Anda di halaman 1dari 39

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PENYULIT

PADA MASA NIFAS

Makalah

Ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Maternitas

KELOMPOK IV :

 ASEP SAEPULOH
 AJENG INAYATUL
 GHINA TRI
 HANIA DIAS
 NOVI LATIFAH
 RANDI S
 RIKA NURHASANAH
 SINDI R

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUKABUMI

Kampus 1: Jl. Karamat No. 36 Tlp. (0266)210215 Kota Sukabumi

2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu.

Adapun makalah tentang “Asuhan Keperawatan dengan Penyulit pada Masa Nifas”
ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak,
sehingga dapat mempelancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa
menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu mohon
kritik dan sarannya tentang makalah ini.

Sukabumi, 27 Maret 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ i


DAFTAR ISI.......................................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................................................... 1
C. Tujuan ......................................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................................... 3
A. Definisi Masa Nifas 3

B. Askep pada Klien Postpartum Komplikasi Perdarahan ....................................................... 4


C. Askep pada Klien Postpartum Komplikasi Infeksi.............................................................. 14
D. Askep pada Klien Postpartum Komplikasi : Penyakit Blues.............................................. 22
BAB III PENUTUP ............................................................................................................................. 35
A. Kesimpulan ............................................................................................................................... 35
B. Saran ......................................................................................................................................... 35
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................... 36

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehamilan merupakan episode dramatis terhadap kondisi biologis, perubahan
psikologis dan adaptasi dari seorang wanita yang pernah mengalaminya. Sebagian besar
kaum wanita menganggap bahwa kehamilan adalah peristiwa kodrati yang harus dilalui
tetapi sebagian wanita mengganggap sebagai peristiwa khusus yang sangat menentukan
kehidupan selanjutnya. Perubahan fisik dan emisional yang kompleks, memerlukan
adaptasi terhadap penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik
antara keinginan prokreasi, kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma-norma sosial
cultural dan persoalan dalam kehamilan itu sendiri dapat merupakan pencetus berbagai
reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan hingga ke tingkat gangguan jiwa
yang berat.

Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh wanita dalam menghadapi aktivitas dan


peran barunya sebagai ibu pada minggu-minggu atau bulan-bulan pertama setelah
melahirkan, baik dari segi fisik maupun segi psikologis. Sebagian wanita berhasil
menyesuaikan diri dengan baik, tetapi sebagian lainnya tidak berhasil menyesuaikan diri
dan mengalami gangguan-gangguan psikologis dengan berbagai gejala atau sindroma
yang oleh para peneliti dan klinisi disebut post-partum blues, atau karena kurangnya
penanganan ibu post partum sangat rentan mengalami infeksi dan perdarahan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan pendarahan postpartum?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan infeksi postpartum?
3. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan blues?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan memahami lebih dalam lagi yang dimaksud dengan gangguan
psikologis pada ibu masa postpartum khusunya postpartum Blues, serta infeksi dan
perdarahan pada ibu postpartum.
2. Tujuan Khusus

1
a. Untuk mengetahui dan memahami definisi, epidemiologi, etiologi, patogenesis,
gambaran klinis, diagnosis, penatalaksanaan dan Asuhan keperawatan pada
komplikasi ibu postpartum.
b. Meningkatkan kemampuan dalam penulisan asuhan keperawatan.
c. Memenuhi salah satu tugas perkuliahan Keperawatan Maternitas.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Masa Nifas
Masa nifas dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu
berikutnya (JHPEIGO, 2002) .Masa nifas tidak kurang dari 10 hari dan tidak lebih dari 8 hari
setelah akhir persalinan, degan pemantauan bidan sesuai kebutuhan ibu dan bayi (Benner dan
Brown, 1999).
Masa nifas dimulai beberapa jam setelah lahirnya plasenta dan mencakup enam
minggu berikutnya (Pusdiknakes, 2003). Masa nifas (Puerperium) dimulai setelah kelahiran
plasenta dan berakhir ketika alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil
(Sarwono P, 2001). Masa nifas atau masa puerperium adalah masa setelah persalinan selesai
sampai 6 minggu ataun 42 hari. Selama masa nifas, organ reproduksi secara perlahan akan
mengalam perubahan seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan organ reproduksi ini disebut
involusi.
Asuhan selama periode nifas perlu mendapat perhatian karena sekitar 60% Angka Kematia
Ibu terjadi pada periode ini. Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya wanita yang
meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau
penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan,
melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama
kehamilan per 100.000 kelahiran hidup.

Tahapan Masa Nifas


Masa nifas dibagi menjadi tiga tahap yaitu :
1. puerperium dini
Merupakan masa pemulihan awal dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan-
jalan. Ibu yang melahirkan per vagina tanpa komplikasi dalam 6 jam pertama setelah kala IV
dianjurkan untuk mobilisasi segera.
2. puerperium intermedial
Suatu masa pemulihan dimana organ-organ reproduksi secara berangsur-angsur akan kembali
ke keadaan sebelum hamil. Masa ini berlangsung selama kurang lebih enam minggu atau 42
hari.
3. Remote puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dalam keadaan sempurna terutama
bila ibu selama hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi. Rentang waktu remote

3
puerperium berbeda untuk setiap ibu, tergantung dari berat ringannya komplikasi yang
dialami selama hamil atau persalinan

B. Askep pada Klien Postpartum Komplikasi Perdarahan


1. Defenisi
Pendarahan postpartum adalah hilangnya darah > 500 cc dari organ reproduksi setelah
kala III persalinan.
Perdarahan Post partum diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:
a. Early Postpartum/pendarahan postpartum dini (primer) : Pendarahan dalam 24
jam pertama PP
b. Late Postpartum/pendarahan postpartum lanjutan (sekunder) : pendarahan setelah
24 jam PP
2. Etiologi
Penyebab umum perdarahan postpartum adalah:
a. Atonia Uteri
b. Retensi Plasenta
c. Sisa Plasenta dan selaput ketuban
– Pelekatan yang abnormal
– Tidak ada kelainan perlekatan
d. Trauma jalan lahir
1) Episiotomi yang lebar
2) Lacerasi perineum, vagina, serviks, forniks dan rahim
3) Rupture uteri
e. Penyakit darah
Kelainan pembekuan darah misalnya afibrinogenemia /hipofibrinogenemia.
f. Hematoma
g. Inversi Uterus
h. Subinvolusi Uterus

Hal-hal yang dicurigai akan menimbulkan perdarahan pasca persalinan yaitu


Riwayat persalinan yang kurang baik, misalnya:

a. Riwayat perdarahan pada persalinan yang terdahulu.


b. Grande multipara (lebih dari empat anak).
c. Jarak kehamilan yang dekat (kurang dari dua tahun).

4
d. Bekas operasi Caesar.
e. Pernah abortus (keguguran) sebelumnya.
f. Hasil pemeriksaan waktu bersalin, misalnya:
– Persalinan/kala II yang terlalu cepat, sebagai contoh setelah ekstraksi vakum,
forsep.
– Uterus terlalu teregang, misalnya pada hidramnion, kehamilan kembar, anak
besar.
– Uterus yang kelelahan, persalinan lama.
– Uterus yang lembek akibat narkosa.
– Inversi uteri primer dan sekunder.
3. Manifestasi Klinis
Gejala Klinis umum yang terjadi adalah kehilangan darah dalam jumlah yang
banyak (> 500 ml), nadi lemah, pucat, lochea berwarna merah, haus, pusing, gelisah,
letih, dan dapat terjadi syok hipovolemik, tekanan darah rendah, ekstremitas dingin,
mual.
Gejala Klinis berdasarkan penyebab:
a. Atonia Uteri:
Gejala yang selalu ada: Uterus tidak berkontraksi dan lembek dan perdarahan
segera setelah anak lahir (perarahan postpartum primer). Gejala yang kadang-
kadang timbul: Syok (tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil,
ekstremitas dingin, gelisah, mual dan lain-lain)
b. Robekan jalan lahir
Gejala yang selalu ada: perdarahan segera, darah segar mengalir segera setelah
bayi lahir, kontraksi uteru baik, plasenta baik.Gejala yang kadang-kadang timbul:
pucat, lemah, menggigil.
c. Retensio plasenta
Gejala yang selalu ada: plasenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan segera,
kontraksi uterus baik gejala yang kadang-kadang timbul: tali pusat putus akibat
traksi berlebihan, inversi uteri akibat tarikan, perdarahan lanjutan
d. Tertinggalnya plasenta (sisa plasenta)
Gejala yang selalu ada : plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh
darah ) tidak lengkap dan perdarahan segera. Gejala yang kadang-kadang timbul:
Uterus berkontraksi baik tetapi tinggi fundus tidak berkurang.
e. Inversio uterus

