Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM IPA 3

MENGAMATI ALAT PERKEMBANGBIAKAN TANAMAN

SECARA VEGETATIF

Disusun Oleh :

1. Imesta Zulfanida Ernest (16312241002)


2. Yunita Aryanti (16312241003)
3. Nur Komara Zain (16312241004)
4. Aini Putri Ratnasari (16312241012)
5. An Nisaa Anggun N (16312241026)
6. Muhamad Arif Nur R (16312241042)
Kelompok :3
Kelas : Pendidikan IPA A

JURUSAN PENDIDIKAN IPA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMUPENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2018
A. Judul
Perkembangbiakan vegetative

B. Tujuan
1. Mengetahui berbagai macam perkembangan vegetatif.

C. Kajian Pustaka
1. Perbanyakan Vegetatif
a) Pengertian Perbanyakan Vegetatif Alami
Perbanyakan vegetatif alami, yaitu perbanyakan vegetatif dimana mengambil
bahan tanam dari organ tubuh tanaman induk yang merupakan hasil pertumbuhan
tanaman (bagian generatif) dan sifat dari keturu-nannya pasti samadenganinduknya
(Ashari, 1995).
Perbanyakan vegetatif adalah perbanyakan tanaman tanpa melalui perkawinan
atau tidak menggunakan biji tanaman induk yang terjadi secara alami tanpa campur
tangan manusia (Gunawan, I. 2004)
b) Macam Perbanyakan Vegetatif Alami
1) Rhizome
Rhizoma merupakan modifikasi dari batang yang tumbuh menjalar
dibawah permukaan tanah. Salah satu ciri rhizoma yang nampak adalah
adanya ruas-ruas, sehingga dari setiap ruas tersebut dapat tumbuh individu
baru. Contoh tumbuhan yang membentuk rhizoma sebagai alat
perkembangbiakan adalah Sansiveira, Jahe, Lengkuas, dll.(Gunawan, I. 2004)
Gambar 01 : Rhizome
Sumber : (Gunawan, I. 2004)

2) Umbi
Menurut( Handoyo, 2104) Umbi selain berperan sebagai tempat
menyimpan cadangan makanan juga berperan sebagai alat perkembangbiakan.
Berdasarkan cirinya umbi dapat dibedakan atas umbi batang, umbi akar dan
umbi lapis.
I. Bulb (Umbi Lapis) Merupakan umbi yang tersusun atas lapisan-lapisan
yang membungkus bagian yang disebut cakram. Dari cakram inilah
nantinya muncul individu baru sebagai keturunannya. Contoh tumbuhan
yang membentuk umbi lapis adalah : bawang merah, bakung dll.

Gambar 02: umbi lapis


Sumber :(Handoyo, 2014)

II. Corn (Umbi batang)


Umbi batang memiliki ciri terdapat beberapa mata tunas, sehingga dari
satu umbi dapat menghasilkan beberapa individu baru sebagai
keturunannya. Contoh tumbuhan yang menghasilkan umbi batang adalah
kentang, ubi jalar dll
Gambar 02: UmbiBatang
Sumber :(Handoyo, 2014)

III. Umbi akar Umbi akar tidak memiliki mata tunas, sehingga tunas baru
hanya muncul pada satu tempat yaitu pada pangkal umbi yang merupakan
tempat pelekatannya dengan batang. Contoh tumbuhan yang membentuk
umbi akar adalah dahlia, bengkuang dan lobak.

3) Tunas
I. Tunas Tunas batang : bambu, pisang, Aglaonema
II. Tunas akar : cemara, sukun, kesemek
Gambar 02: Tunas akar
Sumber :(Handoyo, 2014)
III. Tunas daun : Cocor bebek (disebut juga tunas adventif)
4) Stolon/Geragih
Batang yang menebal dan tumbuh secara horizontal sepanjang atau tumbuh di
bawah permukaan tanah dan pada interval tertentu memunculkan tunas ke
permukaan tanah. Contoh: strawberry, lili paris, arbei (Raharja, dkk, 2003).

