Anda di halaman 1dari 21

Peran Teori Akuntansi Positif terhadap

Standar Akuntansi Syariah

Mata Kuliah : Teori Akuntansi


Dosen Pengampu :Dennyca Hendriyanto Nugroho, SE, M.Si

Disusun Oleh :
Nuriya Kartika Tsani (201512004)
KELAS : 6 A

UNIVERSITAS MURIA KUDUS


FAKULTAS EKONOMI BISNIS
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
TAHUN AJARAN 2017 / 2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Atas dasar tujuannya, teori akuntansi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu teori
akuntansi normatif yang memberikan formula terhadap praktik akuntansi dan teori
akuntansi positif yang berusaha menjelaskan dan memprediksi fenomena yang berkaitan
dengan akuntansi (Ghozali dan Anis, 2007). Teori normatif yang berada pada normative
period, yaitu periode 1956-1970 (Harahap, 2008: 107) berusaha menjelaskan apa yang
seharusnya dilakukan oleh akuntan dalam proses penyajian informasi keuangan kepada
para pemakai dan bukan menjelaskan tentang apakah informasi keuangan itu dan
mengapa hal itu terjadi. Menurut Nelson (1973) dalam Ghozali dan Anis (2007), teori
normatif sering disebut sebagai teori a priori (dari sebab akibat dan bersifat deduktif).
Teori normatif berkonsentrasi pada penciptaan laba sesungguhnya (true income)
selama satu periode akuntansi atau terkait tipe informasi yang bermanfaat dalam
pengambilan keputusan (decision-usefulness). Teori true income berkonsentrasi pada
penciptaan pengukur tunggal yang unik dan benar untuk aktiva dan laba. Sedangkan
pendekatan decision usefulness menganggap bahwa tujuan dasar dari akuntansi adalah
untuk membantu proses pengambilan keputusan dengan cara menyediakan data
akuntansi yang relevan atau bermanfaat.
Tuntutan atas adanya pendekatan positif terhadap akuntansi terjadi ketika Jensen
(1976) menyatakan bahwa penelitian dalam akuntansi (dengan satu atau dua
pengecualian yang dapat dicatat) tidak bersifat ilmiah. karena fokus penelitian telah
sangat normatif dan terdefinisi. Selanjutnya Jensen mengharapkan adanya perkembangan
suatu teori akuntansi positif yang akan menjelaskan mengapa akuntansi seperti apa
adanya ia, mengapa akuntan melakukan apa yang mereka lakukan, dan apa pengaruh
yang dimiliki fenomena terhadap penggunaan orang dan sumber daya.
Tuntutan adanya pendekatan teori akuntansi positif ini juga mempengaruhi
munculnya lembaga keuangan berbasis syari’ah maupun semi syari’ah yang sudah tak
terbendung lagi. Bahkan bank-bank yang telah mapan sekalipun ikut memciptakan
produk berbasis syariah, seperti BNI, Mandiri, BRI disamping Bank Mu’amalat dan
Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah, kemudian lembaga ekonomi mikro yang bernama
BMT (Baitul Mal Wattamwil).
Dengan tuntutan kebutuhan akan adanya standar akuntansi yang berbasis syari’ah,
maka proses penyusunan PSAK tentang standar akuntansi syari’ah telah dimulai
Agustus 1999, Publik Hearing 29 Agustus 2001, kemudian disahkan oleh Dewan
Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) pada 1 Mei 2002, kemudian berlaku sejak 1
Januari 2003. (Media Akuntansi. Edisi, 27 / Juli-Agustus / Tahun IX / 2002, hal. 29)
Sementara ini standar akuntansi yang ada adalah adopsi dari negara-negara
kapitalis, akibatnya standar-satandar tersebut sebagian kalangan menganggap
bertentangan dengan kondisi negara berkembang khususnya nilai-nilai Islam. Karena
ada beberapa nilai yang dianggap bertentangan dengan syari’at Islam tapi sudah
berterima umum.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Teori Akuntansi ?
2. Apa yang dimaksud dengan teori akuntansi positif ?
3. Riset apa saja yang mendukung teori akuntansi positif ?
4. Apa yang dimaksud dengan standar akuntansi ?
5. Apa yang dimaksud standar akuntansi syari`ah ?
6. Bagaimana sistem akuntansi dengan nilai Al-Qur`an ?
7. Bagaimana standar akuntansi menurut islam ?
8. Bagaimana peran akuntansi positif terhadap standar akuntansi syari`ah ?
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Teori Akuntansi Positif


