Anda di halaman 1dari 60

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Para orang tua modern merasa nyaman dengan penggunaan diaper

atau popok bayi sekali pakai, karena mereka tidak perlu bersusah payah

untuk mencuci dan menjemur tumpukan popok bayi seperti pada masa orang

tua mereka dulu. Salah satu masalah kesehatan kulit yang sering terjadi pada

bayi adalah diaper rash (ruam popok), bagi bayi yang sering menggunakan

popok, maka anda juga harus rajin memperhatikan popoknya. Karena

kepraktisannya saat penggunaan dan kelalaian saat menggantinya sang

bayilah yang mendapatkan dampak buruknya, seperti iritasi pada kulit bayi,

sehingga mengakibatkan bayi menjadi rewel. Diaper rash (ruam popok)

pada bayi membuat kulit kemerahan, agak membentol. Bayi yang terkena

diaper rash (ruam popok) biasanya akan rewel, karena dengan cara

itulah mengekspresikan rasa tidak nyaman (Shelly Sim, 2014).

Di Amerika Serikat terdapat sekitar satu juta kunjungan bayi dan anak

dengan ruam popok yang berobat jalan setiap tahun. Penelitian di Inggris

menemukan, 25% dari 12000 bayi berusia 4 minggu mengalami ruam popok.

Gangguan kulit ini menyerang bagian tubuh bayi atau anak yang tertutup

popok. Daerah yang terserang biasanya area genetal, lipatan paha dan bokong

(Steven, 2008).
2

Insiden ruam popok di Indonesia mencapai 7-35%, yang menimpa

bayi laki-laki dan perempuan berusia dibawah tiga tahun (Kabarbisnis, 2010).

Jumlah Balita di Jatim 2011 kurang lebih 3,2 juta jiwa (Pusat Data Dan

Informasi Departemen Kesehatan RI, 2009). Setidaknya 50% bayi yang

menggunakan popok mengalami hal ini. Mulai terjadi pada usia beberapa

minggu hingga 18 bulan (terbanyak terjadi di usia bayi 6-9 bulan) (Rahmat

hidayat, 2011). Gangguan kulit ini biasanya menyerang bagian tubuh bayi

yang tertutup popok. Daerah yang terserang biasanya area genetalia, area

sekitar anus, lipatan paha, dan pantat (Wahyuni, 2013). Sedangkan pasien

yang dirawat di Puskesmas Mungkid Kota Magelang dalam dua bulan

terakhir pada tahun 2016, dari 41 pasien bayi yang berkunjung, sebanyak

15 bayi (37,5%) pasien menderita diaper crash.

Ketepatan dalam perawatan daerah perianal memerlukan ketepatan

ketrampilan dan sikap ibu dalam menjaga kesehatan kulit bayi. Kebanyakan

ibu lebih memilih diapers dari pada memilih popok kain, dengan alasan

diapers bayi lebih praktis karena tidak perlu sering mengganti popok yang

basah akibat buang air, selain itu membuat rumah lebih bersih tidak terkena

air kencing bayi. Diapers juga membuat pekerjaaan ibu menjadi lebih ringan

karena tidak perlu mencuci, menjemur, menyetrika setumpuk popok. Pada

sisi buruknya penggunaan diapers dapat menyebabkan terjadinya diaper rash

(ruam popok) (Handy, dalam Fransiska 2011).

Pengetahuan, ketrampilan dan sikap ibu dalam menjaga kesehatan

kulit bayi sangat diperlukan. Kebanyakan ibu lebih memilih diapers dari pada
3

memilih popok kain, dengan alasan diapers bayi lebih praktis karena tidak

perlu sering mengganti popok yang basah akibat buang air, selain itu

membuat rumah lebh bersih tidak terkena air kencing bayi. Diapers juga

membuat pekerjaan ibu lebih ringan karena tidak perlu mencuci, menjemur,

menyetrika setumpuk popok. Pada sisi buruknya penggunaan diapers dapat

menyebabkan terjadinya diapers rash atau ruam popok. (Handy, 2011).

Pengetahuan ibu dalam pemakaian popok dan perawatan daerah yang

tertutup popok pada bayi di Indonesia ternyata masih rendah. Penelitian

terdahulu menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki

pengetahuan cukup sebanyak 30 orang (45,5%), terdapat tindakan yang salah

dalam perawatan daerah yang tertutup popok terhadap pencegahan

terajadinya dermatitis diapers/ruam popok pada neonatus yaitu sebanyak 30

orang (45,5%) (Manulang, 2010).

Kurangnya pengetahuan ibu saat terjadi ruam popok pada bayi,

mengakibatkan ibu merasa gugup, ketakutan, dan merasa bersalah atas

keteloderannya terhadap bayinya. Seolah-olah ibu beranggapan bahwa kurang

memperhatikan bayinya tersebut. Sering kali ibu dalam penggunaan popok

sekali pakai tidak melihat jenis popoknya atau kualitas popok tersebut.

Biasanya ibu-ibu menganggap bahwa popok sekali pakai itu aman sehingga

ibu-ibu tidak memperhatikan daya tampung dan daya serat popok. Ibu

biasanya mengganti popok sekali pakai tidak sesuai dengan aturan

penggunaan popok sekali pakai secara benar. Ruam popok juga bisa

disebabkan karena kulit yang terkena urin atau feses yang berlangsung lama,
4

bisa juga disebabkan oleh infeksi jamur candida, biasanya menyebabkan

ruam merah terang pada lipatan kulit dan bercak kecil merah (Muftahah,

2007).

Sebagai upaya mengatasi kurangnya ketrampilan dan sikap ibu

tentang diaper rash maka perlu dilakukan upaya penyuluhan atau pendidikan

kesehatan yang melibatkan tenaga kesehatan atau bidan di wilayah kerja

puskesmas masing-masing, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam

perawatan kulit bayi yang biasa terjadi di masyarakat umum. Pendidikan

kesehatan yang bisa dilakukan adalah memberikan contoh memandikan

secara teratur, mengganti popok atau baju pada saat yang tepat, memilih

bahan pakaian yang lembut, memilih kosmetik berupa sabun mandi, sampo

dan minyak khusus bayi dipilih dengan tepat dan disesuaikan dengan keadaan

kulit bayi (Sudilarsih, 2010).

Ketrampilan dan sikap ibu dalam perawatan daerah perianal sama

halnya dengan merawat kulit bayi dari kegiatan sehari-hari, misalnya seperti

memandikan secara teratur, mengganti popok atau baju pada saat yang tepat,

memilih bahan pakaian yang lembut, memilih kosmetik berupa sabun mandi,

sampo dan minyak khusus bayi dipilih dengan tepat dan disesuaikan dengan

keadaan kulit bayi (Sudilarsih, 2010). Pemakaian diaper dengan cara yang

benar dapat mengurangi bahkan menghindari terjadinya diaper rash. Memilih

popok yang terbuat dari bahan katun yang lembut, jangan terlalu sering

menggunakan diaper, memakaikan diaper dengan benar dan tidak terlalu

ketat sehingga kulit bayi tidak tergesek, mengganti diaper segera mungkin
5

bila terlihat sudah menggelembung, membersihkan urin atau kotoran dengan

baik, karena kulit yang tidak bersih sangat mudah mengalami diaper rash

(ruam popok) (Suririnah, 2011).

Berdasarkan survei awal yang sudah peneliti lakukan di Desa

Rambeanak Kecamatan Mungkid Magelang, diperoleh data ada 32 bayi yang

menggunakan popok dan dari lima bayi yang di observasi terdapat dua bayi

yang terlihat bercak kemerahan di daereh popok, dan sekitar paha dan masih

ada ibu yang masih menaburkan bedak kedaerah lipatan paha, alat kelamin

dan bokong. Sehingga dapat disimpulkan bahwa masih ada ibu yang

mempunyai ketrampilan yang kurang dalam perawatan perianal bayi dan

masih ada ibu yang mempunyai sikap yang salah dalam melakukan perawatan

perianal pada bayinya.

Berdasarkan masalah dan beberapa fenomena di atas peneliti tertarik

untuk melakukan penelitian tentang “Peran pendidikan kesehatan dalam

meningkatkan ketrampilan ibu dalam praktik diaper rash di Desa Rambeanak

Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang ”

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang

menjadi fokus dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana pengaruh pendidikan

kesehatan dalam meningkatkan ketrampilan ibu dalam praktik diaper rash di

Desa Rambeanak Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang”.


6

C. Tujuan penelitian

1. Tujuan umum

Menganalisis peran pendidikan kesehatan dalam meningkatkan

ketrampilan ibu dalam praktik diaper rash di Desa Rambeanak Kecamatan

Mungkid Kabupaten Magelang

2. Tujuan khusus

a. Mendeskripsikan ketrampilan ibu tentang diaper rash sebelum

pendidikan kesehatan di Desa Rambeanak Kecamatan Mungkid

Kabupaten Magelang

b. Mendeskripsikan ketrampilan ibu tentang diaper rash sesudah

pendidikan kesehatan di Desa Rambeanak Kecamatan Mungkid

Kabupaten Magelang

c. Menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan dalam meningkatkan

ketrampilan ibu dalam praktik diaper rash di Desa Rambeanak

Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang


7

D. Manfaat penelitian

1. Bagi Ilmu pengetahuan

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi perkembangan

teknologi untuk dijadikan sebagai pertimbangan dan pengembangan ilmu

keperawatan yang terkait dengan masalah-masalah kesehatan anak.

2. Institusi (Fakultas Ilmu Kesehatan)

Bagi dunia pendidikan keperawatan khususnya Institusi Prodi D III

Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah

Semarang untuk pengembangan ilmu dan teori keperawatan khususnya

mata kuliah keperawatan anak.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Sebagai referensi peneliti selanjutnya dalam penelitian dan sebagai ilmu

pengetahuan baru yang dapat digunakan untuk informasi dalam penelitian.

