Anda di halaman 1dari 28

BAB II

Konsep Dasar obat tradisional

2.1 Definisi

2.2 Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan,
hewan, mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang
secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan dan dapat diterapkan
sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat (Permenkes RI No. 007 Tahun
2012). bahan-bahan yang digunakan tidak mengandung bahan kimia sintetik. Obat
tradisional terbuat dari campuran berbagai tumbuhan yang dapat dibuat menjadi
bentuk sediaan yang bervariasi diantaranya adalah kapsul, tablet, pil, dan lain-lain.
Menurut WHO, obat tradisional telah digunakan secara luas di dunia sejak hampir
20 tahun. Pada negara-negara seperti Ghana, Mali, Nigeria, dan Zambia,
penggunaan obat tradisional mencapai 60% dan sekitar 80% populasi di banyak
negara menggunakan obat tradisional sebagai perlindungan kesehatan mereka
(Kayne, 2010).

2.3 Penggunaan obat tradisional secara luas oleh masyarakat disebabkan selain karena
alami, mudah didapat, serta harganya yang murah, penggunaan obat ramuan
tumbuhan secara tradisional ini tidak menghasilkan efek samping yang ditimbulkan
seperti yang sering terjadi pada pengobatan secara kimiawi, selain itu masih banyak
orang yang beranggapan bahwa penggunaan obat tradisional lebih aman
dibandingkan dengan obat sintesis (Thomas A.N.S, 1989). Seiring dengan
modernisasi, banyak masyarakat baik pria maupun wanita yang menginginkan berat
tubuh yang ideal serta mengurangi obesitas. Obesitas sendiri dapat mengakibatkan
munculnya penyakitpenyakit serius seperti diabetes mellitus serta dapat
meningkatkan resiko 2 kematian dini. Penyakit-penyakit kronis lainnya seperti
hipertensi, hiperlipidemia, jantung koroner, stroke, gangguan sistem
musculoskeletal, penyakit kandung empedu, serta beberapa jenis kanker meningkat
seiring dengan peningkatan berat badan sehingga dilakukan banyak cara dalam
perwujudannya menghindari obesitas serta mendapatkan berat badan yang ideal
(Malone, 2005). Salah satunya dengan mengkonsumsi obat pelangsing tradisional

5
yang penggunaannya mudah, nyaman, aman, serta dapat diperoleh dengan harga
yang cukup terjangkau. Adanya faktor-faktor di atas menyebabkan banyaknya
penggunaan obat-obat pelangsing yang beredar di pasaran baik produk lokal
maupun produk impor yang dijual bebas di toko-toko obat maupun secara on line
melalui internet dalam berbagai macam bentuk sediaan diantaranya dalam bentuk
pil, kapsul, maupun dalam bentuk teh. Banyak produk pelangsing menjanjikan
penurunan berat badan 8-12 kg setelah 1 bulan disertai dengan testimonial
konsumen yang telah mengalami penurunan berat badan sesuai yang dijanjikan,
namun anehnya produk ini memberikan peringatan bahwa konsumen di bawah usia
10 tahun atau di atas 65 tahun, serta wanita hamil dilarang mengkonsumsi produk
sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa produk pelangsing herbal tersebut
ditambah dengan bahan kimia obat tertentu untuk mendapatkan hasil yang
maksimal dalam waktu yang singkat. Selain itu juga tertulis bahwa penderita
penyakit jantung dilarang untuk mengkonsumsi produk, sehingga makin
memperkuat dugaan bahwa obat herbal pelangsing tersebut dicampur dengan
bahan kimia obat yaitu Sibutramin HCl karena salah satu efek samping penggunaan
sibutramin HCl yaitu terjadinya peningkatan resiko kardiovaskular. Banyaknya
penggunaan obat pelangsing tradisional yang beredar di masyarakat menyebabkan
adanya penyalahgunaan produksi obat tradisional yang tidak sesuai dengan
pedoman cara pembuatan obat 3 tradisional yang baik. Berdasarkan Permenkes RI
No. 007 tahun 2012, di dalam obat tradisional dilarang mengandung bahan kimia
obat yang merupakan hasil isolasi atau sintetik yang berkhasiat sebagai obat. Dari
hasil penelitian diungkapkan bahwa sekitar 63% tanaman obat tradisional dapat
menyebabkan interaksi farmakokinetik dengan obat konvensional jika dikonsumsi
secara bersamaan. Misalnya, jamu yang mengandung fenilbutason dapat
menyebabkan peradangan lambung serta dalam jangka panjang dapat
menyebabkan kerusakan hati dan ginjal, jamu yang mengandung sibutramin HCl
dapat meningkatkan resiko kardiovaskular (Hermanto dan Subroto, 2007).
Walaupun demikian, beberapa obat pelangsing tradisional ternyata diketahui
mengandung bahan kimia obat yaitu sibutramin. Biasanya, pencampuran obat
tradisional dengan bahan kimia obat sering dilakukan agar obat tradisional tersebut
dapat berkhasiat secara instan. Hal ini berbahaya pada tubuh karena selain memiliki

6
efek samping serta kontra indikasi, obat sintetik memiliki dosis tertentu yang harus
dipatuhi saat terapi agar menimbulkan efek terapi dan tidak terjadi reaksi toksisitas
karena kelebihan dosis pemakaian (over dose), apalagi bahan kimia obat yang
ditambahkan tidak diketahui jumlahnya. Sibutramin sendiri merupakan obat yang
digunakan sebagai pengobatan tambahan dalam membantu penurunan kelebihan
berat badan disamping olah raga dan pengaturan diet. Sibutramin menginduksi rasa
kenyang sehingga mengurangi asupan makanan dan meningkatkan pengeluaran
energi. Dari hasil studi SCOUT (Sibutramine Cardiovascular Outcomes Trial)
mengenai aspek keamanan penggunaan sibutramin jangka panjang, sibutramin
meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular pada pasien dengan riwayat penyakit
kardiovaskular (James, et al., 2010). Untuk melindungi masyarakat dari bahaya obat
tradisional yang dicemari dengan bahan kimia obat, badan POM melakukan
pembatalan izin 4 edar dan penarikan produk obat yang mengandung bahan kimia
obat. Salah satunya adalah pembatalan izin edar dan penarikan produk obat yang
mengandung sibutramin di antaranya adalah Reductil®, Maxislim®, Redufast®,
Slimact®, Redusco®, dan Decaslim® berdasarkan Keterangan Pers Badan POM No
PN.01.04.1.31.10.10.9829 tanggal 14 Oktober 2010 (www.pom.go.id). Tidak hanya
itu, berdasarkan lampiran public warning Badan POM No.
HM.03.05.1.43.09.12.6081 Tanggal 19 September 2012 tentang obat tradisional
mengandung bahan kimia obat, diketahui bahwa obat herbal pelangsing ABC Acai
Berry kapsul lunak mengandung bahan kimia obat yaitu sibutramin hidroklorida.
Selain obat herbal pelangsing di atas, ternyata masih banyak obat herbal pelangsing
lain yang kemungkinan besar mengandung bahan kimia obat sibutramin
berdasarkan perolehan hasil yang maksimal dalam waktu konsumsi yang relatif
singkat, sehingga perlu adanya suatu metode yang selektif dan sensitif untuk
mendeteksi serta menentukan jumlah sibutramin yang ditambahkan dalam obat-
obat herbal pelangsing tersebut.