Teori positif mulai berkembang sekitar tahun 1960-an yang dipelopori oleh Watt
& Zimmerman menitik beratkan pada pendekatan ekonomi dan perilaku dengan
munculnya hipotesis pasar efisien dan teori agensi. Teori akuntansi positif berupaya
menjelaskan sebuah proses, yang menggunakan kemampuan, pemahaman, dan
pengetahuan akuntansi serta penggunaan kebijakan akuntansi yang paling sesuai untuk
menghadapi kondisi tertentu dimasa mendatang. Teori akuntansi positif pada
prinsipnya beranggapan bahwa tujuan dari teori akuntansi adalah untuk menjelaskan
dan memprediksi praktik-praktik akuntansi. Sedangkan teori normatif dianggap
merupakan pendapat pribadi yang subjektif, sehingga tidak dapat diterima begitu saja
dan harus dapat diuji secara empiris agar memiliki dasar teori yang kuat. Dalam
praktik, para profesional dalam bidang akuntansi telah menyadari sepenuhnya bahwa
teori akuntansi positif lebih cendrung diterapkan dibanding teori akuntansi normatif.
Teori akuntansi positif berupaya menjelaskan sebuah proses, yang menggunakan
kemampuan, pemahaman, dan pengetahuan akuntansi serta penggunaan kebijakan
akuntansi yang paling sesuai untuk menghadapi kondisi tertentu dimasa mendatang.
Teori akuntansi positif pada prinsipnya beranggapan bahwa tujuan dari teori akuntansi
adalah untuk menjelasakan dan memprediksi praktik-praktik akuntansi. Teori
akuntansi positif merupakan studi lanjut dari teori akuntansi normatif karena
kegagalan normatif dalam menjelaskan fenomena praktik yang terjadi secara nyata.
Teori akuntansi positif mempunyai peranan dangat penting dalam perkembangan teori
akuntansi. Teori akuntansi positif dapat memberikan pedoman bagi para pembuat
kebijakan akuntansi dalam menentukan konsekuensi dari kebijakan tersebut. Teori
akuntansi positif berkembang seiring kebutuhan untuk menjelaskan dan memprediksi
realitas praktik akuntansi yang ada dalam masyarakat sedangkan akuntansi normatif
lebih menjelaskan praktik akuntansi yang seharusnya berlaku.
Teori akuntansi positif berkembang seiring kebutuhan untuk menjelaskan dan
memprediksi realitas praktek-praktek akuntansi yang ada di dalam masyarakat. Teori
akuntansi positif berusaha untuk menjelaskan fenomena akuntansi yiang diamati
berdasarkan pada alasan-alasan yang menyebabkan terjadinya suatu peristiwa. Dengan
kata lain, Positive Accounting Theory (PAT) dimaksudkan untuk menjelaskan dan
memprediksi konsekuensi yang terjadi jika manajer menentukan pilihan tertentu.
Penjelasan dan prediksi dalam PAT didasarkan pada proses kontrak (contracting
process) atau hubungan keagenan (agency relationship) antara manajer dengan
kelompok lain seperti investor, kreditor, auditor, pihak pengelola pasar modal dan
institusi pemerintah (Watts dan Zimmerman, 1986). PAT lebih bersifat deskriptif
bukan preskiptif. Tidak seperti teori normative yang didasarkan pada prems bahwa
manajer akan memaksimumkan laba atau kemakmuran untuk kepentingan perusahaan
, teori positif didasarkan pada premis bahwa individu selalu bertindak atas dasar
motivasi pribadi (self seeking motives) dan berusaha memaksimumkan keuntungan
pribadi.

2.2 Standard Akuntansi Syari`ah


Standar Akuntansi Syariah (SAS) adalah Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) Syariah yang ditujukan untuk entitas yang melakukan transaksi syariah baik
entitas lembaga syariah maupun lembaga non syariah. Pengembangan SAS dilakukan
dengan mengikuti model SAK umum namun berbasis syariah dengan mengacu kepada
fatwa MUI.
SAS ini terdiri dari PSAK 100 sampai dengan PSAK 106 yang mencakup kerangka
konseptual; penyajian laporan keuangan syariah; akuntansi murabahah; musyarakah;
mudharabah; salam; istishna

2.3 Kajian Hasil Penelitian yang Relevan


1. Herlin Tundjung Setijaningsih pada skripsinya yang berjudul “Teori Akuntansi
Positif dan konsekuensi ekonomi”
2. Hardiwinoto , pada skripsinya yang berjudul “Standar Akuntansi Syari`ah”.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Definisi Teori Akuntansi


Seperti yang dikutip melalui website ikhwamuji.wordpress.com, menurut Vernon
Kam (1986) teori akuntansi merupakan suatu sistem yang komprehensif. Dia membagi
unsur teori dalam beberapa elemen, yaitu postulat atau asumsi dasar, definisi, tujuan
akuntansi, prinsip atau standar, dan prosedur atau metode-metode.
Nah dari penjelasan diatas bisa kita rumuskan bahwa teori akuntansi adalah suatu
konsep definisi dalil yang memberikan gambaran dari fenomena akuntansi secara
sistematis.
Tujuannya adalah untuk menjelaskan hubungan dari berbagai variabel yang ada
dalam struktur akuntansi sehingga bisa memperkirakan fenomena yang mungkin
terjadi.
Sedangkan Hendriksen menilai teori akuntansi sebagai satu susunan prinsip yang
bisa memberi kerangka acuan secara umum darimana sebuah praktek akuntansi bisa
dinilai.
Karena bersifat umum itu berarti teori akuntansi ini juga bisa ikut berkembang
sesuai waktu menyesuaikan perubahan dalam lingkungan. Selain itu teori akuntansi
yang ada saat ini merupakan hasil dari seluruh literatur akuntansi yang memberi
pendekatan yang saling berbeda antara satu dengan yang lain.

SIFAT-SIFAT TEORI AKUNTANSI


Menurut beberapa ahli teori akuntansi memiliki sifat sifat seperti berperan
penting dalam penyusunan sebuah kebijakan akuntansi. Selain itu kerangka umum
yang tersusun mempunyai prinsip atau metode yang logis dan saling berhubungan.
Teori akuntansi juga harus sanggup memberikan penjelasan mengenai praktek
akuntansi, menjelaskan serta menjawab semua fenomena yang ada dalam penerapan
sebuah metode para praktek akuntansi.
Ditambah lagi perlu mencakup semua literatur akuntansi serta memberi pendekatan
pendekatan yang beda. Sifat lainnya adalah bisa meramalkan, memproyeksikan serta
menemukan gejala ataupun kejadian akuntansi yang tidak bisa diketahui dengan pasti.
Kemudian mampu memeriksa, memverifikasi dan menyusun prinsip prinsip akuntansi.
METODE PERUMUSAN TEORI AKUNTANSI
Untuk bisa merumuskan suatu teori diperlukan metode perumusan. Belkaoui dan
Godfrey menyebutkan bahwa terdapat beberapa metode yang bisa digunakan untuk
merumuskan teori akuntansi seperti yang dikutip melalui nichonotes.blogspot.co.id
yaitu :

