Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


International Labour Organization (ILO) memperkirakan bahwa tiap
tahun sekitar 24 juta orang meninggal karena kecelakaan dan penyakit di
lingkungan kerja termasuk di dalamnya 360.000 kecelakaan fatal dan
diperkirakan 1,95 juta disebabkan oleh penyakit fatal yang timbul di
lingkungan kerja. Sedangkan menurut catatan World Health Organization
(WHO) dari jumlah tenaga kerja sebesar 35% sampai 50% di dunia
terpajan bahaya fisik, kimia dan biologi (Milyandra, 2010).
Petugas pelayanan kesehatan termasuk staf penunjang (misalnya
petugas rumah tangga, peralatan dan laboratorium), yang bekerja di fasilitas
kesehatan berisiko terpapar pada infeksi yang secara potensial dapat
membahayakan jiwa (Tietjen, 2012).
Misalnya di Amerika Serikat lebih dari 800.000 luka karena tertusuk
jarum suntik terjadi setiap tahunnya walaupun telah dilakukan pendidikan
berkelanjutan dan upaya pencegahan kecelakaan tersebut (Rogers, 1997
dalam Tietjen, 2012). Tingginya frekuensi kontak dengan darah penderita
akan meningkatkan risiko tejadinya infeksi pada tenaga kesehatan. Penelitian
yang dilakukan terhadap 24.000 tenaga kesehatan di rumah sakit selama 3
tahun menunjukkan bahwa insiden kontak darah (exposure rate) 3,5 per 100
pekerja per tahun (Denis, 2008). Centre for Disease Control (CDC)
memperkirakan setiap tahun terjadi 385.000 kejadian luka akibat benda
tajam yang terkontaminasi darah pada tenaga kesehatan di rumah sakit di
Amerika (Yusran, 2008)
Kamar operasi merupakan ruangan yang sangat berisiko
mengancam terhadap kesehatan petugas khususnya perawat bedah
karena banyaknya peralatan yang dipakai untuk keperluan operasi,
pemakaian gas anestesi dan stress psikologis tingkat tinggi yang
berkepanjangan. Sebuah penelitian di Amerika tentang mekanisme robeknya
sarung tangan karet dan terjadinya cedera tertusuk benda tajam pada
2292 operasi selama 3 bulan menemukan 92% robeknya sarung tangan
akibat tidak rangkap dua dan 8% karena sebab tidak diketahui, kemudian
70 cedera tertusuk benda tajam, 0,7% akibat jarum, 10% akibat skalpel
dan 23% akibat yang lain. Peran perawat sangat penting untuk sebuah
pelayanan rumah sakit karena tanpa mereka pelayanan rumah sakit
menjadi buruk, terlebih perawat bedah yang tenaga mereka sangat
diperlukan sekali karena mereka punya kekhususan sendiri dan untuk
menjadi seorang perawat bedah yang terampil perlu waktu mendidik dan
melatihnya, perlu pengalaman kerja yang lama masuk tim pembedahan.
(Kemenkes, 2012)
Dalam UU Kesehatan No.36 tahun 2009, kesehatan didefinisikan
sebagai keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial
yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan
ekonomis. Dengan demikian upaya kesehatan yang dilakukan merupakan
serangkaian kegiatan terpadu, terintregasi dan berkesinambungan untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk
pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan
pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan atau masyarakat (Depkes RI,
2009).
Bertitik tolak dari konsep kesehatan secara umum, maka konsep
kesehatan perlu diterapkan pada semua lini kehidupan. Kesehatan kerja
misalnya, merupakan aplikasi dalam penerapan konsep kesehatan dalam
masyarakat yang diterapkan dalam suatu tempat kerja (perusahaan, pabrik,
kantor, laboratorium dan sebagainya), dan yang menjadi subjek dari
kesehatan kerja adalah pekerja dan masyarakat sekitar tempat kerja
tersebut. Apabila di dalam kesehatan masyarakat menurut konsep paradigma
sehat, ciri pokoknya adalah upaya preventif (pencegahan penyakit) dan
promotif (peningkatan kesehatan), maka kedua hal tersebut juga menjadi
ciri pokok dalam kesehatan kerja (Notoatmodjo, 2007).
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan suatu upaya
