Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Lahirnya agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw, pada abad ke-7 M, menimbulkan
suatu tenaga penggerak yang luar biasa, yang pernah dialami oleh umat manusia. Islam
merupakan gerakan raksasa yang telah berjalan sepanjang zaman dalam pertumbuhan dan
perkembangannya.
Masuk dan berkembangannya Islam ke Indonesia dipandang dari segi dan sosiologis sangat
kompleks dan terdapat banyak masalah, terutama tentang sejarah perkembangan awal Islam.
Ada perbedaan antara pendapat lama dan pendapat baru. Pendapat lama sepakat bahwa Islam
masuk ke Indonesia abad ke-13 M dan pendapat baru menyatakan bahwa Islam masuk pertama
kali ke Indonesia pada abad ke-7 M (A. Mustofa, Abdullah, 1999: 23). Namun yang pasti,
hamper semua ahli sejarah menyatakan bahwa daerah Indonesia yang mula-mula dimasuki
Islam adalah daerah Aceh (Taufik Abdullah: 1983).
Datangnya Islam ke Indonesia dilakukan secara damai, dapat dilihat melalui jalur
perdagangan, dakwah, perkawinan, ajaran tasawuf, dan tarekat, serta jalur kesenian dan
pendidkan, yang semuanya mendukung proses cepatnya Islam masuk dan berkembang di
Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja kerajaan Islam yang berdiri di Kalimantan, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara,
dan Madura ?
2. Bagaimana pendidikan Islam di Kalimantan, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan
Madura ?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui dan memahami kerajaan Islam yang berdiri di Kalimantan, Maluku,
Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Madura ?
2. Untuk mengetahui dan memahami pendidikan Islam di Kalimantan, Maluku, Sulawesi,
Nusa Tenggara, dan Madura ?

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kerajaan Islam di Kalimantan, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Madura
Indonesia adalah negara kepulauan yang luasnya termasuk urutan ke-4 setelah Cina, India,
dan Amerika. Setelah melewati masa prasejarah, primitive, dan masa kerajaan Hindu dan
Buddha, di Indonesia terdapat sejumlah kerajaan Islam. Kerajaan Islam ini lahir selain sebagai
konsekuensi logis dari tuntutan untuk memberikan kesempatan bagi Islam untuk
merealisasikan cita-cita ajarannya, juga dalam rangka menyebarkan ajaran Islam itu sendiri.
Dilihat dari segi wilayahnya, kerajaan Islam tersebut ada yang berdiri di Sumatera, Jawa,
Kalimantan, Maluku, dan Sulawesi. Kerajaan Islam yang ada di Sumatera, adalah Kerajaan
Samudra Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam. Adapun kerajaan Islam di Jawa adalah
Kerajaan Demak, Pajang, Mataram, Cirebon, dan Banten. Sedangkan kerajaan Islam di
Kalimantan adalah Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan, Kerajaan Kutai di Kalimantan
Timur. Selanjutnya di Maluku terdapat Kerajaan Islam Ternate, dan di Sulawesi Selatan
terdapat Kerajaan Islam Gowa-Talo, Bone, Wajo, Soppeng, dan Luwu. Beberapa kerajaan ini
dapat dikemukakan secara singkat sebagai berikut:
1. Kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan
Mengingat daerah Kalimantan amat luas, maka ia menerima Islam dari berbagai daerah
lain. Daerah barat laut Kalimantan menerima Islam dari Malaya, sedangkan daerah timur
Makassar, dan wilayah selatan dari Jawa. Beberapa kerajaan Islam yang pernah ada di
Kalimantan dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Kerajaan Islam Banjar di Kalimantan Selatan
Berbagai tulisan dan kajian yang membicarakan tentang masuknya Islam di
Kalimantan Selatan selalu mengidentikkan dengan berdirinya Kerajaan
Banjarmasin. Kerajaan Banjar merupakan kelanjutan dari Kerajaan Daha yang
beragama Hindu. Berdirinya Kerajaan Islam Banjar ini ada hubungannya dengan
pertentangan dalam keluarga istana, antara Pangeran Samudera sebagai pewaris sah
Kerajaan Daha dan pamannya Pangeran Tumenggung. Dalam Hikayat Banjar
diceritakan, bahwa ketika Raja Sukarama merasa sudah hampir tiba ajalnya, ia
berwasiat agar yang menggantikannya nanti adalah cucunya Pangeran Samudera.
Wasiat ini tentu saja tidak diterima oleh keempat orang putranya, lebih-lebih
Pangeran Tumenggung yang sangat ambisi. Setelah Sukarama wafat, jabatan raja
dipegang oleh anak tertua, Pangeran Mangkubumi. Pada waktu itu, Pangeran
Samudera baru berumur 7 tahun. Pangeran Mangkubumi tidak terlalu lama
berkuasa. Ia terbunuh oleh seorang pegawai istana yang berhasil dihasut Pangeran
Tumanggung. Dengan meninggalnya Pangeran Mangkubumi, maka Pangeran
Tumanggung lah yang tampil menjadi Raja Daha.
Dalam keadaan istana yang demikian itu, Pangeran Samudera berkelana ke
wilayah muara. Ia kemudian diasuh oleh Patih Masih. Atas bantuannya, Pangeran
Samudera dapat menghimpun kekuatan perlawanan. Dalam serangan pertamanya
Pangeran Samudera berhasil menguasai Muara Bahan, sebuah pelabuhan strategis

