Anda di halaman 1dari 2

Nama : Riyan Nur Tyasna

NIM / Kelas : 1700012054 / A

Peretasan Situs KPAI, Ancaman terhadap


Perlindungan Anak
Untuk menjalankan roda organisasi, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
menggunakan website resmi untuk sosialisasi informasi. Website resmi ini berdomain .go.id yang
artinya adalah portal resmi yang dikelola untuk kepentingan negara. Publik mendapat informasi
resmi dari website ini seputar pelaksanaan penyelenggaraan perlindungan anak, salah satunya
adalah data kekerasan anak.
Sayangnya, pada Ahad (1/5) ada pihak-pihak yang tidak senang dengan penyelenggaraan
perlindungan anak di tanah air. Website merupakan bagian tidak terpisahkan dari entitas
organisasi. Ketika terjadi upaya peretasan, maka sesungguhnya hal itu menjadi ancaman bagi
KPAI sebagai organisasi negara dan masyarakat umum sebagai pihak yang memiliki hak untuk
mendapatkan informasi.
Namun, KPAI tidak akan takluk dengan penjahat perlindungan anak. Tim KPAI langsung
mengambil langkah untuk perbaikan dan peningkatan security. KPAI sudah menjalin kontak
dengan Menkominfo. KPAI juga sedang memikirkan untuk melaporkan ke Mabes Polri untuk
penegakan hukum.
KPAI merupakan Lembaga Negara Independen yang dibentuk berdasarkan Undang-
Undang No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Ketika website KPAI diretas, informasi
yang terpampang di dalamnya hilang dan ini tentu merugikan organisasi, bahkan negara. Tentu hal
ini juga merugikan masyarakat yang memiliki kepentingan dengan KPAI.
UU telah mengatur larangan meretas situs orang lain tanpa hak. UU No 11 tahun 2008
tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menyebutkan dalam Pasal 30 kegiatan yang dilarang
adalah secara sengaja dan tanpa hak mengakses komputer orang lain dengan cara apapun.
Ancaman pidana pun tidak main-main karena di dalam Pasal 46 disebutkan setiap orang
yang memenuhi unsur pelanggaran dipidana paling ringan enam tahun penjara dan atau denda
enam ratus juta rupiah hingga maksimal delapan tahun penjara dengan denda 800 juta rupiah.
Untuk itu, KPAI mendesak Polri mengusut tuntas kasus ini dan menghukum pelaku sesuai
dengan perundang-undangan yang berlaku. Peretasan ini hakikatnya menjadi ancaman bagi
penyelenggaraan perlindungan anak yang pada saat ini sangat dibutuhkan masyarakat.
Peretasan ini terjadi di tengah rencana Pemerintah up Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan yang akan memblokir 15 game online yang dianggap mengancam anak-anak.
Rencana ini tentu mendapat dukungan dan sambutan positif dari KPAI karena pada kenyataannya
game online memiliki korelasi kuat pada kasus kekerasan anak.
Belum lama ini, KPAI merilis tingginya kasus kekerasan anak yang sekaligus menjadi
bukti bahwa isu perlindungan anak harus mendapat perhatian dari semua pihak. Banyak sebab
mengapa kasus kekerasan anak meningkat. Berdasarkan data yang masuk ke KPAI, salah satu
faktor tingginya kasus kekerasan anak adalah karena game online yang terlalu bebas diakses anak.

Ada bahaya yang berat bagi anak dari kebiasaan memainkan game online. Mengutip
pendapat Profesor Akio Mori dari Tokyo's Nihon University. Menurutnya, game online memberi
dampak negatif pada aktivitas dan perkembangan otak anak. Setidaknya ada dua hal penting yang
harus diperhatikan oleh semua pihak.
Anak-anak yang kecanduan game online akan mengalami penurunan aktivitas gelombang
otak depan yang memiliki peranan sangat penting. Apa peran penting tersebut? Gelombang otak
yang mengatur pengendalian emosi dan agresivitas akan terganggu, sehingga mereka cepat
mengalami perubahan mood, seperti mudah marah dan mengalami masalah dalam hubungan
sosial, khususnya dengan anggota keluarga.
Dalam beberapa kasus yang dijumpai KPAI, anak yang kecanduan game online dapat
melakukan tindakan negatif seperti merusak, berkelahi dan berjudi. Selain itu, anak juga akan
bertingkah laku aneh mengikuti tokoh-tokoh dalam game tersebut. Tentunya, ini sangat
mengganggu tumbuh kembang anak dan berbahaya bagi masa depan mereka.
Ancaman terhadap anak-anak ini begitu besar. Oleh sebab itu, negara merasa perlu hadir
untuk memberikan aturan bagaimana seharusnya game online ini ada di tengah masyarakat. Jika
merujuk pada UU Perlindungan Anak, maka hak dasar anak dalam bidang pendidikan harus
tercapai. Anak tidak boleh mengalami keterpurukan di bidang pendidikan hanya karena kecanduan
game online. Oleh sebab itu, KPAI menilai perlu adanya regulasi dari Pemerintah Pusat & Daerah
yang mengatur keberadaan game online.

Sumber : https://news.detik.com/kolom/3202002/peretasan-situs-kpai-ancaman-terhadap-
perlindungan-anak