Anda di halaman 1dari 31

I.

JUDUL PRAKTIKUM
1.1 Analisis Kebutuhan Oksigen Kimia Dalam Air Limbah (COD)
1.2 Analisis Kebutuhan Oksigen Biologi Dalam Air Limbah (BOD)
1.3 Analisis Zat Padat Dalam Air Limbah (TS, TDS dan TSS)
1.4 Pengolahan Air Limbah Dengan Cara Koagulasi
1.5 Pengolahan Air Limbah Dengan Cara Flokulasi

II. TANGGAL PRAKTIKUM


2.1 25 Oktober 2018
2.2 1 November 2018
2.3 8 November 2018
2.4 15 November 2018
2.5 22 November 2018

III. MAKSUD DAN TUJUAN


3.1 Mengetahui kebutuhan oksigen kimia di dalam air limbah
3.2 Mengetahui kebutuhan oksigen biologi di dalam air limbah
3.3 Mengetahui kadar padatan total di dalam air limbah temasuk padatan total yang
menguap dan padatan total yang terikat.
3.4 Mengetahui cara pengolahan air limbah dengan cara koagulasi
3.5 Mengetahui cara pengolahan air limbah dengan cara flokulasi

IV. DASAR TEORI


4.1 Analisis Kebutuhan Oksigen Kimia Dalam Air Limbah (COD)
Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan salah satu parameter kunci
yang digunakan terutama untuk mengetahui besarnya tingkat pencemaran bahan
organik dalam perairan umum.Semakin besar nilai COD suatu contoh air,
semakin besar pula tingkat pencemaran yang terjadi pada perairan umum
tersebut.
Chemical Oxygen Demand (COD) adalah Kebutuhan Oksigen Kimia
(KOK) adalah besaran yang menunjukkan jumlah oksigen yang diperlukan untuk
mengoksidasi zat kimia dalam air limbah secara kimiawi menggunakan oksidator
kuat kalium dikromat atau kalium permanganat.Atau dapat dikatakan pula KOK

1
adalah jumlah oksigen Cr2O72- yang bereaksi dengan contoh uji dan dinyatakan
sebagai mg O2 untuk tiap 1000 mL contoh uji.
Zat-zat organic diurai oleh campuran kromat dan asam sulfat yang dirubah
menjadi CO2 dan air.Prosedur pengujiannya adalah dengan menambahkan kalium
dikromat standar, asam sulfat yang sudah ditambahkan perak sulfat, dan sejumlah
contoh uji dengan volume terukur ke dalam Erlenmeyer.Kemudian dipasang
kondensor diatasnya dan direfluks selama 2 jam. Oksidasi zat-zat organic
merubah dikromat menjadi kromium trivalent, seperti pada reaksi di bawah ini:

Panas
Zat organik+ Cr2O72- + H+ CO2 + H2O
Ag
-

Pengujian KOK yang mengacu pada SNI 06-6989.2-2004 dilakukan dengan


refluks tertutup secara spektrofotometri.Senyawa organik dan anorganik,
terutama organik dalam contoh uji dioksidasi oleh Cr2O72- dalam refluks tertutup
menghasilkan Cr3+.Jumlah oksigen yang dibutuhkan dinyatakan dalam ekuivalen
oksigen (O2 mg/L) diukur secara spektrofotometri sinar tampak. Cr2O72- kuat
mengabsorpsi pada panjang gelombang 400 nm dan CR3+ kuat mengabsorpsi
pada panjang gelombang 600 nm.
Untuk nilai KOK 100 mg/L sampai dengan 900 mg/L ditentukan
kandungan CR3+ pada panjang gelombang 600 nm atau bilamana hasil akhir
oksidasi dikromat warna larutan biru kehijauan. Pada contoh uji dengan nilai
KOK yang lebih tinggi, dilakukan pengenceran terlebih dahulu sebelum
pengujian. Untuk nilai KOK lebih kecil atau sama dengan 90 mg/L ditentukan
pengurangan konsentrasi Cr2O72- pada panjang gelombang 420 nm atau bilamana
hasil akhir oksidasi dikromat warna larutan kuning jingga.
Pada pengujian kebutuhan oksigen kimia dalam contoh air dengan refluks
terbuka cara titrimetri menggunakan larutan standar fero ammonium sulfat. Pada
prinsipnya metode pengerjaan kedua cara tersebut hampir sama yaitu
menggunakan larutan kalium dikromat (K2Cr2O7) dalam H2SO4 yang bertindak
sebagai zat pengoksidasi kuat dan perak sulfat (Ag2SO4) yang berfungsi sebagai
katalis dalam pengoksidasian zat-zat organik dalam contoh air. Pada metode
titrimetri, setelah direfluks selama 2 jam sisa dikromat dititrasi dengan
feroamonium sulfat.
Keuntungan COD :

2
- Analisa COD hanya memakan waktu kurang lebih 3 jam, sedangkan analisa
BOD5 memerlukan 5 hari.
- Untuk menganalisa COD antara 50 – 800 mg/l tidak dibutuhkan pengenceran
sampel, sedangkan pada umumnya analisa BOD selalu membutuhkan
pengenceran.
- Kelebihan dan ketepatan tes COD adalah 2 sampai 3 kali lebih tinggi dari tes
BOD.
- Gangguan dari zat yang bersifat racun terhadap mikroorganisme pada tes
BOD, tidak menjadi soal pada tes COD.
Kekurangan COD :
Tes COD hanya merupakan suatu analisis yang menggunakan suatu reaksi
oksidasi kimia yang menentukan/menirukan oksidasi biologis (yang sebenarnya
terjadi di alam), sehingga merupakan suatu pendekatan saja. Karena hal tersebut
di atas maka tes COD tidak dapat membedakan antara zat – zat yang sebenarnya
tidak teroksidasi (inert) dan zat yang teroksidasi secara biologis.

4.2 Analisis Kebutuhan Oksigen Biologi Dalam Air Limbah (BOD)


BOD adalah suatu analisa yang mencoba mendekati secara global proses
mikrobiologi yang terjadi di dalam air. Nilai BOD menunjukkan jumlah oksigen
yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan zat organik yang berada di
dalam air atau dengan kata lain BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan
oleh mikroorganisme untuk menghilangkan pollutant.
BOD5 atau BOD 5 hari merupakan parameter yang banyak digunakan untuk
menentukan kadar zat organik pada air buangan dan air permukaan. Penentuan
parameter ini termasuk didalamnya pengukuran oksigen terlarut atau dissolved
oxygen (DO) yang digunakan oleh mikroorganisme pada oksidasi biokimia zat
organik. Untuk menentukan BOD sampel yang berisi limbah organik diinkubasi
bersama mikroorganisme selama waktu tertentu, biasanya 5 hari, dan jumlah
oksigen yang hilang diukur.Nilai BOD diukur sebagai selisih antara DO sebelum
dan setelah inkubasi.Nilai BOD 1 ppm merupakan karakteristik yang mendekati
air murni (pure water).
Percobaan ini menekankan pada analisa sampel air untuk mengukur
kandungan oksigen terlarut (DO) menggunakan alkali iodida azida metode
iodometri (winkler method).Analisanya didasarkan pada penggunaan senyawa