2
yang sering dikunjungi para pedagang luar, seperti dari pesisir utara Jawa, Gujarat,
dan Malaka.
Peperangan terus berlangsung dengan sengit. Dalam keadaan demikian, Patih
Masih mengusulkan kepada Pangeran Samudera untuk meminta bantuan kepada
Kerajaan Demak. Sultan Demak bersedia memberi bantuan dengan syarat,
Pangeran Samudera mau masuk Islam. Setelah Pangeran Samudera menyetujui
persyaratan tersebut, maka Sultan Demak kemudian mengirim bantuan seribu
orang tentara beserta seorang penghulu bernama Khatib Dayan untuk
mengislamkan orang Banjar.
Dalam peperangan tersebut, Pangeran Samudera memperoleh kemenangan, dan
sesuai dengan janjinya, ia beserta seluruh kerabat keraton dan penduduk Banjar
menyatakan diri masuk Islam. Dan, setelah Pangeran Samudera masuk Islam, maka
namanya diganti menjadi Sultan Suryanullah atau Suriansyah, yang dikukuhkan
sebagai raja pertama Kerajaan Islam Banjar. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1526
ini berlangsung saat Kerajaan Demak dipegang oleh Trenggono. Ketika
Suryanullah naik tahta, beberapa daerah sekitarnya sudah mengakui kekuasaannya,
yakni Sambas, Batanglawi, Sukadana, Kotawaringin, Sampit, Medawi, dan
Sambangan.
Selanjutnya Sultan Suryanullah diganti oleh putra tertuanya yang bergelar
Sultan Rahmatullah, Raja-raja Banjar berikutnya adalah Sultan Hidayatullah (putra
Sulta Rahmatullah) dan Marhum Panambahan yang dikenal dengan nama Sultan
Musta’inullah. Pada masa Marhum Panambahan, ibu kota kerajaan dipindahkan
beberapa kali. Pertama pindah ke Amuntai, kemudian ke Tambangan, dan Batang
Banju, dan akhirnya kembali ke Amuntai. Perpindahan ibu kota kerajaan itu terjadi
akibat datangnya pihak Belanda ke Banjar dan menimbulkan huru hara.
b. Kerajaan Islam Kutai di Kalimantan Timur
Berdirinya Kerajaan Islam Kutai bermula dari adanya dua orang penyebar Islam
yang tiba di Kutai pada masa pemerintahan Raja Mahkota. Salah seorang di antara
penyebar Islam itu adalah Tuang di Bandang yang selanjutnya dikenal dengan nama
Dato‘ Ri Bandang dari Makassar, sedangkan yang satunya lagi adalah Tuan
Tunggang Parangan. Setelah pengislaman itu Dato‘ Ri Bandang kembali ke
Makassar, sementara Tuan Tunggang Parangan tetap di Kutai. Melalui yang
terakhir inilah Raja Mahkota masuk Islam. Seiring dengan itu segeralah dibangun
masjid dan kegiatan pengajaran agama. Orang yang pertama mengikuti pengajaran
itu adalah Raja Mahkota sendiri, kemudian pangeran, para menteri, panglima, dan
hulubalang, kemudian rakyat pada umumnya.
Dalam perkembangan selanjutnya, yakni setelah Islam dirasakan manfaatnya,
maka Raja Mahkota berusaha keras menyebarkan Islam. Proses pengislaman di
Kutai dan daerah sekitarnya ini diperkirakan terjadi pada tahun 1575. Penyebaran
lebih jauh ke daerah-daerah pedalaman dilakukan terutama pada waktu putranya,
Aji di Langgar, dan penggantinya, melanjutkan perang ke daerah Muara Kaman.

3
2. Kerajaan Islam di Maluku
Islam memasuki Maluku pada pertengahan akhir abad ke-15. Sekitar tahun 1460 Raja
Ternate memeluk agama Islam. Nama raja itu adalah Vongi Tidore. Ia mengambil seorang
istri keturunan ningrat dari Jawa. Sementara, H.J. de Graaf berpendapat, bahwa raja
Muslim yang pertama adalah Zayn al-Abidin (1486-1500 M). Pada masa itu, gelombang
perdagangan Muslim terus meningkat, sehingga Raja menyerah kepada tekanan para
pedagang Muslim itu dan memutuskan untuk mempelajari tentang Islam pada madrasah
Giri. Di Giri ia dikenal dengan nama Raja Bulawa, atau Raja Cengkeh, karena diduga ia
membawa cengkeh ke daerah tersebut sebagai hadiah. Setelah ia kembali dari Jawa, ia
mengajak Tuhubahahul ke daerahnya, dan yang terakhir inilah kemudian dikenal sebagai
penyebar utama Islam di Kepulauan Maluku.
Mengingat masa pengislaman daerah Maluku itu baru saja terjadi, dan belum benar-
benar tertanam kuat di hati masyarakat, maka pada 1522 M Portugis memasuki daerah
tersebut dan berusaha menggeser pengaruh Islam seraya menggantinya dengan agama
Kristen. Namun usaha Portugis ini tidak berhasil sebagaimana yang diharapkan. Usaha
mereka hanya mendatangkan hasil yang sedikit.
Adapun yang berkaitan dengan Ambon, satu-satunya sejarawan Ambon yang bernama
Rijali, menceritakan bahwa Perdana Jamilu dari Hitu (salah satu semenanjung Ambon)
menemani penguasa Ternate, Zayn al-Abidin dalam perjalanannya ke Giri. Menurut De
Graaf, pernyataan ini hanya menunjukkan bahwa hubungan antara Hitu dan Ternate
memang sangat dekat, Menurut De Graaf, bahwa tersebarnya Islam di Hitu lebih
disebabkan karena datangnya seorang kadi, Ibrahim, yang menjadi kadi di Ambon dan
memberikan pengajaran kepada seluruh guru agama Islam di pulau ini. Seiring dengan itu,
Ambon mendirikan masjid yang bergonjong tujuh sebagai peringatan kepada Giri, yaitu
bangunan yang didirikan dalam bentuk yang sama dengan yang ada di Giri. Riwayat daerah
setempat juga menguatkan pendapat ini, yakni bahwa sumber Islam di Ambon adalah Jawa,
di samping Pasai dan Mekah yang terkadang juga disebut-sebut. Dalam riwayat ini
disebutkan, bahwa pendiri sebuah kampung di Kailolo adalah Usman yang mendapatkan
ajaran Islam dari seorang guru agama dari Jawa, yang mengadakan perjalanan dari Mekah
ke Gresik. Komunikasi antara Maluku dan Giri memang masih bertahan sampai abad ke-
17. Bahkan Demak dan Jepara merupakan sekutu-sekutu Hitu dalam peperangan melawan
Portugis yang menempatkan diri di Leitimor, semenanjung Ambon yang penduduknya
masih menyembah berhala. Di daerah inilah Portugis berhasil memperkenalkan Kristen
kepada penganut agama berhala itu.
3. Kerajaan Islam di Sulawesi
Kerajaan Islam di Sulawesi meliputi kerajaan Islam di Gowa-Tallo, Bone, Wajo,
Sopeng, dan Luwu.
Kerajaan Gowa-Tallo, adalah kerajaan kembar yang saling berbatasan, dan biasanya
disebut Kerajaan Makassar. Kerajaan ini terletak di semenanjung barat daya Pulau
Sulawesi yang merupakan daerah transit sangat strategis.
Ketika Gowa-Tallo berperan sebagai pusat perdagangan laut, kerajaan ini memiliki
hubungan yang erat dengan Ternate yang telah lebih dahulu masuk Islam melalui
Gresik/Giri. Di bawah kepemimpinan Sultan Babullah, Ternate mengadakan perjanjian

