Anda di halaman 1dari 45

KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG/KEPALA BPN

DITJEN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG DAN PENGUASAAN TANAH


DIREKTORAT PENERTIBAN PEMANFAATAN RUANG

AUDIT PENATAAN RUANG


DI WILAYAH KALIMANTAN DAN SULAWESI
TAHUN ANGGARAN 2018

DOKUMEN USULAN TEKNIS


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

KATA PENGANTAR

Proposal Teknis ini merupakan upaya Konsultan untuk menjelaskan pemahaman atas
konteks yang disampaikan di dalam Kerangka Acuan Kerja, metodologi yang dipilih, dan
rencana kerja penyelesaiannya.

Kami Tim Ahli dan Manajemen Konsultan berharap proposal ini telah sesuai untuk
menjawab tantangan yang ada dalam Kerangka Acuan Kerja sebagai landasan kelak bagi
Tim Konsultan menyelesaikan pekerjaan, apabila Kami dipercaya untuk melaksanakannya.

Hormat kami,

Februari 2018

Tim Konsultan dan Manajemen

PT Palindo Bangun Konsultan j.o PT Barn Cita Laksana

Dokumen Usulan Teknis i


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

BAB
A Data Organisasi
Perusahaan

Dokumen Usulan Teknis A-1


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

Dokumen Usulan Teknis A-2


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

BAB
B Data Pengalaman
Kerja 10 (Sepuluh)
Tahun Terkhir

Dokumen Usulan Teknis B-1


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

BAB
C Pengalaman Kerja
Sejenis 10 (Sepuluh)
Tahun Terkhir

Dokumen Usulan Teknis C-1


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

BAB
D Pemahaman dan
Tanggapan terhadap
Kerangka Acuan
Kerja

D.1 Pemahaman Dan Tanggapan Umum


Kerangka Acuan Kerja ini merupakan petunjuk bagi konsultan perencana yang terdiri dari
latar belakang, maksud tujuan, sasaran, ruang lingkup, jadwal pelaksanaan, keluaran,
proses dan lain-lain yang harus dipenuhi dan diperhatikan dalam rangka pelaksanaan tugas
Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Upaya untuk melakukan Audit
Penataan Ruang ini telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang (UUPR) terutama pasal 55 dan 59. Kemudian dalam
implementasinya telah ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010
tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (PP-PPR) yang mengamanatkan bahwa
pengawasan penataan ruang terdiri atas pengawasan teknis dan pengawasan khusus.

· Pengawasan terhadap
keseluruhan proses
PENGAWASAN
penyelenggaraan penataan ruang
TEKNIS
· Dilaksanakan secara berkala dan
kontinyu

BENTUK
PENGAWASAN
PENATAAN RUANG

· Pengawasan terhadap
PENGAWASAN permasalahan khusus penataan
KHUSUS ruang
· Dilaksanakan sesuai kebutuhan

Dokumen Usulan Teknis D-1


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

Audit Tata Ruang adalah evaluasi terhadap pemanfaatan ruang suatu wilayah yang
bertujuan untuk melakukan verifikasi bahwa penggunaan ruang dilaksanakan sesuai
dengan rencana tata ruang dan kaidah-kaidah penataan ruang. Audit Tata Ruang
merupakan proses inventarisasi dan integrasi data-data spasial yang ditujukan untuk
mengetahui “potret” terkini tentang tingkat kesesuaian pemanfaatan ruang terhadap RTR
dan berbagai penetapan izin/status kawasan (misalnya: Kawasan Hutan, Wilayah Izin Usaha
Pertambangan, Izin Pemanfaatan Hutan, Izin/Status Tanah (HGU), Izin Lokasi Perkebunan,
Izin Lokasi Kawasan Industri, Izin Lokasi Permukiman Transmigrasi, dan sebagainya).

Audit pemanfaatan ruang didefinisikan sebagai kegiatan untuk memotret kondisi


pemanfaatan ruang eksisting dan kaitannya dengan izin yang dimiliki atau status yang
melekat padanya. Dengan kata lain Audit Penataan Ruang = Pengawasan Penataan Ruang,
merupakan Upaya agar penyelenggaraan penataan ruang dapat diwujudkan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Untuk mengatisipasi upaya tersebut syarat utama yang harus dipenuhi oleh suatu wilayah
atau kawasan adalah rencana tata ruangnya harus memiliki payung hukum atau aspek
legalitas sesuai hirarkinya. Khususnya di wilayah studi di 8 (Delapan) lokasi di Kalimantan
dan Sulawesi, yaitu: Kab. Pahuwato (Gorontalo), Kota Balikpapan (Kaltim), Kota Bitung
(Sulut), Kab. Banjar (Kalsel), Kota Wakatobi (Sultra), Kab. Banggai (Sulteng) dan Kab.
Kotawaringin Timur (Kalteng) maka audit tata ruang ini telah dapat dilakukan.

Kedudukan Audit Penataan Ruang dalam Sistem Penataan Ruang untuk mendapatkan
Fakta: Kesesuaian Rencana Tata Ruang >< Penggunaan Lahan, Kesesuaian Penggunaan
Lahan >< Izin Peruntukan. Hasil Audit Pemanfaatan Ruang diperlukan untuk dasar untuk
Peninjauan Kembali produk RTRW (amanah UU No. 26/2007). Rekomendasi kegiatan
penertiban agar terwujud tertib pemanfaatan ruang, (sifat kuratif: memperbaiki fungsi
yang tidak sesuai terhadap RTR) dan sesuai Aspek Hukum (UU No. 26/2007, PP No
15/2010).

Apabila digambarkan kedudukan Audit Penataan Ruang dalam Sistem Penataan Ruang
dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Dokumen Usulan Teknis D-2


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG


SISTEM PENATAAN RUANG

PENGENDALIAN
PERENCANAAN PEMANFAATAN
PEMANFAATAN
TATA RUANG RUANG
RUANG

· Rencana Struktur · Program · Peraturan Zonasi


Ruang Perwujudan · Perijinan
Audit Penataan Ruang
· Rencana Pola Rencana Tata · Insetif dan
Pemanfaatan Ruang Disinsentif PENGGUNAAN PENGAWASAN PENERTIBAN
Ruang · Pembiayaan · Sanksi LAHAN PENATAAN PENATAAN
· Rencana Program EKSISTING RUANG RUANG
Kawasan Pemanfaatan
Strategis Ruang · Pemantauan · Sanksi
· Rencana · Kelembagaan · Evaluasi Adminsitratif
Pengendalian · Pelaporan · Sanksi Perdata
Pemanfaatan · Sanksi Pidana
Ruang
· Indikasi Program

PENGATURAN

PELAKSANAAN
PENATAAN RUANG

PERENCANAAN PEMANFAATAN
TATA RUANG RUANG

PENGATURAN

PENGENDALIAN
PEMANFAATAN
RUANG

PEMBINAAN PENGAWASAN

Selanjutnya sebagaimana telah difahami terkait perkembangan pengawasan penataan


ruang tersebut, pada pemerintahan saat ini pelaksanaannya telah diatur dalam Peraturan
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nomor 17 Tahun 2017, yang mana
pelaksanaan audit tata ruang dapat dilakukan berdasar dua hal yaitu:

Dokumen Usulan Teknis D-3


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

a. Audit Tata Ruang Dilaksanakan sesuai dengan “Kebutuhan”.

b. Audit Tata Ruang dapat dilaksanakan berdasarkan laporan atau pengaduan dari
masyarakat terkait adanya dugaan pelanggaran di bidang penataan ruang; temuan
indikasi pelanggaran di bidang penataan ruang; dan bencana yang diduga disebabkan
adanya indikasi pelanggaran di bidang penataan ruang”.

