Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH MIKROBIOLOGI

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN


MIKROORGANISME

DISUSUN OLEH:
DAVID ROBINSON GULTOM
141 0401 061

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI/AGRONOMI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TIDAR
2015
I. PENDAHULUAN

Tiap-tiap makhluk hidup itu keselamatannya sangat tergantung kepada keadaan sekitarnya,
terlebih lagi mikroorganisme. Mikroorganisme ini tidak dapat menguasai faktor-faktor luar
sepenuhnya, sehingga hidupnya sama sekali tergantung kepada keadaan sekelilingnya. Satu-
satunya jalan untuk menyelamatkan diri ialah dengan menyesuaikan diri (adaptasi) kepada
pengaruh faktor-faktor luar. Penyesuaian diri dapat terjadi secara cepat serta bersifat sementara
waktu, akan tetapi dapat pula perubahan itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk
morfologi serta sifat-sifat fisiologi yang turun menurun. Kehidupan bakteri tidak hanya di
pengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan.
Misal, bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam media tempat ia tumbuh. Bakteri dapat
pula mengubah pH dari medium tempat ia hidup, perubahan ini di sebut perubahan secara kimia.

Kemampuan mikroorganisme untuk tumbuh dan tetap hidup merupakan suatu hal yang
penting untuk diketahui. Pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
mikroba sangat penting di dalam mengendalikan mikroba.

Faktor-faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba. Adapun faktor-faktor


lingkungan dapat di bagi atas faktor-faktor biotik dan faktor-faktor abiotik. Faktor-faktor biotik
terdiri atas mahluk-mahluk hidup, sedang faktor-faktor abiotik terdiri dari faktor-faktor alam
(fisika) dan factor-faktor kimia.

II. PEMBAHASAN

A. Faktor-Faktor Abiotik
Faktor abiotik adalah faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan yang bersifat fisika dan
kimia. Di antara faktor-faktor yang perlu di perhatikan ialah suhu, pH, tekanan osmose,
pengeringan, sinar gelombang pendek, tegangan muka dan daya oligodinamik.

SUHU
Masing-masing mikrobia memerlukan suhu tertentu untuk hidupnya. Suhu pertumbuhan
suatu mikrobia dapat di bedakan dalam suhu minimum, optimum dan maksimum.
Berdasarkan atas perbedaan suhu pertumbuhannya dapat di bedakan mikrobia yang
psikhrofil, mesofil, dan termofil. Untuk tujuan tertentu suatu mikrobia perlu di tentukan titik
kematian termal (Thermal Death Point) dan waktu kematian termal (Thermal Death Time)
nya.

Daya tahan terhadap suhu itu tidak sama bagi tiap-tiap spesies. Ada spesies yang mati
setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam cairan medium pada suhu 60°C,
sebaliknya, bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan Clostridium itu tetap
hidup setelah di panasi dengan uap 100°C atau lebih selama kira-kira setengah jam. Untuk
sterilisali, maka syaratnya untuk membunuh setiap spesies untuk membunuh setiap spesies
bakteri ialah pemanasan selama 15 menit dengan tekanan 15 pound serta suhu 121°C di
dalam autoklaf.

Dalam cara menentukan daya tahan panas suatu spesies perlu di perhatikan syarat-syarat
sebagai berikut:
1. Berapa tinggi suhu.
2. Berapa lama spesies itu berada di dalam suhu tersebut.
3. Apakah pemanasan bakteri itu di lakukan di dalam keadaan kering ataukah di
dalam keadaan basah.
4. Beberapa pH dari medium tempat bakteri itu di panasi.
5. Sifat-sifat lain dari medium tempat bakteri itu di panasi.

Mengenai pengaruh basah dan kering ini dapat diterangkan sebagai berikut. Di dalam
keadaan basah, maka protein dari bakteri lebih cepat menggumpal daripada di dalam
keadaan kering, pada temperartur yang sama. Berdasarkan ini, maka sterilisasi barang-
barang gelas di dalam oven kering itu memerlukan suhu yang lebih tinggi daripada 121° C
dan waktu yang lebih lama daripada 15 menit. Sedikit perubahan pH menju ke asam atau ke
basa itu sangat berpengaruh kepada pemanasan. Berhubung dengan ini, maka buah-buahan
yang masam itu lebih mudah disterilisasikan daripada sayur-sayur atau daging.

