Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH KOSMETOLOGI

BLUSH ON

OLEH:
NIWAYAN SRITANJUNG (15160007)

PROGRAM STUDI FARMASI


UNIVERSITAS DHARMA ANDALAS
PADANG
2018
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Istilah kosmetika berasal dari kata Yunani yakni “Kosmetikos” yang berarti “Keahlian
dalam menghias”, itu pula sebabnya mungkin angkasa dinamakan cosmos, karena berhiasan
bintang-bintang (Rostamailis,2005). Menurut Retno dan Fatma tahun 2007 “kosmetik
adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar
badan(epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ kelamin bagian luar), gigi, dan rongga
mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi
supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaikibau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk
mengobati atau menyembuhkansuatu penyakit” .Sesuai dengan hal diatas bahwa antara
definisi kosmetik dengan definisiobat berbeda.Kosmetik tidak termasuk golongan obat,
namun dalamberberapa hal keduanya saling berkaitan, baik tujuannya,
kegunaannya,maupun manfaatnya. Misalnya menyegarkan, memperindah, dansebagainya,
secara keseluruhan dari kulit tubuh, rambut, dan sebagainya,sehingga seseorang bisa tampil
dengan penuh percaya diri (Rostamailis,2005).

I.2 Rumusan Masalah

 Apa yang dimaksud dengan blush on ?


 Apa fungsi dari pemakaian blush on ?
 Bagaimana metode yang digunakan untuk membuat blush on ?
 Bagaimana evaluasi yang digunakan dalam sediaan blush on?

I.3 Tujuan

 Untuk mengetahui yang dimaksud dengan blush on


 Untuk mengetahui fungsi dari blush on
 Untuk mengetahui metode yang digunakan dalam membuat blush on
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Anatomi dan Fisiologi Kulit

Kulit merupakan “selimut” yang menutupi permukaan tubuh dan memiliki fungsi
utama sebagai pelindung dari berbagai macam gangguan dan rangsangan luar. Fungsi
perlindungan ini terjadi melalui sejumlah mekanisme biologis, seperti pembentukan lapisan
tanduk secara terus menerus (keratinisasi dan pelepasan sel-sel yang telah mati), respirasi
dan pengaturan suhu tubuh, produksi sebum dan keringat, dan pembentukan pigmen
melamin untuk melindungi kulit dari bahaya sinar UV matahari,sebagai perasa dan peraba,
serta pertahanan terhadap tekanan dan infeksi dari luar. Selain itu, kulit merupakan suatu
kelenjar holokrin yang besar (Montagna, Renault, Depreunil). Kulit terbagi atas 2 lapisan
utama yaitu:

1. Epidermis (kulit ari), sebagai lapisan yang paling luar.


2. Dermis (korium, kutis, kulit jangat)

Dibawah dermis terdapat subkutis atau jaringan bawah kulit. Para ahli histology
histology membagi epidermis dari bagian terluar hingga kedalam menjadi 5 lapisan
yakni:
1. Lapisan Tanduk (stratum corneum), sebagai lapisan yang paling atas.
2. Lapisan Jernih (stratum lucidum), disebut juga “lapisan barier”.
3. Lapisan berbutir-butir (stratum granulosum).
4. Lapisan Malpighi (stratum spinosum) yang selnya seperti berduri.
5. Lapisan basal (stratum germinativum) yang hanya tersusun oleh satu sel-sel basal.

II.2 Kosmetika

Kosmetik berasal dari kata Yunani yaitu “Kosmetikos” yang berarti ketrampilan
menghias, mengatur. Definisi kosmetik dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
1176/MENKES/PER/VIII/2010 adalah sebagai berikut: “Kosmetik adalah bahan atau
sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia (epidermis,
rambut, kuku, bibir, dan organ genital bagian luar) atau gigi, dan mukosa mulut terutama
untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan/atau untuk memperbaiki
bau badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik.”
Penggolongan kosmetik menurut kegunaannya bagi kulit, antara lain:
a. Kosmetik perawatan kulit (skin-care cosmetics)
Jenis ini perlu untuk merawat kebersihan dan kesehatan kulit, termasuk di dalamnya,
yaitu: kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser), kosmetik untuk melembabkan
kulit (moisturizer), kosmetik pelindung kulit dan kosmetik untuk menipiskan atau
mengampelas kulit (peeling).
a. Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up)
Jenis ini diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit sehingga menghasilkan
penampilan yang lebih menarik serta menimbulkan efek psikologis yang baik, seperti
percaya diri (self confidence). Dalam kosmetik riasan, peran zat warna dan zat pewangi
sangat besar.

