Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

KANKER PAYUDARAH
DI RSPAD GATOT SUBROTO

OLEH:

YULIANTO

18180000035

PROGRAM PROFESI NERS


STIKES INDONESIA MAJU
(STIKIM)
LAPORAN PENDAHULUAN

1. Definisi

Ca mammae (carcinoma mammae) yaitu keganasan yang berasal dari sel

kelenjar, susukan kelenjar dan jaringan penunjang payudarah, tidak termasuk kulit

payudarah. Ca mammae yaitu tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan

payudarah. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, susukan susu,

jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudarah. (Medicastore, 2011)

Kanker payudarah yaitu sekelompok sel tidak normal pada payudarah yang

terus tumbuh berupa ganda. Pada kesannya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di

payudarah. Jika benjolan kanker tidak terkontrol, sel-sel kanker bias bermestastase

pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bias terjadi pada kelenjar getah bening

ketiak ataupun diatas tulang belikat. Seain itu sel-sel kanker bias bersarang di

tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Erik T, 2005)

Ca mammae yaitu suatu penyakit pertumbuhan sel, akhir adanya onkogen

yang menyebabkan sel normal menjadi sel kanker pada jaringan payudarah

(Karsono, 2006).

Kanker payudarah yaitu terjadinya gangguan pertumbuhan yang ganas yang

terjadi pada jaringan payudarah. Kanker biasanya terdiri dari gumpalan yang keras

dan kenyal tanpa adanya batas. Mungkin adanya garis asimetris antara kedua

payudarah.Bila kanker sudah berkembang, tanda-tanda akan lebih nyata sepeti

jaringan menjadi merah,borok,membengkak dan kanker terlihat dengan jelas.


Kanker payudarah merupakan salah satu kanker yang terbanyak ditemukan

di Indonesia.Biasanya kanker ini ditemukan pada umur 40-49 tahun dan letak

terbanyak di kuadran lateral atas (Mansjoer, Kapita selecta kedokteran Edisi 2).

2. Anatomi Fisilogi Payudarahh

2.1 Anatomi Payudarah

Payudarah normal mengandung jaringan kelenjar, duktus, jaringan otot

penyokong lemak, pembuluh darah, saraf dan pembuluh limfe. Pada adegan lateral

ats kelenjr payudarah, jaringan kelenjar ini keluar dari bulatannya kearah aksila,

disebut penonjolan Spence atau ekor payudarah. Setiap payudarah terdiri atas 12-

20 lobulus kelenjar yang masing-masing mempunyai susukan ke papilla mammae,

yang disebut duktus lactiferous. Diantara kelenjar susu dan fasia pectoralis, juga

diantara kulit dan kelenjar tersebut mungkin terdapat jaringan lemak. Diantara
lobules tersebut ada jaringan ikat yang disebut ligamnetum cooper yang memberi

rangka untuk payudarah.

Perdarahan payudarah terutama berasal dari cabang a. perforantes

anterior dan a. mammaria interna, a. torakalis lateralis yang bercabang dari a.

aksilaris, dan beberapa a. interkostalis.

Persarafan kulit payudarah diurus oleh cabang pleksus servikalis dan n.

interkostalis. Jaringan kelenjar payudarah sendiri diurus saraf simpatik. Ada

beberapa saraf lagi yang perlu diingat sehubungan dengan penyulit paralisis dan

mati rasa pasca bedah, yakni n. intercostalis dan n. kutaneus brakius medialis yang

mengurus sensibilitas tempat aksila dan adegan medial lengan atas.

Penyaliran limfe dari payudarah kurang lebih 75% ke aksila, sebagian lagi ke

kelenjar parasternal, terutama dari adegan yang sentral dan medial dan adapula

penyaliran yang ke kelenjar interpectoralis. Pada aksila terdapat rata-rata 50 buah

kelenjar getah bening yang berada disepanjang arteri dan vena brakialis.

Jalur limfe lainnya berasal dari tempat sentral dan medial yang selain menuju

ke kelenjar sepanjang pembuluh mammaria interna, juga menuju ke aksila

kontralateral, ke m. rectus abdominis lewat ligamentum falsiparum hepatis ke hati,

pleura dan payudarah kontralateral.

