Anda di halaman 1dari 16

AKALAH PERPAJAKAN

SISTEM ADMINISTRASI PERPAJAKAN MODERN

Bismillahirrahmanirrahiiim.
Alhamdulillahi Rabbil Alamin, puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT,
karena dengan rahmat, taufik serta hidayah-Nya sehingga tugas kolektif yang
berbentuk makalah dengan judul “SISTEM ADMINISTRASI PERPAJAKAN
MODERN” dapat terselesaikan tepat waktu, meskipun dengan berbagai macam
halangan.
Makalah ini disusun sebagai bahan diskusi yang akan kami
presentasikan dan merupakan implementasi dari program belajar aktif oleh
dosen. Dengan tersusunnya makalah ini, kita mampu menerapkan dan
memahami ilmu dari akuntansi perilaku yang saat ini sedang kita pelajari dan
kita bahas.
Semoga dengan tersusunnya makalah ini akan memberi serta menambah
wawasan kita untuk memahami dan memahami ilmu dari Akuntansi Perilaku,
mampu menjelaskan bagaimana SISTEM ADMINISTRASI itu, apa hubungan
dari PERPAJAKAN . system administrasi modern yang ada pada saat ini
dikembangkan dari penelitian-penelitian empiris atas system yang lama di
organisai dan kelihatannya arah riset bidang akuntansi ke depan akan
didapatkan system yang lebih efisien lagi. Dalam penyusunan makalah ini,
penyusun menyadari masih banyak kesalahannya kekhilafan di dalamnya.Oleh
karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa kami harapkan
demi penyempurnaan makalah berikutnya.

Bengkulu, Januari 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL…………………………………………………………………………i
KATA
PENGANTAR………………………………………………………………………
..ii
DAFTAR
ISI…………………………………………………………………………………ii
i
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang………………………………………………………………………..1
1.2 Rumusan
Masalah…………………………………………………………………….2
1.3 Manfaat dan Tujuan
Penulisan………………………………………………………..3
BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Administrasi
Perpajakan………………………………………………………….4
2.2 Sistem Administrasi Perpajakan
Modern………………………………………...4
2.3 Dimensi reformasi administrasi
perpajakan……………………………………...5
2.4 Konsep modernisasi administrasi
perpajakan……………………………………6
2.5.Karakteristik sistem administrasi perpajakan
modern…………………………...7
2.6.Kepatuhan Pajak (Tax
Compliance)……………………………………………...8
2.7. Pengaruh Struktur Organisasi terhadap Kepatuhan Wajib
Pajak……………….10
2.8. Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kepatuhan Wajib
Pajak…………………10
2.9. Pengaruh Kode Etik Pegawai Terhadap Kepatuhan Wajib
Pajak………………11
BAB III. PENUTUP
3.1
Kesimpulan………………………………………………………………………12
3.2
Saran……………………………………………………………………………..12
DAFTAR
PUSTAKA …………………………………………………………………
…….14

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pajak merupakan sumber penerimaan yang penting dalam menopang
pembiayaan pembangunan yang bersumber dari dalam negeri. Besar kecilnya
pajak akan menentukan kapasitas anggaran negara dalam membiayai
pengeluaran negara, baik untuk pembiayaan pembangunan maupun untuk
pembiayaan rutin.
Latar Belakang dibentuknya Sistem Administrasi Perpajakan Modern
adalah keinginan untuk membentuk paratur ( Pegawai ) yang bersih,
professional dan bertanggung jawab, serta dapat menciptakan birokrasi yang
efektif dan efesien.Reformasi perpajakan melalui Sistem Administrasi
Perpajakan Modern dilakukan secarakonprehensif (menyeluruh) di segala
bidang meliputi :
1. Bidang administrasi berupa modernisasi administrasi perpajakan.
2. Bidang Peraturan perpajakan berupa amandemen UU perpajakan yang mulai
berlaku tahun 2008.
3. Bidang pengawasan melalui pembentukan bank data nasional (data procecing
center ).