4. Bagi ibu dan masyarakat

Meningkatkan kesadaran ibu dalam menerapkan pola hidup sehat dan

untuk mencegah timbulnya penyakit yang mungkin terjadi.

E. Keaslian penelitian

Penelitian-penelitian yang telah dilakukan terkait dengan perilaku ibu dalam

mencegah diaper rash adalah sebagai berikut:

1. Sri Nurhayati, Mariyam (2013) program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas

Ilmu Keperawatan dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Semarang

yang berjudul “Pengetahuan Dan Ketrampilan Ibu Dalam Perawatan


8

Daerah Perianal Pada Bayi Usia 0-12 Bulan Di Desa Surokonto Wetan

Kecamatan Pageruyung Kabupaten Kendal” dengan hasil penelitian

seluruh responden termasuk dalam kategori dewasa awal dan plaing

banyak berusia 22 tahun dengan tingkat pendidikan yang paling banyak

adalah SMP sebanyak 22 responden (44 %) serta mayoritas responden

bekerja sebagai ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 43 responden (86 %).

sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang sedang dalam

perawatan daerah perianal pada bayi sebanyak 23 (46%). sebagian

responden memiliki ketrampilan yang cukup dalam perawatan daerah

perianal sebanyak 23 (46%). Perbedaan dengan penelitian yang akan

dilakukan adalah terletak pada variabel yang akan diteliti, waktu, dan

tempat penelitian, sedangkan persamaanya adalah sama-sama meneliti

tentang penilaian seorang Ibu, dimana pada penelitian yang sudah

dilakukan difokuskan pada Pengetahuan Dan Ketrampilan Ibu Dalam

Perawatan Daerah Perianal Pada Bayi Usia 0-12, sedangkan pada

penelitian yang akan dilakukan difokuskan pada Perilaku Ibu Dalam

Mencegah Diaper Rash (Ruam Popok).

2. Rokhmiana, Umu (2012) Program Studi Ilmu Kebidanan, Fakultas Ilmu

Kesehatan Universitas Muhammadiyah Ponorogo yang berjudul

“Efektifitas Baby Oil Untuk Perawatan Perianal Dalam Mencegah Diaper

Dermatitis Pada Neonates” dengan penelitian analisa data diperoleh hasil

yaitu semua bayi yang mendapatkan perawatan perianal tanpa baby oil

yaitu 15 orang (100%) tidak mengalami diaper dermatitis dan semua bayi
9

yang mendapatkan perawatan perianal dengan baby oil yaitu 15 orang

(100%) juga tidak mengalami diaper dermatitis. Perbedaan dengan

penelitian yang akan dilakukan adalah terletak pada variabel yang akan

diteliti, waktu, dan tempat penelitian, sedangkan persamaanya adalah

sama-sama meneliti tentang diaper rash atau diaper dermatitis. Dimana

pada penelitian yang sudah dilakukan difokuskan pada Efektifitas Baby

Oil Untuk Perawatan Perianal Dalam Mencegah Diaper Dermatitis Pada

Neonates, sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan difokuskan

pada Perilaku Ibu Dalam Mencegah Diaper Rash (Ruam Popok).


10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pendidikan Kesehatan

1. Definisi Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan merupakan suatu bentuk tindakan mandiri

keperawatan untuk membantu klien baik individu, kelompok, maupun

masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui kegiatan

pembelajaran yang didalamnya perawat sebagai perawat pendidik

(Suliha,dkk,2002). Menurut Notoatmodjo (2010) pendidikan kesehatan

adalah upaya persuasi atau pembelajaran kepada masyarakat agar

masyarakat mau melakukan tindakan- tindakan untuk memelihara, dan

meningkatkan taraf kesehatannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa

pendidikan kesehatan adalah suatu bentuk kegiatan dengan

menyampaikan materi tentang kesehatan yang bertujuan untuk mengubah

perilaku sasaran.

2. Tujuan Pendidikan Kesehatan

Tujuan utama pendidikan kesehatan (Mubarak dan Chayati, 2009) yaitu:

a. Menetapkan masalah dan kebutuhan mereka sendiri.

b. Memahami apa yang dapat mereka lakukan terhadap masalahnya,

dengan sumber daya yang ada pada mereka ditambah dengan

dukungan dari luar.


11

c. Memutuskan kegiatan yang paling tepat guna untuk meningkatkan

taraf hidup sehat dan kesejahteraan masyarakat

3. Sasaran Pendidikan Kesehatan

Menurut Notoadmojo (2003) sasaran pendidikan kesehatan dibagi

dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu :

a. Sasaran Primer (Primary Target)

Masyarakat pada umumnya menjadi sasaran langsung

segala upaya pendidikan atau promosi kesehatan. Sesuai dengan

permasalahan kesehatan, maka sasaran ini dapat dikelompokkan

menjadi, kepala keluarga untuk masalah kesehatan umum, ibu hamil

dan menyusui untuk masalah KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), anak

sekolah untuk kesehatan remaja, dan juga sebagainya.

b. Sasaran Sekunder (Secondary Target)

Yang termasuk dalam sasaran ini adalah para tokoh

masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan sebagainya. Disebut

sasaran sekunder, karena dengan memberikan pendidikan

kesehatan kepada kelompok ini diharapkan untuk nantinya

kelompok ini akan memberikan pendidikan kesehatan kepada

masyarakat di sekitarnya.

c. Sasaran Tersier (Tertiary Target)

Para pembuat keputusan atau penentu kebijakan baik di

tingkat pusat, maupun daerah. Dengan kebijakan-kebijakan atau

keputusan yang dikeluarkan oleh kelompok ini akan mempunyai


12

dampak langsung terhadap perilaku tokoh masyarakat dan kepada

masyarakat umum.

4. Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan

Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari 3 dimensi

menurut Fitriani ( 2011) yaitu;

a. Dimensi sasaran

1) Pendidikan kesehatan individu dengan sasarannya adalah individu.

2) Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasarannya adalah

kelompok masyarakat tertentu.

3) Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasarannya adalah

masyarakat luas.

b. Dimensi tempat pelaksanaan

1) Pendidikan kesehatan di rumah sakit dengan sasarannya adalah

pasien dan keluarga

2) Pendidikan kesehatan di sekolah dengan sasarannya adalah

pelajar.

3) Pendidikan kesehatan di masyarakat atau tempat kerja dengan

sasarannya adalah masyarakat atau pekerja.

c. Dimensi tingkat pelayanan kesehatan

1) Pendidikan kesehatan untuk promosi kesehatan (Health

Promotion), misal: peningkatan gizi, perbaikan sanitasi

lingkungan, gaya hidup dan sebagainya.


13

2) Pendidikan kesehatan untuk perlindungan khusus (Specific

Protection) misal : imunisasi

3) Pendidikan kesehatan untuk diagnosis dini dan pengobatan tepat

(Early diagnostic and prompt treatment) misal : dengan

pengobatan layak dan sempurna dapat menghindari dari resiko

kecacatan.

4) Pendidikan kesehatan untuk rehabilitasi (Rehabilitation) misal :

dengan memulihkan kondisi cacat melalui latihan-latihan tertentu.

5. Langkah-langkah dalam Penyuluhan Kesehatan

Menurut Effendy (1998) dalam Fitriani (2011) ada beberapa

langkah yang harus ditempuh dalam melaksanakan penyuluhan

kesehatan masyarakat, yaitu :

a. Mengkaji kebutuhan kesehatan masyarakat

b. Menetapkan masalah kesehatan masyarakat

c. Memprioritaskan masalah yang terlebih dahulu untuk

ditangani melalui penyuluhan kesehatan masyarakat.

d. Menyusun perencanaan penyuluhan, seperti :

1) Menetapkan tujuan

2) Penentuan sasaran

3) Menyusun materi atau isi penyuluhan

4) Memilih metoda yang tepat

5) Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan


14

e. Pelaksanaan penyuluhan

f. Penilaian hasil penyuluhan

g. Tindak lanjut dari penyuluhan

6. Faktor-faktor Keberhasilan dalam pendidikan kesehatan

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan terhadap sasaran

dalam keberhasilan penyuluhan kesehatan menurut Notoatmojo (2007)

yaitu :

a. Faktor pendidik yang meliputi kurangnya persiapan, kurangnya

penguasaan materi yang akan dijelaskan oleh pemberi materi,

penampilam yang kurang meyakinkan sasaran, bahasa yang

digunakan kurang dapat dimengerti oleh sasaran, suara pemberi

materi yang terlalu kecil, dan penampilan materi yang monoton

sehingga membosankan.

b. Faktor sasaran yang meliputi tingkat pendidikan sasaran yg terlalu

rendah, tingkat sosial ekonomi sasaran yg terlalu rendah, kepercayaan

dan adat istiadat yang telah lama tertanam sehingga sulit untuk

mengubahnya, dan kondisi tempat tinggal sasaran yang tidak

memungkinkan terjadinya perubahan perilaku.

c. Faktor proses penyuluhan yang meliputi waktu penyuluhan tidak

sesuai dengan waktu yang diinginkan sasaran, tempat penyuluhan

yang dilakukan di tempat yang dekat keramaian sehingga menggangu

proses penyuluhan, jumlah sasaran yang terlalu banyak, alat peraga


15

dalam penyuluhan kesehatan kurang, metode yang digunakan kurang

tepat, dan bahasa yang digunakan sulit dimengerti oleh sasaran.

7. Metode Pendidikan Kesehatan

Menurut Notoadmojo (2010) agar mencapai suatu hasil yang

optimal, materi juga harus disesuaikan dengan sasaran. Demikian juga

alat bantu pendidikan. Untuk sasaran kelompok maka metodenya harus

berbeda dengan sasaran massa dan sasaran individual. Ada 3 macam

metode pendidikan kesehatan, yaitu :

a. Metode Pendidikan Individual (perorangan)

Metode ini digunakan untuk membina perubahan perilaku

baru, atau membina seseorang yang mulai tertarik kepada suatu

perubahan perilaku. Dasar digunakannya pendekatan individual ini

karena setiap orang mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-

beda sehubungan dengan perilaku tersebut. Bentuk pendekatan ini,

antara lain :

1) Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counceling)

Dengan cara ini kontak antara klien dan petugas lebih jadi lebih

efektif.