1. METODE DESKRIPTIF (PRAGMATIC)


Dalam metode ini akuntansi dianggap sebagai sebuah seni yang tidak bisa
dirumuskan. Metode perumusan akuntansi bersifat menjelaskan atau mendeskripsikan
serta menganalisa praktek yang ada dan yang diterima saat ini
2. METODE PSYCHOLOGICAL PRAGMATIC

Metode ini mengamati reaksi dari pengguna laporan keuangan terhadap output
akuntansi yang telah disusun dari berbagai standar, prinsip, pedoman atau aturan. Hal
ini juga seringkali disebut sebagai behavioral accounting.
3. METODE NORMATIF | 1950 – 1960

Metode ini menganggap akuntansi sebagai sebuah norma peraturan yang wajib
diikuti tanpa memperdulikan apakau dipraktekan, berlaku saat ini atau tidak.
4. METODE POSITIVE | 1970

Metode yang dimulai dari sebuah metode ilmiah yang diterima umum dan sedang
berlaku. Berdasar Teori akuntansi positif ini, dirumuskan permasalahan penelitian
untuk mengamati fenomena nyata yang tidak terdapat didalam teori.
Keempat metode ini dapat digunakan dan dikombinasikan dengan berbagai
pendekatan yang bisa dilakukan. Selain itu teori yang didapatkan atau rumus akuntansi
yng diperoleh harus mampu menggambarkan keadaan sebenarnya. Sehingga teori-
teori yang dihasilkan bisa digunakan dalam prakteknya.

3.2 Definisi Teori Akuntansi Positif


Teori positif mulai berkembang sekitar tahun 1960-an yang dipelopori oleh Watt &
Zimmerman menitik beratkan pada pendekatan ekonomi dan perilaku dengan
munculnya hipotesis pasar efisien dan teori agensi. Teori akuntansi positif berupaya
menjelaskan sebuah proses, yang menggunakan kemampuan, pemahaman, dan
pengetahuan akuntansi serta penggunaan kebijakan akuntansi yang paling sesuai untuk
menghadapi kondisi tertentu dimasa mendatang. Teori akuntansi positif pada
prinsipnya beranggapan bahwa tujuan dari teori akuntansi adalah untuk menjelaskan
dan memprediksi praktik-praktik akuntansi. Sedangkan teori normatif dianggap
merupakan pendapat pribadi yang subjektif, sehingga tidak dapat diterima begitu saja
dan harus dapat diuji secara empiris agar memiliki dasar teori yang kuat. Dalam
praktik, para profesional dalam bidang akuntansi telah menyadari sepenuhnya bahwa
teori akuntansi positif lebih cendrung diterapkan dibanding teori akuntansi normatif.
Teori akuntansi positif berupaya menjelaskan sebuah proses, yang menggunakan
kemampuan, pemahaman, dan pengetahuan akuntansi serta penggunaan kebijakan
akuntansi yang paling sesuai untuk menghadapi kondisi tertentu dimasa mendatang.
Teori akuntansi positif pada prinsipnya beranggapan bahwa tujuan dari teori akuntansi
adalah untuk menjelasakan dan memprediksi praktik-praktik akuntansi. Teori
akuntansi positif merupakan studi lanjut dari teori akuntansi normatif karena
kegagalan normatif dalam menjelaskan fenomena praktik yang terjadi secara nyata.
Teori akuntansi positif mempunyai peranan dangat penting dalam perkembangan teori
akuntansi. Teori akuntansi positif dapat memberikan pedoman bagi para pembuat
kebijakan akuntansi dalam menentukan konsekuensi dari kebijakan tersebut. Teori
akuntansi positif berkembang seiring kebutuhan untuk menjelaskan dan memprediksi
realitas praktik akuntansi yang ada dalam masyarakat sedangkan akuntansi n ormatif
lebih menjelaskan praktik akuntansi yang seharusnya berlaku.
Perbedaan akuntansi positif dan akuntansi normatif
1. Perbedaan pendekatan dan dasar antara teori akuntansi menyebabkan dua
taksonomi akuntansi. Pendekatan Teori Akuntansi Positif menghasilkan taksonomi
akuntansi sebagai Sains. Sedangkan pendekatan Teori Akuntansi Normatif
menghasilkan taksonomi akuntansi sebagai art. Yang keduanya sama sama diakui
sebagai sarana pendekatan teori akuntansi.
2. Teori Akuntansi Normatif yang berbentuk Praktik Akuntansi Berterima Umum
(PABU) merupakan acuan teori dalam memberikan jalan terbaik untuk meramalkan
berbagai fenomena akuntansi dan menggambarkan bagaimana interaksi antar-
variabel akuntansi dalam dunia nyata yang meruipakan Fungsi pendekatan Teori
Akuntasi Positif. Tidak menutup kemungkinan, fakta yang ada di dunia nyata
(praktek akuntansi) akan mempengaruhi Teori Akuntansi Normatif. Hubungan ini
Sesuai dengan paham Dialektika Hegel. Dimana antitasi dan tesis akan
menghasilkan sistesis. Dan sistesis akan menghasilkan antithesis.
Teori akuntansi positif berkembang seiring kebutuhan untuk menjelaskan dan
memprediksi realitas praktek-praktek akuntansi yang ada di dalam masyarakat. Teori
akuntansi positif berusaha untuk menjelaskan fenomena akuntansi yiang diamati
berdasarkan pada alasan-alasan yang menyebabkan terjadinya suatu peristiwa. Dengan
kata lain, Positive Accounting Theory (PAT) dimaksudkan untuk menjelaskan dan
memprediksi konsekuensi yang terjadi jika manajer menentukan pilihan tertentu.
Penjelasan dan prediksi dalam PAT didasarkan pada proses kontrak (contracting
process) atau hubungan keagenan (agency relationship) antara manajer dengan
kelompok lain seperti investor, kreditor, auditor, pihak pengelola pasar modal dan
institusi pemerintah (Watts dan Zimmerman, 1986). PAT lebih bersifat deskriptif
bukan preskiptif. Tidak seperti teori normative yang didasarkan pada prems bahwa
manajer akan memaksimumkan laba atau kemakmuran untuk kepentingan perusahaan
, teroi positif didasarkan pada premis bahwa individu selalu bertindak atasdasar
motivasi pribadi (self seeking motives) dan berusaha memaksimumkan keuntungan
pribadi. Dalam beberapa asumsi teori akuntansi positif berusaha menguji tiga hipotesis
berikut :
1) Hipotesis Rencana Bonus (Bonus Plan Hypothesis)
Manajer perusahaan dengan bonus tertentu cenderung lebih menyukai
metode yang meningkatkan laba periode berjalan. Pilihan tersebut diharapkan dapat
meningkatkan nilai sekarang bonus yang akan diterima seandainya komite
kompensasi dari dewan direktur tidak menyesuaikan dengan metode yang dipilih
(Watts dan Zimmerman, 1990).
2) Hipotesis hutang atau ekuitas (Debt/Equity Hypothesis)
Makin tinggi rasio hutang atau ekuitas perusahaan mkin besar kemungkinan
bagi manajer untuk memilih metode akuntansi yang dapat menaikkan laba. Makin
tinggi rasio hutang atau ekuitas makin dekat perusahaan dengan batas perjanjian
atau peraturan kredit (Kalay, 1982). Makin tinggi batasan krdit makin besar
kemungkinan penyimpangan perjanjian kredit dan pengeluaran biaya. Manajer
akan memiliki metode akuntansi yang dapat menaikkan laba sehingga dapat
mengendurkan batasan kredit dan mengurangi biaya kesalahan teknis (Watts dan
Zimmerman, 1990).
3) Hipotesis Cost Politik (Political Cost Hypothesis)
Perusahaan besar cenderung menggunakan metode akuntansi yang dapat
mengurangi laba periodik disbanding perusahaan kecil. Ukuran perusahaan
merupakan ukuran variable proksi (proxsy) dan aspek politik. Yang mendasari
hipotesi ini adalah asumsi bahwa sangat mahalnya nilai informasi bagi individu
untuk menentukan apakah laba akuntansi betul-betul menunjukkan monopoli laba.
Di samping itu, sangatlah mahal bagi individu untuk melaksanakan kontrak
dengan pihak lain dalam proses politik dalam rangka menegakkan aturan hokum
dan regulasi, yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Dengan demikian
individu yang rasional cenderuang memiliki untuk tidak mengetahui informasi
yang lengkap. Proses politik tidak beda jauh dengan proses pasar. Atas dasar cost
informasi dan cost monitoring tersebut, manajer memiliki insentif untuk memiliki
laba akuntansi tertentu dalam proses politik tersebut (Watts dan Zimmerman,
1990).

