Anda di halaman 1dari 21

JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201

SEMISOLID 8

INFUSE RINGER LAKTAT


I. Nama Sediaan
Nama Generik : Infuse Ringer Laktat
Nama Dagang :

II. Kekuatan Sediaan


 Menurut USP (2008:3138) Formula Standar:
Tiap 100 ml Ringer Laktat mengandung
0,31% Sodium Laktat Anhidrat
0,6% NaCl
0,03% KCl
0,02% CaCl2 dihidrat
HCl/NaOH adjust pH 7,4\
Aqua pro injeksi ad. 100 mL
 Kekuatan sediaan Infuse Ringer Laktat
Natrium Laktat 0.31 %
NaCl 0.6%
KCl 0.03%
CaCl2 0.02%
Aqua Pro I. ad 500 ml

III. Preformulasi Zat Aktif


III.1. Natrium Laktat
Pemerian Tidak berwarna , bening ; tidak berbau; atau sedikit berbau
: dengan bau garam yang khas ;higroskopis.
Kelarutan : Larut dalam methanol 95% dan dalam air, kloroform dan
gliserol. Praktis tidak larut dalam kloroform,eter dan
minyak.
Titik lebur : 163 - 165°C
pH : 5-7
Stabilitas : Stabil dalam air.
Inkompatibilitis: Novabison sodium,oksitetrasiklin HCl, sodium

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 1 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

karbonat,sodium kalsium edetal,sulfanidin sodium.


Khasiat : Buffering agent, Isotonis agent.
Dosis : -
(Rowe,2009)

III.2. Kalium Klorida


Pemerian Hablur bentuk memanjang, prisma atau kubus,tidak
: berwarna,atau serbuk granul putiih;tidak berbau;rasa
garam;stabil diudara;larutan bereaksi netral terhadap lakmus.
Kelarutan : Mudah larut dalam air;lebih mudah larut dalam air
mendidih;tidak larut dalam etanol.
Titik lebur : -
pH Antara 4-8
:
Stabilitas stabil diudara; stabil dan harus disimpan dalam wadah
: tertutup rapat, ditempat sejuk dan kering.
Inkompatibilitis: Larutan KCl IV inkompatibel dengan protein
hidrosilat,perak dan garam merkuri.
Khasiat : zat antimikroba.
Dosis : konsentrasi kalium pada rute IV tidak lebih dari 40 mEq/L
dengan kecepatan 20 mEq/jam (untuk hipokalemia). Untuk
mempertahankan konsentrasi kalium pada plasma 4 mEq/L
(DI,2003:1410). K+ dalam plasma = 3,5-5 mEq/L (steril
dosage from hal 251).
(Farmakope Indonesia Edisi Keempat,1995:477)

III.3. Natrium Klorida


Pemerian Hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur
: putih; rasa asin.
Kelarutan : Mudah larut dalam air; sedikit lebih mudah larut dalam air
mendidih; larut dalam gliserin;sukar larut dalam etanol.
Titik lebur : 801oC (1047 K)
pH : antara 5,0 dan 7,5
Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat
menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas.
Inkompatibilitis: Logam Hg,Fe dan Ag.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 2 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

Khasiat : pengganti Na+ dan Cl- dalam tubuh.


Dosis : Lebih dari 0,9% (Excipient hal 440). Injeksi IV 3-5% dalam
100ml selama 1 jam (DI 2003 hal 1415). Injeksi NaCl
mengandung 2,5-4 mEq/ml. Na+ dalam plasma = 135-145
mEq/L.
(Farmakope Indonesia Edisi Keempat,1995:584-586)

III.4. Kalsium klorida dihidrat


Pemerian Granul atau serpihan ; putih, keras ; tidak berbau.
:
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol, dan dalam etanol
mendidih; sangat mudah larut dalam air panas.
Titik lebur : -
pH : Antara 4,5 dan 9,2
Stabilitas : Injeksi kalsium dilaporkan inkompatibel dengan larutan IV
yang mengandung banyak Zat aktif.
Inkompatibilitis: Karbonat, Sulfat, Tartrat, Sefalotin sodium, CTM dengan
tetrasiklin membentuk kompleks.
Khasiat : Zat penyerap air dan antimikroba.
Dosis : -
(Farmakope Indonesia Edisi Keempat,1995: 160)

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 3 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