4
persahabatan dengan Gowa-Tallo. Pada masa itulah Raja Ternate berusaha mengajak
penguasa Gowa-Tallo untuk menganut agama Islam, namun tidak berhasil. Pengislaman
baru terjadi pada saat Datu Ri Bandang datang ke Kerajaan Gowa-Tallo, agama Islam
mulai masuk ke kerajaan ini, dengan Alauddin (1591-163) sebagai sultan pertama yang
menganut agama Islam, pada tahun 1605.
Setelah itu, penyebaran Islam berlangsung sesuai dengan tradisi yang telah lama
diterima para raja keturunan To Manurung. Di dalam tradisi ini ada ketentuan yang
mengharuskan agar seoran raja memberitahukan hal-hal yang baik kepada orang lain. Oleh
karena itu, Kerajaan Gowa-Tallo menyampaikan pesan Islam kepada kerajaan lain seperti
Luwu yang lebih tua, Wajo Sopeng, dan Bone. Raja Luwu segera menerima pesan Islam
itu. Sementara tiga kerajaan lainnya, yakni Wajo, Sopeng, dan Bone yang terikat dengan
aliansi Tallumpeco (tiga kerajaan) dalam perebutan hegemoni dengan Gowa-Tallo,
menerima Islam pada 10 Mei 1610. Adapun Bone sebagai saingan Gowa sejak pertengahan
abad ke-16, menerima Islam pada 23 November 1611. Raja Bone pertama yang masuk
Islam dikenal dengan gelar Sultan Adam. Namun, walaupun sudah masuk Islam, pertikaian
dan pertempuran antara dua kerajaan yang bersaing itu pada masa selanjutnya masih kerap
terjadi, dan bahkan melibatkan Belanda untuk mengambil keuntungan politik dari keadaan
tersebut.
4. Kerajaan Islam di Nusa Tenggara
Diperkirakan sejak abad ke-16 Islam hadir di daerah Nusa Tenggara (Lombok). Islam
di Lombok di perkenalkan oleh Sunan Perapen (putra Sunan Giri). Kemungkinan
masuknya Islam ke Sumbawa ini dengan melalui Sulawesi, yaitu melalui dakwah para
mubalig dari Makassar antara tahun 1540-1550. Kemudian berkembang kerajaan Islam di
Lombok, salah satunya adalah Kerajaan Selaparang.
a. Kerajaan Selaparang
Salah satu kerajaan yang pernah ada di Pulau Lombok. Pusat kerajaan ini pada
masa lampau berada di Selaparang (sering pula diucapkan dengan Seleparang),
yang saat ini kurang lebih berada di desa Selaparang, Kecamatan Swela, Lombok
Timur.
Selanjutnya minim sekali yang dapat diketahui tentang sejarah Kerajaan
Selaparang, terutama sekali tentang awal mula berdirinya. Namun, tentu saja
terdapat beberapa sumber objektif yang cukup dapat dipercaya. Salah satunya
adalah kisah tercatat di dalam daun lontar yang menyebutkan bahwa berdirinya
Kerajaan Selaparang tidak akan pernah bias dilepaskan dari sejarah masuknya atau
proses penyebaran agama Islam di Pulau Lombok.
Selaparang merupakan pusat Kerajaan Islam di Lombok. Selaparang di bawah
pemerintahan Prabu Rangkesari. Pada masa ini Selaparang mengalami zaman
keemasan, menegang, dan lain-lain. Konon Sunan Perapen meneruskan dakwahnya
dari Lombok terus ke Sumbawa. Selaparang juga mengembangkan hubungan
antara kerajaan Gowa dan Lombok di pererat dengan cara pernikahan seperti
Pemban Selaparang, Pemban Pejanggik, dan Pemban Parwa.
Kerajaan Selaparang tergolong kerajaan yang tangguh, baik di darat maupun di
laut. Laskar lautnya telah berhasil mengusir Belanda yang hendak memasuki

