Anda di halaman 1dari 84

MAKALAH

KELUARGA DENGAN ANAK USIA SEKOLAH, MASALAH YANG


MUNCUL PADA KELUARGA DENGAN ANAK USIA SEKOLAH, DAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA DENGAN ANAK USIA
SEKOLAH

OLEH :
KELOMPOK 7 KELAS 6D

ANGGOTA KELOMPOK
Nama : Firda Kur’aana NIM : 1130015005
Nama : Sinta Dwi Purwanti NIM : 1130015045
Nama : Nurul Kamilatul H. NIM : 1130015080
Nama : Selvya Alamsyah NIM : 1130015093
Nama : Lailia Anggraeni NIM : 1130015129

FASILITATOR :
Ima Nadatien, SKM.,M.Kes.

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmatnya penyusun
mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah
keperawatan keluarga
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang
penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan
materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga
kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang kaitan
tentang makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang kaitan
“Asuhan keperawatan keluarga pada tahap anak usia sekolah” yang kami
sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan
berita. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu
yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan
penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Saya sadar bahwa makalah ini masih
banyak kekurangan dan jauh dari sempurna.

Surabaya, 26 Februari 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................. i


Daftar Isi ........................................................................................................ ii
Daftar Tabel.................................................................................................... iii
Daftar Gambar .............................................................................................. iv
Daftar Lampiran ........................................................................................... v
BAB 1 TINJAUAN TEORI
1. Konsep Keluarga ..................................................................................... 1
1.1 Definisi Keluarga ................................................................................ 1
1.2 Struktur Keluarga ................................................................................ 1
1.3 Fungsi Keluarga .................................................................................. 2
1.4 Tipe/bentuk Keluarga .......................................................................... 5
1.5 Stres dan Koping Keluarga ................................................................. 7
1.6 Tugas Kesehatan Keluarga .................................................................. 9
1.7 Tahapan Keluarga Sejahtera ............................................................... 10
1.8 Tingkat Kemandirian .......................................................................... 13
2. Konsep Anak Usia Sekolah .................................................................... 14
2.1 Definisi ................................................................................................ 14
2.2 Perkembangan Anak Usia Sekolah ..................................................... 14
2.3 Tugas Perkembangan Keluarga dengan Anak Usia Sekolah .............. 17
2.4 Masalah Anak Usia Sekolah ............................................................... 18
3. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Keluarga ................................... 22
3.1 Pengkajian ........................................................................................... 22
3.2 Analisa Data ........................................................................................ 29
3.3 Diagnosa .............................................................................................. 29
3.4 Perencanaan Tindakan Keperawatan .................................................. 36
3.5 Implementasi ....................................................................................... 41
3.6 Evaluasi ............................................................................................... 42
4. Evidence Based Nursing ......................................................................... 43
BAB 2 HASIL ................................................................................................ 46
1. Pengkajian ................................................................................................. 46
2. Analisa Data .............................................................................................. 56
3. Diagnosa Keperawatan .............................................................................. 57
4. Prioritas Masalah ....................................................................................... 57
5. Diagnosa Keperawatan Prioritas ............................................................... 60
6. Intervensi ................................................................................................... 61
7. Implementasi ............................................................................................. 67
8. Evaluasi ..................................................................................................... 68
BAB 3 SIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 70
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 71

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Tingkat Kemandirian Keluarga .................................................... 14


Tabel 1.2 Tahap IV Siklus Kehidupan Keluarga Inti dengan Dua Orang
Tua, dan Tugas-tugas Perkembangan yang bersamaan ................................ 17
Tabel 1.3 Contoh Tabel Analisa Data .......................................................... 29
Tabel 1.4 Daftar Diagnosis Keperawatan Keluarga ..................................... 32
Tabel 1.5 Skala Menentukan Prioritas Masalah ........................................... 36
Tabel 1.6 Contoh Perencanaan Asuhan Keperawatan Keluarga dengan
NANDA, NIC, NOC .................................................................................... 39

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Genogram ................................................................................. 46


