Anda di halaman 1dari 26

PANOPHTHALMITIS

REFERAT

Pembimbing :
dr. Roby Hilman Maulana, Sp.M (K)

Penyusun:
Rini Risnawati Tardi
NIM : 030 13 168

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


RUMAH SAKIT ANGKATAN LAUT DR. MINTOHARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA, FEBRUARI 2019
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

PERSETUJUAN

Referat

Judul:

PANOPHTHALMITIS

Nama Koas: Rini Risnawati Tardi


NIM 030.13.168

Telah disetujui untuk dipresentasikan

Pada Hari , Tanggal 2019

` Pembimbing

dr. Roby Hilman Maulana, Sp.M (K)

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah Yang Maha Kuasa, karena
atas berkat rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan presentasi kasus dengan judul
“PANOPHTHALMITIS”.
Presentasi ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas dalam
kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Penyakit Mata RS TNI Angkatan Laut DR
Mintoharjo.
Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada berbagai
pihak yang telah membantu dalam penyusunan penyelesaian kasus ini, terutama
kepada:
1. dr. Roby Hilman Maulana, Sp.M (K) selaku pembimbing dalam referat ini.
2. Dokter dan staf SMF Ilmu Penyakit Mata RS TNI Angkatan Laut
DR.Mintoharjo
3. Rekan-rekan Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata atas bantuan dan
dukungannya.
Saya menyadari dalam pembuatan referat ini masih banyak
terdapatkekurangan, oleh karena itu segala kritik dan saran guna penyempurnaan
presentasi kasus ini sangat saya harapkan.
Akhir kata, semoga referat ini dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama
dalam bidang ilmu penyakit dalam.

Jakarta , Februari 2019

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

2
Panopthalmitis yaitu suatu peradangan pada mata yang dapat melibatkan

semua lapisan bola mata termasuk bagian intraokuler seperti humour aquos dan

badan vitreus. Peradangan juga dapat memperluas ke jaringan di sekitar bola

mata. Kejadiannya rata-rata adalah sekitar 5 per 10.000 pasien yang berobat dalam

setahun, dan dalam beberapa kasus mata kanan dua kali lebih mungkin terinfeksi,

mungkin karena lokasinya yang lebih proksimal untuk mengarahkan aliran darah

arteri ke arteri karotid kanan. Kejadian ini dapat meningkat karena penyebaran

AIDS, penggunaan agen imunosupresif yang berlebihan, dan yang sering yaitu

akibat dari tindakan prosedur invasive.1

Sebagian besar kasus (sekitar 60%) terjadi setelah operasi intraokular.

Ketika operasi merupakan penyebab, panopthalmitis biasanya dimulai dalam

waktu 1 minggu setelah operasi. Di Amerika Serikat, panopthalmitis postcataract

merupakan bentuk yang paling umum, dengan sekitar 0,1-0,3% dari operasi yang

memiliki komplikasi ini, dan kejadian ini telah meningkat selama beberapa tahun

terakhir. Posttraumatic panopthalmitis terjadi pada 4-13% dari semua cedera

penetrasi okular. sedangkan kejadian panopthalmitis akibat benda asing

intraokular adalah sekitar 7-31%.1

Komplikasi paling sering akibat penyakit ini ialah penurunan visus yang

dapat menjadi permanen, dan yang paling berbahaya apabila terjadi penyebaran

infeksi secara hematogen dan menyebabkan syok septik. Menurut penelitian

menunjukan adanya hubungan perkembangan panopthalmitis pada pasien post

operasi dengan usia lebih atau sama dengan 70 tahun.2

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi bola mata

a. Konjungtiva

Konjungtiva merupakan membran mukosa tipis dan transparan

yang melapisi bagian yang paling anterior dari sklera dan melapisi

permukaan bagian dalam kelopak mata. Konjungtiva dibagi menjadi

daerah limbal, bulbar, forniks, dan palpebra. Sel yang terkait dengan

konjungtiva adalah sel goblet yang menghasilkan lendir dan kelenjar yaitu

kelenjar konjungtiva (Krause) dan kelenjar lakrimal aksesorius (Wolfring).

