obatan
9) Tranfusi darah
10) Hasil pemeriksaan lab dan dignostik lainnya
11) Riwayat kebiasaan merokok
12) Minum-minuman keras
13) Asupan diet
14) Tingkat stress
15) Polutan
c. Pemeriksaan Fisik:
1) General
2) Palpasi Nodul Limfatikus
3) Pemeriksaan kulit,membrane mukosa

16
d. Alergi:
1) Riwayat alergi
2) Gejala dan variasi cuaca yang menyertai
3) Riwayat pemeriksaan dan pengobatan yang pernah dan sedang
dijalani.
e. Penyakit Kronik dan Pembedahan:
1) Penyakit kronik : DM, penyakit ginjal, dan PPOM
2) Terapi yang sedang di jalani
3) Riwayat operasi pengangkatan limfa, nodus limfatikus, timus
4) Riwayat transplantasi organ.
f. Obat-obatan dan Transfusi Darah:
1) Riwayat penggunaan obat masa lalu dan sekarang
(antibiotic,kortikosteroid, preparat sitotoksik, salisilat, NSID,
anastesi dan supresi imun).
2) Riwayat tranfusi darah.
g. Laboratorium dan Diagnostik:
1) Pemeriksaan darah (igE spesifik)
2) Tes tusuk kulit (Skin Prick Test)
3) Tes elisa
4) Tes bown marrow

17
2. Diagnosa
Rencana keperawatan
Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil

Ketidakseimbangan nutrisi NOC:  Kaji adanya alergi


kurang dari kebutuhan tubuh a. Nutritional status: makanan
Berhubungan dengan : Adequacy of nutrient  Kolaborasi dengan ahli
Ketidakmampuan untuk b. Nutritional Status : gizi untuk menentukan
memasukkan atau mencerna food and Fluid Intake jumlah kalori dan nutrisi
nutrisi oleh karena faktor c. Weight Control yang dibutuhkan pasien
biologis, psikologis atau Setelah dilakukan  Yakinkan diet yang
ekonomi. tindakan keperawatan dimakan mengandung
DS: selama….nutrisi kurang tinggi serat untuk
 Nyeri abdomen teratasi dengan indikator: mencegah konstipasi
 Muntah 1. Albumin serum  Ajarkan pasien bagaimana
 Kejang perut 2. Pre albumin serum membuat catatan makanan
 Rasa penuh tiba-tiba 3. Hematokrit harian.
setelah makan 4. Hemoglobin  Monitor adanya penurunan
DO: 5. Total iron binding BB dan gula darah
 Diare capacity  Monitor lingkungan
 Rontok rambut yang 6. Jumlah limfosit selama makan
berlebih  Jadwalkan pengobatan
 Kurang nafsu makan dan tindakan tidak selama
 Bising usus berlebih jam makan
 Konjungtiva pucat  Monitor turgor kulit
 Denyut nadi lemah  Monitor kekeringan,
rambut kusam, total
protein, Hb dan kadar Ht
 Monitor mual dan muntah
 Monitor pucat, kemerahan,
dan kekeringan jaringan
konjungtiva
 Monitor intake nuntrisi
 Informasikan pada klien
dan keluarga tentang
manfaat nutrisi
 Kolaborasi dengan dokter
tentang kebutuhan
suplemen makanan seperti
NGT/ TPN sehingga
intake cairan yang adekuat
dapat dipertahankan.
 Atur posisi semi fowler
atau fowler tinggi selama
makan
 Kelola pemberan anti
emetik:.....
 Anjurkan banyak minum
 Pertahankan terapi IV line
 Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik
papila lidah dan cavitas

18
oral

Rencana keperawatan
Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil

Risiko infeksi NOC : NIC :