Gambar 02: Stolon


Sumber : (Raharja, 2003)
c) Faktor yang mempengaruhi keberhasilan perbanyakan vegetatif
alamimenurutRochiman (2002).
1) Suhu
Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan tumbuh
kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman. Suhu yang
baik bagi tumbuhan adalah antara 22 derajat celcius sampai dengan 37 derajad
selsius. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal tersebut dapat
mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti.
2) Kelembaban udara
Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan
tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan di mana
tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta berkurangnya penguapan
yang akan berdampak pada pembentukan sel yang lebih cepat.
3) Cahaya Matahari
Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat melakukan
fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tanaman kekurangan
cahaya matahari, maka tanaman itu bisa tampak pucat dan warna tanaman itu
kekuning-kuningan (etiolasi). Pada kecambah, justru sinar mentari dapat
menghambat proses pertumbuhan.
4) Hormon
Hormon pada tumbuhan juga memegang peranan penting dalam proses
perkembangan dan pertumbuhan seperti hormon auksin untuk membantu
perpanjangan sel, hormon giberelin untuk pemanjangan dan pembelahan sel,
hormon sitokinin untuk menggiatkan pembelahan sel dan hormon etilen untuk
mempercepat buah menjadi matang.
D. Alat dan Bahan
1. Alat
1) Lup atau Kaca pembesar
2) Silet
3) pisau
4) Pensil
5) Penghapus
6) Kamera Hp
2. Bahan
1) Tanaman Bawang Bombay (Allium cepa L.)
2) Tanaman Strawberry (Fragaria sp)
3) Tanaman Talas
4) Tanaman Singkong
5) Tanaman Kentang
6) Tanaman Cocor Bebek
7) Kertas HVS
E. Langkah Kerja

Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

Mengamati bagian-bagian setiap tanaman yang telah disiapkan menggunakan


bantuan lup atau kaca pembesar

Menggambar bagian-bagian setiap tanaman sesuai yang diamati di kertas HVS


menggunakan pensil

Mengambil foto tanaman menggunakan kamera hp

Melakukan diseksi secara vertikal pada tunas sampai terlihat bagian-bagian dasar
tunas

Menggambar bagian-bagian yang ditemukan pada tanaman dan tunas (saat diseksi)
secara teliti dan menentukan nama bagian tersebut

Mengambil foto diseksi tunas menggunakan kamera hp

Meminta klarifikasi kepada pembimbing dan tanda tangan pembimbing

F. Data Hasil Praktikum


1) Bawang Bombay (Allium cepa L)
a. Gambar 1 Morfologi Bawang Bombay sebelum dibelah

Gambar 2 Morfologi Bawang Bombay Setelah dibelah


2) Tanaman Strawberry(Fragaria sp)

Gambar 4 Morfologi Tanaman Straw berry


3) Cocor Bebek (Bryophyllum pinnatum)
Daun induk

Daun anakan

Akar

Tunas daun (tunas adventif

Gambar 1 : gambar cocor bebek


4) Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L)

Gambar 6. Morfologi tanaman kentang


5) Singkong (Manihot esculenta)
Batang

Umbi akar

Akar

6) Tanaman Talas (Colocasia esculenta (L).Schott)