Untuk menentukan suhu maut bagi bakteri orang mengambil pedoman sebagai berikut:
Suhu maut (Thermal Death Point) ialah suhu yang serendahrendahnya yang dapat
membunuh bakteri yang berada di dalam standard medium selama 10 menit. Ketentuan ini
mencakup kelima syarat-syarat tersebut diatas. Perlu diperhatikan kiranya, bahwa tidak
semua individu dari suatu spesies itu mati bersama-sama pada suatu suhu tertentu. Biasanya,
individu yang satu lebih tahan daripada individu yang lain terhadap suatu pemanasan,
sehingga tepat jugalah bila kita katakan adanya angka kematian pada suatu suhu (Thermal
Death Rate). Sebaliknya jika suatu standard suhu sudah ditentukan seperti pada perusahaan
pengawetan makanan atau dalam perusahaan susu, maka lamanya pemanasan merupakan
faktor yang berbeda-beda bagi tiap-tiap dapatlah kita adakan penentuan waktu maut
(Thermal Death Rate). Biasanya standar suhu itu diatas titik didih dan pemanasan setinggi
ini perlu bagi pemusnahan bakteri yang berspora. Umumnya bakteri lebih tahan suhu rendah
daripada suhu tinggi. Hanya beberapa spesies neiseria mati karena pendinginan sampai 0° C
dalam kedaan basah. Bakteri patogen yang bias hidup di dalam tubuh hewan atau manusia
dapat bertahan sampai beberapa bulan pada suhu titik beku.

Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh kepada spora, karena spora sangat sedikit
mengandung air. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh bakteri daripada
kalau pembekuan itu di dalam buih, buih tidak membeku sekeras air beku. Bahwa
pembekuan air itu menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri mudahlah dimaklumi,
tentang efek yang lain misalnya secara kimia, kita belum tahu. Pembekuan secara perlahan-
lahan dalam suhu -16°C (es dicampur garam) lebih efektif dari pada pembekuan secara
mendadak dalam udara beku (-190° C). Juga pembekuan secara terputus-putus ternyata lebih
efektif dari pada pembekuan secara terusmenerus. Sebagai contoh, piaraan basil tipus mati
setelah dibekukan putus-putus dalam waktu 2 jam, sedang piaraan itu dapat bertahan
beberapa minggu dalam keadaan beku terus-menerus.

Mengenai pengaruh suhu terhadap kegiatan fisiologi, maka seperti halnya dengan
mahluk-mahluk lain, mikrooganisme pun dapat bertahan di dalam suatu batas-batas suhu
tertentu. Batas-batas itu ialah suhu minimum dan suhu maksimum, sedang suhu yang paling
baik bagi kegiatan hidup itu disebut suhu optimum. Berdasarkan itu adalah tiga golongan
bakteri, yaitu:
 Bakteri termofil (politermik), yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada
suhu setinggi 55° sampai 65°C, meskipun bakteri ini juga dapat berbiak pada suhu
lebih rendah atau lebih tinggi daripada itu, yaitu dengan batas-batas 40°C sampai
80°C. Golongan ini terutama terdapat didalam sumber air panas dan tempat-
tempat lain yang bersuhu lebih tinggi dari 55°C.
 Bakteri mesofil (mesotermik), yaitu bakteri yang hidup baik di antara 5° dan
60°C, sedang suhu optimumnya ialah antara 25° sampai 40°C, minimum 15°C
dan maksimum di sekitar 55°C. Umumnya hidup di dalam alat pencernaan,
kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada suhu 40°C atau lebih.
 Bakteri psikrofil (oligotermik), yaitu bakteri yang dapat hidup di antara 0°
sampai 30°C, sedang suhu optimumnya antara 10° sampai 20°C. Kebanyakan dari
golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin baik di daratan ataupun di lautan.

Pada tahun 1967 di Yellowstone Park di temukan bakteri yang hidup dalam air yang
panasnya 93-94° C dan pada tahun 1969 berapa spesies lagi di tempat yang sama yang juga
sangat termofil. Spesies-spesies itu di tetapkan menjadi Thermus aquaticus, Bacillus
caldolyticus dan Bacillus caldotenax. Dalam praktek, batas-batas antara golongan-golongan
itu sukar di tentukan, juga di antara beberapa individu di dalam satu golongan pun batas-
batas suhu optimum itu sangat berbeda-beda. Bakteri termofil agak menyulitkan pekerjaan
pasteurisasi, karena pemanasan pada pasteurisasi itu hanya sekitar 70° C saja, sedang pada
suhu setinggi itu spora-spora tidak mati. Spora bakteri termofil juga merepotkan perusahaan
pengawetan makanan. Selama bahan makanan di dalam kaleng itu di simpan pada suhu yang
rendah, spora-spora tidak akan tumbuh menjadi bakteri. Akan tetapi, jika suhu sampai naik
sedikit, besarlah bahaya akan rusaknya makanan itu sebagai akibat dari pertumbuhan spora-
spora tersebut.
Sebaliknya, bakteri psikrofil dapat mengganggu makanan yang di simpan terlalu lama di
dalam lemari es. Golongan bakteri yang dapat hidup pada bata-batas suhu yang sempit,
misalnya, Gonococcus itu hanya dapat hidup subur antara 30° C dan 40° C, jadi batas antara
minimum dan maksimum tidak terlampau besar, maka bakteri semacam itu kita sebut
stenotermik. Sebaliknya Escherichia coli tumbuh baik antara 8° C sampai 46° C, jadi beda
antara minimum dan maksimum suhu di sini ada lebih besar daripada yang di sebut di atas,
maka Escherichia coli itu termasuk golongan bakteri yang kita sebut euritermik. Pada
umumnya dapat di pastikan, bahwa suhu optimum itu lebih mendekati suhu maksimum
daripada suhu minimum.Hal ini nyata benar bagi Gonococcus dan Escherichia coli,
keduanya mempunyai optimum suhu 37 °C. Bakteri yang dipliara di bawah suhu minimum
atau sedikit di atas suhu maksimum itu tidak segera mati, melainkan berada di dalam
keadaan tidur (dormancy).