II.2.1 Kosmetik Dekoratif


Sesungguhnya segala jenis kosmetik, mulai dari kosmetik pembersih,pelembab,
pelindung, dekoratif (make-up) sampai pengobatan, mempunyai tujuan yang sama, yaitu
memelihara atau menambah kecantikan kulit.(Tranggono, RetnoIswari.2007). Kekhasan
kosmetik dekoratif adalah bahwa kosmetik ini bertujuan semata-mata untuk mengubah
penampilan, yaitu agar tampak lebih cantik dan noda-noda atau kelainan pada kulit
tertutupi. Kosmetik dekoratif tidak perlu menambah kesehatan kulit. Kosmetik ini dianggap
memadai jika tidak merusak atau sesedikit mungkin merusak kulit.(Tranggono, Retno
Iswari.2007). Pemakaian kosmetik dekoratif lebih untuk alasan psikologis daripada
kesehatan kulit, sedikit persyaratan untuk kosmetik dekoratif antara lain adalah warna yang
menarik, bau yang harum menyenangkan, tidak lengket, tidak menyebabkan kulit tampak
berkilau dan sudah tentu tidak merusak atau mengganggu kulit, rambut, bibir, kuku dan
lainnya.

Kosmetik Dekoratif dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu :


1. Kosmetik dekoratif yang hanya menimbulkan efek pada permukaan dan
pemakaiannya sebentar, misalnya bedak, lipstick, pemerah pipi, eye- shadow dan lain
lain.
2. Kosmetik dekoratif yang efeknya mendalam dan biasanya dalam waktu lama baru
luntur, misalnya kosmetik pemutih kulit, cat rambut, pengering rambutdan preparat
penghilang warna rambut.

Adapun contoh-contoh dari kosmetik dekoratif adalah ;


- Perona pipi
- Cat Kuku
- Eye Shadow
- Bedak
- Maskara
- Krim dasar Bedak
- Pensil Alis
- Alas Bedak (Foundation)
- Lipstik
- Penutup Garis Keriput
- Kosmetika untuk Rambut
Undang undang
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1. Kosmetika adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada
bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian
luar) atau gigi dan membran mukosa mulut terutama untuk membersihkan,
mewangikan, mengubah penampilan dan/atau memperbaiki bau badan atau
melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik.
2. Bahan Kosmetika adalah bahan atau campuran bahan yang berasal dari alam
dan/atau sintetik yang merupakan komponen kosmetika termasuk bahan pewarna,
bahan pengawet dan bahan tabir surya.
3. Bahan Pewarna adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk
memberi dan/atau memperbaiki warna pada kosmetika.
4. Bahan Pengawet adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk
mencegah kerusakan kosmetika yang disebabkan oleh mikrooganisme.

BAB II
PERSYARATAN BAHAN
Pasal 2
(1) Bahan Kosmetika harus memenuhi persyaratan mutu sebagaimana tercantumm
dalam Kodeks Kosmetika Indonesia atau standar lain yang diakui atau sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Bahan Kosmetika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa bahan yang
diperbolehkan digunakan dalam pembuatan kosmetika.
(3) Selain bahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), bahan tertentu
dilarang digunakan dalam pembuatan kosmetika.
Pasal 3
Bahan Kosmetika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) meliputi:
a. Bahan Kosmetika yang diperbolehkan digunakan dengan pembatasan dan
persyaratan penggunaan sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini;
b. bahan yang diperbolehkan sebagai Bahan Pewarna sebagaimana tercantum dalam
Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini;
c. bahan yang diperbolehkan sebagai Bahan Pengawet sebagaimana tercantum dalam
Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini; dan
d. bahan yang diperbolehkan sebagai Bahan Tabir Surya sebagaimana tercantum
dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini.