IV. Pengembangan Formula


IV.1. Zat aktif
Infus cairan intravena ( intravenous fluids infusion ) adalah pemberian
sejumlah cairan kedalam tubuh, melalui sebuah jarum, kedalam sebuah pembuluh
vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat
makanan dari tubuh.
Infus Ringer laktat larutan steril dari kalsium klorida, kalium klorida,
natrium klorida, dan natrium laktat dalam air untuk infus. (Dirjen POM, 2014)
karena zat-zat tersebut bersifat garam maka infus ringer laktat memiliki kelarutan
yang baik dalam air. Sediaan infus ringer laktat dibuat dalam volume 500 mL.
Pada sediaan infus ini, Natrium Laktat berfungsi sebagai pengganti
natrium bikarbonat dalam larutan untuk terapi elektrolit dan cairan parenteral dan
sebagai sumber potensial kation tercampurkan untuk memperbaiki metabolik
asidosis. NaCl pada infus Ringer Laktat berfungsi sebagai pengganti elektrolit
untuk mengganti cairan tubuh yang kurang. Kalium Klorida dalam infus Ringer
Laktat berfungsi untuk mengelevasi level kalium normal plasma sebagai
pengobatan intoksikasi digitalis, dan ion Ca dalam CaCl2 dalam infus Ringer
Laktat berfungsi dalam pengaturan reaksi hipersensitivitas khususnya urtikaria
dan edema angionneurik dan untuk pemulihan elektrolit (Genaro, 1998:817-820).
IV.2. Pembawa
Pada sediaan infus ringer laktat pembawa yang digunakan adalah
aquabidest bebas pirogen. Digunakan aquabidest bebas pirogen karena zat aktif
pada infus ranger laktat memiliki kelarutan yang baik dalam air, memiliki
kemiripin dengan cairan tubuh, dan infus yang digunakan dalam volume besar
(lebih dari 100 mL) sehingga akan sangat banyak volume sediaan yang masuk ke
dalam tubuh sehingga digunakan air dimana air ini merupakan pembawa yang
kompatibel dengan tubuh dan tidak bersifat toksik. Aquabidest juga sudah
disterilisasi jadi bebas dari mikroba dan partikel padat sehingga aman untuk
digunakan dan tidak akan menyumbat pembuluh darah.
IV.3. Zat tambahan

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 4 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

Karena sediaan Infus Ringer Laktat harus bebas dari pirogen maka
ditambahkan Karbon aktif. karbon aktif adalah salah satu zat yang dapat
menghilangkan pirogen. Pirogen merupakan zat yang dapat menyebabkan demam
sehingga adanya pirogen dalam infus dapat membahayakan pasien. Karbon aktif
dapat menyerap pirogen yang akan membahayakan tubuh jika sampai masuk
kedalam pembuluh darah. Karbon aktif yang digunakan sebanyak 0,1% dari
volume total kemudian dipanaskan selama 10-15 menit dengan suhu 60-70ºC
sambil diaduk.
Pada sediaan infus ringer laktat ditambahkan pengatur tonisitas. Sediaan
infus harus isotonis karena isotonis merupakan syarat mutlak yang sangat
diperhatikan terutama untuk sediaan dengan volume besar (>10mL). agar pada
saat masuk kedalam tubuh tidak terjadi hemolisa sel darah. Osmolaritas Infus
Ringer Laktat yang harus dicapai : 270mOsm/L
Pada sediaan infus ringer laktat ditambahkan adjust pH karena sediaan
tidak sesuai dengan pH cairan darah, yaitu pH 7,4. Ditambahkan penadjust pH
agar sediaan menjadi isohidris. Zat yang dapat ditambahkan adalah asam sitrat
ketika sediaan larutan injeksi pHnya di atas 7,4 (terlalu basa) atau ditambahkan
NaOH ketika sediaan larutan injeksi pHnya di bawah 7,4 (terlalu asam).