3.3 Riset yang mendukung teori akuntansi positif


Penelitian positif di bidang akuntansi dimulai pada pertengahan tahun 1960 dan
menjadi paradigma yang dominan pada tahun 1970an dan 1980an (Deegan, 2004:
205). Teori akuntansi positif telah banyak diuji dengan menggunakan pilihan-pilihan
metode akuntansi. Christie (1990: 15-36) menyimpulkan bahwa terdapat enam proksi
yang telah diketahui memiliki kemampuan dalam menjelaskan praktek-praktek yang
merupakan cerminan dari aplikasi teori akuntansi positif. Keenam proksi tersebut
meliputi ukuran perusahaan, tingkat resiko, kompensasi manajerial, porsi utang
terhadap aktiva atau modal, pembatas-pembatas dalam penyelesaian utang, dan rasio
pembayaran dividen.
Dalam makalah Januarti (2004) diuraikan riset yang mendukung teori akuntansi,
di antaranya meliputi penelitian yang dilakukan oleh Lev (1979), Healy (1985), Jones
(1991), dan Sweeney (1994).Penelitian Lev (1979) terkait hipotesis bonus-debt
convenant, dimana adanya kecenderungan manajer menjadi opportunistik dengan
menyelamatkan bonus dan mengabaikan perubahan debt convenant ketika efisiensi
pasar yang diharapkan berekasi negatif.
Penelitian berikutnya dilakukan untuk mencoba meneliti efek dari rencana
kompensasi bonus manajemen (bonus plans). Penelitian tersebut dilakukan oleh Healy
(1985: 85-107) dan selanjutnya diikuti oleh Holthausen, Larker, dan Sloan (1995: 29-
74).
Penelitian ingin membuktikan bahwa para manajer yang mendasarkan bonusnya
pada income netto lebih memilih untuk menggunakan kebijakan akuntansi accrual
untuk pelaporan pendapatannya sehingga dapat memaksimalkan bonus. Hasil
penelitian menemukan bukti yang kuat bahwa keputusan manajemen untuk memilih
atau mengadopsi suatu peraturan akuntansi terkait erat dengan seberapa sensitif bonus
yang ada dikaitkan dengan pencapaian target keuntungan. Hasil tersebut
mencerminkan pentingnya pemahaman atas perilaku manajer terhadap keberadaan
rencana kompensasi yang dapat mempengaruhi kemakmurannya baik saat ini maupun
masa waktu yang akan datang.
Jones (1991) mengkaji perubahan perusahaan untuk menurunkan income netto
yang dilaporkan untuk keringanan impor. Pemberian keringanan impor pada
perusahaan tidak adil karena dipengaruhi oleh kompetisi asing dimana yang sebagian
merupakan keputusan politik.
Penelitian berikutnya adalah yang dilakukan oleh Sweeny (1994) dengan hipotesis
perjanjian hutang. Hasil penelitian membuktikan bahwa perusahaan sering melanggar
perjanjian hutang dalam bentuk pemeliharaan modal kerja dan ekuitas pemegang
saham.