5
wilayah tersebut sekitar tahun 1667-1668 M. Namun demikian, Kerajaan
Selaparang harus merelakan salah satu wilayahnya dikuasai Belanda, yakni pulau
Sumbawa, karena lebih dahulu direbut sebelum terjadinya peperangan laut. Di
samping itu, laskar lautnya pernah pula mematahkan serangan yang dilancarkan
oleh Kerajaan Gelgel (Bali) dari arah barat. Selaparang pernah dua kali terlibat
dalam pertempuran sengit melawan Kerajaan Gelgel, yakni sekitar tahun 1616 dan
1624 M, akan tetapi kedua-duanya dapat ditumpas habis, dan tentara Gelgel dapat
ditawan dalam jumlah yang cukup besar pula.
Setelah pertempuran sengit tersebut, Kerajaan Selaparang mulai menerapkan
kebijaksanaan baru untuk membangun kerajaannya dengan memperkuat sektor
agraris. Maka, pusat pemerintahan kerajaan kemudian dipindahkan agak ke
pedalaman di sebuah dataran perbukitan, tepat di desa Selaparang sekarang ini. Dari
wilayah kota yang baru ini, panorama Selat Alas yang indah membiru dapat
dinikmati dengan latar belakang daratan Pulau Sumbawa dari ujung utara ke selatan
dengan sekali sapuan pandangan. Dengan demikian, semua gerakan yang
mencurigakan di tengah lautan akan segera dapat diketahui. Wilayah ibukota
Kerajaan Selaparang inipun memiliki daerah bagian belakang berupa bukit-bukit
persawahan yang dibangun dan ditata rapi, bertingkat-tingkat hingga ke hutan
Lemor yang memiliki sumber mata air yang melimpah.
Berbagai sumber menyebutkan, bahwa setelah dipindahkan, Kerajaan
Selaparang mengalami kemajuan pesat. Sebuah sumber mengungkapkan, Kerajaan
Selaparang dapat mengembangkan kekuasaannya hingga ke Sumbawa Barat.
Disebutkan pula bahwa seorang raja muda bernama Sri Dadelanatha, dilantik
dengan gelar Dewa Meraja di Sumbawa Barat karena saat itu (1630 M) daerah ini
juga masih termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Selaparang. Kemudian
dilanjutkan oleh generasi berikutnya, yaitu sekitar tanggal 30 November 1648 M,
putera mahkota Selaparang bernama Pangeran Pemayaman dengan gelar Pemban
Aji Komala, dilantik di Sumbawa menjadi Sultan Selaparang yang memerintah
seluruh wilayah Pulau Lombok dan Sumbawa.
Setelah terjadinya Perjanjian Bongayana pada tanggal 18 November 1667,
kerajaan-kerajaan yang ada di Nusa Tenggara mengalami tekanan dari VOC.
Dengan keadaan tersebut, maka pusat Kerajaan Lombok dipindahkan ke Sumbawa
pada tahun 1673. Tujuan pemindahan tersebut adalah untuk mempertahankan
kedaulatan kerajaan-kerajaan Islam di pulau tersebut dengan dukungan pengaruh
kekuasaan Gowa. Alasan Kerajaan Lombok dipindahkan ke Sumbawa adalah
karena Sumbawa dipandang lebih strategis dari pada pusat pemerintahan di
Selaparang. Disamping itu juga mengingat adanya ancaman dan serangan dari
VOC yang terjadi terus menerus.
b. Kesultanan Bima
Bima merupakan Kerajaan Islam yang menonjol di Nusa Tenggara. Rajanya
yang pertama masuk Islam ialah Ruma Ma Bata Wadu yang bergelar Sultan Bima
I atau Sultan Abdud Khair (1611-1640). Namun, setelah terus-menerus melakukan
perlawanan terhadap intervensi politik dan monopoli perdagangan VOC, ketika

6
VOC mau memperbaharui perjanjian dengan Bima pada tahun 1668, Sultan Bima,
Tureli Ngampo, menolaknya. Ketika Tambora merampas Kapal VOC pada 1675,
raja Tambora, Kalongkong, dan para pembesarnya diharuskan menyerahkan keris-
keris pusakanya kepada Holsteijn. Pada tahun 1691, ketika permaisuri Kerajaan
Dompu terbunuh, Sultan Bima ditangkap dan diasingkan ke Makassar sampai
meninggal dalam penjara. Kerajaan-kerajaan di Lombok, Sumbawa, Bima, dan
lainnya selama abad XVIII dan akhir abad itu terus melakukan pemberontakan dan
peperangan karena pihak VOC senantiasa mencampuri urusan pemerintahan
kerajaan-kerajaan tersebut bahkan menangkapi dan mengasingkan raja-raja yang
melawan.
Pembicaraan mengenai sejarah Kesultanan Bima abab XIX dapat diperkaya
oleh gambaran terperinci dalam Syair Kerajaan Bima yang menurut telaah filologi
Henri Chambert-Loir diperkirakan dikarang sebelum tahun 1833, sebelum Raja
bicara abdul Nabi meletakan jabatan dan digantikan oleh putranya. Syair itu
dikarang oleh Khatib Lukman, barang kali pada tahun 1830. Syair itu ditulis dengan
huruf Jawa dan berbahasa Melayu. Syair itu menceritakan empat peristiwa yang
Sultan Abdul Hamid pada mei 1819. Serangan bajak laut dan pemberontakan
Sultan Ismail pada 26 November 1819.
Sampai kini jejak Islam bias dilacak dengan meneliti makam seorang mubaligh
asal Makassar yang terletak di kota Bima. Begitu juga dengan makam Sultan Bima
yang pertama kali memeluk Islam. Bisa disebut, seluruh penduduk Bima adalah
para Muslim sejak mula. Selain Sumbawa, Islam juga masuk ke Lombok. Orang-
orang Bugis dating ke Lombok dari Sumbawa dan mengajarkan Islam disana.
Hingga kini, beberapa kata di suku-suku Lombok banyak kesamaannya dengan
bahasa Bugis.
5. Kerajaan Islam di Madura
Islam masuk ke daerah Semenep dan sekitarnya adalah di masa pemerintahan
Penembahan Madroko (Raden Pitutat). Ada dua alasan para sejarawan menduga demikian
yaitu:
1) Panembahan Madroko nikah dengan Nyai Ketel, seorang putri cucu Gunung Giri.
2) Makamnya di Gunung Kalas Nampak bercorak Islam.
Kudho Panufe yang setelah menjadi penguasa daerah Sumenep pada tahun 1415 M
bergelar Pangeran Setdjodiningrat III masuk Islam karena pengaruh ulama yang disebut
Sunan Padusan. Sunan Padusan seorang ulama keturunan Arab yang nama Jawanya adalah
Raden Bandara Diwiryopodho. Sunan Padusan mula-mulanya tinggal di Padusan,
kemudian kawin dengan putri dari pangeran Setdjodiningrat III, lalu pindah ke Batuputih.
Sesudah itu masuk pula Islam ke Sampang sedangkan penyiar Islam di daerah Sampang
adalah Buyut Syekh salah seorang Sayyid turunan Sayyidina Husein, cucu Rasulullah
SAW. Selain itu juga Buyut Napo, murid dari Buyut Syekh yang telah berilmu cukup,
bertingkah laku sebagai seorang alim sehingga dianggap wali oleh penduduk Lodoyo. Di
daerah Jrangoan, kecamatan Omben, Kewedanan kota Sampang kekuasaan diberikan
kepada Buyut Syekh turun-temurun.

