Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENCAPAN 1

“PERSIAPAN PENCAPAN”

Nama : Wahyu Robi’ah N. (16020009)

Ririn Anjasni S. D. (16020015)

Hasna Azizatul A. (16020027)

Fauziah Hally M. (16020028)

Grup : 3K1

Kelompok : 1

Dosen : Agus S., S.Teks., M.Si

Asisten : Khairul U., S.ST., M.T.

Desiriana

POLITEKNIK STTT BANDUNG

2018
I. MAKSUD DAN TUJUAN
Untuk mengetahui dan memahami cara pembuatan desain tunggal/non-
repeat, pembuatan desain berulang/repeat, penghapusan gambar pada kasa bekas,
pembuatan kasa datar dan pemindahan gambar tunggal ke kasa baru.

II. TEORI DASAR


2.1.Pengertian Pencapan
Pencapan adalah suatu proses pemberian warna pada kain secara tidak
merata sesuai dengan motif yang telah ditentukan dan hasilnya memiliki
ketahanan luntur warna. Untuk mencapai hasil pencapan yang baik pada
proses pencapan dibutuhkan kondisi yang spesifik, peralatan khusus dan
desain yang sempurna, desain memiliki nilai seni yang tinggi dan biasanya
diciptakan sebagai hasil karya seni. Teknik pencapan intinya merupakan cara
pemindahan desain dengan suatu peralatan tertentu yang diharapkan dapat
menjamin mutu dan kualitas hasil pencapan.

2.2.Pembuatan Gambar
Membuat gambar merupakan langkah awal dari proses pencapan,
karena dari gambar itu dapat diketahui bentuk, warna dan ukuran objek yang
akan dicap, sehingga didapat hasil pencapan yang sesuai dengan yang
diinginkan.
Merencanakan dan membuat gambar dalam teknik pencapan bias
disebut membuat disain printing, desain artinya merencanakan (designing),
membuat pola-pola. Sebetulnya gambar dan disain tidak dapat dipisahkan,
gambar merupakan gambaran dari kain yang akan dicap, sedangkan desain
merupakan rancangan dari perancang akan gambar yang dihasilkan dapat
memenuhi keinginan konsumen.
a) Gambar Repeat
Gambar repaeat adalah gambar 1 rapot yang dapaat menyambung
kekiri-kanan atas dan bawah sehingga antara rapot yang satu dengan
raport yang lain bersatu dan tidak kelihatan adanya sambungan. Satu
raport dari gambar repeat adalah satu bagian (unit) terkecil dari gambar
yang mewakili seluruh gambar/ gambar repeat diperlukan untuk
pengulangan pencapan kain kearah panjang tetapi tidak kelihatan
sambungannya.
b) Gambar Non Repeat
Gambar yang tidak memrlukan repeat joint, artinya dalam
pengulangannya tidak perlu sambung-menyambung karena gambarnya
berdiri sendiri.
Contoh gambar non repeat yang digunakan :