Gambar 2.2 Denah Rumah ........................................................................... 50

iv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Lembar Pernyataan


Lampiran 2 : Lembar Penilaian Makalah
Lampiran 3 : Lembar Penilaian Presentasi Kelompok
Lampiran 4 : Lembar penilaian video simulasi
Lampiran 5 : Leaflet kesehatan gigi dan mulut
Lampiran 6 : Lembar Informed Consent

v
BAB 1
TINJAUAN TEORI

1. Konsep Keluarga
1.1 Definisi Keluarga
Keluarga adalah persekutuan dua orang atau lebih individu yang terkait
oleh darah, perkawinan atau adopsi yang membentuk satu rumah tangga,
saling berhubungan dalam lingkup peraturan keluarga serta saling
menciptakan dan memelihara budaya. (Muhlisin, Abi. 2012)
Keluarga adalah perkumpulan dua atau lebih individu yang diikat oleh
hubungan darah, perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota keluarga
selalu berinteraksi satu sama lain. (Harmoko. 2012)
Menurut Friedman (2002) dalam Abi Muhlisin (2012) mengemukakan
bahwa keluarga adalah kumpulan dua orang manusia atau lebih, yang satu
sama lain saling terikat secara emosional, serta bertempat tinggal yang
sama dalam satu daerah yang berdekatan. (Muhlisin, Abi. 2012)
UU No. 10 tahun 1992 mengemukakan keluarga adalah unit terkecil
dari masyarakat yang terdiri dari suami, istri, dan anak atau suami istri,
atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. (Padila. 2012)

1.2 Struktur Keluarga


Struktur keluarga menggambarkan bagaimana keluarga melaksanakan
fungsi keluarga di masyarakat. Ada beberapa struktur keluarga menurut
Padila (2012), diantaranya adalah:
1.2.1 Patrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui
jalur ayah.
1.2.2 Matrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui
jalur ibu.

1
1.2.3 Matrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
ibu.
1.2.4 Patrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
ayah.
1.2.5 Keluarga Kawinan
Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan
keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian
keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.

1.3 Fungsi Keluarga


Menurut Friedman (2002), mengidentifikasikan lima fungsi dasar keluarga,
yaitu:
1.3.1 Fungsi Afektif
Fungsi afektif berkaitan dengan fungsi internal keluarga yang
merupakan basis kekuatan dari keluarga. Fungsi afektif berguna
untuk pemenuhan kebutuhan psikologis. Keberhasilan fungsi
afektif tampak melalui keluarga yang gembira dan bahagia.
Anggota keluarga mengembangkan konsep diri yang positif, rasa
memiliki dan dimiliki, rasa berarti merupakan sumber kasih sayang.
Reinforcement dan support dipelajari dan dikembangkan melalui
interaksi dalam keluarga. (Harmoko. 2012)
Fungsi afektif merupakan sumber energi yang menentukan
kebahagiaan keluarga. Sering perceraian, kenakalan anak atau
masalah keluarga lainnya timbul akibat fungsi afektif keluarga
yang tidak terpenuhi. (Padila. 2012)
Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga untuk memenuhi
fungsi afektif adalah:
1.3.1.1 Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling
menerima dan mendukung. Setiap anggota keluarga yang
mendapat kasih sayang dan dukungan, maka kemampuannya

2
untuk memberi akan meningkat sehingga tercipta hubungan yang
hangat dan saling mendukung. Hubungan yang baik dalam
keluarga tersebut akan menjadi dasar dalam membina hubungan
dengan orang lain diluar keluarga. (Padila. 2012)
1.3.1.2 Saling menghargai, dengan mempertahankan iklim yang
positif dimana setiap anggota keluarga baik orang tua maupun
anak diakui dan dihargai keberadaan dan haknya. (Padila. 2012)
1.3.1.3 Ikatan dan identifikasi, ikatan ini dimulai sejak pasangan
sepakat hidup baru. Kemudian dikembangkan dan disesuaikan
dengan berbagai aspek kehidupan dan keinginan yang tidak dapat
dicapai sendiri, misalnya mempunyai anak. Hubungan
selanjutnya akan dikembangkan menjadi hubungan orang tua-
anak dan antar anak melalui proses identifikasi. Proses
identifikasi merupakan inti ikatan kasih sayang, oleh karena itu
perlu diciptakan proses identifikasi yang positif dimana anak
meniru perilaku orang tua melalui hubungan interaksi mereka.
(Padila. 2012)
1.3.2 Fungsi Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses pekembangan dan perubahan yang
dialami individu yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar
berperan dalam lingkungan sosial. Sosialisasi dimulai sejak
individu dilahirkan dan berakhir setelah meninggal. Keluarga
merupakan tempat dimana individu melakukan sosialisasi. Tahap
perkembangan individu dan keluarga akan dicapai melalui interaksi
atau hubungan yang diwujudkan dalam sosialisasi. Anggota
keluarga belajar disiplin, memiliki nilai/norma, budaya dan
perilaku melalui interaksi dalam keluarga sehingga individu
mampu berperan di masyarakat. (Padila. 2012)
1.3.3 Fungsi Perawatan Kesehatan
Fungsi lain keluarga adalah fungsi perawatan kesehatan. Selian
keluarga menyediakan makanan, pakaian dan rumah, keluarga juga
berfungsi melakukan asuhan kesehatan terhadap anggotanya baik