Selain Undang-undang, peraturan pemerintah dan peraturan menteri diatas pelaksanaan


Audit Penataan Ruang juga perlu memperhatian beberapa kebijakan terkait terutama
dalam proses pelaksanaan audit nya diantaranya adalah:

1. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran
Masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2010 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5160);

2. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta Rencana Tata
Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 8, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5393);

Konsultan memahami bahwa pentingnya Rencana Audit Tata Ruang khususnya di wilayah
Kalimantan dan Sulawesi ini, terkait beberapa permasalahan yang berkembang akibat
konflik pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang yang ada, diantaranya adalah
sebagai berikut:

1. Kejadian alam yang membawa bencana bagi manusia (jiwa dan harta) terutama di kota
dan di desa seperti longsor, banjir, banjir rob, dll;

2. Degradasi lingkungan alam yang berdampak pada kerentanan manusia untuk dapat
mengakses kebutuhan hidup seperti air, makanan, udara bersih dan lainnya;

3. Konflik dan otoriter elit politik dalam penguasaan lahan yang berdampak buruk pada
model pemanfaataan tata ruang yang benar dan baik;

4. Adanya pemahaman baru (revolusi mental) mengenai kebutuhan akan kota dan desa
yang aman, nyaman, produktif dan layak huni sehingga diperlukan upaya untuk
mengembalikan fungsi-fungsi ruang sebagaimana mestinya sehingga kota dan desa
menjadi layak untuk dihuni dan dipelihara secara berkelanjutan temurun.

5. Konflik sumber daya didalam ruang (dalam bumi/perut bumi) juga menjadi akar
masalah yang berujung kepada konflik horizontal antar pemanfaat ruang.

Dokumen Usulan Teknis D-4


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

6. Kebutuhan pengembangan kawasan permukiman baru terutama di Kalimantan dimana


di wilayah ini tidak secara menyeluruh sebagai kawasan lindung (hijau) karena didalam
kawasan lindung yang ada sudah ada permukiman lama dan baru yang terus
berkembang.

7. Kebutuhan pengembangan infrastruktur baru yang membutuhkan areal pembangunan


yang luas dan berdampak terhadap perubahan fungsi lahan sekitarnya seperti
pengembangan jalan tol, jalan kereta api di Sulawesi serta di Kalimantan.

Untuk mengatisipasi permasalahan tersebut, perlu dilakukan audit tata ruang, sebagai
salah satu bentuk pengawasan khusus, sebagai upaya pencegahan sejak dini atas indikasi
ketidaksesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang dan/atau langkah awal
upaya penertiban atas pelanggaran tata ruang yang telah terjadi.

Hasil kegiatan audit tata ruang, dapat mengindikasikan ada/tidaknya ketidaksesuaian


pemanfaatan ruang. Hasil indikasi ketidaksesuaian pemanfaatan ruang memerlukan upaya
tindak lanjut, yang dapat dikenakan sanksi yang bersifat administrasi dan/atau pidana.
Hasil pengawasan yang mengindikasikan terjadinya tindak pidana penataan ruang menjadi
masukan bagi Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Penataan Ruang untuk melakukan
penyidikan dalam rangka penegakan hukum.

D.2 PEMAHAMAN TERHADAP MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN


Maksud dari kegiatan ini dari pemahaman konsultan adalah menyusun Rencana Audit
Penataan Ruang dalam bentuk dokumen yang menjelaskan hasil pengawasan terhadap
penyelenggaraan penataan ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Dengan kata lain
bahwa Audit Tata Ruang ini merukan metode dalam proses pengawasan pemanfaatan
ruang di wilayah Kalimantan dan Sulawesi untuk mendapatkan kesesuaian pemanfaatan
eksisting terhada Rencana Tata Ruang.

Agar maksud ini dapat terlaksana dengan baik maka dalam prosesnya perlu dilakukan
pemeriksaan, pemantauan ke lapangan serta mengevaluasi indikasi pelanggaran terhadap
tata ruang yang sudah ditetapkan di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Sedangkan sasaran untuk mencapai tujuan tersebut adalah:


1. Terlaksananya Audit tata ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi;
Melalui tahapan ini dapat teridentifikasinya profil penataan ruang dan permasalahan
pengendalian dan penertiban pemanfaatan ruang di 7 lokasi Kabupaten/Kota di wilayah

Dokumen Usulan Teknis D-5


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

Kalimantan dan Sulawesi. Teridentifikasinya topologi ketidaksesuaian pemanfaatan


ruang di wilayah Kalimantan dan Sulawesi.
2. Tersusunnya Laporan Hasil Audit (LHA) Tata Ruang di Wilayah Kalimantan dan
Sulawesi.
Didalam LHA ini juga terumuskannya rekomendasi tindak lanjut upaya pengendalian dan
penertiban pemanfaatan ruang.

D.3 TANGGAPAN TERHADAP RUANG LINGKUP WILAYAH


Sebagaimana telah ditetapkan dalam Kerangka Acuan Kerja Kegiatan ini dilaksanakan
dengan studi kasus di 7 (tujuh) lokasi di Pulau Kalimantan dan Sulawesi, yaitu:

No Provinsi Kabupaten/Kota
1. Kalimantan Timur Kota Balikpapan
2 Kalimantan Tengah Kabupaten Kota Waringin Timur
3 Kalimantan Selatan Kabupaten Banjar
4 Gorontalo Kabupaten Pahuwato
5 Sulawesi Utara Kota Bitung
6 Sulawesi Tenggara Kota Wakatabi
7 Sulawesi Tengah Kabupaten Banggai

D.4 TANGGAPAN TERHADAP RUANG LINGKUP KEGIATAN

Dilihat dari proses tahapan dan keluaran yang diharapkan dalam kegiatan Audit Tata Ruang
di 8 Kabupaten/Kota di wilayah Kalimantan dan Sulawesi tersebut maka menurut Konsultan
terdapat empat tahapan kegiatan utama yaitu:

1. Need Assesment, terdiri dari desk studi atau kajian terhadap literatur, perundangan,
peraturan terkait pengendalian pemanfaatan ruang, dan kajian terhadap profil penataan
ruang di wilayah studi menurut data literatur atau laporan terkait tata ruang masing-
masing terutama bagian profil peruntukan ruang berdasar RTRW Kabupaten wilayah
kajian. Data dan informasi terkait meliputi: dokumen rencana tata ruang, materi teknis
rencana tata ruang, dan peta rencana tata ruang; peta penggunaan lahan eksisting;
kronologis/riwayat penggunaan lahan; data status kepemilikan lahan; dokumen
perizinan terkait pemanfaatan ruang (izin prinsip; izin lokasi; izin penggunaan
pemanfaatan tanah; izin mendirikan bangunan; dan dokumen izin lain berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan); dan informasi dan keterangan pendukung
lainnya.