Suhu berpengaruh terhadap kinerja reaksi dalam mikroorganisme. Kecepatan tumbuh


pada suhu tinggi yang menurun tiba-tiba disebabkan oleh denaturasi panas protein dan
mungkin pula denaturasi struktur sel seperti membran. Pada suhu maksimum untuk tumbuh
maka reaksi yang merusak menjadi sangat besar. Suhu itu biasanya hanya berapa derajat
lebih tinggi daripada suhu untuk kecepatan tumbuh maksimal, yang dinamakan suhu
optimum.

Dari pengaruh suhu pada kecepatan reaksi kimia, dapat diramalkan bahwa semua bakteri
dapat melanjutkan tumbuhnya (meskipun dengan kecepatan yang makin lama makin lebih
rendah) selama suhu diturunkan sampai sistem itu membeku. Akan tetapi, kebanyakan
bakteri berhenti tumbuh pada suhu (suhu minimum untuk tumbuh ) jauh di atas titik beku
air. Setiap mikroorganisme mempunyai suhu yang tepat untuk pertumbuhan, tetapi di bawah
suhu ini pertumbuhan tidak terjadi betapa pun lamanya masa inkubasi.

Nilai suhu kardinal menurut angka (minimum, optimum, dan maksimum) dan kisaran
suhu yang memungkinkan pertumbuhan, sangat beragam pada bakteri. Beberapa bakteri
yang diisolasi dari sumber air panas dapat tumbuh pada suhu setinggi 95°C; yang diisolasi
dari lingkungan dingin, dapat tumbuh sampai suhu serendah –10°C jika konsentrasi solut
yang tinggi mencegah mediumnya menjadi beku. Berdasarkan kisaran suhu untuk tumbuh,
bakteri seringkali dibagi atas tiga golongan besar: termofil, yang tumbuh pada suhu tinggi
(diatas 55°C); mesofil, yang tumbuh baik antara 20°C sampai 45°C dan psikrofil, yang
tumbuh baik pada 0°C.

Seperti juga dalam sistem klasifikasi biologis yang kerap kali benar, terminologi ini
menunjukan perbedaan yang lebih jelas di antara tipe-tipe daripada yang di jumpai di alam.
Klasifikasi reaksi suhu tiga pihak tidak memperhitungkan seluruh variasi di antara bakteri
berkenaan dengan adanya perluasan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan.
Perbedaan dalam kisaran suhu di antara termofil kadang-kadang dinyatakan dengan istilah
stenotermofil (organisme yang tidak dapat tumbuh di bawah 37 °C), dan euritermofil
(organisme yang dapat tumbuh di bawah 37 °C). psikrofil yang masih dapat tumbuh di atas
20 °C di sebut psikrofil fakultatif; dan yang tidak dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut
psikrofil obligat.

