Anda di halaman 1dari 26

Co-Asistensi Bidang Bedah

COLECTOMY (Total Colectomy)

Jumat, Oktober 2018

MUHAMMAD IQBAL DJAMIL


C024181020

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hewan kesayangan merupakan hewan yang sangat menguntungkan untuk
dikembangbiakan dengan berbagai tujuan dan dapat memberikan sumbangan untuk
kebahagian manusia. Salah satu hewan yang mendapat perhatian untuk dipelihara dan
dikembangbiakan adalah Kucing. Kucing mempunyai daya tarik tersendiri karena
bentuk tubuh, mata dan warna bulu yang beraneka ragam dengan kelebihan-kelebihan
tersebut maka kucing dapat dikembangbiakan dan dibudidayakan (Mariandayani,
2012).
Sistem pencernaan pada kucing sangat mirip dengan manusia, kerana pada
dasarnya baik manusia maupun kucing adalah mamalia. Namun ada perbedaan yaitu
pencernaan kucing lebih kepada karnivor (makan daging), sementara manusia adalah
omnivor (seimbang antara makan daging dan tumbuhan). Kucing adalah salah satu
hewan mamalia karnivor yang memiliki diet atau makanannya harus
mengandungi vitamin tertentu, asid lemak, dan asam amino, serta bahan kimia lainnya
yang disebut taurin yang hanya didapati melalui daging. Tidak seperti hewan
herbivore (makan tumbuhan) yang sukar mengurai nutrisi tanaman, daging relatif
mudah diurai dan diserap nutrisinya di usus. Oleh kerana itu sistem pencernaan
kucing relatif singkat dan sederhana, dibandingkan dengan sistem pencernaan hewan
herbivore.
Meskipun perawatannya mudah, hewan ini sangat rentan dengan berbagai
penyakit seperti penyakit pada saluran pencernaan bagian bawah. Beberapa kasus
seperti adanya benda asing, penyakit peradangan, perforasi, dan tumor
memungkinkan adanya perubahan ukuran, struktur, dan volume suatu organ. Salah
satu penanganan dalam beberapa penyakit pada saluran pencernaan bagian bawah
yaitu dengan melakukan pembedahan berupa colectomy. Colectomy adalah tindakan
bedah yang dilakukan untuk memotong sebagian kolon (colecomy subtotal) atau
seluruh bagian colon (colectomy total) tergantung dari besar-kecilnya kerusakan pada
kolon tersebut.

3
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana sistem pencernaan kucing domestik ?
1.2.2 Bagaimana peaksanaan bedah colectomy pada kucing domestik?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Menjelaskan definisi kucing domestik
1.3.2 Menjelaskan sitem pencernaan kucing domestik
1.3.3 Menjelaskan anatomi dan fisiologi usus besar (kolon)
1.3.4 Menjelaskan mengenai bedah colectomy

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kucing Domestik


Kucing merupakan hewan peliharaan yang telah didomestikasi sejak 3000- 4000
tahun lalu pada zaman mesir kuno, kucing domestikasi (Felis domesticus) adalah
hewan domestikasi yang merupakan keturunan dari kucing eropa (Felis sylvestris)
dengan kucing hutan afrika (Felis lybica) (Lesmana, 2008).
Adapun klasifikasi kucing menurut Linneaus (1758) adalah :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Carnivora
Famili : Felidae
Genus : Felis
Spesies : Felis catus
Hewan kucing memiliki ciri-ciri antara lain panjang tubuh 76 cm, tinggi tubuh 25-
28 cm, berat tubuh jantan 3-4 kg dan betina 2-3 kg dapat hidup berkisar selama 13-17
tahun. Kucing yang telah mengalami domestikasi dikenal dengan nama ilmiah Felis
catus atau Felis domesticus. Kucing menggunakan variasi vokalisasi dan tipe bahasa
tubuh untuk komunikasi, meliputi: meowing, purring, hissing, growling, squeking,
chriping, clicking, dan grunting (Mariandayani, 2012).