7
Pendakwah Islam yang lain adalah Empu Bageno, Pepatih Madura yang belajar ilmu
agama Islam kepada Sunan Kudus. Setelah kembali dari Madura mulai mengajarkan ilmu
agama Islam kepada raja Arosbaya yaitu K. Pragalbo yang telah masuk Islam yang diberi
gelar Pangeran Islam Onggung.
Sunan Paku Nataningrat (1812-1854) adalah Sultan dari Kesultanan Sumenep, Madura.
Disebut dalam sejarah bahwa ulama Arab yang datang dimasa sultan Paku Nataningrat
adalah:
1) Sayyid Abdurrahman al-Baiti, beliau berasal dari Hadramaut, belajar di Makkah,
dan menjadi guru Bahasa Arab di lingkungan istana Kesultanan Semenep.
2) Sayyid Umar Baharun, seorang ahli astrologi.
3) Sayyid Syekh ibn Ahmad Bafaqih, lahir di al-Syirh, Hadramaut dan menetap
selama 25 tahun di Sumenep.
B. Pendidikan Islam di Kalimantan, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Madura
1. Pendidikan Islam di Kalimantan Barat
1) Pesantren/Madrasah di Kalimantan Barat (Pontianak)
Madrasah yang tertua di Kalimantan Barat ialah Madrasatun Najah wal Falah di
Sei Bakau Besar Mempawah, didirikan kira-kira tahun 1918 M. kemudian berdirilah
beberapa madrasah di kota-kota, bahkan sampai ke dusun-dusun berupa madrasah-
madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Di antara madrasah-madrasah yang masyhur
ialah: Madrasah Perguruan Islam (Assulthaniah) di Sambas tahun 1922 M.
Madrasah ini salah satu madrasah tertua di Kalimantan Barat, didirikan di Sambas
pada tahun 1922 M. Kemudian diubah namanya dengan Tarbiyatul Islam. Ketua
pengurus madrasah Perguruan Islam ialah: H.M. Basyuni Imran, seorang ulama besar
di Sambas dan kepala madrasah ialah: H. Abd. Rahman. Pelajarannya ialah ilmu-ilmu
agama ditambah dengan pengetahuan umum.
Madrasah Al-Raudlatul Islamiah di Pontianak, didirikan pada tanggal 6 Juni 1936
M (1355 H). Al-Raudlatul Islamiah terdiri dari dua bagian:
a. Bagian Ibtidaiyah
b. Bagian Tsanawiyah
Sebagai ketua pengurus madrasah ini ialah: H. Usman, H. Abd. Rahim dan kepala
madrasah A. Rani Mahmud dan wakilnya Abd. Hamid.
2) Pesantren Madrasah-madrasah Islam Indonesia Pontianak
Persatuan permi didirikan pada tahun 1954 M di Pontianak. Maksud tujuannya ialah:
a. Menyatukan nama madrasah dengan nama yang sederhana, yaitu:
a) Madrasah Islam Ibtidaiyah
b) Madrasah Islam Tsanawiyah
b. Menyatukan leerplan dan kitab-kitabnya
c. Mendirikan satu ikatan sebagai federasi
2. Pendidikan Islam di Kalimantan
a) Sekolah Menengah Islam Pertama
Salah satu madrasah yang kenamaan ialah S.M.I.P. didirikan pada tanggal 15
Oktober 1946 M di Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Lama pelajarannya 5 tahun,
terdiri dari 6 kelas, yang diterima masuk S.M.I.P ialah anak-anak:

8
a. Tamatan S.R. VI tahun di terima masuk kelas A. Pelajarannya agama 75% dan
umum 25%
b. Tamatan madrasah 5 atau 6 tahun di terima masuk kelas B. Pelajarannya: agama
25% dan umum 75%.
Setelah setahun belajar di kelas A dan B, murid-murid keduanya naik ke kelas C.
Pelajarannya: agama 50% dan umum 50% (murid-murid kelas A dan B bercampur
menjadi satu kelas). Sesudah setahun di kelas C, maka murid-murid naik kelas I,
kemudian ke kelas II dan kelas III. Ketua pengurus madrasah ini (1948-1952) ialah:
H.M. Hanafie Gobit dan penulisnya Abd. Majid Salman, sedangkan di antara anggota-
anggota Badan Penasihatnya ialah H.M. Nur Marwan keluaran Al-Azhar Kairo
(Mesir).
3. Pendidikan Islam di Maluku
Menurut sebuah sumber, bahwa pada 11 July 1951 M, jumlah madrasah tingkat
ibtidaiyah yang berada di Maluku Utara sebanyak 44 buah. Adapun guru-gurunya
berjumlah 58 orang, dan murid-muridnya sebanyak 4.600 orang, diantaranya 3.000 orang
laki-laki, dan 1.600 orang perempuan. Madrasah menengah hanya ada 1 buah, yaitu di
Tidore dengan jumlah murid sebanyak 49 orang. Selanjutnya dilaporkan pula, bahwa
jumlah madrasah di seluruh Maluku (Maluku Utara, Maluku Tengah, dan Maluku Selatan)
sebanyak 56 buah, tetapi dalam laporan yang lain jumlahnya sebanyak 84 buah. Pada tahun
1951 di Ambon terdapat 4 buah madrasah, termasuk 1 Madrasah Tsanawiyah. Tetapi pada
tahun 1951 hanya tinggal dua Madrasah Ibtidaiyah.1
Madrasah yang masyhur dahulu di Ambon ialah madrasah Mahasinul Akhlak yang
telah mengeluarkan pemuda-pemuda Islam yang terjun dalam masyarakat sebagai guru dan
pemimpin agama. Selain dari pada itu ada lagi madrasah Sekolah Menengah Islam di
Ternate.
4. Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan
1) Madrasah Amiriah Islamiah di Bone
Madrasah Amiriah Islamiah didirikan pada tahun 1933 di watampone Bone.
Madrasah tersebut pada mulanya di pimpin oleh ustadz Abdul Aziz Asy-Syimi Al-
Misri kurang lebih 2 tahun. Kemudian di pimpin oleh Syekh Mahmud Abdul Jawwad
Al-Madani (1935-1948).
Pada tahun 1939 diadakan perubahan tentang cara memberi pelajaran sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan modern, untuk itu didatangkan guru dari Sumatra.
Madrasah Amiriah Islamiah mempunyai tiga bagian:
a) Bagian Ibtidaiyah
b) Bagian Tsanawiyah
c) Bagian Mu’allimin
Pada tahun 1952 Madrasah Amiriah Islamiah diubah namanya menjadi Sekolah
Menengah Islam ( S.M.I), kemudian tahun 1954 diubah menjadi P.G.A.P ( Pendidikan
Guru Agama Pertama).

1
Laporan yang diterima oleh pengarang waktu berkunjung ke Ambon. (tahun 1951 M).

9
2) Syekh H. M. As’ad bin H. A. Rasyid Bugis
Beliau lahir di Mekkah pada tahun 1326 H (1907 M), mula-mula ia belajar pada
ayahnya Syekh H.A. Rasyid. Kemudian masuk Madrasah Al-Falah yang masyhur di
Mekkah. Usia 14 tahun beliau telah menghafal Al-Quran, setelah belajar di Madrasah
Al-Falah ia kembali belajar kepada ayahnya. Ketika usia 17 tahun ibu dan bapaknya
wafat di Mekkah, meskipun begitu beliau terus belajar dan menuntut ilmu. Pada tahun
1927 M beliau pergi hijrah ke Madinah untuk ziarah ke makam Nabi SAW serta
menuntut ilmu kepada ulama Madinah.
Pada tahun 1928 M beliau pulang ke Indonesia daerah Bugis (Sulawesi), ia juga
membuka pesantren dan mengajarkan ilmu-ilmu yang di tuntutnya di tanah Hijaz. Pada
mulanya ia mengajar menurut sistem halaqah di rumah dan masjid. Pada tahun 1350 H
(1931 H), beliau mendirikan madrasah di sebelah masjid dengan bantuan pemerintah
dan kaum muslimin sekitar, kemudian di namai Madrasah Wajo Tarbiyah Islamiyah
kemudian diubah menjadi Madrasah As’adisyah.
Selain dari pada mengajar di madrasah itu, beliau mengadakan pula tabligh-tabligh
atau pengajian umum bahkan beliau mendidik sebagian murid-muridnya untuk menjadi
mubaligh-mubaligh Islam. Selain dari pada mengajar dan tabligh beliau juga
mengarang kitab-kitab agama, diantaranya :
a) Izharul Haqiqah (bahasa Bugis)
b) Kitab BI- ‘Aqaid ( bahasa Bugis)
c) Sirah Nabawiyah ( bahasa Arab dan Bugis)
d) Kitab zakat ( bahasa Bugis dan Indonesia)
e) Ilmu Ushul Fiqh ( bahasa Arab)
Setelah meninggalkan jasa dan usaha yang besar, beliau wafat pada hari senin, 12
Rabi’ul Awwal 1372 H (1952 M).
3) Universitas Muslim Indonesia Makassar
Pada tahun 1954 didirikan U.M.I Makassar dengan mempunyai dua buah fakultas,
yaitu:
a) Fakultas pengetahuan Islam dan ilmu masyarakat, diketuai oleh Naziruddin
Rahmat.2
b) Fakultas H.S.P. (Hukum Sosial Politik) diketuai oleh Drs. Laode Manarfa).
Kemudian dikokohkan pendirian U.M.I. dengan suatu yayasan wakaf Universitas
Muslim Indonesia, dengan akte Notaris No. 28 tanggal 9 Maret 1955.
5. Pendidikan Islam di Sulawesi Tengah
1) Al-Khairat
Madrasah ini didirikan di palu ibu kota karesidenan pada tahun 1930 M oleh
seorang ulama besar, Syekh Al – Idrus. Sistem pendidikannya mula-mula hanya
mementingkan pelajaran agama dan bahasa pengantarnya adalah bahasa Arab. Tetapi
sesuai dengan perkembangan zaman, maka sekarang telah di pecah menjadi dua
bagian: satu bagian mementingkan pelajaran agama, dan sebagian umum.

