Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran,

kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat

kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Hal ini tercantum

dalam undang-undang 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka

Panjang Nasional (RPJP-N) tahun 2005-2025. Salah satu upaya kesehatan yang

berpengaruh terhadap pembangunan kesehatan adalah kesehatan gigi dan mulut.

Masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering terjadi adalah adanya karies

atau kerusakan gigi. Kerusakan gigi seperti karies gigi merupakan penyakit yang

sangat luas penyebarannya, dan paling banyak penderitanya adalah kelompok

umur anak-anak. Terjadinya kerusakan gigi ini karena kebiasaan makan yang

salah, terlalu sering mengkonsumsi makanan yang mengandung sukrosa. Sukrosa

masuk ke dalam golongan karbohidrat sederhana sebagai disakarida karena

terbentuk dari molekul glukosa dan fruktosa bersama-sama. Sukrosa sering

disebut dengan gula meja, berasal dari buah- buahan, tebu dan bit, dalam makanan

olahan sukrosa paling sering digunakan.

Kerusakan gigi pada anak balita secara langsung disebabkan salah satunya

oleh diet, dimana ibu memberikan pola makan yang salah, seperti memberikan

susu botol menjelang tidur dan menambahkan rasa manis pada susu botol, sering

memberikan makanan ringan yang manis dan lengket pada anak diantara dua

waktu makan, kebiasaan mengemut makanan atau membiarkan makanan dalam

1
2

mulut anak pada waktu lama. Kebiasaan mengkonsumsi makanan manis lebih

beresiko untuk terkena karies gigi dibandingkan dengan mengkonsumsi makanan

berserat.

Selain faktor makanan, kebersihan gigi geligi juga merupakan faktor yang

perlu diperhatikan dalam merawat balita. Sehabis anak makan atau menyusu

terutama penggunaan susu formula dalam botol, anak harus diberi air putih dan

gigi harus dibersihkan. Kebiasaan membersihkan gigi atau menggosok gigi malam

hari sebelum tidur akan mengurangi resiko kejadian karies gigi pada anak.

Kebiasaan menyikat gigi mempunyai kecenderungan mempunyai karies gigi yang

lebih ringan dibandingkan yang tidak menyikat gigi.

Adanya Klinik sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama diharapkan

dapat meningkatkan pelayanan kesehatan secara langsung dan terintegrasi

sehingga masyarakat ikut serta berperan dalam upaya meningkatkan derajat

kesehatan seoptimal mungkin, melaksanakan upaya kesehatan yang terus menerus

kepada masyarakat dan terarah, meningkatkan mutu pelayanan yang diharapkan

mempunyai dampak terhadap penurunan angka kematian bayi dan balita,

penurunan penyakit atau angka kesakitan. Semua klinik sebagai ujung tombak

fungsi pemberdayaan dan pembinaan masyarakat, menggerakkan dan

memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, sehingga masyarakat dapat

menolong dirinya sendiri untuk mengatasi dan mencegah masalah kesehatan.

Mengacu pada Global Goals for Oral Health 2020, salah satu program

teknis dari Departemen of Non-communicable Disease Prevention and Health

Promotion yang mewadahi program kesehatan gigi dan mulut secara global
3

adalah WHO Global Oral Health Programme (GOHP). Program ini menyarankan

negara-negara didunia untuk mengembangkan kebijakan pencegahan penyakit

gigi dan mulut. Beberapa indikator Global Goals for Oral Health 2020 adalah

berkurangnya rasa sakit yang dinilai dari berkurangnya hari absen disekolah

karena sakit, peningkatan proporsi bebas karies pada usia 6 tahun, penurunan

komponen gigi berlubang/decay (D) dari indeks DMF-T yang merupakan

penjumlahan indeks D+M+F yang menunjukkan banyaknya kerusakan gigi yang

pernah dialami seseorang karena karies gigi baik berupa D/decay (gigi

berlubang/karies), M/missing (gigi dicabut) serta F/filling (gigi ditumpat) pada

usia 12 tahun, berkurangnya jumlah gigi (T) diekstraksi karena karies pada usia

18 tahun.

Peningkatan kesehatan anak balita, termasuk perhatian akan pemberian

makan dan kebersihan anak terutama perawatan gigi anak, sangat penting dalam

mengurangi angka kerusakan gigi. Kerusakan gigi (karies) merupakan masalah

utama dalam kesehatan gigi dan mulut. Laporan United states surgeon general

bahwa karies lebih tinggi lima kali diderita anak-anak dibandingkan dengan

penyakit asma, dan tujuh kali lebih banyak diderita anak-anak dibanding dengan

penyakit demam.

Kerusakan gigi termasuk yang berlubang (karies) masih sering dianggap

sepele oleh masyarakat. Salah satu penyebab utama karies adalah karena adanya

penumpukan plak di permukaan gigi. Plak merupakan kumpulan dari bakteri,

asam, dan saliva (air liur) yang melekat erat di rongga mulut. Plak makin sering
4

terbentuk bila makanan yang kita konsumsi mengandung karbohidrat atau yang

mengandung gula.

Anak usia 2-5 tahun merupakan kelompok yang rentan terhadap karies gigi

dan memerlukan perhatian khusus karena usia tersebut merupakan periode gigi

bercampur dimana terdapat gigi sulung dan gigi permanen secara bersamaan. Gigi

sulung yang masih tersisa, misalnya molar kedua sulung, umumnya telah

mengalami karies pada tahap yang parah sehingga mempengaruhi awal

perkembangan karies pada gigi permanen muda. Gigi permanen muda yang baru

tumbuh juga mempunyai bentuk anatomi yang memudahkan terjadinya retensi

plak dan berkembangnya karies.

Biasanya makanan yang dikonsumsi anak sering dijadikan faktor

penyebabnya. Akan tetapi ternyata pola asuh orang tua ikut berkontribusi terhadap

rusaknya gigi pada anak-anak. Sebuah penelitian baru menemukan 14% anak-

anak yang berusia 3 tahun memiliki kerusakan gigi. Pakar kesehatan gigi

mengatakan kurangnya kesadaran orang tua untuk membersihkan gigi anaknya

yang baru tumbuh menjadi salah satu pemicunya. Orang tua seringkali tidak

menyadari bahwa membersihkan gigi pada anak-anak harus dimulai sejak awal.

Banyak dari mereka yang tidak menjadikan kebersihan gigi menjadi prioritas,

malah membiarkan gigi anak kotor.

Pola asuh ibu merupakan suatu kecenderungan cara-cara yang dipilih dan

dilakukan dalam mengasuh anak. Pola asuh yang di berikan setiap ibu berbeda-

beda dan dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal misalnya latar belakang

keluarga, usia, jenis kelamin, pendidikan, dan wawasan ibu. Sedangkan faktor
5

eksternal misalnya ekonomi dan semua hal yang berasal dari luar keluarga.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Haumrind pada tahun 1967 dikutip dari

Kathy Stansbury tahun 2012, terdapat tiga jenis pola asuh orang tua, yaitu

authoritarian (otoriter) dicirikan dengan menggunakan pendekatan yang

memaksakan kehendak orang tua kepada anak, permissive (permisif) dicirikan

dengan orang tua yang terlalu membebaskan anak dalam segala hal tanpa adanya

tuntutan ataupun kontrol dan authoritative (demokratif) dicirikan dengan adanya

tuntutan dari orang tua diserta dengan komunikasi terbuka antara orang tua dan

anak.

Riwayat pola asuh terdiri atas kebiasaan minum susu botol pada malam

hari dan perilaku pembersihan gigi oleh ibu atau pengasuh. Secara khusus, pola

makan pada siang hari dan minum susu botol malam hari berpengaruh terhadap

karies gigi. Susu yang sering berkontak lama dengan enamel gigi telah terbukti

menyebabkan kondisi asidiogenik dan pelunakan enamel. Kondisi ini karena

produksi air liur yang kurang pada malam hari dan jumlah laktosa lebih tinggi

dalam air liur dan plak gigi yang lebih lama dibandingkan pada siang hari.

Dengan demikian keseimbangan bergeser ke arah demineralisasi. Anak-anak yang

di berikan makan pada malam hari memiliki 5,1 kali resiko untuk memiliki karies

dibandingkan anak yang tidak makan di malam hari.

World Health Organization (WHO) (2012) menjelaskan bahwa kesehatan

mulut terutama karies diderita 60-90% anak usia sekolah. Bahkan karies berada di

peringkat satu dengan prevalensi tertinggi di banding 291 penyakit mulut lainnya,
6

yakni diderita hampir setengah penduduk dunia (44%). Di Amerika Serikat Tahun

2010 prevalensi Early Childhood Caries pada anak usia 2-5 tahun adalah 27,5%.

Di Indonesia prevalensi karies mencapai 90% dari populasi anak balita.

Menurut laporan penelitian oleh pengendalian dan pencegahan penyakit pada

tahun 2007 menunjukkan bahwa karies gigi telah meningkat khususnya pada anak

usia balita dan anak pra sekolah, yaitu dari 24% menjadi 28% dimana pada anak

usia 2-5 tahun meningkat 70% dari karies yang ditemukan.

Peningkatan prevalensi terjadinya karies gigi pada penduduk Indonesia

tahun 2013 menunjukkan 74,1% dan 68,9% tidak dirawat. Penelitian yang

dilakukan oleh Taverud (2009), menunjukkan bahwa prevalensi karies gigi pada

anak sangat bervariasi jika di dasarkan atas golongan umur dimana anak berusia

1 tahun sebesar 5%, anak usia 2 tahun sebesar 10%, anak usia 3 tahun sebesar

40%, anak usia 4 tahun sebesar 55%, dan anak usia 5 tahun sebesar 75%.

Sehingga golongan umur balita merupakan golongan rawat terjadinya kerusakan

gigi.

American Academy Pediatric Dentistry (AAPD), menjelaskan 70% anak-

anak usia 2-5 tahun ditemukan karies. Selama bertahun-tahun telah diketahui

bahwa setelah gigi sulung mulai erupsi, konsumsi susu dengan botol saat tidur

pada malam maupun siang hari yang terlalu sering dapat menyebabkan karies

pada anak usia dini. Secara klinis, Severe early childhood caries (SECC) muncul

pada anak usia 2,3,4 tahun dengan mengikuti pola dan bentuk tertentu yang khas.