2.2 Fisiologi Payudarah

Payudarah merupakan kelenjar tubuloalveolar yang bercabang-cabang, terdiri

atas 15-20 lobus yang dikelilingi oleh jaringan ikat dan lemak. Tiap lobus

mempunyai duktus ekskretorius masing-masing yang akan bermuara pada puting

susu, disebut duktus laktiferus, yang dilapisi epitel kuboid selapis yang rendah, lalu
ke duktus alveolaris yang dilapisi epitel kuboid berlapis, kemudian bermuara

ke duktus laktiferus yang berakhir pada putting susu.

Ada 3 hal fisiologik yang menghipnotis payudarah, yaitu :

a. Pertumbuhan dan involusi berafiliasi dengan usia

b. Pertumbuhan berafiliasi dengan siklus haid

c. Perubahan karena kehamilan dan laktasi.

3. Etiologi

Sebab keganasan pada payudarah masih belum jelas, tetpi ada beberapa faktor

yang berkaitan erat dengan munculnya keganasan payudarah yaitu: virus, faktor

lingkungan , faktor hormonl dan familial

1) Wanita resiko tinggi dari pada pria (99:1)

2) Usia: resiko tertinggi pada usia diatas 30 tahun

3) Riwayat keluarga: ada riwayat keluarga Ca Mammae pada ibu/saudara

perempuan

4) Riwayat meastrual:

5) Early menarche (sebelum 12 thun)

6) Late menopouse (setelah 50 th)

7) Riwayat kesehatan: Pernah mengalami/ sedang menderita otipical

hiperplasia atau benign proliverative yang lain pada biopsy payudarah, Ca.

endometrial.

8) Menikah tapi tidak melahirkan anak

9) Riwayat reproduksi: melahirkan anak pertama diatas 35 tahun.

10) Tidak menyusui


11) Menggunakan obat kontrasepsi oral yang lama, penggunaan therapy

estrogen

12) Mengalami trauma berulang kali pada payudarah

13) Terapi radiasi; terpapar dari lingkungan yang terpapar karsinogen

14) Obesitas

4. Perbedaan Tumor dan Kanker

No Tumor Kanker

1 Pertumbuhan sel lambat Pertumbuhan sel cepat


2 sel tumor yang hanya tumbuh sel kanker mampu untuk menyebar
dan menetap pada salah satu dengan cepat ke bagian tubuh
bagian tubuh manapun
3 Lokasi kekambuhan. Pada tumor pada kanker, kekambuhan bisa terjadi
jinak, biasanya kekambuhan pada bagian tubuh mana saja
akan terjadi lagi pada bagian
tubuh yang sama
4 Tumor jinak biasanya cukup Sel kanker yang bersifat menyebar
dihilangkan dengan cara dan tumbuh dengan cepat harus
dioperasi dan diambil semua dimatikan dulu dengan obat
jaringan tumor yang sedang kemoterapi atau radiasi.
tumbuh tersebut

5. Patofisiologi

Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang

disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi:

a. Fase Inisiasi

Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang

memancing sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini disebabkan

oleh suatu agen yang disebut karsinogen, yang bisa berupa bahan kimia, virus,

radiasi (penyinaran) atau sinar matahari. tetapi tidak semua sel memiliki kepekaan

yang sama terhadap suatu karsinogen. kelainan genetik dalam sel atau bahan
lainnya yang disebut promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu

karsinogen. bahkan gangguan fisik menahunpun bisa membuat sel menjadi lebih

peka untuk mengalami suatu keganasan.

b. Fase Promosi

Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah

menjadi ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh oleh

promosi. karena itu diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya keganasan

(gabungan dari sel yang peka dan suatu karsinogen).

6. Stadium

a. Stadium 0 : kanker insitu dimana sel-sel kanker berada pada tempatnya

didalam payudarah yang normal

b. Stadium I : tumor dengan garis tengah kurang dari 2 cm dan belum

menyebar keluar payudarah

c. Stadium IIa : tumor dengan garis tengah 2-5 cm dan belum menyebar ke

kelenjar getah bening ketiak.