untuk menciptakan suasana bekerja yang aman, nyaman, dan tujuan
akhirnya adalah mencapai produktivitas setinggi-tingginya. Maka dari itu K3
mutlak untuk dilaksanakan pada setiap jenis bidang pekerjaan tanpa kecuali.
Upaya K3 diharapkan dapat mencegah dan mengurangi risiko terjadinya
kecelakaan maupun penyakit akibat melakukan pekerjaan (Hiperkes
Bandung, 2008).
Berdasarkan hasil penelitian khairiah 2012 yang dilakukan pada 30
responden di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar
terdapat 23 orang (76,7%) yang pengetahuannya baik 14 orang (46,7%)
diantaranya yang patuh menggunakan APD, ini disebabkan karena perawat-
perawat tersebut telah mengaplikasikan dari apa yang telah ia ketahui
tentang penggunaan APD dan 9 orang (30,0%) yang tidak patuh
menggunakan APD, menunjukkan bahwa ia belum mengaplikasikan
pengetahuannya tentang penggunaan APD. Sedangkan 7 orang (23,3%)
lainnya yang pengetahuannya buruk patuh menggunakan APD, hal ini
menunjukkan bahwa kemungkinan perawat-perawat tersebut memiliki disiplin
kerja yang tinggi sehingga ia patuh pada peraturan yang ditetapkan rumah
sakit, walaupun mungkin sebenarnya ia tidak mengetahui secara baik tentang
manfaat dari penggunaan APD. Berdasarkan data tersebut, menunjukkan
bahwa semakin tinggi pengetahuan seorang perawat tentang, maka semakin
tinggi pula tingkat kepatuhannya menggunakan APD. Hal ini ditunjukkan
dengan hasil uji statistik dengan chi-square diperoleh nilai p=0,30>a (0,05).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan perawat tentang
APD merupakan faktor yang berhubungan dengan kepatuhan untuk
menggunakan APD. (Khairiah 2012)
Alat Pelindung Diri (APD) adalah merupakan alat atau perlengkapan
Yang berfungsi sebagai “penyekat atau pembatas” antara petugas dan
penderita. Perawat diwajibkan untuk menggunakan Alat Pelindung Diri untuk
menghindari resiko keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit dalam
memberikan asuhan keperawatan. Ada beberapa faktor yang berhubungan
dengan kepatuhan perawat untuk menggunakan APD
Menurut Kusmiyati (2009), faktor yang mempengaruhi rendahnya
sikap perawat dalam tindakan universal precautions yaitu : Pengetahuan,
perilaku, ketersediaan sarana alat pelindung pribadi dan motivasi perawat.
Ketidakpatuhan atau keengganan petugas untuk melakukan prosedur
universal precautions adalah karena dianggap terlalu merepotkan dan tidak
nyaman. Tugas perawat yang sangat banyak juga menjadi faktor lain
menyebabkan perawat sulit untuk menerapkan universal precautions
Sikap juga menjadi faktor yang berperan dalam menentukan
kepatuhan perawat dalam menerapkan universal precautions. Sikap
merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan
pelaksanaan motif tertentu (Azwar, 2009). Berdasarkan penelitian Yusran
(2010) perawat yang mempunyai sikap yang baik akan lebih patuh dalam
dalam menerapkan universal precautions di rumah sakit.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan di ruang IBS RSUD. RAA.
Soewondo Pati masih banyak yang belum melaksanakan prosedur
tindakan pencegahan universal, terutama yang menyangkut penggunaan
alat pelindung diri untuk mengantisipasi paparan cairan dan darah
pasien pada saat terlibat dalam prosedur pembedahan. Hal ini
menunjukkan bahwa perilaku perawat IBS dalam menerapkan prosedur
tindakan pencegahan universal khususnya dalam pemakaian alat
pelindung diri selama operasi masih belum sesuai dengan pedoman.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi yaitu kurangnya disiplin dan
kesadaran perawat mengenai pentingnya penerapan prosedur tindakan
pencegahan universal khususnya dalam pemakaian alat pelindung diri.
Berdasarkan latar beralakng di atas peneliti tertarik mengambil judul
tentang hubungan sikap perawat dengan pemakaian pemakaian APD saat
operasi di ruang IBS RSUD. RAA. Soewondo Pati