Administrasi perpajakan dituntut bersifat dinamis sebagai upaya


peningkatan penerapakebijakan perpajakan yang efektif. Kriteria fisibilitas
administrasi menuntut agar sistem pajak baru meminimalisir biaya administrasi
(administrative cost) dan biaya kepatuhan (compliance cost) serta menjadikan
administrasi pajak sebagai bagian dari kebijakan pajak (Sofyan, 2005). Menurut
Slemrod dan Blumenthal (1996) dalam studi mereka di Amerika Serikat besaran
compliance cost yang harus dikeluarkan oleh wajib pajak relatif besar
dibandingkan dengan penerimaan pajak oleh Internal Revenue Service (IRS).
Mereka juga berpendapat bahwa besaran biaya kepatuhan ini dapat
diminimalisir melalui penyederhanaan proses pajak meskipun masalah tersebut
kadang-kadang tidak menjadi concern dalam penetapan tax policy.
Wijayanti et al., (2004) mememukan bahwa modernisasi yang diharapkan
meningkatkan akuntabilitas aparatur pajak berpengaruh terhadap kepatuhan
wajib pajak. Beberapa karateristik modernisasi administrasi perpajakan adalah
seluruh kegiatan administrasi dilaksanakan melalui sistem administrasi yang
berbasis teknologi terkini, seluruh wajib pajak diwajibkan membayar melalui
kantor penerimaan secara on-line, seluruh wajib pajak diwajibkan melaporkan
kewajiban perpajakannya dengan menggunakan media komputer (e-SPT) dan
monitoring kepatuhan wajib pajak dilaksanakan secara intensif
Berbagai kasus yang menyeret aparatur pajak dalam beberapa tahun
terakhir telah menimbulkan skeptisisme wajib pajak dalam melaksanakan
kewajiban perpajakannya. Sementara di sisi lain,negara masih mengharapkan
pajak sebagai sumber utama pendapatan. Saat ini sekitar 70%APBN Indonesia
dibiayai dari penerimaan pajak Peran serta Wajib Pajak dalam sistem
pemungutan pajak sangat menentukan tercapainya target penerimaan pajak.
Penerimaan pajak yang optimal dapat dilihat dari berimbangnya tingkat
penerimaan pajak aktual dengan penerimaan pajak potensial atau tidak terjadi
tax gap. Oleh karena itu, kepatuhan Wajib Pajak merupakan faktor penting yang
mempengaruhi realisasi penerimaan pajak.
Di sisi lain, Direktorat Jenderal Pajak sebagai lembaga yang berwenang
menangani masalah perpajakan harus berbenah memberi pelayanan yang lebih
baik kepada Wajib Pajak. Perbaikan pelayanan lewat program perubahan
(Change Program), penegakan hukum dan pelaksanaan kode etik yang lebih
baik harus diprioritaskan agar administrasi perpajakan dapat berjalan secara
efektif dan efisien.
Tuntutan akan peningkatan penerimaan, peningkatan kesadaran dan
kepatuhan wajib pajak serta perbaikan-perbaikan dan perubahan mendasar
dalam segala aspek perpajakan menjadi alasan dilakukannya reformasi
perpajakan. Reformasi perpajakan tersebut dapat berupa penyempurnaan
terhadap kebijakan perpajakan dan sistem administrasi perpajakan sehingga
bisa meningkatkan kepatuhan wajib pajak dalam mematuhi kewajiban
perpajakannya, meningkatkan tanggung jawab aparatur pemerintah agar tidak
melakukan kecurangan dan melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya dan
dapat meningkatkan potensi penerimaan pajak yang tersedia dapat dipungut
secara optimal. Kalau ditinjau dari konsep produktivitas penerimaan pajak, jika
organisasi ingin meningkatkan penerimaan pajaknya, maka organisasi harus
respon terhadap perubahan yang terjadi.
1.2 Rumusan masalah
1. Bagaimana sistem administrasi perpajakan modern?
2. Bagaimana Dimensi reformasi administrasi perpajakan?
3. Bagaimana Konsep modernisasi administrasi perpajakan?
4. Bagaimana Karakteristik sistem administrasi perpajakan modern?
5. Bagaimana pengaruh modernisasi sistem administrasi perpajakan terhadap
tingkat kepatuhan Pengusaha Kena Pajak ?