 Immune Status  Pertahankan teknik
Faktor-faktor risiko :  Knowledge: Infection aseptif
 Prosedur Infasif control  Batasi pengunjung bila
 Kerusakan jaringan dan Setelah dilakukan tindakan perlu
peningkatan paparan keperawatan selama……  Cuci tangan setiap
lingkungan pasien tidak mengalami sebelum dan sesudah
 Malnutrisi infeksi dengan kriteria tindakan keperawatan
 Peningkatan paparan hasil:  Gunakan baju, sarung
lingkungan patogen 1. Klien bebas dari tanda tangan sebagai alat
 Imonusupresi dan gejala infeksi pelindung
 Tidak adekuat pertahanan 2. Menunjukkan  Ganti letak IV perifer
sekunder (penurunan Hb, kemampuan untuk dan dressing sesuai
Leukopenia, penekanan mencegah timbulnya dengan petunjuk umum
respon inflamasi) infeksi  Gunakan kateter
 Penyakit kronik 3. Jumlah leukosit dalam intermiten untuk
 Imunosupresi batas normal menurunkan infeksi
 Malnutrisi 4. Menunjukkan perilaku kandung kencing
 Pertahan primer tidak hidup sehat  Tingkatkan intake
adekuat (kerusakan kulit, 5. Status imun, nutrisi
trauma jaringan, gangguan gastrointestinal,  Berikan terapi
peristaltik) genitourinaria dalam antibiotik:......................
batas normal ...........
 Monitor tanda dan
gejala infeksi sistemik
dan lokal
 Pertahankan teknik
isolasi k/p
 Inspeksi kulit dan
membran mukosa
terhadap kemerahan,
panas, drainase
 Monitor adanya luka
 Dorong masukan cairan
 Dorong istirahat
 Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi
 Kaji suhu badan pada
pasien neutropenia
setiap 4 jam

19
Rencana keperawatan
Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Intoleransi aktivitas NOC : NIC :


Berhubungan dengan :  Self Care : ADLs  Observasi adanya
 Tirah Baring atau  Toleransi aktivitas pembatasan klien
imobilisasi  Konservasi eneergi dalam melakukan
 Kelemahan menyeluruh Setelah dilakukan tindakan aktivitas
 Ketidakseimbangan antara keperawatan selama …. Pasien  Kaji adanya faktor
suplei oksigen dengan bertoleransi terhadap aktivitas yang menyebabkan
kebutuhan dengan Kriteria Hasil : kelelahan
Gaya hidup yang 1. Berpartisipasi dalam  Monitor nutrisi dan
dipertahankan. aktivitas fisik tanpa sumber energi yang
DS: disertai peningkatan adekuat
 Melaporkan secara verbal tekanan darah, nadi dan  Monitor pasien akan
adanya kelelahan atau RR adanya kelelahan fisik
kelemahan. 2. Mampu melakukan dan emosi secara
 Adanya dyspneu atau aktivitas sehari hari berlebihan
ketidaknyamanan saat (ADLs) secara mandiri  Monitor respon
beraktivitas. 3. Keseimbangan aktivitas kardivaskuler
DO : dan istirahat terhadap aktivitas
(takikardi, disritmia,
 Respon abnormal dari sesak nafas,
tekanan darah atau nadi diaporesis, pucat,
terhadap aktifitas perubahan
 Perubahan ECG : aritmia, hemodinamik)
iskemia  Monitor pola tidur
dan lamanya
tidur/istirahat pasien
 Kolaborasikan dengan
Tenaga Rehabilitasi
Medik dalam
merencanakan
progran terapi yang
tepat.
 Bantu klien untuk
mengidentifikasi
aktivitas yang mampu
dilakukan
 Bantu untuk memilih
aktivitas konsisten
yang sesuai dengan
kemampuan fisik,
psikologi dan sosial
 Bantu untuk
mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber
yang diperlukan untuk
aktivitas yang
diinginkan
 Bantu untuk
mendpatkan alat

20
bantuan aktivitas
seperti kursi roda,
krek
 Bantu untuk
mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
 Bantu klien untuk
membuat jadwal
latihan diwaktu luang
 Bantu pasien/keluarga
untuk
mengidentifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas
 Sediakan penguatan
positif bagi yang aktif
beraktivitas
 Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan
 Monitor respon fisik,
emosi, sosial dan
spiritual

