Anda di halaman 1dari 10

Rangkaian Tedhak Siten

1. Beras ketan tersebut diberi pewarna merah, putih, hitam, kuning, biru, jingga dan ungu.  Urutan warna :
hitam, ungu, hijau, biru, kuning, merah, putih

Tedak siten merupakan budaya warisan leluhur masyarakat Jawa untuk bayi yang berusia sekitar tujuh atau
delapan bulan. Tedak siten dikenal juga sebagai upacara turun tanah.

‘Tedak’ berarti turun dan ‘siten’ berasal dari kata ‘siti’ yang berarti tanah. Upacara tedak siten ini dilakukan
sebagai rangkaian acara yang bertujuan agar anak tumbuh menjadi anak yang mandiri.

Tradisi ini dijalankan saat anak berusia hitungan ke-tujuh bulan dari hari kelahirannya dalam hitungan pasaran
jawa. Perlu diketahui juga bahwa hitungan satu bulan dalam pasaran jawa berjumlah 36 hari. Jadi bulan ke-tujuh
kalender jawa bagi kelahiran si bayi setara dengan 8 bulan kalender masehi.

Artikel terkait: Perkembangan Bayi Usia 8-11 bulan

Bagi para leluhur, adat budaya ini dilaksanakan sebagai penghormatan kepada bumi tempat anak mulai belajar
menginjakkan kakinya ke tanah. Dalam istilah jawa disebut tedak siten.

Selain itu juga diiringi doa-doa dari orangtua dan sesepuh sebagai pengharapan agar kelak anak sukses
menjalani kehidupannya.

Rangkaian acara Tedak siten

Prosesi tedak siten dimulai di pagi hari dengan serangkaian makanan tradisional untuk selamatan. Makanan
tradisional tersebut berupa ‘jadah’/’tetel’ tujuh warna.

Makanan ini terbuat dari beras ketan dicampur parutan kelapa muda dan ditumbuk hingga bercampur menjadi
satu dan bisa diiris. Beras ketan tersebut diberi pewarna merah, putih, hitam, kuning, biru, jingga dan ungu.

Jadah ini menjadi simbol kehidupan bagi anak, sedangkan warna-warni yang diaplikasikan menggambarkan jalan
hidup yang harus dilalui si bayi kelak. Penyusunan jadah ini dimulai dari warna hitam hingga ke putih, sebagai
simbol bahwa masalah yang berat nantinya ada jalan keluar / titik terang.

Makanan tradisional lainnya yang disediakan untuk acara tedak siten ini berupa tumpeng dan perlengkapannya
serta ayam utuh.

Tumpeng sebagai simbol permohanan orang tua agar si bayi kelak menjadi anak yang berguna. Sayur kacang
panjang sebagai simbol umur panjang. Sayur kangkung sebagai simbol kesejahteraan. Kecambah sebagai simbol
kesuburan, sedangkan ayam adalah simbol kemandirian.

Setelah acara selamatan dengan mengumpulkan para undangan telah dibagikan, rangkaian acara tedak
siten dilanjutkan dengan prosesi menapakkan kaki bayi di atas jadah 7 warna.
Selanjutnya adalah prosesi naik tangga. Tangga tradisional yang dibuat dari tebu jenis ‘arjuna’ dengan dihiasi
kertas warna-warni. Ritual ini melambangkan harapan agar si bayi memiliki sifat kesatria si Arjuna (tokoh
pewayangan yang dikenal bertanggungjawab dan tangguh). Dalam bahasa Jawa ‘tebu’ merupakan kependekan
dari ‘antebing kalbu’ yang bermakna kemantaban hati.

Tedak siten prediksi masa depan anak

Prosesi selanjutnya adalah prosesi di mana bayi dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang telah dihias dengan
kertas berwarna warni. Prosesi ini menyimbolkan kelak anak akan dihadapkan pada berbagai macam jenis
pekerjaan.

Jika kurungan ayam besar prosesi selanjutnya bisa dilakukan di dalam kurungan. Tetapi seringkali agar anak
merasa lebih leluasa, prosesi selanjutnya dilakukan di luar kurungan.