Kelenjar konjungtiva (Krause) terkonsentrasi di fornix atas, sedangkan

kelenjar lakrimal aksesorius (Wolfring) berhubungan dengan tarsus. (2)

b. Kelopak Mata

Kelopak mata yang dirancang untuk melindungi, memelihara, dan

mempertahankan kornea dan sklera anterior. Secara anatomis, kelopak

mata dibagi menjadi 2 lamellae, anterior dan posterior, yang dibatasi oleh

alinea alba. Lamellae anterior terdiri dari epitel dan otot orbicularis oculi,

sedangkan tarsus dan konjungtiva palpebra membentuk lamellae posterior.


(2)

4
Gambar 2.1 Anatomi konjungtiva dan kelopak mata

c. Tunika Fibrosa

1) Sklera

Sklera adalah jaringan fibrosa padat yang membentuk lapisan

terluar mata. Sklera melindungi mata dan memberikan tempat

perlekatan otot ekstraokuler. Pada daerah posterior, bagian sklera yang

berlubang akan dilewati oleh saraf optik di lamina cribrosa.(2)

Ketebalan sklera tidak seragam. Pada daerah anterior, ketebalan

sklera adalah 0,6mm; 0,3mm pada tempat melekatnya otot rektus;

0,5mm di ekuator bola mata dan 1,0mm di kutub posterior. Secara

eksternal, sklera ditutupi oleh episklera, yang berisi pembuluh

episklera, dan pleksus anterior serta posterior.(2)

5
Iris

Gambar 2.2 Gambaran luar dari sklera, kornea, iris dan pupil

2) Kornea

Kornea merupakan lapisan yang jernih dan transparan yang

berada dibagian depan mata. Kornea merupakan media refraksi utama

pada bola mata. Lapisan kornea merupakan lapiran avaskular yang

terdiri dari 5 lapis.(2)

a. Lapisan epitel merupakan lapisan yang tersusun atas epitel

skuamosa bertingkat non-keratinosa (5-6 lapis sel). Lapisan ini

memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap beberapa serabut akhir

saraf dan memiliki kemampuan regenerasi yang baik.

b. Membrane Bowman merupakan membran yang astruktural dan

aselular.

c. Substansi propia (stroma) membentuk 90% dari total ketebalan

kornea. Jaringan ikat penyusun lapisan ini membentuk struktur

6
yang saling menyilang dengan sudut 90o. Jaringan ikat pada stroma

merupakan fibrin tipe I, III, V, dan VII serta jaringan ikat kolagen.

d. Membran Descement merupakan lapisan astruktural, homogen dan

memiliki ketebalan sekitar 3-12 mikron. Lapisan ini tersusun atas

zona band anterior dan zona non-band posterior. Membran

Descement kaya akan jaringan ikat kolagen tipe IV.

e. Endothelium merupakan satu lapis sel kuboid dan hexagonal

simpleks yang tersusun pada permukaan bagian dalam kornea.

Endothelium terbentuk dari sel ke stroma. Karena kornea

merupakan struktur avaskular maka untuk nutrisi kornea berasal

dari difusi pada lapisan endothelium.

Gambar 2.3 Lapisan kornea

d. Tunika Vaskulosa

1) Koroid

7
Koroid merupakan membran berbentuk spons berwarna coklat

dengan pleksus vena yang luas, yang memiliki 4 lapisan berikut:(2)

a. Lapisan epikoroid menjembatani ruang antara sklera dan koroid.

b. Lapisan pembuluh darah membentuk sebagian besar lapisan koroid

dan mengandung melanosit.

c. Koriokapilaris adalah lapisan kapiler dilapisi oleh endothelium

fenestratum tipe II yang memasok nutrisi ke bagian luar retina.

d. Membran Bruch adalah membran mengkilap dan homogen yang

terletak di antara koriokapilaris dan retina.

