Anda di halaman 1dari 225

UNIVERSITAS INDONESIA

PENERAPAN TERAPI SPESIALIS KEPERAWATAN JIWA SOCIAL SKILLS


TRAINING DAN COGNITIVE BEHAVIOR THERAPYPADA KLIEN
ISOLASI SOSIAL DENGAN PENDEKATAN MODEL
HUBUNGAN INTERPERSONAL H.E. PEPLAU
DI RS MARZOEKI MAHDI BOGOR

KARYA ILMIAH AKHIR

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar


Ners Spesialis Keperawatan Jiwa

Kens Napolion
0806446422

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PENDIDIKAN PERAWAT SPESIALIS JIWA
DEPOK, JULI 2012

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


PERNYATAAN ORISINALITAS

Karya Ilmiah Akhir ini adalah hasil karya saya sendiri dan semua sumber
baikyang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Kens Napolion

NPM : 0806446422

Tanda Tangan : .......................

Tanggal : 03 Juli 2012

ii

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


LEMBAR PERSETUJUAN

Karya Ilmiah Akhir ini telah diperiksa dan disetujui oleh Pembimbing serta telah
dipertahankan di hadapan tim penguji Karya Ilmiah Akhir Spesialis Keperawatan Jiwa
Universitas Indonesia

Depok, 03 Juli 2012

Pembimbing I

Prof. Budi Anna Keliat,S.Kp., M.App.Sc

Pembimbing II

Mustikasari, S.Kp, MARS

iii

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


HALAMAN PENGESAHAN

Karya Ilmiah Akhir ini diajukan oleh :


Nama : Kens Napolion
NPM : 0806446422
Program Studi : Pasca Sarjana
Judul Karya Ilmiah : Penerapan terapi spesialis keperawatan jiwasocial skills
training dan cognitive behavior therapy pada klien dengan
isolasi sosial melalui pendekatan model Hubungan
Interpersonal Hildegar E.Peplau di RS. Dr. H. Marzoeki
Mahdi Bogor

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai


bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ners Spesialis
Keperawatan Jiwa pada Program Studi Pasca Sarjana, Fakultas Ilmu
Keperawatan, Universitas Indonesia.

DEWAN PENGUJI

Pembimbing : Prof. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc

Penguji : Ice Yulia Wardani, .M.Kep. Sp.Kep.J

Penguji : dr. Hervita, Sp.KJ (K)

Penguji : Carolina,.M.Kep,Sp.Kep.J

Ditetapkan di : Depok
Tanggal : 03Juli 2012

iv

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


KATA PENGANTAR

Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWTyang telah memberikan rahmat dan
karuniaNya, sehingga Karya Ilmiah Akhir dengan judul “Penerapan Terapi Spesialis
Keperawatan Jiwa Social Skills Training dan Cognitive Behavior Therapy Pada
Klien Isolasi Sosial Dengan Pendekatan Model Hubungan Interpersonal Peplau Di
RS Marzoeki Mahdi Bogor ” dapat terselesaikan dengan baik.

Dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir ini penulis banyak mendapat bantuan,
bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis
menyampaikan terima kasih yang setulusnya kepada yang terhormat :
1. Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia beserta seluruh jajarannya,
yang telah memberikan kesempatan kembali mengikuti studi di Program Spesialis
Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
2. Ibu Prof. Dr. Budi Anna Keliat, M.App. Sc., selaku pembimbing Karya Tulis
Ilmiah yang telah membimbing penulis dengan meluangkan waktu, sabar, bijaksana
memberikan masukan serta motivasi dalam penyelesaian Karya Ilmiah Akhir ini.
3. IbuMustikasari, S.Kp.,MARSsebagai co-pembimbing yang membimbing penulis
dengan sabar, bijaksana dan juga sangat cermat memberikan masukan serta motivasi
dalam penyelesaian Karya Ilmiah Akhir ini.
4. Rekan-rekan angkatan V Program Spesialis Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia yang selalu bersama dalam suka dan duka serta
telah bekerjasama dan memberikan semangat selama pelaksanaan praktek
keperawatan serta dukungan selama penyelesaian Karya Ilmiah Akhir ini.

Akhirnya dengan terbuka penulis menerima masukan untuk perbaikan Karya Ilmiah
Akhir ini.
Depok, 03 Juli 2012

Penulis

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah
ini:
Nama : Kens Napolion
NPM : 0806446422
Program Studi : Pasca Sarjana
Fakultas : Ilmu Keperawatan
Jenis Karya : Karya Ilmiah Akhir

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty-Free
Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Asuhan keperawatan spesialis jiwa pada klien dengan isolasi sosialdengan penerapan
social skills training dan cognitive behavior therapy melalui pendekatan model
Hubungan Personal Hildegar E.Peplaudi RS. Dr. H. Marzoeki MahdiBogor.

beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif
ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola
dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir
saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai
penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Depok
Pada tanggal : 03 Juli 2012
Yang menyatakan,

(Kens Napolion)

vi

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


ABSTRAK

Nama : Kens Napolion


Program Studi : Ilmu Keperawatan
Judul : Penerapan Terapi Spesialis Keperawatan Jiwa Social Skills Training
dan Cognitive Behavior Therapy Pada Klien Isolasi Sosial Dengan
Pendekatan Model Hubungan Interpersonal Hildegard E.Peplau
di Rumah Sakit. Dr. Marzoeki Mahdi Bogor.

Isolasi sosial adalah salah satu gejala negatif dari skizofrenia (Stuart, 2009) yang paling
banyak ditemukan di ruang Bratasena. Isolasi sosial dapat diartikan sebagai keadaan
seorang individu yang mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu
berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, mungkin merasa ditolak, tidak diterima,
kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain (Keliat,
dkk, 2011). Social skills training merupakan salah satu pendekatan psikoedukasional
untuk memperbaiki kekurangan pada beberapa kemampuan interpersonal dalam
berinteraksi dengan orang lain (Stuart &Laraia, 2005). Cognitive behavior therapy
merupakan salah satu bentuk psikoterapi yang didasarkan pada teori bahwa tanda dan
gejala fisiologis berhubungan dengan interaksi antara pikiran, perilaku dan emosi
(Pedneault, 2008).Tujuan penulisan karya ilmiah akhir ini adalah menggambarkan
penerapan terapi social skills training dan cognitive behavior therapy pada klien isolasi
sosial dengan pendekatan Model Hubungan Interpersonal Peplau. Penerapan social
skills trainingdilakukan pada 26 kliendan cognitive behavior therapydilakukan pada 15
orang klien di ruang Bratasena pada kurun waktu 20 Pebruari – 20 April 2012. Hasil
terapi Social skills training sangat efektif pada 26 klien isolasi sosialdengan
menunjukkan peningkatan dalam berkomunikasi, baik secara verbal maupun non verbal.
Terapi Cogntive behavior therapy juga menunjukkan efektifitasnya dimana sebanyak 15
klien mampu menunjukkan kemampuan mengubah pikiran otomatis yang negatif
terhadap diri, orang lain, dan lingkungannya. Berdasarkan hasil di atas perlu
direkomendasikan bahwa social skills trainingdan cognitive behavior therapydapat
dijadikan standar terapi spesialis keperawatan jiwa dan perlu disosialisasikan pada
seluruh tatanan pelayanan kesehatan.

Kata kunci : Social skills training, cognitive behavior therapy, isolasi sosial, model
hubungan interpersonal Peplau.

vii

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


ABSTRACT

Name : Kens Napolion


Program Study : Nursing Science
Title : Application Specialist Mental Nursing Therapy Social Skills Training
and Cognitive Behavior Therapy On Clients With Social Isolation
Interpersonal Relations Model approach Hildegard E.Peplau in
Hospital Dr. Mahdi Marzoeki Bogor.

Social isolation is one of the negative symptoms of skizofrenia (Stuart, 2009) is


mostcommonly found in the Bratasena. Social isolation can be interpreted as the state of
an individual who had a reduction or even not at all able to interact with others around
them, may feel rejected, not accepted, lonely, and unable to establish meaningful
relationships with others (Keliat, et al, 2011). Social skills training is one approach
psikoedukasional to correct deficiencies in some interpersonal skills in interacting with
others (Stuart &Laraia, 2005). Cognitive behavior therapy is a form of psychotherapy
that is based on the theory that the physiological signs and symptoms associated with
the interaction between thoughts, behaviors and emotions (Pedneault, 2008). Purpose of
this final scientific work is to describe the application of social skills training therapy
and cognitive behavior therapy in client's social isolation with Peplau Interpersonal
Relations Model approach. Application of social skills training carried out at 26 clients
and cognitive behavior therapy performed on 15 clients in the Bratasena during the
period 20 February - 20 April 2012. Social skills training outcomes are very effective in
social isolation with 26 clients showed an increase in communication, both verbal and
non verbal. Cogntive therapy behavior therapy also showed its effectiveness in which as
many as 15 clients were able to demonstrate the ability to change negative automatic
thoughts to yourself, others and the environment. Based on the above results need to be
recommended that social skills training and cognitive behavior therapy can be used as
standard therapy nursing specialists need to be socialized to whole structure of health
services.

Key words: Social skills training, cognitive behavior therapy, social isolation,
interpersonal relations model of Peplau.

viii

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


KATA PENGANTAR

Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWTyang telah memberikan rahmat dan
karuniaNya, sehingga Karya Ilmiah Akhir dengan judul “Penerapan Terapi Spesialis
Keperawatan Jiwa Social Skills Training dan Cognitive Behavior Therapy Pada
Klien Isolasi Sosial Dengan Pendekatan Model Hubungan Interpersonal Peplau Di
RS Marzoeki Mahdi Bogor ” dapat terselesaikan dengan baik.

Dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir ini penulis banyak mendapat bantuan,
bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis
menyampaikan terima kasih yang setulusnya kepada yang terhormat :
1. Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia beserta seluruh
jajarannya, yang telah memberikan kesempatan kembali mengikuti studi di
Program Spesialis Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia.
2. Ibu Prof. Dr. Budi Anna Keliat, M.App. Sc., selaku pembimbing Karya Tulis
Ilmiah yang telah membimbing penulis dengan meluangkan waktu, sabar, bijaksana
memberikan masukan serta motivasi dalam penyelesaian Karya Ilmiah Akhir ini.
3. IbuMustikasari, S.Kp.,MARSsebagai co-pembimbing yang membimbing penulis
dengan sabar, bijaksana dan juga sangat cermat memberikan masukan serta
motivasi dalam penyelesaian Karya Ilmiah Akhir ini.
4. Rekan-rekan angkatan V Program Spesialis Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia yang selalu bersama dalam suka dan duka serta
telah bekerjasama dan memberikan semangat selama pelaksanaan praktek
keperawatan serta dukungan selama penyelesaian Karya Ilmiah Akhir ini.

Akhirnya dengan terbuka penulis menerima masukan untuk perbaikan Karya Ilmiah
Akhir ini.
Jakarta, 03 Juli 2012

Penulis

ix

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM .......................................................................................................i


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ...........................................................ii
LEMBAR PERSETUJUAN ..........................................................................................iii
HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................................iv
KATA PENGANTAR ....................................................................................................v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .....................................vi
ABSTRAK .....................................................................................................................vii
ABSTRACT...................................................................................................................viii
DAFTAR ISI .................................................................................................................ix
DAFTAR TABEL .........................................................................................................x
DAFTAR SKEMA ........................................................................................................xi
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................................ xii

BAB 1 : PENDAHULUAN ...........................................................................................1


1.1 LatarBelakang .............................................................................................1
1.2 TujuanPenulisan ......................................................................................... 9
1.3 ManfaatPenulisan ..................................................................................... 10

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................12


2.1 Konsep Skizofrenia
2.1.1 Pengertian ................... ....................................................................12
2.1.2 Penyebab ..........................................................................................13
2.1.3 Tanda dan Gejala .............................................................................16
2.1.4 Diagnosis .........................................................................................17
2.1.5 Tipe skizofrenia ...............................................................................18
2.1.6 Terapi skizofrenia ............................................................................18
2.2 Konsep Isolasi Sosial .................................................................................20
2.2.1 Pengertian ........................................................................................20
2.2.2 Stressor Penyebab Terjadinya Isolasi Sosial ...................................21
2.2.2.1 Faktor Predisposisi ..............................................................23
2.2.2.2 Faktor Presipitasi ................................................................30
2.2.2.3 Respon Terhadap Isolasi Sosial ..........................................35
2.2.2.4 Kemampuan Klien Dalam Mengatasi Isolasi Sosial ..........44
2.2.3 PenatalaksanaanKeperawatan ........................................................48
2.2.3.1 Social Skills Training .........................................................52
2.2.3.2 Cognitive Behavior Therapy ..............................................70
2.2.3.3 Family Psychoeducation ....................................................74
2.2.4 Penatalaksanaan Medis ...................................................................82
2.2.4.1 Antipsikotik ........................................................................82
2.2.4.2 Obat Pencegahan Efek Ekstrapiramidal ...........................84
2.3 Konsep Teori dan Model Yang Digunakan Sebagai Pendekatan Dalam
Merawat Klien Isolasi Sosial .................................................................... 84
2.3.1 Konsep Model Hubungan Interpersonal Peplau ............................. 84
2.3.2 Konsep Manajemen MPKP ........................................................... 97

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


BAB 3 : MANAJEMEN PELAYANAN KEPERAWATAN JIWA DI RUMAH
SAKIT MARZOEKI MAHDI BOGOR .................................................... 109
3.1 Profil Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor ........................................... 109
3.2 Manajemen MPKP Di RS Marzoeki Mahdi Bogor ................................. 115
3.3 Manajemen MPKP Di Ruang Bratasena ................................................. 119

BAB 4 : PENERAPAN MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA


DIAGNOSA KEPERAWATAN ISOLASI SOSIAL ............................... 125
4.1 Pengkajian ............................................................................................... 125
4.1.1 Karakteristik Klien Isolasi Sosial .................................................. 125
4.1.2 Stressor Klien Isolasi Sosial .......................................................... 127
4.1.2.1 Faktor Predisposisi ............................................................ 127
4.1.2.2 Faktor Presipitasi .............................................................. 128
4.1.2.3 Respon Terhadap Stressor ................................................ 130
4.1.3 Kemampuan Klien Dalam Mengatasi Isolasi Sosial ..................... 131
4.2Diagnosa Keperawatan Dan Medis .......................................................... 134
4.3 Penatalaksanaan Klien Kelolaan Isolasi Sosial ....................................... 136

BAB 5 : PEMBAHASAN ......................................................................................... 160


5.1 Manajemen Asuhan Keperawatan Klien Isolasi Sosial .......................... 160
5.1.1 Pengkajian ..................................................................................... 160
5.1.2 Efektifitas Pelaksanaan Asuhan Keperawatan Klien Isolasi Sosial
Yang Diberikan Social Skills Training Dan Cognitive Behavior
Therapy Dengan Menggunakan Pendekatan Teori Hubungan
Interpersonal Peplau ..................................................................... 185
5.2 Manajemen Pelayanan Di Ruang Bratasena ........................................... 193
5.3 Kendala ...................................................................................................195

BAB 6 : SIMPULAN DAN SARAN ........................................................................ 197


6.1 SIMPULAN ............................................................................................ 197
6.2 SARAN ................................................................................................... 198

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xi

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Distribusi karakteristik klien isolasi sosial di ruang Bratasena


RSMM Bogor, Februari-April 2012……….................................. 126
Tabel 4.2. Distribusi faktor predisposisi klien isolasi sosial di ruang
Bratasena RSMM Bogor, Februari-April 2012............................ 127
Tabel 4.3. Distribusi faktor presipitasi klien isolasi sosial di ruang
Bratasena RSMM Bogor, Februari-April 2012............................ 129

Tabel 4.4. Distribusi respon terhadap klien isolasi sosial di ruang


Bratasena RSMM Bogor, Februari-April 2012........................... 130
Tabel 4.5. Distribusi kemampuan klien isolasi sosial di ruang Bratasena
RSMM Bogor, Februari-April 2012 ……................................... 132
Tabel 4.6. Distribusi diagnosa keperawatan klien kelolaan di ruang
Bratasena RSMM Bogor, Februari-April 2011………………. 134

Tabel 4.7. Distribus diagnose dan terapi medis pada klien isolasi sosial di
ruang Bratasena RSMM Bogor……………………….............. 135

Tabel 4.8. Rencana paket terapi yang diberikan pada klien isolasi sosial di
ruang Bratasena RSMM Bogor…………….. …….................... 136
Tabel 4.9 Distribusi pelaksanaan terapi keperawatan pada klien isolasi
sosial di ruang Bratasena RSMM Bogor, Februari-April 2012... 142
Tabel 4.10. Pelaksanaan terapi social skills training klien isolasi sosial di
ruang Bratasena RSMM Bogor, Februari-April 2012 ................ 144

Tabel 4.11. Pelaksanaan terapi cognitive behavior therapy klien isolasi sosial
diruang Bratasena RSMM Bogor, Februari-April 2012 ............. 145
Tabel 4.12. Perubahan respon terhadap stressor setelah terapi generalis
&social skills training di ruang Bratasena RSMM Bogor,
Februari-April 149
2012….................................................................................
Tabel 4.13. Perubahan respon klien setelah diberikan terapi generalis+social
skills training+cognitive behavior therapy di ruang Bratasena
RSMM Bogor, Februari-April 2012…......................................... 151
Tabel 4.14. Perubahan kemampuan klien setelah terapi generalis & social
skills training di ruang Bratasena RSMM Bogor, Februari-April
2012……………………………………....................................... 154
Tabel 4.15. Perubahan kemampuan klien diberikan terapi generalis+social
skills training+cognitive behavior therapy di ruang Bratasena
RSMM Bogor, Februari-April 2012……………….................... 155

xii

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


Tabel 4.16. Perubahan kemampuan keluarga setelah diberikan terapi
generalis+social skills training+cognitive behavior therapy di
ruang Bratasena RSMM Bogor, Februari-April
2012………………......................................................................... 157

xiii

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


DAFTAR SKEMA

Skema 2.1. Fase hubungan perawat - klien ……………………………............. 86

Skema 2.2. Keterakaitan hubungan fase-fase dari model interpersonal Peplau .. 88

Skems 2.3. Kerangka konsep penerapan social skills training dan cognitive
behavior therapy pada klien isolasi sosial denganpendekatan teori
interpersonal Peplau ……………………………………………… . 108

xiv

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. : Rekapitulasi Hasil Pengkajian Klien Isolasi Sosial di Ruang Bratasena

RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor.

Lampiran 2 : Rekapitulasi Kasus Klien Yang Mendapatkan Terapi Generalis Dan

Spesialis Keperawatan Jiwa Di Ruang Bratasena RS Marzoeki Mahdi

Bogor.

Lampiran 3 : Modul Social Skills Training

Lampiran 4 : Modul Cognitive Behavior Therapy

xv

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sehat fisik dan mental merupakan dambaan dan cita-cita setiap orang. Untuk
mendukung mencapai kesehatan bagi setiap orang tentunya juga tidak terlepas
dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dibidang
kesehatan yang telah memberikan dampak pada pergeseran nilai-nilai kesehatan
yang ingin dicapai manusia. Kesehatan jiwa merupakan bagian dari kesehatan
yang ingin dicapai oleh setiap orang. Departemen Kesehatan Republik Indonesia
(2003)telah mendefinisikan kesehatan jiwa sebagai suatu kondisi mental yang
sejahtera yang memungkinkan seseorang hidup harmonis dan produktif, sebagai
bagian dari kualitas hidup seseorang dengan memperhatikan semua segi
kehidupannya. Untuk bisa mencapai kondisi tersebut diatas, diperlukan upaya
kesehatan jiwa untuk menjamin setiap orang dapat menikmati kehidupan
kejiwaan yang sehat, bebas dari ketakutan, tekanan, dan gangguan lain yang dapat
mengganggu kesehatan jiwa (UU Kesehatan No.39 tahun 2009). Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa upaya pelayanan kesehatan jiwa bukan hanya
ditujukan pada klien gangguan tetapi juga pada klien dengan masalah psikososial,
yang ditujukan pada individu dan masyarakat sehingga tercapai sehat mental dan
harmonis serta produktif.

WHO (2001) secara terperinci telah mendefinisikan kesehatan jiwa sebagai suatu
kondisi sejahtera dimana individu menyadari kemampuan yang dimilikinya, dapat
mengatasi stress dalam kehidupannya, dapat bekerja secara produktif dan
mempunyai kontribusi dalam kehidupan bermasyarakat. Definisi kesehatan jiwa
ini menunjukkan bahwa seseorang yang sehat jiwanya tentu mempunyai
kemampuan untuk mengenal dan memberdayakan kemampuan yang dimilikinya
dalam mengatasi stressor yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga
dapat hidup produktif secara pribadi dan sosial.

1 Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


2

Kesehatan jiwa menurut Jahoda (dalam Stuart & Laraia, 2005) mempunyai arti
dimana seseorang dengan sikap yang positif terhadap diri sendiri, tumbuh dan
berkembang, memiliki aktualisasi diri, keutuhan, kebebasan diri, memiliki
persepsi sesuai dengan kenyataan dan kecakapan dalam beradaptasi dengan
lingkungan. Menurut Ahmad (2002, dalam Gomma, 2006) mengatakan bahwa
keseimbangan fisik dan mental seorang ibu memeliki pengaruh yang akan
berlanjut pada tahap melahirkan. Hal ini membuktikan bahwa perkembangan
kesehatan jiwa seseorang dimulai dari masa kehamilan, dimana pada masa itu
peran ibu terhadap bayi sangatlah besar. Kemampuan ibu beradaptasi menghadapi
perubahan-perubahan fisik dan psikologis selama masa kehamilan sangat
menentukan kualitas mental dari calon bayi.Tentu saja perkembangan jiwa tidak
berhenti sampai tahap melahirkan melainkan sampai anak tersebut menginjak
masa pra sekolah, sekolah, remaja, dewasa muda, dewasa menengah, dewasa tua
dan dewasa akhir.Dalam perjalanan perkembangan jiwa tersebut akan dipengaruhi
oleh beberapa faktor baik dari dalam maupun luar diri individu.

Ciri – ciri sehat jiwa menurut Jahoda (dalam Stuart & Laraia, 2005) adalah
perilaku positif terhadap diri sendiri, mampu tumbuh dan berkembang dan
mampu mencapai aktualisasi diri, mempunyai integritas diri, rasa otonomi yang
positif, mampu mengekspresikan realita secara tepat dan mampu menguasai
lingkungan yang berubah, sedangkan ciri-ciri sehat jiwa menurut WHO (dalam
Towsend & Mary, 2009) adalah menyesuaikan diri secara konstruktif sesuai pada
kenyataan, memperoleh kepuasan dari usahannya, merasa lebih puas memberi
daripada menerima, saling tolong menolong dan memuaskan, menerima
kekecewaan untuk pelajaran yang akan datang, mengarahkan rasa bermusuhan
pada penyelesaian masalah yang konstruktif dan mempunyai kasih sayang. Dari
pengertian dan ciri sehat jiwa, kesehatan jiwa adalah bagian yang terintegrasi
antara sehat fisik, mental dan sosial, berkembang selaras, harmonis dengan
perkembangan orang lain.

UniversitasIndonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


3

Prevalensi gangguan jiwa di Indonesia cukup besar. Besarnya kejadian gangguan


jiwa di Indonesia ini ditunjukkan oleh hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
Depertemen Kesehatan RI tahun 2007 (Depkes RI, 2008) dimana prevalensi
gangguan jiwa berat di Indonesia sebesar 4.6 permil. Dengan kata lain setiap
1000 penduduk Indonesia terdapat empat sampai lima orang diantaranya
menderita gangguan jiwa berat dengan prevalensi tertinggi ditemukan di Provinsi
Daerah Khusus Ibukota Jakarta (20,3 permil). Sedangkan prevalensi masalah
kesehatan gangguan mental emosional yaitu sebesar 11,6 % dengan prevalensi
tertinggi di Provinsi Jawa Barat (20,0 %).

Tingginya prevalensi gangguan jiwa menyebabkan pelayanan gangguan jiwa di


tatanan rumah sakit jiwa tidak mampu menampung klien gangguan jiwa. Selain
alasan daya tampung, alasan biaya perawatan yang mahal juga menjadi hambatan
pemberian pelayanan kesehatan jiwa di rumah sakit jiwa. Kebutuhan ini
memunculkan paradigma baru pelayanan kesehatan jiwa dari hospital base
menjadi community basesehingga pelayanan asuhan keperawatan pada klien
gangguan jiwa dapat berkelanjutan dari pelayanan kesehatan jiwa di rumah sakit
oleh petugas kesehatan dan perawatan dirumah oleh keluarga. Program pelayanan
kesehatan jiwadari hospital base menjadi community base ini dikembangkan
untuk memenuhi kebutuhan, menurunkan biaya perawatan dan memberikan
kenyamanan bagi konsumen karena klien tetap dapat tinggal dan berhubungan
dengan keluarga (Videbeck, 2001). Dengan adanya program tersebut diharapkan
pelayanan asuhan keperawatan tidak terputus dan partisipasi serta dukungan
keluarga khususnyacaregiverlebih optimal sehinggan dapat mengurangi kejadian
kekambuhan.

Setiap individu mempunyai potensi untuk terlibat dalam hubungan sosial pada
berbagai tingkat hubungan yaitu dari intim biasa sampai hubungan saling
ketergantungan. Kepuasan hubungan dapat dicapai jika individu terlibat secara
aktif dalam proses berhubungan. Peran serta yang tinggi dalam berhubungan

UniversitasIndonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


4

disertai respon lingkungan yang positif akan meningkatkan rasa memiliki,


kerjasama, hubungan timbal balik yang sinkron (Stuart & Sundeen, 2009). Peran
serta dalam proses hubungan dapat berfluktuasi sepanjang rentang tergantung dan
mandiri artinya saat individu tergantung pada orang lain dan suatu saat orang lain
tergantung pada individu. Pemutusan proses hubungan terkait erat dengan
ketidakmampuan individu terhadap proses hubungan yang disebabkan oleh
kurangnya peran serta, kurangnya motivasi serta respon lingkungan yang negatif.
Apabila hal ini berlangsung dalam waktu yang lama, akan mempengaruhi fungsi
jiwa individu yaitu kearah gangguan yang dapat terlihat dari penampilan,
komunikasi, proses berpikir, interaksi dan aktifitasnya sehari-hari. Menurut Keliat
dkk (2011) bahwa perilaku utama yang secara umum dapat ditemui pada individu
yang mengalami gangguan fungsi jiwa adalah penarikan diri secara sosial, minat
dan motivasi rendah, pengabaian diri, gangguan berpikir, dan adanya perilaku
apatis, menarik diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri yang semua ini
merupakan gejala negatif dari skizofrenia.

Skizofrenia terdiri dari tiga kategori gejala yaitu gejala positif, gejala negatif, dan
gejala disorganised (Andreas,dkk,1995, Thomson & Meltzer, 1993, dalam Emery,
2002, Brady, 2004, & Shives, 2005 ). Gejala positif atau atau sering disebut gejala
psikotik, biasanya pada kebanyakan orang tidak ada, namun pada klien
skizofrenia justru muncul gejala positif sering tampak diawal fase skizofrenia dan
biasanya menjadi alasan klien dirawat dirumah sakit. Menurut Varcadis, Carson,
dan Shoemaker (2006) gejala negatif sebagian besar mengganggu klien dalam
penyesuaian diri dan berdampak pada kemampuan memulai dan mempertahankan
hubungan, percakapan, pekerjaan, membuat keputusan dan menjaga kebersihan
diri. Gejala ini menyebabkan klien mengalami gangguan fungsi sosial dan isolasi
sosial.

Isolasi sosial merupakan salah satu masalah keperawatan jiwa yang sering
ditemukan pada klien gangguan jiwa. Isolasi sosial adalah suatu gangguan
hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak

UniversitasIndonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


5

fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi


seseorang dalam berhubungan. Isolasi sosial juga diartikan sebagai proses
pertahanan diri seseorang terhadap orang lain maupun lingkungan yang
menyebabkan kecemasan pada diri sendiri dengan cara menarik diri secara fisik
maupun psikis. Menurut Erikson (dalam Rosa, 2008 ) mengatakan bahwa pada
dasarnya kemampuan hubungan sosial berkembang sesuai dengan proses tumbuh
kembang individu mulai dari bayi sampai dengan dewasa lanjut. Untuk
mengembangkan hubungan sosial yang positif, setiap tugas perkembangan
sepanjang daur kehidupan diharapkan dilalui dengan sukses.

Menurut Nanda (2005) mengatakan bahwa beberapa karakteristik yang dapat


ditemukan pada klien isolasi sosial yaitu ; menarik diri, tidak komunikatif,
mencoba menyendiri, asyik dengan pikiran dan dirinya sendiri, kontak mata
kurang, sedih, afek tumpul, perilaku bermusuhan, menyatakan perasaan sepi atau
ditolak, sulit membina hubungan dengan lingkungannya, menghindari orang lain
dan mengungkapkan perasaan tidak dimengerti oleh orang lain. Sedangkan tanda
dan gejala isolasi sosial yang dapat ditemukan dengan wawancara adalah ; klien
menceritakan perasaan kesepian atau ditolak orang lain, merasa tidak aman
berada dengan orang lain, mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang
lain, merasa bosan, tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan, merasa
tidak berguna serta tidak yakin dapat melangsungkan hidup. Berdasarkan survey
masalah keperawatan di ruang Bratasena RS Marzoeki Mahdi bulan April 2012
bahwa masalah keperawatan dengan isolasi sosial menduduki peringkat pertama
dari tujuh diagnosa keperawatan gangguan yang ada. Penatalaksanaan masalah
keperawatan isolasi sosial pada klien dilakukan dengan terapi keperawatan.
Pendekatan terapi keperawatan yang dilakukan terhadap klien dengan isolasi
sosialmenggunakan pendekatan proses keperawatan dimulai dari pengkajian,
penetapan diagnosa, penyusunan rencana intervensi, pelaksanaan implementasi
dan evaluasi.

UniversitasIndonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


6

Paket tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien dengan diagnosis


keperawatan isolasi sosial meliputi terapi generalis dan terapi spesialis
keperawatan spesialis jiwa baik individu, keluarga dan kelompok. Terapi
generalis pada klien isolasi sosial dapat dilakukan oleh seluruh perawat dari
berbagai jenjang pendidikan keperawatan. Terapi generalis pada klien dengan
isolasi sosial bertujuan agar klien dapat memulai hubungan atau interaksi dengan
orang lain, klien dapat mengembangkan dan meningkatkan hubungan/interaksi
dengan orang lain dan klien dapat mengikuti program pengobatan secara optimal,
sedangkan terapi generalis pada keluarga dengan isolasi sosial bertujuan agar
keluarga dapat merawat klien dirumah dan menjadi sistem pendukung yang
efektif untuk klien (Keliat dkk, 2007).Hal ini sesuai dengan peran perawat jiwa
yaitu memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif melalui pendekatan
proses keperawatan jiwa untuk meningkatkan, mencegah, mempertahankan dan
memulihkan masalah kesehatan jiwa klien, baik sebagai individu, keluarga dan
kelompok).

Terapi spesialis pada klien dengan diagnosis keperawatan isolasi sosial dilakukan
oleh perawat spesialis keperawatan jiwa. Terapi spesialis yang diberikan pada
kliendengan isolasi sosialdiberikan dengan pendekatan individu adalah terapi
social skills training, cognitive therapydan cognitive behavior therapy, dan
pendekatan dengan kelompok adalah Logoterapi dan Psikoedukasi Kelompok.
Terapi social skills training merupakan salah satu psikoterapi dengan tahnik
modifikasi perilaku yang dapat meningkatkan kemampuan bersosialisasi pada
klien dengan masalah isolasi sosial. Terapi ini merupakan metode yang
didasarkan prinsip-prinsipsosialdan menggunakan teknik perilaku bermain peran,
praktek dan umpan balik guna meningkatkan kemampuan seseorang dalam
menyelesaikan masalah ( Kneisl & Varcarolis, 2006).

Menurut Chen (2006), terapi social skills training dirancang untuk meningkatkan
kemampuan berkomunikasi dan keterampilan sosial bagi seorang yang

UniversitasIndonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


7

mengalami kesulitan dalam berinteraksi meliputi keterampilan memberikan


pujian, mengeluh karena tidak setuju, menolak permintaan orang lain, tukar
menukar pengalaman, menuntut hak pribadi, memberi saran pada orang lain,
pemecahan masalah yang dihadapi dan bekerjasama dengan orang lain. Hal ini
sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Renidayati (2008) yang
mengatakan bahwa kemampuan kognitif dan kemampuan perilaku klien dengan
isolasi sosial meningkat setelah mengikuti terapi social skills training.

Selainterapi social skills training tersebut diatas, terapi cognitive behavior


therapy juga dapat diberikan pada klien yang mengalami hambatan dalam
berhubungan dengan lingkungannya. Terapi cognitive behavior therapy
merupakan psikoterapi jangka pendek, yang menjadi dasar bagaimana seseorang
berfikir dan bertingkah laku positif dalam setiap interaksi. Menurut Martin (2010)
bahwa terapi cognitive behavior therapy adalah suatu terapi psikososial yang
mengintegrasikan modifikasi perilaku melalui pendekatan restrukturisasi kognitif.
Terapi CBT ini juga berfokus pada masalah, berorientasi pada tujuan dan
kesuksesan dengan masalah disini dan sekarang (FIK-UI, 2009).

Perpaduan terapi social skills training dengan cognitive behavior therapydapat


meningkatkan kemampuan secara kognitif dan perilaku pada klien dengan
gangguan hubungan interpersonal dengan melatih keterampilan interpersonal
klien yaitu kemampuan bersosialiasi, kemampuan menjalin persahabatan, dan
kemampuan dalam menghadapi situasi yang sulit, serta klien dengan isolasi sosial
memiliki pola pikir yang positif sehingga perilaku yang terlihat juga positif dan
adaptif, sehingga klien mampu mengatasi masalah yang timbul dengan cara yang
konstruktif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jumaini (2010)
bahwa kombinasi pemberian terapi social skills training dan cognitif behavior
therapydapat meningkatkan kemampuan kognitif dalam menilai diri sendiri,
orang lain, dan lingkungannya serta kemampuan dalam bersosialiasi meningkat.

UniversitasIndonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


8

Pelaksanaan manajemen kasus spesialis keperawatan jiwa dalam penanganan


masalah gangguan jiwa di RS Marzoeki Mahdi Bogor menggunakan pendekatan
konsep Manajemen Pelayanan Keperawatan Profesional (MPKP). Pendekatan
konsep ini telah dilakukan pada manajemen kasus spesialis klien gangguan jiwa
dengan masalah keperawatan isolasi sosial yang dirawat di ruang Bratasena RS
Marzoeki Mahdi Bogor. Selain itu manajemen kasus spesialis masalah isolasi
sosial di ruang Bratasena juga dilakukan dengan pendekatan proses keperawatan
dengan menerapkan model Interpersonal Peplau. Intisari dari model ini adalah
suatu model yang diorganisasikan melalui proses, yaitu hubungan manusia antara
seseorang yang sedang sakit, atau sedang kurang mendapat bantuan kesehatan,
dengan seorang perawat khususnya mendidik untuk mengenali dan untuk bereaksi
terhadap kebutuhan klien yang memerlukan bantuan (Peplau, 1952 : Leddy &
Pepper, 1993).

Terapi keperawatan yang diberikan pada klien dan keluarga dengan masalah
keperawatan utama isolasi sosial meliputi terapi generalis dan terapi spesialis
keperawatan jiwa. Terapi interpersonal bertujuan untuk menurunkan gejala,
meningkatkan fungsi sosial, dan membantu seseorang dalam mengembangkan
cara yang lebih efektif untuk berhubungan dengan orang lain. (Stuart & Laraia,
2011). Hasil dari manajemen kasus spesialisisolasi sosial ini memberikan dampak
positif baik terhadap kemampuan klien maupun keluarga.

Karya Tulis Ilmiah ini merupakan hasil pelaksanaan kegiatan residensi 3 periode
tanggal20 Februari- 20 April 2012 diruang Bratasena RS Marzoeki Mahdi.
Selama penulis melaksanakan praktik residensi 3 diruang Bratasena, penulis telah
merawat klien sebanyak 43 kasus dengan masalah utama yang ditemukan terkait
dengan masalah gangguan jiwa adalah isolasi sosial sebanyak 39 kasus. Selain itu
masalah gangguan jiwa lain sebagai diagnosa keperawatan penyerta yang
ditemukan adalah halusinasi, harga diri rendah, resiko perilaku kekerasan, defisit
perawatan diri, waham dan resiko bunuh diri.

UniversitasIndonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


9

Ruangan Bratasena merupakan salah satu ruang rehabilitasi yang memberikan


pelayanan psikiatrik dewasa pria. Ruangan Bratasena didirikan sejak tahun 2001,
dan fasilitas pelayanan yang diberikan adalah untuk klien kelas III. Pendekatan
manajemen MPKP mulai diterapkan sejak tahun 2007, dengan metode asuhan
keperawatan yang dipergunakan adalah bentuk metode tim. Kapasitas tempat
tidur40dengan BOR (April2012) adalah (82,7 %),ALOS (35hari), dan TOI (12
hari).

Berdasarkan data tersebut penulis tertarik untuk melakukan suatu studi ilmiah
dalam bentuk Karya Ilmiah Akhir tentang penerapan terapi social skills training
dan cognitive behaviortherapy pada klien isolasi sosial dengan pendekatan teori
Hildegard Peplau “ Hubungan Interpersonal “ di ruang Bratasena RS Marzoeki
Mahdi Bogor.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan umum
Diketahuihasil penerapan terapi sosial skills trainingdan cognitive behavior
thrapy pada klien isolasi sosial dengan pendekatan Model Hubungan
Interpersonal Hildegar Peplau di ruang Bratasena RS Marzoeki Mahdi
Bogor.
1.2.2Tujuan khusus
a. Diketahuinya karakteristik klien isolasi sosial seperti seperti usia, jenis
kelamin, pekerjaan, pendidikan dan tingkat kemandirian di ruang
Bratasena RS Marzoeki Mahdi Bogor.
b. Diketahuinya gambaran hasil pengkajian klien isolasi sosial yang
dirawat di ruang Bratasena RS Marzoeki Mahdi Bogor
c. Diketahuinya hasil terapi social skills training dengan menggunakan
model Hubungan Interpersonal sebagai upaya menyelesaikan masalah
klien isolasi sosial di ruang Bratasena RS Marzoeki Mahdi Bogor

UniversitasIndonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


10

d. Diketahuinya hasil terapi kombinasi antara social skills training dan


cognitive behavior therapy dengan menggunakan model Hubungan
Interpersonal sebagai upaya menyelesaikan masalah klien isolasi sosial
di ruang Bratasena RS Marzoeki Mahdi Bogor
e. Diketahui hasil analisis faktor – faktor karakteristik klien isolasi sosial
hubungannya dengan efektifitas terapi spesialis keperawatan jiwa yang
diberikan

1.3 Manfaat Karya Ilmiah Akhir

1.3.1 ManfaatAplikatif
a. Hasil Karya Tulis ini diharapkan dapat menjadi panduan perawat
dalam memberikan intervensi pada klien dengan isolasi sosial di unit
psikiatrik
b. Menganalisa efektifitas tindakan dan terapi spesialis keperawatan jiwa
yang dilakukan terhadap kemampuan klien dalam mengatasi masalah
isolasi sosial.
c. Menganalisa hubungan karakteristik klien isolasi sosial dengan terapi
spesialis keperawatan jiwa terhadap kemampuan klien dalam
mengatasi masalah isolasi sosial
d. Meningkatkan dan mengembangkan berbagai strategi intervensi yang
efektif dalam melakukan asuhan keperawatanpada klien isolasi sosial
di unit pelayanan psikiatrik.
1.3.2 Manfaat Keilmuan
a. Hasil Karya Tulis ilmiah ini diharapkan dapat memberikan informasi
mengenai gambaran peran perawat kesehatan jiwa dalam menangani
klien dengan isolasi sosial di unit pelayanan psikiatrik.
b. Sebagai pedoman pelaksanaan manajemen ruang rawat klien dengan
diagnosa keperawatan isolasi sosial. Pemahaman tentang manajemen
ruang rawat akan melandasi penyusunan rencana manajemen ruangan

UniversitasIndonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


11

terkait manajemen kasusgangguan khususnya diagnosa isolasi sosial di


unit pelayanan psikiatrik
c. Sebagai masukan bagi rumah sakit untuk meningkatkan kualitas
asuhan keperawatan di unit pelayanan psikiatrik khususnya dalam
mengatasi masalah klien dengan isolasi sosial
d. Sebagai pertimbangan bagi pihak rumah sakit untuk menempatkan
perawat spesialis keperawatan jiwa di unit pelayanan psikiatrik.
e. Hasil pelaksanaan manajemen kasus spesialis keperawatan jiwa pada
klien dengan isolasi sosial ini akan menjadi evidence base practice
pelaksanaan praktek keperawatan jiwa di unit psikiatrik.
1.3.3 Manfaat Kehidupan Profesionalisme
a. Dapat dijadikan data rujukan terkait dengan proses belajar mengajar
yang melibatkan mahasiswa program pasca sarjana terkait dengan
manajemen pelayanan kesehatan jiwa dan asuhan keperawatan jiwa
secara nyata di rumah sakit
b. Memperoleh pengalaman dalam penerapan ilmu dan konsep
keperawatan jiwa khususnya dalam menerapkan terapi spesialis pada
klien dengan isolasi sosial dan melakukan koordinasi serta kerjasama
dengan pihak rumah sakit
c. Hasil karya tulis ini selanjutnya dapat menjadi bahan acuan untuk
tindak lanjut program bagi spesialis keperawaan jiwa dan penulis
lainnya.

UniversitasIndonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


12

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini akan memaparkan berbagai konsep dan teori keperawatan yang melandasi
manajemen kasus spesialis keperawatan jiwa pada klien dengan diagnosa
keperawatan isolasi sosial yang dirawat di rumah sakit. Pemahaman tentangkonsep
diagnosa keperawatan isolasi sosial, penatalaksanaan diagnosa keperawatan isolasi
sosial baik secara medis maupun keperawatan dengan pendekatan terapi generalis dan
terapi spesialis serta model konseptual hubungan interpersonal Peplau menjadi
landasan asuhan keperawatan spesialis keperawatan jiwa pada klien dengan diagnosa
keperawatan isolasi sosial.
Berikuti ini diuraikan beberapa konsep yang terkait :

2.1 Konsep Skizofrenia


2.1.1 Pengertian Skizofrenia
Skizofrenia merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi otak
yangmenyebabkan timbulnya fikiran, persepsi, emosi, gerakan dan perilaku
yanganeh dan terganggu (Videbeck, 2008). Skizofrenia adalah kombinasi
darigangguan pikir, gangguan persepsi, perilaku abnormal, gangguan afektif
danketidakmampuan dalam bersosialisasi (Fontaine, 2009).
Skizofreniamerupakan suatu gangguan jiwa berat yang akan membebani
masyarakatsepanjang hidup penderita, dikarakteristikan dengan disorganisasi
pikiran,perasaan dan perilaku (Lenzenweger & Gottesman, 1994 dalam
Sinaga,2007).

Skizofrenia merupakan gangguan neurobiologi otak yang persistendan


serius, sindroma secara klinis yang dapat mengakibatkan kerusakanhidup
baik baik secara individu, keluarga, dan komunitas (Stuart, 2009).Jadi
skizofrenia adalah gangguan neurobiologi yang persisten dan seriuskarena

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


13

penyebab yang bervariasi, dengan karakteristik berupa disorganisasipikiran,


perasaan dan perilaku yang mengakibatkan ketidakmamapuandalam
bersosialisasi dan penurunan kualitas hidup baik secara individu,keluarga
maupun komunitas serta membebani masyarakat sepanjang hiduppenderita.
2.1.2 Penyebab
Berdasarkan teori model diathesis stres, skizofrenia dapat timbul
karenaadanya integrasi dari faktor biologis, psikososial dan lingkungan.
Sinaga(2007) mengatakan : seseorang yang rentan (diathesis) jika terpapar
stresorakan lebih mudah menjadi skizofrenia.
2.1.2.1 Biologis
Penyebab skizofrenia dari segi biologis meliputi faktor
genetik,neurotransmiter, neurobiologi, perkembangan syaraf otak dan
teori-teorivirus. Faktor genetik yang mengakibatkan terjadinya
skizofreniakemungkinan kromosom pada posisi ke 6 dan
berhubungan dengankromosom pada posisi ke 4, 8, 15, dan 22 untuk
terjadinya skizofrenia(Buchanan & Carpenter, 2000 dalam Stuart,
2009). Anak dengan orangtua yang salah satunya mengalami
skizoprenia mempunyai resiko 15%,bila kedua orang tua mengalami
skizofrenia maka anak akan beresiko 35%mengalami skizofrenia,
anak kembar identik (dizygote) mempunyai risiko50%, kembar
fraternal (monozygotic) 15%, Saudara kandung 10%,generasi kedua /
tingkat kedua 2-3%, dan jika tidak ada keluarga yangsakit jiwa
mempunyai risiko skizofrenia 1% (Stuart, 2009). Uraian di
atasmenunjukan adanya hubungan keluarga terhadap kejadian
skizofreniayang bervariasi dimana adanya hubungan keluarga yang
paling dekat padaanak kembar idetik memiliki risiko paling tinggi
dibanding tidak adariwayat keluarga yang mengalami gangguan jiwa.

Penelitan dengan menggunakan Positron Emission Tomography


(PET)pada klien klien skizofrenia menunjukan kurangnya aktifitas

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


14

lobus frontal,abnormalitas metabolik sirkuit frontal, temporal dan


serebaral. Lobusfrontal berfungsi sebagai memori kerja, penurunan
metabolic frontaldihubungkan dengan perjalanan penyakit yang lama
dan adanya gejalanegatif yang berat. Gejala positif klien skizofrenia
berhubungan denganpeningkatan aliran darah di daerah
temporomedial dan disintegrasiberhubungan dengan peningkatan
aliran darah di daerah korteks singulatdan striatum. Pemeriksaan
Magnetic Resonance Imaging (MRI)menunjukan pelebaran di daerah
ventrikular tiga dan lateral karenaperubahan daerah perifentrikular
limbik striata, mengecilnya ukuran lobusfrontal dan temporal
terutama bila gejala negatif klien menonjolmengakibatkan
menurunnya fungsi neurokognitif seperti : memori, atensi,pemecahan
masalah, fungsi eksekutif dan sosial cognition. PemeriksaanElektro
Ensefalografi (EEG) klien skizofrenia menunjukan hilangnyaaktivasi
gamma band, yang menandakan melemahnya integrasi antarajaringan
syaraf di otak. Teori neurotransmitter berhubungan denganserotonin
(5HT), Glutamat, NMDA, GABA, noorepineprin, dopamin(D1-D5)
dimana reseptor D2 sangat mempengaruhi simptom positif
dariskizofrenia (Sinaga, 2007; Stuart, 2009).

Perkembangan syaraf awal masa kehamilan ditentukan oleh asupan


gizidan trauma psikologis selama hamil. Anak-anak yang mengalami
disfungsisituasi sosial seperti trauma masa kecil, kekerasan,
hostilitas, danhubungan interpersonal yang kurang hangat sangat
mempengaruhiperkembangan neurological anak sehingga lebih
rentan untuk mengalamiskizofrenia.