3
untuk mencegah terjadinya gangguan maupun merawat anggota
yang sakit. Keluarga juga menentukan kapan anggota keluarga
yang mengalami gangguan kesehatan memerlukan bantuan atau
pertolongan tenaga professional. Kemampuan ini sangat
mempengaruhi status kesehatan individu dan keluarga. (Padila.
2012)
Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan
terhadap anggotanya dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga
yang dilaksanakan. Tugas kesehatan keluarga tersebut adalah:
(Padila. 2012)
1.3.3.1 Mengenal masalah kesehatan
1.3.3.2 Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang
tepat
1.3.3.3 Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit
1.3.3.4 Mempertahankan suasana rumah yang sehat
1.3.3.5 Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat.
Kelima tugas kesehatan tersebut saling terkait dan perlu
dilakukan oleh keluarga. Perawat perlu melakukan pengkajian
untuk mengetahui sejauh mana keluarga dapat melaksanakan
kelima tugas tersebut dengan baik, selanjutnya memberikan
bantuan atau pembinaan terhadap keluarga untuk memenuhi tugas
kesehatan keluarga tersebut. (Padila. 2012)
1.3.4 Fungsi Reproduksi (The Reproductive Function)
Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan
dan meningkatkan sumber daya manusia. Dengan adanya program
keluarga berencana, maka fungsi ini sedikit dapat terkontrol.
Namun disisi lain banyak kelahiran yang tidak diharapkan atau
diluar ikatan perkawinan, sehingga lahirnya keluarga baru dengan
satu orangtua. (Harmoko. 2012)
1.3.5 Fungsi Ekonomi (The Economic Function)
Untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti makanan,
pakaian dan rumah, maka keluarga memerlukan sumber keuangan.

4
Fungsi ini sulit dipenuhi oleh keluarga dibawah garis kemiskinan
(keluarga pra sejahtera). Perawat berkontribusi untuk mencari
sumber-sumber di masyarakat yang dapat digunakan keluarga
meningkatkan status kesehatan mereka. (Padila. 2012)

1.4 Tipe/Bentuk Keluarga


Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai
macam pola kehidupan. Sesuai dengan perkembangan sosial maka tipe
keluarga berkembang mengikutinya. Agar dapat mengupayakan peran
serta keluarga dalam meningkatkan derajat kesehatan, maka perawat perlu
mengetahui berbagai tipe keluarga. (Muhlisin, Abi. 2012)
1.4.1 Tipe Keluarga Tradisional, terdiri dari: (Muhlisin, Abi. 2012)
1.4.1.1 The Nuclear Family (Keluarga Inti)
Yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari suami, istri dan
anak (kandung atau angkat).
1.4.1.2 The Extended Family (Keluarga Besar)
Yaitu keluarga inti ditambah dengan keluarga lain yang
mempunyai hubungan darah, misalnya kakek, nenek,
paman, bibi, atau keluarga yang terdiri dari tiga generasi
yang hidup bersama dalam satu rumah, seperti nuclear
family disertai paman, tante, orang tua (kakek nenek),
keponakan.
1.4.1.3 Dyadic Nuclear (Keluarga tanpa anak)
Adalah keluarga yang terdiri dari suami dan istri sudah
berumur, tetapi tidak mempunyai anak. Keluarga tanpa
anak dapat diakibatkan oleh ketidakmampuan pasangan
suami istri untuk menghasilkan keturunan ataupun
ketidaksanggupan untuk mempunayi anak akibat kesibukan
dari kariernya. Biasanya keluarga ini akan mengadopsi
anak. (Andarmoyo, Sulistyo.2012)

5
1.4.1.4 Single Parent (Orang Tua Tunggal)
Yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua
dengan anak (kandung atau angkat). Kondisi ini disebabkan
oleh perceraian atau kematian.
1.4.1.5 Blended Family
Duda atau janda (karena perceraian) yang menikah kembali
dan membesarkan anak dari perkawainan sebelumnya.
1.4.1.6 Multigenerational Family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur
yang tinggal bersama dalam satu rumah.
1.4.1.7 Commuter Family
Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah
satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua
yang bekerja di luar kota bisa berkumpul pada anggota
keluarga pada saat “weekend”.