Garis dengan satu tanda panah menunjukkan batas suhu tumbuh untuk paling sedikit satu
galur spesies itu terdapat variasi di antara bermacam galur beberapa spesies. Tanda dengan
dua panah menunjukkan bahwa pada batas suhu sebenarnya terletak di antara tanda panah
tersebut. Garis dengan titik-titik menunjukkan bahwa pertumbuhan minimum belum
ditentukan. Data yang menggambarkan kisaran suhu tumbuh berbagai macam bakteri
menunjukkan sifat termofil, mesofil, dan psikrofil yang agak berubah-ubah.
Kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan itu berubah-ubah seperti halnya suhu-
suhu maksimum dan minimum. Kisaran suhu beberapa bakteri kurang dari 10°C, sedangkan
untuk lainnya dapat sampai 50°C.
Faktor yang menentukan batas suhu untuk tumbuh telah disingkapkan oleh dua macam
penelitian; perbandingan antara sifat organisme dengan kisaran suhu yang sangat berbeda
dan analisis sifat mutan yang peka terhadap suhu, kisaran suhunya menjadi lebih sempit oleh
perubahan satu mutan. Ada dua macam mutan yang peka terhadap suhu; mutan peka panas,
dengan suhu tumbuh maksimum yang menurun dan mutan peka dingin, dengan suhu
tumbuh minimum yang menaik.
Studi mengenai kinetika denaturasi panas pada enzim dan struktur sel yang berprotein
(misalnya flagelum, ribosom) menunjukkan bahwa banyak protein khusus pada bakteri
termofil lebih tahan panas daripada protein homolognya dari bakteri mesofil. Mungkin pula
untuk mengira-ngirakan ketahanan panas menyeluruh protein sel yang dapat larut, dengan
mengukur kecepatan protein di dalam ekstrak bakteri menjadi tidak larut karena denaturasi
panas pada beberapa suhu yang berbeda.Dengan jelas menunjukkan bahwa pada hakekatnya
semua protein bakteri termofilik setelah perlakuan panas tetap pada tingkat asalnya yang
sebenarnya menghilangkan semua protein mesofil yang sekelompok. Karena itu adaptasi
mikroorganisme termofilik terhadap suhu di sekitarnya hanya dapat dicapai dengan
perubahan mutasional yang mempengaruhi struktur utama kebanyakan (jika tidak semua)
protein sel tersebut. Meskipun adaptasi evalusionar yang menghasilkan termofil agaknya
melibatkan ,mutasi yang meningkatkan ketahanan panas proteinnya , namun kebanyakan
mutasi yang berpengaruh pada struktur utama suatu protein khusus ( misalnya enzin)
mengurangi ketahanan panas protein tersebut, walaupun banyak di antara mutasi ini
mungkin berpengaruh sedikit atau tidak sama sekali pada sifat-sifat katalitik. Akibatnya,
dengan tidak adanya seleksi tandingan oleh tantangan panas, maka suhu maksimum untuk
pertumbuhan mikroorganisme apa pun harus menurun secara berangsur-angsur sebagai
akibat mutasi acak yang berpengaruh pada struktur pertama proteinnya. Kesimpulan ini
ditunjang oleh pengamatan bahwa bakteri psikrofilik yangdiisolasi dari air antartik
mengandung sejumlah besar protein yang luar biasa labilnya terhadap panas.
Pada suhu rendah, semua protein mengalami sedikit perubahan bentuk yang dianggap
berasal dari melemahnya ikatan hidrofobik yang memegang peran penting dalam penentuan
struktur tartier (berdimensi tiga). Semua tipe ikatan lain pada protein menjadi lebih kuat bila
suhu diturunkan. Pentingnya bentuk yang tepat untuk fungsi sebenarnya protein alosterik
dan untuk perakitan sendiri protein ribosomal menjadi kedua kelas protein ini teramat peka
terhadap inaktivasi dingin. Oleh karen aitu, tidaklah mengherankan bahwa mutasi yang
menaikkan suhu minimum untuk pertumbuhan biasanya terjadi di dalam gen yang
menyandikan protein-protein ini.
Susunan lipid pada hampir semua organisme, baik prokariota maupun eukariota, berubah-
ubah menurut suhu tumbuh. Bila suhu turun, kandungan relatif asam lemak tidak jenuh
didalam lipid selular meningkat. Ilustrasi kejadian ini pada E. coli tampak pada perubahan
dalam susunan lemak ini adalah komponen penting daripada adaptasi suhu pada bakteri.