V. Perhitungan Tonisitas dan Dapar


5.1 Perhitungan Persen Zat
0,31
Na Laktat = x 525 mL = 1,6275 gram
100
0,03
KCl = x 525 mL = 0,1575 gram
100
0,02
CaCl2 = x 525 mL = 0,105 gram
100
0,6
NaCl = x 525 mL = 3,15 gram
100
Volume apa setelah ditambahkan 5% = 500 ml + (5% x 500 ml)
= 500 ml + 25 ml
= 525 ml

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 5 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

5.2 Perhitungan Osmolaritas


g
Na Laktat = liter zat terlarut x 1000 x Jumlah ion
BM zat terlarut
1,6275 g/0,525 L
= x 1000 x 2
112,06
= 55,3 M osmole/L
g
KCl = liter zat terlarut x 1000 x Jumlah ion
BM zat terlarut
0,1575 g /0,525 L
= x 1000 x 2
74,5
= 8,05 M osmole/L
g
CaCl2 = liter zat terlarut x 1000 x Jumlah ion
BM zat terlarut
0,102 g/0,51 L
= x 1000 x 3
147,02
= 4,08 M osmole/L
g
NaCl = liter zat terlarut x 1000 x Jumlah ion
BM zat terlarut
3,15 g/0,525 L
= x 1000 x 2
58,44
= 205,34 M osmole/L
Jumlah total = 55,3 + 8,05 + 4,08 + 205,34 = 272,77 (Isotonis)
Isotonis dilihat dari tabel kaitan antara osmolaritas dan tonisitas :
Osmolaritas ( M Osmole/L) Tonisitas
>350 Hipertonis
329-350 Sedikit Hipertonis
270-328 Isotonis
250-269 Sedikit Hipotonis
0-249 Hipotonis

VI. Formula Akhir


R/ Natrium Laktat 0.31 %

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 6 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

NaCl 0.6%
KCl 0.03%
CaCl2 0.02%
Aquabidest ad 500 ml
m. f. infus.

VII.Preformulasi Eksipien
VII.1. Karbon Adsorben
Pemerian Serbuk,hitam;tidak berbau. Diperoleh dari residu destruktif
: berbagai bahan organic, diolah untuk meningkatkan
kapasitas adsorbs zat warna organic dan basa nitrogen
(Dirjen POM,1995:1128).
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol 95%.
Titik lebur : -
pH : -
Stabilitas : Dapat mengadsorbsi air.
Inkompatibilitis: Dapat menurunkan ketersediaan hayati beberapa obat seperti
loperamid dan riboflavin. Reaksi hidrolisis dan oksidasi
dapat dinaikkan.
Khasiat : Adsorbsi pirogen.
Dosis : -
(Farmakope Indonesia Edisi Ketiga,1979:133)

VII.2. Aquabidest Bebas Pirogen


Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna ; tidak berbau;tidak berasa.
Kelarutan : -
Titik beku/didih : 0/100ºC
pH : 7 (netral)
Stabilitas : Dapat stabil dalam semua keadaan fisika (es,cair,padat).
Inkompatibilitis : Kompatibel dengan zat aktif dan semua bahan tambahan.
Khasiat : -
Dosis : -
(Dirjen POM,1979: 97);(Rowe,et all.,2009:766)

VIII. Penentuan Metode Strerilisasi

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 7 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

Metode Sterilisasi atau teknik sterilisasi yang tepat untuk sediaan infus
ringer laktat ini yaitu metode sterilisasi akhir dengan metode sterililasi panas
lembab menggunakan autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit. Dilakukan
metode sterilisasi akhir karena bentuk sediaan berupa larutan dengan pembawa air
sehingga kompatibel dengan uap air panas. Zat aktif juga memiliki stabilitas
dengan sediaan tahan terhadap pemanasan (termostabil). Tujuan sterilisasi untuk
menghilangkan mikroorgaanisme, pada sediaan infus ini dilakukan filtrasi
membran untuk membebaskan partikel asing. Pada proses sebelum dilakukan
sterilisasi maka dilakukan terlebih dahulu proses depirogenisasi untuk
menghilangkan pirogen.
.
8.1 Metode Sterilisasi Alat

Alat Metode Sterilisasi Alasan Metode Sterilisasi


Pipet Tetes Sterilisasi Panas Pada pipet tetes terdapat
Lembab (Autoklaf tutup karet yang dimana
121oC, 15 menit) jika di sterilisasi dengan
metode sterilisasi panas
kering menggunakan oven
akan menyebabkan tutup
karet meleleh karena tidak
tahan terhadap pemanasan
pada suhu yang tinggi
dengan waktu yang lama
sehingga dipilihlah metode
ini untuk sterilisasi.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 8 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

