Anda di halaman 1dari 43

I.

JUDUL PRAKTIKUM
1.1 Analisis Kualitatif Air Proses Industri Tekstil
1.2 Analisis Kuantatif Kandungan Klorida dalam Air
1.3 Analisis Kuantatif Kandungan Sulfat dalam Air
1.4 Analisis Alkalinitas Air
1.5 Analisis Kesadahan Dengan Cara Kompleksometeri
1.6 Analisis Kadar Besi Secara Spektrofotometri
1.7 Pelunakan Air Sadah

II. TANGGAL PRAKTIKUM


2.1 30 Agustus 2018
2.2 6 September 2018
2.3 13 September 2018
2.4 20 September 2018
2.5 27 September 2018

III. MAKSUD DAN TUJUAN


3.1 Mengetahui kandungan zat atau mineral pada suatu air proses yang akan
digunakan dalam proses basah tekstil.
3.2 Mengetahui dan dapat mengukur kandungan klorida dalam air sehingga tidak
mengganggu proses basah tekstil
3.3 Mengetahui dan dapat mengukur kandungan sulfat dalam air sehingga tidak
mengganggu proses tekstil
3.4 Mengetahui kadar alkalinitas dari air yang mempengaruhi kualitas air untuk
proses basah tekstil
3.5 Mengetahui kadar kesadahan air yang dapat mempengaruhi kualitas air untuk
proses basah tekstil
3.6 Mengetahui kadar besi dalam air untuk proses basah tekstil
3.7 Menurunkan kesadahan air dan menghilangkan ion-ion penyebab kesadahan
dalam air

1
IV. DASAR TEORI
4.1 Analisis Kualitatif Air Proses Industri Tekstil
Pada setiap industri tekstil, air merupakan bahan dasar yang sangat penting.
Air tidak hanya sebagai penyedia uap boiler untuk keperluan pemanasan dan
pengeringan, tetapi juga sebagai medium pada semua proses basah tekstil, seperti
pemasakan, pengelntangan, pencelupan, pencapan dan penyempurnaan.
Pada umumnya industri tekstil dihadapkan pada tiga masalah utama
mengenai air untuk proses, yaitu (a) penyediaan air dengan kualitas yang cocok
untuk memproses proses tekstil (b) penyediaan air tepat untuk boiler (c)
pencegahan terjadinya korosi pada logam, saluran pipa serta untuk keperluan
rumah tangga industry sehari-hari.
Pada umumnya untuk memenuhi kebutuhan air proses tekstil, industry
menggunakan air dari sumber alam yang mengandung zat atau mineral yang
beragam baik jenis maupun jumlahnya tergantung dari sumber asalnya. Zat yang
paling banyak ditemukan dalam air adalah senyawa bikarbonat, sulfat, dan
klorida dari kalsium, magnesium dan natrium.
Air proses tekstil mempunyai persyaratan tertentu untuk dapat digunakan,
sehingga tidak dapat mengganggu proses tekstil. Berikut ini adalah beberapa hal
yang biasanya ada pada air yang dapat berpengaruh pada proses tekstil:
a) Kekeruhan dan warna
Kekeruhan dapat terjadi karena adanya partikel besar maupun kecil
yang tersuspensi, baik berupa senyawa organic mapun anorganik, misalnya
lumpur, pasir kalsium, karbonat, silica, kotoran, tumbuhan, lemak, mikro-
organisme, dan sebagainya. Kekeruhan dalam air dapat menyebabkan endapan
pada pipa-pipa dan dinding ketel, selain itu juga akan mengganggu hasil
proses OBA (optical bright agent) sehingga akan tidak akan menjadi
putih.Warna air terutama karena adanya zat organic yang terlarut atau
terdispersi koloidal dan berikatan dengan besi dan mangan.
b) Derajat keasaman
Derajat keasaman atau pH merupakan kadar asam atau bebas di dalam
larutan dengan melihat konsentrasi ion hydrogen (H+). Suasana asam dalam air
akan mempengaruhi beberapa proses basah tekstil dan akan merusak beberapa
jenis bahan tekstil terutama bahan selulosa. Selain asam, air yang terlalu alkali

2
dapat merusak pipa logam dan menyebabkan kerapuhan yang dikenal dengan
sistilah kerapuhan fisik.
c) Alkalinitas
Alkalinitas adalah kemampuan air untuk mempertahankan pH nya
terhadap penambahan asam. Alkalinitas terdiri dari ion-ion bikarbonat
(HCO3-), karbonat (CO32-) dan hidroksida (OH-) yang merupakan buffer
terhadap pengaruh pengasaman. Alkalinitas diperlukan untuk mencegah
terjadinya fluktuasi pH yang besar, selain itu juga merupakan sumber
CO2 untuk proses fotosintesis fitoplankton. Nilai alkalinitas akan menurun jika
aktifitas fotosintesis naik, sedangkan ketersediaan CO2 yang dibutuhkan untuk
fotosintesis tidak memadai.
Sumber alkalinitas air tambak berasal dari proses difusi CO2 di udara
ke dalam air, proses dekomposisi atau perombakan bahan organik oleh bakteri
yang m enghasilkan CO2, juga secara kimiawi dapat dilakukan dengan
pengapuran secara merata di seluruh dasar tambak atau permukaan air .Jenis
kapur yang biasa digunakan adalah CaCO3 (kalsium karbonat),
CaMg(CO3)2 (dolomit), CaO (kalsium oksida), atau Ca(OH)2(kalsium
hidroksida). Alkalinitas dinyatakan dalam mg CaCO3/liter air (ppm).
Alkalinitas secara umum menunjukkan konsentrasi basa atau bahan
yang mampu menetralisir kemasamaan dalam air. Secara khusus, alkalinitas
sering disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas pem-buffer-an
dari ion bikarbonat, dan sampai tahap tertentu ion karbonat dan hidroksida
dalam air. Ketiga ion tersebut di dalam air akan bereaksi dengan ion hidrogen
sehingga menurunkan kemasaman dan menaikan pH. Alkalinitas biasanya
dinyatakan dalam satuan ppm (mg/L) kalsium karbonat (CaCO3). Air dengan
kandungan kalsium karbonat lebih dari 100 ppm disebut sebagai alkalin,
sedangkan air dengan kandungan kurang dari 100 ppm disebut sebagai lunak
atau tingkat alkalinitas sedang.
d) Kesadahan
Kesadahan dalam air timbul karena adanya garam-garam kalsium dan
magnesium yang dapat mengganggu proses basah tekstil. Hal-hal yang dapat
terjadi apabila air yang digunakan untuk proses tekstil mengandung kesadahan
yang tinggi adalah sebagai berikut:
- Air sadah menyebabkan sabun tidak berbuih dan mengendap.

3
- Pada proses pencucian, endapan ini masuk diantara serat-serat sehingga
kain menjadi keras dan kaku, bahkan tidak jarang kain menjadi kelabu.
- Pada proses pemasakan, garam-garam tersebut membentuk sabun yang
tidak larut dan dapat menempel pada kain secara tidak merata yang akan
membuat hasil celupan tidak rata.
- Pada proses pencelupan zat warna bejana ion kalsium dapat menyebabkan
garam leuko zat warna berubah menjadi zat warna bejana yang mengendap.
e) Besi
Garam-garam besi berpengaruh pada beberapa proses industry tekstil.
Pada proses pemasakan dan pengelantangan, garam-garam besi selain dapat
menyebabkan noda-noda kuning kecoklatan yang mengotori pada bahan tekstil
juga dapat memperbesar kerusakan bahan selulosa, karena logam-logam berat
berfungsi sebagai katalis dalam penguraian zat warna, sehingga dalam proses
pencelupan menghasilkan warna celupan yang tidak sesuai dengan yang
dikehendaki.
f) Silikat
Adanya silikat dalam air disebabkan adanya degradasi dari batuan yang
mengandung silikat. Hasil degradasi silikat berbentuk partikel-partikel
tersuspensi dalam koloidal. Pada umumnya, kandungan silikat dalam air antara
1-30 mg/L untuk keperluan industry adanya silikat tidak diinginkan, karena
akan menyebabkan kerak yang sulit dihilangkan sehingga dapat menyumbat
pipa-pipa dan melapisi dinding ketel uap bertekanan tinggi. Jika dalam air
terdapat kalsium, biasanya kerak tersebut adalah senyawa kalsium silikat. Jika
terdapat aluminium dalam air, maka kerak tersebut adalah senyawa
aluminosilikat. Adanya endapan tersebut biasanya hamper seluruhnya adalah
senyawa silikat padahal senyawa silikat sangat sulit dihilangkan.
g) Klorida
Adanya klorida dalam air menyebabkan kesadahan tetap yang dapat
mengganggu proses basah tekstil. Kadar klorida yang terlalu tinggi akan
menyebabkan kerusakan pada peralatan yang terbuat dari besi, karena klorida
bersifat korosif.

4
h) Aluminium
Bila dalam air terdapat aluminium dan disertai adanya silikat, akan
menyebabkan terbentuknya aluminosilikat yang dapat melapisi pipa-pipa dan
ketel uap.

i) Sulfat
Ion sulfat dalam air berikatan dengan ion kalsium atau magnesium
sehingga menyebabkan kesadahan tetap.

j) Zat organic
Adanya zat organic dalam air akan menyebabkan baud an warna yang
tidak dikehendaki dalam air proses.

4.2 Analisa Kuantatif Kandungan Klorida dalam Air


Kadar klorida dalam air proses tekstil dibatasi oleh standar karena klorida
bersifat korosif. Ada dua cara penentuan kadar klorida di dalam air, yaitu cara
argentometri dan merkurimetri. Cara yang paling sering digunakan adalah cara
argentometri yang dikenal dengan cara Mohr. Pada metoda mohr, klorida
diendapkan oleh AgNO3 membentuk endapan AgCl yang berwarna putih. AgCl
yang terbentuk akan setara (equivalent) dengan kandungan klorida di dalam air.
Kalium kromat digunakan sebagai indikator, semua AgCl akan terbentuk lebih
dulu sebelum Ag2CrO4 yang berwarna merah terbentuk.
Kalium khromat digunakan sebagai indikator,semua AgCl akan terbentuk
terlebih dahulu sebelum endapan Ag khromat yang berwarna merah terbentuk.
Kondisi titrasi harus diusahakan dalam suasana netral sampai basa pH antara 7-
10. Jika dilakukan dalam suasana asam maka konstanta ionisasi asam kromat
kecil sehingga kromat bereaksi dengan hydrogen. Metoda ini dapat digunakan
untuk konsentrasi koloid sampai 2000mg/L, untuk konsentrasi yang lebih tinggi
sebaiknya dilakukan pengenceran.
Titrasi argentometri biasa juga di sebut dengan titrasi pengendapan yang
merupakan titrasi yang memperlihatkan pembentukan endapan dari garam yang
tidak mudah larut antara titran. Jenis ini adalah pencapaian keseimbangan
pembentukan yang cepat setiap kali titran di tambahkan analit,tidak adanya
interpensi yang mengganggu titrasi dan titik akhir titrasi mudah diamati.

