Anda di halaman 1dari 8

DEFINISI DIAGNOSIS TATALAKSANA

SEPSIS Sepsis merupakan respons  Hyperthermia/hypothermia Penatalaksanaan sepsis yang optimal mencangkup
sistemik terhadap infeksi (>38°C; <35,6°C) stabilisasi pasien langsung (perbaikan hemodinamik),
dimana pathogen atau toksin  Tachypneu (respiratory rate pemberian antibiotik, pengobatan fokus infeksi dan
dilepaskan ke dalam sirkulasi >20/menit) resusitasi serta terapi suportif apabila telah terjadi disfungsi
darah sehingga terjadi  Tachycardia (pulse >100/menit) organ. Perbaikan hemodinamik harus segera dilakukan
aktivitas proses inflamasi.  >10% cell immature seperti airway, breathing circulation
(infeksi dan inflamasi).  Suspected infection 3 kategori untuk memperbaiki hemodinamik pada sepsis,

Indikasi laboratorium pada sepsis yaitu : 6


terletak pada Tabel 3
1. Terapi cairan
SEVERE Sepsis berat yaitu sepsis yang  Hyperthermia/hypothermia
SEPSIS disertai dengan kegagalan (>38°C; <35,6°C) Karena sepsis dapat menyebabkan syok disertai

organ multipel/ Multiple  Tachypneu (respiratory rate demam, venadilatasi dan diffuse capillary leackage
Organ Dysfunction/Multiple >20/menit)
 inadequate preload sehingga terapi cairan
Organ Failure  Tachycardia (pulse
(MODS/MOF). >100/menit) merupakan tindakan utama

 >10% cell immature 2. Terapi vasopresor


 Suspected infection
Bila cairan tidak dapat mengatasi cardiac output
Ditambah dengan disfungsi
organ seperti : (arterial pressure dan perfusi organ tidak adekuat)

 Hipoksemia arteri (rasio dapat diberikan vasopresor potensial seperti


tekanan parsial oksigen arteri
norepinefrin, dopamine, epinefrin dan
[PaO2] terhadap fraksi oksigen
inspirasi [FiO2] < 300)
 Oliguria akut (urine output< phenylephrine
0,5 ml / kg / jam atau 45 ml /
3. Terapi inotropik
jam selama minimal 2 jam)
Bila resusitasi cairan adekuat tetapi kontraktilitas
 Kenaikan tingkat kreatinin >
0,5 mg / dl (> 44 umol / liter) miokard masih mengalami gangguan dimana
 Kelainan koagulasi (INR > 1,5
kebanyakan pasien akan mengalami cardiac output
aPTT > 60 detik)
yang turun sehingga diperlukan inotropik seperti
 Ileus paralitik (tidak adanya
bising usus) dobutamin, dopamine dan epinefrin.
 Trombositopenia (jumlah
 Antibiotik
trombosit < 100.000 / mm3) Sesuai jenis kuman atau tergantung suspek tempak
 Hiperbilirubinemia (plasma
infeksinya
bilirubin total > 4 mg / dl [ 68
umol / liter ])  Fokus infeksi awal harus diobati

Hilangkan benda asing yang menjadi


SYOK Syok septik adalah subset dari Kriteria diagnostik untuk Sepsis,
sumber infeksi. Angkat organ yang terinfeksi,
SEPSIS sepsis berat, yang Severe Sepsis dan Septic shock
hilangkan atau potong jaringan yang menjadi
didefinisikan sebagai Sepsis Pada Tabel 4.
hipotensi (tekanan sistolik gangrene, bila perlu dokonsultasikan ke bidang
<90 mmHg atau penurunan
terkait seperti spesialis bedah, THT dll. 10
tekanan sistolik >40 mmHg).
yang diinduksi oleh sepsis dan  Terapi suportif, mencangkup :15

menetap kendati telah o Pemberian elektrolit dan nutrisi


mendapat resusitasi cairan,
o Terapi suportif untuk koreksi fungsi ginjal
serta disertai dengan
hipoperfusi jaringan. o Koreksi albumin apabila terjadi hipoalbumin

o Regulasi ketat gula darah

o Heparin sesuai indikasi

o Proteksi mukosa lambung dengan AH-2 atau

PPI

o Transfuse komponen darah bila diperlukan

o Kortikosteroid dosis rendah (masih

kontroversial)

o Recombinant Human Activted Protein C :

