Anda di halaman 1dari 7

M – III

UJI KUAT TEKAN UNIAKSIAL


(UNIAXIAL COMPRESSION TEST)

3.1 Tujuan Praktikum


Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk dapat mengetahui nilai kuat tekan tertinggi yang dapat diterima
sampel setelah menerima pembebanan satu arah pada sumbu axial.
2. Untuk menentukan tipe pecahan contoh batuan hasil uji kuat tekan
uniaksial.
3. Untuk menganalisa hubungan diameter terhadap tinggi

3.2 Teori Dasar


Batuan sendiri memiliki perilaku yang bervariasi pada saat menerima
beban. Perilaku ini dapat ditentukan dengan pengujian di laboratorium yang mana
pada umumnya batuan dianggap mempunyai kekuatan yang lebih tinggi daripada
tanah. Namun, walaupun batuan mempunyai kekuatan yang tinggi, biasanya tidak
dalam keadaan kontinu, sehingga massa batuan tidak bersifat isotrop. Pada
bidang-bidang lemah seperti bidang perlapisan, bidang ketidakselarasan, bidang
sesar, bidang kekar dan rekahan-rekahan lain kekuatan batuan dapat menjadi
sangat rendah (Made Astawa Rai, 1989)
3.2.1 Rekahan Pada Batuan
Massa batuan sendiri memiliki sifat yang relatif menarik hal ini dikarenakan
massa batuan tidak memiliki kesamaan meskipun dalam satu jenis. Sebagai
contoh, dalam hasil suatu pendeskripsian memiliki kesamaan nama yaitu sama-
sama andesit namun pada kenyataannya secara khusus antara andesit yang satu
dengan yang lain dinyatakan hampir pasti tidak akan sama persis. Hal ini dilihat
dari komposisi penyusunnya tersendiri. Pada dasarnya tekanan pada batuan akan
menghasilkan 3 bentuk rekahan diantaranya:
1. Batuan akan mengalami pecah melewati 2 bidang rekahan yang mana
akan saling berpotongan dimana sudut dari hasil perpotongannya yang

III-1
III-2

kecil akan menghadap langsung menuju pusat utama tegasan. Sedangkan


untuk rekahan akan menghadap ke poros tegasan minimal namun untuk
poros lain akan searah dengan perpotongan kedua bidang patahan tadi.
2. Tekanan ini akan menyebabkan gaya tegangan pada yang dialami oleh
bidang secara tegak lurus pada arah tekanan yang mana dalam hal ini
pecahan akan muncul lewat bidang pararel pada sampel. Rekahan yang
seperti ini disebut sebagai extension fracture atau dikenal pula sebagai
cleavage fracture . pada kenyataannya di alam hal ini disamakan dengan
tension gashes namun gejala ini umumnya diisi oleh bahan-bahan dari
material sejenis magma dan membentuk gash fracture.
3. Jika tekanan lateral menjadi berkurang atau bahkan hingga hilang, maka
pecah-pecah pada batuan akan tetap timbul, namun akan melalui bidang
pecah yang tegak lurus secara lateral untuk rekahan yang seperti ini
disebut sebagai release fracture.
Dengan adanya keterdapatan suatu bidang diskontinu akan menyebabkan
terjadinya pendistribusian tegangan yang terjadi pada massa batuan yang mana
tidak disebarkan secara merata kesegala arah. Dari hasil pengujian sampel inilah
digunakan untuk melakukan penilaian atau pembobotan kekuatan massa batuan.
Dikarenakan hal inilah maka sifat dari massa batuan di alam dapat berupa:
1. Heterogen
Yaitu berbeda dengan jenis yang serupa.
2. Anisotrop
Memiliki sifat-sifat yang berlainan pada arah yang berlainan pula
3. Diskontinu
Massa dari suatu batuan selalu mengandung unsur berupa struktur geologi
dimana akan mengakibatkan ketidakkontinuan seperti bila ada kekar,
sesar, retakan, fissure, hingga bidang perlapisan. Dengan adanya struktur
geologi seperti ini akan memiliki kecenderungan untuk memperlemah
kondisi dari massa bantuan.
3.2.2 Gaya yang Mempengaruhi Pengujian
Gaya tarikan merupakan gaya yang disebabkan oleh karena adanya
tekanan hal ini sejalan dengan hukum newton ke III yang menyatakan gaya aksi =
gaya reaksi yang mana melibatkan terjadinya perubahan terhadap panjang,
bentuk benda (distortion), dilatasi (dilation) atau bisa jadi ketiga-tiganya. Bila
III-3