Gambar 9 Morfologi Talas

G. Pembahasan
Praktikum perkembangbiakan tumbuhan secara vegetatif dilaksanakan pada hari Rabu
tanggal 19 september 2018 di laboratorium IPA, FMIPA UNY. Alat bahan yang
digunakan adalah lup, silet, pisau, pensil, penghapus,kertas HVS, kamera, tanaman
bawang bombay, strowberry, talas, singkong, cocor bebek dan kentang.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan dalam praktikum, selanjutnya mengamati bagian-bagian setiap tanaman yang
telah disiapkan menggunakan bantuan lup atau kaca pembesar lalu menggambar bagian-
bagian setiap tanaman sesuai yang diamati di kertas HVS menggunakan pensil kemudian
mengambil foto tanaman yang diamati menggunakan kamera, setelah itu melakukan
diseksi secara vertikal pada tunas sampai terlihat bagian-bagian dasar tunas kemudian
menggambar bagian-bagian yang ditemukan pada tanaman dan tunas (saat diseksi) secara
teliti dan menentukan nama bagian tersebut, lalu mengambil foto diseksi tunas
menggunakan kamera hp, langkah yang terakhir adalah meminta klarifikasi kepada
pembimbing dan tanda tangan pembimbing.
1. Bawang Bombay (Allium cepa L)
Menurut Sutarmi (1986)kedudukan bawang bombay dalam taksonomi adalah
sebagai berikut:
Kingdom:Plantae
Divisio : Spermatophyta
Klas : Angiospermae
Sub Klas : Monokotiledon
Famili : Liliaceae
Genus : Allium
Spesies : Allium cepa L
Bawang Bombay masih termasuk kedalam genus yang sama dengan bawang
merah. Secara morfologi bawang bombay mempunyai bentuk yang bermacam-macam
yaitu: bulat, bulat panjang, bulat pipih, pipih dan lonjong. Ukurannya lebih besar
dibandingkan dengan jenis bawang lain. Jika dikupas warnanya putih kekuning-
kuningan, memiliki akar serabut dengan daun berbentuk seperti pipa agak pipih atau
setengah membulat dengan warna hijau tua. Batang semunya merupakan pelepah
daun yang saling membungkus sehingga potongan melintangnya terlihat berlapislapis.
Ukuran dari bawang bombay lebih besar daripada bawang merah. Perbedaan lainnya
antara bawang merah dan bawang bombay adalah siungnya, jika bawang merah
mempunyai siung tidak untuk bawang bombay. Bawang bombay sendiri
berkembangbiak secara vegetatif alami yang disebut umbi lapis.
Berikut ini hasil observasi tentang bawang bombay
Tunas

Gambar 1 Morfologi Bawang Bombay sebelum dibelah

Sumber:Dokumentasi Pribadi

Gambar 2 Morfologi Bawang Bombay Setelah dibelah

Sumber:Dokumentasi Pribadi

Pada gambar 1 tentang morfologi bawang bombay dapat diketahu bahwa


terdapat tunas baru,lapis daun yang mengering,bawang semu(modifikasi daun) dan
akar serabut. Setelah dilakukan pembelahan terdapat bagian yang terlihat berwarna
kuning berbentuk seperti pipa di tengah batang semu yaitu kuncup/tunas. Dari
kuncup/tunas ini yang akan membentuk calon daun. Pada ujung bawah kuncup/tunas
ini melekat langsung dengan yang namanya subang/cakram atau disebut juga batang
sejati. Batang pada bawang bombay merupakan batang semu yang terbentuk dari
kelopak-kelopak daun yang saling membungkus. Telah diketahui bahwa bagian
batang semu dari bawang bombay adalah bawang bombay itu sendiri sedangkan
batang sejati pada bawang bombay terletak pada subang/cakram yang akan terlihat
apabila bawang bombay dibelah secara vertikal ke bawah. Cakram merupakan tempat
tumbuhnya akar dan tunas, sekaligus berfungsi sebagai batang pada tanaman bawang
bombay. Pada dasar cakram akan tumbuh akar serabut. Lapis umbi (bulbus)
merupakan penjelmaan dari daunnya yang menebal, lunak dan berdaging
merupakan bagian umbi yang menyimpan zat makanan cadangan. Setiap bulb terdiri
atas 1 – 5 tunas yang masing-masing dilapisi oleh lapisan daun(scale). Menurut dari
sifat sisiknya atau bulbus ,bawang bombay termasuk kedalam bulbus tunicas karena
bagian penjelmaan daunnya yang lebar dan yang lebih luar menyelubungi bagian
yang lebih dalam, hingga apabila bawang bombay dipotong horizontal akan tampak
jelas sususunannya.Apabila diamati tunas yang akan tumbuh ke atas yang akan
menjadikan calon individu(calon daun,bakal bunga) berada pada ditengah-tengah
cakram. Hal ini dapat diketahui bahwa pada bawang bombay termasuk ked alam tunas
apikal.
Pemanjangan tunas muda biasanya berkonsentrasi di dekat ujung tunas yang
terdiri dari kuncup apikal. Membuang kuncup apikal biasanya merangsang
pertumbuhan kuncup aksilaris(struktur yang dapat membentuk tunas lateral), sehingga
membentuk banyak tunas lateral.