5
Metode argentometri yang lebih luas lagi digunakan adalah metode titrasi
kembali. Argentometri adalah titrasi pengendapan yang menggunakan larutan
standar AgNO3 sebagai larutan bakunya. Ada dua syarat untuk titrasi ini yaitu :
1. Konsentrasi mula-mula larutan yang hendak dititrasi cukup besar.
2. Hasil kali kelarutan (KSP) harus sekecil mungkin,karena semakin kecil KSP
maka semakin tajam perubahan.

4.3 Analisis Kuantatif Kandungan Sulfat dalam Air


Sulfat banyak terdapat pada air alam, baik dari tanah dalam ataupun air
permukaan seperti sungai, danau dll. Apabila pada air tersebut terdapat zat-zat
organic, maka akan menyebabkan sulfat tereduksi menjadi sulfida yang berbau
dan berbahaya. Penentuan kadar sulfat dalam air dapat dilakukan dengan cara
mengendapkan ion sulfat oleh barium klorida dalam suasana asam menjadi
barium sulfat yang mempunyai bentuk Kristal sama besar dengan menggunakan
alat spektrofotometer maka dapat diukur nilai sulfatnya. Pengukuran dilakukan
pada panjang gelombang 420nm setelah 2-10 menit penambahan kristal BaCl2.
Analisis kuantitatif sulfat ini akan terganggu apabila warma dan zat
tersuspensi dalam larutan contoh jumlahnya sangat besar, kadar zat organic yang
cukup tinggi di dalam air menyebabkan barium sulfat tidak mengendap
sempurna.
Sulfat merupakan senyawa yang stabil secara kimia karena merupakan
bentuk oksida paling tinggi dari unsur belerang. Sulfat dapat dihasilkan dari
oksida senyawa sulfida oleh bakteri. Sulfida tersebut adalah antara lain sulfida
metalik dan senyawa organosulfur. Sulfat didalam lingkungan (air) dapat berada
secara ilmiah dan atau dari aktivitas manusia, misalnya dari limbah industry dan
limbah laboratorium. Secara ilmiah sulfat biasanya berasal dari pelarutan mineral
yang mengandung S, misalnya gips (CaSO4.2H2O) dan kalsium sufat anhidrat
(CaSO4). Selain itu dapat juga berasal dari oksidasi senyawa organik yang
mengandung sulfat adalah antara lain industri kertas,tekstil dan industri logam.
Prinsip penentuan Sulfat secara spektrofotometri adalah dengan mereaksikan ion
sulfat yang ada di dalam sampel air dengan larutan BaCl2, sehingga terbentuk
suspensi BaSO4.

6
4.4 Analisis Alkalinitas Air
Alkalinitas adalah kemampuan air untuk mempertahankan pH nya terhadap
penambahan asam. Alkalinitas terdiri dari ion-ion bikarbonat (HCO3-), karbonat
(CO32-) dan hidroksida (OH-) yang merupakan buffer terhadap pengaruh
pengasaman. Alkalinitas diperlukan untuk mencegah terjadinya fluktuasi pH yang
besar, selain itu juga merupakan sumber CO2 untuk proses fotosintesis
fitoplankton. Nilai alkalinitas akan menurun jika aktifitas fotosintesis naik,
sedangkan ketersediaan CO2 yang dibutuhkan untuk fotosintesis tidak memadai.
Sumber alkalinitas air tambak berasal dari proses difusi CO2 di udara ke
dalam air, proses dekomposisi atau perombakan bahan organik oleh bakteri yang
m enghasilkan CO2, juga secara kimiawi dapat dilakukan dengan pengapuran
secara merata di seluruh dasar tambak atau permukaan air .Jenis kapur yang biasa
digunakan adalah CaCO3 (kalsium karbonat), CaMg(CO3)2 (dolomit), CaO
(kalsium oksida), atau Ca(OH)2(kalsium hidroksida). Alkalinitas dinyatakan
dalam mg CaCO3/liter air (ppm).
Alkalinitas secara umum menunjukkan konsentrasi basa atau bahan yang
mampu menetralisir kemasamaan dalam air. Secara khusus, alkalinitas sering
disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas pem-buffer-an dari ion
bikarbonat, dan sampai tahap tertentu ion karbonat dan hidroksida dalam air.
Ketiga ion tersebut di dalam air akan bereaksi dengan ion hidrogen sehingga
menurunkan kemasaman dan menaikan pH. Alkalinitas biasanya dinyatakan
dalam satuan ppm (mg/L) kalsium karbonat (CaCO3). Air dengan kandungan
kalsium karbonat lebih dari 100 ppm disebut sebagai alkalin, sedangkan air
dengan kandungan kurang dari 100 ppm disebut sebagai lunak atau tingkat
alkalinitas sedang.
Alkalinitas dititrasi dengan cara titrasi asam basa. Asam yang umum
digunakan adalah asam sulfat (H2SO4) atau HCl. Asam ini akan mengikat zat
penyebab alkalinitas sampai titik akhir titrasi tercapai. Titik akhir titrasi dapat
ditentukan oleh:
 Perubahan warna indicator pada titik akhir titrasi.
 Perubahan nilai pH pada pH meter, grafik pH-volume akan memperlihatkan
lengkungan titik akhir.
Ketika asam ditambahkan ke dalam larutan tersebut, sebagian besar ion
hydrogen dengan asam bergabung dengan ion-ion karbonat membentuk

7
bikarbonat. Ion-ion hydrogen menurunkan pH larutan sedikit demi sedikit sampai
pH 8,3 seluruh karbonat sudah menjadi bikarbonat. Penambahan ion hydrogen
lagi akan merubah bikarbonat menjadi asam karbonat di bawah pH 4,5.
Reaksi kimia yang terjadi adalah sebagai berikut:
OH- + H+  H2O Titik akhir terletak
CO2- + H+  HCO3 pada pH 8,3

HCO3- + H+  H2O + CO2 terjadi pada pH 4,5


Pada titik akhir titrasi pertama yaitu pH 8,3 dikenal dengan nilai P
(dari penoftalein) untuk mencapai titik akhir ke-2 yaitu pada pH 4,3 dikenal
dengan nilai M (dari metil orange).
Jadi pada saat tercapai nilai P pada pH 8,3
OH- + H+  H2O
Nilai P menunjukkan OH-, dan ½ CO2 = (HCO3-)
Hasil OH- CO32- HCO3-
P=0 0 0 M
2P < M 0 2P M – 2P
2P = M 0 2P 0
2P > M 2P – M 2 (M – P) 0
P=M M 0 0

4.5 Analisis Kesadahan dengan Cara Kompleksometeri


Kesadahan dalam air disebabkan oleh kation-kation logam multivalensi
yang sebagian besar adalah kalsium dan magnesium. Ion-ion tersebut dapat
mengendapkan sabun, mengurangi daya pembersihan, dan menyebabkan kerak
CaCO3 dan Mg(OH)2 pada pipa-pipa serta ketel uap.
Kesadahan adalah jumlah garam-garam Ca dan Mg yang terkandung
didalam air. Ada dua jenis kesadahan tetap dan kesadahan sementara. Disebut
kesadahan tetap apabila ion-ion Ca2+ dan Mg2+ membentuk senyawa dengan
nitrat, klorida dan sulfat, sedangkan apabila ion-ion Ca2+ dan Mg2+ membentuk
senyawa dengan bikarbonat disebut kesadahan sementara.
Penetapan kesadahan dalam air dapat ditentukan melalui titrasi dengan
menggunakan larutan kompleksometri yaitu suatu titrasi dengan menggunakan
larutan kompleksion (EDTA/ etilena diamin tetraasetat). Senyawa tersebut adalah

8
suatu senyawa yang dapat membentuk pasangan kimiawi secara ikatan kompleks
dengan ion-ion kesadahan. Indicator yang dipakai pada titrasi kompleksometri
merupakan asam atau basa lemah organic yang dapat membentuk ikatan
kompleks dengan logam, dan warna senyawa tersebut berbeda dengan warna
indicator dalam keadaan bebas. Indicator yang sering digunakan adalah EBT
(Eriochrome Black T) sejenis indicator yang bewarna merah apabila berada
dalam larutan yang mengandung ion kalsium dan magnesium pada pH 10,0.
Indicator yang lain adalah Murexid (Eriochrome Blue Black R), suatu senyawa
yang bewarna merah jika berada dalam larutan yang mengandung ion kalsium
saja.
Pada penetapan kesadahan ada beberapa factor yang biasanya mengganggu
penetapan ion Ca dan Mg diantaranya adalah kation seperti Al3+, Fe3+, Fe2+ dan
Mn2+, dapat juga ikut bergabung dengan EDTA membentuk senyawa kompleks.
Jika kesadahan terlalu tinggi endapan Ca2+ dapat muncul dalam waktu titrasi
lebih dari 5 menit, oleh karena itu sampel harus diencerkan.

