Anda di halaman 1dari 18

TERAPI BERMAIN CLAY TERHADAP

PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS PADA ANAK


TK KARTIKA 22

Oleh :

Nadia Soba (214118060) Imam Sudrajat (214118066)


Indra Rinaldi (214118063) Dini Siti Muflihah (214118020)
Manarrul Ahmad (214118117) Syifa Nadira Luthfiani (214118068)
Irenna Fransisca (214118062) Gini Sari Puspita (214118069)
Wida Widiawati (214118064) Anggiani Nur Intan (214118070)
Ike Nurjanah (214118018) Melda Lestari Pardede (214118071)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
JENDRAL ACHMAD YANI CIMAHI
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anak adalah individu yang unik dan bukan orang dewasa mini. Anak adalah
individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungannya, artinya
membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan
dasarnya dan untuk belajar mandiri (Supartini, 2004). Masa kanak-kanak merupakan
masa awal pertumbuhan dan perkembangan yang penting untuk diperhatikan.
Berdasarkan tugasnya perkembangan pada anak terdiri dari berbagai beberapa aspek,
diantaranya aspek kognitif, aspek fisik (motorik), aspek bahasa dan komunikasi,
aspek personal-sosial dan emosional, serta aspek perkembangan moral dan spiritual
(Yuniarti, 2015). Gerakan motorik halus yang normal adalah anak mempunyai
kemampuan untuk menulis, mencoret-coret, menggambar, memindahkan benda,
menyusun balok, menggunting, memotong, melempar dan menangkap bola, serta
memainkan benda atau alat mainan. Kemampuan tersebut pada dasarnya sangat
penting agar anak dapat berkembang optimal

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Anak diharapkan dapat melanjutkan tumbuh kembangnya, mengembangkan


aktifitas dan kreatifitas melalui pengalaman bermain dan beradaptasi efektif.

2. Tujuan Khusus

Setelah mengikuti permainan selama 35 menit anak akan mampu :


a. Mengembangkan kreativitas dan daya pikirnya
b. Mengekspresikan perasaannya selam menjalani perawat.
c. Mengekspresikan rasa senangnya terhadap permainan
d. Beradaptasi dengan lingkungan.

2
BAB II

TINAUAN TEORI

A. Pengertian Bermain

Bermain menurut Nursalam (dalam Yuniarti, 2015) merupakan suatu


kegiatan yang menyenangkan bagi anak, meskipun hal tersebut tidak
menghasilkan komoditas tertentu misalnya keuntungan finansial. Menurut Wong
(2009) bermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan
sosial, bermain juga dapat merupakan media yang baik untuk belaja4r, karena
dengan bermain anak akan berkata-kata , belajar menyesuaikan diri dengan
lingkungan, melakukan apa yang dapat dilakukan, dan mengenal waktu, jarak,
serta suara.

Aspek perkembangan anak dapat ditumbuhkan secara optimal dan


maksimal melalui kegiatan bermain. Permainan adalah stimulasi yang sangat
tepat bagi anak. Bermain juga dapat meningkatkan kemampuan fisik, pengalaman
dan pengetahuannya, serta berkembang keseimbangan mental anak. Anak-anak
bermain dengan menggunakan seluruh emosinya, perasaannya, dan pikirannya
(Adrian, 2011).

B. Fungsi Bermain

Menurut Soetjiningsih (dalam Yuniarti, 2015) fungsi utama bermain


adalah merangsang perkembangan sensoris-motorik, perkembangan sosial,
perkembangan kreatifitas, perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral
dan bermain sebagai terapi.

