Anda di halaman 1dari 36

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Peningkatan limbah industri PLTU dari tahun ke tahun semakin bertambah
sehingga perlu adanya penelitian untuk menemukan solusi permasalahan limbah
PlTU supaya menjadi bahan yang bermanfaat. Salah satu penelitian pemanfaatan
limbah industri PLTU yang terus dikembangkan adalah pada bidang teknologi
beton. Selain dapat meningkatkan kualitas beton pemanfaatan limbah industri
PLTU juga akan mengurangi polusi atau pencemaran lingkungan yang disebabkan
oleh menumpuknya limbah industri PLTU. Salah satu limbah industri yang dapat
dimanfaatkan dalam teknologi beton adalah fly ash.
Fly ash merupakan limbah hasil pembakaran batu bara yang banyak di
hasilkan oleh industri PLTU. Dalam teknologi beton fly ash dapat digunakan
sebagai material pengganti semen karena sifat material yang dimiliki fly ash mirip
dengan sifat semen. Kemiripan sifat ini dapat ditinjau dari dua sifat utama, yaitu
sifak fisik dan kimiawi. Secara fisik, material fly ash memiliki kemiripan dengan
semen dalam hal kehalusan butir-butirnya. Menurut ACI Committee 226, fly ash
mempunyai butiran yang cukup halus, yaitu lolos ayakan No. 325 (45 mili
micron) 5-27 % dengan specific gravity antara 2,15-2,6 dan berwarna abu-abu
kehitaman. Secara kimiawi fly ash mengandung SiO2, Al2O3, P2O5, dan Fe2O3
namun kandungan SiO2 cukup tinggi mencapai ± 70 %. Dengan kandungan silika
yang cukup tinggi ini memungkinkan abu batubara memenuhi kriteria sebagai
bahan yang memiliki sifat semen/pozzolan sehingga dapat digunakan untuk
mengurangi jumlah semen sebagai material penyusun beton contohnya dalam
industri pembuatan paving block beton.
Paving block merupakan salah satu bahan penyusun lapis perkerasan yang
ramah lingkungan. Dikatakan ramah lingkungan karena paving block bisa
meresapkan air di atasnya melalui sela-sela sambungan paving block. Sehingga air
yang jatuh tidak langsung terbuang melalui saluran drainase dapat diresapkan ke
dalam tanah. Paving block mulai banyak digunakan di lingkungan sekitar kita
misalnya di jalan, taman, perumahan dan lainnya. Berdasarkan SNI 03-0691-
1996, Bata beton (paving block) adalah suatu komposisi bahan bangunan yang
dibuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis sejenisnya, air,
dan agregat dengan atau tanpa bahan tambahan lainnya yang tidak mengurangi
mutu bata beton itu. Dalam industri pembuatan paving block semen adalah salah
satu bahan meterial yang mahal namun kebutuhannya sedikit sementara agregat
merupakan salah satu material yang lebih murah namun kebutuhnnya banyak.
Penelitian ini direncanakan akan membuat paving block beton dengan bahan
tambah fly ash sebagai subtitusi agregat halus.. Selain itu paving block juga
ditambahkan dengan batu pecah (agregat kasar) untuk meningkatkan kuat tekan
paving block. Berdasarkan SNI 03-2834-2000, Agregat kasar adalah kerikil
sebagai hasil desintegrasi alami dari batu atau berupa batu pecah yang diperoleh
dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir antara 5 mm – 40 mm.
Diharapkan dengan penambahan batu pecah dan fly ash pada pembuatan paving
block beton mampu menghasilkan paving block beton yang berkualitas dengan
harga yang dapat bersaing dengan paving block biasa.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas rumusan
masalah dari penelitian tugas akhir ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh fly ash terhadap sifat tampak paving block beton ?
2. Bagaimana pengaruh fly ash terhadap kuat tekan paving block beton?
3. Bagaimana pengaruh fly ash terhadap daya serap air paving block beton?
4. Berapa kandungan optimal fly ash untuk menghasilkan kuat tekan paving
block beton yang maksimal?
5. Bagaimana perbedaan biaya produksi antara paving blok beton dengan paving
block biasa yang beredar di pasaran?

1.3 TUJUAN PENELITIAN


Tujuan utama dari penelitian tugas akhir ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengaruh fly ash terhadap sifat tampak paving block beton?
2. Mengetahui pengaruh fly ash terhadap kuat tekan paving block beton?
3. Mengetahui pengaruh fly ash terhadap daya serap air paving block beton?
4. Mengetahui kandungan optimal fly untuk menghasilkan kuat tekan paving
block beton yang maksimal?
5. Mengetahui perbedaan harga antara paving block beton dengan paving block
biasa yang beredar di pasaran?

1.4 MANFAAT PENELITIAN


Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai
berikut:
1. Memberikan informasi ilmiah tentang pengaruh fly ash terhadap kuat tekan
paving block beton.
2. Memberikan informasi ilmiah tentang pengaruh fly ash terhadap daya serap
air paving block beton.
3. Memberikan informasi ilmiah tentang kadar optimum fly ash yang bisa
dipakai sebagai bahan pengganti semen dalam pembuatan paving block beton.
4. Mengoptimalkan pemanfaatan limbah fly ash sebagai pengganti agregat halus
guna menekan harga produksi paving block beton menjadi lebih terjangkau
dan mengurangi produksi semen yang cenderung mengakibatkan pencemaran
dan kerusakan lingkungan.
5. Memberi inovasi dan variasi dalam teknologi pembuatan Paving block beton.

1.5 BATASAN PENELITIAN


Pada penelitian ini perlu dilakukan batasan masalah sehingga penelitian yang
dilakukan tidak meluas dan menjadi jelas batasannya. Adapun yang menjadi
batasan masalah, sebagai berikut:
1. Pengujian dilakukan setelah benda uji berumur 28 hari.
2. Jenis benda uji berupa paving block berbentuk persegi dengan ukuran
cetakan 20 cm x 10 cm x 6 cm.
3. Cara pengujian pada paving block adalah sesuai dengan yang tertera dalam
SNI 03- 0691-1996, yaitu meliputi: pengujian penyerapan air dan pengujian
kuat tekan
4. Pengujian penyerapan air, sesuai dengan SNI 030691-1996 paving block, ini
dimaksudkan untuk mengetahui persentase absorbsi benda uji dengan
perbandingan antara berat air yang terkandung pada paving block dengan
berat paving block yang kering.
5. Pengujian kuat tekan, sesuai dengan SNI 03-06911996 paving block,
dimaksudkan untuk menentukan kuat tekan paving block yang berbentuk
balok yang dibuat di pabrik paving block dan dirawat (curing).
6. Semen yang digunakan adalah semen portland tipe 1 dengan perbandingan
1 semen : 8 agregat
7. Batu pecah yang digunakan maksimal dengan ukuran 20mm dengan
proporsi 30% dan 50% dari kebutuhan agregat.
8. Faktor Air Semen yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 0,5. Variasi
fly ash 0%, 5%, 10%, 15% dari kebutuhan agregat halus.
9. Pencetakan paving block menggunakan sistem manual dan menggunakan
mekanis.
10. Masing-masing variasi menggunakan 6 sample paving block dengan 3
sample cetakan manual dan 3 sample cetakan mekanis.
11. Limbah fly ash diperoleh dari sisa pembakaran batu bara PLTU pacitan.
12. Penelitian di lakukan di laboratorium Teknologi Bahan Konstruksi Teknik
Sipil UNY.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KAJIAN TEORI RELEVAN


Pada penelitian ini, digunakaan beberapa referensi yang berhubungan dengan
objek penelitian terutama dari penelitian-penelitian terdahulu tentang paving
block). Berikut ini adalah beberapa penelitian terdahulu terkait penelitian paving
block.

