Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Rasionalisasi pentingnya CBR
Mengkritik buku merupakan kegiatan ilmiah yang dilakukan untuk
memberikan tanggapan dan penilaian terhadap isi sebuah buku. Adapun tujuan
dari mengkritik buku ini adalah memberikan informasi atau pemahaman yang
komprehensif tentang apa yang tampak dan terungkap dalam sebuah buku.
Selain itu juga memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah buku itu
pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. Kritikal buku
bermanfaat untuk dapat menambah pengetahuan intisari dari buku yang dikritik.
Pembaca yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang keseluruhan isi buku
tersebut selanjutnya akan mencari di toko-toko atau situs yang menjual buku-
buku itu.
Dalam Critical Book Report ini, penulis mereview materi Kisi Resiprok
dan mengkritik buku yang berjudul Pendahuluan Fisika Zat Padat yang
dikarang oleh Prof. Drs Motlan, M.Sc., Ph.D.

1.2 Tujuan penulisan CBR


1. Menyelesaikan tugas mata kuliah Pengantar Fisika Zat Padat.
2. Membantu pembaca mengetahui gambaran dan penilaian umum dari sebuah
buku atau hasil karya lainnya secara ringkas.
3. Mengungkapkan keunggulan dan kelemahan suatu penulisan atau sistem
penulisan.

1.3 Manfaat CBR


1. Menambah pengetahuan dan pemahaman di mata kuliah Pendahuluan Fisika
Zat Padat..
2. Menimbulkan minat untuk membaca dan membeli buku.

1.4 Identitas Buku yang di Review


1. Judul : Pendahuluan Fisika Zat Padat
2. Pengarang/Editor : Prof. Drs. Motlan, M.Sc.,Ph.D
3. Penerbit : FMIPA UNIMED
4. Kota terbit : Medan
5. Tahun terbit : 2015

1
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU

2.1 Buku 1
1. Difraksi Gelombang Oleh Kristal
Difraksi sinar oleh kristal secara sederhana diperlihatkan oleh W.L.Bragg.
difraksi terjadi ketika pantulan dari bidang paralel dari atom mengalami
interferensi konstruktif. Interferensi konstruktif terjadi perbedaan lintasan
merupakan kelipatan bilangan n dan panjang gelombang λ, jadi:
2𝑑 sin 𝜃 = 𝑛λ
Persamaan ini dikenal dengan hokum Bragg. Pantulan Bragg hanya dapat
terjadi hanya untuk λ ≤ 2d. inilah sebabnya kita tak dapat menggunakan
cahaya tampak. Hukum Bragg adalah konsekuensi dari keperiodikan kisi.
2. Amplitudo Hamburan Gelombang
Kristal adalah invariant dalam setiap translasi T = u1 a + u2 b + u3 c,
dimana u1 , u2 ,u3 adalah bilangan interger dan a,b,c adalah sumbu kristal.
3. Analisis Fourier
Densitas jumlah electron n(r) adalah fungsi periode dari r dengan periode
a,b,c di dalam ke riga sumbu Kristal, Jadi:
n(r + T) = n(r)
Keperiodikan seperti ini menciptakan situasi ideal untuk analisa fourier.
Sifat ideal yang paling menarik berhubungan langsung dengan komponen
fourier dari densitas electron. Suatu fungsi n(x) dengan perioda a dalam
arah x dalam 1 dimensi. Lalu kembangkan n(x) dalam fungsi seri sinus
dan cosinus.
2𝜋𝑝𝑥 2𝜋𝑝𝑥
𝑛𝑥 = 𝑛0 + Σ [𝐶𝑃 cos ( ) + 𝑁𝑃 sin ( )]
𝑎 𝑎
Dimana p adalah interger positif CP,SP adalah konstanta riel, yang disebut
koefisien ekspansi fourier. Faktor 2𝜋/a untuk memastikan bahwa n(x)
mempunyai periode a:
2𝜋𝑝𝑥 2𝜋𝑝𝑥
𝑛(𝑥 + 𝑎) = 𝑛0 + Σ [𝐶𝑃 cos ( + 2𝜋𝑝) + 𝑆𝑃 sin ( + 2𝜋𝑝)]
𝑎 𝑎
2𝜋𝑝𝑥 2𝜋𝑝𝑥
= 𝑛0 + Σ [𝐶𝑃 cos1 ( ) + 𝑆𝑃 sin ( )] = 𝑛(𝑥)
𝑎 𝑎
4. Vektor Kisi Resiprocal
Setipa struktur kristal mempunya dua kisi, kisi kristal dan kisi reciprocal.
Vektor dalam kisi langsung mempunyai dimensi panjang, vektor dalam kisi
reciprocal mempunyai dimensi 1/panjang. Kisi reciprocal adalah kisi dalam
ruang fourier yang berhubungan dengan Kristal. Vektor gelombang
digambar dalam ruang fourier, sehingga setiap posisi di dalam ruang fourier
mempunyai arti deskripsi gelombang, tetapi ada arti yang signifikan
terhadap titik yang didefinisikan vektor G berhubungan dengan struktur