2.1.1 Sistem Pencernaan


Sistem pencernaan merupakan saluran panjang (kurang lebih 9 meter) yang
terlihat dalam proses mencerna makanan, mulai dari mulut sampai dengan anus.
Saluran ini akan menerima makanan dari luar tubuh dan mempersiapkannya untuk
diserap serta bercampur dengan enzim dan zat cair melalui proses pencernaan, baik
dengan cara mengunyah, menelan, dan mencampur dengan zat-zat besi (Tarwoto dan
Wartonah, 2010).
Anatomi dan fisiologi
 Saluran gastrointestinal bagian atas Makanan yang masuk akan dicerna secara
mekanik dan kimiawi di mulut di lambung dengan bantuan enzim, asam

5
lambung. Selanjutnya makanan yang sudah dalam bentuk chime didorong ke
usus halus.

Gambar. 1. Sistem pencernaan kucing

 Saluran gastrointestinal bagian bawah


Saluran gastrointestinal bawah meliputi usus halus dan usus besar. Usus halus
terdiri dari atas duodenum, jejunum, dan ileum yang panjangnya kira-kira 6
meter dan diameter 2,5 cm. Usus besar terdiri atas cecum, colon, dan rectum
yang kemudian bermuara pada anus. Panjang usus besar sekitar 1,5 meter dan
diameternya kira-kira 6 cm. Usus menerima zat makanan yang sudah
berbentuk chime (setengah padat) dari lambung untuk mengabsorpsi air,
nutrisi, dan elektrolit. Usus sendiri mensekresi mucus, potassium, bikarbonat,
dan enzim. Chyme bergerak karena adanya peristaltic usus dan akan
berkumpul menjadi feses di usus besar. Dari makan sampai mencapai rectum
normalnya diperlukan waktu 12 jam.
Gerakan kolon terbagi menjadi tiga bagian, yaitu :
 Haustral shuffing adalah gerakan mencampur chyme untuk membantu
absorpsi air.
 Kontraksi haustral adalah gerakan untuk mendorong materi cair dan semi
padat sepanjang kolon.

6
 Gerakan peristaltik adalah berupa gelombang, gerakan maju ke anus.
(tarwoto & wartonah, 2006).

2.1.2 Anatomi dan Fisiologi Kolon


Kolon (usus besar) merupakan bagian bawah dari saluran pencernaan yang
dimulai dari katup ileum-sekum ke anus yang meliputi sekum, kolon asenden, kolon
transversarium, kolon desenden, kolon sigmoid, rectum dan anus. Dinding kolon
tersusun dari dua lapisan otot polos. Sel-sel mukosa pada kolon menyekresi mucus
yang berfungsi untuk melincinkan jalannya chime. Bagian akhir dari kolon adalah
rectum. Fungsi kolon adalah untuk mengonsentrasikan chyme menjadi massa yang
lebih padat melalui penyerapan air yang lebih banyak lalu di ekskresikan oleh tubuh
dalam bentuk feses (Asmadi, 2008).

Gambar. 2. Anatomi usus besar (kolon) kucing

Sekum terletak di daerah iliaka kanan dan menempel pada otot iliopsoas. Dari
sini kolon naik melalui daerah sebelah kanan lumbal dan disebut kolon asendens. Di
bawah hati berbelok pada tempat yang disebut fleksura hepatica, lalu berjalan melalui
tepi daerah epigastrik dan umbilical sebagai kolon transversus. Dibawah limpa
membelok sebagai fleksura sinistra atau fleksura lienalis dan kemudian berjalan
melalui daerah kanan lumbal sebagai kolon desendens. Di daerah kanan iliaka
terdapat belokan yang disebut fleksura sigmoid dan bentuk kolon sigmoideus atau
kolon pelvis dan kemudian masuk pelvis besar dan menjadi rectum (Pearce, 2006).