5
Gejala yang selalu ada: uterus tidak teraba, lumen vagina terisi massa, tampak tali
pusat (jika plasenta belum lahir), perdarahan segera, dan nyeri sedikit atau berat.
Gejala yang kadang-kadang timbul: Syok neurogenik dan pucat
4. Patofisiologi
Dalam persalinan pembuluh darah yang ada di uterus melebar untuk
meningkatkan sirkulasi ke sana, atoni uteri dan subinvolusi uterus menyebabkan
kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh darah-pembuluh darah yang melebar
tadi tidak menutup sempurna sehingga perdarahan terjadi terus menerus. Trauma jalan
lahir seperti epiostomi yang lebar, laserasi perineum, dan rupture uteri juga
menyebabkan perdarahan karena terbukanya pembuluh darah, penyakit darah pada
ibu; misalnya afibrinogemia atau hipofibrinogemia karena tidak ada atau kurangnya
fibrin untuk membantu proses pembekuan darah juga merupakan penyebab dari
perdarahan postpartum. Perdarahan yang sulit dihentikan bisa mendorong pada
keadaan shock hemoragik.
Perbedaan perdarahan pasca persalinan karena atonia uteri dan robekan jalan lahir
adalah:
1) Atonia uteri (sebelum/sesudah plasenta lahir).
1) Kontraksi uterus lembek, lemah, dan membesar (fundus uteri masih tinggi.
2) Perdarahan terjadi beberapa menit setelah anak lahir.
3) Bila kontraksi lemah, setelah masase atau pemberian uterotonika, kontraksi
yang lemah tersebut menjadi kuat.
2) Robekan jalan lahir (robekan jaringan lunak).
1) Kontraksi uterus kuat, keras dan mengecil.
2) Perdarahan terjadi langsung setelah anak lahir. Perdarahan ini terus-menerus.
Penanganannya, ambil spekulum dan cari robekan.
3) Setelah dilakukan masase atau pemberian uterotonika langsung uterus
mengeras tapi perdarahan tidak berkurang.
Perdarahan Postpartum akibat Atonia Uteri

Perdarahan postpartum dapat terjadi karena terlepasnya sebagian plasenta dari


rahim dan sebagian lagi belum; karena perlukaan pada jalan lahir atau karena atonia
uteri. Atoni uteri merupakan sebab terpenting perdarahan postpartum.

Atonia uteri dapat terjadi karena proses persalinan yang lama; pembesaran
rahim yang berlebihan pada waktu hamil seperti pada hamil kembar atau janin besar;

6
persalinan yang sering (multiparitas) atau anestesi yang dalam. Atonia uteri juga dapat
terjadi bila ada usaha mengeluarkan plasenta dengan memijat dan mendorong rahim
ke bawah sementara plasenta belum lepas dari rahim.

Perdarahan yang banyak dalam waktu pendek dapat segera diketahui. Tapi
bila perdarahan sedikit dalam waktu lama tanpa disadari penderita telah kehilangan
banyak darah sebelum tampak pucat dan gejala lainnya. Pada perdarahan karena
atonia uteri, rahim membesar dan lembek.

Terapi terbaik adalah pencegahan. Anemia pada kehamilan harus diobati


karena perdarahan yang normal pun dapat membahayakan seorang ibu yang telah
mengalami anemia. Bila sebelumnya pernah mengalami perdarahan postpartum,
persalinan berikutnya harus di rumah sakit. Pada persalinan yang lama diupayakan
agar jangan sampai terlalu lelah. Rahim jangan dipijat dan didorong ke bawah
sebelum plasenta lepas dari dinding rahim.

Pada perdarahan yang timbul setelah janin lahir dilakukan upaya penghentian
perdarahan secepat mungkin dan mengangatasi akibat perdarahan. Pada perdarahan
yang disebabkan atonia uteri dilakukan massage rahim dan suntikan ergometrin ke
dalam pembuluh balik. Bila tidak memberi hasil yang diharapkan dalam waktu
singkat, dilakukan kompresi bimanual pada rahim, bila perlu dilakukan tamponade
utero vaginal, yaitu dimasukkan tampon kasa kedalam rahim sampai rongga rahim
terisi penuh. Pada perdarahan postpartum ada kemungkinann dilakukan pengikatan
pembuluh nadi yang mensuplai darah ke rahim atau pengangkatan rahim.

Adapun Faktor predisposisi terjadinya atonia uteri : Umur, Paritas, Partus lama
dan partus terlantar, Obstetri operatif dan narkosa, Uterus terlalu regang dan besar
misalnya pada gemelli, hidramnion atau janin besar, Kelainan pada uterus seperti
mioma uterii, uterus couvelair pada solusio plasenta, Faktor sosio ekonomi yaitu
malnutrisi.

Perdarahan Pospartum akibat Retensio Plasenta

Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir selama 1 jam
setelah bayi lahir. Penyebab retensio plasenta :

1) Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena melekat dan tumbuh lebih
dalam. Menurut tingkat perlekatannya :

7
a) Plasenta adhesiva : plasenta yang melekat pada desidua endometrium lebih
dalam.
b) Plasenta inkreta : vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua
endometrium sampai ke miometrium.
c) Plasenta akreta : vili khorialis tumbuh menembus miometrium sampai ke
serosa.
d) Plasenta perkreta : vili khorialis tumbuh menembus serosa atau peritoneum
dinding rahim.
2) Plasenta sudah terlepas dari dinding rahim namun belum keluar karena atoni uteri
atau adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim (akibat kesalahan
penanganan kala III) yang akan menghalangi plasenta keluar (plasenta
inkarserata). Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan
tetapi bila sebagian plasenta sudah lepas maka akan terjadi perdarahan. Ini
merupakan indikasi untuk segera mengeluarkannya. Plasenta mungkin pula tidak
keluar karena kandung kemih atau rektum penuh. Oleh karena itu keduanya harus
dikosongkan.
Perdarahan Postpartum akibat Subinvolusi

Subinvolusi adalah kegagalan uterus untuk mengikuti pola normal involusi,


dan keadaan ini merupakan salah satu dari penyebab terumum perdarahan
pascapartum. Biasanya tanda dan gejala subinvolusi tidak tampak, sampai kira-kira 4
hingga 6 minggu pascapartum. Fundus uteri letaknya tetap tinggi di dalam abdomen/
pelvis dari yang diperkirakan. Keluaran lokhea seringkali gagal berubah dari bentuk
rubra ke bentuk serosa, lalu ke bentuk lokheaa alba. Lokhea bisa tetap dalam bentuk
rubra, atau kembali ke bentuk rubra dalam beberapa hari pacapartum. Lokhea yang
tetap bertahan dalam bentuk rubra selama lebih dari 2 minggu pascapatum sangatlah
perlu dicurigai terjadi kasus subinvolusi. Jumlah lokhea bisa lebih banyak dari pada
yang diperkirakan. Leukore, sakit punggung, dan lokhea berbau menyengat, bisa
terjadi jika ada infeksi. Ibu bisa juga memiliki riwayat perdarahan yang tidak teratur,
atau perdarahan yang berlebihan setelah kelahiran.

Perdarahan Postpartum akibat Inversio Uteri

Inversio Uteri adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau
seluruhnya masuk ke dalam kavum uteri. Uterus dikatakan mengalami inverse jika

8
bagian dalam menjadi di luar saat melahirkan plasenta. Reposisi sebaiknya segera
dilakukan dengan berjalannya waktu, lingkaran konstriksi sekitar uterus yang
terinversi akan mengecil dan uterus akan terisi darah.

Pembagian inversio uteri :

1) Inversio uteri ringan : Fundus uteri terbalik menonjol ke dalam kavum uteri
namun belum keluar dari ruang rongga rahim.
2) Inversio uteri sedang : Terbalik dan sudah masuk ke dalam vagina.
3) Inversio uteri berat : Uterus dan vagina semuanya terbalik dan sebagian sudah
keluar vagina.

Penyebab inversio uteri :

1) Spontan : grande multipara, atoni uteri, kelemahan alat kandungan, tekanan intra
abdominal yang tinggi (mengejan dan batuk).
2) Tindakan : cara Crade yang berlebihan, tarikan tali pusat, manual plasenta yang
dipaksakan, perlekatan plasenta pada dinding rahim.

Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya inversio uteri :

1) Uterus yang lembek, lemah, tipis dindingnya.


2) Tarikan tali pusat yang berlebihan.

Gejala klinis inversio uteri :

1) Dijumpai pada kala III atau post partum dengan gejala nyeri yang hebat,
perdarahan yang banyak sampai syok. Apalagbila plasenta masih melekat dan
sebagian sudah ada yang terlepas dan dapat terjadi strangulasi dan nekrosis.
2) Pemeriksaan dalam :
 Bila masih inkomplit maka pada daerah simfisis uterus teraba fundus uteri
cekung ke dalam.
 Bila komplit, di atas simfisis uterus teraba kosong dan dalam vagina teraba
tumor lunak.
 Kavum uteri sudah tidak ada (terbalik).
Perdarahan Postpartum Akibat Hematoma

Hematoma terjadi karena kompresi yang kuat disepanjang traktus genitalia,


dan tampak sebagai warna ungu pada mukosa vagina atau perineum yang ekimotik.

