Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KEGIATAN PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER

HEWAN BAGIAN BEDAH DAN RADIOLOGI

KASTRASI KELINCI

Di bawah bimbingan:

Drh Budhy Jasa Widyananta, MSi

Disusun Oleh:
Hamdika Yendri, SKH B94184120
Pavitra, SKH B94184137
Risqika Velayati, SKH B94184141

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2019
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Peningkatan populasi hewan kesayangan saat ini meningkat seiring dengan
perilaku masyarakat sebagai hobi dan peliharaan. Hewan eksotik seperti kelinci,
marmut, dan ular sekarang menjadi trend sebagai hewan peliharaan karena memiliki
ciri-ciri unik. Kelinci merupakan hewan eksotik yang cepat berkembang biak dan
dapat menjadi masalah kepada para pemilik karena jumlahnya terlalu banyak. Kelinci
juga merupakan hewan yang sensitif terhadap cuaca dan lingkungan, maka penjagaan
yang khusus harus diambil oleh pemilik kelinci.
Salah satu solusi untuk menangani masalah populasi kelinci adalah dengan
sterilisasi. Sterilisasi pada kelinci dapat dilakukan pada jantan dan betina dengan
metode yang sama seperti hewan kesayangan lain yaitu, kastrasi terbuka, kastrasi
tertutup, ovariohisterektomi, dan ovariektomi. Kastrasi atau orchiectomy merupakan
pengambilan atau pemotongan testis dari tubuh. Tujuan kastrasi dilakukan pada
kelinci untuk mengurangi sifat agresif, mengurangi kebiasaan menandai daerah
teritori (spraying), dan sekaligus mengurangi populasi. Tipe kastrasi yang biasanya
digunakan pada kelinci adalah kastrasi tertutup atau half-closed castration, untuk
mengelakkan kejadian hernia.
Perbedaan organ reproduksi pada kelinci dengan hewan kesayangan lain
adalah anatomi dari organ tersebut. Organ reproduksi pada kelinci jantan hampir
mirip dengan mamalia lain, kecuali kemampuan untuk menarik testis ke ruang
abdomen. Testis kelinci dibentuk dari tubula dan duktus ginjal, kecuali lobul testis
dan tubular pleksus. Pembuluh darah ginjal juga menyuplai darah ke testis dan
dinding skrotum (Delaney CJ 1996). Testis kelinci juga dapat bergerak dengan bebas
antara skrotum dan abdomen melalui cincin inguinal.
Masalah yang sering ditemukan saat operasi kelinci adalah pemberian anastesi
general (Brodbelt et al. 2008). Evaluasi pre-anestesi sangat penting karena dapat
menghindari komplikasi terhadap kesehatan hewan tersebut. Stress juga harus
diminimalkan dengan pertimbangan perilaku kelinci secara umum. Pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang seperti uji darah harus dilakukan dengan baik karena
merupakan prasyarat operasi.
Tujuan
Tujuan dari penanganan kasus kastrasi sebagai tindakan sterilisasi dan melatih
keterampilan dalam melakukan operasi baik pre-operasi, saat operasi, dan tindakan
post operasi hewan eksotik serta mempelajari situs-situs organ abdominal pada hewan
eksotik.

TINJAUAN KASUS
Pemeriksaan Fisik Hewan Signalement Hewan

Nama hewan : Banny


Jenis hewan : Kelinci
Ras/Breed : Fuzzy Lop
Warna bulu dan kulit : Coklat dan putih
Jenis kelamin : Jantan
Bobot badan : 2.07 kg
Umur : 1.5 tahun
Tanda khusus : Tidak ada

Status Present Keadaan Umum


Perawatan : Cukup
Habitus/tingkah laku : Tulang punggung bengkok, kepala lebih rendah
dari tulang punggung
Gizi : Baik
Pertumbuhan badan : Baik
Sikap berdiri : Tegak pada keempat kaki
Suhu : 38, 7oC
Frekuensi nafas : 44 kali/menit
Frekuensi jantung : 140 kali/menit

Adaptasi Lingkungan : Adaptasi dengan lingkungan baik

Kepala dan Leher


Inspeksi
Ekspresi wajah : Tenang
Pertulangan kepala : Simetris dan kompak (conformed)
Posisi tegak telinga : Tegak keatas keduanya
Posisi kepala : Lebih rendah dari tulang punggung
Palpasi
Turgor Kulit : Baik (kembali < 3 detik)

Mata dan orbita kiri dan kanan


Palpebrae : Menutup dan membuka sempurna
Cilia : Keluar sempurna
Conjuctiva : Rose, licin dan tidak ada luka
Membrana nictitans : Tidak terlihat
Sclera : Putih dan tidak ada perlukaan
Cornea : Bening, terang tembus, tidak ada ulkus
Iris : Tidak ada perlekatan
Limbus : Rata dan mengecil
Pupil : Tidak ada kelainan (ada reaksi cahaya)
Refleks pupil : Ada
Vasa injectio : Tidak ada