Gambar 2.4 Anatomi koroid

2) Iris

Iris merupakan bagian paling anterior dari uvea. Memiliki

apertura sentralis dan membentuk pupil. Pada daerah perifer, iris yang

melekat pada badan silia, dan pada bagian anterior, bersandar terhadap

permukaan anterior lensa, sehingga memisahkan ruang anterior dari

8
ruang posterior. Permukaan anterior tidak teratur dengan kriptus dan

alur-alur, sedangkan pada bagian posterior, permukaan menunjukkan

alur dangkal dan warna hitam seragam karena 2 lapisan epitel

berpigmen.(2)

Iris memiliki otot sfingter dan dilator pupil. Otot sfingter

pupillae terletak sebagai cincin halus pada margin pupil dan disuplai

oleh serabut parasimpatis dari CN III. Otot dilator pupillae tipis dan

berorientasi radial; otot ini diinervasi oleh saraf simpatis.(2)

e. Lensa

Lensa adalah struktur kristal, cembung pada kedua sisi, dan

ditutupi oleh kapsul lensa. Lensa melekat pada serat zonula yang

menempel ke badan siliar sebagai ligamentum suspensorium. Lensa

avaskular dan nutrisi untuk lensa berasal dari aqueous humor. Lensa

bersifat elastic dan transparan.(2)

Gambar 2.5 Anatomi Lensa

f. Kamera Okuli

9
Ruang anterior atau kamera okuli anterior adalah ruang yang

dibatasi oleh permukaan anterior posterior (endothelium) kornea, dan

posterior oleh lensa, iris, dan permukaan anterior korpus siliaris. Kamera

okuli anterior melingkar dengan batas lateral dari ruang anterior ditempati

oleh trabecular meshwork, dimana humor aqueous di drainase ke dalam

sinus vena skleral (kanal Schlemm).(2)

Ruang posterior dibatasi pada daerah anterior oleh iris dan

posterior oleh serat lensa dan serta zonula, dan perifer oleh prosesus

siliaris.(2)

Gambar 2.6 Gambaran kamera okuli, kanal Schlemm dan trabecular meshwork

g. Aqueous Humor

Aqueous humor adalah cairan yang mengisi kedua kamera okuli

anterior dan posterior mata. Aqueous humor disekresi sebagian oleh epitel

silia dan sebagian oleh difusi dari kapiler dalam prosesus siliaris. Aqueous

humor mengandung bahan plasma darah diffusable namun memiliki

kandungan protein yang rendah.(2)

h. Sinus Venous Sklera

10
Sinus vena skleral, atau kanal Schlemm, adalah pembuluh darah

melingkar mengelilingi mata. Kanal ini dibatasi oleh endothelium dan

fungsinya adalah untuk mengalirkan aquoer humor.(2)

i. Trabekula Meshwork

Trabecular meshwork adalah jaringan seperti spons yang berada

disela antara kamera okuli anterior dan sinus vena skleral. Trabekula yang

terdiri dari inti serat kolagen yang ditutupi oleh endothelium.(2)

j. Badan Vitreous

Badan vitreous adalah gel transparan dan jernih yang mengisi

ruang antara retina dan lensa yang melekat ke retina. Fungsinya adalah

untuk mempertahankan bentuk dan turgor mata serta untuk

memungkinkan lewatnya sinar cahaya ke retina.(2)

Gambar 2.7 Badan Vitreus

k. Retina

Retina adalah lapisan terdalam dari bola mata, yang terdiri dari sel-

sel fotoreseptor, di kutub posterior, depresi dangkal disebut fovea sentralis.

Daerah ini adalah titik ketajaman visual terbesar. Daerah ini terdiri dari

11
hanya sel kerucut. Sekitar fovea merupakan daerah yang mengandung

pigmen kuning disebut macula lutea.(2)

Lapisan retina adalah sebagai berikut:(2)

1) Epitel pigmen (lapisan yang paling dekat ke lapisan koroid)

2) Lapisan sel batang dan kerucut

3) Membrane limiting eksternal

4) Lapisan nuclear eksterna

5) Lapisan plexiform eksterna

6) Lapisan nuclear interna

7) Lapisan plexiform interna

8) Lapisan sel ganglion

9) Lapisan serat saraf optic

10) Membrane limiting internal (lapisan yang paling dekat dengan tubuh

vitreous)

12
Gambar 2.8 Lapisan Retina

Gambar 2.9 Gambaran funduskopi mata

2.2 Definisi

Panoftalmitis ialah peradangan pada seluruh bola mata yang juga

termasuk sklera dan kapsul Tenon sehingga bola mata merupakan rongga

abses dan termasuk tahapan setelah terjadi endophtalmitis. Infeksi yang

masuk kedalam bola mata dapat melalui peredaran darah (secara endogen)

13
atau perforasi dari bola mata (secara eksogen), dan dapat pula merupakan

akibat tukak kornea perforasi.3

Panophthalmitis merupakan suatu peradangan yang biasanya

disebabkan oleh infeksi yang mempengaruhi semua struktur dari mata.