Bayi dihadapkan dengan beberapa barang untuk dipilih seperti cincin/uang, alat tulis, kapas, cermin, buku, dan
pensil. Kemudian dibiarkan mengambil salah satu dari barang tersebut. Barang yang dipilihnya merupakan
gambaran hobi dan masa depannya kelak.

Selanjutnya Bunda menebarkan beras kuning (beras yang dicampur dengan parutan kunir) yang telah dicampur
dengan uang logam untuk di perebutkan oleh undangan anak-anak. Ritual ini dimaksudkan agar anak memiliki
sifat dermawan.

Rangkaian prosesi tedak siten diakhiri dengan memandikan bayi ke dalam air bunga setaman lalu dipakaikan
baju baru.

Prosesi pemakaian baju baru inipun dengan menyediakan 7 baju yang pada akhirnya baju ke-7 yang akan dia
pakai. Hal ini menyimbolkan pengharapan agar bayi selalu sehat, membawa nama harum bagi keluarga, hidup
layak, makmur dan berguna bagi lingkungannya.

Semoga penjabaran tentang ritual tedak siten ini bisa memperluas pengetahuan tentang nilai-nilai luhur budaya
leluhur bagi para generasi penerus.

BAB II

Tedhak Siten yang juga dikenal sebagai ritual Turun Tanah merupakan salah satu adat dan tradisi masyarakat
Jawa Tengah. Istilah dari Tedhak Siten sendiri berasal dari dua kata yaitu Tedhak yang berarti kaki atau langkah
dan Siten yang berasal dari kata Siti yang artinya tanah. Jadi, tedhak siten merupakan sebuah acara adat dimana
seorang anak yang berumur tujuh lapan (7 x 35 hari atau 245 hari) akan dituntun oleh ibunya untuk berjalan
menapak diatas tanah.
Upacara adat ini sendiri memiliki beberapa tujuan, termasuk diantaranya adalah sebagai bentuk rasa syukur
karena sang anak akan mulai belajar berjalan. Selain itu, upacara ini merupakan salah satu upaya
memperkenalkan anak kepada alam sekitar dan juga ibu pertiwi. Hal ini juga merupakan perwujudan dari salah
satu pepatah Jawa yang berbunyi “Ibu Pertiwi Bopo Angkoso” (Bumi adalah ibu dan langit adalah Bapak).

Sama seperti berbagai upacara adat Jawa lainnya, upacara tedhak siten juga tidak lepas dari berbagai simbol
dan makna filosofis. Setiap langkah dan aspek dari upacara ini menyimbolkan hal-hal tertentu dalam kehidupan
sang anak, dan hal inilah yang membuat upacara ini penuh warna. Tahapan dari upacara tedhak siten meliputi:
Tahap 1

Pada tahap ini, sang anak akan dituntun oleh sang Ibu untuk berjalan diatas 7 jadah (makanan yang terbuat dari
beras ketan yang dicampur dengan garam dan kelapa yang kemudian dikukus, dihaluskan dan dicetak) dengan 7
warna berbeda yaitu putih, merah, hijau, kuning, biru, coklat, dan ungu.

Warna-warna dari jadah tersebut merupakan simbol dari warna-warna kehidupan. Pengaturan jadah tersebut
dimulai dari yang berwarna gelap hingga berwarna terang (putih) sebagai simbol bahwa akan ada jalan keluar
yang terang dari setiap masalah yang menghadang.

Sementara jumlah 7 mengacu pada bahasa Jawa Pitu yang bermakna pitu atau pertolongan, dimana dalam
perjalanan sang anak dalam setiap tahap kehidupannya kelak, semoga selalu mendapat pertolongan dari Tuhan
Yang Maha Esa.

Tahap 2

Sang anak akan dituntun untuk menaiki tangga yang terbuat dari tebu. Pemilihan tebu yang dianggap sebagai
singkatan dari antebing kalbu atau mantapnya hati merupakan bentuk harapan agar sang anak memiliki
ketetapan hati dalam menjalani setiap tahap kehidupannya kelak, dimana setiap anak tangga yang dilewati
merupakan simbol dari tahapan kehidupan.