BAB III
SANKSI ADMINISTRATIF
Pasal 6
Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Peraturan ini dapat dikenai sanksi
administratif
berupa:

1. Peringatan tertulis;
2. Larangan mengedarkan kosmetika untuk sementara;
3. Penarikan kosmetika yang tidak memenuhi persyaratan keamanan, kemanfaatan,
mutu dan penandaan dari peredaran;
4. Pemusnahan kosmetika;
5. Pembatalan notifikasi; dan/atau
6. Penghentian sementara kegiatan produksi dan/atau peredaran kosmetika.
II.3 Pengertian blush on dan fungsi
Blush on adalah sediaan kosmetik yang digunakan untuk mewarnai pipidengan
sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tatariaswajah. Blush on atau
blush on diaplikasikan untuk memberi warna dan memberikesan hangat pada wajah
(Permatasari, 2012). Dengan demikian penggunaanblush on berpengaruh terhadap hasil
rias wajah seseorang. Blush on dapatlangsung digunakan dengan cara melekatkan pada kulit
pipi, tetapi lebih baikdigunakan sebelum atau sesudah menggunakan bedak. Penggunaan
blush on tergantung macam-macam blush on, karena setiap blush on memiliki
carapengaplikasian yang berbeda- beda. Untuk itu, sebelum pemakaian harusmengetahui
macam- macam blush on.
Perona pipi atau yang sering dikenal sebagai pemerah pipi, rouge, blush on
adalahsediaan kosmetik yang digunakan untuk mewarnai pipi dengan sentuhan artistic
sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata rias wajah (Depkes RI, 1985). Pemerah
pipi dibuat dalam berbagai corak warna yang bervariasi mulai dari warna merah jambu
hingga merah tua. Pemerah pipi konvensional lazim mengandung zat pewarna, pemerah pipi
yang mengandung zat warna dengan kadar rendah digunakan sebagai pelembut warna atau
pencampur untuk memperoleh efek yang menyolok. Pemerah pipi dapat digunakan
langsung dengan melekatkan pada kulit pipi, tetapi dalam banyak hal lebih baik digunakan
setelah sediaan alas rias, baik sebelum maupun sesudah menggunakan bedak (Depkes RI,
1985).
Fungsi dari pemerah pipi ini yaitu untuk memberikan rona segar pada pipi dan untuk
memperjelas keindahan struktur wajah yang terfokus pada tonjolan tulang pipi. Pemerah
pipi juga berperan untuk menyatukan nuansa warna rias wajah secara keseluruhan.Karena
itulah pemerah pipi seringkali dibaurkan secara tipis pada seluruh wajah sebagai sentuhan
terakhir (finishing).
II.3.1 Jenis- jenis blush on
Jenis kulit menjadi salah satu pertimbangan ketika akan mernbeli atau menggunakan
perona pipi. Hendaknya ketahui terlebih dahulu jenis kulit wajah,termasuk yang berjenis
kulit berminyak, normal atau kering sebelum memilih jenis blush on yang tersedia. Ada
beberapa jenis perona pipi atau blush on yang ada saat ini:
a. Padat
Merupakan perona pipi yang paling urnum dikenal. Digunakan dengan bantuanblush
brush/kuas pada bagian pipi. Serbuk warna perona pipi yang dipadatkan ini
akanmenghasilkan warna yang sangat nyata. Jenis ini dapat dipakai untuk semua jenis
kulit, terutarnauntuk yang memiliki kulit berminyak karena akan mengurangi minyak
yang ada selama dipakai. Dalarn penggunaannya, blush on ini tidak boleh diaplikasikan
terlalu tebal karena dapat menyebabkan tampakan cakey.
Terdapat 2 bentuk dipasaran yaitu loose powder rouges dan compact powder rouges.
Loose powderadalah bentuk yang paling sederhana berisi pigmen dan lakes dalam bentuk
kering diencerkan dengan bahan-bahan powder standar seperti talcum, zinc stearat dan
magnesium carbonat. Kandungan pigmen biasanya 5 – 20 %. Compact rouges lebih
popular dibandingkan loose powder karena: tidak begitu beterbangan ketika dipakai dan
melekat lebih baik pada kulit. (Tranggono, 2007)
b. Krim
Bentuknya tidak sepadat blush on padat dan mernilild tekstur lebih basah. Karena
tekstur inilah,maka warna yang dihasilkan dapat lebih menyatu alarni dengan warna
kulit wajah.Jenis ini kurang cocok digunakan seseorang yang berjenis kulit berminyak
karena dapat mernbuat wajah terlihat lebih basah atau berrninyak.Namun dernikian,
cream blush ini sangat cocok digunakan pada daerah zona T wajah berrninyak dan
memberikan kilau natural.Cara pengaplikasiannya adalah dengan menggunakan jari.
Pada anhydrous cream rouges, zat-zat pewarna (pigmen, lakes dan / atau cat larut
minyak) didispersikan atau dilarutkan dalam base fat-oilwax. Dibandingkan dengan yang
powder, anhydrous cream rouges memiliki keuntungan dapat membentuk lapisan tipis
yang rata di permukaan kulit sehingga tampak lebih alami dari pada loosepowder. Krim
inijuga bersifat menolak air, sehingga resiko lunturnya rouge karena perspirasi
terhindari. (Tranggono, 2007)
c. Liquid / cair
Liquid blush sangat mirip konsistensinya dengan cream blush, hanya saja liquid
blushsedikit lebih encer. Jenis ini hanya boleh diaplikasikan di daerah pipi dan cocok
untuk kulit normal dan kering.Preparat ini terdiri dari larutan warna dengan bahan
pelarut air atau hidroalkohol.Zat-zat warna yang dipilih harus sangat harmonis dengan
kulit.Glycerol, sorbitol liquid dan lain-lain memberikan rasa lembut pada pemakaian,
tetapi sebaiknya tidak digunakan banyak-banyak karena dapat menghambat
pengeringan rouge di kulit. Gum atau mucin memberikan konsistensi yang memperbaiki
penyebaran rouge di kulit. (Tranggono, 2007)
d. Gel
Berbentuk gel dan warna yang dihasilkan tidak terlalu nyata sehingga cocok untuk
pernakaiansehari-hari atau bila ingin diaplikasikan dandanan yang natural.Perona pipi
gel ini cocok untuk kulit kering.
e. Balls
Menyerupai bola-bola kecil.Cara menggunakannya adalah denganmenggunakan kuas
yang diputar-putar di atas bola-bola tersebut.Serbuk yang menempel pada kuas
kemudian dapat disapukan pada pipi.Dapat digunakan untuk semua jenis kulit.
f. Stick
Bentuk stik ini seperti lipstick dan cocok untuk semua jenis kulit. Carapemakaiannya
adalah dengan mengaplikasikannya secara lurus pada pipi, kemudian diratakan dengan
jari.