2.4

2.5 Etiologi

7
Sebagai tenaga kesehatan aspek patologi tidak bisa dipandang tunggal
melainkan multifaktorial karena adanya interaksi antara faktor genetik dan faktor
lingkungan, diantaranyaaktifitas, gaya hidup, sosial ekonomi dan nutrisi (Heird,
2002). Adapun faktor-faktor yang meliputinya yaitu:

a. Faktor genetik

Parental fatness adalah faktor genetik yang turut berperan. Jika kedua orang
tua obesitas maka 80% keturunan mereka terkena obesitas. Kalau salah satu orang
tua terkena obesitaskemungkinan obesitas menjadi 40% dan bila kedua orang tua
normal, resiko obesitas menjadi 14% (Syarief, 2011). Sebanyak 20-25% kasus
overweight maupun obesitas merupakan faktor genetik (Guyton &Hall, 2007).
Faktor filial juga menjadi penyumbang bagi seorang anak yang terkena obesitas
pada gejala awal hingga akan menampak pada saat dewasa kelak.

b. Faktor lingkungan

1) Aktivitas fisik
Aktifitas fisik dapat meningkatkan massa otot dan menurunkan lemak tubuh,
sedangkan aktivitas fisik yang tidak teratur adekuat dapat mengakibatkan artrofi
dan adipositas (Guyton & Hall, 2007). Penelitian Mushtaq et al. (2011) pada anak
sekolah di Pakistan, aktivitas fisik dan gaya hidup adalah prediktor independen
dari kelebihan berat badan dan BMI yang tinggi. Gaya hidup seperti menonton
televisi, bermain video game dan bekerja pada komputer menunjukkan hubungan
yang signifikan dengan BMI yang tinggi dan resiko kelebihan berat badan yang
bermuara pada obesitas.

2) Faktor nutrisi
Faktor ini dimulai sejak tahap pregnancy. Orang tua tetap menjadi barier
utama dalam perkembangan pertama seorang anak dengan rentang usia 1
tahun.Dengan jalan pola yang benar yaitu diet kalori seperti lemak dan hidrat
arang. Kembali lagi pada faktor utama yang selaras dengan Hukum
Termodinamika, Hukum Newton 3, Hukum Kirchof, Hukum Frank Starling yang

8
intinya “zat yang masuk harus sama dengan yang keluar” namun pada kasus ini
justru berlawanan. Penelitian yang lain dilakukan oleh Vannelli et al. (2005)
mengungkapkan bahwa melewatkan makan pagi atau sarapan pada anak-anak
dapat meningkatkan resiko overweight dan obesitas. Pada anak-anak yang
melewatkan makan pagi dilaporkan 27,5% overweight dan 9,6% obesitas
dibandingkan dengan anak-anak yang makan pagi.

3) Faktor sosial ekonomi

Status sosial ekonomi dapat dilihatdari pendapatan keluarga. Berdasarkan


penelitian Mushtaq et. al. (2011) terdapat hubungan sosio-demografis dengan
perilaku diet, aktivitas fisik dan gaya hidup terkait dengan BMI yang tinggi dan
kelebihan berat badan.

4) Gangguan Hormonal

Obesitas juga dapat disebabkan oleh endocrine disorder(berhubungan dengan


kerusakan hipotalamus baik lateral maupun ventromedial dalam pengontrolan
stimulasi makan dan persepsi rasa kenyang), seperti pada Cushing syndrome,
hiperaktivitas adrenokortikal, hipogonadisme, dan penyakit hormon lain (Syarif,
2005).

2.6 Patogenesis Obesitas

Prinsip utama patogenesis obesitas selaras dengan Hukum Termodinamika,


Hukum III Newton, Hukum Kirchof, Hukum Frank Starling yaitu “zat yang yang
masuk harus sama dengan yang keluar” namun pada pasien obesitas baik itu
tingkat I, II, III justru berlawanan. Bisa dikatakan bahwa keluaran energi (energy
expenditures) kurang dari asupan gizi sehingga terjadi kelebihan energi yang
didepositkan dalam bentuk lemak.

Sistem saraf dan hormonal dianugerahkan bgaimana termodinamika dari


energi hal ini dapat kita lihat dari asupan gizi kita meningkat maka produk kalori
juga meningkat begitu pula sebaliknya (Sjarif, 2005). Karena itu berat badan perlu

9
dipetahankan untuk senantiasa mencapai berat ideal. Diperkirakan keseimbangan
ini dipertahankan oleh internal set point atau lipostat yang dapat mendeteksi
jumlah energi yang tersimpan dalam jaringan adiposadan meregulasi asupan
makanan agar terjadi homeostasis dengan energi yang dikeluarkan (Kumar, 2004).

Secara garis besar sistem termodinamika lemak dalam tubuh dibagi menjadi tiga
yaitu:

1. Sistem Aferen: menghasilkan sinyal humoral dari jaringan adiposa (leptin)


pankreas (insulin), retroperitonial (ghrelin).

2.Cen
tral
Proce
ssing
Unit:
terdap
at
pada
Hipot
alamu
s yang
terinte
grasi
denga
n sinyal aferen.

3. Sistem Efektor: membawa bentuk dari hipotalamus nuclei dalam bentuk reaksi
untuk makan dan pengeluaran energi.

10
Gambar 1. Skema Ringkas Regulasi Keseimbangan Energi
Sumber: Kumar, V. 2004. Environmental and Nutritional Pathology

Jika dalam tubuh adiposa dan inividu tersebut akan, maka sistem aferen
(insulin, leptin, ghrelin) akan dikirim ke SSP hipotalamus disinilah jalur
anabolisme dihambat dan katabolisme dipercepat guna memecah deposit lemak,
mekanisme umpan balik hormon. Lengan efektor menghambat pemasukan
makanan dan mempromosi pengeluaran energi. Nantinya peristiwa ini akan
mereduksi penyimpanan energi. Begitu pula sebaliknya jika energi yang diperoleh
sedikit namun pengeluaran banyak. Hingga akhirnya terjadi reaksi redoks guna
homestasis tubuh (Kumar, 2004).