2.1.1 Peningkatan Kuat Tekan Paving Block Menggunakan Campuran Tanah


Dan Semen Dengan Alat Pemadat Modifikasi, Ratna Hidayati (2016)
Paving block merupakan suatu komposisi bahan bangunaan yang dibuat dari
campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis sejenisnya, air, dan agregat
atau tanpa bahan tambahan lainnya yang tidak mengurangi mutu beton itu. Dalam
pelaksanaan dilapangan paving block dibuat dengan bahan dasar semen, pasir,
agregat dan air dengan metode pembuatan mencampur seluruh bahan dan
mencetak adukan paving block. Salah satu upaya untuk menciptakan inovasi baru
pada alat pembuatan paving block maka diciptakanlah alat pemadatpaving block
yang diharapkan dapat meningkatkan mutu paving block tersebut dengan bahan
dasar semen dan tanah.
Sampel tanah yang diuji pada penelitian ini yaitu tanah yang berasal dari
daerah Kota Baru, Lampung Selatan. Variasi kadar campuran yang digunakan
adalah 5%, 10%, 15% dan 20% dengan waktu pemeraman selama 14 hari serta
dengan perlakuan pra dan pasca pembakaran pada sampel paving block.
Berdasarkan pengujian sifat fisik tanah, USCS mengkasifikasikan sampel tanah
sebagai tanah berbutir halus dan termasuk ke dalam kelompok CL.
Hasil penelitian ini diperoleh nilai rata-rata kuat tekan pada campuran 20%
pasca pembakaran yang terbesar yaitu sebesar 15,05 Mpa. Dengan demikian
bahwa disamping jumlah semen perilaku pasca pembakaran juga mempengaruhi
nilai kuat tekannya. Dan nilai kuat tekan ini memenuhi syarat paving block SNI-
03- 0691-1996 yaitu memenuhi syarat pada kalsifikasi mutu C yaitu dengan kuat
tekan minimal 12,5 Mpa. Selain kuat tekan pengujian daya serap air yang
dihasilkan diantara 3-9% secara keseluruhan memenuhi syarat paving block
SNI03-0691-1996.

2.1.2 Studi Kuat Tekan Paving Block Dari Campuran Tanah Lempung, Semen,
Dan Abu Sekam Padi Menggunakan Alat Pemadat Modifikasi, Sherliana
(2016)
Salah satu dari sarana transportasi yang sudah lazim digunakan dalam
perkerasan jalan yaitu paving block. Paving block terbuat dari campuran semen
portland atau bahan perekat hidrolisis sejenis, air, dan agregat dengan atau tanpa
bahan lainnya. Akan tetapi, penggunaan material tersebut membuat harga
produksi menjadi mahal. Untuk itu, pada penelitian ini proses pembuatan paving
block akan dicoba menggunakan bahan alternatif berupa campuran tanah dengan
bahan additive abu sekam padi yang berasal dari limbah pembakaran batang padi
yang dikombinasikan dengan semen portland.
Sampel tanah yang diuji pada penelitian ini yaitu tanah lempung yang berasal
dari daerah Raja Basa, Lampung Selatan. Variasi perbandingan kadar campuran
abu sekam padi yang digunakan adalah 0%, 7%, 9%, 11%, dan 13%, dengan
waktu pemeraman 7 hari serta dengan perlakuan pasca pembakaran dan pra
pembakaran sampel paving block. Berdasarkan hasil pengujian fisik tanah asli,
USCS mengklasifikasikan sampel tanah sebagai tanah berbutir halus dan
termasuk ke dalam kelompok CL.
Hasil penelitian menujukkan bahwa pembuatan paving block menggunakan
material tanah dengan bahan additive abu sekam padi tidak memenuhi SNI paving
block. Akan tetapi, secara umum penambahan bahan additive tersebut dapat
meningkatkan sifat fisik dan mekanik tanah. Hal ini terbukti dengan
meningkatnya nilai kadar air optimum campuran dan sifat daktilitas paving block.
Untuk nilai kuat tekan paving block tanpa pembakaran dan dengan proses
pembakaran paling baik ditunjukkan pada penambahan kadar campuran 9%.

2.1.3 Pengaruh Komposisi Campuran Terhadap Kuat Tekan Paving Block, Dwi
Deshariyanto (2017)
Pemanfaatan sumber daya alam khususnya batu kapur atau yang disebut
dengan batu karang yang sudah diproduksi di wilayah Kabupaten Sumenep
menjadi sirtu (pasir batu) sehingga bahan tersebut dapat dipergunakan sebagai
bahan dasar pembuatan paving block. Salah satu upaya yang dapat dilakukan
untuk dapat memenuhi kebutuhan paving block di Kabupaten Sumenep dengan
harga murah dan memenuhi kuat tekan yang diisyaratkan melalui penelitian
mencari pengaruh komposisi campuran terhadap kuat tekan paving block.
Campuran sirtu dalam penelitian ini nantinya dicampur dengan pasir hitam
dengan prosentase campuran aggregat sebesar 30% pasir hitam dan 70% pasir
serbuk batu pecah (sirtu). Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh
komposisi campuran paving block terhadap kuat tekan dan penyerapan paving
block serta mengetahui komposisi campuran paving block yang mempunyai kuat
tekan maksimum.
Penelitian ini merupakan penelitian percobaan yang akan dilakukan di
laboratorium, rancangan penelitian untuk mencari komposisi antara jumlah kadar
semen dengan pasir, rancangan penelitian ini dilakukan terhadap 5 perlakukan.
Analisis data penelitian menggunakan analisis frekuensi dan analisis regresi linier.
Komposisi campuran paving block berpengaruh signifikan terhadap kuat tekan
dan penyerapan air paving block. Kuat tekan mempunyai hubungan negatif
dengan komposisi campuran paving block, maka semakin meningkat komposisi
campuran kuat tekan akan semakin menurun. Penyerapan air mempunyai
hubungan positif dengan komposisi campuran paving block, maka semakin
meningkat komposisi campuran penyerapan air akan semakin meningkat.
Komposisi campuran paving block yang mempunyai kuat tekan maksimum
berada pada komposisi campuran 1Pc : 2Ps deng an kuat tekan paving block
sebesar 252,63 Kg/cm2.