7
2.2 Colectomy
Colectomy adalah tindakan bedah yang dilakukan untuk memotong sebagian
kolon (colecomy subtotal) atau seluruh bagian colon (colectomy total) tergantung dari
besar-kecilnya kerusakan pada kolon tersebut. Colectomy subtotal adalah prosedur
bedah yang diindikasikan untuk kasus-kasus sembelit kronis non-responsif terhadap
intervensi medis. Tujuan dari colectomy subtotal adalah untuk menghilangkan bagian
colon yang mengalami kerusakan, sehingga menghasilkan feses yang lebih lembut,
kotoran yang semisolid, yang kemudian dapat melewati pelvis yang mengalami
penyempitan. Setelah colectomy subtotal atau total, usus halus mengalami
kompensasi, tinggi vili akan meningkat, begitu pula dengan ketinggian dan density
enterocyte juga meningkat, feses biasanya menjadi lebih lembut pada 3 bulan pertama
setelah operasi. Namun secara klinis, fungsi usus masih berada dalam keadaan
normal. Bila terjadi kerusakan pada kolon baik akibat adanya tumor, kanker colon,
kelainan kongenital, divertikulitis, megacolon, infeksi atau peradangan yang
mengakibatkan rusaknya jaringan pada kolon, maka dilakukan colectomy (Ma’ruf,
2016).

Gambar. 3. Bedah colectomy

8
BAB III
METODE

3.1 Tata Laksana


SIGNALEMENT
Nama Cat
Jenis hewan Kucing
Kelamin Jantan
Ras/breed Kucing Domestik short hair
Warna orange
Umur 1 tahun
Berat badan 3 kg
Tanda kusus -

A. Pre Operasi
Sebelum operasi, terlebih dahulu lakukan anamnesa untuk memastikan riwayat
kesehatan hewan. Kemudian lakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium terutama
pemeriksaan feses. Selain itu juga perlu dilakukan pemeriksaan USG, barium X-Ray
(pemeriksaan rotgen yang menggunakan kontras bubur barium atau barium enema),
CT scan,MRI scan, dan colonscopy dengan biopsy.
Hewan tidak diberikan makanan 6-12 jam dan tidak diberikan minum 2-6 jam
sebelum operasi. kemudian dilakukan pencukuran bulu dengan cara bulu dibasahi
dengan air sabun kemudian pencukuran bulu dilakukan searah dengan rebah bulu, dan
setelah dicukur daerah yang akan dioperasi dibersihkan dengan kapas yang dibasahi
air, kemudian dikeringkan, setelah itu feses dan urin dikeluarkan. Hewan di berikan
atropin sulfat secara subcutan untuk premedikasi dan ditunggu selama 10 hingga 15
menit. Setelah 10 hingga 15 menit,di berikan anastesi secara intramuscular dengan
gabungan antra ketamin dan xylazine

B. Persiapan Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam operasi colectomy antara lain adalah :
1. Scalpel 1 buah
2. Gunting 2 buah

9
3. Needle holder 2 buah
4. Pinset chirurgis dan anatomis 2 buah
5. Mosquito forceps 4 buah
6. Allis forceps 4 buah
7. Hemostasis forceps 4 buah.
8. Tampon
9. Jarum
10. Duk clem
11. Meja operasi
12. Tiang infuse
13. Antiseptik
14. Anastesi
a. Atropine
Dosis : 0.04 mg/kg BB (SC)
Konsentrasi : 0.25 mg/ml
0,04mg/kgBB×3kg
Perhitungan : V= = 0.48 ml
0,25𝑚𝑔/𝑚𝑙
b. Ketamine
Dosis : 10 mg/kg BB (IM)
Konsentrasi : 100 mg/ml
10mg/kgBB×3kg
Perhitungan : V= = 0,3 ml
100mg/ml
c. Xylazine
Dosis : 2 mg/kg BB (IM)
Konsentrasi : 20 mg/ml
2mg/kgBB×3kg
Perhitungan : V= = 0,3 ml
20mg/ml

C. Persiapan Operator
1. Mengenakan kopiah atau penutup kepala.
2. Mengenakan masker
3. Mencucihamakan tangan dari ujung jari sampai siku dengan antiseptik.
4. Mengenakan baju operasi steril.

10
5. Mengenakan sarung tangan dan alas kaki steril.
Operator harus dalam keadaan steril terutama pada bagian jari-jari tangan harus
dicuci memakai air sabun dan disikat, kuku harus pendek dan tidak boleh memakai
asesoris. Operator juga tidak boleh menggunakan alas kaki, setelah semua selesai
dipersiapkan, kemudian dilanjutkan dengan :
1. Pemasangan infus
2. Pembiusan, pemasangan endotrakeal tube
3. Fixasi hewan di meja operasi
4. Pengolesan antseptik pada bagian dan sekitar kulit yang akan di incisi.
5. Pemasangan duk.

