Anda di halaman 1dari 5

REVIEW JURNAL

Judul : Sindrom pernapasan akut parah (severe acute respiratory


syndrome/SARS) : suatu epidemi baru yang sangat virulen

Penulis : Julius E Surjawidjaja

l. Deskripsi Jurnal :
Hasil penelit penyakit SARS

Pada tanggal 12 Maret 2003, Badan Kesehatan Dunia ( World Health Organization
/WHO) mengeluarkan suatu peringatan ke seluruh dunia tentang adanya suatu penyakit yang
disebutnya sebagai sindrom penapasan akut parah (severe acute respiratory syndrome/SARS).
Penyakit ini digambarkan sebagai radang paru (pneumonia) yang berkembang secara sangat cepat,
progresif dan seringkali bersifat fatal, dan diduga berawal dari suatu propinsi di Cina Utara
yaitu propinsi Guangdong. Pada saat pengumuman WHO ini dikeluarkan, kasus-kasus SARS
diketahui telah menyerang beberapa negara seperti Cina, Hongkong, Vietnam, Singapura
dan Kanada. Sampai dengan tanggal 3 Mei 2003 telah ditemukan sebanyak 6.234 kasus (probable
cases) dan 435 (6,97%) kematian di tigapuluh Negara. Sulit sekali untuk menentukan dengan pasti,
berapa jumlah kasus, berapa negara yang terkena wabah SARS dan berapa angka kematian, oleh
karena gambaran penyakit ini setiap saat berubah dengan cepat.

Pada tanggal 1 Oktober 2003, WHO menetapkan definisi kasus untuk tujuan surveilans
yaitu untuk penderita suspect (diduga) dan probable (mungkin). Definisi ini didasarkan pada
data klinis dan epidemiologis serta didukung dengan data hasil pemeriksaan laboratorium.
Definisi ini secara berkala diperbaharui mengikuti kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam
prosedur diagnostik dimana prosedur ini tersedia semakin luas.

Cara penularan SARS

SARS ditularkan melalui kontak dekat, misalnya pada waktu merawat penderita, tinggal
satu rumah dengan penderita atau kontak langsung dengan sekret/cairan tubuh dari penderita
suspect atau probable. Diduga cara penyebaran utamanya adalah melalui percikan (droplets) dan
kemungkinan juga melalui pakaian dan alat-alat yang terkontaminasi.

Dilain kesempatan virus diduga ditularkan melalui media lingkungan yaitu dari saluran
limbah (comberan) yang tercemar bahan infeksius; dengan aerosolisasi mencemari udara atau
secara mekanis dibawa oleh vector. Cara penularan melalui saluran limbah tercemar ini
sedang diteliti secara retrospective.

Masa inkubasi

Masa inkubasi SARS secara tipikal adalah 2-7 hari, meskipun demikian, beberapa laporan
menunjukkan bahwa masa inkubasi ini bisa lebih panjang sampai 10 hari. Setelah periode ini
timbullah gejala-gejala.

Gejala klinis

Tampilan klinis penyakit ini secara relatif konsisten untuk semua penderita di semua
negara yang terkena. Gejala prodromal berupa demam tinggi mendadak, yang pada umumnya
diikuti oleh sakit otot (mialgia), menggigil, tidak ada nafsu makan, diare dan batuk kering (batuk
non- produktif). Gejala lain seperti sakit kepala tidak jarang dijumpai. Pada masa prodromal ini,
beberapa penderita menunjukkan gejala pernapasan yang ringan. Setelah 3-7 hari, suatu fase
gangguan saluran pernapasan bagian bawah mulai tampak dengan adanya batuk kering, non-
produktif, dan sesak napas (dyspnea), yang dapat diikuti dengan keadaan hipoksemia.