Dokumen Usulan Teknis D-6


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

2. Tahapan Identifikasi dan Penilaian Kesesuaian Pemanfaatan Ruang merupakan


tahapan analisis tipologi ketidaksesuaian pemanfaatan ruang dengan melakukan analisis
spatial gap antara penggunaan lahan eksisting dengan rencana pola ruang didukung
data hasil ground cheking di lapangan dengan tahapan dan aspek-aspek sebagai berikut:

a. Rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota

Meliputi: pertampalan peta; penilaian kesesuaian penggunaan lahan; dan verifikasi


lapangan. Verifikasi lapangan menggunakan peralatan pendukung, antara lain: Global
Positioning System (GPS) Tracker dan Aerial Photo Capturing Drone. Hasil
pertampalan peta dan hasil penilaian kesesuaian penggunaan lahan dituangkan
dalam peta dan tabel yang memuat: indikasi ketidaksesuaian penggunaan lahan
eksisting; lokasi indikasi ketidaksesuaian penggunaan lahan eksisting dalam bentuk
koordinat; dan luasan dan jumlah titik lokasi indikasi ketidaksesuaian penggunaan
lahan eksisting. Hasil verifikasi lapangan paling sedikit memuat: titik koordinat dan
lokasi audit tata ruang; foto dan/atau video; dan keterangan dan informasi yang
berisi kronologis kegiatan pemanfaatan ruang.

b. Izin pemanfaatan ruang yang diberikan oleh pejabat berwenang

Dilakukan dengan cara memeriksa: kepemilikan izin pemanfaatan ruang yang


dipersyaratkan; waktu dikeluarkan dan masa berlaku izin pemanfaatan ruang; dan
kesesuaian isi, ketentuan, dan muatan yang ditetapkan dalam izin pemanfaatan
ruang dengan pelaksanaannya. Analisis dilakukan terhadap: kesesuaian pemanfaatan
ruang dengan izin prinsip atau yang setara; kesesuaian pemanfaatan ruang dengan
izin lokasi; kesesuaian pemanfaatan ruang dengan izin penggunaan pemanfaatan
tanah; kesesuaian pemanfaatan ruang dengan izin mendirikan bangunan; dan/atau
kesesuaian pemanfaatan ruang dengan izin lain berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan

c. Persyaratan izin yang diberikan oleh pejabat yang berwenang

Dilakukan melalui pemeriksaan kesesuaian pemanfaatan ruang terhadap hal yang


dipersyaratkan di dalam izin pemanfaatan ruang yang dikeluarkan oleh pejabat yang
berwenang. Hasil pemeriksaan kesesuaian pemanfaatan ruang terhadap hal yang
dipersyaratkan di dalam izin pemanfaatan ruang paling sedikit memuat: gambar 3
dimensi perbandingan kondisi pemanfaatan ruang yang ada dengan persyaratan izin
pemanfaatan ruang, titik koordinat lokasi serta dokumentasi lapangan.

Dokumen Usulan Teknis D-7


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

d. Penutupan akses terhadap kawasan milik umum

Dilakukan melalui pemeriksaan lapangan untuk melihat suatu kegiatan menutup atau
tidak memberikan akses terhadap kawasan yang dinyatakan oleh peraturan
perundang-undangan sebagai milik umum.

3. Tahapan Analisis Dampak Pemanfaatan Ruang yang diduga tidak sesuai tersebut yang
mengakibatkan perubahan fungsi ruang, yang mengakibatkan kerugian terhadap harta
benda atau kerusakan barang, dan yang mengakibatkan kematian orang.

4. Koordinasi, dengan pihak-pihak yang terkait, dengan cara: melakukan kunjungan


lapangan di wilayah kota/kabupaten terpilih, melaksanakan diskusi/FGD di daerah yang
melibatkan pihak-pihak yang terkait, melaksanakan rapat koordinasi dan rapat
pembahasan di Jakarta.

5. Penyusunan Laporan Hasil Audit Tata Ruang yang memuat: hasil pelaksanaan audit tata
ruang, gambaran umum lokasi, hasil analisis, rekomendasi tindak lanjut; dan lampiran
data pendukung, serta menyusun Resume Laporan Hasil Audit Tata Ruang, berupa
laporan komprehensif yang dibuat secara ringkas untuk kepentingan para pengambil
kebijakan seperti: Bupati/Walikota/Gubernur/ Menteri/pejabat lainnya dan/atau untuk
kepentingan publikasi kepada media massa terkait.

D.5 TANGGAPAN TERHADAP WAKTU PELAKSANAAN DAN TENAGA AHLI

Kegiatan ini dilaksanakan di Jakarta, sedangkan untuk mengetahui berbagai masukan dari
stakeholders di daerah, akan dilakukan kunjungan ke 8 Kabupaten/Kota di Wilayah
Kalimantan dan Sulawesi. Dari kunjungan dan survey tersebut diharapkan dapat
memberikan masukan sebagai bahan kajian lebih lanjut. Adapun pihak konsultan dalam
pelaksanaannya tetap berkoordinasi dengan Satuan Kerja Pengendalian Pemanfaatan
Ruang dan Penguasaan Tanah, Kementerian Agraria dan Tata Ruang.

Menurut konsultan wilayah tersebut sangat ideal untuk bisa mewakili dimana didaerah
tersebut selain perkembangannya pesat dalam pola pemanfaatan ruangnya juga telah
memiliki Perda RTRW Kabupaten/Kota. Sehingga pelaksanaan audit tata ruangnya lebih
terarah dan memiliki payung yang kuat dalam mengkaji apabila ada ketidaksesuain dengan
peruntukannya.

Pekerjaan ini dilaksanakan secara kontraktual di bawah tanggung jawab Ditjen


Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Penguasaan Tanah, Kementerian Agraria dan Tata

Dokumen Usulan Teknis D-8


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

Ruang, Kementerian Agraria dan Tata Ruang. Berdasarkan kerangka acuan kerja, waktu
yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan ini adalah 8 (delapan) bulan kalender,
terhitung sejak tanggal ditandatanganinya SPMK. Dipahami oleh konsultan bahwa waktu
efektif yang dimiliki konsultan untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi adalah selama 8
(delapan) bulan kalender, sehingga konsultan harus memanfaatkannya seoptimal mungkin
untuk memperoleh hasil kerja yang sesuai dengan lingkup pelaksanaan kegiatan.