Insulin dan Leptin merupakan mediator yang bekerja dalam jangka waktu
lama sedangkan ghrelin dalam waktu singkat. Hormon ghrelin mestimulasi rasa
lapar di pusat lapar yakni hipotalamus. Sintesis ghrelin terjadi dominan sel-sel
epitel bagian fundus lambung. Sebagian kecil di ginjal, plasenta, kelenjar ptuitari
dan hipotalamus. Sedangkan reseptornya berada di kelenjar ptuitari yang
mensekresikan GH, hipotalamus, jantung, dan jaringan adiposa (Kumar, 2004)

Konsentrasi ghrelin dalam darah menurun setelah selesai makan dan


meningkat ketika berpuasa.

11
Gambar 2. Kadar plasma ghrelin dalam satu hari
Sumber: http://www.vivo.colostate.edu/hbooks/pathphys/endocrine/gi/ghrelin.htm

Walaupun insulin dan leptin bekerja dalam jangkan waktu yang sama namun,
data

menunjukkan bahwa leptin lebih dominan dalam mengontrol pengeluaran energi


di SSP. Sel adiposit berinteraksi dengan hipotalamicyang nantinya akan
mensekresikan salah satu jenis sitokin yaitu leptin. Reseptor leptin mempunyai
dua efek menghambat anabolisme dan mempercepat katabolisme. Sehingga
terjadi keseimbangan energi. Mekanisme kerja leptin tidak dapat dijelaskan secara
detil dan secara sederhana melalui leptin-melanocortin-circuit yang juga dalam

12
saat ini masih menjadi pemabahasan dalam kajian serologi dan farmakologi
(Kumar, 2004)

2.7 Penanganan Pada Pasien Obesitas

2.4.1 Operasi MenghilangkanLemak

Menurut Ceatus Media Group LLC dalam What is Liposuction tahun 2010
tehnik operasi yang telah digunakan adalah Abdominoplasty Lipectomy,
Mesotherapy (injection lipolysis), External Ultrasound (Ultra Shape), Suction
Assisted Lipoplasty (SAL), Power Assisted Liposuction (PAL), Ultrasound
assisted lipoplasty (UAL), body sculpting (smartlipo) dengan menggunakan Laser
assisted liposuction (LAL), radio frequency (thermage), dan VASSER. Dengan
berkembangnya tehnik operasi maka lebih banyak lagi area pada tubuh yang dapat
dilakukan lipo-suction

Gambar 3. Area- area pada tubuh yang


dapat dilakukan liposuction
Sumber : Mordon S, Plot E. Laser lipolysis
versus traditional liposuction for fat removal. Expert Rev. Med. Devices.
2009;6(6): 677688.

13
Sebelum dilakukan liposuction, bagian-bagian tubuh yang akan dilakukan
tindakan terlebih dahulu ditandai dengan pena yang waterproof dengan pasien
dalam posisi berdiri.

Gambar 4. Bagian-bagian tubuh ditandai dahulu sebelum dilakukan liposuction dengan


menggunakan tumescent local anaesthesia.
Sumber: Schmeller W. Liposuction. 2010

Adapun Jenis-Jenisnya diantara lain:

A. Abdominoplasty Lipectomy
Pada tehnik ini dilakukan insisi kulit yang luas untuk dapat mengeluarkan
dengan pisau semua jaringan lemak yang dimaksud.

Gambar 5. Pasca abdominoplasty lipectomy dengan bekas garis insisi.


Sumber: Venkataram J. Tumescent liposuction: A Review. Journal of Cutaneous and
Aesthetic Surgery. Jul-Dec 2008;1(2).

B. Mesotherapy (Injection lipolysis)

14
Gambar 6. Tindakan mesotherapy dengan penyuntikan.
Sumber:Jewell ML. Patient-Savety Data: How It Can Improve Our Performance.
Aesthetic Surgery Journal. 2004;24(4):1-3.

Berawal pada tahun 2002 dimana the-nik ini digunakan untuk mengobati
penyakit systemic lipodissolve. Dilakukan lisis sel lemak dengan menggunakan
suntikan phosphatidyl choline/deoxycholate based. Mesotherapy berkembang
sebagai tehnik yang menggunakan penyuntikan bahan-bahan ter-tentu pada daerah
tertentu dibawah kulit.

C. External ultrasound (Ultra Shape)


Tindakan ini dilakukan dengan meng-gunakan ultrasound dari luar tubuh,
tidak invasif dan tanpa tindakan operasi, sayatan, atau suntikan. Dengan tindakan
ini jaringan lemak dapat dihancurkan tanpa merusak jantung, Liposuction
Kemajuan dalam Teknik Operasi ringan lainnya. Tindakan ini tidak disaran-kan
oleh Food and Drug Administration (FDA).

Gambar 7.Tindakan external ultrasound.


Sumber: Lillis P.Liposuction surgery under local anesthesia: Limited blood loss &
minimal lidocaine absorption. J Dermatol Surg Oncol. 1988;14:1145.

D. Suction Assisted Lipoplasty (SAL)

15
Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan alat sedot (suction unit)
yang dimasukkan ke dalam jaringan lemak untuk menyedot lemak secara tidak
selektif. Gerakan-gerakan dengan alat sedot dilakukan oleh pembedah, tetapi akan
terjadi banyak kerusakan jaringan, pembuluh darah, saraf, dan jaringan lunak.
Tindakan ini berpotensi mengakibatkan permukaan kulit menjadi tidak rata, dan
digunakan khusus untuk lemak yang dalam dan intermedia.

Metode ini merupakan pencetusan awal dari tindakan sedot lemak namun
pada saat itu lebih ditekankan pada diagnostik untuk rupture (kerusakan) jaringan
namun seiring dengan perkembangan teknologi kanula khusus lebih dicanggihkan
sehingga metode ini lama-kelamaan diperbarui menjadi metode PAL.

Gambar 8. Tindakan suction-assisted lipo-plasty (SAL) dengan menggunakan alat sedot.


Sumber: Schmeller W. Liposuction. 2010

16
E. Power Assisted Liposuction (PAL)

Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan kanula khusus yang halus.