9
Hematoma yang kecil diatasi dengan es, analgesic dan pemantauan yang terus
menerus. Biasanya hematoma ini dapat diserap kembali secara alami.

Perdarahan Postpartum akibat Laserasi /Robekan Jalan Lahir

Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dari perdarahan


postpartum. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perdarahan
postpartum dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robelan
servik atau vagina.

1) Robekan Serviks
Persalinan Selalu mengakibatkan robekan serviks sehingga servik seorang
multipara berbeda dari yang belum pernah melahirkan pervaginam. Robekan
servik yang luas menimbulkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawah
uterus. Apabila terjadi perdarahan yang tidak berhenti, meskipun plasenta sudah
lahir lengkap dan uterus sudah berkontraksi dengan baik, perlu dipikirkan
perlukaan jalan lahir, khususnya robekan servik uteri
2) Robekan Vagina
Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum tidak sering
dijumpai. Mungkin ditemukan setelah persalinan biasa, tetapi lebih sering terjadi
sebagai akibat ekstraksi dengan cunam, terlebih apabila kepala janin harus diputar.
Robekan terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan
speculum.
3) Robekan Perineum
Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang
juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi digaris
tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus
pubis lebih kecil daripada biasa, kepala janin melewati pintu panggul bawah
dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkum ferensia suboksipito bregmatika.
Laserasi pada traktus genitalia sebaiknya dicurigai, ketika terjadi perdarahan yang
berlangsung lama yang menyertai kontraksi uterus yang kuat.
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Golongan darah : menentukan Rh, ABO dan percocokan silang
b. Jumlah darah lengkap : menunjukkan penurunan Hb/Ht dan peningkatan jumlah
sel darah putuih (SDP). (Hb saat tidak hamil:12-16gr/dl, saat hamil: 10-14gr/dl. Ht

10
saat tidak hamil:37%-47%, saat hamil:32%-42%. Total SDP saat tidak hamil
4.500-10.000/mm3. saat hamil 5.000-15.000)
c. Kultur uterus dan vagina : mengesampingkan infeksi pasca partum
d. Urinalisis : memastikan kerusakan kandung kemih
e. Profil koagulasi : peningkatan degradasi, kadar produk fibrin/produk split fibrin
(FDP/FSP), penurunan kadar fibrinogen : masa tromboplastin partial diaktivasi,
masa tromboplastin partial (APT/PTT), masa protrombin memanjang pada KID
Sonografi : menentukan adanya jaringan plasenta yang tertahan
6. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
o Identitas klien
Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat, medical
record dan lain – lain
o Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat penyakit jantung, hipertensi, penyakit ginjal kronik, hemofilia,
riwayat pre eklampsia, trauma jalan lahir, kegagalan kompresi pembuluh
darah, tempat implantasi plasenta, retensi sisa plasenta.
2) Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan yang dirasakan saat ini yaitu: kehilangan darah dalam jumlah
banyak (>500ml), Nadi lemah, pucat, lokea berwarna merah, haus, pusing,
gelisah, letih, tekanan darah rendah, ekstremitas dingin, dan mual.
3) Riwayat kesehatan keluarga
Adanya riwayat keluarga yang pernah atau sedang menderita hipertensi,
penyakit jantung, dan pre eklampsia, penyakit keturunan hemopilia dan
penyakit menular.
o Riwayat obstetric
1) Riwayat menstruasi meliputi: Menarche, lamanya siklus, banyaknya,
baunya , keluhan waktu haid, HPHT
2) Riwayat perkawinan meliputi : Usia kawin, kawin yang keberapa, Usia
mulai hamil
3) Riwayat hamil, persalinan dan nifas yang lalu
 Riwayat hamil meliputi: Waktu hamil muda, hamil tua, apakah ada
abortus, retensi plasenta

11
 Riwayat persalinan meliputi: Tua kehamilan, cara persalinan,
penolong, tempat bersalin, apakah ada kesulitan dalam persalinan anak
lahir atau mati, berat badan anak waktu lahir, panjang waktu lahir
 Riwayat nifas meliputi: Keadaan lochea, apakah ada pendarahan, ASI
cukup atau tidak dan kondisi ibu saat nifas, tinggi fundus uteri dan
kontraksi
o Riwayat Kehamilan sekarang
1) Hamil muda, keluhan selama hamil muda
2) Hamil tua, keluhan selama hamil tua, peningkatan berat badan, tinggi
badan, suhu, nadi, pernafasan, peningkatan tekanan darah, keadaan gizi
akibat mual, keluhan lain
3) Riwayat antenatal care meliputi : Dimana tempat pelayanan, beberapa kali,
perawatan serta pengobatannya yang didapat
o Pola aktifitas sehari-hari
1) Makan dan minum, meliputi komposisi makanan, frekuensi, baik sebelum
dirawat maupun selama dirawat. Adapun makan dan minum pada masa
nifas harus bermutu dan bergizi, cukup kalori, makanan yang mengandung
protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah – buahan.
2) Eliminasi, meliputi pola dan defekasi, jumlah warna, konsistensi. Adanya
perubahan pola miksi dan defeksi. BAB harus ada 3-4 hari post partum
sedangkan miksi hendaklah secepatnya dilakukan sendiri (Rustam
Mukthar, 1995 )
3) Istirahat atau tidur meliputi gangguan pola tidur karena perubahan peran
dan melaporkan kelelahan yang berlebihan.
4) Personal hygiene meliputi : Pola atau frekuensi mandi, menggosok gigi,
keramas, baik sebelum dan selama dirawat serta perawatan mengganti
balutan atau duk.
o Pemeriksaan Fisik
1) Pemeriksaan tanda-tanda vital
2) Suhu badan
Suhu biasanya meningkat sampai 38oC dianggap normal. Setelah satu hari
suhu akan kembali normal (36oC – 37oC), terjadi penurunan akibat
hypovolemia
3) Nadi

12
Denyut nadi akan meningkat cepat karena nyeri, biasanya terjadi
hipovolemia yang semakin berat.
4) Tekanan darah
Tekanan darah biasanya stabil, memperingan hypovolemia
5) Pernafasan
Bila suhu dan nadi tidak normal, pernafasan juga menjadi tidak normal.
6) Pemeriksaan Khusus
Observasi setiap 8 jam untuk mendeteksi adanya tanda-tanda komplikasi
dengan mengevaluasi sistem dalam tubuh. Pengkajian ini meliputi :
 Nyeri/ketidaknyamanan
Nyeri tekan uterus (fragmen-fragmen plasenta tertahan)
Ketidaknyamanan vagina/pelvis, sakit punggung (hematoma)
 Sistem vaskuler
 Perdarahan di observasi tiap 2 jam selama 8 jam 1, kemudian tiap 8
jam berikutnya
 Tensi diawasi tiap 8 jam
 Apakah ada tanda-tanda trombosis, kaki sakit, bengkak dan merah
 Haemorroid diobservasi tiap 8 jam terhadap besar dan kekenyalan
 Riwayat anemia kronis, konjungtiva anemis/sub anemis, defek
koagulasi kongenital, idiopatik trombositopeni purpura.
 Sistem Reproduksi
 Uterus diobservasi tiap 30 menit selama empat hari post partum,
kemudian tiap 8 jam selama 3 hari meliputi tinggi fundus uteri dan
posisinya serta konsistensinya
 Lochea diobservasi setiap 8 jam selama 3 hari terhadap warna,
banyak dan bau
 Perineum diobservasi tiap 8 jam untuk melihat tanda-tanda infeksi,
luka jahitan dan apakah ada jahitannya yang lepas
 Vulva dilihat apakah ada edema atau tidak
 Payudara dilihat kondisi areola, konsistensi dan kolostrum
 Tinggi fundus atau badan terus gagal kembali pada ukuran dan
fungsi sebelum kehamilan (sub involusi)
 Traktus urinarius : Diobservasi tiap 2 jam selama 2 hari pertama.
Meliputi miksi lancar atau tidak, spontan dan lain-lain

13
 Traktur gastro intestinal. Observasi terhadap nafsu makan dan
obstipasi
 Integritas Ego : Mungkin cemas, ketakutan dan khawatir
7. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskuler yang
berlebihan
8. Rencana Keperawatan pada Pasien Perdarahan Postpartum
a. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan vaskuler berlebihan

Tujuan : setelah dilakukan tindakan selama 1x24 jam volume cairan adekuat

Kriteria hasil:

– TTV stabil
– Pengisian kapiler cepat
– Haluaran urine adekuat

Intervensi:

1) Tinjau ulang catatan kehamilan dan persalinan, perhatikan faktor-faktor


penyebab atau memperberat perdarahan seperti laserasi, retensio plasenta,
sepsis, abrupsio plasenta, emboli cairan amnion.
2) Kaji dan catat jumlah, tipe dan sisi perdarahan ; timbang dan hitung pembalut ;
simpan bekuan darah, dan jaringan untuk dievaluasi oleh dokter.
3) Kaji lokasi uterus dan derajat kontraktilitas uterus. Dengan perlahan masase
penonjolan uterus dengan satu tangan sambil menempatakan tangan kedua
tepat diatas simfisis pubis
4) Perhatikan hipotensi / takikardia, perlambatan pengisian kapiler atau sianosis
dasar, kuku, membran mukosa dan bibir.
5) Pantau parameter hemodinamik, seperti tekanan vena sentral atau tekanan bagi
arteri pulmonal, bila ada
6) Pantau masukan aturan puasa saat menentukan status/kebutuhan klien
7) Berikan lingkungan yang tenang dan dukungan psikologis

C. Askep pada Klien Postpartum Komplikasi Infeksi


1. Definisi

14
Infeksi adalah berhubungan dengan berkembang - biaknya mikroorganisme
dalam tubuh manusia yang disertai dengan reaksi tubuh terhadapnya (Zulkarnain
Iskandar, 1998).
Infeksi pascapartum (sepsis puerperal atau demam setelah melahirkan) ialah
infeksi klinis pada saluran genital yang terjadi dalam 28 hari setelah abortus atau
persalinan (Bobak, 2004).
2. Etiologi
Infeksi ini terjadi setelah persalinan, kuman masuk dalam tubuh pada saat
berlangsungnya proses persalinan. Diantaranya, saat ketuban pecah sebelum maupun
saat persalinan berlangsung sehingga menjadi jembatan masuknya kuman dalam
tubuh lewat rahim. Jalan masuk lainnya adalah dari penolong persalinan sendiri,
seperti alat-alat yang tidak steril digunakan pada saat proses persalinan.
Infeksi bisa timbul akibat bakteri yang sering kali ditemukan didalam vagina
(endogenus) atau akibat pemaparan pada agen pathogen dari luar vagina (eksogenus)
(Bobak, 2004).

Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi antara lain adalah :

a. Streptococcus haemoliticus anaerobic


Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat. Infeksi ini
biasanya eksogen (ditularkan dari penderita lain, alat-alat yang tidak suci hama,
tangan penolong, infeksi tenggorokan orang lain).
b. Staphylococcus aureus
Masuknya secara eksogen, infeksinya sedang, banyak ditemukan sebagai
penyebab infeksi di rumah sakit dan dalam tenggorokan orang-orang yang
nampaknya sehat. Kuman ini biasanya menyebabkan infeksi terbatas, walaupun
kadang-kadang menjadi sebab infeksi umum.
c. Escherichia Coli
Sering berasal dari kandung kemih dan rektum, menyebabkan infeksi
terbatas pada perineum, vulva, dan endometriurn. Kuman ini merupakan sebab
penting dari infeksi traktus urinarius
d. Clostridium Welchii
Kuman ini bersifat anaerob, jarang ditemukan akan tetapi sangat
berbahaya. Infeksi ini lebih sering terjadi pada abortus kriminalis dan partus yang
ditolong oleh dukun dari luar rumah sakit.

15
3. Faktor predisposisi
Beberapa faktor dalam kehamilan atau persalinan yang dapat menyebabkan
infeksi pascapersalinan antara lain :
a. Anemia
Kekurangan sel-sel darah merah akan meningkatkan kemungkinan infeksi. Hal ini
juga terjadi pada ibu yang kurang nutrisi sehingga respon sel darah putih kurang
untuk menghambat masuknya bakteri.
b. Ketuban pecah dini
Keluarnya cairan ketuban sebelum waktunya persalinan menjadi jembatan
masuknya kuman keorgan genital.
c. Trauma
Pembedahan, perlukaan atau robekan menjadi tempat masuknya kuman pathogen,
seperti operasi.
d. Kontaminasi bakteri
Bakteri yang sudah ada dalam vagina atau servik dapat terbawa ke rongga rahim.
Selain itu, pemasangan alat selama proses pemeriksaan vagina atau saat dilakukan
tindakan persalinan dapat menjadi salah satu jalan masuk bakteri. Tentunya, jika
peralatan tersebut tidak terjamin sterilisasinya.
e. Kehilangan darah
Trauma yang menimbulkan perdarahan dan tindakan manipulasi yang berkaitan
dengan pengendalian pendarahan bersama-sama perbaikan jaringan luka,
merupakan factor yang dapat menjadi jalannya masuk kuman.
4. Manifestasi klinis
Rubor (kemerahan), kalor (demam setempat) akibat vasodilatasi dan tumor
(benngkak) karena eksudasi. Ujung syaraf merasa akan terangsang oleh peradangan
sehingga terdapat rasa nyeri (dolor). Nyeri dan pembengkan akan mengakibatkan
gangguan faal, dan reaksi umum antara lain berupa sakit kepala, demam dan
peningkatan denyut jantung (Sjamsuhidajat, R. 1997).
5. Patofisiologi
Reaksi tubuh dapat berupa reaksi lokal dan dapat pula terjadi reaksi umum.
Pada infeksi dengan reaksi umum akan melibatkan syaraf dan metabolik pada saat itu
terjadi reaksi ringan limporetikularis diseluruh tubuh, berupa proliferasi sel fagosit
dan sel pembuat antibodi (limfosit B). Kemudian reaksi lokal yang disebut inflamasi
akut, reaksi ini terus berlangsung selama menjadi proses pengrusakan jaringan oleh

16
trauma. Bila penyebab pengrusakan jaringan bisa diberantas, maka sisa jaringan yang
rusak disebut debris akan difagositosis dan dibuang oleh tubuh sampai terjadi resolusi
dan kesembuhan. Bila trauma berlebihan, reksi sel fagosit kadang berlebihan sehingga
debris yang berlebihan terkumpul dalam suatu rongga membentuk abses atau
bekumpul dijaringan tubuh yang lain membentuk flegman (peradangan yang luas
dijaringan ikat). (Sjamsuhidajat, R, 1997 ).
6. Jenis-Jenis Infeksi Post Partum
a. Infeksi uterus
1) Endometritis
Endometritis adalah keradangan pada dinding uterus yang umumnya
disebabkan oleh partus. Dengan kata lain endometritis didefinisikan sebagai
inflamasi dari endometrium.
Endometritis adalah infeksi pada endometrium (lapisan dalam dari
rahim). infeksi ini dapat terjadi sebagai kelanjutan infeksi pada serviks atau
infeksi tersendiri dan terdapat benda asing dalam rahim (erna setiyaningrum,
2013.
Tanda dan gejalanya akan berbeda bergantung dari asal infeksi, sedikit
demam, nyeri yang samar-samar pada perut bagian bawah dan kadang-kadang
keluar dari vagina berbau tidak enak yang khas menunjukkan adanya infeksi
pada endometrium. Pada infeksi karena luka biasanya terdapat nyeri dan nyeri
tekan pada daerah luka, kadang berbau busuk, pengeluaran kental, nyeri pada
perut atau sisi tubuh, gangguan buang air kecil. Kadang-kadang tidak terdapat
tanda yang jelas kecuali suhu tunbuh yang meninggi. Maka dari itu setiap
perubahan suhu tubuh pasca lahir harus segera dilakukan pemeriksaan.
Terjadinya infeksi endometrium pada saat persalinan, dimana bekas
implantasi plasenta masih terbuka, terutama pada persalinan terlantar dan
persalinan dengan tindakan pada saat terjadi keguguran, saat pemasangan alat
rahim yang kurang legeartis (Erna Setyaningrum, 2013)
1) Miometritis (infeksi otot rahim)
Miometritis adalah radang miometrium. Sedangkan miometrium
adalah tunika muskularis uterus. Gejalanya berupa demam, uterus nyeri tekan,
perdarahan vaginal dan nyeri perut bawah, lokhea berbau, purulen.
Metritis akut biasanya terdapat pada abortus septik atau infeksi
postpartum. Penyakit ini tidak brerdiri sendiri akan tetapi merupakan bagian