Titik cair lipid berhubungan langsung dengan asam lemak jenuh. Akibatnya, derajat
kejenuhan asam lemak pada lipid membran menentukan derajat keadaan cairnya pada suhu
tertentu. Karena fungsi membran bergantung pada keadaan cair komponen lipid, dapatlah
dipahami bahwa pertumbuhan pada suhu rendah haruslah diikuti dengan penambahan
derajat ketidakjenuhan asam lemak.
2. pH
Mikrobia dapat tumbuh baik pada daerah pH tertentu, misalnya untuk bakteri pada pH 6,5 –
7,5; khamir pada pH 4,0 – 4,5 sedangkan jamur dan aktinomisetes pada daerah pH yang luas.
Setiap mikrobia mempunyai pH minimum, optimum dan maksimum untuk pertumbuhanya.
Berdasarkan atas perbedaan daerah pH untuk pertumbuhanya dapat dibedakan mikrobia yang
asidofil, mesofil ( neutrofil ) dan alkalofil. Untuk menahan perubahan dalam medium sering
ditambahkan larutan bufer. pH optimum pertumbuhan bagi kebanyakan bakteri antara 6,5 dan
7,5. Namun beberapa spesies dapat tumbuh dalam keadaan sangat masam atau sangat alkalin,
bila bakteri di kuitivasi di dalam suatu medium yang mula-mula disesuaikan pHnya misal 7
maka mungkin pH ini akan berubah sebagai akibat adanya senyawa-senyawa asam atau basa
yang dihasilkan selama pertumbuhannya. Pergesaran pH ini dapat sedemikian besar sehingga
mengahambat pertumbuhan seterusnya organisme itu. Pergeseran pH dapat dapat dicegah dengan
menggunakan larutan penyangga dalam medium, larutan penyangga adalah senyawa atau
pasangan senyawa yang dapat menahan perubahan pH.
Istilah pH pada suatu symbol untuk derajat keasaman atau alkanitas suatu larutan; pH=log
(1/[H+]) dengan [H+] sebagai konsentrasi ion hydrogen. pH air suling ialah 7,0 (netral); cuka
2,25; sari tomat, 4,2; susu, 6,6; natrium bikarbonat (0,1N), 8,4; susu magnesia, 10,5.
Mikroorganisme yang asidofilik, yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 2,0-
5,0.Mikroorganisme yang mesofilik (neutrofilik), yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara
5,5-8,0.Mikroorganisme yang alkalifilik, yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8,4-9,5
Suhu, lingkungan, gas dan pH adalah faktor-faktor fisik utama yang harus dipertimbangkan
di dalam penyediaan kondisi optimum bagi pertumbuhan kebanyakan spesies bakteri. Beberapa
kelompok bakteri mempunyai persyaratan tambahan. Sebagai contoh, organisme fotoautotrofik
(fotosintetik) harus diberi sumber pencahayaan, karena cahaya adalah sumber energinya.
Pertumbuhan bakteri dapat dipengaruhi oleh keadaan tekanan osmotik (tenaga atau tegangan
yang terhimpun ketika air berdifusi melalui suatu membran) atau tekanan hidrostatik (tegangan
zat alir). Bakteri tertentu yang disebut bakteri halofilik dan dijumpai di air asin, wadah berisi
garam, makanan yang diasin, air laut, dan danau air asin, hanya tumbuh bila mediumnya
mengandung konsentrasi garam yang tinggi. Air laut mengandung 3,5 persen natrium klorida; di
danau air asin, konsentrasi natrium kloridanya dapat mencapai 25 persen. Mikroorganisme yang
membutuhkan NaCl untuk pertumbuhannya di sebut halofil obligat – mereka tidak akan tumbuh
kecuali bila konsentrasi garamnya tinggi, yang dapat tumbuh dalam larutan natrium kloride
tetapi tidak mensyaratkannya disebut halofil fakultatif – mereka tumbuh dalam lingkungan
berkonsentrasi garam tinggi atau rendah. Ini menunjukkan adanya tanggapan terhadap tekanan
osmotik. Telah diisolasi bakteri dari parit-parit terdalam dilautan yang tekanan hidrostatiknya
mencapai ukuran ton meter persegi.
3. Kelembaban
Mikroorganisme mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya untuk
pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi diatas 85°C, sedangkan untuk
jamur dan aktinomises diperlukan kelembaban yang rendah dibawah 80°C. Kadar air bebas
didalam lautan (aw) merupakan nilai perbandingan antara tekanan uap air larutan dengan tekanan