Mulut dan rongga


mulut
Rusak/luka bibir : Tidak ada
Mukosa : Pucat, licin, basah dan tidak ada kerusakan
Gigi geligi : Tidak berbau dan ada karang
Lidah : Licin, basah dan tidak ada kerusakan

Leher
Perototan Leher : Teraba, simetris, kompak
Trachea : Teraba, tidak ada refleks batuk
Esophagus : Tidak terisi makanan
Telinga
Posisi : Jatuh kebawah keduanya
Bau : Bau khas serumen
Permukaan daun telinga : Licin, halus, dan rata
Krepitasi : Tidak ada
Refleks panggilan : Ada

Thorak: Sistem Pernafasan


Inspeksi
Bentuk rongga thorax : Simetris dan tidak ada kelainan
Tipe pernafasan : Costalis
Ritme : Teratur
Intensitas : Dalam
Frekuensi : 44 kali/menit
Perkusi
Lapangan Paru-paru : Tidak ada perluasan
Gema perkusi : Nyaring
Auskultasi
Suara pernafasan antara in-ekspirasi : Tidak ada suara ikutan
Palpasi
Penekanan rongga thorak : Tidak ada respon sakit
Palpasi intercostals : Tidak ada respon sakit

Thorak: Sistem Peredaran Darah


Inspeksi
Ictus cordis : Tidak terlihat
Perkusi
Lapangan jantung : Tidak ada perluasan
Auskultasi
Frekuensi : 140 kali/menit
Intensitas : Kuat dan dangkal
Ritme : Teratur
Suara sistol dan diastol : Jelas
Ekstraksistolik : Tidak ada
Sinkron pulsus dan jantung : Sinkron

Abdomen dan Organ Pencernaan


Inspeksi dan auskultasi
Besarnya : Tidak ada perbesaran
Bentuknya : Simetris
Legok lapar :-
Suara peristaltik lambung : Tidak terdengar
Palpasi
Epigastricus : Tidak ada respon sakit
Mesogastricus :Tidak ada respon sakit
Hypogastricus : Tidak ada respon sakit
Isi usus besar : Tidak teraba
Isi usus kecil : Tidak teraba
Anus
Sekitar anus : Bersih dan tidak ada luka
Refleks spinchter ani : Ada
Kebersihan daerah perineal : Bersih

Alat perkemihan dan Kelamin (Urogenitalis)


Jantan
Insepksi dan palpasi
Preputium : Rose, licin, basah, tidak ada perlukaan

Penis : Tidak mengalami perbesaran


Glans penis : Tidak mengalami perbesaran

Bentuk : Tidak ada perubahan bentuk


Besar : Simetris
Warna : Rose
Sensitivitas :Ada
Bersih : Bersih
Scrotum : Tidak mengalami perbesaran
Urethra : Tidak terlihat

Alat Gerak
Inspeksi
Perototan kaki depan : Tegas, kompak, simetris
Perototan kaki belakang : Simetris, kompak dan tegas
Spasmus otot : Tidak ada
Tremor : Tidak ada
Sudut persendian : Tidak ada kelainan
Cara bergerak-berjalan : Koordinatif
Cara bergerak-berlari : Koordinatif
Palpasi
Struktur pertulangan
Kaki kiri depan : Kompak (tidak ada kelainan)
Kaki kanan depan : Kompak (tidak ada kelainan)
Kaki kiri belakang : Kompak (tidak ada kelainan)
Kaki kanan belakang : Kompak (tidak ada kelainan)
Konsistensi pertulangan : Kompak dan konsisten
Reaksi saat palpasi : Tidak ada respon sakit
Letak rasa sakit :-
Panjang kaki depan : Simetris
Panjang kaki belakang : Simetris

Palpasi
Limfoglandula poplitea
Ukuran :-
Konsistensi :-
Lobulasi :-
Perlekatan :-
Panas :-
Kesimetrisan :-
Kestabilan pelvis
Konformasi : Tegas, kompak
Kesimetrisan : Simetris
Tuber ischii : Kompak
Tuber coxae : Kompak

Diagnosa Klinis : Kelinci mempunyai kondisi fisik yang sehat

Pemeriksaan Lanjut : CBC

Prognosa : Fausta

MATERI DAN METODE

Waktu dan Tempat


Operasi dilaksanakan pada hari Selasa, 12 Februari 2019 bertempat di Ruang
Operasi, Rumah Sakit Hewan Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan, Institut
Pertanian Bogor (RSHP FKH IPB).