D. Operasi Colectomy
Operasi colectomy adalah tindakan bedah yang dilakukan untuk mengangkat segmen
keseluruhan colon (colectomy total).
 Laparotomy di incisi pada ventral midline, dari umbilicus ke caudal
diperlukan untuk eksplorasi abdomen, serta mengidentifikasi dan
mengeluarkan enterolith.
 Potong bagian kolon yang diinginkan melalui secara melingkar (longitudinal).
 Ada 2 kemungkinan yang dapat dilakukan pada colectomy, yaitu dilakukan
penjahitan pada sisa ujung proksimal dan ujung distal usus atau dbuatkan
kantong (stoma) sebagai tempat penampungan feses.
 Jahit secara melingkar permukaan serosa colon hingga ke musculus abdomen
menggunakan 3-0 monofilament dengan benang absorbable (polydoxanone,
polyglyconate, poliglecaprone 25).
 Lengkapi dengan stoma dengan cara menjahit semua bagian dari dinding
kolon yang terpotong hingga tepi insisi kulit menggunakan 3-0 atau 4-0
monofilamen absorbable.

E. Pasca Operasi
1. Hewan dimonitor perkembangannya tiap 3 jam.
2. Pemberian antibiotik spectrum luas sampai 48 jam setelah operasi.
3. Pemberian nonstreoidal anti-inflamasi.

11
4. Pemberian cairan intravena (40-60 ml/kg).
5. Diberi minum air hangat beberapa jam setelah operasi harus diulang tiap setengah
jam.
6. Jangan diberi makan 12-24 jam pasca operasi.
7. Pakan dalam jumlah sedikit dapat diberikan sesegera mungkin jika hewan sudah
mau makan dengan sendirinya.
8. Hewan yang sudah mau makan dapat diberi tambahan supleme lemak tinggi untuk
meningkatkan kalori.

12
BAB IV
PEMBAHASAN

Analisa Prosedur
Pre Operasi
Persiapan sebelum operasi dimulai dengan mempersiapkan ruangan bedah,
persiapan peralatan operator dan asisten, dan persiapan alat atau instrument telah
disterilisasi serta mempuasakan hewan coba selama 6 – 12 jam (tidak diberi makan)
dan 2 – 6 jam (tidak diberi minum) yang bertujuan untuk menghindarkan hewan
muntah ketika dilakukan anastesi. Sedangkan sterilisasi alat bedah bertujuan untuk
menghilangkan mikroba yang ada pada alat-alat bedah yang akan digunakan nanti.
Prosedur autoclave merupakan proses sterilisasi yang berprinsip pemanasan basah
dengan tekanan tinggi. Proses autoclave berlangsung di dalam alat pemanas tertutup
yang digunakan untuk mensterilisasi suatubenda atau alat menggunakan uap bersuhu
dan bertekanan tinggi (121 oC, 15 lbs) selama kurang lebih 15 menit. Penurunan
tekanan pada autoclave tidak dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme,
melainkan meningkatkan suhu dalam autoclave. Suhu yang tinggi inilah yang akan
membunuh microorganisme (Madigan,2006).
Setelah peralatan bedah disiapkan kemudian dilakukan pemeriksaan pulsus dan
suhu hewan coba, dan lakukan secara berulang setiap 15 menit sekali dengan tujuan
mengamati kondisi hewan coba selama operasi. Selanjutnya dilakukan premedikasi
dengan atropine 10 menit sebelum operasi dengan dosis 0.48 ml diberikan secara
subcutan. Dan diberikan anastethikum xylazine dan ketamine setelah 10 menit dari
pemberian atropine dengan rute pemberian intramuscular xylazine sebanyak 0.3 ml
dan ketamine sebanyak 0.3 ml. Efek dari ketamin yaitu menimbulkan efek samping
nausea dan vomit sehingga lebih baik lambung dikosongkan. Setelah hewan coba
teranastesi dilakukan restrain dengan cara mengikat keempat kaki hewan coba
menggunakan tali pengikat. Lidah hewan coba dikeluarkan kemudian mulut ditutup
dengan kapas atau kasa agar tidak tergigit ketika hewan telah teranastesi serta tidak
mengganggu jalan nafas dari hewan itu sendiri dan kemudian hewan ditutup dengan
duk, disesuaikan, dan difiksir dengan towelclamp.