Terhadap lokasi pekerjaan atau wilayah kabupaten yang diaudit, waktu pelaksanaan
kegiatan secara keseluruhan yang dipaparkan dalam KAK, Konsultan akan menuangkan hal
tersebut tersebut ke dalam Pendekatan dan Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan serta
Rencana Kerja pada bab selanjutnya dalam usulan teknis ini.

Sedangkan dilihat dari alokasi kebutuhan tenaga ahli dan kualifikasinya yang disyaratkan
dalam KAK, Konsultan menanggapi bahwa kebutuhan tenaga ahli didalam membantu
proses pelaksanaan pekerjaan hingga selesai dan sesuai dengan permintaan dari penyedia
jasa, sangat tepat dan bisa diperhitungkan sampai tersusunnya Laporan Hasil Audit (LHA).

Adapun yang menjadi tugas dan pokok dari keseluruhan tenaga ahli didalam melaksanakan
kegiatan ini, yaitu :

1. Ahli Perencana Wilayah dan Kota (Ketua Tim)

Ahli Penataan Ruang sebagai ketua tim disyaratkan memiliki latar belakang pendidikan
sekurang-kurangnya jenjang S1 Perencanaan Wilayah & Kota/Planologi dan S2
Perencanaan Wilayah & Kota/Planologi atau S2 bidang lainnya dengan pengalaman di
bidang penataan ruang minimal 5 (tahun) tahun. Dalam kegiatan ini, ketua tim
bertanggungjawab memimpin kegiatan ini secara keseluruhan, mengkoordinir tugas-
tugas tenaga ahli lainnya, menerima laporan, perkembangan dari aktifitas setiap
anggota tim, dan menjaga soliditas/kekompakan tim, sehingga dicapai tujuan, sasaran,
keluaran, dan manfaat dari kegiatan ini.

2. Ahli Perencana Wilayah dan Kota

Ahli Penataan Ruang disyaratkan memiliki latar belakang pendidikan sekurang-


kurangnya jenjang S1 Perencanaan Wilayah & Kota/Planologi dengan pengalaman di
bidang penataan ruang minimal 3 (tiga) tahun. Tugas Ahli Perencana Wilayah dan Kota
adalah melakukan kajian teknis indikasi pelanggaran di bidang penataan ruang dari
aspek tata ruang.

Dokumen Usulan Teknis D-9


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

3. Sistem Informasi Geografis (GIS)

Ahli GIS disyaratkan memiliki latar belakang pendidikan sekurang-kurangnya jenjang S1


Geografi/S1 Teknik Geodesi dengan pengalaman di bidang penataan ruang minimal 3
(tiga) tahun. Tugas Ahli GIS adalah melakukan kajian teknis indikasi pelanggaran di
bidang penataan ruang dari aspek Sistem informasi Geografis.

4. Ahli Hukum

Ahli Hukum disyaratkan memiliki latar belakang pendidikan sekurang-kurangnya jenjang


S1 Hukum dengan pengalaman di bidang penataan ruang minimal 3 (tiga) tahun. Tugas
Ahli Hukum adalah melakukan kajian teknis dan kajian yuridis indikasi pelanggaran di
bidang penataan ruang dari aspek hukum.

5. Ahli Lingkungan

Ahli Lingkungan disyaratkan memiliki latar belakang pendidikan sekurang-kurangnya


jenjang S1 Teknik Lingkungan dengan pengalaman di bidang penataan ruang minimal 3
(tiga) tahun. Tugas Ahli Lingkungan adalah melakukan kajian dampak akibat
pemanfaatan ruang dari aspek lingkungan.

6. Ahli Geologi

Ahli Geologi disyaratkan memiliki latar belakang pendidikan sekurang-kurangnya jenjang


S1 Teknik Geologi dengan pengalaman di bidang penataan ruang minimal 3 (tiga) tahun.
Tugas Ahli Geologi adalah melakukan kajian dampak akibat pemanfaatan ruang dari
aspek geologi.

7. Ahli Konstruksi /Transportasi

Ahli Konstruksi/Transportasi disyaratkan memiliki latar belakang pendidikan sekurang-


kurangnya jenjang S1 Teknik Sipil dengan pengalaman di bidang penataan ruang minimal
3 (tiga) tahun. Tugas Ahli Konstruksi/Transportasi adalah melakukan kajian dampak
akibat pemanfaatan ruang dari aspek konstruksi/transportasi.

Seluruh Tenaga ahli yang memiliki jenjang pendidikan S1 Planologi, S1 Teknik Geodesi, S1
Teknik Lingkungan, S1 Teknik Geologi, dan S1 Teknik Sipil, dipersyaratkan memiliki sertifikat
keahlian (SKA).

Selain itu, pelaksanaan kegiatan ini dibantu oleh tenaga ahli penunjang yaitu: 1 (satu) orang
sekretaris dan 1 (satu) orang operator komputer yang bekerja selama 8 (delapan) bulan.

Dokumen Usulan Teknis D-10


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

D.6 TANGGAPAN TERHADAP PELAPORAN


Pekerjaan ini melalui beberapa tahapan kegiatan yang masing-masing tahapannya
menghasilkan produk laporan yang harus diserahkan sebagai berikut:

1. Rencana Mutu Kontrak

Rencana Mutu Kontrak (RMK) berisikan penjelasan tentang semua kegiatan yang akan
dilakukan berdasarkan antara lain: lingkup pekerjaan, jadual pelaksanaan pekerjaan,
metode pelaksanaan, dsb. yang bertujuan untuk mengevaluasi dan memonitor
pelaksanaan pekerjaan yang akan dilakukan. RMK dibuat sebanyak 10 (sepuluh)
eksemplar dan diserahkan paling lambat 1 (satu) bulan setelah diterbitkan SPMK.

2. Laporan Pendahuluan

Laporan Pendahuluan merupakan laporan persiapan pelaksanaan kegiatan, minimal


memuat rencana kerja, metode pelaksanaan, dan keluaran yang dihasilkan. Laporan
Pendahuluan dibuat sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar dan diserahkan paling lambat 1
(satu) bulan setelah diterbitkan SPMK.

3. Laporan Antara

Laporan antara merupakan laporan hasil kegiatan survei dan analisis temuan
sementara penyimpangan pemanfaatan ruang yang berdasarkan perda RTRW di
Kota/Kabupaten yang terpilih. Laporan Antara dibuat sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar
dan diserahkan paling lambat 4 (empat) bulan setelah diterbitkan SPMK.

4. Laporan Akhir

Laporan Akhir merupakan laporan hasil seluruh pelaksanaan kegiatan, memuat hasil
spatial gap analysis, hasil identifikasi pelanggaran pemanfaatan ruang, dan
rekomendasi tindak lanjut. Laporan Akhir dibuat sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar dan
diserahkan paling lambat 8 (delapan) bulan setelah diterbitkan SPMK.