Teori virus yang disampaikan bahwa pada masa kehamilan


khususnyapada trimester pertama bila terpapar virus influenza
beresiko untukterjadinya skizofrenia pada anak (Brown, 2004 dalam

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


15

Stuart, 2009). Virusyang dapat melewati sawar uri dapat masuk ke


dalam otak danmenghambat tumbuh kembang janin.

2.1.2.2 Psikologis
Skizofrenia secara psikologis faktor keluarga dan perilaku
individuberpengaruh terhadap timbulnya skizofrenia. Ibu yang sering
cemas,perhatian yang berlebihan atau sebaliknya tidak ada perhatian,
ayah yangjauh atau yang memberikan perhatian berlebihan, konflik
pernikahan, dananak yang di dalam keluarga selalu dipersalahkan
(Stuart & Laraia, 2005),Kecemasan, perhatian yang salah, konflik
orang tua dan komunikasi dalanbentuk pesan ganda memudahkan
individu untuk mengalami skizofrenia.

2.1.2.3 Sosial dan Lingkungan


Faktor pencetus dan kekambuhan klien skizofrenia dipengaruhi
olehemotional turbulent families, stressful life event, diskriminasi,
dankemiskinan (Sinaga, 2007), keluarga yang sangat
mengekspresikan emosi(Isaacs, 2005). Lingkungan emosional yang
tidak stabil dan stresor sosialmempunyai risiko yang besar pada
perkembangan skizofrenia.Diskriminasi pada komunitas minoritas
mempunyai angka kejadiskizofrenia yang tinggi. Status
sosioekonomi mengacu pada pendapatan,pendidikan dan pekerjaan
individu (Lipson, 1996 dalam Videbeck, 2008).sosioekonomi yang
rendah lebih banyak menimbulkan risiko mengalamiskizofrenia
dibanding pada tingkat sosioekonomi tinggi (Sari, 2009).Tingkat
ekonomi yang rendah dan lingkungan yang penuh
kekerasan(Wardani, 2009). Jadi faktor sosial ekonomi yang dapat
mempengaruhiterjadinya skizofrenia adalah : emotional turbulent
families, stressful lifeevent, diskriminasi, dan kemiskinan, lingkungan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


16

emosional yang tidakstabil, diskriminasi, dan status sosial ekonomi


yang rendah
2.1.3 Gejala Skizofrenia
Klien dengan skizofrenia tidak semuanya menunjukkan gejala yang
sama.Stuart (2009) membagi tanda dan gejala skizofrenia dalam empat
dimensiutama yaitu gejala positif, gejala negatif, gejala kognitif dan gejala
depresidan perubahan mood lainnya. Sedangkan menurut Sinaga (2007)
simptomSkizofrenia dibagi dalam lima dimensi yaitu : simptom positif,
simptomnegatif, simptom kognitif, simptom agresif dan hostile, serta
simptomdepresi dan anxious :
2.1.3.1 Gejala Positifmenurut Stuart (2009) terdiri atas halusinasi, delusi,
bicarayang tidak terorganisasi dan perilaku yang aneh, menurut
Sinaga (2007)ditambah dengan katatonia dan agitasi.
2.1.3.2 Gejala Negatif menurut Stuart (2009) terdiri atas afek tumpul,
ketidakmampuan dalam berpikir, kehilangan motivasi,
ketidakmampuan dalam mengalami perasaan senang dan
kegembiraan, menurut Sinaga (2007) ditambah dengan bersikap
menjadi lebih pasif dan menarik diri dari hubungan sosial.
2.1.3.3 Gejala Kognitif menurut Stuart (2009) terdiri atas kurang perhatian,
mudahterdistraksi, gangguan memori, ketidakmampuan dalam
memecahkanmasalah, ketidakmampuan dalam mengambil keputusan,
dan tidak logis,menurut Sinaga (2007) gangguan kognitif yang paling
berat adalah :gangguan kemampuan menghasilkan pembicaraan yang
spontan, membuaturutan peristiwa, kewaspadaan, prioritas dan
perilaku pada hubungansosial.
2.1.3.4 Gejala Depresi dan Perubahan Mood menurut Stuart (2009) terdiri
atasdysphoria, keinginan bunuh diri dan ketidakberdayaan, menurut
Sinaga,(2007) mood cemas, rasa bersalah, tension dan iritabilitas.
2.1.3.5. Gejala / simptom agresif dan hostile menurut Sinaga (2007)
berupapenyerangan secara fisik atau verbal, perilaku mencelakakan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


17

dirisendiri(suicide) merusak barang orang lain atau seksual acting


outGejala yang muncul sangat dipengaruhi oleh jenis atau tipe
skizofrenia yangterjadi pada klien. Pada umumnya klien skizofreia
memiliki gejala / symptomyang menyebabkan individu mengalami
penurunan dalam kehidupansehari - hari,kemampuan berhubungan
dengan orang lain, merawat diri, dan fungsi sosial.gangguan
memori, ketidakmampuan dalam memecahkan
masalah,ketidakmampuan dalam mengambil keputusan, simptom
agresif dan hostileberupa penyerangan secara fisik atau verbal,
merusak barang orang lain atauseksual acting out dapat
memunculkan diagnosis keperawatan perilaku kekerasandan harga
diri rendah.

2.1.4 Diagnosis Skizofrenia

2.1.4.1.Kriteria diagnostik skizofrenia menurut DSM IV-TR (Sinaga,


2007)adalah : terdapat dua atau lebih gejala : waham, halusinasi,
bicaradisorganisasi, perilaku disorganisasi atau katatonik yang jelas,
simptom negatif, contohnya : afek datar, alogia atau avolition,
selama satu bulanatau kurang dari satu bula jika pengobatan berhasil,
dapat hanya satugejala bila dijumpai waham bizarre atau halusinasi
dengar berupamengomentari perilaku klien atau dua / lebih suara
yang berbicara(voices cinversing).
2.1.4.2. Disfungsi sosial atau pekerjaan
2.1.4.3. Durasi : gangguan terus menerus selama enam bulan
2.1.4.4. Disingkirkan gangguan skizoafektif dan gangguan mood
2.1.4.5. Disingkirkan gangguan pengguanaan zat atau kondisi medis umum
2.1.4.6.Jika terdapat gangguan perkembangan pervasive, diagnosis
tambahanskizofrenia dibuat bila waham dan halusinasi menonjol.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


18

2.1.5 Tipe Skizofrenia


Perbedaan tipe dari skizofrenia adalah berdasarkan pengalaman terhadapgejala-
gejala yang dialami oleh klien. Selama gejala-gejala yang dialamiklien berubah-
rubah maka tipe skizofrenia dari individu dapat lebih dari satutipe. Berdasarkan
DSM-IV-TR (APA, 2009) tipe dari skizofrenia terdiri atas: skizofrenia
katatonik skizofrenia residual, skizofrenia terdiferensiasi,skizofrenia
disorganisasi, skizofrenia paranoid. Skizofrenia paranoid adalahjenis penyakit
jiwa yang paling umum. Gambaran klinisnya relatif stabil,sering ditemukan
adanya rasa curiga, delusi, pada umumnya ditemani olehhalusinasi terutama
halusinasi pendengaran, gangguan persepsi, gangguanafek, gangguan pada
keinginan/minat, suara dan gejala katatonik tidaklahmenonjol (ICD 10 WHO,
1992). Gambaran utama skizofrenia paranoidadalah asyik dengan satu atau
beberapa delusi atau halusinasi pendengaranyang sering ( DSM-IV-TR dalam
Stuart & Laraia, 2005). Klien dengandelusi / waham curiga yakin orang lain
akan menangkapnya dan ia melawandengan perilaku agresif untuk melindungi
dirinya, klien dengan halusinasipendengaran memungkinkan mendengar suara
orang yang menyuruhnyauntuk menyakiti orang lain (Videbeck, 2008).

2.1.6 Terapi Psikofarmaka


Pengobatan skizofrenia lebih efektif bila dimulai sedini mungkin saat
gejalamulai muncul (World Federation for Mental Health, 2008).
Tatalaksanapengobatan Skizofrenia mengacu pada penatalaksanaan Skizofrenia
secaraumum yaitu:
2.1.6.1. Anti Psikotik
Obat antipsikotik memiliki dua kelompok yaitu antipsikotik
generasipertama (tipikal) dan antipsikotik generasi kedua (atipikal).
Antipsikotiktipikal bekerja dengan memblok reseptor dopamine (D2) di
mesolimbiksehingga sering disebut Antagonis Reseptor Dopamin
(ARD).Antipsikotik tipikal mempunyai peranan yang cepat dalam

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


19

menurunkangejala positif seperti waham atau halusinasi tetapi juga


cepatmenyebabkan kekambuhan. Selain bekerja di mesolimbik juga
dimesokortikal yang memperberat gejala negatif dan gejala
kognitif,bekerja di nigrostiatal menyebabkan gangguan pergerakan
hiperkinetik(tardive dyskinesia), bekerja di tuberoinfundibular
menyebabkanpeningkatan kadar prolaktin (Sinaga, 2007). jenis
antipsikotik tipikalantara lain haloperidol (5-20 mg), triflouperazine (2-
5 mg), chlorpromazine (100 mg) danloxapine (Varcarolis, 2006),
fluphenazine, thiothixene, perphenazine,molindone, thiordazine dan
mesoridazine (Sinaga, 2007). Antipsikotiktipikal sangat efektif untuk
menurunkan gejala positif tetapi dapatmeningkatkan gejala negatif,
gejala kognitif, menyebabkan tardivedyskinesia dan peningkatan kadar
prolaktin.Antipsikotik atipikal atau Serotonin Dopamin Antagonis
(SDA) bekerjamelalui interaksi antara serotonin dan dopamin pada
keempat jalurdopamin di otak sehingga efek samping Extra Pyramidal
Symptom (EPS)lebih rendah dan efektif untuk mengatasi simptom
negatif (Sinaga, 2007).

Kelompok atipikal memiliki karakteristik : efek ekstrapiramidal


minimal,mengatasi gejala positif sebaik mengatasi gejala negatif
danmeningkatkan neurokognitif, juga bisa mengatasi gejala cemas
dandepresi, menurunkan kecenderungan perilaku bunuh diri
danmemperbaiki fungsi neurokognitif (Varcarolis, 2006). Jenis
antipsikotikatipikal adalah clozapine (25;100 mg), risperidon (1-6 mg),
olanzapine, zypreza (5-10 mg), zotepine (25;50 mg),Persidal (1 mg:2
mg:5 mg), (Sinaga, 2007). Antipsikotik atipikal lebihefektif dalam
menurunkan gejala positif dan negatif dengan efek sampingyang lebih
ringan serta berdampak positif terhadap gejala cemas dandepresi,
menurunkan kecenderungan perilaku bunuh diri danmemperbaiki fungsi
neurokognitif.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


20

2.1.6.2. Anti Maniak


Klien skizoprenia disertai dengan gejala akut perilaku kekerasan
efektifdiatasi dengan pemberian antimaniak seperti lithium (Varcarolis,
2006).Lithium membantu menekan episode kekerasan pada skizofrenia.
Antimaniak selain digunakan untuk klien gangguan bipolar, juga
dapatdigunakan untuk menekan perilaku kekerasan pada klien
skizofrenia.

2.1.6.3. Obat pencegahan efek ekstrapiramidal


Jenis obat untuk mencegah sindrom ekstrapiramidal dan
parkinsonismeadalah trihexyphenidil (THP), biperidin dan
diphenhidraminehydrochloride. Trihexyphenidil (Artane) dosis yang
digunakan : 1 – 15mg/hari dan diphenhidramine 10 – 400 mg/hari.
(Kaplan & Sadock,2007). Setiap obat mempunyai kecenderungan
menimbulkan efeksamping diantaranya sindrom ekstrapiramidal dan
parkinsonismeterutama antipsikotik tipikal. Upaya untuk mencegah
timbulnya efeksamping di atas klien diberikan obat : THP, biperidin
ataudiphenhidramine hydrochloride.Pengobatan dasar pada klien
skizofrenia adalah pemberian anti psikotikbaik tipikal maupun atipikal
tergantung karakteristik, kemampuan danefek samping yang dialami
klien. Klien skizofrenia dengan perilakukekerasan pada umumnya
diberikan juga obat antimaniak dan untukmenurunkan efek samping
klien juga diberikan obat pencegah efek ekstrapiramidal.

2.2 Konsep Isolasi Sosial


2.2.1 Definisi IsolasiSosial

Isolasi sosial adalah suatu pengalaman menyendiri dari seseorang dan


perasaan segan terhadap orang lain sebagai sesuatu yang negatif atau
keadaan yang mengancam (Nanda, 2007). Sedangkanmenurut Fontaine

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


21

(2003) isolasi sosial adalah suatu keadaan dimanandividu miskin


hubungan dengan orang lain dan memiliki ketrampilansosial yang
tidak adekuat.

Isolasi sosial juga diartikan sebagia keadaan seorang individu yang


mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu
berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, mungkin merasa ditolak,
tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang
berartidengan orang lain. (Keliat dkk, 2011). Dengan demikian isolasi
sosial adalahkegagalan individu untuk menjalin interaksi dengan orang
lain sebagaiakibat dari pikiran-pikiran negatif serta pengalaman-
pengalaman yangtidak menyenangkan sebagai ancaman terhadap
individu.

2.2.2 StressorPenyebab Terjadinya Isolasi Sosial


Setiap individu menghadapi berbagai stresor di setiap proses
tumbuhkembang sepanjang kehidupannya. Kegagalan yang terjadi
secara terusmenerus dalam menghadapi stresor dan penolakan dari
lingkunganakan mengakibatkan individu tidak mampu berpikir logis
dimanaindividu akan berpikir bahwa dirinya tidak mampu atau merasa
gagalmenjalankan fungsi dan perannya sesuai tahap tumbuh
kembang.Ketidakmampuan berfikir secara logis ini menyebabkan
harga dirirendah sehingga individu merasa tidak berguna, malu, dan
tidakpercaya diri yang dimanifestasikan melalui perilaku isolasi sosial.

Beck dalam Oemarjoedi (2003) meyakinkan bahwa klien


yangmemiliki kesulitan berfikir logis menimbulkan gangguan
padakapasitas pemahamannya yang disebut sebagai distorsi kognitif,
antara lain :

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


22

a. Mudah membuat kesimpulan tanpa data yang mendukung,


cenderung berfikir secara “catastrophic” atau berpikir
seburukburuknya.

Contoh : Seorang pria yang mengalami kegagalan dalam hubungan


perkawinannya menjadi enggan untuk membina hubungan
barukarena yakin akan gagal lagi.
b. Memiliki pemahaman yang selektif, membatasi
kesimpulanberdasarkan hal-hal yang terbatas.

Contoh : Seorang wanita menentukan criteria yang terlalu


tinggiuntuk memilih calon suami, berakibat kepada sulitnya
criteriatersebut terpenuhi, lalu menyimpulkan bahwa ia tidak layak
untukbersuami.
c. Mudah melakukan generalisasi, sebagai proses meyakini
suatukejadianuntuk diterapkan secara tidak tepat pada situasi lain.

Contoh : pengalaman anak yang memiliki ayah


berselingkuhmenumbuhkan keyakinan bahwa semua laki-laki
sukaberselingkuh.
d. Kecenderungan memperbesar dan memperkecil masalah,
membuatklien tidak mampu menilai masalah secara objektif.

Contoh : Kegagalan kecil dianggap sebagai akhir dari segalagalanya.


e. Personalisasi, membuat klien cenderung menghubungkan
antarakejadianeksternal dengan diri sendiri dan menyalahkan
dirisendiri.

Contoh : Ketika klien tidak datang kembali untuk sesikonselingnya, terapis


meyakini bahwa hal itu disebabkan karenakegagalan dalam
memberikan konseling.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


23

f. Pemberian label atau kesalahan memberi label,


menentukanidentitas diri berdasarkan kegagalan atau kesalahan.

Contoh : Kegagalan untuk diterima bekerja membuat seseorangdengan


distorsi kognitif menilai bahwa dirinya tidak berharga.
g. Pola pemikiran yang terpolarisasi, kecenderungan untuk
berpikirdan menginterpretasikan segala sesuatu dalam bentuk “all-
ornothing”(semua atau tidak sama sekali).

Isolasi sosial merupakan salah satu respon maladaptif dalam rentangrespon


neurobiologi selain delusi, halusinasi, gangguan emosi dangangguan
perilaku (Stuart & Laraia, 2005). Karakteristik sosial yangbersifat negatif
pada klien skizofrenia berupa isolasi sosial, miskinhubungan dengan orang
lain, dan ketrampilan sosial yang tidakadekuat (Fontaine, 2003). Proses
terjadinya isolasi sosial dapatdiuraikan dari proses terjadinya gangguan jiwa
khususnya skizofreniayang dihubungkan dengan isolasi sosial.

Model Stres Adaptasi Stuart dapat menggambarkan proses terjadinyaisolasi


sosial dengan menganalisa faktor predisposisi, presipitasi,penilaian terhadap
stresor, sumber koping, dan mekanisme kopingyang digunakan individu
sehingga menghasilkan respon bersifatkonstruktif dan destruktif dalam
rentang adaptif sampai maladaptif

2.2.2.1 Faktor Predisposisi

Menurut Stuart dan Laraia (2005) faktor predisposisi adalahfaktor


risiko yang dipengaruhi oleh jenis dan jumlah sumberrisiko yang
dapat menyebabkan individu mengalami stress.Faktor ini meliputi
biologis, psikologis, dan sosial budaya.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


24

a. Faktor Biologis
Faktor predisposisi biologis meliputi riwayat genetik,
statusnutrisi, status kesehatan secara umum, sensitivitas
biologi,dan terpapar racun (Stuart & Laraia, 2005). Banyak
risetmenunjukkan peningkatan risiko mengalami skizofreniapada
individu dengan riwayat genetik terdapat anggotakeluarga dengan
skizofrenia. Pada kembar dizigot risikoterjadi skizofrenia 15%,
kembar monozigot 50%, anakdengan salah satu orang tua
menderita skizofrenia berisiko13%, dan jika kedua orang tua
mendererita skizofreniaberisiko 45% (Fontaine, 2003).

Penelitan dengan menggunakan Positron Emission Tomography


(PET)pada klien klien skizofrenia menunjukan kurangnyaktifitas
lobus frontal,abnormalitas metabolik sirkuit frontal, temporal
dan serebaral. Lobusfrontal berfungsi sebagai memori kerja,
penurunan metabolic frontaldihubungkan dengan perjalanan
penyakit yang lama dan adanya gejalanegatif yang berat. Gejala
positif klien skizofrenia berhubungan denganpeningkatan aliran
darah di daerah temporomedial dan disintegrasiberhubungan
dengan peningkatan aliran darah di daerah korteks singulatdan
striatum.

Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI)menunjukan


pelebaran di daerah ventrikular tiga dan lateral karenaperubahan
daerah perifentrikular limbik striata, mengecilnya ukuran lobus
frontal dan temporal terutama bila gejala negatif klien menonjol
mengakibatkan menurunnya fungsi neurokognitif seperti
:memori, atensi,pemecahan masalah, fungsi eksekutif dan sosial
cognition. PemeriksaanElektro Ensefalografi (EEG) klien
skizofrenia menunjukan hilangnyaaktivasi gamma band, yang

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


25

menandakan melemahnya integrasi antarajaringan syaraf di otak.


Teori neurotransmitter berhubungan denganserotonin (5HT),
Glutamat, NMDA, GABA, noorepineprin, dopamin(D1-D5)
dimana reseptor D2 sangat mempengaruhi simptom positif
dariskizofrenia (Sinaga, 2007; Stuart, 2009).

Riset lain menunjukkan bahwa terjadi abnormalitas


anatomi,fisiologis, dan neurokimia pada klien dengan
skizofrenia,dimana terjadi penurunan volume otak, fungsi otak,
dangangguan jumlah dan regulasi neurotransmiter
(dopamin,serotonin, dan glutamat). Gangguan pada korteks
frontalmengakibatkan gejala negatif dan gangguan pada
sistemlimbik mengakibatkan gejala positif (Bartzokis, 2002,
dalamStuart & Laraia, 2005).

Cannon, Jones, dan Muray (2002, dalam Stuart & Laraia, 2005)
menyatakan perkembangan janin dalam rahim belum dapat
dideteksi kemungkinan menderita skizofrenia, tetapi beberapa
riset menunjukkan pada sebagian besar klien dengan skizofrenia
memiliki riwayat komplikasi prenatal dan perinatal seperti pre-
eklampsia, trauma, asfiksia, prematur, dan masalah-masalah
yang dialami ibu selama masa kehamilan seperti nutrisi yang
buruk, stress, menggunakan alkohol/obat-obat terlarang, infeksi
virus, hipertensi, dan penggunaan zat-zat kimia berbahaya.

Perkembangan syaraf awal masa kehamilan ditentukan oleh


asupan gizidan trauma psikologis selama hamil. Anak-anak yang
mengalami disfungsisituasi sosial seperti trauma masa kecil,
kekerasan, hostilitas, danhubungan interpersonal yang kurang
hangat sangat mempengaruhiperkembangan neurological anak

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


26

sehingga lebih rentan untuk mengalamiskizofrenia.Teori virus


yang disampaikan bahwa pada masa kehamilan khususnyapada
trimester pertama bila terpapar virus influenza beresiko
untukterjadinya skizofrenia pada anak (Brown, 2004 dalam
Stuart, 2009). Virusyang dapat melewati sawar uri dapat masuk
ke dalam otak danmenghambat tumbuh kembang janin.

Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa


faktor predisposisi biologis yaitu riwayat genetik terdapat
anggota keluarga dengan sikizofreniamenunjukan adanya
hubungan keluarga terhadap kejadian skizofreniayang bervariasi
dimana adanya hubungan keluarga yang paling dekat pada anak
kembar idetik memiliki risiko paling tinggi dibanding tidak ada
riwayat keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Uraian diatas
juga menjelaskan bahwa kurangnya aktifitas lobus
frontal,abnormalitas metabolik sirkuit frontal, temporal dan
serebaral berpengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa.

Selain itu komplikasi prenatal dan perinatal serta masalah-


masalah yang dialami ibu selama kehamilan seperti nutrisi yang
buruk, stress, terpapar alkohol/obat terlarang, infeksi dan
penggunaan zat-zat kimia dapat menyebabkan gangguan bentuk,
fungsi maupun regulasi neurotransmiter otak khususnya pada
korteks frontal sehingga menimbulkan gejala negatif diantaranya
isolasi sosial.

b. Faktor Psikologis
Faktor predisposisi psikologis meliputi
intelektualitas,ketrampilan verbal, kepribadian, pengalaman
masa lalu,konsep diri, motivasi, dan pertahanan psikologis

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


27

(Stuart &Laraia, 2005). Skizofrenia dapat terjadi pada individu


yangmengalami kegagalan pada tahap awal
perkembanganpsikososial, misalnya pada usia bayi tidak
terbentukhubungan saling percaya maka terjadi konflik
intrapsikik.Fortinash dan Worret (2004) menyatakan bahwa anak
yangtumbuh dalam keluarga dengan kondisi tidak bahagia
dantegang akan menjadi individu yang tidak sensitif secara
psikologis. Kondisi keluarga dan karakter setiap orangdalam
keluarga mempengaruhi perkembangan psikologisseseorang. Ibu
yang overprotective, ibu selalu cemas,konflik perkawinan, dan
komunikasi yang buruk sertainteraksi yang kurang dalam
keluarga berisiko terjadinyaskizofrenia pada individu anggota
keluarga tersebut.

Menurut Eric Erikson (2000, dalam Keliat, 2006) dalammenuju


maturasi psikososial manusia menjalankan delapantugas
perkembangan (development task) sesuai denganproses
perkembangan usia. Untuk mengembangkanhubungan sosial
positif setiap tugas perkembangansepanjang daur kehidupan,
diharapkan dilalui dengan baiksehingga kemampuan membina
hubungan sosial dapatmenghasilkan kepuasan bagi individu.
Sebaliknya tugasperkembangan yang tidak dijalankan dengan
baikmemberikan dampak psikososial dikemudian hari.
Faktorpsikologis berhubungan dengan pola asuh yang
diterimaoleh individu pada setiap tahap tumbuh kembangnya
yangkemudian membentuk pengalaman masa lalu,
kepribadian,konsep diri, ketrampilan verbal, dan pertahanan
psikologis.
Tipe kepribadian tertentu seperti borderline dan
narsistikcenderung mengalami kecemasan tinggi sehingga

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


28

kesulitandalammembina hubungan dengan orang lain.Kegagalan


mencapai tugas perkembangan pada setiaptahapan usia tumbuh
kembang sejak bayi berakibat padakemampuan dalam
mengembangkan hubungan yang sosial positif pada individu.
Berdasarkan penjelasan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa
faktor predisposisi psikologis berupa kegagalan pada tahap awal
perkembangan psikososial dan kegagalan dalam menjalankan
delapan tugas perkembangan (development task), serta tipe
kepribadian tertentu. Berbagai predisposisi psikologis tersebut
diatas berakibat pada kemampuan dalam mengembangkan
hubungan sosial yang positif pada individu, kesulitan dalam
membina hubungan dengan orang lain, dan dampak lebih jauh
adalah terjadinya perilaku isolasi sosial.

c. Faktor Sosial Budaya


Faktor predisposisi sosial budaya meliputi usia, jeniskelamin,
pendidikan, pendapatan, pekerjaan, status sosial,pengalaman
sosial, latar belakang budaya, agama dankeyakinan, dan kondisi
politik (Stuart & Laraia, 2005).Townsend (2005); Stuart (2007)
menjelaskan faktor sosialbudaya dikaitkan dengan terjadinya
isolasi sosial meliputi;umur, jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan dan keyakinan.Skizofrenia terjadi pada semua
kelompok sosial ekonomi,namun lebih banyak terjadi pada
kelompok sosial ekonomi rendah. Hipotesis “downward drift”
menjelaskan bahwaklien skizofrenia yang memiliki ketrampilan
sosial rendahberasal dari kelompok sosial ekonomi rendah
(Maguire, 2002, dalam Fortinash & Worret, 2004). Kondisi
sosialekonomi yang rendah berpengaruh terhadap
kondisikehidupan yang dijalani meliputi; nutrisi yang tidak
adekuat, rendahnya pemenuhan perawatan untuk anggota

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


29

keluarga, perasaan tidak berdaya, perasaan ditolak oleh orang


lain dan lingkungan sehingga berusaha menarik diri dari
lingkungan.

Beberapa ahli sosial meyakini bahwa stress kehidupandalam


kelompok sosial ekonomi rendah cukup sering mencetuskan
terjadinya skizofrenia pada masyarakat. Kliendengan skizofrenia
akibat stress psikologis menunjukkanharga diri rendah dan
persepsi diri yang buruk sertamengalami keterbatasan sumber
koping terhadap situasiyang dihadapi. Status sosial ekonomi
rendah tidak hanyaberdampak pada fungsi psikologis, tetapi juga
biologis yangsemakin menambah gejala-gejala kronis, misalnya
klienskizofrenia yang berasal dari kelompok sosial
ekonomirendah berisiko mengalami infeksi seperti tuberkulosis.

Hidup di lingkungan padat penduduk, kemiskinan,kesengsaraan,


dan ketakutan karena tingginya angkakriminalitas juga
menyebabkan psikopatologi (Cohen, 1993;Betemps & Ragiel,
1994, dalam Fortinash & Worret, 2004).Beberapa studi juga
menunjukkan bahwa lingkungan fisikberhubungan dengan
terjadinya skizofrenia, dimana paparanzat beracun pada individu
menyebabkan berbagai penyakitmelalui polusi udara atau
makanan yang terkontaminasi.

Stuart dan Laraia (2005) mengemukakan keyakinanmerupakan


pandangan terhadap kehidupan dunia, agama danspiritual yang
memberikan efek negatif dan positif terhadapkesehatan jiwa
seseorang. Respon positif terhadapkeyakinan dapat merubah
kesejahteraan, peningkatankualitas hidup, dan mempercepat
proses penyembuhan.Respon negatif terhadap keyakinan karena

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


30

adanyakemiskinan dapat menjadi faktor pencetus sulitnya


merubahstatus kesehatan seseorang, penolakan terhadap
pelayananyang diberikan, pesimis, menyalahkan diri sendiri,
orang lain dan adanya perasaan tidak berdaya.

Pendidikan dapat dijadikan tolak ukur kemampuanseseorang


berinteraksi dengan orang lain secara efektif(Stuart & Laraia,
2005). Faktor pendidikan mempengaruhikemampuan seseorang
menyelesaikan masalah yangdihadapi.

Berdasarkan penjelasan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa


berbagai faktor predisposisi sosia budaya tersebut terkait erat
dengan kejadian isolasi sosial. Perilaku isolasi sosial yang
merupakan gejala negatif dari skizofrenia lebih banyak terdapat
pada kelompok sosial ekonomi rendah. Lingkungan yang padat
penduduk, kemiskinan, kesengsaraan, dan ketakutan dapat
mengakibatkan stres psikologis dengan menunjukkan harga diri
rendah dan persepsi diri yang buruk. Keyakinan juga
berkontribusi pada kesehatan jiwa seseorang, bisa berupa respon
penolakan terhadap pelayanan yang diberikan, pesimis,
menyalahkan diri sendiri dan orang lain dan perasaan tidak
berdaya yang merupakan gambaran suasana hati yang dihadapi
seseorang.

2.2.2.2 Faktor Presipitasi

Faktor presipitasi adalah stressor yang bersifat menantang


danmengancam individu serta menimbulkan kondisi tegang danstres
sehingga memerlukan energi yang besar untukmenghadapinya
(Cohen, 2000, dalam Stuart & Laraia, 2005).Faktor presipitasi dapat

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


31

bersifat stresor biologis, psikologis,serta sosial budaya yang berasal


dari dalam diri individu(internal) maupun dari lingkungan eksternal
individu. Sifat dan asal stresor, waktu dan jumlah stresor juga
merupakankomponen faktor presipitasi. Dimensi waktu meliputi
kapanstresor terjadi, seberapa lama terpapar stresor, dan
frekuensiterpapar stresor. Menurut Townsend (2009) peristiwa
dalamkehidupan yang penuh dengan tekanan dan stresor
menjadipencetus serangan atau munculnya gejala skizofrenia
danmeningkatkan angka kambuh.

a. Stresor Biologis
Stresor biologis yang berkaitan dengan isolasi sosialmeliputi
kelainan struktur otak dan ketidakseimbangan dopamin dengan
serotonin, penyakit infeksi, penyakit kronis, sensivitas biologi,
dan adanya paparan terhdap racun. Ini terkait juga dengan
interaksibeberapa neuroendokrin, hormon pertumbuhan,
prolaktin,ACTH, LH/FSH, vasopressin, hormon tiroid,
insulin,oksitosin, epinefrin, norepinefrin dan
beberapaneurotransmiter lain diotak(Niehoff, 2002; Hoptman ,
2003 dalam Stuart & Laraia, 2005;Kaplan, 2007)).Dapat
disimpulkan stresorbiologis berkaitan dengan adanya gangguan
struktur danfungsi tubuh serta sistem hormonal yang abnormal.

Sifat stressor biologis dengan isolasi sosial berupa adanya


kelainan struktur otak dan ketidakseimbangan dopamin dengan
serotonin, penyakit infeksi, penyakit kronis, sensivitas biologi,
dan adanya paparan terhdap racun ini.

b. Stresor Psikologis

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


32

Respon psikologis maladaptif merupakan hasil


pengalamannegatif yang mempengaruhi pertumbuhan emosi
seseorang.Stresor psikologis dapat berupa kondisi seperti
hubungankeluarga tidak harmonis, ketidak puasan kerja
dankesendirian. Diyakini bahwa ansietas berat
danberkepanjangan dengan kemampuan koping yang
terbatasmenyebabkan gangguan berhubungan dengan orang lain.
Sikap atau perilaku tertentu seperti harga diri rendah, tidak
percaya diri, merasa dirinya gagal, merasa dirinya lebih
dibandingkan orang lain, tidak memiliki ketrampilan sosial, dan
perilaku agresif merupakan presipitasi terjadinya skizofrenia.
Tipe kepribadian tertentu seperti borderline dan narsistik
cenderung mengalami kecemasan tinggi sehinggakesulitan dalam
membina hubungan dengan orang lain (Stuart, 2009).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa stressor


psikologis bisa berasal dari dalam diri individu (internal) berupa
adanya tipe kepribadian tertentu yang berhubungan dengan
tingkat kecemasan sehingga mempengaruhi kemampuan
membina hubungan dengan orang lain, adanya kegagalan-
kegagalan dalam hidup, ketidak puasan dalam bekerja dan
kesendirian. Sedangkan stressor eksternalnya dapat berupa
ketidakharmonisan dalam keluarga dan adanya abuse dalam
keluarga. Apabila kedua stressor ini terpapar atau terjadi dalam
waktu yang lama pada individu dapat berkontribusi terhadap
terjadinya gangguan jiwa.

c. Stresor Sosial Budaya


Stresor sosial budaya dapat berasal dari keluarga,
misalnyakurangnya support sistem dalam keluarga

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


33

dankontak/hubungan yang kurang antar anggota keluarga.


Stressor lain yang dapat menjadi pencetus terjadinya perilaku
isolasi sosial adalah kondisi lingkungan yang bermusuhan,
lingkungan penuh dengan kritik, tekanan di tempat kerja atau
kesulitan mendapatkan pekerjaan, kemiskinan, dan stigma yang
ada di lingkungan tempat tinggal seseorang.

Menurut Shives (1998), bahwa komponen sosial budaya sebagai


pencetus munculnya isolasi sosial yaitu : kesulitan kondisi sosial
ekonomi, kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu,
ketidaksiapan seorang ibu dalam merawatanaknya dan
ketidakmampuan menempatkan dirinya sebagai seorang yang
dewasa, pelaku mungkin mempunyai riwayat perilaku anti sosial
meliputi penyalahgunaan obat dan alkoholisme dan tidak mampu
mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa frustasi,
kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan
pekerjaan, perubahan tahap perkembangan, atau perubahan tahap
perkembangan keluarga.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa stressor


sosial budaya yang berasal dari internal berupa kesulitan kondisi
sosial ekonomi, kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu,
dan kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan sedangkanyang
berasal dari eksternal yaitu kondisi lingkungan yang
bermusuhan, lingkungan penuh dengan kritik, dan tekanan di
tempat kerja serta adanya stigma dari masyarakat. Stresor yang
terjadi pada seseorang akan dirasakan berat apabilaasal stresor
baik internal maupun eksternal terjadi bersamaan, stresorterjadi
dalam waktu yang lama atau jumlah stresor yang lebih dari

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


34

satuterjadi dalam waktu yang sama pada seseorang akan memicu


terjadinya gangguan jiwa.

Pada klien dengan isolasi sosial asal stresor bisa dari dalam individu
(internal) maupun dari lingkungan individu (eksternal). Menurut
Shives (1998) bahwa ada 2 (dua) asal stressor yaitu stresor internal
dan eksternal : stresor internal (dari individu itu sendiri, yaitu semua
faktor yang dapat menimbulkan kelemahan, menurunnya percaya
diri, takut sakit, hilang kontrol, terjadinya proses penuaan, dll).
Stresor eksternal misalnya darikeluarga, kelompok masyarakat, dan
lingkungan sekitar seperti terjadinyabencana alam, konflik antar
masyarakat, penganiayaan fisik, kehilanganorang yang dicintai dan
krisis.

Stressor internal klien isolasi dapat berupa menurunya kepercayaan


pada diri dan terhadap lingkungannya, sehingga dapat mempengaruhi
penerimaan pelayanan kesehatan yang diberikan termasuk kepatuhan
dalam berobat. Sedangkan stressor eksternalnya berupa ada tidaknya
dukungan dari keluarga, kelompok sosial dalam masyrakat (TOGA &
TOMA) serta kader kesehatan. Menurut Stuart (2009), menyatakan
bahwa waktu atau lamanya terpapar stresor, yaituterkait dengan sejak
kapan, sudah berapa lama, serta berapa kalikejadiannya (frekuensi).
Bila baru pertama kali terkena masalah, makapenanganannya juga
memerlukan suatu upaya yang lebih intensif dengantujuan untuk
tindakan pencegahan primer.

Semuasumber pendukung yang dimiliki oleh individu, sebaiknya


terlibat secaraintensif dalam perawatan. Jumlah stresornya: berapa
kali stresor tersebutpernah dialami oleh individu pada kurun waktu
tertentu, karena semakinsering terpapar, maka akan semakin buruk

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


35

akibat yang akan diterima olehindividu. Stresor yang terjadi pada


seseorang akan dirasakan berat apabilaasal stresor baik internal
maupun eksternal terjadi bersamaan, stresorterjadi dalam waktu yang
lama atau jumlah stresor yang lebih dari satuterjadi dalam waktu
yang sama pada seseorang. Berdasarkan uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa terjadinya gangguan jiwa sangat dipengaruhi
oleh asal waktu atau lamanya dan jumlah stresor yang terjadi pada
seseorang.

Berdasarkan penjelasan tersebut diatas dapat diambil suatu


kesimpulan bahwa terjadinya masalah isolasi sosial pada klien
disebabkan oleh ketidakmampuan menghadapi stresor disetiap proses
tumbuh kembang sepanjang kehidupannya, yang dapat
mengakibatkan klien tidak mampu berpikir logis dimana klien akan
berpikir bahwa dirinya tidak mampu atau merasa gagal menjalankan
fungsi dan perannya sesuai tahap tumbuh kembang. Stresor dapat
berasal dari faktor predisposisi yang merupakan faktor resiko yang
dipengaruhi oleh jenis dan jumlah sumber resiko yang dapat
menyebabkan individu mengalami stres meliputi faktor biologis,
psikologis, dan sosial budaya. Selain itu stresor juga bisa berasal dari
faktor presipitasi yaitu merupakan stressor yang bersifat menantang
dan mengancam klien serta menimbulkan kondisi tegang dan stress.
Faktor ini dapat berupa stresor biologis, psikologis, dan sosial
budaya.

2.2.2.3 ResponTerhadap Stressor Pada Klien Isolasi Sosial

Respon terhadap stresor pada klien dengan isolasi sosial dapat


diobservasi dan dinilai melaluirespon aspek kognitif, afektif,

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


36

fisiologis, perilaku, dan sosial yang pada akhirnya bermanifestasi


pada masalah isolasi sosial.

a. Respon kognitif
Respon kognitif memegang peran sentral dalam
prosesadaptasi,dimana faktor kognitif mempengaruhi
dampaksuatu kejadian yang penuh dengan stress, memilih
kopingyang akan digunakan, dan reaksi emosi, fisiologi,
perilaku,dan sosial seseorang. Respon secara kognitif
merupakanmediator fisiologis antara individu dengan
lingkungannyaterhadap suatu stressor. Terdapat tiga tipe utama
responterhadap stresor yang bersifat kognitif yaitu: 1)
stresordinilai sebagai bahaya yang akan terjadi, 2) stresor
dinilaisebagai ancaman sehingga perlu antisipasi, dan 3)
stresordinilai sebagai peluang/tantangan untuk tumbuh
menjadilebih baik. Individu yang menilai stresor sebagai
suatutantangan akan mengubah stresor menjadi peristiwa
yangmenguntungkan bagi dirinya sehingga menurunkan
tingkatstres yang dialami.

Menurut Townsend (2009); Keliat (2005);&Fortinash (1999) pada


klien isolasi sosial responterhadap stresor secara kognitif berupa
merasa kesepian,merasa ditolak orang lain/lingkungan, dan merasa
tidakdimengerti oleh orang lain, merasa tidak berguna, merasa
tidak berdaya, merasaputus asa dan tidak memiliki tujuan hidup,
merasa tidakaman berada diantara orang lain, kurangnya
perhatian, serta tidak mampukonsentrasi dan membuat
keputusan.Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
respon kognitifmerupakan suatu mediator bagi interelasi antara

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


37

individu dan lingkungan. Individu dapat menilai adanya suatu


bahaya/potensi terhadap suatu stresor yang dipengaruhi oleh : 1)
Pandangan / pengertian: sikap, terbuka terhadap adanya
perubahan, peran serta seseorang secara aktif dalam suatu
kegiatan, dan kemampuan mengontrol pengaruh lingkungan.
2)Sumber untuk toleransi masalah yang berasal dari diri sendiri
serta lingkungannya. 3) Kemampuan koping, halini seringkali
berhubungan dengan pengalaman secara individual. 4)Efektifitas
koping yang dipergunakan oleh pasien dalam
mengatasimasalahnya. 5) Koping yang tersedia dan dapat
dipergunakan oleh klien.

b. Respon afektif
Respon afektif menunjukkan suatu perasaan. Respon terhadap
stresor secara afektif tidak spesifik dan umumnya berupa reaksi
cemas yang diekspresikan sebagai emosi. Respon afektif meliputi
gembira, sedih, takut, marah,menerima, tidak percaya, antisipasi,
dan terkejut. Pengetahuan yang baik, optimis, dan sikap positif
dalam menilai peristiwa kehidupan yang dialami diyakini dapat
menimbulkan perasaan sejahtera dan memperpanjang usia
(Danner dkk, 2001; Lazarus, 1991; Seligman, 2000, dalam Stuart
& Laraia, 2005). Respon afektif dipengaruhi oleh kegagalan
individu dalam menyelesaikan tugasperkembangan di masa lalu
terutama terkait denganpengalaman berinteraksi dengan orang
lain.Menurut Townsend (2009); Keliat (2005);dan Fortinash
(1999) secara afektif klien dengan isolasisosial merasa bosan dan
lambat dalam menghabiskan waktu,sedih, afek tumpul, dan kurang
motivasi serta merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.
Rasa sedih karena kehilangan terutama terhadap sesuatu yang

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


38

berarti dalam kehidupan sering kali menyebabkan seseorang


menjadi takut untuk menghadapi kehilangan.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa respon


Afektif, terkait dengan: 1) Ekspresi emosi: respons emosi
dalammenghadapi masalah dapat berupa perasaan sedih, gembira,
takut, marah,menerima, tidak percaya, antisipasi, surprise. 2)
Klasifikasi dari emosiakan tergantung pada tipe, lama dan
intensitas dari stresor yang diterimadari waktu ke waktu. 3) Mood
dapat berupa emosi dan sudah berlangsunglama yang akan
mempengaruhi suasana hati seseorang. 4) Sikap (attitude):hal ini
terjadi bila stresor telah berlangsung lama, sehingga sudah
menjadisuatu kebiasaan/pola bagi individu tersebut.

c. Respon fisiologis
Respon fisiologis merefleksikan interaksi beberapaneuroendokrin
seperti hormon pertumbuhan, prolaktin,ACTH, luteinizing dan
follicle-stimulating hormone, TSH,vasopresin, oksitosin, insulin,
epineprin, norepineprin, danbeberapa neurotransmiter dalam otak.
Respon fisiologisfight-or-flight menstimulasi sistem saraf otonom
yaitu sarafsimpatis dan meningkatkan aktivitas adrenal
pituitari.Respon fisiologis yang terjadi pada klien isolasi
sosialberupa lemah, penurunan/peningkatan nafsu makan,
malasberaktivitas, lemah, kurang energi (NANDA,
2007;Fortinash, 1999).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa respon


fisiologis fisiologis terkait dengan respons fight atau flight yang
dilakukan olehseseorang dalam menghadapi suatu permasalahan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


39

akan distimulasi olehsistem saraf otonom serta meningkatnya


aktivitas dari pituitari adrenal, halini akan terkait dengan reflek
dari interaksi beberapa neuroendokrin,hormon pertumbuhan,
prolaktin, hormon adenokortikotropik, hormon luteinising dan
stimulasi folikel, hormon tiroid, vasopresin, oksitosin, insulin,
epineprin, norepineprin dan beberapa neurotransmiter lain di otak.

d. Respon perilaku
Perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitasdari
manusia itu sendiri dan mempunyai bentangan yangluas meliputi
berjalan, berbicara dan bereaksi, dimana semuaitu dapat diamati,
bahkan dipelajari (Notoatmodjo, 2003).Skinner (1938, dalam
Notoatmodjo, 2003) merumuskanbahwa perilaku merupakan
respon atau reaksi seseorangterhadap stimulus (rangsangan dari
luar).

Respon perilaku merefleksikan respon emosi dan fisiologissebagai


hasil analisis kognitif dalam menghadapi suatusituasi yang penuh
stres. Kaplan (1981, dalam Sutart &Laraia, 2005) mengemukakan
4 (empat) fase respon perilakuindividu terhadap suatu stresor,
yaitu 1) Fase pertama,perilaku berubah karena stresor dari
lingkungan danindividu lari dari masalah; 2) Fase kedua, perilaku
yangmembuat seseorang merubah pengaruh dari luar; 3)
Faseketiga, perilaku untuk bertahan atau melawan perasaan
danemosi yang tidak nyaman; 4) Fase keempat, perilaku
yangdatang menggambarkan suatu kejadian agar seseorangmampu
menyesuaikan diri secara berulang. Dari uraiandiatas disimpulkan
perilaku merupakan tindakan yangdilakukan seseorang
dipengaruhi oleh proses kognitif.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


40

Menurut Townsend (2009); Keliat (2005);dan Fortinash (1999)


perilaku yang ditunjukkan klien isolasisosial meliputi menarik
diri, menjauh dari orang lain, tidakatau jarang melakukan
komunikasi, tidak ada kontak mata,tidak memiliki teman dekat,
melakukan tindakan berulang dan tidak bermakna, kehilangan
gerak dan minat, malas melakukan kegiatansehari-hari, berdiam
diri di kamar, menolak hubungandengan orang lain, dan sikap
bermusuhan.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, respon


perilaku terjadi merupakan reflek dari respon emosi dan
fisiologissebagai suatu kemampuan analisis kognitif dalam
menghadapisuatu situasi yang penuh dengan stres berupa adanya
perilaku menarik diri, menjauh dari orang lain, tidakatau jarang
melakukan komunikasi, tidak ada kontak mata,tidak memiliki
teman dekat, melakukan tindakan berulang dan tidak bermakna,
kehilangan gerak dan minat, malas melakukan kegiatansehari-hari,
berdiam diri di kamar, menolak hubungandengan orang lain, dan
sikap bermusuhan.

e. Respon sosial
Respon sosial individu dalam menghadapi stressor terdiridari tiga
kegiatan, yaitu 1) Mencari makna, individu mencariinformasi
tentang masalah yang dihadapi. Dalam hal iniperlu memikirkan
strategi koping yang akan digunakanuntuk merespon masalah
yang dihadapi secara rasional; 2)Atribut sosial, individu mencoba
mengidentifikasi faktorfaktoryang berkontribusi terhadap masalah
yang ada.Individu yang memandang masalahnya sebagai akibat
darikelalaiannya mungkin tidak dapat melakukan suatu

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


41

responkoping. Dalam hal ini individu akan lebih menyalahkan


dirisendiri, bersikap pasif, dan menarik diri; 3)
Perbandingansosial, individu akan membandingkan ketrampilan
dankemampuan yang dimiliki dengan orang lain yang
memilikimasalah yang sama. Hasil perbandingan sosial
initergantung pada siapa yang dibandingkan dengan tujuanakhir
untuk menentukan kebutuhan support system,sedangkan support
system yang dibutuhkan tergantung usia,tahap perkembangan,
latar belakang sosial budaya.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa langkah awal


respon sosial terhadap stres adalah mencari makna.Seseorang akan
mencari berbagai informasi mengenai masalah mereka.Hal ini
sangat diperlukan untuk mendefinisikan strategi koping
sebabdengan melalui berbagai ide yang muncul sehingga individu
mampumemberi respons secara rasional. Langkah yang kedua
dalam responssosial adalah atribut sosial, dimana seseorang
mencoba untuk identifikasiberbagai faktor yang berkontribusi
terhadap masalah yang ada. Individuyang memandang masalah
muncul dari kegagalannya, individu akan lebihmenyalahkan
dirinya sendiri, bersikap pasif dan perilakunya menarik diri.Untuk
lebih jelasnya tentang respon klien isolasi sosial tehadap stressor
maka dapat disimpulkansebagaimana dijelaskan dalam tabel
berikut ini :
Tabel 2.1
Respon Klien Isolasi Sosial Terhadap Stressor
Bentuk Respon Tanda dan Gejala

1. Respon Kognitif Rasa kesepian, merasa merasa


ditolak orang lain/lingkungan, dan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


42

merasa tidakdimengerti oleh orang


lain, merasa tidak berguna, tidak
berdaya, putus asa dan tidak
memiliki tujuan hidup, merasa
tidakaman berada diantara orang
lain, kurangnya perhatian, serta tidak
mampu membuat keputusan.