terdapat perubahan tekanan berupa tekanan litostatik sehingga suatu benda yang
homogen akan berubah dari kondisi volumenya atau dilatasi namun bukan
mempengaruhi bentuknya. Sebagai contoh pada batuan basalt, akan mengalami
pengembangan apabila gaya hidrostatiknya diperkecil.
Perubahan bentuk umumnya dapat terjadi apabila gaya terkonsentrasi
pada satu titik. Bilamana suatu benda tersebut dikenakan oleh gaya, maka
umumnya akan melampaui ketiga tahap deformasi, yaitu tahap elastisitas, tahap
plastisitas, dan tahap pecah. Bahan yang cendrung rapuh umumnya akan pecah
sebelum tahap plastisitas terlewati, sedangkan untuk bahan yang bersifat plastis
akan memiliki jarak yang besar antara tahap elastis dan tahap pecah. Hubungan
seperti ini dikenal sebagai akibat dari adanya tekanan dan tarikan.
Kekuatan batuan umumnya selalu mengacu pada gaya yang diperlukan
sehingga batuan mengalami pecah pada suhu dan tekanan tertentu. Setiap massa
batuan memiliki tingkat kekuatan yang berbeda-beda meskipun batuan tersebut
terdiri dari inti yang sama. Perbedaan ini dikarenakan kondisi pembentukan dari
batuan yang berbeda-beda.
Tekanan (stress) dan Tekanan tarik (strain stress) merupakan gaya-gaya
yang selalu bekerja pada seluruh bagian permukaan bumi. Salah satu dari jenis
tekanan yang umum dijumpai adalah tekanan yang bersifat kesegala arah dan
seragam (uniform-stress) dengan sebutan umum sebagai tekanan (pressure).
Tekanan seragam merupakan suatu bentuk gaya yang terjadi secara seimbang
menuju segala arah.

Sumber: Tim, 2011


Gambar 3.1
Regangan pada material
Tekanan yang terjadi dipermukaan bumi akan selalu beriringan dengan
adanya beban yang menutupi batuan disebut juga sebagai tekanan yang bersifat
III-4

sama. Jika terjadi tekanan pada arah maka gaya yang dihasilkan tidaklah sama,
sehingga tekanan yang seperti itu disebut sebagai Tekanan diferensial. Tekanan
diferensial dapat dibedakan menjadi 3 macam diantaranya:
a. Tekanan tensional atau tekanan extensional merupakan suatu tekanan
yang dapat menyebabkan batuan mengalami deformasi berupa
peregangan atau mengencang.
b. Tekanan kompresional adalah gaya yang menyebabkan batuan
mengalami penekanan.
c. Tekanan geser adalah tekanan yang mengakibatkan tergesernya dan
berpindahnya tubuh batuan.
Seperti yang telah disampaikan diatas, kerusakan akibat gaya yang
diterima namun Goodman berdasarkan sudut pandang lain menyatakan variasi
beban yang diberikan pada suatu batuan mengakibatkan kehancuran batuan yang
mana menurutnya terdapat empat jenis kerusakan batuan yang umum, yaitu :
1. Flexure Failure
Flexure failure akan dapat terjadi apabila adanya beban yang timbul pada
bagian potongan batuan yang diakibatkan karena gaya berat yang ditahan
oleh sampel itu dan dapat terjadi karena adanya ruang pori pada bagian
dibawahnya.
2. Shear Failure
Shear failure, nantinya tipe ini akan dibagi menjadi tipe yang lebih
kompleks. Kerusakan yang terjadi dikarenakan adanya pergeseran pada
bagian dari bidang perlapisan diakibatkan karena adanya suatu ruang pori
pada formasi dibawahnya.
3. Crushing dan Tensile Failure
Crushing dan tensile failure adalah tipe kerusakan pada sampel batuan
yang dapat terjadi karena adanya gerusan oleh suatu benda atau akibat
tekanan sehingga akhirnya membentuk suatu bidang retakan.
4. Direct Tension Failure
Direct tension failure, tipe ini merupakan kerusakan akibat adanya gaya
searah dengan bidang geser dari batuan.
III-5