Reaksi yang terjadi dapat digambarkan sebagai berikut :

Garam kompleks Ca atau Mg yang larut


Air sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum, namun dapat
menyebabkan beberapa masalah. Air sadah dapat
menyebabkan pengendapan mineral, yang menyumbat saluran pipa dan keran.
Air sadah juga menyebabkan pemborosan sabun di rumah tangga, dan air sadah

9
yang bercampur sabun dapat membentuk gumpalan scum yang sukar dihilangkan.
Dalam industri, kesadahan air yang digunakan diawasi dengan ketat untuk
mencegah kerugian.
Untuk menghilangkan kesadahan biasanya digunakan berbagai zat kimia,
ataupun dengan menggunakan resin penukar ion. Air sadah digolongkan menjadi
2 jenis berdasarkan jenis anion yang iikat oleh kation (Ca2+, Mg2+), yaitu:
a) Air sadah sementara: mengandung garam hidrokarbonat seperti
Ca(HCO3)2 dan atau Mg(HCO3)2. Air sadah sementara dapat dihilangkan
kesadahannya dengan cara memanaskan air tersebut sehingga garam
karbonatnya mengendap. Selain dengan memanaskan air, sadah sementara
juga dapat dihilangkan kesadahannya dengan mereaksikan larutan yang
mengandung Ca(HCO3)2 atau Mg (HCO3)2 dengan kapur (Ca(OH)2).
b) Air sadah tetap: mengandung garam sulfat (CaSO4 atau MgSO4) terkadang
juga mengandung garam klorida (CaCl2 atau MgCl2). Air sadah tetap dapat
dihilangkan kesadahannya menggunakan cara mereaksikan dengan soda
Na2CO3 dan kapur Ca(OH)2, supaya terbentuk endapan garam karbonat dan
atau hidroksida. Proses Zeolit Dengan natrium zeolit (suatu silikat) maka
kedudukan akan digantikan ion kalsium dan ion magnesium atau kalsium
zeolite.
c) Air sadah total : yaitu merupakan kesadahan jumlah dari kesadahan
sementara dan kesadahan tetap.

EDTA adalah singkatan dari Ethylene Diamine Tetra Acid, yaitu asam amino
yang dibentuk dari protein makanan. Zat ini sangat kuat menarik ion logam berat
(termasuk kalsium) dalam jaringan tubuh dan melarutkannya, untuk kemudian
dibuang melalui urine. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat
berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus
karboksil-nya atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua
atom koordinasi per molekul, misalnya asam 1,2-diaminoetanatetraasetat
(asametilenadiamina tetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen
penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam molekul.

10
4.6 Analisis Kadar Besi Secara Spektrofotometri
Keberadaan besi dan mangan sangat tidak diinginkan dalam air yang
digunakan dalam industri. Keberadaan besi dan mangan dapat mengakibatkan
adanya kerak pada peralatan rumah tangga, dapat memberikan warna kecoklatan
pada pakaian, dan dapat merubah rasa dari air. Air tanah yang mengandung Fe2+
dan Mn2+ dan berikatan dengan oksigen, yang hasil nantinya akan tetap larut
dalam air. Akan tetapi, jika terus-terusan teroksidasi, Fe2+ dan Mn2+ akan
bertansformasi menjadi ion yang lebih tidak stabil, yakni Fe3+ dan Mn4+, dan
akan memberikan air warna karat. Tempat penampungan air bawah yang
anaeonik atau sungai yang telah memiliki kontak dengan besi dan mangan yang
ada di alam, dapat mengandung baik Fe2+ dan Mn2+, maupun Fe3+ dan Mn4+,
yang nantinya akan membentuk senyawa kompleks dengan zat organik.
Garam-garam besi berpengaruh pada beberapa proses industri tekstil. Pada
proses pemasakan dan pengelantangan, garam-garam besi selain dapat
menyebabkan noda-noda kuning kecoklatan yang mengotori pada bahan tekstil
juga dapat memperbesar kerusakan bahan selulosa, karena logam-logam berat
berfungsi sebagai katalis dalam penguraian zat pengelantang. Senyawa besi juga
dapat bereaksi dengan beberapa jenis zat warna, sehingga dalam proses
pencelupan menghasilkan warna celupan yang tidak sesuai dengan yang
dikehendaki.

4.7 Pelunakan Air Sadah


Sebagian besar air yang digunakan di dalam industry tekstil merupakan air
untuk proses basah tekstil dan pengisi ketel uap. Penggunaan air sumber yang
mengandung kadar padatan terlarut yang tinggi mendatangkan banyak masalah
dalam proses pengisin air ketel dan berpengaruh terhadap mutu proses tekstil.
Air sumber yang mengandung kesadahan air yang tinggi, misalnya
mengandung io kalsium dan magnesium,menyebabkan kerugian dengan adanya
pengurangan laju penghantar panas yang akan mengurangi efisiensi daya kerja
ketel uap. Akan menimbulkan korosi yang berasal dari kadar garam mineral
terlarut dan gas yang terbentuk.
Kadar alkalinitas dan padatan terlarut yang berlebihan di dalam air sumber
untuk pengisi ketel uap, sejalan pembentukan uap juga akan terbentuk busa dan
timbul partikel-partikel padatan. Padatan tersebut dapat mengendap didalam pipa-

11
pipa uap dan menyumbat dalam sambungan – sambungan pipa. Untuk dapat
memenuhi syarat sebagai air untuk pengisi ketel uap dan proses tekstil,pada
umumnya ada tiga cara pengolahan air atau pelunakan air yang banyak dilakukan
industri tekstil :
- Pelunakan Air Secara Pengendapan
- Pelunakan Air Secara Kompleksometri
- Pelunakan Air secara Penukar Ion
Maksud pelunakan disini adalah menghilangkan ion-ion penyebab
kesadahan dalam air yaitu ion-ion Ca2+ dan Mg2+. Air sadah akan
mengendapkan sabun, akibatnya penggunaan sabun akan lebih banyak. Selain itu
akan merusak beberapa jenis zat warna pada proses pencelupan, kelebihan ion
Ca2+ serta ion CO32- juga akan mengakibatkan kerak pada dinding ketel uap
yang disebabkan oleh endapan kalsium karbonat. Beberapa proses untuk
pelunakan air sadah adalah :
a) Cara pemanasan
Cara ini hanya dapat menghilangkan kesadahan sementara yang disebabkan
bikarbonat-bikarbonat dari ion kesadahan.
b) Cara pengendapan
Cara ini merupakan cara yang paling murah yang dapat mengendapkan
kesadahan total. Pada cara ini garam-garam kalsium dan magnesium penyebab
kesadahan diendapkan sebagai karbonat-karbonat. Sebagai zat pengendap
dipakai campuran Na2CO3 dan Ca(OH)2 atau campuran NaOH dan Ca(OH)2
c) Cara penukar ion
Cara ini sangat mahal tetapi efisien cukup tinggi cocok dipakai untuk
penyediaan air ketel. Pada cara ini kalsium dan magnesium yang terkandung
dalam air didesak dan diikat oleh senyawa penukar ion.

Reaksi terjadi dapat digambarkan sebagai berikut :


Pengendapan dengan campuran Na2CO3 dan Ca(OH)2
Ca(HCO3)2 + Ca(OH)2 2CaCO3 + 2H2O
Mg(HCO3)2 + Ca(OH)2 CaCO3 + Mg(OH)2 + 2H2O
MgCl2 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 + CaCl2
MgSO4 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 + CaSO4
CO2 + Ca(OH)2 CaCO3 + 2H2O

12
FeCl2 + Ca(OH)2 Fe(OH)2 + CaCl2
FeCl3 + Ca(OH)2 2Fe(OH)3 + 3CaCl2
MnSO4 + Ca(OH)2 Mn(OH)2 + CaSO4
Al2(SO4)3 + Ca(OH)2 2 Al(OH)3 + 3CaSO4
CaCl2 + Ca(OH)2 CaCO3 + NaCl
CaSO4 + Ca(OH)2 CaCO3 + Na2SO4

Pengendapan dengan campuran Na2CO3 dan NaOH


Ca(HCO3)2 + 2NaOH 2CaCO3 + Na2CO3 + 2H2O
Mg(HCO3)2 + 2NaOH Mg(OH)2 + Na2CO3 +2H2O
MgCl2 + 2NaOH Mg(OH)2 + 2 NaCl
MgSO4 + 2NaOH Mg(OH)2 + Na2SO4
CO2 + 2NaOH CaCO3 + H2O
FeCl2 + 2NaOH Fe(OH)2 + 2 NaCl
FeCl3 + 2NaOH 2Fe(OH)3 + 2 NaCl
MnSO4 + 2NaOH Mn(OH)2 + 2NaSO4
Al2(SO4)3 + 2NaOH 2 Al(OH)3 + 2NaSO4
CaCl2 + 2NaOH CaCO3 + 2NaCl
CaSO4 + 2NaOH CaCO3 + Na2SO4

4.8 Spektrofotometer
Spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah pengukuran energi cahaya
oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu. Sinar ultraviolet (UV)
mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm, dan sinar tampak (visible)
mempunyai panjang gelombang 400-700 nm. Pengukuran spektrofotometri
menggunakan alat spektrofotometer yang melibatkan energi elektronik yang
cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometer UV-Vis
lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif. Spektrum
UV-Vis sangat berguna untuk pengukuran secara kuantitatif. Konsentrasi dari
analit di dalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang
gelombang tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-Beer.
Pada spektrofotometer menggunakan monokromater yang berfungsi sebagai
pemilih pita panjang gelombang (λ). Monokromator dapat berupa prisma atau isi
difraksi (Diffraction Grating).

13
Pada spekrofotometer digunakan baterai sebagai sumber tegangan listrik
dan dapat dilakukan penguatan arus, sehingga sinar yang sangat kecil masih
terukur. Jadi di sini sebagai alat detector sinar digunakan tabung foton hampa
atau tabung foton pelipat ganda, dimana keuntungannya adalah intensitas cahaya
yang sangat kecil dapat diukur.