2. Respon Afektif Rasasedih, takut, marah,menerima,


tidak percaya, antisipasi, dan
terkejut.

3. Respon Fisiologis Berupa kelemahan,


penurunan/peningkatan nafsu
makan, malasberaktivitas, lemah,
kurang energi.

4. Respon Perilaku Perilaku menarik diri, menjauh dari


orang lain, tidakatau jarang
melakukan komunikasi, tidak ada
kontak mata,tidak memiliki teman
dekat, melakukan tindakan berulang
dan tidak bermakna, kehilangan
gerak dan minat, malas melakukan
kegiatansehari-hari, berdiam diri di
kamar, menolak hubungandengan
orang lain, dan sikap bermusuhan.

5. Respon Sosial mencariinformasi tentang masalah


yang dihadapi, individu mencoba
mengidentifikasi faktorfaktoryang

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


43

berkontribusi terhadap masalah yang


ada, dan membandingkan
ketrampilan dankemampuan yang
dimiliki dengan orang lain yang
memilikimasalah yang sama.

Selain respon klien tersebut diatas, juga beberapa tanda dan gejala
yang dapat ditemukan klien dengan isolasi sosial berupa ;jarang/tidak
bekomunikasi, menolakberhubungan dengan orang lain, tidak
ada/jarang kontak mata,menjauh dari orang lain, berdiam diri
dikamar, tidak melakukankegiatan sehari-hari, tidak memiliki teman
dekat, tampak sedih danafek tumpul dapat menjadi pedoman dalam
penetapan diagnosa isolasisosial (Keliat, 1999 & Keliat, 2006).

Berdasarkan respon klien terhadap stressor yaitu respon kognitif,


afektif, perilaku, dan respon sosial serta tanda dan gejala yang
ditemukan, maka dapat ditegakkan diagnosa keperawatan yaitu
isolasi sosial yang merupakan salah satu gejala psikotik. Menurut
Fortinash & Worret (2004), bahwa penetapan diagnosa keperawatan
pada klien isolasi sosial dilakukan berdasarkan analisa data yang
diperoleh selama fase pengkajian sehingga ketepatan penegakan
diagnosa keperawatan tergantung pada ketelitian dan kedalaman
pengkajian.

Klien dengan isolasi sosial akan mengalami penurunan atau


hambatan bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan
orang lain dan lingkungan sekitarnya. Dengan adanya kondisi ini
maka klien isolasi sosial harus memiliki kemampuan agar dapat

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


44

mengatasi masalah yang dihadapi. Kemampuan klien isolasi sosial


bisa berasal dari kemampuan internal berupa keterampilan sosial
yang dimiliki dalam mengatasi masalah isolasi sosial, tehnik
pertahanan diri dan kemampuan menggunakan pelayanan kesehatan
dan kemampuan finansial. Sedangkan kemampuan eksternal berupa
adanya dukungan sosial dan motivasi keluarga, serta dukungan dari
kelompok sosial yang ada dimasyarakat seperti tokoh masyarakat
(TOMA), tokoh agama (TOGA) dan kader kesehatan.
2.2.2.4 Kemampuan Klien Dalam Mengatasi Isolasi Sosial
Kemampuan yang dimiliki oleh klien/individu merupakan pilihan
atau strategi yang dapatmembantu menentukan apa yang dapat
dilakukan dalammenghadapi suatu masalah.Kemampuan klien dalam
mengatasi masalah dapat bersifat internal maupun bersifat eksternal.
Kemampuan internal berupa keterampilan, tehnik pertahanan diri,
finansial/material asset, nilai-nilai kepercayaan dan keyakinan,
sedangkan kemampuan eksternal berupa dukungan sosial dan
motivasi dari lingkungan baik itu keluarga, ataupun kelompok sosial
dalam masyarakat (Stuart & Laraia, 2005).

Kemampuan klien (personal ability)dengan isolasi sosial dalam


mengatasi masalahnya dapat berupa keterampilan sosial
danpemecahan masalah,motivasi, dan tehnik untuk bertahan terhadap
masalah. Motivasi sebagai kemampuan internal seseorang sangat
dipengaruhi oleh berbagai aspek, misalnya seseorang akan
termotivasi untuk memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi,
sehingga seseorang itu akan melakukan upaya untuk mencapainya,
walaupun berbagai rintangan dihadapi. Keberhasilanyang dicapainya
akan memberikan pengalaman positif untuk menghadapimasalah
dimasa mendatang. Sedangkan keterampilan pemecahan masalah
meliputi kemampuan mencari informasi, identifikasi masalah,

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


45

memilih alternatif, dan melaksanakan tindakan sesuai perencanaan.


Kemampuan yang lain yaitu keterampilan sosial yang dimiliki
individu membantu penyelesaian masalah yang melibatkan orang
lain, meningkatkan kerjasama dan dukungan dari orang lain, dan
memberikan kontrol sosial pada individu.

Klien dengan masalah isolasi sosial biasanya menggunakan


mekanisme pertahanan diri sebagai kemampuan yang dimiliki untuk
mengatasi stressor dengan cara negosiasi, komfrontasi, dan meminta
nasihat. Selain itu kemampuan lainnya yang digunakan berupa
mengabaikan dan mengevaluasi keinginan serta menggunakan
pertahanan ego misalnya denial, supresi, atau proyeksi.

Dukungan sosial (social support) dari keluarga sebagai caregiver,


atau kelompok sosial yang ada dalam masyarakat dapat menjadi
sumber kemampuan klien isolasi sosial dalam menghadapi stresor
yang dihadapi. Kemampuan eksternal ini merupakan modal untuk
menyelesaikan masalah dan dapat membantu klien mengintegrasikan
pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi
koping yang pernah berhasil dipergunakannya. Menurut Friedman
(1998), salah satu fungsi keluarga adalah fungsi perawatan keluarga,
sehingga idealnya keluarga sebagai caregiver harus memiliki
kemampuan seperti kemampuan mengenal masalah, menentukan
masalah dan menyelesaikan masalah, sehingga dapat merawat
anggota keluarga dengan isolasi sosial secara optimal.

Menurut Stuart (2009), bahwa dukungan sosial dari keluarga dapat


berupa pengetahuan tentang penyakit,finansial yang memadai,
ketersediaan waktu dan tenaga, dan kemampuanuntuk memberikan
dukungan secara berkesinambungan (Stuart, 2009). Dukungan sosial

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


46

lainnya dapat berupa komitmen dengan jaringan sosial dan adanya


dukungan dari kelompok sosial yang ada dimasyarakat seperti tokoh
masyarakat (TOMA) dan tokoh agama (TOGA), serta kader
kesehatan juga dapat menjadi suatu kekuatan bagi klien isolasi
sosialuntuk menghadapi masalahnya.

Kemampuan memanfaatkan pelayanan kesehatan dan faktor finansial


(material asset)dapat diartikan sebagai kondisi keuangan,
penghasilan keluarga yang cukup, jaminan pelayanan kesehatan dan
jangkauan terhadap pelayanan kesehatan. Kondisikeuangan yang
adekuat meningkatkan pilihan koping individu untuk menggunakan
pelayanan kesehatan pada tingkatan tertentu, baik itu pelayanan
primer, sekunder atau tersier. Pada klien dengan isolasi sosial pada
umumnya berasal dari keluarga dengan kondisi keuangan yang
kurang, biasanya menggunakan pelayan tersier yaitu pemberian
pelayanan kesehatan dan keperawatan di laksanakan dirumah sakit
jiwa dengan dengan menggunakan program jaminan pelayanan
kesehatan yang ada.

Menurut Townsend (2009), bahwa status ekonomi/faktor finansial


yang adekuatmerupakan sumber kemampuan individu dalam
menghadapi situasi yangpenuh dengan stress. Kondisi sosial ekonomi
rendahberhubungan dengan hidup dalam kemiskinan, tinggal
dipemukiman padat, nutrisi tidak adekuat, tidak ada perawatanpre
natal, dan perasaan putus asa serta tidak berdaya untukmengubah
kondisi hidup dalam kemiskinan.

Kemampuanklien isolasi sosial yang lain dapat membantu dalam


menghadapi stresor adalah sistem nilai dan keyakinan (possitive
belief) yang stabil berupa nilai – nilai spiritual, dan keyakinan positif

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


47

pada diri sendiri, dan dapat dijadikan sebagai dasar untuk


mendukung kemampuan individu dalam menghadapi kenyataan yang
kurang menguntungkan.

Menurut Townsend, (2009), bahwa kemampuan yang dimiliki


individu digunakan untuk menyelesaikanmasalah dapat bersifat
konstruktif dan destruktif. Mekanismekoping bersifat konstruktif jika
individu menganggap stressorsebagai tanda peringatan dan dan
menerimanya sebagaitantangan untuk mengatasi masalahnya,
sebaliknya bersifatdestruktif jika stressor yang dihadapi tidak
diatasi/diselesaikanatau lari dari masalah.

Pada klien denganisolasi sosial, ketika menghadapi stresor


tidakmampu menggunakan berbagai kemampuan yang dimiliki yang
efektif melainkan klien tersebut menggunakan mekanisme yang
destruktif. Mekanisme koping yang digunakan bisa berupa denial,
regresi, proyeksi, identifikasi, dan religiosity yang berakhir dengan
koping maladaptif berupa terjadi episode awal psikosisyang ditandai
dengan adanya perilaku isolasi sosial seperti tidak/jarang
bekomunikasi, menolakberhubungan dengan orang lain, tidak
ada/jarang kontak mata,menjauh dari orang lain, berdiam diri
dikamar, tidak melakukankegiatan sehari-hari, tidak memiliki teman
dekat, tampak sedih danafek tumpul.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka diperlukan upaya untuk


meningkatkan kemampuan klien agar dapat berpikir secara
logis/rasional, dan memiliki keterampilan dalam berhubungan sosial
dengan orang lain. Beberapa upaya penatalaksanaan yang bisa
dilakukan yaitu penatalaksanaan keperawatan dan penatalaksanaan
medis. Untuk penatalaksanaan keperawatan bisa dilakukan dengan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


48

memberikan terapi generalis dan terapi aktifitas kelompok sosialisasi


(TAKS) keperawatan isolasi sosial oleh perawat generalis dengan
pendekatan individu, keluarga, dan kelompok untuk meningkat
kemampuan keterampilan bersosialisasi serta dapat dilanjutkan
dengan pemberian terapi spesialis keperawatan jiwa oleh perawat
spesialis keperawatan jiwauntuk meningkatkan keterampilan
interpersonal dalam menyelesaikan masalah dan meningkatkan
kemampuan berfikir dan bertingkah laku positif dalam setiap
interaksi. Sedangkan penatalalaksanaan medis dilakukan dengan
kolaborasi dengan dokter/psikiater untuk pemberian terapi
psikofarmaka dengan pemberian obat psikotik, terapi psikososial,
psikoterapi, danelectro convulsive therapy (ECT).

2.2.3 Penatalaksanaan Keperawatan Pada Klien Isolasi sosial


Tindakan keperawatan adalah serangkaian tindakan keperawatan
yangditujukan untuk mengatasi masalah atau diagnosa keperawatan.Menurut
Keliat dan Akemat (2005) tindakan keperawatan yangditujukan pada sistem
klien, baik secara individu, keluarga, kelompok,dan masyarakat merupakan
upaya yang menyuluruh dalammenyelesaikan masalah klien.

Menurut Frisch danFrisch (2006), menyatakan bahwa tindakan keperawatan


pada kliendengan isolasi sosial bertujuan untuk melatih klien ketrampilan
sosial sehinggamerasa nyaman dalam situasi sosial dan melakukan interaksi
sosial.Sedangkan menurut Swanson, dkk (2008), menyatakan bahwa
tindakan keperawatan padaklien isolasi sosial bertujuan meningkatkan
ketrampilan interaksisosial, partisipasi/terlibat dalam kegiatan sosial,
mengurangi rasakesendirian, dan menciptakan iklim sosial dalam
keluarga.Tindakan keperawatan diberikan kepada klien sebagai
individu,kelompok, keluarga, maupun komunitas, berupa terapi
standar(generalis) dan terapi psikososial (psikoterapi). Terapi

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


49

generalisditujukan pada klien sebagai individu, keluarga, dan kelompok.


Terapigeneralis yang dapat dilakukan pada kelompok klien adalah
terapiaktivitas kelompok (TAK).

Menurut Townsend (2009) psikoterapibertujuan untuk meningkatkan efek


pengobatan, meningkatkan fungsisosial, dan mencegah kekambuhan.
Menurut Fausiah dan Widury(2005, dalam Jumaini, 2010) dalam pemberian
terapi psikososial perlu dipertimbangkankeuntungan dan kerugian yang akan
diperoleh dari suatu pendekatan(individu, kelompok, keluarga, rehabilitasi
volasional). Padapemberian terapi psikososial sangat penting
mempertimbangkanpendekatan yang digunakan sehingga proses terapi dapat
dilakukansecara efektif dan tujuan tercapai secara optimal.

Menurut Fortinash &Worret (2004); Wheeler (2008) terapipsikososial dapat


dilakukan oleh berbagai disiplin ilmu, sepertipsikiater, psikolog, pekerja
sosial psikiatri, perawat spesialis psikiatri,konsultan spesialis anak dan
keluarga yang semuanya telah menempuhpendidikan level master atau
doktoral. Selain persyaratan jenjangpendidikan, terapis pada psikoterapi juga
mengikuti programpelatihan-pelatihan psikoterapi untuk mendapatkan
lisensi (surat izin).Menurut Wheeler (2008) pendidikan perawat spesialis
kesehatan jiwauntuk dapat menjadi terapis pada terapi psikososial adalah
level masteratau doktor dan tersertifikiasi serta memiliki lisensi.

Berdasarkan hasil Workshop Keperawatan Jiwa (2008),


intervensikeperawatan pada klien isolasi sosial meliputi psikoterapi
secaraindividu yang berupa terapi kognitif, terapi perilaku, dan
terapikognitif-perilaku (Cognitive Behaviour Therapy/CBT);
terapikelompok, seperti terapi Suportif, psikoedukasi kelompok,
danLogotherapy; terapi keluarga, berupa terapi Psikoedukasi Keluarga;dan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


50

terapi komunitas, berupa terapi asertif komunitas (AssertifCommunity


Therapy/ACT).

Untuk meningkatkan kemampaun dan keterampilan sosial pada klien isolasi


sosial dalam mengatasi masalah yang dihadapi, serta meningkatkan peran
serta keluarga dalam memberikan dukungan perawatan pada klien isolasi
sosial, maka diperlukan penatalaksanaan keperawatan yang dapat berupa
tindakan keperawatan generalis dan spesialis keperawatan jiwa untuk klien
dan keluarga.

2.2.3.1 Tindakan Keperawatan Untuk Klien


Penatalaksanaan keperawatan pada klien isolasi sosial dapat berupa
pemberian tindakan terapi generalis, terapai aktifitas kelompok
(TAKS), dan terapi spesialis keperawatan jiwa yaitu :
a. Terapi Generalis
1) Tujuan
a) Klien mampu membina hubungan saling percaya
b) Klien menyadari penyebab isolasi sosial
c) Klien mampu berinteraksi dengan orang lain
2) Tindakan Keperawatan
a) Membina hubungan saling percaya
Cara : mengucapkan salam setiap kali berinteraksi
dengan klien, berkenalan dengan klien, menanyakan
perasaan dan keluhan pada saat ini, membuat kontrak
asuhan tentang apa yang akan dilakukan bersama klien,
berapa lama akan dikerjakan dan tempatnya dimana,
menjelaskan bahwa anda akan merahasiakan informasi
yang diperoleh untuk kepentingan terapi, setiap saat

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


51

tunjukkan sikap empati terhadap pasien dan penuhi


kebutuhan dasar klien bila memungkinkan.
b) Membantu pasien mengenal penyebab isolasi sosial
Cara : Menanyakan pendapat klien tentang kebiasaan
berinteraksi dengan orang lain, menanyakan apa yang
menyebabkan klien tidak ingin berinteraksi dengan orang
lain
c) Membantu klien mengenali keuntungan dari membina
hubungan dengan orang lain
Cara : Mendiskusikan keuntungan bila klien memiliki
banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka
d) Membantu klien mengenali kerugian dari tidak membina
hubungan
Cara : Mendiskusikan kerugian bila klien hanya
mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain,
menjelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan
fisik klien
e) Membantu klien untuk berinteraksi dengan orang lain
secara bertahap
Cara : Beri kesempatan klien mempratikkan cara
berinteraksi dengan orang lain yang dilakukan dihadapan
anda, mulailah bantu klien berinteraksi dengan satu
orang, bila klien sudah menunjukkan kemajuan
tingkatkan jumlah interaksi dengan dua, tiga, empat orang
dan seterusnya, beri pujian untuk setiap kemajuan
interaksi yang telah dilakukan oleh klien dan siap
mendengarkan ekspresi perasaan klien setelah
berinteraksi dengan orang lain.

b. Terapi Aktifitas Kelompok (TAKS: Sosialisasi )

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


52

1) Tujuan
Terapi aktifitas kelompok merupakan aktifitas hubungan
tahapan komunikasi dengan orang lain untuk meningkatkan
kemampuan klien dalam berhubungan sosial
2) Tindakan :
Aktifitas terapi aktifitas kelompok (TAK:Sosialisasi) terbagi
dalam 7 (tujuh) sesi, dengan kegiatan masing-masing yaitu :
a) Klien mampu memperkenalkan diri
b) Klien mampu berhubungan dengan anggota kelompok
c) Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok
d) Klien mampu membicarakan topik pembicaraan
e) Klien mampu menceritakan masalah pribadi pada orang
lain
f) Klien mampu bekerjasama dalam permainan sosialisasi
kelompok
g) Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat
kegiatan TAK sosialisasi

c. Terapi Social Skills Training


1) Terapi social skills training
a) Pengertian
Social skills training merupakan hal penting untuk
meningkatkan kemampuan seseorang berinteraksi dalam
suatu lingkungan. Adanya kemampuan berinteraksi
menjadi kunci untuk memperkaya pengalaman hidup,
memiliki pertemanan, berpartisipasi dalam suatu kegiatan
dan bekerjasama dalam suatu kelompok.

Menurut Cartledge dan Milbun (1995, dalam Chen,


2006), social skills training adalah kemampuan yang

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


53

dapat dipelajari oleh seseorang sehingga memungkinkan


orang tersebut berinteraksi dengan memberikan respon
positif terhadap lingkungan dan mengurangi respon
negatif yang mungkin hadir pada dirinya. Kneisl (2004)
menyatakan bahwa social skills trainingadalah metode
yang didasarkan pada prinsip-prinsip sosial pembelajaran
dan menggunakan teknik perilaku bermain peran, praktik
dan umpan balik untuk meningkatkan kemampuan
menyelesaikan masalah.

Pendapat lain mengatakan bahwa social skills


trainingadalah proses belajardimana seseorang belajar
cara fungsional dalam berinteraksi (Carson, 2000). Social
skills trainingdidasarkan pada keyakinan bahwa
keterampilan dapat dipelajari oleh karena itu dapat
dipelajari bagi seseorang yang tidak memilikinya (Stuart
& Laraia, 2005). Bellack (1983) menyatakan social Skills
Training merupakan salah satu pendekatan
psikoeduaksional untuk memperbaiki kekurangan pada
beberapa kemampuan interpersonal dalam berinteraksi
dengan orang lain.

b) Tujuan
bertujuan untuk meningkatkan keterampilan interpersonal
pada klien dengan gangguan hubungan interpersonal
dengan melatih keterampilan klien yang selalu digunakan
dalam hubungan dengan orang lain dan lingkungan.

c) Indikasi social skills training

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


54

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa social skills


training merupakan salah satu intervensi dengan teknik
modifikasi perilaku yang dapat diberikan pada klien
dengan dengan berbagai gangguan seperti depresi,
skizofrenia, anak yang mengalami gangguan perilaku
kesulitan berinteraksi, klien yang mengalami fobia sosial
dan klien yang mengalami kecemasan. Hal ini
menunjukan adanya hubungan bermakna dari
pelaksanaan social skills training dengan meningkatkan
kemampuan klien dalam berinteraksi dengan orang lain
diawali dengan melihat, mengobservasi, menirukan
tingkah laku dan mempraktekan dalam kehidupan sehari-
hari Bulkeley dan Cramer (1990, dalam Prawitasari,
2002).

Penelitian Juppp dan Griffiths (1990, dalam Prawitasari,


2002) terhadap anak-anak pemalu dan terisolasi sosial
menunjukan bahwa konsep diri anak meningkat dan
berkurangnya kecenderungan melakukan penilaian
negatif terhadap diri dan meningkatnya secara signifikan
kemampuan anak-anak dalam berinteraksi.

Stravinsky (1987, dalam Ramdhani 2002 ) melakukan


penelitian efektifitas social skills training untuk
membantu klien skizofrenia yang menderita disfungsi
sosial. Dilaporkan setelah mengikuti social skills
training terjadi peningkatan kinerja klien, penurunan
perilaku kekerasan dan penurunan tingkat kecemasan.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


55

Social skills training sebagai salah satu teknik


modifikasi perilaku telah banyak dilakukan dan diteliti
pula tingkat keberhasilannya. Efektif digunakan untuk
meningkatkan kemampuan seseorang untuk berinteraksi,
meningkatkan harga diri, meningkatkan kineja dan
menurunkan tingkat kecemasan. Terapi ini dapat
diberikan pada klien; skizofrenia, klien depresi, ansietas
dan fobia sosial yang mengalami masalah isolasi sosial,
harga diri rendah, perilaku kekerasan dan cemas.

d) Tahapan Pelaksanaan Social Skills Training


Social skills training diberikan kepada individu yang
mengalami ketidakmampuan dan penurunan keterampilan
sosial, yaitu; ketidakmampuan berinteraksi dengan orang
lain dan lingkungan dan tidak memiliki keterampilan
sosial meliputi memberikan pujian, mengeluh karena
ketidaksetujuan, menolak permintaan dan ketidak
mampuan bekerjasama dengan orang lain (Michelson,
1985). Cartledge dan Milbun (1995) mengidentifikasi area
keterampilan sosial yang berkontribusi dalam berhubungan
dengan orang lain; 1) Tersenyum dan tertawa bersama;
2) Menyapa orang lain; 3) Bergabung dalam aktivitas yang
sedang berlangsung; 4) Berbagi dan bekerja sama; 5)
Memberikan pujian secara verbal; 6) Melakukan suatu
keterampilan; 6) Melakukan perawatan diri.

Mercer (1997) menyatakan ada tiga kelompok


keterampilan sosial yang perlu diajarkan bagi individu

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


56

yang mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan


orang lain; 1) Kemampuan berkomunikasi, yakni;
kemampuan menggunakan bahasa tubuh yang tepat,
mengucapkan salam, memperkenalkan diri, mendengar
aktif, menjawab pertanyaan, menginterupsi pertanyaan
dengan baik, bertanya untuk klarifikasi; 2) Kemampuan
menjalin persahabatan, yaitu; menjalin pertemanan,
mengucapkan dan menerima ucapan terima kasih,
memberikan dan menerima pujian, terlibat dalam aktifitas
bersama, berinisiatif melakukan kegiatan dengan orang
lain dan memberikan pertolongan; 3) Kemampuan dalam
menghadapi situasi sulit, yakni; memberikan dan
menerima kritik, menerima penolakan, bertahan dalam
tekanan kelompok dan minta maaf. Dapat disimpulkan
pelaksanaan social skills training diilaksanakan dalam area
perilaku untuk meningkatkan interaksi positif dengan
orang lain.

Cartledge dan Milbun (1995) membagi tahapan social


skills training atas:
(1) Instruksi. Klien perlu diberitahukan tujuan dan
maksud dari suatu perilaku dalam menjalin hubungan
interpersonal dengan orang lain sehingga dapat
mengetahui kegunaan dan manfaat dari perilaku
tersebut. Untuk memberikan informasi dapat
digunakan cerita atau film yang kemudian diikuti
dengan diskusi kapan saja perilaku tersebut muncul
dalam keseharian.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


57

(2) Identifikasi komponen perilaku. Keterampilan sosial


merupakan proses yang komplek dan seringkali terdiri
dari beberapa rangkaian perilaku. Identifikasi secara
spesifik keterampilan dari suatu perilaku.
(3) Penyajian model, yakni bagaimana suatu contoh
perilaku dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara dilakukan langsung oleh terapis, buku dan
dengan model .
(4) Menampilkan keterampilan yang sudah dipelajari.
Melatih suatu keterampilan melalui role play secara
terstruktur.
(5) Umpan balik. Hal ini penting dilakukan untuk
memberikan masukan terhadap perilaku yang
dilakukan sehingga dapat diperbaiki. Umpan balik
dilakukan melalui bentuk verbal (instruksi perbaikan
atau pujian) dan evaluasi diri.
(6) Sistem reinforcement, dilakukan sebagai penguatan
(7) Latihan perilaku, bertujuan untuk mempertahan
keterampilan yang telah diajarkan, tetap dilakukan.

Dalam social skills training dilatih kemampuan klien dengan


belajar cara adaptif untuk terlibat dalam hubungan
interpersonal. Perlu mengidentifikasi keterampilan yang akan
dilatih, klien mendapat kesempatan berlatih perilaku baru dan
menerima umpan balik atas keterampilan yang telah
dilakukan.

Stuart dan Laraia (2005) mengatakan ketrampilan dalam


social skills training didapat melalui bimbingan,
demonstrasi, praktek dan umpan balik. Prinsip-prinsip

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


58

tersebut diharapkan dapat dimasukkan dalam implementasi


program social skills trainingyang efektif. Bimbingan dan
demonstrasi digunakan pada tahap awal treatment kemudian
diikuti praktik dan umpan balik. Secara khusus ada 4 (empat)
tahapan yang dapat dikembangkan dalam social skills training
menurut Stuart&Laraia (2005) yaitu; 1) Menggambarkan
perilaku baru untuk dipelajari dengan cara memberikan
bimbingan kepada klien yang mengalami gangguan hubungan
interpersonal; 2) Mempelajari perilaku baru dengan
menggunakan bimbingan dan demonstrasi; 3)
Mempraktekkan perilaku baru dengan memberikan umpan
balik; 4) Memindahkan perilaku baru dalam lingkungan.

Tipe perilaku yang diajarkan dalam social skills


trainingmeliputi menjawab pertanyaan, memberikan pujian,
membuat perubahan positif, berbicara secara jelas, mencegah
kegelisahan dan kritik terhadap diri sendiri. Social skills
training digunakan pada klien yang kehilangan ketrampilan
sosial, bersikap asertif dan kontrol emosi sebagaimana
seseorang yang menunjukkan perilaku anti sosial. Waltz
(1999), mengemukakan kemampuan yang diberikan dalam
social skills training adalah;1)Kemampuan melakukan kontak
mata; 2) Memperagakan sikap tubuh yang baik dalam
berinteraksi; 3) Kemampuan berempati terhadap orang lain;
4) Ketersediaan menerima dan memberikan pujian;5)
Kemampuan untuk berbagi dengan orang lain; 6) kemampuan
menunjukan ekspresi wajah dan gerak tubuh yang tepat; 7)
Mempelajari teknik bicara untuk mengawali dan mengakhiri
pembicaraan; 8) Melakukan aturan dalam melaksanakan
aktifitas bersama dengan orang lain; 9) Mempelajari etika

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


59

yang diperlukan, misalnya etika ketika makan, berbicara


dengan orang lain, duduk dan cara berpakaian; 10)
Berinteraksi dengan pihak berwenang, misalnya dokter,
perawat dan administrasi.

Bulkeley dan Cramer (1990) mengemukakan beberapa teknik


yang digunakan dalam social skills training, yakni; 1)
Modelling, dilakukan dengan cara memperlihatkan contoh
tentang keterampilan perilaku spesifik yang dapat dipelajari
oleh klien. Model ini dapat dilakukan langsung oleh terapis
atau pemeran, model melalui video atau gabungan terapis
dengan model di video. Keterampilan yang diajarkan bisa
keterampilan memperkenalkan diri, memulai pembicaraan,
melakukan pembicaraan mengakhiri pembicaraan atau
aplikasi keterampilan untuk menghadapi masalah dalam
kehidupan nyata; 2) Bermain peran, dilakukan dengan cara
mendengarkan petunjuk yang disampaikan oleh terapis atau
model. Dilanjutkan dengan diskusi mengenai aktifitas yang
diperankan. Latihan verbalisasi diperlukan melalui diskusi
dengan menanyakan kepada klien apa yang akan dilakukan
apabila berada pada situasi seperti yang diperankan. Setelah
diskusi selesai latihan bermain peran dapat dilanjutkan; 3)
Umpan balik terhadap kinerja yang tepat, dilakukan dengan
cara memberikan penghargaan/pujian terhadap klien yang
menunjukan kemampuan yang tepat, klien dapat melakukan
peran yang dilatihkan atau klien yang dapat mengemukakan
target perilaku yang ingin dilakukan.

Menurut Chen (2006); Stuart dan Laraia (2005); Kingsep dan


Nathan (2004); Bulkeley dan Cramer (1990), pelaksanaan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


60

social skills training dapat dilakukan secara individu atau


kelompok. Ada beberapa keuntungan apabila dilakukan secara
kelompok, yaitu; penghematan tenaga, waktu dan biaya. Bagi
klien yang mengalami ketidakmampuan berinteraksi, social
skills training merupakan miniatur masyarakat sesungguhnya,
masing-masing anggota mendapatkan kesempatan melakukan
praktek dalam kelompok sehingga mereka melakukan
perilaku sesuai contoh dan merasakan emosi yang menyertai
perilaku. Masing-masing anggota kelompok saling memberi
umpan balik, pujian, dan dorongan.

Untuk pelaksanaan social skills training dalam kelompok ada


beberapa syarat yang harus dipenuhi. Besar kelompok tidak
lebih dari 12 orang (Michelson, 1985). Kelompok terlalu
besar akan membawa akibat negatif, karena masing-masing
anggota kelompok memiliki kesempatan berlatih sedikit.

Pelaksanaan social skills training yang dilakukan secara


individual tidak memerlukan seting tempat khusus, menjaga
timbulnya rasa rendah diri bagi peserta yang kemampuannya
lebih rendah, lebih mudah mengarahkan klien dalam teknik
social skills training, memudahkan terapis memberikan
contoh perilaku yang akan dijadikan contoh dan memudahkan
mengevaluasi kemampuan yang telah dicapai oleh klien.

Social skills training dilakukan 1-2 jam perhari dalam 10-12


kali pertemuan untuk klien yang mengalami defisit
keterampilan sosial dan penurunan kemampuan berinteraksi.
Untuk klien yang hanya ingin meningkatkan keterampilan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


61

sosial atau ingin menambah pengalaman dapat dilaksanakan


1-2 hari saja ( Prawitasari, 2002).
Menurut Ramdhani (2002, dalam Renidayati, 2008),
pelaksanaan social skills training dilaksanakan melalui 4
(empat) tahap, yaitu; 1) Modelling, yaitu tahap penyajian
model dalam melakukan suatu keterampilan yang dilakukan
oleh terapis; 2) Role play, yaitu tahap bermain peran dimana
klien mendapat kesempatan untuk memerankan kemampuan
yang telah dilakukan oleh terapis sebelumnya; 3)
Performance feedback, yaitu tahap pemberian umpan balik.
Umpan balik harus diberikan segera setelah klien mencoba
memerankan seberapa baik menjalankan latihan; 4) Transfer
training, yakni tahap pemindahan keterampilan yang
diperoleh klien kedalam praktek sehari-hari.

Kinsep dan Nathan (2004, dalam Renidayati, 2008)


mengemukakan pelaksanaan social skills training diawali
dengan; 1) Instruksi, terapis memberikan gambaran mengenai
pelaksanaan social skills training sehingga klien memperoleh
pengetahuan terhadap akitifitas dalam social skills training
dan termotivasi untuk melaksanakannya; 2) Rasional, terapis
melakukan diskusi tentang alasan klien melakukan social
skills training dan mengamati bagaimana respon klien
terhadap pelaksanaan terapi; 3) Discuss components, terapis
memjelaskan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam
pelaksanaan social skills training dan memastikan klien
paham terhadap apa yang disampaikan; 4) Role play, terapis
melakukansalah satu keterampilan sosial yang sering ditemui
dalam berinteraksi; 5) Review, terapis mendiskusikan dengan
klien tentang peran yang dilakukan oleh terapis/model; 6)

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


62

Umpan balik positif, terapis memberikan dukungan terhadap


keberhasilan yang didapatkan klien dan motivasi klien untuk
menghilangkan pikiran negatif yang muncul; 7) Terapis
memberikan umpan balik dengan cara yang baik, tidak
bermaksud menyudutkan klien atau menolak klien, tetapi
lebih mengarahkan klien ke perilaku yang lebih baik; 8)
Ulangi latihan lebih lanjut, terapi minta klien untuk
melakukan peran yang lebih baik sesuai dengan yang
dilakukan pada waktu terapis melakukan role play; 9)
Terapis dan klien harus jujur, mainkan 2 (dua) sampai 4
(empat) peran dalam role model dengan umpan balik setiap
satu peran dilakukan klien; 10) Terapis meminta klien
mengaplikasikan keterampilan sosial dalam kehidupan sehari-
hari, hal ini dianggap sebagai pekerjaan rumah bagi klien.
Social skills training sesi 1 (satu) akan melatih kemampuan
klien berkomunikasi yaitu; menggunakan bahasa tubuh yang
tepat, mengucapkan salam, memperkenalkan diri, menjawab
pertanyaan dan bertanya untuk klarifikasi; Sesi 2 (kedua) akan
melatih kemampuan klien menjalin persahabatan yakni;
kemampuan memberikan pujian, meminta dan memberikan
pertolongan kepada orang lain; Sesi3 (ketiga) melatih
kemampuan klien untuk terlibat dalam aktifitas bersama
dengan klien lain diruangan; Sesi 4 (keempat) melatih
kemampuan klien menghadapi situasi sulit yakni; menerima
kritik, menerima penolakan, minta maaf; Sesi 5 (lima)
evaluasi social skills training.

Setiap sesi dari social skills training menggunakan 4 (empat)


metode yakni; 1) modeling oleh terapis atau model; 2) role
play yang dilakukan oleh klien; 3) Feed back terkait perilaku

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


63

yang telah dilakukan klien; 4) Transfer training meliputi


pemberian rencana tindak lanjut/pekerjaan rumah dengan
tujuan untuk memberikan kesempatan kepada klien
mempraktikkan perilaku yang telah dilaksanakan pada sesi
sebelumnya pada klien lain diruangan dan perawat.

Berikut ini disimpulkan teknik pelaksanaan social skills


training yang akan dilakukan pada penelitian ini berdasarkan
masing-masing sesi, yaitu:
Sesi 1:Melatih kemampuan klien berkomunikasi:
(a) Terapis mendiskusikan dengan klien tentang kemampuan
yang telah dilakukan dalam berkomunikasi meliputi:
menggunakan bahasa tubuh yang tepat, mengucapkan
salam, memperkenalkan diri, menjawab pertanyaan dan
bertanya untuk klarifikasi.
(b) Memberikan pujian atas keterampilan yang telah
dilakukan klien.
(c) Melatih kemampuan klien menggunakan bahasa tubuh
yang baik dalam berkomunikasi dengan menggunakan
metode:Terapis memodelkan/mendemonstrasikan bahasa
tubuh yang baik dalam berkomunikasi ( kontak mata,
duduk tegak, tersenyum), klien melakukan
kembali/redemonstrasikan bahasa tubuh yang baik dalam
berkomunikasi, Terapis memberikan unpan balik terhadap
kemampuan yang telah dilakukan klien, klien
mempraktekan kembali sikap tubuh yang baik dalam
berkomunikasi kepada klien lain atau perawat diruangan.
(d) Melatih kemampuan klien mengucapkan salam (selamat
pagi, siang, malam, Assalamualaikum ) dengan
menggunakanmetode: terapis

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


64

memodelkan/mendemonstrasikan cara mengucapkan


salam, klien melakukan kembali/ redemonstrasikan cara
mengucapkan salam, terapis memberikan unpan balik
terhadap kemampuan yang telah dilakukan klien, klien
mempraktekan kembali cara mengucapkan salam kepada
klien lain atau perawat diruangan.
(e) Melatih kemampuan klien memperkenalkan diri
(memperkenalkan nama lengkap, nama panggilan, asal,
hobi, dan lama sakit) dengan menggunakan metode;
terapis memodelkan/mendemonstrasikan cara
memperkenalkan diri, klien melakukan
kembali/redemonstrasikan cara menperkenalkan diri
kepada terapis, terapis memberikan unpan balik terhadap
kemampuan yang telah dilakukan klien, klien
mempraktekan kembali cara memperkenalkan diri kepada
klien lain atau perawat diruangan yang belum dikenal
klien.
(f) Melatih kemampuan klien menjawab pertanyaan terkait
dengan kegiatan sehari-hari yang dilakukan klien dirumah
atau dirumah sakit dengan menggunakan metode; terapis
memodelkan/mendemonstrasikan cara menjawab
pertanyaan, klien melakukan kembali/redemonstrasikan
cara menjawab pertanyaan, terapis memberikan unpan
balik terhadap kemampuan yang telah dilakukan klien,
klien mempraktekan kembali cara menjawbab pertanyaan
kepada klien lain atau perawat diruangan.
(g) Melatih kemampuan klien untuk klarifikasi dengan
menggunakanmetode; terapis
memodelkan/mendemonstrasikan cara klarifikasi, klien
melakukan kembali/ redemonstrasikan cara klarifikasi,

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


65

Terapis memberikan unpan balik terhadap kemampuan


yang telah dilakukan klien, klien mempraktekan kembali
cara klarifikasi.kepada klien lain atau perawat diruangan.
(h) Terapis memberikan pujian atas komitmen dan semangat
klien.

Sesi 2: Melatih kemampuan klien menjalin persahabatan


meliputi:
(a) Terapis mendiskusikan dengan klien tentang
kemampuan yang telah dilakukan dalam menjalin
persahabatan meliputi: memberi pujian, meminta dan
memberikan pertolongan kepada orang lain.

(b) Memberikan pujian atas keterampilan yang telah


dilakukan klien.
(c) Melatih kemampuan klien cara memberikan pujian
dengan menggunakan metode: terapis
memodelkan/mendemonstrasikan cara memberikan
pujian, klien melakukan kembali/ redemonstrasikan cara
memberikan pujian, terapis memberikan unpan balik
terhadap kemampuan yang telah dilakukan klien, klien
mempraktekan kembali cara memberikan pujian kepada
klien lain atau perawat diruangan.
(d) Melatih kemampuan klien cara minta pertolongan
dengan menggunakan metode: terapis
memodelkan/mendemonstrasikan cara minta
pertolongan, klien melakukan kembali/ redemonstrasikan
cara minta pertolongan, terapis memberikan unpan balik
terhadap kemampuan yang telah dilakukan klien, klien
mempraktekan kembali cara minta pertolongan kepada
klien lain atau perawat diruangan.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


66

(e) Melatih kemampuan klien cara memberi pertolongan


dengan metode; terapis memodelkan/mendemonstrasikan
cara memberi pertolongan, klien melakukan kembali/
redemonstrasikan cara memberi pertolongan, terapis
memberikan unpan balik terhadap kemampuan yang telah
dilakukan klien, klien mempraktekan kembali cara
memberi pertolongan kepada klien lain atau perawat
diruangan.
(f) Terapis memberikan pujian atas komitmen dan semangat
klien.

Sesi 3:Melatih kemampuan klien untuk terlibat dalam


aktifitas bersama dengan klien lain diruangan.
(a) Melatih kemampuan klien dalam suatu aktifitas bersama
dalam bentuk suatu permainan dengan metode: terapis
memodelkan/mendemonstrasikan cara melakukan
permainan batu domino dengan langkah-langkah
permainan sebagai berikut;Terapis membagi klien
untuk setiap kelompok 4 orang atau berpasangan (2orang
- 2 orang), terapis meminta klien membagi habis batu
domino masing-masing mendapatkan 7 (tujuh) batu,
terapis meminta klien yang memiliki batu kosong-kosong
(tampa titik dalam batu) menurunkan batunya terlebih
dahulu, lawan main klien diminta menurunkan batu yang
sama diturunkan oleh lawan main, klien diminta
memikirkan bagaimana supaya lawan main tidak
memiliki batu yang sama dengannya, pasangan
berikutnya berusaha menurunkan lagi batu yang dimiliki

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


67

dengan syarat jumlah titik-titik pada mata batu salah


satunya sama.

(b) Begitu seterusnya sampai tidak ada lagi lawan main


mempunyai titik-titik mata batu yang sama dengan klien.
(c) Klien dan pasangannya dinyatakan menang dalam
permainan apabila ketujuh batu domino yang dimiliki
habis terlebih dahulu.
(d) Diakhir permainan pasangan yang batunya habis terlebih
dahulu, diminta menghitung berapa banyak titik-titik
yang ada pada batu domino lawan mainnya. Jumlah ini
dihitung dan dicatat pada selembar kertas dan dinyatakan
serbagai poin bagi pasangan yang terlebih dahulu batunya
habis, nilai yang dikumpulkan paling tinggi dari 2 (dua)
pasangan dinyakan menang, diakhir permainan berikan
pujian untuk setiap kemenangan pasangan dengan
memberi tepuk tangan, permainan diakhiri dengan saling
berjabat tangan, klien melakukan kembali/
redemonstrasikan permainan batu domino, terapis
memberikan unpan balik terhadap kemampuan yang telah
dilakukan klien dan jelaskan apa makna yang dapat
diambil dari permainan batu domino.
(e) Klien mempraktekan kembali permainan batu domino
kepada klien lain diruangan.
(f) Terapis memberikan pujian atas komitmen dan semangat
klien.

Sesi 4:Melatih kemampuan klien menghadapi situasi


sulit meliputi: menerima kritik , menerima
penolakan dan minta maaf.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


68

(a) Terapis mendiskusikan dengan klien tentang


kemampuan yang telah dilakukan dalam menghadapi
situasi sulit meliputi; menerima kritik, menerima
penolakan dari orang lain dan minta maaf.
(b) Memberikan pujian atas keterampilan yang telah
dilakukan klien.
(c) Melatih kemampuan klien menerima kritik dengan
menggunakan metode:terapis
memodelkan/mendemonstrasikan cara menerima kritik,
klien melakukan kembali/ redemonstrasikan cara
menerima kritik, terapis memberikan unpan balik
terhadap kemampuan yang telah dilakukan klien, klien
mempraktekan kembali cara menerima kritik.kepada
klien lain atau perawat diruangan.
(d) Melatih kemampuan klien menerima penolakan dari
orang lain dengan menggunakan metode : terapis
memodelkan/mendemonstrasikan cara menerima
penolakan dari orang lain, klien melakukan kembali/
redemonstrasikan cara menerima penolakan dari orang
lain, terapis memberikan unpan balik terhadap
kemampuan yang telah dilakukan klien, klien
mempraktekan kembali cara menerima penolakan dari
orang lain kepada klien lain atau perawat diruangan.
(e) Melatih kemampuan klien cara minta maaf dengan
menggunakan metode; terapis
memodelkan/mendemonstrasikan cara minta maaf, klien
melakukan kembali/ redemonstrasikan cara minta maaf,
terapis memberikan unpan balik terhadap kemampuan
yang telah dilakukan klien, klien mempraktekan kembali

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


69

cara minta maaf kepada klien lain atau perawat


diruangan.
(f) Terapis memberikan pujian atas komitmen dan semangat
klien.

Sesi 5:Evaluasi social skills training


(a) Terapis minta klien menyampaikan manfaat apa yang
didapatkan klien dalam latihan kemampuan komunikasi
yakni; sikap tubuh yang baik, cara mengucapkan salam,
memperkenalkan diri, menjawab pertanyaan dan bertanya
untuk klarifikasi.
(b) Memberikan pujian atas keberhasilan klien
menyampaikan pendapatnya terkait manfaat yang
didapatkan klien dalam latihan kemampuan komunikasi
yang telah dilaksanakan.
(c) Terapis minta klien menyampaikan manfaat apa yang
didapatkan klien dalam latihan menjalin persahabatan
yakni; cara memberikan pujian, meminta dan
memberikan pertolongan kepada orang lain.
(d) Memberikan pujian atas keberhasilan klien
menyampaikan pendapatnya terkait manfaat yang
didapatkan klien dalam latihan kemampuan menjalin
persahabatan yakni; memberikan pujian, menerima dan
memberikan pertolongan kepada orang lain yang telah
dilaksanakan.
(e) Terapis minta klien menyampaikan manfaat apa yang
didapatkan klien dalam kemampuan aktifitas bersama
dalam bentuk permainan.
(f) Memberikan pujian atas keberhasilan klien
menyampaikan pendapatnya terkait manfaat yang

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


70

didapatkan klien dalam aktifitas bersama saat melakukan


suatu permainan yang telah dilaksanakan.
(g) Terapis minta klien menyampaikan manfaat apa yang
didapatkan klien dalam berlatih kemampuan menghadapi
situasi sulit.
(h) Memberikan pujian atas keberhasilan klien
menyampaikan pendapatnya terkait manfaat yang
didapatkan klien dalam berlatih kemampuan menghadapi
situasi sulit.

Terapi tidak berakhir pada sesi 5 (lima) saja dan setiap sesi
memungkinkan dilakukan lebih dari satu kali pertemuan
tergantung dari kemampuan klien dalam melaksanakan terapi.
d. Terapi cognitive behavior therapay
a) Pengertian
Cognitive Behavior Therapy (CBT) merupakan salah satu
bentuk psikoterapi yang didasarkan pada teori bahwa tanda
dan gejala fisiologis berhubungan dengan interaksi antara
pikiran, perilaku dan emosi (Pedneault, 2008). Sedangkan
menurut Epigee (2009) menjelaskan bahwa CBT merupakan
terapi yang didasari dari gabungan beberapa intervensi yang
dirancang untuk merubah cara berpikir dan memahami situasi
dan perilaku sehingga mengurangi frekuensi reaksi negatif
dan emosi yang mengganggu. Definisi lain menyebutkan
bahwa Cognitive Behavior Therapy merupakan psikoterapi
jangka pendek yang menjadi dasar bagaimana seseorang
berfikir dan bertingkah laku positif dalam setiap interaksi,
berfokus pada masalah, berorientasi pada tujuan dan
kesuksesan dengan masalah disini dan sekarang (FIK-UI,
2009).