3
Mn (II) yang dioksidasi menjadi senyawa Mn (IV) oleh oksigen dalam sampel
air. Senyawa Mn (IV) pada gilirannya bereaksi dengan KI atau NaI untuk
menghasilkan iodida I2.I2 yang dibebaskan ini kemudian dititrasi dengan natrium
tiosulfat standar (Na2S2O3) menggunakan indikator kanji.
Untuk mendapatkan hasil pengujian yang baik, sampel harus diencerkan
dengan air pengencer yang sudah disiapkan secara khusus sehingga selama
inkubasi terdapat nutrisi dan oksigen yang cukup.Sebaiknya beberapa
pengenceran disiapkan agar variasi pengenceran lengkap karena konsentrasi air
limbah yang tidak diketahui.Analisa BOD ini dilakukan menggunakan botol
BOD/winkler yang diinkubasi pada suhu 20oC. Untuk mengukur BOD pada
sampel air limbah, dimasukkan ke dalam botol winkler sejumlah zat-zat terukur,
seperti: mikroorganisme (jika diperlukan, penambahan mikroorganisme atau bibit
air kotor ini istilahnya penyemaian), air pengencer yang diaerasi berisi buffer
fosfat, magnesium sulfat, kalsium klorida dan feriklorida. Penyemaian
mikroorganisme ditambahkan untuk mengoksidasi zat-zat organik suatu limbah
jika pada sampel air limbah tersebut tidak ada cukup mikroorganisme.Secara
sederhana, air limbah memberikan zat-zat organik (makanan biologi) dan air
pengencer memberikan oksigen terlarut.
Jumlah sampel air limbah yang ditambahkan kedalam botol winkler
tersebut bergantung pada estimasi kepekatan air limbah. Contohnya, dimasukkan
sebanyak 5 mL untuk air limbah BOD berkisar antara 120-420 mg/L dan 50 mL
sampel air limbah dengan estimasi BOD berkisar antara 12-42 mg/L. Air limbah
rumah tangga dan air limbah yang tidak diklorinasi memiliki populasi mikroba
yang cukup sehingga tidak perlu penyemaian. Air limbah industri membutuhkan
persiapan penyemaian mikroorganisme untuk memungkinkan terjadinya reaksi
biologi.

DO (Dissolved Oxygen)
Oksigen terlarut di dalam air sangat penting untuk menunjang kehidupan
makhluk hidup dalam air.Kemampuan air untuk membersihkan pencemaran
secara alamiah sangat tergantung pada cukup tidaknya oksigen terlarut di dalam
air.Oksigen terlarut dalam air berasal dari udara dan dari fotosintesa tumbuhan
air.Kelarutan oksigen di dalam air dipengaruhi oleh suhu, tekanan udara dan
kandungan mineral di dalam air.

4
Pollutan atau zat pencemar tertentu dapat mengurangi jumlah oksigen
terlarut selama proses penguraian zat pencemar. Pada saat mikroorganisme
menghilangkan pollutan, mereka juga menggunakan oksigen terlarut ketika
berlangsungnya proses metabolisme aerobik untuk mengoksidasi senyawa
organik. Di lain pihak, oksigen terlarut ini juga dibutuhkan untuk keperluan
kehidupan makhluk hidup lainnya di dalam air. Kelarutan dari kebanyakan gas
dalam larutan akan turun sejalan dengan kenaikan suhu, sehingga polusi suhu
juga akan menurunkan jumlah oksigen terlarut di dalam air.
Sebagai konsekuensi logisnya, standard empirik untuk menentukan kualitas
air adalah kandungan oksigen terlarut di dalam air yang biasa disebut DO
(Dissolved Oxygen).Kelangsungan hidup makhluk air tergantung pada
kemampuan air untuk menjaga konsentrasi minimum dari oksigen terlarut dalam
air. Ikan membutuhkan oksigen terlarut pada level yang lebih tinggi, invertebrate
pada level yang lebih rendah dan yang paling sedikit membutuhkan oksigen
terlarut adalah bakteri. Ada dua metode yang sering digunakan untuk analisa
oksigen terlarut, yaitu:
a. Metode titrasi cara winkler
b. Metode elektrodakimia
Percobaan ini menekankan pada analisa sampel air untuk mengukur
kandungan oksigen terlarut (DO) menggunakan alkali iodida azida metode
iodometri (winkler method).Analisanya didasarkan pada penggunaan senyawa
Mn (II) yang dioksidasi menjadi senyawa Mn (IV) oleh oksigen dalam sampel air
pada suasana basa.Senyawa Mn (IV) pada gilirannya bereaksi dengan KI atau NaI
untuk menghasilkan iodida (I2) yang setara dengan kandungan oksigen
terlarut.Iodida (I2) yang dibebaskan ini kemudian dititrasi dengan natrium
tiosulfat standar (Na2S2O3) menggunakan indikator kanji. Reaksi kimia yang
terjadi adalah sebagai berikut:
MnSO4 + 2 KOH Mn(OH)2 + K2SO4
2 Mn(OH)2 + O2 2 MnO(OH)2
MnO(OH)2 + 2 H2SO4 Mn(SO4)2 + 3 H2O
Mn(SO4)2 + 2 KI MnSO4 + K2SO4 + I2
2 Na2S2O3 + I2 Na2S4O6 + 2 NaI

5
4.3 Analisis Zat Padat Dalam Air Limbah (TS, TDS dan TSS)
 Padatan Total
Cara uji padatan total yang didasarkan pada SNI 06-6989.26-2005. ada
beberapa istilah yang perlu dijelaskan yaitu: padatan total, padatan total yang
menguap, dan padatan total yang terikat.
Istilah padatan total adalah semua bahan yang terdapat dalam contoh air
setelah dipanaskan 103-105oC selama tidak kurang dari 1 jam. Padatan total
yang menguap adalah padatan total yang menghilang setelah pemanasan pada
suhu 550oC selama tidak kurang dari 15 menit. Padatan total yang terikat
adalah padatan total yang tersisa setelah pemanasan 550oC selama tidak
kurang dari 15 menit. Berat tetap adalah berat penimbangan dengan perbedaan
hasil lebih kecil dari 4% dibandingkan penimbangan sebelumnya.
Prinsip pengujiannya adalah dengan memanaskan contoh uji pada suhu
103-105oC selama 1 jam kemudian ditimbang hingga berat tetap.
 Padatan Terlarut Total
Metode ini digunakan untuk menentukan kadar padatan terlarut total,
padatan terlarut total yang menguap dan padatan terlarut total yang terikat
dalam air dan air limbah secara gravimetri. Dalam pengujiannya, penimbangan
padatan terlarut total tidak boleh lebih dari 200 mg.
Padatan terlarut total adalah semua bahan dalam contoh uji yang lolos
dalam saringan membrane yang berpori 2,0m atau lebih kecil dan dipanaskan
108oC selama tidak kurang 1 jam. Padatan terlarut total yang menguap adalah
padatan terlarut total yang menghilang setelah pemanasan pada suhu 550oC
selama tidak kurang dari 15 menit. Padatan terlarut total yang terikat adalah
padatan terlarut total yang tersisa setelah pemanasan pada suhu 550oC selama
tidak kurang dari 15 menit.
Prinsip pengujiannya adalah dengan menguapkan contoh uji yang sudah
disaring dengan kertas saring berpori 2 m pada suhu 180oC kemudian
ditimbang sampai berat tetap.
 Padatan Tersuspensi Total
Metode ini digunakan untuk menentukan residu tersuspensi yang
terdapat dalam contoh uji air dan air limbah secara gravimetric.Metode ini

6
tidak termasuk penentuan bahan yang mengapung, padatan yang mudah
menguap dan dekomposisi garam mineral.
Yang dimaksud dengan padatan tersuspensi total (TSS) adalah residu
dari padatan total yang tertahan oleh saringan dengan ukuran partikel
maksimal 2 m atau lebih besar dari ukuran partikel koloid.
Prinsip pengujian kadar padatan tersuspensi total adalah contoh uji yang
telah homogen disaring dengan kertas saring yang telah ditimbang. Residu
yang tertahan pada saringan dikeringkan sampai mencapai berat konstan pada
suhu 103oC sampai dengan 105oC. Kenaikan berat saringan mewakili padatan
tersuspensi total (TSS). Jika padatan tersuspensi menghambat saringan dan
memperlama penyaringan, diameter pori-pori, saringan perlu diperbesar atau
mengurangi volume contoh uji. Untuk memperoleh estimasi TSS, dihitung
perbedaan antara padatan terlarut total dan padatan total.