6. Bagaimana Pengaruh Struktur Organisasi terhadap Kepatuhan Wajib Pajak?
7. Bagaimana Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak ?
8. Bagaimana Pengaruh Kode Etik Pegawai Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak?
1.3 Manfaat dan Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui bagaimana sistem administrasi perpajakan modern.
2. Untuk mengetahui bagaimana Dimensi reformasi administrasi perpajakan.
3. Untuk mengetahui bagaimana Konsep modernisasi administrasi perpajakan.
4. Untuk mengetahui bagaimana Karakteristik sistem administrasi perpajakan
modern.
5. Untuk menguji secara empiris pengaruh modernisasi sistem perpajakan
terhadap kepatuhan Pengusaha Kena Pajak.
6. Untuk mengethui bagaimana Pengaruh Struktur Organisasi terhadap
Kepatuhan Wajib Pajak.
7. Untuk mengetahui bagaimana Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kepatuhan
Wajib Pajak.
8. Untuk mengetahui bagaimana Pengaruh Kode Etik Pegawai Terhadap
Kepatuhan Wajib Pajak.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Administrasi perpajakan


Menurut Lumbantoruan (1997) dalam Rapina, dkk. (2011), administrasi
perpajakan ialah cara atau prosedur pengenaan dan pemungutan pajak. Dalam
arti sempit, administrasi perpajakan merupakan penatausahaan dan pelayanan
atas hak-hak dan kewajiban-kewajiban pembayar pajak, baik penatausahaan
dan pelayanan yang dilakukan di kantor pajak maupun di tempat wajib pajak.
Dalam arti luas, administrasi perpajakan dipandang sebagai: (1) fungsi, (2)
sistem, dan (3) lembaga.
Pajak merupakan sumber penerimaan pemerintah yang digunakan untuk
membiayai pengeluaran pemerintah dan pembangunan. Administrasi
perpajakan diperlukanuntukprosespengenaan dan pemungutan pajak. Penilaian
keberhasilan penerimaan pajak menurut Nasucha (2004) dalam Rahayu dan
Lingga (2009) perlu memperhatikan pencapaian sasaranadministrasi
perpajakan, antara lain: peningkatan kepatuhan para pembayar
pajak,pelaksanaan ketentuan perpajakan secara seragam untuk mendapatkan
penerimaan maksimal dengan biaya yang optimal.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktorat Jenderal Pajak sejaktahun 2001
telah menggulirkan Reformasi Administrasi dengan tujuan tercapainya: (1)
tingkat kepatuhan sukarela yang tinggi, (2) tingkat kepercayaan terhadap
administrasiperpajakan yang tinggi, dan (3) produktivitas pegawai perpajakan
yang tinggi.Pemerintah telah menyiapkan sarana untuk meningkatkan
kepatuhan wajib pajak yaitudengan modernisasi sistem administrasi perpajakan.
Namun, terdapat permasalahan apakahmodernisasi ini mempengaruhi
peningkatan kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban.
2.2 Sistem administrasi perpajakan modern
Menurut Lumbantoruan (1997) dalam Rapina, dkk. (2011), administrasi
perpajakan ialah cara atau prosedur pengenaan dan pemungutan pajak. Dalam
arti sempit, administrasi perpajakan merupakan penatausahaan dan pelayanan
atas hak-hak dankewajiban-kewajiban pembayar pajak, baik penatausahaan dan
pelayanan yang dilakukan dikantor pajak maupun di tempat wajib pajak. Dalam
arti luas, administrasi perpajakandipandang sebagai: (1) fungsi, (2) sistem, dan
(3) lembaga.
Modernisasi sistem administrasi perpajakan mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap tingkat kepatuhan pengusaha kena pajak. Hasil Pengujian
dengan menggunakan koefisien determinasi membuktikan bahwa pengaruh
modernisasi sistem administrasi perpajakan terhadap tingkat kepatuhan
pengusaha kena pajak tingkat kepatuhan pengusaha kena pajak dapat dijelaskan
oleh modernisasi sistem administrasi perpajakan.