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


71

b) Tujuan
Untuk memodifikasi fungsi berfikir, perasaan, bertindak,
dengan menekankan fungsi otak dalam menganalis,
memutuskan, bertanya, berbuat dan mengambil keputusan
kembali. Dengan merubah status pikiran dan perasaannya,
klien diharapkan dapat merubah perilaku negatif menjadi
positif (Oemarjoedi, 2003)

c) Indikasi cognitive behavior therapy


Cognitive Behavior Therapy diberikan kepada individu
dengan indikasi gangguan klinis khusus seperti : depresi,
ansietas, panik, agoraphobia, sosial phobia, bulemia,
obsessive compulsive disorder, PTSD, psikosis, marah,
distress HIV, masalah keluarga, kelainan fungsi seksual,
kerusakan personality (Royal College of Psychiatric, 2005 &
FIK-UI, 2009)

d) Peran Terapis
1) Membantu klien mengungkapkan perasaan, pikiran
otomatis yang negatif tentang diri sendiri yang timbul
akibat pengalaman traumatis (assessment) dan mengenali
pikiran negatif dan perilaku maladaptif yang dialami.
2) Membantu klien belajar cara untuk mengatasi pikiran
negatif dan perilaku maladaptif yang muncul setelah
mengalami kejadian traumatis.
3) Membantu klien menyusun rencana tindakan yang akan
dilakukan dalam merubah perilaku negatif.
4) Menyepakati dengan klien konsekuensi positif dan
konsekuensi negatif terhadap perilaku yang ditampilkan.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


72

5) Memberikan feed back pada klien atau hasil kemajuan


dan perkembangan terapi.
6) Mendiskusikan dengan klien tentang kemajuan dan
perkembangan terapi.
7) Membentu klien untuk tetap menerapkan konsekuensi
positif dan konsekuensi negatif terhadap perilaku yang
ditampilkan.
8) Mengevaluasi pelaksanaan tindakan terhadap perilaku
dengan konsekuensi yang telah disepakati.
9) Membuat komitmen dengan klien untuk melakukan
metode untuk mengubah pikiran jadi positif dan perilaku
jadi adaptif secara mandiri dan bekesinambungan yaitu
klien sendiri yang membantu dirinya untuk mencegah
kekambuhan jika klien mengalami kembali peristiwa
traumatis.
10) Membuat komitmen dengan klien untuk secara aktif
melakukan pikiran, perasaan dan perilaku positif dalam
setiap masalah yang dihadapi.

e) Tahapan Pelaksanaan cognitive behavior therapy


Pada proses pelaksanaan CBT ini meliputi proses dimulai dari
persiapan yang dibutuhkan untuk terapi, yaitu kriteria terapi,
lalu bagaimana proses terapi berlangsung, dimulai dari
persiapan, pelaksanaan setiap sesinya, dan sampai pada
evaluasi. Terakhir adalah peran terapis juga harus dijelaskan.
1) Persiapan.
(a) Melakukan seleksi pasien.
(b) Membuat kontrak, terapi dilaksanakan dalam 5 sesi,
dimana masing-masing sesi dilakukan 2 kali.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


73

2) Pelaksanaan
(a)Sesi 1 : Pengkajian
Mengungkapkan pikiran otomatis negatif tentang diri
sendiri, perasaan dan perilaku negatif yang dialami
klien yang berkaitan dengan stressor yaitu
pengalaman traumatis yang dialami, mengidentifikasi
hal positif yang dimiliki, serta latihan satu pikiran
otomatis negatif.
(b)Sesi 2 : Terapi Kognitif
Merevieu latihan pikiran otomatis yang negatif yang
pertama yang sudah dilatih sebelumnya dan melatih
untuk mengatasi pikiran otomatis negatif yang kedua.

(c)Sesi 3 : Terapi Perilaku


Mengevaluasi pikiran otomatis negatif yang masih
ada, mengidentifikasi perilaku positif yang dimiliki,
mengidentifikasi perilaku positif yang baru,
menyusun rencana perilaku yang ditampilkan untuk
mengubah perilaku negatif yang timbul akibat
stressor kejadian traumatis dengan memberikan
konsekwensi positif atau konsekwensi negatif jika
perilaku dilakukan atau tidak dilakukan
(d)Sesi 4 : Evaluasi Terapi kognitif dan perilaku
Mengevaluasi kemajuan danperkembangan terapi,
merivieu pikiran otomatis negatif dan perilaku
negatif, memfokuskan terapi, dan mengevaluasi
perilaku yangdipelajari berdasarkan konsekwensi
yang disepakati
(e)Sesi 5 : Mencegah Kekambuhan Menjelaskan
pentingnya psikofarmaka dan terapi modalitas

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


74

lainnya disamping CBT untuk mencegah


kekambuhan dan mempertahankan dan
membudayakan pikiran positif dan perilaku positif
secara mandiri dan berkesinambungan dalam
mengatasi masalah
(f) Evaluasi dan komunikasi
(1) Melakukan evaluasi terhadap tahapan pelaksanaan
cognitive behaviour therapy
(2) Melakukan pendokumentasian terhadap proses
dan hasil terapi yang dilakukan.

2.2.3.2 Tindakan Keperawatan Untuk Keluarga


Penatalaksanaan keperawatan pada keluarga dengan isolasi sosial
dapat berupa pemberian tindakan terapi generalis dan terapi spesialis
keperawatan jiwa yaitu :
a. Terapi Generalis :
1) Tujuan
Keluarga mampu merawat klien isolasi sosial
2) Tindakan
a) Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam
merawat klien
b) Menjelaskan tentang : masalah isolasi sosial dan
dampaknya pada klien, penyebab isolasi sosial, dan
menjelaskan cara-cara merawat klien isolasi sosial
c) Memperagakan cara merawat klien isolasi sosial
d) Membantu keluarga mempratikkan cara merawat yang
telah dipelajari
e) Menjelaskan perawatam lanjutan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


75

b. Terapi Family Psychoeducation


1) Definisi
Konsep psikoedukasi pertama kali dikembangkan oleh
Mottaghipour dan Bickherton, seorang ahli kesehatan jiwa
dewasa, bekerjasama dengan Australia National Standarts for
Mental Health Services, berupa kerangka kebutuhan
palayanan keluarga dengan anggota keluarga yang menglami
ganggua mental, yang di kenal dengan Pyramid of Family
Care. Piramid ini dikembangkan berdasarkan hirarki
kebutuhan Maslow, yang terbagi menjadi 5 tingkatan sebagai
berikut; tingkat dasar adalah connection and assesment,
tingkat kedua general education, tingkat ketiga
psikoeducation, tingkat keempat consultation dan tingkat
teratas adalah family therapi.

Family Psychoeducation therapy adalah salah satu elemen


program perawatan kesehatan jiwa keluarga dengan cara
pemberian informasi dan edukasi melalui komunikasi yang
terapeutik. Program psikoedukasi merupakan pendekatan
yang bersifat edukasi dan pragmatik (Stuart & Laraia, 2005 ).
Psikoedukasi keluarga merupakan sebuah metode yang
berdasarkan pada penemuan klinik terhadap pelatihan
keluarga yang bekerjasama dengan tenaga keperawatan jiwa
profesional sebagai bagian dari keseluruhan intervensi klinik
untuk anggota keluarga yang mengalami gangguan. Terapi ini
menunjukkan adanya peningkatan outcomes pada klien
dengan schizofrenia dan gangguan jiwa berat lainnya
(Anderson, 1983 dalam Levine, 2002).

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


76

Sedangkan menurut Carson (2000), psikoedukasi merupakan


alat terapi keluarga yang makin popular sebagai suatu strategi
untuk menurunkan faktor-faktor resiko yang berhubungan
dengan perkembangan gejala-gejala perilaku. Jadi pada
prinsipnya psikoedukasi dapat membantu anggota keluarga
dalam meningkatkan pengetahuan tentang penyakit melalui
pemberian informasi dan edukasi yang dapat mendukung
pengobatan dan rehabilitasi pasien dan meningkatkan
dukungan bagi anggota keluarga itu sendiri.

2) Tujuan
Tujuan utama psikoedukasi keluarga adalah untuk berbagi
informasi tentang perawatan klien dengan gangguan jiwa
pada anggotanya (Varcarolis, 2006). Sedangkan menurut
Levine (2002), Stuart & Laraia, (2005) tujuan psikoedukasi
keluarga adalah untuk mengurangi kekambuhan klien
gangguan jiwa, meningkatkan fungsi klien dan keluarga
sehingga mempermudah klien kembali ke lingkungan
keluarga dan masyarakat dengan memberikan penghargaan
terhadap fungsi sosial dan okupasi klien gangguan jiwa.
Tujuan lain dari program ini adalah untuk memberi dukungan
terhadap anggota keluarga yang lain dalam mengurangi beban
keluarga terutama beban fisik dan mental dalam merawat
klien gangguan jiwa untuk waktu yang lama.

3) Indikasi Terapi Family Psychoeducation


Indikasi dari terapi psikoedukasi keluarga adalah anggota
keluarga dengan aspek psikososial dan gangguan jiwa.
Menurut Carson (2000), situasi yang tepat dari penerapan
psikoedukasi keluarga adalah:

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


77

a) Informasi dan latihan tentang area khusus kehidupan


keluarga, seperti latihan keterampilan komunikasi atau
latihan menjadi orang tua yang efektif.
b) Informasi dan dukungan terhadap kelompok keluarga
khusus stress dan krisis, seperti pada kelompok
pendukung keluarga dengan penyakit Alzheimer
c) Pencegahan dan peningkatan seperti konseling pranikah
untuk keluarga sebelum terjadinya krisis
Terapi ini juga dapat diberikan kepada keluarga yang
membutuhkan pembelajaran tentang mental, keluarga
yang mempunyai anggota yang sakit mental/ mengalami
masalah kesehatan dan keluarga yang ingin
mempertahankan kesehatan mentalnya dengan training/
latihan ketrampilan.Psikoedukasi juga berfokus pada
pendidikan pada individu dengan masalah emosional agar
mampu mengembangkan mekanisme koping yang positif.
Intervensi ini sangat sesuai untuk individu, kelompok,
keluarga dan komunitas yang didasarkan pada proses
untuk mengkaji, pengaturan tujuan, pengemabagan
aktivitas pembelajarna dan evaluasi untuk merubah
pengetahuan dan perilaku individu tersebut.

4) Tahapan Pelaksanaan Terapi Family Psychoeducation


Meski tidak ada satupun program bisa menjelaskan struktur
umum yang dapat memodifikasi kebutuhan pertemuan
individu keluarga, tetapi yang paling penting dari program
Family Psyhcoeducation adalah bertemu keluarga
berdasarkan pada kebutuhan, dan keluarga mendapat
kesempatan untuk bertanya, bertukar pandangan dan
bersosialisasi dengan anggota yang lain dan tenaga kesehatan.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


78

Berdasarkan uraian tujuan khusus yang akan dicapai kelompok,


pencapaian terapi Family Psyhcoeducation dapat dilakukan
dalam 5 (lima) sesi :
Sesi 1 : Identifikasi Masalah Keluarga
a) Menanyakan tentang apa yang dirasakan keluarga selama ini
terkait dengan gangguan jiwa yang dialami salah satu
anggota keluarga.
(1) Masalah pribadi yang dirasakan anggota keluarga
sendiri.
(2) Masalah dalam merawat anggota keluarga yang
mengalami gangguan jiwa.
(3) Keluarga menuliskan masalahnya pada buku kerja
keluarga.
(4) Terapis menuliskan pada buku kerja sendiri.
b) Menanyakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam
keluarga dengan adanya salah satu anggota keluarga yang
menderita gangguan jiwa.
(1) Setiapanggota keluarga diberi kesempatan untuk
menyampaikan perubahan-perubahan yang dialami
dalam keluarga.
c) Menggali penyebab keluarga melakukan terhadap anggota
keluarga yang menderita gangguan jiwa.
d) Menanyakan keinginan dan harapan keluarga selama
mengikuti psikoedukasi keluarga.
e) Memberikan kesempatan keluarga untuk mengajukan
pertanyaan terkait dengan hasil diskusi yang sudah
dilakukan.

Sesi 2 : Cara Perawatan Klien Gangguan Jiwa

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


79

a) Mendiskusikan tentang gangguan jiwa yang dialami oleh salah


satu anggota keluarga (khususnya klien , misalnya : perilaku
kekerasan, halusinasi).
(1) Anggota keluarga menyampaikan pengalamannya selama
ini
(2) Memberi kesempatan anggota keluarga lain untuk
memberi pendapat
b) Menyampaikan tentang konsep gangguan jiwa meliputi
pengertian, penyebab, tanda, prognosis, intervensi dan terapi.
(1) Anggota keluarga menyampaikan pengalaman mereka
(2) Memberi kesempatan kepada keluarga untuk bertanya
c) Mendiskusikan cara merawat klien dengan gangguan jiwa
yang selama ini dilakukan oleh keluarga.
d) Mendemonstrasikan cara merawat klien dengan gangguan
jiwa misalnya klien dengan halusinasi atau perilaku kekerasan
( sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh klien).
(1) Meminta keluarga untuk mendemonstrasikan kembali
salah satu cara merawat klien dengan gangguan jiwa
misalnya halusinasi.
(2) Memberi masukan terhadap hal–hal yang perlu
ditingkatkan oleh keluarga.
(3) Memberi kesempatan anggota keluarga lain untuk
memperagakan cara merawat klien dengan gangguan jiwa
di rumah.

Sesi 3: Manajemen Stres Keluarga


a) Menanyakan pada anggota keluargaterkait stres yang mereka
alami dengan adanya klien gangguan jiwa .
(1) Anggota keluarga menyampaikan pengalaman mereka
(2) Memberikan pujian/penghargaan atas kemampuan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


80

anggota keluarga menyampaikan pendapat/perasaannya.


(3) Menjelaskan tentang stres yang dialami keluarga akibat
salah satu anggota mengalami gangguan jiwa dengan
menggunakan leaflet.
(4) Meminta anggota keluarga mengidentifikasi tanda dan
gejala serta cara mengurangi stres sesuai dengan
penjelasan terapis.
(5) Mendemontrasikan cara mengurangi stres : relaksasi
nafas dalam, teknik lima jari, relaksasi progresif, thought
stopping, affirmasi dll.
(6) Meminta anggota keluarga untuk mendemontrasikan
kembali cara mengurangi stres yang telah diajarkan
sesuai dengan masalah yang dialami.
Sesi 4: Manajemen Beban Keluarga
a)Menanyakan anggota keluarga tentang adanya beban yang
dirasakan keluarga akibat adanya anggota keluarga yang
mengalami gangguan jiwa( materi, emosional dan social).

(1) Anggota keluarga menyampaikan pengalaman mereka.


(2) Memberikan kesempatan anggota keluarga lain untuk
memberi tanggapan.
(3) Memberikan pujian dan penghargaan atas kemampuan
anggota keluarga menyampaikan pendapat/perasaannya.
b) Menanyakan pendapat anggota keluarga tentang cara
mengatasi beban yang sudah dilakukan dengan adanya
anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa.
c) Menjelaskan tanda dan jenis beban yang dialami serta cara
mengatasi beban yang dialami keluarga karena adanya
anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa dengan
menggunakan leaflet.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


81

d) Meminta anggota keluarga untuk mengulangi menyebutkan


tanda-tanda dan cara mengatasi beban yang dirasakan
keluarga akibat adanya anggota keluarga yang mengalami
gangguan jiwa sesuai dengan penjelasan terapis.
e) Terapis mendemonstrasikan satu cara untuk mengatasi beban
yang dipilih oleh keluarga misalnya CT, Affirmasi,
Logoterapi, dan AT.
f)Memberi kesempatan anggota keluarga untuk
mendemonstrasikan ulang.
g) Memberikan pujian atas partisipasi anggota keluarga selama
pelaksanaan terapi.

Sesi 5: Pemberdayaan Komunitas membantu Keluarga


a) Menanyakan hambatan yang dirasakan selama merawat
klien gangguan jiwa (khususnya ) di rumah
(1) Masing – masing keluarga diberi kesempatan untuk
menyampaikan pendapat
(2) Memberi kesempatan kepada keluarga lain untuk
menanggapi
b)Menanyakan hambatan dalam berhubungan dengan tenaga
kesehatan selama ini
(1) Masing-masing keluarga diberi kesempatan untuk
menyampaikan pendapat
(2) Memberi kesempatan kepada keluarga lain untuk
menanggapi
c) Menjelaskan kepada keluarga bagaimana seharusnya
hubungan keluarga dengan tenaga kesehatan
d) Menjelaskan kepada keluarga bagaimana cara mengatasi
hambatan dalam berkolaborasi dengan tenaga kesehatan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


82

e) Memberi kesempatan keluarga untuk berdiskusi dengan


tenaga kesehatan dari Puskesmas tentang sistem rujukan,
advokasi hak-hak klien gangguan jiwa dan mencari
dukungan untuk pembentukan Self Help Group.
(1) Masing – masing keluarga diberi kesempatan untuk
menyampaikan pendapat
(2) Memberikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya
(3) Memfasilitasi dialog antara keluarga dengan pihak
Puskesmas
(4) Menyimpulkan hasil diskusi.
Terapi tidak berakhir pada sesi 5 (lima) saja dan setiap sesi
memungkinkan dilakukan lebih dari 1(satu) kali pertemuan
tergantung dari kemampuan klien dalam melaksanakan terapi.
Tindakan keperawatan klien isolasi sosial terintegrasi dengan
profesikesehatan lain termasuk tindakan medis. Tindakan medis
(dokter/psikiater) diberikanterkait dengan skizofrenia yaitu dengan
pemberian terapi psikofarmaka(antipsikotik). Tindakan keperawatan yang
diberikan pada klien isolasisosial bertujuan: 1) klien dapat memulai
hubungan atau interaksidengan orang lain; 2) klien dapat mengembangkan
dan meningkatkanhubungan/interaksi sosial dengan oranglain; 3) klien
mengikutiprogram pengobatan secara optimal (Workshop Keperawatan
Jiwa,2008).

2.2.4 Penatalaksanaan Medis Pada Klien Isolasi Sosial


Penanganan klien isolasi sosial yang sebagaian besar didiagnosa medis
skizofreniameliputi terapi psikofarmaka, terapi psikososial, psikoterapi,
danelectro convulsive therapy (ECT).Pengobatan skizofrenia lebih efektif
bila dimulai sedini mungkin saat gejalamulai muncul (World Federation for
Mental Health, 2008). Tatalaksanapengobatan Skizofrenia mengacu pada
penatalaksanaan Skizofrenia secaraumum yaitu:

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


83

2.2.4.1 Antipsikotik
Antipsikotik bekerja dengan melakukan blok terhadap post
sinapsreseptor dopamin.Obat psikotikini bersifat multi fungsi yang
meliputi 1) menurunkan gejala positifseperti halusinasi dan delusi, 2)
meringankan gangguan pikiran, 3)mengurangi ansietas dan agitasi,
dan 4) memaksimalkan kemampuanyang masih dimiliki klien
(Brady, 2004).

Obat antipsikotik memiliki dua kelompok yaitu antipsikotik generasi


pertama (tipikal) dan antipsikotik generasi kedua (atipikal).
Antipsikotiktipikal bekerja dengan memblok reseptor dopamine (D2)
di mesolimbiksehingga sering disebut Antagonis Reseptor Dopamin
(ARD).Antipsikotik tipikal mempunyai peranan yang cepat dalam
menurunkangejala positif seperti waham atau halusinasi tetapi juga
cepatmenyebabkan kekambuhan. Selain bekerja di mesolimbik juga
dimesokortikal yang memperberat gejala negatif dan gejala kognitif,
bekerja di nigrostiatal menyebabkan gangguan pergerakan
hiperkinetik(tardive dyskinesia), bekerja di tuberoinfundibular
menyebabkanpeningkatan kadar prolaktin (Sinaga, 2007).

Jenis antipsikotik tipikalantara lain haloperidol (5-20 mg),


triflouperazine (2-5 mg), chlorpromazine (100 mg) danloxapine
(Varcarolis, 2006), fluphenazine, thiothixene,
perphenazine,molindone, thiordazine dan mesoridazine (Sinaga,
2007). Antipsikotiktipikal sangat efektif untuk menurunkan gejala
positif tetapi dapatmeningkatkan gejala negatif, gejala kognitif,
menyebabkan tardivedyskinesia dan peningkatan kadar prolaktin.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


84

Antipsikotik atipikal atau Serotonin Dopamin Antagonis (SDA)


bekerjamelalui interaksi antara serotonin dan dopamin pada keempat
jalurdopamin di otak sehingga efek samping Extra Pyramidal
Symptom (EPS)lebih rendah dan efektif untuk mengatasi simptom
negatif (Sinaga, 2007).Kelompok atipikal memiliki karakteristik efek
ekstrapiramidal minimal,mengatasi gejala positif sebaik mengatasi
gejala negatif danmeningkatkan neurokognitif, juga bisa mengatasi
gejala cemas dandepresi, menurunkan kecenderungan perilaku bunuh
diri dan memperbaiki fungsi neurokognitif (Varcarolis, 2006).

Jenis antipsikotikatipikal adalah clozapine(25-100 mg), risperidon(1-


6 mg), olanzapine(5-10 mg), qutiapine(25 mg:100 mg:200 mg),
zotepine(25 mg: 50 mg),rispiradone (1-6 mg)(Sinaga, 2007).
Antipsikotik atipikal lebihefektif dalam menurunkan gejala positif
dan negatif dengan efek sampingyang lebih ringan serta berdampak
positif terhadap gejala cemas dandepresi, menurunkan
kecenderungan perilaku bunuh diri dan memperbaiki fungsi
neurokognitif.

2.2.4.2Obat pencegahan efek ekstrapiramidal


Jenis obat untuk mencegah sindrom ekstrapiramidal dan
parkinsonismeadalah trihexyphenidil (THP), biperidin dan
diphenhidraminehydrochloride. Trihexyphenidil (Artane) dosis yang
digunakan : 1 – 15mg/hari dan diphenhidramine 10 – 400 mg/hari.
(Kaplan & Sadock,2007). Setiap obat mempunyai kecenderungan
menimbulkan efeksamping diantaranya sindrom ekstrapiramidal dan
parkinsonismeterutama antipsikotik tipikal. Upaya untuk mencegah
timbulnya efeksamping di atas klien diberikan obat : THP, biperidin
ataudiphenhidramine hydrochloride.Pengobatan dasar pada klien
skizofrenia adalah pemberian anti psikotikbaik tipikal maupun

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


85

atipikal tergantung karakteristik, kemampuan danefek samping yang


dialami klien.

2.3 Konsep Teori Dan Model Yang Digunakan Sebagai Pendekatan Dalam
Merawat Klien Dengan Isolasi Sosial.
Beikut ini akan diuraikan 2 (dua) konsep dan model yang digunakan oleh penulis
sebagai pendekatan dalam merawat klien dengan isolasi sosial sebagai berikut :
2.3.1 Konsep Model Hubungan Interpersonal Hildegar E.Peplau

2.3.1.1 Pengertian Keperawatan Psikodinamis Peplau


Dalam model ini, tujuan ilmu keperawatan adalah untuk
membantu perkembangan kepribadian ke arah kedewasaan.
Intisari dari model Peplau adalah suatu model yang
diorganisasikan melalui proses, yaitu hubungan manusia antar
perorangan (siapa) yang sedang sakit, atau sedang kurang
mendapatkan bantuan kesehatan, dan seorang perawat khususnya
mendidik untuk mengenali dan untuk bereaksi terhadap
kebutuhan akan bantuan (Peplau, 1952, dalam Fitzpatrick &
Whall, 1989).

Peplau menekankan pada pentingnnya seorang perawat dapat


menjiwai dan mengetahui kejadian penyakit, sehingga dapat
membantu klien dalam menghadapi penyakit dan masalahnya.
Dengan dasar itu maka orientasi perawat bergeser dari orientasi
penyakit ke orientasi psikologis, tujuannya agar perawat dapat
mengeksplorasi perasaan klien terhadap penyakit yang
dideritanya, sehingga dapat diuraikan dalam rencana
keperawatan. Tujuan utama perawat dalam hal ini adalah
membantu klien agar dapat mengeksplorasi peresaan mereka
untuk dapat menetapkan intervensi apa yang akan diberikan.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


86

2.2.1.2Dimensi Hubungan Perawat – Klien Dalam Proses


Interpersonal Peplau.
Hildegard E. Peplau menjelaskan tentang 4 fase dari tahapan
hubungan interpersonal perawat-pasien. Setiap tahap saling
melengkapi dan berhubungan sebagai satu proses untuk
penyelesaian masalah. Tomey (1998) juga lebih menjelaskan
bahwa Peplau mengembangkan model dengan menggambarkan
struktur konsep dari proses interpersonal dengan fase-fase
hubungan perawat-pasien yaitufase orientasi, identifikasi,
eksploitasi dan fase resolusi(lebih jelasnya akan diuraikan pada
penerapan teori hubungan interpersonal Peplau pada manajemen
keperawatan klien isolasi sosial).
Tabel 2.1. Fase Hubungan Perawat Pasien

Fase Fokus

Orientasi Fase definisi adanya masalah

Identifikasi Seleksi terhadap bantuan profesional yang sesuai

Eksploitasi Penggunaan bantuan profesional untuk memilih


alternatif
pemecahan masalah

Resolusi Terminasi terhadap hubungan professional

2.2.1.3 Peran Perawat Dalam Dimensi Hubungan Perawat – Klien


Dalam model dan teori hubungan interpersonal ini, Peplau juga
menjelaskan enam peran perawat yang menyatu dalam fase
hubungan perawat-pasien ( Tomey, 1998) yaitu :

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


87

a) Peran orang asing (role of the stranger)


Perawat dan klien sama-sama asing antara satu dan lainnya.
Dalam hal ini klien harus dirawat sesuai dengan aturan yang
berlaku. Perawat tidak diperkenankan untuk mendakwa
pasien, namun pasien harus diterima apa adanya.

b) Peran seorang narasumber (role of the stranger)


Perawat memberikan jawaban-jawaban secara spesifik dari
setiap pertanyaan terutama mengenai informasi kesehatan dan
memberi interpretasi kepada klien bagaimana rencana
keperawatan dan medis. Perawat harus fokus pada jawaban-
jawaban spesifik dan konstruktif apakah jawaban langsung
atau bersifat saran-saran.
c) Peran Pengajaran (teaching role)

Merupakan kombinasi dari seluruh peran dan selalu berasal


dari yang diketahui klien dan dikembangkan dari minatnya
dalam keinginannya dan kemampuannya menggunakan
informasi. Bentuk-bentuk pengajaran didasari oleh tehnik
psikoterapi dengan metode konseling.

d) Peran Kemimpinan (leadership role)


Perawat membantu klien mengerjakan tugas-tugas melalui
hubungan kooperatif dan partisipatif aktif.

e) Peran Wali (surrogate role)


Klien menganggap perawat berperan sebagai walinya. Sikap
dan perilaku perawat dapat memberi perasaan tersendiri bagi
klien yang bersifat reaktif yang muncul dari hubungan
sebelumnya. Fungsi perawat untuk membimbing klien
mengenali dirinya dengan sosok yang klien bayangkan.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


88

Perawat mebantu klien melihat diri perawat dengan sosok


yang dibayangkannya. Perawat dan klien mendefinisikan area
keterikatan, ketidakterikatan dan antar keterikatan.

f) Peran Penasehat (counseling role)


Peran ini sangat besar dalam keperawatan psikiatrik. Peran ini
bertujuan membantu klien dalam mengingat dan memahami
sepenuhnya apa yang tengah terjadi pada dirinya saat ini
sehingga suatu pengalaman dapat diintegrasikan bukannya
dipisahkan dengan pengalaman lainnya dalam hidupnya.

Berikut ini adalah skema2.2 : Mengenai keterkaitan fase-fase


hubunganterapeutik dari Model Interpersonal Peplau (Tomey, 1998).

Counselor
Nurse Unconditional Resource person
Stranger Surrogate Leadership Adult person
Mother Surrogate
Mother
Sibling

Patient Stranger Infant Child Adolescent Adult Person

Phases in Orientation _________Identification


Nursing
Relationship

Exploitation

Resolution

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


89

2.2.1.4Penerapan Manajemen Keperawatan Klien Isolasi Sosial


Menggunakan Pendekatan Hubungan Interpersonal
Hildegard Peplau’s Model.
Peplau mengawali pendekatan perkembangan pengetahuan
dalam praktik keperawatan dan ilmu dalam interaksi perawat –
klien dimana perkembangan proses interpersonal klien – perawat
dilaksanakan dengan tujuan terapeutik dan menggunakan diri
sebagai alatnya, hal ini sama dengan definisi psikiatrik yang
dikemukakan oleh ANA bahkan keperawatan psikiatrik
merupakan suatu bidang spesialisasi praktik keperawatan yang
merupakan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan
penggunaan diri sendiri secara terapeutik sebagai kiatnya (Stuart
& Laraia, 2005).
Model ini sangat tepat digunakan pada keperawatan psikiatrik
ataupun penyakit mental kronik karena berdasarkan pada konsep
komunikasi dalam berinteraksi dengan klien sehingga hubungan
interpersonal dapat terbina dengan baik. Selain itu Peplau
menjadikan kecemasan sebagai satu dari empat konsep sentral,
dan manusia itu selalu berada dalam suatu rentang respon sehat –
sakit, sehingga model ini sangat bisa di aplikasikan bila
digunakan dalam praktik jiwa pada masalah isolasi sosial yang
memandang manusia secara holistik dan berdasarkan pada
rentang adaptif dan maladaptif (Fortinash, 2005).

Penerapan model hubungan interpersonal Peplau sangat relevan


untuk menangani klien dengan masalah keperawatan isolasi
sosial yang disebabkan ketidakmampuan dalam berhubungan
dengan orang lain. Pada klien isolasi sosial sangat dekat dengan
kondisi depresi, penurunan harga diri atau perasaan tidak
berharga, dan keputusasaan, sehingga penerapan model Peplau

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


90

sangat relevan karena teori ini berfokus pada interpersonal


relationship. Hubungan interpersonal yang baik akan
menghasilkan interaksi yang baik sehingga tujuan interaksi juga
akan efektif dan lebih maksimal.

Penerapan model hubungan interpersonal Peplau dalam


menangani klien dengan masalah keperawatan isolasi sosial
dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Fase Orientasi
Selama fase orientasi, seseorang akan memiliki rasa
memerlukan dan mencari bimbingan profesional. Perawat
sebagai tenaga profesional akan menolong pasien dalam
mengenali dan memahami masalahnya dan akan
menentukan apa yang dia perlukan sebagai penolongnya.Ini
sangat penting bahwa perawat bekerja sama dengan pasien
dan keluarga dalam menganalisis situasi, sehingga mereka
bersama-sama dapat mengenali, memperjelas, dan
mendefinisikan masalah yang ada.

Penerapan teori Peplau ini pada asuhan keperawatan klien


isolasi sosial, dimana fase orientasi merupakan fase pertama
dari teori hubungan interpersonal. Pada fase ini difokuskan
untuk membina hubungan saling percaya karena merupakan
pertama kalinya klien bertemu dengan perawat dan peran
perawat sebagai orang asing (stranger) bagi klien dan
demikian sebaliknya. Langkah-langkah yang dilakukan
perawat pada fase ini bertujuan mengurangi kecemasan
klien, memberi rasa aman dan nyaman bagi klien. Dalam
membina hubungan saling percaya antara perawat dan klien
dilakukan sesuai dengan tahapan hubungan terapeutik,

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


91

diharapkan perawat mempengaruhi klien melakukan


komunikasi yang dikembangkan dalam hubungan perawat
dan klien sehingga kecemasan klie menurun (Fortinash,
2005).

Pada klien dengan diagnosiskeperawatan isolasi sosial


banyak ditemukan pengalaman negatif klien yang sama
terhadap gambaran diri, ketidakjelasan atau berubahnya
peran yang dimiliki, kegagalan dalam menggapai harapan
atau cita-cita, krisis indentitas dan kurangnya penghargaan
baik dari diri sendiri maupun lingkungan. Faktor psikologis
ini sangat mempengaruhi awal hubungan klien denngan
perawat, sehingga sangat penting bagi perawat yang akan
memulai hubungan dengan klien isolasi sosial memahami
latar belakang klien dalam aplikasi tahap prainteraksi
hubungan perawat dengan klien.

Kemampuan perawat untuk berempati pada fase ini terlihat


dalam komunikasi perawat baik secara verbal maupun non
verbal, seperti mendengar, pembicaraan yang luas, focusing,
klarifikasi merupakan suatu bentuk perawat menerima dan
menghargai klien apa adanya. Peran lain yang dilakukan
perawat pada fase ini adalah sebagai konselor dimana
perawat menggali perasaan klien dan menanyakan kesiapan
klien untuk berinteraksi.

Penjelasan fase orientasi diatas memperlihatkan bahwa


perawat tidak diperkenankan untuk memberikan atau
mengdiagnosa atau meraba-raba bagaimana keadaan klien,
apa yang sedang dialami oleh klien, sehingga peraway tidak

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


92

sah dalam memberikan tindakan keperawatan kepada klien


dengan masalah keperawatan isolasi sosial.

b) Fase Indentifikasi
Pasien mengidentifikasi bersama dengan orang dapat
membantunya (relatedness). Perawat memberikan
kesempatan untuk eksplorasi perasaan untuk membantu
pasien yang mengalami sakit sebagai suatu pengalaman
untuk orientasi kembali perasaan dan memperkuattenaga
positif dalam diri sendiri dan memenuhi kebutuhan
kepuasan.

Penerapa teori Peplau ini pada asuhan keperawatan klien


isolasi sosial, bahwa fase identifikasi merupakan fase
pengkajian, dalam pengkajian ini teori Peplau digabungkan
dengan model pengkajian menurut Stuart & Laraia yaitu
menggunakan pengkajian dengan pendekatan scanning,
mulai dari faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian
terhadap stressor, sumber koping, sampai dengan
mekanisme koping. Denagn penggabungan metode
pemgkajian ini maka hasil yang didapatkan semakin baik
dan lebih komprehensif.

Fase identifikasi merupakan fase yang paling tinggi


kwalitasnya pada hubungan interpersonal, dimana pada fase
ini akan terlihat bagaimanan klien mengatakan ketakutan.
Fase ini juga merupakan tahap pengkajian dan dasar bagi
perawat menentukan tindakan apa yang akan dilakukan
terhadap klien. Pada fase identifikasi ini perawat
mengidentifikasi kemampuan-kemampuan yang telah

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


93

dimiliki klien, bagaimana koping dan cara-cara yang biasa


digunakan klien saat timbul pikiran-pikiran negatif, perasaan
tidak berharga, keputusasaan dan muncul ide bunuh diri,
serta mengidentifikasi keefektifan cara-cara yang telah
digunakan.

Kemampuan perawat menggali permasalahan yang dialami


klien sebagai langkah besar dalam pengkajian, mengingat
klien dengan masalah keperawatan isolasi sosial memiliki
tingkat kedaruratan yang tinggi dan perhatian yang tinggi,
sedangkan klien dengan masalah keperawatan isolasi sosial
memiliki kecenderungan menggunakan mekanisme koping
maladaptif yaitu ; frustasi, regresi, disosiasi, isolasi,
proyeksi, mengatakan marah berbalik pada diri sendiri dan
orang lain, denial, rasionalisasi, intelektualisasi, dan magical
thingking (Shives, 2005, Stuart & Laraia, 2005). Pada fase
ini diharapkan perawat dapat menggunakan dirinya sebagai
alat yang terapeutik. Pada fase identifikasi ini juga perawat
diharapkan mampu berperan sebagai wali, dimana pada fase
ini perawat menginterpretasikan apa yang dirasakan
terhadap topik dari komunikasi yang terjadi dan berkembang
selama dalam fase identifikasi ini.

c) Fase Eksploitasi
Selama fase eksploitasi pasien berupaya untuk memperoleh
nilai secara utuh dari apa yang ditawarkan melalui
hubungan. Tujuan baru dicapai melalui upaya diri sendiri
yang dapat diperkirakan, dan pergantian kekuatan dari
perawat ke pasien sebagai penundaan kepuasaan untuk
mencapai tujuan yang baru saja terbentuk.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


94

Penerapan teori Peplau ini pada asuhan keperawatan klien


isolasi sosial, bahwa fase ini merupakan fase pemberian atau
pelaksanaan terapi generalis pada klien dengan diagnosa
keperawatan isolasi sosial maupun keluarga serta pemberian
terapi aktifitas kelompok (TAKS). Selain terapi generalis
dan TAKS,pada fase ini juga klien diberikan terapi spesialis
keperawatan jiwa yaitu social skills training dan cognitive
behavior therapy, begitu juga terapi spesialis family
psychoeducation untuk keluarga.

Pada fase ini perawat mendiskusikan lebih mendalam dan


memilih alternatif terhadap permasalahan yang dialami
klien. Peran ini membutuhkan banyak energi agar dapat
mentransfer energi klien dari yang negatif menjadi seorang
yang positif dan produktif. Perawat berperan sebagai
pendidik yang mengajarkan klien tentang apa yang harus
dilakukan untuk mengatasi masalah isolasi sosial, perawat
mengajarkan dan memberikan informasi kepada klien
tentang cara mengatasi masalah dan bagaimana masalah
bila muncul perasaan tidak berharga dan perasaan tidak
diterima dalam lingkungannya. Pada fase ini perawat
melakukan tindakan kepada klien isolasi sosial melalui
intervensi terapi keperawatan, baik terapi generalis maupun
spesialis. Peran perawat sebagai sebagai narasumber yang
memberikan informasi kepada klien sebagai informasi dari
tindakan keperawatan dan pengobatan dalam membantu
klien dan peran perawat sebagai konselor juga dapat dilihat
pada fase ini.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


95

Selama fase ini klien akan mendapatkan semua yang


dibutuhkan dari perawat. Pada fase ini juga perawat akan
memberikan semua informasi dan kebutuhan klien terkait
dengan penyembuhan dan kebutuhan perawatan klien. Pada
fase inilah peran perawat secara keseluruhan terkait, selain
sebagai peran pendidik, narasumber, pemimpin, pengganti
dan juga sebagai penasehat.

d) Fase Resolusi
Tujuan yang lama ditinggalkan secara berangsur-angsur
disamping mengadopsi tujuan yang baru. Proses ini
membuat pasien merasa bebas untuk identifikasi dengan
dirinya sendiri bersama perawat.

Penerapan teori Peplau ini pada asuhan keperawatan klien


isolasi sosial, bahwa pada fase ini peawat mengakhiri
hubungan interpersonalnya dengan klien. Sebelum
mengakhiri fase ini perawat mengevaluasi kemampuan klien
baik secara subjektif maupun objektif (kognitif, afektif, dan
psikomotor) berdasarkan kriteria tujuan keperawatan. pada
tahap ini klien sudah menemukan pemecahan masalah baru
dalam mengatasi masalahnya dan mengoptimalkannya
sehari-hari sesuai dengan jadwal yang telah disusun.

Untuk mengurangi rasa ketergantungan pada perawat,


tindakan yang dilakukan perawat adalah mempesiapkan
kemandirian klien dengan cara memaksimalkan sumber
koping klien dan keluarga dalam mempersiapkan klien
untuk pulang. Kemandirian klien dengan isolasi sosial yang
terpenting adalah klien selalu mengembangkan koping yang

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


96

adaptif, memiliki sikap dan harapan yang positif sebagai


implikasi dari pikiran positif yang dimiliki klien, sehingga
tidak muncul pikiran tidak diterima oleh lingkungn, tidak
mampu berinteraksi, tidak mempunyai teman dan tidak
mempunyai kelebihan. Dukungan keluarga sangat penting
sehingga keluarga harus dilibatkan dari awal, perawat juga
harus mempersiapkan lingkungan klien melalui keluarga
untuk mempertahankan sikap dan pikiran positif klien ketika
klien pulang.

Tahapan proses interpersonal yang dikembangkan oleh


Peplau dalam empat fase dinilai sangat sesuai dengan
manajemen kasus dengan diagnosis keperawatan isolasi
sosial. Teori Peplau yang berfokus pada interpersonal
relationship ini sangat sesuai bagi intervensi pada klien
dengan diagnosis keperawatan isolasi sosial dalam
mengoptimalkan terapi-terapi spesialis keperawatan jiwa
seperti social skills training dan cognitive behavior therapy
yang sangat membutuhkan hubungan yang dilandasi rasa
saling percaya (trus) dari klien kepada perawat, sehingga
klien bersedia mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan dan
masalah yang dihadapi, pengalaman-pengalaman yang
menyakitkan atau traumatik dan mengecewakan, termasuk
harapan-harapan yang mungkin dirasakan klien belum
tercapai yang bisa berdampak pada respon klien seperti
menarik diri, perasaan tidak berharga, kesedihan dan
keputusasaan.

Proses interpersonal ini menjadi dasar atas hubungan


partisipasi antara perawat dan klien yang mana instruksi

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


97

perawat mempunyai tujuan, dan merupakan suatu proses


serta intinya adalah mengontrol klien untuk dapat
berhubungan sosial dengan orang lain terutama dalam
keluarga klien. Proses interpersonal merupakan gabungan
secara operasional dalam menjelaskan empat fase yang
berbeda yaitu orientasi, identifikasi, eksploitasi, dan resolusi
(Fitzpatrick & Whell, 1989).

2.3.2 Konsep Manajemen Model Praktik Keperawatan Profesional


(MPKP)
Pelayanan prima keperawatan dikembangkan dalam bentuk Model
Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) yang pada awalnya
dikembangkan di RS. Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta (Sudarsono,
2000). Penatalaksanaan kegiatan keperawatan berdasarkan 4 pilar nilai
profesional yaitu management approach, compensatory reward,
professional relationship dan patient care delivery (FIK UI &WHO,
2006). Konsep yang dikembangkan dalam MPKP berdasarkan pada 4
pilar nilai profesional tersebut sudah melingkupi semua kegiatan
manajemen pelayanan dan asuhan keperawatan yang ada dalam suatu unit
pelayanan keperawatan.

Beberapa modifikasi yang telah dikembangkan dari Model Praktik


Keperawatan Profesional (MPKP) sebelumnya yaitu, meliputi 3 jenis
diantaranya model transisi, model pemula, dan model profesional yang
terdiri dari 3 (tiga) tingkatan yaitu MPKP I, II dan III.

Di rumah sakit jiwa telah dikembangkan Model Praktik Keperawatan


Profesional (MPKP) dengan memodifikasi MPKP yang telah
dikembangkan di rumah sakit umum (FIK UI &WHO, 2006). Menurut

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


98

Keliat, dkk (2010), menyatakan bahwa saat ini telah dikembangkan dan
dilaksanakan manajemen kegiatan keperawatan berdasarkan 4 (empat)
pilar nilai profesional, yaitu Pilar I : Pendekatan manajemen
(management approach), Pilar II : Penghargaan (compensatory reward),
Pilar III : Hubungan profesional (profesional relationship), dan Pilar IV :
Pemberian asuhan keperawatan (patient care delevery).

Model Praktik Keperawatan profesional (MPKP) menempatkan


pendekatan manajemen (management approach) sebagai pilar praktik
profesional yang pertama .Oleh sebab itu, proses manajemen harus
dilaksanakan dengan disiplin demi menjamin pelayanan yang diberikan
kepada pasien dan/atau keluarga. Menurut Keliat dan Akemat (2010),
menyatakan bahwa diruang MPKP pendekatan manajemen diterapkan
dalam bentuk fungsi manajemen yang terdiri dari ; perencanaan
(planning), pengoragnisasian (organizing), pengarahan (directing), dan
pengendalian (controling).

Untuk lebih jelasnya berikut ini akan diuraikan kegiatan 4 (empat) pilar
nilai profesional dalam Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP)
yang dilaksanakan oleh perawat diruangan dalam memberikan asuhan
keperawatan pada klien termasuk kliendengan isolasi sosialyaitu :
2.3.2.1 Pilar I (Management Approach)
a. Perencanaan
Menurut Siagian (1990, dalam Keliat & Akemat, 2010)
bahwa perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran
dan penentuan secara matang hal-hal yang akan dikerjakan
dimasa mendatang dalam rangka pencapaian tujuan yang
telah ditetapkan. Perencanaan juga dapat diartikan sebagai
rencana kegiatan apa yang harus dilakukan, bagaimana
kegiatan itu dilaksanakan, dan kapan kegiatan itu dilakukan.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


99

Kegiatan perencanaan dalam praktik keperawatan


profesional merupakan upaya peningkatan profesionalisme
dalam pelayanan keperawatan sehingga mutu pelayanan
bukan saja dapat dipertahankan tetapi dapat terus meningkat
sampai tercapai derajat kepuasan tertinggi bagi penerima
jasa pelayanan keperawatan dan pelaksana itu sendiri (Keliat
& Akemat, 2010).

Kegiatan perencanaan yang dilakukan di ruang MPKP


meliputi perumusan visi, misi, filosofi, kebijakan dan
pembuatan rencana jangka pendek oleh perawat yang
meliputi rencana harian, bulanan, dan tahunan.Disetiap
ruang MPKP mempunyai visi yang merupakan pernyataan
singkat yang menyatakan alasan dan tujuan organisasi
tersebut dibentuk. Misi adalah pernyataan yang menjelaskan
tujuanorganisasi dalam mencapai visi yang telah ditetapkan,
sedangkan filosofi merupakan seperangkat nilai yang
mengakar dan menjadi landasan serta arahan seluruh
rencana jangka panjang.

Terkait dengan perencanaan, setiap perawat di ruang MPKP


harus membuat rencana harian, rencana bulanan dan rencana
tahunan. Rencana harian perawat diruangan meliputi ;
rencana asuhan keperawatan pada klien yang dirawat dan
menjadi tanggung jawabnya, rencana supervisi katim dan
perawat pelaksana, dan supervisi tenaga selain perawat dan
kerjasama dengan unit lainnya yang terkait. Sedangakan
untuk rencana bulanan perawat membuat jadwal beberapa
kegiatan seperti presentasi kasus dalam case conference,
pemberian pendidikan kesehatan kelompok keluarga, jadwal

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


100

dinas, membuat alokasi klien sesuai dengan perawat yang


dinas, jadwal petugas TAK, jadwal rapat bulanan perawat,
rapat tim kesehatan, jadwal supervisi dan penilaian kinerja,
serta melakukan audit dokumentasi dan membuat laporan
bulanan. Sedangkan untuk rencana tahunan perawat
menyusun laporan tahunan, melaksanakan rotasi tim untuk
penyegaran anggota masing-masing tim, penyegaran
terkaitdengan materi MPKP, dan perencanaan
pengembangan SDM dan jenjang karier perawat. Rencana
harian perawat terkait dengan asuhan keperawatan pada
klien isolasi sosial bahwa setiap perawat harus membuat
rencana kegiatan pada klien yang menjadi tanggung
jawabnya, yang berisi rencana tindakan keperawatan sesuai
dengan masalah klien yang dioperkan oleh perawat shift
sebelumnya atau yang ditemukan pada saat dinas.
b. Perorganisasian
Pengorganisasian adalah pengelompokan aktifitas untuk
mencapai tujuan melalui penugasan suatu kelompok tenaga
keperawatan, menentukan cara pengoordinasian aktifitas
yang tepat, baik vertikal maupun horizontal, bertanggung
jawab untuk mencapai tujuan organisasi (Keliat & Akemat,
2010). Kegiatan yang dilaksanakan dalam pengorganisasian
di ruang MPKP yaitu penyusunan struktur organisasi, daftar
dinas ruangan, dan daftar pasien.

