Anda di halaman 1dari 10

1.

2 Konsep Bahasa
Bahasa pada hakikatnya sangat sangat memegang peranan penting dalam
segala sendi kehidupan kita sebgai manusia. Namun sebagian dari kita yang tidak
memahami hakikat bahasa sering tidak memperhatikannya dan lebih
menggapnya sebagai hal yang biasa. Bahasa mempunyai pengaruh yang luar
biasa dan termasuk yang membedakan manusia dari binatang, tetapi bahasa tidak
mempunyai tempat dalam program pendidikan kita atau dalam spekulasi, para
ahli filsafat kita (Bloomfield, 1961 : 1).
Finochiaro 1964 ( dalam Suparno, 1994:2), mendefinsikan “Bahasa adalah
symbol vocal yang arbitrer yang memungkinkan semua orang dalam suatu
kebudayaan tertentu atau orang lain yang mempelajari system kebudayaan itu
berkomunikasi atau berinteraksi”. Carrol 1961 (dalam Suparno, 1994:2)
mendefinisikan “Bahasa adalah system bunyi dan urutan bunyi vokal yang
terstruktur digunakan yang digunakan atau dapat digunakan dalam komunikasi
interpersonal oleh sekelompok manusia dan secara lengkap digunakan untuk
mengungkapkan sesuatu peristiwa, dan proses yang terdapat di sekitar manusia”.
Suparno (1994:4) mendefinisikan “Bahasa adalah system lambing bunyi oral
yang arbitrer yang digunakan oleh sekelompok manusia (masyarakat) sebagai
alat komunikasi”.
Chomsky 1957 (dalam Suparno, 1994:4) mendefinisikan “Bahasa sebagai
seperangkat kalimat yang masing-masing memiliki penjaga yang terbatas dan
tersusun dari seperangkat atau elemen yang terbatas secara dominan”. Pendapat
Chomsky tentang hakikat bahasa tampaknya lebih luas dibandingkan dengan
ketiga konsep sebelumnya. Jika konsep sebelumnya hanya terbatas pada bunyi
vokal yang terstruktur, maka konsep bahasa menurut Chomsky tidak hanya
terbatas pada sisitem bunyi vokal tetapi sudah menyakut kalimat.
Lain halnya dengan Nsr 1978 ( dalam Suparno, 1994:7) mendefinisikan
“Bahasa sebagai bagian kebudayaan. Sebagai bagian kebudayaan, bahasa
merupakan kebiasaan aktivitas bunyi yang sistematis yang diperoleh seseorang
yang mewakili makna yang makna yang berasal dari pengalaman manusia”.
Hs. Widjono (2007:14), mengatakan “Bahasa adalah system lambang bunyi
ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya”.
Lebih lanjut dikatakan bahasa yang baik berdasarkan suatu system, yaitu
seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya. Sistem tersebut mencakup
unsur-unsur sebagaimana yang dikemukakan oleh Hs. Widjono (2007:15), yaitu
(1) Sistem lambang yang bermakna dan dapat dipahami oleh masyarakat
pemakainya.
(2) Sistem lambang tersebut bersifat konvensional yang ditentukan oleh
masyarakat pemakainya berdasarkan kesepakatan.
(3) Lambang-lambang tersebut bersifat arbitrer (kesepakatan) digunakan
secara berulang dan tetap.
(4) Sistem lambang tersebut bersifat terbatas , tetapi produktif. Artinya dengan
system yang sederhana dan jumlah yang terbatas dapat menghasilkan kata,
frasa, klausa, kalimat, dan wacana yang tidak terbatas jumlahnya.
(5) Sistem lambang yang bersifat unik, khas, dan tidak sama dengan lambang
bahasa lain, dan
(6) Sistem lambang dibangun berdasarkan kaidah yang berisfat universal.