2.3.Kasa/Screen
Kasa/ Screen adalah kain yang berfungsi sebagai sarana pembentuk
corak gambar di atas benda - benda yang dicap (sablon). Teksturnya sangat
halus (seperti Sutera) dan memiliki jumlah kerapatan pori pori bertingkat,
jumlah kerapatan inilah yang berfungsi menyaring atau menentukan jumlah
pasta cap yang keluar melalui kasa. Kain kasa adalah sarana utama dalam
pencapan (sablon), banyak jenis kain kasa bisa digunakan, pada awalnya kain
kasa dibuat dari sutera, katun, viskosa rayon atau selulosa diasetat, yang
semuanya tersebut mempunyai sifat sangat hidrofilik sedangkan pasta cap
mengandung air sehingga kestabilan tegangan kasa sulit dicapai. Oleh sebab
itu perkembangan selanjutnya adalah digunakan kasa yang terbuat dari serat
sintetis, seperti Nilon dan Poliester yang memiliki sifat Hidrofobik sehingga
kestabilan tegangan kasa terjaga, tidak mudah mulur ataupun mengkeret, kain
kasa yang mudah mulur ataupun mengkeret menyebabkan berubahnya corak
yang telah ditentukan, selain itu kain kain sintetik itu memiliki kekuatan tarik
yang tinggi sehingga memungkinkan ditegangkan serta kuat pada rangka kasa.
Kain kasa banyak diperdagangkan dengan nama nama seperti Monyl, Nytal,
Nybolt, Estal dll, konstruksi kain kasa menentukan jumlah pasta yang keluar,
konstruksi kasa biasa dinyatakan dengan jumlah tetal benang per inchi (Mesh
Count) atau per cm kain kasa (Raster count) yang umum disebut Penomoran
Kasa. Fabric Number atau Mesh Count menentukan banyaknya helai benang
perinchi atau per cm. fabric Number kecil berarti Monyl yang kasar, fabric
number besar berarti monyl yang halus, biasanya pada penomoran monyl
dicantumkan juga penomoran sutera. Dalam penomoran monyl ada 4 macam
yang dicantumkan yaitu :
 S light (ringan)
 M medium (medium)
 T heavy (kuat)
 HD extrenheavy (sangat kuat)
Semakin rendah nomor kasa jumlah benang dalam satu inchnya atau
satu centimeternya makin sedikit sehingga lubang kasa makin besar, dengan
demikian untuk corak atau motif kasar digunakan kasa yang kasar atau tetal
benang yang rendah, sebaliknya untuk corak atau motif halus digunakan kasa
yang halus atau tetal benang tinggi. Syarat kain kasa untuk pencapan yaitu
bahan yang dicap memiliki aneka jenis serta sifat yang berbeda satu dengan
lainnya, baik dalam penggunaan zat warna, zat pembantu dll. Produk produk
kain kasa memiliki keunggulan keunggulan sendiri sendiri serta memiliki
ukuran lebar yang berbeda – beda untuk dapat memenuhi permintaan industri,
kain kasa secara umum harus memiliki persyaratan berikut :
 Memiliki daya lentur dan daya tarik yang tinggi
 Tidak berubah baik dalam keadaan basah maupun kering
 Anyaman (tenunan) tidak mudah bergeser
 Tahan terhadap zat kimia
 Mudah dibersihkan kembali setelah proses pencapan

Rangka kasa dapat terbuat dari kayu atau logam. Rangka yang terbuat dari
kayu maupun logam harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
 Stabil,
 Tidak berubah bentuk baik dalam keadaan basah maupun kering,
 Tidak mudah rusak oleh zat kimia, dan
 Permukaan halus
a. Pemasangan Kasa Secara Manual
Kain kasa dipotong seluas rangka bagian luar, masing-masing
ditambah 2 cm (lihat gambar).
Sisi AB dan BC masing-masing disambung dengan kain biasa selebar 10-
25 cm. Kain pada sisi DA dipaku pada sisi rangka dengan paku atau nices.
Demikian juga kasa pada sisi DC. Sisi kain penyambung AB digulung pada
sepotong kayu berpenampang bulat atau persegi panjang sambil ditarik sampai
kain kasa tegang, kemudian kain kasa dipaku pada rangka. juga dikerjakan
pada sisi kain penyambung B”C’. Akhirnya kain penyambung dilepas dan
pinggir kasa dirapikan. Selanjutnya bagian yang diberi quick fixed dipoles
dengan aseton sampai larut, sehingga kain kasa dapat menempel pada rangka
dengan kuat. Apabila dipakai rangka kayu beralur, pemasangannya tidak
menggunakan paku,pines, neces, tetapi dipergunakan batang kayu yang
dimasukan dalam alur tersebut, keudian dipaku. Dapat juga rangka yang
beralur pada pemasangan kasanya dipakai neces dahulu, kemudian
dikombinasi dengan batang yang dimasukan dalam alurnya. Cara kombinasi
ini lebih mudah dan tegangan gasa kebih maksimal. Untuk kasa yang dapat
mengendor pada waktu basah, sebelum pemasangan harus dibasahi lebih
dahulu dan dipasang dalam keadaan basah.

2.4.Coating
Setelah screen bersih baru dilakukan pemberian corak pada kasa.
Disini digunakan cara dengan menggunakan kertas film tembus pandang
(Kodatrace). Proses awal yang dilakukan adalah menggambar motif pada
kertas kodatrace tersebut dengan cat khusus yang berwarna gelap. Setelah
selesai kasa yang telah bersih diberi lapisan larutan yang bersifat peka cahaya,
dimana disini digunakan larutan chromatin. Larutan peka cahaya ini dibuat
melapisi screen secara merata menggunakan coater kemudian dikeringkan.
Pengeringan setelah pelapisan larutan peka cahaya dilakukan dengan oven,
dengan hair dryer atau kipas angin, pengeringan dilakukan pada ruang gelap
dan upayakan tidak terkena sinar matahari ataupun sinar yang mengandung
ultraviolet seperti lampu neon. Sinar matahari maupun lampu neon
menyebabkan larutan peka cahaya sulit dibangkitkan.