Tahap 3

Anak dituntun untuk berjalan diatas tanah atau tumpukan pasir dimana sang anak akan mengais (ceker-ceker)
tanah dengan kedua kakinya. Hal ini merupakan simbol dari harapan agar sang anak saat telah dewasa nanti
mampu mengais rejeki untuk memenuhi kebutuhannya.

Arsy di dalam kurungan ayam beserta benda untuk dipilih


Tahap 4

Anak dimasukkan dalam kurungan ayam, dimana di dalam kurungan tersebut telah disediakan berbagai benda
seperti buku, uang, mainan, makanan dan berbagai benda lainnya. Benda yang dipilih oleh sang anak
merupakan gambaran dari potensi anak yang diharapkan akan membantu orang tua untuk bisa mengasah
potensi tersebut dengan baik.

Sang anak yang berusia sekitar 8 bulan dipercaya masih memiliki naluri atau insting yang belum tertutupi oleh
hal-hal lain, dan pada saat yang sama mereka sudah mampu merespon dunia luar dengan baik. Hal inilah yang
membuat sang anak akan memilih benda yang sesuai dengan insting mereka, yang dipercaya sebagai potensi
yang ada dalam diri mereka.

Tahap 5

Pemberian uang logam yang telah dicampurkan dengan berbagai jenis bunga dan beras kuning oleh sang ayah
dan kakek sebagai simbol harapan agar sang anak nantinya memiliki rejeki berlimpah namun tetap bersifat
dermawan

Tahap 6

Sang anak dimandikan dengan air yang dicampur dengan kembang setaman sebagai simbol harapan agar sang
anak akan membawa nama harum bagi keluarga

Tahap 7

Anak dipakaikan baju yang bagus dan bersih dengan harapan agar anak akan menjalani hidup yang baik
nantinya.

Seluruh tahapan upacara beserta semua aspek yang ada didalamnya memiliki makna filosofis yang menjadikan
upacara menarik untuk dilihat dan pastinya menjadi salah satu bukti kekayaan budaya Jawa.

BAB III

Tedak siten berasal dari kata tedak dan siti. Tedak artinya turun dan siti artinya tanah. Tedak siten
berarti turun tanah. Ritual ini adalah rangkaian acara yang memiliki harapan agar anak tumbuh
sebagai anak yang mandiri dan memiliki rasa hormat/sayang pada bumi (tanah) tempat ia pertama kali
berpijak. Tradisi ini (aturannya) dijalankan saat anak berumur 7 bulan jika dihitung dengan kalender
Jawa. Kalau dihitung dengan kalender Masehi, berarti setara dengan umur 8 bulan. Jadi, pas nih
kemaren ^__^

Rangkaian acara tedak siten ini diawali dengan MC yang menjelaskan terlebih dulu makna dari seluruh
rangkaian, kemudian baru deh kami mulai.

Pertama, saya dan Adit mengarahkan kaki Baby Aiden menginjak tanah yang sudah disiapkan. Lalu,
saya membasuh kaki Baby Aiden dengan air. Ritual ini punya makna Baby Aiden mulai menapaki tanah,
yang berarti mulai menapaki tantangan hidup.

Kedua, Baby Aiden diarahkan untuk menapaki jadah 7 warna. Saya pun baru tau kemaren. Ke-7
warna tersebut adalah merah, putih, hitam, kuning, biru, merah jambu, dan ungu. Masing-masing
warna ada artinya sendiri loh ternyata. Tapi, sepertinya arti dari masing-masing warna ini bisa
berbeda-beda tergantung daerah.

Merah artinya emosi/watak diri sendiri. Baby Aiden mulai diperkenalkan dengan berbagai emosi dalam
dirinya.

Kuning artinya keluarga.

Putih artinya kesucian.