2) Interview (wawancara)

Cara ini sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan dan

penyuluhan. Wawancara antara petugas kesehatan dengan klien


16

untuk menggali informasi mengapa ia tidak atau belum menerima

perubahan.

b. Metode Pendidikan Kelompok

Dalam memilih metode pendidikan kelompok, harus diingat

besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dari

sasaran. Ada beberapa macam metode kelompok tersebut, yaitu:

1) Kelompok besar

Apabila peserta penyuluhan itu lebih dari 15 orang, antara lain

ceramah dan seminar.

a) Ceramah

Metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi

maupun berpendidikan rendah.

b) Seminar

Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan

pendidikan menengah ke atas. Seminar adalah suatu bentuk

penyajian dari satu ahli atau beberapa ahli tentang suatu topik

yang dianggap penting dan biasanya dianggap hangat di

masyarakat.

2) Kelompok Kecil

Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang biasanya

disebut kelompok kecil. Metode-metode yang cocok untuk

kelompok kecil ini antara lain :

a) Diskusi Kelompok
17

Untuk memulai diskusi, pemimpin diskusi harus memberikan

pancingan- pancingan yang berupa pertanyaan sehubungan

dengan topik yang dibahas. Sehingga terciptalah diskusi

kelompok.

b) Curah Pendapat (brain stroming)

Merupakan modifikasi diskusi kelompok, dimulai dengan

memberikan satu masalah, kemudian peserta memberikan

jawaban/tanggapan. Tanggapan/jawaban tersebut ditampung

dan ditulis dalam flipchart/papan tulis, sebelum semuanya

mencurahkan pendapat tidak boleh ada komentar dari siapa

pun. Setelah semuanya mengemukaan pendapat, baru tiap

anggota boleh berkomentar dan akhirnya terbentuklah diskusi.

c) Bola Salju (snow balling)

Kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan (1 pasang

2 orang) dan kemudian dilontarkan suatu pertanyaan atau

masalah. Setelah kurang lebih 5 menit maka tiap 2 pasang

bergabung menjadi satu. Mereka tetap mendiskusikan masalah

tersebut, dan mencari kesimpulannya. Kemudian tiap 2 pasang

yang sudah beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi dengan

pasangan lainnya dan demikian seterusnya sehingga akhimya

akan terjadi diskusi dari seluruh anggota kelompok.

d) Kelompok-kelompok kecil (buzz group)


18

Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok-kelompok

kecil yang kemudian akan diberi suatu permasalahan yang

sama atau tidak dengan kelompok lain dan masing-masing

kelompok mendiskusikan masalah tersebut. Selanjutnya

kesimpulan dari tiap kelompok tersebut didiskusikan kembali

dan dicari kesimpulannya.

e) Memainkan Peran (role play)

\Beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang

peran tertentu. Setelah mendapatkan peran mereka masing-

masing, mereka kemudian memainkan peran tersebut.

f) Permainan Simulasi (simulation game)

Metode ini merupakan gabungan antara role play dengan

diskusi kelompok. Pesan-pesan kesehatan disajikan dalam

bentuk permainan.

c. Metode Pendidikan Massa

Metode ini cocok untuk mengkomunikasikan pesan-pesan

kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat. Berikut ini ada

beberapa contoh metode untuk pendekatan massa, yaitu :

1) Ceramah Umum (public speaking).

2) Pidato-pidato/ diskusi tentang kesehatan dapat dilakukan

melalui media elektronik, baik televisi maupun radio.

3) Simulasi contohnya seperti dialog antara pasien dengan perawat.


19

4) Billboard biasanya dipasang di tempat-tempat umum dan diisi

dengan pesan- pesan atau informasi – informasi kesehatan.

8. Media Pendidikan Kesehatan

Media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan

dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien sehingga dapat

mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya. Tujuan penggunaan

media adalah untuk mempermudah sasaran memperoleh pengetahuan dan

ketrampilan. Kehadiran media mempunyai arti yang sangat penting, sebab

ketidakjelasan bahan yang akan disampaikan dapat dibantu dengan

menghadirkan media sebagai perantara (Mubarak dkk, 2006).

Berdasarkan fungsinya sebagai penyaluran pesan-pesan kesehatan

(media), media ini dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu Media Cetak, Media

Elektronik, dan Media Papan (Bill board).

a. Media Cetak

1) Booklet : digunakan untuk menyampaikan pesan dalam bentuk

buku, baik tulisan maupun gambar.

2) Leaflet : melalui lembar yang dilipat, isi pesan bisa gambar/tulisan

ataupun keduanya.

3) Flyer (selebaran) ; seperti leaflet tetapi tidak dalam bentuk

lipatan.

4) Flip chart (lembar Balik) ; pesan/informasi kesehatan dalam

bentuk lembar balik. Biasanya dalam bentuk buku, dimana tiap


20

lembar (halaman) berisi gambar peragaan dan di baliknya berisi

kalimat sebagai pesan/informasi berkaitan dengan gambar

tersebut.

5) Rubrik/tulisan-tulisan : pada surat kabar atau majalah, mengenai

bahasan suatu masalah kesehatan, atau hal-hal yang berkaitan

dengan kesehatan.

6) Poster : merupakan suatu bentuk media cetak berisi pesan-

pesan/informasi kesehatan, yang biasanya ditempel di tembok-

tembok, di tempat-tempat umum, atau di kendaraan umum.

7) Foto : digunakan untuk mengungkapkan informasi-informasi

kesehatan.

b. Media Elektronik

1) Televisi : dapat dalam bentuk sinetron, sandiwara, forum

diskusi/tanya jawab, pidato/ceramah, TV, quiz, atau cerdas cermat

2) Radio : bisa dalam bentuk obrolan/tanya jawab, ceramah. c. Video

Compact Disc (VCD)

3) Slide : digunakan untuk menyampaikan pesan/informasi

kesehatan.

4) Film strip : digunakan untuk menyampaikan pesan kesehatan.

c. Media Papan (Bill Board)

Papan/bill board yang dipasang di tempat-tempat umum dapat

dipakai diisi dengan pesan-pesan atau informasi – informasi


21

kesehatan. Media papan di sini juga mencakup pesan-pesan yang

ditulis pada lembaran seng yang ditempel pada kendaraan umum

(bus/taksi).

B. Ketrampilan

1. Pengertian

Ketrampilan berasal dari kata mampu yang berarti kuasa (bisa,

sanggup) melakukan sesuatu, sedangkan ketrampilan berarti

kesanggupan, kecakapan, kekuatan (Tim Penyusun Kamus Besar

Bahasa Indonesia, 2005: 552-553). Ketrampilan (ability) berarti kapasitas

seorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan.

(Stephen P. Robbins & Timonthy A. Judge, 2009: 57).

Menurut Mohammda Zain dalam Milman Yusdi (2010:10)

mengartikan bahwa Ketrampilan adalah kesanggupan, kecakapan,

kakuatan kita berusaha dengan diri sendiri. Sedangkan Anggiat M.Sinaga

dan Sri Hadiati (2001:34) mendefenisikan ketrampilan sebagai suatu

dasar seseorang yang dengan sendirinya berkaitan dengan pelaksanaan

pekerjaan secara efektif atau sangat berhasil.

Sementara itu, Robbin (2007:57) ketrampilan berarti kapasitas

seseorang individu unutk melakukan beragam tugas dalam suatu

pekerjaan. lebih lanjut Robbin menyatakan bahwa ketrampilan (ability)

adalah sebuah penilaian terkini atas apa yang dapat dilakukan seseorang.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa ketrampilan


22

(Ability)adalah kecakapan atau potensi seseorang individu untuk

menguasai keahlian dalam melakukan atau mengerrjakan beragam tugas

dalam suatu pekerjaan atau suatu penilaian atas tindakan seseorang.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketrampilan

Ketrampilan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa

faktor(Michael Zwel, 2000 dalam Wibowo, 2012).

a. Keyakinan dan nilai-nilai

Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh keyakinannya terhadap

dirinya sendiri dan orang lain. Bila orang percaya akan ketrampilannya

dalam melakukan sesuatu, maka hal tersebut akan bisa dikerjakan

dengan lebih mudah.

b. Ketrampilan

Ketrampilan seseorang dalam mengerjakan sesuatu akan meningkatkan

rasa percaya diri, dan akan menunjukkan bahwa orang tersebut

mempunyai kompetensi dalam bidangnya.

c. Pengalaman

Pengalaman akan sangat membantu dalam melakukan suatu pekerjaan,

karena pengalaman mengajarkan sesuatu dengan nyata dan akan sangat

mudah untuk mengingatnya. Seseorang bisa ahli dalam bidangnya

karena banyak belajar dari pengalaman, dan keahlian seseorang

menunjukkan suatu kompetensi yang dimiliki oleh orang tersebut.


23

d. Karakteristik kepribadian

Kepribadian bukanlah sesuatu yang tidak dapat dirubah, kepribadian

seseorang akan mempengaruhi cara-cara orang tersebut dalam

menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan ini, dan hal ini akan

membuat orang tersebut lebih kompeten. Seseorang akan berespons

serta beradaftasi dengan lingkungan dan kekuatan sekitarnya, yang

akan menambah kompetensi seseorang.