4.4 Pengolahan Air Limbah Dengan Cara Koagulasi-Flokulasi


Pengolahan air limbah secara kimia adalah langkah yang penting.Biasanya
air permukaan membutuhkan zat kimia koagulasi untuk menghilangkan turbiditas
warna, rasa dan bau, selain itu juga untuk menghilangkan mineral-mineral terlarut
seperti besi,mangan dan kesadahan.
Tujuan utama pengolahan secara kimia adalah untuk mengaglomerasikan
zat-zat yang sangat halus dankoloid menjadi bentuk flok yang dapat dipisahkan
dari air dengan pengendapan atau filtrasi.Padapengolahan air, koagulasi dan
flokulasi digunakan untuk mendestabilisasikan kekeruhan, warna, senyawa yang
mengeluarkan bau, patogen, dan kontaminan lainnya dalam air permukaan. Pada
proses reklamasi air limbah, koagulasi membutuhkan penyaringan tersier terlebih
dahuluuntuk membersihkan limbah yang diolah secara biologi agar proses
disinfeksi berjalan efektif.
Pada proses pengendapan zat pencemar terjadi dua fase :
1. Pengadukan cepat untuk mendispersikan zat-zat koagulan melalui pengadukan
yang cepat pada air yang diproses.
2. Flokulasi untuk mengaglomerasikan partikel-partikel kecil menjadi flok-flok
melalui pengadukan yang lambat untuk waktu yang lebih lama.

7
Jar testsudah banyak digunakan untuk mensimulasikan proses koagulasi –
flokulasi untuk menentukan dosis optimal koagulan/flokulan. Alat yang
digunakan yaitu memiliki 6 agitator atau pengaduk yang dapat dioperasikan
dengan kecepatan putaran yang sama sekitar 10 rpm sampai 100 rpm.
Koagulan yang paling banyak digunakan untuk pengolahan air dan air
limbah adalah garam-garam alumunium dan besi.Garam logam yang umum
adalah alumunium sulfat yang merupakan koagulan yang baik untuk air yang
mengandung zat-zat organik. Koagulan besi efektif pada daerah pH yang lebih
luas, dan umumnya lebih efektif menghilangkan zat warna dari air, tetapi
biasanya membutuhkan biaya yang lebih besar. Untuk beberapa air, polimer
kationik efektif sebagai koagulan primer, tetapi polimer biasanya diaplikasikan
sebagai pembantu koagulan. Pemilihan pemakaian zat pembantu dan zat kimia
koagulan didasarkan pada kemampuan menghilangkan kontaminan dan turbiditas
yang diinginkan pada air yang disaring dengan biaya yang semurah mungkin.

4.5 Baku Mutu Air Limbah Industri Tekstil


(KepMen LH No.51/MENLH/10/1995)

Kadar Maksimum Ditinjau dari


Parameter Satuan
KepMen LH No.51/MENLH/10/1995
COD mg/L 150
BOD5 mg/L 60
TSS mg/L 50

V. ALAT DAN BAHAN


5.1. Analisis Kebutuhan Oksigen Kimia Dalam Air Limbah (COD)
 Alat
- Alat pemanas listrik
- Buret 50 mL
- Pipet volume 20 mL dan 10 mL
- Labu ukur 100 mL
- Piala gelas 100 mL
- Erlenmeyer 250 mL
- Tabung COD reactor

8
- COD reaktor
 Bahan
- Air contoh uji
- Larutan standard kalium dikromat (K2Cr2O7) 0,2500 N
- H2SO4 pekat
- Indikator feroin
- Ferroamonium Sulfat/garam Mohr (Fe(NH4)2(SO4)2)

5.2. Analisis Kebutuhan Oksigen Biologi Dalam Air Limbah (BOD)


 Alat
- Botol inkubasi winkler
- Inkubator 20oC
- Labu ukur 1 Liter
- Gelas Ukur 300 mL
- Gelas ukur 100 mL
- Erlenmeyer 250 mL
 Bahan
- Larutan contoh uji
- Air pengencer yang terbuat dari air suling jenuh oksigen ditambah 1 ml
larutan :
 2 ml Buffer fosfat
 2 ml CaCl2
 MgSO4
 FeCl2

5.3. Analisis Zat Padat Dalam Air Limbah (TS, TDS dan TSS)
 Alat
- Neraca Analitik
- Cawan Porselain
- Eksikator yang berisi silika gel
- Oven
- Penangas air
- Penjepit

9
- Pipet
- Erlenmeyer 250 mL
- Corong
 Bahan
- Larutan contoh uji
- Kertas saring

5.4. Pengolahan Air Limbah Dengan Cara Koagulasi


 Alat
- Jar tester
- Piala gelas 500 mL
- Labu ukur 100 mL
- Pengaduk
- Pipet
- pH meter
- Oven
 Bahan
- Larutan contoh uji
- Zat Koagulan FeSO4
- NaOH
- HCl

5.5. Pengolahan Air Limbah Dengan Cara Flokulasi


 Alat
- Jar tester
- Piala gelas 500 mL
- Labu ukur 100 mL
- Pengaduk
- Pipet
- pH meter
- Oven

10
 Bahan
- Larutan contoh uji
- Zat Koagulan FeSO4
- Poly Flok
- NaOH
- HCl

VI. CARA KERJA


6.1 Analisis Kebutuhan Oksigen Kimia Dalam Air Limbah (COD)
1) 1 ml contoh uji diencerkan menjadi 100 ml kemudian diambil 2,5 ml sampel
dan masukkan kedalam tabung COD reaktor.
2) Kemudian contoh uji ditambahkan larutan kalium dikromat (K2Cr2O7) 0,2500
N sebanyak 1,5 ml dan larutan H2SO4 sebanyak 3,5 ml sehingga total volume
pada tabung COD reactor adalah 7,5 ml.
3) COD reactor dipanaskan selama 2 jam.
4) Setelah itu, dinginkan contoh uji dan setelah dingin tambahkan indicator feroin
sebanyak 2-3 tetes.
5) Titrasi dengan larutan Ferroamonium sulfat / garam Mohr (Fe(NH4)2(SO4)2)
sampai warna hijau kebiruan berubah menjadi merah coklat.
6) Lakukan percobaan untuk blanko yang terdiri dari air suling yang mengandung
semua reagen pada larutan contoh uji dan dipanaskan pada COD reactor
dengan waktu yang sama kemudian dititrasi dengan cara yang sama.