Gelas ukur dan Pipet Sterilisasi Panas Gelas ukur dan pipet ukur
Ukur Lembab (Autoklaf termasuk kedalam alat
121oC, 15 menit) presisi yang dianjurkan
untuk di sterilisasi
menggunakan metode
sterilisasi panas lembab
dengan autoklaf karena jika
dilakukan sterilisasi dengan
menggunakan metode
sterilisasi panas kering
dengan oven maka akan
menyebabkan alat tersebut
memuai sehingga ukuran /
angka yang tertera pada alat
akan berubah dan
keakuratan dari alat akan
berkurang.
Kaca arloji, Sterilisasi Panas Dilakukan sterilisasi
Erlenmeyer, Corong, Kering (Oven 160- menggunakan metode
batang pengaduk, dan 170oC, 1-2 jam) sterilisasi panas kering
Gelas kimia dengan oven karena bukan
merupakan alat presisi yang
akan berubah ukurannya
atau memuai pada
pemanasan suhu tinggi.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 9 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

8.2 Metode Sterilisasi Bahan

Bahan Metode Sterilisasi Alasan Metode Sterilisasi


Natrium Laktat Metode sterilisasi Karena Natrium Laktat tahan
akhir dengan Panas terhadap pemanasan pada
Lembab (Autoklaf, suhu tinggi dan dapat
121 oC, 15 menit). bercampur dengan pelarut air.

KCl Metode sterilisasi Karena Kalium klorida tahan


akhir dengan Panas terhadap pemanasan pada
Lembab (Autoklaf, suhu tinggi dan dapat
121 oC, 15 menit). bercampur dengan pelarut air.
NaCl Metode sterilisasi Karena Natrium klorida tahan
akhir dengan Panas terhadap pemanasan pada
Lembab (Autoklaf, suhu tinggi dan dapat
121 oC, 15 menit). bercampur dengan pelarut air.
CaCl2 Metode sterilisasi Karena kalsium klorida tahan
akhir dengan Panas terhadap pemanasan pada
Lembab (Autoklaf, suhu tinggi dan dapat
121 oC, 15 menit). bercampur dengan pelarut air.
Aquabidest Metode sterilisasi Karena zat tahan terhadap
akhir dengan Panas pemanasan pada suhu tinggi
Lembab (Autoklaf, dan dapat bercampur dengan
121 oC, 15 menit). pelarut air.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 10 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

IX. Perhitungan dan Penimbangan


9.1 Perhitungan Bahan
0,31
Na Laktat = x 525 mL = 1,6275 gram
100
0,03
KCl = x 525 mL = 0,1575 gram
100
0,02
CaCl2 = x 525 mL = 0,105 gram
100
0,6
NaCl = x 525 mL = 3,15 gram
100
Aquadest ad 525 mL
9.2 Penimbangan Bahan
Nama Bahan Bobot
Na. Laktat 1,6275 gr
KCL 0,1575 gr
CaCl2 0,105 gr
NaCl 3,15 gr
Aqua p.i Ad 525 mL

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 11 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

X. Prosedur Pembuatan
10.1 Prosedur Pembuatan

Natrium laktat, KCl, CaCl2, dan NaCl ditimbang menggunakan kaca


arloji sesuai dengan data penimbangan.

Zat dilarutkan dalam beker gelas lalu diaduk menggunakan batang


pengaduk dengan pelarut aquabidest.

Karbon aktif digerus sejumlah 0,1 % b/v, dimasukkan ke dalam beker gelas,
selanjutnya ditambahkan aquabidestilat hingga 510 ml.

Setelah seluruh zat larut, beker gelas disisipi dengan batang pengaduk.
Botol infus dikalibrasi dengan volume 510 ml.

Larutan dipanaskan diatas api bunsen pada suhu 60 – 70 o C hingga


hangat-hangat kuku sambil diaduk. Kegiatan ini dilakukan diluar lemari
steril.

Larutan disaring ke labu erlenmeyer dengan corong dan kertas saring yang
sudah dibasahi.

Larutan dituangkan ke dalam kolom melalui saringan G3 dengan


bantuan pompa penghisap.

Filtrat hasil dari kolom dimasukkan ke dalam botol infus steril yang
telah dkalibrasi. Botol ditutup dengan flakon steril, diikat dengan
simpul champagne.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 12 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

Dilakukan sterilisasi akhir dengan autoklaf pada suhu 121 oC selama 15


menit.