Pengalaman karies ini berhubungan dengan faktor sosial dan perilaku lain yang

ada di dalam keluarga.


7

Para orang tua sering memberikan pola makan yang tidak tepat, yaitu susu

atau minuman yang mengandung gula diberikan saat anak berada di tempat tidur,

sehingga ketika mereka tertidur, maka cairan minuman akan menggenang pada

permukaan gigi rahang atas (gigi anterior rahang bawah biasanya terlindungi oleh

lidah sehingga jarang terkena). Dapat terlihat bahwa mikroorganisme kariogenik

dapat berkembang baik di dalam rongga mulut akibat cairan minuman yang

mengandung karbohidrat tersebut. Aliran saliva menurun selama anak tidur.

Sehingga clearance saliva terhadap cairan minuman pada rongga mulut juga

lambat.

Kerusakan gigi atau karies gigi adalah kondisi gigi berlubang yang

membusuk berwarna hitam di dalam gigi yang terjadinya suatu proses yang secara

bertahap pada jangka waktu yang lama melarutkan email (permukaan gigi sebelah

luar yang keras) dan terus berkembang ke bagian dalam gigi. Masih banyak orang

tua yang berasumsi bahwa gigi susu hanya sementara dan akan digantikan oleh

geligi tetap, sehingga para orang tua sering beranggapan bahwa kerusakan pada

gigi susu yang disebabkan oleh oral higiene yang kurang baik bukan merupakan

suatu masalah.

Empat hal utama yang menyebabkan individu melakukan tindakan dalam

memelihara kesehatan gigi, yaitu mudah percaya terserang penyakit gigi, bahwa

penyakit gigi mudah dicegah, asumsi bahwa penyakit gigi dapat berakibat fatal,

dan mampu menjangkau dan memanfaatkan fasilitas kesehatan. Peran orang tua

khususnya ibu harus mengetahui informasi dari petugas kesehatan terhadap


8

pendidikan kesehatan gigi yang baik dan benar, diutamakan dalam hal

pemeliharaan kesehatan gigi anak.

Data yang di peroleh dari Provinsi Aceh 2013 menyatakan bahwa Aceh

merupakan Provinsi urutan ke-7 dari keseluruhan Provinsi yang ada di Indonesia

dengan penduduk yang bermasalah terhadap gigi dan mulut yaitu 30,5%.

Sedangkan di lihat dari kelompok usia 1-4 tahun mencapai 10.4%.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Langsa pada tahun 2017

angka prevalensi karies gigi pada balita 2-5 tahun adalah sebanyak 306 kasus.

Prevalensi kejadian ini tentunya akan terus meningkat seiring dengan

bertambahnya usia anak apabila petugas kesehatan jarang memberikan

penyuluhan kesehatan gigi khususnya tentang kerusakan gigi.

Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang dilakukan di klinik Ramala

Langsa Aceh didapatkan hasil 133 balita yang mengalami kerusakan gigi sebesar

103 balita, sehingga didapatkan prevalensi angka kejadian kerusakan gigi di

Klinik Ramala Langsa Aceh sebesar 76,69%. Angka kerusakan tersebut dikatakan

cukup tinggi. Selain dari data yang diperoleh, peneliti juga melakukan wawancara

terhadap 2 orang ibu yang mengatakan bahwa anak mereka tidak bisa memakan

makanan yang keras menggunakan gigi yang berlubang sehingga cenderung

menghindari makanan keras karena gigi tidak kuat untuk menggigit. Kejadian

lainnnya juga didapatkan seorang ibu mengatakan bahwa gigi baru sudah tumbuh

tetapi gigi yang berlubang tidak bisa dicabut dikarenakan sudah terlalu keropos.

Hal tersebut terlihat bahwa peran orang tua dalam menjaga kebersihan gigi dan

mulut anak masih kurang karena beberapa orang tua mengatakan mereka tidak
9

membatasi makanan yang dikonsumsi anak kecuali anak sedang sakit. Karena

menurut mereka anak masih kecil dan kebanyakan anak memang menyukai

makanan manis.

Berdasarkan fenomena tersebut, peneliti ingin melakukan penelitian

mengenai “Hubungan Pola Asuh Ibu dengan Kerusakan Gigi Anak Balita Usia

2-5 tahun di Klinik Ramala Langsa Aceh Tahun 2018.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang permasalahan diatas, maka yang

menjadi rumusan masalah dari penelitian ini adalah “Bagaimanakah hubungan

pola asuh ibu dengan kerusakan gigi pada anak balita usia 2-5 tahun di Klinik

Ramala Langsa Aceh?”.

1.3 Tujuan penelitian

1.3.1. Tujuan umum

Untuk mengetahui hubungan pola asuh ibu dengan kerusakan gigi

pada anak balita usia 2-5 tahun di Klinik Ramala Langsa Aceh.

1.3.2. Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui hubungan faktor pengetahuan ibu dengan

kerusakan gigi pada anak balita usia 2-5 tahun.

b. Untuk mengetahui faktor yang paling dominan pengaruhnya

terhadap kerusakan gigi pada anak balita usia 2-5 tahun.


10

1.4 Manfaat penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis dan

praktis

1.4.1 Secara Teoritis

a. Bagi Peneliti

Dari penelitian ini diharapkan peneliti dapat mengetahui hubungan pola

asuh ibu dengan kerusakan gigi pada anak usia 2-5 tahun.

b. Bagi orang tua

Dari penelitian ini diharapkan akan diketahui hubungan peran ibu dalam

kebersihan gigi dan mulut dengan kejadian kerusakan gigi pada anak.

Sehingga orang tua dapat mengetahui cara pencegahan awal erhadapp

kerusakkan gigi pada anaknya.

c. Bagi Instansi Kesehatan

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi petugas

kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai pentingnya

kesehatan gigi dan mulut anak dan melakukan pemeriksaan gigi rutin

pada setiap anak di wilayah masing-masing.

d. Bagi pendidikan

Agar menjadi sumber informasi dan tambahan referensi bagi instansi

pendidikan.

e. Bagi peneliti selanjutnya

Dapat menjadi referensi untuk mengembangkan penelitian lainnya

tentang kejadian kerusakan gigi berdasarkan klasifikasinya.


11

1.4.2 Secara Praktis

Secara praktis, penelitian ini bermanfaat untuk memberikan masukan

kepada pelayan publik terhadap pelayanan selama ini sehingga pelayan

publik dapat memperbaiki atau meningkatkan pelayanan sesuai dengan

harapan masyarakat khususnya ibu yang memiliki balita dengan kasus

kerusakan gigi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

1. Penelitian Morita. S dan Yuyud.Y (2017) yang berjudul Pola Asuh Orang

Tua Terhadap Kejadian ECC (Early Childhood Caries) Pada Anak Usia

3-5 Di Kelurahan Purwosari Kota Surakarta. Didapatkan hasil dari 61 anak

mengalami ECC dan 40 anak tidak mengalami ECC. Uji Chi-Square dan

Multinomial Logistic Regression menunjukkan Subvariabel frekuensi

orang tua memberikan makanan manis, frekuensi orang tua memberikan

susu, dan frekuensi orang tua menuntun untuk berkumur memiliki nila p-

Value < 0,05.

2. Penelitian Ika Prasasti (2016) yang berjudul Hubungan Peran Orang Tua

Dalam Kebersihan Gigi Dan Mulut Dengan Kejadian Karies Gigi Pada

Anak Prasekolah Di Taman Kanak-Kanak (TK) PGRI Kelurahan Ngesrep

Semarang. Jenis penelitian ini kuantitatif dengan desain deskriptif korelatif

dan menggunakan kuesioner sebagai instrumen. Teknik pengambilan

sampel menggunakan Proportionate Stratified Random Sampling dengan

jumlah sampel 125 orang tua dan anak prasekolah. Sebanyak (68,0%)

orang tua memiliki peran cukup dalam kebersihan gigi dan mulut anak dan

(83,2%) anak mengalami karies gigi. Hasil uji korelasi Chi Square

didapatkan p-value 0,001 (p <0,05) sehingga dapat disimpulkan ada

hubungan antara peran orang tua dalam kebersihan gigi dan mulut dengan

kejadian karies gigi pada anak prasekolah.(17)

12
13

3. Penelitian Mustika Dara.M, dkk (2014) yang berjudul Insiden Karies Gigi

Pada Anak Usia Prasekolah Di TK Merah Mandiangin Martapura Periode

2012-2013. Diperoleh hasil penelitian indeks def-t pada anak usia

prasekolah yang berasal dari 8 orang def-t pada anak-anak di tk merah

mandiangin berjumlah 97,86% untuk karies, 1,99% untuk indikasi

pencabutan, dan 0,33% untuk gigi yang ditambal. Rata-rata def-t penelitian

adalah 5,8 dan termasuk kategori tinggi menurut WHO.

4. Penelitian Aida.F dan Nila.K (2012) yang berjudul Gambaran Tingkat

Kesehatan Gigi Anak Usia Dini Berdasarkan Indeks def-t Pada Siswa Paud

Kelurahan Jati Kota Padang. Penelitian ini menggunakan metoda survei

deskriptif dan subyek penelitian diambil secara total sampling sebanyak 33

oran yang terdiri dari 13 orang perempuan dan 20 orang laki- laki.

Kategori ditentukan berdasarkan kategori menurut WHO. Hasil penelitian

menunjukkan indeks def-t siswa PAUD Kelurahan Jati Kota Padang

sebesar 5,18. Kesimpulan dari penelitian ini adalah indeks def-t siswa

PAUD Kelurahan Jati Kota Padang berada pada kategori tinggi.