Ruhardi (2013:1) mengemukakan beberapa hakikat atau konsep bahasa yang


dapat disimpulkan, yaitu
(1) Baasa sebagai penanda (previor) eksistensi budaya dari masyarakat
pemakainya.
(2) Bahasa sebagai cerminan masyarakat pemakainya.
(3) Bahasa menunjukan bangsa pemakainya.
(4) Bahasa itu bersistem dan bermakna.
(5) Bahasa itu berakfisasi (berimbuhan), misalnya kata “panggil” melahirkan
bentuk dipnggil, memanggil, dipanggilkan, memanggilkan, terpanggil
(6) Bahasa itu memiliki kekerabatan, ,misalnya dalam bahasa Indonesia kata
“pedas”, dalam bahasa jawa “pedes”, dalam bahasa manado “pidis”.
Anderson dan Brown (dalam Rahardi, 2013:3), mengatakan hakikat bahasa,
yaitu
(1) Sebagai alat komunikasi
(2) Bersifat kesemestaan
(3) Bersifat kemanusiaan
(4) Berkaitan dengan masyarakat dan budaya
(5) Memiliki makna konvensional
(6) Bersifat lokal
(7) Merupakan symbol arbitrer dan
(8) Merupakan system
Teeuw (dalam Rahayu, 2007:8), Mengatakan “Bahasa Indonesia ialah bahasa
perhubungan yang berabad-abad tumbuh dengan perlahan-lahan dikalangan
penduduk Asia Selatan dan setelah bangkitnya pergerakan rakyat Indonesia pada
abad XX diangkat dan dimufakati serta dijunjung sebagai bahasa persatuan”.
Amin Singgih (dalam Rahayu, 2007:8), mengatakan “Bahasa Indonesia ialah
bahasa yang dibuat, dumufakati dan diakui serta digunakan oleh masyarakat
seluruh Indonesia ialah bahasa Melayu yang sudah menyatu benar dengan suku
bangsa yang ada dikepulauan Nusantara. Purbatjaraka (dalam Rahayu, 2007:8),
mengatakan “Bahasa Indonesia ialah bahasa yang sejak kejayaan Sriwijaya telah
menjadi bahasa pergaulan atau lingua franca di seluruh Asia Tenggara”.
1.3 Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indoenesi
Istilah kedudukan dan fungsi merupakan dua hal yang sulit dipisahkan dan
dibedakan. Dalam hubungan ini (Efendi,Ed 1979:49) yang dimaksud dengan
fungsi bahasa adalah nilai pemakaian bahasa yang dirumuskan sebagai tugas
pemakaian bahasa itu di dalam kedudukan yang diberikan kepadanya. Yang
dimaksud dengan kedudukan bahasa adalah status relative bahasa sebagai system
lambang nilai budaya yang dirumuskan atas dasar nilai sosial yang dihubungkan
dengan bahasa yang bersangkutan. Dalam hubungan dengan kedudukan dan
fungsi dan fungsi bahasa Syafi’ie (1990:1) memberikan contoh, kedudukan si A
memiliki fungsi-fungsi tertentu, antara lain bertanggung jawab terhadap
kelancaran dan kesuksesan suatu diskusi. Jika dikaitkan dengan fungsi bahasa
maka yang dimaksud dengan fungsi menurut Syafi’ie (1990:1) adalah sebagai
wahana komunikasi bagi manusia, baik komunikasi lisan maupun tulis. Fungsi
adalah fungsi dasar bahasa yang belum dikaitkan dengan status dan nilai-nilai
sosial.
Secara substantansi, kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional
dan bahasa Negara mengacu pada Sumpah Pemuda dan UUD 1945 bab XV pasal
36. Di dalam Sumpah Pemuda disebutkan bahwa bahasa Indonesia sebagai
bahasa Negara (Alwi dan Sugono, 2011:ix) itulah sebabnya bahasa Indonesia
sering disebut sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, bahasa resmi, dan
bahasa Negara. Penamaan ini tidak perlu diperdebatkan.