Pelaksanaan pengorganisasian di ruang MPKP yaitu


perawat dibagi menjadi 2 tim dan tiap tim diketuai masing-
masing oleh seorang ketua tim yang terpilih, kepala ruangan
bekerjasama dengan katim mengatur jadwal dinas ( pagi,
sore dan malam), karu membagi klien untuk masing-masing

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


101

tim, karu menunjuk penanggung jawab shift sore, malam,


dan pagi jika karena sesuatu hal kepala ruangan tidak
bertugas, katim menetapkan perawat pelaksana untuk
masing-masing klien, dan katim mengendalikan asuhan
keperawatan yang diberikan kepada klien baik yang
diterapkan oleh dirinya maupun oleh perawat pelaksana
anggota timnya.

Pembuatan jadwal dinas perawat dilakukan oleh kepala


ruangan pada hari terakhir minggu tersebut dan bentuk
pembuatan jadwal dinas pada minggu selanjutnya dibuat
oleh ketua tim. Setiap tim memiliki anggota yang dinas pagi,
sore, dan malam serta yang lepas dinas malam hari serta
yang libur. Di ruang MPKP terdapat daftar klien yang diisi
oleh katim sebelum operan dinas pagi ke dinas sore
termasuk dengan klien dengan isolasi sosial yang menjadi
tanggung jawab tiap perawat di timnya selama 24 jam.
Daftar klien tersebut dapat menggambarkan tanggung jawab
dan tanggung gugat perawat atas asuhan keperawatan klien
isolasi sosial sehingga terwujud keperawatan klien yang
holistik.
c. Pengarahan
Pengerahan adalah penerapan perencanaan dalam bentuk
tindakan untuk mencapai tujuan organisasi yang telah
ditetapkan sebelumnya. Di ruang MPKP pengarahan
diterapkan dalam bentuk kegiatan sebagai berikut ;
menciptakan budaya motivasi, komunikasi efektif pada
operan antar shift, preconference,post conference,
manajemen konflik, supervisi, dan pendelegasian (Keliat &
Akemat, 2010).

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


102

Penerapan iklim motivasi di ruang MPKP berupa pemberian


reinforcement positif untuk menguatkan perilaku positif
dengan memberikan reward, doa bersama sebelum memulai
kegiatan yang dilakukan setiap pergantian dinas sehingga
timbul self awerness dan dorongan spritual, memanggil staf
secara berkala untuk mengidentifikasi masalah masalah
setiap perawat sehingga dapat memacu motivasi sataf
perawat dalam bekerja, manajemen sumber daya manusia
melalui penerapan pengembangan jenjang karier dan
kompetensi, dan pelaksanaan sistem reward yang adil dan
berbasis kinerja.

Penerapan komunikasi di ruang MPKP dilaksanakan dalam


bentuk operan, preconference, dan post conference(Keliat &
Akemat, 2010). Operan dilaksanakan dalam bentuk
komunikasi dari shift ke shift pagi dan dari shift pagi ke shift
sore untuk melaporkan asuhan keperawatan pada klien
termasuk isolasi sosial yang dipimpin oleh kepala ruangan,
sedangkan operan dari shift sore ke shift malam dipimpin
oleh penanggung jawab shift sore. Preconference
dilaksanakan berupa komunikasi katim dan perawat
pelaksana setelah selesai operan mengenai rencana kegiatan
asuhan keperawatan pada klien isolasi sosial pada shift
tersebut yang dipimpin oleh katim atau penanggung jawab
tim. Isi preconference adalah rencana tiap perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan pada klien isolasi sosial
yang menjadi tanggung jawabnya. Sedangkan
postconference berupa komunikasi antara katim dan perawat
pelaksana tentang hasil kegiatan asuhan keperawatan klien

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


103

isolasi sosial sepanjang shift, dan dilakukan sebelum operan


kepada shift berikut yang isinya tentangpelaksanaan asuhan
keperawatan pada klien isolasi sosial oleh perawat serta
tindak lanjutnya.

Supervisi atau pengawasan adalah proses pengawasan


terhadap pelaksanaan kegiatan untuk memastikan apakah
kegiatan tersebut berjalan sesuai tujuan organisasi dan
standar yang telah ditetapkan. (Keliat & Akemat, 2010).
Penerapan supervisi di ruang MPKP berupa kepala seksi
keperawatan atau konsultan melakukan pengawasan
terhadap karu, katim, dan perawat pelaksana, kepala ruangan
melakukan pengawasan terhadap katim dan perawat
pelaksana, dan ketua tim melakukan pengawasan terhadap
perawat pelaksana.
d. Pengendalian
Pengendalian manajemen adalah usaha sistimatis yang
bertujuan untuk menetapkan standar prestasi kerja yang
sesuai dengan tujan perencanaan, untuk merancang sistem
umpan balik informasi, membandingkan prestasi yang
sesungguhnya dengan standar yang telah ditetapkan, untuk
menetapkan apakah ada penyimpangan, dan mengukur
signifikannya serta mengambil tindakan yang diperlukan
guna memastikan bahwa sumber daya digunakan dengan
cara yang efektif dan efisien untuk mencapai tujuan
(Mockler, 1984, dalam keliat & Akemat, 2010).

Penerapan kegiatan pengendalian di ruang MPKP berupa


pengukuran indikator mutu umum (BOR, ALOS, dan TOI),
indikator mutu rumah sakit jiwa (angka lari, restrain, kasus

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


104

cidera, dan skabies), audit dokumentasi asuhan


keperawatan, survey masalah keperawatan pada 7 (tujuh
diagnosa gangguan, kepuasan dan penilaian klien dan
keluarga, dan kepuasan tenaga kesehatan (dokter dan
perawat) serta penilaian kinerja. Dengan adanya kegeiatan
pengendalian ini, diharapkan klien dan keluarga dengan
isolasi sosial akan mendapatkan pelayanan keperawatan
yang bermutu sehingga akan terwujud kepuasaan baik pada
klien maupun keluarga.

2.2.3.2 Pilar II (Compensatroy Reward)


Kemampuan perawat melakukan praktk profesional harus
dipertahankan, dikembangkan, dan ditingkatkan melalui
manajemen SDM perawat yang konsisten serta disesuaikan
dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi.
Pengembangan SDM di rumah sakit bertujuan menciptakan
iklim kerja yang menyenangkan dan memberikan kepuasan
bagi staf dan klien. Hal ini juga merupakan penghargaan untuk
profesi keperawatan karena melalui manajemen SDM yang
baik, perawat akan mendapatkan kompensasi berupa
penghargaan (compensatory reward) sesuai dengan apa yang
telah perawat kerjakan (Keliat & Akemat, 2010).

Dalam penerapannya di ruang MPKP yang telah berjalan yang


dilakukan adalah penilaian kinerja perawat dan
pengembangannya. Penilaian kinerja ditujukan kepada perawat
dengan cara supervisi, baik secara langsung (observasi)
maupun tidak langsung (studi dokuemntasi) yang dilakukan
secara berjenjang. Sedangkan untuk pengembangan perawat
diruangan berupa adanya pendidikan keperawatan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


105

berkelanjutan dan program pengembangan jenjang karier


perawat. Pendidikan keperawatan berkelanjutan dapat berupa
pendidikan formal sedangkan pendidikan informal dapat berupa
on the job training dan out the job training. Dengan adanya
pendidikan berkelanjutan ini oleh perawat, diharapkan
pengetahuan dan kemampuan perawat dalam memberikan
asuhan keperawatan pada klien termasuk klien dengan isolasi
sosial akan meningkat yang sehingga lama rawat klien tersebut
akan semakin singkat.

2.2.3.3 Pilar III (Profesional Relatioship)


Menurut Camaron (1997, dalam Elisabeth & Kathleen, 2003,
dalam Keliat & Akemat, 2010), menyatakan bahwa hubungan
profesional dalam pemberian pelayanan keperawatan
merupakan standar hubungan antara pemberian pelayanan
keperawatan (tim kesehatan) dan penerima pelayanan (pasien
dan keluarga).

Penerapan hubungan profesional (profesional relationship) di


ruang MPKP berupa ; kegiatan rapat keperawatan, case
conference, rapat tim kesehatan, dan visit dokter. Kegiatan
rapat keperawatan masalah yang terkait dengan pilar
profesional MPKP, salah satunya dimaksudkan untuk
menyampaikan informasi permasalahan yang ditemukan pada
klien yang ada diruangan. Kegiatan case conference
merupakan kegiatan diskusi kelompok perawat diruangan
tentang kasus asuhan keperawatan pada klien ataupun keluarga
yang dilakukan dua kali dan kasusnya bergantian antar.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


106

Kegiatan rapat tim kesehatan merupakan rapat multi disiplin


untuk membahas manajerial ruang MPKP, yang dipimpin oleh
kepala ruangan dan pesertanya yaitu karu, katim profesi lain,
dan bidang penunjang. Kegiatan rapat tim kesehatan membahas
tentang kasus-kasus klien termasuk klien isolasi sosial
diruangan yang tidak mengalami perbaikan, dan memerlukan
penanganan lanjut antar disiplin ilmu.

Penerapan kegiatan kolaborasi dengan dokter di ruang MPKP


berupa kegiatan visit dokter keruangan untuk melakukan
pemeriksaan kesehatan klien isolasi sosial yang dirawat.
Perawat sebagai penanggung jawab akan melakukan kolaborasi
serta mendampingi dokter saat melakukan pemeriksaan dan
menyampaikan informasi tentang identitas klien dan kondisi
dan perkembangan kesehatan terakhir klien isolasi sosial yang
dirawat diruangan. Selain mendampingi dokter saat visit klien
diruangan, perawat diruangan juga dapat melakukan konsultasi
via telpon untuk melaporkan kondisi klien isolasi sosial yang
dirawat kepada dokter melalui telepon.

2.2.3.4 Pilar IV (Patient care Delivery)


Salah satu pilar profesional MPKP adalah pelayanan
keperawatan dengan menggunakan sistem pemberian asuhan
keperawatan (patient care delivery) di ruang MPKP. Sistem
pemberian asuhan keperawatan yang diterapkan di MPKP
adalah asuhan keperawatan dengan menerapkan proses
keperawatan (Keliat & Akemat, 2010). Di rumah sakit jiwa
pemberian asuhan keperawatan berfokus pada 7 (tujuh)
diagnosa gangguan yaitu isolasi sosial, halusinasi, resiko

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


107

perilaku kekerasan, resiko bunuh diri, waham, defisit perawatan


diri, dan harga diri rendah.

Dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien termasuk


klien dengan isolasi sosial, perawat menggunakan pendekatan
yang sistimatis yaitu proses keperawatan, yang diawali dari
tahap pengkajian. Pada tahap pengkajian klien dengan isolasi
sosial perawat menggunakan teknik wawancara dan observasi
sehingga tanda dan gejala isolasi sosial dapat ditemukan.
Selanjutnya setelah pengkajian dilakukan dan
didokumentasikan, masalah keperawatan dan diagnosa isolasi
sosial ditegakkan. Setelah dibuat perumusan masalah dan
diagnosa keperawatan isolasi sosial ditegakkan, maka perawat
dapat melakukan tindakan keperawatan pada klien dan keluarga
dengan isolasi sosial. Pada akhir proses keperawatan setelah
dilakukan tindakan keperawatan, perawat melakukan evaluasi
terhadap kemampuan klien isolasi sosial dan keluarga.

Berikut ini akan diuraikan kerangka konsep penerapan terapi spesialis


keperawatan jiwa social skills training dan cognitive behavior therapy
pada klien isolasi sosial dengan menggunakan pendekatan teori
interpersonal Peplau. Penerapan teori Peplau ini pada asuhan keperawatan
diawali pada fase orientasi, dimana fokus perawat adalah membina
hubungan saling percaya karena merupakan pertama kalinya klien
bertemu dengan perawat sehingga perawat sebagai orang asing
(Stranger). Kemudian masuk ke fase identifikasi yaitu pengkajian, yang
digabungkan dengan model pengkajian Stuart dan Laraia yang diawali
dari pengkajian karakteristik, stressor predisposisi, presipitasi, respon
klien terhadap isolasi sosial, kemampuan klien dalam mengatasi isolasi
sosial dan mekanisme koping yang biasa dilakukan oleh klien. Setelah

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


108

fase identifikasi dilanjutkan dengan fase eksploitasi yaitu fase pemberian


terapi generalis dan spesialis keperawatan jiwa baik pada klien maupun
keluarga. Pada fase ini juga perawat memberikan intervensi keperawatan
dikaitkan dengan kemampuan perawat dalam menjalankan pilar nilai
profesional dalam Model Praktik Keperawatan Profesional khususnya
pilar II dan IV.Kemudian pada fase akhir yaitu fase resolusi perawat
mengakhiri hubungan inaterpersonalnya dengan sebelumnya melakukan
evaluasi tanda dan gejala dan kemampuan klien secara kognitif, afektif
dan psikomotor. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema berikut :

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


12
109

Skema 2.3 Kerangka Konsep Penerapan Social Skills Training&Cognitive Behavior Therapy Pada Klien
Dengan Isolasi Sosial Dengan Pendekatan Teori Interpersonal Hildegar E.Peplau

FASE FASE FASE FASE RESOLUSI


ORIENTASI IDENTIFIKASI EKSPLOITASI

Hubungan Perawat - Klien


Penilaia Stressor
 Kognitif
 Afektif
Klien Isolasi Sosial Intervensi Klien Isolasi Sosial
(Manusia)  Fisiologis (Keperawatan) (Manusia) F
 Perilaku
 Sosial
e
Karakateristik : Terapi Generalis &  Tanda & Gejal ( - )
 Umur TAKS  Kemampuan adaptif
S e
 Jenis Kelamin
 Kognitif
E d
 Pekerjaan
 Afekt
H
 Pendidikan Sumber Koping A B
Personal Ability Terapi Spesialis :  Psikomtor
 Tingkat pendidikan T a
Support System  SST
c
ROLE Faktor Predisposisi : Material Assset  SST + CBT
 Biologis,
k
Of Positive Beliefs  FPE
STRANGER  Psikologis
 Sosial Budaya  Tanda & Gejala ( + )
 Kemampuan Maladaptif
Mekanisme koping  Kognitif
.Faktor Predisposisi :
 Regresi
 Biologis  Afektif
F  Proyeksi
 Psikologis  Psikomotor
 Denial
 Sosial Budaya
FaseF  Withdrawal
 Introyeksi
 Represi
 Disosiasi

Rujuk Kepalayanan
Peram Perawat: Kesehatan
1. Narasumber 4. Penasehat
2. Pendidik 5. Pengganti/wali
3. Pemimpin

LINGKUNGAN
Universitas Indonesia
Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012
12

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


12

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


109

BAB 3

MANAJEMEN PELAYANAN KEPERAWATAN JIWA

DI RUMAH SAKIT MARZOEKI MAHDI BOGOR

Bab ini menguraikan tentang profil Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor, manajemen
Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) di Rumah Sakit Marzoeki Mahdi
Bogor dan Manajemen Praktik Keperawatan Profesiona (MPKP)l di Ruang
Bratasena. Gambaran lahan praktik dan pelayanan keperawatan jiwa yang diberikan
ini bertujuan untuk melihat penerapan asuhan keperawatan dalam merawat klien
gangguan dengan diagnosa keperawatan isolasi sosialdi unit rawat rehabilitasi
Bratasena berdasarkan manajemen pelayanan yang dikembangkan di unit pelayanan
psikiatrik rumah sakit Marzoeki Mahdi Bogor.

3.1 Profil Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor


Profil rumah sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor menggambarkan tentang
sejarah singkat berdirinya rumah sakit Marzoeki Mahdi Bogor, struktur
organisasi, visi, misi, jenis dan fasilitas pelayanan kesehatan, gambaran
manajemen keperawatan di RSMM khususnya dalam asuhan keperawatan klien
dengan diagnosa isolasi sosial di unit rawat inap psikiatrik.
3.1.1 Sejarah RS Marzoeki Mahdi Bogor
RSMM merupakanrumah sakit jiwa pertama yang didirikan di Indonesia.
Keputusan pendirian rumah sakit Marzoeki Mahdi Bogor didasarkan pada
sensus pada tahun 1862 dimana banyak pasien penderita gangguan jiwa
berkeliaran di masyarakat bebas. Pertimbangan kedua didasarkan bahwa
penyakit jiwa dapat disembuhkan jika diberikan perhatian dan perawatan
yang baik. Proses pendiriannya, dimulai dengan menunjuk dua orang ahli,
yakni Dr FH Bauer, psikiater yang memimpin suatu RSJ di Belanda dan
Dr WM Smith, dokter Angkatan Laut Belanda yang mempunyai

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


110

pengalaman menghadapi kasus-kasus psikiatrik di Indonesia. Sebelum


mendirikan RSJ di Indonesia, kedua dokter itu mempelajari Rumah Sakit
Jiwa di berbagai negara yaitu Belanda, Belgia, Jerman, Inggris dan
Perancis. Berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan psikiatri saat itu,
maka berkembang pula wacana mengenai cara perawatan bagi penderita
gangguan jiwa. Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Rumah Sakit
Jiwa Bogor secara resmi pada tanggal 1 Juli 1882. RSJ Bogor ini
dikhususkan untuk merawat pegawai Hindia Belanda yang mengalami
gangguan jiwa dan diperuntukkan sebagai Rumah Sakit kustodial
(tahanan).

Sebelum ada RSJ, maka pasien yang mengalami gangguan jiwa dirawat
di Rumah Sakit Umum atau Tentara, juga dipenjara dan kantor polisi.
Mereka dikurung dan diasingkan. Fasilitas perawatannya dilengkapi jeruji
besi disetiap bangsal dengan pintu besi yang kuat. Penampungan seperti
itu terdapat di RS Cina di Batavia, Semarang, dan Surabaya.

RSJ pertama yang dibangun Pemerintah Belanda adalah RSJ Bogor.


Dokter pribumi pertama yang menjadi direktur Rumah Sakit itu adalah dr
Marzoeki Mahdi (1946-1950). Pada masa penjajahan Jepang, sebagian
bangunan RSJ Bogor dipakai untuk penampungan tentara Jepang dan
sebagian lain untuk karantina penyakit menular. Pemerintah Belanda
kemudian juga membangun rumah sakit serupa di Lawang, Magelang,
dan Sabang. RSJ Sabang ditutup pada zaman Jepang dan pasiennya
dialihkan ke Lawang dan Bogor.

Konsep RSJ yang dibangun Belanda adalah koloni, karena adanya


pendapat bahwa sekali masuk RSJ, tidak akan pernah keluar lagi,
sehingga dipersiapkan lahan yang luas. RSJ Bogor memiliki lahan seluas
117 hektar dan RSJ Lawang, memiliki lahan seluas 250 hektar. Hal ini

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


111

diperuntukkan supaya pasien dapat beraktivitas di kompleks RSJ. Alur


perkembangan ilmu psikiatri telah diketahui bahwa sepertiga dari pasien
gangguan jiwa bisa sembuh total, sepertiga lainnya harus bolak-balik ke
Rumah Sakit dan sepertiga lainnya sulit disembuhkan karena sudah
sangat parah.

RSJ Bogor menapaki babakan baru pada akhir tahun 1990-an. Pada tahun
1998, rumah sakit itu bekerja sama dengan sebuah yayasan untuk
merawat para pecandu NAPZA. Kerja sama itu berakhir pada tahun 2000
karena terjadi ketidaksesuaian metode dan konsep dalam cara perawatan,
penyembuhan, dan pemulihan.

Pada tahun 2001 sesuai dengan Visi rumah sakit sebagai model
kemandirian dan perkembangan zaman serta adanya peningkatan
pengetahuan di bidang keperawatan, sehingga hampir semua RSJ di
Indonesia berganti nama dan RSJ Bogor berganti nama menjadi RSMM.
Perkembangan tersebut juga memberi dampak pada pelayanan, sehingga
dianggap perlu untuk meningkatkan sistem pelayanan keperawatan yang
bisa menjadi model dan mandiri. RSMM bekerja sama dengan Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK-UI) telah mengembangkan
bentuk pelayanan keperawatan profesional yang dikenal dengan Model
Praktik Keperawatan Profesional (MPKP).

Proses pengembangan MPKP tersebut diawali dengan pembentukan Tim


pengembang MPKP yang terdiri dari Tim RSMM dengan FIK-UI.
Selanjutnya dilakukan pertemuan rutin setiap minggu untuk menyusun
draft konsep MPKP Jiwa. Kemudian melakukan lokakarya terhadap draft
konsep MPKP Jiwa dengan pakar MPKP. Langkah selanjutnya yaitu
sosialisasi dengan Tim Kesehatan Jiwa, proses rekrutmen staf dan
persiapan sarana serta prasarana. Langkah terakhir yaitu pelatihan staf,

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


112

soft openning, seminar nasional dan pelatihan serta Grand openning


tanggal 10 Maret 2001.

Hasil dari kegiatan ini adalah ditentukannya 1 ruangan yang menjadi


model pelaksanaan MPKP yaitu ruang Srikandi tahun 2001. Kemudian
dikembangkan ruangan MPKP kedua yaitu Sadewa pada tahun 2003, dan
dilanjutkan dengan ruangan akut Kresna pada tahun 2006. RSMM telah
mempunyai rencana strategis bahwa pendekatan MPKP merupakan salah
satu indikator mutu untuk pelayanan di ruang rawat inap. Pada tahun
2010 seluruh ruangan akan menjadi ruang MPKP.

3.1.2 Struktur Organisasi


3.1.2.1 Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor

Rumah sakit Marzoeki Mahdi Bogor merupakan rumah sakit pusat


UPT Kemenkes Republik Indonesia. Saat ini rumah sakit
Marzoeki Mahdi bogor merupakan rumah sakit badan layanan
umum. Struktur organisasi Badan Layanan Umum Rumah Sakit
Marzoeki Mahdi dipimpin oleh Direktur Utama. Direktur utama
membawahi direktorat medik dan keperawatan, direktorat SDM
dan pendidikan, direktorat keuangan dan administrasi umum,
satuan pemeriksaan intern dan komite medik serta komite etik dan
hukum.

Direktorat Medik dan Keperawatan membawahi bidang medik dan


bidang keperawatan. Bidang medik terdiri dari dua seksi yaitu
pelayanan medik dan pelayanan penunjang medik. Bidang
keperawatan mempunyai dua seksi yaitu pelayanan keperawatan
rawat jalan dan pelayanan rawat inap. Direktorat SDM dan
Pendidikan membawahi dua bagian yaitu SDM, serta Pendidikan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


113

dan Penelitian. Bagian SDM memiliki dua subbagian yaitu


administrasi kepegawaian dan pengembangan SDM. Bagian
Pendidikan dan Penelitian memiliki dua subbagian yaitu
pendidikan dan penelitian tenaga medis, pendidikan dan penelitian
tenaga keperawatan serta non medis. Direktorat Keuangan dan
Administrasi Umum membawahi dua bagian yaitu keuangan dan
administrasi umum. Bidang Keuangan mempunyai tiga subbagian
yaitu program dan anggaran, perbendaharaan dan akuntansi,
mobilisasi dana. Bidang Administrasi Umum mempunyai tiga
subbagian yaitu tata usaha dan pelaporan, rumah tangga dan
perlengkapan, hukum dan organisasi serta hubungan masyarakat.
Masing-masing direktorat membawahi instalasi terkait dan
kelompok jabatan fungsional.

3.1.2.2 Bidang Keperawatan


Struktur dibidang keperawatan dikepalai oleh seorang Kepala
Bidang Keperawatan dan membawahi 2 Kepala Seksi. Kepala
seksi pelayanan keperawatan rawat jalan membawahi seluruh unit
rawat jalan. Sedangkan kepala seksi pelayanan keperawatan rawat
inap membawahi seluruh unit rawat inap yang ada di rumah sakit
Marzoeki Mahdi Bogor.

3.1.3 Visi, Misi, dan Tujuan


3.1.3.1 Visi
Visi dari rumah sakit Marzoeki Mahdi Bogor adalah menjadi
rumah sakit jiwa dengan pelayanan paripurna, komprehensif,
bermutu dan berkeadilan.

Berdasarkan visi rumah sakit diatas memberikan gambaran bahwa


kedepannya Rumah Sakit Marzoeki Mahdi akan memberikan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


114

pelayanan secara holistik, bermutu dan dapat


dipertanggungjawabkan serta berkeadilan tanpa membedakan
status dan golongan.

3.1.3.2 Misi
a. Melaksanakan pelayanan kesehatan jiwa dengan upaya
promosi, pencegahan, pengobatan dan pemulihan.
b. Melaksanakan pelayanan kesehatan jiwa yang didukung oleh
pelayanan spesialistik lainnya.
c. Melaksanakan pelayanan kesehatan jiwa dengan unggulan
rehabilitasi NAPZA dan HIV/AIDS.
d. Mengembangkan pendidikan kesehatan dan penelitian
kesehatan secara profesional.
e. Meningkatkan akses pelayanan kesehatan kepada seluruh
masyarakat.

Berdasarkan misi rumah sakit diatas memberikan gambaran


bahwa Rumah Sakit Marzoeki Mahdi tersebut telah merumuskan
dan menyusun langkah-langkah strategis untuk mencapai visi
yang sudah ditetapkan, sehingga pelayanan paripurna,
komprehensif, bermutu dan bermutu dapat terwujud.

3.1.3.3 Tujuan
a. Tercapainya jasa layanan kesehatan jiwa dengan kualitas prima
b. Tercapainya produk unggulan dalam bidang kesehatan jiwa
c. Tersedianya sumber daya manusia bidang kesehatan jiwa yang
profesional dan kemitraan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


115

3.1.4 Jenis dan Fasilitas Pelayanan


Jenis pelayanan dan fasilitas kesehatan yang tersedia di Rumah Sakit
Marzoeki Mahdi Bogor adalah meliputi pelayanan kesehatan jiwa :
Pelayanan gawat darurat psikiatrik, pelayanan unit rawat jalan, pelayanan
rawat inap psikiatrik. Pelayanan NAPZA : Rawat jalan, rawat spesialistik,
detoksifikasi, rawat inap, dan gawat darurat. Pelayanan umum untuk
penyakit fisik (bedah, interna, anak, kebidanan dan ICU). Pelayanan
penunjang (Laboratorioum, Laboratorium, EEG, Brain Mapping,
Endoscopy, Doppler, Gizi (konsultasi gizi), IPAL, Diklat kesehatan jiwa,
NAPZA, Rehabilitasi gangguan jiwa dan Kesehatan jiwa masyarakat.
Pelayanan Hot Line Service(Pelayanan konsultasi gratis), dan pelayanan
pendidikan dan latihan. Sedangkan untuk rawat inap psikiatrik terdiri dari
ruang akut (Kresna), ruang intermediate (Gatot kaca, Utari, dan Arimbi),
sedangkan ruang tenang (Bratasena, Antareja, Dewi Amba, Drupadi,
Yudistira dan Nakula).

Manajemen asuhan dan manajemen pelayanan pada klien isolasi sosial


selama residensi 3 yang disampaikan pada Karya Ilmiah Akhir ini
dilaksanakan di salah satu ruang perawatan psikiatri yaitu ruang Bratasena
yang merupakan ruang rehabilitasi klien dewasa pria kelas III.

3.2 Manajemen Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP) di Rumah


Sakit Marzoeki Mahdi Bogor.
Rumah Sakit Mrazoeki Mahdi Bogor merupakan salah satu rumah sakit yang
telah menerapkan manajemen Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP).
Rumah Sakit Marzoeki Mahdi ini sudah mengembangkan MPKP diruang
pelayanan psikiatri yaitu ruang Srikandi tahun 2000 dan Sadewa tahun 2003,
kemudian diruang akut Kresna tahun 2006. Rumah Sakit ini telah mempunyai
rencana strategis bahwa pendekatan MPKP merupakan salah satu indikator mutu
untuk pelayanan di ruang rawat inap. Berdasarkan hasil presentasi akhir residensi

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


116

3 program spesialis keperawatan jiwa yang lalu, bahwa sampai tahun 2012 ini
penerapan menajemen pelayanan MPKP diruangan sudah dilaksanakan di 14
(empat belas) ruangan perawatan psikiatri dan 7 (tujuh) diruang perawatan
umum. Pada tahun 2015 seluruh ruangan akan menjadi ruang Model Praktik
Keperawatan Profesional (MPKP).

3.2.1 Maajemen Keperawatan

Gambaran manajemen keperawatan di Rumah Sakit Marzoeki Mahdi


Bogor berdasarkan pada kemampuan manajemen praktik keperawatan
profesional yaitu :
3.2.1.1 Perencanaan
Perumusan visi dan misi keperawatan, dilakukan oleh bidang
keperawatan dengan melakukan suatu rapat dengan seluruh
komponen keperawatan dan kemudian disosialisasikan kepada
seluruh perawat yang ada diruangan. Perencanaan strategis
keperawatan ditujukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan
keperawatan dengan pembuatan suatu rencana strategis (renstra)
tahunan yang disetujui oleh direktur utama rumah sakit, misalnya
perencanaan penyesuain jumlah sumber daya manusia (SDM)
keperawatansecara bertahap setiap tahun.

3.2.1.2 Pengorganisasian
Gambaran ruangan keperawatan Rumah Sakit Marzoeki Mahdi
Bogor dapat terlihat pada struktur organisasi bidang keperawatan.
Bidang keperawatan merupakan unit pengelolaan keperawatan
dalam bidang sumber daya manusia (SDM) keperawatan, mutu
dan etika keperawatan serta pelaksanaan asuhan keperawatan.
Kepala bidang keperawatan dibantu oleh kepala seksi
keperawatan. Metode pelayanan keperawatan menggunakan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


117

metode tim. Seluruh ruang perawatan terdapat terdapat kepala


ruang yang dibantu oleh ketua tim yang dipilih oleh bidang
keperawatan.
Pemenuhan ketenagaan dilahan atau diruangan perawatan melalui
mekanisme rekrutmen dan seleksi pegawai baru setiap tahun
sekali. Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor dalam rangka
meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) perawat,
maka setiap perawat diberi kesempatan untuk meneruskan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi secara bergiliran. Untuk
S1 keperawatan di alokasikan 5 orang pertahun, dan untuk S2
Keperawatan dialokasikan 2 orang setiap periode.

3.2.1.3 Pengarahan
Kegiatan supervisi dilakukan oleh seluruh elemen perawat mulai
dari kepala bidang, kepala seksi, kepala ruang sampai dengan
ketua tim terhadap kinerja yang dilakukan oleh bawahan secara
langsung maupun tidak langsung. Saat ini kegiatan supervisi
secara rutin dilakukan oleh tim pengembang Model Praktik
Keperawatan Profesional (MPKP) Rumah Sakit Marzoeki Mahdi
yang terdiri dari 12 orang.

3.2.1.4 Pengendalian
Kegiatan audit dokumentasi dilakukan oleh kepala ruang yang
hasil akhirnya direkapitulasi oleh bagian diklat Rumah Sakit
Marzoeki Mahdi Bogor. Penggunaan sistem komputerisasi dalam
keperawatan belum tersosialisasi, komputer masih digunakan
hanya untuk kegiatan administratif dan manajemen sistem
informasi yang digunakan masih secara manual.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


118

3.2.2 Kebijakan Direktur Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor

Direktur Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor menyatakan bahwa


kebijakan yang ada di rumah sakit sangat mendukung program praktik
keperawatan jiwa profesional untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah
sakit khususnya pelayanan keperawatan. Pengembangan MPKP di rumah
sakit Marzoeki Mahdi di mulai di unit pelayanan psikiatri yaitu ruang
Srikandi tahun 2000 dan Sadewa tahun 2003 dan tahun 2006 telah
dikembangkan di ruang akut yaitu Kresna. Fakultas Ilmu Keperawatan
melalui praktek spesialis keperawatan jiwa bekerja sama dengan rumah
sakit Marzoeki Mahdi sampai saat ini telah mengambangkan MPKP di 14
ruang di unit psikiatri. Namun empatbelas ruangan yang telah
dikembangkan tersebut belum secara optimal melaksanakan pilar-pilar
MPKP sehingga masih perlu kegiatan pendampingan dan supervisi.

Sebagai Rumah Sakit dengan ciri khusus mengutamakan kesehatan jiwa,


RSMM mengembangkan pelayanan bukan hanya khusus unit psikiatrik
namun berkembang dengan membuka unit umum untuk dewasa yaitu
ruang Antasena, Bisma, dan Arjuna; ruang kebidanan yaitu Dewi
Kunti;ruang intensive care unit yaitu Perina dan ICU, ruang
Gayatrisertaruang pelayanan anak yaitu Parikesit. Sampai saat ini sudah
tujuh ruangan umum telah dikembangkan dengan pendekatan MPKP yaitu
ruang Antasena, Bisma, Arjuna, Gayatri, Dewi Kunti, dan Parikesit serta
ruang Subadra untuk pelayanan gangguan fisiknya.

Kebijakan yang ada terkait dengan program Model Pelayanan Keperawatan


Profesional (MPKP) yaitu merencanakan Model Pelayanan Keperawatan
Profsional (MPKP) menjadi salah satu indikator mutu, diawali untuk
pelayanan rawat inap, sehingga diperlukan adanya program-program
pengembangan untuk meningkatkan mutu pelayanan diruang rawat inap,

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


119

diantaranya adalah penyedian fasilitas rawat inap VIP psikiatri. Ini


merupakan salah satu upaya dalam mempersiapkan Rumah Sakit Marzoeki
Mahdi Bogor untuk mencapai pelayanan keperawatan jiwa yang
profesional.

3.2.3 Kebijakan Bidang Keperawatan


Berdasarkan kebijakan yang telah ditetapkan oleh direktur bahwa Model
Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) pada seluruh ruang rawat pada
tahun 2015. Hasil wawancara untuk kegiatan pengarahan, akan dilakukan
kembali pertemuan rutin perawat seluruh ruangan (kepala ruangan dan
ketua tim) untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan pelayanan
keperawatan dan kendala yang dihadapi diruang perawatan, sehingga
menjadi bahan masukan bagi rencana pengembangan sumber daya manusia
(SDM) maupun sarana dan prasarana dalam mempersiapkan Model Praktik
Keperawatan Profesional (MPKP) pada tahun 2015. Kegiatan praktik oleh
mahasiswa Spesialis Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK)
Universitas Indonesia juga merupakan salah satu upaya mempersiapkan
Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor terutama ruangan tempat
melaksanakan praktik residensi dalam menerapkan Model Praktik
Keperawatan Profesional (MPKP).

3.3 Manajemen Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP) di Ruang


Bratasena Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor.
3.3.1 Profil Ruang Bratasena.
Ruang Bratasena merupakan salah satu ruangan rehabilitasi yang
memberikan pelayanan psikiatrik dewasa pria. Ruangan Bratasena
didirikan sejak tahun 2001, dan fasilitas pelayanan yang diberikan adalah
untuk klien kelas III. Pendekatan manajemen Model Praktik Keperawatan
Profesional (MPKP) mulai diterapkan sejak tahun 2007, dengan metode
asuhan keperawatan yang dipergunakan adalah bentuk metode tim.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


120

Kapasitas tempat tidur 40 dengan BOR (April2012) adalah 82,7ALOS


31haridan TOI 12 hari, angka pengekangan 0 %, angka pelarian 3 orang,
dan angka scabies 0 %.

Pasien yang dirawat di ruang Bratasena sebagian besar merupakan pasien


pindahan dari ruang rawat Kresna pria, Gatot Kaca,Subadra dan juga
Dewi Amba. Namun ruang ini juga menerima pasien langsung dari unit
rawat jalan atau istalasi gawat darurat psikiatri jika kondisi pasien relatif
tenang dan juga dari poliklinik psikiatri. Berdasarkan survey masalah
keperawatan bulan April 2012, masalah keperawatan di ruang bratasena
adalah isolasi sosial (33,9%), halusinasi (25,2%), harga diri rendah
(22,3%) resiko perilaku kekerasan (7,76 %), defisit perawatan diri
(8,74%), waham (0,97%) dan resiko bunuh diri (0,97%).

Terkait dengan sumber daya manusia yang ada diruangan Bratasena,


untuk tenaga kesehatan jumlah tenaga keperawatan sebanyak 12 orang
dengan latar belakang pendidikan 8 orang (66,66%) DIII Keperawatan,
Pendidikan S1 Keperawatan 2 orang (16,67 %) dan 2 orang (16,67%)
masih SPK. Dari 12 perawat, diidentifikasi perawat yang telah mengikuti
pelatihan MPKP sebanyak 8 orang (66,66 %) dan yang belum 4 orang
(16,66 %). Ruangan Bratasena mempunyai dokter ruangan yaitu 1 orang
dokter umum dan 1 orang dokter spesialis jiwa (psikiater).

Tenaga non keperawatan yang membantu pelayann diruang Bratasena ada


6 (enam) orang yang terdiri dari tenaga administrasi 1 orang (pendidikan
D-III), 3 orang pramu husada (pendidikan SMP, SMA) dan 2 orang
tenaga cleaning service dengan pendidikan SMP dan SMA.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


121

Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan oleh penulis, teridentifikasi


bahwa ruang Bratasena sejak tahun 2007 sudah dicanangkan sebagai
ruang yang menerapkan manajeman pelayanan MPKP. Penerapan asuhan
keperawatan pada klien isolasi sosial ini menggunakan pendekatan
manajemen pelayanan Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP).
Menajemen pelayanan pada klien kelolaan dengan isolasi sosial di
lakukan secara tim, dimana dalam hal ini bekerja sama dengan profesi
yang lain seperti dokter/psikiater untuk pemberian terapi medis, psikolog
dan juga tim rehabilitasi.

3.3.2 Kemampuan Perawat Ruang Bratasena Menjalankan Model Praktik


Keperawatan Profesioanal (MPKP).
Kemampuan yang harus dimiliki oleh perawatdiruangan dalam
menjalankan Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) adalah
kemampuan yang didasarkan pada pilar-pilar nilai profesional MPKP,
terutama dalam penerapan asuhan keperawatan klien dengan isolasi sosial
sebagai berikut :
1). Management Approach
(a) Perencanaan
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan diruang Bratasena
terkait dengan kegiatan perencanaan menunjukkan bahwa visi,
misi, dan filosofi telah dirumuskan dan disosialisasikan kepada
seluruh perawat diruangan, kemudian dipajang di dinding ruang
perawat sehingga mudah dilihat, dan telah diterapkan oleh seluruh
perawat dalam menjalankan kegiatan pelayanan keperawatan di
ruang Bratasena. Rencana kegiatan jangka pendek perawat
diruangan berupa rencana harian dan bulanan belum dibuat secara
optimal. Untuk mengoptimalkan dan membudayakan pembuatan
rencana jangka pendek tersebut, maka dilakukan kegiatan
pendampingan dan supervisi insidentil untuk memastikan apakah

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


122

pembuatan rencana jangka pendek sudah membudaya dilakukan


oleh perawat di ruang Bratasena.

(b) Pengorganisasian
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di ruang Bratasena
terkait dengan kegiatan pengorganisasia menunjukkan bahwa
struktur organisasi yang baru sudah ada dan dipajang dinding
ruang perawatan, namun unsur perawat konsultan belum
dimasukkan dalam struktur.Jadual dinas sudah dibuat dalam satu
bulan, perbandingan dinas pagi: sore: malam adalah 4:2:2. Daftar
alokasi klien termasuk klien dengan isolasi sosial sudah ada
ditempel di ruang perawat yang memungkinkan klien dan keluarga
mengetahui siapa perawat penanggung jawab klien pada shift
tersebut.
(c) Pengarahan
Hasil observasi yang dilakukan di ruang Bratasena terkait dengan
kegiatan pengarahanmenunjukkan bahwa operan khususnya hasil
asuhan keperawatan klien isolasi sosial telah dilaksanakan pada
pergantian shift, usaha menciptakan iklim motivasi yang baik
sesama perawat di ruangan telah dilakukan dalam bentuk memberi
pujian, melakukan doa bersama diawal dan diakhir kegiatan shift,
serta budaya berjabat tangan setiap memulai dan mengakhiri
dinas. Kegiatan supervisi sudah dilakukan namun belum
terstruktur dan belum menggunakan raport,format pendelegasian
sudah ada. Untuk mengoptimalkan kegiatan supervisi oleh
perawat di ruangan, maka dilakukan kegiatan pendampingan dan
supervisi insidentil terhadap pelaksanaan kegiatan supervisi.
(d) Pengendalian
Hasil observasi dokumen yang dilakukan di ruang Bratasena
menunjukkan bahwa perawat diruangan sudah melakukan audit

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


123

dokumentasi terhadap dokumen klien termasuk klien dengan


isolasi sosial yang pulang, melakukan survey7 (tujuh) masalah
keperawatan, melakukan survey kepuasan klien dan keluarga,
serta penghitungan indikator mutu yang terdiri dari indikator
umum yaitu BOR, ALOS, TOI, dan indikator rumah sakit jiwa
yaitu angka lari, restrain, kasus cidera dan skabies. Nilai
rekapitulasi indikator mutu, dan survey masalah keperawatan
sudah dituliskan di papan (whiteboard) indikator mutu yang ada di
ruang perawat. Sedangkan hasil survey kepuasan klien dan
keluarga didokumentasikan dan disimpan dalam map khusus.

2) Compensatory Reward
Hasil observasi dokumen yang dilakukan di ruang Bratasena
menunjukkan bahwa perawat belum optimal mendokumentasikan hasil
penilaian kinerja(supervisi) di buku rapor. Penanggung jawab perawat
di ruang Bratasena sudah mempunyai data pelatihan yang sudah diikuti
oleh beberapa perawat diruangan dan rancangan pengembangan
perawat yaitu pendidikan berkelanjutan kejenjang yang lebih tinggi.
Untuk mengoptimalkan kegiatan kegiatan supervsi tersebut, dilakukan
kegiatan supervisi insidentil terhadap kemampuan melakukan
penilaian kinerjaa. Sedangkan pendampingan dalam kegiatan
pengembangan perawat dilakukan pada saat dilaksanakannya pelatihan
Consultant Liasson Mental Health Nursing (CLMHN) oleh bidang
diklat Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor.

3) Professional Relationship
Hasil observasi dokumen yang dilakukan diruang Bratasena
menunjukkan bahwa sudah ada dokumentasi kegiatan case confrence
yang dilakukan oleh perawat ruang Bratasena berupa undangan, daftar
hadir peserta dan handout materi case conference, sudah

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


124

adadokumentasi visit dokter di buku khusus, adanya dokumentasai


rapat ruangan, dan rapat tim kesehatan. Untuk mengoptimalkan
kegiatan profesional relationshipoleh perawat diruangan
Bratasena,maka dilakukan kegiatan pendampingan sekaligus supervisi
insidental kegiatan tersebut.

4)Patient Care Delivery


Hasil observasi dokumen yang dilakukan di ruang Bratasena terkait
dengan kegiatan patient care delevery menunjukkan bahwa ruangan
Bratasena sudah memiliki standar asuhan keperawatan jiwa dan
leafletuntuk 7(tujuh) diagnosa gangguan termasuk diagnosa klien
dengan isolasi sosial. Ruangan Bratasena juga sudah memiliki Standar
Operasional Prosedur (SOP) tindakan keperawatan jiwa. Untuk
mengoptimalkan kegiatan patient care delivery ini, sudah dilakukan
kegiatan pendampingan kepada perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan pada 7 (tujuh) diagnosa keperawatan gangguan termasuk
klien dengan isolasi sosial. Berdasarkan pada hasil penilaian kinerja
perawat di ruang Bratasena terkait dengan pemberian asuhan
keperawatan pada klien dengan isolasi sosial semua perawat
dinyatakan lulus.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


125

BAB 4

PENERAPAN MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

PADA DIAGNOSA KEPERAWATAN ISOLASI SOSIAL

Bab ini membahas tentang hasil penerapan manajemen asuhan keperawatan kasus
spesialis keperawatan jiwa pada diagnosa keperawatan isolasi sosialsaat penulis
melaksanakan praktik residen 3 diruang Bratasena pada tanggal 20 Februari – 20 April
2012.Pemberian asuhan keperawatan pada klien gangguan dengan diagnosa
keperawatan isolasi sosial dilakukan dengan pemberian terapi social skills training dan
cognitive behavior therapy dan pendekatan proses keperawatan, konsep Stress Adaptasi
Stuart, Konsep Psikodinamika Keperawatan, serta Konsep Hubungan Interpersonal
Peplau.

Berikut ini akan diuraikan secara rinci hasil penerapan manajemen asuhan kasus
spesialis keperawatan jiwaklien dengan isolasi sosial diruang Bratasena meliputi
pengkajianhasil yang terdiri dari karakteristik klien, stressor predisposisi dan stressor
presipitasi, respon klien terhadap isolasi sosial, dan kemampuan klien dalam mengatasi
isolasi sosial ; diagnosa keperawatan, dan diagnosa medis sertahasil penatalaksanaan
keperawatan dan medis (psikofarmaka) pada klien isolasi sosial sebagai berikut :

4.1 Pengkajian
4.1.1 Karakteristik Klien Isolasi Sosial
Karakteristik 39klien dengan isolasi sosial di ruang Bratasena yang
merupakan ruang rehabilitasi untuk klien laki-laki dewasadikelompokkan
berdasarkan umur, pekerjaan dan pendidikan (tabel 4.1).

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


126

Tabel 4.1.
Distribusi Karakteristik Klien Isolasi Sosial diRuang Bratasena RSMM
Periode20 Februari-20 April 2012
(n=39)

No Variabel Jumlah Prosentase (%)

1 Umur
 18-24 tahun 3 7,69
 25-65 tahun 36 92,7

2 Pekerjaan
 Kerja 3 7,69
 Tidak bekerja 36 92,7

3 Pendidikan
 Rendah (SD) 10 25,6
 Menangah (SMP) 19 48,7
 Tinggi (SMA) 9 23,0
 PT 1 2,56

4 Status Perkawinan
 Belum Nikah 33 84,6
 Nikah 1 2,56
 Duda 5 12,8

5 Tingkat Kemandirian
 Partial care 32 82,0
 Self care 7 17,9

Berdasarkan tabel 4.1 tersebut diatas dijelaskan bahwa karakteristik usia


adalah36 orang klien (92,7%) berada pada usia 25-65 tahun.Pekerjaan klien
rata-rata adalah tidak bekerja sebanyak 36 orang (92,7Untuk karaktersistik
pendidikan,klienpalingpendidikan menengah (SMP) sebanyak 19 orang
(48,7%). Berdasarkan tingkat kemandirian kliendiperoleh rata-rata tingkat
ketergantungan dari 39 klien yang terbanyak adalah Partial care yaitu 32
orang (82,0%).