1.4.2 Tipe Keluarga Non-Tradisional, terdiri dari: (Muhlisin, Abi.


2012)
1.4.2.1 Unmarried Parent and Child
Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan
anak dari hubungan tanpa nikah.
1.4.2.2 Commune Family
Beberapa pasangan keluarga yang tidak ada hubungan
saudara yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan
fasilitas yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi
anak dengan melalui aktivitas kelompok / membesarkan
anak bersama.
1.4.2.3 Cohibing Couple
Keluarga yang terdiri dari dua orang atau satu pasangan
yang tinggal bersama tanpa perkawinan.

6
1.4.2.4 Gay and Lesbian Family
Dua individu yang sejenis atau yang mempunyai persamaan
sex hidup bersama dalam satu rumah tangga sebagaimana
“marital pathners”.
1.4.2.5 Group Network Family
Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup
berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-
barang rumah tangga bersama, pelayanan, dan bertanggung
jawab membesarkan anaknya.
1.4.2.6 Foster Family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan
keluarga/saudara di dalam waktu sementara, pada saat
orang tua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk
menyatukan kembali keluarga yang aslinya.
1.4.2.7 Homeless Family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai
perlindungan yang permanen karena krisis personal yang
dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan problem
kesehatan mental.
1.4.2.8 Gang/together Family
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang-orang
muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang
mempunyai perhatian tetapi berkembang dalam kekerasan
dan kriminal dalam kehidupannya.

1.5 Stres dan Koping Keluarga


Keluarga secara terus menerus dihadapkan pada perubahan. Stimulus
untuk perubahan ini datang dari luar dan dalam. Supaya dapat berlangsung
hidup dan terus berkembang, maka strategi dan proses koping keluarga
sangat pening bagi keluarga dalam menghadapi tuntutan yang ada.
1.5.1 Sumber stressor keluarga (stimulus)

7
Stressor merupakan agen-agen pencetus atau penyebab stress.
Dalam keluarga stressor biasanya berkaitan dengan kejadian-
kejadian dalam hidup yang cukup serius yang menimbulkan
perubahan dalam sistem keluarga, dapat berupa kejadian atau
pengalaman antar pribadi (dalam atau luar keluarga), lingkungan,
ekonomi serta sosial budaya dan persepsi keluarga terhadap
kejadian. (Padila. 2012)
Stres adalah keadaan tegang akibat stressor atau oleh tuntutan
yang belum tertangani. Stres dalam keluarga sulit diukur. Adaptasi
adalah proses penyesuaian terhadap perubahan, adaptasi bisa
positif bisa negativ yang dapat meningkatkan atau menurunkan
keadaan kesehatan keluarga. (Padila. 2012)
Tiga strategi untuk adaptasi individu yang juga dapat
digunakan pada keluarga, yaitu mekanisme pertahan, merupakan
cara-cara yang dipelajari, kebiasaan dan otomatis untuk berespon,
taktik untuk menghindari masalah dan biasanya merupakan
perilaku menghindari sehingga cenderung disfungsi, strategi
koping, yaitu upaya-upaya pemecahan masalah, biasanya
merupakan strategi adaptasi positif dan penguasaan, yaitu
merupakan mode adaptasi yang paling positif sebagai hasil dari
penggunaan strategi koping yang efektif dan sangat berhubungan
dengan kompetensi keluarga. (Padila. 2012)
1.5.2 Koping keluarga
Koping keluarga menunjuk pada analisa kelompok keluarga
(analisa interaksi). Koping keluarga diidentifikasi sebagai respon
positif yang digunakan keluarga untukmemecahkan masalah
(mengendalikan stres). Berkembang dan berubah sesuai
tuntutan/stressor yang dialami. Sumber koping keluarga bisa
internal yaitu dari anggota keluarga sendiri dan eksternal yaitu dari
luar keluarga. (Padila. 2012)
Koping keluarga internal berupa kemamuan keluarga yang
kohesif dan terintegrasi yang dicirikan dimana anggota keluarga