3.4 Definisi Standar Akuntansi


Standar akuntansi adalah suatu metode dan format baku dalam penyajian
informasi laporan keuangan suatu kegiatan usaha. Standar akuntansi dibuat, disusun
dan disahkan oleh lembaga resmi (Standard Setting Body). Di dalam standar ini
dijelaskan transaksi apa saja yang harus dicatat; bagaimana cara mencatatnya dan
bagaimana penyajiannya.
Standar akuntansi ini adalah permasalah utama akuntan dan semua pengguna
laporan yang memiliki kepentingan terhadapnya. Oleh karena itu, metode dan format
penyusunan standar akuntansi harus diatur sedemikian rupa sehingga dapat
memberikan kepuasan kepada semua pihak yang berkepentingan terhadap laporan
keuangan. Standar akuntansi ini akan berubah dan berkembang sesuai tuntutan di
masyarakat.
Standar akuntansi di Indonesia saat berkembang menjadi 4 (empat) yang dikenal
dengan 4 Pilar Standar Akuntansi. Keempat pilar standar tersebut disusun dengan
mengikuti perkembangan dunia usaha. Empat pilar standar itu adalah:
1. STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN (SAK)
SAK digunakan untuk suatu badan yang memiliki akuntanbilitas publik, yaitu
badan yang terdaftar atau masih dalam proses pendaftaran di pasar modal atau badan
fidusia (badan usaha yang menggunakan dana masyarakat, seperti asuransi, perbankan
dan dana pensiun). Sejak tahun 2012, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) mengadopsi
standar dari International Financial Report Standard (IFRS) untuk standar akuntansi
keuangan yang berlaku di seluruh perusahaan terdaftar yang ada di Indonesia.
Di dalam situs Akuntansionline.id disediakan sebuah aplikasi pelaporan keuangan
yang mengikuti standar dari IAI di atas. [highlights]klik disini[/highlights] untuk dapat
mengikuti demonya. Melalui aplikasi ini, anda tidak hanya dapat membuat pelaporan
keuangan dengan mengikuti standar dari IAI tetapi juga anda dapat membuat laporan
keuangan manajemen agar anda dapat memprediksi kondisi dan peluang pasar untuk
perusahaan anda. Jika anda masih bingung dengan Standar Akuntansi Keuangan ini,
anda dapat berkonsultasi dengan pakar akuntansi kami dengan mengklik tautan
[highlights]ini[/highlights].
2. STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN BADAN USAHA TANPA
AKUNTABILITAS PUBLIK (SAK-ETAP)
SAK ETAP digunakan untuk suatu badan yang tidak memiliki akuntabilitas
publik signifikan dalam menyusun laporan keuangan untuk tujuan umum. SAK-ETAP
juga mengikuti standar yang ditetapkan oleh IFRS khususnya bidang Small Medium
Enterprise (Usaha Kecil Menengah). SAK-ETAP ini dikeluarkan sejak tahun 2009
dan berlaku efektif pada tahun 2011.
SAK-ETAP pada dasarnya adalah penyederhanaan SAK IFRS. Beberapa
penyederhanaan yang terdapat dalam SAK-ETAP adalah:
 Tidak ada Laporan Laba / Rugi Komprehensif.
 Penilaian untuk aset tetap, aset tak berwujud dan propersi investasi setelah tanggal
perolehan hanya menggunakan harga perolehan, tidak ada pilihan menggunakan
nilai revaluasi atau nilai wajar.
 Tidak ada pengakuan liabilitas dan aset pajak tangguhan. Beban pajak diakui
sebesar jumlah pajak menurut ketentuan pajak.
Badan usaha yang menggunakan SAK-ETAP dalam laporan auditnya
menyebutkan laporan keuangan badan usaha telah sesuai dengan SAK-ETAP. SAK-
ETAP memiliki manfaat, yaitu apabila diterapkan dengan tepat, diharapkan unit usaha
kecil dan menengah mampu membuat laporan tanpa harus dibantu oleh pihak lain dan
dapat dilakukan audit terhadap laporannya tersebut.
Sasaran SAK-ETAP ini memang ditujukan untuk jenis Usaha Kecil dan
Menengah, namun tidak banyak pengusaha UKM yang memahami hal ini. Perlu
adanya sosialisasi dan pelatihan untuk SAK-ETAP ini agar UKM dapat berkembang
dan dipercaya oleh investor. Akuntansionline.id memberikan solusi untuk
permasalahan ini. Di situs kami terdapat fitur aplikasi pelaporan keuangan dengan
menggunakan format SAK-ETAP. [highlights]Klik disini[/highlights] untuk mengikuti
demo dan mengetahui fitur dari aplikasi tersebut.
3. STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN SYARIAH (SAK SYARIAH)
Standar ini digunakan untuk badan usaha yang memiliki transaksi syariah atau
berbasis syariah. Standar ini terdiri atas keraengka konseptual penyusunan dan
pengungkapan laporan, standar penyajian laporan keuangan dan standar khusus
transaksi syariah seperti mudharabah, murabahah, salam, ijarah dan istishna.
Bank syariah menggunakan dua standar dalam menyusun laporan keuangan.
Sebagai badan usaha yang memiliki akuntabilitas publik signifikan, bank syariah
menggunakan PSAK, sedangkan untuk transaksi syariahnya menggunakan PSAK
Syariah.
Akuntansi syariah memang salah satu cabang akuntansi yang tergolong baru.
Tidak banyak orang yang mengetahui penerapan prinsip-prinsip syariah ke dalam
bidang akuntansi. Sehingga perlu adanya sosialisasi dan pelatihan tentang cabang
terbaru bidang akuntansi. Jika anda memerlukan penjelasan dan konsultasi tentang
penerapan prinsip syariah ke dalam pelaporan keuangan, silakan [highlights]klik
disini[/highlights] untuk berkonsultasi dengan pakar akuntansi dari situs
akuntansionline.id. Baca juga artikel tentang Standar Akuntansi Syariah
[highlights]disini[/highlights].
4. STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAH (SAP)
SAP dinyatakan dalam bentuk Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan
(PSAP), dilengkapi dengan Pengantar Standar Akuntansi Pemerintahan dan disusun
mengacu kepada Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan. Standar ini
digunakan untuk menyusun laporan keuangan instansi pemerintahan, baik pusat
ataupun daerah. SAP disusun dan disahkan oleh Komite Standar Akuntansi
Pemerintah (KSAP SAP). SAP berbasis akrual ditetapkan dalam PP No. 71 Tahun
2010. Instansi masih diperkenankan menggunakan PP No. 24 Tahun 2005, SAP
berbasis kas menuju akrual sampai tahun 2014.
SAP berbasis kas menuju akrual menggunakan basis kas untuk penyusunan
laporan realisasi anggaran dan menggunakan basis akrual untuk penyusunan neraca.
Pada SAP berbasis akrual, laporan realisasi anggaran tetap menggunakan basis kas
karena akan dibandingkan dengan anggaran yang disusun dengan menggunakan basis
kas, sedangkan laporan operasional yang melaporkan kinerja badan usaha disusun
dengan menggunakan basis akrual.
Standar Akuntansi Pemerintahan ini berbeda dengan 3 jenis standar akuntansi
sebelumnya. Pengguna SAP biasanya terbatas di kalangan pemerintahan saja.
Sehingga publikasi laporan keuangan bidang pemerintahan tidak terbuka seperti
laporan keuangan perusahaan.