1) Tingkat Pendidikan

Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin baik

pengetahuan yang dimiliki. Sehingga, seseorang tersebut akan

lebih mudah dalam menerima dan menyerap hal-hal baru. Selain

itu, dapat membantu mereka dalam menyelesaikan hal-hal

baru tersebut. Menurut penelitian Islami, Aisyah dan Wordoyo

(2012) mengatakan terdapat pengaruh yang cukup kuat antara

tingkat pendidikan dan pengetahuan dengan keterampilan ibu

tentang pertolongan pertama pada kecelakaan anak dirumah di

desa Sumber Girang RW 1 Rembang

2) Umur

Ketika umur seseorang bertambah maka akan terjadi

perubahan pada fisik dan psikologi seseorang. Semakin cukup

umur seseorang, akan semakin matang dan dewasa dalam berfikir

dan bekerja.
24

e. Motivasi

Motivasi adalah dorongan yang membuat seseorang mampu untuk

melakukan sesuatu. Daya dorong yang lebih bersifat psikologis

membuat bertambahnya kekuatan fisik, sehingga akan mempermudah

dalam aktivitas kerja, yang menambah tingkat kompetensi seseorang.

Dorongan atau motivasi yang diberikan atasankepada bawahan juga

berpengaruh baik terhadap kinerja staf.

f. Isu emosional

Kondisi emosional seseorang akan berpengaruh dalam setiap

penampilannya, termasuk dalam penampilan kerjanya. Rasa percaya

diri membuat orang akan dapat melakukan suatu pekerjaan dengan

lebih baik, begitu juga sebaliknya, gangguan emosional seperti rasa

takut dan malu juga bisa menurunkan performance/penampilan kerja

seseorang, sehingga kompetensinya akan menurun.

g. Ketrampilan intelektual

Ketrampilan dipengaruhi oleh pemikiran intelektual, kognitif, analitis

dan ketrampilan konseptual. Tingkat intelektual dipengaruhi oleh

pengalaman, proses pembelajaran yang sudah tentu pula ketrampilan

intelektual seseorang akan meningkatkan kompetensinya.

h. Budaya organisasi

Budaya organisasi berpengaruh pada kompetensi seseorang dalam

berbagai kegiatan, karena budaya organisasi mempengaruhi kinerja,


25

hubungan antar pegawai, motivasi kerja dan kesemuanya itu akan

berpengaruh pada kompetensi orang tersebut.

Stephen P. Robbins & Timonthy A. Judge (2009: 57-61)

menyatakan bahwa ketrampilan keseluruhan seorang individu pada

dasarnya terdiri atas dua kelompok faktor, yaitu :

a. Ketrampilan Intelektual (Intelectual Ability), merupakan ketrampilan

yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktifitas mental (berfikir,

menalar dan memecahkan masalah).

b. Ketrampilan Fisik (Physical Ability), merupakan ketrampilan

melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, ketrampilan,

kekuatan, dan karakteristik serupa.

3. Pengukuran ketrampilan

Analisis ketrampilan disusun sebagian besar untuk penentuan

tingkat kompetensi dibutuhkan untuk mengetahui efektivitas tingkat kerja

yang diharapkan. Keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan

sikap (attitude) merupakan faktor yang menentukan penilaian terhadap

kompetensi sumber daya maunusia dalam menghasilkan tingkat kinerja

pada suatu perusahaan.

Hutapea dan Thoha (2008:28) mengungkapkan bahwa ada tiga

komponen utama pembentukan kompetensi yaitu pengetahuan yang

dimiliki seseorang, ketrampilan, dan perilaku individu. Pengetahuan

(knowledge) adalah informasi yang dimiliki seseorang karyawan untuk


26

melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai bidang yang

digelutinya.

C. Ruam Popok / Diaper Rash

1. Pengertian

Menurut Titi LS, eksim popok yang disebut juga dermatitis popok

adalah kelainan kulit yang timbul akibat radang di daerah yang tertutup

popok, yaitu di alat kelamin, sekitar dubur, bokong, lipatan paha dan

perut bagian bawah. Penyakit ini sering terjadi pada bayi dan anak balita

yang menggunakan popok, biasanya pada usiakurang dari tiga tahun,

paling banyak usia 9-12 bulan (Rukiyah. A & Yulianti, 2010).

Ruam popok merupakan kelainan peradangan kulit di daerah

yang tertutup popok yang paling sering diderita oleh bayi ( Soepardan,

2001 ). Dermatitis diapers atau ruam popok adalah gangguan kulit yang

timbul akibat radang di daerah yang tertutup popok, yaitu di alat kelamin,

sekitar dubur, bokong, lipatan paha, dan perut bagian bawah (Rukiyah, A

& Yulianti, 2010).

Dermatitis popok atau diaper dermatitis adalah dermatitis

yang terjadipada daerah yang tertutup popok, biasanya disebabkan iritasi

oleh urine dan feses (Dharmadi HP, 2006).

2. Penyebab Ruam Popok / Diaper Rash

Menurut Maryunani, A. (2010), penyakit ini disebabkan oleh

berbagai macam faktor, seperti faktor fisik, kimiawi, enzimatik dan


27

biogenik (kuman dalam urine dan feses), tetapi penyebab diaper rash /

eksim popok terutama disebabkan oleh iritasi terhadap kulit yang tertutup

oleh popok oleh karena cara pemakaian popok yang tidak benar seperti :

a. Penggunaan popok yang lama

Perlu diketahui bahwa jenis popok bayi ada dua macam, yaitu :

1) Popok yang disposable (sekali pakai-buang, atau sering juga

disebut pampers bayi. Bahan yang digunakan pada popok ini bukan

bahan tenunan tetapi bahan yang dilapisi dengan lembaran yang

tahan air dan lapisan dengan bahan penyerap, berbentuk popok

kertas maupun plastik.

2) Popok yang dapat digunakan secara berulang (seperti popok yang

terbuat dari katun). Diaper rash banyak ditemui pada bayi yang

memakai popok disposable (kertas atau plastik) daripada popok

yang terbuat dari bahan katun karena kontak yang terus – menerus

antara popok kertas dengan kulit bayi serta dengan urin dan feses,

kontak bahan kimia yang terdapat dalam kandungan bahan popok

itu sendiri, di udara panas, bakteri dan jamur lebih mudah

berkembang biak pada bahan plastik / kertas daripada bahan katun.

b. Tidak segera mengganti popok setelah bayi atau balita buang air besar

dapat menyebabkan pembentukan amonia. Feses yang tidak segera

dibuang, bila bercampur dengan urin akan membentuk amonia.

Amonia ini akan meningkatkan keasaman (pH) kulit sehingga aktivitas


28

enzim yang ada pada feses akan meningkat dan akhirnya menyebabkan

iritasi pada kulit.

3. Faktor – faktor yang berperan dalam timbulnya ruam popok / Diaper rash

Menurut Boediardja, S.A. (2000) beberapa faktor yang berperan

dalam timbulnya ruam popok yaitu :

a. Kelembapan kulit

Popok bersifat menutup kulit sehingga menghambat penguapan dan

menyebabkan kulit menjadi lembab. Kulit yang lembab akan lebih

mudah dilalui oleh bahan- bahan yang dapat menyebabkan iritasi

(bahan iritan) dan lebih mudah terinfeksi jamur maupun kuman.

Selain itu, kulit yang lembab juga lebih rentan terhadap gesekan

sehingga kulit mudah lecet yang akan mempermudah iritasi.

Kelembapan kulit dapat meningkat oleh pemakaian popok yang ketat

atau yang ditutup oleh celana plastik.

b. Urin dan feses

Urin akan menambah kelembapan kulit yang tertutup popok sehingga

meningkatkan kerentanan kulit. Seperti telah disebutkan diatas,

amonia yang terbentuk dari urin dan enzim yang berasal dari feses

akan meningkatkan pH kulit sehingga kulit menjadi lebih rentan

terhadap bahan iritan. Jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi

oleh si bayi dan anak juga berpengaruh terhadap pH feses sehingga

bayi yang minum air susu ibu lebih sedikit yang menderita eksim

popok dibandingkan dengan yang minum susu formula.


29

c. Jamur dan kuman

Jamur candida albicans adalah jamur yang normal terdapat di

kulit dalam jumlah sedikit. Pada keadaan kulit yang hangat dan

lembab antara lain karena pemakaian popok, jamur tersebut akan

tubuh lebih cepat menjadi lebih banyak sehingga dapat menyebabkan

radang (eksim popok). Keadaan kulit yang hangat dan lembab juga

memudahkan tumbuhnya kuman, yang paling sering adalah

staphylococcus aureus.

4. Gejala Ruam Popok / Diaper Rash

Menurut Maryunani, A. (2010) gejala diaper rash bervariasi mulai

dari yang ringan sampai dengan yang berat. Secara klinis dapat terlihat

sebagai berikut :

a. Gejala-gejala yang biasa ditemukan pada diaper rush oleh kontak

dengan iritan yaitu kemerahan yang meluas, berkilat, kadang mirip

luka bakar, timbul bintil- bintil merah, lecet atau luka bersisik,

kadang basah dan bengkak pada daerah yang paling lama kontak

dengan popok, seperti pada paha bagian dalam dan lipatan paha.

b. Gejala yang terjadi akibat gesekan yang berulang pada tepi popok,

yaitu bercak kemerahan yang membentuk garis di tepi batas popok

pada paha dan perut.

c. Gejala diaper rash oleh karena jamur candida albicans ditandai

dengan bercak atau bintil kemerahan berwarna merah terang, basah


30

dengan lecet-lecet pada selaput lendir anus dan kulit sekitar anus, lesi

berbatas tegas dan terdapat lesi lainnya di sekitarnya.

5. Pencegahan Ruam popok / Diaper rash

Tindakan pencegahan ruam popok dapat dilakukan dengan

mengetahui penyebab dan faktor-faktor yang berperan dalam

menimbulkan ruam popok yaitu :

a. Mengurangi kelembapan dan gesekan pada kulit

1) Segera mengganti popok setelah bayi /anak buang air kecil dan

buang air besar. Dengan sering mengganti popok dapat mencegah

terjadinya ruam popok.

2) Pada saat mengganti popok, bersihkan kulit secara lembut dengan

air hangat. Dapat digunakan sabun khususnya setelah buang air

besar, kemudian dibilas bersih, kemudian keringkan dengan

menggunakan handuk atau kain yang lembut dan anginkan

sebentar sebelum dipakaikan popok baru.