8
memiliki tanggung jawab kuat terhadap keluarga, mampu
memodifikasi pernah keluarga bila dibutuhkan (fleksibel) dan pola
komunikasi dalam keluarga yang baik, mengandalkan kelompok
keluarga, penggunaan humor, mengontrol arti/makna masalah dan
pemecahan masalah bersama. Sedangkan koping eksternal
berhubungan dengan penggunaan sosial support system oleh
keluarga dapat berupa mencari informasi, memelihara hubungan
aktif dengan komunitas, mencari dukungan sosial dan mencari
dukungan spiritual. (Padila. 2012)
1.5.3 Sumber dasar stres keluarga
Sumber dasar stress dari empat sumber yaitu kontak enuh stress
dari anggota keluarga dengan kekuatan diluar keluarga, kontak
penuh stres seluruh keluarga dengan kekuatan diluar keluarga,
stressor tradisional seperti lahirnya bayi, tumbuh remaja,
perkawainan single parent, masuknya kakek/nenek, keluarnya anak
dewasa muda dan hilangnya pasangan (Padila. 2012).

1.6 Tugas Kesehatan Keluarga


1.6.1 Mengenal masalah kesehatan keluarga
Setiap anggota keluarga perlu mengenal keadaan kesehatan dan
perubahan-perubahan yang terjadi pada anggota keluarganya.
Apabila menyadari adanya perubahan sekecil apapun, keluarga
perlu mencatat kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi, dan
seberapa besar perubahannya (Harmoko. 2016).
1.6.2 Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat
Tugas ini merupakan upaya utama keluarga untuk mencari
pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan
pertimbangan siapa diantara anggota keluarga yang mempunyai
kemampuan untuk memutuskan sebuah tindakan. Tindakan
kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat agar
masalah kesehatan yang sedang terjadi dapat dikurangi atau
teratasi.jika keluarga mempunyai keterbatasan dalam mengambil

9
keputusan, maka keluarga dapat meminta bantuan kepada orang
lain dilingkungan tempat tinggalnya (Harmoko. 2016).
1.6.3 Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit
Sering mengalami keterbatasan, maka anggota keluarga yang
mengalami gangguan kesehatan perlu memperoleh tindakan
lanutan atau perawatan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi.
Perawatan dapat dilakukan di institusi pelayanan kesehatan atau di
rumah apabila keluarga telah memiliki kemampuan melakukan
tindakan untuk pertolongan pertama (Harmoko. 2016).
1.6.4 Mempertahankan suasana rumah yang sehat
Rumah merupakan tempat berteduh, berlindung, dan
bersosialisasi bagi anggota keluarga. Sehingga anggota keluarga
akan memiliki waktu lebih banyak berhubungan dengan
lingkungan tempat tinggal. Oleh karena itu, kondisi rumah haruslah
dapt menjadikan lambang ketenangan, keindahan, dan dapat
menunjang derajat kesehatan bagi anggota keluarga (Harmoko.
2016).
1.6.5 Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada
Apabila mengalami gangguan atau masalah yang berkaitan
dengan kesehatan keluarga atau anggota keluarga harus dapat
memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada disekitarnya. Keluarga
dapat berkonsultasi atau meminta bantuan tenaga keperawatan
untuk memecahkan masalah yang di alami anggota keluarganya
sehingga keluarga dapat bebas dari segala macam penyakit
(Harmoko. 2016).

1.7 Tahapan Keluarga Sejahtera


Menurut Kantor Menteri Negara Kependudukan/BKKBN (1996), tahapan
keluarga sejahtera terdiri dari:
1.7.1 Prasejahtera
Keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya
secara minimal atau belum seluruhnya terpenuhi seperti spiritual,

10
pangan, sandang, papan, kesehatan dan keluarga berencana (KB),
atau keluarga yang belum dapat memenuhi salah satu atau lebih
indikator keluarga sejahtera tahap I. (Muhlisin, Abi. 2012)
1.7.2 Sejahtera tahap I
Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya
secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial
psikologisnya seperti kebutuhan akan pendidikan, KB, interaksi
dalam sejahtera I kebutuhan dasar 1 sampai 5 telah terpenuhi,
yaitu: (Harmoko. 2012)
a. Melaksanakan ibadah menurut agamanya oleh masing-masing
anggota keluarga.
b. Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan dua kali atau
lebih.
c. Seluruh anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda
untuk aktivitas di rumah, bekerja, sekolah, dan bepergian.
d. Lantai rumah bukan lantai tanah.
e. Bila anak sakit dan/atau pasangan usia subur ingin KB dibawa
ke sarana kesehatan
1.7.3 Sejahtera tahap II
Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya dan
kebutuhan sosial psikologisnya tetapi belum dapat memenuhi
seluruh kebutuhan pengembangan, seperti kebutuhan untuk
menabung dan memperoleh informasi. (Muhlisin, Abi. 2012)
Pada keluarga sejahtera II kebutuhan fisik, sosial, dan
psikologis telah terpenuhi. Indikatornya adalah sebagai berikut:
(Harmoko. 2012)
a. Melaksanakan ibadah menurut agamanya oleh masing-masing
anggota keluarga.
b. Makan dua kali sehari atau lebih.
c. Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan
d. Lantai rumah bukan lantai tanah.