Beberapa implikasi dari penelitian ini adalah tinggi-rendahnya anggapan
wajib pajak terhadap proses reformasi dan modernisasi di kantor pajak
berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan mereka dan oleh karenanya aparatur
perlu untuk tetap menjaga integritas dan nama baik mereka dan instansi untuk
menciptakan wajib pajak yang patuh. Implikasi lain adalah fiskus harus lebih
kuat dalam pengawasan karena temuan penelitian ini menunjukkan bahwa
patuh dalam mendaftar sebagai wajib pajak/pengusaha kena pajak tidaklah
jaminan bahwa wajib pajak juga akan patuh dalam perhitungan, pembayaran
dan pelaporan pajak.
Sistem ini mempunyai beberapa keterbatasan, diantaranya penelitian ini
terbatas hanya pada pengusaha kena pajak yang ditemui oleh peneliti di KPP
Pratama Padang dan juga pengusaha kena pajak yang berada hanya di Kota
Padang dan Kabupaten Padang Pariaman saja, jumlah sampel dalam penelitian
yang masih relatif sedikit, sulitnya mendapatkan karena faktor keengganan
wajib pajak dan sensitivitas mereka terhadap masalah perpajakan. Kemudian
penelitian ini hanya mengkaji pengaruh modernisasi sistem administrasi
perpajakan terhadap tingkat kepatuhan pengusaha kena pajak tanpa mengukur
tingkat kepatuhan sebelum dan sesudah diterapkannya modernisasi sistem
administrasi perpajakan.
2.3 Dimensi reformasi administrasi perpajakan.
Dukungan teknologi informasi dapat mempercepat proses pelayanan dan
pemeriksaan. Dengan pengembangan basis data dalam jaringan online
memungkinkan kecepatan akses informasi dan pelayanan pelaporan Surat
Pemberitahuan (SPT) dan pembayaran pajak secara online yang menjadikan
proses administrasinya menjadi jauh lebih sederhana.
Menurut Nasucha dalam Rahayu dan Lingga (2009), bahwa ada empat
dimensi reformasi administrasi perpajakan, yaitu:

1. Struktur Organisasi.
Struktur organisasi adalah unsur yang berkaitan dengan pola-pola
peran yang sudah ditentukan dan hubungan antar peran, alokasi kegiatan
kepada sub unit-sub unit terpisah, pendistribusian wewenang di antara posisi
administratif, dan jaringan komunikasi formal.
2. Prosedur Organisasi.
Prosedur organisasi berkaitan dengan proses komunikasi,
pengambilan keputusan, pemilihan prestasi, sosialisasi dan karier. Pembahasan
dan pemahaman prosedur organisasi berpijak pada aktivitas organisasi yang
dilakukan secara teratur.
3. Strategi Organisasi
Strategi organisasi dipandang sebagai siasat, sikap pandangan dan
tindakan yang bertujuan memanfaatkan segala keadaan, faktor, peluang, dan
sumber daya yang ada sedemikian rupa sehingga tujuan organisasi dapat dicapai
dengan berhasil dan selamat. Strategi berkembang dari waktu ke waktu sebagai
pola arus keputusan yang bermakna.
4. Budaya Organisasi
Budaya organisasi didefinisikan sebagai sistem penyebaran
kepercayaan dan nilai-nilai yang berkembang dalam organisasi dan
mengarahkan perilaku anggota-anggotanya. Budaya organisasi mewakili
persepsi umum yang dimiliki oleh anggota organisasi.
2.4 Konsep modernisasi administrasi perpajakan
Konsep modernisasi administrasi perpajakan pada prinsipnya adalah
merupakan perubahan pada sistem administrasi perpajakan yang dapat
mengubah pola pikir dan perilaku aparat serta tata nilai organisasi sehingga
dapat menjadikan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menjadi suatu institusi yang
profesional dengan citra yang baik di masyarakat.