3.5 Definisi Standar Akuntansi Syari`ah


Setelah krisis keuangan global di tahun 90-an muncul, banyak perusahaan-
perusahaan yang bangkrut dan akhirnya gulung tikar terutama perusahaan-perusahaan
yang memiliki pinjaman di bank konvensional. Namun ada beberapa perusahaan yang
mampu bertahan dari dahsyatnya krisis ekonomi tersebut. Kebanyakan diantaranya
adalah perusahaan yang menggunakan prinsip syariah dalam kegiatan usahanya.
Belajar kondisi tersebut, saat ini banyak bermunculan perusahaan-perusahaan yang
menjalankan bisnisnya dengan menggunakan prinsip keuangan syariah baik secara
menyeluruh ataupun sebagian saja. Namun di dalam dunia ekonomi, prinsip syariah
adalah metode yang baru dan banyak orang yang mengenalnya, begitu juga di bidang
akuntansi. Sehingga diperlukan sebuah standar yang dapat menyelaraskan pelaporan
keuangan untuk perusahaan yang bergerak dengan menggunakan prinsip syariah.
Sama seperti standar akuntansi keuangan konvensional, standar akuntansi
keuangan syariah disusun oleh suatu lembaga resmi (Standard Setting Body) dalam
SAK Syariah ini dibuat oleh The Accounting and Auditing Organization for Islamic
Financial Institution (AAOIFI) yang berbasis di Dubai. Standar akuntansi ini dipakai
dan diadopsi oleh banyak negara-negara yang menerapkan prinsip ekonomi islam.

Standar Akuntansi Keuangan Syariah di Indonesia


Di Indonesia sendiri, permasalahan standarisasi laporan keuangan syariah
ditangani oleh Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAK) yang berada di bawah
naungan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). DSAK dibentuk di Jakarta pada kongres ke-
8 IAI pada tahun 1998. Saat ini, Standar Akuntansi Keuangan Syariah di Indonesia
menggunakan PSAK 101 (2014). SAK Syariah tersebut menggantikan SAK Syariah
yang disahkan tahun 2002 dan menyempurnakan SAK tahun 2007 dan 2011.
Dasar pembuatan SAK Syariah ini bersumber pada Al-Quran Surat Al-Baqarah
ayat 282-283. Ayat tersebut menjabarkan prinsip pencatatan laporan keuangan yang
menggunakan konsep kejujuran, keadilan dan kebenaran. Pembuatan SAK Syariah ini
mengikuti perkembangan ekonomi islam di dunia. Perkembangan tersebut
menciptakan lingkungan ekonomi dan pasar baru yang berbasis syariah.
Ada beberapa jenis standar pelaporan keuangan berbasis syariah berdasarkan jenis
transaksinya yang sudah dibuat oleh DSAK Syariah Indonesia. Beberapa diantaranya
adalah:
1. PSAK 102 Akuntansi Murabahah
2. PSAK 103 Akuntansi Salam
3. PSAK 104 Akuntansi Istisna’
4. PSAK 105 Akuntansi Mudharabah
5. PSAK 106 Akuntansi Musyarakah
6. PSAK 107 Akuntansi Ijarah
7. PSAK 108 Akuntansi Transaksi Asuransi Syariah
8. PSAK 109 Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah

3.6 sistem akuntansi dengan nilai Al-Qur`an


Kapitalisme telah merambah dan menjerat ke seluruh penjuru kehidupan manusia.
Perilaku kita secara sadar atau tidak berada dalam pengaruh kapitalisme. Akuntansi
modern yang dikatakan akuntansi Anglo Saxon tidak terlepas dari pengaruhnya untuk
lebih memperkokoh kekuatan kapitalisme.
Wajah akuntansi yang dibentuk oleh kapitalisme mendistorsi informasi bagi para
penggunanya untuk melakukan keputusan dan aktivitas ekonomi. Karena sering kita
temui aspek pengakuan terjadi sebelum kenyataan terjadi yaitu lebih berbasis akrual
(kejadian yang belum riil, seperti pendapatan bunga) dari pada berbasis kas (kejadian
riil).
Model Anglo Saxon menganut paham diakuinya nilai waktu dalam uang. Hal ini
disebabkan konsep tersebut sama artinya dengan riba. Padahal riba dilarang dalam
ajaran Islam karena riba menunjukkan ketidakadilan, ketidakadilan itu timbul karena
distribusi keuntungan yang didasarkan pada jumlah yang tetap, sehingga dapat
merusak mekanisme harga dan menyebabkan alokasi sumber ekonomi yang mengarah
pada penunpukan modal yang terpusat pada sekelompok orang tertentu (Chapra,
1994). Model Anglo saxon jelas memisahkan akuntansi ekonomi dari substansi
ekonominya. Yaitu transaksi dapat diakui dalam laporan keuangan meskipun secara
yuridis tidak boleh diakui.