Merah jambu alias pink artinya orangtua, kakak, dan eyang

Biru artinya air dan angin. Saat menapaki jadah biru ini, Baby Aiden tertawa kegirangan. Padahal
aslinya, dia agak cemen loh sama air. *apa hubungannya*

Hijau artinya lingkungan sekitar. Diharapkan Baby Aiden bisa menyayangi lingkungan yang ada di
sekitarnya.

Ungu artinya kesempurnaan/puncak. Artinya, hidup kita hanya sementara. Suatu saat nanti kita pasti
akan menghadap Yang Maha Kuasa, sehingga diharapkan selama hidup Baby Aiden berbuat baik dan
bijaksana agar mendapat karunia Sang Pencipta kelak.
Dengan menapakijadah 7 warna ini, diharapkan kelak Baby Aiden mampu melewati tiap rintangan
dalam hidupnya.

Ketiga, setelah menginjak 7 jadah warna-warni, Baby Aiden dituntun untuk menapaki tangga yang
terbuat dari batang tebu. Ritual ini menggambarkan bahwa Baby Aiden akan menghadapi perjalanan
hidupnya, hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun sampai pada puncaknya. Menaiki
tangga ini didampingi oleh para Eyang juga. Ini menggambarkan dukungan keluarga untuk Baby Aiden
dalam menjalani hari-harinya ke depan. Ritual ini punya harapan agar kelak Baby Aiden nggak
gampang menyerah dalam meraih cita-citanya.

Keempat, Baby Aiden dimasukkan dalam kandang/kurungan ayam yang di dalamnya sudah diisi oleh
beberapa mainan yang menggambarkan berbagai profesi.

Saat berada dalam kurungan ini, Adit juga diminta menyebar biji-bijian, beras, dan uang logam
sebagai simbol tanggung jawab Adit dalam menafkahi keluarga. Beberapa benda yang saya siapkan
adalah:
 Gitar. Siapa tau jadi rocker yang cool. Hihihi.
 Piano. Siapa tau jadi pianis idaman macam Chiaki Senpai di anime Nodame Cantabille.
 Krayon. Siapa tau jadi pelukis.
 Kamera. Siapa tau jadi fotografer kayak Papi Adit dulu.
 Mainan dokter. Siapa tau jadi dokter.
 Mainan memasak. Kali jadi kayak Chef Juna yang cool abes itu.
 Mainan laptop. Ya kan barangkali Baby Aiden kepengin jadi blogger kayak Mami. Weekkk.
 Mainan palu. Karena kebetulan Opa adalah seorang hakim.
 Uang mainan. Maksudnya jadi pengusaha ya, bukan koruptor loh!

Dalam hati, saya berharap Baby Aiden mengambil laptop mainan biar jadi blogger. HAHAHAHA.
Ternyata, dia mengambil palu mainan.

Wah, Opa-Oma langsung sumringah syekali saat itu. Saya jadi ikut happy melihat Opa-Oma yang
girang. Sebenarnya memang belum tentu kelak Baby Aiden bakal punya profesi seperti benda yang dia
pilih kemaren ya. Anggap saja ini adalah doa dan tentunya bagian dari rangakain prosesi tedak siten.

Kelima, Baby Aiden dimandikan dengan air yang diberi bunga. Maknanya adalah agar kelak Baby
Aiden dapat mengharumkan keluarga dan dirinya. Maksudnya, supaya ia bisa jadi anak yang
membanggakan. Setelah dimandikan, Baby Aiden dipakein baju adat Jawa lengkap dengan blangkon
nya. Lucu bangeeettttt.

Keenam, Baby Aiden dipapah berjalan dengan memegang teken ingkung. Yang menemani di ritual ini
adalah para Opa. Maknanya adalah semoga kelak Baby Aiden menjadi anak yang mandiri.

Ketujuh, para Eyang menyebar uang receh dan mainan tradisional. Maknanya adalah supaya kelak
Baby Aiden dapat belajar untuk berbagi rezeki pada orang lain.
Lastly, kami sekeluarga memotong tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas segala limpahan berkah
yang sudah kami terima selama ini.