Menurut Rahayu dan Lingga (2009), program reformasi administrasi
perpajakan diwujudkan dalam penerapan sistem administrasi perpajakan
modern yang memiliki ciri khusus antara lain struktur organisasi yang
dirancang berdasarkan fungsi, tidak lagi menurut seksi-seksi berdasarkan jenis
pajak, perbaikan pelayanan bagi setiap wajib pajak melalui pembentukan
account representative dan compliant center untuk menampung keberatan Wajib
Pajak. Sistem administrasi perpajakan modern juga mengikuti kemajuan
teknologi dengan pelayanan yang berbasis e-system seperti e-SPT, e-Filing, e-
Payment, dan e-Registration yang diharapkan meningkatkan mekanisme kontrol
yang lebih efektif yang ditunjang dengan penerapan Kode Etik Pegawai
Direktorat Jenderal Pajak yang mengatur perilaku pegawai dalam
melaksanakan tugas dan pelaksanaan good governance.
2.5 Karakteristik sistem administrasi perpajakan modern
Karakteristik sistem administrasi perpajakan modern adalah:
1. Seluruh kegiatan administrasi dilaksanakan melalui sistem administrasi yang
berbasis teknologi terkini
2. Seluruh Wajib Pajak diwajibkan membayar melalui kantor penerima
pembayaran secara on-line
3. Seluruh Wajib Pajak diwajibkan melaporkan kewajiban perpajakannya dengan
menggunakan media komputer (e-SPT).
4. Monitoring kepatuhan Wajib Pajak dilaksanakan secara intensif dengan
pemanfaatan profit Wajib Pajak
5. Wajib Pajak yang diadministrasikan di KPP Madya hanya wajib pajak tertentu
saja, yaitu sekitar 500 WP.
Sejalan dengan komitmen pemerintah untuk menjalankan pemerintahan
yang bersih dan berwibawa, Direktorat Jenderal Pajak berikut unit-unit
dibawahnya akan menerapkan perangkat dan sistem untuk mendukung
terciptanya Good Corporate Governance. Perangkat yang tersedia yaitu Kode
Etik Pegawai DJP, Komite Kode Etik untuk mengawasi pelaksanaan kode etik,
kerja sama dengan Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan untuk
meningkatkan intensitas dan efektifitas pengawasan, konsolidasi internal secara
berkesinambungan. Pegawai yang ditempatkan di lingkungan KPP Madya telah
memenuhi standar atau kualifikasi tertentu berdasarkan beberapa tahapan
seleksi yang dilakukan secara ketal.
Dengan reformasi administrasi perpajakan, diharapkan Wajib Pajak
dapat memperoleh manfaat antara lain:
1. Wajib Pajak akan memperoleh pelayanan yang lebih baik karena didukung oleh
pegawai yang profesional. Permasalahan perpajakan yang dihadapi Wajib Pajak
dapat diselesaikan secara lebih cepat sehingga kepastian hukum lebih terjamin.
Hak dan Kewajiban perpajakan Wajib Pajak dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
2. Kantor Pelayanan Pajak Madya dilengkapi sarana dan prasarana yang
mendukung pengembangan sistem dan prosedur yang modern. Dengan
dikembangkannya praktek-praktek Good Corporate Governance secara
sungguh-sungguh, diharapkan dapat meningkatkan citra Direktorat Jenderal
Pajak serta menghindarkan terjadinya penyalahgunaan wewenang oleh aparat
perpajakan.
2.6 Kepatuhan Pajak (Tax Compliance)
Menurut Nurmantu dalam Sofyan (2005), kepatuhan perpajakan
didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi semua
kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya. Terdapat dua
macam kepatuhan, yaitu kepatuhan formal dan kepatuhan material (Syofyan,
2005). Kepatuhan formal adalah suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi
kewajiban perpajakan secara formal sesuai dengan ketentuan dalam undang-
undang perpajakan. Misalnya ketentuan batas Surat Pemberitahuan Pajak
Penghasilan (SPT PPh) Tahunan sebelum batas waktu maka dapat dikatakan
bahwa wajib pajak telah memenuhi ketentuan formal, akan tetapi isinya belum
tentu memenuhi ketentuan material.
Kepatuhan material yaitu suatu keadaan dimana wajib pajak secara
substantif memenuhi semua ketentuan material perpajakan, yakni sesuai isi dan
jiwa undang-undang perpajakan. Wajib pajak yang memenuhi kepatuhan
material adalah wajib pajak yang mengisi dengan jujur, lengkap, dan benar
Surat Pemberitahuan (SPT) sesuai ketentuan dan menyampaikannya ke KPP
sebelum batas waktu berakhir.