1. Perkembangan sensoris-motorik
Pada saat melakukan permainan, aktivitas sensoris-motorik merupakan
komponen terbesar yang digunakan anak, dan bermain aktif sangat penting
untuk perkembangan fungsi otot.
2. Perkembangan intelektual
Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap
segala sesuatu yang ada dilingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna,
bentuk, ukuran, tekstur, dan membedakan objek. Pada saat bermain anak
akan melatih diri untuk memecahkan masalah. Semakin sering anak

3
melakukan eksplorasi maka akan semakin terlatih kemampuan
intelektualnya.
3. Perkembangan sosial
Perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan
lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan
menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk
mengembangkan hubungan sosial dan belajar memecahkan masalah dari
hubungan tersebut. Saat melakukan aktivitas bermain anak belajar,
berinteraksi dengan teman, memahami bahasa lawan bicara, belajar tentang
nilai sosial yang ada pada kelompoknya.
4. Perkembangan kreativitas
Berkreasi adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan
mewujudkannya kedalam bentuk kegiatan. Melalui kegiataan bermain, anak
akan belajar menciptakan untuk merealisasikan ide-idenya.
5. Perkembangan moral
Anak mempelajari nilai dasar dari lingkungannya, terutama dari orang tua
dan guru. Dengan melakukan aktivitas bermain, anak akan mendapaat
kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat diterima di
lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan kelompok
yang ada dalam lingkungannya. Melalui kegiatan bermain anak juga akan
belajar nilai moral dan etika, belajar membedakan mana yang benar dan
mana yang salah, serta belajar bertanggung jawab atas segala tindakan yang
dilakukannya.
6. Perkembangan kesadaran diri
Melalui bermain anak mengembangkan kemampuannya dalam mengaur
tingkah laku. Anak juga akan belajar mengenal kemampuanya dan
membandingkannya dengan orang lain serta menguji kemampuannya dengan
mencoba peran-peran baru.
7. Bermain sebagai terapi
Pada saat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagaai perasan yang
sangat tidak menyenangkan seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri.
Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak
karena menghadapi beberapa stressor yang ada. Dengan melakukan
permainan, anak akan terlepas dari ketegangan dan stress yang dialami,

4
karena dengan permainan mengalihkan rasa sakitnya pada permainan
(distraksi) dan relaksasi meningkatkan kesenangannya melakukan permainan.

C. Keuntungan Bermain

Banyak keuntungan-keuntungan yang dipetik dari bermain, antara lain;


(Soetjiningsih & Ranuh, 2013)

1. Membuang ekstra-energi
2. Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh, seperti tulang, otot, dan
organ-organ
3. Meningkatkan nafsu makan anak karena melakukan aktivitas
4. Belajar mengontrol diri
5. Mengembangkan berbagai keterampilan yang akan berguna sepanjang
hidupnya
6. Meningkatkan daya kreativitas dan perkembangan imajinasi
7. Mendapatkan kesempatan menemukan arti dari benda-benda yang ada di
sekitar anak
8. Merupakan cara untuk mengatasi kemarahan, kekhawatiran, iri hati dan
kedukaan
9. Mendapatkan kesempatan untuk belajar bergaul dengan anak lainnya
10. Mendapatkan kesempatan untuk menjadi pihak yang kalah ataupun yang
menang didalam bermain
11. Mendapatkan kesempatan untuk belajar mengikuti aturan-aturan
12. Mengembangkan kemampuan intelektual, sosial dan emosional.

D. Klasifikasi Bermain

Menurut Yuniarti (2015), bermain diklasifikasikan menjadi;

1. Sosial Affective Play


Inti permainan ini adalah adanya hubungan interpesrsonal yang
menyenangkan antara anak dan oorang lain. Misalnya, bayi akan
mendapatkan kesenangan dan kepuasan dari hubungan yang menyenangkan
dengan orang tuanya dan atau orang lain.
2. Sense of pleasure
Permainan ini menggunakan alat yang dapat menimbulkan rasa senang pada
anak dan biasanya mengasikan

5
3. Skill play
Sesuai dengan sebutanya, permainan ini akan meningkatkan keterampilan
anak, khususnya motorik kasar dan halus. Anak dapat menggunakan Alat
Permainan Edukatif dan Kreatif (APEK) dalam bermain Skill Play.
4. Unoccupied behavior
Pada saat tertentu, anak sering terlihat mondar-mandir, tersenyum, tertawa,
jinjit-jinjit, bungkuk-bungkuk, memainkan kursi, meja, atau apa saja yang
ada di sekelilingnya.
5. Dramatic play
Sesuai dengan sebutannya, pada permainan ini anak memainkan peran
sebagai orang lain melalui permainan. Anak berceloteh sambil berpakaian
meniru orang dewasa.