17
dari infeksi yang lebih luas yaitu merupakan lanjutan dari endometritis.
Kerokan pada wanita dengan endometrium yang meradang dapat
menimbulkan metritis akut. Pada penyakit ini miometrium menunjukkan
reaksi radang berupa pembengkakan dan infiltarsi sel-sel radang. Perluasan
dapat terjadi lewat jalan limfe atau lewat tromboflebitis dan kadang-kadang
dapat terjadi abses.
Metritis kronik adalah diagnosa yang dahulu banyak dibuat atas dasar
menometroragia dengan uterus lebih besar dari bisa, sakit pnggang, dan
leukore. Akan tetapi pembesaran uterus pada multipara umumnya disebabkan
oleh pemanbahan jaringan ikat akibat kehamilan. Terapi dapat berupa
antibiotik spektrum luas seperti amfisilin 2gr IV per 6 jam, gentamisin 5 mg
kg/BB, metronidasol mg IV per 8 jam, profilaksi anti tetanus, efakuasi hasil
konsepsi.
2) Dari robekan serviks
3) Perforasi uterus oleh alat-alat ( sonde, kuret, IUD )
b. Syok bacteremia
Infeksi kritis, terutama yuang disebabkan oleh bakteri yang melepaskan
endotoksin, bisa mempresipitasi syok bakteremia (septic). Ibu hamil, terutama
mereka yang menderita diabetes mellitus atau ibu yang memakai obat
imunosupresan, berada pada tingkat resiko tinggi, demikian juga mereka yang
menderita endometritis selama periode pascapartum.
Demam yang tinggi dan mengigil adalah bukti patofisiologi sepsis yang
serius. Ibu yang cemas dapat bersikap apatis. Suhu tubuh sering kali sedikit turun
menjadi subnormal. Kulit menjadi dingin dan lembab. Warna kulit menjadi pucat
dan denyut nadi menjadi cepat. Hipotensi berat dan sianosis peripheral bisa
terjadi. Begitu juga oliguria.
c. Peritonitis
Peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya endometritis, tetapi dapat
juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvika.
Selanjutnya, ada kemungkinan bahwa abses pada sellulitis pelvika mengeluarkan
nanahnya ke rongga peritoneum dan menyebabkan peritonitis.
Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat patogen dan
merupakan penyakit berat. Suhu meningkat menjadi tinggi, nadi cepat dan kecil,
perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire. Muka penderita, yang mula-

18
mula kemerah-merahan, menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingin; terdapat
apa yang dinamakan facies hippocratica. Mortalitas peritonitis umum tinggi.
d. Infeksi saluran kemih
Infeksi saluran kemih (ISK) terjadi pada sekitar 10% wanita hamil,
kebanyakan terjadi pada masa prenatal. Mereka yang sebelumnya mengalami ISK
memiliki kecenderungan mengidap ISK lagi sewaktu hamil. Servisitis, vaginitis,
obstruksi ureter yang flaksid, refluks vesikoureteral, dan trauma lahir
mempredisposisi wanita hamil untuk menderita ISK, biasanya dari escherichia
coli. Wanita dengan PMS kronis, trutama gonore dan klamidia, juga memiliki
resiko.
Biakan dan tes sensitivitas urin harus dilakukan di awal kehamilan, lebih
disukai pada kunjungan pertama, specimen diambil dari urin yang diperoleh
dengan cara bersih. Jika didiagnosis ada infeksi, pengobatan dengan antibiotic
yang sesuai selama dua sampai tiga minggu, disertai peningkatan asupan air dan
obat antispasmodic traktus urinarius.
7. Komplikasi
1) Peritonitis (peradangan selaput rongga perut)
2) Tromboflebitis pelvika (bekuan darah di dalam vena panggul), dengan resiko
terjadinya emboli pulmoner.
3) Syok toksik akibat tingginya kadar racun yang dihasilkan oleh bakteri di dalam
darah. Syok toksik bisa menyebabkan kerusakan ginjal yang berat dan bahkan
kematian.
8. Pencegahan dan Penanganan
1) Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi seperti anemia, malnutrisi
dan kelemahan serta mengobati penyakit-penyakit yang diderita ibu.
2) Pemeriksaan dalam jangan dilakukan kalau tidak ada indikasi yang perlu.
3) Koitus pada hamil tua hendaknya dihindari atau dikurangi dan dilakukan hati-
hati karena dapat menyebabkan pecahnya ketuban. Kalau ini terjadi infeksi akan
mudah masuk dalam jalan lahir. Hindari partus terlalu lama dan ketuban pecah
lama/menjaga supaya persalinan tidak berlarut-larut.
4) Menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin.
5) Perlukaan-perlukaan jalan lahir karena tindakan baik pervaginam maupun
perabdominam dibersihkan, dijahit sebaik-baiknya dan menjaga sterilitas.

19
6) Mencegah terjadinya perdarahan banyak, bila terjadi darah yang hilang harus
segera diganti dengan tranfusi darah.
7) Semua petugas dalam kamar bersalin harus menutup hidung dan mulut dengan
masker; yang menderita infeksi pernafasan tidak diperbolehkan masuk ke kamar
bersalin.
8) Alat-alat dan kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus suci hama.
9) Hindari pemeriksaan dalam berulang-ulang, lakukan bila ada indikasi dengan
sterilisasi yang baik, apalagi bila ketuban telah pecah.
9. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1) Data demografi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, agama, suku bangsa,
alamat.
2) Keluhan utama : adanya nyeri perubahan fungsi seksual, luka.
3) Riwayat penyakit dahulu : apakah klien dan keluarga pernah menderita
penyakit yang sama.
4) Riwayat penyakit sekarang : klien mengalami infeksi alat kelamin.
5) Riwayat seksual, termasuk riwayat PMS sebelumnya, jumlah pasangan
seksual pada saat ini, frekuensi aktifitas seksual secara umum.
6) Gaya hidup, penggunaan obat intravena atau pasangan yang menggunakan
obat intravena; merokok, alcohol, gizi buruk, tingkat stress yang tinggi.
7) Pemeriksaan fisik bagian luar,
Inspeksi :
 Rambut pubis, distribusi, bandingkan sesuai usia perkembangan klien
 Kulit dan area pubis, adakah lesi eritema, visura, lekoplakia, dan eksoria.
 Labia mayora, minora, klitoris, meatus uretra terhadap pembengkakan
ulkus, keluaran, dan nodul.
 Pemeriksaan bagian dalam
 Serviks : ukuran, laserasi, erosi, nodula, massa, keluaran, dan warnanya

Palpasi :

 Raba dinding vagina : nyeri tekan dan nodula


 Serviks : posisi, ukuran, konsistensi, regularitas, mobilitas, dan nyeri tekan
 Uterus : ukuran, bentuk, konsistensi, dan mobilitas.

20
 Ovarium : ukuran, mobilitas, bentuk, konsistensi, dan nyeri tekan.
b. Diagnosa keperawatan :
1) Gangguan rasa nyaman nyeri b.d proses inflamasi
2) Peningkatan suhu tubuh b.d peningkatan tingkat metabolisme
3) Ansietas b.d perubahan status kesehatan
c. Intervensi
1) Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d proses inflamasi
Tujuan : Setelah dillukakan tindakan selama 1x 24 jam di harapkan Nyeri
klien berkurang dengan kriteria hasil ;
 Menunjukkan ekspresi wajah rilek
 Merasa nyaman

Intervensi keperawatan

a) Kaji skala/intensitas nyeri


b) Anjurkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi, distraksi, relaksasi,
kompres, Berikan instruksi bila perlu.
R/ relaksasi dapat membantu menurunkan tegangan dan rasa takut, yang
memperberat nyeri.
c) Kolaborasi dalam pemberian analgetik
R/ Metode IV sring digunakan pada awal untuk memaksimalkan efek obat
d) Pertahankan posisi semifowler sesuai indikasi a. Untuk mengetahui
tingkatan nyeri
R/ Memudahkan drainase atau luka karena gravitasi dan membantu
meminimalkan nyeri karena gerakan
2) Hipertermi b.d peningkatan tingkat metabolisme
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan selama 1x 24 jam diharapakan Suhu
tubuh klien dalam batas normal dengan kriteria hasil ;
 Tidak mengalami komplikasi
 Suhu tubuh normal 36-37Oc

Intervensi Keperawatan

a) Kaji TTV Suhu,TD,RR.nadi


b) Pantau suhu klien (derajat dan pola), perhatikan menggigil atau
diaphoresis

21
R/ Suhu 38,90- 41, 10C menunjukkan proses penyakit infeksius akut. Pola
demam dapat membentu dalam diagnosis, misalnya kurva demam lanjut
berakhir lebih dari 24jam menunjukkan pneumonia pneumokokal.
c) Pantau suhu lingkungan, batasi/ tambahkan linen tempat tidur sesuai
indikasi
R/ Suhu ruangan atau jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan
suhu mendekati normal
d) Kolaborasi dalam pemberian antipiretik (aspirin, asetaminofen)
R/ Untuk mempermudah dalam pembirian tindakan
3) Ansietas b.d perubahan status kesehatan
Tujuan : setelah dilkukan tindakan selama 1x 24 jam klien tampak rileks
dengan kriteria hasil ;
 Kesadaran terhadap perasaan, dam cara yang sehat untuk menghadapi
masalah
 Kecamasan klin berkurang
 Klien tidak tampak sedih
 Klien tampak rileks

Intervensi Keperawatan

a) Evaluasi tingkat ansietas, catat respon verbal, dan nonverbal klien. Dorong
ekspresi bebas akan emosi.
R/ Ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat, meningkatkan perasaan
sakit, penting pada prosedur diagnostic dan kemungkinan pembedahan
b) Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan
R/ Mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan ansietas.