13
Operasi
Operasi yang dilakukan adalah total colectomy, yaitu tindakan bedah yang
dilakukan untuk memotong seluruh bagian colon (colectomy total). Penyayatan kulit
diinsisi pada linea median dari umbilicus ke caudal yaitu 1 cm anterior umbilical
sampai 3 cm posterior umbilical. Penyayatan abdomen yang dilakukan tepat dibagian
tengah mempunyai maksud mempermudah eksplorasi organ-organ yang berada baik
disebelah anterior maupun posterior dari tempat penyayatan (Fossum, 2012).
Dilakukan penyayatan sepanjang kurang lebih 5 cm pada kulit menggunakan
blade, diikuti penyayatan subcutan dan kemudian penyayatan linea alba. Setelah
terbuka kemudian Incisi yang ada diperluas dengan menggunakan gunting tajam-
tumpul dilakukan secara hati-hari agar tidak menyobek daerah sekitar incisi. Setelah
terbuka seluruh lapisan, rongga yang terbuka ditahan dengan menggunakan allis
tissue forceps dan retractor agar tetap terbuka. Dan amati organ visceral setelah
lapisan pada abdomen terbuka, dalam kasus bedah ini organ yang diekplorasi adalah
usus besar (kolon). Dan tetap melakukan pemantauan kondisi hewan coba selama
operasi, seperti pulsus, suhu, kondisi luka, kesadaran, dan reflex mata untuk
memastikan hewan coba dalam kondisi baik.
Kemudian usus besar (kolon) dikeluarkan, masing-masing bagian dari pangkal
usus yang akan disayat diklem. Dibuat sayatan pada permukaan usus dan diusahakan
agar usus tetap dalam keadaan basah dengan cara membilas dengan NaCl Fisiologis.
Penjahitan pada sisa ujung proksimal dan ujung distal usus dan menjahit semua
bagian dari dinding kolon yang terpotong hingga tepi insisi kulit menggunakan 3-0
atau 4-0 monofilamen absorbable. Kemudian mucosa dijahit dengan pola simple
interrupted dan serosa dijahit dengan pola lambert dengan menggunakan cat gut 3-0
atau 4-0 monofilamen absorbable. untuk memastikan ada tidaknya kebocoran
dilakukan uji kebocoran usus dengan menggunakan NaCl Fisiologis. Setelah
dipastikan tidak bocor, ususdimasukkan kembali ke rongga abdomen,
kemudian peritoneum dijahit dengan menggunakan benang cutgat kromik dengan
pola simple interrupted, musculus dan fascia dijahit dengan benang cat
gut pola simple continous dan kulit dijahit dengan benang silk pola simple
interrupted.