E. Alat Permainan Edukatif dan Kreatif (APEK)

Alat Permainan Edukatif dan Kreatif (APEK) adalah alat permainan yang
dapat mengoptimalkan perkembangan anak sesuai dengan usia dan tingkat
perkembangannya, serta berguna untuk; (Soetjiningsih & Ranuh, 2013)

1. Pengembangan aspek fisik, kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang atau


merangsang pertumbuhan fisik anak.
2. Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara menggunakan kalimat yang
benar.
3. Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran,
bentuk, warna dan konsep
4. Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi
anatar ibu dan anak, keluarga dan masyarakat.

F. APEK Sebagai Stimulasi Motorik Halus

Keterampilan motorik halus adalah tugas-tugas yang memerlukan


gerakan yang lebih kecil. Tugas-tugas ini biasanya dilakukan dengan tangan dan
jari, seperti memegang pensil dengan benar, menggunting, merobek dan
mengancingkan baju. Stimulasi peerlu diberikan kepada anak agar melatih
gerakan halus supaya anak terampil menggunakan jari jemari dalam kehidupan
sehari-harinya. Berikut ini berbagai jenis stimulasi permainan yang dapat
diberikan untuk melatih kemampuan motorik halus; (Yuniarti, 2015).

6
1. Permainan tebak benda
Permainan ini akan mendorong anak untuk menyentuh dan merasakan objek
yang berbeda-beda yang anda berikan. Cara bermainnya ; sembunyikan
barang di dalam kantong dan biarkan anak untuk merasakan dengan jari-
jarinya benda apa yang ada didalam kantong tanpa melihat kedalam.
2. Merangkai puzzle
Berikan puzzle yang berukuran cukup besar yang bergambar hewan atau
buah, baik diberikan pada anak usia 2-3 tahun. Hal ini untuk melatih
kecerdasan dalam merangkai gambar juga kecermatannya dalam memungut
dan menempatkan puzzle pada tempatnya.
3. Mengukur dengan sendok
Saat anda memasak didapur, misalnya saja kegiatan membuat kue sebenarnya
dapat digunakan sebagai stimulus yang melatih kelenturan jari-jarinya. Anda
dapat memberikan sendok dan meminta anak untuk mengambil tepung
menggunakan sendok tersebut untuk dimasukan ke timbangan kue.
4. Mengepal dan menguleni dengan clay
Anda bisa memberikan playdough atau clay kepada anak untuk bermain
mengepal dan menguleni, bahkan mencetak clay dengan cetakan plastik.

G. Clay

Menurut Stephani (2010), bermain clay adalah seni membuat aneka


bentuk benda dari adonan tepung, clay juga dapat berbentuk seperti plastisin.
Selain itu, clay juga dapat diartikan sebagai tanah liat, akan tetapi juga ada yang
terbuat dari bermacam-macam bahan yang disatukan menjadi adonan. Berkreasi
dengan clay mengingatkan kita pada kegiatan bermain dengan lilin mainan.
Bedanya lilin mainan sudah mempunyai warna dan tidak bias mengeras.
Sementara clay yang terbuat dari bahan lain atau adonan (tepung, roti, bubur
kertas) bisa kita beri warna, dan bisa mengeras. Clay adalah semacam bahan yang
menyerupai lilin, lembut, mudah dibentu, dapat mengeras, mengering dengan
sendirinya dan tidak mengandung racun. Penggunaan clay tepung aman bagi
siapaapun termasuk anak anak dan proses pengeringannya sangat mudah, yaitu
hanya dibiarkan saja dan dangin-anginkan (Monica, 2009).