Selama prosesi tedak siten, Baby Aiden bisa dibilang cukup kooperatif. Dia nurut dan anteng sampai di
ritual naik tangga. Saat dimandikan, dia sudah mulai gelisah. Setelah pakai baju adat, tangisnya sudah
nggak bisa dibendung dan cenger deh. Hahaha.

***

Sebenarnya acara tedak siten Baby Aiden ini dibarengkan dengan perayaan ulang tahun Kakak Ubii.
Untuk tema dekorasinya adalah LEGO. Tentang persiapan-persiapannya sudah saya ceritakan di
postingan sebelumnya.

BAB IV
Mengenal Upacara Tedhak Siten

Tedhak Siten atau Turun Tanah adalah suatu prosesi untuk menandakan anak saatnya mulai belajar berdiri
dan berjalan, biasanya diadakan ketika anak telah berusia 7bulan ke-atas. Menurut hitungan Jawa, usia satu
bulan bayi adalah 35 hari jadi perhitungannya 35 X 7 atau 245 hari dalam hal ini biasanya praktek acara Turun
Tanah adalah dari anak usia 7 hingga 8 bulan. Jadi merupakan prosesi bersyukur kepada Tuhan sebab anak
telah tumbuh dan berkembang hingga saatnya belajar berdiri dan berjalan.

Di usia ini biasanya anak secara perkembangan mulai belajar berdiri dan berjalan meskipun masih perlu dititah
atau masih dituntun dan dibimbing kita orang dewasa, mulai diperkenalkan tanah sebagai tempat dia berpijak
dihari kemudian.

Berikut ini adalah rangkaian acara Tedhak Siten serta hal-hal apa saja yang mendukung jalannya acara serta
sedikit pengertian tentang makna dan arti dari prosesi serta kelengkapannya.

* Anak dituntun menginjak tanah kemudian kakinya dibasuh dengan air bersih artinya adalah telah waktunya
anak untuk belajar berdiri dan berjalan serta mengenal tanah sebagai pijakan.

* Kemudian anak dituntun untuk menginjak “jadah” atau “tetel” sebanyak 7 warna yang artinya anak diharapkan
mampu untuk mengatasi segala masalah dan kesulitannya, demikian urutan warnanya merah = berani; putih =
suci; jingga = matahari, kekuatan; kuning = terang, jalan lurus; hijau = alam, lingkungan; biru = angkasa,
ketenangan; ungu = kesempurnaan, utuh.

* Lalu anak dituntun menaiki tangga tebu “ireng” atau tebu “arjuna” yang terdiri dari 7 anak tangga kemudian
dibopong oleh ayah setinggi-tingginya artinya diharapkan kesuksesan sang anak makin tinggi dan makin naik.

* Anak setelah itu dimasukan ke dalam kurungan ayam yang berarti anak diharapkan tidak meninggalkan agama
- adat budaya - serta tata krama lingkungan ==> dalam kurungan telah diberikan macam2 isian yang akan
dipilih oleh anak, karenanya barang2 yang disiapkan bermakna bagus dan baik seperti buku - pensil - emas -
kapas - wayang - mainan dokter - mainan elektronik dsb.

* Kemudian anak dimandikan air bunga, mawar - melati - kanthil - kenanga yang artinya diharapkan sang anak
membawa nama baek dan mengharumkan nama keluarga.

* Kemudian memotong tumpeng dan dibagikan, artinya anak agar mau berbagi dengan sesama, tumpeng terdiri
dari nasi = dekat kepada sang pencipta; ayam = kemandirian; kacang panjang = umur panjang; kangkung =
berkembang; kecambah = subur; kluwih = rejeki yang melimpah serta pala pendem = andap asor dan tidak
sombong.

* Lalu menyebarkan uang logam recehan dan beras kuning untuk diperebutkan, artinya anak kelak suka
menolong dan dermawan, ikhlas suka berbagi mau membantu orang lain.

* Selain tumpeng, dipersiapkan pula “bubur” atau “jenang merah-putih” yang artinya anak terdiri dari darah-
daging dan tulang yang berasal dari kedua orang tua-nya serta jajanan pasar seperti lopis - cenil - ketan ireng -
tape ketan - jagung blendung - tiwul - gatot dan semacamnya yang berarti dalam kehidupan pasti akan ada
warna-warni serta bermacam kejadian dan peristiwa.