Gambar 3. Pertumbuhan dan perkembangan umbi lapis pada bawang


Bombay
Sumber: Santoso,Bambang.2009:25
Sudah diketahui sesuai diatas bahwa daun akan tumbuh dari setiap tunas.Daun
tertua akan membentuk lapisan yang melindungi daun yang lebih muda.Bagian daun
yang berada di atas permukaan tanah akan mati dan lapisan daun pada bagian pangkal
akan membentuk batang semu. Batang semu inilah yang disebut dengan umbi.Umbi
lapis pada dasarnya merupakan batang yang telah mengalami modifikasi dalam
perkembangannya. Karena mampat atau rapatnya susunan perkembangan tempat
duduknya daun, maka batang yang mengalami modifikasi tersebut pendek dan pipih
.Pada ujung dari pada lembaran sisik-sisik /bulbus sering tumbuh tunas-tunas umbi
yang dapat digunakan sebagai bahan perbanyakan tanaman. Inilah yang menjadikan
ciri dari umbi lapis.

2. Tanaman Strawberry(Fragaria sp)


Menurut Sutarmi (1986) kedudukan bawang bombay dalam taksonomi adalah
sebagai berikut:
Kingdom. : Plantae
Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Kelas : Dicotyledonae (biji berkeping satu)
Ordo : Rosales
Famili : Rosaceae
Genus : Fragaria
Spesies. : Fragaria sp
Secara morfologi akar sitem perakaran tanaman strawberry adalah berakar
tunggang. Akar stroberi terus tumbuh memanjang dan ukurannya relatif
besar.Tanaman stroberi memiliki batang pendek.Tumbuh merayap diatas permukaan
tanah. Daun strawberry memiliki tepi bergerigi.Buah strawberry merah ukurannya
kecil dan berpori-piri. Bentuk buah stroberi yang berbeda-beda ada yang berbentuk
bulat ada juga yang agak lonjong.
Berikut hasil dari observasi tanaman strawberry:
Gambar 4 Morfologi Tanaman Straw berry
Sumber:Dokumentasi Pribadi
Tanaman strawberrry sendiri berkembangbiak secara vegetatif alami melalui
geragih (stolon)sedangkan vegetatif buatan dapat melalui stek dan berkembangbiak
secara generatif melalui biji.

Gambar.5 Perkembangbiakan secara vegetatif alami geragih/stolon


Sumber: Melati,Trisia:2011 diunduh melalui https://indonesiamengajar.org/cerita-
pm/trisa-melati/kesadaran-menggeragih

Geragih adalah batang yang tumbuh dan menjalar di permukaan tanah.


