Anda di halaman 1dari 15

1

TUGAS MAKALAH

AUTOIMMUNE HEMOLYTIC ANEMIA (AIHA)

DISUSUN

OLEH:

LIA NOVITA

NICKY ASTRIA

NIKEN AYU LARASATI

FIRMANSYAH

TRI INDAH

SITI SALAMAH

Strata I Farmasi Program Khusus


Universitas Kader Bangsa
Palembang
2018
2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anemia hemolitik adalah anemia yang tidak terlalu sering dijumpai,
tetapi bila dijumpai memerlukan pendekatan diagnostik yang tepat.
Anemia hemolitik yaitu meningkatnya kecepatan destruksi eritrosit
sebelum waktunya. Dalam keadaan ini sumsum tulang memproduksi
darah lebih cepat sebagai kompensasi hilangnya sel darah merah. Pada
kasus Anemia biasanya ditemukan splenomegali diakibatkan karena
absorbsi sel darah ysng telah mati secara berlebihan oleh limpa. Karena
pada anemia hemolitik banyaknya sel darah merah yang mati pada waktu
yang relative singkat. Pada kasus anemia hemolitik yang akut terjadi
distensi abdomen di karenakan hepatomegali dan splenomegali.
Anemia hemolitik merupakan kondisi dimana jumlah sel darah
merah (HB) berada di bawah nilai normal akibat kerusakan (dekstruksi)
pada eritrosit yang lebih cepat dari pada kemampuan sumsum tulang
mengantinya kembali. Jika terjadi hemolisis (pecahnya sel darah merah)
ringan/sedang dan sumsum tulang masih bisa mengompensasinya,
anemia tidak akan terjadi, keadaan ini disebut anemia terkompensasi.
Namun jika terjadi kerusakan berat dan sumsum tulang tidak mampu
menganti keadaan inilah yang disebut anemia hemolitik. Anemia hemolitik
sangat berkaitan erat dengan umur eritrosit. Pada kondisi normal eritrosit
akan tetap hidup dan berfungsi baik selama 120 hari, sedang pada
penderita anemia hemolitik umur eritrosit hanya beberapa hari saja.
Tapi sebenarnya defenisi dari beberapa referensi diatas sama yakni
karena terbentuknya autoantibody oleh eritrosit sendiri dan akhirnya
menimbulkan hemolisis. Hemolisis yakni pemecahan eritrosit dalam
pembuluh darah sebelum waktunya. Anemia hemolitik autoimun memiliki
banyak penyebab, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak diketahui
(idiopatik). Kadang-kadang tubuh mengalami gangguan fungsi dan
menghancurkan selnya sendiri karena keliru mengenalinya sebagai
3

bahan asing (reaksi autoimun), jika suatu reaksi autoimun ditujukan


kepada sel darah merah, akan terjadi anemia hemolitik autoimun.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian dari Anemia Hemolitik ?
2. Apa Etiologi dari anemia Hemolitik ?
3. Bagaimanakah patofisiologis pada anemia Hemolitik?
4. Apa saja manifestasi dari anemia Hemolitik?
5. Pemeriksaan penunjang apa saja yang perlu dilakukan ?
6. Bagaimankah penatalaksanaan pengobatannya ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari anemia hemolitik.
2. Untuk mengetahui etiologi dari anemia hemolitik.
3. Untuk mengetahui patofisiologis pada anemia hemolitik.
4. Untuk mengetahui manifestasi dari anemia hemolitik.
5. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan.
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan pengobatan pada anemia
hemolitik.
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian
Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan oleh proses
hemolisis,yaitu pemecahahan eritrosit dalam pembuluh darah sebelum
waktunya(Handayani,2008 ).Pada anemia hemolitik, umur eritrosit menjadi
lebih pendek (normal umur eritrosit 100-120 hari). Anemia hemolitik
adalah anemia karena hemolisis, kerusakan abnormal sel-sel darah merah
(sel darah merah), baik di dalam pembuluh darah (hemolisis intravaskular)
atau di tempat lain dalam tubuh (extravascular).
Autoimmune hemolytic anemia (AIHA) adalah suatu kondisi dimana
imunoglobulin atau komponen dari sistem komplemen terikat pada antigen
permukaan sel darah merah dan menyebabkan pengrusakan sel darah
merah melalui Sistem Retikulo Endotelial (SRE). Antibodi yang khas pada
AIHA antara lain IgG,IgM atau IgA dan bekerja pada suhu yang berbeda-
beda. (Lanfredini, 2007).