Kesimpulan Penulisan

Jumlah kasus dan kematian SARS semakin hari semakin meningkat, walaupun di beberapa
negara seperti Kanada, Vietnam, dan Singapura sudah mencapai puncaknya. Pembuatan vaksin
yang efektif masih memerlukan waktu yang tidak sedikit sekitar 2-3 tahun lagi. Strategi yang
diperlukan saat ini disamping pengobatan adalah upaya pencegahan. Untuk mencegah
penyebaran SARS ke negara-negara maju para pekerja asing di negara- negara yang terkena
SARS dianjurkan untuk tidak kembali ke tanah airnya. Semoga dengan upaya pencegahan yang
semakin baik epidemi SARS tidak akan berkembang menjadi suatu pandemi.

ll. Review
Segita Epidemiologi

1. Host

Tujuh kasus SARS dilaporkan dari Kanada pada tanggal 15 Maret 2003, dua di antara
kasus tersebut meninggal. Kasus-kasus ini dijumpai pada dua kelompok keluarga besar. Pada dua
kelompok ini, sedikitnya satu anggota keluarga tersebut pernah berkunjung ke Hongkong dalam waktu
satu minggu sebelum terjadi gejala-gejala penyakit. Sampai tidak dilakukan pemeriksaan
autopsi dan 10 hari sebelum timbulnya gejala-gejala mengalami satu atau lebih pemajanan
(exposure) berikut yaitu close contact dengan seseorang yang merupakan suspect atau probable
case dari SARS, riwayat pernah berkunjung ke daerah yang terjangkit SARS, tinggal di daerah
yang terjangkit SARS. Seseorang merupakan probable case bila: i) suspect case dengan
gambaran radiologi paru-paru (chest X-ray) menunjukkan infiltrat di kedua paru yang konsisten
dengan pneumonia atau respiratory distress syndrome (RDS), ii) suspect case yang positif
ditemukan coronavirus SARS, dan iii) suspect case dengan hasil pemeriksaan autopsi konsisten
dengan kelainan patologi dari RDS tanpa causa yang jelas. Penderita dikeluarkan dari
survailens SARS bila diagnosis alternatif sudah terbukti.

2. Agent

SARS disebabkan oleh coronavirus yang pada pemeriksaan dengan mikroskop


elektron sama dengan coronavirus pada binatang. Virus ini stabil pada tinja dan urine pada
suhu kamar selama 1 – 2 hari dan dapat bertahan lebih dari 4 hari pada penderita diare. Virus
SARS kehilangan infektivitasnya terhadap berbagai disinfektan dan bahan- bahan fiksasi. Pada
pemanasan dengan suhu 540C (132.80F) akan membunuh coronavirus SARS dengan kecepatan
sekitar 10.000 unit per 15 menit.

Coronavirus adalah anggota dari family Coronaviridae, suatu virus yang besar, dan
mempunyai selubung (envelope). Selubung virus ini dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan yang
panjang berbentuk daun bunga (petal). Genom RNA coronavirus ini mempunyai ukuran 27-32 kb
dan merupakan genom yang terbesar di antara semua virus yang ada. Genom virus ini beruntai
tunggal (single-stranded ) dan membentuk suatu nukleokapsid helikal yang fleksibel dan
panjang. Nukleokapsid ini terletak di dalam suatu selubung lipoprotein yang terbentuk dari
penggembungan membran intraseluler.

Ada 3 kelompok serologis coronavirus yang telah dikenali dan untuk setiap serogrup, virus
diidentifikasi sesuai dengan pejamu alamiahnya, dengan cara urutan (sekuens) nukleotidanya dan
hubungannya masing-masing secara serologis. Secara alamiah, kebanyakan coronavirus
menginfeksi satu jenis spesies saja atau beberapa spesies yang terkait erat. Replikasi virus in vivo
dapat terjadi secara tersebar (disseminated) sehingga menyebabkan infeksi sistemik atau dapat
terbatas pada beberapa tipe sel (seringkali sel epitel saluran pernapasan atau saluran cerna dan
makrofag) dan menyebabkan infeksi lokal. Seperti halnya dengan kebanyakan virus-virus RNA,
coronavirus memiliki frekuensi mutasi yang sangat besar. Dengan melihat panjangnya genom
dan frekuensi kesalahan polymerase RNA dari virus- virus lain, genom RNA coronavirus
agaknya memiliki kumpulan titik mutasi pada setiap replikasi RNA-nya. Analisis urutan
(sekuens) nukleotida dari berbagai isolate coronavirus menunjukkan suatu variabilitas sekuens
yang dapat mempengaruhi replikasi virus dan patogenesisnya. Contoh yang paling mencolok
dalam hal mutasi dan secara biologis mempunyai arti penting adalah munculnya porcine
respiratory coronavirus (PRCV) dari porcine transmissible gastroenteritis virus (TGEV).