7
H. Manfaat Clay

Joyce (2009) mengemukakan selain mengasah kemampuan otak kanan


dan meningkatkan kreativitas, seni membentuk termasuk clay juga dapat
meningkatkan daya konsentrasi, melatih kesabaran dan ketekunan, serta melatih
kerja syaraf motorik. Sedangkan menurut Monica (2009) clay bermanfaat untuk
mendorong minat dan aktivitas pembelajaran di kelas supaya anak dapat
berkonsentrasi serta dapat mengembangkan kreativitas dan imajinasi yang
dimiliki anak.

I. Langkah-langkah Membuat Clay

Menurut Stephani (2010) bahan dan alat membuat adonan clay dari
tepung adalah sebagai berikut :

1. Bahan
a. 100 gram tepung maizena
b. 100 gram tepung beras
c. 300 gram lem putih
d. Minyak baby oil secukupnya
e. Pewarna
2. Alat
a. Wadah plastik
b. Timbangan
c. Pengaduk
d. Gunting
e. Lidi
f. Pinset
g. Cutter
h. Plastik
i. Tempat plastik tertutup
3. Proses pembuatan clay tepung
Proses pembuatan clay tepung yaitu menyiapkan bahan berupa tepung
maizena, tepung tapioka, tepung beras, bezoate, lem putih dan pewarna
makanan. Cara pembuatan masukkan semua tepung (tepung maizena, tepung
tapioka, tepung beras), dan lem putih, dicampur menjadi satu, kemudian
tepung tersebut dipijit-pijit dengan tujuan untuk meratakan adonan sampai

8
kalis atau tidak lengket ditangan. Selain itu juga gunakan minyak baby oil
supaya adonan tidak lengket di tangan (Indira, 2009).
Pertama-tama sisa-sisa adonan yang menempel pada tangan dibersihkan,
kemudian adonan dibagi menjadi beberapa bagian (sesuai warna–warna yang
diinginkan) dan dicampur sedikit demi sedikit dengan pewarna makanan
sesuai yang diinginkan. Setelah itu clay tepung siap dibentuk. Untuk proses
pengeringan hasil finishing karya diangin-anginkan hingga kering. Apabila
bahan clay tepung sisa, agar tidak mudah kering maka adonan clay tepung
yang sudah tercampur dapat disimpan di dalam kantong plastik.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat adonan clay tepung,
yaitu; (Indira, 2009)
a. pada saat adonan clay dibentuk, sebaiknya tangan dalam keadaan bersih
b. Pada saat pembentukan adonan clay sebaiknya diberi alas plastik, agar
meja tidak kotor
c. Bagian-bagian clay yang sudah dibentuk dibiarkan terlebih dahulu,
kemudian dirangkai, dan penempelan tiap bagian-bagian menggunakan
lem putih
d. Selama proses pengeringan, clay jangan disentuh karena akan
mempengaruhi bentuk. Pengeringan sebaiknya dilakukan ditempat
terbuka dengan diangin-anginkan.

9
SAB
SATUAN ACARA BERMAIN

Bidang studi : Stase Anak


Topik : Terapi Bermain Clay
Sasaran : Siswa TK Kartika 22
Tempat Bermain : Ruang kelas TK Kartika 22
Hari / Tanggal : Senin, 21 Januari 2019 Pukul 09.00 WIB
Waktu : 35 menit