2. Etiologi

Anemia hemolitik dapat disebabkan oleh 2 faktor yang berbeda


yaitu faktor intrinsik & faktor ekstrinsik.

a. Faktor Intrinsik :
Faktor intrinsik yang dimaksud ialah kelainan yang terjadi pada
metabolisme dalam eritrosit itu sendiri sel eritrosit. Kelainan karena
faktor ini dibagi menjadi tiga macam yaitu:
Keadaan ini dapat dibagi menjadi 3 bagian antara lain:
1) Gangguan struktur dinding eritrosit
 Sferositosis
Penyebab hemolisis pada penyakit ini diduga disebabkan oleh
kelainan membran eritrosit. Kadang-kadang penyakit ini
5

berlangsung ringan sehingga sukar dikenal. Pada anak gejala


anemianya lebih menyolok daripada dengan ikterusnya, sedangkan
pada orang dewasa sebaliknya. Suatu infeksi yang ringan saja
sudah dapat menimbulkan krisis aplastik
Kelainan radiologis tulang dapat ditemukan pada anak yang telah
lama menderita kelainan ini. Pada 40-80% penderita sferositosis
ditemukan kolelitiasis.
 Ovalositosis (eliptositosis)
Pada penyakit ini 50-90% dari eritrositnya berbentuk oval
(lonjong). Dalam keadaan normal bentuk eritrosit ini ditemukan kira-
kira 15-20% saja. Penyakit ini diturunkan secara dominan menurut
hukum mendel. Hemolisis biasanya tidak seberat sferositosis.
Kadang-kadang ditemukan kelainan radiologis tulang. Splenektomi
biasanya dapat mengurangi proses hemolisis dari penyakit ini.
 A-beta lipropoteinemia
Pada penyakit ini terdapat kelainan bentuk eritrosit yang
menyebabkan umur eritrosit tersebut menjadi pendek. Diduga
kelainan bentuk eritrosit tersebut disebabkan oleh kelainan
komposisi lemak pada dinding sel.

2) Gangguan pembentukan nukleotida


Kelainan ini dapat menyebabkan dinding eritrosit mudah
pecah, misalnya pada panmielopatia tipe fanconi.
Anemia hemolitik oleh karena kekurangan enzim sbb:
• Defisiensi glucose-6- phosphate-Dehydrogenase (G-6PD)
• Defisiensi Glutation reduktase
• Defisiensi Glutation
• Defisiensi Piruvatkinase
• Defisiensi Triose Phosphate-Isomerase (TPI)
• Defisiensi difosfogliserat mutase
• Defisiensi Heksokinase
• Defisiensi gliseraldehid-3-fosfat dehidrogenase

3) Hemoglobinopatia
6

Pada bayi baru lahir HbF merupakan bagian terbesar dari


hemoglobinnya (95%), kemudian pada perkembangan selanjutnya
konsentrasi HbF akan menurun, sehingga pada umur satu tahun
telah mencapai keadaan yang normal Sebenarnya terdapat 2
golongan besar gangguan pembentukan hemoglobin ini, yaitu:
a) Gangguan struktural pembentukan hemoglobin (hemoglobin
abnormal). Misal HbS, HbE dan lain-lain
b) Gangguan jumlah (salah satu atau beberapa) rantai globin. Misal
talasemia

b. FaktorEkstrinsik :
Faktor ekstrinsik yang dimaskud ialah kelainan yang terjadi karena
hal-hal diluar eritrosit.
 Akibat reaksi non imumitas : karena bahan kimia / obat
 Akibat reaksi imunitas : karena eritrosit yang dibunuh oleh antibodi
yang dibentuk oleh tubuh sendiri.
 Infeksi, plasmodium, boriella