2
Nazaruddin Rahmat tamatan Normal Islam, Padang.

10
2) Madrasah Tarbiyah Islamiyah
Madrasah ini didirikan pada tahun 1938 M oleh H. Abdoerrahman Ambo Dale,
salah seorang murid Syekh H.M. As’ad. Madrasah ini mendapat kemajuan yang pesat
sekali sehingga banyak murid- murid yang belajar ke sana. Pada tahun 1947 M di ubah
namanya menjadi Daru Da’wah wal Irsyad.
3) Daru Da’wah wal Irsyad
Perkumpulan ini didirikan pada tanggal 16 Rabi’ul Awwal 1336 H ( 7 Februari
1947 M) di Watang Soppeng (Sulawesi). Adapun tujuannya :
a) Memajukan kecerdasan umum dan peradaban kemanusiaan serta menyampaikan
ajaran-ajaran Islam dan menyadarkan umat hidup bertaqwa.
b) Menuntun umat kea rah pelaksanaan ajaran-ajaran tersebut.
c) Memelihara persatuan dalam kaum muslimin dan perdamaian dalam masyarakat ramai.
Pada bulan Agustus 1954 mengadakan konperensi pendidikan dan ilmu
pengetahuan di Pare-Pare ( Sulawesi). Mahmud Yunus turut menghadiri dan
memberikan perasaran tentang susunan madrasah/sekolah Islam. Adapun
madrasah/sekolah tersebut terdiri dari:
a) Taman Kanak-kanak Islam
b) Sekolah Rakyat Islam
c) Sekolah Menengah Pertama Islam
d) Sekolah Menengah Atas Islam
6. Pendidikan Islam di Nusa Tenggara
Madrasah Nahdlatul Wathan
Madrasah Nahdlatul Wathan Diniah Islamiah didirikan pada tanggal 15 Jumadil Akhir
1356 H oleh H. Muhammad Zainuddin , seorang ulama besar di Pancor, Lombok Timur.
Pada tahun 1943 didirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniah Islamiah (N.B.D.I.) oleh
K.H. Muhammad Zainuddin di samping Nahdlatul Wathan Diniah Islamiah. Madrasah ini
khusus untuk murid-murid putri.
Kedua madrasah tersebut mempunyai cabang kurang lebih 95 madrasah tersebar di
seluruh daerah Lombok. Madrasah-madrasah ini mempunyai beberapa bagian:
a) Bagian Tahdliriah
b) Bagian Ibtidaiyah
c) Bagian Mu’allimin
d) Bagian S.M.I
e) Bagian P.G.A
Pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1372 (1 Maret 1953) Madrasah Nahdlatul Wathan
Diniah Islamiah dan Nahdlatul Banat Diniah Islamiah dengan seluruh cabang-cabangnya
dijelmakan menjadi satu organisasi dengan nama Nahdlatul Wathan (N.W.), yaitu
organisasi pendidikan dan sosial, berpusat di Pancor (Lombok Timur). N.W mendapat
sambutan yang baik dari umat Islam, sehingga tidak berapa lama cabang-cabangnya
tersebar di seluruh pelosok pulau Lombok.
Sekarang madrasah-madrasah N.W dengan seluruh cabang-cabangnya diurus oleh
Pengurus Besar Nahdlatul Wathan bagian Pendidikan dibawah pimpinan K.H.
Muhammad Zainuddin. Beliau selain dari menyiarkan ilmu-ilmu di madrasah-madrasah