5. Penelitian Ummu Habibah (2017) yang berjudul Perbedaan Tingkat

Pendidikan, Pola Asuh Ibu dan Status Gizi Pada Anak Karies dan Non

Karies Di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Imam Syuhodo Kabupaten

Sukoharjo. Hasil penelitian pada variabel tingkat pendidikan diperoleh

p= 0,014. Variabel pola asuh ibu diperoleh p= 0,019 dan status gizi dengan

p= 0,351. Ada perbedaan tingkat pendidikan dan pola asuh ibu pada anak

karies dan non karies di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Imam Syuhodo


14

Kabupaten Sukoharjo. Tidak ada perbedaan status gizi pada anak karies

dan non karies di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Imam Syuhodo Kabupaten

Sukoharjo.

6. Penelitian Christian.R, dkk (2016) yang berjudul Hubungan Tingkat

Pengetahuan Ibu Tentang Kesehatan Gigi Anak Dengan Tingkat

Keparahan Karies Anak TK Di Kota Tahuna. Hasil penelitian

menunjukkan pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi anak di Kota Tahuna

kategori baik 93,8% sedangkan kategori buruk 6,1 %. Pemeriksaan tingkat

keparahan karies gigi mendapatkan kategori keparahan rendah 4,61%,

kategori keparahan sedang 26,1%, kategori keparahan tinggi 60%, dan

kategori keparahan sangat tinggi 9,23%. Hasil analisis menggunakan uji

korelasi koefisien kontingensi mendapatkan hasil signifikansi 0,270

(> p = 0,05), yang menunjukkan hubungan yang terjadi lemah.

7. Penelitian Karina Anggi. H, dkk (2012) yang berjudul Hubungan Pola

Asuh Orang Tua Dengan Kebersihan Rongga Mulut Anak Retardasi

Mental Di SLB-C Yayasan Taman Pendidikan Dan Asuhan Jember. Jenis

penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan

pendekatan cross sectional. Subyek penelitian sebanyak 23 siswa. Teknik

pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel jenuh. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa 39,13% orang tua menggunakan pola asuh otoriter

untuk mendidik anaknya. Pola asuh otoriter banyak menghasilkan OHI-S

buruk. Secara deskriptif, OHI-S anak retardasi mental yang diasuh dengan

pola asuh campuran lebih baik dibanding pola asuh yang lain. Dan hasil
15

analisis data menggunakan uji chi-square menunjukkan nilai signifikansi

sebesar 0,459 (p>0,05).

8. Penelitian Asrianti,dkk (2013) yang berjudul Hubungan Early Childhood

Caries (Ecc) Dengan Asupan Makanan Dan Status Gizi Anak Usia 3-5

Tahun. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara

karies dengan asupan energi (p=0,112, p>0,05), ada hubungan signifikan

antara karies dengan asupan protein (p=0,042, p<0,05), ada hubungan

signifikan antara karies dengan status gizi (p=0,000, p<0,05), dan ada

hubungan signifikan antara asupan energi dan protein dengan status gizi

(p=0,000, p=0,000, p<0,05). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan ECC

dengan asupan makanan dan status gizi anak usia 3-5 tahun.

9. Penelitian Firdaus.A dan Retno Setyo.I (2013) yang berjudul Hubungan

Pemberian Asi Eksklusif Dengan Kejadian Karies Gigi Pada Anak Usia

2-4 Tahun Di Kelompok Bermain Desa Gading Watu Gresik. Berdasarkan

hasil penelitian didapatkan dari 30 responden sebagian besar responden

yang diberikan ASI eksklusif sebanyak 83,33% tidak mengalami karies

gigi dan sebagian kecil sejumlah 16,67% mengalami karies gigi,

sedangkan responden yang tidak diberikan ASI eksklusif sebanyak 95,83%

mengalami karies gigi dan sebagian kecil sejumlah 4,17% tidak

mengalami karies gigi . Simpulan dari penelitian ini adalah sebagian besar

anak tidak diberikan ASI eksklusif dan banyak anak yang mengalami

karies gigi, dari hasil uji analisis Chi-Square ada hubungan pemberian ASI

eksklusif dengan kejadian karies gigi pada anak usia 2-4 tahun.
16

10. Penelitian Marlina.L,dkk (2017) yang berjudul The Correlation Mother’s

Knowledge And Parenting Toward Childhood Caries In The Remote

Area. Penelitian dilakukan dengan desain cros sectional study

menggunakan simple random sampling. Sampel berjumlah 40 ibu yang

memiliki anak usia 6-9 tahun di Oelnaineno Village, Kupang. Data di

peroleh dari kuesioner untuk melihat pengetahuan dan pola asuh dan

pencegahan caries di sekolah. Multinominal logistic regresi dengan

tingkat kepercayaan 0,05. Hasil yang didapatkan bahwa ada hubungan

antara pengetahuan ibu dan pola asuh p=0,042. Ibu dapat mempengaruhi

pengetahuan anak-anak. Ibu dengan pola asuh otoritas memiliki

prevalensi terendah karies anak-anak. Ibu yang memiliki pengetahuan

berkorelasi untuk mencegah karies gigi pada anak-anak sekolah dasar.

2.2 Pola Asuh Ibu

2.2.1 Definisi

Pola asuh adalah suatu keseluruhan interaksi orang tua dan anak,

dimana orang tua yang memberikan dorongan bagi anak dan mengubah

tingkah laku, pengetahuan, dan nilai-nilai yang dianggap paling tepat bagi

orang tua agar anak bisa mandiri, tumbuh serta berkembang secara sehat dan

optimal, memiliki rasa percaya diri, memiliki sifat rasa ingin tahu, bersahabat,

dan berorientasi untuk sukses.(26)

Dalam pandangan Baumrind (Marccoby, 1980) bahwa pola asuh

orang tua memiliki dua dimensi, yaitu dimensi kontrol dan dimensi
17

kehangatan dimana: Di dalam dimensi kontrol ini, orang tua mengharapkan

dan menuntut kematangan serta perilaku yang bertanggung jawab dari anak.

Dimensi kontrol memiliki lima aspek berperan yaitu:

a. Pembatasan (Restrictiveness)

b. Tuntutan (Demandingeness)

c. Sikap Ketat (Strictness)

d. Campur Tangan (Intrusiveness)

e. Kekuasaan yang Sewenang-wenang (Arbitrary exercise of Power)

2.2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh

Selain peran kelurga dalam pengasuhan anak, adapun faktor-faktor

yang mempengaruhi pola asuh. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi

pola asuh yaitu:

1. Faktor pendidikan

Pendidikan dan pengalaman dalam merawat anak akan

mempengaruhi kesiapan orang tua dalam mengasuh anak. Orang tua dapat

menerapkan beberapa cara agar siap menjadi mengasuh anak seperti selalu

terlibat pada setiap pendidikan anak, mengamati segala sesuatu dengan

berorientasi pada masalah anak, selalu memiliki waktu luang untuk anak serta

menilai perkembangan fungsi keluarga dan kepercayaan anak.

Riskesdes mengatakan bahwa pendidikan orang tua juga akan

berpengaruh pada status gizi anak. Riset menunjukkan semakin tinggi

pendidikan orang tua maka semakin rendah prevalensi gizi buruk pada balita

(Kemenkes, 2013).
18

2. Faktor pendapatan keluarga

Pendapatan dari keluarga mempengaruhi pola konsumsi makanan

sehat setiap hari. Pendapatan yang terbatas menyebabkan keluarga tidak

mempertimbangkan gizi yang akan dikonsumsi. Pendapatan yang terbatas

juga berpengaruh terhadap ketersediaan bahan pangan keluarga karena

dengan pendapatan yang sedikit keluarga tidak dapat memenuhi

kebutuhan makanan sesuai dengan keanekaragaman makanan yang

dibutuhkan oleh tubuh (Lutviana dan Budiono, 2010 dalam Mau et al,

2013).

3. Faktor perilaku dan jumlah saudara

Keluarga yang memiliki anak lebih dari 2 dengan keadaan

ekonomi cukup menyebabkan perhatian dan kasih sayang pada anak akan

berkurang. Jarak kelahiran anak yang terlalu dekat juga akan

mempengaruhi pemenuhan kebutuhan primer seperti sandang, pangan dan

papan (Adriani dan Wirjatmadi, 2012).

4. Faktor Budaya

Orangtua pada dasarnya akan mengikuti kebiasaan atau cara-cara

yang dilakukan di masyarakat dalam mengasuh anak. Orangtua

beranggapan bahwa pola asuh yang diterapkan di mayarakat berhasil

dalam mendidik anak ke arah kematangan sehingga banyak orang tua

menerapkan kebudayaan atau kebiasaan masyarakat dalam mengasuh anak

dengan harapan anak dapat diterima di masyarakat dengan baik

(Wijanarko dan Setiawati, 2016).


19

2.2.3 Tipe-Tipe Pola Asuh

Adapun beberapa tipe pola asuh menurut Diana Baumrind dikutip oleh

Dariyo, menjelaskan tentang jenis gaya pengasuhan sebagai berikut:

1. Pengasuhan otoriter

Gaya pengasuhan dimana orang tua membatasi anak dan

memberikan hukuman ketika anak melakukan kesalahan yang tidak

sesuai dengan kehendak orang tua. Orang tua yang otoriter biasanya

tidak segan-segan memberikan hukuman yang menyakiti fisik anak,

menunjukkan kemarahan kepada anaknya, memaksakan aturan

secara kaku tanpa menjelaskannya. Anak yang diasuh oleh orang

tua seperti ini sering kali terlihat kurang bahagia, ketakutan dalam

melakukan sesuatu karena takut salah, minder, dan memiliki

kemampuan komunikasi yang lemah.

2. Pengasuhan demokratis

Gaya pengasuhan dimana orang tua mendorong anak untuk mandiri

namun orang tua tetap memberikan batasan dan kendali pada

tindakan anak. Orang tua otoritaf biasanya memberikan anak

kebebasan dalam melakukan apapun tetapi orang tua tetapi

memberikan bimbingan dan arahan. Orang tua yang menerapkan

gaya pengasuhan ini biasanya menunjukkan sifat kehangatan dalam

berinteraksi dengan anak dan memberikan kasih sayang yang

penuh. Anak yang diasuh dengan orang tua seperti ini akan terlihat
20

dewas, mandiri, ceria, bisa mengendalikan dirinya, berorientasi

pada prestasi, dan bisa mengatasi stres dengan baik.