5. Laporan Prosiding

Laporan Prosiding merupakan laporan hasil rapat koordinasi/FGD dengan pemangku


kepentingan terkait. Laporan Prosiding dibuat sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar dan
diserahkan selambat-lambatnya 8 (delapan) bulan diterbitkan SPMK.

Dokumen Usulan Teknis D-11


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

6. Laporan Hasil Audit/LHA

Laporan Hasil Audit/LHA merupakan laporan komprehensif yang dibuat secara ringkas
untuk kepentingan para pengambil kebijakan seperti: Bupati/Walikota/Gubernur/
Menteri/pejabat lainnya dan/atau untuk kepentingan publikasi kepada media massa
terkait. Laporan Hasil Audit dibuat sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar dan diserahkan
selambat-lambatnya 8 (bulan) bulan setelah diterbitkan SPMK.

7. Buku Eksekutif Summary

Laporan Buku Eksekutif Summary merupakan ringkasan laporan yang merangkum


keseluruhan kegiatan. Laporan ini disajikan dalam bentuk buku eksekutif dengan
menggunakan glossy paper sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar dan diserahkan
selambat-lambatnya 8 (bulan) bulan setelah diterbitkan SPMK.

Dokumen Usulan Teknis D-12


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

BAB
E Pendekatan dan
Metodologi

E.1 UMUM
Pada bab ini, konsultan akan memaparkan pendekatan, metodologi dan program kerja
yang dianggap mampu mewujudkan maksud, tujuan dan sasaran yang ingin dicapai oleh
kegiatan Audit Tata Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Metodologi ini lebih
diarahkan terselenggaranya tersusunnya Laporan Hasil Audit (LHA) pada 8 Kabupaten/Kota
yang mewakili wilayah kerja Direktorat Jenderal Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan
Penguasaan Tanah, Kementerian Agraria dan Tata Ruang.

E.1.1 Data yang Diperlukan

Data yang dibutuhkan dalam rangka Audit Tata Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi,
meliputi :

1. Konsep dan dasar teoritis tentang Audit Tata Ruang yang dapat menjelaskan tentang
cara/metode dan tahapan dalam melakukan Audit Tata Ruang.

2. Peraturan Perundang-undangan, PP, Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang, Perda
atau kebijakan yang terkait Audit Tata Ruang.

3. Pengumpulan dokumen RTRW kab/kota lengkap dengan Peta Rencana, khususnya


Rencana Pola Ruang (format SHP)

4. Pengumpulan/penyediaan peta penggunaan lahan aktual (Peta Citra BIG/LAPAN, dll.),


memuat informasi guna lahan eksisting

5. Isu dan permasalahan terkait alih fungsi lahan atau pengaduan pelanggaran penataan
ruang baik dari masyarakat maupun dari PPNS daerah masing-masing..

E.1.2 Cara Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan koordinasi dengan pihak kementerian ATR,
Kementerian PUPR dan literatur/kepustakaan, observasi, ground chek dan kunjungan
lapangan, serta pelaksanaan FGD.

Dokumen Usulan Teknis E-1


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

a. Studi Literatur

Yaitu penelitian dan pengumpulan data yang dilaksanakan dengan mempelajari literatur
peraturan perundang-undangan dan peraturan pemerintah terkait, metodologi
penelitian terkait dengan pelaksanaan kegiatan Audit Tata Ruang berupa konsep-
konsep dan teori-teori, metode yang relevan dengan objek kegiatan, Pedoman Audit
Tata Ruang (Lampiran, Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional Nomor 17 Tahun 2017 Tentang Pedoman Audit Tata Ruang)
serta mempelajari studi-studi dan laporan terdahulu terkait dengan kegiatan tersebut.

b. Survei Lapangan

Pengumpulan data/informasi pelaksanaan kegiatan Audit Tata Ruang secara langsung


ke lokasi dengan meninjau lapangan menggunakan Global Positioning System (GPS) Tracker
dan Aerial Photo Capturing Drone. Konsultansi dengan pihak provinsi dan masing-masing
kabupaten terkait, yang telah ditentukan sesuai dengan KAK atau ditunjuk oleh Satuan
Kerja Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Penguasaan Tanah, Kementerian Agraria
dan Tata Ruang.

c. Observasi

Observasi yang dilakukan, untuk memperoleh gambaran terkait dengan pelaksanaan


Audit kesesuai pemanfaatan ruang dengan melakukan pengamatan langsung dan
mengambil titik koordinat lokasi yang terpilih sebagai permasalahan ketidaksesuaian
dengan rencana pola ruang. Obyek amatan harus ditentukan lebih dulu, untuk
mendapatkan focus amatan baik hasil diskusi, FGD, atau hasil pengaduan.

d. Pelaksanaan FGD

Pelaksanaan FGD yang konsultan harapkan untuk memperoleh gambaran dan masukan
dari seluruh stakeholders dalam rangka mendukung pelaksanaan Audit Tata Ruang di
Wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

E.2 PENDEKATAN TEKNIS DAN METODOLOGI


E.2.1 Pendekatan

A. Definisi Audit dari segi Terminologi:

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Audit adalah:

· Pemeriksaan pembukuan tentang keuangan secara berkala;

Dokumen Usulan Teknis E-2


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

· Pengujian efektivitas keluar masuknya uang dan penilaian kewajaran laporan


yang dihasilkannya.

 Menurut SNI 19-19011-2005, Audit adalah proses yang terdokumentasi, sistematik,


dan mandiri untuk memperoleh bukti audit dan mengevaluasinya secara objektif
untuk menentukan sampai sejauh mana kriteria audit dipenuhi.

 Dalam Bidang Keuangan: Audit adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh
dan mengevaluasi bukti secara obyektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang
kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat
kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah
ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang
berkepentingan.

 Dalam Bidang Lingkungan Hidup: Audit Lingkungan Hidup adalah evaluasi yang
dilakukan untuk menilai ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
terhadap persyaratan hukum dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah
(Sumber: UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan pengelolaan Lingkungan
Hidup Pasal 49 s/d 51 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 03 Tahun 2013
tentang Audit Lingkungan Hidup Pasal 1 Poin 1),

B. Pengertian Audit Menurut Penataan Ruang

 Audit Tata Ruang adalah evaluasi terhadap pemanfaatan ruang suatu wilayah yang
bertujuan untuk melakukan verifikasi bahwa penggunaan ruang dilaksanakan sesuai
dengan rencana tata ruang dan kaidah-kaidah penataan ruang.

 Audit Tata Ruang merupakan proses inventarisasi dan integrasi data-data spasial
yang ditujukan untuk mengetahui “potret” terkini tentang tingkat kesesuaian
pemanfaatan ruang terhadap RTR dan berbagai penetapan izin/status kawasan
(misalnya : Kawasan Hutan, Wilayah Izin Usaha Pertambangan, Izin Pemanfaatan
Hutan, Izin/Status Tanah (HGU), Izin Lokasi Perkebunan, Izin Lokasi Kawasan
Industri, Izin Lokasi Permukiman Transmigrasi, dan sebagainya).