2
Kristal. Representasi fourier dari suatu fungsi periode dan kisi Kristal
hanya dapat berisi kmpnen nGexp(iG.r) pada vektor kisi reciprocal G.
5. Kondisi Difraksi
Untuk gelombang difraksikan perbedaan sudut fase adalah –k’.r. perbedaan
sudut fase total adalah (k –k’).r, dan gelombang yang dihamburkan dari Dv
pada r mempunyai beda faktor fase exp[i(k-k’)] relative terhadap
gelombang yang dihamburkan dari elemen volume asal 0.
6. Persamaan Laue
Persamaan Δk = G, dapat digantikan dengan persamaan Laue. Ambil
produk scalar dari kedua Δk dan G berturut-turut dengan a1 , a2 ,a3
a1 . Δk = 2π𝑣1 ; a2 . Δk = 2π𝑣2 ; a3 . Δk = 2π𝑣3
Persamaan ini mempunyai interpretasi geometri yang sederhana.
2.2 Buku 2
1. Pendahuluan

Eksperimen difraksi sinar-x yang pertama dilakukan oleh Herren Friedrich


dan Knipping menggunakan kristal tembaga sulfat dan berhasil memberikan
hasil pola difraksi pertama yang kemudian menjadi induk perkembangan
difraksi sinar x selanjutnya. Difraksi sinar-x merupakan proses hamburan
sinar-x oleh bahan kristal. Pembahasan mengenai difraksi sinar-x mencakup
pengetahuan yang berhubungan dengan hal-hal berikut ini:

a. Pembentukan sinar-x,

b. Hamburan (scattering) gelombang elektromagnetik

c. Sifat kekristalan bahan (kristalografi).

2. Difraksi Sebagai Prosedur Untuk Menyelidiki Kristal


Agar dapat diselidiki struktur dari kristal, seorang ahli fisika Von Laue pada
tahun 1912. Dia menyarankan agar digunakan difraksi dengan
menggunakan gelombang elektromagnetik yang berpanjang gelombang
sebanding dengan jarak spasi antar atom. Informasi dari hasil difraksi akan
memberikan tentang susunan atom itu sendiri.
Terdapat tiga jenis energi gelombang – partikel yang sering digunakan
dalam dunia kristalographi. Foton dari sinar –X.
𝑐 ℎ
𝜆= =
𝑣 𝐸
Untuk mendapatkan foton yang berpenjang gelombang λ = 1 Å , dibutuhkan
energi sekitar 12.000 eV. Jika digunakan elektron :
𝑐 ℎ
𝜆= =
𝑣 (2𝑚𝐸)1⁄2
Untuk mendapat elektron yang berpanjang gelombang λ = 1 Å dibutuhkan
energi sebesar 150 eV . Jika yang digunakan neutron :