Rencana keperawatan
Diagnosa Keperawatan/ Masalah
Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Kerusakan integritas kulit NOC : NIC : Pressure


berhubungan dengan : Management
Tissue Integrity : Skin and Mucous
Eksternal : Membranes  Anjurkan pasien
untuk menggunakan
Wound Healing : primer dan pakaian yang longgar
sekunder  Hindari kerutan pada
tempat tidur
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama….. kerusakan
 Jaga kebersihan kulit
agar tetap bersih dan
 Hipertermia atau hipotermia integritas kulit pasien teratasi dengan
kering
 Substansi kimia kriteria hasil:
 Mobilisasi pasien
 Kelembaban (ubah posisi pasien)
 Integritas kulit yang baik bisa
 Faktor mekanik (misalnya : alat
dipertahankan (sensasi, setiap dua jam sekali
yang dapat menimbulkan luka,
elastisitas, temperatur, hidrasi,  Monitor kulit akan
tekanan, restraint) adanya kemerahan
pigmentasi)
 Immobilitas fisik  Tidak ada luka/lesi pada kulit  Oleskan lotion atau
 Radiasi  Perfusi jaringan baik minyak/baby oil pada
 Usia yang ekstrim  Menunjukkan pemahaman
derah yang tertekan
 Kelembaban kulit dalam proses perbaikan kulit  Monitor aktivitas dan
 Obat-obatan dan mencegah terjadinya mobilisasi pasien
Internal : sedera berulang  Monitor status nutrisi
 Mampu melindungi kulit dan pasien
 Perubahan status metabolik mempertahankan kelembaban  Memandikan pasien
 Tonjolan tulang kulit dan perawatan alami dengan sabun dan air
 Defisit imunologi  Menunjukkan terjadinya hangat
 Berhubungan dengan dengan proses penyembuhan luka  Kaji lingkungan dan
perkembangan peralatan yang

21
 Perubahan sensasi menyebabkan
 Perubahan status nutrisi tekanan
(obesitas, kekurusan)  Observasi luka :
 Perubahan status cairan lokasi, dimensi,
kedalaman luka,
 Perubahan pigmentasi
karakteristik,warna
 Perubahan sirkulasi cairan, granulasi,
 Perubahan turgor (elastisitas jaringan nekrotik,
kulit) tanda-tanda infeksi
lokal, formasi traktus
 Ajarkan pada
DO: keluarga tentang luka
dan perawatan luka
 Gangguan pada bagian tubuh  Kolaburasi ahli gizi
 Kerusakan lapisa kulit (dermis) pemberian diae
 Gangguan permukaan kulit TKTP, vitamin
(epidermis)  Cegah kontaminasi
feses dan urin
 Lakukan tehnik
perawatan luka
dengan steril
 Berikan posisi yang
mengurangi tekanan
pada luka

Rencana keperawatan
Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Bersihan Jalan Nafas tidak NOC:


efektif berhubungan dengan: Respiratory status : Ventilation  Pastikan kebutuhan
 Infeksi, disfungsi Respiratory status : Airway oral / tracheal
neuromuskular, hiperplasia patency suctioning.
dinding bronkus, alergi Aspiration Control  Berikan O2
jalan nafas, asma, trauma Setelah dilakukan tindakan ……l/mnt,
 Obstruksi jalan nafas : keperawatan selama metode………
spasme jalan nafas, sekresi …………..pasien  Anjurkan pasien
tertahan, banyaknya mukus, menunjukkan keefektifan jalan untuk istirahat dan
adanya jalan nafas buatan, nafas dibuktikan dengan napas dalam
sekresi bronkus, adanya kriteria hasil :  Posisikan pasien
eksudat di alveolus, adanya 1. Mendemonstrasikan batuk untuk
benda asing di jalan nafas. efektif dan suara nafas memaksimalkan
DS: yang bersih, tidak ada ventilasi
 Dispneu sianosis dan dyspneu  Lakukan fisioterapi
DO: (mampu mengeluarkan dada jika perlu
 Penurunan suara nafas sputum, bernafas dengan  Keluarkan sekret
 Orthopneu mudah, tidak ada pursed dengan batuk atau
 Cyanosis lips) suction
 Kelainan suara nafas (rales, 2. Menunjukkan jalan nafas  Auskultasi suara
wheezing) yang paten (klien tidak nafas, catat adanya
 Kesulitan berbicara merasa tercekik, irama suara tambahan
 Batuk, tidak efekotif atau nafas, frekuensi pernafasan  Berikan
tidak ada dalam rentang normal, bronkodilator :
 Produksi sputum tidak ada suara nafas  …………………
 Gelisah abnormal) ……
 Perubahan frekuensi dan 3. Mampu  …………………
irama nafas mengidentifikasikan dan …….