Sumber: Basu, 2013


Gambar 3.2
Macam Kerusakan Pada Sampel Akibat Uji Kuat Tekan Uniaksial

3.3 Alat Dan Bahan


3.3.1 Alat
Alat-alat yang digunakan untuk pengujian kuat tekan unaksial adalah:
1. Mesin kuat tekan
2. Sepasang plat baja berbentuk silinder
3. Dial gague untuk mengukur deformasi axial dan diametral
4. Stopwatch
5. Jangka Sorong
3.3.2 Bahan
Bahan atau sampel yang digunakan dalam pengujian kuat tekan unaxial
adalah contoh batuan yang terlah dipreparasi berbentuk silinder dengan tinggi dua
kali diameter dan kedua permukaan rata. Sampel yang digunakan berupa beton
komposisi campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1:3 dan 1:1.

3.4 Prosedur Pengujian


Pengujian kuat tekan uniaksial dilakukan dengan tahapan:
1. Contoh batuan yang digunakan dalam uji ini disiapkan dengan ukuran
dimensi panjang minimal dua kali diameter perconto dengan permukaan
contoh yang rata.
2. Kemudian contoh batuan diletakkan diantara plat baja dan diatur agar tepat
dengan plat form penekanan alat, kemudian mesin dinyalakan sehingga
contoh batuan berada di tengah-tengah apitan plat baja dan pastikan bahwa
kedua permukaan conto menyentuh plat baja tersebut.
3. Skala pengukuran beban harus ditetapkan pada keadaan netral (nol).
III-6

4. Dial gauge dipasang pada sisi kanan dan kiri bagian tengah contoh batuan,
serta pada bagian atas yang ditekan oleh plat baja. Dial gauge pada sisi
kanan dan kiri contoh batuan untuk mengukur deformasi lateral, sedangkan
dial gauge yang ditekan oleh plat baja baigan atas untuk mengukur
deformasi aksial.
5. Selama pembebanan berlangsung, secara periodik dicatat nilai deformasi
aksial dan deformasi lateral yang ditunjukan oleh dial gauge. Pembacaan
ini dilakukan setiap beban 250 kg.
6. Pemberian pembebanan dilakukan periodik sehingga contoh batuan pecah
7. Pembebanan dihentikan setelah contoh batuan mengalami pacah dan
hasilnya dibuat sketsa bentuk pecah serta catat sudut pecahnya.

3.5 Rumus-rumus yang Digunakan


Dalam pengujian kuat tekan uniaksial digunakan rumus-rumus sebagai
berikut:
1. Kuat Tekan Uniaksial
σc = M ………………………………..…...(3.1)
A

2. Regangan Axial
∆L
εa= ……………….…..……..………...(3.2)
L0

3. Regangan Diameteral
∆D
εl = ……….……………….…..………..(3.3)
D0

Keterangan : σ = Kuat Tekan Uniaksial (kg/cm2)


M = massa (kg)
A = Luas (cm2)
εa = Regangan Aksial
∆L = Perpendekan Aksial (cm)
L0 = Tinggi Awal (cm)
εl = Regangan Diameteral
∆D = Perpanjangan Diameteral (cm)
D0 = Diameter Awal (cm)
DAFTAR PUSTAKA

1. Basu, A. et al. 2013: “Rock failure modes under uniaxial compression,


Brazilian, and point loda tests”, Bull. Eng. Geol. Environ

2. Hardiyatmo, H.C. 2014. “Mekanika Tanah II Edisi Kelima”. Gajah Mada


University Press. Yogyakarta

3. Chen, W. et al. 2016: “Pre-failure damage analysis for brittle rocks under
triaxial compression, Computers and Geotechnics” J. Rock Mech Min

4. Rai, Made Astawa. 2014. “Mekanika Batuan”. ITB. Bandung.