3. Patofisiologi
Hemolisis adalah acara terakhir dipicu oleh sejumlah besar
diperoleh turun-temurun dan gangguan. etiologi dari penghancuran
eritrosit prematur adalah beragam dan dapat disebabkan oleh kondisi
seperti membran intrinsik cacat, abnormal hemoglobin, eritrosit enzimatik
cacat, kekebalan penghancuran eritrosit, mekanis cedera, dan
hypersplenism. Hemolisis dikaitkan dengan pelepasan hemoglobin dan
asam laktat dehidrogenase (LDH). Peningkatan bilirubin tidak langsung
dan urobilinogen berasal dari hemoglobin dilepaskan.

Seorang pasien dengan hemolisis ringan mungkin memiliki tingkat


hemoglobin normal jika peningkatan produksi sesuai dengan laju
kerusakan eritrosit. Atau, pasien dengan hemolisis ringan mungkin
mengalami anemia ditandai jika sumsum tulang mereka produksi eritrosit
transiently dimatikan oleh virus (Parvovirus B19) atau infeksi lain,
7

mengakibatkan kehancuran yang tidak dikompensasi eritrosit (aplastic


krisis hemolitik, di mana penurunan eritrosit terjadi di pasien dengan
hemolisis berkelanjutan). Kelainan bentuk tulang tengkorak dan dapat
terjadi dengan ditandai kenaikan hematopoiesis, perluasan tulang pada
masa bayi, dan gangguan anak usia dini seperti anemia sel sabit atau
talasemia.

4. Manifestasi Klinis
Kadang – kadang Hemolisis terjadi secara tiba- tiba dan berat,
menyebabkan krisis hemolotik, yang menyebakan krisis hemolitik yang di
tandai dengan demam, mengigil, nyeri punggung dan lambung, perasaan
melayang, dan penurunan tekanan darah yang berarti.

Secara mikro dapat menunjukan tanda-tanda yang khas yaitu:


1) Perubahan metabolisme bilirubin dan urobilin yang merupakan hasil
pemecahan eritrosit. Peningkatan zat tersebut akan dapat terlihat
pada hasil ekskresi yaitu urin dan feses.
2) Hemoglobinemia : adanya hemoglobin dalam plasma yang
seharusnya tidak ada karena hemoglobin terikat pada eritrosit.
Pemecahan eritrosit yang berlebihan akan membuat hemoglobin
dilepaskan kedalam plasma. Jumlah hemoglobin yang tidak dapat
diakomodasi seluruhnya oleh sistem keseimbangan darah akan
menyebabkan hemoglobinemia.
3) Masa hidup eritrosit memendek karena penghancuran yang berlebih.

4) Retikulositosis : produksi eritrosit yang meningkat sebagai


kompensasi banyaknya eritrosit yang hancur sehingga sel muda
seperti retikulosit banyak ditemukan.

5. Pemeriksaan Diagnostik
a. Gambaran penghancuran eritrosit yang meningkat:
1) Bilirubin serum meningkat
8

2) Urobilinogen urin meningkat, urin kuning pekat


3) Strekobilinogen feses meningkat, pigmen feses menghitam
b. Gambaran peningkatan produksi eritrosit
1) Retikulositosis, mikroskopis pewarnaan supravital
2) hiperplasia eritropoesis sum-sum tulang
c. Gambaran rusaknya eritrosit:
1) morfologi : mikrosferosit, anisopoikilositosis, burr cell, hipokrom
mikrositer, target cell, sickle cell, sferosit.
2) fragilitas osmosis, otohemolisis
3) umur eritrosit memendek. pemeriksaan terbaik dengan labeling
crom. persentasi aktifikas crom dapat dilihat dan sebanding
dengan umur eritrosit. semakin cepat penurunan aktifikas Cr
maka semakin pendek umur eritrosit