D. Askep pada Klien Postpartum Komplikasi : Penyakit Blues


1. Definisi
Postpartum blues adalah kesedihan atau kemurungan setelah melahirkan,
biasanya hanya muncul sementara waktu yakni sekitar dua hari hingga dua minggu
setelah kelahiran bayi. Definisi lain dari postpartum blues adalah keadaan ekstrem
yang paling ringan yaitu inu mengalami “kesedihan sementara” yang berlangsung
sangat cepat pada masa awal postpartum. (Erna Setiyaningrum, 2013)
2. Etiologi

22
Etiologi atau penyebab pasti terjadinya postpartum blues sampai saat ini
belum diketahui. Namun, banyak faktor yang diduga berperan terhadap terjadinya
postpartum blues, antara lain:
1) Perubahan hormonal
2) Faktor usia (hamil usia muda, primipara, belum matangnya reproduksi, dll)
3) Ketidaksiapan ibu meghadapi persalinan
4) Stress
5) Kelelahan pasca melahirkan, dan sakitnya akibat operasi
6) Takut kehilangan bayi
7) Ibu yang pernah mengalami gangguan kecemasaan
8) Kondisi bayi yang cacat
9) Ketergantungan pada alcohol atau narkoba
10) Kurangnya dukungan yang diberikan oleh anggota keluarga, suami, dan teman
11) Kurangnya komunikasi, perhatian, dan kasih sayang dari suami dan keluarga
12) Mempunyai permasalahan keuangan menyangkut biaya, dan perawatan bayi
13) Kurangnya kasih sayang di masa kanak-kanak
3. Manifestasi Klinis
a. Cemas tanpa sebab
b. Menangis tanpa sebab
c. Tidak sabar
d. Tidak percaya diri
e. Sensitive
f. Mudah tersinggung
g. Merasa kurang menyayangi bayinya
h. Perasaan negative terhadap bayi
i. Sulit tidur
j. Perubahan drastis berat badan
k. Lelah dan lesu
l. Ada perasaan membenci diri sendiri, perasaan bersalah, individu merasa dirinya
tidak berguna
m. Tidak bisa berkonsentrasi
n. Menarik diri dari lingkungan
o. Mudah marah
p. Kehilangan gairah terhadap sesutau

23
4. Cara mengatasi gangguan psikologis pada nifas dengan postpartum blues
a. Pendekatan komunikasi teurapeutik
1) Mendorong pasien mampu meredakan segala ketegangan emosi
2) Dapat memahami dirinya
3) Dapat memdukung tindakan konstruktif
b. Peningkatan support mental/dukungan keluarga
1) Menyiapkan mental dalam menghadapi anak pertama yang akan lahir
2) Memperbanyak dukungan dari suami
3) Suami menggantikan peran istri ketika istri kelelahan
4) Ibu dianjurkan sering sharing dengan tema-temannya yang baru saja
melahirkan
5. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian
Pengenalan gejala mood merupakan hal yang penting untuk dilakukan oleh
perawat perinatal. Rencana keperawatan harus merefleksikan respons perilaku
yang diharapkan dari gangguan tertentu. Rencan individu didasarkan pada
karakteristik wanita dan keadaannya yang spesifik. Suami atau pasangan wanita
tersebut juga dapat mengalami gangguan emosional akibat perilaku wanita
tersebut.
Pengkajian pada pasien post partum blues menurut Bobak ( 2004 ) dapat
dilakukan pada pasien dalam beradaptasi menjadi orang tua baru. Pengkajiannya
meliputi ;
1) Identitas klien
Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat,
medical record dan lain-lain.
2) Dampak pengalaman melahirkan
Banyak ibu memperlihatkan suatu kebutuhan untuk memeriksa proses
kelahiran itu sendiri dan melihat kembali perilaku mereka saat hamil dalam
upaya retrospeksi diri (Konrad, 1987). Selama hamil, ibu dan pasangannya
mungkin telah membuat suatu rencana tertentu tentang kelahiran anak mereka,
hal-hal yang mencakup kelahiran pervagina dan beberapa intervensi medis.
Apabila pengalaman mereka dalam persalinan sangat berbeda dari yang
diharapkan (misalnya ; induksi, anestesi epidural, kelahiran sesar), orang tua
bisa merasa kecewa karena tidak bisa mencapai yang telah direncanakan

24
sebelumnya. Apa yang dirasakan orang tua tentang pengalaman melahirkan
sudah pasti akan mempengaruhi adaptasi mereka untuk menjadi orang tua.
3) Citra diri ibu
Suatu pengkajian penting mengenai konsep diri, citra tubuh, dan
seksualitas ibu. Bagaimana perasaan ibu baru tentang diri dan tubuhnya
selama masa nifas dapat mempengaruhi perilaku dan adaptasinya dalam
menjadi orang tua. Konsep diri dan citra tubuh ibu juga dapat mempengaruhi
seksualitasnya. Perasaan-perasaan yang berkaitan dengan penyesuaian
perilaku seksual setelah melahirkan seringkali menimbulkan kekhawatiran
pada orang tua baru. Ibu yang baru melahirkan bisa merasa enggan untuk
memulai hubungan seksual karena takut merasa nyeri atau takut bahwa
hubungan seksual akan mengganggu penyembuhan jaringan perineum.
4) Interaksi Orang tua – Bayi
Suatu pengkajian pada masa nifas yang menyeluruh meliputi evaluasi
interaksi orang tua dengan bayi baru. Respon orang tua terhadap kelahiran
anak meliputi perilaku adaptif dan perilaku maladatif. Baik ibu maupun ayah
menunjukkan kedua jenis perilaku maupun saat ini kebanyakan riset hanya
berfokus pada ibu. Banyak orang tua baru mengalami kesulitan untuk menjadi
orang tua sampai akhirnya keterampilan mereka membaik. Kualitas keibuan
atau kebapaan pada perilaku orang tua membantu perawatan dan perlindungan
anak. Tanda-tanda yang menunjukkan ada atau tidaknya kualitas ini, terlihat
segera setelah ibu melahirkan, saat orang tua bereaksi terhadap bayi baru lahir
dan melanjutkan proses untuk menegakkan hubungan mereka.
5) Perilaku Adaptif dan Perilaku Maladaptif
Perilaku adaptif berasal dari penerimaan dan persepsi realistis orang
tua terhadap kebutuhan bayinya yang baru lahir dan keterbatasan kemampuan
mereka, respon social yang tidak matur, dan ketidakberdayaannya. Orang tua
menunjukkan perilaku yang adaptif ketika mereka merasakan suka cita karena
kehadiran bayinya dan karena tugas-tugas yang diselesaikan untuk dan
bersama anaknya, saat mereka memahami yang dikatakan bayinya melalui
ekspresi emosi yang diperlihatkan bayi dan yang kemudian menenangkan
bayinya, dan ketika mereka dapat membaca gerakan bayi dan dapat merasa
tingkat kelelahan bayi. Perilaku maladaptif terlihat ketika respon orang tua
tidak sesuai dengan kebutuhan bayinya. Mereka tidak dapat merasakan

25
kesenangan dari kontak fisik dengan anak mereka. Bayi – bayi ini cenderung
akan dapat diperlakukan kasar. Orang tua tidak merasa tertarik untuk melihat
anaknya. Tugas merawat anak seperti memandikan atau mengganti pakaian,
dipandang sebagai sesuatu yang menyebalkan. Orang tua tidak mampu
membedakan cara berespon terhadap tanda yang disampaikan oleh bayi,
seperti rasa lapar, lelah keinginan untuk berbicara dan kebutuhan untuk
dipeluk dan melakukan kontak mata. Tampaknya sukar bagi mereka untuk
menerima anaknya sebagai anak yang sehat dan gembira.
6) Struktur dan fungsi keluarga
Komponen penting lain dalam pengkajian pada pasien post partum
blues ialah melihat komposisi dan fungsi keluarga. Penyesuaian seorang
wanita terhadap perannya sebagai ibu sangat dipengaruhi oleh hubungannya
dengan pasangannya, ibunya dengan keluarga lain, dan anak-anak lain.
Perawat dapat membantu meringankan tugas ibu baru yang akan pulang
dengan mengkaji kemungkinan konflik yang bisa terjadi diantara anggota
keluarga dan membantu ibu merencanakan strategi untuk mengatasi masalah
tersebut sebelum keluar dari rumah sakit.
Sedangkan Pengkajian Dasar data klien menurut Marilynn E. Doenges
(2001) Adalah :
a) Aktivitas / istirahat Insomnia mungkin teramati.
b) Sirkulasi
Episode diaforetik lebih sering terjadi pada malam hari.
c) Integritas Ego
d) Peka rangsang, takut/menangis (" Post partum blues " sering terlihat kira-
kira 3 hari setelah kelahiran).
e) Eliminasi
f) Diuresis diantara hari ke-2 dan ke-5.
g) Makanan/cairan
h) Kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan mungkin hari – hari ke-3.
i) Nyeri/ketidaknyamanan
j) Nyeri tekan payudara/pembesaran dapat terjadi diantara hari ke-3 sampai
ke-5 pascapartum.
k) Seksualitas