Tanaman baru(individu baru) akan tumbuh memanjang dan menjauhi induknya lalu
membengkok ke atas membentuk individu baru. Geragih/Stolon ini merupakan tunas
horizontal yang tumbuh dari pertunasan batang. Perpanjangan batang(runner)
memungkinkan tumbuhan bereproduksi aseksual, seiring terbentuknya anak
tumbuhan pada batang(nodus) setiap runner. Karena pada geragih/stolon tersusun atas
ruas-ruas. Setiap ruas yang menempel pada tanah akan membentuk akar dan tumbuh
tunas baru. Ruas ini dinamakan ruas aksilar yang berkembanng menjadi anakan-
anakan strawberry. Anakan ini memebentuk akar pada saat pucuk membentuk daun.
Anakan yang terbentuk dari stolon adalah anakan vegetatif yang karakter dan sifatnya
akan sama dengan induknya.Batang geragih ini akan menyalurkan makanan dari
tumbuhan induk ke tumbuhan yang baru hingga tumbuhan yang baru(individu baru)
cukup kuat untuk mencukupi membuat makanannya sendiri, dan batang geragih bisa
dipotong setelah tumbuhan induk bisa berbunga dan akhirnya dari bunga tersebut
menjadi buah strawberry .Potongan stolon ini yang nantinya dapat digunakan dalam
berkembangbiakan vegetatif buatan yaitu stek. Banyaknya runner yang diproduksi
tanaman strawberry mempunyai peranan penting dalam perbanyakan individu baru.
Penggunanan media tanamjuga mempengaruhi pertumbuhan stolon, karena apabila
semakin besar media tanam tumbuhan strawberry mengakibatkan pertumbuhan akar
yang lebih ekstensif, sedangkan pada media tanam berukuran kecil menghasilkan akar
yang lebih terbatas karena terbatas oleh ruang tanam, sehingga hara yang diserap
sedikit. Kondisi ruang perakaran yang lebih luas pada media tanam memungkinkan
hara yang terserap lebih bisa optimal, sehingga pertumbuhan stolon lebih baik.

3. Cocor Bebek (Bryophyllum pinnatum)


klasifikasi tumbuhan cocor bebek
Kingdom : Plantae
Sub kingdom : Tracheobionta
Super divis : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub kelas : Rosidae
Ordo : Rosales
Famili : Crass ulaceae
Genus : Kalanchoe
Spesies : Kalanchoe blossfeldiana Poeln.
SynonimBryophyllum pinnatum, Bryophyllum calycinum.
Daun induk

Daun anakan

Akar

Tunas daun (tunas adventif

Gambar 5. cocor bebek

Gambar 6. cocor bebek


Cocor bebek atau suru bebek (Latin:Kalanchoe pinnata syn. Bryophyllum
calycinum syn. Bryophyllum pinnatum) adalah tumbuhan sukulen (mengandung air)
yang berasal dari Madagaskar. Tanaman ini terkenal karena metode reproduksinya
melalui tunas daun (tunas/adventif). Cocor bebek populer digunakan sebagai tanaman
hias di rumah tetapi banyak pula yang tumbuh liar di kebun-kebun dan pinggir parit
yang tanahnya banyak berbatu. Deskripsi. Cocor bebek memiliki batang yang lunak
dan beruas. Daunnya tebal berdaging dan mengandung banyak air. Warna daun hijau
muda (kadang kadang abu-abu). Bunga majemuk, buah kotak.
Perkembangbiakan tanaman cocor bebek adalah tunas adventif, tunas yang tidak
tumbuh pada ketiak daun atau ujung batang, tetapi tumbuh pada bagian tanaman yang
biasanya tidak bertunas, misalnya bagian ventral thalus lumut hati, pada daun cocor
bebek, akar jambu biji, kesemek, dan sukun. Dan pada tanaman cocor bebek ini
perkembangbiakannya adalah adventif karena tunas tumbuh pada bagian daun. Pada
gambar 2 terlihat bahwa tunas tanaman cocor bebek tumbuh pada bagian lekukan
daun.
4. Singkong (Manihot esculenta)

Adapun klasifikasi singkong (Manihot esculenta) sebagai berikut:


Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Manihot
Spesies : Manihot utilissima Pohl.; Manihot esculenta (Soelistijono, 2006).

Ketela pohon atau ubi kayu merupakan tanaman perdu. Ketela pohon berasal
dari benua Amerika, tepatnya dari Brasil. Penyebarannya hampir ke seluruh dunia,
antara lain Afrika, Madagaskar, India, dan Tiongkok. Tanaman ini masuk ke
Indonesia pada tahun 1852. Ketela pohon berkembang di negara- negara yang
terkenal dengan wilayah pertaniannya (Purwono, 2009).