Biasanya keadaan ini terjadi pada pasien yang memiliki kekurangan dalam

sistem kekebalan tubuh untuk setiap penyakit yang kronis seperti diabetes

atau infeksi oleh virus HIV, atau dapat pula sebagai akibat dari trauma atau

operasi pada mata yang menyebabkan terbentuknya jalur yang dapat

membuat mikroba menembus ke dalam bola mata.3

2.2 Etiologi dan Faktor Risiko

Panoftalmitis disebabkan oleh masuknya organisme piogenik

kedalam mata melalui luka yang terdapat pada kornea yang terjadi secara

kebetulan atau merupakan akibat dari operasi atau akibat mengikuti

perforasi suatu ulkus kornea, penyebab panophtalmitis ini sama dengan

endophtalmitis. Kemungkinan dapat disebabkan oleh adanya metastasis

alamiah dan terjadi dalam kondisi seperti pyaemia, meningitis maupun

septikaemia purpural.3

14
Data menunjukkan bahwa kebanyakan kasus terjadi akibat faktor

eksogen pada kasus pembedahan intraocular (62%), masuknya benda

asing ke dalam mata (20%), komplikasi pembedahan filtrasi anti-glukoma

(10%), pembedahan lainnya (keratoplasti, vitrectomi, implantasi lensa

intraocular) dengan jumlah kasus yang lebih sedikit. Hanya 2-8% kasus

endoftalmitis yang disebabkan faktor endogen.4

Pneumococcus merupakan suatu organisme yang paling sering

menyebabkan panoftalmitis, disamping itu dapat pula disebabkan oleh

Streptococcus, Staphylococcus dan E.coli. Selain itu, jamur (seperti

Candida albicans, Histoplasma, Cryptococcus, dll), parasit (seperti

Toxoplasma, Toxocara, dll), serta virus (sepert CMV, HIV, dll) juga dapat

menyebabkan terjadinya panoftalmitis. 4

2.3 Epidemologi

Di Amerika Serikat, panopthalmitis postcataract merupakan bentuk yang

paling umum, dengan sekitar 0,1-0,3% dari operasi yang memiliki komplikasi

ini, dan kejadian ini telah meningkat selama beberapa tahun terakhir.

Posttraumatic panopthalmitis terjadi pada 4-13% dari semua cedera penetrasi

okular. sedangkan kejadian panopthalmitis akibat benda asing intraokular

adalah sekitar 7-31%.

2.4 Patofisiologi

Panoftahlamitis atau peradangan supuratif pada isi bola mata

memiliki gejala yaitu terdapatnya nanah, palpebra yang bengkak, dan mata

masih dapat digerakkan apabila pus keluar karena perforasi, panas, tetapi

tekanan bola mata menjadi menurun, jaringan yang mengkerut, kemudian

15
akan menjadi ptisis bulbi. Terjadinya panofthalmitis biasanya dikarenakan

infeksi eksogen, misalnya pascabedah intraocular (terutama ekstraksi

katarak), trauma tembus, atau tukak kornea yang mengalami perforasi.5

Terjadinya trauma penetrasi, maka korpus vitreum bagian yang

pertama kali akan terkena kemudian pada uvea dan retina yang juga dapat

ikut terkena. Kasus metastasis, peradangan dimulai dengan terjadinya

emboli septik pada arteri retina dan arteri choroid. Keadaan ini biasanya

mengenai kedua mata, bila pada kasus perforasi ulkus kornea atau infeksi

pasca bedah intra-ocular, peradangan dimulai dengan iridocyclitis jika

infeksi tidak terlalu virulent, dapat dikontrol dengan pengobatan sedini

mungkin. Tapi jika kuman terlalu virulent, peradangan purulen akan

berangsur-angsur menyebar ke bagian uvea posterior dan mengenai

seluruh jaringan uvea dan retina, akhirnya terjadi pembentukan pus atau

nanah dalam bola mata meskipun diobati.2

Infeksi endogen biasanya melalui hematogen dan merupakan

penyulit dari bakteremia atau septikemia. Dan sangat jarang terjadi adanya

invasi infeksi orbita ke dalam bola mata yang bersifat langsung.