 Audit pemanfaatan ruang didefinisikan sebagai kegiatan untuk memotret kondisi


pemanfaatan ruang eksisting dan kaitannya dengan izin yang dimiliki atau status
yang melekat padanya.

C. Pelaksanaan Audit dilihat dari Hirarki Komplementaris Penataan Ruang

Rencana umum tata ruang merupakan perangkat penataan ruang wilayah dimana

Dokumen Usulan Teknis E-3


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

secara proses merupakan suatu Hierarki yang terdiri atas RTRW nasional, RTRW
provinsi, dan RTRW kabupaten/kota. Rencana umum tata ruang wilayah nasional adalah
arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang wilayah nasional. Rencana umum tata
ruang wilayah provinsi adalah rencana kebijakan operasional dari RTRW Nasional.

Rencana umum tata ruang kabupaten/kota adalah penjabaran RTRW Provinsi ke dalam
kebijakan dan strategi pengembangan wilayah kabupaten/kota. Dalam
operasionalisasinya Rencana Umum Tata Ruang dijabarkan dalam Rencana Rinci Tata
Ruang yang disusun dengan pendekatan nilai strategis kawasan dan/atau kegiatan
kawasan.

Hirarki
Komplementaris
Tata Ruang

Gambar E.1 Hirarki Komplementaris Tata Ruang

Sedangkan pelaksanaan Audit Tata Ruang dilihat dari produk tata ruang dan obyek
ruang yang diteliti dapat dilihat pada tabel berikut :

Dokumen Usulan Teknis E-4


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

Tabel E.1 Produk Tata Ruang dan Objek yang Diaudit

E.2.2 Metodologi Analisis

Metode analisis dalam pelaksanaan Audit Tata Ruang pada prinsifnya digunakan untuk
mengetahui kesesuaian (gap analysis) antara rencana tata ruang wilayah yang diwakili oleh
pola ruang dan struktur ruang dengan pemanfaatan (penggunaan) ruang eksisting. Pada
analisis ini digunakanlah citra satelit dan survei lapangan sebagai media untuk memperoleh
gambaran penggunaan lahan secara eksisting sedangkan pembandingnya adalah pola
ruang RTRW seperti yang termaktub dalam Perda RTRW dan RDTR atau rencana yang lebih
rinci lagi misal RTBL di lima kabupaten. Adapun metode analisis secara teknis menggunakan
analisis sebagai berikut:

A. Sistem Informasi Geografis

Sistem Informasi Geografis adalah suatu sistem yang meliputi mengambilan data,
verifikasi data, analisis dan output data yang berreferensi secara spasial dengan bumi.
Metode dalam menentukan imbuhan air dan lepasan air tanah adalah metode yang
berbasis spasial atau dengan menggunakan pendekatan keruangan. Metode ini dipilih
karena dapat menghasilkan informasi ruang secara lebih obyektif dan up to date di
dalam mendukung proses perencanaan desain dan strategi konservasi imbuhan air dan
lepasan air tanah.

Dokumen Usulan Teknis E-5


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

Dalam penerapan pendekatan spasial dibantu dengan menggunakan Sistem Informasi


Geografis (SIG) dan Interpretasi Citra Penginderaan Jauh seperti citra satelit (untuk
penutup lahan).

Analisis spasial yang digunakan berbasis pada kemampuan dan kapasitas ruang.
Pemanfaatan pendekatan spasial diimplementasikan dengan menggunakan metode
“Development Possibility Analysis (DPA)”.

Peta Sumber &


Data Spasial

Digitasi

Database Data
Spasial Tematik
dengan GIS

· Distribusi Pemanfaatan Ruang


· Kecenderungan Perwujudan
Struktur Ruang
· Kecenderungan Perwujudan Pola
Ruang
· Kesesuaian Struktur & Pola Ruang
dengan Pemanfaatan Ruang
Eksisting

Gambar E.2 Proses Analsisis GIS

Cara kerja sistem informasi geografis adalah sebagai berikut:

1. Pada tahap awal seluruh data primer maupun sekunder dimasukkan dalam
sebuah format data GIS yang berisi peta dan atribut (tabel).
2. Keseluruhan data kemudian diverifikasi baik sistem koordinatnya maupun isi
substansinya.

Dokumen Usulan Teknis E-6


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

3. Setelah itu data diolah sesuai kebutuhan dengan berbagai ekspresi baik ekspresi
matematis maupun logik.
4. Apabila proses analisis sudah dilakukan maka tahap selanjutnya adalah membuat
tampilan layout peta sebagai salah satu hasil akhir produk.

B. Metode Analisis Pemantauan dan Evaluasi Pemanfaatan Ruang

Metode analisis pemantauan dan evaluasi pemanfaatan ruang dibagi menjadi 2 (dua)
yaitu pemantauan dan evaluasi terhadap struktur ruang dan pemantauan dan
evaluasi terhadap pola ruang. Untuk metode analisis pemantauan dan evaluasi terhadap
struktur ruang digunakan tabel binary dengan isian angka 1 bila sudah terwujud atau
sesuai lokasi perwujudannya dan angka 0 bila belum terwujud atau tidak ada kesesuaian
lokasi perwujudan. Sedangkan untuk metode analisis pemantauan dan evaluasi
terhadap pola ruang digunakan prinsip overlay peta antara Peta Pola Ruang RTRW
dengan Peta Pemanfaatan Ruang Eksisting dengan algoritma ekspresi logis. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar.

Gambar E.3 Proses Audit Penaataan Ruang dengan GIS

Dokumen Usulan Teknis E-7


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

Tabel E.2 Algoritma Kesesuaian Pola Ruang Kawasan Lindung dengan


Pemanfaatan Ruang Eksisting

Dokumen Usulan Teknis E-8


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

E.2.3 Metode Tahapan Pelaksanaan Audit Pemanfaatan Ruang

Berdasarkan tahapan pelaksanaan Audit secara rinci meliputi langkah-langkah sebagai


berikut:

E.2.4 Tahapan Penyusunan Rekomendasi Audit Pemanfaatan Ruang

Rekomendasi Tindak Lanjut Audit Penataan Ruang:

1. Aspek Tata Ruang berupa peninjauan kembali - revisi, UU No. 26/2007, Pasal 16 :
Kepentingan nasional, bencana, pemekaran, deviasi/ketidaksesuaian pemanfaatan
ruang terhadap pola ruang RTR, dll.
2. Aspek Hukum, UU No. 26/2007 Pasal 39 “...merupakan tindakan penertiban yang
dilakukan terhadap pemanfaatan ruang yang TIDAK SESUAI dengan rencana tata ruang
dan peraturan zonasi”.

