Anda di halaman 1dari 3

pemuda merupakan asset bangsa yang perannya sangatlah menonjol

dalam segala bidang maupun sektor, sebelum kemerdekaan maupun


sesudah kemerdekaan. Gerakan pemuda mulai dipelopori dengan
berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908 sebagian pendirinya adalah
pemuda, pelajar, dan mahasiswa.setelah tercetus Sumpah Pemuda
1928 para pemuda, pelajar, dan mahasiswa rela meninggalkan bangku
kuliahnya untuk mengangkat senjata guna merebut kemerdekaan yang
lebih dikenal dengan nama Tentara Pelajar (TP). Semua itu dilakukan
karena mereka memiliki rasa nasionalisme dan cinta tanah air yang
sangat tinggi.

Sejarah Resimen Mahasiswa

Resimen Mahasiswa pertama kali dibentuk oleh Jendral Besar


A.H.Nasution (alm). Keberadaan MENWA saat itu mengemban misi dan
tujuan untuk membendung penyebaran paham komunis dalam kampus.
Pada tahun 1959 dengan Keputusan Panglima III/Siliwangi No 40-
25/S/1959 diselenggarakan wajib latih bagi mahasiswa perguruan
tinggi di Bandung. Pada tahun 1959 digabungkan 3 bentuk
DIKHANKAMNAS menjadi 1 bentuk yakni Wajib Latih Mahasiwa
(WALAWA) yang menjadi 3 bentuk masing-masing dengan kualifikasi
Tamtama Walawa. Bintara dan perwira. 19 Januari 1978 dikeluarkan
lagi SKB 3 menteri tentang juklak pembinaan organisasi Resimen
Mahasiswa. Bersama Keputusan bersama tiga Menteri Menha,
Mendiknas, dan Mendagri dan Otda No:KB/14/M/X/2000,
No:6/U/KB/2000, dan No:39 A tahun 2000 tanggal 11 Oktober 2000
tentang Pembinaan dan Pemberdayaan Resimen Mahasiswa. Resimen
mahasiswa mahadipa satuan 939 UMP berdiri pada tanggal 5 Oktober
1985 di bawah Komandan Hari Kuswarno.

Pada awal 1960, Bung Karno melakukan kunjungan kerja ke Bandung untuk
menyampaikan kuliah umum kepada mahasiswa Bandung di halaman Kampus ITB di
jalan Ganesha. Setiba di Lapangan Udara Andir (Husein Sastranegara)Presiden
/Panglima Tertinggi Soekarno disambut oleh Penguasa Perang Daerah/Panglima
Kodam V Siliwangi Kolonel R.A Kosasi. Setelah menyalami para penyambut
kemudian P\residen dipersilahkan untuk memeriksa Pasukan Jajar Kehormatan
yang memberikan Sangkur (penghormatan senjata dengan pasang sangkur menurut
ketentuan hanya diberikan kepada Sang Saka Merah Putih dan Presiden RI).
Dengan didampingi oleh Panglima Siliwangi, Presiden/Panglima Tertinggi Korps
Musik memeriksa Pasukan Jajar Kehormatan yang memberikan Penghormatan
Militer.

Setelah itu, sebelum memasuki mobil yang akan mengantarkannya ke kampus ITB,
Presiden bertanya kepada Panglima “Kos, itu tadi pasukan darimana kok enggak
pakai tanda pangkat?”, Pak Kosasi menjawab”Itu tadi adalah Resimen Mahasiswa
yang sedang dipersiapkan untuk membantu “Operasi Pagar Betis” menumpas
gerombolan DTI/II Kartosuwiryo”. Kemudian kepada Kolonel R.A Kosasih, Bung
Karno berpesan agar dibina dengan baik karena mereka adalah calon-calon
pemimpin. Di antaranya anggota Resimen Mahasiswa tersebut yang kemudian hari
menjadi tokoh nasional adalah Siswono Yudho Husodo.