11
juga mengadakan pengajian umum di beberapa tempat/masjid yang dihadiri oleh beratus-
ratus umat Islam.
7. Pendidikan Islam di Madura
1) Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep
Pondok pesantren ini didirikan pada tahun 1887 M oleh seorang ulama yang berasal
dari Kudus Jawa Tengah yaitu K.H. Moh. Syarqawi. Sebelum mendirikan pondok
pesantren, beliau melakukan pengembaraan untuk mencari ilmu di beberapa tempat di
wilayah Madura hingga sampai bermukim di Mekkah.
Pada waktu di Mekkah beliau bertemu dengan Kiai Gemma seorang ulama asal
Madura, melalui pertemuannya dengan Kiai Gemma mengantarkan Kiai Syarqawi
menuju dan menetap di Madura. Ada seorang saudagar kaya yang membantu Kiai
Syarqawi dengan memberikan sebidang tanah dan bahan bangunan, kemudian di tanah
tersebut beliau membangun sebuah langgar atau tempat tinggal yang merupakan awal
dari berdirinya Pondok Pesantren Annuqayah sehingga menjadi sebuah pesantren yang
besar.
Sistem pendidikan yang diterapkan di pesantren tersebut adalah salaf murni yang
pembahasannya hanya fokus dalam ilmu keagamaan atau kitab kuning. Barulah sejak
tahun 1935 memulai perubahan sistem pendidikannya oleh K.H. Khazin Ilyas yaitu
menerapkan sistem kelas atau sekolah dengan sistem kelas dan mulai memasukkan
pelajaran non agama ke dalam kurikulumnya. Pada masa K.H. Moh. Mahfoudh Husaini
terus melakukan perubahan sistem dari sistem pendidikan madrasah salafi menjadi
pendidikan formal, maka pada tahun 1951 didirikanlah Madrasah Tsanawiyah.
Perubahan terus berlanjut pada masa K.H. M. Amir Ilyas, Madrasah Tsanawiyah
diubah menjadi Madrasah Mu’allimin. Kemudian tahun 1967 disempurnakan menjadi
Madrasah Mu’allimin lengkap, kemudian Madrasah Mu’allimin lengkap diubah
menjadi Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah ‘Aliyah, sehingga pada tahun itu pula
ada 3 tingkatan pendidikan yaitu MI, MTs, dan MA.
Dalam perkembangan selanjutnya, pada tanggal 13 Oktober 1984 mendirikan
Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) dengan satu fakultas yaitu syari’ah kemudian
diubah menjadi STISA (Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Annuqayyah) kemudian
ditambah satu fakultas baru yaitu STITA (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Annuqayyah).
Pada tahun 1996, STISA dan STITA dijadikan satu sekolah tinggi dengan nama
Sekolah Tinggi Agama Islam (STIKA).
2) Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan
Pondok pesantren ini didirikan oleh Kiai Isbat, mula-mula beliau memilih tempat
disebuah desa yang jauh dari keramaian tepatnya di desa Longserreh, tetapi karena istri
beliau tidak betah di tempat tersebut maka pindahlah ke daerah Timur, yaitu sebuah
area yang masih berupa hutan belantara yang kemudian menjadi desa Poto’an Daja,
Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan.
Bermula dari sebuah langgar kecil yang hanya berlokasi sebidang tanah tegalan
yang sempit dan gersang yang kemudian dikenal dengan sebutan “Banyuanyar”. Di
lokasi inilah Kyai Isbat mengasuh para santrinya dengan penuh istiqomah dan sabar,
sekalipun fasilitas yang ada pada saat itu jauh dari kecukupan.

12
Nama Banyuanyar diambil dari bahasa Jawa yang berarti air baru, bermula dari
inilah dinamakan Banyuanyar yaitu suatu nama yang berasal dari Jawa yang artinya air
baru yang memberikan kehidupan, yang kemudian dikenal dengan sebutan “Pondok
Pesantren Banyuanyar”. Pada awalnya santri yang belajar masih sebatas dari kalangan
sekitar pondok atau yang masih bersifat kalong, namun berkat ketabahan dan keuletan
serta sifat zuhud yang dimiliki Kiai Isbat, akhirnya sedikit demi sedikit santri mulai
berdatangan baik dari lingkungan pesantren maupun dari beberapa daerah.
3) Pondok Pesantren Syaikhona Kholil di Bangkalan
Pondok pesantren ini didirikan pada tahun 1861 M oleh K.H. Kholil tereletak di
daerah Kademangan, Bangkalan. Setelah putrinya dinikahkan dengan keponakannya
sendiri, yaitu Kiai Muhammad Thaha, pesantren di desa Cengkuban diserahkan kepada
menantunya. Dan Kiai Kholil mendirikan pesantren lagi di derah Kademangan,
Bangkalan , hanya selang 1 Km dari pseantren lama. Pesantren ini dikenal sebagai
Pesantren Syaikhona Kholil, dari pesantren di Kademangan inilah beliau menyebarkan
Islam.
Pesantren ini menyelanggarakan pendidikan agama Islam ke dalam dua program
pendidikan. Ke dua program tersebut adalah ma’hadiyah dan madrasiyah. Untuk
memperoleh barokah, santri harus patuh kepada ajaran Islam, dalam pelaksanaan
pembelajaran agama Islam di pesantren ini menggunakan metode bandongan dan
sorogan, hal tersebut dilakukan dengan kiai atau ustadz sebagai pemberi informasi
utama. Sedangkan pembahasan hasil pembelajaran dari metode tersebut melalui
musyawarah dan muhadloroh.

13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Islam masuk ke Indonesia melalui para mubaligh dan ulama dari Jawa yang datang ke
wilayah Kalimantan, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Madura. Mereka menyampaikan
ajaran Islam, awalnya dengan membantu peperangan yang kemudian di sepakatinya perjanjian
untuk masuk agama Islam. Dengan masuknya para raja ke agama Islam memudahkan untuk
menyebarluaskan dakwah tersebut dan kemudian tersebar luas serta berkembang pesat.
Seiring berkembangnya ajaran Islam, pendidikan Islam mulai didirikan di berbagai
wilayah, seperti madrasah Nahdlatul Wathan yang tersebar ke seluruh Lombok. Tidak hanya
pelajaran agama saja yang ada di dalam madrasah tersebut tetapi pelajaran umum pun ada.
Dari madrasah-madrasah tersebut banyak yang murid-muridnya menjadi mubaligh Islam serta
guru-guru agama yang berjuang dalam masyarakat untuk melanjutkan dakwah
menyebarluaskan ajaran Islam.
B. Saran
Sejarah Pendidikan Islam sangatlah penting untuk difahami dan dipelajari, karena itu
merupakan awal berdirinya dari pendidikan Islam di Indonesia, khususnya bagi para pendidik
, materi ini sangat membantu dalam menyampaikan pengajaran agar para peserta didik menjadi
tahu dan menjadi pemuda pemudi penerus bangsa yang selalu menjunjung tinggi pendidikan
khususnya pendidikan Islam serta melanjutkan dakwah para ulama.

14
DAFTAR PUSTAKA
Ramayulis. 2012. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Yunus, Mahmud. 1995. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Mutiara Sumber Widya.
Zuhairini. 2010. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

15