A. Tujuan Umum
Setelah mengikuti terapi bermain diharapkan anak dapat melanjutkan tumbuh
kembang, mengembangkan aktifitas dan kreatifitasnya.
B. Tujuan Khusus
1. Mengembangkan kreativitas dan daya pikirnya
2. Mengekspresikan perasaannya selam menjalani perawat.
3. Mengekspresikan rasa senangnya terhadap permainan
4. Beradaptasi dengan lingkungan
C. Metode
Demonstrasi
D. Sarana dan Media
1. Sarana: ruangan, karpet
2. Media:
a. Clay (plastisin)
b. Cetakan
E. Susunan acara kegiatan bermain
NO
WAKTU KEGIATAN BERMAIN KEGIATAN PESERTA
1. 5 menit Pembukaan :
1. Leader menggali pengetahuan Menjawab salam
2. Leader membuka kegiatan dengan
mengucapkan salam. Mendengarkan
3. Leader memperkenalkan nama
fasilitator Memperhatikan
4. Leader menjelaskan tujuan dari

10
permainan Memperhatikan
5. Kontrak waktu
2. 20 menit Pelaksanaan :
1. Leader dan fasilitator mengatur Berpindah posisi
posisi duduk setiap fasilitator
dengan dua orang anak
2. Fasilitator membagikan clay dan
cetakan pada masing-masing anak Menerima clay dan cetakan
3. Fasilitator mengajak dan memotivasi
anak untuk mengungkapkan clay apa
yang akan dibuat. Menjawab
4. Memulai memcetak clay didampingi
oleh fasilitator.
5. Leader memberi semangat pada anak
selama proses Mencetak clay
6. Fasilitator memotivasi anak untuk dapat
memilih bentuk dan warna yang
disukainya
7. Apabila anak tidak mau aktif,
melibatkan orang tua atau pendamping
anak untuk membantu anak membentuk
clay
3. 5 menit Evaluasi :
1. Menanyakan kepada anak tentang
pemilihan bentuk dan warna yang telah
dibuat
2. Menanyakan tentang perasaan anak Menjawab pertanyaan
setelah diberi terapi bermain
membentuk clay
4. 5 menit Terminasi:
1. Leader menutup acara permainan Memperhatikan
dengan memberikan hadiah kepada
seluruh peserta.
2. Salam penutup Menjawab salam

11
F. Setting tempat

Keterangan

: Tempat duduk anak

: Leader

PM : Pintu masuk

: Fasilitator

: Observer

: Anak

Pembagian tugas sebagai berikut :


1. Leader, tugasnya :
a. Membuka acara permainan
b. Mengatur jalannya permainan mulai dari pembukaan sampai selesai.
c. Mengarahkan permainan.
d. Memandu proses permainan.
2. Fasilitator, tugasnya :
a. Membimbing anak bermain.
b. Memberi motivasi dan semangat kepada anak dalam membuat clay
c. Memperhatikan respon anak saat bermain.
3. Observer, tugasnya :
a. Mengawasi jalannya permainan.
b. Mencatat proses kegiatan dari awal hingga akhir permainan.
c. Mencatat situasi penghambat dan pendukung proses bermain.
d. Menyusun laporan dan menilai hasil permainan
G. Rancangan Bermain :
Permainan yang kita lakukan adalah membentuk clay. Setiap anak diberikan
clay dan cetakan masing-masing satu. Kemudian leader memimpin jalannya

12
permaianan dengan mengintruksikan kepada anak-anak untuk membentuk
sesuai dengan apa yang diinginkan. Fasilitator dan observer melakukan
tugas masing-masing.
H. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Sarana disiapkan pagi hari sebelum acara dimulai
b. Media dipersiapkan 1 hari sebelum pelaksanaan kegiatan
c. Struktur peran telah ditentukan 1 hari sebelum pelaksanaan
d. Kontrak dengan kepala sekolah dan guru siswa yang akan diberi
terapi bermain dilakukan 1 hari sebelum dan pagi hari sebelum
kegiatan dilaksanakan.
2. Evaluasi Proses
a. Leader memandu terapi bermain dari awal hingga akhir kegiatan
b. Respon anak baik selama proses bermain berlangsung
c. Anak tampak aktif selama proses bermain berlangsung
d. Anak mau dan dapat membuat bentuk dengan baik didampingi
oleh fasilitator
e. Keluarga ikut membantu anak selama pelaksanaan proses bermain
f. Kegiatan berjalan dengan lancar dan tujuan mahasiwa tercapai
dengan baik
g. Masing-masing mahasiswa bekerja sesuai dengan tugasnya
masing-masing
3. Evaluasi Hasil
a. Kegiatan bermain dimulai tepat pada waktu yang telah ditentukan
b. Anak dapat melakukan pemilihan warna sesuai dengan yang
disukainya
c. Anak ikut berpartisipasi aktif dalam terapi bermain dan dapat
menyelesaikan proses hingga selesai.