Alat dan Bahan


Peralatan yang digunakan dalam operasi ini adalah seperangkat peralatan
bedah minor. Perlengkapan bedah untuk operator dan asisten operator seperti penutup
kepala, masker, sikat, handuk tangan, baju bedah, sarung tangan. Termometer,
stetoskop, alat cukur, syringe 1mL dan 3mL, tali restrain, tampon, jarum, benang silk,
benang catgut chromic 3/0, jarum penampang segitiga, kassa, dan micropore.
Bahan-bahan yang digunakan yaitu kelinci, Ketamine 10%, Xylazine 2%,
Penicillin, akuades, iodine tincture, desinfektan, alkohol 70%, Epinephrine,
Flunixin®, salep erlamycetin 0.1%, salep Genoint® 0.1%, enrofloxacin, salep
Heparin sodium (Thrombopop®), dan salep Agatis.

Prosedur Operasi
1. Persiapan Ruang Operasi
Ruangan dan meja operasi dibersihkan terlebih dahulu sebelum melakukan
operasi, dengan formalin 10% & KMnO4 5% dengan perbandingan 1:2 selama 15-24
jam. Selain itu ruangan operasi juga dapat dibersihkan menggunakan formalin tablet
yang diletakkan diruangan.

2. Persiapan dan Sterilisasi Peralatan Operasi


Peralatan yang akan digunakan dalam operasi, sebelumnya harus dilakukan
proses sterilisasi terlebih dahulu, begitu pula dengan perlengkapan operator dan
asisten. Perlengkapan operator dan asisten tersebut meliputi tutup kepala, masker,
sikat tangan, handuk/duk, baju operasi, dan sarung tangan. Perlengkapan tersebut
dilipat terlebih dahulu dan ditata sesuai dengan urutannya masing-masing kemudian
dibungkus dengan kain muslin/non woven sebelum disterilkan menggunakan sinar
UV selama 15-30 menit. Perlengkapan yang telah disterilisasi lalu digunakan pada
saat operasi oleh operator dan asisten operator.
Peralatan bedah yang akan digunakan dikumpulkan dalam suatu wadah dan
direndam dengan larutan sabun hingga seluruh bagiannya terendam. Setelah
direndam, peralatan dicuci bersih dengan menggunakan sikat hingga bersih.
Instrumen dicuci mulai dari bagian yang bersentuhan dengan tubuh pasien yaitu
bagian ujung hingga bagian yang paling jauh dan jarang bersentuhan dengan tubuh
pasien yaitu bagian pangkal. Instrumen-instrumen tersebut kemudian dibilas dengan
air bersih mulai dari bagian ujung hingga pangkal sebanyak 10-15 kali. Peralatan
bedah minor yang telah dicuci bersih kemudian dikeringkan terlebih dahulu baru
setelah itu ditata rapi di dalam kotak peralatan sesuai dengan urutan penggunaannya.
Kotak peralatan tersebut kemudian dibungkus dengan kain muslin atau non woven
dan disterilisasi menggunakan sinar UV selama 60 menit. Peralatan yang telah
disterilisasi digunakan pada saat operasi.
Peralatan bedah minor yang digunakan pada saat operasi terdiri dari: 4
Backhaus towel clamp, 1 thumb forceps, 1 rat-tooth tissue forceps, 1 scalpel holder
#3, 1 blade, 2 straight mayo scissors, 2 curved mayo scissors, 4 straight Kelly
forceps, 1 tang arteri anatomis bengkok, 1 tang arteri sirurgis lurus, 1 tang arteri
sirurgis bengkok, 1 Mayo-Hager needle holder. Peralatan-peralatan ini disusun sesuai
dengan urutan pada meja peralatan yang dilakukan oleh asisten operator.

3. Persiapan dan Preparasi Hewan


Sebelum hewan dipreparasi, dilakukan pemeriksaan status kesehatan hewan
untuk mengetahui kelayakan hewan dalam proses operasi. Pemeriksaan tersebut
meliputi berat badan, suhu (°C), pulsus (kali/menit), frekuensi jantung (kali/menit),
selaput mukosa, dan turgor kulit. Hewan tidak dipuasakan sebelum tindakan operasi.
Setelah pemeriksaan kesehatan dilakukan, dilanjutkan dengan pemeriksaan
penunjang dengan pengambilan darah dari vena auricularis untuk melihat profil
darah. Hasil darah menunjukkan bahwa kelinci tersebut mengalami neutrofilia dan
anemia. Pemilik kelinci disarankan untuk ke dokter hewan untuk meningkatkan
kondisi tubuh hewannya sebelum operasi dan diberikan multivitamin. Setelah satu
minggu, kondisi kelinci tersebut membaik dan siap untuk dioperasi. Kelinci tersebut
tidak diinjeksikan dengan premedikasi atropine sulfat. Sebelum operasi mulai, kelinci
diinjeksikan dengan anastesi ketamine-xylazine. Dosis ketamine yang digunakan
adalah 30 mg/kg BB, sedangkan dosis xylazine yang digunakan adalah 5 mg/kg BB.
Setelah kelinci teranestesi, daerah caudal abdomen atau daerah inguinalis kemudian
dicukur bersih, dibersihkan dengan alkohol lalu diolesi dengan iodine tincture untuk
antiseptik lokal pada daerah operasi. Kelinci diletakkan diatas meja operasi dengan
posisi dorsal recumbency. Keempat kaki diikat dimeja menggunakan sumbu kompor
dengan simpul Tomfool. Kemudian daerah orientasi operasi ditutup dengan duk dan
difiksir menggunakan towel clamp. Setelah itu, operasi siap dilakukan.