11
e. Bila anak sakit dan/atau pasangan usia subur ingin KB dibawa
ke sarana kesehatan
f. Paling kurang sekali seminggu keluarga menyediakan
daging/ikan/telur
g. Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel
pakaian baru per tahun
h. Luas lantai rumah paling kurang 8 m2 untuk tiap penghuni
rumah
i. Seluruh anggota keluarga dalam 3 bulan terakhir dalam
keadaan sehat, sehingga dapat melaksanakan fungsinya
masing-masing.
j. Paling kurang satu anggota keluarga 15 tahun ke atas
berpenghasilan tetap.
k. Seluruh anggota keluarga yang berumur 10-60 tahun bisa baa
tulis latin.
l. Anak usia sekolah 6-12 bersekolah pada saat ini.
m. Bila anak hidup sebanyak 2 atau lebih, keluarga yang masih
pasangan usia subur memakai kontrasepsi (kecuali sedang
hamil).

1.7.4 Sejahtera tahap III


Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar, sosial
psikologis dan pengembangan, tetapi belum dapat memberikan
sumbangan yang teratur bagi masyarakat atau kepedulian sosialnya
belum terpenuhi seperti sumbangan materi, dan berperan aktif
dalam kegiatan masyarakat (Muhlisin, Abi. 2012). Indikator
keluarga sejahtera tahap III adalah indikator pada keluarga tahap II
ditambah dengan komponen-komponen berikut ini: (Harmoko.
2012)
a. Mempunyai upaya untuk meningkatkan pengetahuan agama
b. Sebagian dari penghasilan dapat disisihkan untuk tabungan
keluarga

12
c. Biasanya makan bersamapaling kurang sekali sehari dan
kesempatan untuk itu dapat di manfaatkan untuk
berkomunikasi antaranggota keluarga
d. Ikut serta dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat
tinggal
e. Mengadakan rekreasi bersama di luar rumah sekurang-
kurangnya sekali dalam 6 bulan
f. Dapat memperoleh berita dari surat kabar/radio/TV/majalah
g. Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi
sesuai kondisi daerah.

1.7.5 Sejahtera III plus


Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar, sosial
psikologis dan pengembangan, dan telah dapat memberikan
sumbangan yang teratur dan berperan aktif dalam kegiatan
kemasyarakatan atau memiliki kepedulian sosial yang tinggi
(Muhlisin, Abi. 2012). Indikator keluarga sejahtera III plus adalah
indikator pada keluarga sejahtera III ditambah dengan komponen
berikut ini: (Harmoko. 2012)
a. Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan suka rela
memberikan sumbangan bagi kegiatan sosial masyarakat dalam
bentuk material.
b. Kepala keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus
perkumpulan/yayasan/institusi masyarakat.

1.8 Tingkat Kemandirian


Adapun tingkat kemandirian keluarga dilihat dari 7 kriteria kemampuan
yang telah dicapai oleh keluarga yaitu:
1.8.1 Kriteria 1: Keluarga menerima perawat
1.8.2 Kriteria 2: Keluarga menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana
keperawatan keluarga

13
1.8.3 Kriteria 3: Keluarga tahu dan dapat mengungkapkan masalah
kesehatannya secara benar
1.8.4 Kriteria 4: Keluarga memanfaatkan fasilitas kesehtan pelayanan
kesehatan sesuai anjuran
1.8.5 Kiteria 5: Keluarga melakukan tindakan keperawatan sederhana
yang sesuai anjuran
1.8.6 Kritera 6: Keluarga melakukan tindakan pencegahan secara aktif
1.8.7 Kriteria 7: Keluarga melakukan tindakan promotif secara aktif

Tabel 1.1 Tingkat Kemandirian Keluarga


Tingkat Kriteria Kriteria Kriteria Kriteria Kriteria Kriteria Kriteria
Kemandirian 1 2 3 4 5 6 7
Tingkat I √ √
Tingkat II √ √ √ √ √
Tingkat III √ √ √ √ √ √
Tingkat IV √ √ √ √ √ √ √