Menurut Eliyani dalam Jatmiko (2006), kepatuhan Wajib Pajak
didefinisikan sebagai memasukkan dan melaporkan tepat waktu informasi yang
diperlukan, mengisi secara benar jumlah pajak terutang dan membayar pajak
pada waktunya tanpa tindakan pemaksaan. Ketidak patuhan timbul kalau salah
satu syarat defenisi tidak terpenuhi.
Tingkat kepatuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kondisi sistem
administrasi perpajakan suatu negara, pelayanan pada wajib pajak, penegakan
hukum perpajakan, Pemeriksaan pajak dan tarif pajak. Kesadaran dan
kepatuhan memenuhi kewajiban perpajakan juga tergantung pada kemauan
wajib pajak, sampai sejauh mana wajib pajak tersebut akan mematuhi ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Menurut Hanggana (2008), penelitian tentang kepatuhan Wajib Pajak
dalam membayar pajak belum banyak dilakukan, hal ini disebabkan kesulitan
mendapatkan responden. Secara intuitif, dapat diduga tidak seorangpun suka
membayar pajak, ketidaksukaan membayar pajak akan dilakukan dengan tidak
mentaati peraturan perpajakan, khususnya besarnya pajak yang dibayarkan.
Wajib Pajak memiliki naluri alamiah menyembunyikan informasi perilaku
ketidakpatuhan mereka dan berusaha menyembunyikan kejahatan perpajakan
yang dilakukan kepada siapapun juga.
Dari berbagai penjelasan yang telah dikemukakan di atas, dapat
disimpulkanbahwa kepatuhan Pengusaha kena pajak adalah kepatuhan wajib
pajak dalam memenuhi semua peraturan perundang-undangan perpajakan, baik
kepatuhan wajib pajak dalam mendaftarkan diri, kepatuhan untuk melaporkan,
kepatuhan dalam perhitungan dan pembayaran pajak terutang maupun
kepatuhan wajib pajak dalam pembayaran tunggakan pajak terutangnya.
Kriteria pengusaha pajak patuh menurut Keputusan Menteri Keuangan
No.235/KMK.03/2003 adalah:
1. Tepat waktu dalam menyampaikan SPT untuk semua jenis pajak dalam dua
tahun terakhir.
2. Tidak mempunyai tunggakan pajak atau untuk semua jenis pajak, kecuali telah
memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak.
3. Tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindak pidana di bagian
perpajakan dalam jangka waktu 10 tahun terakhir.
4. Dalam 2 tahun terakhir menyelenggarakan pembukuan dan dalam hal terhadap
wajib pajak pernah dilakukan pemeriksaan, koreksi pada pemeriksaan yang
terakhir untuk masing-masing jenis pajak yang terutang paling banyak 5%.
5. Wajib pajak yang laporan keuangan untuk 2 tahun terakhir diaudit oleh
akuntan publik dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, atau pendapat
dengan pengecualian sepanjang tidak memengaruhi laba fiskal.”

LAMPIRAN 1: GAMBAR
GAMBAR 2.6

Grafik Tingkat Kepatuhan berdasarkan Aspek kepatuhan

2.7 Pengaruh Struktur Organisasi terhadap Kepatuhan Wajib Pajak


Struktur organisasi yang telah berubah berdasarkan fungsi merupakan
salah satu cara untuk penerapan sistem administrasi modern. Modernisasi
struktur organisasi menurut Nasucha (2004) dalam Rahayu dan Lingga (2009)
adalah pendekatan modernisasi administrasi yang berusaha untuk mengatasi
masalah-masalah organisasi yang berskala besar, guna mengatasi biropatologi
dan disfungsi organisasi. Hasil penelitian Rahayu dan Lingga (2009) tidak dapat
membuktikan adanya pengaruh yang signifikan variabel perubahan struktur
organisasi terhadap kepatuhan wajib pajak.