4. Anastesi dan Antibiotik


Pembiusan yang dilakukan pada kelinci adalah anestetik umum menggunakan
kombinasi ketamine dan xylazine secara intra muscular, yaitu pada daerah otot M.
Semimembranosus atau M. semitendinosus. Selama tindakan operasi, kelinci
menunjukkan respon sadar pada saat akhir operasi maka tidak diberikan tambahan
obat bius (maintenance). Pada setiap penjahitan, diberikan antibiotik penicillin cair
untuk mencegah infeksi sekunder.

 Dosis anestesi

Xylazine

Dosis Xylazine: 2 mg/kg BB -> digunakan ½ dosis (5 mg/kg BB)


Konsentrasi: 2% = 2 g/100 ml = 2000 mg/100 ml = 20 mg/ml
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑘𝑔)𝑥 𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑜𝑏𝑎𝑡 (𝑚𝑔/𝑘𝑔 𝐵𝐵) 2.07 𝑘𝑔 𝑥 2 𝑚𝑔/𝑘𝑔 𝐵𝐵
= = 0.2 ml
𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑜𝑏𝑎𝑡 (𝑚𝑔/𝑚𝑙) 20 𝑚𝑔/𝑚𝑙

Ketamine
Dosis Ketamine: 10 mg/kg BB -> digunakan ½ dosis (30 mg/kg BB)
Konsentrasi: 10% = 10 g/100 ml = 10000 mg/100 ml = 100 mg/ml
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑘𝑔)𝑥 𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑜𝑏𝑎𝑡 (𝑚𝑔/𝑘𝑔 𝐵𝐵) 2.07 𝑘𝑔 𝑥 30 𝑚𝑔/𝑘𝑔 𝐵𝐵
= = 0.6 ml
𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑜𝑏𝑎𝑡 (𝑚𝑔/𝑚𝑙) 100 𝑚𝑔/𝑚𝑙

 Penicillin cair 50.000 IU/ml


Bentuk sediaan: 3.000.000 IU/15 ml
200.000 IU/ml

200.000 50.000 (1)


50.000
0 150.000 (3)
Sehingga perbandinganya adalah 1 : 3 (1 ml penicillin ditambahkan 3 ml akuabides
untuk mendapatkan penicillin 50.000 IU/ml).

Persiapan Operator dan Asisten Operator


Operator dan asisten operator mengenakan pakaian dan perlengkapan yang
sudah disterilisasi sebelumnya. Langkah-langkah yang harus dilakukan oleh operator
dan asisten operator sebelum melakukan operasi adalah mencuci tangan
menggunakan sabun terlebih dahulu sebelum menyentuh kain yang membungkus
peralatan steril. Kemudian bungkus kain dibuka dan dilanjutkan memakai haircap
dan masker, mencuci kedua tangan dengan sabun dan menyikatnya dengan sikat pada
air yang mengalir. Pencucian dimulai dari ujung jari yang paling steril kemudian
dibilas dengan arah dari ujung jari ke lengan yang dilakukan sebanyak 10-15 kali.
Setelah selesai mencuci tangan dan membilasnya, dilanjutkan mengeringkan tangan
dengan handuk steril. Kemudian dilanjutkan memakai baju operasi dan sarung
tangan. Setelah semua langkah dilakukan, operator dan asisten siap melakukan
operasi.
5. Prosedur Bedah

Setelah hewan dipreparasi di meja operasi dan telah terpasang duk dengan
towel clamp, sayatan dibuat pada daerah midline caudal abdomen dari cranial scrotum
kiri dan kanan, sayatan dibuat sepanjang 1-1.5 cm. Penyayatan dilakukan dengan
mengangkat sedikit bagian kulit, hal ini bertujuan untuk menghindari perlukaan pada
organ yang berada dibawa kulit. Penyayatan dilakukan dengan scalpel. Sayatan ini
melewati beberapa lapisan diantaranya kulit, subkutis, dan fascia. Setelah diseksi,
funiculus spermaticus bagian kiri ditemukan lalu difiksasi dan testis ditarik keluar
dari skrotum. Bagian caudal dari testis yang ditarik dari pengantung testis hingga
lepas dan testis ditarik keluar. Tunika vaginalis disayat pada corpus testis kemudian
testis dikeluarkan dari tunika vaginalis. Teknik ini disebut sebagai half-closed
castration. Setelah pengeluaran testis dari tunika vaginalis, funiculus spermaticus
dijepit 1/3 dari cranial testis dan diligasi dua kali dengan benang cat gut chromic 3/0.
Setelah diligasi, funiculus dipotong dan diteteskan penicillin cair. Setelah itu,
funiculus dilepas dengan perlahan dan dimasukkan kembali ke abdomen.
Teknik ini dilakukan lagi untuk testis kanan. Setelah pengangkatan kedua
testis, penicillin cair diteteskan pada tempat sayatan untuk menghindari infeksi
sekunder. Setelah itu, penjahitan dilakukan dengan simple interrupted pada kulit
dengan menggunakan benang silk untuk menutup luka. Luka hasil penjahitan
dioleskan dengan sale pagatis dan diperban menggunakan kassa dan micropore.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Parameter Hasil Normal


