Anda di halaman 1dari 7

A.

The Essential Elements of Interview


Terdapat 5 unsur utama sebuah interview, yaitu:
a) Interaksional
Interview bersifat interaksional sebab di dalam interview sendiri
terdapat pertukaran peran, tanggung jawab, keyakinan, motif, dan informasi.
Karena terdapat pertukaran, maka tentunya interaksi yang terjadi bersifat dua
arah.
Meskipun bersifat dua arah, belum tentu interviewer (orang yang
meng-interview) dan interviewee (orang yang di-interview) mendapat proporsi
yang sama persis dalam menyampaikan/menerima kelima hal tersebut.
Sebagai contoh, dalam mempromosikan suatu barang, justru sang
interviewee lah yang lebih banyak berbicara dan bertanya dibanding sang
interviewer. Hal yang sebaliknya terjadi dalam wawancara kerja.
Interaksi dalam interview juga berarti terdapatnya tanggung jawab
yang sama yang dipikul oleh interviewer dan interviewee. Setiap pihak
bertanggung jawab atas sukses/gagalnya interview. Setiap pihak harus
mengakui dan menghormati peran satu sama lain. Sebagai contoh, dalam
sebuah wawancara penerimaan organisasi, akibat sang interviewee tidak
menjawab pertanyaan dari interviewer dengan serius, sang interviewer
menjadi kesal sehingga wawancara dihentikan di tengah jalan olehnya.
Apabila unsur ini tidak tercipta dengan baik, maka dipastikan sebuah
interview berisiko gagal. Interaksi yang baik menuntut baik interviewer
maupun interviewee terbuka untuk membagikan perasaan, kepercayaan,
motif, dan informasi masing - masing. Untuk memastikan interaksi bisa
berjalan dengan baik, masing - masing pihak harus menyadari keadaan
keempat hal tersebut sebelum memulai interview.

b) Proses
Definisi dari proses adalah sebuah interaksi antar variabel di dalam
sebuah sistem/struktur yang bersifat dinamis, terus-menerus, dan selalu
berubah. Dalam interview, pihak - pihak yang terlibat membentuk energi
dalam setiap interaksi melalui keinginan masing - masing pihak untuk
mencapai tujuannya. Interaksi yang terjadi juga bersifat dinamis. Melalui
pertukaran peran, pertukaran informasi, dan pengungkapan perasaan dan
motif, masing - masing pihak bisa mendapat pemahaman baru dan selangkah
lebih maju dalam memahami lawan bicaranya.
Meskipun setiap interview bersifat unik (sebab dinamis), terdapat
beberapa komponen komunikasi yang menjadi dasar penyusun semua
interaksi yang terjadi. Komponen dasar tersebut adalah persepsi, komunikasi
verbal dan nonverbal, tingkat pengungkapan, umpan balik, mendengarkan,
motivasi, harapan, dan asumsi.
Sebagai sebuah proses, saat sebuah interview dimulai, maka
interview akan terus berjalan sebab masing - masing pihak akan terus saling
berkomunikasi, tidak peduli seberapa baik atau buruk kualitasnya.

c) Pihak yang Terlibat


Meskipun dapat melibatkan lebih dari dua orang, interview tetap
mensyaratkan tidak lebih dari dua pihak yang terlibat. Apabila melibatkan
lebih dari dua pihak, maka kegiatan tersebut adalah sebuah diskusi grup,
bukan sebuah interview. Istilah yang mewakili ini adalah dyadic process.

d) Tujuan
Dalam sebuah interview, setidaknya salah satu pihak harus memiliki
tujuan yang jelas dan intensi untuk fokus dalam sebuah topik. Tujuan yang
bersifat serius dan sudah ditentukan dari awal ini yang membedakan
interview dari interaksi sosial lainnya.

e) Pertanyaan
Setiap interview melibatkan pertanyaan dan jawaban yang
dikemukakan oleh kedua belah pihak. Beberapa interview hanya terdiri atas
kegiatan tanya jawab (contohnya survey), sementara interview lain dapat
terdiri atas tanya jawab dan pertukaran informasi (contohnya konseling)
Pertanyaan menjadi penting dalam sebuah interview sebab
pertanyaan yang diajukan dapat memiliki bermacam - macam peran, seperti
untuk mendapat informasi, untuk memastikan kebenaran suatu informasi,
atau untuk memunculkan suatu pikiran atau perasaan.