3. Environment
Dilain kesempatan virus diduga ditularkan melalui media lingkungan yaitu dari saluran
limbah (comberan) yang tercemar bahan infeksius; dengan aerosolisasi mencemari udara atau
secara mekanis dibawa oleh vector. Cara penularan melalui saluran limbah tercemar ini
sedang diteliti secara retrospective.
Pada tanggal 12 Maret 2003, DepartemenKesehatan Hongkong melaporkan adanya
suatu wabah penyakit pernapasan di satu rumah sakit umum. Duapuluh petugas kesehatan
mengalami gejala penyakit yang sangat menyerupai flu. Hingga awal April 2003, di Hongkong
dijumpai 1.108 kasus dengan 35 kematian. Hongkong merupakan daerah yang paling berat
diserang oleh penyakit SARS. Yang paling membingungkan adalah ditemukannya 268 kasus
SARS yang mengelompok pada suatu gedung apartemen, yaitu Amoy Garden yang semuanya
berasal dari satu blok (blok E). Pola transmisi ini menunjukkan bahwa penyakit SARS telah
merambat keluar dari lingkungan petugas kesehatan ke lingkungan masyarakat. Penyelidikan
untuk menemukan sumber transmisi tidak memberikan hasil, virus SARS tidak ditemukan pada
binatang-binatang seperti kecoa dan tikus.

Review Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan :

Menurut saya jurnal ini sudah cukup baik dan valid untuk di jadika data penelitian
lanjutan untuk menangani tersebar luasnya penyakit SARS yang berbahaya di dunia. Di
jurnal ini di jelaskan munculnya suatu penyakit infeksi baru yang disebabkan oleh virus
dilaporkan menyerang penderita-penderita di Asia dan Amerika Utara. Penyakit ini
dilaporkan sebagai suatu radang paru (pneumonia) yang perkembangannya sangat cepat
dan progresif serta sering bersifat fatal. Mayoritas penderita adalah orang-orang dewasa
berumur antara 25-70 tahun, namun pada beberapa kasus tersangka, juga anak-anak
berumur di bawah 15 tahun.

Jurnal juga menjelaskan awal mengeluarkan suatu pengumuman tentang penyakit


tersebut yang disebutnya sebagai severe acute respiratory syndrome (SARS) yang
beberapa waktu kemudian ditemukan disebabkan oleh coronavirus. Pada saat pengumuman
WHO tersebut, kasus-kasus SARS dilaporkan dijumpai di Cina, Hongkong, Vietnam,
Singapura dan Kanada. Sejak itu SARS telah berkembang menyebar ke seluruh dunia dan
pada awal Mei 2003 didapatkan 6.234 kasus dan 435 kematian di tigapuluh negara.
Jurnal ini juga menjelaskan faktor-faktor penyebab terjadinya SARS seperti : pernah
berkunjung ke daerah yang terjangkit SARS, tinggal di daerah yang terjangkit SARS.
Seseorang merupakan probable case bila: i) suspect case dengan gambaran radiologi paru-paru
(chest X-ray) menunjukkan infiltrat di kedua paru yang konsisten dengan pneumonia atau
respiratory distress syndrome (RDS), ii) suspect case yang positif ditemukan coronavirus
SARS, dan iii) suspect case dengan hasil pemeriksaan autopsi konsisten dengan kelainan
patologi dari RDS tanpa causa yang jelas. Penderita dikeluarkan dari survailens SARS bila
diagnosis alternatif sudah terbukti.

Kekurangan :

Menurut saya jurnal ini tidak ada kekurangan dalam segi penulisan hingga sistematik
dan tata bahasa dalam jurnal ini diperhatikan cukup baik oleh penulis. Hanya saja di jurnal ini
kurang di jelaskan secara mengarah dalam factor resiko terjadinya SARS, namun selebihnya
jurnal ini sungguh hampir tanpa kekurang. Jurnal ini bahkan menjelaskan awal mula terjadinya
SARS di seluruh penjuru dunia yang bisa mengarahkan kita dalam mengetahui perkembangan
penyakit SARS yang beru mucul di dunia. Jurnal ini juga amat menarik dibaca karea isinya
juga menjelaskan secara mendetail tentang virus penyebab SARS, masa inkubasi virus, dan
radiologinya.