Bakteri

Bila panoftalmitis yang disebabkan karena bakteri, maka

perjalanan penyakitnya akan cepat dan berat.2

a. Pseudomonas

Bakteri batang gram negatif, bergerak, aerob; beberapa diantaranya

menghasilkan pigmen yang larut dalam air. Bakteri ini merupakan bakteri

tipe ganas, merupakan patogen utama bagi manusia. Bisa menghancurkan

semua bagian termasuk kornea; sekret purulen, berupa nanah biru

16
kehijauan; mempunyai zat proteolitik yang dapat menghancurkan fibrin;

banyak sel-sel yang mati, terutama leukosit, dan jaringan nekrosis.


b. Staphylococcus

Adalah bakteri gram positif berbentuk bulat, biasanya tersusun dalam

rangkaian tak beraturan separti anggur. Bakteri ini mampu menghasilkan

substansi (eksotoksin, leukosidin, koagulase, dan enterotoksin), substansi

ini meningkatkan kemampuannya untuk berlipat ganda dan menyebar

secara luas ke dalam jaringan dan menghasilakan sekret mucopurulen

(kental berwarna kekuningan, elastis). Permukaan Stafilokok ditutupi

dengan substansi yang dinamakan protein A, yang menghambat

fagositosis. Bakteri stafilokok yang telah difagostosis masih mampu

bertahan dalam jangka waktu lama.


c. Streptococcus

Adalah bakteri gram positif berbentuk bulat yang secara khas membentuk

pasangan atau rantai selama masa pertumbuhan. Sekret pseudo-

membranacea, seolah-olah melekat pada konjungtiva tetapi mudah diambil

dan tidak mengakibatkan pedarahan; infeksi oleh bakteri ini akan

membentuk sekret, terdapatnya sel-sel lepas dan jaringan

nekrotik,sehingga terjadi defek pada konjungtiva.

Parasit

a. Toxoplasma gondii

Lesi okuler mungkin didapat inutero atau muncul sesudah serangan

infeksi sistemik akut. Toksoplasmosis adalah penyebab retinokoroiditis

paling umum pada manusia. Kucing peliharaan dan spesies kucing lain

berfungsi sebagai hospes definitif bagi parasit ini. Wanita peka terkena

penyakit ini selama kehamilan dapat menularkan penyakit ini ke janin.

17
Sumber infeksi pada manusia adalah ookista di tanah atau lewat udara ikut

debu, daging kurang matang yang mengandung bradizoit (parasit bentuk

kista), dan takizoit (bentuk proliferatif), yang diteruskan melalui plasenta.

Tanda dan gejala infeksi parasit ini yaitu seperti melihat benda

mengambang, penglihatan kabur, atau fotofobia. Lesi okuler berupa

daerah-daerah retinokoroiditis fokal nekrotik keputih-putihan, kecil atau

besar, satu-satu atau mulipel. Lesi yang aktif dapat bersebelahan dengan

parut retina yang telah sembuh dan dikelilingi edem retina. Dapat terjadi

vaskulitis retina, yang menimbulkan perdarahan retina. Peradangan

berakibat terlihatnya sel-sel didalam vitreus dan eksudasi. Mungkin juga

akan menimbulkan edem pada makula kistoid. Iridosklitis sering dijumpai

pada pasien retinokoroiditis toksoplasmik.

b. Toxocara cati dan Toxocara canis

Toksokariasis okuler dapat terjadi tanpa manifestasi sistemik. Anak-

anak yang rentan terkena penyakit ini, berhubungan erat dengan binatang

peliharaan dan karena memakan kotoran yang terkontaminasi ovum

Toxocara. Telur yang termakan membentuk larva yang menembus mukosa

usus dan masuk ke dalam sirkulasi sistemik, dan akhirnya sampai di mata.

Tanda dan gejala larva Toxocara diam di retina dan mati, menimbulkan

reaksi radang hebat dan pembentukan antibodi Toxocara setempat.