3.7 standar akuntansi menurut islam


Dalam Al’qur’an surat Al Baqarah ayat 282-283 berkaitan dengan proses catat
mencatat (akuntansi) dalam kegiatan bisnis. Ayat tersebut mengajarkan kepada
manusia agar kegiatan bisnis dilakukan sesuai dengan konsep kejujuran, keadilan, dan
kebenaran. Senada dengan ayat tersebut, Scott yang dikutip oleh Salmonson (1969)
menyarankan bahwa keadilan, kebenaran dan kejujuran adalah penyataan umum yang
mengkaitkan aturan dan prosedur akuntansi dengan konsep sosial. Lebih lanjut Scott
berpendapat bahwa akuntansi akan berubah karena perubahan kondisi lingkungan
tetapi bukan berubah secara arbiter hanya karena dimaksudkan untuk memenuhi
tujuan yang menguntungkan pihak tertentu saja.
Pada dasarnya kondisi lingkungan yang sebenarnya menentukan jenis dan isi
standar akuntansi. Kebutuhan akan standar akuntansi yang bercirikan Islam
merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan ekonomi Islam.
Munculnya kembali pemikiranpemikiran tentang ekonomi Islam makin meningkatkan
persatuan sesama muslim dalam kegiatan politik dan ekonomi dapat dikatakan sebagai
kekuatan baru perkembangan ekonomi di negara-negara Islam (termasuk Indonesia).
Perkembangan tersebut mengarah pada penciptaan lingkungan ekonomi dan pasar
yang seragam sesuai dengan nilai-nilai Islam. Akibatnya pelaporan keuangan
perusahaan di negara-negara Islam akan ditandai dengan kekuatan politik, ekonomi,
sosial dan budaya yang berbeda dengan negara-negara barat. Oleh karena kekuatan
tersebut mempengaruhi tujuan dan format pelaporan keuangan, kebutuhan untuk
memiliki standar akuntansi yang bernapaskan Islam merupakan suatu keharusan
langkah yang perlu dilakukan dalam menyusun standar akuntansi Islam.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan antara lain:
1. Membentuk dan mempraktekan sistem ekonomi Islam sehingga mempengaruhi
tujuan laporan keuangan yang berkaitan dengan standar akuntansi.
2. Laporan keuangan yang dihasilkan harus mampu meyakinkan pemakai laporan
bahwa perusahaan telah melaksanakan kegiatannya sesuai dengan prinsip-
prinsip Islam (Karim, 1990).
3. Kualitas informasi yang dihasilkan relevan dan dapat diuji kebenarannya, tepat
waktu dan karakteristik lain seperti yang diterapkan di negara barat yang
konsisten dengan tiga hal pokok yaitu: Keadilan, kebenaran, dan kejujuran.
Kriteria pangakuan untuk masing-masing elemen pelaporan keuangan disajikan
sesuai dengan syariat Islam.
Wacana Akuntansi Syari’ah walau masih dalam tatanan konsep tapi sudah bisa
digunakan untuk berbagai aktivitas ekonomi. Dan seterusnya dapat menjadi tatanan
yang lebih praktis.
PSAK NO.59
Untuk memenuhi kebutuhan akan standar Akuntansi Syariah, karena tuntutan
pasar sudah mendesak maka IAI sejak 1 Mei 2002 telah mengesahkan PSAK no. 59
tentang perbankan syari’ah. Hal ini dapat menjadi awalan yang bagus untuk
menstandarisasi lembaga keuangan syari’ah yang selama ini sudah berjalan. Jika
demikian mungkin kasus PT. QSAR (kerjasama modal dengan model bagi hasil) tidak
menjadi separah yang dalam hal ini dimungkinkan tidak ada laporan keuangan yang
memadahi. Padahal dalam kasus QSAR sebenarnya dapat diselesaikan dengan
beberapa point dari apa yang ada di PSAK no. 59 sebagai berikut:
Dalam PSAK no. 59 point 7 tentang pengakuan dan pengukuran Mudharabah
(bagi hasil) disebtukan bahwa Jika usaha mengalami kerugian, maka seluruh kerugian
ditanggung oleh pemilik dana, kecuali jika ditemukan adanya kelalaian atau
kesalahan oleh penelola dana, seperti penyelewengan, kecurangan, dan
penyalahgunaan dana. Kemudian
pada point 13 disebutkan bahwa Pada prinsipnya, dalam pembiayaan
Mudharabah tidak ada jaminan, namun agar pengelola dana tidak melakukan
penyimpangan, pemilik dana dapat meminta jaminan dari pengelola dana atau pihak
ketiga. Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila pengelola dana terbukti melakukan
pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad. Lalu dalam
ponit 27 disebutkan bahwa Rugi pengelolaan yang timbul akibat kelalaian atau
kesalahan pengelola dana dibebankan pada pengelola dana. Diperkuat lagi dalam
point 38 untuk masalah Musyarakah (kerjasama modal lebih dari 2 orang atau banyak
orang yang bercampur) yang menyebutkan bahwa Karena setiap mitra tidak dapat
menjamin modal mitra lainnya, maka setiap mitra dapat meminta mitra lainnya untuk
menyediakan jaminan atas kelalaian atau kesalahan yang disengaja. Beberapa hal
yang menunjukan adanya kesalahan yang disengaja ialah: pelanggaran terhadap
akad antara lain penyalahgunaan dana pembiayaan, manipulasi biaya dan
pendapatan operasional, pelaksanaan yang tidak sesuai dengan prinsip syari’ah. Jika
tidak terdapat kesepakan antara pihak yang bersengketa kesalahan yang disengaja
harus dibuktikan berdasarkan badan arbitrase atau pengadilan.