4.9 Persayaratan Air Untuk Proses Tekstil

Jumlah
No Kandungan dalam air
( < mg/L )
1 Kesadahan 5,0
2 Warna (5,0)
3 Besi (Fe) 0,1
4 Mangan (Mn) 0,05
5 Jumlah (Fe + Mn) 0,2
6 Logam berat lain 0,01
7 Aluminium oksida (Al2O3) 0,5
8 Kesadahan jumlah (sbg CaO) 30,0 (3odH)
9 Alkalinitas 75,0
10 Jumlah gas terlarut 150,0
11 Silikat (SiO2) 110,0
12 Sulfat (SO42-) 100,0
13 Khlorida 100,0
14 Kalsium (Ca2+) 10,0
15 Magnesium (Mg2+) 5,0
16 Bikarbonat (HCO3-) 200,0

14
V. ALAT DAN BAHAN
5.1. Analisis Kualitatif Air Proses Industri Tekstil
 Alat
- Tabung reaksi
- Rak tabung reaksi
- Penjepit tabung reaksi
- Penangas air
- Pipet tetes
- Gelas piala
- Lap

 Bahan
1) Analisis kualitatif Ca2+
- Asam asetat 10%
- Amonium oksalat
2) Analisis kualitatif Mg2+
- Quinalizarin-alkali
- NaOH 10%
3) Analisis kualitatif Fe2+
- HCl
- Kalium ferisianida
4) Analisis kualitatif Fe3+
- HCl
- Kalium ferosianida
- KCNS
5) Analisis kualitatif Al3+
- Natrum asetat
- Aluminon
6) Analisis kualitatif Mn2+
- H2SO4 4N
- KIO4 padat
7) Analisis kualitatif SiO2
- HCl

15
- Ammonium molibdat 5%
8) Analisis kualitatif Cl-
- HNO3 4N
- AgNO3 0,1 N
9) Analisis kualitatif SO42-
- HCl 4N
- BaCl2 0,5N
10) Analisis kualitatif zat organic
- H2SO4 10%
- KMnO4 0,01N

5.2. Analisis Kuantatif Kandungan Klorida dalam Air


 Alat
- Buret 50mL
- Erlenmeyer 250mL
- Pipet volume 10mL

 Bahan
- Air suling bebas klorida
- Larutan penitar AgNO3 0,01N
- Indicator kalium kromat 5%

5.3. Analisis Kuantatif Kandungan Sulfat dalam Air


 Alat
- Erlenmeyer 25 mL
- Spektrofotometer
- Pipet tetes
- Pipet ukur 10 ml
- Piala gelas 100 ml

 Bahan
1) Pereaksi
- BaCl2
- 100 q SO4/100mL

16
2) Pereaksi kondisi:
- 50mL gliserol
- 30mL HCl pekat
- 30 ml air destilasi
- 100mL etanol 95% atau Isopropilalkohol dan 75gr NaCl

5.4. Analisis Alkalinitas Air


 Alat
- Buret 50mL
- Erlenmeyer 250mL
- Pipet volume 25mL

 Bahan
- Indicator PP
- Indikator MO
- H2SO4 0,02 N

5.5. Analisis Kesadahan Dengan Cara Kompleksometeri


 Alat
- Buret 50mL
- Erlenmeyer 250mL
- Pipet volume 25mL
- Gelas ukur 100mL
- Corong

 Bahan
- Larutan EDTA 0,01M
- Larutan Buffer pH 10
- Indikator EBT
- Indikator Murexid
- KCN 5%
- NaOH 4N

17
5.6. Analisis Kadar Besi Secara Spektrofotometri
 Alat
- Labu ukur 25 mL
- Pipet volume 10mL
- Spektrofotometer

 Bahan
- H2SO4
- KCNS 10%
- Larutan contoh uji
- Air suling

5.7. Pelunakan Air Sadah


 Alat
a) Cara Pemanasan
- Buret 50mL
- Erlenmeyer 250mL
- Pipet volume 25mL
- Gelas ukur 500mL
b) Cara Pengendapan dengan Ca(OH)2 dan Na2CO3
- Buret 50mL
- Erlenmeyer 250mL
- Pipet volume 25mL
- Gelas ukur 500mL
c) Cara Penukar Ion
- Buret 50mL
- Erlenmeyer 250mL
- Pipet volume 25mL
- Gelas ukur 500mL

 Bahan
a) Cara Pemanasan
- Ca(OH)2

18
- Na2CO3
- Pereaksi kompleksometri
b) Cara Pengendapan dengan Ca(OH)2 dan Na2CO3
- NaOH
- Na2CO3
- Pereaksi kompleksometri
c) Cara Penukar Ion
- Resin penukar ion
- Pereaksi kompleksometri

VI. CARA KERJA


6.1 Analisis Kualitatif Air Proses Industri Tekstil
1) Kalsium
- Masukkan 2 mL air contoh ke dalam tabung reaksi.
- Tambahkan 2-3 tetes asam asetat 10 %.
- Tambahkan 5 tetes ammonium oksalat, kemudian panaskan.
Jika terdapat endapan putih, berarti contoh uji mengandung kalsium.
2) Magnesium
- Masukkan 2 mL air contoh ke dalam tabung reaksi.
- Tambahkan 5-10 tetes quinalizarin-alkali sampai warna merah.
- Tambahkan 5 tetes NaOH 10% berubah menjadi biru ungu, lalu panaskan.
Jika terdapat endapan biru maka air contoh mengandung magnesium, atau
- Pada 2 mL air contoh di dalam tabung reaksi tambahkan NaOH 10%.
- Tambahkan 5 tetes magneson, lalu panaskan.
Jika terdapat endapan biru terpisah, maka contoh uji mengandung magnesium.
3) Ferro
- Masukkan 1 mL air contoh ke dalam tabung reaksi.
- Tambahkan 1 tetes HCl (sebagai pengasam).
- Tambahkan 2-3 tetes K3(FeCN)6 (kalium ferisianida).
Jika terjadi endapan yang berwarna biru trumbul berarti air mengandung ferro.
4) Ferri
- Masukkan 1 mL air contoh ke dalam tabung reaksi.
- Tambahkan 1 tetes KCNS.
Jika berwarna merah, air mengandung ferri.

19
Dilakukan uji penentuan pada air contoh uji yang baru di dalam tabung reaksi.
- Tambahkan 1 mL HCl (sebagai pengasam)
- Tambahkan 2-3 tetes K4(FeCN)6 (kalium ferosianida).
Jika timbul endapan biru berarti terdapat ion ferri.
5) Aluminium
- Masukkan 2 mL air contoh ke dalam tabung reaksi.
- Tambahkan 2-3 tetes natrium asetat.
- Tambahkan 2-3 tetes aluminon.
Jika warna larutan menjadi merah terang, maka air contoh mengandung
aluminium.
6) Mangan
- Masukkan 2 mL air contoh ke dalam tabung reaksi.
- Tambahkan 2-3 tetes H2SO4 4N.
- Tambahkan sedikit KIO4 padat (bubuk), lalu panaskan.
Jika warna air berubah menjadi violet, maka air contoh mengandung mangan.
7) Silikat
- Masukkan 2 mL air contoh ke dalam tabung reaksi.
- Tambahkan 2-3 tetes HCl 4N (sebagai pengasam).
- Tambahkan 2-3 tetes ammonium molibdat 5% jika perlu panaskan sebentar
kemudian dinginkan.
Jika larutan berwarna kuning berarti mengandung silikat.
Dilakukan uji penentuan dengan cara:
- Beberapa tetes larutan pereaksi bekas uji, letakkan dalam pinggan porselen.
- Tambahkan 1 tetes benzidine.
- Tambahkan 1 tetes natrium asetat.
Jika terdapat lapisan berwarna biru menunjukkan adanya silikat.
8) Klorida
- Masukkan 2 mL air contoh ke dalam tabung reaksi.
- Tambahkan 2-3 tetes HNO3 4N (sebagai pengasam).
- Tambahkan 2-3 tetes AgNO3 0,1N.
Jika terdapat endapan putih yang larut dalam amoniak berarti contoh uji
mengandung klorida.
9) Sulfat
- Masukkan 2 mL air contoh ke dalam tabung reaksi.

20
- Tambahkan 5 tetes HCl 4N.
- Tambahkan 5 tetes BaCl2 0,5N.
Jika terdapat endapan putih, berarti contoh uji mengandung sulfat.
10) Zat organic
- Masukkan 2mL air contoh ke dalam tabung reaksi.
- Tambahkan 5 tetes H2SO4 10%.
- Panaskan sampai 70oC.
- Tambahkan 4 tetes KMnO4 0,01N.
Jika warna KMnO4 hilang, maka contoh uji mengandung zat organic.

6.2 Analisa Kuantitatif Kandungan Klorida dalam Air


1) Pipet 10 ml air contoh ke dalam erlenmeyer 250mL.
2) Jika contoh berwarna (misal air limbah), tambahkan suspense Al(OH)3
kemudian kocok dan biarkan mengendap lalu saring dan cuci, campurkan
filtrate dengan air cucian.
3) Atur pH sampai pH 7-10 dengan menambahkan H2SO4 atau NaOH sedikit
demi sedikit.
4) Tambahkan indikator kalium kromat sebanyak 3 tetes.
5) Titrasi dengan AgNO3 sampai timbul endapan merah kekuningan.

6.3 Analisis Kuantitatif Kandungan Sulfat dalam Air


1) Buat larutan standar sulfat yaitu 5mg/L, 10mg/L, 15mg/L, 20mg/L, 25mg/L.
2) Pipet larutan standar induk Sulfat sesuai kebutuhan kedalam labu ukur 25mL.
3) Pipet 1.5 ml pereaksi kondisi kedalam labu ukur 25 ml.
4) Masukan air suling kedalam labu ukur sampai batas garis.
5) Kocok sampai homogen.
6) Masukkan kedalam piala gelas.
7) Tambahkan 2 gram Kristal BaCl2.
8) Kocok sampai homogen.
9) Ukur dengan menggunakan alat spektrofotometer pada panjang gelombang
420 nm.
10) Pengukuran setelah 3 menit tetapi tidak melebihi 10menit.
11) Kemudian lakukan pengujian untuk CU.

21
6.4 Analisis Alkalinitas Air
1) Alkalinitas PP
- Pipet 25mL contoh uji ke dalam Erlenmeyer
- Tambahkan 2 tetes indicator PP ke dalam Erlenmeyer.
- Titar dengan larutan H2SO4 0,02 N sampai larutan tidak berwarna.
2) Alkalinitas MO
- Pipet 25mL contoh uji ke dalam Erlenmeyer
- Tambahkan 2 tetes indicator MO ke dalam Erlenmeyer.
- Titar dengan larutan H2SO4 0,02 N sampai larutan berwarna orange
(sindur).

6.5 Analisis Kesadahan dengan Cara Kompleksometri


 Penetapan Kesadahan Total
1. Pipet 25 mL contoh uji ke dalam Erlenmeyer.
2. Tambahkan 1mL larutan buffer pH 10.
3. Tambahkan 2mL larutan KCN 5%.
4. Tambahkan 3-4 tetes indicator EBT sampai larutan menjad berwarna
merah.
5. Segera titar dengan larutan EDTA 0,01M sampai tepat berwarna biru.
 Penetapan Kesadahan Ca2+
1. Pipet 25 mL contoh uji ke dalam Erlenmeyer.
2. Tambahkan NaOH 4N sebanyak 1mL.
3. Tambahkan 2mL larutan KCN 5%.
4. Tambahkan indicator murexid sampai larutan menjad berwarna merah.
5. Segera titar dengan larutan EDTA 0,01M sampai tepat berwarna ungu.
 Penetapan Kesadahan Tetap
1. Pipet 100 mL contoh uji ke dalam Erlenmeyer.
2. Panaskan sampai mendidih selama kurang lebih 30 menit lalu dinginkan.
3. Saring endapan yang terbentuk menggunakan kertas saring.
4. Sisa kesadahan diperiksa kesadahan totalnya dengan larutan EDTA seperti
pada penetapan kesadahan total.