2.1.4 Komposisi Paving Block Berbasis Limbah Padat Abu Boiler Pabrik Kelapa
Sawit Sebagai Bahan Pengganti Semen, Choirul May Affandi Siregar (2016)
Abu boiler pabrik kelapa sawit (POBA) adalah bahan pozzolan yang
dimanfaatkan sebagai bahan pengganti semen sehingga dapat mengurangi jumlah
semen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh jumlah kerikil yang
ditambahkan pada komposisi agregat dan pengaruh jumlah POBA sebagai bahan
pengganti semen terhadap mutu paving block. Komposisi kerikil yang digunakan
adalah 10%, 20%, dan 30% dari berat agregat, sedangkan komposisi POBA yang
digunakan adalah 5%, 10%, 15%, 20% dan 25% dari berat semen. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penggunaan kerikil dan POBA sebagai bahan pengganti
pasir dan semen berpengaruh terhadap mutu paving block. Semakin banyak
kerikil yang ditambahkan semakin baik mutu paving block. Komposisi paving
block terbaik pada penelitian ini adalah jumlah kerikil yang ditambahkan pada
agregat sebanyak 20% dan jumlah POBA dapat menggantikan semen sebanyak
10%. Hal ini ditunjukkan dari nilai kuat tekan pada umur 7, 14, dan 28 hari
semakin meningkat hingga mencapai 22,04 MPa, penyerapan air sebesar 5,8%,
dan ketahanan terhadap sulfat. Berdasarkan SNI 03-0691-1996, paving block yang
dihasilkan pada perlakuan ini termasuk mutu B dan dapat digunakan untuk
pelataran parkir.

2.1.5 Karakteristik Dan Pemanfaatan Pasir Sungai Progo Dalam Pembuatan


Produk Paving Block, Denizar Rahman Pratama (2017)
Komoditi bahan galian pasir mempunyai peranan penting dalam berbagai
industri, baik sebagai bahan baku utama maupun sebagai bahan baku penunjang.
Salah satu dari pemanfaatan endapan pasir yang sudah lazim digunakan dalam
industri yaitu paving block. Paving block terbuat dari bahan utama pasir dan
campuran semen portland atau bahan perekat hidrolisis sejenis, air, dan agregat
dengan atau tanpa bahan lainnya. Analisis granulometri pada litologi pasir ini
menjadi penting dilakukan untuk mengetahui profil endapan tersebut sehingga
dapat memaksimalkan aplikasinya dalam pembuatan produk konstruksi. Pada
penelitian ini bahan pasir yang diambil berasal dari Sungai Progo yang merupakan
salah satu lokasi yang menjadi sumber penambangan pasir dan batu di wilayah
Jawa Tengah dan D. I. Yogyakarta.
Pengambilan data lapangan secara administrasi berada di sepanjang aliran
sungai Progo. Pengambilan data dilakukan di 3 lokasi pengamatan yang mewakili
wilayah hulu, tengah, dan hilir dari bagian Sungai Progo dengan total sampel yang
diambil berjumlah 12 sampel endapan sungai. Pengolahan data dilakukan di
laboratorium, yang meliputi analisis data ukuran butir, analisis morfologi butir
kerakal dan pasir, serta komposisi sedimen serta uji kuat tekan dari pemanfaatan
sampel tersebut setelah menjadi produk paving block. Hasil analisis menunjukkan
bahwa nilai hubungan antara karakteristik endapan sungai sangat jelas
berpengaruh terhadap kekuatan kuat tekan dari produk paving block yang
dihasilkan.
Hasil uji kuat tekan menunjukkan bahwa komposisi kandungan yang baik pada
pembuatan paving block digunakan dengan perbandingan kandungan pasir 69 %,
Agregat 11 %, dan Semen 20 %, dan air. Sedangkan pada hasil tersebut diketahui
bahwa litologi pasir Sungai Progo yang optimal untuk digunakan untuk paving
block ialah pasir yang berasal dari bagian Hulu Sungai Progo yaitu daerah
Temanggung. Hal ini dikarenakan karakter ukuran butir dan berat jenis lebih besar
sehingga memiliki ruang pori yang lebih luas yang terisi dengan pengikat, serta
bentuk butir yang cenderung menyudut memberi ikatan antar campuran menjadi
lebih kuat

2.1.6 Penggunaan Abu Vulkanik Dan Kapur Untuk Meningkatkan Kuat Tekan
Paving Block Pada Industri Masyarakat, Marsono (2013)
Pemanfaatan Abu vulkanik dari peristiwa erupsi Gunung Merapi di Kabupaten
purworejo Provinsi Jawa Tengah sampai saat ini belum dilakukan secara optimal.
Penggunaanya sebatas untuk pengurugan lahan dan sebagian yang lain ditimbun
di TPA (Tempat Pembuangan Sampah) Desa Bulus Kecamatan Gebang
Kabupaten Purworejo. Wujud visual abu vulkanik sangat halus berukuran mikron
menyerupai ukuran semen sehingga bisa digunakan sebagai campuran mortar
dalam pembuatan paving block, tetapi belum pernah dilakukan penelitian dan
pengujian untuk mengetahui optimasi karakteristiknya.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pemanfaatan abu
vulkanik sebagai bahan subtitusi pembuatan paving block.sebagai pengganti pasir
dapat lebih efisien, ekonomis dan memenuhi persyaratan yang berlaku. Lingkup
penelitian meliputi pemeriksaan dan pengujian terhadap agregat pasir, krikil, dan
abu vulkanik. Besar butir pasir > 5 mm, kerikil yang digunakan dibatasi pada
fraksi butir 5-10 mm, abu vulkanik dan kapur lolos pada ayakan no.
200.Komposisi campuran paving block dibuat dengan perbandingan volume
semen : agregat sebesar1:5 danf aktor air semen 0,25. Ada lima variasi komposisi
campuran subtitusi abu vulkanik pengganti pasir yakni 0%, 10%, 20%, 30%, dan
40% seta subtitusi abu vulkanik-kapur pengganti pasir dengan prosentase kapur
0%, 10%, 20%, 30%, dan 40% pengganti abu vulkanik. Setiap variasi diujipada
umur 28 hari. Benda uji paving block berukuran 200 mm x 100 mm x80 mm.
Jumlah benda uji 40 buah subtitusi abu vulkanik dan40 buah subtitusi abu
vulkanik-kapur, yang digunakan untuk mengetahui kuat tekan, dan penyerapan
air.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa subtitusi abu vulkanik sebagai bahan
campuran pembuat paving block pengganti pasir atau subtitusi abu vulkanik-kapur
secara umum dapat menghasilkan paving block lebih berkualitas serta bernilai
ekonomis. Beratjenis, beratsatuan, serapan air, kuat tekan dan ketahanan aus
paving block menunjukkan hasil yang spesifik terhadap kenaikan kualitas paving
block. Berat jenis paving block per m3 dengan perbandingan volume
semen:agregat 1:5 berkisar antara 1,79–2,03 kg/m3 (subtitusi abu vulkanik) dan
1,81 - 2,05 kg/m3 (subtitusi abu vulkanik-kapur),serapan air rata-rata paving block
berkisar antara12,779%-15,882% (subtitusi abu vulkanik) dan 11,832%-15,117%
(subtitusi abu vulkanik-kapur), kuat tekan rata-rata paving block berkisar
antara7,24 MPa – 10,94MPa (subtitusi abu vulkanik) dan7,23MPa – 9,73MPa
(subtitusi abu vulkanik kapur). Padasetiap 1 m3 paving block dengan proporsi
semen terhada pagregat 1: 5,jumlah semen yang di butuhkan 247,55 kg, jumlah
Agregat 1.569,49 kg (0,990 m3)dan jumlah air yang diperlukan61,889 liter
(0,0618 m3). Biaya produksi per buah paving block komposisi 1 sebesar
Rp.791,02 , komposisi 2 sebesar Rp. 789,03 , komposisi 3 sebesar Rp. 787,09 ,
komposisi 4 sebesar Rp. 785,10 , komposisi 5 sebesar Rp. 783,16.