d. Stadium IIb : tumor dengan garis tengah lebih besar dari 5 cm dan belum

menyebar ke kelenjar getah bening ketiak

e. Stadium IIIa : tumor dengan garis tengah kurang dari 5 cm dan menyebar

ke kelenjar getah bening ketiak disertai perlekatan satu sama lain

f. Stadium IIIb : tumor telah menyusup keluar payudarah, yaitu ke dalam

kulit payudarah atau dinding dada

g. Stadium IV : tumor telah menyebar keluar daerah payudarah dan dinding

dada.
Tahap 0 Tis N0 M0

Tahap I T1 N0 M0

Tahap IIA T0 N1 M0

T1 N1 M0

T2 N0 M0

Tahap IIB T2 N1 M0

T3 N1 M0

Tahap IIIA T0 N2 M0

T1 N2 M0

T2 N2 M0

T3 N1 M0

Tahap IIIB T4 Sembarang N M0

Semabarang T N3 M0

Tahap IV Semabarang T Sembarang N M1

Keterangan :

Tumor Primer (T)

a. T0: Tidak ada bukti tumor primer

b. Tis: Karsinoma insitu: karsinoma intraduktal, karsinoma lobular insitu,

atau penyakit paget puting susu dengan atau tanpa tumor

c. T1: Tumor ≤ 2 cm dalam dimensi terbesarnya

d. T2: Tumor > 2 cm tetapi tidak > 5 cm dalam dimensi terbesarnya

e. T3: Tumor > 5 cm dalam dimensi terbesarnya


f. T4: Tumor sembarang ukuran dengan arah perluasan ke dinding dada

atau kulit.

Nodus Limfe Regional (N)

a. N0: Tidak ada metastasis nodus limfe regional

b. N1: Metastasis ke nodus limfe aksillaris ipsilateral (s) yang dapat

ditegakkan

c. N2: Metastasis ke nodus limfe aksillaris ipsilateral (s) terfiksasi pada

satu sama lain atau pada struktur lainnya

d. N3: Metastasis ke nodus limfe mamaria internal ipsilateral

Metastasis Jauh

a. M0: Tidak ada metastasis yang jauh

b. M1: Metastasis jauh (termasuk metastasis ke nodus limfe

supraklavikular ipsilateral)

7. Manifestasi Klinis

a. Adanya massa atau benjolan pada buah dada

b. Perubahan simetri pada buah dada

c. Perubahan kulit pada buah dada, penebalan, cekungan, kulit pucat sekitr

puting susu, adanya mengkerut seperti kulit jeruk purut dan adanya

ulkus.

d. Perubahan temperatur kulit (hangat, panas, kemerahan)

e. Adanya cairan yang keluar dari puting susu

f. Perubahan pada puting susu, seperti gatal, terbakar, adanya erosi dan

terjadi retraksi.
g. Rasa sakit

h. Penyebaran kanker ke tulang sehingga tulang mudah rapuh dan terjadi

peningkatan kalsium di dalam darah

i. Pembengkakan di daerah lengan.

8. Komplikasi

a. Metastase ke jaringan sekitar melalui susukan limfe (limfogen) ke

paru,pleura, tulang dan hati.

b. metastase ke jaringan sekitar melalui susukan limfe dan pembuluh

darahkapiler (penyebaran limfogen dan hematogen), penyebarab

hematogen dan limfogen dapat mengenai hati, paru, tulang, sum-sum tulang

,otak ,syaraf.

c. gangguan neuro varkuler

d. Faktor patologi

e. Fibrosis payudarah

f. Kematian

9. Pathways
10. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan mammografi

b. Pemeriksaan dengan sinar X pada payudarah.

c. Pemeriksaan biopsi

d. Mengangkat jaringan kelenjar susu sedikit.

e. Ultra sonound

f. Untuk membedakan antara kista dan tumor.

g. Scan tulang, CT Scan, menghitung ubtausi alkali fos ftase fungsi hati,

biopsi hati dapat digunakan sebagai deteksi penyebar kanker buah dada.

h. Tes hurmanal receptor assay

i. Dipergunakan untuk mengetahui apakah tumor tergantung pada estrogen

atau progesteron.

11. Penatalaksanaan

10.1. Pembedahan

a. Mastectomy radikal yang dimodifikasi

Pengangkatan payudarah sepanjang nodu limfe axila sampai otot pectoralis

mayor. Lapisan otot pectoralis mayor tidak diangkat namun otot pectoralis

minor bisa jadi diangkat atau tidak diangkat.

b. Mastectomy total

Semua jaringan payudarah termasuk puting dan areola dan lapisan otot

pectoralis mayor diangkat. Nodus axila tidak disayat dan lapisan otot

dinding dada tidak diangkat.


c. Lumpectomy/tumor

Pengangkatan tumor dimana lapisan mayor dri payudarah tidak turut

diangkat. Exsisi dilakukan dengan sedikitnya 3 cm jaringan payudarah

normal yang berada di sekitar tumor tersebut.

d. Wide excision/mastektomy parsial.