Standarisasi Larutan Ferroamonium sulfat / garam Mohr (Fe(NH4)2(SO4)2)


1) Pipet 10 ml larutan standar primer K2Cr2O7 0,2500 N ke dalam Erlenmeyer,
kemudian encerkan dengan air suling sampai 100 ml.
2) Tambahkan H2SO4 pekat sebanyak 2 ml dengan hati-hati kemudian dinginkan.
3) Setelah dingin, tambahkan indicator feroin lalu dititrasi dengan larutan
Ferroamonium sulfat / garam Mohr (Fe(NH4)2(SO4)2) sampai warna larutan
berubah dari hijau kebiruan menjadi merah coklat.

11
6.2 Analisis Kebutuhan Oksigen Biologi Dalam Air Limbah (BOD)
1) Masukkan air pengencer kedalam labu pengencer setengahnya.
2) Pipet contoh uji yang telah memiliki pH netral sebanyak 3 ml (1/100 dari
volume labu pengencer) kemudian tambahkan dengan air pengencer kembali
hingga labu pengencer penuh tanpa adanya gelembung.
3) Segera tutup labu pengencer dan kocok dengan hati-hati sampai larutan
homogen.
4) Masukkan air contoh yang telah diencerkan kedalam 2 botol winkler (hindari
masuknya udara kedalam botol).
5) Periksa salah satu dari botol tersebut kandungan oksigen terlarutnya dengan
titrasi menggunakan larutan Na2S2O3.
6) Catat sebagai nilai DOo.
7) Botol yang lainnya diinkubasi pada suhu 26oC selama 5 hari, kemudian
periksa kadar oksigen terlarutnya setelah 5 hari sebagai DO5.
8) Lakukan analisa yang sama terhadap blanko air pengencer untuk koreksi.
Penentuan kadar oksigen terlarut (DO)
1) Tambahkan 1 ml larutan MnSO4 dan 1 ml larutan alkali iodida azida kedalam
contoh air yang berada didalam botol winkler dengan ujung pipet tepat berada
diatas permukaan bahan.
2) Tutup dengan hati-hati agar tidak ada gelembung udara dan kocok agar
homogen hingga terbentuk gumpalan sempurna.
3) Setelah mengendap, tambahkan 1 ml asam sulfat pekat kedalam botol melalui
dinding kemudian tutup kembali.
4) Botol digoyangkan beberapa kali sampai endapan larut sempurna.
5) Segera titrasi dengan larutan Na2S2O3 0,01 N sampai berwarna coklat muda
kemudian tambahkan 2 ml indicator kanji.
6) Titrasi dilanjutkan sampai warna biru dari kanji tepat hilang.

6.3 Analisis Zat Padat Dalam Air Limbah (TS, TDS dan TSS)
 Padatan Total (TS)
1) Cawan kosong yang telah dibersihkan dipanaskan dalam oven pada
temperatur 105oC selama 1 jam.
2) Didinginkan dalam eksikator selama 15 menit kemudian ditimbang dengan
teliti.

12
3) Contoh uji air limbah diambil 50 ml kemudian dituangkan kedalam cawan,
lalu dipanaskan sampai hampir kering tetapi tidak sampai membentuk
gelembung.
4) Air limbah dalam cawan tersebut sisanya diuapkan dan dikeringkan
didalam oven.
5) Cawan didinginkan didalam eksikator selama 15 menit kemudian
ditimbang.
 Padatan Tersuspensi (TSS)
1) Kertas saring dipanaskan didalam oven pada temperature 105oC selama 1
jam.
2) Kemudian didinginkan didalam eksikator selama 15 menit lalu ditimbang
dengan teliti hingga berat konstan.
3) Contoh uji yang telah dikocok kemudian diambil 50 ml dan disaring dengan
menggunakan kertas saring yang telah ditimbang.
4) Kertas saring diambil dan dikeringkan didalam oven.
5) Kertas saring yang telah dikeringkan kemudian dimasukkan kedlaam
eksikator lalu ditimbang sampai mendapat berat konstan.
 Padatan Terlarut
Kadar padatan terlarut dalam contoh uji dihitung berdasarkan hasil dari
pengamatan padatan total – padatan tersuspensi.

6.4 Pengolahan Air Limbah Dengan Cara Koagulasi


1) Contoh uji sebanyak 300 ml dimasukkan kedalam piala gelas.
2) Zat koagulan FeSO4 dimasukkan kedalam piala gelas yang telah berisi
contoh uji air limbah tersebut.
3) Atur pH air limbah antara 8-9 (suasana alkali).
4) Piala gelas diletakkan pada tempatnya pada alat jar tester.
5) Pengaduk diturunkan pada tempatnya kira – kira ditengah cairan.
6) Jar tester diputar pada rpm 100 selama 1 menit untuk meratakan dan
penempelan zat koagulan pada partikel – partikel zat padat.
7) Putaran jar tester diturunkan menjadi 20 rpm agar terbentuk flok yang lebih
besar dan berat dan dilakukan selama 20 menit.
8) Larutan yang telah membentuk flok dibiarkan selama 20 menit agar terjadi
pengendapan dari flok – flok.

13
9) Dengan hati – hati larutan bagian atas diambil untuk analisa padatan
tersuspensinya dengan cara :
- Kertas saring dipanaskan didalam oven pada temperature 105oC selama 1
jam.
- Kemudian didinginkan didalam eksikator selama 15 menit lalu ditimbang
dengan teliti hingga berat konstan.
- Larutan bagian atas diambil 50 ml dan disaring dengan menggunakan
kertas saring yang telah ditimbang.
- Kertas saring diambil dan dikeringkan didalam oven.
- Kertas saring yang telah dikeringkan kemudian dimasukkan kedlaam
eksikator lalu ditimbang sampai mendapat berat konstan.

6.5 Pengolahan Air Limbah Dengan Cara Flokulasi


1) Contoh uji sebanyak 300 ml dimasukkan kedalam piala gelas.
2) Zat koagulan FeSO4 dimasukkan kedalam piala gelas yang telah berisi
contoh uji air limbah tersebut.
3) Atur pH air limbah antara 8-9 (suasana alkali).
4) Piala gelas diletakkan pada tempatnya pada alat jar tester.
5) Pengaduk diturunkan pada tempatnya kira – kira ditengah cairan.
6) Jar tester diputar pada rpm 100 selama 1 menit untuk meratakan dan
penempelan zat koagulan pada partikel – partikel zat padat.
7) Putaran jar tester diturunkan menjadi 20 rpm agar terbentuk flok yang lebih
besar dan berat dan dilakukan selama 20 menit.
8) Larutan yang telah membentuk flok dibiarkan selama 20 menit agar terjadi
pengendapan dari flok – flok.
9) Dengan hati – hati larutan bagian atas diambil untuk analisa padatan
tersuspensinya dengan cara :
- Kertas saring dipanaskan didalam oven pada temperature 105oC selama 1
jam.
- Kemudian didinginkan didalam eksikator selama 15 menit lalu ditimbang
dengan teliti hingga berat konstan.
- Larutan bagian atas diambil 50 ml dan disaring dengan menggunakan
kertas saring yang telah ditimbang.