Dilakukan gerakan fibrasi yang cepat dengan menggunakan mesin untuk
menghancurkan lemak sehingga dapat disedot ke luar daritubuh. Avulsi lemak ini
tidak selektif dan banyak terjadi kerusakan jaringan. Prosedur ini sangat
berpotensi mengakibatkan trauma pada tubuh penderita. Keuntungannya adalah
selain untuk menyedotjuga terjadi pergerakan bolak-balik oleh mesin yang kurang
tergantung pada fisik pembedah, serta tindakan dapat dilakukan lebih cepat
dibandingkan dengan SAL

F. Ultrasound Assisted Lipoplasty (UAL)

Pada tindakan ini penggunaan gelombang ultrasonik membantu penyedotan


lemak, tetapi tidak menjadi lebih cepat. Keuntungan utamanya adalah karena
penghancuran lemak yang dibantu USG kemudian diikuti oleh penyedotan lemak.
Selain itu biasanya kurang terjadi kerusakan jaringan dan pendarahan, lagi pula
volum lemak yang dapat disedot cukup besar.

17
G. LAL (Laser Assisted liposuction)
Tindakan ini telah diijinkan oleh FDA dan menggunakan Laser Assisted
Liposuction berfrekuensi 1064 nm. Sangat efektif untuk digunakan pada massa
lemak yang kecil atau untuk mengencangkan kulit. Lemak dihancurkan dengan
sinar laser yang terdapat pada ujung kanula pengisap, kemudian disedot keluar.
Pada kelompok adiposit yang akan dilakukan tindakan terlebih dahulu
dimasukkan local tumescent anaesthesia, kemudian cannula laser dimasukkan
melalui insisi kecil pada kulit. Denyutan laser diarahkan ke daerah kelompok
adiposit, sambil cannula digerakkan pada subkutis dengan arah yang berbolak-
balik. Denyut laser yang sangat pendek dengan gelombang tinggi menghasilkan
efek fotoakustik yang secara selektif mengakibatkan disintegrasi membran
adiposit serta terlepasnya kandungan sel dengan resiko hangus yang minimal.
Laser juga mengkoagulasi jaringan untuk memicu pengencangan kolagen dan
hemostasis. Efek termolisis dari laser akan menghancurkan jaringan lemak
sehingga dapat diaspirasi, baik dengan sedotan jarum suntik atau pompa
peristaltik

Gambar 13. Efek termolisis dari laser akan menghancurkan jaringan lemak
Sumber: Katz B, McBean J. The new laser liposuction for men. Dermatologic Therapy.
2007;20:448-451.

H. Radio Frequency (Thermage)

Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan kapasitip monopolar


radiofrequency (RF), terutama dilakukan untuk mengencangkan kontur kulit.
Tindakan ini menggunakan teknologi yang aman yang memberikan pemanasan
volumetrik kedalam kulit yang kaya kolagen. Pemanasan ini merangsang tubuh

18
untuk memproses pembaruan kulit, membantu mengencangkan kolagen yang ada,
dan membentuk kolagen baru. Renovasi kolagen ini membantu menciptakan kulit
yang lebih halus dan lebih kencang, sehingga memberikan penampilan yang lebih
muda.

I. VASER

VASER termasuk Ultrasound Assisted Liposuction (UAL) berupa gelombang


suara untuk mengemulsikan (mencairkan) lemak agar mudah dikeluarkan dari
tubuh.Tindakan VASER liposelection terdiri dari tiga tahap. Pada tahap I
dilakukan infus ke daerah yang akan diisap lemaknya dengan menggunakan
cairan NaCl fisiologi yang cukup. Selanjutnya pada tahap II dilakukan emulsi
lemak dengan sistem energi gelombang suara dari VASSER yang dikeluarkan dari
ujung kanula yang dimasukkan ke dalam jaringan lemak. Jaringan lemak yang
berkontak akan dihancurkan, sedangkan jaringan-jaringan lainnya relative tetap
intake (liposelective). Pada tahap III lemak dikeluarkan melalui aspirasi dengan
menggunakan kanula.

Gambar 14. Tindakan RF (Radiofrequency) menggunakan kapasitip monopolar


Sumber: Jewell ML. Patient-Savety Data: How It Can Improve Our Performance. Aes-
thetic Surgery Journal. 2004;24(4):1-3.

2.4.2 Olahraga

Olahraga yang dianjurkan adalah olahraga yang bersifat aerobik, yaitu


olahraga yang menggunakan oksigen dalam sistem pembentukan energinya. Atau
dengan kata lain olahraga yang tidak terlalu berat namun dalam waktu lebih dari

19
15 menit. Contoh olahraga yang dianjurkan antara lain berjalan selama 20-30
menit setiap harinya, berenang, bersepeda santai, jogging, senam aerobik, dll.

2.4.3 Diet

Karena diet berhubungan dengan makanan yang dikonsumsi dalam keluarga


sehari-hari maka partisipasi seluruh anggota keluarga untuk ikut mengubah pola
makanan akan sangat bermanfaat. Kurangi konsumsi makanan cepat saji dan
banyak mengandung lemak terutama asam lemak tak jenuh dan mengurangi
makanan yang manis-manis.

2.4.4 Terapi Psikologis

Hal ini terutama ditujukan jika penyebab obesitas adalah masalah psikologis
seperti perceraian orang tua, ketidak harmonisan dalam keluarga maupun
rendahnya tingkat percaya diri anak. Selain itu kegemukan juga menyebabkan
anak menjadi minder dan cenderung mengasingkan diri dari teman-teman
sebayanya (Rahmatika, 2008)

2.5 Jenis-Jenis Lemak

Jaringan lemak (Adiposa) merupakan jaringan terbesaryang menempati 25-


30% pada wanita dan 15-20% pada pria yang dimanifestasikan kedalam bentuk
trigliserida. Lemak lenih baik dalam ATP-sintesa karena setiap gram lemak dan
karbohirat masing-masing menghsailakn 9,3 dan 4,1 Kkal yang bisa berlaku
selama 2 bulan (Rony,2014). Ada 2 jenis utama dari jaringan adiposa pada
mamalia, putih dan coklat.Jaringan Adiposa Putih (WAT) menyimpan kelebihan
energi dalam bentuk trigliserida. Sebaliknya, Jaringan Adiposa Cokelat (BAT)
untuk mengoksidasi energi kimia sehingga menghasilkan panas sebagai
pertahanan terhadap hipotermia dan obesitas.WAT berkembang di regia intra-
abdominal yang berbeda dan di lapisan subkutan (antara fascia dan otot).