22
6.6 Analisis Kadar Besi secara Spektrofotometri
1) Buat larutan standar Fe3+ yaitu 2,5 mg/L, 5mg/L 7,5mg/L, 10mg/L dan
12,5mg/L.
2) Pipet larutan standar induk Fe3+ sesuai kebutuhan kedalam labu ukur 25mL.
3) Tambahkan 5ml HNO3 4N dan 5ml KCNS 5%.
4) Encerkan sampai batas garis dengan air suling.
5) Ukur menggunakan alat spektrofotometer 𝜆 = 480 𝑛𝑚.
6) Kemudian lakukan pengujian untuk CU.

6.7 Pelunakan Air Sadah


a) Cara pemanasan
1) Hitung kebutuhan soda kapur dan soda ash sesuai kebutuhan.
2) Pipet 100mL air contoh ke dalam piala gelas.
3) Tambahkan Ca(OH)2 dan Na2CO3 sesuai dengan kebutuhan ke dalam piala
gelas tersebut.
4) Didihkan larutan selama 15-30 menit.
5) Dinginkan, saring dengan kertas saring.
6) Filtratenya dititrasi untuk mengetahui kandungan kesadahan sisanya dengan
kompleksometri.
b) Cara pengendapan dengan Ca(OH)2 dan Na2CO3
Pada cara ini garam-garam dari Ca diendapkan sebagai karbonat oleh natrium
karbonat, sedangkan CO2 bebas dan Mg dan bikarbonat diendapkan oleh
Ca(OH)2.
1) Hitung kebutuhan NaOH dan Na2CO3 sesuai kebutuhan.
2) Pipet 100mL air contoh ke dalam piala gelas.
3) Tambahkan NaOH dan Na2CO3 sesuai dengan kebutuhan ke dalam piala
gelas tersebut.
4) Didihkan larutan selama 15-30 menit.
5) Dinginkan, saring dengan kertas saring.
6) Filtratenya dititrasi untuk mengetahui kandungan kesadahan sisanya dengan
kompleksometri.
c) Cara penukar ion
Pada cara ini Cad an Mg yang terkandung dalam air akan didesak dan diikat
oleh resin penukar ion.

23
1) Masukkan 100 mL contoh uji ke dalam piala gelas.
2) Alirkan air contoh tersebut melalui tabung yang berisi resin penukar ion dan
tampung ke dalam Erlenmeyer 250mL.
3) Kerjakan 3 kali aliran melalui tabung yang berisi resin penukar ion.
4) Larutan yang telah dialirkan melalui tabung resin dianalisis kesadahannya
secara kompleksometri.

VII. DATA PERCOBAAN


7.1 Analisis Kualitatif Air Proses Industri Tekstil

No Ion Pengamatan Keterangan

1 Kalsium (Ca2+) Endapan putih Positif

2 Magnesium (Mg2+) Endapan biru Positif

3 Fero (Fe2+) Kuning bening Negatif

4 Feri (Fe3+) Tidak berwarna Negatif

5 Alumunium (Al3+) Coklat bening Negatif

6 Mangan (Mn2+) Tidak berwarna Negatif

7 Silikat Lapisan warna biru Positif

8 Klorida (Cl2+) Endapan putih Positif

9 Sulfat (SO42+) Endapan putih Positif

10 Zat organik KMnO4 tidak hilang Negatif

Kekeruhan
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 1 = 72,2868 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 2 = 82,1021 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 1 = 72,3103 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 2 = 82,1323 𝑔𝑟𝑎𝑚

𝐾𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 1 = (𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 − 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙) × 𝐹𝑃


1000
𝐾𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 1 = (72,3103 − 72,2868) ×
50

24
𝑚𝑔
𝐾𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 1 = 0,47 ⁄𝑙

𝐾𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 2 = (𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟 − 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙) × 𝐹𝑃


1000
𝐾𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 2 = (82,1323 − 82,1021) ×
50
𝑚𝑔
𝐾𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 2 = 0,604 ⁄𝑙

0,47 + 0,604
𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 =
2
𝑚𝑔
𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑐𝑎𝑤𝑎𝑛 = 0,537 ⁄𝑙

7.2 Analisis Kuantatif Kandungan Klorida dalam Air


𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 1 = 2 𝑚𝑙
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 2 = 2,1 𝑚𝑙
2 + 2,1
𝑥̅ 𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 2,05 𝑚𝑙
2

1000
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐶𝑙 − = 𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 × 𝑁 𝑝𝑒𝑛𝑖𝑡𝑎𝑟 × 𝐵𝐸 𝐶𝑙 − ×
25
1000
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐶𝑙 − = 2,05 𝑚𝑙 × 0,01 × 35,5 ×
25
𝑚𝑔
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝐶𝑙 − = 29,11 ⁄𝑙

7.3 Analisis Kuantitatif Kandungan Sulfat dalam Air

x y x2 xy

5 0,039 25 0,195

10 0,101 100 1,01

15 0,122 225 1,83

20 0,152 400 3,04

25 0,254 625 6,35

Σ = 75 0,668 1375 12,425

25
𝑛(Σ𝑥𝑦) − (Σ𝑥)(Σ𝑦)
𝑎=
𝑛(Σ𝑥 2 ) − (Σ𝑥)2
5(12,425) − (75)(0,668)
𝑎=
5(1375) − (5625)
62,125 − 50,1
𝑎=
6875 − 5625
12,025
𝑎=
1250
𝑎 = 0,0096

(Σ𝑦)(Σ𝑥 2 ) − (Σ𝑥)(Σx𝑦)
𝑏=
𝑛(Σ𝑥 2 ) − (Σ𝑥)2
(0,668)(1375) − (75)(12,425)
𝑏=
5(1375) − (5625)
918,5 − 931,875
𝑏=
6875 − 5625
13,375
𝑏= −
1250
𝑏 = −0,0107

𝑦 = 𝑎𝑥 + 𝑏
0,221 = 0,0096𝑥 − 0,0107
0,2317 = 0,0096𝑥
𝑥 = 24,1354 𝑝𝑝𝑚
1000 𝑚𝑔
𝑥 = 24,1354 × = 482,708 ⁄𝑙
50

Grafik Kandungan Sulfat


0.3
0.254
0.25
Absorbansi

0.2
0.152
0.15 y = 0.0096x - 0.0107
0.101 0.122 R² = 0.9261
0.1

0.05 0.039

0
0 5 10 15 20 25 30
Konsentrasi

26
7.4 Analisis Alkalinitas Air
 Alkalinitas P
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 1 = 0,3 𝑚𝑙
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 2 = 0,4 𝑚𝑙
0,3 + 0,4
𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 0,35 𝑚𝑙
2
𝐴𝑙𝑘𝑎𝑙𝑖𝑛𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑃 = 𝑚𝑙 𝐻2 𝑆𝑂4 × 𝑁 𝐻2 𝑆𝑂4 × 𝐹𝑃
1000
𝐴𝑙𝑘𝑎𝑙𝑖𝑛𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑃 = 0,35 𝑚𝑙 × 0,02 𝑁 ×
25
𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘⁄
𝐴𝑙𝑘𝑎𝑙𝑖𝑛𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑃 = 0,28 𝑙
 Alkalinitas M
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 1 = 9 𝑚𝑙
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 2 = 9,1 𝑚𝑙
9 + 9,1
𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = = 9,05 𝑚𝑙
2
𝐴𝑙𝑘𝑎𝑙𝑖𝑛𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑃 = 𝑚𝑙 𝐻2 𝑆𝑂4 × 𝑁 𝐻2 𝑆𝑂4 × 𝐹𝑃
1000
𝐴𝑙𝑘𝑎𝑙𝑖𝑛𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑃 = 9,05 𝑚𝑙 × 0,02 𝑁 ×
25
𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘⁄
𝐴𝑙𝑘𝑎𝑙𝑖𝑛𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑃 = 7,24 𝑙
2𝑃 = 2 × 0,28 = 0,56
𝑀 = 7,24
𝐽𝑎𝑑𝑖, 2𝑃 < 𝑀
𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘⁄
 𝑂𝐻 − = 0 𝑙
𝑚𝑔
𝑂𝐻 − = 0 ⁄𝑙
𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘⁄
 𝐶𝑂3 2− = 2𝑃 = 0,56 𝑙
𝐵𝑀
𝐶𝑂3 2− = 0,56 ×
𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖
60
𝐶𝑂3 2− = 0,56 ×
2
𝑚𝑔
𝐶𝑂3 2− = 16,8 ⁄𝑙
𝑚𝑔𝑟𝑒𝑘⁄
 𝐻𝐶𝑂3 − = 𝑀 − 2𝑃 = 7,24 − 0,56 = 6,68 𝑙
𝐵𝑀
𝐻𝐶𝑂3 − = 6,68 ×
𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖

27
61
𝐻𝐶𝑂3 − = 6,68 ×
1
𝑚𝑔
𝐻𝐶𝑂3 − = 407,48 ⁄𝑙

𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑆𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 = 𝑀 − 2𝑃

𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑆𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 = (7,24 − 0,56) × 2,8

𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑆𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 = 18,704 𝐷𝐻

7.5 Analisis Kesadahan dengan Cara Kompleksometri

𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = 𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 (𝑎) × 0,01 × 𝑓(𝑚𝑚𝑜𝑙⁄𝑙 )

𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝐶𝑎 = 𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 (𝑏) × 0,01 × 𝑓(𝑚𝑚𝑜𝑙⁄𝑙 )

𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑀𝑔 = 𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 − 𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝐶𝑎


𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 = 𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 − 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝
1000 𝑚𝑙
𝑓 = 𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑎𝑙𝑖 =
𝑚𝑙 𝑐𝑢

 Kesadahan Total
6,4 + 6,5 1000
𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = ( ) × 0,01 × × 5,6 = 14,448𝑂 𝑑𝐻
2 25
3,5 + 3,6 1000
𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝐶𝑎 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = ( ) × 0,01 × × 5,6 = 7,952𝑂 𝑑𝐻
2 25
𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑀𝑔 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = 14,448 − 7,952 = 6,496𝑂 𝑑𝐻