Keluhan berupa penglihatan kabur, atau pupil keputihan. Terdapat tiga

presentasi klinik, yaitu endoftalmitis, granuloma posterior lokal, dan

granuloma posterior perifer dengan uveitis intermediate.

Virus

18
Manifestasi okuler pada infeksi HIV adalah bintik ”cotton wool”,

peradarahan retina, sarcoma Kaposi pada permukaan mata dan adneksa,

dan kelainan neurooftalmologik pada penyakit intrakranial. Selain itu

sering terkena infeksi oportunistik. Retinopati sitomegalovirus adalah

penyakit yang membutakan dan merupakan infeksi okuler paling umum.

Jamur

Bila panoftalmitis akibat jamur perjalanan penyakit akan berjalan

perlahan-lahan dan malahan gejala akan terlihat setelah beberapa minggu

setelah terjadinya infeksi. Candida albicans adalah salah satu jamur

oportunis yang terpenting. Lesi candida awal berwujud retinitis

granulomatosa nekrotikans fokal dengan atau tanpa koroiditis, yang

ditandai lesi eksudatif putih berjonjot yang berhubungan dengan sel-sel

dalam badan kaca yang menutupi lesi tersebut. Lesi ini bisa menyebar dan

mengenai saraf optik dan struktur mata lainnya. Jamur ini juga bisa

menyebabkan endoftalmitis, panoftalmitis, bercak Roth, papilitis, dan

ablasi retina. Penyebaran ke badan kaca dapat mengakibatkan terjadinya

abses badan kaca. Juga bisa akan terjadi uveitis anterior dengan sel-sel dan

flare di dalam bilik mata depan, serta hipopion.

2.5 Penegakan Diagnosis

1. Anamnesis

Pada umumnya pasien datang dengan keluhan:

a. Demam

b. Sakit kepala

c. Muntah

19
d. Rasa nyeri

e. Mata merah

f. Kelopak mata bengkak atau edem

g. Penurunan tajam penglihatan

2. Pemeriksaaan fisik

Pada pemeriksaan, ditemukan:

a. Kongesti konjungtiva dengan injeksi ciliar hebat

b. Khemosis konjungtiva selalu ada dan kornea tampak keruh

c. Kamera oculi anterior sering menunjukkan pembentukan hypopion

d. Pupil mengecil dan menetap

e. Reflek berwarna kuning terlihat pada pupil dengan illuminasi oblique

f. Eksudasi purulen dalam vitreus humor

g. Peningkatan intra okuler.

h. Proptosis derajat sedang serta gerakan bola mata terbatas disebabkan

peradangan pada kapsul Tenon’s (Tenonitis).

3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan klinis yang baik dibantu slit lamp, sedangkan untuk

mencari penyebabnya ditegakkan berdasarkan pemeriksaan mikroskpik

dan kultur. Diagnosis laboratorium panoftalmitis secara integral berkaitan

dengan terapinya. Biasanya cairan badan kaca (corpus vitreum) diambil

untuk contoh pada waktu dikerjakan debridemen rongga badan kaca

(vitrekomi).5

20
Gambar 3. Mata dengan panophtalmitis

Gambar 4. Mata kiri dengan proptosis dan lid oedem

Gambar 5. Mata dengan panophtalmitis, ditemuykan kemosis dan

kornea haze pada mata kiri

2.6 Rencana Terapi

Pada tahap awal, tepi luka, baik itu luka karena operasi atau

kecelakaan, harus di cauterisasi dengan asam carbolic murni. Pengobatan

dengan antibiotik dosis tinggi lokal dan sistemik harus segera dimulai,

seperti Vancomycin dan obat-obat sulfa, misalnya Trimethoprim-

sulfamethoxazole. Deksametason Na fosfat 1 mg, neomisina 3,5 mg,

21
polimiksina B sulfat 6000 UI (kandungan tiap ml tetes mata atau g salep

mata).7

Jika peradangan terjadi pada segmen anterior bola mata,

pengobatan yang intensif dengan kompres hangat, atropin lokal dan

sulfonamide sistemik serta antibiotik sebaiknya diperiksa kemajuannya.

Jika penyebabnya jamur diberikan amfotererisin B150 mikrogram sub

konjungtiva, flusitosin, ketokonazol secara sistemik, dan vitrektomi.