Dokumen Usulan Teknis E-9


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

PENGAWASAN PENGAWASAN PENGAWASAN PENGAWASAN


· PEMANTAUAN
· EVALUASI
· PELAPORAN
· PENGADUAN

PERDA
PEMANFAATAN PENGENDALIAN
PENGATURAN RTRW RUANG
KASUS
KETIDAKSESUAIAN
· PENYIMPANGAN
PROGRAM PZ · PELANGGARAN
PERDA
RDTR
PEMBIAYAAN PERIZINAN PENERTIBAN
PEMANFAATAN
RUANG
INSENTIF
DISINSENTIF

ADMINISTRASI
PEMBINAAN PELAKSANAAN SANKSI
PEMBANGUNAN PIDANA

PPNS

Gambar E.4 Proses Penyusunan Laporan Hasil Audit Penataan Ruang

Dokumen Usulan Teknis E-10


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

E.3 METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN


Berdasarkan pendekatan, metode analisis dan metode audit tata ruang di atas maka terkait
dengan rangkaian kegiatan Audit Tata Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi dalam
prosesnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar E.5
Metodologi Pelaksanaan Kegiatan Audit Tata Ruang Wilayah Kalimantan dan Sulawesi

Dokumen Usulan Teknis E-11


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

BAB
F Jadwal Pelaksanaan
Pekerjaan

Jadwal pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan


dan Sulawesi Tahun 2018 disusun berdasarkan urutan logika dari pelaksanaan pekerjaan
sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi jangka waktu pelaksanaan pekerjaan yaitu 8
(delapan) bulan kalender, dengan rincian kegiatan yang tercermin dalam jadwal
pelaksanaan berikut ini.

Dokumen Usulan Teknis F-1


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

Dokumen Usulan Teknis F-1


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

Dokumen Usulan Teknis F-2


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

BAB
G Komposisi Tim dan
Penugasan

Sebagaimana tertulis di dalam Kerangka Acuan Kerja, disebutkan bahwa kegiatan Audit
Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi ini dilaksanakan dalam waktu 8
(delapan) bulan kalender, dimulai setelah Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) atau Surat
perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan (SPPP) ditandatangani. Jadwal pelaksanaan dalam
Penyusunan Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi yang selama 8
(delapan) bulan sebenarnya tergolong pendek mengingat luasnya aspek kajian yang harus
dilaksanakan sebagai konsekuensi dari pendekatan perencanaan tata ruang yang
komprehensif.

Sebagaimana telah ditetapkan dalam kerangka acuan kerja, waktu pelaksanaan pekerjaan
adalah selama 240 (duaratus puluh) hari kerja. Dalam hal ini Konsultan memandang bahwa
waktu yang disediakan akan sangat bergantung dari progres pekerjaan yang telah dilakukan.
Mengingat waktu yang relatif singkat ini, konsultan mengharapkan dukungan sepenuhnya
dari pihak pemberi kerja dalam rangka lebih mengefektifkan pelaksanaan pekerjaan serta
dalam rangka mencapai target yang telah ditetapkan dalam rencana kerja.

Untuk lebih jelas mengenai Komposisi Tim dan penugasaan tenaga ahli dapat dilihat pada
Tabel berikut ini.

Dokumen Usulan Teknis G-1


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

Tabel G.1 Komposisi dan Penugasannya

TENAGA AHLI
POSISI YANG
NAMA PERSONIL PERUSAHAAN LOKAL LINGKUP KEAHLIAN URAIAN PEKERJAAN OB
DIUSULKAN
/ASING
Ir. Mochhamad Karim, MSP PT. Palindo Bangun Lokal  Penyelesaian Team Leader  Bertanggungjawab 8
Konsultan permasalahan; (Ahli Perencana memimpin
 Menyusun Laporan Wilayah dan kegiatan ini secara
dan Rekomendasi Kota) keseluruhan,
Hasil Audit Penataan mengkoordinir
Ruang yang tugas-tugas tenaga
menjelaskan hasil ahli lainnya,
pengawasan  Menerima
terhadap laporan,
penyelenggaraan perkembangan
penataan ruang di dari aktifitas setiap
Wilayah Kalimantan anggota tim,
dan Sulawesi  Menjaga
soliditas/kekompa
kan tim, sehingga
dicapai tujuan,
sasaran, keluaran,
dan manfaat dari
kegiatan ini
 Menyusun
organisasi kerja
tim secara
keseluruhan;

Dokumen Usulan Teknis G-1


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

TENAGA AHLI
POSISI YANG
NAMA PERSONIL PERUSAHAAN LOKAL LINGKUP KEAHLIAN URAIAN PEKERJAAN OB
DIUSULKAN
/ASING
 Mengkoordinasika
n pelaksanaan
pekerjaan
terhadap semua
hal yang
berhubungan
dengan kelancaran
pekerjaan;
 Mengkoordinasika
n hubungan kerja
antar organisasi
kerja sesuai tugas
masing-masing
dengan semua
unsur proyek dan
instansi terkait;
 Membuat laporan
mengenai data-
data yang didapat
serta menganalisa
untuk
mendapatkan
output, guna
penyusunan buku
laporan pada
setiap tahap
kegiatan.

Dokumen Usulan Teknis G-2


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

TENAGA AHLI
POSISI YANG
NAMA PERSONIL PERUSAHAAN LOKAL LINGKUP KEAHLIAN URAIAN PEKERJAAN OB
DIUSULKAN
/ASING
M. Raimi Said, ST PT. Palindo Bangun Lokal  Menentukan indikasi Ahli Perencana  Menyusun profil 8
Konsultan pelanggaran Wilayah dan penataan ruang
penataan ruang di Kota khususnya wilayah
wilayah Kajian dari kajian di P.
aspek tata ruang Kalimantan
 Melakukan kajian
teknis indikasi
pelanggaran di
bidang penataan
ruang dari aspek
tata ruang.
 Membantu Ketua
Tim dalam
mengarahkan dan
memecahkan
permasalahan dan
indikasi
pelanggaran di
bidang penataan
ruang dari aspek
tata ruang
khususnya studi
kasus wilayah
Kalimantan
Sugiharto, ST PT. Barn Cita Laksana Lokal Menentukan indikasi Ahli Perencana  Menyusun profil 8
pelanggaran penataan Wilayah dan penataan ruang
ruang di wilayah Kajian Kota khususnya wilayah

Dokumen Usulan Teknis G-3


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

TENAGA AHLI
POSISI YANG
NAMA PERSONIL PERUSAHAAN LOKAL LINGKUP KEAHLIAN URAIAN PEKERJAAN OB
DIUSULKAN
/ASING
dari aspek tata ruang kajian di P.
Sulawesi
 Melakukan kajian
teknis indikasi
pelanggaran di
bidang penataan
ruang dari aspek
tata ruang.
 Membantu Ketua
Tim dalam
mengarahkan dan
memecahkan
permasalahan dan
indikasi
pelanggaran di
bidang penataan
ruang dari aspek
tata ruang
khususnya studi
kasus wilayah
Sulawesi
Ir. Mundir Sugito PT. Palindo Bangun Lokal  Pertampalan peta Ahli Sistem  Menginventarisasi 8
Konsultan Verifikasi lapangan Informasi data spasial digital
menggunakan Geografis/GIS dasar, GCP dan
Global Positioning interpretasi Aerial
System (GPS) Photo Capturing
Tracker dan Aerial Drone Khusus