Haemaglobin 13.4 10.5-15.0 gr/dL
Eritrosit 4.4 5.0-7.2 x 106/L
Trombosit 417 300-700 x 103/L
Leukosit 10100 9-13 x 103/L
Basofil 0 0-1.0 x 103/L
Eosinofil 101 0-0.4 x 103/L
Neutrofil 6464 1.0-6.0 x 103/L
Limfosit 3252 2.0-9.0 x 103/L
Monosit 303 0-0.5 x 103/L
Hematokrit 41 32-45 %

Pre operasi
Sebelum tindakan operasi dilakukan pemeriksaan fisik hasil inspeksi tidak
terlihat adanya kelainan. Setelah dilakukan pemeriksaan darah, hasil yang ditemukan
adalah penurunan eritrosit atau anemia dan peningkatan neutrofil atau neutrofilia.
Kadar eritrosit pada hewan ini sedikit lebih rendah dari kisaran normal, yaitu 4.4 x
106/L. Menurut Dettweiler et al. (2017), terdapat beberapa faktor yang dapat
menyebabkan penurunan eritrosit. Pertama adalah defisiensi nutrien, seperti vitamin
A, B12, C, dan asam folic. Defisiensi ini dapat terjadi karena diet yang tidak
seimbang, penyakit metabolik yang kronik atau kelaparan. Faktor kedua adalah
penyakit sumsum tulang yang menyebabkan anemia terjadi karena toksisitas dari
pengobatan seperti pemberian chloramphenicol, dapat terjadi karena infeksi jamur,
atau neoplasia. Faktor ketiga adalah penyakit kronis seperti osteomyelitis, nefritis,
infeksi respirasi yang kronis, penyakit ginjal atau hati yang kronis, serta inflamasi
yang kronis seperti arthritis atau vasculitis. Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik,
kelinci tersebut tidak mempunyai kondisi fisik yang mengindikasikan defisiensi
nutrisi atau penyakit apapun, namun kelinci tersebut terkadang mengalami kesulitan
untuk makan. Terdapat beberapa laporan juga yang menyatakan bahwa kadar eritrosit
dan hematokrit sangat tergantung pada stres, umur, jenis kelamin, cuaca, dan genus
pada kelinci (Melillo 2007; Jenkins 2008). Saat pengambilan darah, kelinci
mengalami stres karena pengambilan dilakukan beberapa kali dan handling terhadap
kelinci tersebut kurang sesuai, sehingga bakal menimbulkan stres terhadapnya.
Pada kelinci, neutrofil dikenal sebagai pseudoeosinophil atau heterofil.
Perbedaan dari neutrofil kelinci dari mamalia lain adalah keberadaan granul
eosinofilik atau asidofilik. Peningkatan neutrofil atau neutrofilia mengindikasikan
bahwa adanya infeksi bakteri seperti koksidia dalam tubuh (Kulisi 2006). Infeksi
koksidia akan mengakibatkan gejala letargi, kurang nafsu makan, penurunan berat
badan, dehidrasi, diare, dan depresi (Pakandl 2009), namun kelinci tersebut tidak
menunjukkan gejala infeksi koksidiosis. Selain itu, telah dinyatakan bahwa
peningkatan jumlah leukosit pada kelinci jarang menunjukkan infeksi, umumnya
bervariasi karena berbagai faktor stress dan metode pengumpulan darah (Melillo
2007). Menurut Fuentes dan Newgren (2008), kadar leukosit pada kelinci yang
disimpan sendiri lebih tinggi daripada kelinci yang diberi makan bersama.
Sebelum operasi dimulai, obat premedikasi atropin sulfat tidak diberikan kepada
Banny. Hal ini karena atropine tidak dapat melindungi terhadap penurunan frekuensi
jantung pada kelinci secara signifikan dibanding dengan glycopyrrolate (Olson et al.
1994), namun glycopyrrolate tidak tersedia di rumah sakit maka tidak diberikan obat
premedikasi. Hewan ini juga jarang mengalami reflek muntah atau hipersalivasi
sehingga obat premedikasi jarang digunakan pada kelinci. Kelinci juga tidak
disarankan untuk puasa sebelum operasi, hal ini karena pemberian makan tetap akan
membuat saluran pencernaan bergerak, sehingga dapat membantu hewan tersebut
untuk menghilangkan anastesi dengan cepat. Sebelum operasi dimulai, Banny
diinduksi menggunakan kombinasi anastesi ketamine-xylazine. Anestetikum
diberikan secara intramuskular pada otot kaki belakang dan erlamycetin diberikan
pada kedua mata.
Berdasarkan Plumb (2008), Ketamine merupakan anestestikum disosiatif yang kuat
sehingga dapat menyebabkan kehilangan sensasi dan rasa sakit, namun tidak
mempunyai efek sedasi sehingga perlu ditambahkan xylazine. Ketamine dapat
menstimulasi sistem kardiovaskuler sehingga menyebabkan peningkatan denyut
jantung. Xylazine merupakan ɑ2 adrenergic agonist yang dapat mendepres sistem
saraf pusat dengan memberikan efek sedasi, analgesik dan relaksan otot. Ketika
dikombinasi xylazine dengan ketamine, efek obatnya dapat ditingkatkan. Setelah itu,
Banny dibaringkan pada meja operasi dengan posisi dorsal recumbency.