 Kesadahan Tetap
4+4 1000
𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑡𝑎𝑝 = ( ) × 0,01 × × 5,6 = 8,96𝑂 𝑑𝐻
2 25
1,8 + 1,8 1000
𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝐶𝑎 𝑇𝑒𝑡𝑎𝑝 = ( ) × 0,01 × × 5,6 = 4,032𝑂 𝑑𝐻
2 25
𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑀𝑔 𝑇𝑒𝑡𝑎𝑝 = 8,96 − 4,032 = 4,928𝑂 𝑑𝐻

 Kesadahan Sementara
𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑆𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 = 14,448 − 8,96 = 5,488𝑂 𝑑𝐻

 Efisiensi

28
14,448 − 8,96
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 = × 100% = 37,984%
14,448

7.6 Analisis Kadar Besi secara Spektrofotometri

x y x2 xy

2,5 0,002 6,25 0,005

5 0,013 25 0,065

7,5 0,017 56,25 0,1275

10 0,019 100 0,19

12,5 0,023 156,25 0,2875

Σ = 37,5 0,074 343,75 0,675

𝑛(Σ𝑥𝑦) − (Σ𝑥)(Σ𝑦)
𝑎=
𝑛(Σ𝑥 2 ) − (Σ𝑥)2
5(0,675) − (37,5)(0,074)
𝑎=
5(343,75) − (37,5)2
3,375 − 2,775
𝑎=
1718,75 − 1406,25
0,6
𝑎=
312,5
𝑎 = 0,00192

(Σ𝑦)(Σ𝑥 2 ) − (Σ𝑥)(Σx𝑦)
𝑏=
𝑛(Σ𝑥 2 ) − (Σ𝑥)2
(0,074)(343,75) − (37,5)(0,675)
𝑏=
5(343,75) − (37,5)2
25,4375 − 25,3125
𝑏=
1718,75 − 1406,25
0,125
𝑏=
312,5
𝑏 = 0,0004

𝑦 = 𝑎𝑥 + 𝑏

29
0,014 = 0,00192𝑥 − 0,0004
0,0136 = 0,00192𝑥
𝑥 = 7,083 𝑝𝑝𝑚
1000 𝑚𝑔
𝑥 = 7,083 × = 141,66 ⁄𝑙
50

Grafik Kandungan Besi


0.03

0.025 0.023

0.02 0.019
Absorbansi

0.017 y = 0.0019x + 0.0004


0.015 0.013
R² = 0.8972

0.01

0.005
0.002
0
0 2 4 6 8 10 12 14
Konsentrasi

7.7 Pelunakan Air Sadah


Perhitungan Kebutuhan Soda Kapur
a) Soda
𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝
𝑆𝑜𝑑𝑎 = + 𝑙𝑜𝑔𝑎𝑚 (𝐹𝑒)
2,8
8,96 𝐵𝑀 𝑆𝑜𝑑𝑎 𝑚𝑔
𝑆𝑜𝑑𝑎 = ( × ) + 141,66 ⁄𝑙
2,8 𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖
8,96 106
𝑆𝑜𝑑𝑎 = ( × ) + 141,66
2,8 2
𝑆𝑜𝑑𝑎 = 169,6 + 141,66
𝑚𝑔
𝑆𝑜𝑑𝑎 = 311,26 ⁄𝑙
𝑚𝑔
𝐿𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎 = 2000 ⁄𝑙
311,26 𝑚𝑔
𝑆𝑜𝑑𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑖𝑝𝑒𝑡 = × 1000 𝑚𝑙 = 155,63 𝑚𝑙⁄𝑙
2000 𝑚𝑔
100 𝑚𝑙
𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 100 𝑚𝑙 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖 = 155,63 × = 15,563 𝑚𝑙
1000 𝑚𝑙

30
b) Kapur
𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝑀𝑔 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝
𝐾𝑎𝑝𝑢𝑟 = + + 𝑙𝑜𝑔𝑎𝑚 (𝐹𝑒)
2,8 2,8
5,488 𝐵𝑀 𝐾𝑎𝑝𝑢𝑟 4,928 𝐵𝑀 𝐾𝑎𝑝𝑢𝑟 𝑚𝑔
𝐾𝑎𝑝𝑢𝑟 = ( × )+( × ) + 141,66 ⁄𝑙
2,8 𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖 2,8 𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖
5,488 56 4,928 56
𝐾𝑎𝑝𝑢𝑟 = ( × )+( × ) + 141,66
2,8 2 2,8 2
𝐾𝑎𝑝𝑢𝑟 = 54,88 + 49,28 + 141,66
𝑚𝑔
𝐾𝑎𝑝𝑢𝑟 = 245,82 ⁄𝑙
𝑚𝑔
𝐿𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎 = 2000 ⁄𝑙
245,82 𝑚𝑔
𝑆𝑜𝑑𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑖𝑝𝑒𝑡 = × 1000 𝑚𝑙 = 122,91 𝑚𝑙⁄𝑙
2000 𝑚𝑔
100 𝑚𝑙
𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 100 𝑚𝑙 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖 = 122,91 × = 12,291 𝑚𝑙
1000 𝑚𝑙

Perhitungan Kebutuhan Soda-Soda


a) Na2CO3
𝐶𝑎 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎
𝑁𝑎2 𝐶𝑂3 = −
2,8 2,8
4,032 𝐵𝑀 5,488 𝐵𝑀
𝑁𝑎2 𝐶𝑂3 = ( × )−( × )
2,8 𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖 2,8 𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖
4,032 106 5,488 106
𝑁𝑎2 𝐶𝑂3 = ( × )−( × )
2,8 2 2,8 2
𝑁𝑎2 𝐶𝑂3 = 76,32 − 103,88
𝑁𝑎2 𝐶𝑂3 = 𝑛𝑒𝑔𝑎𝑡𝑖𝑓 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑑𝑖𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑝 0 𝑚𝑙

b) NaOH
𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝑀𝑔 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝
𝑁𝑎𝑂𝐻 = + + 𝑙𝑜𝑔𝑎𝑚 (𝐹𝑒)
2,8 2,8
5,488 𝐵𝑀 𝐵𝑀 𝑚𝑔
𝑁𝑎𝑂𝐻 = ( × ) + (4,928 × ) + 141,66 ⁄𝑙
2,8 𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑠𝑖
5,488 40 4,928 40
𝑁𝑎𝑂𝐻 = ( × )+( × ) + 141,66
2,8 1 2,8 1
𝑁𝑎𝑂𝐻 = 78,4 + 70,4 + 141,66
𝑚𝑔
𝑁𝑎𝑂𝐻 = 290,46 ⁄𝑙

31
𝑚𝑔
𝐿𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎 = 2000 ⁄𝑙
290,46 𝑚𝑔
𝑆𝑜𝑑𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑖𝑝𝑒𝑡 = × 1000 𝑚𝑙 = 145,23 𝑚𝑙⁄𝑙
2000 𝑚𝑔
100 𝑚𝑙
𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 100 𝑚𝑙 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑢𝑗𝑖 = 145,23 × = 14,523 𝑚𝑙
1000 𝑚𝑙

Data Pengamatan
𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑆𝑖𝑠𝑎 = 𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 × 0,01 × 𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑎𝑙𝑖 × 5,6 (𝑂 𝑑𝐻)
𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 − 𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑎
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 = × 100%
𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙

a) Cara Pemanasan
3,8 + 3,8 1000
𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑆𝑖𝑠𝑎 = ( ) × 0,01 × × 5,6 = 8,512𝑂 𝑑𝐻
2 25
14,448 − 8,512
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 = × 100% = 41,085%
14,448

b) Cara Pengendapan Soda Kapur


1,4 + 1,4 1000
𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑆𝑖𝑠𝑎 = ( ) × 0,01 × × 5,6 = 3,136𝑂 𝑑𝐻
2 25
14,448 − 3,136
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 = × 100% = 77,049%
14,448

c) Cara Pengendapan Soda-Soda


0,4 + 0,3 1000
𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑆𝑖𝑠𝑎 = ( ) × 0,01 × × 5,6 = 0,784𝑂 𝑑𝐻
2 25
14,448 − 0,784
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 = × 100% = 94,573%
14,448

d) Cara Penukar Ion Menggunakan Resin


0,9 + 0,9 1000
𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑆𝑖𝑠𝑎 = ( ) × 0,01 × × 5,6 = 2,016𝑂 𝑑𝐻
2 25
14,448 − 2,016
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 = × 100% = 86,047%
14,448
e) Cara Penukar Ion Menggunakan Zeolit
4,2 + 4,2 1000
𝐾𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑆𝑖𝑠𝑎 = ( ) × 0,01 × × 5,6 = 9,408𝑂 𝑑𝐻
2 25

32
14,448 − 9,408
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 = × 100% = 34,884%
14,448

VIII. DISKUSI
9.1. Analisis Kualitatif Air Proses Industri Tekstil
Pengujian ini dilakukan agar bisa mengetahui kandungan zat/mineral dalam
suatu air proses, karena dalam industri tekstil air yang digunakan harus memenuhi
persyaratan tertentu sehingga tidak bersifat merugikan. Pada air contoh uji,
terlihat adanya kekeruhan namun tidak terlalu pekat, air masih tidak berwarna
namun terdapat endapan kuning. Endapan ini harus dihilangkan karena dapat
menyebabkan endapan pada ketel uap dan mengganggu proses basah tekstil pada
bahan atau zat yang digunakan. pH air contoh uji yaitu 8 yang artinya air bersifat
sedikit alkali.
Pada pengujian kalsium yaitu air contoh uji ditambah asam asetat dan
ammonium oksalat kemudian dipanaskan, pemanasan ini bertujuan agar reaksi
penggaraman dari kalsium dan ammonium oksalat bekerja dengan cepat.
Pengujian kalsium menunjukkan endapan putih atau dapat dikatakan hasil positif,
yang berarti bahwa air contoh uji mengandung kalsium. Untuk pengujian
magnesium air contoh uji ditambahkan quinalizarin dan NaOH dan bila terdapat
endapan biru maka itu berarti mengandung magnesium. Pengujian magnesium
menunjukkan endapan biru atau dapat dikatakan hasil positif, yang berarti bahwa
air contoh uji mengandung magnesium. Karena hasil pengujian Ca dan Mg
mempunyai hasil positif, maka air contoh uji pasti akan mengakibatkan
kesadahan yang mengganggu proses basah tekstil.
Pada pengujian ferro, air contoh uji ditambahkan asam klorida dan kalium
ferisianida, jika terjadi endapan biru tumbul maka air mengandung ferro, dan
pada air contoh uji didapatkan hasil negatif atau tidak mengandung ferro yang
ditandai dengan tidak adanya endapan biru tumbul. Untuk pengujian ferri, air
contoh uji ditambah asam klorida, kalium ferosianida dan KCNS, bila terjadi
endapan biru maka mengandung ferri, dan pengujian ferri didapatkan hasil
negatif atau tidak mengandung ferri. Besi akan teroksidasi menjadi Fe3+ 
endapan Fe2O3. Bila dalam air contoh uji mengandung besi maka akan
menimbulkan noda kekuningan pada kain dan merusak mesin.