14
Post Operasi
Post Operasi Prosedur bedah laparotomi umumnya didukung perawatan
postoperatif. Pengecekan tersebut anatara lain efek anastesi dan meyakinkan bahwa
persembuhan luka berjalan dengan baik. Komplikasi sering kali menyertai operasi
seperti reaksi alergi jahitan, seroma, hematoma, self trauma, dan ketidaknyamanan
pasien. Penanganan post operatif sangat penting karena dapat mempengaruhi
persembuhan hewan (pasien) (Theresa, 2007).
Perawatan pasca operasi diberikan terapi cairan intravena berupa ringer laktat (40-
60 ml/kg) selama 5 hari. Pemberian Claneksi sirup dengan komposisi antibiotic
amoxicillin dan analgesik, yaitu clavulanic acid dengan frekuensi pemberian 12 jam
dengan dosis 3 ml yang diberikan secara peroral. Selain itu diberikan antiinflamasi,
yaitu dexamethasone secara intramuskular dengan dosis 0,3 ml. Untuk antibiotik
topikal pada daerah luka diberikan nebacetin untuk membantu penyembuhan
luka.Tidak diberi makan 12-24 jam pasca operasi serta pakan dalam jumlah sedikit
dapat diberikan sesegera mungkin jika hewan sudah mau makan dengan sendirinya
dan pemberian tambahan supleme lemak tinggi untuk meningkatkan kalori.
Dressing diganti setiap 2 hari sekali dengan menggunakan nebacetin lalu
diberikan iodine yang kemudian ditutup dengan kasa steril dan direkatkan dengan
hypafix dan pemberian elizabeth collar agar bandage tidak digigit oleh hewan serta
mecegah adanya kontaminasi mikroorganisme dari lingkungan luar. Beberapa hal
yang perlu diperhatikan terhadap pasien bedah post operatif untuk perawatan pasien
bedah, diantaranya adalah pemeriksaan pulsus, suhu, appetice, defekasi, urinasi dan
SL yang dilakukan setiap harinya untuk hingga hewan benar-benar pulih untuk
mengontrol perkembangan pasca operasi serta menghindarkan hewan dari adanya
komplikasi pasca operasi. Setelah 7 hari dilanjutkan dengan melakukan pengecekan
terhadap jahitan, apabila sudah kering dapat dilakukan pelepasan jahitan. Dan setelah
jahitan dilepas, luka jahitan masih harus ditutup untuk mengantisipasi agar luka tidak
digigit oleh hewan coba ataupun terkena kotoran yang ada dilingkungan ketika proses
perawatan.

15
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kucing merupakan hewan peliharaan yang telah didomestikasi sejak 3000- 4000
tahun lalu pada zaman mesir kuno. hewan ini sangat rentan dengan berbagai penyakit
seperti penyakit pada saluran pencernaan bagian bawah. Beberapa kasus seperti
adanya benda asing, penyakit peradangan, perforasi, dan tumor memungkinkan
adanya perubahan ukuran, struktur, dan volume suatu organ. Salah satu penanganan
dalam beberapa penyakit pada saluran pencernaan bagian bawah yaitu dengan
melakukan pembedahan berupa colectomy.

5.2 Saran
Berdasarkan hasil laporan tersebut, saran yang didapat adalah memberikan
edukasi pada masyarakat terutama pemilik hewan mengenai beberapa penyakit sistem
pencernaan bagian bawah terutama pada usus besar dan penanganannya sehingga
dapat meminimalisir kejadian penyakit dan dilakukannya pemeriksaan oleh dokter
hewan dan memperbaiki sistem pemeliharan terutama pemberian makanan.

16
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. (2008). Tehnik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan


Dasar Klien. Jakarta: Salemba.

Fossum, 2012. Small Animal Surgery. Elsevier Mosby : USA

Lesmana, T. 2008. Morfogenetika Kucing (Felis domesticus) di Jakarta


Timur.Skripsi.Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu
Alam Institut Pertanian Bogor. Hal 1.

Ma’ruf, A. 2016. Teknik Operasi Colotomy Dan Colectomy pada Hewan (Bedah
Sistem Digesti). https://mydokterhewan.blogspot.com/2016/05/teknik-
operasi-colotomy-dan-colectomy.html.

Mariandayani, H.N. 2012. Keragaman kucing dopmestic (Felis domesticus)


Berdasarkan Morfogenetik. Jurnal peternakan sriwijaya Vol 1 no 1. Hal.
10,11,3

Madigan MT, Martinko JM, Brock TD. 2006. Brock Biology of Microorganisms. New
Jersey: Pearson Prentice Hall.

Pearce, Evelyn C. 2006. Anatomi dan Fisiologis Untuk Para Medis, Cetakan kedua
puluh Sembilan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal. 235

Tarwoto & Wartonah. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia. Edisi 3. Jakrta : Salemba
Medika.

Tarwoto & Wartonah. 2010. Kebutuhan Dasar Manusia. Edisi 4. Jakrta : Salemba
Medika

Theresa, Welch., Fossum, et all. 2007. Small Animal Surgery 3rd Edition. Mosby
Elsevier. Missouri

17
Lampiran

18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

Anda mungkin juga menyukai