3) Bila menggunakan popok sekali pakai (disposable diaper),

pakaikan sesuai dengan daya tampung dan segera ganti bila tidak

dapat lagi menampung urin.

4) Hindari pemakaian popok yang ketat, tebal, terbuat dari plastik,

bahan yang terlalu kasar, kaku dan terlalu menutup

b. Memilih popok yang baik

Kebanyakan ibu lebih memilih diapers dari pada memilih

popok kain, dengan alasan diapers bayi lebih praktis karena tidak
31

perlu sering mengganti popok yang basah akibat buang air, selain itu

membuat rumah lebih bersih tidak terkena air kencing bayi. Diapers

juga membuat pekerjaaan ibu menjadi lebih ringan karena tidak perlu

mencuci, menjemur, menyetrika setumpuk popok. Pada sisi buruknya

penggunaan diapers dapat menyebabkan terjadinya ruam popok.

Kesalahan dalam pemakaian popok bisa menjadi ancaman terhadap

bayi. Dampak terburuk dari pemakaian popok yang salah selain

mengganggu kesehatan kulit juga dapat mengganggu perkembangan

dan pertumbuhan bayi. Bayi yang mengalami ruam popok akan

mengalami gangguan seperti rewel dan sulit tidur, selain itu proses

menyusui menjadi terganggu karena bayi merasa tidak nyaman

sehingga berat badan tidak meningkat (Handy, 2011).

6. Cara Mengatasi Ruam Popok / Diaper Rash

Pada prinsipnya pengobatan ruam popok bergantung pada

penyebabnya.Ruam popok yang disebabkan iritasi dan miliaria tidak

memerlukan obat khusus cukup dengan menjaga popok tetap kering dan

menjaga hyigene. Pada ruam popok yang disebabkan oleh infeksi mikro-

organisme atau iritasi dan miliaria yang luas obat- abatan yang lazim

digunakan antara lain :

a. Bedak salisil dan bedak yang mengandung Antihastamin, hanya

digunakan pada iritasi (intertigo) dan miliaria atas anjuran dokter.

Pastikan bedak tidak berhamburan agar tidak menggangu si kecil.

Anti Jamur digunakan pada ruam popok karena terinfeksi jamur


32

(Candical Diaper Dermatitis) pilih anti jamur yang berbentuk bedak

(merek dagang misalnya : Dektrian powder dan mycorine powder),

dibrikan selama 3-4 minggu.

b. Anti infeksi topikal (salep atau krim) digunakan pada ruam popok

yang disebabkan oleeh infeksi bakteri ringan misalnya : bacitracin

salep. Adapun untuk infeksi yang lebih berat dapat digunakan anti

infeksi oral. Misalnya : kombinasi amoksisilin dengan asam

kalvulanat dan diberikan pada anti infeksi topical.

c. Steroid digunakan pada ruam popok yang disebabkan infeksi alergi,

dioleskan 2x sehari hingga sembuh atau selama 2 minggu.

Walaupun ruam popok bukanlah penyakit yang serius jika

dalam 2-3 hari tidak kunjung sembuh, maka langkah terbaik adalah

konsultasi ke dokter. Penggunaan anti jamur anti infeksi dan steroid

hendaknya atas rekomendasi dokter (Cakmoki, 2010).

7. Faktor-faktor terjadinya diaper rash

a. Faktor predisposisi (predisposing factors)

1) Pengetahuan

Pengetahuan ibu tentang penggunaan diapers pada

anak sangat berhubungan erat dengan pengetahuan ibu tentang

toilet training pada anak. Pengetahuan ibu yang rendah

mengenai dampak dari penggunaan diapers pada anak ini akan

berpengaruh pada perkembangan anak dalam hal toilet training.

Semakin tinggi pengetahuan ibu tentang dampak dari penggunaan


33

diapers pada anaknya semakin baik pula pengetahuan ibu tentang

toilet training pada anaknya, dimana apabila anak tidak memakai

diapers maka anak akan melalui masa toilet trainingnya.

2) Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu serta pengalaman sangat

berpengaruh dalam hal penggunaan diapers pada anak usia

toddler. Pendidikan akan memberikan dampak bagi pola pikir dan

pandangan ibu dalam penggunaan diapers pada anaknya.

3) Pekerjaan

Status pekerjaan ibu mempunyai pengaruh besar dalam

penggunaan diapers pada anak. Pekerjaan ibu yang menyita waktu

untuk anak dalam melakukan pelatihan toilet training menjadi

alasan penggunaan diapers pada anak.

4) Tingkat Sosial ekonomi

Tingkat sosial ekonomi akan mempengaruhi penggunaan diapers

pada anak. Rata-rata masyarakat atau keluarga dengan tingkat

sosial ekonomi yang cukup baik akan lebih memilih menggunakan

diapers pada anaknya karena kelebihan dari diapers seperti

kenyamanan, kepraktisan dan lain-lain.

b. Faktor pendukung (factor enabling)

Ketersediaan sarana dan fasilitas dalam hal ini meliputi :

1) Banyaknya toko yang menjual diapers


34

Diapers bukan lagi suatu hal yang sulit didapat karena sudah

banyak dijual misalnya toko, pasar swalayan, atau supermarket

yang menjual diapers jadi diapers bisa didapat dimana saja dan

kapan saja terutama di kota-kota besar sehingga ini menjadi

alasan ibu menggunakan diapers untuk anaknya.

2) Iklan diapers

Banyak iklan yang manawarkan kelebihan dari diapers dengan

harga yang relatif murah. Ini menjadi salah satu alasan ibu

menggunakan diapers untuk anaknya.

c. Faktor pendorong (reinforcing factors)

1) Sikap dan kebiasaan ibu

Sikap adalah cara seseorang menerima atau menolak

sesuatu yang didasarkan pada cara dia memberikan penilaian

terhadap objek tertentu yang berguna ataupun tidak bagi dirinya

(Nuryani, 2008). Sikap dan kebisaan ibu hidup penuh dengan

serba praktis dan tidak mau repot ini akan berpengaruh dengan

penggunaan diapers pada anak. Kebiasaan ibu menggunakan

diapers pada anak sejak lahir sampai sekarang.

2) Pengaruh lingkungan masyarakat

Lingkungan masyarakat mempunyai peranan penting dalam

penggunaan diapers pada anak, dimana ibu akan memperhatikan

lingkungan sekitar apakah anak usia toddler yang lain masih

menggunakan diapers atau tidak seperti anak ibu yang masih


35

menggunakan diapers. Misalnya anak yang berusia 2 tahun yang

lain masih menggunakan diapers seperti anak ibu. Hal ini akan

merepotkan ibu apabila anak sedang bersosialisasi atau bermain

dengan teman sebaya.

3) Dampak dari penggunaan pampers atau diapers adalah

sebagai berikut:

Menurut Anonim (2008) dampak dari penggunaan diapers

pada anak meliputi:

a) Dari aspek fisik

Aspek fisik yang paling berpengaruh adalah dibagian pinggul

bawah, yang terkait langsung dengan penggunaan diapers

tersebut adalah cara berjalan anak yang sedikit mengangkang

atau kakinya tidak bisa merapat. Pada kulit anak juga akan

mengalami iritasi karena terbiasa menggunakan diapers setiap

saat.

b) Dari aspek psikologis

Anak-anak yang terbiasa menggunakan diapers akan

mengalami kesulitan yang levelnya setingkat diatas anak-anak

lainnya yang tidak terbiasa menggunakan diapers ketika

dihadapkan pada tuntutan lingkungan yang mengharuskan

anak mengeluarkan sisa-sisa sari makanan dan minuman anak

ditempat yang semestinya. Anak akan mengalami

keterlambatan dalam beradaptasi dengan tuntutan lingkungan,


36

dan dampaknya akan panjang sampai anak dewasa. Anak

kurang sensitif dengan lingkungan sekitar dan rasa percaya

diri yang kurang terhadap lingkungan.

D. Dermatitis

1. Pengertian

Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai

respon terhadap pengaruh faktor eksogen atau pengaruh faktor endogen,

menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema,

edema, papul, vesikel, skuama ) dan keluhan gatal (Djuanda 2007).

Dermatitis atopik adalah keadaan peradangan kulit kronis dan

resedif, disertai gatal yanmg umumnya sering terjadi selama masa bayi

dan anak-anak, sering berhubungan dengan peningkatan IgE dalam serum

dan riwayat atopi keluarga atau penderita (DA, rhinitis alergi, dan atau

asma bronchial) (Sularsito., 2005).

Dermatitis atopik adalah kelainan kulit yang sering terjadi pada

bayi dan anak, yang biasa ditandai oleh rasa gatal, penyakit sering

kambuh, dan distribusi lesi yang khas. Dermatitis atopik ini penyebabnya

adalah multifaktorial, termasuk di antaranya faktor genetik, emosi,

trauma, keringat, dan faktor imunologis (Mansjoer., 2000).

Dermatitis atopik adalah keadaan peradangan kulit kronis dan

residif, disertai gatal dan umumnya sering terjadi selama masa bayi dan

anak-anak, sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam

serum dan riwayat atopi pada keluarga atau penderita. Kelainan kulit
37

berupa papul gatal, yang kemudian mengalami ekskoriasi dan likenifikasi,

tempatnya dilipatan atau fleksural (Brunner 2008).

2. Anatomi Dan Fisiologi.

Didapatkan dua bentuk dermatitis atopik, bentuk alergik yang

merupakan bentuk utama (70-80% pasien) terjadi akibat sensitisasi

terhadap alergen lingkungan disertai dengan peningkatan kadar IgE

serum. Bentuk lain adalah intrinsik atau non alergik, terdapat pada 20-

30% pasien, dengan kadar IgE rendah dan tanpa sensitisasi terhadap

lingkungan. Dapat disimpulkan bahwa peningkatan kadar IgE bukan

merupakan prasyarat patogenesis dermatitis atopik. Terdapat pula konsep

murni (Pure Type), tanpa berkaitan dengan penyakit saluran nafas dan

bentuk campuran (Mixed Type) yang terkait dengan sensitisasi terhadap

alergen hirup atau alergen mkanan disertai dengan peningkatan kadar IgE

(Soebaryo., 2009).