II.4 Syarat blush on

Pemilihan warna blush on sebaiknya disesuaikan dengan warna lipstick dan nail polish
(cat kuku), sehingga penampilan keseluruhan akan lebih harmonis. Mencoba berbagai
pilihan warna blush on sebenarnya bebas dan tidak ada larangan. Tetapi memilih warna
blush on yang sesuai dengan warna kulit justru akan membuat riasan atau makeup terlihat
makin natural. Blush on tersedia dalam berbagai pilihan warna, yaitu merah, jingga, pink dan
juga
kecoklatan.(Kusantati, dkk ,2008)
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan didalam menentukan warna yang akan
dipakai dalam pengaplikasian blush on salah satunya memilih warna blush on berdasarkan
warna kulit. Blush on memiliki beragam warna akan tetapi tidak semua warna blush on
cocok untuk warna kulit. Jika warna kulit wajah cenderung putih atau kuning, pilih blush on
yang bernuansa merah muda, untuk kulit wajah berwarna sawo matang atau gelap, pilih
blush on berwarna gradasi merah jingga atau merah bata buat pemakaian sehari-hari.Bila
menginginkan warna kelihatan alami, pilih warna satu tingkat lebih cerah dari warna kulit
atau dua tingkat lebih gelap dibanding warna kulit.tapi untuk acara pesta, tidak ada salahnya
mengaplikasikan perona lebih tebal akan tetapi pemakaiannya harus terkesan alami.
Rauge/ blush on diciptakan dengan warna- warna yang menarik, pada dasarnya
warna yang dipakai pada produk kosmetik blush on menggunakan pewarna dari bahan
kimia. Hanya saja sekali juga memberikan pengaruh negative pada kulit muka, terutama pipi,
yaitu diawali dengan gatal- gatal lalu memerah dan bahkan kulit mengelupas (Rostamailis,
2005).Oleh karena itu dampak pemakaian zat warna alam pada kulit lebih baih dari pada zat
warna sintetis.(Retno dan Fatma, 2007)