2.5.Pemindahan Gambar ke Kasa/Screen (Expossure)


Hasil gambar pada ketas tembus cahaya atau film (diapositif) dilekatkan
dengan permukaannya menghadap screen bagian luar serapat mungkin dan
dimatikan dengan menggunakan plaster tembus cahaya (collotape).
Selanjutnya screen tersebut siap disinari. Untuk mendapatkan gambar pada
screen yang jelas dipakai alat-alat sebagai berikut :
- Kaca tebal 3 mm atau lebih, luasnya paling sedikit sama dengan luas
screen.
- Karet busa yang dibungkus dengan kain hitam atau merah dengan luas
sama dengan luas bagian dalam screen.
- Lampu pijar 4 x 500 watt atau4 x 250 watt atau lampu neon 4 x 40
watt yang telah dilengkapi dengan reflektor
- Meja sebagai landasan untuk afdruk
- Selain dengan lampu dapat juga dipakai sinar matahari dengan waktu
penyinaran antara 1 – 2 menit pada jam 11.00 sampai jam 15.00.
2.6.Perbaikan Gambar pada Kasa/ Screen (Retusir)
Setelah gambar dibangkitkan, screen dikeringkan dalam posisi
mendatar. Pengeringan screen dengan posisi berdiri bila pencucian kasa
kurang bersih kotoran akan mengalir ke bawah menyebabkan screen mampat.
Screen diperiksa pada ruang yang terang, bila terdapat motif yang rusak atau
berlubang diperbaiki menggunakan sisa larutan peka cahaya kemudian
dikeringkan.

2.7.Memperkuat Gambar pada Kasa/Screen (Hardening)


Yang dimaksud penguatan kas aadalah memperkuat dan melindungi
motif pada kasa agar tidak cepat rusak karena gesekan rakel pada waktu
pencapan. Telah diketahui bahwa motif yang dibentuk oleh zat peka cahaya
keadaanya masih lemah karena lapisannya tipis sehingga mudah gugus
sehingga tidak lagi motif. Untuk itu perlu dilakukan hardening. Salah satu
usaha tersebut adalah memberikan lapisan penguat kasa bagian dalam berupa
lak, tetapi pada waktu pelapisan, seluruh permukaan kasa bagian dalam
tertutup lak untuk membuka kembali motif yang tertutp dapat menggunakan
zat pelarut dari lapisan atau lak yang digosokan pada bagian motif terbuka.

2.8.Penghapusan Gambar (motif) pada Kasa Lama


Penghapusan gambar pada kasa dimaksudkan agar kasa lama yang
masih baik kasa dan rangkanya dapat digunakan kembali, sehingga dapat
menghemat biaya produksi. Selain itu dapat mengurangi penumpukan kasa
yang sudah tidak digunakan lagi. Kasa yang dihapus biasanya kasa yang
motifnya sudah tidak dipakai lagi.
III. ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat :
- Kasa Datar
- Kuas
- Pemberat
- Lampu neon
- Penggaris
- Meja Pencapan
- Rakel
- Meja afdrek
- Neraca analitik
- Pengaduk
- Gelas beker
- Timba kecil
- Minyak kelapa
- Pengering

3.2 Bahan :
- Natrium hidroksida
- Kaporit
- Air
- Zat peka cahaya (diazol)
- Natrium Bikromat
- Minyak kelapa
- Lakban
- Gambar
- Teepol
- Kain nylon
- Staples
- Rangka kasa
IV. DIAGRAM ALIR
4.1 Pembuatan kasa datar dari kasa bekas

Seleksi kasa

Stripping

Pencucian

Pengeringan

Pelapisan larutan peka cahaya (coating)

Pengeringan

Afdruk

Pencucian atau pembukaan motif

Pengeringan

Hardening

Pengeringan
4.2 Pembuatan kasa datar baru

Pemasangan kasa pada rangka

Pelapisan larutan peka cahaya (coating)

Pengeringan

Afdruk

Pencucian atau pembukaan motif

Pengeringan

Hardening

Pengeringan

V. CARA KERJA
1. Pembuatan gambar non repeat
- Buat batas gambar dan ukurannya
- Tentukan desain yang akan dibuat
- Buat beberapa sket gambar yang sesuai dengan desainnya
- Pilih salah satu sket yang paling baik
- Sempurnakan gambar

2. Pembuatan gambar repeat


- Buat batas gambar dan ukurannya
- Tentukan desain yang akan dibuat
- Buat beberapa sket gambar yang sesuai dengan gambar yang
diinginkan
- Pilih salah satu sket yang cocok dan paling baik
- Tentukan repeat join/ persambungan ulang
- Gambar repeat disempurnakan