3. Pengasuhan Permisif

Gaya pengasuhan dimana orang tua tidak pernah berperan dalam

kehidupan anak. Anak diberikan kebebasan melakukan apapun

tanpa pengawasan dari orang tua. Orang tua mengabaikan tugas inti

mereka dalam mengurus anak, yang difikirkan hanya kepentingan

saja. Anak yang diasuh oleh orang tua seperti ini senderung

melakukan pelanggaran-pelanggaran yang ada, misalnya melakukan

pelanggaran di sekolah seperti bolos, tidak dewasa, memiliki harga

diri yang rendah dan terasingkan dari keluarga.

4. Pengasuhan situasional

Gaya pengasuhan dimana orang tua sangat terlibat dengan anak,

tidak terlalu menuntut dan mengontrol. Orang tua dengan

pengasuhan ini membiarkan anak melakukan sesuka hati. Anak

yang diasuh oleh orang tua seperti ini akan menjadi pribadi yang

tidak dewasa, manja, melakukan pelanggaran karena mereka kurang

mampu menyadari sebuah peraturan, dan kesulitan dalam hubungan

baik dengan teman sebaya.


21

2.3 Kerusakan Gigi/ Karies

2.3.1 Definisi

Karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi, yaitu email,

dentin, dan sementum, yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasa renik, dalam

suatu karbohidrat yang dapat diragikan. Tandanya adalah adanya

demineralisasi jaringan keras gigi yang kemudian diikuti oleh kerusakan

bahan organiknya. Akibatnya, terjadi invasi bakteri dan kematian pulpa serta

penyebaran infeksinya ke jaringan periapeks yang dapat menyebabkan nyeri.

Walaupun demikian, mengingat mungkinnya remineralisasi terjadi, pada

stadium yang sangat dini penyakit ini dapat dihentikan.

WHO mendefinisikan karies gigi sebagai “localized, post-eruptive,

pathologic process of external origin ilvolving softening of hard tooth tissue

and proceeding to the formation of a caviti”.

Karies gigi disebut sebagai suatu penyakit multifaktor (multi factorial

disease) dimana ada tiga faktor utama yang memegang peranan penting

terhadap terjadinya karies yaitu: host atau tuan rumah (gigi dan saliva), agen

atau mikroorganisme, substrat (diet karbohidrat) dan waktu. Terjadinya

karies, maka kondisi dari setiap faktor tersebut harus saling mendukung yaitu

tuan rumah yang rentan, mikroorganisme yang kariogenik, substrat yang

sesuai dan waktu yang lama.

Beberapa jenis karbohidrat makanan misalnya sukrosa dan glukosa

dapat diragikan oleh bakteri tertentu dan membentuk asam sehingga Ph plak

akan menurun sampai dibawah 5 dalam tempo 1-3 menit. Penurunan Ph yang
22

berulang-ulang dalam waktu tertentu akan mengakibatkan demineralisasi

permukaan gigi yang rentan dan proses keriespun dimulai. Karies baru bisa

terjadi hanya kalau keempat faktor tersebut ada. Interaksi keempat faktor

penyebab tersebut digambarkan sebagai empat lingkaran yang saling tumpang

tindih, seperti terlihat pada gambar 2.1 berikut ini :

Gambar 2.1 Etiologi Karies Gigi


Dikutip dari : Kidd, EAM & Bechal SJ.

1). Host (gigi dan saliva)

Ada beberapa faktor yang dihubungkan dengan gigi sebagai tuan rumah

terhadap karies yaitu faktor morfologi gigi (ukuran dan bentuk gigi), struktur

enamel, faktor kimia dan kristalografis. Pit dan fisur pada gigi posterior

sangat rentan terhadap karies karena sisa- sisa makanan mudah menumpuk di

daerah tersebut. Selain itu, permukaan gigi yang kasar juga dapat

menyebabkan plak mudah melekat dan membantu perkembangan karies gigi.


23

Kawasan gigi yang memudahkan perlekatan plak sangat mungkin

diserang karies. Struktur anatomi gigi terdiri dari lapisan email di bagian

terluar gigi dan lapisan dentin yang terdapat di bawah lapisan email. Struktur

email sangat menentukan dalam proses terjadinya karies, dimana permukaan

email yang terluar lebih rentan terhadap terjadinya karies, terutama bentuk

permukaan gigi yang sukar dibersihkan.

Jika keadaan normal, gigi-geligi selalu dibatasi oleh saliva. Karena

kerentanan gigi terhadap karies banyak dipengaruhi oleh lingkungannya

terutama saliva, maka peran saliva juga sangat menentukan dalam kejadian

karies gigi. Saliva mampu meremineralisasi karies yang masih dini, karena

banyak mengandung ion kalsium dan fosfat. Kemampuan saliva dalam

melakukan remineralisasi akan meningkat jika ion fluor. Selain

mempengaruhi komposisi mikroorganisme di dalam plak, saliva juga

mempengaruhi Ph dalam mulut. Karena itu jika aliran saliva berkurang,

akibatnya karies akan tidak terkendali.

Keberadaan fluor dalam konsentrasi yang optimum pada jaringan gigi

dan lingkungannya merangsang efek anti karies. Kadar fluor yang bergabung

dengan email selama pertumbuhan gigi bergantung kepada ketersediaan fluor

tersebut di dalam air minum atau makanan lain yang mengandung fluor.

Email yang mempunyai kadar fluor lebih tinggi, tidak dengan sendirinya

resisten terhadap serangan asam, akan tetapi tersedianya fluor di sekitar gigi

selama proses pelarutan email akan mempengaruhi proses remineralisasi dan


24

demineralisasi, terutama proses demineralisasi. Disamping itu, fluor dapat

mempengaruhi proses pembentukan asam oleh bakteri.

2) Mikroorganisme

Plak gigi memegang peranan penting dalam menyebabkan karies. Plak

adalah suatu lapisan lunak yang terdiri dari kumpulan mikroorganisme yang

berkembang biak di atas suatu matriks yang terbentuk dan melekat erat pada

gigi yang tidak dibersihkan. Hasil penelitian menunjukkan komposisi

mikroorganisme dalam plak berbeda-beda. Streptokokus diketahui penyebab

utama karies karena mempunyai sifat asidogenik dan asidurik yaitu resisten

terhadap asam.

Plak terbentuk dari campuran antara bahan- bahan air ludah seperti

micin, sisa-sisa sel jaringan mulut, leukosit, limposit dengan sisa-sisa

makanan serta bakteri. Plak merupakan awal terjadinya karies dimana

kolonisasi bakteri pada plak gigi diketahui sebagai faktor etiologi kunci

dalam penyakit mulut, termasuk juga karies. Plak gigi merupakan bahan yang

melekat barisi bakteri beserta produk- produknya, yang terbentuk pada semua

permukaan gigi. Akumulasi bakteri ini tidak terjadi secara kebetulan

melainkan terbentuk melalui serangkaian tahapan. Jika email yang bersih

terpapar rongga mulut maka akan ditutupi oleh lapisan organik yang amorf

yang disebut pelikel. Pelikel ini terutama terdiri atas glikoprotein yang

diendapkan dari saliva dan terbentuk segera setelah penyikatan gigi.

Sifatnya sangat lengket dan dapat membantu melekatkan bakteri-bakteri

tertentu pada permukaan gigi yang paling banyak adalah streptokokus.


25

Organisme tersebut tumbuh, berkembang biak dan mengeluarkan gel

ekstrasel yang lengket dan akan mengikat berbagai bentuk bakteri yang lain.

3) Substrat atau diet.

Substrat atau diet dapat mempengaruhi pembentukan plak karena

membantu perkembangbiakan dan kolonisasi mikroorganisme yang ada pada

permukaan email. Selain itu, dapat mempengaruhi metabolisme bakteri dalam

plak dengan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk memproduksi

asam serta bahan yang aktif yang menyebabkan timbulnya karies. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa orang yang banyak mengkonsumsi

karbohidrat terutama sukrosa cenderung mengalami kerusakan pada gigi,

sebaliknya pada orang dengan diet yang banyak mengandung lemak dan

protein hanya sedikit atau sama sekali tidak mempunyai karies gigi. Hal ini

penting untuk menunjukkan bahwa karbohidrat memegang peranan penting

dalam terjadinya karies.

4) Waktu

Secara umum, karies gigi dianggap suatu penyakit yang kronis pada

manusia yang berkembang dalam beberapa bulan atau tahun. Lamanya waktu

yang dibutuhkan karies untuk menjadi suatu kavitas cukup bervariasi,

diperkirakan 6-48 bulan. Adanya kemampuan saliva untuk mendepositkan

kembali mineral selama berlangsungnya proses karies, menandakan bahwa

proses karies terdiri dari atas periode perusakan dan perbaikan yang silih

berganti. Oleh karena itu, bila saliva ada di dalam lingkungan gigi, maka

karies tidak menghancurkan gigi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan
26

dalam bulan atau tahun. Dengan demikian sebenarnya terdapat kesempatan

yang baik untuk menghentikan penyakit ini.

Karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi, yaitu email,

dentin, dan sementum, yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasa renik, dalam

suatu karbohidrat yang dapat diragikan. Tandanya adalah adanya

demineralisasi jaringan keras gigi yang kemudian diikuti oleh kerusakan

bahan organiknya. Akibatnya, terjadi invasi bakteri dan kematian pulpa serta

penyebaran infeksinya ke jaringan periapeks yang dapat menyebabkan nyeri.

Walaupun demikian, mengingat mungkinnya remineralisasi terjadi, pada

stadium yang sangat dini penyakit ini dapat dihentikan.

Karies gigi disebut sebagai suatu penyakit multifaktor (multi factorial

disease) dimana ada tiga faktor utama yang memegang peranan penting

terhadap terjadinya karies yaitu: host atau tuan rumah (gigi atau saliva), agen

atau mikroorganisme, substrat (diet karbohidrat) dan waktu. Terjadinya

karies, maka kondisi dari setiap faktor tersebut harus saling mendukung yaitu

tuan rumah yang rentan, mikroorganisme yang kariogenik, substrat yang

sesuai dan waktu yang lama.