1) Jaringan,Lemak,Putih,(Lemak,Unilokuler)
Jaringan lemak putih dinamakan demikian karena berwarna putih sampai
kekuningan, tergantung dari jumlah bahan karotenoid yang dimakan. Karotenoid

20
merupakan pigmen yang terdapat dalam tumbuhan (wortel, beberapa jenis buah-
buahan dan sayur-sayuran terutama yang berwarna merah jingga) yang larut
dalam lemak. Pada awal perkembangan sel lemak putih memiliki banyak vakuola
tetapi pada perkembangan lebih lanjut vakuola-vakuola tersebut akan bersatu
membentuk vakuola tunggal. Pada sediaan histologik rutin yang terlihat hanya
dinding sel lemak yang terputus-putus dengan lapisan sitoplasma tipis dimana
terdapat inti (pada potongan tipis); lemaknya telah terekstraksi pada waktu
pembuatan sediaan Pada sediaan yang dipotong agak tebal dinding sel masih bisa
terlihat utuh.

Untuk memperlihatkan lemak dalam sel dapat digunakan teknik potong beku,
di mana jaringan dibekukan dengan pendinginan dan langsung dipotong (lemak
tidak terekstraksi) atau dengan menggunakan bahan yang tidak dapat
mengekstraksi lemak dari dalam sel, sehingga dapat diperlihat dengan pulasan
khusus, seperti: Sudan oil red (merah), Sudan oil black (hitam), dan asam osmium
(hitam).

Gambar 15.Jaringan lemak putih dengan sel-sel yang unilokuler (bagian atas) dan
jaringan lemak coklat dengan sel-sel yang multilokuler (bagian bawah).
Sumber: Mescher AL, 2010.8

Setiap sel lemak dikelilingi oleh jala-jala halus retikuler.Pada jaringan lemak
yang lebih besar terutama pada daerah yang berfungsi sebagai penyerap tekanan
(telapak kaki dan tangan) terdapat septa-septa jaringan ikat yang cukup tebal
sehingga jelas terlihat membentuk lobuli jaringan lemak. Pada daerah lain

21
yangbukan berfungsi penyerap tekanan septa-septa sangat tipis sehingga susunan
lobuli kurang jelas.

Jaringan lemak putih tersebar luas di jaringan subkutan. Banyaknya


penimbunan lemak putih pada daerah-daerah tertentu akan berbeda tergantung
pada umur dan jenis kelamin. Pada anak-anak, terutama yang baru lahir lapisan
lemak hampir merata di semua jaringan subkutan, dinamakan panikulus adiposus.
Pada usia dewasa lemak ini akan menipis pada daerah tertentu tetapi pada
bebeberapa daerah akan menebal. Ketebalan lemak pada beberapa daerah berbeda
untuk kedua jenis kelamin. Hal ini menyebabkan perbedaan bentuk tubuh lelaki
dan perempuan yang mungkin dipengaruhi secara hormonal. Pada laki-laki
penimbunan lemak terjadi pada daerah kuduk, jaringan subkutan di atas otot
deltoideus dan triseps, daerah lumbosakral, dangluteal sedangkan pada
perempuan penimbunan lemak terjadi pada daerah dada, bokong, epitrohanter,
serta permukaan anterior dan lateral paha.Penimbunan lemak pada daerah
omentum, mesenterium, dan retroperitoneal juga berbeda pada kedua jenis
kelamin.Lemak di daerah ini dilepaskan paling awal bila tubuh memerlukan
energi.Penimbunan yang terjadi pada daerah omentum ini dikenal sebagai obesitas
sentral. Beberapa daerah tertentu dari tubuh tidak akan melepaskan lemaknya
walaupun pada keadaan puasa kecuali pada kelaparan yang berkepanjangan,
contoh: lemak penopang bola mata, sendi-sendi besar, serta telapak tangan dan
kaki.

1.1 Reseptor Sel Lemak Putih

Pada sel lemak putih terdapat beberapa jenis reseptor:


1. Reseptor Insulin: Meningkatkan absorpsi glukosa dan di dalam sel lemak
akan diubah menjadi trigliserida.
2. Reseptor Epinefrin: Efedrin yang dilepaskan dari ujung saraf simpatis akan
terikat pada reseptor di endotel kapiler jaringan lemak kemudian akan
mengaktifkan adenilil siklase dalam sel lemak yang menyebabkan meningkatnya
lipolisis (hubungan dengan olahraga).

22
3. Reseptor Estrogen: Mempengaruhi penyebaran jaringan lemak pada
perempuan.
4. Reseptor Adrenokortikoid: Peningkatan hormon adrenokortikoid akan
menyebabkan terjadinya hipertrofi lokal sel-sel lemak di daerah servikal bawah,
yang dikenal sebagai buffalo hump.
Beberapa hormon lain juga berperan pada berbagai langkah metabolisme
lemak, seperti: hormon pertumbuhan, hormon prolaktin, dan hormon tiroid.

1.2 Fungsi Endokrin Jaringan Lemak Putih

Mulanya jaringan lemak putih dikenal sebagai Cinderella organ dianggap


hanya sekadar tempat cadangan lemak dan penyimpan cadangan energi dalam
bentuk trigliserida. Pada tahun 1987 jaringan lemak berhasil diidentifikasi sebagai
tempat utama terjadinya metabolisme steroid seks dan produksi adipsin yaitu
faktor yang mengalami down regulation pada roden yang obes. Pada tahun 1994
berhasil ditemukan bahwa jaringan lemak menghasilkan sejenis polipeptida leptin,
sehingga jaringan lemak digolongan sebagai jaringan endokrin, malah merupakan
organ endokrin yang terbesar dalam tubuh.

Penelitian kemudian membuktikan jaringan lemak berperan dalam hal integrasi


sinyal-sinyal endokrin, metabolik, dan inflamasi untuk mengatur homeostatis
energi. Sel-sel lemak dan stroma vaskuler jaringan lemak ternyata menyekresi
berbagai hormon diantaranya faktor pertumbuhan, protein bioaktif, dan molekul-
molekul kecil ke dalam sirkulasi. Telah dilaporkan terdapat sekitar 47 jenis bahan
yang dihasilkan oleh sel lemak, yang keseluruhannya dikelompokkan sebagai
adipositokin/adipokin yang masing-masing dapat bekerja secara otokrin, parakrin
maupun endokrin.