2.2 KEASLIAN PENELITIAN


Pada penelitian ini “Pengaruh Penambahan Fly Ash (Abu Terbang) Sebagai
Subtitusi Semen Terhadap Kuat Tekan Paving Block Beton Dengan Variasi ( 0%,
5%, 10%, 15%)” berbeda dari penelitian sebelumnya karena belum pernah ada
yang melakuakan penelitian tentang paving block beton.
BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 PENGERTIAN PAVING BLOCK


Paving block adalah suatu komposisi bahan bangunan yang terbuat dari
campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis lainnya, air dan agregat
dengan atau bahan tambahan lainnya yang tidak mengurangi mutu beton tersebut
(SNI 03-0691-1996).
Paving block merupakan produk bahan bangunan dari semen dan agregat yang
digunakan sebagai alternatif penutup atau perkerasan permukaan tanah. Sebagai
bahan penutup dan peekerasan permukaan tanah paving block sangat luas
penggunaaanya untuk berbagai keperluan seperti pembuatan jalan, lahan parkir,
trotoar, dan halaman rumah. Sekarang ini banyak yang memilih paving block
dibandingkan perkerasan lain seperti aspal atau cor beton. Meningkatnya minat
konsumen terhadap paving block ini dikarenakan paving block memiliki nilai
estetika yang jauh lebih tinggi dari pada perkerasan aspal maupun cor beton.
Selain itu kontruksi perkerasan paving block bersifat ramah lingkungan dimana
paving block sangat baik dalam membantu konservasi air tanah, pelaksanaannya
yang lebih cepat, pemeliharaan yang mudah, dapat diproduksi secara masal, serta
harganya lebih terjangkau.
Paving block sering disebut dengan istilah bata beton (concrete block). Pada
umumnya bahan yang digunakan dalam campuran paving block adalah mortar
(campuran pasir dan semen). Kualitas material yang digunakan dalam pembuatan
paving block berpengaruh terhadap kualitas paving block. Penggunaan material
pasir yang mengandung banyak lumpur dapat membuat kualitas paving block
menurun. Selain itu komposisi campuran antara semen dan pasir juga berpengaruh
terhadap kualitas paving block yang dihasilkan. Kualitas paving block dapat di
tentukan dari pengujian kuat tekan, ketahanan aus, dan daya penyerapan dari
paving block. Sifat fisik paving block atau disebut juga bata beton menurut SNI
1996 harus mempunyai kekuatan seperti pada tabel.3.1
Tabel 3.1 Kekuatan Fisik Paving Block
Kekuatan Ketahanan Aus Penyerapa
Mutu Kegunaan (Kg/Cm2) (mm/menit) n air rata-
rata
Rata- Terendah Rata-rata Terendah
(%)
rata
A Perkerasan Jalan 400 350 0,090 0,103 3
B Parkir Mobil 200 170 0,130 0,149 6
C Pejalanan Kaki 150 125 0,160 0,184 8
D Taman Kota 100 85 0,219 0,251 10
Sumber: SK SNI - 03 – 0691 – 1996

3.2 METODE PEMBUATAN PAVING BLOCK


Dalam industri pembuatn paving block terdapat 2 metode pembuatan paving
block yaitu metode konvensional (manual) dan metode mekanis.
3.2.1 Metode konvensional (manual)
Cara pembuatan paving block dengan cara manual ini dilakukan dengan cara
menyampurkan bahan yaitu semen, pasir, dan air dengan komposisi tertenu.
Kemudian setelah campuran homogen masukan campuran tersebut kedalam
cetakan paving block. Pada metode ini cara pemadatannya dilakukan dengan cara
dipukul menggunakan pemukul khusus untuk paving block. Kekurangan dari
meode ini adalah pembuatanya yang tidak secepat metode mekanis dan kekuatn
kuat tekan paving block yang kurang maksimal karena hanya dilakukan dengan
tenaga manusia. Selain itu pada metode ini kuat tekan paving block yang
dihasilakan akan berbeda-beda tergantung dari jumah pukulan, berat alat pemukul,
dan kualitas tukang atau pembuat paving block.
3.2.2 Metode mekanis (press)

3.3 KLASIFIKASI PAVING BLOCK


Dalam industri pembuatn paving block terdapat 2 metode pembuatan paving
block yaitu metode konvensional (manual) dan metode mekanis.
3.3.1 Klasifikasi paving block berdasarkan bentuk
3.3.2 Klasifikasi paving bock berdasarkan kuat tekan
3.3.3 Klasifikasi paving block berdasarkan ketebalan
3.3.4 Klasifikasi paving block berdasarkan warna

3.4 KEUNGGULAN DAN KLELEMAHAN PAVING BLOCK


3.5 BAHAN PENYUSUN PAVING BLOCK
Kualitas dan mutu paving block ditentukan oleh bahan dasar, bahan tambahan,
proses pembuatan dan alat yang digunakan. Semakin baik mutu bahan bakunya,
komposisi perbandingan campuran yang direncanakan, proses pencetakan dan
pembuatan yang dilakukan baik menggunakan sistem manual maupun mekanis
(press).
Bahan-bahan pokok paving block adalah semen, agregat dan air dalam proporsi
tertentu tetapi ada juga paving block yang menggunakan bahan tambah seperti abu
sekam padi, kapur, fly ash, dan lain lain.