26
l) Uterus 1 cm diatas umbilikus pada 12 jam setelah kelahiran, menurun kira-
kira 1 lebar jari setiap harinya. Lokhia rubra berlanjut sampai hari ke-2- 3,
berlanjut menjadi lokhia serosa dengan aliran tergantung pada posisi
(misalnya ; rekumben versus ambulasi berdiri) dan aktivitas (misalnya ;
menyusui). Payudara : Produksi kolostrum 48 jam pertama, berlanjut pada
susu matur, biasanya pada hari ke-3; mungkin lebih dini, tergantung kapan
menyusui dimulai.
b. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut/ketidaknyamanan berhubungan dengan trauma mekanis,
edema/pembesaran jaringan atau distensi, efek-efek hormonal.
2) Menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan, pengalaman sebelumnya,
usia gestasi bayi, tingkat dukungan, struktur/karakteristik fisik payudara ibu.
3) Risiko tinggi terhadap perubahan peran menjadi orang tua berhubungan
dengan pengaruh komplikasi fisik dan emosional
4) Resiko tinggi ketidakefektifan koping individu berkaitan perubahan emosional
yang tidak stabil pada ibu
5) Gangguan pola tidur berhubungan dengan Respon hormonal dan psikologis
(sangat gembira, ansietas, kegirangan), nyeri/ketidaknyamanan, proses
persalinan dan kelahiran melelahkan.
6) Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan perawatan bayi
berhubungan dengan kurang pemajanan / mengingat, kesalahan interpretasi,
tidak mengenal sumber – sumber.
7) Potensial terhadap pertumbuhan koping keluarga berhubungan dengan
kecukupan pemenuhan kebutuhan – kebutuhan individu dan tugas – tugas
adaptif, memungkinkan tujuan aktualisasi diri muncul ke permukaan.
c. Rencana Keperawatan
1) Nyeri akut/ketidaknyamanan berhubungan dengan trauma mekanis,
edema/pembesaran jaringan atau distensi, efek-efek hormonal.
Tujuan : Mengidentifikasi dan menggunakan intervensi untuk mengatasi
ketidaknyamanan.

Intervensi Keperawatan :

a) Tentukan adanya, lokasi, dan sifat ketidaknyamanan.

27
Rasional : Mengidentifikasi kebutuhan – kebutuhan khusus dan intervensi
yang tepat.
b) Inspeksi perbaikan perineum dan epiostomi.
Rasional : Dapat menunjukkan trauma berlebihan pada jaringan perineal
dan terjadinya komplikasi yang memerlukan evaluasi / intervensi lanjut.
c) Berikan kompres es pada perineum, khususnya selama 24 jam pertama
setelah kelahiran.
Rasional : Memberi anestesia lokal, meningkatkan vasokonstriksi, dan
mengurangi edema dan vasodilatasi.
d) Berikan kompres panas lembab (misalnya ; rendam duduk / bak mandi)
Rasional : Meningkatkan sirkulasi pada perineum, meningkatkan
oksigenasi dan nutrisi pada jaringan, menurunkan edema dan
meningkatkan penyembuhan.
e) Anjurkan duduk dengan otot gluteal terkontraksi diatas perbaikan
episiotomy.
Rasional : Penggunaan pengencangan gluteal saat duduk menurunkan stres
dan tekanan langsung pada perineum.
f) Kolaborasi dalam pemberian obat analgesik 30-60 menit sebelum
menyusui.
Rasional : Memberikan kenyamanan, khususnya selama laktasi, bila
afterpain paling hebat karena pelepasan oksitosin.
2) Menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan, pengalaman sebelumnya,
usia gestasi bayi, tingkat dukungan, struktur/karakteristik fisik payudara ibu.
Tujuan : Mengungkapkan pemahaman tentang proses/situasi menyusui,
mendemonstrasikan teknik efektif dari menyusui, menunjukkan kepuasan
regimen menyusui satu sama lain.

Intervensi Keperawatan :

a) Kaji pengetahuan dan pengalaman klien tentang menyusui sebelumnya


Rasional : Membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan saat ini dan
mengembangkan rencana perawatan.
b) Tentukan sistem pendukung yang tersedia pada klien, dan sikap pasangan /
keluarga.

28
Rasional : Mempunyai dukungan yang cukup meningkatkan kesempatan
untuk pengalaman menyusui dengan berhasil.
c) Berikan informasi, verbal dan tertulis, mengenai fisiologi dan keuntungan
menyusui, perawatan putting dan payudara, kebutuhan diet khusus, dan
faktor–faktor yang memudahkan atau mengganggu keberhasilan
menyusui.
Rasional : Membantu menjamin supli susu adekuat, mencegah putting
pecah dan luka, memberikan kenyamanan, dan membuat peran ibu
menyusui.
d) Demonstrasikan dan tinjau ulang teknik – teknik menyusui
Rasional : Posisi yang tepat biasanya mencegah luka putting, tanpa
memperhatikan lamanya menyusu.
e) Identifikasi sumber-sumber yang tersedia di masyarakat sesuai indikasi ;
misalnya ; progam Kesehatan Ibu dan Anak ( KIA ).
Rasional : Pelayanan ini mendukung pemberian ASI melalui pendidikan
klien dan nutrisional.
3) Risiko tinggi terhadap perubahan peran menjadi orang tua berhubungan
dengan pengaruh komplikasi fisik dan emosional
Tujuan : Mengungkapkan masalah dan pertanyaan tentang menjadi orang tua,
mendiskusikan peran menjadi orang tua secara realistis, secara aktif mulai
melakukan tugas perawatan bayi baru lahir dengan tepat, mengidentifikasi
sumber-sumber.

Intervensi Keperawatan :

a) Kaji kekuatan, kelemahan, usia, status perkawinan, ketersediaan sumber


pendukung dan latar belakang budaya.
Rasional : Mengidentifikasi faktor – faktor risiko potensial dan sumber-
sumber pendukung, yang mempengaruhi kemampuan klien/pasangan
untuk menerima tantangan peran menjadi orang tua.
b) Perhatikan respons klien/pasangan terhadap kelahiran dan peran menjadi
orang tua.
Rasional : Kemampuan klien untuk beradaptasi secara positif untuk
menjadi orang tua mungkin dipengaruhi oleh reaksi ayah dengan kuat.

29
c) Evaluasi sifat dari menjadi orangtua secara emosi dan fisik yang pernah
dialami klien/pengalaman selama kanak-kanak.
Rasional : Peran menjadi orang tua dipelajari, dan individu memakai peran
orang tua mereka sendiri menjadi model peran.
d) Tinjau ulang catatan intrapartum terhadap lamanya persalinan, adanya
komplikasi, dan peran pasangan pada persalinan.
Rasional : Persalinan lama dan sulit, dapat secara sementara menurunkan
energi fisik dan emosional yang perlu untuk mempelajari peran menjadi
ibu dan dapat secara negatif mempengaruhi menyusui.
e) Evaluasi status fisik masa lalu dan saat ini dan kejadian komplikasi
pranatal, intranatal, atau pascapartal.
Rasional : Kejadian seperti persalinan praterm, hemoragi, infeksi, atau
adanya komplikasi ibu dapat mempengaruhi kondisi psikologis klien.
f) Evaluasi kondisi bayi ; komunikasikan dengan staf perawatan sesuai
indikasi.
Rasional : Ibu sering mengalami kesedihan karena mendapati bayinya
tidak seperti bayi yang diharapkan.
g) Pantau dan dokumentasikan interaksi klien/pasangan dengan bayi.
Rasional : Beberapa ibu atau ayah mengalami kasih sayang bermakna pada
pertama kali ; selanjutnya, mereka dikenalkan pada bayi secara bertahap.
h) Anjurkan pasangan/sibling untuk mengunjungi dan menggendong bayi dan
berpartisipasi terhadap aktifitas perawatan bayi sesuai izin.
Rasional : Membantu meningkatkan ikatan dan mencegah perasaan putus
asa.
i) Kolaborasi dalam merujuk untuk konseling bila keluarga beresiko tinggi
terhadap masalah menjadi orang tua atau bila ikatan positif diantara
klien/pasangan dan bayi tidak terjadi.
Rasional : Perilaku menjadi orang tua yang negatif dan ketidakefektifan
koping memerlukan perbaikan melalui konseling, pemeliharaan atau
bahkan psikoterapi yang lama.
4) Risiko tidak efektif koping individual berhubungan dengan krisis maturasional
dari kehamilan/mengasuh anak dan melakukan peran ibu dan menjadi orang
tua (atau melepaskan untuk adopsi), kerentanan personal, ketidakadekuatan
sistem pendukung, persepsi tidak realistis

30
Tujuan : Mengungkapkan ansietas dan respon emosional, mengidentifikasi
kekuatan individu dan kemampuan koping pribadi, mencari sumber-sumber
yang tepat sesuai kebuuhan.