33
Pada pengujian aluminium, air contoh uji ditambah dengan natrium asetat
dan aluminon dan bila warna larutan menjadi merah terang maka artinya
mengandung aluminon, dan pada hasil praktikum air contoh uji menunjukkan
hasil negatif atau tidak mengandung alumuium. Untuk pengujian silikat air
contoh uji ditambah asam klorida dan ammonium molibdat kemudia panaskan
dan jika larutan menjadi warna kuning itu tandanya air mengandung silikat, dan
pada hasil pengujian menunjukkan hasil positif atau mengandung silikat.
Kandungan silikat ini harus dihilangkan karena dapat membentuk kerak yang
sulit dihilangkan sehingga dapat menyumbat pipa-pipa dan melapisi dinding ketel
uap bertekanan tinggi jika digunakan pada industri tekstil.
Untuk pengujian mangan, air contoh uji ditambahkan asam sulfat 4N dan
KIO4 bubuk dan bila positif mengandung mangan maka warna larutan akan
berubah menjadi violet. Perubahan ini terjadi karena adanya penambahan asam
sulfat dan KIO4 bubuk. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Mn2+ + H2SO4 + KIO4  MnSO4 (violet)

Namun hasil praktikum menunjukkan bahwa air contoh uji tidak


mengandung mangan. Pengujian klorida dilakukan dengan menambahkan asam
nitrat 4N dan perak nitrat 0,1 N dan bila terdapat endapan putih maka positif
mengandung klorida, pengujian kandunan klorida menunjukkan hasil positif atau
mengandung klorida. Bila klorida berikatan dengan kalsium dan magnesium
maka akan menjadi penyebab timbulnya kesadahan dalam air proses.
Pada pengujian sulfat, air contoh uji ditambah asam klorida 4N dan barium
klorida 0,5 N. Bila terjadi endapan putih maka mengandung sulfat dan hasil
pengujian air contoh uji menunjukkan hasil positif mengandung sulfat. Bila sulfat
berikatan dengan kalsium dan magnesium maka akan menjadi penyebab
timbulnya kesadahan dalam air proses yang tentunya akan mengganggu proses
basah tekstil. Untuk pengujian zat organik air contoh uji ditambah asam sulfat
10% dan kalium permanganate 0,01 N, jika warna KMnO4 hilang, maka
mengandung zat organik dan hasil praktikum menunjukkan air contoh uji tidak
mengandung zat organik.
Pada pengujian kekeruhan air, contoh uji diuapkan sampai habis pada
cawan yang telah dioven, dieksikator dan ditimbang sebelumnya. Jika contoh uji
telah sepenuhnya menguap, cawan ditimbang lagi untuk mendapatkan berat

34
seluruh kandungan zat atau mineral yang ada pada air contoh uji. Pengujian ini
dilakukan duplo dan didapatkan hasil kekeruhan 0,537 mg/L.

9.2. Analisis Kuantatif Kandungan Klorida dalam Air


Pada percobaan kali ini yaitu bertujuan agar dapat mengukur kandungan
klorida dalam air sehingga tidak mengganggu proses basah tekstil. Titrasi yang
digunakan dalam percobaan ini yaitu titrasi argentometri, dimana titrasi
argentometri ini dilakukan dengan cara Mohr yaitu indikator yang digunakan
adalah kalium kromat dengan penitar AgNO3. Titrasi dengan cara ini harus
dilakukan dalam suasana netral atau dengan sedikit alkalis. Dalam suasana asam,
perak kromat larut karena terbentuk dikromat dan dalam suasana basa akan
terbentuk endapan perak hidroksida. Klorida yang terkandung dalam air akan
menyebabkan kesadahan tetap yang mengganggu proses basah tekstil. Kadar
klorida yang terlalu tinggi akan merusak peralatan yang terbuat dari besi karena
klorida bersifat korosif.
Dalam praktikum ini, praktikan memipet air contoh uji dan memasukkan
kedalam erlenmeyer kemudian cek pH dan atur agar pH menjadi netral atau
sedikit basa setelah itu tambahkan indikator Kalium Khromat sebanyak 3 tetes
kemudian titrasi dengan menggunakan AgNO3. Pada metoda Mohr, klorida
diendapkan oleh AgNO3 yang akan membentuk endapan AgCl yang berwarna
putih.
AgNO3 + Cl  endapan AgCl
AgCl yang terbentuk akan setara dengan kandungan klorida di dalam air.
Untuk indikator digunakan Kalium Khromat, semua AgCl akan terbentuk lebih
dulu sebelum endapan Ag2CrO4 (Ag kromat) yang berwarna merah terbentuk.
2AgNO3 + K2CrO4  Ag2CrO4 + 2KNO3
Apabila ion klorida telah habis diendapkan oleh ion perak, maka ion kromat
akan bereaksi membentuk endapan perak kromat yang berwarna merah sebagai
titik akhir titrasi. Pada percobaan ini didapatkan data bahwa kadar klorida sebesar
29,11 mg/L.
Hal tersebut dapat diartikan bahwa air contoh uji masih dapat digunakan
karena kadar klorida masih dibawah persyaratan mutu standar air untuk proses
tekstil adalah ≤ 100,0 mg/L.

35
9.3. Analisis Kuantatif Kandungan Sulfat dalam Air
Pada percobaan kali ini yaitu bertujuan agar dapat mengukur kandungan
sulfat dalam air sehingga tidak mengganggu proses basah tekstil. Adanya ion
sulfat dalam air dapat menghambat jalannya proses basah tekstil. Ion sulfat dalam
air berikatan dengan ion kalsium atau magnesium yang akan menyebabkan
kesadahan tetap. Kesadahan ini akan mengganggu pada proses pemasakan,
pencelupan, pencucian yang menyebabkan sabun tidak berbuih dan mengendap,
dan pada proses selanjutnya. Dalam pengujian kali ini air contoh uji ditambah
BaCl2 agar ion sulfat dapat diendapkan menjadi barium sulfat yang mempunyai
bentuk kristal sama besar dan proses ini dilakukan dalam suasana asam.
SO42- + BaCl2  BaSO4
Kemudian ditambahkan pereaksi kondisi yang berfungsi agar larutan lebih
stabil dalam kondisi suspensi. Analisis kuantitatif sulfat ini akan terganggu
apabila warna dan zat tersuspensi dalam larutan contoh jumlahnya sangat besar,
kadar zat organik yang cukup tinggi didalam air menyebabkan barium sulfat tidak
mengendap sempurna.
Pada praktikum kali ini pertama-tama mengukur absorbansi larutan standar
kemudian dilakukan untuk pengukuran contoh uji. Hasil absorbansi contoh uji
adalah 0,221 ppm. Kemudian kita bisa mengetahui kadar sulfat yang terkandung
dengan menggunakan rumus y = ax + b, dan hasil kadar sulfat yang didapat yaitu
24,1354 ppm atau 482,708 mg/L. Hal tersebut dapat diartikan bahwa air contoh
uji tidak dapat digunakan karena kadar sulfat tidak memenuhi persyaratan mutu
standar air untuk proses tekstil yaitu ≤ 100,0 mg/L.

9.4. Analisis Alkalinitas Air


Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui berapa kadar alkalinitas dalam
larutan sample uji. Alkalinitas yaitu kemampuan air untuk mempertahankan pH
nya sendiri. Alkalinitas terdiri dari ion-ion OH-, CO32- dan HCO3-. Alkalinitas
adalah banyaknya asam diperlukan untuk menretralkan basa dalam air.
Alkalinitas dalam air sebagian besar disebabkan oleh adanya bikarbonat karena
secara alami berasal dari reaksi karbon dioksida dalam air :
CO + H2O  H2CO3  H+ + HCO3-
Penentuan kadar alkalinitas ini dilakukan dengan titrasi menggunakan
H2SO4 karena asam ini akan mengikat zat penyebab alkalinitas sampai titik akhir

36
titrasi tercapai. Pada percobaan ini, pertama dilakukan alkalinitas PP terlebih
dahulu, nilai alkalinitas PP yang didapatkan adalah 0,28 mgrek/L sedangkan nilai
yang didapatkan pada alkalinitas MO adalah 7,24 mgrek/L, dapat disimpulkan
bahwa hasilnya 2P < M.
Berdasarkan tabel perhitungan mencari kadar unsur alkalinitas hasil 2P < M
berarti mengandung ion karbonat sebesar 2P, yang berarti ion karbonat (CO32-)
yang terkandung adalah sebesar 16,8 mg/L. Kadar bikarbonat (HCO3-) sebesar M
– 2P atau sebesar 407,48 mg/L, sedangkan kadar OH- adalah 0 mg/L. Kadar
bikarbonat yang terkandung dalam air contoh uji sangat tinggi sedangkan
persyaratan air untuk proses tekstil yaitu ≤ 200,0 mg/L, sehingga air contoh uji
tidak dapat digunakan untuk proses basah tekstil karena tidak masuk dalam
persyaratan mutu standar yang ditetapkan.