Karies gigi adalah suatu penyakit jaringan keras gigi, yang terdiri dari

email, dentin dan sementum, yang di sebabkan oleh aktivitas suatu jasad

renik dalam suatu karbohidrat yang dapat diragikan. Karies gigi merupakan

penyakit infeksi dan merupakan suatu proses demineralisasi yang profresif

pada jaringan keras permukaan mahkota dan akar gigi yang dapat dicegah.
27

2.3.2 Indeks Yang Dipergunakan Pada Suevei Kesehatan Gigi

Indeks adalah ukuran yang dinyatakan dengan angka dari keadaan suatu

golongan atau kelompok terhadap suatu penyakit gigi tertentu. Ukuran-

ukuran ini dapat dipergunakan untuk mengukur derajat keparahan dari suatu

penyakit mulai dari yang ringan sampai yag berat. Indeks karies gigi adalah

angka yang menunjukkan klinis penyakit karies gigi. Indeks karies yang biasa

dipakai adalah indeks DMF-T untuk gigi tetap dan indeks def-t untuk gigi

sulung.

Indeks DMF-T merupakan indikator penting yang telah ditentukan oleh

WHO dan digunakan untuk menggambarkan pengalaman karies gigi

seseorang atau kelompok. Semua gigi diperiksa kecuali molar tiga karena

biasanya gigi tersebut sudah dicabut atau kadang-kadang tidak berfungsi.

Indeks DMF-T dijelaskan sebagai berikut :

D = decayed, yaitu jumlah gigi karies yang masih dapat ditambal, karies

sekunder yang terjadi pada gigi dengan tumpatan permanen dan gigi

dengan tumpatan sementara.

M = Missing, yaitu gigi telah hilang karena karies atau sisa akar yang akan

dicabut.

F = Filling, yaitu jumlah gigi yang telah ditambal permanen karena telah

terjadi karies dan juga gigi yang sedang mengalami perawatan saluran

akar.
28

Semakin kecil indeks DMF-T semakin baik, yang artinya keparahan

karies semakin rendah,dihitung dengan rumus :

∑ DMFT − T = D − M − F

DMF-T rata-rata =

Keterangan :

D = decayed (gigi berlubang)

M = Missing (gigi telah dicabut karena karies)

F = Filling (gigi dengan tumpatan baik)

T = Tooth (gigi tetap)

N = Jumlah orang yang diperiksa

Berikut menjelaskan klasifikasi angka keparahan karies gigi menurut

WHO :

Tingkat Keparahan DMF-T


Sangat Rendah 0,8-1,1
Rendah 1,2-2,6
Sedang 2,7-4,4
Tinggi 4,5-6,5
Sangat Tinggi ≥ 6,6

2.3.3 Pencegahan Karies Gigi

Karies merupakan penyakit yang dapat dicegah. Dasar-dasar

pencegahan karies adalah modifikasi satu atau lebih dari tiga faktor utama

penyebab karies. Secara teori ada tiga cara dalam mencegah karies yaitu,

pertama menghilangkan substrat karbohidrat dengan mengurangi frekuensi

konsumsi gula dan membatasinya pada saat makan saja, kedua dengan
29

meningkatkan ketahanan gigi dengan memaparkannya dengan fluor secara

tepat, dan ketiga dengan menghilangkan plak bakteri. Sedangkan faktor

waktu adalah faktor yang dapat dikendalikan oleh induvidu, mengingat

bahwa karies membutuhkan waktu bulanan bahkan tahunan untuk dapat

menghancurkan gigi.

Resiko kerusakan gigi yang berkaitan dengan karbohidrat akan sangat

berkurang, bila permukaan gigi secara teratur dibersihkan dari plak dan

bakteri. Makin sering makan karbohidrat yang mudah

difermentasikan/dipecah makin cepat terjadi proses demineralisasi dari

jaringan keras gigi. Frekuensi komsumsi makanan yang mengandung gula

harus sangat dikurangi dengan menghindari makanan kecil diantara jam

makan. Pencegahan yang paling mudah dan relatif murah adalah dengan

melakukan sikat gigi secara brkesinambungan dan benar, dengan

menggunakan pasta gigi yang mengandung fluor upaya ini dapat memutuskan

tali ikatan perkembangan bakteri penyebab karies.

Hasil uji coba klinik dari pasta gigi yang mengandung fluor

memperlihatkan adanya penurunan insidensi karies yang bervariasi antara

17% pada penduduk yang tinggal di daerah mengandung kadar fluor optimum

sampai 34% pada penduduk di daerah yang kandungan fluornya nol. Oleh

karena itu penggunaan pasta gigi yang mengandung fluor harus dianjurkan

pada semua orang. Fluor diketahui mempunyai kemampuan untuk mengubah

susunan kimiawi gigi sehingga tidak mudah larut oleh pengaruh asam.
30

Pencegahan karies gigi dapat dilakukan dengan memutus rantai tiga

faktor utama penyebab karies yaitu host, agent dan substrat untuk saling

bertemu dan berinteraksi. Pencegahan karies yang dapat dilakukan individu

antara lain: pengaturan diet karbohidrat, melakukan kontrol plak dengan

menyikat gigi dengan cara yang benar atau meliputi seluruh permukaan gigi

dan waktu yang tepat, penggunaan fluor antara lain dengan pemakaian pasta

gigi yang mengandung fluor. Pencegahan karies gigi dapat dilakukan dengan

prosedur menyikat gigi yang benar serta aplikasi fluor baik secara topikal

melalui pemakaian pasta gigi mengandung fluor, kumur-kumur fluor maupun

secara sistemik melalui tablet fluor dan fluoridasi air minum.

Sebagian besar masalah kesehatan gigi dan mulut, termasuk di

dalamnya karies gigi, sebenarnya dapat dicegah. Ada banyak cara untuk

mengurangi dan mencegah penyakit gigi dan mulut dengan berbagai

pendekatan meliputi pencegahan yang dimulai pada masyarakat, perawatan

oleh diri sendiri dan perawatan oleh tenaga kesehatan. Usaha-usaha

pencegahan penyakit gigi dan mulut, terdiri dari pencegahan primer,

pencegahan sekunder dan pencegahan tertier.

Pencegahan primer adalah pencegahan sebelum awalnya gigi rusak atau

berlubang, disini sangat diperlukan kebiasaan berperilaku hidup sehat, seperti

selalu melakukan tindakan perawatan gigi, membersihkan gigi dan mulut

secara teratur setiap hari. Pada anak-anak yang masih dalam pengasuhan ibu

sangat diperlukan perhatian ibu yang serius untuk mengajarkan pada anaknya

cara membersihkan gigi dengan teratur. Selain itu, kebiasaan mengkonsumsi


31

makanan yang tidak terlalu manis dan mengatur jadwal makan juga sebagai

pencegahan primer.

Pencegahan sekunder adalah mencegah gigi yang telah berlubang, rusak

atau dinamakan karies agar tidak parah terlalu jauh. Caranya adalah dengan

melakukan perawatan gigi yang telah mengalami masalah ke dokter gigi atau

unit pelayanan kesehatan bahkan klinik pratama. Sebelumnya memeriksakan

diri secara berkala ke tenaga gigi merupakan pencegahan sekunder agar gigi

tidak rusak terlalu parah. Sedangkan pencegahan tertier adalah melakukan

rehabilitasi pada gigi yng telah rusak bahkan tanggal, agar kondisi gigi sehat

dapat dipertahankan.

2.3.4 Klasifikasi Karies

Kehilangan sebagian struktur gigi dapat diklasifikasikan dalam berbagai

cara. Salah satunya berdasarkan struktur anatomi dari gigi itu sendiri.

1. Kerusakan gigi pada ceruk dan fisura.

Ceruk merupakan substansi organik yang tipis. Bila materi organik

tersebut dihancurkan oleh enzim atau aksi bakteri, akan terbentuk suatu

celah yang menyusup ke bagian dalam dari email, bila kedalaman

penetrasi sangan dekat dengan dentin, fisura dari gigi tersebut akan

menjadi suatu daerah yang berupa alur kecil, tempat perkembangbiakan

bakteri.

2. Kerusakan gigi pada permukaan halus.

Kerusakan gigi pada permukaan halus adalah salah satu bentuk kavitas

yang faktor etiologinya menghancurkan dan menembus seluruh


32

permukaan email. Daerah yang paling sering terserang adalah permukaan

aksila, bukal, labial, dan bagian interproksimal terutama pada daerah di

bawah titik kontak.

3. Lokasi karies pada periode gigi bercampur

Gigi molar dan insisif permanen yang baru erupsi mempunyai daerah

morfologik yang memudahkan retensi plak dan akan berkembang menjadi

karies kelak. Daerah itu adalah permukaan oklusal molar permanen, pit,

dan fissure pada permukaan lingual molar permanent atas, dan permukaan

bukan molar permanen bawah lebih sering terjadi dari pada molar

permanen atas. Kerentanan terhadap karies juga terjadi pada menutupnya

kontak posterior, sehingga berakibat menjadi lesi kelas 2. Pada gigi

campuran, permukaan mesial molar pertama permanen menjadi beresiko

tinggi jika molar kedua sulung terserang karies. Hanya 16% karies pada

anak berumur 5-17 tahun di Amerika Utara terjadi di interpoksimal

sedangkan 84%nya terjadi pada pit dan fissure.

4. Pengukuran keaktifan karies

Ahli epidemiologi akan melihat prevalensi dan insidensinya dalam

mempelajari setiap penyakit. Prevalensi adalah bagian dari suatu

kelompok masyarakat yang terkena suatu penyakit atau suatu keadaan

pada kurun waktu tertentu. Insidensi adalah pengukuran tingkat kemajuan

suatu penyakit. Pengukuran insidensi dan prevalensi diukur setelah

pengukuran kuantitatif yang akan mencerminkan besarnya penyebaran

penyakit pada suatu populasi.