Hasil yang berbeda dibuktikan oleh penelitian Sofyan (2005)
menunjukan pengaruh positif signifikan antara modernisasi struktur organisasi
administrasi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak. Hasil yang sama juga
dibuktikan Rapina, dkk (2011) bahwa modernisasi struktur organisasi
berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Dengan adanya modernisasi
struktur organisasi kerja yang lebih baik seperti pembentukan organisasi
berdasarkan fungsi dan bukan lagi pada jenis pajak, spesifikasi tugas dan
tanggung jawab seperti adanya bagian pengawasan, penagihan, pemeriksaan.
Jalur pengawasan tugas pelayanan dan pemeriksaan akan memudahkan wajib
pajak dalam melaporkan pajaknya sehingga kepatuhan wajib pajak akan
meningkat. H1: struktur organisasi berpengaruh positif terhadap kepatuhan
wajib pajak.
2.8 Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Menurut Zeithmal (1990) dalam Prastyo (2006) kualitas layanan
merupakan tingkat keunggulan untuk memenuhi harapan konsumen dan
kualitas layanan dibentuk oleh perbandingan ideal dan persepsi dari kinerja
kualitas. untuk mencapai target penerimaan pajak yang dibebankan kepada
Direktorat Jenderal Pajak, tentu harus didukung oleh Kantor Pelayanan Pajak
(KPP) yang memiliki kualitas baik. Kualitas pelayanan yang baik dapat di dilihat
dari kecepatan dalam melayani wajib pajak dalam hal pembuatan NPWP, SPT,
dan pembayaran pajak. Hasil penelitian Rahayu dan Lingga (2009) tidak dapat
membuktikan adanya pengaruh antara perubahan implementasi pelayanan yang
dilihat dari kualitas layanan terhadap wajib pajak terhadap kepatuhan wajib
pajak. Hasil yang berbeda ditunjukan pada penelitian yang dilakukan oleh
Handarani (2009) membuktikan bahwa kualitas pelayanan
berpengaruhterhadap kepatuhan wajib pajak.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Rajif (2010) juga membuktikan
adanya pengaruh kualitas palayanan terhadap kepatuhan wajib pajak.Perbaikan
kualitas layanan merupakan salah satu bentuk modernisasi sistemadministrasi
paerpajakan. Maka, dengan ditingkatkannya kecepatan dalam pelayanan
pajakdalam mengurus barbagai keperluan parpajakan akan membuat wajib
pajak merasa nyaman dan tidak banyak waktu yang terbuang sia-sia. Oleh sebab
itu kualitas layanan dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak.
2.9 Pengaruh Kode Etik Pegawai Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Kode Etik pegawai adalah aturan atau ketentuan yang mengikat pegawai
sebagai landasan ukuran tingkah laku dalam melaksanakan tugasnya
sebagaimana diatur dalamPeraturan Menteri Keuangan Nomor
32/PMK.03/2007 tentang Kode Etik Pegawai diLingkungan Direktorat Jenderal
Pajak Departemen Keuangan. Kode etik pegawai diharapkan dapat mendukung
penerapan atau praktik yang bersih dan berwibawa.Hasil penelitian yang
dilakukan oleh Rahayu dan Lingga (2009) tidak dapat membuktikan adanya
pengaruh antara kode etik pegawai terhadap kepatuahan wajib pajak.Hasil yang
berbeda dibuktikan oleh penelitian Ximenes (2010) membuktikan bahwa kinerja
Account Representative yang dilihat dari kode etik berpengaruh terhadap
kepatuhan wajibpajak.
Dengan adanya kode etik pegawai yang dijalankan sesuai dengan
ketentuan yang ada yaitu menjalankan kode etik pegawai sesuai tujuan,
melaksanakan kewajiban kode etik pegawai, dan dan tidak melanggar larangan
pada kode etik pegawai maka akan meningkatkan kepatuhan wajib pajak sebab
wajib pajak akan merasa aman untuk melakukan pembayaran pajak tanpa harus
takut pembayaran pajak disalah gunakan untuk kepentingan pribadi. H4: kode
etik berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak.
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Pajak merupakan sumber penerimaan yang penting dalam menopang
pembiayaan pembangunan yang bersumber dari dalam negeri. Besar kecilnya
pajak akan menentukan kapasitas anggaran negara dalam membiayai
pengeluaran negara, baik untuk pembiayaan pembangunan maupun untuk
pembiayaan rutin.