6. Penatalaksanaan / Pengobatan
Lebih dari 200 jenis anemia hemolitik ada, dan tiap jenis
memerlukan perawatan khusus. Oleh karena itu, hanya aspek perawatan
medis yang relevan dengan sebagian besar kasus anemia hemolitik yang
dibahas di sini.

a. Terapi transfusi
 Hindari transfusi kecuali jika benar-benar diperlukan, tetapi mereka
mungkin penting bagi pasien dengan angina atau cardiopulmonary
terancam status.
 Administer dikemas sel darah merah perlahan-lahan untuk
menghindari stres jantung.
 Pada anemia hemolitik autoimun (AIHA), jenis pencocokan dan
pencocokan silang mungkin sulit. Gunakan paling tidak kompatibel
transfusi darah jika ditandai.. Risiko hemolisis akut dari transfusi
darah tinggi, tetapi derajat hemolisis tergantung pada laju infus..
Perlahan-lahan memindahkan darah oleh pemberian unit setengah
9

dikemas sel darah merah untuk mencegah kehancuran cepat


transfusi darah.
 Iron overload dari transfusi berulang-ulang untuk anemia kronis
(misalnya, talasemia atau kelainan sel sabit) dapat diobati dengan
terapi khelasi. Tinjauan sistematis baru-baru ini dibandingkan besi
lisan chelator deferasirox dengan lisan dan chelator deferiprone
parenteral tradisional agen, deferoxamine.

b. Menghentikan obat
 Discontinue penisilin dan agen-agen lain yang dapat menyebabkan
hemolisis kekebalan tubuh dan obat oksidan seperti obat sulfa (lihat
Diet).
 Obat yang dapat menyebabkan hemolisis kekebalan adalah
sebagai berikut (lihat Referensi untuk daftar lebih lengkap):
1. Penisilin
2. Sefalotin
3. Ampicillin
4. Methicillin
5. Kina
6. Quinidine
 Kortikosteroid dapat dilihat pada anemia hemolitik autoimun.

c. Splenektomi dapat menjadi pilihan pertama pengobatan dalam


beberapa jenis anemia hemolitik, seperti spherocytosis turun-temurun.
 Dalam kasus lain, seperti di AIHA, splenektomi dianjurkan bila
langkah-langkah lain telah gagal.
 Splenektomi biasanya tidak dianjurkan dalam gangguan hemolitik
seperti anemia hemolitik agglutinin dingin.
 Diimunisasi terhadap infeksi dengan organisme dikemas, seperti
Haemophilus influenzae dan Streptococcus pneumoniae, sejauh
sebelum prosedur mungkin.
10

d. Terapi pengobatan

Pengobatan pada AIHA dibedakan berdasarkan klasifikasi AIHA


yaitu warm dan cold AIHA.

1). Pengobatan Warm AIHA

a) Terapi Kortikosteroid

Kortikosteroid merupakan terapi lini pertama bagi pasien


dengan warm AIHA (Zanella et al,2012). Tujuan pemberian
kortikosteroid adalah untuk menekan antibodi anti-eritrosit yang
terbentuk oleh Sel B secara cepat, dan dengan adanya
autoantibodi dalam tubuh dapat menyebabkan terjadinya
hemolisis. Metil prednisolon sebagai imunosupresan pada kondisi
autoimun dengan dosis ≤ 30mg/kgBB/hari (Sinha and
Bagga,2008). Hidrokortison 8-40 mg/kg BB/hari secara intravena
dan diberikan secara terbagi (tiap 8 jam) atau prednison 2-10
mg/kg BB/hari secara peroral.Terapi kortikosteroid dosis tinggi
harus dipertahankan selama beberapa hari. Terapi kortikosteroidn
harus diturunkan secara perlahan selama 3-4 minggu
(Lanzkowsky,2005).