33

2.3.5 Tindakan pencegahan primer

Tindakan pencegahan primer adalah suatu bentuk prosedur pencegahan

yang dilakukan sebelum gejala klinik dari suatu penyakit timbul dengan kata

lain pencegahan sebelum terjadinya penyakit. Tindakan pencegahan primer

ini meliputi :

1. Modifikasi kebiasaan anak

Modifikasi kebiasaan anak bertujuan untuk merubah kebiasaan anak

yang salah mengenai kesehatan gigi dan mulutnya sehingga dapat

mendukung prosedur pemeliharaan dan pencegahan karies.

2. Pendidikan kesehatan gigi

Pendidikan kesehatan gigi mengenai kebersihan mulut, diet dan

konsumsi gula dan kunjungan berkala ke dokter gigi lebih ditekankan pada

anak yang berisiko karies tinggi. Pemberian informasi ini sebaiknya

bersifat individual dan dilakukan secara terus menerus kepada ibu dan

anak. Dalam pemberian informasi, latar belakang ibu baik tingkat

ekonomi, sosial, budaya dan tingkat pendidikannya harus disesuaikan

sedangkan pada anak yang menjadi pertimbangan adalah umur dan daya

intelegensi serta kemampuan fisik anak. Informasi ini harus menimbulkan

motivasi dan tanggung jawab anak untuk memelihara kesehatan mulutnya.

3. Kebersihan mulut

Penyikatan gigi, flossing dan profesional propilaksis disadari sebagai

komponen dasar dalam menjaga kebersihan mulut. Keterampilan

penyikatan gigi harus diajarkan dan ditekankan pada anak di segala umur.
34

Anak di bawah umur 5 tahun tidak dapat menjaga kebersihan mulutnya

secara benar dan efektif maka orang tua harus melakukan penyikatan gigi

anak setidaknya sampai anak berumur 6 tahun kemudian mengawasi

prosedur ini secara terus menerus. Penyikatan gigi anak mulai dilakukan

sejak erupsi gigi pertama anak dan tatacara penyikatan gigi harus

ditetapkan ketika molar susu telah erupsi. Metode penyikatan gigi pada

anak lebih ditekankan agar mampu membersihkan keseluruhan giginya

bagaimanapun caranya namun dengan bertambahnya usia diharapkan

metode bass dapat dilakukan.

Pemakaian sikat gigi elektrik lebih ditekankan pada anak yang

mempunyai masalah khusus. Pasta gigi yang mengandung 1000–2800 ppm

menunjukkan hasil yang baik dalam pencegahan karies tinggi pada anak di

antara umur 6–16 tahun. Anak sebaiknya tiga kali sehari menyikat gigi

segera sesudah makan dan sebelum tidur malam. Telah terbukti bahwa

asam plak gigi akan turun dari pH normal sampai mencapai pH 5 dalam

waktu 3–5 menit sesudah makan makanan yang mengandung karbohidrat

dan Rider cit.

Suwelo.1 mengatakan bahwa pH saliva sudah menjadi normal (6–7) 25

menit setelah makan atau minum. Menyikat gigi dapat mempercepat

proses kenaikan pH 5 menjadi normal (6–7) sehingga dapat mencegah

proses pembentukan karies. Pemakaian benang gigi dianjurkan pada anak

yang berumur 12 tahun ke atas di mana selain penyakit periodontal

meningkat pada umur ini, flossing juga sulit dilakukan dan memerlukan
35

latihan yang lama sebelum benar-benar menguasainya. Profesional

profilaksis (skeling, apklikasi flour) dilakukan oleh dokter gigi atau tenaga

kesehatan anak. Pada anak cacat dan keterbelakangan mental, hal ini harus

lebih ditekankan.

4. Diet dan konsumsi gula

Tindakan pencegahan pada karies tinggi lebih menekankan pada

pengurangan konsumsi dan pengendalian frekuensi asupan gula yang

tinggi. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara nasehat diet dan bahan

pengganti gula. Nasehat diet yang dianjurkan adalah memakan makanan

yang cukup jumlah protein dan fosfat yang dapat menambah sifat basa dari

saliva, memperbanyak makan sayuran dan buah-buahan yang berserat dan

berair yang akan bersifat membersihkan dan merangsang sekresi saliva,

menghindari makanan yang manis dan lengket serta membatasi jumlah

makan menjadi tiga kali sehari serta menekan keinginan untuk makan di

antara jam makan.

Xylitol dan sorbitol merupakan bahan pengganti gula yang sering

digunakan, berasal dari bahan alami serta mempunyai kalori yang sama

dengan glukosa dan sukrosa. Xylitol dan sorbitol dapat dijumpai dalam

bentuk tablet, pastiles, permen karet, minuman ringan, farmasi dan lain-

lain. Xylitol dan sorbitol mempunyai efek menstimulasi daya alir saliva

dan menurunkan kolonisasi dari S. Mutans. Menurut penelitian, xylitol

lebih efektif karena xylitol tidak dapat dimetabolisme oleh bakteri dalam

pembentukan asam dan mempunyai efek anti bakteri.


36

5. Perlindungan terhadap gigi

Perlindungan terhadap gigi dapat dilakukan dengan cara, yaitu silen dan

penggunaan fluor dan khlorheksidin. Silen harus ditempatkan secara

selektif pada pasien yang berisiko karies tinggi. Prioritas tertinggi

diberikan pada molar pertama permanen di antara usia 6–8 tahun, molar

kedua permanen di antara usia 11–12 tahun, prioritas juga dapat diberikan

pada gigi premolar permanen dan molar susu.

Bahan silen yang digunakan dapat berupa resin maupun glass ionomer.

Silen resin digunakan pada gigi yang telah erupsi sempurna sedangkan

silen glass ionomer digunakan pada gigi yang belum erupsi sempurna

sehingga silen ini merupakan pilihan yang tepat sebagai silen sementara

sebelum digunakannya silen resin. Keadaan dan kondisi silen harus terus

menerus diperiksa pada setiap kunjugan berkala. Bila dijumpai keadaan

silen tidak baik lagi silen dapat diaplikasikan kembali.

2.4. Anak usia 2-5 tahun (Balita)

2.4.1 Defenisi

Secara harfiah balita atau anak bawah lima tahun adalah anak yang

mempunyai usia kurang dari lima tahun. Usia balita merupakan usia penting

dalam pertumbuhan dan perkembangan fisik anak. Berdasarkan

karakteristiknya anak usia balita dibedakan menjadi usia batita (> 1 - 3

tahun), dan usia prasekolah (>3 - 5 tahun). Anak usia 1 – 3 tahun merupakan

konsumen pasif dimana anak menerima makanan dari apa yang disediakan

ibunya.
37

Saat itu gigi – geligi anak sudah tumbuh dan gigi susunya akan lengkap

pada usia 2 – 2,5 tahun. Dengan kondisi demikian, sebaiknya anak pada usia

tersebut diperkenalkan dengan berbagai makanan yang teksturnya tidak

terlalu keras karena walaupun giginya sudah tumbuh, kemampuan untuk

mengerat dan mengunyah masih belum terlalu kuat. Disamping itu, enzim

dan cairan pencernaan yang dikeluarkan oleh organ pencernaan juga belum

optimal. Laju pertumbuhan pada masa batita lebih besar dari masa usia

prasekolah sehingga diperlukan jumlah makanan yang relatif lebih besar.

Namun, perut yang masih lebih kecil.

2.5 Hubungan pola Asuh dengan Kerusakan Gigi

Pola pengasuhan yang diberikan pengasuh kepada anak diterima

dengan persepsi yang berbeda-beda tiap anak. Respons yang diterima dan

diwujudkan dalam bentuk tindakan setiap individu berbeda. Hal ini

menyebabkan perilaku tiap individu berbeda. Perbedaan perilaku tiap

individu dapat memengaruhi kesehatan individu itu sendiri.

Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan

keseluruhan. Masalah utama dalam kesehatan gigi dan mulut anak-anak

adalah karies. Karies lebih tinggi 5 kali diderita anak-anak dibandingkan

penyakit asma dan 7 kali lebih banyak di derita anak-anak dibandingkan

dengan penyakit demam. Karies gigi adalah penyakit dengan penyebab

multifaktor. Prevalensi dan insiden karies gigi dalam suatu populasi

dipengaruhi oleh sejumlah faktor resiko seperti jenis kelamin, usia, status

sosial ekonomi, pola diet dan kebiasaan menjaga kebersihan gigi dan mulut.
38

Penelitian Marlina (2017) menyatakan bahwa terdapat hubungan

signifikan antara pengetahuan dan pola asuh ibu dengan signifikansi 0,042,

tetapi tidak ada hubungan signifikan antara pengalaman masa lalu dan pola

asuh ibu dengan signifikansi 0,887. Ada hubungan antara pengetahuan dan

pola asuh ibu dalam upaya pencegahan karies gigi anak sekolah dasar di Desa

Oelnaineno tetapi tidak ada hubungan antara pengalaman masa lalu dan pola

asuh ibu. Ibu dengan pengetahuan yang baik menerapkan pola asuh dengan

tipe authoritative sedangkan ibu yang berpengetahuan buruk menerapkan pola

asuh authoritarian.(31)

2.6 Kerangka Pikir

Faktor Yang
Mempengaruhi
Pola Asuh Ibu Kerusakan Gigi Pada
Pola Asuh Ibu - Pendidikan Anak Usia 2-5 Tahun
- Pendapatan
- Perilaku dan
Jumlah Saudara
- Budaya
Tipe Pola Asuh Pencegahan
- Otoriter - Modifikasi kebiasaan anak
- Demografis - Pendidikan kesehatan gigi
- Permisif - Kebersihan mulut
- Situasional - Diet dan konsumsi gula
- Perlindungan terhadap gigi

Variabel yang di teliti

Gambar 1. Kerangka teoritis


Sumber : Al. Tridonanto (2014), Anggela.A (2005), Lestari (2006)
39

2.7 Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Pola Asuh Ibu Kerusakan Gigi Pada Anak


Usia 2-5 Tahun

Gambar 2. Kerangka Konsep

2.8 Hipotesis

Hipotesis adalah sebuah pernyataan tentang sesuatu yang diduga atau

hubungan yang diharapkan antara dua variabel atau lebih yang dapat diuji secara

empiris, biasanya hipotesis terdiri dari pernyataan terhadap adanya atau tidak

adanya hubungan antara dua variabel yaitu variabel bebas (independen variabel)

dan variabel terikat (dependen variabel). Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

Ha : Ada hubungan pola asuh ibu dengan kerusakan gigi anak balita usia 2-5

tahun di Klinik Ramala Langsa Aceh Tahun 2018.