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


127

4.1.2 Stressor Klien Isolasi Sosial

Hasil pengkajian yang dilakukan terhadap stressor klienisolasi sosialberupa


faktor predisposisi dan presipitasi sebagai berikut :
4.1.2.1 Stressor Predisposisi

Pada pengkajian klien dengan diagnosa keperawatan isolasi sosial, stressor


predisposisi akan diidentifikasi berdasarkan tiga komponen stressor
predisposisi yaitu stressorbiologis, stressorpsikologis dan
stressorsosialkultural terhadap 39 klien yang sudah dikelola. Untuk lebih
jelasanya stressor predisposisi terjadinya masalah isolasi sosial dapat dilihat
pada tabel 4.2 berikut ini.

Tabel 4.2.
Distribusi Stressor Predisposisi Klien Isolasi Sosialdi Ruang BratasenaRSMM
Periode20 Februari-20 April 2012
(n=39)

No Variabel Jumlah Prosentase


(%)

1 Biologi
 Penyakit fisik/trauma 9 23,0
 Genetik 8 20,5
 Riwayat dirawat berulang 22 56,4
 NAPZA 8 20,5

2 Psikologis
 Kepribadian tertutup 33 84,6
(Introvert)
 Pengalaman kehilangan 16 41,0
 Pengalaman kekerasan 4 10,2

3 Sosial Budaya
 Jarang terlibat dalam 36 92,3
kegiatan sosial
 Komunikasi tertutup 35 89,7

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


128

Berdasarkan tabel 4.2 diatas menunjukkan bahwa stressor biologis yang


banyak teridentifikasi dengan klienisolasi sosial yang dirawat adalah adanya
riwayat klien yang dirawat berulangsebanyak 22 orang (56,4%).Stressor
psikologis; pada sebagian besar kasus ditemukan bahwa klien memiliki tipe
kepribadian yang tertutup (introvert) sebanyak 33 orang (84,6%) sehingga
tidak memiliki orang terdekat atau orang yang berarti dalam hidupnya.
Stressor sosial budaya; pada sebagian besar kasus ditemukan bahwa klien
dengan masalah isolasi sosial kurang terlibat dalam kegiatan sosial yang ada
dalam masyarakat yaitu ditemukan kasus sebanyak 36 orang
(92,3%),sedangkan pola komunikasi yang tertutup baik dengan keluarga
maupun masyarakat sebesar 35 kasus (89,7).

4.1.2.2 Stressor Presipitasi

Faktorpresipitasi adalah stimulus internal maupun eksternal yang mengancam


individu. Faktor presipitasi ini dapat bersifat biologis yaitu putus obat,
psikologis yaitu merasa tidak berguna, malu dengan kondisinya dan gagal
membina hubungan degan lawan jenis, sedangkan faktor presipitasi yang
bersifat sosial kultural adalah tidak bekerja.Selain sifat stresor, aspek faktor
presipitasi yang juga dikaji adalah asal stresor, waktu dan jumlah stressor.

Tabel 4.3 berikut ini akan menyajikan distribusi faktor presipitasi terjadinya
masalah isolasi sosial pada klien yang dirawat yang terdiri dari faktor
presipitasi biologis, psikologis, dan sosial budaya :

Tabel 4.3.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


129

Distribusi Stresor Presipitasi Klien Isolasi Sosial diRuang Bratasena RSMM


Periode 20 Februari-20 April 2012
(n=39)

No Variabel Jumlah Prosentase (%)

1  Biologis (putus obat) 35 89,7

2  Psikologis
o Merasa tidak berguna 18 46,1
o Malu dengan kondisi 21 53,8
fisiknya
o Gagal membina 6 15,3
hubungan dengan lawan
jenis

3  Sosial Budaya 36 92,3


o Tidak bekerja

4  Asal Stresor
o Internal 24 61,4
o Eksternal 15 38,4

5  Waktu
o Lebih dari 6 bulan 39 100

6  Jumlah Stresor
o >1 39 100

Berdasarkan pada tabel 4.3 bahwa faktor presipitasi biologis yang paling
banyak adalah putus obat yaitu sebanyak 35 kasus (89,7%). Pada stresor
psikologis yang paling berpengaruh adalah merasa malu dengan kondisi
fisiknya sebanyak 21 kasus (53,8%), sedangkan stresor psikologis lainnya
adalah merasa tidak berguna 18 kasus (46,1%).Pada aspek sosial budaya
ditemukan satu stresor yang hampir semua ditemukan pada klien isolasi
sosial yang dikelola yaitu tidak bekerja sebanyak 36 kasus (92,3%). Asal
stressor klien isolasi sosial berasal dari stresor internal 24 kasus (61,4%),
ekstrenal 15 kasus (38,4%), kejadian stresor tersebut diatas rata-rata kurang
< 6 bulan dengan jumlah stresor semua (100%) > 1 stresor.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


130

4.1.2.3 ResponTerhadap Stresor Pada Klien Isolasi Sosial.


Respon terhadap stresor meliputi penentuan arti dan pemahaman terhadap
pengaruh situasi yang penuh dengan stres bagi individu. Respon terhadap
isolasi sosial ini meliputi respon kognitif, afektif, fisiologis, perilaku dan
respon sosial.

Tabel 4.4.
Distribusi ResponTerhadap Stresor KlienIsolasi SosialDiRuang Bratasena
Periode 20 Februari-20 April 2012
(n=39)

No Variabel Jumlah Prosentase (%)

1 Respon Kognitif
 Kurang perhatian 24 61,5
 Tidak dapat berpikir secara 29 74,3
logis& mengambil keputusan

2 Respon Afektif
 Bingung 30 76,9
 Khawatir 4 10,2
 Sedih 30 76,9

3 Respon Fisiologis
 Tegang 2 5,12
 Gangguan pola tidur 26 66,6
 Keluhan fisik (Tremor) 3 7,69

4 Respon Perilaku
 Marah 2 5,12
 Diam 36 92,3
 Kontak mata kurang saat 29 74,3
bicara

5 Respon Sosial
 Menghindari orang lain 24 61,5
 Sulit berinteraksi 15 38,4

Berdasarkan tabel 4.4 diatas dijelaskan bahwa respon terhadap stresor pada
klien dengan isolasi sosial di ruang Bratasena RSMMsecara kognitifsebagian
besar yaitu 29 kasus (74,3%) ditemukan bahwa klien dengan masalah

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


131

keperawatan isolasi sosial tidak dapat berpikir secara logis dan mengambil
keputusan. Respon afektif pada klien dengan isolasi sosial terhadap stresor
terkait dengan ekspresi emosinya dalam menghadapi masalah yaitu berupa
perasaan sedih sebanyak 30 kasus (76,9%) dan perasaan bingung sebanyak 30
(76,9%). Respon perilaku pada sebagian besar klien dengan masalah
keperawatan isolasi sosial adalah memandang bahwa masalah yang muncul
berasal dari kegagalan mereka sendiri. Klien lebih menyalahkan dirinya
sendiri dan marasa sedih yang ditampilkan dengan lebih banyak diam
sebanyak 36 kasus (92,3%) dankontak mata kurang sebanyak 29 kasus
(74,3%). Respon fisiologis ditunjukkan oleh sebagian besat klien dengan
masalah keperawatan isolasi sosial sebagai bentuk kegagalannya dalam
beradaptasi secara fisik akibat masalah yang dirasakan yaitu gangguan pola
tidur yaitu klien susah tidur sebanyak 26 kasus (66,6%).Respon Sosial yang
dilakukan oleh sebagaian besar klien dengan masalah keperawatan isolasi
sosial adalah dengan menghindari interaksi dengan orang lain sebagai sumber
stresor sebanyak 24 kasus (61,5%).

4.1.3 Kemampuan Klien Dalam Mengatasi Isolasi Sosial

Pengkajian kemampuan kliendalam mengatasi diagnosis isolasi sosial


didasarkan pada beberapa kemampuan yaitu kemampuan personal (personal
ability), dukungan sosial (social support), kemampuan memanfaatkan
fasilitas kesehatan dan finansial (material assets) serta keyakinan positif
(positive beliefs). Secara lengkap kemampuan klien dalam mengatasi isolasi
sosial diuraikan pada tabel 4.5.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


132

Tabel 4.5.
Distribusi Kemampuan Klien Dalam Mengatasi Isolasi Sosial
Di Ruang Bratasena RSMM Periode 20 Februari-20 April 2012
(n=39)

No Variabel Jumlah Prosentase (%)

1 Kemampuan Personal (personal ability)


 Mampu menyebutkan penyebab isolasi 7 17,9
sosial
 Mampu menyebutkan keuntungan 7 17,3
berinteraksi dengan orang lain
 Mampu menyebutkan kerugian tidak 7 17,3
berinteraksi dengan orang lain
 Mampu memperagakan cara berkenalan 5 12,8
dengan 1 orang
 Mampu memperagakan cara berkenalan 5 12,8
dengan 2 orang atau lebih
 Memiliki jadwal kegiatan berbincang- 4 10,2
bincang dengan orang lain
 Mampu melakukan perbincangan dengan 4 10,2
orang lain
2 Keyakinan Positif (positive beliefs)
 Pasrah dan berdoa 10 25,6
 Yakin dirinya akan sembuh 29 74,3

3 Dukungan Sosial (support system) n=10


 Keluarga tahu dan mengenal masalah 3 30
anggota keluarga dengan isolasi sosial
 Keluarga mampu mengambil keputusan 3 30
dalam merawat anggota keluarga dengan
isolasi sosial
 Keluarga mampu merawat anggota keluarga 2 20
dengan isolasi sosial
 Keluarga mampu memodifikasi lingkungan 2 20
dalam merawat anggota keluarga dengan
isolasi sosial
 Keluarga mampu menggunakan fasilitas 3 30
kesehatan dalam merawat anggota keluarga
dengan isolasi sosial

Berdasarkan tabel 4.5 diatas menjelaskan kemampuanklien dan keluarga


dalam mengatasi isolasi sosial di ruang Bratasena yaitu;Kemampaun personal
(personal ability):Pada klien denganisolasi sosial, dari 39 klien yang dikelola
teridentifikasi 7 klien (17,9%) mampu menyebutkan penyebab isolasi sosial,
7 klien(17,9%) mampu menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


133

lain, 7 klien (17,9%), mampu menyebutkan kerugian tidak berinteraksi


dengan orang lain, 5 klien (12,8%) mampu memperagakan cara berkenalan
dengan 1 orang, 5 klien (12,8%) mampu memperagakan cara berkenalan 2
orang atau lebih), 4 klien (10,2%) memiliki jadwal kegiatan berbincang-
bincang dengan orang lain, dan 4 klien (10,2%) mampu melakukan
perbincangan dengan orang lain. Dukungan sosial (social support)pada klien
isolasi sosial yang dikelola dengan isolasi sosial teridentifikasi beberapa klien
yang mendapat dukungan dari keluarga berupa adanya pengetahuan dan
kemampuan keluarga dalam merawat klien dengan masalah isolasi sosial.
Sedangkan kemampuan klien lainnya berupa kepercayaan dan keyakinan
positif (positive beliefs)dalam mengatasi isolasi sosial yaitu pasrah dan
berdoa sebanyak 10 kasus (25,6%) sedangkan keyakinan bahwa dirinya akan
sembuh sebanyak 29 kasus (74,3%).

Dari 39 klien isolasi sosial yang dikelolah, terdapat 10 keluarga yang


dilakukan pengkajian saat datang menjenguk klien.Dari 10 keluarga tersebut
teridentifikasi kemampuan keluarga yaitu keluarga tahu dan mengenal
masalah anggota keluarga dengan isolasi sosial sebanyak 3 keluarga (30%),
keluarga mampu mengambil keputusan dalam merawat anggota keluarga
dengan isolasi sosial sebanyak 3 keluarga (30%), keluarga mampu merawat
anggota keluarga dengan isolasi sosial sebanyak 2 keluarga (20%), keluarga
mampu memodifikasi lingkungan dalam merawat anggota keluarga dengan
isolasi sosial sebanyak 2 keluarga (20%), dan keluarga mampu menggunakan
fasilitas kesehatan dalam merawat anggota keluarga dengan isolasi sosial
sebanyak 3 keluarga (30%).

Berdasarkan hasil pengkajian bahwa kemampaun klien memanfaatkan


pelayanan kesehatan sertafaktor finansial dalam mengatasi isolasi sosial,
sebagian besar kliendan keluarga menyebutkan bahwa aset material/faktor
finansial yang dimiliki adalah keuangan dan penghasilan keluarga yang rata-

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


134

rata kurang mencukupi untuk menggunakan pelayanan kesehatan dirumah


sakit. Sebagian besar klien isolasi sosialyang dikelola di ruangan Bratasena
menggunakan Jamkesmas/Jamkesda atau SKTM yaitu sebanyak 37 kasus
(94,8%) dan teridentifikasi jumlah klien yang dapat memanfaatkan fasilitas
pelayanan kesehatan terdekat (puskesmas) sebanyak 15 kasus (38,4%).

4.1.4 Diagnosis Keperawatan dan Diagnosis Medis


Berdasarkan pada tanda dan gejala yang ditemukan pada saat pengkajian
maka, penulis merumuskan diagnosiskeperawatan yaitu isolasi sosial. Dari
43 pasien yang dirawat selama residensi 3 diruang Bratasena, terdapat 39
kasus merupakan diagnosa keperawatan dengan isolasi sosial.
Diagnosiskeperawatan isolasi sosial merupakan diagnosis yang paling banyak
dialami oleh klien kelolaan di ruang Bratasena,selain diagnosis isolasi
sosialpada klien tersebut juga ditemukan diagnosis yang lain sebagai
diagnosiskeperawatan penyerta klien dengan isolasi sosialyaitu
diagnosisharga diri rendah (HDR), halusinasi, resiko perilaku kekerasan
(RPK), dan defisit perawatan diri (DPD). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada tabel 4.6.
Tabel 4.6
Distribusi DiagnosisKeperawatan
Pada Klien dengan Isolasi Sosial di ruang Bratasena RSMM
n= 39
Diagnosis Jumlah (%)

Dx. Keperawatan

Utama Penyerta

Isolasi Sosial  HDR 24 61,5


 Halusinasi
 Halusinasi 10 25,6
 RPK
 HDR 5 12,8
 DPD

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


135

Berdasarkan tabel 4.6 diatas diketahui bahwa sebagian besar klien dengan
isolasi sosil mengalami harga diri rendah dan halusinasi (61,5%) serta
halusinasi dan RPK (25,6%).

Berdasarkan data bahwa, dari 39 klien dengan isolasi sosial yang dirawat di
ruang Bratasena, teridentifikasi beberapa diagnosa medisdan paket terapi
yang diberikan yaitudiantaranya diagnosisskizofrenia paranoid sebanyak 36
klien (92,3%), skizofrenia residual sebanyak 1 orang (5,12%), skizofrenia
hiberfrenik sebanyak 1 orang (5,12%) dan skizofrenia afektif sebanyak 1
orang (5,12%), sedangkan paket terapi yang diberikan berupa antipsikotik
tipikal, atipikal dan kombinasi antara tipikal dan atipikal.
Untuk lebih jelasnya Tabel 4.7akan menjelaskan tentang distribusi diagnosa
medis dan paket terapi medis pada klien dengan isolasi sosial yang rawat di
ruang Bratasena.

Tabel 4.7
Distribusi DiagnosisMedis dan Terapi Medis
Pada Klien dengan Isolasi Sosial di ruang Bratasena RSMM
n= 39
No Diagnosa Jumlah (%)

Dx. Medis

1  Skizofrenia paranoid 36 92,3

2  Skizofrenia residual 1 5,12

3  Skizofrenia afektif 1 5,12

4  Skizofrenia Hiberfrenik 1 5,12

Terapi Medis

Paket Terapi

1  Antipsikotik Tipikal 30 76,9

2  Antipsikotik Atipikal 3 7,69

3  Kombinasi Tipikal dan Atipikal 6 15,3

Jumlah 39 100

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


136

Bedasarkan tabel 4.7 diatas, klien rata-rata didiagnosa dengan skizofrenia


paranoid (92.3%), skizofrenia residual (5,12%), skizofrenia afektif (5,12%)
dan skizofrenia hiberfrenik (5,12%). Jenis terapi psikofarmaka yang diberikan
pada sebagian besar pasien dengan isolasi sosial adalah antipsikotik tipikal
(76.9%).

4.1.5 Penatalaksanaan Klien Kelolaan Dengan DiagnosaKeperawatan Isolasi


Sosial
Penatalaksanaan klienkelolaan dengan diagnosa keperawatanisolasi sosialdi
ruang Bratasena dilakukan dengan pendekatan terapi keperawatan dan terapi
psikofarmaka (medis) sebagai berikut :
4.1.5.1 Penatalaksanaan Keperawatan
a. Rencana Tindakan
Rencana manajemen kasus spesialis keperawatan jiwa dilakukan
dengan menyusun tindakan keperawatan yang akan diberikan
kepada klien dengan isolasi sosial. Tabel 4.8 menyajikan paket
terapi (generalis dan spesialis keperawatan jiwa) yang diberikan
pada klien dengan diagnosa keperwatan isolasi sosial.
Tabel 4.8
Paket terapi yang direncanakan diberikan pada klien diagnosa keperawatan isolasi
sosial di ruang Bratasena RSMM
Sasaran Terapi Terapi Generalis Terapi Spesialis

 Individu  SP Isolasi sosial pada  Social skills


individu training
 Cognitive
behavior
therapy
 Logotherapy

 Keluarga  SP Isolasi Sosial pada Keluarga  Family psycho


education

 Kelompok  TAKS  Supportif


Therapy

Berdasarkan tabel 4.8 diatas bahwa rencana tindakan yang akan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


137

diberikan pada klien isolasi sosial adalah kombinasi antara terapi


individu, terapi keluarga dan terapi kelompok. Terapi individu
untuk klien meliputi social skills training, cognitive behavior
therapy, dan logotherapy. Terapi keluarga klien isolasi sosial
adalah psikoedukasi keluarga. Terapi kelompok adalah
terapisuportif.

1) Terapi Keperawatan Jiwa Untuk Klien Isolasi Sosial


a) Terapi Generalis.
Terapi generalis keperawatan jiwa dengan isolasi sosial
bertujuan agar klien mampu membina hubungan saling
percaya, mampu menyadari penyebab isolasi sosial, dan
mampu berinteraksi dengan orang lain. Tindakan yang
dilakukan berupa membina hubungan saling percaya,
membantu klien mengenal penyebab isolasi sosial,
membantu klien mengenali keuntungan dari membina
hubungan dengan orang lain, dan membantu mengenali
kerugian dari tidak membina hubungan dengan orang lain
sertamembantu klien untuk berinteraksi dengan orang lain
secara bertahap.

b) Terapi Aktifitas Kelompok (TAK: Sosialisasi)


Terapi aktifitas kelompok merupakan aktifitas hubungan
tahapan komunikasi dengan orang lain untuk meningkatkan
kemampuan klien dalam berhubungan sosial. Pelaksnaaan
terapi aktifitas kelompok sosialiasi (TAKS) pada klien
isolasi sosial dilaksanakan dalam 7 (tujuh) sesi, dengan
kegiatan masing-masing yaitu ; membantu klien
memperkenalkan diri, membantu klien berhubungan dengan
anggota kelompok, membantu klien bercakap-cakap dengan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


138

anggota kelompok, membantu klien membicarakan topik


pembicaraan, membantu klien menceritakan masalah
pribadi pada orang lain, membantu klien bekerjasama dalam
permainan sosialisasi kelompok, dan membantu klien
menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan TAK
sosialisasi.

c) Terapi Spesialis Keperawatan Jiwa


Pengembangan terapi spesialis dilakukan dengan
menganalisa kebutuhan dan pendekatan yang tepat yang
diberikan kepada klien isolasi sosialdengan pendekatan
individu, keluarga dan kelompok. Adapun terapi spesialis
keperawatan jiwa yang diberikan pada klien dengan isolasi
sosial adalah :
(1) Terapi social skills training
(a) Tujuan
Untuk meningkatkan keterampilan interpersonal
pada klien dengan gangguan hubungan
interpersonal dengan melatih keterampilan klien
yang selalu digunakan dalam hubungan dengan
orang lain dan lingkungan.
(b) Tindakan :
- Sesi I (Melatih kemampuan komunikasi)
- Sesi II (Melatih kemampuan menjalin
persahabatan)
- Sesi III (Melatih kemampuan klien terlibat
dalam kegiatan bersama)
- Sesi IV (Melatih kemampuan klien
menghadapi situasi sulit)
- Sesi V (Evaluasi terapi social skills training)

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


139

(2) Terapi cognitive behavior therapy


(a)Tujuan
Untuk memodifikasi fungsi berfikir, perasaan,
bertindak, dengan menekankan fungsi otak dalam
menganalis, memutuskan, bertanya, berbuat dan
mengambil keputusan kembali. Dengan merubah
status pikiran dan perasaannya, klien diharapkan
dapat merubah perilaku negatif menjadi positif
(b)Tindakan :
- Sesi I : Pengkajian (Mengungkapkan pikiran
otomatis negatif tentang diri sendiri,
perasaan, dan perilaku negatif klien yang
berkaitan dengan stressor).
- Sesi II : Terapi Kognitif (Mereview pikiran
otomatis yang negatif yang pertama yang
sudah dilatih sebelumnya dan melatih untuk
mengatasi pikiran otomatis negatif yang
kedua.
- Sesi III : Terapi Perilaku (Mengevaluasi
pikiran otomatis negatif yang masih ada,
mengidentifikasi perilaku positif yang
dimiliki, mengidentifikasi perilaku positif
yang baru dan menyusun rencana perilaku
yang ditampilkan untuk mengubah perilaku
negatif yang timbul).
- Sesi IV : Evaluasi Terapi Kognitif dan
Perilaku (Mengevaluasi kemajuan dan
perkembangan terapi, mereview pikiran

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


140

otomatis negatif dan perilaku negatif,


memfokuskan terapi, dan mengevaluasi
perilaku yang dipelajari berdasarkan
konsekuensi yang disepakati
- Sesi V : Mencegah Kekambuhan
(Menjelaskan pentingnya psikofarmaka dan
terapi modalitas lainnya)

2) Terapi keperawatan Jiwa untuk keluarga


a) Terapi Generalis
Tindakan keperawatan generalis untuk keluarga dengan
klien isolasi sosial bertujuanagar keluarga mampu
merawat klien isolasi sosial. Tindakan yang dilakukan
yaitu mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga
dalam merawat klien, memberikan penjelaskan kepada
keluarga tentang : masalah isolasi sosial dan dampaknya
pada klien, penyebab isolasi sosial, dan menjelaskan cara-
cara merawat klien isolasi sosial, membantu keluarga
memperagakan cara merawat klien isolasi sosial,
membantu keluarga mempratikkan cara merawat anggota
keluarga dengan isolasi sosial yang telah dipelajari, dan
memberikan penjelasan kepada keluarga tentang
perawatam lanjutan pada anggota keluarga dengan isolasi
sosial.

b) Terapi Spesialis Keperawatan Jiwa


Terapi spesialis keperawatan jiwa pada keluarga berupa
Family Psyhcoeducation (FPE) yang bertujuan untuk
meningkatkan pengetahuan keluarga dan anggota keluarga
tentang penyakit dan pengobatan, meningkatkan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


141

kemampuan keluarga dalam upaya menurunkan angka


kekambuhan, mengurangi beban, melatih keluargauntuk
lebih bisa mengungkapkan perasaan, dan bertukar
pandangan anggota keluarga dan orang lain. Tindakan
yang dilakukan adalah mengidentifikasi masalah yang
dirasakan oleh keluarga (caregiver) dalam merawat
anggota keluarga dengan isolasi sosial dan masalah
pribadi caregiver, mendiskusikan dengan keluarga tentang
perawatan anggota keluarga dengan isolasi sosial oleh
keluarga, mendiskusikan dengan keluarga tentang
manajemen stress yang dilakukan oleh keluarga,
mendiskusikan bersama keluarga tentang manajemen
beban keluarga, dan mendiskusikan bersama dengan
keluarga tentang pemberdayaan komunitas untuk
membantu keluarga.

Pada penulisan Karya Ilmiah Akhir ini, penulis hanya membahas


pelaksanaan terapi spesialis social skills training dan
terapicognitivebehavior therapy untuk klien isolasi sosial,
sedangkan untuk keluarga dengan terapi spesialis family
psychoeducation.

b. Pelaksanaan Tindakan Keperawatan

Tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien dengan diagnosa


keperawatan isolasi sosial pada masing-masing klien sangat
bervariasi. Tindakan keperawatan yang diberikan meliputi terapi
generalis dan terapi spesialis. Tindakan generalis(klien dan
keluarga) dan terapi aktifitas kelompok (TAK: Sosialisasi)
diberikan oleh perawat ruangan dan mahasiswa S1 Keperawatan
yang sedang melakukan praktik profesi diruang Bratasena,

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


142

sedangkan mahasiswa perawat spesialis keperawatan jiwa


mengevaluasi hasil terapi generalis dan TAKS yang telah
dilakukan dan memberikan terapi spesialis keperawatan jiwa pada
klien berupa social skills training, dan cognitive behavior therapy
sedangka untuk keluarga diberikan terapi family
psychoeducation.Tindakan keperawatan secara garis besar dapat
dilihat pada tabel 4.9

Tabel 4.9.
Distribusi Pelaksanaan Terapi Keperawatan
Pada Klien dengan Isolasi SosialDi Ruang Bratasena RSMM
Periode 20 Februari-20 April 2012
n= 39

No Variabel Jumlah %

1 Terapi Generalis

 Klien 39 100

 Keluarga 10 25,6

 TAKS 37 94,8

2 Terapi Spesialis

 Social Skilss Training 26 66,6

 Cognitive Behavior Therapy 15 38,4

 Family Psychoeducation 10 25,6

Berdasarkan tabel 4.9diatas akan diuraikan tentang tindakan


keperawatan yang diberikan kepada 39 klien isolasi sosialdan 10
keluarga dengan anggota keluarga mengalami masalah
keperawatan isolasi sosial yang dirawat di ruang Bratasena Rumah
Sakit Marzoeki Mahdi Bogor, yaitu:
1) Tindakan Keperawatan Klien :

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


143

a) Generalis : Interaksi dengan 39 klien rata-rata dilakukan


sebanyak 3-4 kali pertemuan. Pelaksanaan intervensi
generalis dilakukan oleh penulis, perawat ruangan, dan
mahasiswa D-III ataupun S1 keperawatan yang sedang
praktik diruang Bratasena yang berpedoman kepada
standar asuhan keperawatan (SAK) dengan isolasi sosial.
Pelaksanaan tindakan generalis ini meliputi: membantu
klien mengidentifikasi penyebab isolasi sosial,
mendiskusikan bersama dengan klien tentang manfaat dan
kerugian melakukan interaksi, mengajarkan dan
memotivasi klien untuk berkenalan dengan orang lain
secara bertahap.

Kemampuan yang sudah dicapai setelah setelah pemberian


tindakan generalis antara lain klien mampu membina
hubungan saling percaya dengan orang lain, mampu
mengidentifikasi penyebab isolasi sosial klien,
mengetahui keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan
orang lain, mampu berkenalan dengan satu orang pertama
dan selanjutnya klien mampu berkenalan lebih dari satu
orang.

Pelaksanaan kegiatan terapi aktifitas kelompok sosialiasi


(TAKS) klien isolasi sosial diruangan dilaksanakan oleh
perawat ruangan dan mahasiswa D.III dan S1 keperawatan
yang sedang melaksanakan praktik keperawatan
diruangan. Kegiatan TAKS pada klien isolasi sosial
dilaksanakan beberapa kali berdasarkan pada pedoman
TAKS yaitu 7 (tujuh) sesi dan jadwal yang sudah ada di
ruangan. Kemampuan klien yang sudah dicapai setelah

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


144

mengikuti TAKS yaitu rata-rata kemampuan klien yang


mengalami isolasi sosial dalam berhubungan sosial
meningkat.
b) Spesialis :Terapi social skills training diberikan pada 26
klien yang mengalami masalah keperawatan isolasi sosial
yang telah diberikan terapi generalis. Dalam pelaksanaan
terapi ini dilakukan secara individu dengan 1-4 kali
pertemuan untuk 5 sesi. Pelaksanaan terapi ini dimulai
dari sesi 1 ; melatih kemampuan berkomunikasi, sesi 2 ;
melatih kemampuan menjalin persahabatan, sesi 3 ;
melatih kemampuan klien terlibat dalam kegiatan
bersama, sesi 4; melatih klien dalam menghadapi situasi
yang sulit, dan sesi 5; mengevaluasi pelaksanaan terapi
social skills training yang telak dilakukan. Dari 26 klien
tersebut yang diberikan terapi social skills training
terdapat peningkatan pencapaian kemampuan yaitu
peningkatan kemampuan keterampilan interpersonal klien
dalam berinteraksi dengan orang lain.

Tabel 4.10
Pelaksanaan terapi social skills training pada
Klien Isolasi Sosial
Dx.Kep Diagnosa Utama & Penyerta
Isos + (HDR & Isos + (Halusinasi Isos + (Halusinasi
Halusinasi) &RPK & DPD)
Sesi Terapi 15 klien 7 klien 4 klien
Sesi 1 dan 2 1 x pertemuan 1 x pertemuan 1 x pertemuan
Sesi 3 1 x pertemuan 1 x pertemuan 1 x pertemuan
Sesi 4 1 x pertemuan 1 x pertemuan 1 x pertemuan
Sesi 5 1 x pertemuan 1 x pertemuan 1 x pertemuan
Total 4 x pertemuan 4 x pertemua 54x pertemuan
pertemuan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


145

Tabel 4.10menunjukkan bahwa pertemuan hampir seluruh


klien dilakukan 5 sesi dengan 4 kali pertemuan sesuai dengan
standar.

Terapi cognitive behavior therapy diberikan pada 15 klien


yang mengalami masalah keperawatan isolasi sosial. Terapi
ini diberikan secara terpisah, pada awalnya terapi spesialis
social skills training diberikan dulu kemudian dilanjutkan
dengan terapi cognitive behavior therapy pada hari yang lain.
Dari 15 klien tersebut setelahdiberikan paket terapi cognitive
behavior therapy ini menunjukkan adanya perubahan
kognitif dan perilaku klien yang mengarah pada perilaku
yang adaptif.
Tabel 4.11
Pelaksanaan terapi cognitive behavior therapy
pada klien Isolasi Sosial

Dx.Kep Diagnosa Utama & Penyerta


Isos + (HDR & Isos + (Halusinasi & Isos + (Halusinasi
Halusinasi) RPK & DPD)
Sesi Terapi 8 klien 4 klien 3 klien
Sesi 1 1 x pertemuan 1 x pertemuan 1 x pertemuan
Sesi 2 1 x pertemuan 1 x pertemuan 1 x pertemuan
Sesi 3 1 x pertemuan 1 x pertemuan 1 x pertemuan
Sesi 4 dan 5 1 x pertemuan 1 x pertemuan 1 x pertemuan
Total pertemuan 4 x pertemuan 4 x pertemua 4 x pertemuan

Tabel 4.11 menunjukkan bahwa pertemuan hampir seluruh


klien dilakukan 5 sesi dengan 4 kali pertemuan sesuai dengan
standar.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


146

2) Terapi Keperawatan Untuk Keluarga:


a) Generalis : Dilakukan pada 10 keluarga klien yang datang
mengunjungi klien. Interaksi pada 10 keluarga rata-rata
dilakukan sebanyak 1-2 kali pertemuan, karena kunjungan
keluarga terbatas.Pemberian terapi generalis keluarga
klien isolasi sosial juga mengacu pada SAK klien dengan
isolasi sosial. Pelaksanaan intervensi generalis pada
keluarga dilakukan oleh penulis, perawat ruangan dan
mahasiswa yang sedang praktik di ruang Bratasena baik
D-III maupun S1 keperawatan. Kemampuan yang sudah
dicapai antara lain keluarga memiliki kemampuan secara
kognitif dalam merawat klien di rumah dan menjadi
sistem pendukung yang cukup efektif bagi klien.

b) Spesialis : TerapiFamily Psychoeducationdiberikan


kepada 10 keluarga klien yang kebetulan datang
menjenguk klien. Psikoedukasi diberikan kepada keluarga
kliensatu kali pertemuan saat datang berkunjung. Pada
pelaksanaan terapi ini, sebelumnya keluarga diberikan
terapi generalis kemudian dilanjutkan dengan terapi
spesialis family psychoeducation dengan mengidentifikasi
masalah yang dirasakan oleh keluarga (caregiver) dalam
merawat anggota keluarga dengan isolasi sosial dan
masalah pribadi caregiver, mendiskusikan dengan
keluarga tentang perawatan anggota keluarga dengan
isolasi sosial oleh keluarga, mendiskusikan dengan
keluarga tentang manajemen stress yang dilakukan oleh
keluarga, mendiskusikan bersama keluarga tentang
manajemen beban keluarga, dan mendiskusikan bersama

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


147

dengan keluarga tentang pemberdayaan komunitas untuk


membantu keluarga. Setelah diberikan family
psychoeducation terjadi peningkatan pencapaian
kemampuan keluarga yaitupeningkatan pengetahuan
keluarga tentang masalah anggota keluarga dengan
masalah isolasi sosial, mampu mengambil keputusan
dalam merawat anggota keluarga dengan isolasi sosial,
mampu memodifikasi lingkungan dalam merawat anggota
keluarga dengan isolasi sosial, dan mampu menggunakan
fasilitas kesehatan dalam merawat anggota keluarga
dengan isolasi sosial.

4.1.5.2Penatalaksanaan Medis

Tindakan kolaborasi yang dilakukan dengan tenaga medis (psikiater


dan dokter umum) yang bertanggung jawab diruang Bratasena
merupakan pola rujukan yang sistimatis pada penanganan klien
dengan masalah keperawatan isolasi sosial. Klien yang sebagian besar
didiagnosis medis dengan skizofrenia paranoid 36 (92,3%)
mendapatkanpaket terapi psikofarmaka yang hampir sama, yaitu
terapi kombinasi (antipsikotik Haloperidol dan Chlorpromazine serta
anti ekstrapiramidal Trihexipenidil).Jenis terapi psikofarmaka yang
biasanya diberikan adalah Chlorpromazine 100 mg (1-3 tablet per
hari); Haloperidol 1.5 mg, 5 mg (2-3 tablet per hari); Risperidon 2 mg
2 x 1, Clozaril 25 mg 1 x 1; Trihexyphenidil 2 mg 3 x 1, dosis ini
merupakan dosis yang biasa di berikan kepada klien gangguan
psikotik termasuk klien dengan isolasi sosial.

Pada klien isolasi sosial yang dirawat diruang Bratasena, pemberian


obat ada dua kelompok yaitu kelompok pertama diberikan antipsikosis
tipikal yaituChlorpromazine (1x100mg), Haloperidol (2x5mg) dan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


148

Trihexyphenidil (2x2mg). Sedangkan kelompok kedua diberikan


kombinasi antara obat anti psikotik tipikal diatas dan atipikial yaitu
persidal (1x2mg) dan clozaril (1x25mg). Penatalaksanaan medis untuk
mengatasi masalah klien sesuai dengan diagnosis medis yang
ditegakkan.

Beberapa efek samping yang dapat terjadi pada klien skizofrenia


dengan pemberian obat psikotik terutama psikotik tipikal diantaranya
menguatkan efek depresan saraf puat dan efek ekstrapiramidal seperti;
hipertonia otot, gemetar, akatisia, hipotensi ortostatik, lesu,
mengantuk, pusing, sakit kepala, konstipasi, mulut kering, insomnia,
foto fobia, hipotensi dll. Modifikasi dari pemberian terapi
psikofarmaka dilakukan jika terdapat gejala dominan atau efek
samping dari terapi yang diberikan.

4.1.5.3 Evaluasi Hasil

Evaluasi hasil respon dan kemampuan kliendan keluarga dengan


isolasi sosial setelah diberikan terapi keperawatan baik generalis
maupun terapi spesialis keperawatan, dinilai dengan membandingkan
hasil pengkajian awal dengan tanda dan gejala serta kemampuan
kliendan keluarga setelah mendapatkan terapi keperawatan. Adapun
hasil respon dan kemampuan klien dan keluarga dengan isolasi sosial
setelah pemberian terapi generalis dan spesialis keperawatan jiwa
dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


149

Tabel 4.12
Perubahan respon terhdap stressor pada klien isolasi sosial yang mendapatkan terapi
generalis + social skills training di ruang Bratasena RSMM Bogor
20 Februari – 20 April 2012
n=26
No. Respon terhadap stressor Pre Post Selisih
n % n % n %
1. Respon Kognitif :
 Kurang perhatian 20 76,9 10 38,4 10 38,4
 Tidak mampu berpikir secara logis 25 96,1 15 57,6 10 38,4
dan mengambil keputusan
2. Respon Afektif :
 Bingung 25 96,1 15 57,6 10 38,4
 Khawatir 4 15,3 1 3,84 3 11,5
 Sedih 20 76,9 10 38,4 10 38,4
3. Respon Fisiologis :
 Tegang 2 7,69 1 3,84 1 3,84
 Gangguan pola tidur 20 76,9 10 38,4 10 38,4
 Tremor (keluhan fisik) 1 3,84 1 3,84 0 3,84
4. Respon Perilaku :
 Marah 2 7,69 1 3,84 1 3,84
 Diam 24 92,3 10 38,4 14 53,8
 Kontak mata kurang saat bicara 24 92,3 10 38,4 14 53,8
5. Respon Sosial
 Menghindari orang lain 24 92,3 10 38,4 14 53,8
 Sulit berinteraksi 24 92,3 10 38,4 14 53,8

Berdasarkan penjelasan tabel 4.12 diatas maka dapat disimpulkan


respon klien berupa respon kognitif, afektif, fisiologis, perilaku, dan
sosial terhadap isolasi sosial sebelum dan setelah pemberian paket
terapi generalis dan spesialis keperawatan jiwa sebagai berikut :
Paket terapi I : Generalis + Social skills training.
a. Respon Kognitif :
Respon kognitif pada 26 klien kelolaan isolasi sosial sebelum
diberikan paket terapiI generalis + social skills training berupa
kurang perhatian sebanyak 20 klien (76,9%) dan tidak bisa
berpikir secara logis dan mengambil keputusan sebanyak 25 klien
(96,1%), setelah diberikan paket terapi I (generalis+social skills

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


150

training) terjadi penurunan respon kognitif tersebut yaitu kurang


perhatian 10 klien (38,4%) dan tidak dapat berpikir secara logis
dan mengambil keputusan 15 klien (57,6%).
b. Respon Afektif
Respon afektif pada klien kelolaan isolasi sosial sebelum
diberikan paket terapiI (generalis + social skills training) berupa
bingung sebanyak 25 klien (96,1%), rasa khawatir sebanykan 4
klien (15,3%), dan merasa sedih sebanyak 20 klien (76,9%).
Setelah diberikan paket terapi I (generalis+social skills training)
terjadi penurunan respon afektif tersebut yaitu bingung 15 klien
(57,6%), rasa khawatir sebanyak 1 klien (3,84%) dan merasa
sedih 10klien (38,4%).
c. Respon Fisiologis
Respon fisiologis pada klien kelolaan isolasi sosial sebelum
diberikan paket terapi I (generalis + social skills training) berupa
tegang sebanyak 2 klien (7,69%), gangguan pola tidur sebanyak
20 klien (76,9%), dan keluhan fisik tremor sebanyak 1 klien
(3,84%). Setelah diberikan paket terapi I (generalis+social skills
training) terjadi penurunan respon fisiologis tersebut yaitu tegang
1 klien (3,84%), gangguan pola tidur sebanyak 10 klien (38,4%)
dan keluhan fisik tremor 1 klien (3,84%).
d. Respon Perilaku
Respon perilaku pada klien kelolaan isolasi sosial sebelum
diberikan paket terapiI (generalis+social skills training)berupa
marah sebanyak 2 klien (7,69%), diam sebanyak 24 klien
(92,3%), dan kontak mata kurang saat bicara sebanyak 24 klien
(92,3%). Setelah diberikan paket terapi I (generalis+social skills
training) terjadi penurunan respon perilaku tersebut yaitu marah 1
klien (3,84%), diam sebanyak 10 klien (38,4%) dan kontak mata
kurang saat bicara 10 klien (38,4%).

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


151

e. Respon Sosial
Respon sosal pada klien kelolaan isolasi sosial sebelum diberikan
paket terapi I (generalis+social skills training) berupa
menghindari orang lain sebanyak 24 klien (92,3%), dan sulit
berinteraksi dengan orang lain sebanyak 24 klien (92,3%), setelah
diberikan paket terapi I (generalis+social skills training)terjadi
penurunan respon sosial tersebut yaitu menghindari orang lain
menjadi 10 klien (38,4%), dan sulit berinteraksi dengan orang lain
menjadi 10 klien (38,4%).

Tabel 4.13
Perubahan respon terhadap stressor pada klien isolasi sosial yang mendapatkan
paket terapi II (generalis + social skills training+Cognitive behavior therapy) di
Ruang Bratasena RSMM Bogor, 20 Februari – 20 April 2012
n=15
No. Respon terhadap stressor Pre Post Selisih
n % n % n %
1. Respon Kognitif :
 Kurang perhatian 10 66,6 2 13,3 8 53,3
 Tidak mampu berpikir secara logis 15 100 5 33,3 10 66,6
dan mengambil keputusan
2. Respon Afektif :
 Bingung 10 66,6 2 13,3 8 53,3
 Khawatir 1 6,66 0 0 0 0
 Sedih 10 66,6 2 13,3 8 53,3
3. Respon Fisiologis :
 Tegang 1 6,66 0 0 0 0
 Gangguan pola tidur 10 60,6 3 20 7 46,6
 Tremor (keluhan fisik) 1 6,66 1 6,66 1 6,66
4. Respon Perilaku :
 Marah 1 6,66 0 0 0 0
 Diam 10 66,6 2 13,3 8 53,3
 Kontak mata kurang saat bicara 10 66,6 1 6,66 9 60
5. Respon Sosial
 Menghindari orang lain 10 66,6 1 6,66 9 60
 Sulit berinteraksi 10 66,6 2 13,3 8 53,3

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


152

Berdasarkan penjelasan tabel 4.13 diatas maka dapat disimpulkan


respon klien berupa respon kognitif, afektif, fisiologis, perilaku, dan
sosial terhadap isolasi sosial sebelum dan setelah pemberian paket
terapi II (generalis+social skills training+cognitive behavior therapy)
sebagai berikut :
Paket Terapi II : Terapi Generalis + social skills training+
cognitive behavior therapy.
a. Respon Kognitif :
Respon kognitif pada klien kelolaan isolasi sosial sebelum terapi
berupa kurang perhatian sebanyak 10 klien (66,6%) dan tidak bisa
berpikir secara logis dan mengambil keputusan sebanyak 15 klien
(100%). Setelah diberikan paket terapi II(generalis+social skills
training+cognitive behavior therapy) terjadi penurunan respon
kognitif tersebut yaitu kurang perhatian 2 klien (13,3%) dan tidak
dapat berpikir secara logis dan mengambil keputusan 5 klien
(33,3%).
b. Respon Afektif
Respon afektif pada klien kelolaan isolasi sosial sebelum
diberikan paket terapi II (generalis+social skills training
+cognitive behavior therapy ) berupa bingung sebanyak 10 klien
(66,6%), rasa khawatir sebanyak 1 klien (6,66,2%), dan merasa
sedih sebanyak 10 klien (66,6%). Setelah diberikan paket terapi II
(generalis dan social skills training) terjadi penurunan respon
afektif tersebut yaitu bingung 2 klien (13,,3%), rasa khawatir
sebanyak 0 klien (0%) dan merasa sedih 2 klien (13,3%).
c. Respon fisiologis
Respon fisiologis pada klien kelolaan isolasi sosial sebelum
diberikan paket terapi II (generalis+ social skills training
+cognitive behavior therapy ) berupa tegang sebanyak 2 klien

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


153

(7,69%), gangguan pola tidur sebanyak 20 klien (76,9%), dan


keluhan fisik tremor sebanyak 1 klien (3,84%). Setelah diberikan
paket terapi II (generalis dan social skills training) terjadi
penurunan respon fisiologis tersebut yaitu tegang 1 klien (3,84%),
gangguan pola tidur sebanyak 10 klien (38,4%) dan adanya
keluhan fisik tremor 1 klien (3,84%).
d. Respon Perilaku
Respon perilaku pada klien kelolaan isolasi sosial sebelum
diberikan paket terapi II (generalis+ social skills training
+cognitive behavior therapy ) berupa marah sebanyak 1 klien
(6,66%), diam sebanyak 10 klien (66,6%), dan kontak mata
kurang saat bicara sebanyak 10 klien (66,6%). Setelah diberikan
paket terapi II (generalis+ social skills training +cognitive
behavior therapy ) terjadi penurunan respon perilaku tersebut
yaitu marah menjadi 0 klien (0%), diam menjadi 2 klien (13,3%)
dan kontak mata kurang saat bicara menjadi 1 klien (6,66%).
e. Respon Sosial
Respon sosal pada klien kelolaan isolasi sosial sebelum diberikan
paket terapi II (generalis+ social skills training +cognitive
behavior therapy ) berupa menghindari orang lain sebanyak 10
klien (66,6%), dan sulit berinteraksi dengan orang lain sebanyak
10 klien (66,6%). Setelah diberikan paket terapi II (generalis+
social skills training +cognitive behavior therapy )terjadi
penurunan respon sosial tersebut yaitu menghindari orang lain
menjadi 1 klien (6,66%), dan sulit berinteraksi dengan orang lain
menjadi 2 klien (13,3%).

Untuk mengevaluasi kemampuan klien dan keluarga dengan isolasi


sosial yaitu dengan membandingkan kemampuan klien dan keluarga
sebelum dan setelah diberikan paket terapi generalis atau spesialis

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


154

keperawatan jiwa. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan pada tebel


berikut ini.