9.5. Analisis Kesadahan Dengan Cara Kompleksometeri

Pada praktikum kali ini yaitu menguji kesadahan dalam air proses,
kesadahan ini perlu dihitung karena bila terlalu besar jumlahnya maka akan
mengganggu proses basah tekstil. Pada proses basah tekstil toleransi kesadahan <
3oDH. Kesadahan adalah jumlah garam-garam Ca dan Mg yang terkandung
didalam air. Kesadahan ini dibagi menjadi dua yaitu kesadahan tetap dan
kesadahan sementara. Kesadahan tetap apabila ion-ion Ca2+ dan Mg2+
membentuk senyawa dengan klorida dan sulfat. Kesadahan sementara apabila
ion-ion Ca2+ dan Mg2+ membentuk senyawa dengan bikarbonat.
Analisa kesadahan dalam air proses ini menggunakan cara titrasi
kompleksometri dimana titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan
pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar
mengion). Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi
reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang
terdisosiasi dalam larutan. Pada penentuan analisa kesadahan ion Ca dan Mg
dapat dilakukan dengan titrasi EDTA, pH untuk titrasi adalah 10 dengan indikator
eriochrome black T atau EBT. Pada pH basa yaitu pH 12, Mg(OH)2 akan
mengendap, sehingga EDTA dapat digunakan hanya oleh Ca2+ dengan indikator
murexide. Oleh karena itu, pada penetapan kesadahan total, indicator yang

37
digunakan adalah indicator EBT dan pada penetapan kesadahan Ca2+, indicator
yang digunakan adalah indicator murexide.
Untuk pengujian kesadahan total pertama-tama pipet 25 ml air contoh uji
kedalam Erlenmeyer kemudian tambahkan 2 ml KCN 5%, penambahan KCN ini
harus pertama karena KCN berfungsi sebagai pengikat ion-ion kemudian setelah
itu tambahkan 1 ml Buffer pH 10, pH yang digunakan yaitu pH 10 karena pada
pH ini sadah tetap dan sadah sementara (Ca dan Mg) dapat dianalisa dan pada pH
ini juga reaksi akan berlangsung. Setelah itu tambahkan indikator EBT, yang
mana EBT akan menjadi warna merah ketika membentuk komplek dengan
kalsium,magnesium, dan ion logam lainnya. Setelah itu titar dengan larutan
EDTA 0,01 M. Dari hasil yang diperoleh, didapatkan nilai kesadahan total
sebesar 14,448°dH.
Selanjutnya dilakukan pengujian kesadahan Ca, hal yang pertama dilakukan
yaitu pipet 25 ml air contoh uji kedalam Erlenmeyer kemudian tambahkan 2 ml
KCN 5% lalu 1 ml NaOH 4N. Pada pengujian ini pH harus tinggi karena
indikator yang digunakan yaitu indikator murexid yang mana pada pH basa yaitu
pH 12, Mg(OH)2 akan mengendap, sehingga EDTA dapat digunakan hanya oleh
Ca dengan indikator murexide. Kemudian dititrasi dengan larutan EDTA 0,01 M.
Dan hasil akhir ditunjukkan dengan larutan berubah warna menjadi biru. Dari
hasil yang diperoleh, didapatkan nilai kesadahan Ca sebesar 7,952 °dH.
Untuk pengujian kesadahan tetap dan kesadahan tetap Ca sama halnya
dengan pengujian kesadahan total dan kesadahan Ca namun pada pengujian ini
air contoh uji harus dipanaskan terlebih dahulu yaitu bertujuan untuk
menghilangkan kesadahan sementara. Dari hasil yang diperoleh, didapatkan nilai
kesadahan tetap Ca sebesar 4,032 °dH dan kesadahan tetap sebesar 8,96 °dH.
Dari hasil praktikum diatas kita bisa menghitung :
Kesadahan sementara : 5,488°dH
Kesadahan Mg total : 6,496°dH
Kesadahan Mg tetap : 4,928°dH

Dari hasil kesadahan total yang diperoleh, dapat dikatakan bahwa air contoh
uji tidak layak untuk digunakan dalam proses basah tekstil karena nilai kesadahan
yang terlalu tinggi, sedangkan pada proses basah tekstil toleransi kesadahan
< 3o dH.

38
9.6. Analisis Kadar Besi Secara Spektrofotometri

Pada praktikum ini dilakukan uji kadar besi, karena besi dengan kadar besar
akan mengganggu proses basah tekstil, sebagai contoh pada proses pemasakan
dan pengelantangan, garam-garam besi selain dapat menyebabkan noda-noda
kuning kecoklatan yang mengotori pada bahan tekstil juga dapat memperbesar
kerusakan bahan selulosa, karena logam-logam berat berfungsi sebagai katalis
dalam penguraian zat pengelantang. Senyawa besi juga dapat bereaksi dengan
beberapa jenis zat warna, sehingga dalam proses pencelupan menghasilkan warna
celupan yang tidak sesuai dengan yang dikehendaki.
Pada percobaan penentuan kadar besi dalam air proses ini menggunakan
spektrofotometri. Persamaan regresi didapatkan dari larutan standar besi yang
diencerkan kemudian diberi HNO3 dan KCNS. Pengukuran dilakukan pada
panjang gelombang 480 nm. Dari hasil pengukuran, didapatkan data bahwa
aborbansi contoh uji sebesar 0,014 ppm. Maka didapat kadar besi dengan
menggunakan rumus y = ax + b yaitu sebesar 7,083 ppm atau 141,66 mg/L. .
Nilai ini bisa dikatakan cukup besar, karena sesuai baku mutu air untuk proses
basa tekstil adalah 5 ppm. Hal ini membuat contoh uji adalah air yang tidak boleh
digunakan untuk proses basah tekstil.

9.7. Pelunakan Air Sadah

Pada praktikum kali ini yaitu bertujuan untuk menghilangkan ion-ion Ca2+
dan Mg2+ yang menyebabkan kesadahan. Ada beberapa cara yang digunakan pada
praktikum kali ini yang pertama yaitu menggunakan cara pemanasan. Cara
pemanasan dapat dilakukan dengan prinsip mengendapkan garam sadah
sementara. Jadi cara pemanasan itu hanya menghilangkan sadah sementara,
sedangkan untuk sadah tetap dilakukan cara pengendapan menggunakan soda
kapur atau kostik soda-soda. Yang kedua yaitu cara pengendapan, dari cara
pengendapan menggunakan soda kapur yaitu Na2CO3 akan akan mengikat garam
dari Ca2+ sedangkan Ca(OH)2 akan mengikat garam dari Mg2+, logam-logam dan
CO2. Keuntungan menggunakan cara ini adalah murah dan sederhana, namun
kerugiannya yaitu menghasilkan sadah sisa dengan nilai cukup tinggi yaitu
>3°dH. Cara pengendapan lain digunakan dengan kostik soda-soda dimana cara

39
ini hampir mirip dengan cara soda kapur, hanya berbedanya ini menggunakan
NaOH bukan Ca(OH)2. Pada cara ini pun sadah sisa masih tinggi. Cara terakhir
adalah penukar ion, penukar ion (Ca2+ dan Mg2+ dan Logam) dengan natrium dari
penukar kation anorganik dan penukar kation organik. Penukar berbentuk tabung
saringan, dimana air sadah dapat dilewatkan melalui tabung dan air yang keluar
berupa air lunak bebas Ca, Mg dan logam, karena telah mengganti ion Na dari
Penukar Kation. Cara ini menggunakan dua jenis penukar ion yaitu resin dan
zeolit.
Dari hasil praktikum dengan cara pemanasan, didapatkan hasil kesadahan
sisa sebesar 8,512odH dengan efisiensi 41,085%. Dari hasil praktikum dengan
cara pengendapan soda-soda, didapatkan hasil kesadahan sisa sebesar 0,784odH
dengan efisiensi 94,573%. Dari hasil praktikum dengan cara pengendapan soda
kapur, didapatkan hasil kesadahan sisa sebesar 3,136odH dengan efisiensi
77,049%. Dari hasil praktikum dengan cara penukar ion menggunakan resin,
didapatkan hasil kesadahan sisa sebesar 2,016odH dengan efisiensi 86,047%.
Sedangkan menggukan penukar ion zeolit, mendapatkan hasil kesadahan sisa
9,408odH dengan efisiensi 34,884%. Cara penukar ion yang menggunakan resin
didapat hasil yang lebih baik dibanding dengan penukar ion yang menggunakan
zeolit, karena pada cara ini ion-ion penyebab kesadahan digantikan oleh Na, dan
dikarenakan resin ini ukurannya kecil sehingga air yang mengalir diantara celah
resin ini akan banyak menukan ion sadah dengan Na, dan menghasilkan
kesadahan akhir yang lebih kecil. Sedangkan pada penukar ion zeolit terdapat
celah antar batu yang lumayan besar sehingga pertukaran ion tidak sesuai harapan
atau hasil kesadahan masih besar.

IX. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum-praktikum diatas, telah didapatkan hasil sebagai berikut :
- Contoh uji mengandung kalsium, magnesium, silikat, klorida, serta mempunyai
pH 8 dan kekeruhan 0,537 mg/L.

40
- Kadar klorida dalam contoh uji adalah 29,11 mg/L.
- Kadar sulfat dalam contoh uji adalah 24,1354 ppm atau 482,708 mg/L.
- Contoh uji mengandung kadar alkalinitas P sebesar 0,28 mgrek/L dan alkalinitas
M sebesar 7,24 mgrek/L.
- Kesadahan total dalam contoh uji adalah 14,448odH.
Kesadahan tetap dalam contoh uji adalah 8,96 odH.
Kesadahan sementara dalam contoh uji adalah 5,488 odH.
- Pelunakan air contoh uji dengan cara pemanasan mendapatkan kesadahan sisa
sebesar 8,512 odH dengan efisiensi 41,085%.
Pelunakan air contoh uji dengan cara pengendapan soda-soda mendapatkan
kesadahan sisa sebesar 0,784 odH dengan efisiensi 94,573%.
Pelunakan air contoh uji dengan cara pengendapan soda-kapur mendapatkan
kesadahan sisa sebesar 3,136 odH dengan efisiensi 77,049%.
Pelunakan air contoh uji dengan cara penukar ion (resin) mendapatkan kesadahan
sisa sebesar 2,016odH dengan efisiensi 86,047%.
Pelunakan air contoh uji dengan cara penukar ion (zeolit) mendapatkan
kesadahan sisa sebesar 9,408 odH dengan efisiensi 34,884%.
Dari berbagai data pengamatan, dapat disimpulkan bahwa air contoh uji tidak dapat
digunakan sebagai air proses pada industri tekstil karena tidak memenuhi standar
mutu yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

Rahayu,Hariyanti dan Handoko, Budi. 2006. Bahan Ajar Praktikum Air Proses dan
Limbah Industri. Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.

41
Dr, Isminingsih G. 2008. Air Proses Untuk Industri Tekstil. Bandung. Sekolah Tinggi
Teknologi Tekstil.
G., S.Teks., M.Sc., Dr. Isminingsih. 2008. Seri Kuliah Air Proses Untuk Industri Tekstil
Pengolahan Limbah dan Produksi Bersih. Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi
Tekstil.

42
LAMPIRAN
(Beberapa dokumentasi hasil praktikum)

43