Dapat disimpulkan bahwa interview adalah sebuah proses komunikasi


interaksional yang dijalin oleh dua pihak, yang sedikitnya salah satu diantara
mereka mempunyai tujuan yang jelas dan sudah ditentukan, dan melibatkan
kegiatan tanya jawab.
B. A Relational Form of Communication
Interview adalah interaksi timbal balik antara dua pihak dan merupakan suatu
kegiatan yang dilakukan dua pihak secara bersama-sama, bukan sesuatu yang
mereka lakukan untuk satu sama lain. Kedua pihak terhubung secara interpersonal
karena masing masing memiliki kepentingan terhadap wawancara. Suatu hubungan
yang dihasilkan mungkin menjadi bersifat intim (dengan keluarga, kenalan lama,
teman dekat), santai (dengan rekan kerja, tetangga), formal (dengan pihak kampus,
perusahaan), fungsional (dengan dokter). Sifat hubungan ini dapat berubah dari
waktu ke waktu, termasuk selama proses wawancara berlangsung. Suatu situasi
juga dapat mempengaruhi hubungan relasional.

1. Dimensi Relasional
a. Similarity
Berinteraksi akan lebih mudah jika dilakukan dengan orang-orang
yang memilki usia, jenis kelamin, dan ras yang sama. Kesadaran kesamaan
tersebut memungkinkan pihak-pihak dalam wawancara untuk memahami
satu sama lain dan persamaan persepsi juga membantu mengatasi
perbedaan yang dirasakan.
b. Inclusion / Involvement
Hubungan ditingkatkan ketika kedua pihak mau mengambil bagian
dan aktif menjadi pembicara dan pendengar. Semakin anda terlibat, semakin
puas anda dengan hubungan tersebut dan anda juga akan mengharapkan
untuk terus memiliki hubungan kedepannya. Tingkat kepuasan dapat dilihat
jelas melalui kata-kata, gerak tubuh, wajah, mata dan tindakan masing-
masing pihak.
c. Affection
Hubungan wawancara semakin erat saat pihak-pihak saling menyukai
dan menghormati satu sama lain. Menyukai terjadi ketika ada perasaan
“kami” bukan “saya-anda”, ataupun “kita, mereka”, dan juga terjadi ketika
berkomunikasi dilakukan dengan cara yang membuat pihak lain merasa
senang, produktif, dan nyaman. Dengan kata lain, berinteraksi akan terasa
lebih mudah dengan orang-orang yang kita sukai. Namun, terkadang anda
mungkin datang ke sebuah wawancara yang ambivalen dan negative
terhadap pihak lain, mungkin karena sejarah relasional (hubungan masa lalu)
atau yang disebut James Honeycutt sebagai memori relasional.
d. Control
Setiap pihak dalam sebuah wawancara berpartisipasi dalam suatu
proses berkelanjutan, tidak ada yang dapat mengontrol proses secara
keseluruhan. Kedua belah pihak bertanggung jawab atas keberhasilan atau
kegagalan suatu wawancara. Dengan demikian, hubungan semakin erat
ketika kedua belah pihak berbagi kontrol dan tidak ada yang mencari peran
dominan. Kontrol sering menjadi masalah selama wawancara karena
melibatkan hierarki organisasi atau rantai komando; presiden diatas wakil
presiden; dekan diatas wakil dekan; dll.
e. Trust
Kepercayaan sangat penting dalam wawancara karena bagaimana
wawancara dilakukan, dengan siapa, kapan, keadaan pertemuan itu, dan
hasil potensial mereka biasanya mempengaruhi kita secara langsung.
Hubungan semakin erat ketika masing-masing pihak percaya satu sama lain,
tulus, dapat diandalkan, adil, mampu mengontrol emosi, dan memiliki standar
etika yang tinggi. Kepercayaan mempermudah interaksi karena interaksi
menjadi lebih spontan, jujur, langsung, dan terbuka.