14
- Kertas saring diambil dan dikeringkan didalam oven.
- Kertas saring yang telah dikeringkan kemudian dimasukkan kedlaam
eksikator lalu ditimbang sampai mendapat berat konstan.

VII. DATA PERCOBAAN


7.1 Analisis Kebutuhan Oksigen Kimia Dalam Air Limbah (COD)
(𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑏𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜 − 𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖) × 𝑁𝐹𝐴𝑆 × 8000
𝐶𝑂𝐷 = × 𝐹𝑃
𝑚𝑙 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖

 Standarisasi Ferroamonium Sulfat


𝑉1 𝑁1 = 𝑉2 𝑁2
6,1 𝑚𝑙 × 𝑥 = 1 𝑚𝑙 × 0,25 𝑁
1 𝑚𝑙 × 0,25 𝑁
𝑥=
6,1 𝑚𝑙
𝑥 = 0,0409 𝑁

 Kebutuhan Oksigen Kimia (COD)


8,1 𝑚𝑙 + 8,2 𝑚𝑙
𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝐵𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜 = = 8,15 𝑚𝑙
2
𝑇𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝐶𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑈𝑗𝑖 = 6,4 𝑚𝑙
(𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑏𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜 − 𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖) × 𝑁𝐹𝐴𝑆 × 8000
𝐶𝑂𝐷 = × 𝐹𝑃
𝑚𝑙 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖
(8,15 − 6,4) × 0,0409 × 8000 100
𝐶𝑂𝐷 = ×
2,5 1
𝑚𝑔
𝐶𝑂𝐷 = 22904 ⁄𝐿

7.2 Analisis Kebutuhan Oksigen Biologi Dalam Air Limbah (BOD)


𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑤𝑟𝑖𝑛𝑘𝑙𝑒
𝐷𝑂 = 𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 × 𝑁 × 8000 ×
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑡𝑒𝑟𝑖𝑠𝑖
(𝐷𝑂0 − 𝐷𝑂5 )𝑐𝑢 (𝐷𝑂0 − 𝐷𝑂5 )𝑏𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜
𝐵𝑂𝐷 =
𝑃𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟

 DO0
2,3 + 2,5
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑏𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜 = = 2,4 𝑚𝑙
2

15
127
2,4 × 0,01 × 8000 ×
𝐷𝑂0 𝑏𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜 = 125 = 7,80
25
2,6 + 2,6
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖 = = 2,6 𝑚𝑙
2
127
2,6 × 0,01 × 8000 ×
𝐷𝑂0 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖 = 125 = 8,45
25

 DO5
0,1 + 0,1
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑏𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜 = = 0,1 𝑚𝑙
2
127
0,1 × 0,01 × 8000 ×
𝐷𝑂5 𝑏𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜 = 125 = 0,33
25
0,2 + 0,1
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖 = = 0,15 𝑚𝑙
2
131
0,15 × 0,01 × 8000 × 129
𝐷𝑂5 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖 = = 0,49
25

 Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD)


(𝐷𝑂0 − 𝐷𝑂5 )𝑐𝑢 (𝐷𝑂0 − 𝐷𝑂5 )𝑏𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜
𝐵𝑂𝐷 =
𝑃𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟
(8,45 − 0,49) − (7,80 − 0,33)
𝐵𝑂𝐷 =
3
204
𝐵𝑂𝐷 = 40,71 𝑚𝑔/𝐿

7.3 Analisis Zat Padat Dalam Air Limbah (TS, TDS dan TSS)
Data Pengamatan
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 = 40,4484 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑟𝑡𝑎𝑠 𝑠𝑎𝑟𝑖𝑛𝑔 = 0,5989 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 = 41,2106 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑘𝑒𝑟𝑡𝑎𝑠 𝑠𝑎𝑟𝑖𝑛𝑔 = 0,6161 𝑔𝑟𝑎𝑚

16
Perhitungan
 Padatan Total (TS)
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 − 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛
𝑇𝑆 = × 106
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑢𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛
41,2106 − 40,4484
𝑇𝑆 = × 106
50
𝑚𝑔
𝑇𝑆 = 15244 ⁄𝐿

 Padatan Tersuspensi (TSS)


𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑘𝑒𝑟𝑡𝑎𝑠 𝑠𝑎𝑟𝑖𝑛𝑔 − 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑟𝑡𝑎𝑠 𝑠𝑎𝑟𝑖𝑛𝑔
𝑇𝑆𝑆 = × 106
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑠𝑎𝑟𝑖𝑛𝑔
0,6161 − 0,5989
𝑇𝑆𝑆 = × 106
50
𝑚𝑔
𝑇𝑆𝑆 = 14900 ⁄𝐿

 Padatan Terlarut (TDS)


𝑇𝐷𝑆 = 𝑇𝑆 − 𝑇𝑆𝑆
𝑇𝐷𝑆 = 15244 − 344
𝑚𝑔
𝑇𝐷𝑆 = 14900 ⁄𝐿

7.4 Pengolahan Air Limbah Dengan Cara Koagulasi


 Variasi Konsentrasi FeSO4
𝑉1 𝑁1 = 𝑉2 𝑁2
a) 0,5 g/L = 500 mg/L
𝑉1 × 10000 𝑚𝑔/𝐿 = 400 𝑚𝑙 × 500 𝑚𝑔/𝐿
𝑉1 = 20 𝑚𝑙
b) 0,75 g/L = 750 mg/L
𝑉1 × 10000 𝑚𝑔/𝐿 = 400 𝑚𝑙 × 750 𝑚𝑔/𝐿
𝑉1 = 30 𝑚𝑙
c) 1 g/L = 1000 mg/L
𝑉1 × 10000 𝑚𝑔/𝐿 = 400 𝑚𝑙 × 1000 𝑚𝑔/𝐿
𝑉1 = 40 𝑚𝑙
d) 1,25 g/L = 1250 mg/L
𝑉1 × 10000 𝑚𝑔/𝐿 = 400 𝑚𝑙 × 1250 𝑚𝑔/𝐿

17
𝑉1 = 50 𝑚𝑙
e) 1,5 g/L = 1500 mg/L
𝑉1 × 10000 𝑚𝑔/𝐿 = 400 𝑚𝑙 × 1500 𝑚𝑔/𝐿
𝑉1 = 60 𝑚𝑙
f) 1,75 g/L = 1750 mg/L
𝑉1 × 10000 𝑚𝑔/𝐿 = 400 𝑚𝑙 × 1750 𝑚𝑔/𝐿
𝑉1 = 70 𝑚𝑙

 Data Pengamatan
Konsentrasi Cawan Kertas Saring
FeSO4 Berat Awal Berat Akhir Berat Awal Berat Akhir
0,5 g/L 89,2662 g 89,8064 g 0,5602 g 0,6178 g
0,75 g/L 82,1109 g 82,6691 g 0,5999 g 0,6574 g
1 g/L 71,3271 g 71,8979 g 0,5409 g 0,5828 g
1,25 g/L 39,3058 g 39,7966 g 0,5357 g 0,6479 g
1,5 g/L 89,4960 g 89,9656 g 0,6248 g 0,7804 g
1,75 g/L 86,5892 g 87,0705 g 0,6098 g 0,6921 g