Pemberian etiket.

10.2 Prosedur Evaluasi


a. Penetapan pH
Penetapan pH dilakukan dengan menggunakan kertas pH meter. Kertas pH
meter dicelupkan ke dalam infus yang telah dibuat kemudian dicocokkan kertas
pH dengan indikatornya sehingga diperoleh pH akhir.
b. Uji kejernihan larutan
Pemeriksaan dilakukan terhadap visual di bawah penerangan cahaya yang
baik, dan berlatar belakang warna hitam. Sediaan harus dipastikan benar – benar
jernih dan tidak ada partikel – partikel yang terlihat
c. Uji kebocoran
Pemeriksaan dilakukan dengan membalikan botol infus 180 derajat. Jika
terjadi kebocotan maka cairan infus akan menetes keluar dari botolnya secara
perlahan.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 13 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

XI. Hasil Evaluasi Sediaan


Jenis Evaluasi Hasil Pengamatan

Penetapan pH pH 7

Uji kejernihan larutan


Jernih (+++)

Uji Kebocoran
Tidak bocor

Keterangan :
+++ : Sangat jernih
++ : Agak keruh
+ : Keruh
- : Tidak ada

XII.Wadah dan Kemasan


Wadah : Botol 500 ml
Kemasan :

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 14 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 15 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

XIII. Pembahasan
Infus merupakan injeksi volume besar dengan volume yang lebih dari
100ml. Infundabilia atau infus intravena adalah sediaan steril berupa larutan atau
emulsi, bebas pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah, dan
disuntikkan langsung kedalam vena dalam volume relatif banyak (Syamsuni,
2006: 228).
Prinsip kerja dari cairan infus sama seperti sifat dari air yaitu mengalir dari
tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah dipengaruhi oleh gaya grafitasi
bumi sehingga cairan akan selalu jatuh kebawah. Pada sistem infus laju aliran
infuse diatur melalui klem selang infus, jika klem digerakan untuk mempersempit
jalur aliran pada selang maka laju cairan akan menjadi lambat ditandai dengan
sedikitnya jumlah tetesan infus/menit yang keluar dan sebaliknya bila klem
digerakan untuk memperlebar jalur aliran pada selang infus maka laju cairan infus
akan menjadi cepat ditandai dengan banyaknya jumlah tetesan .
Pemberian cairan bisa melalui oral, ataupun melalui jalur intravena dengan
pemasangan infus. Secara umum, keadaan-keadaan yang dapat memerlukan
pemberian cairan infus adalah (UNAND, 2011):
a. Kondisi jaur enteral (via oral) tidak memungkinkan, missal pada pasien
penurunan kesadaran, kejang.
b. Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen
darah).
c. Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen
darah).
d. Fraktur (patah tulang), khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha)
(kehilangan cairan tubuh dan komponen darah).
e. Serangan panas (heat stroke) (kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi).
f. Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi).
g. Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh).
h. Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung (kehilangan cairan tubuh
dan komponen darah) .
Jenis infus yang dipasang bisa berupa:

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 16 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