Sumber :
http://aqiqahcatering.com/tag/acara-tedhak-siten/

TEDHAK SITEN
Membicarakan masalah pelestarian warisan budaya dan lingkungan hidup di Jawa khususnya Surakarta dan
Yogyakarta tidak akan pernah lepas dari permasalahan bagaimana cara mempertahankannya. Amanat warisan
budaya hendaknya kita emban dengan usaha pelestarian dan pemanfaatan secara positif karena terlalu sarat
dengan nilai-nilai filosofi, etika, dan pesan moral untuk senantiasa kita dalami, pelihara, bina dan kembangkan
demi kepentingan hidup manusia secara utuh dan menyeluruh.
Sebagai salah satu warisan budaya, upacara tradisi adalah salah satunya. Unsur-unsur budaya Jawa intangible
yang masih terpelihara diantaranya adalah nilai-nilai luhur ( value) dan keyakinan-keyakinan (beliefs) yang
digunakan sebagai rencana atau pedoman perilaku atau adat serta memecahkan masalah-masalah yang berlaku
dari generasi ke generasi.
Nilai-nilai budaya lain yang bersifat simbolis sering dimanifestasikan ke dalam bentuk upacara adat seperti
bermacam-macam upacara tradisional untuk bayi yang baru lahir; yaitu mitoni (tingkepan), brokohan,
sepasaran, selapanan, tedhak siti, ngruwat (ruwatan), dan khitanan . Upacara adat sendiri yang sampai saat ini
masih sering dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Jawa pada umumnya mempunyai fungsi spiritual yaitu
memberikan petunjuk atau gambaran hubungan manusia dengan Tuhan, hal ini memenuhi kebutuhan rohani
manusia fungsi sosial dimana dalam upacara melibatkan individu-individu warga masyarakat yang mempunyai
kepentingan sama, yang dilandasi oleh kepercayaan dan keyakinan yang sama pula, sehingga dapat
menciptakan kerukunan sosial dan membawa dampak terwujudnya ketenangan, ketentraman dan kesejahteraan
hidup.
Tedhak Siten adalah salah satu upacara adat budaya Jawa. Tedhak siten atau dhun-dhunan (ada juga yang
menyebut dengan mudhun) lemah atau turun tanah merupakan upacara yang dilakukan sebagai peringatan bagi
manusia akan pentingnya makna hidup di atas bumi yang mempunyai relasi, yaitu relasi antara manusia dengan
Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan lingkungan alam. Artinya, upacara tedhak siten merupakan suatu
upacara yang mengandung harapan orangtua terhadap anaknya agar si anak nantinya menjadi orang yang
berguna bagi keluarga, nusa, dan bangsa. Harapan orangtua ini termanifestasikan dalam suatu upacara yang
diselenggarakan pada masa kanak-kanak yang dinamai upacara tedhak siten.
Tedhak siten berasal dari dua kata, yaitu tedhak dan siten. Tedhak berarti dekat, turun. Siten berasal dari kata
dasar ‘siti’ yang berarti tanah dan akhiran ‘an’ yang melengkapi arti kata tanah. Artinya, tedhak siten merupakan
suatu upacara sebagai tanda atau simbol bahwa si anak pertama kali menginjak atau turun ke tanah secara
resmi sebagai suatu upaya untuk memperkenalkan anak pada bumi (tanah).
Tedhak siten dilakukan pada waktu bayi berumur tujuh lapan (satu lapan sama dengan 35 hari). Simbol yang
tersirat dalam tedhak siten adalah mengungkapkan masa depan bayi. Sedangkan maksud diadakannya tedhak
siten adalah kelak kalau anak sudah dewasa akan kuat dan mampu berdiri sendiri dalam menempuh kehidupan
yang penuh tantangan dan harus dihadapinya untuk mencapai cita-cita. Selain itu upacara ini mewujudkan rasa