BAB III

METODELOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

menggunakan penelitian observasional dengan rancangan kasus kontrol (case

control study), yaitu melakukan pengukuran paparan yang dialami subjek pada

waktu lampau (retrospektif). Rancangan penelitian kasus kontrol dapat

digambarkan seperti berikut ini :

Faktor Risiko + Kasus


Anak Balita yang mengalami
Faktor Risiko - kerusakan gigi (karies)

Faktor Risiko + Kontrol


Anak Balita yang tidak
Faktor Risiko - mengalami kerusakan gigi

Gambar 3.1 Diagram Rancangan Penelitian Kasus Kontrol

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Klinik Ramala Langsa Aceh.

3.2.2 WaktuPenelitian

Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Januari-Februari tahun 2019.

40
41

3.3 Populasi Dan Sampel Penelitian

3.3.1. Populasi Penelitian

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai balita usia

2-5 tahun yang terbagi ke dalam kelompok kasus dan kontrol.

1) Populasi kelompok kasus adalah seluruh ibu yang mempunyai balita usia 2-5

tahun yang mengalami kerusakan gigi atau karies yang diperiksa di Klinik

Ramala Langsa Aceh pada tahun 2018 sebanyak 58 orang.

2) Populasi kelompok kontrol adalah seluruh ibu yang mempunyai balita usia

2-5 tahun yang tidak mengalami kerusakan gigi yang diperiksa di Klinik

Ramala Langsa Aceh pada tahun 2018 sebanyak 31 orang.

3.3.2. Sampel Penelitian

Sampel merupakan bagian populasi yang dihitung berdasarkan

perhitungan besar sampel minimal yang terbagi atas kelompok kasus dan kontrol.

Pemilihan sampel dilakukan dengan memakai kriteria inklusi dan eksklusi.

Kriteria inklusi yaitu kriteria dimana subjek penelitian dapat mewakili dalam

sampel penelitian, yang memenuhi syarat sebagai sampel.

Kriteria inklusi untuk sampel kasus dalam penelitian ini adalah :

1) Kelompok kasus adalah seluruh ibu yang mempunyai balita usia 2-5 tahun

yang mengalami kerusakan gigi atau karies yang diperiksa di Klinik Ramala

Langsa Aceh pada tahun 2018.

2) Ibu mempunyai balita usia 2-5 tahun yang menjadi kasus adalah yang tercatat

dalam catatan Klinik Ramala Langsa Aceh pada tahun 2018.


42

Kriteria inklusi untuk sampel kontrol dalam penelitian ini adalah :

1) Kontrol adalah ibu yang mempunyai anak balita usia 2-5 tahun yang tidak

mengalami kerusakan gigi di Klinik Ramala Langsa.

2) Ibu mempunyai anak balita usia 2-5 tahun yang menjadi kontrol adalah ibu

yang mempunyai anak balita usia 2-5 tahun yang terdaftar di Klinik Ramala

Langsa.

Kriteria eksklusi adalah subjek yang tidak memenuhi kriteria inklusi,

seperti umur anak 0-23 bulan, dan yang tidak bersedia ikut dalam penelitian

sebagai sampel.

Desain penelitian kasus kontrol memerlukan besar sampel untuk kasus dan

kontrol dengan perbandingan 1:1. Besar sampel yang digunakan adalah dengan

menggunakan rumus untuk desain kasus kontrol, yaitu dengan memakai nilai OR

dari penelitian terdahulu didalam perhitungan besar sampel. Nilai OR yang

digunakan adalah dari hasil penelitian Jumiati, Abdullah dan Naiem tahun 2013,

seperti dalam Tabel 3.1 berikut ini :

Tabel 3.1 Nilai OR dari Penelitian Terdahulu

Variabel OR CI 95% N
Kebiasaan makan makanan kariogenik 4,954 2,125-11,549 136
Kebersihan mulut 3,341 1,401-7,967 136
43

Besar sampel menggunakan rumus Lameshow, et al, yaitu :



+Zβ √PQ R
2
n= [ ]2 P= dan Q = (1 − P)
P−1/2 (1+R)

Keterangan :

n : besar sampel

R : perkiraan OR = 3,341

Zα : 1,96 pada derajat kepercayaan 95% α = 0,05

Zβ : 1,28 kekuatan uji 90% β = 0,10

Maka :
1,96
+1,28 √ 0,77 x 0,23 0,98+1,28 𝑥 0,42
2
n=| |2 n=
0,77−0,5 0,27

n = 31,64 = 32

Menurut hasil perhitungan besar sampel didapatkan besar sampel minimal

untuk masing-masing kelompok adalah 32 anak untuk kelompok kasus dan 32

anak untuk kelompok kontrol. Namun besar sampel didalam penelitian ini

dilebihkan dan digenapkan menjadi 50 anak untuk masing-masing kelompok

kasus dan kontrol, sehingga jumlah sampel semua andalah 100. Teknik

pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive, yaitu ibu mempunyai

anak memenuhi kriteria sebagai sampel dalam penelitian. Dilakukan matching

terhadap umur anak dan pendidikan ibu antara kelompok kasus dan kontrol.
44

3.4 Metode Pengumpulan Data

3.4.1 Jenis Data

Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer, skunder dan tersier yaitu :

1) Data primer dalam penelitian ini didapat dari jawaban responden berdasarkan

pertanyaan kuesioner.

2) Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari dinas kesehatan,

puskesmas, serta referensi perpustakaannya berhubungan dengan penelitian

serta literatur yang terkait lainnya.

3.4.2 Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data penelitian dilakukan dengan mengisi lembar

kuesioner yang telah disiapkan oleh peneliti.

3.4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas

a. Uji Validitas

Validitas adalah suatu indek yang menunjukkan alat ukur itu benar-

benar mengukur apa yang diukur. Demikian pula kuesioner sebagai alat ukur

harus mengukur apa yang harus diukur, untuk mengetahui apakah kuesioner

yang kita susun tersebut mampu mengukur apa yang hendak kita ukur maka

perlu diuji dengan Uji korelasi antara score (nilai) tiap-tiap item (pertanyaan)

dengan skore total kuesioner tersebut.

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat

pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Menentukan derajat

konsistensi dari instrument penelitian berbentuk kuesioner, tingkat reliabilitas


45

dapat dilakukan dengan menggunakan SPSS melalui uji cronchbachalpa yang

dibandingkan dengan tabel r product moment pada tabel dengan ketentuan

jika r hitung lebih r tabel maka tes tersebut reliabel.

3.5 Variabel dan Definisi Operasional

3.5.1 Variabel Penelitian

Aspek pengukuran pada variabel bebas yaitu pola asuh ibu dalam

pemberian makan dan perawatan gigi anak balita usia 2-5 tahun didasarkan pada

jawaban responden (ibu) terhadap pertanyaan yang ada dalam kuisioner dan

disesuaikan dengan skor. Skor untuk pertanyaan pola asuh adalah dengan

memberi nilai 1 pada jawaban yang tidak beresiko dan nilai 0 pada jawaban yang

beresiko. Skor keseluruhan untuk pola asuh jumlahnya ada 20, sehingga pola asuh

dapat dikategorikan menjadi baik jika jawaban responden mendapatkan skor

12-20 (≥60% jawaban yang tidak beresiko). Sebaliknya pola asuh yang kurang

adalah jika skor jawaban diantara 0-11 (<60% jawaban yang tidak beresiko).

Pertanyaan untuk pola asuh terdiri dari dari pertanyaan tentang kebiasaan

ibu dalam pemberian makan dan perawatan gigi, masing-masing pertanyaannya

ada 10 item. Pemberian skor tertinggi masing-masing 10, dan dapat dibagi dalam

kategori yang sama untuk pola asuh, namun batasan skor untuk yang baik ada

antara 6-10, dan yang kurang 0-5. Aspek pengukuran variabel independen dan

dependen dapat dilihat pada tabel berikut :


46

3.5.2 Definisi Operasional

Definisi operasional tiap-tiap variabel adalah

1) Kerusakan gigi adalah keadaan karies gigi anak balita usia 2-5 tahun yang

ditandai adanya demineralisasi jaringan keras gigi yang kemudian diikuti

oleh kerusakan badan organiknya.

2) Pola asuh ibu adalah kebiasaan ibu dalam pemberian makan dan perawatan

gigi anak balita usia 2-5 tahun.

3) Pemberian makan adalah kebiasaan ibu dalam mengatur makanan untuk

anak balitanya usia 2-5 tahun tentang cara memberi makan waktu dan jenis

makanan manis.

4) Perawatan gigi adalah kebiasaan ibu dalam merawat gigi anak sejak anak

tumbuh gigi yang dilakukan sehari-hari.

3.5.3 Metode Pengukuran

Pada bagian ini penelitian menuliskan metode pengukuran yang digunakan

pada penelitian, meliputi : nama, variabel, jumlah pertanyataan, cara dan alat

ukuran digunakan, hasil pengukuran, kategori dari hasil pengukuran dan skala

ukur. Untuk lebih rincinya dapat dilihat pada tabel berikut :


47

Tabel 3.3. Aspek Pengukuran Variabel Penelitian

Variabel Jumlah Pilihan Hasil ukur Skala


Bebas indikator jawaban ukur

Independen Nilai tertinggi 10 dan Ordinal


Pola Asuh 10 a. Ya terendah 0 maka :
Ibu dalam b. Tidak a. Baik (6-10)
Pemberian b. Kurang (0-5)
Makan

Pola asuh ibu 10 a. Ya Nilai tertinggi 10 dan Ordinal


dalam b. Tidak terendah 0 maka:
perawatan a. Baik (6-10)
gigi b. Kurang (0-5)

Pola asuh ibu 20 a. Ya Nilai tertinggi 20 dan Ordinal


b. Tidak terendah 0 maka:
a. Baik (12-20)
b. Kurang (0-11)

Kerusakan 1 a. Tidak a. Tidak rusak Nominal


gigi b. Karies b. Karies

3.6 Metode Analisis data

Menurut Iman (2017), data yang terkumpul diolah dengan cara

komputerisasi dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Collecting, mengumpulkan data yang berasal dari kuesioner, angket maupun

observasi.

b. Checking, dilakukan dengan memeriksa kelengkapan jawaban kuesioner atau

lembar observasi dengan tujuan agar data diolah secara benar sehingga

pengolahan data memberikan hasil yang valid.

c. Coding, pada langkah ini penulis melakukan pemberian kode pada variable-

variabel yang diteliti.