 Perhitungan TS, TSS dan TDS setelah koagulasi


a) FeSO4 0,5 g/L
89,8064 − 89,3662 𝑚𝑔
𝑇𝑆 = × 106 = 10804 ⁄𝐿
50
0,6178 − 0,5602 𝑚𝑔
𝑇𝑆𝑆 = × 106 = 1152 ⁄𝐿
50
𝑚𝑔
𝑇𝐷𝑆 = 10804 − 1152 = 9652 ⁄𝐿

b) FeSO4 0,75 g/L


82,6691 − 82,1109 𝑚𝑔
𝑇𝑆 = × 106 = 11164 ⁄𝐿
50
0,6574 − 0,5999 𝑚𝑔
𝑇𝑆𝑆 = × 106 = 1150 ⁄𝐿
50
𝑚𝑔
𝑇𝐷𝑆 = 11164 − 1150 = 10014 ⁄𝐿

18
c) FeSO4 1 g/L
71,8979 − 71,3271 𝑚𝑔
𝑇𝑆 = × 106 = 11416 ⁄𝐿
50
0,5828 − 0,5257 𝑚𝑔
𝑇𝑆𝑆 = × 106 = 942 ⁄𝐿
50
𝑚𝑔
𝑇𝐷𝑆 = 11416 − 942 = 10474 ⁄𝐿

d) FeSO4 1,25 g/L


39,7966 − 39,3058 𝑚𝑔
𝑇𝑆 = × 106 = 9816 ⁄𝐿
50
0,6479 − 0,5357 𝑚𝑔
𝑇𝑆𝑆 = × 106 = 2244 ⁄𝐿
50
𝑚𝑔
𝑇𝐷𝑆 = 9816 − 2244 = 75744 ⁄𝐿

e) FeSO4 1,5 g/L


89,9656 − 89,4960 𝑚𝑔
𝑇𝑆 = × 106 = 9392 ⁄𝐿
50
0,7804 − 0,6248 𝑚𝑔
𝑇𝑆𝑆 = × 106 = 3112 ⁄𝐿
50
𝑚𝑔
𝑇𝐷𝑆 = 9392 − 3112 = 6280 ⁄𝐿

f) FeSO4 1,75 g/L


87,0705 − 86,5892 𝑚𝑔
𝑇𝑆 = × 106 = 9626 ⁄𝐿
50
0,6921 − 0,6098 𝑚𝑔
𝑇𝑆𝑆 = × 106 = 1646 ⁄𝐿
50
𝑚𝑔
𝑇𝐷𝑆 = 9626 − 1646 = 7980 ⁄𝐿

19
 Efisiensi
𝑇𝑆 𝑎𝑤𝑎𝑙 − 𝑇𝑆 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 = × 100%
𝑇𝑆 𝑎𝑤𝑎𝑙

Konsentrasi TS Efisiensi
FeSO4 Awal Akhir
0,5 g/L 10.804 mg/L 29,1262%
0,75 g/L 11.164 mg/L 26,7646%
1 g/L 11.416 mg/L 25,1115%
15.244 mg/L
1,25 g/L 9.816 mg/L 35,6075%
1,5 g/L 9.392 mg/L 38,3889%
1,75 g/L 9.626 mg/L 36,8538%

7.5 Pengolahan Air Limbah Dengan Cara Flokulasi


 Variasi Konsentrasi Flokulan
𝑉1 𝑁1 = 𝑉2 𝑁2
a) 0,05 g/L = 50 mg/L
𝑉1 × 2000 𝑚𝑔/𝐿 = 400 𝑚𝑙 × 50 𝑚𝑔/𝐿
𝑉1 = 10 𝑚𝑙
b) 0,075 g/L = 75 mg/L
𝑉1 × 2000 𝑚𝑔/𝐿 = 400 𝑚𝑙 × 75 𝑚𝑔/𝐿
𝑉1 = 15 𝑚𝑙
c) 0,1 g/L = 100 mg/L
𝑉1 × 2000 𝑚𝑔/𝐿 = 400 𝑚𝑙 × 100 𝑚𝑔/𝐿
𝑉1 = 20 𝑚𝑙
d) 0,125 g/L = 125 mg/L
𝑉1 × 2000 𝑚𝑔/𝐿 = 400 𝑚𝑙 × 125 𝑚𝑔/𝐿
𝑉1 = 25 𝑚𝑙
e) 0,15 g/L = 150 mg/L
𝑉1 × 2000 𝑚𝑔/𝐿 = 400 𝑚𝑙 × 150 𝑚𝑔/𝐿
𝑉1 = 30 𝑚𝑙
f) 1,75 g/L = 1750 mg/L
𝑉1 × 2000 𝑚𝑔/𝐿 = 400 𝑚𝑙 × 175 𝑚𝑔/𝐿

20
𝑉1 = 35 𝑚𝑙

 Data Pengamatan
Konsentrasi Cawan Kertas Saring
FeSO4 Berat Awal Berat Akhir Berat Awal Berat Akhir
0,05 g/L 86,6255 g 87,0515 g 0,5197 g 0,5608 g
0,075 g/L 89,4705 g 89,8755 g 0,5314 g 0,5622 g
0,1 g/L 82,1419 g 82,5041 g 0,5370 g 0,5670 g
0,125 g/L 70,4519 g 70,7444 g 0,5280 g 0,5572 g
0,15 g/L 89,2858 g 89,6215 g 0,5298 g 0,5536 g
0,175 g/L 71,3383 g 71,6823 g 0,5619 g 0,5871 g

 Perhitungan TS, TSS dan TDS setelah koagulasi


a) FeSO4 0,05 g/L
87,0515 − 86,6255 𝑚𝑔
𝑇𝑆 = × 106 = 8520 ⁄𝐿
50
0,5608 − 0,5197 𝑚𝑔
𝑇𝑆𝑆 = × 106 = 822 ⁄𝐿
50
𝑚𝑔
𝑇𝐷𝑆 = 8520 − 822 = 7698 ⁄𝐿

b) FeSO4 0,075 g/L


89,8755 − 89,4705 𝑚𝑔
𝑇𝑆 = × 106 = 8100 ⁄𝐿
50
0,5622 − 0,5314 𝑚𝑔
𝑇𝑆𝑆 = × 106 = 616 ⁄𝐿
50
𝑚𝑔
𝑇𝐷𝑆 = 8100 − 616 = 7484 ⁄𝐿

c) FeSO4 0,1 g/L


82,5041 − 82,1419 𝑚𝑔
𝑇𝑆 = × 106 = 7244 ⁄𝐿
50
0,5670 − 0,5370 𝑚𝑔
𝑇𝑆𝑆 = × 106 = 600 ⁄𝐿
50
𝑚𝑔
𝑇𝐷𝑆 = 7244 − 600 = 6644 ⁄𝐿

21
d) FeSO4 0,125 g/L
70,7444 − 70,4519 𝑚𝑔
𝑇𝑆 = × 106 = 5850 ⁄𝐿
50
0,5572 − 0,5280 𝑚𝑔
𝑇𝑆𝑆 = × 106 = 584 ⁄𝐿
50
𝑚𝑔
𝑇𝐷𝑆 = 5850 − 584 = 5266 ⁄𝐿

e) FeSO4 0,15 g/L


89,6215 − 89,2858 𝑚𝑔
𝑇𝑆 = × 106 = 6714 ⁄𝐿
50
0,5536 − 0,5298 𝑚𝑔
𝑇𝑆𝑆 = × 106 = 476 ⁄𝐿
50
𝑚𝑔
𝑇𝐷𝑆 = 6714 − 476 = 6238 ⁄𝐿

f) FeSO4 1,75 g/L


71,6823 − 71,3383 𝑚𝑔
𝑇𝑆 = × 106 = 6880 ⁄𝐿
50
0,5871 − 0,5619 𝑚𝑔
𝑇𝑆𝑆 = × 106 = 504 ⁄𝐿
50
𝑚𝑔
𝑇𝐷𝑆 = 6880 − 504 = 6376 ⁄𝐿