2. Konsep Anak Sekolah


2.1 Definisi
Anak usia sekolah merupakan suatu periode yang dimulai saat anak
masuk sekolah dasar sekitar usia 6 tahun sampai menunjukan tanda akhir
masa kanak-kanak yaitu 12 tahun. Langkah perkembangan selama anak
mengembangkan kompetensi dalam keterampilan fisik, kognitif, dan
psikososial. Selama masa ini anak menjadi lebih baik dalam berbagai hal,
misalnya mereka dapat berlari dengan cepat dan lebih jauh sesuai
perkembangan kecakapan dan daya tahannya. (Wong, L. Donna. 2009)
2.2 Perkembangan Usia Sekolah
2.2.1 Perkembangan Biologis
Saat umur sampai 12 tahun, pertumbuhan rata-rata 5 cm per
tahun untuk tinggi badan dan meningkat 2-3 kg per tahun untuk
berat badan. Selama usia tersebut, anak laki-laki dan perempuan
memiliki perbedaan ukuran tubuh. Anak laki-laki cenderung
gemuk. Pada usia ini, pembentukan jaringan lemak lebih cepat
perkembangannya daripada otot. (Wong, L. Donna. 2009)

14
2.2.2 Perkembangan Psikososial
Perkembangan psikososialnya digolongkan dalam fase laten,
yaitu ketika anak berada dalam fase oidipus yang terjadi pada masa
prasekolah dan mencintai seseorang. Dalam tahap ini, anak
cenderung membina hubungan yang erat atau akrab dengan teman
sebaya, juga banyak bertanya tentang gambar seks yang dilihat dan
dieksploitasi sendiri melalui media. Perkembangan psikososialnya
berada dalam tahap industri vs inferior. Dalam tahap ini, anak
mampu melakukan atau menguasai keterampilan yang bersifat
teknologi dan sosial, memiliki keinginan untuk mandiri, dan
berupaya menyelesaikan tugas. Inilah yang merupakan tahap
industri. Bila tugas tersebut tidak dapat dilakukan, anak akan
menjadi inferior. (Wong, L. Donna. 2009)
2.2.3 Tempramen
Sifat tempramental yang dialami sebelumnya merupakan faktor
terpenting dalam perilakunya pada masa ini. Pola perilakunya
menunjukkan anak mudah bereaksi terhadap situasi yang baru.
Pada usia ini, sifat tempramental sering muncul sehingga peran
orang tua dan guru sangat besar untuk mengendalikannya. (Wong,
L. Donna. 2009)
2.2.4 Perkembangan Kognitif
Usia ini berada dalam tahap operasional konkret, yaitu anak
mengekspresikan apa yang dilakukan dengan verbal dan simbol.
Selama periode ini kemampuan anak belajar konseptual mulai
meningkat dengan pesat dan memiliki kemampuan belajar dari
benda, situasi, dan pengalaman yang dijumpainya. (Wong, L.
Donna. 2009)
2.2.5 Perkembangan Moral
Masa akhir kanak-kanak, perkembangan moralnya
dikategorikan berada dalam tahap konvensional. Pada tahap ini,
anak mulai belajar tentang peraturan-peraturan yang berlaku,

15
menerima peraturan, dan merasa bersalah bila tidak sesuai dengan
aturan yang telah diterimanya. (Wong, L. Donna. 2009)
2.2.6 Perkembangan Spiritual
Anak usia sekolah menginginkan segala sesuatunya adalah
konkret atau nyata daripada belajar tentang “God”. Mereka mulai
tertarik terhadap surga dan neraka sehingga cenderung melakukan
atau mematuhi peraturan, karena takut bila masuk neraka. (Wong,
L. Donna. 2009)
2.2.7 Perkembangan Bahasa
Pada usia ini terjadi penambahan kosakata umum yang berasal
dari berbagai pelajaran di sekolah, bacaan, pembicaraan, dan media.
Kesalahan pengucapan mengalami penurunan karena selama
mencari pengalaman anak telah mendengar pengucapan yang benar
sehingga mampu mengucapkannya dengan benar. (Wong, L.
Donna. 2009)
2.2.8 Perkembangan Sosial
Akhir masa kanak-kanak sering disebut usia berkelompok,
yang ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman
dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai
anggota kelompok. (Wong, L. Donna. 2009)
2.2.9 Perkembangan Seksual
Masa ini anak mulai belajar tentang seksualnya dari teman-
teman terlebih guru dan pelajaran di sekolah. Anak mulai berupaya
menyesuaikan penampilan, pakaian, dan bahkan gerak-gerik sesuai
dengan peran seksnya. Kecenderungan pada usia ini, anak
mengembangkan minat-minat yang sesuai dengan dirinya. Disini,
peran orang tua sangat penting untuk mempersiapkan anak
menjelang pubertas. (Wong, L. Donna. 2009)
2.2.10 Perkembangan Konsep Diri
Perkembangan konsep diri sangat dipengaruhi oleh mutu
hubungan dengan orang tua, saudara, dan sanak keluarga lain. Saat
usia ini, anak-anak membentuk konsep diri ideal, seperti dalam