uap air murni, atau 1/100 dari kelembaban relatif. Nilai aw untuk bakteri pada umumnya terletak
diantara 0,90 – 0,999 sedangkan untuk bakteri halofilik mendekati 0,75. Banyak mikroorganisme
yang tahan hidup didalam keadaan kering untuk waktu yang lama seperti dalam bentuk spora,
konidia, arthrospora, klamidospora dan kista. Seperti halnya dalam pembekuan, proses
pengeringan protoplasma, menyebabkan kegiatan metaobolisme terhenti. Pengeringan secara
perlahan-lahan menyebabkan perusakan sel akibat pengaruh tekanan osmosa dan pengaruh
lainnya dengan naiknya kadar zat terlarut.
4. Tekanan osmosis
Pada umumnya mikrobia terhambat pertumbuhannya di dalam larutan yang hipertonis.
Karena sel-sel mikrobia dapat mengalami plasmolisa. Didalam larutan yang hipotonis sel
mengalami plasmoptisa yang dapat di ikuti pecahnya sel. Beberapa mikrobia dapat
menyesuaikan diri terhadap tekanan osmose yang tinggi; tergantung pada larutanya dapat
dibedakan jasad osmofil dan halofil atau halodurik. Medium yang paling cocok bagi kehidupan
bakteri ialah medium yang isotonik terhadap isi sel bakteri. Jika bakteri di tempatkan di dalam
suatu larutan yang hipertonik terhadap isi sel, maka bakteri akan mengalami plasmolisis. Larutan
garam atau larutan gula yang agak pekat mudah benar menyebabkan terjadinya plasmolisis ini.
Sebaliknya, bakteri yang ditempatkan di dalam air suling akan kemasukan air sehingga dapat
menyebabkan pecahnya bakteri, dengan kata lain, bakteri dapat mengalami plasmoptisis.
Berdasarkan inilah maka pembuatan suspense bakteri dengan menggunakan air murni itu tidak
kena, yang digunakan seharusnyalah medium cair.Jika perubahan nilai osmosis larutan medium
tidak terjadi sekonyongkonyong, akan tetapi perlahan-lahan sebagai akibat dari penguapan air,
maka bakteri dapat menyesuaikan diri, sehingga tidak terjadi plasmolisis secara mendadak.
5. Senyawa toksik
Ion-ion logam berat seperti Hg, Ag, Cu, Au, Zn, Li, dan Pb. Walaupun pada kadar sangat
rendah akan bersifat toksis terhadap mikroorganisme karena ion-ion logam berat dapat bereaksi
dengan gugusan senyawa sel. Daya bunuh logam berat pada kadar rendah disebut daya
ologodinamik. Anion seperti sulfat tartratklorida, nitrat dan benzoat mempengaruhi kegiatan
fisiologi mikroorganisme. Karena adanya perbedaan sifat fisiologi yang besar pada masing-
masing mikroorganisme maka sifat meracun dari anion tadi juga berbeda-beda. Sifat meracun
alakali juga berbeda-beda, tergantung pada jenis logamnya. Ada beberapa senyawa asam organik
seperti asam benzoat, asetat dan sorbet dapat digunakan sebagai zat pengawet didalam industry
bahan makanan. Sifat meracun ini bukan disebabkan karena nilai pH, tetapi merupakan akibat
langsung dari molekul asam organik tersebut terhadap gugusan didalam sel.
6. Tegangan Muka
Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaannya akan menyerupai membran
yang elastis, sehingga dapat mempengaruhi kehidupan mikroorganisme. Protoplasma
mikroorganisme terdapat didalam sel yang dilindungi dinding sel. Dengan adanya perubahan
bahan pada tegangan muka dinding sel, akan mempengaruhi permukaan protoplasma, yang
akibatnya dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perubahan bentuk morfologinya. Bakteri yang
hidup didalam alat pencernaan dapat berkembangbiak didalam medium yang mempunyai
tegangan permukaan relatif rendah. Tetapi kebanyakan lebih menyukai tegangan permukaan
yang relatif tinggi.
7. Tekanan Hodrostatik dan Mekanik
Beberapa jenis mikroorganisme dapat hidup didalam samudra pasifik dengan tekanan lebih
dari 1208 kg tiap cm persegi, dan kelompok ini disebut barofilik. Selain itu tekanan yang tinggi
akan menyebabkan meningkatnya beberapa reaksi kimia, sedang tekanan diatas 7500 kg tiap cm
persegi dapat menyebabkan denaturasi protein. Perubahan-perubahan ini mempengaruhi proses
biologi sel jasad hidup.