 Efisiensi
𝑇𝑆 𝑎𝑤𝑎𝑙 − 𝑇𝑆 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 = × 100%
𝑇𝑆 𝑎𝑤𝑎𝑙

Konsentrasi TS Efisiensi
FeSO4 Awal Akhir
0,05 g/L 8.520 mg/L 44,1092%
0,075 g/L 8.100 mg/L 46,8643%
0,1 g/L 5.266 mg/L 65,4553%
15.244 mg/L
0,125 g/L 5.850 mg/L 61,6242%
0,15 g/L 6.714 mg/L 55,9564%
0,175 g/L 6.880 mg/L 54,8675%

22
VIII. DISKUSI
8.1. Analisis Kebutuhan Oksigen Kimia Dalam Air Limbah (COD)
Pada praktikum ini, dilakukan praktikum untuk mengetahui kebutuhan
oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi zat kimia dalam air limbah. Prinsip
pengujian COD adalah penambahan sejumlah tertentu kalium bikromat
(K2Cr2O7) sebagai oksidator pada sampel (dengan volume diketahui) yang telah
ditambahkan asam pekat dan katalis perak sulfat, kemudian dipanaskan selama
beberapa waktu. Selanjutnya, kelebihan kalium bikromat ditera dengan cara
titrasi. Zat organik yang terkandung dalam limbah akan diurai oleh campuran
kromat dan asam sulfat menjadi CO2 dan air.
Dikarenakan Larutan Ferroamonium sulfat ini kurang stabil, harus
dilakukan standarisasi terlebih dahulu. Limbah yang akan diuji ditambahkan
kalium dikromat standar, asam sulfat yang telah ditambahkan perak sulfat. Lalu
dimasukkan kedalam COD reactor selama 2 jam. Oksidasi zat-zat organic
merubah dikromat menjadi kromium trivalent, seperti pada reaksi di bawah ini:

Panas
2- +
Zat organik+ Cr2O7 + H CO2 + H2O
Ag
-

Larutan kalium dikromat (K2Cr2O7) dalam H2SO4 bertindak sebagai zat


pengoksidasi kuat dan perak sulfat (Ag2SO4) yang berfungsi sebagai katalis
dalam pengoksidasian zat-zat organik dalam contoh air. Pada metode titrimetri,
setelah 2 jam sisa dikromat dititrasi dengan feroamonium sulfat. Didapatkan
kadar COD sebesar 22.904 mg/L. Berdasarkan baku mutu limbah industri tekstil
yang ditetapkan KepMen LH No.51/MENLH/10/1995, kadar COD limbah
industri tekstil minimal mempunyai kadar 150 mg/L. Jadi, limbah contoh uji
mempunyai nilai diatas baku mutu dan harus diolah terlebih dahulu sebelum
dibuang.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pengujian kadar COD


yaitu pH larutan yang harus asam, suhu yang digunakan pada saat pengujian
harus tinggi, waktu ekstrasi yang digunakan harus tepat selama 2 jam. Semakin
besar nilai COD suatu contoh uji, maka semakin besar pula tingkat pencemaran
yang terjadi pada perairan.

23
8.2. Analisis Kebutuhan Oksigen Biologi Dalam Air Limbah (BOD)
Pada praktikum ini, dilakukan praktikum untuk mengetahui kebutuhan
oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan zat organik yang berada
di dalam air limbah. Prinsip pengujian BOD adalah sejumlah contoh uji
ditambahkan larutan nutrisi, bibit mikroba, buffer posphat dan zat lainnya.
Kemudian di inkubasi dalam ruang gelap pada suhu 20˚C±1˚C selama 5 hari.
Nilai BOD dihitung berdasarkan selisih konsentrasi oksigen terlarut antara 0 (nol)
hari dan 5 (lima) hari.
Metoda untuk penetapan oksigen tersuspensi menggunakan alkali iodide
azida metode iodometri atau wrinkle method. Senyawa Mn (II) yang dioksidasi
menjadi senyawa Mn (IV) oleh oksigen dalam sampel air. Senyawa Mn (IV) akan
bereaksi dengan KI atau NaI untuk menghasilkan Iodida. Iodida yang dibebaskan
ini kemudian dititrasi dengan natrium tiosulfat standard (Na2S2O3) dengan
indikator kanji. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
MnSO4 + 2 KOH Mn(OH)2 + K2SO4

2 Mn(OH)2 + O2 2 MnO(OH)2

MnO(OH)2 + 2 H2SO4 Mn(SO4)2 + 3 H2O

Mn(SO4)2 + 2 KI MnSO4 + K2SO4 + I2

2 Na2S2O3 + I2 Na2S4O6 + 2 NaI

Untuk mendapatkan hasil pengujian yang baik, maka contoh uji


sebaiknya diencerkan terlebih dahulu. Ini dilakukan agar pada saat inkubasi
terdapat nutrisi dan oksigen yang cukup. Umumnya, air limbah memberikan zat-
zat organic dan air penegncer memberikan oksigen terlarut. Pada saat
pengondisian botol wrinkle sebaiknya tidak terdapat gelembung, ini dikarenakan
adanya ion karbon dari CO2 diudara yang dapat mengganggu pengoksidasian zat
organik.
Berdasarkan praktikum, didapatkan kadar DO0 contoh uji 8,45 mg/L
sedangkan DO5 contoh uji 0,49 mg/L. Pengukuran DO5 ini untuk mengetahui
kerja mikroorganisme yang maksimal. Pada saat DO5 reaksi yang terjadi adalah
karbonisasi, hal ini menunjukkan hilangnya karbon di air limbah. Pengoksidasian

24
limbahnya ini baru mencapai 75%. Jika pengukuran dilakukan lebih dari DO5
maka akan terjadinya nitrifikasi dan karbonisasi. Dari data DO yang dihasilkan,
dihitung nilai BOD contoh uji. Didapatkan BOD contoh uji bernilai 40,71 mg/L.
Semakin besar BOD semakin banyak oksigen yang terlarut untuk menguraikan
limbah.

Berdasarkan baku mutu limbah industri tekstil yang ditetapkan KepMen


LH No.51/MENLH/10/1995, kadar BOD limbah industri tekstil minimal
mempunyai kadar 60 mg/L. Jadi, limbah contoh uji mempunyai nilai BOD yang
sudah memenuhi nilai baku mutu limbah industri tekstil.