a. Infus set dengan tetesan mikro (untuk anak usia <1 tahun) (1 cc = 60 tetes
mikro).
b. Infus set dengan tetesan makro (1 cc = 20 tetes makro).
c. Transfusi set (1 cc = 15 tetes).
Pada praktikum kali ini membuat sediaan ringer laktat yang mengandung
Natrium laktat, KCl, CaCl2, dan NaCl sebagai zat aktifnya. Natrium Laktat
berfungsi sebagai pengganti natrium bikarbonat dalam larutan untuk terapi
elektrolit dan cairan parenteral dan sebagai sumber potensial kation tercampurkan
untuk memperbaiki metabolik asidosis. NaCl pada infus Ringer Laktat berfungsi
sebagai pengganti elektrolit untuk mengganti cairan tubuh yang kurang. Kalium
Klorida dalam infus Ringer Laktat berfungsi untuk mengelevasi level kalium
normal plasma sebagai pengobatan intoksikasi digitalis, dan ion Ca dalam CaCl2
dalam infus Ringer Laktat berfungsi dalam pengaturan reaksi hipersensitivitas
khususnya urtikaria dan edema angionneurik dan untuk pemulihan elektrolit
(Gennaro, 1998:817-820).
Formula yang digunakan merujuk pada jurnal terdahulu dan Farmakope
belanda. Kombinasi formula umum yang digunakan untuk sediaan infuse Ringer
Laktat terdiri dari garam-garam karena sesuai dengan kebutuhan tubuh dan
menjadikan kondisi sediaan isotonis sehingga tidak diperlukan penambahan zat
pengisotonis. Fungsi infus ringer laktat adalah untuk mengembalikan
keseimbangan elektrolit dalam tubuh karena terdiri dari ion-ion elektrolit yang
memiliki kemiripan dengan caritan dalam tubuh.
Elektrolit adalah senyawa di dalam larutan yang berdisosiasi menjadi
partikel yang bermuatan (ion) positif atau negatif. Ion bermuatan positif disebut
kation dan ion bermuatan negatif disebut anion. Keseimbangan keduanya disebut
sebagai elektronetralitas. (Wilson, 1995: 283-301). Pemeliharaan homeostasis
cairan tubuh adalah penting bagi kelangsungan hidup semua organisme.
Pemeliharaan tekanan osmotik dan distribusi beberapa kompartemen cairan tubuh
manusia adalah fungsi utama empat elektrolit mayor, yaitu natrium (Na +), kalium
(K+), klorida (Cl-), dan bikarbonat (HCO3-). (Scott et al, 2006: 93-95)

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 17 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

Hal pertama yang dilakukan dalam pembuatan sediaan ini adalah semua
bahan ditimbang sesuai dengan perhitungan hasil penimbangan. Semua bahan
dicampurkan dalam baker gelas dan di ad aquabidest hingga 510 ml. Beker gelas
berfungsi sebagai tempat penampung larutan dan pengadukan akan meningkatkan
kelarutan zat sehingga zat harus diaduk. Selanjutnya dimasukan karbon adsorben
yang sudah digerus kasar sebelumnya. Karbon adsorben berfungsi sebagai
antipirogen karena dalam infus harus bebas pirogen. Pirogen adalah senyawa
kompleks polisakarida dimana mengandung radikal yang ada unsure N dan P.
selama radikal masih terikat, selama itu masih dapat menimbulkan demam dan
pirogen bersifat termostabil. Pirogen sendiri dapat berasal dari aquadest yang
dibiarkan lama dan tercemar bakteri serta udara ataupun bisa berasal dari bahan
bahan tertentu seperti glukosa,NaCl,Na-Sitrat (Anief,1997:204). Karbon adsorben
dapat mencegah terbentuknya thrombus dan menghilangkan pirogen karena
mekanisme kerja dari karbon adsorben ini yaitu menyerap pirogen.
Selanjutnya larutan dipanaskan sambil diaduk kira-kira sampai 60-70ºC.
Pemanasan dan pengadukan berfungsi untuk mempercepat proses pelarutan zat
aktif dan larutan menjadi homogen. Setelah dipanaskan, larutan disaring melalui
saringan G3 yang dibantu dengan adanya vakum. Vakum berfungsi untuk
mempercepat proses penyaringan dengan cara menurunkan tekanan dalam sistem.
Pemakuman digunakan saringan khusus yaitu whatman 0,45 µm yang terbuat dari
nilon. Penggunaan kertas saring berfungsi untuk mencegah partikel-partikel asing
masuk kedalam sediaan infus dan menyaring karbon aktif. Setelah disaring larutan
infus dimasukan kedalam botol ukuran 500mL yang telah dikalibrasi. Lalu,
dilakukan pengecekan pH dan diperoleh pH 6. Oleh karena itu diperlukan
penambahan basa yaitu NaOH meng-adjust pH agar mendekati pH darah yaitu
7,4. Pada infus tidak dilakukan penambahan dapar disebabkan karena volume
yang diberika pada pasien relative sangat tinggi. jika dilakukan pendaparan, maka
kemungkinan pH tubuh pasien pun akan berubah dan hal ini berbahaya untuk
tubuh. Oleh karena itu, sediaan infus hanya dilakukan peng-adjustan pH. Botol
infus ditutup dengan flakon steril, diikat dengan simpul champagne. Simpul