II.5 Komposisi blush on

a. Basis
Basis yang digunakan pada pembuatan blush on kompak sama dengan basis yang
digunakan pada pembuatan bedak kompak. Basis tersebut bertujuan untuk memberikan
struktur yang baik dan memberikan rasa licin, misalnya : Talc. Basis yang digunakan pada
pembuatan Liquid blusher mirip dengan basis yang digunakan dalam pembuatan liquid
foundation.
b. Pigmen warna
Beberapa pewarna yang masih dapat digunakan adalah besi (III) oksida,
titaniumdioksida, dan beberapa pewarna lain seperti:
 D&C Red No.6 Ba Lake
 D&C Red No.7 Ca Lake
 D&C Red No.30 Al Lake
 D&C Red No.34 Ca Lake
 D&C Red No.36 Al Lake
 D&C Yellow No.10 Al Lake
 FD&C Yellow No.5 Al Lake
 FD&C Yellow No.6 Al Lake
 FD&C Red No.3 Al Lake
 FD&C Red No.40 Al Lake

c. Pengikat (Binder)
Material-material yang digunakan sebagai pengikat dapat meningkatkan gaya
kohesi. Terdapat beberapa macam zat pengikat, yakni: zat kering/powder, minyak,
silicon, dan emulsi. Powder contohnya metalik stearat seperti Zn-stearat dan Mg-stearat.
Pati juga biasanya dipilih sebagai pengikat yang baik, namun perlu peninjauan khusus
agartidak terbentuk cake yang keras.Pengikat minyak dapat digunakan pada beberapa
formulasi blush on padat/kompak. Contoh: minyak mineral, isopropyl myristate, dan
derivat lanolin.
d. Pengawet
Pengawet diperlukan dalam sediaan pemerah pipi untuk mencegah kontaminasiproduk
oleh mikroba selama produksi, distribusi, maupun setelah sampai dan digunakan oleh
konsumen.Pengawet yang biasa digunakan adalah metil paraben dan propil paraben
dengan konsentrasi 0,05 -0,20 %.
e. Fragrance
Parfum merupakan konstituen yang penting dalam pemerah pipi agar dapat
menutupi bau yang tidak sedap dari bahan serta menciptakan suatu ketertarikan
tersendiri bagi konsumen.Beberapa jenis parfum kadang mengandung bahan yang
sangat mudah teroksidasi sehingga penambahan antioksidan dapat membantu.Namun
demikian, antioksidan dapat menyebabkan iritasi.Oleh karena itu, parfum yang paling
sering digunakan adalah soft floral fragrance.
f. Bahan Tambahan Lain
Komponen tambahan pembuatan Perona Pipi
 Pengkilau, Contohnya Bismuth Oxychloride
 Emolient, Contohnya Dimethicone
 Skin protectan dan sunscreen agent, Contohnya Zinc oxide
 Anticaking, Contohnya Zinc Stearate

Contoh Formula

1. Contoh formula pemerah pipi bubuk kompak:


a. Kaolin ringan 50

Kalsium karbonat endap 50

Magnesium karbonat 50

Seng stearat 50

Talc 750

Pigmen 50

Parfum 2,0

Zat pengikat: Isopropyl meristat

Dasar salep lanolin sama banyak,secukupnya

b. Talc 78,20
Seng stearat 5,00
Ester cair 5,00
Titanium dioksida 2,00
D&C Red No.6 Ba Lake 0,05
D&C Red No.7 Ca Lake 0,40
Yellow Iron Oxide 1,00
Black Iron Oxide 0,05
Metil paraben 0,10
Propil paraben 0,05
Imidazolidinyl Urea 0,10
Titinated Mica Pearl 8,00
Parfum 0,10

2. R/ bentuk pasta
Ceresin 500
Parafin liq Spissum 500
Pewarna lake q.s.
Parfum q.s.

3. R/ bentuk cairan
Eritrosin 0.1 – 0.5
Gliserin 50
Alkohol 10
Aqua rosarum ad 100

4. R/ bentuk cream
Asam stearat 142
Gliserin 100
Boraks 2.5
Trietanolamina 10
Aqua destilata 750
Pewarna q.s.
Parfum q.s.

5. R/ bentuk stick
PPG-3 Myristyl ether 73,00
Propylene Glycol 10,00
Aquadest 3,00
Na-stearat 8,00
Pewarna q.s.
Parfum q.s.