Operasi
Operasi dilakukan dengan menyayat daerah midline caudal abdomen dari
cranial scrotum kiri dan kanan, sayatan dibuat sepanjang 1-1.5 cm. Penyayatan
dilakukan pada tempat tersebut karena kulit scrotum pada kelinci sangat panjang dan
longgar sehingga sulit untuk melakukan penyayatan. Lapisan kulit, subkutan, dan
lemak diseksi. Setelah diseksi, funiculus spermaticus bagian kiri ditemukan lalu
difiksasi dan testis ditarik keluar dari scrotum. Bagian caudal dari testis yang ditahan
dengan tunika vaginalis diseksi sehingga lepas dan testis ditarik keluar. Tunika
vaginalis disayat pada corpus testis lalu hanya testis yang dikeluarkan dari tunika
vaginalis. Teknik membuka prosedur kastrasi tertutup disebut sebagai half-closed
castration. Teknik ini digunakan karena kedua testis tertahan sebagian di raung
abdomen dan untuk menghindari terjadi hernia. Pada kelinci, cincin inguinal terbuka
dan testis dapat bergerak bebas antara scrotum dan abdomen. Pergerakan ini akan
terjadi saat kelinci mengalami stres, kelaparan, atau kesakitan. Terdapat massa lemak
yang besar pada epididymis yang dekat dengan cincin inguinal ketika testis berada di
scrotum. Massa ini akan mencegah terjadi hernia jaringan lunak atau usus melalui
cincin tersebut. Metode kastrasi tertutup tidak akan membuka cincin inguinal, namun
dengan kastrasi terbuka, lemak inguinalis dan epididymis akan menghalangi cincin
inguinalis serta mencegah hernia usus (Meredith dan Flecknell 2006). Setelah
pengeluaran testis dari tunika vaginalis, funiculus spermaticus dijepit 1/3 dari cranial
testis dan diligasi dua kali dengan benang absorbable untuk menutup cincin inguial.
Setelah diligasi, funiculus dipotong dan diteteskan antibiotik. Setelah itu, funiculus
dilepas dengan perlahan dan dimasukkan kembali ke abdomen.
Teknik ini dilakukan lagi untuk testis kanan. Saat pemotongan funiculus
spermaticus kanan, terjadi sedikit pendarahan, maka diteteskan epinephrine untuk
menghentikan pendarahan. Setelah beberapa menit, pendarahan telah berhenti dan
dilepaskan dengan perlahan dan antibiotik diteteskan pada tempat sayatan untuk
menghindari infeksi sekunder. Setelah itu, penjahitan dilakukan dengan simple
interrupted pada kulit dengan menggunakan benang silk untuk menutup luka dan
kemudian diberikan salep agatis untuk mempercepatkan proses pemulihan.
Monitoring selama operasi meliputi pemeriksaan frekuensi denyut jantung
(kali/menit), frekuensi nafas (kali/menit), dan suhu (ºC). Pemeriksaan dilakukan
setiap 10 menit selama operasi berlangsung sampai operasi selasai (30 menit).
Tabel 1 Monitoring pembiusan selama operasi

Menit 0 10 20 30
Frek. Nafas (x/menit) 80 24 28 32

Frek. Jantung 180 132 136 154


(x/menit)
Suhu (°C) 37.5 36.5 37.0 37.0
Mukosa (warna) Pucat Pucat Rose Rose

Tonus otot (+/-) - - + +

160

140

120

100

80

60

40

20

0
0 10 20 30
Waktu (min)

HR RR

Grafik 1 Pengamatan frekuensi nafas dan frekuensi denyut jantung saat operasi.
37.6
37.4
37.2
37
36.8
36.6
36.4
36.2
36
0 10 20 30
Waktu (min)

Suhu

Grafik 2 Pengamatan suhu saat operasi.