Dokumen Usulan Teknis G-4


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

TENAGA AHLI
POSISI YANG
NAMA PERSONIL PERUSAHAAN LOKAL LINGKUP KEAHLIAN URAIAN PEKERJAAN OB
DIUSULKAN
/ASING
Photo Capturing Wilayah
Drone. Kalimantan
 Digitasi peta
eksisting lapangan
pada peta digital
rencana shp yang
telah terverifikasi
khusus Wilayah
Kalimantan
 Analysis
superimphosed
dalam kesesuai
dan penilaian
penggunaan lahan
eksisting dan peta
rencana
menghasilkan
polygon dan area-
area ketidak
sesuain tata ruang
untuk seluruh
lokasi kajian
 Menentukan lokasi
atau titik
koordinat, luas
area, dan lokasi
titik

Dokumen Usulan Teknis G-5


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

TENAGA AHLI
POSISI YANG
NAMA PERSONIL PERUSAHAAN LOKAL LINGKUP KEAHLIAN URAIAN PEKERJAAN OB
DIUSULKAN
/ASING
ketidaksesuaian
penggunaan lahan.
Ir. M. Basyid PT. Barn Cita Laksana Lokal  Pertampalan peta Ahli Sistem  Menginventarisasi 8
Verifikasi lapangan Informasi data spasial digital
menggunakan Geografis/GIS dasar, GCP dan
Global Positioning interpretasi Aerial
System (GPS) Photo Capturing
Tracker dan Aerial Drone Khusus
Photo Capturing Wilayah Sulawesi
Drone.  Digitasi peta
eksisting lapangan
pada peta digital
rencana shp yang
telah terverifikasi
Khusus Wilayah
Sulawesi
 Analysis
superimphosed
dalam kesesuai
dan penilaian
penggunaan lahan
eksisting dan peta
rencana
menghasilkan
polygon dan area-
area ketidak
sesuain tata ruang

Dokumen Usulan Teknis G-6


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

TENAGA AHLI
POSISI YANG
NAMA PERSONIL PERUSAHAAN LOKAL LINGKUP KEAHLIAN URAIAN PEKERJAAN OB
DIUSULKAN
/ASING
untuk seluruh
lokasi kajian
 Menentukan lokasi
atau titik
koordinat, luas
area, dan lokasi
titik
ketidaksesuaian
penggunaan lahan.

Dicky Utama, SH, M.Hum PT. Palindo Bangun Kajian teknis dan Ahli Hukum  Membantu Team 8
Konsultan kajian yuridis indikasi Leader dalam
pelanggaran di bidang memeriksa dan
penataan ruang dari memastikan akibat
aspek hukum khusus pelanggaran
wilayah Kalimantan. terindikasi
tersebut
dikatogorikan
tindakan
pelanggaran;
 Melakukan analisa
keterkaitan antara
actor penyebab
dengan tindakan
pelanggaran;
 Mengumpulkan
keterangan dan

Dokumen Usulan Teknis G-7


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

TENAGA AHLI
POSISI YANG
NAMA PERSONIL PERUSAHAAN LOKAL LINGKUP KEAHLIAN URAIAN PEKERJAAN OB
DIUSULKAN
/ASING
bahan bukti
(Pulbaket).
Nurditha Oktariany, SH, M.Hum PT. Barn Cita Laksana Kajian teknis dan Ahli Hukum  Membantu Team 8
kajian yuridis indikasi Leader dalam
pelanggaran di bidang memeriksa dan
penataan ruang dari memastikan akibat
aspek hukum wilayah pelanggaran
Sulawesi. terindikasi
tersebut
dikatogorikan
tindakan
pelanggaran;
 Melakukan analisa
keterkaitan antara
actor penyebab
dengan tindakan
pelanggaran;
 Mengumpulkan
keterangan dan
bahan bukti
(Pulbaket).
Bagus Purwoko Sunu, ST PT. Palindo Bangun Kajian dampak akibat Ahli Lingkungan  Membantu Team 7
Konsultan pemanfaatan ruang Leader dalam
dari aspek lingkungan memeriksa dan
memastikan
pelanggaran
indikasi dari aspek

Dokumen Usulan Teknis G-8


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

TENAGA AHLI
POSISI YANG
NAMA PERSONIL PERUSAHAAN LOKAL LINGKUP KEAHLIAN URAIAN PEKERJAAN OB
DIUSULKAN
/ASING
tata lingkungan
wilayah kajian
 Mengkaji dan
analisis aspek tata
lingkungan pada
kondisi eksisting
dengan rencana
tata ruang wilayah
kajian berdasarkan
hasil pulbaket
Ir. Alif Sargumantoro PT. Palindo Bangun Kajian dampak akibat Ahli Geologi  Membantu Team 6
Konsultan pemanfaatan ruang Leader dalam
dari aspek geologi memeriksa dan
memastikan
pelanggaran
indikasi dari aspek
geologi
 Mengkaji dan
analisis aspek
geologi pada
kondisi eksisting
dengan rencana
tata ruang wilayah
kajian berdasarkan
hasil pulbaket
Harwidyo Eko Prasetyo, ST, MT PT. Palindo Bangun Lokal Kajian dampak akibat Ahli  Membantu Team 6
Konsultan pemanfaatan ruang Konstruksi/Tran Leader dalam

Dokumen Usulan Teknis G-9


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

TENAGA AHLI
POSISI YANG
NAMA PERSONIL PERUSAHAAN LOKAL LINGKUP KEAHLIAN URAIAN PEKERJAAN OB
DIUSULKAN
/ASING
dari aspek sportasi memeriksa dan
konstruksi/transportasi memastikan
pelanggaran
indikasi dari aspek
konstruksi dan
transportasi
 Mengkaji dan
analisis aspek
konstruksi dan
transportasi pada
kondisi eksisting
dengan rencana
tata ruang wilayah
kajian berdasarkan
hasil pulbaket

Dokumen Usulan Teknis G-10


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

BAB
H Jadwal Penugasan
Tenaga Ahli

Kegiatan Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi diharapkan dapat
diselesaikan dalam jangka waktu 8 (delapan) bulan, dengan kebutuhan tenaga ahli yang
menguasai bidang keahlian tertentu yang berjumlah 10 (sepuluh) orang serta volume
layanan jasa tenaga ahli sebanyak 75 (tujuh puluh lima) Orang-Bulan.

Adapun jadwal penugasan tenaga ahli dalam Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan
dan Sulawesi dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Dokumen Usulan Teknis H-1


Audit Penataan Ruang di Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2018

Dokumen Usulan Teknis H-1