Intervensi Keperawatan :

a) Kaji respon emosional klien selama pranatal dan dan periode intrapartum
dan persepsi klien tentang penampilannya selama persalinan.
Rasional : Terhadap hubungan langsung antara penerimaan yang positif
akan peran feminin dan keunikan fungsi feminin serta adaptasi yang positif
terhadap kelahiran anak, menjadi ibu, dan menyusui.
b) Anjurkan diskusi oleh klien / pasangan tentang persepsi pengalaman
kelahiran.
Rasional : Membantu klien / pasangan bekerja melalui proses dan
memperjelas realitas dari pengalaman fantasi.
c) Kaji terhadap gejala depresi yang fana (" perasaan sedih " pascapartum)
pada hari ke-2 sampai ke-3 pascapartum (misalnya ; ansietas, menangis,
kesedihan, konsentrasi yang buruk, dan depresi ringan atau berat).
Rasional : Sebanyak 80 % ibu – ibu mengalami depresi sementara atau
perasaan emosi kecewa setelah melahirkan.
d) Evaluasi kemampuan koping masa lalu klien, latar belakang budaya,
sistem pendukung, dan rencana untuk bantuan domestik pada saat pulang.
Rasional : Membantu dalam mengkaji kemampuan klien untuk mengatasi
stres.
e) Berikan dukungan emosional dan bimbingan antisipasi untuk membantu
klien mempelajari peran baru dan strategi untuk koping terhadap bayi baru
lahir.
Rasional : Keterampilan menjadi ibu / orang tua bukan secara insting
tetapi harus dipelajari.
f) Anjurkan pengungkapan rasa bersalah, kegagalan pribadi, atau keragu –
raguan tentang kemampuan menjadi orang tua
Rasional : Membantu pasangan mengevaluasi kekuatan dan area masalah
secara realistis dan mengenali kebutuhan terhadap bantuan profesional
yang tepat.

31
g) Kolaborasi dalam merujuk klien/pasangan pada kelompok pendukungan
menjadi orang tua, pelayanan sosial, kelompok komunitas, atau pelayanan
perawat berkunjung.
Rasional : Kira – kira 40 % wanita dengan depresi pascapartum ringan
mempunyai gejala – gejala yang menetap sampai 1 tahun dan dapat
memerlukan evaluasi lanjut.
5) Gangguan pola tidur berhubungan dengan Respon hormonal dan psikologis
(sangat gembira, ansietas, kegirangan), nyeri/ketidaknyamanan, proses
persalinan dan kelahiran melelahkan.
Tujuan : Mengidentifikasi penilaian untuk mengakomodasi perubahan yang
diperlukan dengan kebutuhan terhadap anggota keluarga baru, melaporkan
peningkatan rasa sejahtera dan istirahat.
Intervensi Keperawatan :
a) Kaji tingkat kelelahan dan kebutuhan untuk istirahat.
Rasional : Persalinan atau kelahiran yang lam dan sulit, khususnya bila ini
terjadi malam, meningkatkan tingkat kelelahan.
b) Kaji factor-faktor, bila ada yang mempengaruhi istirahat.
Rasional : Membantu meningkatkan istirahat, tidur dan relaksasi dan
menurunkan rangsang.
c) Berikan informasi tentang kebutuhan untuk tidur/istirahat setdlah kembali
ke rumah.
Rasional : Rencana yang kreatif yang membolehkan untuk tidur dengan
bayi lebih awal serta tidur siang membantu untuk memenuhi kebutuhan
tubuh.
d) Berikan informasi tentang efek-efek kelelahan dan ansietas pada suplai
ASI.
Rasional : Kelelahan dapat mempengaruhi penilaian psikologis, suplai
ASI, dan penurunan refleks secara psikologis.
e) Kaji lingkungan rumah, bantuan dirumah, dan adanya sibling dan anggota
keluarga lain.
Rasional : Multipara dengan anak di rumah memerlukan tidur lebih banyak
dirumah sakit untuk mengatasi kekurangan tidur dan memenuhi
kebutuhannya.

32
6) Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan perawatan bayi
berhubungan dengan kurang pemajanan/mengingat, kesalahan interpretasi,
tidak mengenal sumber – sumber.
Tujuan : Mengungkapkan berhubungan dengan pemahaman perubahan
fisiologis, kebutuhan individu, hasil yang diharapkan, melakukan aktivitas /
prosedur yang perlu dan menjelaskan alasan-alasan untuk tindakan.
Intervensi Keperawatan :
a) Pastikan persepsi klien tentang persalinan dan kelahiran, lama persalinan,
dan tingkat kelelahan klien.
Rasional : Terhadap hubungan antara lama persalinan dan kemampuan
untuk melakukan tanggung jawab tugas dan aktifitas-aktifitas perawatan
diri/perawatan bayi.
b) Kaji kesiapan klien dan motivasi untuk belajar.
Rasional : Periode pascanatal dapat merupakan pengalaman positif bila
penyuluhan yang tepat untuk membantu pertumbuhan ibu, maturasi, dan
kompetensi.
c) Berikan informasi tentang perawatan diri, termasuk perawatan perineal
dan higiene, perubahan fisiologis.
Rasional : Membantu mencegah infeksi, mempercepat pemulihan dan
penyembuhan, dan berperan pada adaptasi yang positif dari perubahan
fisik dan emosional.
d) Diskusikan kebutuhan seksualitas dan rencana untuk kontrasepsi.
Rasional : Pasangan mungkin memerlukan kejelasan mengenai
ketersediaan metoda kontrasepsi dan kenyataan bahwa kehamilan dapat
terjadi bahkan sebelum kunjungan sebelum kunjungan minggu ke-6.
7) Potensial terhadap pertumbuhan koping keluarga berhubungan dengan
kecukupan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan individu dan tugas-tugas adaptif,
memungkinkan tujuan aktualisasi diri muncul ke permukaan.
Tujuan : Mengungkapkan keinginan untuk melaksanakan tugas-tugas yang
mengarah pada kerja sama dari anggota keluarga baru, mengekspresikan
perasaan percaya diri dan kepuasan dengan terbentuknya kemajuan dan
adaptasi.
Intervensi Keperawatan :
a) Kaji hubungan anggota keluarga satu sama lain.

33
b) Rasional : Perawat dapat membantu memberikan pengalaman positif di
rumah sakit dan menyiapkan keluarga terhadap pertumbuhan melalui tahap
– tahap perkembangan.
c) Anjurkan partisipasi seimbang dari orang tua pada perawatan bayi.
d) Rasional : Fleksibilitas dan sensitifitasi terhadap kebutuhan keluarga
membantu mengembangkan harga diri dan rasa kompeten dalam
perawatan bayi baru lahir setelah pulang.
e) Berikan bimbingan antisipasi mengenai perubahan emosi normal
berkenaan dengan periode pascapartum.
f) Rasional : Membantu menyiapkan pasangan untuk kemungkinan
perubahan yang mereka alami, menurunkan stres dan meningkatkan
koping positif.
g) Berikan informasi tertulis mengenai buku-buku yang dianjurkan untuk
anak-anak (sibling) tetang bayi baru.
h) Rasional : Membantu anak mengidentifikasi dan mengatasi perasaan akan
kemungkinan penggantian atau penolakan.
i) Kolaborasi dalam merujuk klien/pasangan pada kelompok orang tua
pascapartum di komunitas.
j) Rasional : Meningkatkan pengetahuan orang tua tentang membesarkan
anak dan perkembangan anak.

34
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml selama 24 jam
setelah anak lahir. Termasuk perdarahan karena retensio plasenta. Perdarahan post partum
adalah perdarahan dalam kala IV lebih dari 500-600 cc dalam 24 jam setelah anak dan
plasenta lahir.

Infeksi pascapartum (sepsis puerperal atau demam setelah melahirkan) ialah


infeksi klinis pada saluran genital yang terjadi dalam 28 hari setelah abortus atau
persalinan.

Postpartum blues yaitu suatu perasaan bercampur aduk. Penyebab postpartum


blues belum diketahui secara pasti. Penderita postpartum dapat dideteksi melalui
skrinning yaitu dengan kuisioner yang berupa pertanyaan tentang rasa cemas. Asuhan
keperawatan pada pasien postpartum blues pada dasarnya harus holistik yaitu menyeluruh
dari bio-psiko-sosio-spiritual dan melibatkan orang tua si anak yaitu ayah dan ibu si anak

B. Saran
Kami selaku penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan
makalah ini. Untuk itu kritik dan saran kami harapkan dari pembaca supaya kedepannya
kami bisa memperbaiki dan mencari sumber-sumber yang lebih banyak dan tentunya
dapat kami pertanggungjawabkan.

35
DAFTAR PUSTAKA

Nurarif, H. Amin dan Kusuma, Hardi. 2015. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediaAction

Bobak, Lowdermilk, Jensen. (2004). Buku Ajar: Keperawatan Maternitas edisi-4. Jakarta:
EGC.

Setiyaningrum, Erna. 2013. Asuhan Kegawatdaruratan Maternitas (Asuhan Kebidanan


Patologi) Jilid 2. Penerbit IN Media

http://njuliyanti.blogspot.co.id/2013/04/askep-pada-post-partum-dengan.html (diakses
tanggal 25 maret 2018)

36

Anda mungkin juga menyukai