3.5.1 Semen portland


Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 15-2049-2004, mendefinisikan
bahwa semen Portland adalah semen hidrolisis yang dihasilkan dengan cara
menggiling terak (Clinker) portland terutama yang terdiri dari kalsium silikat
(xCaO.SiO2) yang bersifat hidrolis dan digiling bersama-sama dengan bahan
tambahan berupa satu atau lebih bentuk kristal senyawa kalsium sulfat
(CaSO4.xH2O) dan boleh ditambah dengan bahan tambahan lain. Beberapa jenis
semen diatur dalam SNI mengenai semen portland (OPC = Ordinary Portland
Cement) dapat dibedakan menjadi 5 (lima) tipe yaitu:
1. Tipe I yaitu semen portland untuk penggunaan umum yang tidak
memerlukan persyaratan-persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada
jenis-jenis lain. Fungsi semen portland tipe I digunakan untuk keperluan
konstruksi umum yang tidak memakai persyaratan khusus terhadap panas
hidrasi dan kekuatan tekan awal. Cocok dipakai pada tanah dan air yang
mengandung sulfat 0, 0% – 0, 10 % dan dapat digunakan untuk bangunan
rumah pemukiman, gedung-gedung bertingkat, perkerasan jalan.
2. Tipe II yaitu semen portland yang digunakan untuk konstruksi bangunan dari
beton massa yang memerlukan ketahanan sulfat ( Pada lokasi tanah dan air
yang mengandung sulfat antara 0, 10 – 0, 20 % ) dan panas hidrasi sedang,
misalnya bangunan dipinggir laut, bangunan dibekas tanah rawa, saluran
irigasi, beton massa untuk dam-dam.
3. Tipe III semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan kekuatan
tinggi pada tahap permulaan setelah pengikatan terjadi. Semen portland pada
tipe ini biasanya digunakan untuk konstruksi bangunan pada fase permulaan
setelah pengikatan terjadi, misalnya untuk pembuatan jalan beton, bangunan-
bangunan tingkat tinggi, bangunan-bangunan dalam air yang tidak
memerlukan ketahanan terhadap serangan sulfat.
4. Tipe IV yaitu semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan kalor
hidrasi rendah. Fungsi Semen Portland tipe IV digunakan untuk keperluan
konstruksi yang memerlukan jumlah dan kenaikan panas harus diminimalkan.
Oleh karena itu semen jenis ini akan memperoleh tingkat kuat beton dengan
lebih lambat ketimbang Portland tipe I. Tipe semen seperti ini digunakan
untuk struktur beton masif seperti dam gravitasi besar yang mana kenaikan
temperatur akibat panas yang dihasilkan selama proses curing merupakan
faktor kritis.
5. Tipe V yaitu semen portland yang dalam penggunaanya memerlukan
ketahanan tinggi terhadap sulfat. Biasanya semen portland tipe V ini
digunakan untuk konstruksi bangunan-bangunan padat tanah atau air yang
mengandung sulfat melebihi 0, 20 % dan sangat cocok untuk instalasi
pengolahan limbah pabrik, konstruksi dalam air, jembatan, terowongan,
pelabuhan, dan pembangkit tenaga nuklir.

3.5.2 Agregat
Agregat adalah butiran mineral yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam
campuran mortar atau beton. Agregat ini kira-kira menempati sebanyak 70%
volume mortar atau beton. Agregat sangat berpengaruh terhadap sifat mortar atau
betonnya, sehingga pemilihan agregat adalah suatu bagian penting dalam
pembuatan mortar atau beton (Tjokrodimuljo, 2004). Agregat umumnya
menempati 70-80% dari isi beton total. Karena itu, meskipun agregat tidak ikut
bereaksi dengan pasta semen, agregat mempunyai pengaruh penting pada sifat-
sifat beton segar maupun beton-beton keras. Agregat merupakan bahan berbutir
yang umumnya berasal dari batu alam bentuk batu pecah atau koral dan pasir.
Dalam SNI T-15-1991-03 agregat didefinisikan sebagai material granular,
misalnya pasir, kerikil, batu pecah, dan kerak tungku besi yang dipakai bersama-
sama dengan suatu media pengikat untuk membentuk beton semen hidrolik atau
adukan.
Sifat yang paling penting dari agregat adalah kekuatan hancur dan ketahanan
terhadap benturan, yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan pasta semen,
porositas dan karakteristik penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan
terhadap proses pembekuan waktu musim dingin dan agresi kimia, serta
ketahanan terhadap penyusutan (Murdock dan Brook, 1986).
Menurut Tjokrodimuljo (1992) agregat umumnya digolongkan menjadi 3
kelompok, yaitu :
1. Batu, untuk besar butiran lebih dari 40 mm.
2. Kerikil untuk besar butiran antara 5 mm sampai 40 mm.
3. Pasir untuk butiran antara 0,15 mm sampai 5 mm.
Jenis agregat yang digunakan sebagai bahan susun beton adalah agregat halus
dan agregat kasar, bisa didapat secara alami atau buatan. Pada penelitian ini
peneliti menggunakan agregat halus berupa pasir dan agregat kasar berupa batu
pecah berukuran 10 mm sampai 20 mm.
1. Agregat halus
Menurut Kardiyono (1996), agregat halus adalah agregat yang berbutir kecil
(antara 0,15 mm dan 5 mm). Dalam pemilihan agregat halus harus benar-benar
memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, karena sangat menentukan dalam
hal kemudahan pengerjaan (workability), kekuatan (strength), dan tingkat
keawetan (durability) dari beton yang dihasilkan. Pasir sebagai bahan pembentuk
mortar bersama semen dan air, berfungsi mengikat agregat kasar menjadi satu
kesatuan yang kuat dan padat.
Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alami, hasil pecahan dari batuan
secara alami, atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh mesin pemecah batu
yang biasa disebut abu batu. Agregat halus yaitu berupa pasir sebagai hasil
desintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh
alat-alat pemecah batu (PBI, 1971). Syarat-syarat agregat halus yaitu:
a. Agregat halus terdiri dari butir–butir yang tajam dan keras. Butir agregat
halus harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh
cuaca seperti terik matahari dan hujan.
b. Kandungan lumpur tidak boleh lebih dari 5% (ditentukan terhadap berat
kering). Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat
melalui ayakan 0,063 mm. Apabila kadar lumpur lebih dari 5%, maka
agregat harus dicuci.
c. Pasir laut tidak boleh dipakai sebagai agregat halus untuk semua mutu
beton, kecuali dengan petunjuk dari lembaga pemeriksaan bahan yang
diakui.

1) Agregat kasar
Agregat kasar adalah agregat dengan besar butiran lebih dari 5 mm atau
agregat yang semua butirannya dapat tertahan di ayakan 4,75 mm. Agregat kasar
untuk beton dapat berupa kerikil sebagai hasil dari disintegrasi alami dari batu-
batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan manual atau mesin.
Syarat-syarat agregat kasar yaitu :
a. Harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori.
b. Butir-butir agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau
hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan hujan.
c. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton,
seperti zat-zat yang reaktif alkali.
d. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 %. Apabila
kadar lumpur melampaui 1 % maka agregat kasar harus dicuci.