Menurut Ngungi (2015), Regenerasi Singkong adalah berpotensi untuk teknik


rekayasa genetika khususnya karena perbaikan genetik melalui pemuliaan tradisional
telah bermasalah karena produksi benih yang rendah dan waktu generasi lama.
persyaratan penting untuk generasi singkong transgenik adalah tanaman sistem
regenerasi yang efisien dan direproduksi dengan metode transformasi yang tersedia.
Tanaman singkong yang diregenerasi pada frekuensi tinggi dengan
menginduksi tunas primordial pada eksplan yang berasal dari kotiledon singkong
somatik parameter embryos. Various dievaluasi tentang efek mereka pada induksi
kalus, embriogenesis somatik, pematangan dan perkecambahan embrio somatik serta
pemulihan plantlet regenerasi. Lobus daun dewasa digunakan sebagai eksplan untuk
embriogenesis somatik. Tiga genotipe singkong yaitu; Adhiambo Lera, Kibanda
Meno dan Serere bersama dengan model kultivar, TMS 60.444 yang menggunakan
sistem ini. (Ngungi. 2015)
Ciri utama ubi kayu memiliki batang atas dan batang bawah yang berbeda
yaitu hijau, hijau kemerahan, abu-abu dan gading. Warna ubi kayu yang berbeda,
yaitu rose/putih, kuning dan gading. Dari hasil peneitian ini diperoleh 7 genotip ubi
kayu dengan nama yang bervariasi bergantung didaerah mana tanaman tersebut
dijumpai, yaitu Ubi kayu Malaysia, Ubi kayu Roti, Ubi kayu Adira 1, Ubi kayu
Kalimantan, Ubi kayu Valencia, Ubi kayu Lampung dan Ubi kayu pulut.
Proses regenerasi pada singkong menggunakan metode Kultur jaringan atau
dikenal dengan kultur in vitro merupakan teknik memisahkan bagian dari tanaman
seperti tunas terminal, tunas aksilar, daun, batang atau embrio serta menumbuhkannya
di dalam media buatan dalam kondisi aseptik sehingga membentuk tanaman lengkap.
Hal ini didasari oleh adanya daya totipotensi sel. Terbentuknya tanaman lengkap dari
eksplan potongan bagian tanaman dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain: kondisi
fisiologi eksplan, genotipe eksplan, media dasar, zat pengatur tumbuh serta
lingkungan kultur seperti pencahayaan maupun kelembaban dan suhu ruangan.
Sebuah sistem regenerasi direproduksi berdasarkan embriogenesis somatik.
5. Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L)
Tanaman kentang merupakan tanaman semusim yang berbentuk semak dengan
susunan tubuh utama terdiri dari stolon, umbi, batang, daun, bunga, buah dan biji serta
akar. Menurut Rukmana (1997 :19 ), klasifikasi tanaman kentang sebagai berikut :

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae
Genus : Solanum
Spesies : Solanum tuberosum L.

Umbi kentang merupakan umbi batang yang terbentuk dari pembesaran ujung
stolon. Bahwasanya umbi kentang adalah penjelmaan batang masih terlihat dari
terdapatnya kuncup-kuncup (mata) pada umbi ini, yang jika waktunya telah tiba,
lalu dapat bertunas dan menghasilkan tumbuhan baru. Mata tunas tersusun secara
spiral di permukaan umbi dan umumnya makin ke ujung umbi, makin rapat mata
tunasnya dan jumlah mata tunasnya semakin banyak. Berikut hasil observasi umbi
kentang

Gambar 7. Morfologi tanaman kentang


Sumber : Dokumentasi Pribadi
Mata tunas tersusun secara spiral pada bagian luar dan dekat kulit umbi.
Jumlah mata tunas berkisar antara 2-14, tergantung pada besar kecilnya umbi.
Mata tunas umbi kentang terdiri dari tiga bagian yaitu bagian dasar yang
memiliki bakal akar (calon akar), lalu bagian batang (calon batang) dan bagian
ujung. Menurut Rubatzky dan Yamaguchi, (1998), umbi berdampingan dengan
tunas samping (aksilar), yang dikenal dengan “mata tunas” yang akan
membentuk susunan spiral tertekan pada permukaan umbi, dengan jumlahnya
yang semakin banyak mendekati titik apikal. Sebenarnya, setiap mata adalah
sekelompok tunas, dan setiap tunas mampu tumbuh menjadi batang