8. Kebasahan dan kekeringan


Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah, bahkan dapat hidup di dalam air.
Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur; hal ini di sebabkan karena
kurangnya udara bagi mereka. Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. Banyak
bakteri menemui ajalnya, jika kena udara kering. Meningococcus, yaitu bakteri yang
menyebabkan meningitis, itu mati dalam waktu kurang daripada satu jam, jika digesekkan di atas
kaca obyek. Sebaliknya,spora-spora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan
kering.
Pada proses pengeringan, air akan menguap dari protoplasma. Sehingga kegiatan
metabolisme berhenti. Pengeringan dapat juga merusak protoplasma dan mematikan sel. Tetapi
ada mikrobia yang dapat tahan dalam keadaan kering, misalnya mikrobia yang membentuk spora
dan dalam bentuk kista. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya bakteri karena
kekeringan itu ialah:
Bakteri yang ada dalam medium susu, gula, daging kering dapat bertahan lebih lama
daripada di dalam gesekan pada kaca obyek. Demikian pula efek kekeringan kurang terasa,
apabila bakteri berada di dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering.
Pengeringan di dalam terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada pengeringan di dalam
gelap.Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada
pengeringan pada suhu titik-beku.Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada
pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi nitrogen. Oksidasi agaknya
merupakan faktor-maut.
9. Sinar gelombang pendek
Sinar-sinar yang mempunyai panjang gelombang pendek (misalnya sinar, sinar Ultra violet,
sinar gama), mempunyai daya penetrasi yang cukup besar terhadap mikribia. Sinar-sinar tersebut
dapat menyebabkan kematian. Perubahan genetik (mutasi) atau penghambatan pertumbuhan
mikrobia. Sinar-sinar tersebut banyak digunakan di dalam praktek sterilisasi dan pengawetan
bahan makanan. Kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis, bahkan setiap radiasi
dapat berbahaya bagi kehidupannya. Sinar yang nampak oleh mata kita, yaitu yang
bergelombang antara 390 m μ sampai 760 m μ, tidak begitu berbahaya; yang berbahaya ialah
sinar yang lebih pendek gelombangnya, yaitu yang bergelombang antara 240 m μ sampai 300 m
μ. Lampu air rasa banyak memancarkan sinar bergelombang pendek ini. Lebih dekat,
pengaruhnya lebih buruk. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali, bakteri bahkan dapat mati
seketika, sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang
terganggu. Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultra-ungu. Sinar ultra-ungu
biasa dipakai untuk mensterilkan udara, air, plasma darah dan bermacam-macam bahan lainya.
Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau virus itu mudah sekali ketutupan benda-benda kecil,
sehingga dapat terhindar dari pengaruh penyinaran. Alangkah baiknya, jika kertas-kertas
pembungkus makanan, ruang-ruang penyimpan daging, ruang-ruang pertemuan, gedunggedung
bioskop dan sebagainya pada waktu-waktu tertentu dibersihkan dengan penyinaran ultra-ungu.
Sinar X dan sinar radium yang bergelombang lebih pendek daripada sinar ultra-ungu juga dapat
membunuh mikroorganisme, akan tetapi memerlukan lebih banyak dosis daripada sinar ultra-
ungu. Bakteri yang disinari dengan sinar X kerap kali mengalami mutasi. Aliran listrik tidak
nampak berbahaya bagi kehidupan bakteri. Jika ada bakteri yang mati karenanya, hal ini di
sebabkan oleh panas atau oleh zat-zat yang timbul di dalam medium sebagai akibat daripada arus
listrik, seperti ozon dan klor (chlor).
10. Daya oligodinamik
Ion-ion logam berat seperti Hg++ , Cu++ , Ag++ dan Pb++ pada kadar yang sangat rendah
bersifat toksis terhadap mikrobia. Karena ion-ion tersebut dapat bereaksi dengan bagian-bagian
penting dalam sel. Daya bunuh logam-logam berat pada kadar yang sangat rendah ini di sebut
daya oligodinamik. Garam dari beberapa logam berat seperti air rasa dan perak dalam jumlah
yang kecil saja dapat membunuh bakteri, daya mana di sebut oligodinamik. Hal ini mudah sekali
di pertunjukkan dengan suatu eksperimen. Sayang benar garam dari logam berat itu mudah
merusak kulit, makan alatalat yang terbuat dari logam, dan lagipula mahal harganya. Meskipun
demikian, orang masih biasa menggunakan merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan.
Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom, metafen atau mertiolat.
Persenyawaan air rasa yang organic dapat pula dipergunakan untuk membersihkan biji-bijian
supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur. Nitrat perak 1 sampai 2% banyak digunakan untuk
menetesi selaput lender, misalnya pada mata bayi yang baru lahir untuk mencegah gonorhoea.
Banyak juga orang yang mempergunakan persenyawaan perak dan protein. Garam tembaga
jarang dipakai sebagai bakterisida, akan tetapi banyak digunakan untuk menyemprot
tanamantanaman mematikan tumbuhan ganggang dikolam-kolam renang.
11. Desinfektan
Pada umumnya bakteri muda itu kurang daya-tahannya terhadap desinfektan daripada
bakteri yang tua. Pekat encernya konsentrasi, lama berada dibawah pengaruh desinfektan,
merupakan faktor-faktor yang masuk pertimbangan pula. Kenaikan suhu menambah daya
desinfektan. Selanjutnya, medium dapat juga menawar daya desinfektan. Susu, plasma darah,
dan zat-zat lain yang serupa protein sering melindungi bakteri terhadap pengaruh desinfektan
tertentu. Dalam menggunakan desinfektan haruslah diperhatikan hal-hal tersebut dibawah ini.
Apakah suatu desinfektan tidak meracuni suatu jaringan, apakah ia tidak menyebabkan rasa
sakit, apakah ia tidak memakan logam, apakah ia dapat diminum, apakah ia stabil, bagaimanakah
baunya, bagaimanakah warnanya, apakah ia mudah dihilangkan dari pakaian apabla desinfektan
tersebut sampai kena pakaian, dan apakah ia murah harganya. Faktor-faktor inilah yang
menyebabkan orang sulit untuk menilai suatu desinfektan. Zat-zat yang dapat membunuh atau
menghambat pertumbuhan bakteri dapat dibagi atas garam-garam logam, fenol dan senyawa-
senyawa lain yang sejenis, formaldehida, alcohol, yodium, klor dan persenyawaan klor, zat
warna, detergen, sulfonamide, dan anti biotik.