3. Pembuatan Kasa
- Rangka direndam selama 20 menit
- Pasang kasa pada dua rangka sisi yang bersambung kemudian di hekter
dua sisinya
- Letakkan dan hekter pada sisi papan penarik yang disambung
menggunakan kain sambung
- Gerakan/ tekan ke bawah rangka kasa, sehingga terjadi penarikan
- Periksa tegangan kasa, kemudian lanjutkan tekanannya sampai rata
dengan papan
- Hekter sisi kasa yang sudah ditarik
- Lakukan pekerjaan yang sama untuk sisi yang satu lagi

4. Penghapusan Kasa Lama


- Laburlah permukaan kasa bagian luar dengan NaOH 380Be dan
kaporit, diamkan 30 menit
- Cucilah kasa dengan air dingin dan sabun sampai bersih, bila belum
bersih dapat diulang sekali lagi
- Keringkan kasa setelah bersih
- Sisa warna yang masih belum hilang pada kasa diberishkan
menggunakan M3

5. Pemindahan gambar ke kasa


- Lapisi gambar yang telah dipilih menggunakan minyak kelapa
- Tempelkan pada kasa yang telah dilapisi (coating) menggunakan
selotape
- Letakan kasa pada meja kaca dengan posisi menghadap lampu neon
- Masukan busa kasa bagian dalam kasa, letakkan papan dan pemberat
diatas busa
- Periksa kedudukan kasa dan busa penekan harus dalam keadaan rapat
- Nyalakan lampu neon dan hitung lama penyinarannya sekitar 20 menit
- Ambil kertas gambar perlahan-lahan
- Buka motif dengan curahan air dingin sehingga timbul motif/ gambar
- Periksa motif yang telah dibuka
- Lakukan pencucian dan keringkan dibawah sinar matahari

6. Retusir (perbaikan motif gambar) dan penguatan motif


- Pemeriksaan pertama
- Perbaikan kasa (Retouching)
- Penguatan dengan hardener
- Pemeriksaan kedua
- Pemeriksaan akhir dan percobaan

VI. DATA PENGAMATAN


a) Sketsa gambar non repeat berwarna yang belum dipisahkan
b) Sketsa gambar non repeat yang telah di pisahkan

c) Sketsa gambar non repeat yang telah dipisahkan


d) Hasil pemasangan gambar pada screen dari proses coating kasa dengan zat
peka cahaya dan proses afdruk (pemindahan motif ke screen).

VII. DISKUSI
7.1 Pembuatan gambar atau motif

Motif yang dibuat pada praktikum ini adalah motif tunggal (non repeat)
dan berulang (repeat). Untuk gambar tunggal, dipilih dengan motif yang
tajam dan memiliki ukuran yang tidak terlalu kecil. Sebab, praktikum
dilakukan dengan skala laboratorium, apabila terdapat motif yang sangat
kecil dapat tersumbat oleh pasta cap. Sedangkan untuk motif repeat tidak
diperkenankan motif yang dibuat akan memotong motif karena dapat
menyebabkan adanya celah ditengah-tengah motif atau dapat menimbulkan
penumpukan gambar (overlap). Motif yang digunakan untuk praktikum kali
ini adalah motif tunggal. Setelah itu, motif diseleksi menjadi beberapa warna
untuk mengetahui berapa banyak screen/kasa yang akan digunakan. Pada
praktikum ini, motif tunggal dibuat dengan minimal 3 warna. Sedangkan saat
pemisahan hanya dipilih 2 warna saja.

7.2 Penghapusan screen/kasa

Penghapusan screen dilakukan pada screen lama yang sudah tidak


terpakai lagi. Penghapusan dapat dilakukan dengan syarat seperti motif yang
digunakan sudah tidak terpakai lagi (out off date), rangka yang digunakan
masih dalam keadaan baik, tidak penyok (permukaannya datar), tidak kendor
(tegangannya kuat dan ketika di pukul suara seperti gendang) dan screen
tidak boleh berlubang. Penghapusan dilakukan menggunakan kaporit dan
NaOH dengan perbandingan 1:1 yakni 45 gram NaOH dan 45 gram kaporit
lalu dilarutkan dalam 300 ml air. Apabila screen yang telah dibersihkan
masih kotor maka perlu dilakukan pembersihan dengan menggunakan M3.