Delaney (1996) menyatakan bahwa frekuensi nafas normal pada kelinci
berada pada rentang 30-60 kali/menit. Frekuensi nafas Banny selama operasi
fluktuatif, yaitu 32-80 kali/menit. Pada menit ke-10 dan ke-20, terjadi penurunan
frekuensi nafas. Hal demikian dapat terjadi karena efek dari ketamine-xylazine
mendepres sistem pernafasan. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Plumb (2008)
bahwa ketamine-xylazine mendepres sistem respirasi. Frekuensi jantung kelinci
selama operasi mengalami penurunan pada menit ke-10 dan menit ke-20 namun
masih berada dalam kisaran normal. Menurut Delaney (1996), frekuensi denyut
jantung normal berada dalam kisaran 130-325 kali/menit. Peningkatan frekuensi
denyut jantung sampai ke 154 kali/menit pada menit ke-30 dan menunjukkan bahwa
kelinci telah mulai sadar karena efek anestesi sudah mulai menghilang. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Soesatyoratih (2011) bahwa efek xylazine-ketamine akan
menyebabkan penurunan frekuensi denyut jantung. Namun, suhu Banny mengalami
penurunan selama operasi dan mulai meningkat setelah menit ke-120. Suhu normal
untuk kelinci adalah 38.5-40.0 (Delaney 1996). Penurunan suhu ini terjadi selama
operasi dan selanjutnya kelinci dilakukan heat therapy yaitu dengan menggunakan
heating pad. Menurut Hall et al. (2001), penurunan suhu dapat terjadi pada hewan
yang dianastesi dan hewan pada suhu lingkungan yang dingin.
Gambar 2 Pengeluaran testis dari scrotum.

Gambar 3 Tindakan kastrasi.

Gambar 4 Penjahitan subkutan dan kulit yang ruptur.

Post Operasi
Banny mulai sadar dan mengangkat kepala ± 20 menit setelah operasi. Setelah
operasi, Banny diberikan obat anti-inflamasi dan analgesik flunixin sebanyak 0.04
ml. Berdasarkan Plumb (2008), flunixin merupakan kelompok obat inhibitor enzim
cyclooxygenase. Obat ini bekerja dengan menghambat proliferasi fibroblas, respon
makrofag dan limfosit terhadap mediator peradangan. Selama masa post operasi
diberikan antibiotik enrofloxacin 2 kali sehari selama 5 hari sebanyak 0.2 ml pada
setiap pemberian. Enrofloxacin merupakan antibotik injeksi generasi tiga dari
golongan Fluuoroquinolone yang bersifat bakterisidal, dengan menginhibisi enzim
DNA-gyrase (topoisomerase tipe 2) sehingga menghambat sintesis DNA (Plumb
2008). Pemilihan antibiotik Enrofloxacin didasarkan atas spektrum antibiotik yang
luas dan rendahnya resitensi bakteri. Selain itu, kelinci diberikan makanan seperti
buah papaya yang kaya dengan vitamin A dan C untuk membantu fungsi fisiologis
tubuh Banny. Perawatan Banny terus dilakukan sehingga luka operasi menutup dan
sembuh. Kelinci tidak diberikan kolar Elizabethan karena akan mengakibatkan stres
dan kelinci tidak dapat melakukan caecotrophy.
Monitoring kondisi Banny tetap dilakukan post operasi. Pemeriksaan yang dilakukan
meliputi pemeriksaan suhu, frekuensi nafas, frekeunsi denyut jantung, makan/minum,
defekasi/urinasi, dan melihat keadaan luka kering/basah. Luka bekas operasi terus
dirawat dengan dibersihkan dan dioleskan salep genoint 0.1% dan agatis untuk
mempercepat persembuhan. Hasil pemeriksaan kesehatan post operasi dapat dilihat
pada tabel 3. Berdasarkan data yang disajikan dapat dilihat grafik kondisi Banny post
operasi selama 5 hari pada grafik 3, 4, dan 5. Secara umum frekuensi nafas dan
jantung pasien kecenderungan meningkat. Hal ini dapat terjadi akibat reaksi inflamasi
selama pemulihan luka operasi (Rozanski dan Rush 2007). Selama post operasi, nafsu
makan/ minum dan defekasi/urinasi Banny baik dan perban diganti sekali sehari dan
diberikan salep agatis.

Perhitungan dosis flunixin:


𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑘𝑔)𝑥 𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑜𝑏𝑎𝑡 (𝑚𝑔/𝑘𝑔 𝐵𝐵) 2.07 𝑘𝑔 𝑥 1 𝑚𝑔/𝑘𝑔 𝐵𝐵
= = 0.04 ml
𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑜𝑏𝑎𝑡 (𝑚𝑔/𝑚𝑙) 50 𝑚𝑔/𝑚𝑙

Perhitungan dosis enrofloxacin:

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑘𝑔)𝑥 𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑜𝑏𝑎𝑡 (𝑚𝑔/𝑘𝑔 𝐵𝐵) 2.07 𝑘𝑔 𝑥 10𝑚𝑔/𝑘𝑔 𝐵𝐵


= = 0.2 ml
𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑜𝑏𝑎𝑡 (𝑚𝑔/𝑚𝑙) 100 𝑚𝑔/𝑚𝑙

Tabel 2 Monitoring post operasi


Hari 1 2 3 4 5
Frek. Nafas (x/menit) 40 56 54 52 48

Frek. Denyut jantung 172 168 196 180 184


(x/menit)
Suhu (ºC) 38,3 38,5 38,5 38,4 38,9
Makan/Minum + + + + +
Defekasi/Urinasi + + + + +

Kondisi luka Basah Basah Kering Kering Kering

80
75
70
65
60
55
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
1 2 3 4 5
Hari

Grafik 3 Grafik pengamatan frekuensi nafas post operasi.