Gambar 7 Bagian-bagian mata tunas


Sumber : Dokumentasi Pribadi

Berdasarkan pengamatan, mata tunas berbentuk kuncup –kuncup yang bagian


dasar sampai bagian tengahnya berwarna putih kehijau-hijauan, sedangkan bagian
ujung mata tunas terdapat calon daun muda yang berwarna keunguan.
Gambar 8 Pertunasan kentang dari umbi
Sumber : Pitojo.2005
Menurut Sunarjono (2007) batang yang muncul dari mata umbi berwarna hijau
kemerahan dan bercabang samping. Pada dasar batang utama akan tumbuh akar dan
stolon. Stolon yang beruas akan membentuk umbi, tetapi ada pula yang tumbuh
menjadi tanaman baru. Dengan demikian, stolon merupakan perpanjangan dari
batang. Dengan kata lain umbi kentang merupakan batang yang membesar.
6. Tanaman Talas (Colocasia esculenta (L).Schott)
Talas (Colocasia esculenta (L).Schott) merupakan salah satu umbi- umbian yang
banyak ditanam di Indonesia. Talas termasuk divisi Spermatophyta, subdivisi
Monocotyledoneae, ordo Aracales, famili Araceae, genus Calocasia dan spesies
Colocasia esculenta (L.) Schott. Tanaman talas mempunyai variasi yang besar baik
karakter morfologi seperti umbi, daun dan pembungaan serta kimiawi seperti rasa dan
aroma tergantung varietas dan tempat talas di tanam (Hartati dan Prana, 2003).
Secara morfologi sistem perakaran tanaman talas adalah serabut, liar dan pendek.
Tangkai daun berukuran panjang 20 cm – 30 cm, bentuknya bulat, dan berwarna
variasi antara hijau, hitam, atau hijau keputih-putihan, tergantung pada varietas atau
kultivarnya. Daunnya berbentuk perisai atau hati, berwarna hijau tua atau hijau muda,
dan permukaan daun tertutup lapisan lilin.
Organ batang pada talas termodifikasi menjadi umbi. Modifikasi batang ini selain
untuk menyimpan cadangan makanan juga terkait dengan cara perbanyakan diri.
Berikut hasil observasi tanaman talas.
Gambar 9 Morfologi Talas
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Berdasarkan gambar di atas umbi talas ditunjukkan pada bagian batang yang
bentuknya bulat dan menggembung . Bagian luar umbi dilapisi oleh pelepah-pelepah
daun yang telah mengering. Susunan umbi talas berbuku-buku dan terdapat serabut-
serabut halus. Di bagian tertentu pada umbi juga ditemukan mata tunas yang berjejer,
bentuknya berupa kuncup-kuncup kecil yang bagian ujungnya berwarna gelap.
Tumbuhan talas dapat bereproduksi secara seksual (generatif) melalui
pembentukan sel kelamin jantan dan betina oleh alat-alat kelamin, dimana jantan
menghasilkan spermatozoid dan betina menghasilkan sel telur (ovum). Selain itu, juga
dapat bereproduksi secara aseksual (vegetatif) yakni dengan stolon yang
menghasilkan tunas, seperti pada gambar berikut:
Gambar 10. Stolon ( sebelah kiri dan kanan )
Sumber : Surahmat Kusomo. dkk.2002 : 32

Stolon merupakan anakan dari umbi talas. Budidaya talas dilakukan dengan
menanam bagian pucuk umbi atau stolon. Tanaman talas diperbanyak secara vegetatif
dengan cara memotong bagian pucuk sekitar 1,5 cm dari umbi utama atau dapat pula
melalui anakan umbi (axialcorm).