3.5.3 Air
Air merupakan bahan yang diperlukan untuk proses reaksi kimia, dengan
semen untuk pembentukan pasta semen. Air juga digunakan untuk pelumas antara
butiran dalam agregat agar mudah dikerjakan dan dipadatkan. Dalam konstruksi
beton, air adalah bahan campuran yang turut menentukan mutu dari suatu beton.
Air dalam campuran beton menyebabkan terjadinya proses hidrasi dengan semen.
Jumlah air yang berlebihan akan menurunkan kekuatan beton. Namun air yang
terlalu sedikit akan menyebabkan proses pencampuran yang tidak merata. Oleh
sebab itu pemakaian air dalam campuran beton harus diteliti terlebih dahulu agar
jangan mengurangi mutu beton yang dihasilkan. Jumlah air yang dipakai untuk
membuat adukan beton dapat ditentukan dengan ukuran isi atau ukuran berat dan
harus dilakukan dengan tepat. Menurut PBBI 1971 N.I.– 2, pemakaian air untuk
beton tersebut sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Air harus bersih.
2. Tidak mengandung lumpur dan benda melayang lainnya yang lebih dari 2
gram perliter.
3. Tidak mengandung garam atau asam yang dapat merusak beton, zat organik
dan sebaginya lebih dari 15 gram per liter.
4. Tidak mengandung klorida (Cl) lebih dari 1 gram per liter.
5. Tidak mengandung senyawa asam sulfat lebih dari 1 gram per liter.

3.6 PAVING BLOCK BETON

3.7 BAHAN TAMBAH PAVING BLOCK

3.8 PROSEDUR PENELITIAN


Pada pelaksanakan penelitian ini dilakukan beberapa langkah-langkah
penelitian mulai dari persiapan alat dan bahan, perhitungan campuran beton (mix
desain), pembuatan benda uji, perawatan benda uji, pengujian benda uji, analisis
data dan penarikan kesimpulan dari hasil penelitian. Dibawah ini adalah langkah-
langkah pelaksanaan penelitian, yaitu:
1. Langkah pertama dalam penelitian ini adalah tahap persiapan. Pada tahap ini
seluruh bahan dan peralatan yang dibutuhkan dalam penelitian dipersiapkan
terlebih dahulu agar penelitian dapat berjalan dengan lancar.
2. Langkah kedua dalam penelitian ini adalah tahap pembuatan mix desian. Pada
tahap ini dilakukan penentuan campuran dalam pembuatan benda uji.
3. Langkah ketiga dalam penelitian ini adalah tahap pembuatan benda uji. Pada
tahap ini dilakukan pembuatan benda uji sesuai rencana mix desain yang telah
ditentukan.
4. Langkah keempat dalam penelitian ini adalah tahap perawatan (curing). Pada
tahap ini dilakukan perawatan terhadap benda uji yang telah dibuat pada
langkah ketiga.
5. Langkah kelima dalam penelitian ini adalah tahap pengujian. Pada tahap ini
dilakukan pengujian kuat tekan dan daya penyerapan air menggunakan
sampel paving block beton berukuran 20 cm × 10 cm × 6 cm
6. Langkah keenam dalam penelitian ini dalah tahap analisa data. Pada tahap ini,
data yang diperoleh dari hasil pengujian dianalisa untuk mendapatkan suatu
kesimpulan.
7. Langkah ketujuh pengambilan kesimpulan. Pada tahap ini, data yang telah
dianalisis dibuat suatu kesimpulan yang berhubungan dengan tujuan
penelitian.
3.3.1 Diagram Alir dalam penelitian dan penyusunan tugas akhir

Mulai

Kajian Pustaka

Persiapan

Persiapan Bahan Persiapan Alat

1. Fly Ash 1. Cetakan Paving Block


2. Agregat Halus 2. Molen
3. Agregat Kasar 3. Timbangan
4. Semen 4. Gelas Ukur
5. Air 5. Ember Dan Sendok Semen
6. Oven

7.

`
Perencanaan Mix
Design

Pembuatan Benda Uji

Perawatan

Pengujian dan Analisa Data

Hasil

Gambar Diagram Alir Penelitian


3.9 PERSIAPAN PENELITIAN
Tahap persiapan merupakan tahap awal yang penting dalam sebuah peneltian.
Pada tahapan ini meliputi persiapan bahan dan alat yang digunakan agar peneliian
dapat berjalan dengan lancar.
3.4.1 Persiapan bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
1. Agregat halus (pasir)
Agregat halus yang digunakan adalah pasir yang diambil dari daerah Progo.

Gambar 3.1 Agregat Halus (Pasir)


2. Agregat kasar (kerikil)
Agregat kasar yang digunakan merupakan batu pecah yang diperoleh dari PT.
Amerta Giri Lestari

Gambar 3.2 Agregat Kasar (Kerikil)


3. Semen
Penelitian ini menggunakan semen tipe I yaitu menggunakan semen merk
Gersik.

Gambar 3.3 Semen


4. Abu terbang (fly ash)
Abu terbang (fly ash) yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari pltu
pacitann dengan prosentase 0%, 5%, 10%, dan 15% dari berat agregat halus.

Gambar 3.4 Abu Terbang (fly ash)


5. Air
Air yang digunakan adalah air sumur dari Gunung kidul.
Gambar 3.5 Air
3.6.2 Persiapan alat
Alat – alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :
1. Timbangan
Timbangan yang digunakan dalam penelitian ini jenis timbang digital, dengan
kapasitas 10 kg, ketelitian mencapai 1 gram, yang digunakan untuk menimbang
material.

Gambar 3.7 Timbangan


2. Oven
Digunakan untuk mengeringkan sampel paving block untuk pengujian daya
penyerapan air.
Gambar 3.9 Oven.
3. Mesin aduk beton ( molen ).
Mesin pengaduk (molen) untuk mencampur bahan pembuat paving block beton.

Gambar 3.11 Mesin Aduk Beton (Molen).


4. Cetakan paving block manual
Cetakan paving block manual ini diguanakan sebagi alat cetak paving block
secara manual

Gambar 3.13 Cetakan Paving Block Manual


5. Cetakan paving block mesin
Cetakan paving block mesin ini diguanakan sebagai alat cetak paving block
secara mekanis.

Gambar 3.13 Cetakan Paving Block Mesin


6. Mesin uji kuat tekan.
Alat ini digunakan untuk pengujian kuat tekan beton.

Gambar 3.14 Mesin Uji Tekan Beton.


7. Cetok.
Alat ini digunakan untuk memasukan adukan beton ke cetakan paving block
manual.

Gambar 3.14 Cetok


8. Gelas ukur.
Alat ini digunakan untuk mengukur volume air yang digunakan dalam
pembutan paving block

Gambar 3.14 Gelas Ukur.


9. Ember.
Ember digunakan sebagai alat takaran material dalam pembuatan paving
block
Gambar 3.14 Ember.
10. Papan kayu
Papan kayu digunakan sebagi media untuk meletakan paving block seletah di
cetak.