200

195

190

185

180

175

170

165

160

155

150
1 2 3 4 5
Hari

Grafik 4 Grafik pengamatan frekuensi denyut jantung post operasi.

40

39

38

37

36

35
1 2 3 4 5
Hari

Grafik 5 Grafik pengamatan suhu post operasi.

Setelah hari ketiga, scrotum Banny mengalami perubahan warna dan perbesaran
ukuran. Warna scrotum kanan kelihatan lebih biru yang disebut echhymosis dan
mengalami inflamasi. Keadaan ini menunjukkan bahwa masih ada hemoragi pada
funiculus spermaticus setelah operasi. Pada keesokan hari, scrotum tersebut telah
mengalami kekerutan akibat digigit oleh kelinci. Kelinci memiliki sifat kanibalisme
jika mengalami stres atau kesakitan, dengan menggigit rambut atau kulit sendiri.
Salep genoint 0.1% dan thrombopop dioleskan pada scrotum untuk menghindari
infeksi dan mengurangi pendarahan.

Gambar 6 Terjadi perubahan warna pada scrotum kanan

SIMPULAN
Kastrasi pada kelinci dapat dilakukan dengan metode half open castration.
Perbedaan tindakan bedah pada hewan kelinci pada dosis anastesi yang digunakan.
Tindakan bedah pada kelinci menggunakan dosis anastesi yang lebih besar
dibandingkan dosis pada anjing dan kucing. Perawatan post operasi dilakukan dengan
baik dan benar untuk melancarkan persembuhan dan mencegah infeksi sekunder.
Pemberian sediaan analgesik dan anti radang digunakan untuk membantu pemulihan
hewan. Selain itu, perawatan pada luka seperti penggantian perban dan pemberian
salep dapat membantu mempercepat persembuhan luka.

DAFTAR PUSTAKA
Brodbelt DC, Blissitt KJ, Hammond RA, Neath PJ, Young LE, Pfeiffer DU, Wood
JL. 2008. The Risk of Death: The Confidential Enquiry into
Perioperative Small Animal Fatalities. Vet.Anaesth.Analg. 35(5):365-373.
Delaney CJ. 1996. Exotic Companion Medicine Handbook. Washington (US):
Wingers Publishing Inc.
Dettweiler A, Klopfleisch R, Müller K. 2017. Anaemia in Pet Rabbits:
Causes,Severity and Reticulocyte Response. Vet.Rec 16:181
Fuentes GC, Newgren J. 2008. Physiology and Clinical Pathology of Laboratory New
Zealand White Rabbits Housed Individually and In Groups.
J.Am.Assoc.Lab.Anim. 47:35-38.
Hall LW, Clarke KW, Trim CM. 2001. Veterinary Anaesthesia. Edisi ke-10. London
(UK): Harcourd Pub.
Jenkins JR. 2008. Rabbit Diagnostic Testing. J.Exot.Pet.Med. 17:4-15.
Kulisi, Zoran, Tambur, Živorad, Aleksi, Nevenka, Zorana. 2008. White Blood Cell
Differential Count in Rabbits Artificially Infected with Intestinal Coccidia.
The Journal of Protozoology Research.
Melillo A. 2007. Rabbit Clinical Pathology. J.Exot.Pet.Med. 16:135-145.
Meredith A, Flecknell P. 2006. BSAVA Manual of Rabbit Medicine and Surgery
Second Edition. Gloucester (UK): BSAVA.
Olson ME, Vizzutti D, Morck DW, Cox AK. The Parasympatholytic Effects of
Atropine Sulfate and Glycopyrrolate in Rats and Rabbits. Can.J.Vet.Res.
58(4):254-258.
Pakandl M. 2009. Coccidia in Rabbit: A Review. Folia Parasitologica.
Plumb DC. 2008. Plumb’s Veterinary Drug Handbook. Edisi ke-6. Iowa (USA):
Blackwell Publishing.
Soesatyoratih A. 2010. Profil Ekokardiografi Motion-Mode Anjing Kampung pada
Pemberian Kombinasu Obat Bius Xylazine-Ketamine dan Zolazepam-T
iletamine. [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Rozanski EA, Rush JE. 2007. Small Animal Emergency and Critical Care Medicine.
London (UK): Manson Pub Ltd.