Gambar 11. mata tunas pada talas


Sumber : Dokumentasi Pribadi

Dari gambar di atas terlihat bahwa pada umbi talas juga ditemukan mata tunas
seperti pada kentang. Mata tunas pada umbi talas terletak di permukaan umbi yang
dilindungi oleh pelepah daun. Sama halnya dengan tanaman kentang, mata tunas
tersebut dapat tumbuh menjadi tanaman baru. Apabila kuncup ujung mata tunas
diptong atau mati, maka mata tunas berpeluang untuk berkembang menjadi tanaman
baru. Mata tunas ini juga dapat dijadikan sebagai bibit yaitu dengan cara, umbi talas
dipotong-potong dan diusahakan supaya tiap-tiap potongan minimal mempunyai satu
mata tunas kemudian di tanam.
H. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, maka diperoleh kesimpulan bahwa
selain mengalami perkembang biakan secara generatif (seksual), tumbuhan juga
mengalami perkembangbiakan secara vegetatif (aseksual). Macam-macam
perkembangbiakan tumbuhan secara vegetatif diantaranya : umbi lapis seperti yang
terjadi pada bawang bombay (Allium cepa L),
Geragih seperti yang terjadi pada Tanaman Strawberry(Fragaria sp), Tunas adventif
seperti yang terjadi pada cocor bebek (Bryophyllum pinnatum), umbi batang seperti yang
terjadi pada tanaman kentang (Solanum tuberosum L) dan tanaman talas (Colocasia
esculenta (L).Schott), serta umbi akar seperti yang terjadi pada singkong (Manihot
esculenta).

I. Daftar Pustaka

Ashari, S. 1995.HortikulturalAspekBudidaya. Jakarta: UniversitasIndonesiaPress.


Gunawan, I. 2004. PerkembangbiakanVegetatif .Klaten: Aviva
Handoyo, Luisa Diana. 2014. Perkembangbiakan Tumbuhan.
Hartmann, H.T., and D.E. Kester. 1997. Plant Propagation Principles and Practices. 6th
ed. Prentice Hall. Englewood Cliffs. New York.
Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. Kanisius. Yogyakarta.
Melati,Trisia. 2011 diunduh melalui https://indonesiamengajar.org/cerita-pm/trisa-
melati/kesadaran-menggeragih
Pasetriyani, 2013. PengaruhMacam Media Tanam Dan
ZatPengaturTumbuhGrowtoneTerhadapPertumbuhanStekBatangTanamanJarakPa
gar. SMK Padalarang
Rochiman, K. dan S. S. Harjadi. 2002. Perkembangbiakan Vegetatif. Departemen
Agronomi Fakultas Pertanian IPB.
Rochiman, Koesriningroem dan Sri Setyati Harjadi, 1973, Pembiakan Vegetatif .
Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian, Institu Pertanian Bogor.
Santoso, Bambang.2009. Pembiakan Vegetatif dalam Hortikula. Mataram:UNRAM-
Press.
Sutarmi,Siti Tjitrosomo, dkk. (1986). Botani Umum 4. Bandung : Penerbit Angkasa.
Suwandi, 2002. PetunjukTeknisPerbanyaknTanamanDengan Cara Sambungan
(Grafting).Balaibesarpenelitianbioteknologidanpemuliaantanamanhutan
Yogyakarta.
Tambing, Y., E. Adelina, T. Budiarti dan E. Murniati. 2008. Kompatibilitas Batang
Bawah Nangka Tahan Kering dengan Entris Nangka Asal Sulawesi Tengah
dengan Cara Sambung Pucuk. J. Agroland Fakultas Pertanian Untad 15 (2): 95-
100.
Tirtawinata, 2003. Kajian Anatomi Dan Fisologi Sambungan Bibit Manggis Dengan
Beberapa Anggota Kerabat Clusiaceae. Bogor Agricultural University.

Anda mungkin juga menyukai