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 18 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

champagne dapat menutup botol dengan rapat sehingga tidak terjadi kebocoran
saat dimasukan autoclave.
Proses sterilisasi yang digunakan adalah sterilisasi akhir dengan metode
panas lembab menggunakan autoclve suhu 121ºC selama ± 15 – 30 menit.
Sterilisasi bertujuan untuk menghilangkan jika dalam sediaan ada cemaran atau
kontaminan mikroba saat pengerjaan. Alasan mengapa digunakan temperatur
121°C karena pada saat itu menunjukkan tekanan 2 bar yang akan membantu
membunuh mikroorganisme dalam suatu benda. Untuk tekanan pada atmosfer
pada ketinggian di permukaan laut air mendidih pada temperatur 100°C,
sedangkan autoklaf yang diletakkan pada ketinggian yang sama, menggunakan
tekanan 2 bar maka air akan mendidih pada temperatur 121°C. Pada saat sumber
panas dinyalakan, air yang ada di dalam autoklaf lama kelamaan akan mendidih
dan uap air yang terbentuk akan mendesak udara yang mengisi autoklaf. Setelah
semua udara dalam autoklaf diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup
sehingga tekanan udara dalam autoklaf naik. Pada saat tercapai tekanan dan
temperatur yang sesuai, maka proses strerilisasi dimulai dan timer mulai
menghitung waktu mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas
dimatikan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga tercapai tekanan normal.
(Anggari, 2008)
Pada sediaan dilakukan evaluasi sediaan infus meliputi evaluasi pH,
kejernihan, dan uji kebocoran. Sediaan di cek pH nya dengan menggunakan kertas
pH universal infus ringer laktat memiliki pH 6 lalu di adjust menjadi pH 7
mendekati pH darah. Setelah itu uji kejernihan larutan. Pada saat pengujian
kejernihan, larutan sediaan infus yang dibuat sangat jernih ketika dimasukkan
kedalam botol. Lalu kemudian uji kebocoran sediaan. Sediaan yang dibuat
memiliki wadah yang tertutup rapat dan ketika botol sediaan diputas 180 derajat
tidak terjadi kebocoran dan cairan infus tidak keluar ataupun menetes.

XIV. Kesimpulan
Sediaan infus ringer laktat adalah sediaan yang diberikan secara intravena
yang dibuat steril serta isotonis dan didepirogenisasi oleh carbo adsorben. Fungsi

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 19 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

infus ringer laktat adalah untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit dalam


tubuh karena terdiri dari ion-ion elektrolit yang memiliki kemiripan dengan
caritan dalam tubuh. Sediaan infus ringer laktat yang dibuat memenuhi
persyaratan isohidris karena pH nya 7, jernih tidak mengandung partikel asing dan
juga tidak terjadi kebocoran pada wadah.

XV. Daftar Pustaka


Anief., Moh. (1997). Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press
Catur putri anggari. 2008. Mikrobiologi dasar. Universitas jenderal soedirman:
purwekerto.
Dirjen POM, (1979), Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI, Jakarta.
Dirjen POM, (1995), Farmakope Indonesia Edisi IV, Depkes RI, Jakarta.
Gennaro, A.R., (1998), Remington's Pharmaceutical Science 18th Edition, Marck
Publishing Co, Easton.
Martin, A., dkk, (1990), Farmasi Fisika Edisi III, UI Press : Jakarta.
Parfitt,K., (1994), Martindale The Complete Drug Reference 32nd Edition,
Pharmacy Press.
Rowe, et al., (2009), Handbook of Pharmaceutical Excipients Sixth Edition, The
Pharmaceutical Press, London.
Scott M.G., LeGrys, V.A. and Klutts J,‘Electrochemistry and Chemical Sensors
and Electrolytes and Blood Gases’’ In: Tietz Text Book of Clinical
Chemistry and Molecular Diagnostics, 4th Ed. Vol.1, Elsevier Saunders
Inc., Philadelphia, 2006, pp. 93-95.
Syamsuni, 2006, Farmasetika Dasar Dan Hitungan Farmasi, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta. 29 – 31.
Wilson L.M, ‘Keseimbangan Cairan dan Elektrolit serta Penilaiannya’ dalam:
Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Edisi ke-4, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1995, hh. 283- 301.

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 20 dari
JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUID DAN 201
SEMISOLID 8

Laboratorium Farmasi Terpadu Unit E – TSLS | Program Studi Farmasi | Fakultas


MIPA – Unisba 21 dari