2. Faktor-Faktor Biotik
Faktor-faktor biotik ialah faktor-faktor yang disebabkan jasad (mikrobia) atau kegiatannya
yang dapat mempengaruhi kegiatan (pertumbuhan) jasad atau mikrobia lain. Faktor-faktor
tersebut antara lain ialah adanya asosiasi atau kehidupan bersama diantara jasad. Asosiasi dapat
dalam bentuk komensalisme, mutualisme, parasitisme, simbiose, sinergisme, antibiose dan
sintropisme.
Komensalisme
Merupakan asosiasi yang sangat renggang, dimana salah satu jenis mendapatkan keuntungan
sedang lainnya tidak mendapat keuntungan atau kerugian.
Mutualisme
Merupakan bentuk assosiasi dimana masing-masing jenis mendapat keuntungan. Sering
simbiosis dipakai untuk menyatakan bentuk assosiasi yang mutualistik, tetapi sekarang orang
lebih banyak menggunakan istilah mutualisme. Sebagai contoh mutualisme antara bakteri
Rhizobium dengan polong-polongan.

Parasitisme
Merupakan bentuk assosiasi diantara parasit dengan jasad inang. Jasad parasit yang obligat
dapat merusak jasad inang dan pada akhirnya memusnahkan. Keadaan ini akan dapat pula
memusnahkan (melenyapkan) parasitnya sendiri, karena jasad inang sebagai sumber
kehidupannya.
Simbiosis
Simbiosis ialah asosiasi antara dua atau lebih jasad (mikrobia) di mana satu jenis (spesies) di
antara jasad yang berasosiasi tersebut mendapat keuntungan, Sedangkan jasad yang lain mungkin
mengalami kerugian atau tidak, tergantung pada macamnya simbiose. Simbiose dapat dibedakan
tiga macam, ialah komensalisme, mutualisme, dan parasitisme.
Sinergisme
Sinergisme ialah suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu kemampuan
untuk melakukan perubahan kimia tertentu dalam suatu subtrat atau medium. Tanpa sinergisme
masing-masing mikkrobatidak mampu melakukan perubahan tersebut.
Antibiosis
Antibiosis disebut juga antagonisme atau amensalisme ialah suatu bentuk asosiasi antara
jasat (mikkroba) yang menyebabkan salah satu pihak dalam asosiasi tersebut terbunuh.
tErhambat pertumbuhannya atau mengalami gangguan-gangguan yang lain. Contohnya adanya
pembentukan toksindan sat-sat antibiotika oleh salah satu mikroorganisme pada suatu asosiasi.

Sintropisme
Sintropisme disebut juga nutrisi bersama atau mutualnutrition ialah bentuk asosiasi yang
lebih komplek . sebab biasanya terdiri atas berjenis-jenis mikroorganisme yang satu dengan yang
lainnyaakan saling menstimulasi kegiatan {pertumbuhan}-nya misalnya mikrobia jenis pertama
akan menguraikan suatu subtrad yang hasilnya dapat digunakan dan di uraikan oleh mikrobia
jenis kedua dan yang hasil hasilnya dapat digunakan oleh mikrobia jenis ketiga dan seterusnya
yang hasil hasilnya akhirnya dapat menstimulasi kegiatan mikrobia jenis pertama.

III. PENUTUP

Dari semua uraian diatas faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan mikroorganisme


dibagi kedala dua bagian yaitu:
A. Faktor Abiotik
Faktor abiotik terdiri dari:
1. Suhu
2. Ph
3. Kelembaban
4. Tekanan osmosis
5. Senyawa Toksik
6. Tegangan muka
7. Tekanan hodrostatik dan mekanik
8. Kebasahan dan kekeringan
9. Sinar gelombang pendek
10. Daya oligodinamik
11. Disinfektan
B. Faktor Biotik
Faktor-faktor biotik ialah faktor-faktor yang disebabkan jasad (mikrobia) atau
kegiatannya yang dapat mempengaruhi kegiatan (pertumbuhan) jasad atau mikrobia
lain. Faktor-faktor tersebut antara lain ialah adanya asosiasi atau kehidupan bersama
diantara jasad. Asosiasi dapat dalam bentuk komensalisme, mutualisme, parasitisme,
simbiose, sinergisme, antibiose dan sintropisme.

DAFTAR PUSTAKA

Mulder, E. G., Lie, T. A and Woldendorp, J. W. 1971. Biology and Fertility. Biology (reviews of
research). UNESCO.
Ma’shum, M., Soedarsono, J., Susilowati, L. E. 2003. Biologi Tanah. CPIU Pasca IAEUP,
Bagpro Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia, Ditjen Pendidikan Tinggi, Departemen
Pendidikan Nasional. Jakarta.
Lynch, J. M. 1983. Soil Biotecnology, Microbiologycol Factors in Crop Production. Blackwell
Scientific Publication. Oxford London.