2. Hubungan Global
Hubungan dibentuk dan dipupuk di berbagai negara dan budaya. Contohnya
seperti orang Jepang lebih suka tidak berinteraksi dengan orang asing atau
asing, menginginkan informasi latar belakang tentang pesta sebelum menjalin
hubungan, lebih suka berbisnis dengan orang yang telah mereka kenal selama
bertahun-tahun, dan mengambil banyak waktu membangun hubungan.

3. Pria dan Wanita dalam Hubungan

Jenis kelamin peserta sangat penting dalam membangun dan memperbaiki


hubungan karena mereka dipengaruhi oleh apa yang kita katakan dan
bagaimana kita mengatakannya. Wanita menggunakan komunikasi sebagai cara
utama membangun hubungan. sementara pria berkomunikasi "untuk
menetapkan kontrol, menunjukkan independensi, dan meningkatkan status"
Pembicaraan pria cenderung bersifat arahan dan berorientasi pada tujuan,
dengan pernyataan yang "cenderung menekankan kepatuhan, kesepakatan, atau
kepercayaan." Pembicaraan perempuan, sebaliknya cenderung lebih sopan dan
ekspresif, mengandung kata-kata yang kurang intens, kualifikasi (mungkin, kira-
kira), dan penafian ("Mungkin saya salah, tapi ..." Saya mungkin tidak
sepenuhnya memahami situasi, tetapi...").
C. Electronic Interview
1. Telephone
Dengan adanya penemuan telepon, interview tidak lagi harus berhadapan
langsung, mereka dapat saling berhadapan. Organisasi telah berganti
menggunakan telepon untuk melakukan interview penyaringan pekerjaan awal,
kampanye penggalangan dana, dan jajak pendapat untuk menghemat waktu,
mengurangi biaya moneter, dan menghilangkan waktu yang diperlukan untuk
mengirim staf ke berbagai lokasi. Menggunakan panggilan konferensi untuk
memungkinkan beberapa anggota organisasi untuk mengajukan pertanyaan dan
mendengar balasan dari staf dan klien di beberapa lokasi yang tersebar di
wilayah geografis yang luas. interviewer dan orang yang interviewee dapat
berbicara dengan beberapa orang pada satu waktu, menjawab atau
mengklarifikasi pertanyaan secara langsung, didengar saat merespons, dan
menerima umpan balik segera.
Masalah utama dengan interview telepon adalah kurangnya “kehadiran” dari
kedua pihak. Mengobservasi seseorang dengan tatap muka tidak sama dengan
hanya mendengarkan suaranya saja. Beberapa studi membandingkan interview
telepon dan interview tatap muka menunjukkan bahwa kedua metode
menghasilkan hasil komunikatif yang sama, dengan responden memberikan lebih
sedikit jawaban yang dapat diterima secara sosial melalui telepon dan lebih
memilih anonimitas yang diberikannya. menemukan bahwa interviewer tidak
menyukai interview telepon, dan sikap ini dapat mempengaruhi cara orang yang
interviewee menjawab.