22
mencegah faktor yang  …………………
penyebab. ……
4. Saturasi O2 dalam batas  Monitor status
normal hemodinamik
5. Foto thorak dalam batas  Berikan pelembab
normal udara Kassa basah
NaCl Lembab
 Berikan antibiotik :
…………………
….
…………………
….
 Atur intake untuk
cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
 Monitor respirasi
dan status O2
 Pertahankan hidrasi
yang adekuat untuk
mengencerkan sekret
 Jelaskan pada pasien
dan keluarga tentang
penggunaan
peralatan : O2,
Suction, Inhalasi.

Rencana keperawatan
Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Kerusakan integritas kulit NOC : NIC : Pressure


berhubungan dengan : Tissue Integrity : Skin and Management
Eksternal : Mucous Membranes  Anjurkan pasien
Wound Healing : primer dan untuk
sekunder menggunakan
Setelah dilakukan tindakan pakaian yang
keperawatan selama….. longgar
kerusakan integritas kulit  Hindari kerutan
pasien teratasi dengan kriteria pada tempat tidur
 Hipertermia atau hipotermia hasil:  Jaga kebersihan
 Substansi kimia 1. Integritas kulit yang baik kulit agar tetap
 Kelembaban bisa dipertahankan bersih dan kering
 Faktor mekanik (misalnya : (sensasi, elastisitas,  Mobilisasi pasien
alat yang dapat temperatur, hidrasi, (ubah posisi
menimbulkan luka, tekanan, pigmentasi) pasien) setiap dua
restraint) 2. Tidak ada luka/lesi pada jam sekali
 Immobilitas fisik kulit  Monitor kulit akan
 Radiasi 3. Perfusi jaringan baik adanya kemerahan
 Usia yang ekstrim 4. Menunjukkan pemahaman  Oleskan lotion
 Kelembaban kulit dalam proses perbaikan atau minyak/baby
 Obat-obatan kulit dan mencegah oil pada derah
Internal : terjadinya sedera berulang yang tertekan
 Perubahan status metabolik 5. Mampu melindungi kulit  Monitor aktivitas

23
 Tonjolan tulang dan mempertahankan dan mobilisasi
 Defisit imunologi kelembaban kulit dan pasien
 Berhubungan dengan perawatan alami  Monitor status
dengan perkembangan 6. Menunjukkan terjadinya nutrisi pasien
 Perubahan sensasi proses penyembuhan luka  Memandikan
 Perubahan status nutrisi pasien dengan
(obesitas, kekurusan) sabun dan air
 Perubahan status cairan hangat
 Perubahan pigmentasi  Kaji lingkungan
 Perubahan sirkulasi dan peralatan yang
 Perubahan turgor menyebabkan
(elastisitas kulit) tekanan
 Observasi luka :
DO: lokasi, dimensi,
 Gangguan pada bagian kedalaman luka,
tubuh karakteristik,warn
 Kerusakan lapisa kulit a cairan, granulasi,
(dermis) jaringan nekrotik,
 Gangguan permukaan kulit tanda-tanda
(epidermis) infeksi lokal,
formasi traktus
 Ajarkan pada
keluarga tentang
luka dan
perawatan luka
 Kolaburasi ahli
gizi pemberian
diae TKTP,
vitamin
 Cegah
kontaminasi feses
dan urin
 Lakukan tehnik
perawatan luka
dengan steril
 Berikan posisi
yang mengurangi
tekanan pada luka

