Anda di halaman 1dari 7

Asuhan Keperawatan Isolasi Sosial

Posted: 14 November 2011 in Kumpulan Askep


Kaitkata:isolasi, jiwa
0

2.1 Definisi

INFO TERBARU 2012 KLIK DISINI

Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan
atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk
membuat kontak ( Carpenito, 1998 ). Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang
dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam
(Towsend,1998)

Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain.
Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan
untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk
berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanivestasikan dengan sikap
memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang
lain (DepKes, 1998).

Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins,1993).

2.2 Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan yang
dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu takut salah,
putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu
merumuskan keinginan dan meresa tertekan.

2.3 Faktor Presipitasi

faktor presipitasi dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga dan
berpisah karena meninggal dan fakto psikologis seperti berpisah dengan orang yang terdekat
atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga
menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan (Stuart and
sundeen, 1995).

INFO TERBARU 2012 KLIK DISINI

2.4 Tanda dan Gejala


Observasi yang dilakukan pada klien akan ditemukan (data objektif) :
1. Apatis, ekspresi, afek tumpul.
2. Menghindar dari orang lain (menyendiri) klien tampak memisahkan diri dari orang lain.
3. Komunikasi kurang atau tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain
atau perawat.
4. Tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk.
5. Berdiam diri di kamar/tempat berpisah – klien kurang mobilitasnya.
6. Menolak hubungan dengan orang lain – klien memutuskan percakapan atau pergi jika
diajak bercakap-cakap.
7. Tidak melakukan kegiatan sehari-hari, artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga
sehari-hari tidak dilakukan.
8. Posisi janin pada saat tidur.
Data subjektif sukar didapat jika klien menolak berkomunikasi, beberapa data subjektif
adalah menjawab dengan singkat kata-kata “tidak”, “ya”, “tidak tahu”.

INFO TERBARU 2012 KLIK DISINI

2.5 Proses Terjadinya Masalah

1. 1. Penyebab dari Menarik Diri

Salah satu penyebab dari menarik diri adalah harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian
individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan
ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap
diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.

Gejala Klinis

1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit
(rambut botak karena terapi)
2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
3. Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
4. Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
5. Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram,
mungkin klien akan mengakiri kehidupannya.
6. 2. Akibat dari Menarik Diri

Klien dengan perilaku menarik diri dapat berakita adanya terjadinya resiko perubahan sensori
persepsi (halusinasi). Halusinasi ini merupakan salah satu orientasi realitas yang maladaptive,
dimana halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata,
artinya klien menginterprestasikan sesuatu yang nyata tanpa stimulus/ rangsangan eksternal.

Gejala Klinis :

1. bicara, senyum dan tertawa sendiri


2. menarik diri dan menghindar dari orang lain
3. tidak dapat membedakan tidak nyata dan nyata
4. tidak dapat memusatkan perhatian
5. curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungannya), takut
6. ekspresi muka tegang, mudah tersinggung
INFO TERBARU 2012 KLIK DISINI

Diagnose Keperawatan

1. Resiko tinggi halusinasi b.d isolasi sosial menarik diri


2. Isolasi sosial menarik diri b.d harga diri rendah
3. Gangguan konsep diri harga diri rendah b.d koping individu inefektif

Intervensi

N Perencanaan
Dx
Tg o Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
Keperawat
l D
an
x
1 Resiko TUM:Tidak 1. Setelah 3x kali interaksi, klien 1. Bina hubungan
tinggi terjadi perubahan menunjukkan eskpresi wajah saling percaya
halusinasi sensori bersahabat, menun-jukkan rasa dengan meng-
b.d isolasi persepsi.TUK: senang, ada kontak mata, mau gunakan prinsip
sosial berjabat tangan, mau komunikasi
menarik diri 1. Membina menyebutkan nama, mau terapeutik :
hubungan menjawab salam, klien mau
saling duduk berdampingan dengan  Sapa klien
percaya. perawat, mau mengutarakan dengan
masalah yang dihadapi. ramah baik
verbal
maupun non
verbal.
 Perkenalkan
diri dengan
sopan.
 Tanyakan
nama
lengkap dan
nama
panggilan
yang disukai
klien.
 Jelaskan
tujuan
pertemuan.
 Jujur dan
menepati
janji.
 Tunjukan
sikap empati
dan
menerima
klien apa
adanya.
 Beri
perhatian dan
perhatikan
kebutuhan
dasar klien.