8.3. Analisis Zat Padat Dalam Air Limbah (TS, TDS dan TSS)
Pada praktikum ini, dilakukan praktikum yang bertujuan untuk
mengetahui jumlah padatan yang terkandung dalam air limbah termasuk padatan
total yang menguap dan padatan total terikat. Dalampengujian ini, terbagi 3 jenis
padatan yang akan dihitung yaitu, padatan total, padatan terlarut total danpadatan
tersuspensi total.
Prinsip pengujian TSS adalah contoh uji yang telah homogen disaring
dengan kertas saring yang telah ditimbang. Residu yang tertahan pada kertas
saring dikeringkan sampai mencapai berat konstan pada suhu 104˚C ± 1˚C.
Kenaikan berat kertas saring mewakili total padatan tersuspensi.
Prinsip pengujian padatan total (TS) adalah dengan memanaskan contoh
uji pada suhu 103-105OC selama 1 jam kemudian ditimbang hingga berat tetap.
Limbah contoh uji sebanyak 50 ml dipanaskan di cawan porselen pada penangas
listrik. Contoh uji dibiarkan menguap seluruhnya, lalu jika airnya sudah habis dan
hanya tersisa padatannya, cawan di oven dan di desikator. Lalu hasilnya
ditimbang. Hasil TS contoh uji adalah 15.244 mg/L.
Prinsip pengujian padatan tersuspensi (TSS) adalah contoh uji yang telah
homogen disaring dengan kertas saring yang telah ditimbang. Residu tertahan
yang pada saringan dikeringkan sampai mencapai berat konstan pada suhu
103OC-105OC. Kenaikan berat saringan mewakili padatan tersuspensi. Limbah
contoh uji sebanyak 50 ml disaring dengan kertas saring sampai tersisa kertas
saring yang berwarna (air sudah seluruhnya tersaring). Kertas saring di oven dan
di desikator lalu ditimbang. Hasil TSS contoh uji adalah 344 mg/L.

25
Sedangkan pada pengujian padatan terlarut (TDS), dapat didapatkan
dengan mengurangi hasil TS dan TSS yaitu didapatkan nilai 14.900 mg/L.
Berdasarkan baku mutu limbah industri tekstil yang ditetapkan KepMen
LH No.51/MENLH/10/1995, kadar TSS limbah industri tekstil minimal
mempunyai kadar 50 mg/L. Jadi, limbah contoh uji mempunyai nilai diatas baku
mutu dan harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang. Dikarenakan pengujian
ini dilakukan dengan cara kuantitatif, maka pada saat penimbangan dan
penyaringan diperlukan ketelitian agar didapatkan hasil yang maksimal.

8.4. Pengolahan Air Limbah Dengan Cara Koagulasi


Pada praktikum ini, dilakukan praktikum yang bertujuan mengolah
limbah tekstil dengan cara koagulasi agar dapat memenuhi baku mutu sebelum
dibuang ke lingkungan. Zat koagulan yang digunakan praktikan adalah FeSO4.
Pada proses koagulasi ini, dibutuhkan pH 8-9. Limbah contoh uji mempunyai pH
6 sehingga praktikan perlu menambahkan NaOH agar suasana proses dapat
mencapai pH 8-9. Pada saat praktikum terlebih dahulu dilakukan pengadukan
cepat selama 1 menit, ini dilakukan untuk pendispersian zat koagulan, setelah 1
menit, dilakukan pengadukan lambat selama 20 menit, pengadukan lambat ini
dilakukan untuk mengikat menjadi mikro flok. Konsentrasi koagulan yang
digunakan pada saat praktikum yaitu sebesar 0,5 g/L; 0,75 g/L; 1 g/L; 1,25 g/L;
1,5 g/L dan 1,75 mg/L.

Grafik Efisiensi TS
Metoda Koagulasi
50

40 38.3889 36.8538
35,6075
Efisiensi (%)

30 29.1262 26.764
25.115
20

10

0
0 0.5 1 1.5 2
Konsentrasi Koagulan (g/L)

26
Dapat dilihat pada grafik, Efisiensi TS paling besar ditunjukkan pada
konsentrasi koagulan 1,5 g/L. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi koagulan
yang tepat untuk mendegradasi limbah adalah 1,5 g/L. Pada konsentrasi 1,7 g/L,
kemungkinan zat koagulan sudah menjadi zat pengotor karena konsentrasinya
yang terlalu besar dan hal ini membuat efisiensinya turun.

8.5. Pengolahan Air Limbah Dengan Cara Koagulasi-Flokulasi


Pada praktikum ini, dilakukan praktikum yang bertujuan mengolah
limbah tekstil dengan cara koagulasi serta flokulasi agar dapat memenuhi baku
mutu sebelum dibuang ke lingkungan. Prinsippengujian ini sama dengan
pengujian koagulasi, hanya saja terdapat penambahan zat flokulan. Zat koagulan
yang digunakan praktikan adalah FeSO4. Zat flokulan yang digunakan adalah
poly flok. Pada proses koagulasi-flokulasi ini, dibutuhkan pH 8-9. Limbah contoh
uji mempunyai pH 6 sehingga praktikan perlu menambahkan NaOH agar suasana
proses dapat mencapai pH 8-9. Pada saat praktikum terlebih dahulu dilakukan
pengadukan cepat selama 1 menit, ini dilakukan untuk pendispersian zat
koagulan, setelah 1 menit, dilakukan pengadukan lambat selama 20 menit,
pengadukan lambat ini dilakukan untuk mengikat menjadi mikro flok.
Konsentrasi koagulan yang digunakan pada saat praktikum yaitu sebesar 1,5 g/L
(nilai optimum pada pengujian koagulasi). Sedangkan konsentrasi flokulan yang
digunakan adalah 0,05 g/L; 0,075 g/L; 0,1 g/L; 0,125 g/L; 0,15 g/L dan 0,175
mg/L.

Grafik Efisiensi TS
Metoda Flokulasi
70 65.4553
61.6242
60 55.9564
46.8643
50 54.8675
Efisiensi (%)

44.1092
40
30
20
10
0
0 0.05 0.1 0.15 0.2
Konsentrasi Flokulan (mg/L)

27
Dapat dilihat pada grafik, Efisiensi TS paling besar ditunjukkan pada
konsentrasi flokulan 0,1 g/L. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi
flokulanyang tepat untuk mendegradasi limbah adalah 0,1 g/L. Pada konsentrasi
0,15 g/L dan 0,175 g/L, kemungkinan zat flokulan sudah menjadi zat pengotor
karena konsentrasinya yang terlalu besar dan hal ini membuat efisiensinya turun.

IX. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum-praktikum diatas, telah didapatkan hasil sebagai berikut :
- Kadar COD contoh uji adalah 22.904 mg/L
- Kadar BOD contoh uji adalah 40,71 mg/L
- Kadar TS contoh uji adalah 15.244 mg/L
- Kadar TSS contoh uji adalah 344 mg/L
- Kadar TDS contoh uji adalah 14.900 mg/L
- Konsentrasi zat koagulan FeSO4 yang optimum adalah 1,5 g/L dengan efisiensi
38,3889%
- Konsentrasi zat flokulan polyflok yang optimum adalah 0,1 g/L dengan efisiensi
65,4553%

28
DAFTAR PUSTAKA

Rahayu,Hariyanti dan Handoko, Budi. 2006. Bahan Ajar Praktikum Air Proses dan
Limbah Industri. Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.
Dr, Isminingsih G. 2008. Air Proses Untuk Industri Tekstil. Bandung. Sekolah Tinggi
Teknologi Tekstil.
G., S.Teks., M.Sc., Dr. Isminingsih. 2008. Seri Kuliah Air Proses Untuk Industri Tekstil
Pengolahan Limbah dan Produksi Bersih. Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi
Tekstil.

29
LAMPIRAN
(Beberapa dokumentasi hasil praktikum)

30
31