48

d. Entering, data entry, yakni jawaban-jawaban dari masing-masing responden

yang masih dalam bentuk kode dimasukkan ke dalam aplikasi SPSS.

e. Data Processing, Semua data yang telah di input ke dalam aplikasi komputer

akan diolah sesuai dengan kebutuhan dari penelitian.

Setelah dilakukan pengolahan data seperti yang telah diraikan diatas,

langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data. Adapun jenis-jenis dalam

menganalisa data pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

3.6.1 Analisis Univariat

Analisis ini untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari semua

variabel yang diteliti, baik variabel dependen maupun variabel

independen.Analisis ini dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dari tiap–tiap

variabel dependen (Kerusakan gigi pada anak) dan variabel independen (pola asuh

ibu).

3.6.2 Analisis Bivariat

Analisis ini bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel dependen

dan variabel independen. Uji yang digunakan pada analisis bivariat ini adalah Uji

Chi-square (X2), pada batas kemaknaan perhitungan statistik p value (0,05).

Apabila hasil perhitungan menunjukan nilai p < p value (0,05) maka dikatakan

(Ho) ditolak, artinya kedua variabel secara statistik mempunyai hubungan yang

signifikan. Kemudian untuk menjelaskan adanya asosiasi (hubungan) antara

variabel terikat dengan variabel bebas digunakan analisis tabulasi silang.


DAFTAR PUSTAKA
1. Istanto, Rahayu D. Hubungan Pola Asuh Orangtua Dengan Status Kebersihan
Gigi Dan Mulut Pada Siswa Tunanetra ( Studi pada Siswa Tunanetra kelas V
dan VI SDLB A YPAB Surabaya ). Kesehat Gigi vol 2 No 2. 2014;2(2):214–
21.
2. Putri T. Pola Asuh Orangtua yang Salah Memicu Kerusakan Gigi pada Anak
[Internet]. 2017. Available from:
https://lifestyle.okezone.com/read/2017/08/14/481/1755504/catat-pola-asuh-
orangtua-yang-salah-memicu-kerusakan-gigi-pada-anak.
3. Galib N, Yusuf H. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Tingkat
Kooperatif Anak Usia 3-5 Tahun Dalam Perawatan Gigi Dan Mulut. Medan:
USU Press; 2015.

4. Hooley M, Skouteris H, Boganin C, Satur J, Kilpatrick N. Parental Influence


And The Development Of Dental Caries In Children Aged 0-6 Years: A
Systematic Review Of The Literature. Jurnal Dental [Internet].
2012;40(11):873–85. Available from:
http://dx.doi.org/10.1016/j.jdent.2012.07.013

5. Sowole C., Sote. Original Article Breast Feeding , Bottle Feeding and Caries
Experience in Children Aged 6 Months To 5 Years in Lagos State, Nigeria.
African J Oral Heal. 2006;2:43–56.

6. Çolak H, Dülgergil ÇT, Dalli M. Early Childhood Caries Update: A review of


Causes, Diagnoses, And treatments. Jurnal National Science Biology Medical.
2013;4(1):29–38.

7. Retnakumari N, Cyriac G. Childhood Caries As Influenced By Maternal And


Child Characteristics In Pre-School Children Of Kerala-An Epidemiological
Study. Orig Articel. 2012;3(1):2–8.

8. Purwandono A. Wohd 2017 : Kolaborasi Cerdas Meningkatkan Kesgilut


[Internet]. 2017. Available from:
http://krjogja.com/web/news/read/27053/home3.html

9. Ayu M, Sintawati F, Andayasari L. Pengetahuan , Sikap , dan Perilaku Orang


Tua tentang Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak Usia Taman Kanak-kanak di
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Banten Tahun 2014. Media
Litbangkes. 2016;26(2):119–26.

10. Winda SU, Gunawan P, Wicaksono AD. Gambaran Karies Rampan pada
Siswa Pendidikan Anak Usia Dini Di Desa Pineleng II Indah. Jurnal e-Gigi.
2015;3(1):175–81.

49
50

11. Dewi DP. Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Ibu Dan Pola Asuh Gizi
Dengan Kejadian Karies Gigi Pada Anak Balita Di Desa Mranggen Sukoharjo.
Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2015.

12. Sutjipto RW, Herawati, Kuntari S. Prevalensi Early Childhood Caries Dan
Severe Early Childhood Caries Pada Anak Prasekolah Di Gunung Anyar
Surabaya. Denalt Jurnal. 2014;74(4):186–9.

13. Cahyaningrum AN. Hubungan Perilaku Ibu terhadap Kejadian Karies Gigi
pada Balita di PAUD Putra Sentosa. Jurnal Berkerja Epidemiologi.
2017;5(Agustus 2017):142–51.

14. Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan


Kementerian Kesehatan RI [Internet]. 2013. Available from:
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil Riskesdas 2013

15. Profil Dinas Kesehatan Kota Langsa. Pelayanan Kesehatan Gigi Dan Mulut.
2017.

16. Sari M, Tudhatama Y. Pola Asuh Orang Tua terhadap Kejadian ECC ( Early
Childhood Caries ) pada Anak Usia 3-5 Di Kelurahan Purwosari Kota
Surakarta. Universitas Research Colloqium. 2017;303–10.

17. Prasasti I. Gigi Dan Mulut Dengan Kejadian Karies Gigi Pada Anak Pra
Sekolah Di Taman Kanak-Kanak (TK) PGRI Kelurahan Ngesrep Semarang.
Universitas Di Ponegoro; 2016.

18. Mustika MD, Carabelly AN, Cholil. Insiden Karies Gigi Pada Anak Usia
Prasekolah Di TK Merah Mandiangin Martapura Periode 2012-2013. Dentino
Jurnal Kedokteran gigi. 2014;II(2):197–200.

19. Fitriana A, Kasuma N. Gambaran Tingkat Kesehatan Gigi Anak Usia Dini
Berdasarkan Indeks def-t Pada Siswa Paud Kelurahan Jati Kota Padang.
Andalas Dental Jurnal. 2012;29–38.

20. Habibah U. Perbedaan Tingkat Pendidikan, Pola Asuh Ibu Dan Status Gizi
Pada Anak Karies Dan Non Karies Di Tk Aisyiyah Bustanul Athfal Imam
Syuhodo Kabupaten Sukoharjo. Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2017.

21. C R, D P, P G. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Kesehatan Gigi


Anak dengan Tingkat Keparahan Karies Anak TK di Kota Tahuna. Jurnal e-
GIGI. 2016;vol 4(1).

22. Hardiani KA, Kiswaluyo, Hadnyanawati H. Hubungan Pola Asuh Orang Tua
dengan Kebersihan Rongga Mulut Anak retardasimental di SLB-C Yayasan
Taman Pendidikan dan Asuhan Jember. Universitas Jember; 2012.
51

23. Asrianti, Bahar B, Abdullah AZ. Hubungan Early Childhood Caries ( Ecc )
Dengan Asupan Makanan Dan Status Gizi Anak Usia 3-5 Tahun. 2013;

24. Firdaus A, Iswati RS. Hubungan Pemberian Asi Eksklusif dengan Kejadian
Karies Gigi pada Anak Usia 2-4 Tahun di Kelompok Bermain Desa Gading
Watu Gresik. Embrio Jurnal Kebidanan. 2013;3:19–22.

25. Pinat LMA, Setjanto D, Bramantono T. The Correlation between Mother’s


Knowledge and Parenting Toward Childhood Caries in the Remote Area.
Jurnal International Dental Medisin Ress ISSN. 2017;10(3):905–9.

26. Al.Tridonanto. Mengembangkan Pola Asuh Demokratis. Edisi Pertama.


Jakarta: PT. Alex Media Koputindo; 2014.

27. Angela A. Pencegahan Primer Pada Anak Yang Berisiko Karies Tinggi
(Primary Prevention In Children With High Caries Risk). Dental Jurnal
(Majalah Kedokt Gigi) [Internet]. 2005;38(3):130. Available from: http://e-
journal.unair.ac.id/index.php/MKG/article/view/1131

28. Lestari. Kebutuhan Protein Pada Balita [Internet]. 2006. Available from:
eprints.uny.ac.id/13270/3/Bab II.pdf%0A

29. Rozaaqi RB, Widati S. Gambaran Higiene Perorangan Berdasarkan Persepsi


Pola Asuh Anak Di Uptd Kampung Anak Negeri Kota Surabaya.
2017;(August):224–36.

30. Susi, Bachtiar H, Azmi U. Hubungan Status Sosial Ekonomi Orang Tua
Dengan Karies Pada Gigi Sulung Anak Umur 4 Dan 5 Tahun. Majalah
Kedokteran Andalas [Internet]. 2012;36(1):96. Available from:
http://jurnalmka.fk.unand.ac.id/index.php/art/article/view/116

31. Marlina L. Hubungan Antara Pengetahuan Dan Pengalaman Masa Lalu


Dengan Pola Asuh Ibu Dalam Upaya Pencegahan Karies Gigi Anak Sekolah
Dasar Di Desa Oelnaineno Kabupaten Kupang. Universitas Airlangga; 2017.

32. Nursalam. Metode Penelitian Ilmu Keperawatan : Pendekatan Praktis. Jakarta:


Salemba Medika; 2016.
33. M.Imam. Pemanfaatan SPSS Dalam Penelitian Sosial Dan Kesehatan.
Bandung: Cita Pustaka Media Perintis; 2016.