3.8 Peran Teori Akuntansi terhadap Standar Akuntansi Syari`ah


Teori akuntansi positif berupaya menjelaskan sebuah proses dalam akuntansi
syari`ah, yang menggunakan kemampuan, pemahaman, dan pengetahuan akuntansi
serta penggunaan kebijakan akuntansi yang paling sesuai untuk menghadapi kondisi
tertentu dimasa mendatang. Teori akuntansi positif juga berusaha menjelaskan atau
memprediksi fenomena nyata yang akan terjadi dalam standar akuntansi syari`ah dan
mengujinya secara empirik yang kesesuaiannya harus sesuai dengan observasi dan
dunia nyata.
Adapun Kontribusi teori akuntansi positif terhadap pengembangan akuntansi
terutama akuntansi syari`ah adalah Menghasilkan pola sistematik dalam pilihan
akuntansi syari`ah dan memberikan penjelasan spesifik terhadap pola tersebut
memberikan kerangka yang jelas dalam memahami akuntansi syari`ah, menunjukkan
peran utama contracting cost dalam teori akuntansi, menjelaskan mengapa akuntansi
digunakan dan memberikan kerangka dalam memprediksi pilihan-pilihan akuntansi,
mendorong riset yang relevan dimana akuntansi menekankan pada prediksi dan
penjelasan terhadap fenomena akuntansi.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
Kehadiran teori akuntansi positif telah memberikan sumbangan yang berarti bagi
pengembangan akuntansi, yaitu menghasilkan pola sistematik dalam pilihan akuntansi
dan memberikan penjelasan spesifik terhadap pola tersebut, memberikan kerangka
yang jelas dalam memahami akuntansi, menunjukkan peran utama contracting cost
dalam teori akuntansi, menjelaskan mengapa akuntansi digunakan dan memberikan
kerangka dalam memprediksi pilihan-pilihan akuntansi, mendorong riset yang relevan
dimana akuntansi menekankan pada prediksi dan penjelasan terhadap fenomena
akuntansi.
Kritik terhadap teori akuntansi positif merupakan diskursus yang justru dapat
memberikan kontribusi keilmuan akuntansi. Kritik muncul dikarenakan kerangka
berpikir Watts dan Zimmerman lebih dimotivasi oleh adanya pragmatism utility of
knowledge of accounting research, dimana ukuran yang digunakan ditetapkan sesuai
dengan kontribusi yang dihasilkannya, yaitu teori akuntansi positif dapat memberikan
manfaat langsung berupa kemampuan untuk menjelaskan dan meramalkan praktek
akuntansi yang dikaitkan dengan perilaku individu dalam maksimisasi utilitasnya. Para
kritikus mengharapkan peran lebih yaitu masuk ke dalam keilmuan akuntansi dan
tidak hanya pada praktek akuntansi saja.
Standar Akuntansi Islam (Syari’ah) menawarkan sistem ini untuk menghindari
kenyataan sejarah perekonomian dalam kegoncangan fluktuasi nilai uang yang tidak
menunjukan nilai yang sebenarnya akibat prilaku spekulasi. Dimana uang tidak
menjadi fungsi aslinya sebagai alat tukar melainkan menjadi komuditas tersendiri. Hal
tersebut menyebabkan laju suku bunga riil yang tinggi dan fluktuasi valuta asing yang
tidak sehat (Umar Chapra, 2000, Sistem Moneter Islam).
Islam lahir sebagai tanggapan atas suatu kondisi historis dan adanya kebutuhan
akan petunjuk hidup yang komprehensip dalam bidang religio kultural dan sosio
ekonomi (Asghar Ali Engineer, 2000, Islam dan Teologi Pembebasan). Dengan
demikian pentunjuk Islam atau termasuk seperangkat metodologinya (syari’ahnya).
Standar akuntansi syari’ah mempunyai pengaruh positif terhadap praktik bisnis
yang sesuai dengan ajaran Islam. Sehingga suatu keharusan bagi muslim untuk
mengembangkan sendiri standar akuntansi yang sesuai dengan Syariat Islam.
Teori akuntansi positif berupaya menjelaskan sebuah proses dalam akuntansi
syari`ah, yang menggunakan kemampuan, pemahaman, dan pengetahuan akuntansi
serta penggunaan kebijakan akuntansi yang paling sesuai untuk menghadapi kondisi
tertentu dimasa mendatang. Teori akuntansi positif juga berusaha menjelaskan atau
memprediksi fenomena nyata yang akan terjadi dalam standar akuntansi syari`ah dan
mengujinya secara empirik yang kesesuaiannya harus sesuai dengan observasi dan
dunia nyata.
DAFTAR PUSTAKA

http://rocketmanajemen.com/teori-akuntansi/ (diupdate 24 Maret 2018 dan diakses tanggal


14/04/2018 jam 22:26 WIB)

https://arifinrolianto.wordpress.com/2013/01/08/teori-akuntansi-positif-dan-normatif/ (diupdate
08 Januari 2018 dan diakses tanggal 14/04/2018 jam 21:26 WIB)

https://www.akuntansionline.id/standar-akuntansi-di-indonesia/ (diakses tanggal 14/04/2018


jam 22:57 WIB)

https://media.neliti.com/media/publications/75012-ID-teori-akuntansi-positif-dan-
konsekuensi.pdf (diupdate 03 September 2012 dan diakses tanggal 12/04/2018 jam 21:30 WIB)

https://media.neliti.com/media/publications/22787-ID-standar-akuntansi-syariah-paradigma-
baru-sistem-akuntansi-di-indonesia.pdf (diupdate 02 Agustus 2006 dan diakses tanggal
12/04/2018 jam 21:29 WIB)