Gambar 3.14 Papan Kayu

3.10 PEMBUATAN BENDA UJI


Pembuatan benda uji penelitian ini dilakukan dengan cara pencetakan manual
dan pencetakan menggunakan mesin, Perbandingan proposi semen dengan
agregat yang dibutuhkan adalah 1 : 8 dengan batu pecah sebesar 30% dan 50%
dari kebutuhan agregat. Benda uji paving block beton setiap variasi dikurangi
proporsi agregat halusnya dan digantikan dengan Abu terbang (fly ash) secara
gradual mulai dari 0%, 5%, 10%, dan 15%. Dalam penelitian ini bentuk paving
block yang akan dibuat dengan ukuran 20 cm × 10 cm × 6 cm. Berikut adalah
langkah-langkah yang akan dilaksanakan dalam pembuatan benda uji :
1. Pertama adalah mempersiapkan benda dan alat untuk dipergunakan
pembuatan benda uji,
2. Merencanakan campuran paving block beton (mix design). Berguna untuk
mengetahui proposi material setiap benda uji, berikut ini adalah tabel
perencanakan campuran paving block beton :

Tabel 3.2 Mix Desain 1 Dengan Agregat Kasar 30% Dari Kebutuhan Agregat
No Perbandingan kebutuhan semen dan
agregat
Agregat Agregat
Semen halus + kasar
fly ash
1 1 5,6 2,4
2 1 5,6 2,4
3 1 5,6 2,4
4 1 5,6 2,4

Tabel 3.3 Mix Desain 2 Dengan Agregat Kasar 50% Dari Kebutuhan Agregat
No Perbandingan kebutuhan semen dan
agregat
Agregat Agregat
Semen halus + kasar
fly ash
1 1 4 4
2 1 4 4
3 1 4 4
4 1 4 4

Tabel 3.4 Benda Uji Press Dengan Batu Pecah 30% (Pa)
Kode semen Pasir Fly ash Batu Jumlah sample
pecah
Kuat Daya
tekan resap
Pa01 1 5,6 0 2,4 3 3
Pa02 1 5,32 0,28 2,4 3 3
Pa03 1 5,04 0,56 2,4 3 3
Pa04 1 4,76 0,84 2,4 3 3
Total 12 12

Tabel 3.5 Benda Uji Manual Dengan Batu Pecah 30% (Ma)
Kode semen Pasir Fly ash Batu Jumlah sample
pecah
Kuat Daya
tekan resap
Ma01 1 5,6 0 2,4 3 3
Ma02 1 5,32 0,28 2,4 3 3
Ma03 1 5,04 0,56 2,4 3 3
Ma04 1 4,76 0,84 2,4 3 3
Total 12 12

Tabel 3.6 Benda Uji Press Dengan Batu Pecah 50% (Pb)
Kode semen Pasir Fly ash Batu Jumlah sample
pecah
Kuat Daya
tekan resap
Pb01 1 4 0 4 3 3
Pb02 1 3,8 0,2 4 3 3
Pb03 1 3,6 0,4 4 3 3
Pb04 1 3,4 0,6 4 3 3
Total 12 12

Tabel 3.7 Benda Uji Manual Dengan Batu Pecah 50% (Mb)
Kode Semen Pasir Fly Ash Batu Jumlah Sample
Pecah
Kuat Daya
Tekan Resap
Mb01 1 4 0 4 3 3
Mb02 1 3,8 0,2 4 3 3
Mb03 1 3,6 0,4 4 3 3
Mb04 1 3,4 0,6 4 3 3
Total 12 12

3. Mengukur bahan yang dibutuhkan sesuai dengan volume yang telah


ditentukan dalam perencanaan (mix desain).

Gambar 3.15 Pasir

Gambar 3.16 Fly Ash

Gambar 3.17 Semen

Gambar 3.18 Krikil


4. Proses awal pembuatan benda uji paving block beton adalah dengan
pengadukan menggunakan mesin mixer didahului dengan memasukkan pasir,
fly ash dan semen portland kemudian diaduk, memasukkan air agar terbentuk
pasta, dan yang terakhir memasukkan kerikil, kemudian diaduk sampai
adukan terlihat telah homogen.

Gambar 3.19 Pengadukan Menggunakan Mixer


5. Setelah pengadukan sekiranya adonan beton segar tersebut telah homogen,
menuangkan adukan dari mesin mixer ke nampan adukan beton,

Gambar 3.20 Adonan Paving Block Beton Segar


6. Langkah selanjutanya yaitu mencetak adukan beton kedalam cetakan paving
block. Dalam tahapan ini dapat diketahui apakah air dalam adukan beton
sudah pas atau belum. Adukan beton paving block yang kekurangan air akan
menghasilkan paving block yang mudah retak ketika dilepas dari cetakanya
sementara adukan beton yang kekurangan air akan menghasilkan paving
block yang susah dilepas dari cetannya dan hasilnya tidak sempurna karena
ada sebagiaan yang menempel pada cetakan paving block.

3.11 PERAWATAN BENDA UJI


Perawatan paving block beton ialah suatu tahap akhir pekerjaan
pembuatan paving block beton, pekerjaan perawatan paving block beton ini sama
halnya perawatan pada pekerjaan beton yaitu dengan cara menjaga agar
permukaan paving block selalu lembab, sejak dipadatkan dan dilepaskan dari
cetakanya paving block beton tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung
sampai proses hidrasi cukup sempurna (kira-kira selama 28 hari). Kelembaban
permukaan paving block beton itu harus dijaga agar air di dalam paving block
beton tidak keluar. Hal ini untuk menjamin proses hidrasi semen (reaksi semen
dan air) berlangsung dengan sempurna. Bila hal ini tidak dilakukan, maka oleh
udara panas dan tiupan angin akan terjadi proses penguapan air dari permukaan
paving block beton, sehingga air dari dalam paving block beton mengalir keluar,
dan paving block beton kekurangan air untuk hidrasi, sehingga dapat timbul retak-
retak pada permukaan paving block beton.
Perawatan paving block beton dapat dilakukan dengan cara :
1. Menaruh paving block beton didalam ruangan yang tidak terkena sinar
matahari (lembab)
2. Menaruh paving block beton diatas genangan air atau didalam air, hal ini dapat
dilakukan setelah umur paving block minumal 3 hari setelah pencetakan
Pada penelitian ini perawatan benda uji yaitu dengan menaruh paving
block beton didalam ruangan yang lembab terhadap paving block beton yang baru
dikeluarkan dari cetakan dalam jangka waktu sesuai dengan umur paving block
beton yang akan diuji yaitu 28 hari.

3.12 PENGUJIAN BENDA UJI


Pengujian paving block dimaksudkan untuk mengetahui kualitas dan
karakteristik dari paving block yang dihasilkan. Dalam penelitian ini digunakan
beberapa pengujian diantaranya pngujian sifat tampak, pengujian kuat tekan dan
pengujian daya serap air.
a. Pengujian sifat tampak
Pengujian sifat tampak ini dimaksudkan untuk mengetahui kualitas secara
kasat mata dari paving block. Paving block harus mempunyai permukaan
yang rata, tidak terdapat cacat atau retak-retak dan bagian sudut dan sikunya
tidak mudah direpihkan menggunkan jari tangan
b. Pengujian kuat tekan
Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa kekuatan maksimum
yang dapat ditahan oleh benda uji. Pengujian dilakukan setelah benda uji
berumur 28 hari dengan menggunakan mesin penekan yang dapat diatur
kecepatannya. Kecepatan penekanan dari mulai pemberian pembebanan
sampai benda uji hancur, diatur dalam waktu 1 sampai 2 menit. Arah
penekanan pada contoh uji disesuaikan dengan arah tekanan beban didalam
pemakaiannya. Kuat tekan dapat dihitung dengan rumus:
𝑃
ƒ’c = 𝐿 (3.1)