Secara umum, kedudukan bahasa Indonesia, yaitu sebagai bahasa nasioanal
dan sebagai bahasa Negara. Secara formal samapai dengan saat ini bahasa
Indonesia mempunyai empat kedudukan, yaitu sebgai bahasa persatuan , bahasa
nasional, bahasa negara, dan bahasa resmi. Dalam perkembangannya, bahasa
Indonesia berhasil mendudukannya sebagai bahasa budaya dan bahasa ilmu
(Muslich, 2010 : 33).
Berikut ini dipaparkan bahasa Indonesia sebgai bahasa negara (resmi) dan
bahasa Indonesia sbegai bahasa persatuan (nasional).

1.3.1 Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara


Istilah kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara disamakan dengan
bahasa resmi, (Halim dalam Efendi, Ed 1979:52) tidak menggunakan istilah bahasa
resmi. Hal ini di karenakan adanya pertimbangan (1) Kenyataan tidak semua bahasa
resmi adalah bahasa negara. Bahasa daerah dapat pula menjadi bahasa resmi di
dalam lingkungan sosial budayanya sendiri, (2) Upacara-upacara resmi kraton di
jawa menggunakan bahasa jawa. Demikian pula adalam kegiatan upacara adat (i)di
Gorontalo (Kota, kab. Gorontalo, Kab. Gorontalo Utara, Kab. Pohuwato, dan kab.
Boalemo menggunakan bahasa Gorontalo, sedangkan Di Suwawa (ii) di Sunda
menggunakan bahasa Sunda, (iii) di Minangkabau menggunakan bahasa
Minangkabau.
Bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa negara jika dikaji dari
persfektif Halim (1976:3), Efendi, Ed. (1978:52), Safi’le (1990:2), Rahayu
(2007:16) Alek dan H. P. H. Achmad (2010:16), Nurjanal dan Sumirat (2010:2010),
berlaku sejak tahun 1945. Hal ini sesuai yang tertera dalam UUD 1945 Bab XV
pasal 36. Dalam kedudukannya seagai bahasa negara, bahasa Indonesia dipakai
dalam segala kegiatan upacara, peristiwa, dan kegiatan keanekaragaman, baik
secara lisan dan maupun tulisan. Dokumen-dokumen maupun undang-undang,
peraturan-peraturan, dan surat menyurat yang dikeluarkan oleh pemerintah dan
instansi kenegaraan lainnya ditulis dalam bahasa Indoensia. Pidato-pidato
kenegaraan ditulis dan diucapkan dalam bahasa Indonesia.
Fungsi bahasa Indoensia dalam kedudukannya sebagai bahasa negara ini
menurut Halim (1976:7) dan Efendi, Ed. (1979:52), Syafi’ie (1990:7), yaitu :
1. Bahasa pengantar resmi kenegaraan
2. Bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan;
3. Sarana perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintaha; dan
4. Sarana pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan seta
teknologi modern.
Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa negara menurut Syafi’ie
(1990:7) berdasarkan hasil perumusan Seminar Politik Bahasa Nasioanal yang
diselanggarakan di Jakarata tanggal 25 s.d 28 Februari 1975 diputuskan fungsi
bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, yakni:
1. Bahasa resmi kenegaraan;
2. Bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan;
3. Bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan; dan
4. Bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu
penegetahuan serta teknologi modern.
Rahayu 92007:16) mengemukakan bahwa bahasa Indonesia dalam
kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia dipakai dalam kegiatan (1)
pelakasanaan administrasi pemerintahan, (2) pendidikan dan pengajaran, baik yang
dikelola oleh pemerintah maupun swasta, (3) pengembangan nasional, (4)
pengembangan kesustraan nasional, (5) peningkatan mutu media, (6) penulisam
buku-buku pelajaran dan buku-buku ilmu pengetahuan, baik asli maupun
terjemahan. Jika dikaji secara mendalam, fungsi bahasa yang dikemukakan oleh
Rahayu sudah merupakan pengmbangan dari keempat fungsi yang dipaparkan
sebelumnya.
Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan menurut
(Syafi’ie, 1990:7) dapat dibuktikan dengan digunakannya bahasa Indonesia dalam
naskah proklamasi kemerdekaaan RI 17 Agustus 1945. Selain itu, juga
digunakannya bahasa Indonesia dalam dokumen-dokumen, keputusan-keputusan,
pidato-pidato kenegaraan dll.
Sebagai bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan, bahasa
Indonesia digunakan mulai dari Taman kanak-kanak dengan perguruan Tinggi.
Sebagai bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasioanal untuk
kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahhan,
bahasa Indonesia digunakan dalam hubungan antara badan pemerintahan dan
penyebarluasan informasi kepada masyarakat.
Dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta
teknologi modern, bahasa Indonesia digunakan untuk mengajarkan berbagai ilmu
pengetahuan dan kebudayaaan kepada masyarakat secara umum. Misalnya, guru tari
Bali tidak mungkin akan mengajarkan tarian Bali itu kepada orang di luar Bali
dengan bahasa Bali. Ternyata ia akan menggunakan Bahasa yang dikuasai oleh
masyarakat atau murid yang diajarnya (Syafi’ie, 1990:8). Selanjutnya, Efendi, Ed.
(1979:54), mengatakan bahasa Indonesia adalah satu-satunya alat yang
memungkinkan kita membina serta menegembangkan kebudayaan nasional
sedemikian rupa sehingga ia memiliki ciri-ciri dan identitasnya sendiri yang
membedakannya dari kebudayaan daerah. Pada waktu yang sama, bahasa Indonesia
digunakan sebagai alat untuk menyatakan nilai-nilai sosial budaya nasional.
Di samping itu, bahasa Indonesia sebgai bahasa negara yang berfungsi sebagai
pendukung ilmu pengetahuan dan teknologi modern dimaksudkan penyebaran ilmu
pengetahuan dan teknologi modern serta manfaat yang dapat diberikannya kepada
perencanaan dan pelaksanan, baik melalui penulisan dan penerjemahan buku-buku
teks serta penyajian pelajaran di lembaga-lembaga pendidikan dilaksanakan dengan
menggunakan bahasa Indonesia.
1.3.2 Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan (Nasional)
Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) menurut Halim
(1976:7) berawal dari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 dan
dimungkinkanoleh kenyataan bahwa bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari
bahasa Melayu yang telah dipakai sebagai lingua franca di seluruh kepulauan
Indonesia selama berabad-abad sebelum kedatangan bangsa Portugis pada abad
XVI. Hal ini sebagaimana tercantumdalam Sumpah Pemuda bagian ketiga, yaitu
“Kami bangsa Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu bahasa
Indonesia”. Berdasarkan tekad itu, maka bahasa Indonesia diangkat dn dikukuhkan
kedudukannya sebagai bahasa nasional.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dapat juga diseut sebagai bahasa
nasional atau bahasa kebangsaan (Alwi dan Sugono, Ed, 2011:4). Pengangkatan
status bahasa Indonesia sebgai bahasa perstuan (nasional) benar-benardapat
diwujudkan. Kenyataan menunjukan dengan menggunakan bahasa Indonesia rasa
rasa persatuan dan kesatuan diantara suku, etnis, budya, ada istiadat, dan agama
yang ada diseluruh kepulauan nusantara terjalin. Kehadiran bahasa Indonesia sebgai
bahasa persatuan nasional tidak menimbulkan sentiment ngatif bagi yang
menggunakannya. Sebaliknya, justru kehadiran bahasa Indonesia di anggap sebgai
pelindung sentiment kedaerahan dan sebagai penengah ego keuskuan (Aleka dan
HP.H Achmad, 2010:19). Dalam hubungannya sebagai alat untuk menyatukan
berbagai suku yang mempunyai latar belakang budaya dan bahasa masing-masing,
bahasa Indonesia justru dapat menyerasikan hidup sebagai bangsa yang bersatu
tanpa meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial budya
serta belakang bahas etnik yang bersangkutan.