2. Klien mampu 2. Setelah 5x kali interaksi klien 2.1. tanyakan pada


menyebutkan dapat menyebutkan salah satu klien tentang:
penyebab menarik penyebab menarik diri:
diri.  orang yang
 Diri sendiri tinggal
o Orang lain serumah
o lingkungan /teman klien
 orang yang
paling dekat
dengan klien
dirumah/ di
RS
 apa yang
membuat
klien dekat
 orang yang
tidak dekat
dengan klien
dirumah/ di
RS
 apa yang
membuat
klien tidak
dekat dengan
orang
tersebut
 upaya apa
yang harus
dilakukan
agar klien
dekat dengan
orang
tersebut

2.2 Beri kesempatan


klien
mengungkapkan
penyebab menarik
diri, tidak mau
bergaul dengan
orang lain

2.3 Beri pujian


terhadap
kemampuan klien
mengungkapkan
perasaannya

2 Isolasi sosial TUM :Klien 1. Setelah 3x kali interaksi, klien 1.1 Bina hubungan
menarik diri mempunyai harga menunjukkan eskpresi wajah saling percaya
b.d harga diriTUK : bersahabat, menun-jukkan rasa dengan meng-
diri rendah senang, ada kontak mata, mau gunakan prinsip
1. Membina berjabat tangan, mau komunikasi
hubungan menyebutkan nama, mau terapeutik :
saling menjawab salam, klien mau
percaya. duduk berdampingan dengan  Sapa klien
perawat, mau mengutarakan dengan
masalah yang dihadapi. ramah baik
verbal
maupun non
verbal.
 Perkenalkan
diri dengan
sopan.
 Tanyakan
nama
lengkap dan
nama
panggilan
yang disukai
klien.
 Jelaskan
tujuan
pertemuan.
 Jujur dan
menepati
janji.
 Tunjukan
sikap empati
dan
menerima
klien apa
adanya.

Beri perhatian dan


perhatikan
kebutuhan dasar
klien.
1. Klien 2.setelah 5x interaksi klien 1.1 diskusikan
dapat menyebutkan : dengan klien
mengident tentang:
ifikasi  Aspek positif dan
aspek kemampuan yang  aspek positif
positif dan dimiliki klien yang dimiliki
kemampua  Aspek positif keluarga klien,
n yang  Aspek positif lingkungan keluarga dan
dimiliki klien lingkungan
 kemampuan
yang dimiliki
klien

1.2 bersama klien


buat daftar tentang:

 aspek positif
klien,
keluarga dan
lingkungan
 kemampuan
yang dimiliki
klien

1.3 beri pujian yang


realistic, hindari
member penilaian
negatif
3 Gangguan TUM:Tidak 1. Setelah 3x kali interaksi, klien 1. Bina hubungan
konsep diri terjadi perubahan menunjukkan eskpresi wajah saling percaya
harga diri sensori bersahabat, menun-jukkan rasa dengan meng-
rendah b.d persepsi.TUK: senang, ada kontak mata, mau gunakan prinsip
koping berjabat tangan, mau komunikasi
individu 1. Membina menyebutkan nama, mau terapeutik :
inefektif hubungan menjawab salam, klien mau
saling duduk berdampingan dengan  Sapa klien
percaya. perawat, mau mengutarakan dengan
masalah yang dihadapi. ramah baik
verbal
maupun non
verbal.
 Perkenalkan
diri dengan
sopan.
 Tanyakan
nama
lengkap dan
nama
panggilan
yang disukai
klien.
 Jelaskan
tujuan
pertemuan.
 Jujur dan
menepati
janji.
 Tunjukan
sikap empati
dan
menerima
klien apa
adanya.
 Beri
perhatian dan
perhatikan
kebutuhan
dasar klien.