Merupakan antikoagulan yang menurut hasil uji

klinis Phase III menunjukkan drotrecogin alfa

yang dapat menurunkan resiko relative

kematian akibat sepsis dengan disfungsi organ

akut yang terkait sebesar 19,4% yang dikenal

dengan nama zovant.

Alogaritma tatalaksana sepsis tergambar dalam

Tabel 1 dan Tabel 2


Tabel 1. ALOGARITMA SEPSIS
Tabel 2. ALOGARITMA EARLY GOAL DIRECTED THERAPHY
Tabel 3. INDIKASI LABORATORIUM PADA SEPSIS
Tabel 4. TANDA-TANDA AWAL TERJADINYA SEPSIS
Kriteria diagnostik untuk Sepsis, Severe Sepsis dan Septic shock
Sepsis (didokumentasikan atau dicurigai infeksi ditambah ≥ 1 dari berikut)
Variabel umum :
 Demam (suhu > 38,3 ° C)
 Hipotermia (suhu < 36 ° C)
 Denyut jantung meningkat (> 90 denyut per menit atau > 2 SD di atas batas atas dari kisaran normal
untuk usia)
 Takipnea
 Perubahan status mental
 Edema substansial atau keseimbangan cairan positif (> 20 ml / kg berat badan selama periode 24 jam)
 Hiperglikemia (glukosa plasma > 120 mg / dl [6,7 mmol / liter] tanpa adanya diabetes)
Variabel inflamasi
3
 Leukositosis (jumlah sel darah putih > 12.000 / mm )
3
 Leukopenia ( jumlah sel darah putih < 4000/mm )
 Neutrofil imatur (batang)> 10 %
 Peningkatan CRP ( > 2 SD di atas batas atas dari kisaran normal )
 Peningkatan procalcitonin plasma (>2 SD di atas batas atas dari kisaran normal)
Variabel hemodinamik
 Hipotensi (tekanan darah sistolik < 90 mm Hg atau MAP < 70 mm Hg atau penurunan TD sistolik > 40
mm Hg pada orang dewasa atau > 2 SD di bawah batas bawah dari kisaran normal untuk usia)
 Saturasi oksigen vena campuran meningkat (> 70 %)
 Indeks jantung meningkat (> 3,5 liter / menit / meter persegi luas permukaan tubuh)
Variabel disfungsi organ
 Hipoksemia arteri (rasio tekanan parsial oksigen arteri [PaO2] terhadap fraksi oksigen inspirasi [FiO2] <
300)
 Oliguria akut (urine output< 0,5 ml / kg / jam atau 45 ml / jam selama minimal 2 jam)
 Kenaikan tingkat kreatinin > 0,5 mg / dl (> 44 umol / liter)
 Kelainan koagulasi (INR > 1,5 aPTT > 60 detik)
 Ileus paralitik (tidak adanya bising usus)
3
 Trombositopenia (jumlah trombosit < 100.000 / mm )
 Hiperbilirubinemia (plasma bilirubin total > 4 mg / dl [ 68 umol / liter ])
Variabel perfusi jaringan
 Hiperlaktatemia (laktat> 1 mmol / liter)
 Penurunan pengisian kapiler dan mottling
Sepsis berat (sepsis ditambah disfungsi organ)
Syok septik (sepsis ditambah baik hipotensi [refrakter terhadap cairan intravena] atau hiperlaktatmia)
TUGAS

RINI RISNAWATI TARDI

030.13.168