13
LEMBARAN EVALUASI
Penilaian
Aspek Sosial
Aspek Afektif Aspek Kognitif Aspek Motorik
Personal
No. Nama Anak Mengenal Kesesuian Mampu Mengenal
Bentuk
Warna bentuk Bentuk dan
Memperhatikan Kooperatif Kerapian yang
dan dengan Menceritakan
utuh
bentuk cetakan Kembali
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.

14
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
Keterangan Penilaian:
3 = Baik
2 = Cukup
1 = Kurang

15
BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Judul Permainan : Bermain Clay


B. Deskripsi Permainan :
Bermain clay merupakan terapi permainan alternatif untuk mengurangi stres dan
kecemasan serta meningkatkan komunikasi pada anak.

C. Tujuan Permainan :
1. Mengembangkan kreativitas dan daya pikirnya
2. Mengekspresikan perasaannya selam menjalani perawat.
3. Mengekspresikan rasa senangnya terhadap permainan
4. Beradaptasi dengan lingkungan

D. Keterampilan Yang Diperlukan : Kreatfitas


E. Jenis Permainan : clay
F. Alat Yang Diperlukan
1. Clay (Plastisin)
2. Cetakan

G. Waktu Pelaksanaan
Hari, tanggal : Senin, 21 Januari 2019
Waktu : 09.00 s/d selesai
Tempat : Ruang kelas TK Kartika 22
H. Proses Bermain
1. Leader membagikan Clay
2. Minta anak untuk membentuk sesuai cetakan dan sesuai dengan seleranya
Berikan waktu 5 menit melakukannya
I. Hal-Hal Yang Perlu Diwaspadai
1. Tahap perkembangan, tiap tahap mempunyai potensi / keterbatasan
2. Jenis kelamin
3. Lingkungan
4. Alat permainan

16
J. Hambatan Yang Mungkin Muncul
1. Usia antar anak tidak dalam satu kelompok usia
2. Anak tidak kooperatif atau tidak antusias terhadap permainan

K. Antisipasi Meminimalkan Hambatan


1. Penanganan anak yang tidak aktif saat terapi aktivitas bermain : meminta bantuan
kepada guru dan orang tua untuk menemani atau mendampingi anak
2. Bila anak jenuh pada aktivitas bermain : fasilitator menghibur dengan cara
memberikan hadiah dan mengajak bergabung dengan teman-teman yang lain
3. Bila ada anak lain yang ingin ikut bermain : fasilitator amemberikan kesemapatan
pada anak lain untuk ikut dan dimasukkan dalam kelompok umur yang sesuai

L. Pengorganisasian
1. Leader :
Tugas :
a. Membuka acara, memperkenalkan nama-nama mahasiswa
b. Menjelaskan tujuan terapi bermain
c. Menjelaskan aturan terapi permainan
2. Observer :
Tugas : Mengevaluasi jalannya kegiatan
3. Fasilitator :
Tugas :
a. Memfasilitator kegiatan yang diharapkan
b. Memotivasi peserta agar mengikuti kegiatan
c. Sebagai Role Model selama kegiatan.

17
BAB IV

KESIMPULAN

18