b) Intravenous Gammaglobulin (IVIG)


IVIG digunakan dengan dosis 5g/kg BB/hari (Lanzkowsky,2005).

c) Agen Sitotoksik

 Antimetabolites : Azathioprine (125 mg/hari), 6-merkaptopurin


dan thioguanine
 Alkylating agents : Klorambusil dan siklofosfamid (1g/m2
setiap 28 hari)
 Mitotic inhibitor : Vincristine dan vinblastine.
11

Terapi dengan agen sitotoksik harus digunakan hanya pada pasien


refrakter terhadap steroid dan splenektomi (Lanzkowsky,2005).

d) Terapi Imunosupresif

Siklosporin A , agen imunosupresif yang telah digunakan


secara luas dalam pengobatan penolakan organ hasil transplantasi
dan belum lama ini pada penyakit autoimun dan anemia
aplastik,mungkin memiliki peran dalam pengobatan immune-
mediated hemolysis, meskipun percobaan prospektif belum selesai
(Lanzkowsky,2005).

e) Terapi Hormonal

Telah terbukti hasil danazol (androgen sintetis) (200 mg 4


kali/hari), yang memiliki masculinizing effect. Efek awal danazol ini
tampaknya disebabkan karena penurunan ekspreksi aktivitas Fc-
reseptor makrofag dan danazol dapat menjadi alternatif untuk terapi
kortikosteroid pada beberapa pasien dengan IgG-induced immune
hemoliytic anemia (Lanzkowsky,2005).

f) Obat Antibodi Monoklonal

Pengobatan lain untuk penyakit autoimun adalah dengan


obat-obat antibodi monoklonal yang mempunyai mekanisme aksi
terhadap sel B, salah satunya adalah Rituximab. Rituximab
merupakan alternatif lain, dimana obat ini merupakan obat antibodi
monoklonal yang memiliki target aksi terhadap CD20. CD20
merupakan sejenis antigen yang dapat ditemukan pada sel B
abnormal. Rituximab bekerja dengan menjadi antigen bagi CD20
(Weiner, 2010). Sebelumnya rituximab sudah digunakan secara
luas untuk pengobatan reumathoid arthritis dan untuk penyakit-
penyakit autoimun lainnya. Obat ini terbukti sudah memberikan
hasil yang relevan pada pengobatan AIHA yang telah diuji secara
luas. Selama sepuluh tahun terakhir, Rituximab digunakan sebagai
12

obat anemia hemolitik autoimun pada penderita Leukimia Limfosit


Kronis. Studi terhadap penderita AIHA di Belgia menunjukkan
bahwa pemberian rituximab efektif sebagai terapi AIHA selain
dengan pemberian kortikosteroid (Dierickx, D., 2009).

Mekanisme aksi rituximab adalah dengan menjadi antigen


bagi CD20 yang diekpresikan di permukaan sel B abnormal. Sel B
abnormal yang menghasilkan IgG1 dan IgG3 selanjutnya akan
mengalami apoptosis secara perlahan karena adanya peran
rituximab merusak sel B tersebut. Selain itu mekanisme aksi
rituximab yang lain adalah adanya CDC (C1qC1rC1s) dan ADCC
(Antibody Dependent Cell Mediated Cytotoxicity) yang akan melisis
sel B abnormal. Hal ini sama halnya dengan terapi rituximab pada
Non Hodgkin’s Lymphoma(NHL), dimana pada kondisi tersebut sel
limfosit B mengalami proliferasi yag berlebihan sehingga timbul
keganasan. Berdasarkan analisis pada literatur yang ada, antibodi
monoklonal rituximab dapat digunakan sebagai pilihan terapi yang
valid dalam pengobatan AIHA, terutama yang terjadi pada pasien
NHL (D’Arena, 2006).