3
𝑐 ℎ
𝜆= =
𝑀𝑛𝑣 (2𝑀𝑛𝐸)1⁄2
Untuk mendapat neutron yang berpanjang gelombang λ = 1 Å dibutuhkan
energi sebesar 0,0 eV. Laju neutron pada keadaan ini adalah sekitar 4000
m/s.
3. Kegunaan Ketiga Jenis Radiasi
Pola difraksi oleh elektron pada kristal tunggal membeikan demonstrasi
yang sangat baik dalam keperiodikan struktur kristal dan dalam dualitas
gelombang partikel. Karena elektron adalah partikel bermuatan, dia
berinteraksi sangat kuat dengan materi dan dapat menembus beberapa
angstrom dalam kristal sebelum dipengaruhi oleh tumbuhan elastis dari
bahan. Sehingga elektron tidak terlalu baik digunakan untuk menyelidiki
bulk dari bahan. Akan tetapi, sangat baik digunakan dalam hal :
a. Penelitian pada lapisan permukaan Kristal.
b. Penelitian lapisan tipis
4. Hukum Brag
Suatu hal yang penting, membedakan difraksi antara kisi dengan kristal
adalah pada difraksi oleh kisi sudut datang tidak sama besarnya dengan
dimana berkas sinar didifraksikan, dan terdapat hubungan antara kedua
sudut ini, panjang gelombang yang digunakan dan jarak antara dua celah
pada kisi.
Kondisi difraksi Brag, dimana sudut berkas sinar datang dan sudut berkas
pantulan adalah sama, dan menyatakan bahwa berkas pantulan dipenuhi
apabila besar sudut berkas gelombang yang sesuai dan jarak antara dua
bidang paralelnya. Kondisi Bragg tidak menyelidiki untuk selapis bidang.

Gambar 3.1 Difraksi Sinar X

5. Eksperimen Dengan Difraksi Sinar X


Pada difraksi sinar –X membutuhkan Harga Ɵ dan λ yang saling
bersesuaian. Panjang gelombang sinar X yang mengenai kristal secara
sembarang tidak dipantulkan kembali. Standard difraksi yang digunakan
untuk menganalisis kristal terdiri dari :
a. Metode Laue
Metode ini sangat mudah dalam hal operasi dan konsepnya. Kristal
tunggal ditempatkan pada sebuah meja, dan dikenai oleh radiasi secara

4
kontiniu dari panjang gelombang sinar-X. Panjang gelombang yang
bersesuain dengan kristal akan menghasilkan difraksi yang ditangkap
oleh layar. Pola difraksi yang dihasilkan adalah berupa titik-titik yang
secara langsung merupakan struktur kristal dengan metode itu sendiri.
b. Metode Rotasi Kristal
Untuk metode Kristal berputar menggunakan Kristal tunggal dan sinar-
X monokromatik. Proses metode Kristal berputar ini terjadi ketika
Kristal dan sampel uji coba di sinari oleh sinar-X, dan sinar-X tersebut
mengelilingi Kristal sehingga Kristal pada orientasi tertentu akan
menghasilkan difraksi yang kemudian direkam oleh film.
c. Metode Serbuk
Dalam metode ini, Kristal yang akan diamati dalam bentuk serbuk, dan
setiap serbuk berlaku sebagai Kristal berukuran kecil dengan orientasi
acak dan diputar tidak melalui satu sumbu saja. Sampel diletakkan diatas
sebuah bidang dan disebarkan secara merata dan disinari dengan berkas
monokromatis.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pembahasan Isi Buku
Buku yang berjudul Dasar-Dasar Matematika Untuk Fisika terdiri dari 15
bab, yang dibagi menjadi 14 bab untuk membahas materi dan 1 bab untuk
membahas pendahuluan. Adapaun judul materi yang dibahas di dalam buku
tersebut yaitu, Bab 1: Pendahuluan, Bab 2: Deret Tak Hingga dan Perhitungan
Numerik, Bab 3: Bilangan Kompleks dan Pengertian Fase, Bab 4: Vektor dan
Geometri Ruang, Bab 5: Matriks dan Persamaan Nilai Eigen, Bab 6: Deret Fourier,
Bab 7: Turunan Parsial, Bab 8: Integral Lipan dan Transformasi Koordinat, Bab 9:
Analisis Vektor dan Pengertian Medan, Bab 10: Persamaan Diferensial Biasa, Bab
11: Pemecahan Deret Persamaan Diferensial dan Persamaan Nilai Eigen, Bab 12:
Fungsi Khusus dan Deret Fungsi, Bab 13: Persamaan Diferensial Parsial, Bab 14:

5
Fungsi Kompleks dan Perhitungan Integral Tentu dan Bab 15: Transformasi
Integral dan Konsep Kawasan.

CBR ini, saya mereview materi Bab 3: Bilangan Kompleks dan Pengertian
Fase yang terdiri dari subbab-subbab yaitu: 3.1)Umum, 3.2)Bilangan Kompleks,
3.3)Aljabar Bilangan Kompleks, 3.4)Bidang Kompleks, 3.5)Persamaan Kompleks,
3.6)Deret Kompleks, 3.7)Deret Pangkat Kompleks, 3.8)Fungsi Eksponensial dan
Rumus Euler, 3.9)Fungsi Logaritma Kompleks, 2.10)Pangakat dan Akar
Kompleks, 2.11)Fungsi Trigonometri dan Hiperbolik Kompleks dan
2.12)Penerapan Dalam Fisika.