Terdapat beberapa gambaran klinis dan stigmata yang terjadi pada

dermatitis atopik, yaitu :

a. White dermatographism.

Goresan pada penderita kulit dermatitis atopik akan menyebabkan

kemerahan dalam waktu 10-15 detik dengan diikuti vasokonstriksi

yang menyebabkan garis berwarna putih dalam waktu 10-15 menit

berikutnya.
38

b. Reaksi vaskular paradoksal.

Merupakan adaptasi terhadap perubahan suhu pada penderita

dermatiitis atoik. Apabila ekstremitaspenderita dermatiti atopik

mendapat pajanan hawa dingin akan akan terjadi percepatan

pendingan dan perlambatan pemanasan dibandingkan dengan orang

normal (Judarwanto., 2009). Hal ini diduga karena ada pelebaran

kapiler dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah yang

mengakibatkan terjadinya edema dan warna pucat dijaringan

sekelilingnya. (Zulkarnain., 2009).

c. Lipatan telapak tangan.

Pada kondisi kronis terdapat penambahan mencolok lipatan

pada telapak tangan meskiput hal tersebut bukan merupakan tanda

khas untuk dermatitis atopik. (Judarwanto., 2009). Pada umumya

penderita dermatitis atopik sejak lahir mempunyai parmal. yang lebih

dalam dan menetal sepanjang hidup. (Zulkarnain., 2009).

d. Garis morgan atau dennie.

Kalainan ini berupa cekungan yang menyolok dan simetris

namun dapat ditemukan satu atau dua cekungan dibawah kelopak

mata bagian bawah. Keadaan ini pada saat lahir atau sesudah itu dan

bertahan bertahan sepanjang hidup, nampak seperti adema dari

kelopat mata bawah namun bukan merupakan atonogmomik

dermatitis atopik. (Zulkarnain., 2009).


39

e. Sindrom buffed-nail.

Kuku terlihat mengkilat karena selalu menggaruk akibat dari rasa

gatal.

f. Allergic shiner

Sering dijumpai pada penderita penyakit allergi karena gosokan dan

garukan berulang jaringan dibawah mata dengan akibat perangsangan

melanosit dan peningkatan timbulnya melanin.

g. Hiperpigmentasi

Terdapat daerah Hiperpigmentasi karena garukan terus menerus.

h. Kulit kering

Kulit penderita dermatitis atopik umumnya kering, bersisik,

pecah-pecah dan berpapul folikular hiperkeratotik yang disebut

peratotis pelaris. Jumlah kelenjar sebasea berkurang sehingga terjadi

pengurangan pembentukan sabun, sel pengeluaran air dan xerosis.

Terutama pada musim panas.

3. Etiologi.

Penyebab dermatitis atopik tidak diketahui dengan pasti,diduga

disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan (multifaktorial).

Faktor intrinsik berupa predisposisi genetik,kelainan fisiologi dan biokimia

kulit, disfungsi imunologis, interaksi psikomatik dan disregulasi/

ketidakseimbangan sistem saraf otonom, sedangkan faktor ekstrinsik

meliputi bahan yang bersifat iritan dan kontaktan, alergen hirup,makanan,

mikroorganisme, perubahan temperatur dan trauma (Fauzi., 2011).


40

Faktor psikologis dan psikomatis dapat menjadi faktor pencetus

(Mansjoer., 2009). Faktor pencetus lain diantaranya :

a. Makanan.

Berdasarkan hasil (DBPCFC) double blind placibo controlled food

challenge, hampir 40% bayi dan anak dengan dermatitis atopik sedang

dan berat mempunyai riwayat alergi makanan. Bayi dan anak dengan

alergi makanan biasanya diser tai uji kulit (skin pick test) da kadar IgE

spesifik positif berbagai macam makanan. Walaupun demikian uji kulit

positif terhadap suatu makanan tertentu, tidak berarti bahwa penderita

tersebut alegi pada makanan tersebut, oleh karena itu masih diperlukan

uji eliminasi dan provokasi terhadap makanan tersebut untuk

menentukan kepastinnya (Judarwanto W., 2009). Prevelensi reaksi

alergi makanan lebih banyak pada anak dengan dermatitis atopik berat.

Makanan yang sering menyebabkan alergi antara lain susu, telur,

gandum, kacang-kacangan kedelai dan makanan laut (Roesyanto.,

2009).

b. Alergen hirup.

Alergen hirup sebagai penyebab Dermatitis Atopik dapat lewat

kontak,yang dapat di praktekan dengan uji tempel,positif pada 30-50%

penderita dermatitik atopik, atau lewat inhalasi. Reaksi positif dapat

terlihat pada alergi tungau debu rumah (TDR), bulu binatang rumah

tangga, jamur atau ragweed di negara negara 4 musim (Judarwanto.,

2009).
41

c. Infeksi kulit.

Mikroorganisme telah diketahui sebagai salah satu faktor

ekstrintik yang berperan sebagai kontribusi sebagai pencetus

kambuhnya dermatitis atopik. Mikroorganisme utamanya adalah

stahyllococcus aureus (SA). Pada penderita dermatitis atopik

didapatkan perbedaan yang nyata pada jumlah koloni stahyllococcus

aureus pada kulit dengan lesi ataupun non lesi pada penderita

dermatitis atopik, merupakan salah satu faktor pencetus yang penting

pada terjadinya eksaserbasi, dan merupakan faktor yang dikatakan

mempengaruhi beratnya penyakit. Faktor lain dari mikroorganisme

yang dapat menimbulkan kekambuhn dermatitis atopik adalah adanya

toksin yang dihasilkan oleh stahyllococcus aureus. Enterotoksin yang

dihasilkan oleh stahyllococcus aureus ini dapat menembus fungsi

sawar kulit, sehingga dapat mencetuskan terjadinya inflamasi.

Enterotoksin tersebut bersifat sebagai superantigen, yang secara kuat

dapat menstimulasi aktifasi sel T dan makrofag yang selanjutnya

mengeluarkan histamin. Enterotoxin stahyllococcus aureus

menginduksi inflamasi pada dermatitis atopik dan memprovokasi

penngeluaran antibodi IgE spesifik terhadap enterotoksin

stahyllococcus aureus, tetapi menurut penelitiann pada fauzi nurul.,

2009, tidak didapatkan kolerasi antara jumlah kolonisasi

stahyllococcus aureus dan kadar IgE spesifik enterotoksin

stahyllococcus aureus. stahyllococcus aureus.


42

4. Patofisiologi.

Berbagai faktor turut berperan dalam patofisiologi dermatitis

atopik, antara lain faktor genetik terkait dengan kelainan intrinsik sawar

kulit, kelainan imunologik, dan faktor lingkungan (Soebaryo.,2009).

a. Genetik.

Genetik pengaruh gen maternal sangat kuat. Ada peran

kromosom 5q31-33,kromosom 3q21 serta kromosom 1q21 dan 17q25

juga melibatkan gen yang independen dari mekanisme alergi. Ada

peningkatan prevelensi HLA-A3 dan HLA-A9 pada umumnya

berjalan bersama penyakit atopi lainnya,seperti asma, rhinitis. reSiko

eorang kembar monosigotik yang saudara kembarnya menderita

dermatitis atopik adalah 86% (Judarwanto., 2009).

Lebih dari kesempatan anak dari seorang ibu yang menderita

atopi keluarga akan mengalami dermatitis atopik pada masa 3 bulan

pertama kehidupan,bila salah satu orang tua menderita atopi,lebih dari

setengah jumblah anak akan mengalami gejala alergi smpai usia 2

tahun,dan meningkat sampai 79% bila kedua orang tua menderita

atopi. Resiko mewarasi dermatitis atopik lebih tinggi bila ibu

menderita dermatitis atopik di banding dengan ayah. Tetapi bila

dermatitis atopik dialmi hingga berlanjut hingga masa dewasa maka

resiko untuk mewariskan kepada anaknya Sama saja yaitu 50%.


43

b. Sawar kulit.

Hilangnya caremide dikulit,yang berfungsi sebagai molekul

utama pengikat air diruang ekstraseluler srttum kornium dianggap

sebagai penyebab kelainan fungsi sawar kulit. Variasi Ph kulit dapat

menyebabkan kelainan metabolisme lipid di kulit. Kelinan fungsi

sawar mengakibatkan peningkatan transepidermal water loss.kulit

akan semakin kering dan merupakan port d’entry untuk terjadinya

penetrasi elergen, iritan, bakteri, dan virus. Bakteri pada pasien

dermatitis atopik mensekresi ceramide sehingga menyebab kan kulit

semakin kering (Soebaryo.,2009).

Respon imun kulit sel-sel T baik subset CD4+ maupun subset

CD8+ yang diisolasi dari kulit (CLA+ CD45RO+ T cells) maupun

dari darah perifer, terbukti mengsekresi sejumlah besar IL-5 dan IL-

15, sehingga dengan kondisi ini lifepan dari eosinofil memanjang

danterjadi induksi pada produksi IgE, Lesi akut di dominasi oleh

akspresi IL-5, GS-CSF, IL-12 dan IFNg serta infiltrasi makrofag dan

aosinofil (Judarwanto., 2009).