Administrasi perpajakan dituntut bersifat dinamis sebagai upaya
peningkatan penerapakebijakan perpajakan yang efektif. Kriteria fisibilitas
administrasi menuntut agar sistem pajak baru meminimalisir biaya administrasi
(administrative cost) dan biaya kepatuhan (compliance cost) serta menjadikan
administrasi pajak sebagai bagian dari kebijakan pajak.
Program reformasi administrasi perpajakan diwujudkan dalam penerapan
system administrasi perpajakan modern yang memiliki ciri khusus antara lain
struktur organisasi yang dirancang berdasarkan fungsi, tidak lagi menurut seksi-
seksi berdasarkan jenis pajak, perbaikan pelayanan bagi setiap wajib pajak
melalui pembentukan account representative dan compliant center untuk
menampung keberatan Wajib Pajak.
Sistem administrasi perpajakan modern juga mengikuti kemajuan teknologi
dengan pelayanan yang berbasis e-system seperti e-SPT, e-Filing, e-Payment,
dan e-Registration yang diharapkan meningkatkan mekanisme kontrol yang
lebih efektif yang ditunjang dengan penerapan Kode Etik Pegawai Direktorat
Jenderal Pajak yang mengatur perilaku pegawai dalam melaksanakan tugas dan
pelaksanaan good governance.
Modernisasi sistem administrasi perpajakan mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap tingkat kepatuhan pengusaha kena pajak. Hasil Pengujian
membuktikan bahwa pengaruh modernisasi sistem administrasi perpajakan
terhadap tingkat kepatuhan pengusaha kena pajak tingkat kepatuhan pengusaha
kena pajak dapat dijelaskan oleh modernisasi sistem administrasi perpajakan.
Konsep modernisasi administrasi perpajakan pada prinsipnya adalah
merupakan perubahan pada sistem administrasi perpajakan yang dapat
mengubah pola pikir dan perilaku aparat serta tata nilai organisasi sehingga
dapat menjadikan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menjadi suatu institusi yang
profesional dengan citra yang baik di masyarakat.
3.2. SARAN
Mungkin inilah yang diwacanakan pada penulisan kelompok ini
meskipun penulisan ini jauh dari sempurna minimal kita mengimplementasikan
tulisan ini. Masih banyak kesalahan dari penulisan kelompok kami, karna kami
manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa, kami juga butuh saran/
kritikan agar bisa menjadi motivasi untuk masa depan yang lebih baik dari pada
masa sebelumnya. Kami juga mengucapkan terima kasih atas dosen pembimbing
mata kuliah Perpajakan. Yang telah memberi kami tugas kelompok demi
kebaikan diri kita sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Agung, Mulyo. 2009. Perpajakan Indonesia Seri PPN, PPnBM, Dan PPh Badan: Teori
Dan Aplikasi. Jakarta: Mitra Wacana Media
Palupi, Endah. 2010. “Pengaruh Penerapan Sistem Administrasi Perpajakan
Modern
Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dan Penerimaan Pajak Penghasilan Orang
Pribadi
Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Gambir Empat”. Tesis
Universitas
Indonesia, Depok.
Prastyo, Teguh. 2006. “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas
Layanan
Relevansinya Terhadap Kinerja Perusahaan (Studi pada PT. Bank
Negara Indonesia
(Persero),Tbk Kanwil v Jawa Tengah dan DIY)”. Tesis Universitas
Diponegoro,
Semarang.
Sofyan, Taufan Marcus. 2005. Pengaruh Penerapan Sistem Administrasi Perpajakan
Modern terhadap Kepatuhan Wajib Pajak pada Kantor Pelayanan Pajak di
Lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar.
Skripsi Sarjana Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.
Waluyo. 2007. Perpajakan Indonesia Edisi 7. Jakarta: Salemba Empat
Wijayanti, Riska; Hernik Dwi Kurniawati dan Dianty Febri. 2004. Menuju Good
Governance melalui Modernisasi Pajak (e-SPT). STIE-MCE ABIS.