2. Telepon Seluler
Penggunaan telepon seluler baru-baru ini, hampir setiap orang memiliki
telepon seluler . karena kegunaanya sangat praktis dan mudah dipelajari.
Telepon seluler sendiri dapat digunakan oleh tiap orang seiring berjalannya
waktu interview pun menggunakan telepon seluler.
Walaupun begitu, penggunaan telepon seluler dalam interview dapat
memunculkan permasalahan privacy. Berbeda dengan interview konvensional
yang dilakukan ditempat tertutup, telepon genggam dapat digunakan di berbagai
tempat umum. Hal ini akan memunculkan permasalahan begitu interview
membahas topik yang sensitif untuk konsumsi publik seperti permasalahan
pribadi, laba perusahaan atau diagnosis penyakit mental.
3. Konferensi Video
Penggunaan konferensi video dalam interview memiliki keterbatasan dalam
menunjukkan isyarat atau bahasa tubuh yang bersifat non-verbal visual,
dikarenakan bentuk video yang hanya menunjukkan tubuh bagian atas
interviewee, atau dalam kasus interview dengan lebih dari dua orang, hanya
menunjukkan video kelompok saja. Hal itu menyebabkan interaksi melalui layar
televisi lebih kaku dan tidak alami.
Orang yang diinterview dalam interview telekonferensi harus mengetahui
panjangnya jawaban mereka untuk meningkatkan pengambilan giliran dan
menghindari kesan mencoba mendominasi interview. Mereka juga dapat
memeriksa daftar pertanyaan, membuat catatan, dan mengetahui waktu mereka
tanpa diketahui. Yang terpenting, orang yang diinterviewi harus sadar akan
pentingnya gerakan tubuh bagian atas, gerakan tubuh, kontak mata, dan
ekspresi wajah yang akan menarik perhatian yang menguntungkan dan tidak
menyenangkan. Berikut saran-saran untuk interview yang lebih efektif dan
menyenangkan: angkat bicara sehingga dapat didengar dengan mudah,
berpakaian konservatif dalam warna solid, melihat kamera dengan wajah penuh,
membatasi gerakan, mencoba melupakan kamera, mengharapkan jeda waktu
antara pertanyaan dan tanggapan.

4. Interview E-Mail
Diperkenalkannya internet memungkinkan sejumlah besar orang untuk membuat
pertanyaan, mengirim dan menerima informasi, dan mendiskusikan masalah,
kapanpun dan dimanapun. Selama dua pihak atau lebih menggunakan internet di
waktu yang sama, hal ini dapat dihitung sebagai interview. Satu kendala yang
harus diingat adalah keengganan pihak untuk mengetik jawaban panjang untuk
jawaban yang dapat mereka berikan dengan mudah melalui tatap muka atau
telepon. Potensi Internet tampaknya tidak terbatas, dan seiring waktu akan
berubah menjadi semakin interaktif secara visual. Hingga akhirnya, ia akan
mendekati interview konvensional dimana kedua belah pihak tidak hanya
bertanya dan menjawab pertanyaan tetapi berkomunikasi secara nonverbal
melalui penampilan, wajah, suara, dan gerakan. Sayangnya, layar komputer
masih akan terus membatasi visibilitas dan efektivitas komunikasi untuk saat ini.

5. Interview Virtual
Interview virtual menggunakan beberapa bentuk sarana elektronik. Beberapa
sumber menggunakan istilah ini untuk mengartikan praktik atau interview yang
disimulasikan. Menekankan bahwa "pelamar" harus menganggap serius
interview tersebut seolah-olah itu adalah hal yang nyata dan memperhatikan
pakaian, bahasa tubuh, postur, perilaku, dan kontak mata, dan menanggapi
pertanyaan dengan benar, lancar, dan benar. dan dengan penuh percaya diri
Pelamar melanjutkan untuk menjawab serangkaian pertanyaan interview kerja
tipikal dengan memilih jawaban yang benar dari serangkaian yang disediakan
untuk masing-masing. Mereka diberitahu jika mereka memilih jawaban yang
salah dan mengapa itu salah.
Beberapa organisasi mengadakan bursa kerja virtual karena lebih murah dan
perekrut tidak perlu menghabiskan waktu bepergian ke lokasi di seluruh negeri.
Interview dilakukan dalam bentuk obrolan pesan. Maka, tidak mengherankan
bahwa beberapa organisasi menggunakan interview kerja virtual sebagai
pengganti interaksi tatap muka, setidaknya dalam proses penyaringan yang
mungkin melibatkan ratusan interview. pendekatan ini untuk pemasaran,
penjualan, layanan pelanggan, dan posisi lain yang membutuhkan keterampilan
komunikasi dan presentasi yang sangat baik. Interview virtual yang paling mirip
dengan permainan sedang dicoba dengan profesi medis di mana interview dapat
dilakukan di ruang operasi yang disimulasikan dan tempat-tempat terpilih lainnya.