Ketika PKI gagal membentuk Angkatan V (buruh dan tani yang dipersenjatai)
karena ditentang oleh TNI (Men/Pangad Jend.A. Yani), DN Aidit mengadu ke Bung
Karno sampai mengajukan protes mengapa TNI diijinkan membangun Resimen
Mahasiswa sambil menunjukkan radiogram Menko Hankam Kasab No. A3/3046/64
tertanggal 21 April 1964 yang ditujukan kepada semua Panglima Daerah untuk
membentuk dan menyeragamkan Resimen Mahasiswa yang ada disetiap Kodam.

Karena yang menandatangani radiogram tersebut adalah Jend.A.H Nasution sendiri


maka Pak Nas dipanggil Bung Karno untuk klarifikasi. Kepada Bung Karno, Pak Nas
menjelaskan tentang maksud dan tujuan radiogram tersebut. Menertibkan dan
menyatukan bermacam-macam Resimen Mahasiswa yang timbul sebagai akibat
adanya instruksi Menteri PTIP (Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan) No. 1
tahun 1962 tertanggal 15 januari tentang pembentukan Korps Sukarelawan
dilingkungan Perguruan Tinggi dalam ranngka Trikora Pembebasan Irian Barat.
Sebagai titik awal untuk merintis Program Pendidikan Perwira Cadangan melalui
Perguruan Tinggi (ROTC:Reserve Officer Training Corps). Dalam upaya
melestarikan tradisi semangat bela Negara dan patriotisme dikalangan intelektual
muda seperti yang telah dibuktikan dalam perang kemerdekaan oleh Tentara
Pelajar/Corps Mahasiswa.

Sebelum meninggalkan Istana, Pak Nas bertanya kepada Bung Karno, bagaimana
kelanjutannya untuk mengikuti petunjuk beliau, jawaban Bung Karno mat singkat
“Teruskan !”. Sebagai akibat “instruksi” Presiden maka muncullah Resimen-
Resimen Mahasiswa disetiap Kodam. DiJawa Barat Menteri PTIP Prof Toyib
Hadiwijaya memberi nama “Resimen Mahawarman”. Di Jakarta Pak Nas memberi
nama “Resimen Mahajaya”. Di Yogyakarta Jend. A.Yani memberi nama “Resimen
Mahakarta” dan seterusnya.

Di akhir tahun 1965, terdesak oleh demontrasi-demontrasi mahasiswa yang


tergabung dalam KAMI dan terpengaruh oleh siaran radio Australia yang
menyiarkan berita bahwa TNI akan menggerakkan Resimen Mahasiswa, maka DN
Aidit kembali mengadu ke Bung Karno di Istana dengan permintaan agar Bung
Karno sesegera mungkin membubarkan Resimen Mahasiswa yang “ternyata”
adalah tentaranya Nasution yang dibiayai oleh CIA. Ternyata setelah itu Bung
Karno tidak membubarkan Resimen Mahasiswa, tetapi malah membubarkan KAMI,
bahkan HMI pun tidak dibubarkan.

Kisah-kisah tersebut disampaikan sendiri oleh alm.Letjen.TNI(Purn) R.A. Kosasih


kepada penulis sewaktu penulis menjabat sebagai Kepala Staf Resimen Mahasiswa
“Mahawarman” Jawa Barat pada tahun 1970. Dahulu di Jawa Barat, anggota
Resimen Mahasiswa sebelum menerima penyematan baret pada acara pelantikan
harus terlebih dahulu mengucapkan atau sumpah yang disebut “Panca Dharma
Satya Resimen Mahasiswa”. Panca Dharma Satya mengandung lima nilai kesetiaan,
yaitu : Setia kepada Sang Saka Merah Putih Setia kepada Pancasila Setia kepada
Konstitusi (UUD 1945 yang asli) Setia kepada Negara (NKRI) Setia kepada cita-cita
dan nilai-nilai kejuangan bangsa Menurut Pak Sutikno Lukitosudiro (mantan
Sekretaris Militer Presiden) “Panca Dharma Satya” itulah yang membuat Bung
Karno tidak mau membubarkan Resimen Mahasiswa karena menganggap Resimen
Mahasiswa merupakan salah satu wujud dari “Nation and Character Building”.