II.7 Pembuatan blush on


Metode pembuatan perona pipi yang dimaksud disni ialah metode pembuatan untukperona
pipi jenis padat (compact powder). Adapun metode dalam pembuatan peronapipi melalui tahapan
berikut:

1. Colour extension
Kunci utama dari proses pigmentasi produk adalah kehomogenan disperse pigmen dengan
basis. Dispersi ini sangat bergantung pada efisiensimixer, dan sifat fisik dari material-material
yang akan dicampurkan.Dispersi pigmen yang homogen dapat diperoleh dengan ekstensi
pigmen(melewatkan pigmen dan talc pada hammer mill). Aglomerat pigmen akanterpecah
yang kemudian akan menjadi stabil dengan bergabung dalampartikel talc.
2. Penyiapan basis
Basis putih (Talc) dimixer dalam blender stainless-steel tipe ribbon selama 20 menit sampai 3
jam tergantung dari tipe mixer, dan kapasitas. Setelah itu,ditambahkan extended colour dan
dimixer bersama hingga homogen. Terakhir,ditambahkan parfurn dan pengikat.
3. Pengopakan
Metode yang paling sering digunakan adalah metode kempa kering.

II.7 Evaluasi sediaan


1. Uji Dispersi Warna
Dispersi warna diuji dengan menyebarkan serbuk pada permukaan berwarna putih dan
ditentukan dari keindahannya.Tidak boleh ada warna yang tercoreng, atau tidak merata.
2. Pay-Off
Parameter ini digunakan untuk melihat efek dari pengopakan yang
kurangbaik.Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan aplikator.Hasil dari sediaan
harus selalu diperiksa pada kulit. Jika tekanan pada cake terlalu besar, bedak yang
dihasilkan tidak akan tersapu bersih dengan mudah, dan akan ada gaya adhesi yang tidak
cukup dari bahan terhadap puff. Jika tekanannya terlalu rendah, cake akanmenjadi
lembek dan mempunyai kecenderungan menjadi remuk dan pecah.
3. Microbial Testing
Pada formula sediaan ini terdapat Metyl Paraben dan Propyl Paraben yang dapatbekerja
menahan pertumbuhan mikroba pada basis berminyak dan diharapkan hasil uji mikroba
tidak lebih dari 100 cfu / gram.
4. Stability Test.
Tes ini untuk mengetahui stabilitas pressed rouge powder dalam jangka waktutertentu,
dilakukan dalam alat climatic chamber.

5. Uji Tekanan
Pada sediaan tekanan yang diberikan secara alami haruslah rata, dengan
adanyakantung-kantung udara akan membuat cake menjadi mudah pecah. Keseragaman
dankekerasan dari cake sebaiknya diperiksa dengan penetrometer.Pemeriksaan
padatable sebaiknya diambil dari berbagai segi untuk meyakinkan bahwa produk
cukupkeras dan tekanan yang diberikan seragam.
6. Tes Keretakan
Langkah yang paling baik terhadap kecenderungan bedak menjadi pecah adalahdengan
menjatuhkan bedak pada permukaan kayu beberapa kali pada ketinggian 8-10inci. Jika
cake yang dihasilkan tidak rusak, mengindikasikan bahwa kekompakannyalulus uji dan
dapat disimpan tanpa menghasilkan hal-hal yang tidak memuaskan.
7. Uji iritasi
Tes untuk mengetahui keamanan sediaan perona pipi yang dihasilkan.
DAFTAR PUSTAKA

Andoko, agus, & Nurrasyid.2012. Jurus Sukses Hasilkan buah Naga Kualitas Prima. Jakarta
Selatan: Agro Media Pustaka

Astati, Sutriari.1996. Rias Wajah Sehari- hari. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah,
Departemen Pendidikan Nasional.

Ditjen POM. 1985. Formularium Kosmetik Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan


Republik Indonesia

Eddy, Tano & Dipl. Chem. Eng. 2005.Teknik Membuat Kosmetik dan Tip Kecantikan. Jakarta:
PT Rineka Cipta dan PT. Bina Adi Aksara.

Kusantati, Herni, dkk. 2008. Tata Kecantikan Kulit. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah,
Departemen Pendidikan Nasional.

Latifah Fatma, Retno Iswari Tranggono. 2007. Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.

Nurhayati, Ifa. 2016. Pembuatan Blush-On dari Buah Naga. Jurnal Skripsi.
http://lib.unnes.ac.id/23301/1/5402411014.pdf (31 Maret 2017)