Tabel 4.14
Distribusi perubahan kemampuan klien isolasi sosial setelah mendapatkan paket
terapi I (generalis + social skills training)
di Ruang Bratasena RSMM Bogor
20 Februari – 20 April 2012
n=26
No. Kemampuan Klien Pre Post Selisih
n % n % n %
1.  Mampu menyebutkan penyebab 4 15,3 20 76,9 16 61,5
isolasi sosial
 Mampu menyebutkan keuntungan 4 15,3 25 96,1 21 80,7
berinteraksi dengan orang lain
 Mampu menyebutkan kerugian tidak 4 15,3 25 96,1 21 80,7
berinteraksi dengan orang lain
 Mampu memperagakan cara 3 12,5 20 76,9 17 65,3
berkenalan dengan 1 orang
 Mampu memperagakan cara 3 12,5 20 76,9 17 65,3
berkenalan dengan 2 orang atau lebih
 Memiliki jadwal kegiatan 3 12,5 20 76,9 17 65,3
berbincang-bincang dengan orang
lain
3 12,5 15 57,6 12 46,1
 Mampu melakukan perbincangan
dengan orang lain

Berdasarkan tabel 4.14 diatas diketahui bahwa klienisolasi sosial yang


mendapatkan terapi generalis individu dan terapi social skills
trainingyaitu 26 orang klien.7 (tujuh) kemampuan klien isolasi sosial
sebelum mendapatkan paket terapi I (generalisdan terapi social skills
training) yaitumampu menyebutkan penyebab isolasi sosial sebanyak
4 klien (15,3%), mampu menyebutkan keuntungan berinteraksi
dengan orang lain 4 klien (15,3%), mampu menyebutkan kerugian
tidak berinteraksi dengan orang lain 4 klien (15,3%), mampu
memperagakan cara berkenalan dengan satu orang 3 klien (12,5%),
mampu memperagakan cara berkenalan dengan dua orang atau lebih 3

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


155

klien (12,5%), memiliki jadwal kegiatan berbincang-bincang dengan


orang lain 3 klien (12,5%), dan mampu melakukan perbincangan
dengan orang lain 3 klien (12,5%).
Setelah diberikan paket terapi I (generalisdan terapi social skills
training)7 (tujuh) kemampuan klien isolasi sosial meningkat yaitu
mampu menyebutkan penyebab isolasi sosial sebanyak 20 klien
(76,9%), mampu menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang
lain25 klien (96,1%), mampu menyebutkan kerugian tidak
berinteraksi dengan orang lain25 klien (96,1%), mampu
memperagakan cara berkenalan dengan satu orang20 klien (76,9%),
mampu memperagakan cara berkenalan dengan dua orang atau lebih
20 klien (76,9%), memiliki jadwal kegiatan berbincang-bincang
dengan orang lain20 klien (76,9%), dan mampu melakukan
perbincangan dengan orang lain15 klien (57,6%).
Tabel 4.15
Distribusi perubahan kemampuan klien isolasi sosial setelah mendapatkan
paket terapi II (generalis + social skills training + cognitive behavior therapy)
di Ruang Bratasena RSMM Bogor, 20 Februari – 20 April 2012
n=15
No. Kemampuan Klien Pre Post Selisih
n % n % n %
1.  Mampu menyebutkan penyebab 3 20,0 15 100 12 80,0
isolasi sosial
 Mampu menyebutkan keuntungan 2 13,3 15 100 13 86,6
berinteraksi dengan orang lain
 Mampu menyebutkan kerugian tidak 2 13,3 15 100 13 86,6
berinteraksi dengan orang lain
 Mampu memperagakan cara 2 13,3 13 86,6 11 73,3
berkenalan dengan 1 orang
 Mampu memperagakan cara 2 13,3 13 86,6 11 73,3
berkenalan dengan 2 orang atau lebih
 Memiliki jadwal kegiatan 3 20,0 13 86,6 10 66,6
berbincang-bincang dengan orang
lain
1 6,66 13 86,6 12 80,0
 Mampu melakukan perbincangan
dengan orang lain

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


156

Berdasarkan tabel 4.15 diatas diketahui bahwa klienisolasi sosial yang


mendapatkan terapi generalis individu dan terapi social skills training
+cognitive behavior therapyyaitu 15 orang klien. 7 (tujuh)
kemampuan klien isolasi sosial sebelum mendapatkan paket terapi II
(generalisdan terapi social skills training + cognitive behavior
therapy) yaitumampu menyebutkan penyebab isolasi sosial sebanyak
3 klien (20,0%), mampu menyebutkan keuntungan berinteraksi
dengan orang lain 2 klien (13,3%), mampu menyebutkan kerugian
tidak berinteraksi dengan orang lain 2 klien (13,3%), mampu
memperagakan cara berkenalan dengan satu orang 2 klien (13,5%),
mampu memperagakan cara berkenalan dengan dua orang atau lebih 2
klien (13,5%), memiliki jadwal kegiatan berbincang-bincang dengan
orang lain 3 klien (20,0%), dan mampu melakukan perbincangan
dengan orang lain 1 klien (6,66%).

Setelah diberikan paket terapi II (generalisdan terapi social skills


training + cognitive behavior therapy), 7 (tujuh) kemampuan klien
isolasi sosial meningkat yaitu mampu menyebutkan penyebab isolasi
sosial sebanyak 15 klien (100%), mampu menyebutkan keuntungan
berinteraksi dengan orang lain15 klien (100%), mampu menyebutkan
kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain15 klien (100%), mampu
memperagakan cara berkenalan dengan satu orang13 klien (86,6%),
mampu memperagakan cara berkenalan dengan dua orang atau lebih
13 klien (86,6%), memiliki jadwal kegiatan berbincang-bincang
dengan orang lain13 klien (86,6%), dan mampu melakukan
perbincangan dengan orang lain13 klien (86,6%).

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


157

Tabel 4.16
Distribusi perubahan kemampuan keluarga isolasi sosial setelah mendapatkan
paket terapi III (generalis keluarga + family psychoeducation)
di Ruang Bratasena RSMM Bogor
20 Februari – 20 April 2012
n=10
No. Kemampuan Klien Pre Post Selisih
n % n % n %
1.  Keluarga tahu dan mengenal masalah 3 30 10 100 7 46,6
anggota keluarga dengan isolasi
sosial
 Keluarga mampu mengambil 3 30 10 100 7 46,6
keputusan dalam merawat anggota
keluarga dengan isolasi sosial
 Keluarga mampu merawat anggota 2 20 10 100 8 53,3
keluarga dengan isolasi sosial
 Keluarga mampu memodifikasi 2 20 10 100 8 53,3
lingkungan dalam merawat anggota
keluarga dengan isolasi sosial
 Keluarga mampu menggunakan 3 30 10 100 7 46,6
fasilitas kesehatan dalam merawat
anggota keluarga dengan isolasi
sosial

Berdasarkan tabel 4.16 diatas diketahui bahwa keluarga denganisolasi


sosial yang mendapatkan paket terapi III(generalis keluarga dan terapi
family psychoeducation)yaitu 10 orang keluarga. 5 (lima) kemampuan
keluarga dengan isolasi sosial sebelum mendapatkan paket terapi III
(generalis + family psychoeducation) yaitukeluarga keluarga tahu dan
mengenal masalah anggota keluarga dengan isolasi sosial sebanyak 3
keluarga (30%), keluarga mampu mengambil keputusan dalam
merawat anggota keluarga dengan isolasi sosial 3 keluarga (30%),
keluarga mampu merawat anggota keluarga dengan isolasi sosial 2
keluarga (20%), keluarga mampu memodifikasi lingkungan dalam
merawat anggota keluarga dengan isolasi sosial 2 keluarga (20%), dan
keluarga mampu menggunakan fasilitas kesehatan dalam merawat
anggota keluarga dengan isolasi sosial 3 keluarga (30%).

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


158

Setelah diberikan paket terapi III (generalis + family psychoeduction),


5 (lima) pengetahuan dan kemampuan keluarga denganisolasi sosial
meningkat yaitu tahu dan mengenal masalah anggota keluarga dengan
isolasi sosial sebanyak 10 keluarga (100%), keluarga mampu
mengambil keputusan dalam merawat anggota keluarga dengan isolasi
sosial 10 keluarga (100%), keluarga mampu merawat anggota
keluarga dengan isolasi sosial 10 keluarga (100%), keluarga mampu
memodifikasi lingkungan dalam merawat anggota keluarga dengan
isolasi sosial 10 keluarga (100%), dan keluarga mampu menggunakan
fasilitas kesehatan dalam merawat anggota keluarga dengan isolasi
sosial 10 keluarga (100%).

4.1.5.4Kendala
Hambatan yang ditemui pada waktu manajemen kasus spesialis
masalah keperawatan isolasi sosial adalah :
a. Individu
Beberapa klien dengan masalah keperawatan isolasi sosial
membutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk satu tindakan
keperawatan dikarenakan insight dan kemampuan bicara yang
kurangsehingga klien kurang termotivasi untuk melakukan
pembelajaran.
b. Keluarga
Pada saat pelaksanaan manajemen kasus spesialis, hanya beberapa
keluarga yang dapat diberikan tindakan keperawatan baik itu
generalis maupun tindakan spesialis keperawatan jiwa karena
keluarga jarang membesuk.

a. Lingkungan Perawatan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


159

Perawat diruangan sudah memberikan tindakan keperawatan


generalis dan TAKS kepada klien dengan masalah keperawatan
isolasi sosial sesuai dengan standar asuhan keperawatan (SAK),
namun belum optimal. Lingkungan ruangan yang cukup padat
karena banyaknya mahasiswa yang praktik membuat klien
terkadang terdistraksi dalam melakukan latihan selama proses
interaksi.

4.1.5.5 Rencana Tindak Lanjut


a. Individu
Klien perlu terus membudayakan latihan kemampuan sosial yang
sudah diajarkan dalam terapi social skills training. Untuk klien
yang kurang insight, sebelum intervensi spesialis dapat diberikan
intervensi latihan afirmatif.
b. Keluarga
Secara rutin mengunjungi klien dan belajar cara merawat klien
secara langsung, dan memfasilitasi kemampuan klien untuk
bersosialisasi secara bertahap.
c. Lingkungan Perawatan
Melanjutkan jadwal latihan klien, melanjutkan TAK sosialisasi,
meningkatkan frekuensi interaksi dengan klien, melakukan
pertemuan keluarga secara terjadwal, memfasilitasi keluarga
mengikuti kelompok keluarga klien yang dilaksanakan di RSMM,
melakukan koordinasi dan kerjasama dengan pihak IGD Psikiatrik
dan Poli rawat jalan psikiatrik untuk membuat kontrak pertemuan
dengan keluarga klien secara rutin pada saat perawatan
berkelanjutan.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


160

BAB 5
PEMBAHASAN

Pada bab ini dibahas tentang manajemen kasus spesialis dan manajemen asuhan
keperawatan pada klien dengan diagnosa keperawatan isolasi sosial di ruang
Bratasena yang dilakukan pada periode 20 Februari- 20 April 2012. Manajemen
kasus spesialis keperawatan jiwa pada klien dengan isolasi sosial akan membahas
tentang karakteristikklien dengan isolasi sosial, efektifitas manajemen kasus spesialis
keperawatan jiwa dan hubungan karakteristik dengan hasil manajemen kasus spesialis
keperawatan jiwa pada klien dengan isolasi sosial. Sedangkan manajemen asuhan
keperawatan dengan isolasi sosial yang dibahas, berdasarkan hasil penerapan
manajemen asuhan keperawatan jiwa profesional di ruangan Bratasena, dan dianalisis
berdasarkan empat konsep dasar keperawatan dari teori konsep hubungan
interpersonal Peplau yaitu manusia, keperawatan, kesehatan, dan lingkungan.

5.1 Manajemen Asuhan Keperawatan Klien Isolasi Sosial


5.1.1 Pengkajian Klien dengan Isolasi Sosialdi Ruang Bratasena
Hasil Pengkajian klien dengan isolasi sosial di ruang Bratasena terdiri
karakteristik klien (usia, pekerjaan, pendidikan, status perkawinan,tingkat
kemandirian klien), dan faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian
terhadap stressor sertakemampuan klien mengatasi stressor. Berikut ini
pembahasan tentang pengkajian klien dengan diagnosa
keperawatanisolasi sosial di ruang Bratasena.
5.1.1.1 Karakteristik
a. Usia
Klien yang dikeloladenganmasalahkeperawatan isolasi
sosialsebagianbesarberusia 25-65 yaitu sebanyak 36 orang
(92,7%) dansebagaianberusia 18-25 tahun sebanyak 3 orang
(7,69%). Erikson (2000) menggolongkanusia 25-65
tahunkedalamusiadewasadanusia 18-25

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


161

tahuanpadatahapanusiadewasaawal.
Tahapusiadewasamerupakantahapandimanaindividumamputer
libatdalamkehidupankeluarga, masyarakat, pekerjaan,
danmampumembimbinganaknya. Salah
satutugasperkembangan yang
harusdicapaipadatahapaniniadalahmembimbingdanmenyiapka
ngenerasidibawahusianyasecaraarifdanbijaksana.Sedangkan
usia dewasa awal dicirikan dengan kemampuan berinteraksi
akrab dengan orang lain terutama lawan jenis dan memiliki
pekerjaan. Tugas perkembangan pada usia dewasa awal ini
adalah membentuk keluarga baru.

Tahapan usia dewasa awal dan dewasa merupakan tahapan


dimana individu mempunyai tanggung jawab fungsi keluarga.
Friedman (1998) menjelaskan bahwa lima fungsi keluarga
adalah fungsi afektif, fungsi sosialisasi dan penempatan
sosial, fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, memberikan
pelayanan kesehatan bagi seluruh anggota keluarga. Hasil
manajemen kasus spesialis keperawatan jiwa pada klien
dengan isolasi sosial menunjukkan bahwa kelima fungsi
tersebut menjadi terhambat. Dengan kondisi klien dirawat di
rumah sakit, akibatnya beberapa tanggung jawab klien dalam
fungsi keluarga menjadi terganggu yaitu fungsi sosialisasi,
fungsi reproduksi, fungsi ekonomi dan fungsi memberikan
pelayanan kesehatan bagi seluruh anggota keluarga.

Karakeristik usia yang teridentifikasi dari hasil pelaksanaan


manajemen kasus spesialis pada klien dengan masalah isolasi
sosial menguatkan pendapat Stuart dan Laraia (2005) yang
melaporkan bahwa frekuensi tertinggi usia seseorang beresiko

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


162

mengalami gangguan jiwa yaitu pada usia 25-44 tahun. Usia


dewasa merupakan masa produktif, dimana klien memiliki
tuntutan aktualisasi diri, baik dari diri sendiri, keluarga,
maupun lingkungan yang memungkinkan klien
memperlihatkan kemampuannya dalam berinteraksi dengan
orang lain. Jika tidak matang dalam usia ini dapat
menimbulkan keterisolasian klien.

Menurut Fontaine (2003) menyatakan tahap usia dewasa awal


dicirikan dengan kemampuan berinteraksi akrab dengan orang
lain, terutama lawan jenis dan memiliki pekerjaan yang
kemudian dilanjutkan pada tahap usia dewasa dimana
individu mampu terlibat dalam kehidupan keluarga,
masyarakat, pekerjaan. Hal inilah yang membuat seseorang
mampu berinteraksi dengan orang lain, dimana aktualisasi
dirinya mampu diperlihatkan kepada orang lain, tetapi ketika
hal ini tidak mampu dicapai oleh seseorang, inilah yang
menyebabkan seseorang tidak mau berinteraksi dengan orang
lain atau dengan kata lain terjadi penarikan diri dari
lingkungan sekitar.

Usia klien saat pertama kali muncul gangguan jiwa


merupakan faktor penting dalam menentukan seberapa baik
kemajuan yang akan dialami klien. Skizofrenia yang terjadi
pada usia dini memperlihatkan hasil akhir yang lebih buruk
dari pada yang terjadi pada usia lebih tua. Buchanan dan
Carpenter, (2000) dalam Videbeck, (2008) menyatakan bahwa
serangan awal skizofrenia yang terjadi secara bertahap, sekitar
50% cenderung mengalami proses klinis segera dan jangka
panjang yang lebih buruk dari pada serangan akut dan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


163

mendadak.Jika usia klien masih muda, pengalaman klien


belum begitu banyak dalam menyelesaikan masalahnya,
sebaliknya klien yang lebih tua sudak mempunyai
pengalaman dalam menyelesaikan masalahnya. Dalam karya
ilmiah akhir ini, kasus yang lebih banyak ditemukan pada
klien dengan isolasi sosial pada klien dengan usia dewasa,
sehingga lebih mudah dalam pemberian terapi.

b. Pekerjaan
Hasil manajemen kasus spesialis keperawatan pada klien
dengan isolasi sosial teridentifikasi bahwa, karakteristik
pekerjaan klien isolasi sosial mayoritas tidak bekerja (92,7%).
Menurut pendapat Hawari (2001) masalah pekerjaan
merupakan sumber stres pada diri seseorang yang bila tidak
dapat diatasi yang bersangkutan dapat jatuh sakit. Lebih luas
disampaikan oleh Hidayat (2005) bahwa masalah ekonomi
yang tidak sehat seperti tidak adanya pekerjaan, hutang,
kebangkrutan, pendapatan lebih kecil dari pada pengeluaran
akan berpengaruh besar terhadap kesehatan jiwa seseorang.
Masalah tersebut bila tidak diatasi maka akan menjadi faktor
risiko terjadinya depresi dan skizofrenia.Dengan demikian
dapat kita simpulkan bahwa pekerjaan akan berkorelasi positif
dengan pendapatan dan berkorelasi negatif terhadap kesehatan
jiwa seseorang.

Menurut Tarwoto dan Wartonah (2003) bahwa status


pekerjaan akan mempengaruhi timbulnya stres. Status
pekerjaan terkait dengan status ekonomi seseorang, orang
dengan status ekonomi yang kuat akan jauh lebih sukar
mengalami stres dibanding mereka yang status ekonominya

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


164

lemah. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Vega, et al


(1999, dalam Stuart, 2009) bahwa individu dengan status
ekonomi rendah akan rentan terhadap masalah kesehatan jiwa
dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut diperkuat oleh
pendapat Cattel (2001) serta Hoffiman dan Hatch (2000) yang
menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara kemiskinan
dengan stresor keuangan. Klien yang tidak memiliki
pekerjaan dan dengan kondisi ekonomi keluarga yang kurang
akan berpengaruh terhadap stresor yang mereka hadapi. Klien
yang tidak berkerja juga menjadi beban dalam keluarga. Klien
yang mengalami gangguan jiwa akan memerlukan biaya yang
tidak sedikit dalam mengakses layanan kesehatan. Hal ini juga
menjadi salah satu pemicu klien semakin merasakan dirinya
tidak berguna.

Pendapat yang sama juga diuraikan oleh Shives (2005) yang


mengatakan bahwa kondisi kehidupan yang miskin dan
kurangnya sumber finansial berkontribusi terhadap stresor
kehidupan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
tingkat sosial ekonomi rendah dan atau kemiskinan, akan
mempengaruhi kemampuan klien untuk memenuhi kebutuhan
sehari hari yang akan mengakibatkan berkurangnya
penghargaan dari orang lain, baik dari orang terdekat maupun
lingkungan sekitar, disamping itu juga mengakibatkan
keterbatasan klien dalam mencari sumber layanan kesehatan
untuk penyelesaian masalah yang dihadapi. Selain hal tersebut
diatas penghargaan yang rendah yang diperoleh klien dari
lingkungan akibat ketidakmampuan dalam pemenuhan
kebutuhan dan aktualisasi diri, mengakibatkan rasa rendah

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


165

diri yang pada akhirnya mempengaruhi interaksi klien dengan


lingkungan sekitar.

Peran sebagai narasumber dalam teori Peplau perawat harus


mampu memberikan penjelasan tentang situasi dalam bekerja
dan bagaimana klien dalam dalam menjalin hubungan dengan
orang lain dalam dunia pekerjaan. Bagi klien yang masih
berkerja perawat harus mampu menjadi penasehat, supaya
klien mampu bertahan dan dapat bangkit dari rasa
ketidakmampuan dan malu untuk dapat bekerja dan produktif
dilingkungan pekerjaan.

c. Pendidikan
Klien yang dikelola dengan diagnosa keperawatan isolasi
sosial mempunyai latar belakang pendidikan yang bervariasi.
Sebagian besar (48,7%) klien memiliki latar belakang
pendidikan menengah (SMP), sedangkan jumlah yang paling
sedikit (2,56%) adalah klien dengan berpendidikan
diperguruan tinggi atau yang pernah duduk diperguruan
tinggi.

Menurut Stuart dan Laraia (2005) Pendidikan menjadi salah


satu tolak ukur kemampuan seseorang dalam berinteraksi
dengan orang lain secara efektif. Kopelowicz (2002)
menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan dan
pengetahuan seseorang akan berkorelasi positif dengan
keterampilan koping yang dimiliki. Pendidikan merupakan
salah satu sumber koping seseorang dalam menyelesaikan
masalahnya. Sesuai dengan hasil dalam karya ilmiah ini,
bahwa klien lebih banyak berpendidikan menengah, sehingga

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


166

mudah diberikan terapi dan semakin mudah dalam


berinteraksi dengan orang lain setelah mendapatkan terapi
dengan pendekatan teori interpersonal Peplau.

Menurut Stuart (2009) bahwa individu dengan tingkat


pendidikan yang lebih tinggi ditemukan lebih sering
menggunakan pelayanan kesehatan jiwa. Pendidikan yang
lebih tinggi akan memberikan pengetahuan yang lebih besar
sehingga menghasilkan kebiasaan mempertahankan kesehatan
yang lebih baik (Potter & Perry, 1997). Faktor pendidikan
mempengaruhi kemampuan seseorang menyelesaikan
masalah yang dihadapi termasuk dalam hal ini kemampuan
dalam merespon stresor yang dihadapi yang menyebabkan
klien mengalami masalah dalam berinteraksi dengan orang
lain.Kesimpulan dari temuan ini adalah bahwa pendidikan
yang tinggi diharapkan pengetahuan dan ketrampilan klien
dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain
semakin baik.

d. Status Perkawinan
Klien yang dengan diagnosa keperawatan isolasi sosial yang
dikelola sebagian besar (84.6%) belum menikah, sedangkan
untuk posisi kedua adalah12.8% duda. Temuan ini sesuai
dengan pendapat Carson, (2000) bahwa salah satu faktor
risiko terjadinya skizofrenia adalah status perkawinan dimana
klien yang tidak menikah memiliki risiko lebih tinggi
terhadap kejadian skizofreniadibandingkan klien yang
menikah atau dengan kata lain bahwa pasien yang tidak
menikah memperlihatkan angka yang tinggi pada skizofrenia
dari pada pasien yang menikah. Stuart dan Sundeen (2005)

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


167

juga berpendapat bahwa individu yang mengalami


perceraian/tidak memiliki pasangan termasuk kelompok risiko
tinggi mengalami gangguan jiwa.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Widya (2007,


dalam Walter, 2011) menyatakan bahwa gangguan jiwa lebih
sering dialami individu yang mengalami perceraian atau
berpisah dengan pasangannya dibandingkan dengan individu
yang menikah atau lajang. Tetapi dalam tulisan ini klien yang
mengalami percerain lebih sedikit dibandingkan dengan klien
yang masih belum menikah. Sependapat dengan Amir (2005)
masalah kejiwaan lebih sering pada orang yang tinggal sendiri
dibandingkan tinggal bersama kerabat lain.

Menurut Hawari (2001) berbagai masalah perkawinan


merupakan sumber stress yang dialami seseorang. Kintono
(2010) juga menyatakan bahwa pernikahan merupakan salah
satu penyebab umum gangguan jiwa. Pertengkaran,
ketidaksetiaan, kematian salah satu pasangan, dan
perceraianmerupakan sumber stres yang menyebabkan
masalah kejiwaan.

Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat disimpulkan dan


dipahami bahwa status perkawinan bagi masing-masing
kliendapat menghadirkan permasalahan dan stresor tersendiri,
baik klien yang belum menikah maupun klien yang sudah
menikah, tergantung bagaimana persepsi dan kemampuan
klien menghadapinya dan juga bagaimana dukungan anggota
keluarga dalam merangkul klien. Pada klien yang masih
sendiri atau sudah menikah dukungan dari keluarga

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


168

merupakan hal yang paling utama pada klien isolasi sosial,


dengan perhargaan yang diberikan oleh keluarga berupa
perhatian akan menurunkan isolasi sosial klien. Sehingga
dengan adanya dukungan tersebut persepsi dan kemampuan
klien dalam menghadapi stesor akan meningkat dan dapat
mempengaruhi proses penyembuhan klien yang mengalami
isolasi sosial serta klien juga mempunyai dukungan untuk
memilih koping yang adaptif.

e. Tingkat Kemandirian
Tingkat kemandirian yang
ditemukanberdasarkanmanajemenkasusspesialiskeperawatanji
wapada klienkelolaan denganisolasi
sosialsebagainbesaradalahpartial care (82,0%)dantingkat
kemandirianself care (17,9%).Menurut penelitian yang
dilakukan Fitri (2007, dalam Walter, 2011) bahwa tingkat
kemandirian klien gangguan jiwa terdiri dari aktivitas sehari-
hari, aktivitas sosial, cara mengatasi masalah dan pengobatan.
Tingkat kemandirian klien kelolaan ini sebelum dan sesudah
diberikan asuhan keperawatan menunjukkan peningkatan
yang bermakna.

Aktivitas klien sehari-hari menjadi terbatas, lebih banyak


diam dan jarang berinteraksi dengan keluarga maupun
lingkungan tempat tinggal. Faktor ketidaktahuan dan
ketidakmampuan keluarga tentang perawatan klien di rumah
adalah salah satu faktor yang mengakibatkan klien dirawat
dirumah sakit. Selalin dari hal tersebut keluarga jarang
memberikan kegiatan atau aktivitas di rumah kepada klien

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


169

dengan alasan kasihan dan khawatir klien tidak mampu dan


kondisi klien semakin memburuk.

Torrey (1995, dalam Carson, 2000) mengemukakan


kemungkinan klien skizofrenia sembuh total 25%, menjadi
lebih baik 25%, meningkat cukup baik 25%, tidak dapat
sembuh 15%, dan meninggal karena perilaku bunuh diri atau
kecelakaan 10 %. Hal ini dapat disimpulkan bahwa klien yang
mengalami skizofrenia masih mempunyai kesempatan hidup
mandiri karena mereka dapat sembuh, sehingga perlu
dilakukan upaya-upaya untuk membantu klien dalam
memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan bantuan minimal
yang diberikan kepada klien.

Secara umum klien isolasi sosial yang dikelola punya riwayat


gangguan jiwa, sebagian pernah mengalami putus obat.
Dengan pengetahuan tentang pengalaman putus obat ini
keluarga harus mengetahui sejauh mana kemandirina klien
dalam melakukan aktivitas untuk membantu dirinya dalam
memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga meminimalkan
terulangnya putus obat. Dengan pengetahuan inilah
diharapkan keluarga dapat membantu klien.

5.1.1.2 FaktorStressor Predisposisi


Menurut Stuart dan Laraia (2005) faktor predisposisi adalah faktor
risiko yang dipengaruhi oleh jenis dan jumlah sumber risiko yang
dapat menyebabkan individu mengalami stres. Berdasarakan hasil
pengkajian pada 39 klien isolasi sosialsecara biologis ditemukan
adanya faktor trauma/penyakit fisik (23,0%), faktor genetik
(20,5%), riwayat berulang (56,4%), dan riwayat NAPZA

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


170

(20,5%).Pengetahuan tentang faktor predisposisi biologis sangat


penting untuk diketahui, karena informasi yang terkait dengan
faktor ini akan mempengaruhi pemberian terapi medis klien.
Faktor biologis berhubungan dengan struktur dan fungsi otak,
selain dapat dipengaruhi pula oleh faktor genetik. Secara rinci
Townsend (2009), menyatakan bahwa terjadinya gangguan
perilaku dapat disebabkan oleh adanya kondisi patologis seperti
tumor otak, stroke, dan infeksi otak. Selain itu juga disebabkan
terjadinya ketidakseimbangan dari beberapa neurotransmiter
misalnya dopamin, serotonin, norepineprin, dan lainnya.

Faktor biologis penting untuk diketahui, terkait dengan terapi


psikofarmaka yang diberikan pada klien. Adanya gangguan dari
salah satu komponen biologis sangat mempengaruhi terapi yang
harus diberikan sebagai koreksi terhadap kekurangan atau
berlebihnya fungsi atau produksi hormon yang mempengaruhi
kerja otak.

Berdasarkan hasil manajemen kasus spesialis mengidentifikasi


dari 39 kasus yang dikelola 23,0% memiliki riwayat trauma atau
penyakit fisik sebagai penyerta. Sedangkan 20% klien isolasi
sosial yang dikelola memiliki keterkaitan faktor genetik. Temuan
lain mengenai adanya riwayat genetika dari klien dengan isolasi
sosial yang penulis rawat diperkuat dengan teori genetik yang
disampaikan oleh Shives (2005) yang menyatakan bahwa faktor
genetika berkontribusi 3-4% untuk menimbulkan gangguan jiwa.

Menurut Sadock dan Sadock (2003), bahwa komponen genetik


berkontribusi terhadap perkembangan gangguan jiwa, namun
Sadock mengatakan bahwa faktor genetik bukan merupakan faktor

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


171

utama yang berkontribusi sebagai faktor predisposisi biologi untuk


kejadian gangguan jiwa karena prevalensi terjadinya masalah
gangguan jiwa yang disebabkan oleh genetik sangat rendah dan
masih banyak faktor lain yang dapat menyebabkan gangguan jiwa
seperti struktur otak yang abnormal, gangguan emosional,
penurunan denyut jantung atau gangguan dalam tahap tumbuh
kembang dimana tidak adanya keseimbangan antara pemberian
reward dan funishment.

Banyak riset menunjukkan peningkatan risiko mengalami


skizofrenia pada individu dengan riwayat genetik terdapat anggota
keluarga dengan skizofrenia. Menurut Fontaine (2003) pada
kembar dizigot risiko terjadi skizofrenia 15%, kembar monozigot
50%, anak dengan salah satu orang tua menderita skizofrenia
berisiko 13%, dan jika kedua orang tua mendererita skizofrenia
berisiko 45%. Pada klien kelolaan isolasi sosial ini terdapat
riwayat genetik dari orangtua, paman, kakak, dan saudara sepupu
klien. Namun demikian peran genetik bukan merupakan faktor
utama yang berkontribusi sebagai faktor predisposisi biologi
karena prevalensi terjadinya masalah ansietas keluarga yang
disebabkan oleh genetik sangat rendah.

Klien kelolaan isolasi sosial yang perawatannya lebih dari dua kali
(56,4%) lebih banyak dibandingkan dengan pasien yang dirawat
pertama kali. Hasil ini sesuai dengan pendapat Shives (1998),
bahwa klien yang sudah pernah kambuh memiliki prognosis yang
kurang baik dibandingkan klien baru. Hal ini didukung oleh tidak
efektifnya koping keluarga dalam merawat klien, sehingga
kemampuan belajar klien terbatas. Klien yang telah diajarkan
untuk mengontrol perilaku kekerasannya sesuai dengan yang

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


172

diajarkan dirumah sakit tidak menjadikan kemampuannya tersebut


membudaya, sehingga klien merasa apa yang diajarkan hanya
membuang waktu dan tidak bermanfaat.
Hasil pelaksanaan manajemen kasus spesialis pada klien dengan
isolasi sosial menemukan faktor predisposisi biologis berupa
riwayat pengguna NAPZA. Riwayat pengguna Napza ditemukan
dari 39 klien 20,5% pernah menggunakan NAPZA,. Hasil temuan
ini sesuai dengan pendapat Townsend diperkuat oleh pendapat
dari Stuart dan Laraia (2005) yang mengatakan bahwa faktor
penggunaan NAPZA dapat menyebabkan gejala negatif dari
schizoprenia seperti gangguan dari struktur dan fungsi otak seperti
menurunnya produksi dari cairan yang dihasilkan oleh otak bagian
prefrontal dan menurunnya ambang aktifitas dari lobus prontal
otak. Ganguan pada kedua komponen tersebut mengakibatkan
perubahan perilaku klien seperti gangguan perilaku,
ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dan gangguan dalam
konsentarasi serta kesulitan untuk membuat keputusan. Selain itu
Miller (2000; dalam Suart dan Laraia, 2005) mengatakan ada
hubungan yang signifikan antara penggunaan NAPZA dengan
insiden timbulnya gangguan isolasi sosial.

Faktor predisposisi psikologis klien isolasi sosial yang dirawat,


lebih banyak yang mempunyai kepribadaian tertutup84,6% dan
diperburuk dengan pengalaman-pengalaman kegagalan dalam
hidup, seperti kegagalan dalam membina hubungan dengan lawan
jenis, kegagalan dalam pekerjaan dan pendidikan serta kegagalan
dalam hubungan sosial dengan orang lain. Tipe kepribadian yang
introvertakan mempengaruhi komunikasi klien dengan
mengembangkan komunikasi yang tertutup. Oleh karena
kepribadian sesorang dengan tipe kepribadian introvert, menutup

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


173

diri dari kemungkinan orang-orang yang memperhatikannya


sehingga cenderung tidak memiliki orang terdekat atau orang yang
berarti dalam hidupnya.
Menurut Erikson (2000) (dalam Keliat, 2006), untuk
mengembangkan hubungan positif setiap orang harus dapat
melalui delapan tugas perkembangan (development task) sesuai
dengan proses perkembangan usia.Kegagalan dalam
melaksanakan tugas perkembangan dapat mengakibatkan individu
tidak percaya diri, tidak percaya pada orang lain, ragu, takut salah,
pesimistis, putus asa, menghindar dari orang lain, tidak mampu
merumuskan keinginan, dan merasa tertekan.

Secara psikologis teridentifikasi sebagian besar klien kelolaan


isolasi sosial (41.0%) memiliki riwayat kehilangan dan kegagalan
serta punya riwayat kekerasan (10,2%). Menurut Stuart & Laraia
(2005), isolasi sosial diperoleh dari dua sumber, yaitu dari diri
sendiri dan orang lain. Faktor yang mempengaruhi isolasi sosial
yang berasal dari diri sendiri seperti kegagalan yang berulang kali,
kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan
pada orang lain, dan ideal diri yang tidak realistis, sedangkan yang
berasal dari orang lain adalah penolakan orang tua, harapan orang
tua yang tidak realistis.

Faktor predisposisi sosial budaya sebagian besar dengan adanya


perilaku jarang terlibat dalam kegiatan sosial (92,3%) dan
komunikasi tertutup (89,7%). Hal ini sesuai dengan tipe
kepribadian sebagian besar klien yang dikelola yaitu tipe
kepribadian introvert (tertutup), dimana adanya perilaku menutup
diri dari kemungkinan orang-orang yang memperhatikannya

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


174

sehingga cenderung tidak memiliki orang terdekat atau orang yang


berarti dalam hidupnya.

Kesimpulan yang bisa kita tegakkkan berdasarkan uraian diatas


mengenai faktor psikologis dan sosial budaya adalah kegagalan
individu untuk membina hubungan interpersonal yang memuaskan
berhubungan dengan terjadinya peningkatan ansietas, pengalaman
kehilangan dan pengalaman menjadi korban kekerasan. Sehingga
dengan masalah ini klien menjadi menarik diri dari lingkungan
sosial.

5.1.1.3 Faktor Stressor Presipitasi

Berdasarkan pada hasil pengkajian faktor presipitasi pada klien


kelolaan dengan isolasi sosial secara biologis (putus obat)
sebanyak 89.7% dari klien yang pernah berobat dan
mengkonsumsi obat antipsikotik maupun antidepresan mengalami
putus obat. Kurangnya informasi kepada klien dan keluarga yang
adekuat dari fasilitas pelayanan kesehatan tentang manfaat dan
efek obat berdampak pada kekambuhan sehingga memperburuk
kondisi klien. Alasan yang temukan pada klien dengan riwayat
putus obat adalah perasaan bosan, merasa sudah sembuh, merasa
obat tidak cocok karena jika minum obat badan menjadi tidak
nyaman, merasa obat tidak cocok karena obat sudah habis tetapi
belum sembuh juga serta rasa khawatir menjadi ketergantungan
obat.

Menurut Shives (2005)bahwa pasien yang sudah pernah kambuh


memiliki prognosis yang kurang baik dibandingkan pasien baru.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


175

Hal ini didukung oleh tidak efektifnya koping keluarga dalam


merawat klien sehingga kemampuan klien untuk belajar terbatas.

Pemberian terapi antipsikotik pada fase pemeliharaan


(maintenance) bertujuan untuk mencegah kekambuhan dan
meningkatkan fungsi yang dimiliki klien. Menurut Sadock &
Sadock (2007) bahwa pada fase pemeliharaan, klien yang
menggunakan antipsikotik secara teratur mengalami kekambuhan
sekitar 16-23%, sedangkan klien yang tidak mendapatkan
antipsikotik secara teratur mengalami kekambuhan lebih tinggi
yaitu 53-72% dan sekitar 70% klien yang diberikan beberapa
antipsikotik mencapai kesembuhan.Berdasarkan uraian di atas,
antipsikotik dapat menyembuhkan beberapa klien skizofrenia,
namun beberapa klien lainnya mengalami kekambuhan dan
memiliki gejala negatif yang menetap sehingga perlu upaya untuk
mengatasinya.

Faktor presipitasi psikologis klien dengan isolasi sosial yang


penulis rawat seluruhnya mengatakan bahwa sumber stresor
berasal dari diri sendiri, dan dari eksternal diri klien. Stresor
internal klien terdiri dari pengalaman yang tidak menyenangkan,
perasaan ditolak dan kehilangan orang yang berarti, sedangkan
stresor eksternal adalah kurangnnya dukungan dari lingkungan
serta penolakan dari lingkungan atau keluarga. Temuan tersebut
sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Stuart & Laraia
(2005) yang menyatakan bahwa isolasi sosial disebabkan karena
adanya faktor presipitasi yang berasal dari dalam diri sendiri
ataupun dari luar. Dari luar individu stressor tersebut dapat berupa
ketegangan peran, konflik peran, peran yang tidak jelas, peran
berlebihan, perkembangan transisi, situasi transisi peran dan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


176

transisi peran sehat-sakit. Sedangkan stresor yang berasal dari


dalam adalah kegagalan dan perasaan bersalah yang dialami klien.

Faktor presipitasi psikologis pada 39 klien yang dikelola,


teridentifikasi 46,1% merasa tidak berguna atau tidak berharga,
dan53,8% diantaranya menyatakan malu dengan kondisi diri. Data
berupa mengkritik diri ini yang paling menunjukkan bahwa klien
mengalami isolasi sosial. Perasaan tidak berguna dan tidak
berharga dilatarbelakangi oleh kegagalan atau kehilangan yang
pernah dialami klien dan bahkan mungkin masih terajadi hingga
saat ini secara berulang. Kegagalan yang berulang mengakibatkan
klien malu terhadap kondisi diri. Sementara itu klien juga tidak
menerima penghargaan atas pengalaman hidupnya baik dari diri
sendiri maupun dari orang lain di lingkungannya.

Secara psikologis beberapa klien (15.3%) juga mengalami


kegagalan dalam membina hubungan sehingga klien tidak
mendapatkan penghargaan terhadap usaha yang dilakukan baik
dari orang lain maupun dari diri sendiri. Beberapa faktor yang ada
pada diri klien ini menyebabkan klien tidak bisa menerima dirinya
atau mengalami isolasi sosial. Faktor presipitasi sosial budaya
yaitu tidak memiliki pekerjaan (92,3%) pada kasus kelolaan ini
semakin membuat klien mengkritik diri, merasa tidak berguna
atau tidak berharga.

Asal stresor pada klien isolasi sosial berasal dari internal dan
eksternal. Stresor internal 61,4% berasal dari diri sendiri berupa
stresor secara biologis dan psikologis, sedangkan stresor eksternal
38,4% berupa stresor sosial kultural. Hal ini sesuia dengan yang
diungkapkan Stuart and Laraia (2005) pada Model Stres Adaptasi

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


177

Stuart bahwa stresor dapat berasal dari internal maupun eksternal.


Waktu terjadinya stressor sebagian besar lebih dari 6 bulan
(100%), hal ini sesuai dengan hasil dari NANDA (2010) bahwa
terjadinya isolasi sosial dialami dalam waktu yang lama. Jumlah
stressor semuanya terjadi lebih dari 2 stressor, sesuai dengan
pendapat Stuart & Laraia (2005) bahwa pencetus terjadinya harga
diri rendah karena adanya ketegangan peran seperti transisi peran
perkembangan, peran situasi dan sebagainya.

Setiap stresor atau masalah membutuhkan koping masing-masing


sehingga semakin banyak stresor yang dimiliki oleh individu maka
individu tersebut makin dituntut untuk memiliki koping yang
adekuat yang dapat mengatasi stresornya. Menurut Stuart and
Laraia (2005) jumlah stresor lebih dari satu yang dialami oleh
individu dalam satu waktu atau dalam waktu yang bersamaan
lebih sulit diselesaikan dibandingkan dengan satu stresor dalam
satu waku. Pada klien kelolaan ini kemampuan koping tidak
adekuat sehingga klien jatuh pada kondisi isolasi sosial.

5.1.1.4 Respon KlienIsolasi Sosial Terhadap Stresor


Respon terhadap stresor yang dialami seluruh klien yang penulis
rawat dengan isolasi sosial memiliki pandangan yang negatif
terhadap stresor seperti hanya berfokus pada masalah, memilliki
pandangan yang negatif terhadap diri sendiri dan merasa tidak
mampu menghadapi stresor. Akibat ketidakmampuan mengatasi
stresornya klien mengganggap tidak mampu menyelesaikan
masalah, mengganggap dirinya sebagai orang yang gagal,
memiliki penilaian yang salah terhadap masalah yang dialami.

Respon terhadap stresor yang ditemukan berdasarkan hasil


pengkajian pada klien dengan isolasi sosial dimanifestasikan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


178

dalam bentuk respon kognitif, respon afektif, respon fisiologis,


respon perilaku,dan respon sosial. Pada klienkelolaan dengan
isolasi sosialdi ruang Bratasena ini teridentifikasi 76,9%
klien secara kognitif mengalami kurang perhatian dan 96,1% tidak
dapat berpikir secara logis dan mengambil keputusan. Respon
kognitif memegang peran sentral dalam proses adaptasi, dimana
faktor kognitif mempengaruhi dampak suatu kejadian yang penuh
dengan stres, memilih koping yang akan digunakan, dan reaksi
emosi, fisiologi, perilaku, dan sosial seseorang (Stuart & Laraia,
2005). Penilaian secara kognitif merupakan mediator fisiologis
antara individu dengan lingkungannya terhadap suatu stresor. Pada
klien isolasi sosial kegagalan-kegagalan yang dialaminya yang
tidak sesuia dengan harapan dan ideal diri sendiri, orang lain,
maupun lingkungan menyebabkan klien mengkritik diri dan
mengalami isolasi sosial.

Klien isolasi sosial yang dikelola memiliki pengalaman hidup


yang tidak menyenangkan seperti kegagalan membina hubungan,
komunikasi tertutup, jarang terlibat pada kegiatan sosial,
penolakan, kegagalan-kegagalan lain. Kenyataan yang ada pada
klien ini sesuai dengan yang diuraikan Townsend (2009);
NANDA (2011); dan Fortinash (1999) bahwa pada klien isolasi
sosial penilaian individu bahwa adanya perasaan kesepian dan
ditolak oleh orang lain, merasa orang lain tidak bisa mengerti
dirinya, merasa tidak aman berada dengan orang lain, merasa
hubungan tidak berarti dengan orang lain, tidak mampu
konsentrasi dan membuat keputusan, merasa tidak memiliki tujuan
hidup. Klien menjadi kebingungan, kurangnya perhatian, merasa
putus asa, merasa tidak berdaya, dan merasa tidak berguna.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


179

Respon terhadap stresor klien kelolaan ini dalam bentuk respon


afektif menunjukkan bahwa sebagian besar klien 96.1% merasa
bingung,adanya perasaan sedih 76,9%, dan khawatir 15,3%. Hal
tersebut sesuai dengan pendapat Stuart (2009) bahwa pada respon
afektif terkait erat dengan respon emosi dalam menghadapi
masalah. Rasa malu terhadap kondisi diri disebabkan karena
kegagalan-kegagalan yang dialami secara berulang sehingga
individu menilai dirinya tidak mampu dan tidak berguna, tidak
percaya diri dan malu dihadapan orang lain dan lingkungannya.
Respon yang muncul dapat berupa perasaan sedih, gembira, takut,
tidak menerima, tidak percaya, dan menolak hubungan dengan
orang lain. Penilaian afektif sangat bergantung dari lama dan
intensitas stresor yang diterima dari waktu ke waktu.

Respon fisiologis yang ditemukan pada klien isolasi sosial


kelolaan berupa manifestasi fisik yaitu gangguan pola tidur 76,9%
, tegang 7,69%, dan tremor 3,84%. Hal ini sesuai dengan pendapat
Stuart dan Laraia (2005) menyatakan bahwa manifestasi fisik pada
klien dengan isolasi sosial berupa hipertensi dan gangguan
psikosomatis. Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan data
bahwa klien dengan masalah isolasi sosial hanya terfokus pada
persepsi dan pikirannya sendiri sehingga hal ini menyebabkan
motivasi menurun dan menghambat aktivitas sehari-hari. Lapang
persepsi klien menyempit hanya berfokus pada diri sendiri sampai
klien merasa bermasalah secara fisik (keluhan fisik). Klien
menjadi sulit tidur karena pikiran tidak tenang dan malas makan
serta kegiatan harian lainnya.

Pada klien kelolaan isolasi sosial ini respon perilaku yang


ditampilkan yakni lebih banyak diam atau tidak komunikatif

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


180

92,3%, dan kontak mata tidak dapat dipertahankan saat berbicara


92,3% serta sikap marah 7,69%. Hal ini sejalan dengan pendapat
Stuart & Laraia (2005) menyatakan bahwa respon perilaku
dihubungkan dengan tingkah laku yang ditampilkan atau kegiatan
yang dilakukan klien berkaitan dengan pandangannya terhadap
diri sendiri, orang lain dan lingkungan (Stuart & Laraia, 2005).

Dalam hal ini individu akan lebih menyalahkan diri sendiri,


bersikap pasif, dan menarik diri (Stuart & Laraia, 2005). Individu
yang memandang masalahnya sebagai akibat dari kelalaiannya
sehingga mungkin tidak dapat melakukan suatu respon koping.
Selain itu klien melakukan perbandingan sosial, dimana klien
membandingkan ketrampilan dan kemampuan yang dimiliki
dengan orang lain yang memiliki masalah yang sama.

Koping klien dalam menghadapi masalahnya ini tampak sebagai


respon sosial berupa hubungan buruk dengan orang lain,
menghindari interaksi, dan aktivitas terbatas. Hasil pengkajian
pada klien isolasi sosial teridentifikasi tiga respon sosial yang
negatif, yaitu aktivitas terbatas, hubungan dengan orang lain
buruk, dan menghindari orang lain. Dalam hal ini klien dalam
menghadapi masalah menunjukan respon atribut sosial, yaitu
individu mencoba mengidentifikasi faktor-faktor yang
berkontribusi terhadap masalah yang ada.

Respon sosial merupakan hasil perpaduan dari respon kognitif,


afektif, fisiologis dan perilaku yang akan mempengaruhi
hubungan atau interaksi dengan orang lain. Respon sosial yang
ditampilkan klien kelolaan isolasi sosial berupa menghindari
orang lain 61,5% dan sulit untuk berinteraksi dengan orang lain

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


181

38,4% diruangan. Respon perilaku dan sosial memperlihatkan


bahwa klien dengan isolasi sosial lebih banyakmemberikan respon
menghindar terhadap stresor yang dialaminya. Respon negatif
yang ditampilkan merupakan akibat keterbatasan kemampuan
klien dalam menyelesaikan masalah, dan keterbatasan klien dalam
melakukan penilaian terhadap stresor, sehingga klien memilih
untuk menghindari stresor bukan sesuatu yang harus dihadapi
atau diselesaikan.

5.1.1.5 Kemampuan Klien Dalam Mengatasi Masalah Isolasi Sosial.


Faktor presipitasi klien isolasi sosial yang dirawat, tidak jauh
berbeda antara yang satu dengan yang lain. Pada seluruh
klienkelolaan yang dirawat, terkaji bahwa klien terpapar stresor
yang bersifat psikologis dan sosial budaya. Sumber stresor seluruh
klien berasal dari diri sendiri, dan sebagian juga berasal dari
eksternal diri klien yaitu adanya tuntutan dari lingkungan serta
kecaman dari lingkungan.Hal ini sesuai dengan pendapat Stuart &
Laraia (2005) bahwa isolasi sosialdapat muncul setelah adanya
faktor presipitasi yang berasal dari dalam diri sendiri ataupun dari
luar, antara lain ketegangan peran, konflik peran, peran yang tidak
jelas, peran berlebihan, perkembangan transisi, situasi transisi
peran dan transisi peran sehat-sakit. Stresor yang berasal dari
dalam adalah kegagalan dan perasaan bersalah yang dialami klien.