syukur karena pada usia ini si anak akan mulai mengenal alam di sekitarnya dan mulai belajar berjalan. Tujuan
lain dari upacara ini adalah untuk mengenalkan sang buah hati kepada ibu pertiwi. “Karena dalam pepatah Jawa
mengatakan ‘Ibu Pertiwi Bopo Angkoso’ yang berarti bumi sebagai ibu dan langit sebagai bapak.
Dalam upacara adat ini ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh si anak, di mana tiap tahap atau proses
tersebut memiliki nilai-nilai budaya yang cukup tinggi. Jalannya upacara ini adalah sebagai berikut:
Pertama, orangtua anak membimbing si anak menginjakkan kakinya di tanah kemudian menginjakkannya ke
juadah yang berjumlah tujuh. Lalu anak dibimbing menaiki tangga tebu. Setelah sampai pada tebu yang teratas,
lalu diturunkan untuk menapaki juadah itu lagi. Turun dari tangga tebu, si anak dituntun untuk berjalan
dionggokan pasir. Disitu dia mengkais pasir dengan kakinya, bahasa Jawanya ceker-ceker, yang arti kiasannya
adalah mencari makan. Maksudnya si anak setelah dewasa akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Anak
dibimbing untuk masuk kurungan ayam. Di dalam kurungan ayam tersebut terdapat beberapa barang seperti
barang perhiasan, alat-alat tulis, padi, barang-barang mainan, dan lain-lain. Anak biasanya tertarik untuk
memperhatikan dan kemudian mengambil barang yang tersedia. Kemudian Ayah dan kakek si bocah
menyebar udik-udik, yaitu uang logam dicampur berbagai macam bunga. Maksudnya si anak sewaktu dewasa
menjadi orang yang dermawan, suka menolong orang lain. Karena suka menberi, baik hati, dia juga akan mudah
mendapatkan rejeki. Setelah selesai, anak dimandikan dengan air kembang setaman lalu pakaian dikenakan.
Dengan demikian, selesailah upacara tedhak siten.
Uba rampe yang diperlukan dalam upacara tedhak siten adalah antara lain:
1. Nasi tumpeng
2. Jenang (bubur) merah dan putih
3. Jenang boro-boro
4. Jajan pasar selengkap-lengkapnya
5. Juadah tujuh warna
6. Kembang setaman
7. Tangga yang terbuat dari tebu
8. Sangkar (kurungan) ayam dihiasi janur kuning dan kertas warna-warni.
9. Padi, kapas, kembang telon (tiga macam bunga, yaitu melati, mawar, dan kenanga).
10. Beras kuning dan beberapa lembar/coin uang
11. Barang-barang perhiasan, antara lain: kalung, gelang, peniti
12. Barang-barang yang bermanfaat, misalnya buku dan alat-alat tulis.
Upacara tedhak siten yang diselenggarakan pada waktu anak berusia 7 lapan memiliki lambang yang dapat
ditafsirkan sebagaai berikut:
 Tangga tebu wulung (tebu hitam) : Mantapnya hati, pendirian yang teguh.
Menaiki tebu wulung : untuk menggambarkan perjalanan hidup dan mencapai cita-cita yang tinggi dan
luhur. Menandakan si anak mengenal kenyataan hidup yang akan dilalui di kemudian hari. Tangga tebu
melambangkan tingkat-tingkat kehidupan yang mengandung harapan suatu ketetapan hati (antebing
kalbu, Jawa) dalam mengejar tingkatan hidup yang lebih baik.
 Kurungan jago melambangkan dunia fana yang terbatas, atau suatu lingkungan masyarakat yang akan
dimasukinya dengan mematuhi segala peraturan dan adat istiadat setempat. Kurungan yang dihiasi
dengan berbagai macam mainan : maknanya menggambarkan dunia dengan berbagai pilihan untuk hidup
di kemudian hari.
 Jadah terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan kelapa dan garam, dikukus dan dihaluskan