Latar Belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda berpotensi
menghambat perhubungan antar daerah dan antar budaya. Akan tetapi, tidak
demikian di Indonesia. Hal ini di sebabkan oleh adanya bahasa Indonesia sebagai
alat yang ampuh untuk mempersatukan berbagai etnis, suku, budaya, dan agama
yang ada di Nusantara.
Dalam kedudukannnya sebagai bahasa persatuan (nasional) bahasa Indonesia
menurut Alwi dan Sugono, Ed (2015:5), Rahayu (2007:18), berfungsi sebagai:
1) Lambang kebanggaan nasional
2) Lambang identitas nasional
3) Alat pemersatu berbagai kelompok etnik yang berbeda latar belakang social,
budaya, dan bahasanya
4) Alat perhubungan antar budaya antar daerah. Fungsi bahasa Indonesia dalam
kedudukannya sebagai bahasa nasional, menurut Sugono (2009:3), merupakan
hasil keputusan pada Seminar Politik Bahasa nasional tahun 1999.

Nurjamal dan Sumirat (2010:210) menambahkan dua bagian hal yaitu :


1) Alat komunikasi antar suku bangsa dan budaya di seluruh tanah air
2) Alat pengembang kebudayaan nasional.
Tampaknya fungsi bahasa nasional yang dikemukakan oleh Alwi dan Sugono
(Ed), Rahayu, serta Nurjamal dan Sumirat tidak berbeda. Fungsi ini
sesungguhnya telah terintegrasi pada fungsi bahasa Indonesia sebgai alat
penghubung antar daerah dan antar budaya.
Sebagai lambang kebanggaan nasional, bahasa Indonesia memancarkan nilai-
nilai sosial budaya luhur bangsa Indonesia. Dalam pengertian ini dapatlah
dikatakan bahwa dengn keluhuran nilai yang dicerminkan bangsa Indoensia, kita
harus bangga dengannya, dan kita harus mempertahankannya. Sebagi wujud
kebanggaan kita adalah kita menggunakan bahasa Indonesia tanpa ada rasa rendah
diri, rasa malu dan acuh tak acuh
Sebagai lambang identitas nasional, bahasa indoesia merupakan lambang
bangsa Indonesia. Artinya, sifat, perangai dan watak kita dapat diketahui melaui
bahasa Indonesia yang digunakan. Pepatah mengatakan “Bahasa menunjukan
bangsa”. Artinya, bahasa Indonesia menunjukan kepribadian kita.
Sebagai alat pemersatu masyarakat yang berbeda-beda latar belakang sosial
budaya dan bahasannya serta agama, bahasa Indoesia dapat menyatukan perbedaan
itu dalam satu kebersamaan untuk meraih cita-cita hidup dan merasa senasib.
Dengan demikian, bangsa Indonesia merasa aman dan serasi hidupnya karena
diantara sesama tidak ada persaingan negatif dan tidak ada lagi penjajahan,
diskriminasi, dan dikotomi.
Sebagai alat perhubugan antarbudaya dan antardaerah, bahasa Indonesia
digunakan untuk memperlancar hubungan komunikasi di antara kita. Bagi
pemerintah, segala kebijakan dan strategi yang berhubungan dengan ideology,
poltik, ekonomi, sosial budaya, perthanan, dan keamanan (ipoleksoshankan)
mudah diinformasikan kepada warganya.
Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia yang dipaparkan di atas, jika kita
lihat sepintas selalu pada hakikatnya memiliki subtansi yang sama. Sebelum dan
sesudah tanggal 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia, baik wujudnya, strukturnya,
sistemnya maupun kosakatanya tidak berbeda. Perbedaanya terletak pada
semnangat dan jiwa barunya (Muslich, 2010:6). Sebelum Sumpah Pemuda
semangat dan jiwa bahasa Indonesia (bahasa melayu) masih bersifat kedaerahan
atau jiwa Melayu. Akan tetapi setelah Sumpah Pemuda semangat dan jiwa bahasa
melayu sudah bersifat nasional atau telah berjiwa Indonesia. Pada saat itulah
bahasa Melayu yang berjiwa semnagat baru diganti namanya menjadi “Bahasa
Indonesia”.
Indikator fungsi bahasa yang pertama tampak pada (1) kemampuan
organisasional yang terdiri atas (i) kemampuan gramatikal, dialek/ragam,
fonologi/grafologi, morfologi, sintaksis, (ii) kemampuan tekstual (retorika dan
kohesi); (2) kemampuan prgmatik yang terdiri atas (i) kemampuan ilokusinal
(fungsi ideasional, fungsi manipulative, fungsi heuristic, fungsi imajinatif, dan (ii)
kemampuan sosiolinguistik (kepekaan pada dialek ragam, kepekaan pada
kewajaran, kepekaan pada register, dan kepekaan pada kiasan).
Indikator fungsi bahasa sebagai sarana integrasi dan adaptasi dapat dilihat dari
kedudukannya sebagai bahasa nasional dan sebgai bahasa negara. Indikator
kedudukannya sebagai bahasa nasional adalah (1) lambang nasional yang dapat
memberikan kebanggaan jati diri pemakainnya sebagai bangsa Indonesia, (2)
lambang identitas nasional yang dapat dikenali oleh masyarakat pemakai dan
masyarakat di luar pemakainya, (3) alat pemerstau penduduk antar pulau diseluruh
wilayah Indonesia, dan (4) alat komunikasi antar daerah dan antar budaya.
Indikator kedudukannya sebagai bahasa negara tampak pada bahasa Indonesia
berfungsi sebagai (1) bahasa dalam kegiatan resmi kenegaraan, (2) bahasa
pengantar di sekolah, (3) alat komunikasi pada tingkat nasional kepntingan
pembangunan dan pemerintahan, dan (4) alat penegembangan budaya, ilmu
pengetahuan, dan teknologi. Dengan bahasa orang dapat menyatakan hidup
bersama dalam suatu ikatan, sebagai contoh: integritas kerja dalam sebuah instusi,
integrasi karywan dalam sebuah departemen, integrasi keluarga, integrasi kerja
sama dalam bidang bisnis, dan integritas berbangsa dan bernegara.
Bahasa sebagai alat control sosial tampak pada kegiatan mengendalikan
komunikasi agar ornag-orang yang terlibah dalam komunikasi saling memahami.
Bahasa kontrol dapat diwujudkan, antara lain dalam bentuk aturan, anggaran
dasar, dan undang-undang. Bahasa sebagai sarana memahami diri dalam arti dalam
membangun karakter seseorang harus dapat memahami dan mengidentifikasi
kondisi dirinya terlebih dahulu, ia dapat menyebutan potensi dirinya, kelemahan
dirinya, bakatnya,kecerdasannya, kemampuan intelektualnya, kemauannya, dan
tempermennya. Pemahaman ini mencakup kemampuan fisik, emosi, intelegensi,
kecerdasan psikis dan karakter.
Bahasa sebagai alat pengungkap ekspresi diri. Hal ini dapat dilakuakan dari
yang paling sederhana sampai pada yang paling rumit. Ekspresi sederhana,
misalnya untuk menyatakan cinta, lapar, kecewa, dan sedih. Tingkat ekspresi yang
tinggi dapat diwujudkan dalam kemampuan membuat proposal dan mengerjakan
proyek-proyek besar, komplek, dan rumit. Bahasa sebagai alat memahami orang
lain dapat dilakukan sama dengan mengenali diri sendri. Misalnya tentang
intelektualnya, biologisnya, emosionalnya, dan kesenangannya.