1.3 Adipositokin

Adipositokin yang telah banyak diteliti antara lain: leptin, Tumor Necrosis
Factor-α (TNF-α), Inter Leukin-6 (IL-6), Komplemen C3, Acylation Stimulating
Protein (ASP), Enzim Lipoprotein Lipase (LPL), Apo-E, Faktor Pertumbuhan

23
(TGF, IGF-1), Angiotensinogen, Plasminogen-Activator Inhibitors Tipe1 (PAI-1),
Adipsin, Resistin, PPAR-γ-regulated angiopoietin-related protein (PGAR),
adipsin, resistin dan belakang ini ditemukan adiponektin. Bahan-bahan tersebut di
atas dapat berefek pada organ-organ lain, juga dapat saling memengaruhi satu
dengan yang lain. Dengan demikian jaringan lemak ini sekaligus berfungsi
sebagai organ endokrin, parakrin, dan autokrin.

Dari sekian banyak bahan yang dihasilkan oleh jaringan lemak belakang ini yang
menarik banyak perhatian para peneliti ialah adiponektin karena merupakan satu-
satnya adipositokin yang mempunyai kadar rendah pada resistensi insulin, toleransi
glukosa yang terganggu, Diabetes Melitus II, obesitas, dan penyakit kardiovaskuler.
Bila adiponektin dapat mengendalikan keadaan/penyakit-penyakit tersebut maka
diharapkan dapat berfungsi protektif, bertentangan dengan fungsi adipositokin
lainnya.

2. Jaringan Lemak Coklat (Lemak Multilokuler)

Jaringan lemak coklat bervariasi pada berbagai spesies. Jaringan lemak ini
tampak berwarna coklat sampai coklat kemerahan-merahan, oleh karena itu sering
dinamakan lemak coklat. Warna ini disebabkan oleh banyaknya pembuluh darah
dan sitokrom karena terdapat sejumlah besar mitokondria. Walaupun sel lemak
coklat lebih kecil dari pada sel lemak putih, sitoplasmanya relatif lebih banyak
dan terdapat sejumlah tetesan lemak dalam berbagai ukuran. Inti bulat letak agak
ke tepi, tetapi tidak terdorong seperti pada sel lemak unilokuler. Mikroskop
elektron memperlihatkan pada sitoplasma terdapat kompleks juksta nuklear kecil
dan sejumlah miktokondria.

Mitokondria lebih besar dan bulat dengan sejumlah krista transversal. Juga
terdapat sedikit retikulum endoplasma kasar dan halus, ribosom bebas dan
glikogen. Jaringan lemak coklat tersusun atas lobi dengan sejumlah pembuluh
darah tersebar di dalam lobi tersebut, mirip suatu kelenjar. Pada binatang yang
dipuasakan lama, lemak coklat akan dilepaskan secara bertahap, sehingga warna
jaringan akan makin gelap meninggalkan gambaran mirip kelenjar sel-sel
epitelial, dan tidak mirip jaringan ikat. Pada binatang percobaan, pelepasan lemak

24
ini makin dipercepat dalam lingkungan dingin. Stroma jaringan lemak coklat
sangat longgar dan banyak terdapat pembuluh darah. Hubungan antar sellemak
dan kapiler lebih erat bila dibandingkan dengan lemak putih. Pada pulasan
impregnasi perak terlihat sejumlah serabut saraf halus tidak bermielin berupa
ujung saraf simpatis yang berakhir pada sel lemak coklat.

Lemak coklat umumnya terdapat pada mamalia yang baru lahir atau pada
hewan yang sedang berhibernasi, oleh karena itu jaringan lemak ini sering
dinamakan jaringan hibernasi. Pada individu dewasa tetesan-tetesan lemak akan
menyatu membentuk satu tetesan mirip lemak unilokuler. Lemak coklat ini
penting terutama pada kehidupan bulan-bulan pertama. Strukturnya secara
bertahap akan berubah menjadi lemak unilokuler, sehingga saat dewasa tetap
masih terdapat sel lemak coklat dan lemak putih tapi dengan struktur yang telah
berubah menjadi lemak unilokuler sehingga sukar dibedakan secara histologik.

Gambar 16. Fotomikrograf memperlihatkan sel-sel lemak coklat dengan inti bulat yang
sering terletak di tengah. Umumnya sel-sel berbentuk poligonal berisi banyak droplet
lemak. Pada beberapa sel, droplet lemak besar mendesak inti ke tepi. Terdapat jaring-
jaring serat kolagen dan kapiler di sekitar sel-sel lemak.
Sumber: Ross MH, Wojciech P, 2011.

25
Gambar 17. Diagram sel lemak multilokuler memperlihatkan hubungan droplet
lemak dengan mitokondria. Juga memperlihatkan ujung saraf simpatis yang melepaskan
norepinefrin untuk menginduksi mitokondria melalui aktivitas termogenin.
Sumber: Mescher AL, 2010.

Jaringan lemak coklat banyak terdapat di daerah leher dan interskapular fetus
manusia berusia 28 minggu dan pada waktu lahir sebanyak 2-5% dari berat badan.
Letak jaringan lemak coklat dapat dideteksi dengan cara skrening termografi.
Pada usia dewasa, semua jaringan lemak terlihat sebagai lemak unilokuler tetapi
pada usia lanjut, penyakit kronis, atau kelaparan massa lemak coklat dapat terlihat
kembali pada beberapa tempat tertentu, mirip seperti lokasi pada fetus atau bayi
yang baru lahir.

Hal ini juga ditunjang dengan dikenalnya dua jenis tumor dari jaringan lemak.
Tumor yang berasal dari jaringan lemak putih dikenal sebagai lipoma atau
liposarkoma sedang-kan yang berasal dari lemak coklat dinamakan hibrinoma;
keduanya dapat dibedakan secara histologik. Dari bukti-bukti di atas, dewasa ini
umumnya telah diterima bahwa sepanjang hidup seseorang di dalam tubuhnya
terdapat kedua jenis lemak ini, hanya saja struktur lemak multilokuler akan
berubah menjadi lemak unilokuler tetapi masih tetap bersifat reversibel.