Imunopatologi kulit pada dermatitis atopik, sel T yang ilfiltrasi

ke kulit adalah CD45RO+. Sel T ini menggunakan CLA maupun

reseptor lainnya untuk mengenali dan menyeberangi andotelium

pembuluh darah perifer pasien dermatitis atopic, sel T subset CD4+

maupun subset CD8+ dari sel T dengan petanda CLA+CD45RO+

dalam status teraktivasi (SD25+ CD40L+ HLADR+).sel yang


44

terktivasi ini mengekspresikan Fan dan Fan ligand yang menjadi

penyebab apoptosis. Sel-sel itu sendiri tidak menunjukan apoptosis

karena mereka diproteksi oleh sitokin dan protein extracellular matrik

(ECM). Sel-sel T tersebut mengsekresi IFN g yang melakukan

upregulation Fas pada keratinocytes dan menjadikan peka terhadap

proses apoptosis di kulit. Apoptosis keratinosit diinduksi oleh Fas

ligand yang diekspresi dipermukaan sel-sel T atau yang berada di

microenvironment (Judarwanto., 2009).

c. Lingkungan.

Sebagai tambahan selain allergen hirup, allergen makanan,

eksaserbasi pada dermatitis atopic dapat dipicu beberapa macam

infeksi, antara lain jamur, bakteri dan virus, juga panjana tunggau

debu rumah dan binatang peliharaan. Hal tersebut mendukung teori

Hygiena Hypotesis (Roesmanto., 2009).

Hygiena Hypotesis menyatakan bahwa berkurangnya stimuasi

sister imun oleh pajanan antigen microba dinegara barat

mengakibatkan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit atopic

(Sugito.,2009).

Sampai saat ini etiologi maupun mekanisme yang pasti

dermatitis atopic belum semua diketahui, demikian pula prumitus

pada dermatitis atopic. Rasa gatal dan rasa nyeri sama-sama memiliki

reseptor di taut dermoepidermal, yang disalurkan lewat saraf C tidak

bermielin kesaraf spinal sensorik yang selanjutnya di salurkan ke


45

thalamus kontralateral dan korteks untuk diartikan. Rangsangan yang

ringan, seperfisial dengan intensitas rendah menyebabkan rasa gatal,

sedangkan yang dalam dan berintensitas tinggi menyebabkan nyeri.

Sebagai pathogenesis dermatitis atopic dapat dijelaskan secara

imunologik dan nonimunologik (Judarwanto., 2009).

d. Imunopatogenesis dermatitis atopic.

Histamine dianggap sebagai zat penting yang memberi reaksi

dan menyebabkan pruritus. Histamin menghambat hemotaksis dan

menekan produksi sel T. sel mast meningkat lesi pada dermatitis

atopic kronis. Sel ini menmpunyai kemanpuan melepaskan histamin.

Histatamin sender dapat menyebabkan lesi ekzematosa. Kemungkinan

zat tersebut menyebabkan pruritus dan eritema,mungkin akibat

garukan karena gatal mengakibatkan lesi ekzamatosa, pada pasien

dermatitis atopik kapasitas untuk menghasilkan IgE secara berlebihan

diturunkan secara genetik. Demikian pula defisiensi sel T penekan

(suppressor). Difisiensi sel ini menyebabkan produksi berlebih IgE

(Mansdjoer., 2000).

Respon imun sistemik terdapat IFN-g yang menurunkan.

Interleukin spesifik elergen yang diproduk sel T pada darah perifer

(interleukin IL-4, IL-5 dan IL-13) meningkat. Juga terjadi

eosinophilia dan peningkatan IgE (Judarwanto., 2009).


46

5. Manifestasi klinis.

Manifetasi klinis dermatitis atopik berbeda pada setiap tahapan

atau fase perkembangan kehidupan, mulai dari saat bayi sampai dewasa.

Pada setiap anak didapat keparahan yang berbeda, tapi secara umum

mereka mengalami pola distribusi lesi yang serupa (Zulkarnain., 2009).

Kulit penderitan dermatitis atopik umumnya kering, pucat atau keruh,

kadar lipid diepidermis berkurang dan kehilangan air lewat epidermis

meningkat. Penderta dermatitis atopik cenderung tipe astenik, dengan

intelegensia diatas rata-rata dan merasa cemas, egois, frustasi, agresif atau

merasa tertekan (Sularsito 2005).

Subyektis selalu terdapat pruritus, terdiri dari 3 bentuk yaitu:

a. Bentuk infantil ( 0 - 2 tahun).

Lesi awal pada dermatitis atopik muncul pada bulan pertama

kelahiran, biasanya bersifat akut, sup akut, rekuren, simetris kedua

pipi (Zulkarnain I., 2009). Karena bentuknya di daerah pipi yang

berkontak dengan payudara, sering diSebut eskema susu. Terdapat

eritem berbatas tegas, dapat disertai papul-papul dan vesikel-vesikel

miliar, yang menjadi erosis, eksudatif, derkrusta. Tempat predileksi

kedua pipi, ekstremitas bagian fleksor, dan ekstensor (Mansjoer.,

2001).

Ras gatal sangat mengganggu, Sehingga anak gelisah, susah

tidur, dan sering menangis. Pada umumnya lesi sermatitis atopik

infentil eksudatif, banyak eksudat, erosi, krusta dan dapat mengalami


47

infeksi. Lesi dapat meluas generalisata bahkan maupun jarang, dapat

terjadi eritroderma. Sekitar usia 18 bulan mulai tampak likenifikasi

(Sularsito., 2005)

b. Bentuk anak ( 2 -12 tahun).

Awitan lesi mancul sebelum umur 5 tahun. Sebagian

merupakan kelanjutan fase bayi. Pada kondisi kronis tampak lesi

hiperkeratosis, hiperpigmentasi, likefinikasi,. Akibat adanya gatal dan

garukan akan tampak erosi, eksoriasi linear yang disebut starch marks

. Tempat predilaksi tengkuk, flesor tubital, fleksor poplitear sangat

jarang di wajah (Mansjoer A.,dkk., 2001). Lesi dermatitis atopik pada

anak bisa terjadi di paha dan bokong (Zulkarnain ., 2009).

Eskim pada kelompok ini dapat terjadi pada daerah.ekstensor

(luar) daerah persendian (Sendi pergelangan, siku, dan lutut), pada

daerah genetal juga dapat terjadi.(Simpson., 2005)

c. Bentuk dewasa ( 12 tahun <).

Bentuk lesi padafase dewasa hampir serupa dengan lesi kulit

fase akhir anak-anak (Zulkarnain., 2009). Pada orang dewasa sering

mengeluh bahwa penyakitnya kambuh bila mengalami stress,

mungkin karena stress menurunkan rangsang ambang gatal. dermatitis

atopik remaja cenderung berlangsung lama kemudian menurun dan

membaik (sembuh) setelah uSia 30 tahun, jarang sampi usia

pertengahan, hanya sebagian kecil berlangsung sampai tua (Sularsito.,

2005).
48

E. Kerangka Teori

Faktor predisposisi
(predisposition factors)
diaper rash :
1) Pengetahuan
2) Pendidikan
3) Pekerjaan
4) Tingkatan sosial

Faktor pendukung diaper


rash (enabling factors):
1) Ketersediaan sarana dan
prasarana Diaper Rash
2) Kemampuan penanganan
diapers rash

Faktor pendorong
(reinforcing factors) diapers
rash Pendidikan kesehatan
1) Sikap dan kebiasaan ibu
2) Pengaruh lingkungan /
masyarakat

Gambar 1 . Kerangka Teori

(menurut Notoatmojo, 2010, Nuryani 2008)

F. Kerangka Konsep

Ketrampilan Pendidikan Kesehatan Diaper Rash


49

G. Hipotesis

Ha : Ada pengaruh ketrampilan ibu dalam praktik diaper rash sebelum dan

sesudah pendidikan kesehatan di Desa Rambeanak Kecamatan

Mungkid Kabupaten Magelang


50

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain penelitian

Desain penelitian atau rancangan penelitian ditetapkan dengan tujuan

agar peneliti dapat dilakukan dengan efektif dan efisien. Desain penelitian ini

adalah Quasi eksperimen dalam satu kelompok (One Group Pre test-Post test

Design) yang mengungkapkan sebab akibat dengan cara melibatkan satu

kelompok subyek. Kelompok subyek diobservasi sebelum dilakukan

intervensi, kemudian diobservasi lagi setelah intervensi. Pengujian sebab

akibat dengan cara membandingkan hasil pra test dengan post test (Nursalam,

2008, hlm.89).

Tabel 4.1
Rancangan Penelitian
Pre-test Treatment Post-Test
01 X 02

Keterangan

O1: ketrampilan ibu tentang diaper rash sebelum pendidikan kesehatan

X : pendidikan kesehatan tentang diaper rash

O2: ketrampilan ibu tentang diaper rash sebelum pendidikan kesehatan

Penelitian ini terdiri dari satu kelompok yaitu kelompok intervensi.

Pada kelompok intervensi (K) diberikan pendidikan kesehatan tentang

diaper rash. Pada kelompok diawali dengan pre-test (O1) untuk

mengetahui ketrampilan ibu dalam praktik diaper rash sebelum diberikan


51

intervensi berupa pendidikan kesehatan. Kemudian setelah diberikan

intervensi, setelah itu akan dilakukan kembali post-test untuk mengetahui

ketrampilan ibu dalam praktik diaper rash (O2).

B. Populasi dan sampel penelitian

1. Populasi

Populasi dalam penelitian adalah semua ibu yang mempunyai anak

balita di Desa Rambeanak Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang,

berdasarkan data yang diperoleh dari Posyandu Desa Rambeanak maka

terdapat 45 balita yang mengalami diaper rash di Desa Rambeanak

Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang pada tahun 2016.

