Anda di halaman 1dari 6

2.

2 Stunting

2.2.1 Definisi

Menurut Departemen Kehesatan tahun (2017) meningkatkan kualitas hidup


manusia Indonesia dan Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat
daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan merupakan jabaran dari
Nawa Cita ke–5 dan ke-3. Namun, upaya menghadirkan generasi emas Indonesia
ini dibayangi kehadiran stunting yang masih mengancam.

Stunting (kerdil) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi
badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Kondisi ini diukur dengan
panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar
pertumbuhan anak dari WHO. Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang
disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil,
kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Balita stunting di masa
yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik
dan kognitif yang optimal. Kejadian balita stunting (pendek) merupakan masalah
gizi utama yang dihadapi Indonesia. Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi
(PSG) selama tiga tahun terakhir, pendek memiliki prevalensi tertinggi
dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang, kurus, dan gemuk
(PUSDATIN, 2017).

Stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growth faltering)


akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari
kehamilan sampai usia 24 bulan. Keadaan ini diperparah dengan tidak
terimbanginya kejar tumbuh (catch up growth) yang memadai. Indikator yang
digunakan untuk mengidentifikasi balita stunting adalah berdasarkan indeks Tinggi
badan menurut umur (TB/U) menurut standar WHO child growth standart dengan
kriteria stunting jika nilai z score TB/U < -2 Standard Deviasi (SD). Periode 0- 24
bulan merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan sehingga disebut
dengan periode emas. Periode ini merupakan periode yang sensitif karena akibat
yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak
dapat dikoreksi. Untuk itu diperlukan pemenuhan gizi yang adekuat pada usia ini
(Mitra, 2015).

2.2.2 Epidemiologi

Menurut Departemen Kesehatan tahun (2017) stunting merujuk pada


kondisi tinggi anak yang lebih pendek dari tinggi badan seumurannya. Stunting
terjadi lantaran kekurangan gizi dalam waktu lama pada masa 1.000 hari pertama
kehidupan (HPK). Indonesia saat ini tengah bermasalah dengan stunting. Hasil
Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2013 menunjukkan prevalensi stunting mencapai
37,2%.Hasil riset Bank Dunia menggambarkan kerugian akibat stunting mencapai
3—11% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Dengan nilai PDB 2015 sebesar
Rp11.000 Triliun, kerugian ekonomi akibat stunting di Indonesia diperkirakan
mencapai Rp300-triliun—Rp1.210 triliun per tahun. Sedangkan data Menurut
RISKESDAS 2018 dan PUSDATIN 2017 adalah sebagai berikut.

Gambar 1. Sumber : RISKESDAS 2018


Gambar.2 Sumber : Proporsi status gizi RISKESDAS 2018

Gambar 3. Sumber : Proporsi status giziRISKESDAS 2018


Gambar 4. Sumber : Proporsi status gizi RISKESDAS 2018

Gambar.5 Sumber : Sebaran Stunting PUSDATIN 2017

2.2.3 Penyebab Stunting

Stunting pada anak balita merupakan konsekuensi dari beberapa faktor


yang sering dikaitkan dengan kemiskinan termasuk gizi, kesehatan, sanitasi dan
lingkungan. Ada lima faktor utama penyebab stunting yaitu kemiskinan, sosial dan
budaya, peningkatan paparan terhadap penyakit infeksi, kerawanan pangan dan
akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Faktor yang berhubungan dengan
status gizi kronis pada anak balita tidak sama antara wilayah perkotaan dan
pedesaan, sehingga upaya penanggulangannya harus disesuaikan dengan faktor
yang mempengaruhi (Arridiyah dkk, 2015).

Status gizi ibu hamil sangat memengaruhi keadaan kesehatan dan


perkembangan janin. Gangguan pertumbuhan dalam kandungan dapat
menyebabkan berat lahir rendah (WHO, 2014). Penelitian di Nepal menunjukkan
bahwa bayi dengan berat lahir rendah mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk
menjadi stunting. Status sosial ekonomi keluarga seperti pendapatan keluarga,
pendidikan orang tua, pengetahuan ibu tentang gizi, dan jumlah anggota keluarga
secara tidak langsung dapat berhubungan dengan kejadian stunting ( Ni’mah dan
Nadhiroh, 2015)

Menurut Vaozia dan Nuryanto tahun (2016), faktor determinan terjadinya


anak stunting diantaranya adalah asupan energi, protein dan seng. Kecukupan
energi pada anak dapat berasal dari ASI dan makanan pendamping. Penelitian di
Ethiopia pada anak usia 5-11 bulan menunjukkan bahwa kejadian stunting
disebabkan oleh rendahnya asupan energi. Ketidakcukupan tersebut dikarenakan
rendahnya densitas makanan dan kandungan energi dalam makanan tambahan
anak. Protein dibutuhkan untuk membangun, menjaga dan memperbaiki jaringan
tubuh. Protein juga memiliki peranan penting dalam pertumbuhan. Anak-anak yang
memiliki risiko tinggi terhadap stunting mungkin memiliki keterbatasan asam
amino esensial (seperti tryptophan dan lysine) dalam asupan makanan mereka.
Makanan yang berasal dari hewani seperti daging, ikan, unggas, dan susu
mengandung protein dengan kualitas yang baik. Penelitian pada balita di Kelurahan
Kalibaru Depok menujukkan terdapatnya kecenderungan balita dengan asupan
protein rendah menjadi stunting lebih tinggi dibanding dengan balita yang memiliki
asupan protein cukup.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes, 2017. Buku Saku Stunting Desa. Siha.depkes.go.id diakses pada 20


februari 2019 pukul 13.00

PUSDATIN, 2017. Situasi Balita Pendek (Stunting) Di Indonesia. Depkes.go.id


diakses pada 20 februari 2019 pukul 13.00

Mitra, 2015. Permasalahan anak pendek (stunting) dan intervensi untuk mencegah
terjadinya stunting. Jurnal.htp.ac.id diakses pada 20 februari 2019 pukul 13.30

Arridiyah dkk, 2015. Faktor-Faktor yang mempengaruhi kejadian stunring pada


anak balita di wilayah perkotaan dan pedesaan. Media.neliti.com diakses pada 20
februari 2019 pukul 13.40

Ni’mah dan Nadhiroh, 2015. Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting
pada balita. E-journal.unair.ac.id diakses pada 20 februari 2019 pukul 13.40

Vaozia dan Nuryanto, 2016. Faktor resiko kejadian stunting pada anak usia 1-3
tahun (studi di Desa Kenduran Kecamatan Brati Kabupaten Grobogan).
Media.neliti.com diakses pada 20 februari 2019 pukul 14.00