Bahasa sebagai sarana mngamati alam sekitarnya dapat diwujudkan dalam
keberhasilan seseorang menggunakan kecerdasanya dan kemampuannya dalam
memanfaatkan situasi lingkungannya sehingga memperoleh berbagai kreativitas
baru yang dapat memeberikan bebrabagai keuntungan bagi dirinya dan
masyarakatnya. Bahasa berfungsi sebagai sarana berfikir logis dapat dilihat dari
kemampuan mengembangkan profesi, keahlian akademis, dan kemampuan
intelektual. Kemampuan berpikir logis memungkinkan seseorang dapat berfikir
induktif, sebab-akibat, atau kronologi sehingga dapat menyusun konsep atau
pemikiran secara jelas, utuh, runtut, dan kosneptual. Melalui proses berfikir logis
seseorang dapat menentukan tindakan tepat yang harus dilakukan.
Bahasa sebagai sarana membangun kecerdasan tampak pada kemampuan
memanfaatkan potensi, pengalaman, pengetahuan, dan situasi sehingga
menghasilkan kreativitas baru yang menguntungkan masyarakat sekitarnya.
Sehubungan dengan kecerdasan, Gardner (dalam HS, Widjono, 2007:19)
mengemukakan tujuh (7) jenis kecerdasan, yaitu (1) kecerdasan linguistic, yaitu
kecerdasan menggunakan bahasa, (2) kecerdasan logismatematis, yaitu kecerdasan
menggunakan-menggunakan angka-angka dan logika, seperti akuntansi,
programmer komputer, dan teknik, (3) kecerdasan spasial, yaitu berkaitan dengan
tata ruang, seperti arsitektur, fotografer, (4) Kecerdasan musikal, yaitu tekait
dengan pengolahan nada dan irama menjadi karya musik yang berfungsi untuk
berbagai kepentingan, misalnya terapi, membangkitkan semangat juang, dan
menghibur, (5) kecerdasan kinestik jasmani, yaitu terkait dengan kreativitas dan
prestasi keolahragaan, (6) kecerdasan antarpribadi, yaitu terkait dengan
kemampuannya mengendalikan daya pikir dan emosinya dalam mengakses
baerbagai informasi dan potensi yang bermanfaat bagi pengembangan dirinya.
Kecerdasan ini bias berkembang lagi, misalnya kecerdasan emosional,
kecerdasan spiritual, dan kecerdasan sosial. Tingkatkan kecerdasan yang dapat
dicapai oleh seseorang adalah adversity quotient, quiters, campers, (climbers dan
top climber). Berarti telah mencapai kesadaran bahwa kesulitan adalah bagian dari
hidup dan menghindari kesulitan berarti menghindari kehidupan.
Bahasa Indonesia berfungsi mengembangkan kecerdasan ganda dapat dilihat
pada kepemilikan beberapa kecerdasan sekaligus. Sebagai contoh seseorang
memiliki kecerdasan berbahasa dan memiliki ketekunan dalam mendalami bidang
studinya secara serius sehingga mendapatkan kecerdasan produktif. Seseorang
yang memiliki kecerdasan di bidang program komputer harus belajar bahasa
sehingga ia dapat membuat kamus elektronik.
Bahasa Indonesia berfungsi sebagai pembentuk karakter tampak pada
kemampuan berbahasa yang efektif, logis, sistimatis, lugas, jelas, dan mudah
dipahami merupakan refleksi kecerdasan. Kecerdasan berbahasa kemungkinan
seseorang membangun karakternya lebih baik. Dengan kecerdasan bahasa
seseorang membangun karakternya lebih baik. Dengan kecerdasan bahasa
seseorang dapat mengidentifikasi kemampuan diri dan potensi diri.