2) Pengobatan cold AIHA

Pengobatan sesuai dengan gangguan yang mendasar .


Transfusi darah mungkin diperlukan dengan pemanasan darah pada
suhu 37ºC selama pemberian dengan pemanasan koil atau air mandi
bertujuan untuk menghindari aktivasi suhu lebih lanjut dari antibodi.
Efficient in line blood warmers didesain untuk memberikan darah
dengan suhu 37ºC pada pasien . Pemanasan harus dimonitoring,
eritrosit dipanaskan terlalu lama akan cepat hancur dan sangat
berbahaya bagi pasien. Terapi cytotoxic agent dengan alkylating
agent seperti siklofosfamid dan klorambusil mungkin mampu
menurunkan titer cold aglutinins dan mengurangi tingkat hemolisis.
Pengobatan dengan kortikosteroid atau splenektomi umumnya tidak
13

efektif. Plasmapheresis mengurangi tingkat cold agglutinis


(Lanzkowsky,2005).

Gambar 1. Terapi pada Primer dan Sekunder Warm dan Cold AIHA
(Lechner and Ja”ger,2015)
14

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Anemia hemolitik adalah anemia yan di sebabkan oleh proses
hemolisis,yaitu pemecahahan eritrosit dalam pembuluh darah sebelum
waktunya.Pada anemia hemolitik, umur eritrosit menjadi lebih pendek
(normal umur eritrosit 100-120 hari), Anemia hemolitik dapat
disebabkan oleh 2 faktor yang berbeda yaitu faktor intrinsik & faktor
ekstrinsik.
1. Faktor Intrinsik
kelainan yang terjadi pada metabolisme dalam eritrosit itu sendiri
sel eritrosit. Kelainan karena faktor ini dibagi menjadi tiga macam
yaitu:
1) Gangguan struktur dinding eritrosit
2) Gangguan pembentukan nukleotida
3) Hemoglobinopatia
2. Faktor Ekstrinsik
kelainan yang terjadi karena hal-hal diluar eritrosit.
1) Akibat reaksi non imumitas : karena bahan kimia / obat
2) Akibat reaksi imunitas : karena eritrosit yang dibunuh oleh
antibodi yang dibentuk oleh tubuh sendiri.
3) Infeksi, plasmodium, boriella

B. Saran
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada
makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang
membangun bagi makalah ini, agar penulis dapat berbuat lebih baik
lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
15

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E,dkk.2000. Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta:


EGC
D’Arena, Giovanni., et al, 2006, Rituximab Therapy for Chronic Lymphotic
Leukimia-Associated Autoimmune Hemolytic Anemia, American
Journal of Hematology, 81;598-602.
Dierickx, D., et al, Rituximab in auto-immune haemolytic anemia and
immune thrombocytopenia purpura: a Belgian retrospecktive
multicentric study, Journal of Internal Medicine, 266; 484 – 491.
Handayani Wiwik dan Andi Sulistyo. 2008. Asuhan Keperawatan pada
Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta : Salemba
Medika
Lanzkowsky,P.,2005, Manual of Mediatric Hematology and Oncology 4th
edition,California : Elsevier Academic Press
Lechner,K. and Ja’’ger,U.2015,How I treat autoimmune hemoliytic
anemias in adult. Blood,116 (11) : 1831-1835
Nanda.2009.Diagnosa Keperawatan 2009-2011. Jakarta:EGC.
Price, Sylvia. 2010. Patofisiologis : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.
Jakarta : EGC
Sinha,A. and Bagga A.,2008.Pulse Steroid Therapy, Indian Journal of
Pediatrics, (75): 1057-1063
Smeltzer, Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth. Edisi 8. Jakarta, EGC.
Weiner, George J., 2010, Rituximab: mechanism of action, National
Institute of Health, 47(2);115 – 123.
Zanella,A. and Barcelinni, W., 2012.Treatment of autoimmune hemolytic
anemias.Haemotologica,99(10):1547