24
Rencana keperawatan
Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Kecemasan berhubungan NOC : NIC :


dengan  Kontrol kecemasan Anxiety Reduction
Faktor keturunan, Krisis  Koping (penurunan
situasional, Stress, perubahan Setelah dilakukan asuhan kecemasan)
status kesehatan, ancaman selama ……………klien  Gunakan
kematian, perubahan konsep kecemasan teratasi dgn kriteria pendekatan yang
diri, kurang pengetahuan dan hasil: menenangkan
hospitalisasi 1. Klien mampu  Nyatakan dengan
mengidentifikasi dan jelas harapan
DO/DS: mengungkapkan gejala terhadap pelaku
 Insomnia cemas pasien
 Kontak mata kurang 2. Mengidentifikasi,  Jelaskan semua
 Kurang istirahat mengungkapkan dan prosedur dan apa
 Berfokus pada diri sendiri menunjukkan tehnik untuk yang dirasakan
 Iritabilitas mengontol cemas selama prosedur
 Takut 3. Vital sign dalam batas  Temani pasien
 Nyeri perut normal untuk memberikan
 Penurunan TD dan denyut 4. Postur tubuh, ekspresi keamanan dan
nadi wajah, bahasa tubuh dan mengurangi takut
 Diare, mual, kelelahan tingkat aktivitas  Berikan informasi
 Gangguan tidur menunjukkan faktual mengenai
 Gemetar berkurangnya kecemasan diagnosis,
 Anoreksia, mulut kering tindakan prognosis
 Peningkatan TD, denyut  Libatkan keluarga
nadi, RR untuk
 Kesulitan bernafas mendampingi
 Bingung klien
 Bloking dalam  Instruksikan pada
pembicaraan pasien untuk
 Sulit berkonsentrasi menggunakan
tehnik relaksasi
 Dengarkan dengan
penuh perhatian
 Identifikasi tingkat
kecemasan
 Bantu pasien
mengenal situasi
yang
menimbulkan
kecemasan
 Dorong pasien
untuk
mengungkapkan
perasaan,
ketakutan, persepsi
 Kelola pemberian
obat anti
cemas:........

25
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sistem kekebalan tubuh ( imunitas ) adalah sistem mekanisme pada
organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan
mengidentifikasi dan membunuh patogen. Sistem imun terbagi dua
berdasarkan perolehannya atau asalnya,yaitu:
1. Sistem imun Non Spesifik (Sistem imun alami)
2. Sistem imun Spesifik (Sistem imun yang didapat/hasil adaptasi)
Berdasarkan mekanisme kerjanya, sistem imun terbagi, yaitu:
1. Sistem imun humoral (sistem imun jaringan atau diluar sel, yang
berperan adalah Sel B "antibodi"
2. Sistem imun cellular (sistem imun yang bekerja pada sel yang terinfeksi
antigen, yang berperan adalah sel T (Th, Tc, Ts).
Imunisasi merupakan salah satu usaha manusia untuk menjadikan
individu kebal. terhadap suatu penyakit. Imunisasi terbagi 2,yaitu:
 Imunisasi aktif: Diperoleh karena tubuh secara aktif membuat antibody
sendiri.
 Imunisasi Pasif : kekebalan yang didapat dari pemindahan antibody dari
suatu individu ke individu lainnya.
Beberapa faktor yang mempengaruhi sistem imun tubuh adalah Faktor
Keturunan, Faktor Stres, Faktor Usia, Faktor Hormone, Faktor Nutrisi dan
Penyalahgunaan Antibiotik.

26
DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja, Karnen Garna dan Renggani Iris. 2010. Imunologi Dasar Edisi ke
Sembilan. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran.

Corwin, Elizabeth J. 2010. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: Buku Kedokteran.

Kresno, Siti Boedina. 2001. Imunologi: diagnosis dan prosedur laboratorium


edisi keempat. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran.

Munasir, Zakiudin. 2001. Respons Imun terhadap Bakteri. Sari Pediatri, Vol. 2,
No. 4, Maret 2001. Diambil dari: http://saripediatri.idai.or.id/pdfile/2-4-4.pdf (25
Desember 2018).

27