Bahasa berfungsi sebagai pengembang profesi tampak pada pengembangan
profesi yang diawali dengan pembelajaran yang dilanjutkan dengan
pengembangan diri (kecerdasan) yang tidak diperoleh selama proses belajar tetapi
berkomulasi dengan pengalaman barunya. Proses pendakian karir tidak akan
tercapai tanpa adanya komunikasi dan interaksi dengan mitra, pesaing, dan sumber
pengembangan ilmunya.
Bahasa berfungsi menciptakan kreativitas baru dapat dilihat dari kemampuan
menciptakan kreativitas baru berdasarkan potensi alam, potensi akademik, potensi
sosial, dan potensi ekonomi, dll. Untuk menciptakan kreativitas baru setiap
pembelajaran materi siswa harus mengkaji konsep dasar secara menyeluruh dan
tuntas, dilanjutkan dengan aplikasi konsep, studi kasus, baik yang positif maupun
negatif kemudian dilanjutkan dengan mimikirkan solusinya dan menciptakan
kreativitas bagi kasus itu.
Berdasarkan kedudukan dan fungsi yang dipaparkan sebelumnya, maka
bahasa memiliki berbagai fungsi khusus, sebagaimana yang dikemukakan oleh
para pakar. Para pakar yang dimaksud, pertama, Hs. Widjono (2007:15)
mengungkapkan tiga belas (13) fungsi bahasa (Indonesia), Ketiga belas fungsi
bahasa indonsia yang dimaksud, adalah (1) sarana komunikasi, (2) sarana integrasi
dan adaptasi, (3) sarana control sosial, (4) sarana memahami diri, (5) sarana
ekspresi diri, (6) sarana memahami orang lain, (7) sarana mengamati lingkungan
sekitar, (8) sarana berpikir logis, (9) sarana membangun kecerdasan, (10)
mengembangkan kecerdasan ganda, (11) membangun karakter, (12)
mengembangkan profesi, (13) menciptakan kreativitas baru.
Kedua, Halliday (dalam rahardi, 2013:6) mengemukakan tujuh fungsi bahasa,
yaitu (1) fungsi instrumental (alat), (2) fungsi regulasi (pengendali/pengontrol), (3)
fungsi representasional ( menggambarkan atau mempresentasikan sesuatu), (4)
fungsi interaksional (menjalin interaksi), (5) fungsi personal (mengepresikan
maksud-maksud pribadi atau individu), (6) fungsi heuristic (mempelajari
pengetahuan, mencari ilmu, mengembangkan teknologi, dan menyapaikan
rumusan-rumusan yang bersifat pertanyaan), (7) fungsi imajinatif (berkenan
dengan penciptaan yang imajinatif atau bertamasya ke awing-awang.
Ketiga, Wood yang dikutip oleh Tarigan (dalam Rahardi, 2013:7) membagi
fungsi bahasa atas tahapan usia manusia. Pada maunusia. Pada manusia yang
berusia 9-16 bulan, bahasa berfungsi (1) regulasi (2) instrumental, (3)
interaksional, (4) heuristik, (5) personal, dan (6) imajinatif. Pada manusia berusia
24 bulan dan seterusnya, bahasa berfungsi (1) pragmati dan (2) matetik. Pada
manusia berusia 24 bulan dan seterusnya, bahasa berfungsi (1) interpersonal dan
(2) ideasional. Levinson (dalam Rahardi, 2013:7), menyebutkan enam fungsi
bahasa, (1) referensial, (2) emotif, (3) konatif, (4) metalinguistic, (5) fatik, dan (6)
puitik.
Bertolak dari paparan sebelumnya, tampaknya tidak ada alas an bagi kita
bangsa Indonesia untuk mengabaikan dan memarinjinalkan pengunaan bahasa
Indonesia pada berbagai keperluaan di tanah air Indonesia. Di samping itu,
tampaknya pula tidak ada peluang bagi kita bangsa Indonesia untuk tidak memiliki
kepribadian dan karakter positif sesuai dengan UUD 1945, pancasila, dan sosial
budaya yang berlaku.