Kemampuan personal yang harus dimiliki klien meliputi tiga


aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Pada 39 orang klien
isolasi sosial yang dirawat oleh penulis dan telah diberikan terapi
generalis dan spesialis keperawatan jiwa didapatkan bahwa
terlihat penurunan tanda dan gejala isolasi sosial serta adanya
peningkatan pencapaian kemampuan klien isolasi sosial. Untuk

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


182

pencapaian kemampuan setelah diberikan paket terapi I (generalis


+ social skills training) yaitu mampu menyebutkan penyebab
isolasi sosial 76,9%, mampu menyebutkan keuntungan
berinteraksi dengan orang lain 96,1%), mampu menyebutkan
kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain 96,1%, mampu
memperagakan cara berkenalan dengan 1 orang 76,9%, dan
mampu memperagakancara berkenalan dengan 2 orang atau lebih
76,9%, memiliki jadwal kegiatan berbincang-bincang dengan
orang lain 76,9%, dan mampu melakukan perbincangan dengan
orang lain 57,6%. Sedangkan pencapaian kemampuan setelah
diberikan paket terapi II (generalis+social skills training+cognitive
behavior therapy) yaitu mampu menyebutkan penyebab isolasi
sosial 100%, mampu menyebutkan keuntungan berinteraksi
dengan orang lain 100%), mampu menyebutkan kerugian tidak
berinteraksi dengan orang lain 100%, mampu memperagakan cara
berkenalan dengan 1 orang 86,6%, dan mampu
memperagakancara berkenalan dengan 2 orang atau lebih 86,6%,
memiliki jadwal kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain
86,6%, dan mampu melakukan perbincangan dengan orang lain
86,6%.

Hal ini sesuai dengan pendapat Stuart (2009) bahwa kemampuan


yang harus dimiliki klien dalam mengatasi masalahnya meliputi
kemampuan mengenal atau mengidentifikasi masalah,
menentukan masalah yang akan diatasi, dan kemampuan
menyelesaikan masalahnya. Menurut Stuart & Laraia (2005),
sumber koping merupakan pilihan atau strategi bantuan untuk
memutuskan mengenai apa yang dapat dilakukan dalam
menghadapi suatu masalah. Dalam menghadapi stresor individu

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


183

dapat menggunakan berbagai sumber koping yang dimilikinya


baik internal atau eksternal.

Keluarga sebagai sumber social support bagi klien setelah


diberikan paket terapi III (generalis+family psychoeducation)
kemampuan 10 keluarga yang diberikan paket terapi tersebut
mengalami peningkatan yaitu sebanyak 10 keluarga (100%) tahu
dan mengenal masalah anggota keluarga isolasi sosial, 10 keluarga
(100%) mampu mengambil keputusan dalam merawat anggota
keluarga dengan isolasi sosial, 10 keluarga (100%) mampu
merawat anggota keluarga dengan isolasi sosial, 10 keluarga
mampu memodifikasi lingkungan dalam merawat anggota
keluarga dengan isolasi sosial, 10 keluarga (100%) mampu
menggunakan fasilitas dalam merawat anggota keluarga dengan
isolasi sosial. tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam
merawat klien isolasi sosial.

Menurut Friedman (1998), salah satu fungsi keluarga adalah


fungsi perawatan kesehatan. Anggota keluarga sebagai orang
terdekat dan selalu berdampingan dengan klien idealnya memiliki
kemampuan dalam merawat klien (caregiver) secara optimal.
Menurut (Hamera dkk 1998 dalam Stuart & Laraia, 2005),
dukungan sosial utama yang diperlukan oleh klien adalah dari
keluarga sebagai caregiver.Keluarga bisa merupakan sumber
dukungan utama untuk kesembuhan karena klien lebih sering
kontak dengan keluarga.

Menurut Stuart dan Laraia (2005) untuk mampu memberikan


dukungan sosial kepada klien dengan isolasi sosial keluarga
(caregiver) harus memiliki kemampuan seperti kemampuan
mengenal masalah, menentukan masalah dan menyelesaikan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


184

masalah. Kemampuan mengenal masalah tampak dari


pengetahuan keluarga tentang kondisi klien dan potensi yang
dimiliki keluarga, kemampuan menentukan masalah teridentifikasi
dari kemampuan untuk menentukan prioritas masalah sedangkan
kemampuan menyelesaikan masalah teridentifikasi dari
kemampuan melakukan perawatan baik terhadap klien maupun
anggota keluarga lainnya.

Dukungan yang dapat dilakukan keluarga (caregiver) meliputi


pencegahan tersier yaitu membantu memberikan perawatan di
rumah sesuai dengan konsep dan teori yang ada. Sarafino (2002)
menyatakan bahwa dukungan sosial merupakan perasaan caring,
penghargaan yang akan membantu individu untuk dapat menerima
orang lain yang berasal dari keyakinan yang berbeda. Pendapat
lain yang mendukung pernyataan diatas mengenai pentingnya
dukungan meningkatkan sosial didalam proses penyembuhan klien
adalah pernyataan yang diungkapkan oleh Taylor, dkk (2003)
yang menyatakan bahwa dukungan sosial akan membantu
individu untuk meningkatkan pemahaman terhadap stresor dalam
mencapai ketrampilan koping yang efektif.

Menurut Model Stres Adaptasi Stuart, material aset merupakan


salah satu sumber koping (Stuart & Laraia, 2005). Pada klien
isolasi sosial yang dikelola penulis hanya sebagian kecil (7,69%)
yang memiliki penghasilan individu dan penghasilan ini tidak
mencukupi untuk biaya perawatan. Sebagian besar klien dengan
keluarga berpenghasilan rendah. Dari 39 klien isolasi sosial yang
dikelola, terdapat 37 klien (94.8%) menggunakan fasilitas
Jamkesmas/Jamkesda/SKTM/Askeskin. Seseorang yang memiliki
material aset memungkinkan untuk mengakses pelayanan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


185

kesehatan yang dibutuhkan sebagai solusi terhadap masalah


kesehatan yang sedang dihadapi.

Mayoritas klien isolasi sosial yang dikeloladi ruang


Bratasena(74.3%) memiliki keyakinan positif terhadap kondisi
penyakitnyadan pasrah dan berdoa (25,6%). Keyakinan positif
dapat meningkatkan motivasi klien dalam menyelesaiakan stresor
yang dihadapi. Pada pengkajian teridentifikasi bahwa klien
sebenarnya memiliki keinginan besar untuk hidup lebih baik, dan
merasa optimis dengan bantuan perawat serta dukungan keluarga
dan kader kesehatan jiwa akan mampu mengatasi masalahnya.

5.1.2Efektifitas Pelaksanaan Asuhan Keperawatan Pada Klien Isolasi


Sosial yang Diberikan Social Skill Trainingdan Cognitive Behavior
TherapyDengan Menggunakan Pendekatan Teori Hubungan
Interpersonal Hildegar E. Peplau.
Menurut Leddy & Pepper (1993) bahwa konsep model merupakan sebuah
sistem yang terstruktur dan berdasarkan pemikiran rasional dalam
bertindak. Konsep model menjadi landasan untuk menentukan tindakan
keperawatan yang diberikan pada pasien. Berdasarkan konsep model yang
sesuai, maka proses keperawatan yang dilakukan lebih terarah dan akan
diperoleh hasil asuhan keperawatan yang berkualitas dan mempunyai
nilai profesionalisme.

Karya ilmiah akhir (KIA) ini menggunakan pendekatan teori keperawatan


hubungan interpersonal Hildegard E. Peplau. Dengan penggunaan teori
Peplau ini diharapkan klien dengan diagnosa keperawatan isolasi sosial
dibantu dalam menjalin hubungan dengan orang lain, baik dalam
lingkungan sosial maupun pekerjaan.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


186

Manajemen kasus spesialis keperawatan jiwa pada klien dengan diagnosa


keperawatan isolasi sosial ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan
proses asuhan keperawatan yang diawali dengan pengkajian berdasarkan
pada Model Stres Adaptasi Stuart, penetapan diagnosa keperawatan
ditegakkan berdasarkan klasifikasi diagnosa NANDA (2011), melakukan
penyusunan intervensi keperawatan dan implementasi keperawatan serta
melakukan evaluasi. Menurut Kozier (1998) proses keperawatan adalah
proses pemecahan masalah yang digunakan perawat untuk mencapai
tujuan asuhan keperawatan. Pemecahan masalah ini dilakukan secara hati-
hati dan terorganisir, menggunakan pendekatan keilmuan yang
membutuhkan pemikiran, pengetahuan, dan pertimbangan. Pada tahap ini
teori Peplau sudah berada pada fase orientasi, dimana perawat melakukan
pengkajian sampai dengan memutuskan tindakan apa yang akan diberikan
pada klien sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh klien.

Terapi keperawatan disusun berdasarkan pada penilaian stresor dan


kemampuan yang dimiliki oleh klien dan keluarga. Intervensi
keperawatan yang diberikan meliputi intervensi generalis dan spesialis.
Pemberian terapi generalis bertujuan menghilangkan gejala yang dialami
klien isolasi sosial sedangkan terapi spesialis diberikan untuk
meningkatkan kemampuan antisipasi sehingga kemampuan klien menjadi
lebih baik dan meningkat lebih tinggi. Seluruh intervensi keperawatan
yang diberikan dengan mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki
oleh klien. Jika kemampuan yang dimiliki klien telah positif maka
rencana kegiatan yang dilakukan adalah melakukan sustainability
kemampuan klien.

Berbagai terapi keperawatan yang dilakukan guna mengatasi masalah


diagnosa keperawatan isolasi sosial yang dirawat oleh penulis. Tetapi
dalam hal ini penulis memfokuskan pada terapi yaitu Social Skill

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


187

Trainingdan Cognitive Behavior Therapy, walaupun pada pelaksanaannya


setiap klien mendapatkan lebih dari satu terapi, baik terapi individu,
keluarga maupun terapi kelompok.

Teori hubungan interpersonal Peplau terdiri dari empat fase seperti yang
dijelaskan pada bab sebelumnya. keempat fase tersebut adalah orientasi,
identifikasi, eksploitasi dan fase resolusi. Pada fase orientasi merupakan
fase awal dimana antara perawat dan klien belum mengenal satu dengan
yang lain. Perawat dalam hal ini membina hubungan saling percaya antara
klien dan perawat itu sendiri, perawat dan klien saling mengenal satu
dengan yang lain untuk dapat melanjutkan pada fase selanjutnya. Pada
fase ini perawat belum mendapat apa yang diinginkannya dari klien dan
juga sebaliknya, klien juga belum mendapatkan bantuan dari perawat
untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Fase ini baru sebatas
perkenalan awal dan membina hubungan saling percaya antara kedua
pihak. Pada fase ini perawat berperan sebagai orang asing yang ingin
mengetahui tentang klien untuk dapat membantu dalam menyelesaikan
masalah yang ditemaukan nantinya pada klien.

Pengkajianyang dilakukan menggunakan pendekatan metode scaning


dengan menggunakan Model Stres Adaptasi Stuart sangat efektif dalam
menggambarkan kondisi klinis klien dan proses terjadinya diagnosa
keperawatan isolasi sosial. Pengkajian yang dilakukan dengan
metodescaningpenting untuk mengetahui proses maladaptif dalam rentang
kehidupan klien dan dapat dijadikan landasan dalam pemberian terapi
keperawatan. Selain itu, dilakukan pengkajian sesuai dengan respon klien
sehingga dapat dirumuskan masalah keperawatan berdasarkan prioritas
kebutuhan klien.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


188

Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Peplau, pada tahap


pengkajian ini sesuai dengan fase identifikasi dari Peplau, dimana fase ini
melakukan identifikasi keseluruhan tentang klien dengan isolasi sosial.
Pengkajian yang dilakukan terkait dengan respon fisik, kognitif, perilaku
dan juga afektif dari klien yang mengalami isolasi sosial. Pada fase ini
diharapkan klien mampu mengungkapkan apa yang sedang dialaminya
dan perawat sudah dapat mengidentifikasi apa yang akan diberikan
kepada klien sesuai dengan kebutuhannya.

Pelaksanaan asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan model


konseptual hubungan interpersonal Peplau. Melalui pendekatan ini,
interaksi yang dilakukan terhadap klien saat pemberian terapi generalis
dan terapi spesialis dapat dilakukan lebih terarah. Hasil pelaksanaan
terapi keperawatan terhadap39 klien isolasi sosial yang dirawat selama
praktik residensi 3 di ruang Bratasena Rumah Sakit Marzoeki Mahdi,
dibahas berdasarkan pemberian terapi spesialis yang diberikan
berdasarkan pendekatan teori model hubungan interpersonal Peplau.
Tahap pelaksanaan atau fase eksploitasi pada teori hubungan
interpersonal Peplau dilakukan tindakan keperawatan, dimana tindakan
keperawatan yang diberikan adalah terapi generalis isolasi sosial dan
terapi spesialis social skill trainingdan cognitive behavior therapy.
Tindakan keperawatan pada fase ini dilaksanakan berperan sebagai
narasumber, pendidik, pemimpin, pengganti atau wali dan peran yang
terakhir adalah sebagai penasehat. Semua pengetahuan perawat akan
dicurahkan pada fase ini sehingga klien mampu dan dapat mandiri untuk
dirinya sendiri.

Sesi satu pada social skill trainingmelatih kemampuan berkomunikasi,


sesi dua; melatih kemampuan klien menjalin persahabatan meliputi.Sesi
tiga: melatih kemampuan klien bekerja sama dalam kelompok, Sesi

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


189

empat: melatih kemampuan klien berbicara dalam menghadapi situasi


sulit dan sesi kelima adalah evaluasi, melatih kemampun klien
mengungkapkan pendapatnya tentang manfaat kegiatan social skills
training yang telah dilakukan. Sedangkan pada terapi cognitive behavior
therapi sesi satu pengkajian ; mengungkapkan pikiran otomatis negatif
tentang diri sendiri, perasaan, dan perilaku negatif klien yang berkaitan
dengan stressor. Sesi dua terapi kognitif ; mereview pikiran otomatis yang
negatif yang pertama yang sudah dilatih sebelumnya dan melatih untuk
mengatasi pikiran otomatis yang kedua. Sesi tiga terapi perilaku ;
mengevaluasi pikiran otomatis negatif yang masih ada, mengidentifikasi
perilaku positif yang dimiliki, mengidentifikasi perilaku positif yang baru
dan menyusun rencana perilaku yang ditampilkan untuk mengubah
perilaku negatif yang timbul. Sesi empat evaluasi terapi kognitif dan
perilaku ; menilai kemajuan dan perkembangan terapi, mereview pikiran
otomatis negatif dan perialaku negatif, memfokuskan terapi, dan
mengevaluasi perilaku yang dipelajari beradasarkan konsekuensi yang
disepakti. Sesi lima mencegah kekambuhan ; menjelaskan pentingnya
psikofarmaka dan terapi modalitas lainnya.

Pelaksanaan terapi spesialis social skills training dan cognitive behavior


therapyini, perawat berperan secara langsung dalam memberikan terapi
kepada klien dengan isolasi sosial, dimana peran tersebut adalah sebagai
narasumber, pendidik, pemimpin, pengganti atau wali dan peran yang
terakhir adalah sebagai penasehat. Pada sesi-sesi social skill trainingdan
cognitive behavior therapyini perawat hanya berperan sebagai fasilitator
yang membantu klien memberikan alternatif-alternatif penyelesaian
masalahnya. Klien dalam hal ini melakukan pengambilan keputusan
terhadap pilihan perawatan atau penyelesaian masalah yang dihadapi.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


190

Pelaksanaan terapi spesialis yang diberikan pada klien secara individu


dibahas berdasarkan paket terapi spesialis individu yang diberikan, yang
disesuaikan dengan kondisi klien dan masalah keperawatan lain yang
ditemukan. Terapi spesialis utama yang diberikan pada klien secara
individu untuk mengatasi masalah isolasi sosial adalah social skills
training, dan terapi kombinasi antara social skills training dan cognitive
behavior therapy. Berikut ini dibahas tentang hasil dari penerapan social
skill trainingdan terapi kombinasi social skills training dan cognitive
behavior therapy.

Hasil pelaksanaan latihan keterampilan social skill trainingdan cognitive


behavior therapyberdampak positif terhadap perkembangan kondisi klien
dengan masalah isolasi sosial. Pelaksanaan paket terapi ini dilakukan
pada klien isolasi sosial yang masih memiliki kemampuan kognitif baik.
Latihan ketrampilan sosial dilakukan dengan tujuan mengatasi tanda dan
gejala yang muncul pada klien isolasi sosial dan meningkatkan rasa
percaya diri klien, meningkatkan kemampuan komunikasi, menjalin
persahabatan, meningkatkan kemampuan klien dalam kegiatan bersama,
dan menghadapi situasi yang sulit serta mengevaluasi latihan
keterampilan sosial yang sudah dipelajari, sedangkan cognitive behavior
therapy dilakukan dengan tujuan mengatasi pikiran-pikran otomatis
negatif yang menyebabkan klien mengalami perilaku isolasi sosial.

Sedangkan hasil pemberian cognitive behavior therapy menunjukkan


peningkatan kemampuan klien dalam hal mengubah pikiran otomatis
yang negatif terhadap diri, orang lain, maupun lingkungan yang
menyebabkan klien mengalami perilaku isolasi sosial. Pemberian terapi
cognitive behavior therapysocial juga dapat membantu klien untuk
mengganti pikiran negatifnya yang merasa tidak berguna dan tidak berarti
dalam hidup ini. Pada kasus yang dirawat, belum semua klien dengan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


191

isolasi sosal mendapatkan paket terapi kombinasi social skill trainingdan


cognitive behavior therapy.

Hasil dari penerapan social skill training, yaitu meningkatnya


kemampuan klien dalam berkomunikasi, baik secara verbal dan non
verbal. Secara spesifik, hasil penerapan social skills training yang
ditampilkan klien diantaranya mampu berinteraksi dengan orang lain
dengan menggunakan sikap tubuh yang baik, mengungkapkan pendapat
dan perasaan dengan cara baik, mampu memperlihatkan perilaku adaptif
dalam berinteraksi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Renidayati (2008) bahwa kemampuan kognitif dan perilaku klien
dengan isolasi sosial meningkat setelah mengikuti social skills
training.Hal ini diperkuat oleh hasil penelitianBellack dan Hersen (2004),
Wing dan Tsang (2001), Kinsep dan Nanthan (2004); yang melaporkan
bahwa latihan keterampilan sosial yang dilakukan pada klien skizofrenia
dan depresi menunjukkan peningkatan kemampuan berinteraksi,
peningkatan harga diri, dan menurunkan tingkat kecemasan secara
bermakna. Sedangkan hasil penerapan cognitive behavior therapyyang
dikombinasikan dengan social skills trainingmenunjukkan peningkatan
kemampuan klien dalam hal mengubah pikiran otomatis yang negatif
terhadap diri, orang lain, maupun lingkungan yang menyebabkan klien
mengalami perilaku isolasi sosial. Pemberian terapi cognitive behavior
therapysocial juga dapat membantu klien untuk mengganti pikiran
negatifnya yang merasa tidak berguna dan tidak berarti dalam hidup ini.
Pada kasus yang dirawat, belum semua klien dengan isolasi sosal
mendapatkan paket terapi kombinasi social skill trainingdan cognitive
behavior therapy. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Jumaini (2010) yang menyatakan bahwa kemampuan kognitif dalam
menilai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan serta kemampuan

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


192

psikomotor dalam bersosialisasi dilakukan terapi kombinasi antara social


skill trainingdan cognitive behavior therapy.

Penerapan terapi spesialis keperawatan jiwa terhadap klien isolasi sosial


dengan menggunakan pendekatan model konseptual hubungan
interpersonal Peplau memberi arahan bagi penulis dalam melakukan
asuhan keperawatan. Asuhan keperawatan dilakukan dengan melakukan
hubungan interpersonal dengan klien. Hubungan interpersonal dengan
klien perlu dilakukan secara terarah, yang dalam model konseptual
hubungan interpersonal Peplau, arahan tersebut tergambar pada fase-fase
hubungan interpersonal.

Model konseptual hubungan interpersonal Peplau juga mengarahkan


penulis dalam menjalankan peran perawat saat melakukan hubungan
interpersonal dengan klien, yaitu peran sebagai orang asing, nara sumber,
pendidik, pemimpin, pengganti, dan penasehat. Berdasarkan peran-peran
tersebut, perawat harus mampu menggunakan diri sebagai alat dalam
membantu proses penyembuhan klien. Hal ini mendukung pendapat dari
Stuart dan Laraia (2006), bahwa kunci dan alat terapeutik bagi perawat
jiwa adalah penggunaan diri sendiri. Analisis terhadap diri sendiri
merupakan dasar bangunan yang pertama dalam mempersiapkan kualitas
pelayanan keperawatan.

Setelah menerapkan terapi spesialis keperawatan jiwa pada klien isolasi


sosial dengan menggunakan pendekatan model konsepsual hubungan
interpersonal Peplau, penulis merasa yakin untuk tetap menerapkan hal
tersebut dalam melakukan asuhan keperawatan terhadap klien isolasi
sosial, dan mengembangkannya dengan menggunakan model konsepsual
atau teori keperawatan yang ada.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


193

Berdasarkan penjelasan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa terapi


social skill trainingdan cognitive behavior therapymerupakan terapi
spesialis keperawatan jiwayang tepat untuk membantu mengatasi masalah
klien isolasi sosial, dengan mengatasi penyebab dan manifestasi klinik
yang ditampilkan oleh klien dengan isolasi sosial. Kedua terapi ini juga
mengajarkan perilaku yang dapat diterima oleh lingkungan dalam
berinteraksi. Fase keempat dalam teori keperawatan hubungan
interpersonal Peplau adalah fase resolusi, dimana fase ini kemampuan
klien dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial sudah semakin baik
dan adanya pengurangan masalah gangguan pada fisik, kognitif, perilaku,
dan afektif atau emosi.

5.2.Manajemen Pelayanan Ruangan Bratasena


Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) diartikan sebagai suatu sistem
yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan
keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan
keperawatan tersebut. MPKP terdiri dari empat subsistem yaitu management
approach, professional relationship, compensatory rewards, dan patient care
delivery (Hoffart & Woods, 1996 dalam Sudarsono, 2000). Manajemen
pelayanan keperawatan dengan menggunakan MPKP bertujuan untuk
meningkatkan kualitas pemberian pelayanan keperawatan dan asuhan
keperawatan melalui suatu sistem. Pada hakikatnya perawat dituntut bukan hanya
mampu menjadi manajer, namun kemampuan yang dituntut dalam pemberian
pelayanan keperawatan adalah menjadi seorang leader (pemimpin). Seringkali
hubungan yang tidak harmonis terjadi pada suatu rumah sakit, diprediksi
penyebabnya adalah buruknya sistem komunikasi antar individu yang terlibat
dalam sistem tersebut. Menurut Ellis (2000) bahwa jika hubungan terputus atau
menjadi sumber stres, pada umumnya yang ditunjuk sebagai penyebabnya adalah
komunikasi yang buruk. Hal ini perlu dihindarkan untuk meningkatkan mutu
pelayanan keperawatan.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


194

Mutu pelayanan perawatan adalah aplikasi ilmu pengetahuan yang tepat bagi
perawatan klien sambil menyeimbangkan risiko-risiko yang melekat pada setiap
intervensi keperawatan dan keuntungan yang diharapkan dari hal tersebut
(Donabedian, 1980, dalam Gillies, 1996). Jaminan kualitas menurut Gillies
(1996), adalah proses pembentukan sasaran keunggulan bagi intervensi
keperawatan dan pengambilan tindakan untuk menjamin bahwa setiap klien telah
menerima tingkat perawatan yang disepakati. Perawatan yang diberikan selama
mengelola klien dengan isolasi sosial tidak terlepas dari kerja sama yang
dilakukan antara penulis, perawat ruangan, dokter, keluarga klien dan klien.

Kerjasama dengan perawat ruangan dilakukan oleh penulis dalam rangka


mengobservasi dan memberikan penguatan perilaku klien isolasi sosial yang
sedang menjalani terapi spesialis serta penilaian respon perilaku klien untuk
mengetahui efektifitas terapi. Koordinasi dan kerjasama dengan perawat ruangan
dapat dilakukan dengan melanjutkan tindakan keperawatan yang diberikan pada
shift dinas dimana penulis tidak ada, hal ini dikomunikasikan dalam kegiatan
operan, sehingga semua perawat memiliki persepsi yang sama dalam
memberikan asuhan keperawatan, dan tindakan keperawatan yang diberikan
dapat berkesinambungan. Koordinasi dengan perawat ruangan tentang pemberian
asuhan keperawatan memungkinkan untuk dilaksanakan karena perawat di ruang
Bratasena sebagian berlatar belakang pendidikan D3 dan S1 keperawatan, dan
beberapa orang diantaranya merupakan pembimbing klinik atau yang memiliki
pengalaman yang cukup lama di ruang psikiatri. Hal ini sesuai dengan pendapat
Notoatmodjo (2003), bahwa pengetahuan seseorang sangat menentukan hasil
yang diperoleh. Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang akan mendukung
kinerja yang ditampilkan karena akan menghasilkan perilaku berupa kemampuan
kognitif, afektif dan psikomotor seseorang.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


195

Hasil kegiatan manajemen pelayanan Model Praktik Keperawatan Profesional


(MPKP) di ruang Bratasena menunjukkan bahwa kepala ruangan telah
menjalankan 30 dari 30 kemampuan kepala ruangan berdasarkan pilar-pilar
MPKP, ketua tim I 18 dari 18 kemampuan dan ketua tim II telah menjalankan 18
dari 18 kemampuan MPKP ketua tim. Sedangkan perawat pelaksana dari 8
kemampuan berdasarkan pilar-pilar MPKP semua sudah dinyatakan lulus,
terutama pada pilar IV pemberian asuhan keperawatan kepada klien dengan 7
(tujuh) diagnosa gangguan termasuk klien dengan isolasi sosial.

Kemampuan perawat ruangan menjalankan tugas sesuai peran masing-masing


amat dibutuhkan karena hal tersebut juga berdampak terhadap pemberian asuhan
keperawatan terhadap pasien dan keluarga, termasuk klien dengan diagnosa
keperawatan isolasi sosial. Manajemen ruangan yang tertata baik juga akan
mempengaruhi pelaksanaan asuhan keperawatan terhadap klien.

5.3 Kendala
Kendala yang ditemukan penulis selama proses pelaksanaan pemberian asuhan
keperawatan pada 39 orang klien dengan Isolasi Sosial meliputi manajemen
asuhan kasus spesialis maupun manajemen pelayanan keperawatan. Kendala-
kendala tersebut adalah sebagaiberikut:
5.2.1 Keluarga merupakan kendala karena tidak semua keluarga datang
mengunjungi klien di rumah sakit. Pada beberapa klien, keluarga yang
datang berkunjung bukan merupakan care giver utama klien dan tidak
tinggal dengan klien, sehingga tidak mengetahui secara baik respon klien
dan beban yang dirasakan keluarga dalam merawat klien.

5.2.2 Tidak adanya ruang khusus untuk interaksi yang kondusif untuk menjaga
privasi klien. sehingga klien tidak nyaman untuk mengungkapkan
permasalahannya. Saat klien menjalani terapi generalis maupun terapi

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


196

spesialis, kadang-kadang klien lain atau perawat lain mondar-mandir


sehingga mengganggu konsentrasi klien yang sedang menjalani terapi.
Terutama pada klien dengan isolasi sosial, saat menjalani terapi, klien
sering diam ketika ada orang lain yang mendekat atau lewat di diantara
perawat dan klien.
5.2.3 Kendala lain yang ditemukan pada pelaksanaan terapi individu dan
keluarga adalah rendahnya tingkat pendidikan klien dan keluarga serta
kesadaran keluarga yang masih kurang terhadap pentingnya perawatan
anggota keluarga dengan gangguan jiwa sehingga pelaksanaan terapi
spesialis keperawatan jiwa memerlukan pendekatan yang lebih intensif.

5.2.4 Pemberian asuhan keperawatan yang kurang berkesinambungan,


merupakan kendala yang sangat mempengaruhi pencapaian asuhan
keperawatan yang diberikan. Pencapaian kemampuan kilen pada saat
intervensi oleh shift pagi, tidak dilanjutkan oleh dinas shift berikutnya,
pada shift sore dan malam.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


BAB 6
SIMPULAN DAN SARAN

Karya tulis ilmiah ini berfokus pada karakteristik klien isolasi sosial, efektifitas
tindakan dan terapi spesialis keperawatan jiwa pada klien dengan isolasi sosial, dan
hubungan karakteristik dan terapi yang diberikan kepada klien dikaitkan dengan
model hubungan interpersonal Hildegard E.Peplau.
Berdasarkan hasil pelaksanaan terapi pada klien isolasi sosialdan pembahasan, maka
dapat ditarik kesimpulan dan saran sebagai berikut:

6.1 Simpulan
6.1.1 Karakterisktik klien yang mengalami isolasi sosial di ruang Bratasena
meliputi usia rata-rata dewasa awal (18-24 tahun) dan dewasa (25-65 tahun),
pekerjaaan klien rata-rata tidak bekerja (92,7%) , pendidikan klien rata-rata
pendidikan SMP (48,7%), status perkawinan klien rata-rata belum menikah
(84%),dan tingkat kemandirian klien sebagian besar partial care(82,0%).

6.1.2 Faktor predisposisi penyebab klien mengalami diagnosa keperawatan isolasi


sosial yang banyak ditemukan adalah pada aspek sosial budaya yaitu pola
komunikasi yang tertutup dan kurangnya terlibat dalam kegiatan sosial
dimasyarakat.

6.1.3 Faktor presipitasi yang paling banyak ditemukan adalah pada aspek biologis
yaitu adanya riwayat putus obat (tidak patuh obat) sehingga menyebabkan
kekambuhan dan kembali dirawat. Jumlah stressor rata-rata lebih dari 1
stresor dan lama rata-rata lebih dari 6 (enam) bulan.

197 Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


198

6.1.4 Klien isolasi sosial setelah mendapatkan paket terapi I(generalis+social


skills training)dan paket terapi II (generalis+social skills training+cognitive
behavior therapy) terjadi perubahan respon terhadap stresor yaitu penurunan
respon kognitif, afektif, fisiologis, perilaku dan sosial.

6.1.5 Klien isolasi sosial setelah mendapatkan paket terapi I (generalis+social


skills training) dan paket terapi II (generalis+social skills training+cognitive
behavior therapy) terjadi perubahan kemampuan yaitu peningkatan
kemampuan klien isolasi sosial dalam mengatasi masalah isolasi sosial.

6.1.6 Keluarga dengan anggota keluarga isolasi sosial setelah mendapatkan paket
terapi III (generalis + family psychoeducation) terjadi perubahan
pengetahuan dan kemampuan yaitu peningkatan pengetahuan dan
kemampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan isolasi
sosial.

6.1.7 Seluruh terapi keperawatan baik terapi generalis maupun terapi spesialis
keperawatan jiwa yang dilakukan berfokus untuk meningkatkan
kemampuan personal dan keyakinan positif klien dan keluarga.

6.1.8 Terapi spesialis dengan pendekatan kelompok untuk meningkatkan


kemampuan klien dan keluarga dalam memfaatkan dukungan sosial yaitu
suportif therapy dan self help group belum dapat dilaksanakan.

6.1.9 Kolaborasi dengan dokter dan psikiater dalam pemberian terapi


psikofarmaka kepada klien kelolaan isolasi sosialsudah dilakukan.

6.1 Saran
Berbagai saran yang dapat diberikan kepada pihak-pihak yang terkait dengan
praktek klinik keperawatan jiwa yaitu :

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


199

6.2.1 Kementrian Kesehatan


6.2.1.1 Manajemen kasus spesialis keperawatan jiwa pada klien dengan
isolasi sosial yang dilakukan dalam bentuk pelayanan Model
Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) di unit pelayanan
psikiatrik dapat dipertimbangkan sebagai pedoman nasional asuhan
keperawatan klien melalui proses advokasi, sosialisasi dan
komunikasi terutama kepada direktorat keperawatan dan keteknisan
medis departemen kesehatan Republik Indonesia. Pedoman tersebut
selanjutnya dapat digunakan di rumah sakit jiwa dan pelayanan
kesehatan lain.

6.2.1.2 Menyusun kebijakan terkait dengan program pelayanan


keperawatan jiwa spesialistik bagi klien gangguan termasuk klien
dengan isolasi sosialdi tatanan rumah sakit jiwa.

6.2.1.3 Menyusun job description yang jelas antara perawat D3, S1 dan
Spesialis keperawatan jiwa melalui metode konsultan yang dapat
digunakan oleh seluruh rumah sakit jiwa dalam penanganan klien
gangguan jiwa termasuk diagnosa keperawatan isolasi sosial.

6.2.2 Pelayanan Keperawatan


6.2.2.1Direktur RSMM
a. Perlunya pengembangan pelayanan Model Praktik Keperawatan
Profesional (MPKP) yang diterapkan di seluruh ruangan di unit
pelayanan psikiatri.
b. Membuat kebijakan terkait dengan program pelayanan
keperawatan spesialistik khususnya untuk membuat standar
keperawatan terkait dengan pelaksanaan manajemen kasus
klien gangguan termasukklien dengan isolasi sosial.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


200

c. Membuat kebijakan terkait dengan penambahan fasilitas untuk


unit pelayanan psikiatrik sebagai media untuk menunjang
pemberian terapi spesialis keperawatan jiwa
d. Meningkatkan dan mempertahankan kerjasama dengan pihak
pendidikan tinggi keperawatan untuk mengembangkan praktik
keperawatan jiwa spesialis.

6.2.2.2 Kepala Bidang Keperawatan


a. Menindaklanjuti hasil yang sudah dicapai oleh Ruang
Bratasena tentang perkembangan kegiatan pelayanan dan
asuhan keperawatan khususnya terkait dengan manajemen
kasus gangguan jiwa termasuk klien isolasi sosial.
b. Memfasilitasi ruangan untuk penambahan tenaga perawat yang
memenuhi kualifikasi perawat spesialis atau melakukan
peningkatan keterampilan melalui pelatihan bagi SDM perawat
dalam menerapkan manajemen kasus gangguan jiwa termasuk
pada klien dengan isolasi sosial.
c. Memfasilitasi penyedian format-format terkait dengan
dokumentasi asuhan keperawatan dan manajemen pelayanan
Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP)
d. Memfasilitasi ketersedian raport bagi seluruh perawat ada
diruangan khususny perawat yang baru direkrut dan perawat
rotasi.
e. Membuat usulan terkait dengan sistem administrasi manajemen
kasus gangguan jiwa termasuk klien dengan isolasi sosial.

6.2.2.3 Kepala Ruangan Bratasena


a. Meningkatkan dan mempertahankan kegiatan pelayanan Model
Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) dan asuhan
keperawatan jiwa yang telah berjalan di Ruangan Bratasena.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


201

b. Mempertahankan dan meningkatkan peran sebagai role model


dalam menjalankan kegiatan pelayanan Model Praktik
Keperawatan Profesional (MPKP) dan asuhan keperawatan
jiwapada klien gangguan jiwa.
c. Membudayakan kegiatan iklim motivasi dan reinforcement
positifyang telah diterapkan diruangan dalam melaksanakan
asuhan keperawatan klien dengan gangguan jiwa khususnya
dalam penanganan diagnosa keperawatan isolasi sosial.

6.2.3 Program Spesialis keperawatan Jiwa FIK UI


6.2.3.1 Melanjutkan kerjasama dengan area praktik, selain untuk praktik
mahasiswa juga untuk sarana sosialisasi, diskusi dan role play
tentang asuhan keperawatan jiwa profesional.
6.2.3.2 Menilai hasil kegiatan praktik keperawatan jiwa profesional pada
setiap ruangan yang sudah menjadi area praktik Residensi, dan
melanjutkan untuk ruangan yang belum.
6.2.3.3 Mempersiapkan residen program spesialis keperawatan jiwa untuk
melakukan kolaborasi dengan dokter spesialis jiwa dalam
penanganan klien dengan masalah gangguan jiwa.
6.2.3.4 Hasil temuan pada Karya Ilmiah Akhir ini hendaknya digunakan
sebagai evidence based dalam mengembangkan terapi spesialis
keperawatan jiwa, sehingga menjadi modalitas terapi keperawatan
jiwa yang efektif dalam mencegah timbulnya masalah kesehatan
jiwa.
6.2.4 Kehidupan Keprofesian
6.2.4.1 Peningkatan kompetensi perawat dalam manajemen kasus klien
dengan masalah gangguan jiwa termasuk klien isolasi sosialdalam
program sertifikasi PPNI

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


202

6.2.4.2 Pemberian ijin praktik oleh organisasi profesi (PPNI) kepada


spesialis keperawatan jiwa untuk melakukan manajemen kasus
keperawatan jiwa di seluruh tatanan pelayanan.
6.2.4.3 Perlu adanya program advokasi terhadap peningkatan jenjang
karir bagi lulusan Ners Spesialis Keperawatan Jiwa.

6.2.5 Residensi
6.2.5.1 Menguasai tehnik dalam melakukan tindakan keperawatan terkait
dengan manajemen pelayanan khususnya Model Praktik
Keperawatan Profesional (MPKP) dan manajemen kasus pada klien
gangguan jiwa termasuk klien dengan isolasi sosial.
6.2.5.2 Mengetahui tehnik pemberian terapi spesialis keperawatan jiwa
terkait dengan manajemen kasus pada gangguan jiwa termasuk
klien dengan isolasi sosial.
6.2.5.3 Menerapkan terapi suportif kelompok dan SHG dalam
penatalaksanaan keluarga dengan klien isolasi sosial untuk
meningkatkan sustainability kemampuan yang telah dicapai oleh
caregiver.
6.2.5.4 Meningkatkan kemampuan dalam melakukan tindakan keperawatan
untuk memenuhi kebutuhan empat sumber koping klien dengan
isolasi sosial.
6.2.5.5 Meningkatkan kemampuan kolaborasi dengan dokter umum dan
dokter spesialis jiwa yang ada diruangan.
6.2.5.6 Melakukan pembinaan secara berkesinambungan terhadap
pelaksanaan manajemen pelayanan dan manajemen asuhan
keperawatan jiwa yang spesialistik di unit pelayanan psikiatri.
6.2.5.7 Mempraktekkan kemampuan spesialistik dalam manajemen
pelayanan dan manajemen kasus keperawatan jiwa dalam
penanganan masalah gangguan jiwa di unit pelayanan psikiatri.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


203

6.2.6 Pasien, Keluarga dan Masyarakat


6.2.6.1 Klien diharapkan menerapkan ketrampilan yang sudah diperoleh
dan dilatih dalam rangka meningkatkan kualitas hidup yang lebih
baik.
6.2.6.2 Keluarga diharapkan menerapkan keterampilan yang sudah
dipelajari dan dilatih dalam merawat anggota keluarga dengan
isolasi sosial, sehingga keluarga mampu menurunkan tingkat
kekambuhan klien dan berperan aktif dalam perawatan klien
dirumah sakit.
6.2.6.3 Masyarakat diharapkan memberikan dukungan pada klien dan
keluarga dengan isolasi sosialyang dirawat di rumah sakit.

6.2.7 Riset Keperawatan


6.2.7.1 Perlunya penelitian lebih lanjut tentang efektifitasterapi spesialis
keperawatan jiwa social skills training dan terapi kombinasi dengan
cogntive behavior therapypada klien dengan isolasi sosial.
6.2.7.2 Perlunya penelitian untuk menguji efektifitas terapi spesialis
keperawatan jiwa pada keluarga sebagai caregiver untuk mengatasi
burden of desease caregiver dalam merawat anggota keluarga
dengan isolasi sosial.

Universitas Indonesia

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


204

DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association.(2000). DSM-IV-TR. Diagnosticand Statistical


manual of manual disorders. (4thed.). Washington, DC: American Psychiatric
Association.

Barrowelough,C. (2006). Group Cognitive-Behavioral Therapy for Schizopherenia.


British Journal of Psychiatric, 189, 527-532.

Brady, N. (2004). Psychiatric Nursing Made Incridibly Easy. USA: Lippincott William
& Wilkins.

Carson, V.B. (2000). Mental Health Nursing: The nurse-patient journey. (2th ed.).
Philadelphia: W.B. Sauders Company.

Cartledge, G.Milbun, J.F. (1995). Teaching Social Skills Training to Children and Youth
: Innovative Approach, (3 rd ed). Boston : Allgn and Bacan.

Departemen Kesehatan R. I.. (1993). Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan


jiwa di Indonesia III. Jakarta: Departemen Kesehatan.

Departemen Kesehatan R.I (2008). Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007:


Laporan nasional 2007. Jakarta.

Dirjen Binkesmas Depkes R.I, (2003). Buku Pedoman : TPKJM. Tim Pembina,
Pengaruh dan Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat. Jakarta.

FIK UI (2011). Modul Terapi Spesialis Keperawatan Jiwa “Social Skills Training”.
Jakarta. Tidak Dipublikasikan.

FIK UI (2011). Modul Terapi Spesialis Keperawatan Jiwa “Cognitive Behavior


Therapy”. Jakarta. Tidak Dipublikasikan.

FIK UI (2011). Modul Terapi Spesialis Keperawatan Jiwa “Family Psychoeducation”.


Jakarta. Tidak Dipublikasikan.

Fauziah, F.,& Widury, J.(2005). Psikologi Abnormal Klinis Dewasa.Jakarta : UI-Press

Fortinash, K.M. dan Worret, P.A.H. (2004). Psychiatric Mental Health Nursing. (3 rd
ed.). St. Louis: Mosby

Friedman, M. M. (1998). Keperawatan Keluarga: Teori dan Praktek. Alih bahasa: Ina
Debora R.L, dkk. Ed.3. Jakarta: EGC.

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


205

Frisch, NC.,& Frisch, L.E. (2006). Psychiatric Mental Health Nursing. (3rd ed).
Canada:Thomson Delmar Learning.

Gillies, D.A. (1994).Nursing Management: A system approach.(3rd ed.). Philadelphia:


W.B. Saunders Company

Hawari, D. (2007). Penedekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta.


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Hidayat T.(2007). Pelayanan Kesehatan Jiwa Integratif.
http://www.idijabar.Com/Prosiding/Pelayanan Kesehatan .htm, diunduh pada
tanggal 12 Mei 2012.

Jumaini (2010). Pengaruh Cognitive Behavior Social Skills Training (CBSST) Terhadap
Peningkatan Kemampuan Bersosialisasi Klien Isolasi Sosial Di RS Marzoeki
Mahdi Bogor. Tidak Di Publikasikan.

Keliat, B.A. dan Akemat. (2010). Model praktik keperawatan profesional jiwa. Jakarta:
EGC

Keliat, B.A.dkk (2000). Pedoman Manajemen SDM Perawat Ruangan MPKP Rumah
Sakit Marzoeki Mahdi Bogor. Makalah. Jakarta : Tidak Dipublikasikan.

Keliat, B.A. dan Helena P.(2005). Proses Keperawatan Jiwa. Edisi 2. Jakarta : EGC.

Kopelowicz, A., Liberman, P., &Zarare, R. (2002).Psychosocial treatment for


shizhophrenia.New York: Oxford University Press.

Kinsep and Nathan, (2004). Social Skills Training for Several Mental Disorder.
http://www.CChealth.wa.gov.ax/pdf. Diperoleh pada tanggal 28 April 2012.

Kneisl, C.R. dkk.(2004). Contemporary Psychiatric Mental Health Nursing. New


Jersey: Pearson Prentice Hall.

Kozier, B,(1989). Fundamental of Nursing : Concept, Process and Practice. (5th Ed).
Addison Wesley Publising Company.

Kaplan, H.L., Sadock, B.J., & Grebb, J.A. (1994). Kaplan and Sadock’s synopsis of
th
psychiatry. (7 ed.) Baltimore: Williams & Wilkins.

Leddy and Pepper, J. (1993). Conceptual Base of Profesional Nursing.(3rd Ed).


Philadelphia: Lippincott Company.

Marquis, B.L. dan Huston, C.J. (2000).Leaderships Roles and Management Functions in
Nursing (3rd ed) Philadelphia: Lippincot – Raven Publisher

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


206

Maslim, R. (2001). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa ; Rujukan Ringkas Dari
PPDGJ – III. Jakarta : Nuh Jaya.
th
Mohr, W. K. (2006). Psychiatric mental helath nursing. (6 ed.). Philadhelpia:
Lippincott Williams Wilkins.

Nasir, A.dkk (2011). Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa ; Pengantar Dan Teori. Salemba
Medika. Jakarta.

NANDA. (2011). Nursing Diagnoses :Definitions &Clacification 2007-2008.


Philadelphia USA : NANDA International

Notoatmodjo, S. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.

Nursalam. (2002). Manajemen keperawatan: Aplikasi dalam praktek keperawatan.


Jakarta: Salemba Medika

Ramdhani, (2002). (http:www//Lib-UGM,ac.id/Data/Pubdata/Ketsos Pdf). Diakses pada


tanggal 12 Mei 2012.

Renidayati, (2008). Pengaruh Social Skills Training Pada Klien Dengan Isolasi Sosial
Di RS Prof. Hb. Saanin Padang. Tesis : Tidak Di Publikasikan.

Rasmun. (2001). Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan


Keluarga. Edisi I. Jakarta. CV. Sagung Seto.

Sadock, B.J. & Sadock, V.A. (2003). Synopsis of Psychiatric : Behavioral Disorder.
Journal of American Pharmaceutical Association. 39.

Shives, L.R. (2005). Basic Concept of Pychiatric Mental Health Nursing. Philadelphia :
Lippincott Williaams & Wilkins.

Stuart,G.W & Laraia, M.T. (2008). Principle and Practice of Psychiatric Nursing. (8th
Edition). St. Louis: Mosby

Suliswati, dkk. (2005). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. EGC. Jakarta.

Sudarmono, R.S. (2000). Berbagai Model Praktik Keperawatan Profesional Di RS.


Makalah Seminar Dan Semiloka MPKP II. Jakarta : Tidak Dipublikasikan.

Tarwoto dan Wortinah. (2003). Kebutuhan dasar Manusia Dalam Proses Keperawatan.
Edisi Pertama. Jakarta. Salemba Medika.
rd
Townsend, M.C. (2005). Essentials of psychiatric mental health nursing.(3 ed.).
Philadelphia: F.A. Davis Company.

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012


207

Townsend, M.C. (2009). PsychiatricMentalHealthNursing Concepts of Care In


Evidence – Base Practice.(6thEd.). Philadelphia: F.A. Davis Company.

Tomey, A.M (2000). Guided to Nursing Management and Leadership. (6th Ed). St.
Louis : Mosby.

Varcorolis, E.M. (2000). Psychiatric Nursing Clinical Guide: assessment tools and
diagnosis. Philadelphia: W.B.Saunders Company.

Videbeck, S.L. (2001). Psychiatric Mental Health Nursing.Philadelphia: Lippincott


Williams & Wilkins.

Wheeler, K. (2008). Psychotherapy for the advanced practice psychiatric nurse. St.
Louis: Mosby.

Penerapan terapi..., Kens Napolion, FIK UI, 2012