7.3 Pembuatan screen baru

Screen baru dibuat dari kain tenun filamen poliester atau poliamida.
Pemilahan jenis kain ini guna melihat ketahanan pakai apabila pencapan
menggunakan zat warna reaktif maka digunakan jenis poliamida. Hal ini
karena poliamida lebih tahan alkali dibandingkan dengan poliester.
Sedangkan untuk jenis poliester lebih tahan asam maka lebih cocok untuk
pencapan zat warna asam.

Pada praktikum screen baru dibuat dari jenis kain poliamida dengan
nomor 14. Kayu yang akan digunakan untuk screen telah direndam dahulu
selama 20 menit agar lebih empuk pada saat pemasangan kasa. Selain itu
terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan seperti keteraturan
pemasangan steples harus sama posisinya
dari awal hingga akhir. Bila posisi steples
miring maka semua sisi juga harus miring,
dan bila posisi steples datar maka semua sisi
harus datar. Selain posisi steples, pada saat
pemasangan kain harus tegang dan kuat
sehingga ketika dipukul screen akan
bersuara seperti gendang. Penarikan screen
dilakukan dengan posisi tegak, dengan
menyambung ujung kain poliamida dengan
kain yang lain agar penarikan lebih kuat dan
stabil.

Pada saat pemasangan, kain ditarik dalam kondisi basah untuk mencegah
terjadinya sobek kain. Apabila pemasangan telah selesai, dilakukan proses
pencucian dengan menggunakan teepol hal ini untuk menghilangkan kotoran-
kotoran yang ada pada screen.
7.4 Proses coating kasa dengan zat peka cahaya

Proses coating dilakukan dengan menggunkan zat peka cahaya. Proses


ini sebaiknya dilakukan pada dalam ruangan gelap karena zat peka cahaya
dapat teroksidasi dan cepat kering oleh cahaya. Zat yang dipakai adalah
diazol dan natrium bikromat perbandingan yang dipakai 1 botol diazol dan 1
botol natrium bikromat. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada
praktikum ini adalah pencampuran antara diazol dan natrium kromat harus
benar-benar homogen hal ini agar pada saat coating screen tidak timbul
bintik-bintik biru atau kuning atau bahkan terjadi perbedaan warna lapisan
zat peka cahaya. Pelapisan zat peka cahaya ini tidak boleh tidak terlalu tebal
dan tidak boleh terlalu tipis.

7.5 Proses afdruk (pemindahan motif ke screen)

Pelapisan dengan zat peka cahaya harus dilakukan dengan merata dan
tidak terlalu tebal ataupun tipis. Karena bila tidak rata maka motif yang
dihasilkan akan berkurang ketajamannya dan begitu pula bila terlalu tebal zat
peka cahaya akan sukar kering dan menjadi lembek serta ikut berpengaruh
pada ketajaman motif. Penyinaran dilakukan setelah zat peka cahaya kering
agar gambar tidak menempel. Agar proses afdruk lebih mudah maka kertas
hvs yang berisi gambar diberi minyak kelapa agar menjadi transparan
sehingga motif akan mudah berpindah ke screen. Pelapisan minyak kelapa
pada kertas tidak boleh terlalu basah ataupun kering. Proses afdruk dilakukan
selama 20 menit dengan cahaya lampu neon.

7.6 Proses penguatan (hardening) dan perbaikan (retusir)

Untuk proses penguatan, kasa diberi zat hardening agar motif lebih kuat
dan dapat dipakai dalam waktu yang lama. Proses pemberian zat penguat ini
dilakukan pada bagian dalam kasa. Proses pengerjaan dilakukan pada
ruangan terbuka dan ada sinar. Untuk proses perbaikan dilakukan proses
pemeriksaan screen dan pemberian solatape pada setiap sisi screen.
VIII. KESIMPULAN
Pada praktikum dapat disimpulkan bahwa proses persiapan screen
dilakukan dengan pembuatan gambar/motif, pemasangan screen
baru/penghapusan screen lama, proses coating zat peka cahaya, proses
afdruk/exposure, proses hardening dan retusir.
DAFTAR PUSTAKA

Suprapto, Agus., dkk. 2006. Bahan Ajar Teknologi Pencapan 1. Bandung : Sekolah
Tinggi Teknologi Tekstil.
Lubis, Arifin., dkk. 1998. Teknologi Pencapan Tekstil. Bandung : Sekolah Tinggi
Teknologi Tekstil.
Djufri, Rasjid., dkk. 1973. Teknologi Pengelantangan, Pencelupan Dan
Pencapan. Bandung : Institute Teknologi Tekstil.
Djufri, Rasjid., dkk. 1976. Teknologi Pengelantangan, Pencelupan Dan
Pencapan. Bandung : Institute Teknologi Tekstil.