Penyebab parasit (toxoplasma) diberikan pyrimetamine, 25 mg

peroral per hari, sulfadiazine, 0,5 g per oral empat kali sehari selama 4

minggu. Selain itu mg kalsium leukovorin per oral dua kali seminggu, dan

urin harus tetap dijaga agar tetap alkalis dengan minum satu sendok teh

natrium bikarbonat setiap hari. Alternatif lain clindamicyn, 300 mg per

oral empat kali sehari, dengan trisulfapyrimidine, 0,5-1 g peroral empat

kali sehari. Antibiotik lain spiramycin dan minocycline. Toksokakariasis

okuler pengobatan dengan kortikosteroid secara sistemik atau periokuler

bila ada tanda reaksi radang intra okuler, dipertimbangkan vitrektomi pada

pasien dengan fibrosis vitreus nyata. 8

Sedangkan bila penyebabnya virus dapat diberikan sulfasetamid dan

antivirus (IDU). Apabila mata sudah tidak dapat diselamatkan lagi harus

segera dilakukan eviserasi.7

Eviserasi

Adalah suatu tindakan operasi dimana isi bola mata dikeluarkan dan

scleral cup disingkirkan. Hal ini biasanya dilakukan pada kasus supuratif

intra-ocular (panoftalmitis), perdarahan anterior staphyloma dan trauma

penetrans pada bola mata dengan keluarnya isi bola mata.8

2.7 Prognosis

22
Prognosis mata yang terinfeksi oleh staphylococcus epidermidis

keadaannya lebih baik, tetapi jika infeksinya karena Pseudomonas atau

spesies gram negatif lainnya prognosisnya tetap buruk dan sangat buruk

terutama bila disebabkan jamur atau parasit.10

23
BAB III

KESIMPULAN

1. Panoftalmitis merupakan peradangan pada seluruh bola mata yang juga

termasuk sklera dan kapsul Tenon sehingga bola mata merupakan rongga

abses.
2. Penyebab panoftalmitis yaitu Streptococcus, Staphylococcus dan E.coli,

jamur (seperti Candida albicans, Histoplasma, Cryptococcus, dll), parasit

(seperti Toxoplasma, Toxocara, dll), serta virus (sepert CMV, HIV, dll).
3. Infeksi yang masuk kedalam bola mata dapat melalui peredaran darah

(secara endogen) atau perforasi dari bola mata (secara eksogen), dan dapat

pula merupakan akibat tukak kornea perforasi.


4. Prognosis untuk mata yang terinfeksi oleh staphylococcus epidermidis

keadaannya lebih baik, tetapi jika infeksinya karena Pseudomonas atau

spesies gram negatif lainnya prognosisnya buruk.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. DanielEJ. Edophthalmitis.
Download:http://emedicine.medscape.com/article/799431-
overview#showall at 2016 September 19th.

2. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-3.Balai Penerbit FKUI: Jakarta;


2006.h.177-178.

3. Drake R, Vogi AW, Mitchell AW. Gray’s anatomy for student:


Elsevier.Sciences; 2014.

4. James, Bruce. Lecture Notes Oftalmologi. Edisi ke-9. Penerbit Erlangga:


Jakarta; 2006.

5. Ilyas S, Atlas Ilmu Penyakit Mata, Sagung Seto, Jakarta, 2001: 53.

6. Kumar R, Garg N, Kumar N, Wagoner NV. Bacillus cereus panopthalmitis


assosiated with injection drug. International Journal of Infectious
Diseases; 2014.p.165-6.

7. Vaugh, Daniel G. Oftalmologi Umum. Edisi ke-14. Widya Medika:


Jakarta; 2008: 155-165.

8. American Academy of Ophthalmology: Basic and clinical science course:


orbit, eyelids, and lacrimal system. Section 7. American Academy of
Ophthalmology: Chicago; 2014.p.119-20.

9. Nerald JS, Carter KD, Alford MA: Lower eyelid involutional changes. In
rapid diagnosis in ophthalmology - oculoplastic and recontructive surgery.
Philadelphia: Mosby Elsevier; 2008.p. 68-79.

10. Ababneh OH, Abotaleb EA, Ameerh MAB, Yousef YA. Enucleation and
evisceration at tertiary care hospital in developoing country. BMC
ophthalmology; 2015.p.120.

25