kemudian dicetak sesuai dengan kebutuhan. Rasanya gurih, namun setelah diberi beberapa warna alami,
rasa dan makna yang dikandung pun jadi lain. Makna yang terkandung dari jadah adalah perjalanan hidup
yang akan dilalui oleh si anak. Menggambarkan kehidupan yang penuh cobaan, suka dan duka sehingga
membutuhkan keuletan. Juadah tujuh macam warna melambangkan suatu harapan agar anak dalam
setiap harinya dapat mengatasi berbagai macam kesulitan.
Makna yang dikandung dalam jadah tujuh warna adalah:
1. Putih : kesucian
2. Merah Muda : kelembutan hati
3. Merah : keberanian
4. Hijau : kehidupan
5. Kuning : bersinar
6. Ungu : keluhuran budi
7. Hitam : keabadian
 Kembang setaman melambangkan sifat suci dalam tingkatan hidup yang akan dijalani. Mandi dengan
air setaman : Menggambarkan bahwa anak tetap sehat jasmani dan rohani. Membawa keharuman nama
keluarga.
 Barang-barang perhiasan melambangkan kekayaan
 Kapas, padi, dan beras mengandung makna berupa harapan agar anak kelak selalu kecukupan sandang
pangan.
 Jenang blowok : Terdiri dari jenang merah putih dan jenang katul (bekatul) yang melambangkan
perjalanan hidup itu tidak selalu mulus, kadang-kadang terperosok (keblowok – bahasa Jawa).
 Udik-udik : beras kuning yang dicampur dengan empon-empon, uang logam dan bunga mawar dan
melati yang melambangkan agar si anak suka menolong orang lain dengan memberikan sebagaian
hartanya kepada orang yang membutuhkan.
Ringkasan Jalannya Upacara Tedhak Siten
No. Acara Makna
1. Orangtua anak membimbing si anak perjalanan hidup yang akan dilalui oleh si
menginjakkan kakinya di tanah kemudian anak. Menggambarkan kehidupan yang
menginjakkannya ke juadah yang berjumlah penuh cobaan, suka dan duka sehingga
tujuh membutuhkan keuletan. Juadah tujuh macam
warna melambangkan suatu harapan agar
anak dalam setiap harinya dapat mengatasi
berbagai macam kesulitan.
2. Anak dibimbing menaiki tangga tebu. Setelah untuk menggambarkan perjalanan hidup dan
sampai pada tebu yang teratas, lalu diturunkan mencapai cita-cita yang tinggi dan luhur.
untuk menapaki juadah itu lagi. Menandakan si anak mengenal kenyataan
hidup yang akan dilalui di kemudian hari.
Tangga tebu melambangkan tingkat-tingkat
kehidupan yang mengandung harapan suatu
ketetapan hati (antebing kalbu, Jawa) dalam
mengejar tingkatan hidup yang lebih baik.
3. Anak dituntun untuk berjalan dionggokan pasir Mencari makan. Maksudnya si anak setelah
dewasa akan mampu memenuhi kebutuhan
hidupnya.
4. Anak dibimbing untuk masuk kurungan ayam. Di Melambangkan dunia fana yang terbatas,
dalam kurungan ayam tersebut terdapat atau suatu lingkungan masyarakat yang akan
beberapa barang seperti barang perhiasan, alat- dimasukinya dengan mematuhi segala
alat tulis, padi, barang-barang mainan, dan lain- peraturan dan adat istiadat
lain. setempat. Kurungan yang dihiasi dengan
berbagai macam mainan : maknanya
menggambarkan dunia dengan berbagai
pilihan untuk hidup di kemudian hari.
5. Ayah dan kakek si bocah menyebar udik-udik, Maksudnya si anak sewaktu dewasa menjadi
yaitu uang logam dicampur berbagai macam orang yang dermawan, suka menolong orang
bunga. lain. Karena suka menberi, baik hati, dia juga
akan mudah mendapatkan rejeki.
6. Anak dimandikan dengan air kembang setaman Menggambarkan bahwa anak tetap sehat
lalu pakaian dikenakan jasmani dan rohani. Membawa keharuman
nama keluarga.