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah
“adakah hubungan sikap perawat dengan pemakaian APD saat operasi di
ruang IBS RSUD. RAA. Soewondo Pati”?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui hubungan sikap perawat dengan pemakaian APD
saat operasi di ruang IBS RSUD. RAA. Soewondo Pati
2. Tujuan khusus
a. Untuk mendeskripsikan sikap perawat di ruang IBS RSUD. RAA.
Soewondo Pati
b. Untuk mendeskripsikan pemakaian APD saat operasi di ruang IBS
RSUD. RAA. Soewondo Pati
c. Untuk mengetahui hubungan sikap perawat dengan pemakaian APD
saat operasi di ruang IBS RSUD. RAA. Soewondo Pati

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
Sebagai bahan masukan dan evaluasi kepala ruang IBS RSUD. RAA.
Soewondo Pati agar memperhatikan kesehatan pekerja
2. Manfaat Ilmiah
Untuk menambah wawasan ilmiah serta mengaplikasikan ilmu yang
diperoleh selama menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Stikes
Muhammadiyah Kudus.
3. Manfaat bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam memperluas
wawasan dan pengetahuan tentang pelaksanaan penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) sesuai SOP di RSUD. RAA. Soewondo Pati.

E. Keaslian penelitian
No Nama dan judul Metode penelitian Hasil
1. Khairiah, 2012 Metode penelitian yang hasil penelitian
Faktor-Faktor yang digunakan adalah menunjukkan bahwa tidak
Berhubungan penelitian Cross ada hubungan antara
dengan Kepat Sectional. Tehnik pendidikan dengan
uhan Perawat untuk pengambilan sampel kepatuhan perawat untuk
Menggunakan Alat menggunakan menggunakan APD
pelindung tehnik purposive dengan nilai ρ (0,890),
Diri di Rumah Sakit sampling dengan jumlah tidak ada hubungan antara
Islam Faisal sampel 30 masa kerja dengan
Makassa kepatuhan perawat untuk
menggunakan APD
dengan nilai ρ (0,30), ada
hubungan antara
pengetahuan dengan
kepatuhan perawat untuk
menggunakan APD
dengan nilai ρ (0,048)

2. Penelitian Yusran Metode Hasil penelitian dianalisis


(2010) Deskriptif korelasi menggunakan
KEPATUHAN dengan regresi logistik multipel
penerapan prinsip- pendekatan menunjukkan bahwa
prinsip pencegahan cross sectional. perawat yang menganggap
infeksi (universal lingkungan kerja yang
precautions) pada aman enam kali lebih
perawat di RSUD patuh terhadap
Abdoel Muluk pelaksanaan
Bandar Lampung UP (p<,001).

3. Irfan 2015 Jenis penelitian yang Jenis penelitian yang


Hubungan Perilaku digunakan adalah digunakan adalah analitik
Perawat Dengan analitik observasional observasional dengan
Kepatuhan dengan metode cross metode cross sectional
Menggunakan Alat sectional study. Sampel study. Sampel pada
Pelindung Diri pada penelitian ini penelitian ini berjumlah 52
(APD) Sesuai berjumlah 52 responden responden
Standard Operating
Procedure (SOP) Di
Rang Rawat Inap
Badan Layanan
Umum Daerah
(BLUD) Rumah
Sakit Konawe