Menurut saya, materi yang dijelaskan sudah lengkap jika dibandingkan


dengan buku diktat Fisika Matematika I. Di setiap subbab, di paparkan penjelasan,
definisi, teorema, dalil, tabel, grafik, contoh soal dan soal-soal yang cukup banyak.
Pembahasan di contoh soal ada yang bisa di mengerti dan ada yang tidak bisa
dimegerti karena ada contoh soal yang pembahasannya tidak dipaparkan secara
detail sehingga dapat membingungkan pembaca. Pada akhir bab terdapat soal-soal
sehingga kita dapat mengetes dan mengevaluasi pemahaman kita terhadap materi
yang dipelajari di buku tersebut.

3.2 Kelebihan dan Kekurangan Buku


1. Aspek Tampilan Buku
Tampilan buku cukup menarik karena di bagian cover terdapat koordinat
x,y,z dan ada bentuk kubus diatas koordinat y nya. Tetapi, warna cover
sedikit membosankan karena buku tersebut bewarna biru muda dan
dipadukan tulisan yang bewarna hitam saja.
2. Aspek Layout dan Tata Letak
Layout nya sudah tertata rapi dengan margin dan ukuran kertas yang sesuai.
Lalu peletakan rumus, tabel dan grafiknya sudah tertata dengan baik.
Penggunaan font style dengan font size nya sudah baik. Tetapi paragrafnya
tidak teratur dan terlalu banyak baris yang kosong
3. Aspek Isi Buku
Isi buku sudah lengkap, di setiap subbab dilengkapi dengan definisi,
teorema dan dalil walaupun tidak semua subbab mencantumkannya. Lalu
ada banyak contoh soal terutama di bagian penerapan sehingga kita bisa
menerapkan materi tersebut di dalam materi mata kuliah yang lain dan juga
di akhir bab terdapat soal-soal sehingga kita dapat mengetes dan

6
mengevaluasi pemahaman kita terhadap materi yang dipelajari di buku
tersebut.
4. Aspek Tata Bahasa
Tata bahasa nya sudah baik dengan menggunakan kata baku dan kalimatnya
disusun dengan baik dan efektif sehingga mudah untuk dipahami tetapi ada
simbol-simbol matematika yang jarang terliht sehingga sedikit bingung dan
tidak dijelaskan arti simbol matematika tersebut di glosarium. .

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Buku yang berjudul Dasar-Dasar Matematika Untuk Fisika terdiri dari 15
bab, yang dibagi menjadi 14 bab untuk membahas materi dan 1 bab untuk
membahas pendahuluan. Materi Bab 3 yang berjudul: Bilangan Kompleks dan
Pengertian Fase yang terdiri dari subbab-subbab yaitu: 3.1)Umum, 3.2)Bilangan
Kompleks, 3.3)Aljabar Bilangan Kompleks, 3.4)Bidang Kompleks, 3.5)Persamaan
Kompleks, 3.6)Deret Kompleks, 3.7)Deret Pangkat Kompleks, 3.8)Fungsi
Eksponensial dan Rumus Euler, 3.9)Fungsi Logaritma Kompleks, 2.10)Pangakat
dan Akar Kompleks, 2.11)Fungsi Trigonometri dan Hiperbolik Kompleks dan
2.12)Penerapan Dalam Fisika. Buku ini memiliki lebih banyak kelebihan dari pada
kekurangan sehingga layak untuk dibaca dan dijadikan referensi.

4.2 Saran
Saya menyadari bahwa tugas Critical Book Report saya memiliki banyak
kekurangan dibandingkan kelebihan. Saya membutuhkan kritik dan saran dari
pembaca demi perbaikan Critical Book Report saya nanti, sehingga tugas
selanjutnya, saya dapat menyelesaikan Critical Book Report lebih berkualitas bagus
lagi.

7
DAFTAR PUSTAKA

Wospakrik, Hans. 1994. Dasar-Dasar Matematika Untuk Fisika.


Bandung: ITB