Exisisi tumor dengan 12 tepi dari jaringan payudarah normal.

e. Ouadranectomy.

Pengangkatan dan payudarah dengan kulit yang ada dan lapisan otot

pectoralis mayor.

10.2. Radiotherapy

Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula

merupakan therapi tunggal. Adapun efek samping: kerusakan kulit di sekitarnya,

kelelahan, nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis, radang

tenggorokan.

10.3. Chemotherapy

Pemberian obat-obatan anti kanker yang sudah menyebar dalam aliran darah.

Efek samping: lelah, mual, muntah, hilang nafsu makan, kerontokan membuat,

mudah terserang penyakit.

10.4. Manipulasi hormonal.

Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk kanker yang sudah

bermetastase. Dapat juga dengan dilakukan bilateral oophorectomy. Dapat juga

digabung dengan therapi endokrin lainnya.


12. Pengkajian
Pengkajian dilakukan berdasarkan data dari keluhan pasien dan diobeservasi
dari head to too

13. Prioritas Diagnosa Keperawatan


a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik.
b. Kerusakan intregitas jaringan berhubungan dengan CA Mamae.
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake tidak adekuat.

14. INTERVENSI KEPERAWATAN


No. Diagnosa Tujuan/Kriteria Hasil Rencana Keperawatan
Keperawatan
1. Nyeri akutSetelah dilakukan tindakan Pain management
berhubungan keperawatan selama 3 x 24 (1400)
dengan agen jam, masalah Nyeri akut a. Ajarkan prinsip
cedera fisik. teratasi dengan manajemen nyeri.
Pain Level (2102) b. Ajarkan teknik
Kriteria Hasil: farmakologi
a. Keluhan nyeri tidak ada (distraksi dan
(3 – 4) relaksasi)
b. Ekspresi wajah menahan c. Kolaborasi
nyeri tidak (ada 3 – 4) pemberian analgetik.
c. Skala nyeri berkurang (3
– 4)
d. Mampu mengontrol
nyeri dengan
manajemen nyeri (4 – 5)
2. Kerusakan Setelah dilakukan askep Tissue intergrity,
intregitas selama 2x24 jam diharapkan impaired (0046)
jaringan gangguan inregitas jaringan a. Manajemen luka
berhubungan teratasi dengan KH b. Manajemen infeksi
dengan lukaTissue intergrity, impaired c. Manajemen nutrisi
diabetikum (0046)
Tujuan
Untuk mengetahui perubahan
epidermis dan dermis
Indicator :
a. Penyembuhan luka
b. Respon medikasi
c. Status nutrisi
d. Bebas tanda infeksi
3. Ketidakseimban Setelah dilakukan tindakan NIC :
gan nutrisi keperawatan selama 3 x 24 Nutritional monitoring
kurang dari jam, masalah (1160)
kebutuhan ketidakseimbangan nutrisi a. Monitor adanya
tubuh teratasi dengan kriteria hasil : penurunan berat
berhubungan Nutrisional status (1004) badan
dengan intake a. Klien mendapat asupan b. Monitor makanan
tidak adekuat. nutrisi sesuai kebutuhan kesukaan
tubuhnya (100401) c. Monitor mual
b. Mual muntah hilang muntah
(100402) d. Monitor kalori dan
2. - Berat badan intake nutrisi
dalam rentang normal e. Nutrition
(100405) management
(1100)
f. Motivasi pasien
untuk
menghabiskan
porsi makannya
g. Edukasi pasien dan
keluarga tentang
manfaat nutrisi
h. Kolaborasi
pemberian anti
emetik
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah vol 2. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Media

Aesculapius

Carpenito Lynda Juall.2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. jakarta : EGC

Marilyan, Doenges E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman untuk

perencanaan dan pendokumentasian perawatyan px) Jakarta : EGC

https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/kanker-dan-tumor-apa-bedanya-

sih/