2.1 Histofisiologi Lemak Coklat

Lemak putih banyak terdapat di jaringan subkutan dari kebanyakan mamalia


yang berfungsi sebagai isolasi untuk menahan panas, tetapi bila terlibat dalam
aktifitas metabolisme juga dapat menghasilkan panas. Berbeda halnya dengan

26
jaringan lemak coklat yang berfungsi khusus untuk menghasilkan panas tubuh.
Sitoplasma lemak coklat mengandung banyak mitokondria, berfungsi
menghasilkan panas melalui oksidasi asam lemak. In vitro, kecepatan oksidasi
lemak coklat 20 kali lebih tinggi dari lemak putih. Dalam keadaan dingin lemak
coklat dapat menghasilkan panas sampai tiga kali lipat. Hewan dewasa termasuk
manusia yang baru lahir atau masih muda tidak dapat menggigil sehingga
memerlukan lemak coklat untuk menghasilkan panas. Bila terpapar suhu dingin,
reseptor sensoris di kulit akan mengirim impuls ke pengaturan suhu di otak,
kemudian melalui jalur simpatis yang ujung-ujungnya berakhir pada membran
plasma sel lemak coklat dan beberapa pada pembuluh darah melepaskan
neurotransmiter norepinefrin untuk meningkatkan aliran darah. Norepinefrin yang
terikat pada reseptor di sel lemak coklat akan mengaktifkan enzim lipase sensitif
hormon dalam sel untuk memecahkan molekul trigliserida menjadi asam lemak
dan gliserol.

Pelepasan asam lemak akan meningkatkan metabolisme dengan konsekuensi


meningkatkan kebutuhan oksigen dan pelepasan panas. Darah yang melewati
daerah tersebut akan meningkat suhunya dan disebarkan ke seluruh tubuh.
Meningkatnya panas yang dihasilkan berhubungan dengan mitokondria dalam sel-
sel lemak coklat yang memiliki protein transmembran yang dinamakan termo-
genin. Protein transmembran ini berfungsi untuk mengalirkan kembali proton
yang sebelumnya ditransfer ke celah inter-membran tanpa melewati sistem ATP-
sintase dalam unit globular mitokondria. Akibatnya energi yang dibutuhkan untuk
aliran proton tidak digunakan untuk sintesis ATP tapi untuk menghasilkan panas.
Pada hewan gemuk jumlah termogenin berkurang tetapi meningkat pada keadaan
dingin. Individu-individu yang memiliki jumlah molekul termogenin banyak
sukar menjadi gemuk.

Hormon tiroid dapat meningkatkan aktivitas metabolisme di banjak jaringan,


tetapi mempunyai efek khusus pada sel-sel lemak. Kerja hormon tiroid akan
menyebabkan peningkatan reseptor hormon tersebut dalam inti sel lemak.
Hormon utama yang dihasilkan kelenjar tiroid ialah tiroksin (T4), tapi

27
triidotiroksin (T3) memiliki aktifitas sepuluh kali lebih tinggi daripada tiroksin
terhadap reseptor tersebut. Fisiologis T3 merupakan hormon yang sangat penting
dengan T4 sebagai suatu prohormon.

Deiodonase T4 menjadi T3 umumnya dengan enzim tiroksin 5-diidonase


yang terjadi di hati dan ginjal, sehingga kedua organ ini penting dalam mengatur
cadangan plasma triiodotirok-son. Lemak coklat juga memiliki enzim ini dan akan
sangat meningkat bila terpapar keadaan dingin, dapat mencapai 100 kali lebih
tinggi bila dibandingkan dalam keadaan panas. Meningkatnya termo-genesis
merupakan respons terhadap keadaan dingin yang tergantung pada aktivitas enzim
ini. Bayi-bayi yang sangat muda menggunakan mekanisme yang sama untuk
menghasilkan panas. Pada bayi yang diletakan pada lingkungan 23⁰C segera
setelah lahir akan terjadi peningkatan kadar gliserol dalam darah akibat lipolisis
trigliserida yang akan meningkatkan kecepatan metabolisme untuk mencapai suhu
sekitar 33⁰C.

3. Histogenesis Jaringan Lemak

Pada mulanya para ahli histologi beranggapan jaringan lemak berasal dari
fibroblas yang sitoplasmanya kemudian tertimbun tetesan-tetesan lemak sehingga
terbentuk sel lemak. Hal ini berdasarkan beberapa kenyataan bahwa jaringan ikat
akan berubah menjadi jaringan lemak bila makanan yang dimakan mengandung
banyak lemak. Sanggahan terhadapan pandangan ini ialah bahwa walaupun
jaringan ikat terdapat di semua bagian tubuh, ternyata jaringan lemak tidak akan
berkembang secara merata pada kegemukan, tetapi hanya pada daerah-daerah
tertentu saja.Di daerah-daerah lain seperti: kelopak mata, hidung, telinga,
skrotum, daerah genital, serta telapak kaki dan tangan tidak akan terjadi
penimbunan lemak yang berlebihan pada kegemukan, meskipun daerah-daerah ini
memiliki cukup banyak fibroblas. Penelitian kemudian menunjukkan bahwa sel
lemak berdiferensiasi dari sel prekursor khusus yang berasal dari jaringan
mesensimal, dinamakan lipoblas atau preadiposit. Telah diketahui dua jenis sel
prekursor berdasarkan gambaran sitologik:

28
1. Preadiposit berbentuk stelata (bintang) yang selanjutnya berkembang
menjadi sel-sel lemak multilokuler (BAT).

2. Preadiposit berbentuk fusiformis yang selanjutnya berkembang menjadi


sel lemak unilokuler (WAT).

Preadiposit berbentuk bintang maupun fusiformis keduanya berbeda dengan


fibroblas dan keduanya terdapat pada tempat-tempat tertentu di dalam tubuh.
Dewasa ini diterima bahwa terdapat dua proses pembentukan jaringan lemak:

1. Pembentukan lemak primer yang terjadi dalam waktu relatif cepat pada
fetus.Jaringan ini mula-mula tampak seperti kelompok mirip kelenjar dari
sel-sel epiteloid pada tempat-tempat tertentu, kemudian sitoplasmanya
tertimbun tetesan-tetesan lemak multipel dan menjadi jaringan lemak coklat.

2. Pembentukan lemak sekunder yang terjadi pada akhir kehidupan fetal dan
neonatus.Sel prekursor berbentuk fusiformis mulai berdiferensiasi pada
banyak tempat dari jaringan ikat kemudian tertimbun lemak dalam
sitoplasmanya membentuk tetesan lemak tunggal yang besar (WAT) dalam
setiap sel. Pembentukan lemak ini tersebar luas di seluruh bagian tubuh
manusia dewasa.

Manusia merupakan salah satu mahluk yang dilahirkan dengan cadangan


lemak.Akumulasi lemakmulai terjadisejak kehamilan 30 minggu.Setelah lahir
perkembangan sel lemakbaru umumnya terjadi sekitar pembuluh darah kecil
dimana terdapat banyak sel-sel mesensim yang belumberdiferensiasi. Setelah
kelahiran, makanan dan rangsangan lainnyadapatmenyebabkan sel-sellemak
berproliferasi, tetapi setelah itu tidak lagi terjadipenambahan jumlah sel lemak
(hiperplasia) walaupun proses diferensiasi dapat berlangsung sejak lahir sampai
dewasa.