Sumber: SNI 03-0691-1996


Dimana:
ƒ’c = Kuat tekan
P = Beban tekan, N
L = Luas bidang tekan, mm²

Gambar 3.21 Gambar Alat Uji Kuat Tekan

c. Pengujian daya penyerapan air


Pengujian daya penyerapan air pada paving block dapat dilakukan dengan
cara merendam paving block hingga jenuh kurang lebih 24 jam, ditimbang
beratnya dalam keadaan basah. Kemudian dikeringkan dalam dapur
pengering (oven) selama kurang lebih 24 jam, pada suhu kurang lebih 105ºC
sampai beratnya dua kali penimbangan berselisih tidak lebih dari 0,2%
penimbangan terdahulu.
d. Penyerapan air dapat dihitung:
A−B
Wp= x100% (3.2)
B
e. Dimana:
f. Wp = Penyerapan air
g. A = Berat paving block basah
h. B = Berat paving block kering

BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 UMUM
Penelitian ini merupakan studi eksperimen yang dilakuakan untuk mengetahui
pengaruh fly ash terhadap kuat tekan paving block beton dengan variasi
penambahan fly ash 0%, 5%, 10%, 15%. Seluruh tahapan penelitian yaitu dimulai
dari tahap persiapan, tahap perencanaan mix desain, tahap pembuatan dan tahap
pengujian selesai dilaksanakan dengan baik. Kemudian didapatkan data-data kasar
yang kemudian dianalisis untuk mengetahui pengarauh fly ash terhadap kuat tekan
paving block beton
4.2 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2.1 Hasil pengujian sifat tampak
Pengujian sifat tampak ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari
penambahan fly ash terhadap sifat tampak paving block beton. Pengujian ini
dilakukan terhdap sampel paving block yang telah berumur 28 hari. Paving block
harus mempunyai permukaan yang rata, tidak terdapat cacat atau retak-retak dan
bagian sudut dan sikunya tidak mudah direpihkan menggunkan jari tangan. Dari
hasil penelitian didapatkan :

Tabel 4.1 Sifat Tampak Paving Block Beton (Ma)


Kode Gambar paving block Hasil
Ma01

Ma02

Ma03

Ma04

Tabel 4.2 Sifat Tampak Paving Block Beton (Mb)


Kode Gambar paving block Hasil
Mb01
Mb02

Mb03

Mb04

Tabel 4.3 Sifat Tampak Paving Block Beton (Pa)


Kode Gambar paving block Hasil
Pa01

Pa02

Pa03

Pa04

Tabel 4.4 Sifat Tampak Paving Block Beton (Pb)


Kode Gambar paving block Hasil
Pa01
Pa02

Pa03

Pa04

4.2.2 Hasil pengujian kuat tekan


Pengujian kuat tekan beton dilakukan pada saat paving block beton berumur
28 hari sebanyak 48 sampel yang terdiri dari 4 variasi yang terdiri dari paving
block beton normal tanpa bahan tambah atau kadar 0% dan paving block beton
dengan bahan tambah fly ash dengan masing-masing kadar 5%, 10%, dan 15%.
Kuat tekan paving block beton dapat diperoleh dengan menggunakan rumus
berikut:
𝑃
fc’ =
𝐴
Dimana: fc’ = Kuat tekan paving block beton (MPa)
P = Beban maksimum (N)
A = Luas bidang permukaan (mm)
Contoh:
Beban maksimum (P) = kN
=N
Luas Permukaan (A) =𝑝 × 𝑙
= 200 × 100
= 20000 mm2
𝑃
Kuat tekan fc’ 21 hari =
𝐴
0
=
20000
= MPa
Hasil pengujian kuat tekan paving block beton pada penelitian yang telah di
lakukan disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.5 Hasil Pengujian Kuat Tekan Paving Block Beton (Ma)
No Kode Fly ash Batu pecah Beban maksimum Kuat tekan
% % (N) (Mpa)
1 Ma01 0 30
2 Ma02 5 30
3 Ma03 10 30
4 Ma04 15 30

Tabel 4.6 Hasil Pengujian Kuat Tekan Paving Block Beton (Mb)
No Kode Fly ash Batu pecah Beban maksimum Kuat tekan
% % (N) (Mpa)
1 Mb01 0 30
2 Mb02 5 30
3 Mb03 10 30
4 Mb04 15 30

Tabel 4.7 Hasil Pengujian Kuat Tekan Paving Block Beton (Pa)
No Kode Fly ash Batu pecah Beban maksimum Kuat tekan
% % (N) (Mpa)
1 Pa01 0 50
2 Pa02 5 50
3 Pa03 10 50
4 Pa04 15 50

Tabel 4.8 Hasil Pengujian Kuat Tekan Paving Block Beton (Pb)
No Kode Fly ash Batu pecah Beban maksimum Kuat tekan
% % (N) (Mpa)
1 Pb01 0 50
2 Pb02 5 50
3 Pb03 10 50
4 Pb04 15 50

4.2.3 Hasil pengujian daya penyerapan air


Pengujian daya penyerapan air pada paving block beton dilakukan pada saat
paving block beton berumur 28 hari sebanyak 48 sampel yang terdiri dari 4 variasi
yang terdiri dari paving block beton normal tanpa bahan tambah atau kadar 0%
dan paving block beton dengan bahan tambah fly ash dengan masing-masing
kadar 5%, 10%, dan 15%. Penyerapan air paving block beton dapat diperoleh
dengan menggunakan rumus berikut:
𝐴−𝐵
Penyerapan air = × 100%
𝐵

Dimana :
A = berat paving block basah
B = berat paving block kering
Hasil pengujian daya penyerapan air pada paving block disajikan dalam tabel
berikut ini :
Tabel 4.9 Hasil Pengujian Daya Penyerpan Air Paving Block (Ma)
No kode Fly ash Batu pecah Daya serap
% % %
1 Ma01 0 30
2 Ma02 5 30
3 Ma03 15 30
4 Ma04 20 30

Tabel 4.9 Hasil Pengujian Daya Penyerpan Air Paving Block (Mb)
No kode Fly ash Batu pecah Daya serap
% % %
1 Mb01 0 30
2 Mb02 5 30
3 Mb03 15 30
4 Mb04 20 30

Tabel 4.9 Hasil Pengujian Daya Penyerpan Air Paving Block (Pa)
No kode Fly ash Batu pecah Daya serap
% % %
1 Pa01 0 50
2 Pa02 5 50
3 Pa03 15 50
4 Pa04 20 50

Tabel 4.9 Hasil Pengujian Daya Penyerpan Air Paving Block (Ma)
No kode Fly ash Batu pecah Daya serap
% % %
1 Pb01 0 50
2 Pb02 5 50
3 Pb03 15 50
4 Pb04 20 50
4.2.4 Perbandingan harga paving block biasa dengan paving block beton dengan
bahan tambah fly ash
a. Harga paving block biasa
Estimasi harga bahan pembuatan paving block
bahan Satuan Harga
Pasir M3
semen sak