2. Sampel

Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian

jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Metode yang

digunakan untuk mengambilan sampel menggunakan accidental sampling

yaitu dengan mengambil responden yang kebetulan ada ada (bersedia) dan

mengacu pada kriteria inklusi dan eksklusi, maka orang tua balita tersebut

dapat dijadikan sebagai responden, dan untuk menentukan besar sampel

peneliti menggunakan rumus slovin.

n= N

1- N (d)²

Keterangan:

n : Besar sampel
52

N : Besar populasi

d : tingkat kesalahan yang diinginkan

(Suyanto & Salamah, 2009, hlm. 45)

n= 45
1+45(0,05)²
n= 45
1+ 45 (0,0025)
n= 45
1+ 0,1125
n= 45

1,1125
= 40,44
= 40
Jadi sampel dalam penelitian ini adalah 40 ibu balita yang tercatat di

Posyandu Desa Rambeanak Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang.

Dalam penelitian keperawatan, kriteria sampel meliputi inklusi dan

kriteria eksklusi, dimana kriteria tersebut menentukan dapat dan tidaknya

sampel digunakan ( Hidayat, 2009, hlm.60).

a. Kriteria Sampel

1) Kriteria inklusi sebagai berikut:

a) Ibu balita yang berdomisili di Desa Rambeanak Kecamatan

Mungkid Kabupaten Magelang

b) Dapat membaca dan menulis

c) Mempunyai balita yang mengalami diaper rash

d) Bersedia menjadi responden .


53

2) Kriteria eksklusi meliputi:

a) Ibu balita yang mempunyai balita yang sehat dan tidak mengalami

diaper rash

b) Tidak bersedia menjadi responden .

C. Definisi operasional

N Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Hasil Ukur Skala


o
1 Independent : Pemakaian diaper dengan Kuesioner 1. Baik, jika Ordinal
Ketrampilan cara yang benar dengan dengan 10 responden
dalam diaper memilih popok yang item melakukan >
rash terbuat dari bahan katun pertanyaan 75% item
yang lembut, jangan ketrampilan
terlalu sering mencegah
menggunakan diaper, diaper rash
memakaikan diaper 2. Kurang baik
dengan benar dan tidak bila ibu
terlalu ketat, mengganti melakukan
diaper segera mungkin tindakan
bila terlihat sudah mencegah
menggelembung, diaper rash ≤
membersihkan urin atau 75%
kotoran dengan baik.
3 Dependent: Pendidikan kesehatan - - -
Pendidikan tentang pengetahuan dan
kesehatan akibat dari diaper rash

D. Tempat dan waktu penelitian

Tempat penelitian akan dilakukan di Desa Rambeanak Kecamatan

Mungkid Kabupaten Magelang waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei

– September 2016.
54

E. Instrumen penelitian

Kuesioner / angket menurut Arikunto (2006:151), adalah sejumlah

pertanyaan tertulis digunakan untuk memperoleh informasi dari responden

dalam arti laporan tentnag pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Peneliti

memberikan pertanyaan secara tertulis kepada responden untuk dijawab

dengan menggunakan ya dan tidak. Kuesioner praktik ketrampilan diaper rash

sebanyak 10 item pertanyaan yang menyangkut praktik ketrampilan diaper

rash dengan pilihan jawaban ya diberi skor 1 dan tidak diberi skor 0. .

1. Uji Validitas dan Reliabilitas

a. Uji validitas

Uji validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur

itu benar-benar mengukur apa yangdiukur. Arikunto (2006:151),

Dilaksanakan pada mahasiswa Ners Semester di universitas

Muhammadiyah Semarang sebanyak 20 responden, Untuk mencari

validitas angket dengan menggunakan rumus korelasi product

moment, sebagai berikut:

N  xy   x y 
N  x  
rxy =
  x  N  y 2   y 
2 2 2

Keterangan :
rxy = Koefisien korelasi antara x dan y

x = Jumlah skor dari setiap item

y = Jumlah skor total item

xy = Jumlah perkalian skor x dan y semua obyek

N = Jumlah subyek
55

Hasil perhitungan tiap-tiap item akan dibandingkan dengan

tabel nilai product moment instrumen dimana suatu pertanyaan

dikatakan valid apabila nilai r hitung ≥ r table. Arikunto (2006:151),

Dimana untuk N sebesar 20 orang pada taraf signifikansi α = 5%.

Hasil uji reliabilitas didapatkan r hitung dari masing-masing

item pernyataan dengan rentang 0,465 – 0,706 > 0,444 (r tabel 20

responden) maka dapat disimpulkan smua item pernyataan valid dan

dapat dijadikan instrumen penelitian.

b. Uji reliabilitas

Uji reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana

suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Arikunto

(2006:151), Untuk menguji reliabilitas instrumen dengan

menggunakan teknik Alpha Cronbach dengan rumus koefisiensi Alpha

Cronbach sebagai berikut :

 k    b 
2

r11 =   1  
 k  1   12 

Keterangan :

r11 = Reliabilitas instrumen

k = Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

b2 = Jumlah varian butir

12 = Varian total

Instrumen penelitian dinyatakan reliabel jika nilai Alpha

Cronbach > 0,6.


56

Hasil uji reliabilitas didapatkan nila Alpha Cronbach 0,870 >

0,6 maka dapat disimpulkan semua pernyatan reliabel dan dapat

dijadikan instrumen penelitian.

F. Alat pengumpulan data

1. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh peneliti langsung dari

responden. Data penelitian ini meliputi umur, jenis kelamin, pekerjaan,

pendidikan, nilai ketrampilan serta nilai sikap ibu tentang diaper rash.

2. Data Sekunder

Data sekunder disebut juga data tangan kedua yaitu data yang diperoleh

lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh peneliti dari responden

penelitiannya (Sugiyono, 2007, hlm.27). Data sekunder yang diperoleh

dalam penelitian ini data kesehatan balita di Puskesmas Mungkid dan

dokumen terkait dengan penelitian ini.

3. Instrumen pengambilan data

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar

kuesioner. Lembar kuesioner tentang ketrampilan ibu dalam praktik diaper

rash.

G. Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi

yang digunakan untuk memperoleh semua informasi tentang responden dan


57

hal-hal yang dapat mendukung penelitian ini, adapun langkah-langkahnya

adalah:

1. Prosedur administrasi

a. Meminta surat ijin dari Ketua Universitas Muhammadiyah Semaran

sebagai permohonan ijin penelitian.

b. Mengajukan surat ijin penelitian kepada kepala Desa Desa Rambeanak

Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang.

c. Menyamakan persepsi antara peneliti dengan responden dengan cara

pemberian informasi terlebih dahulu tentang prosedur yang akan

dilakukan.

d. Menyimpulkan hasil penelitian berdasarkan hasil kuesioner penelitian.

G. Analisa data

1. Prosedur pengolahan data

Dalam melakukan analisis data terlebih dahulu data harus diolah dengan

tujuan mengubah data menjadi informasi. Dalam statistik, informasi yang

diperoleh dipergunakan untuk proses pengambilan keputusan, terutama

dalam pengujian hipotesis. Dalam proses pengolahan data terdapat langkah-

langkah yang ditempuh, adapun:

a. Editing

Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang

diperoleh. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau

setelah data terkumpul.


58

b. Coding

Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik terhadap data yang

terdiri atas beberapa kategori. Nama responden diganti dengan

memberikan kode berupa angka.

c. Entry Data

Data entry adalah kegiatan memasukan data yang telah dikumpulkan ke

dalam databaser, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau

dengan membuat tabel kontigensi. Mengelompokan menurut variable

yang diteliti, yaitu usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan,

ketrampilan dan sikap kemudian mengolah menggunakan komputer.

d. Melakukan teknik analisis

Dalam melakukan analisis, khususnya terhadap data penelitian akan

menggunakan ilmu statistik terapan yang disesuaikan dengan tujuan yang

hendak di analisis.

2. Teknik Analisis Data

a. Analisis univariat

Analisis univariat dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui

karakteristik ibu balita (umur, pendidikan, dan pekerjaan), ketrampilan

dan sikap tentang diaper rash sebelum dan sesudah pendidikan

kesehatan. Pada analisis univariat, data yang diperoleh dari hasil

pengumpulan dapat disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

Tabel distribusi frekuensi digunakan untuk menyajikan data yang bersifat

nominal dan ordinal. Ukuran tendensi sentral digunakan untuk


59

menyajikan data yang bersifat interval dan rasio, dalam penelitian ini

adalah ketrampilan ibu dalam praktik diaper rash sebelum dan sesudah

pendidikan kesehatan.

b. Analisis bivariat

Analisis bivariat yaitu analisis yang dilakukan terhadap dua

variabel untuk mengetahui hubungan dari kedua variabel. Mengetahui

pengaruh antara variabel bebas yang langkah selanjutnya adalah langkah

mengolah data tentang peran pendidikan kesehatan dalam meningkatkan

ketrampilan ibu dalam praktik diaper rash di Desa Rambeanak Kecamatan

Mungkid Kabupaten Magelang. Uji yang digunakan adalah Saphiro Wilk,

jika didapatkan p value ≥0,05 maka data berdistribusi normal sehingga uji

yang digunakan adalah paired test, jika didapatkan p value ≤0,05 maka

data berdistribusi tidak normal sehingga uji statistik yang digunakan

adalah Wilcoxon (Hidayat, 2009, hlm. 107).

H. Etika Penelitian

Etika penelitian menurut Nursalam (2008. hlm. 78) ada beberapa

pertimbangan etik yang harus dipertimbangkan etik yang harus diperhatikan

dalam penelitian ini antara lain, self Determination, ananomity, informed

consent:

1. Self Determination

Responden diberi kebebasan untuk menentukan pilihan apakah atau tidak

untuk mengikuti penelitian secara sukarela.

2. Ananomity
60

Selama kegiatan penelitian, nama dari responden tidak digunakan. Sebagai

penggantinya peneliti menggunakan mana inisial responden.

3. Informed Consent

Seluruh responden bersedia menandatangani lembar persetujuan setelah

peneliti menjelaskan tujuan, manfaat, dan harapan peneliti terhadap

responden, dan setelah responden memahami semua penjelasan peneliti.

4. Confidentiality

Peneliti menjamin kerahasiaan informasi responden dan kelompok data

tertentu yang digunakan sebagai laporan peneliti.