29
Gambar 18.Penyebaran lemak coklat pada neonatus (sekitar 2-5% dari berat
badan).Daerah hitam menunjukkan jaringan lemak multilokuler,daerah abu-abu
menunjukkan campuran antara lemak coklat dan lemak putih.
Sumber:Ross MH, Wojciech P. Adipose tissue. Histology A Text and Atlas with
Correlated Cell and Molecular Biology (Sixth Edition). Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins Wolters Kluwer, 2011.

2.6 Terminologi Sederhana PRDM 16

2.6.1 Fungsi Gen PRDM 16

PRDM 16 ini nantinya akan mentranskripsikan domain gen zinc


finger faktor transkripsi sebagai prekursor mRNA 16 untuk katabolisme
lemak.PRDM 16 melakukan kontrol repolarisasi pada sel otot dan sel adiposit.
Kehilangan PRDM16 dari prekursor lemak coklat menyebabkan hilangnya
karakteristik lemak coklat dan menimbulkan diferensiasi otot (Seale, 2008).

2.6.2 Signifikansi Klinis

Dampak nyata translokasi t gen (1;3) (P36;Q21) terjadi pada subset


dariSindrom Myelo Dyplastic(MDS) dan Leukemia Myeloid Akut (AML). Gen
ini terletak dekat breakpoint dan telah terbukti secara khusus dinyatakan dalam
t(1:3) (P36,Q21) yang menunujukkan positif MDS/AML. Pengkodean ini
menghasilkan protein N-terminal (domain PR). Hasil translokasi berlebih dari
versi potongan protein ini yang tidak memiliki domain PR, berpeluang
besardalam patogenesis MDS dan AML.

30
2.6.3 PRDM 16 pada JARINGAN LEMAK COKLAT

Brown Adipose Tissue (BAT) mengoksidasi energi kimia untuk


menghasilkan panas. Energi panas ini dapat bertindak sebagai pertahanan
terhadap hipotermia dan obesitas (Spiegelman, 2011). PRDM16 sangat banyak
dalam sel adiposa coklat dibandingkan dengan sel adiposa putih, dan memainkan
peran dalam proses-proses termogenik jaringan adiposa coklat.

PRDM16 mengaktifkan identitas sel lemak coklat dan dapat mengontrol


penentuan nasib lemak coklat.Sebuah knock-out dari PRDM16 pada tikus
menunjukkan hilangnya karakteristik sel coklat, menunjukkan bahwa aktivitas
PRDM16 penting dalam menentukan coklat adipose nasib.Brown adiposit terdiri
dari mitokondria padat yang mengandung Uncoupling Protein-1 (UCP-1).
Menurut Jurnal of Clinical Inestigation, UCP-1 memainkan peran kunci dalam
thermogenesis jaringan adiposa coklat. Kehadiran PRDM16 di jaringan adiposa
menyebabkan up-regulasi yang signifikan dari gen termogenik, seperti UCP-1 dan
CIDEA, mengakibatkan produksi panas termogenik.Memahami dan merangsang
proses termogenik di adiposit coklat memberikan pilihan terapi yang mungkin
untuk mengobati obesitas.

2.6.4 PRDM16 di JARINGAN LEMAK PUTIH

White Adipose Tissue (WAT) menyimpan kelebihan energi dalam bentuk


trigliserida (Spiegelman, 2011). Penelitian terbaru menunjukkan bahwa PRDM16
hadir dalam subkutan jaringan adiposa putih.Aktivitas PRDM16 di jaringan
adiposa putih mengarah ke produksi adiposit lemak seperti lemak coklat dalam
jaringan adiposa putih, yang disebut sel Brite (Browning Adiposa Coklat atau sel
Beige). Sel-sel Brite memiliki fenotipe seperti jaringan adiposa cokelat dan
termasuk tindakan proses termogenik terlihat dari percobaan diBAT(Spiegelman,
2011). Pada tikus, tingkat PRDM16 dalam WAT, khususnya anterior WAT
subkutan dan WAT subkutan inguinal, sekitar 50% dari BAT interskapula, baik
dalam ekspresi protein dan jumlah mRNA.Ungkapan ini berlangsung terutama
dalam adipocytes matang.

31
Penggunaan tikustransgenikAP2-PRDM.16 dalam penelitian ini bertujuan
mengetahui pengaruh ekspresi PRDM16 di WAT.Studi ini menemukan bahwa
kehadiran PRDM.16 di WAT subkutan mengarah ke up-regulasi yang signifikan
dari gen selektif coklat lemak seperti UCP-1, CIDEA, dan PPARGC1A. Up-
regulasi ini mengarah pada pengembangan fenotipe BATseperti dalam
WAT.Dengan kata lain WAT mulai menyerupai BAT

Ekspresi PRDM.16 juga telah ditunjukkan untuk melindungi terhadap diet


tinggi lemak yang diinduksi kenaikan berat badan. Percobaan Seale et al. Dengan
tikus transgenik AP2-PRDM.16 dan jenis tikus liar menunjukkan bahwa 60%
tikus transgenik makan diet tinggi lemak secara signifikanmemiliki berat badan
kurang dari jenis tikus liar pada diet yang sama. Seale et al. ditentukan perbedaan
berat badan bukan karena perbedaan asupan makanan, karena keduanya
transgenik dan liar jenis tikus mengkonsumsi jumlah makanan yang sama setiap
hari.

Sebaliknya, perbedaan berat badan berasal dari pengeluaran energi yang


lebih tinggi pada tikus transgenik. Lain dari Seale et al. Percobaan menunjukkan
tikus transgenik yang dikonsumsi volume yang lebih besar dari oksigen selama 72
jam dibandingkan dengan jenis tikus liar, menunjukkan jumlah yang lebih besar
dari pengeluaran energi pada tikus transgenik.Pengeluaran energi ini pada
gilirannya dikaitkan dengan kemampuan PRDM.16 untuk up-mengatur UCP-1
dan ekspresi gen CIDEA, sehingga terjadi thermogenesis (Seale, 2014).

Jika WAT manusia mengungkapkan PRDM16 seperti dalam tikus, WAT


ini bisa menjadi target potensial untuk merangsang pengeluaran energi dan
memerangi obesitas.

32