16
tokoh-tokoh sejarah, cerita khayal, sandiwara, film, tokoh nasional
atau dunia yang dikagumi, untuk membangun ego ideal yang
menurut Van den Daele berfungsi sebagai standar perilaku umum
yang diinternalisasi. (Wong, L. Donna. 2009)

2.3 Tugas Perkembangan Keluarga dengan Anak Usia Sekolah


Tugas perkembangan keluarga umumnya lebih ditekankan pada
pemenuhan tugas perkembangan anak. Untuk mencapai tugas
perkembangan yang optimal, keluarga akan membutuhkan bantuan dari
pihak sekolah dan kelompok anak sebaya. Keluarga perlu membantu
meletakkan dasar penyesuaian diri anak dengan teman sebaya.
(Andarmoyo, Sulistyo. 2012)
Tabel 1.2 Tahap IV Siklus Kehidupan Keluarga Inti dengan Dua Orang
Tua, dan Tugas-tugas Perkembangan yang bersamaan. (Andarmoyo,
Sulistyo. 2012)
Tahap Siklus Kehidupan
Tugas-Tugas Perkembangan Keluarga
Keluarga
Keluarga dengan anak 1. Mensosialisasikan anak-anak, termasuk
usia sekolah meningkatkan prestasi sekolah dan
mengembangkan hubungan dengan teman
sebaya yang sehat.
2. Mempertahankan hubungan perkawinan
yang memuaskan.
3. Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik
anggota keluarga

2.4 Masalah Anak Usia Sekolah


2.4.1 Bahaya Fisik
2.4.1.1 Penyakit
a. Penyakit palsu/khayal untuk menghindari tugas-tugas yang
menjadi tanggung jawabnya
2.4.1.2 Kegemukan
Bahaya kegemukan yang dapat terjadi :
a. Anak kesulitan mengikuti kegiatan bermain sehingga
kehilangan kesempatan untuk keberhasilan sosial

17
b. Teman-temannya sering mengganggu dan mengejek
sehingga anak menjadi rendah diri

2.4.1.3 Kecelakaan
Meskipun tidak meninggalkan bekas fisik, kecelakaan
sering dianggap sebagai kegagalan dan anak lebih bersikap
hati-hati akan bahayanya bagi psikologisnya sehingga anak
merasa takut dan hal ini dapat berkembang menjadi rasa malu
yang akan mempengaruhi hubungan sosial
2.4.1.4 Kecanggungan
Anak mulai membandingkan kemampuannya dengan teman
sebaya bila muncul perasaan tidak mampu dapat menjadi dasar
untuk rendah diri
2.4.1.5 Kesederhanaan
Hal ini sering dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa
memandangnya sebagai perilaku kurang menarik sehingga
anak menafsirkannya sebagai penolakan yang dapat
mempengaruhi konsep diri anak
2.4.2 Bahaya Psikologis
2.4.2.1 Bahaya dalam berbicara
Ada 4 (empat) bahaya dalam berbicara yang umum terdapat
pada anak-anak usia sekolah yaitu :Kosakata yang kurang dari
rata-rata menghambat tugas-tugas di sekolah dan menghambat
komunikasi dengan orang lain.
a. Kesalahan dalam berbicara, cacat dalam berbicara (gagap)
akan membuat anak jadi sadar diri sehingga anak hanya
berbicara bila perlu saja
b. Anak yang kesulitan berbicara dalam bahasa yang
digunakan dilingkungan sekolah akan terhalang dalam
usaha untuk berkomunikasi dan mudah merasa bahwa ia
berbeda

18
c. Pembicaraan yang bersifat egosentris, mengkritik dan
merendahkan orang lain, membual akan ditentang oleh
temannya

2.4.2.2 Bahaya emosi


Anak akan dianggap tidak matang bila menunjukan pola-
pola emosi yang kurang menyenangkan seperti marah yang
berlebihan, cemburu masih sangat kuat sehingga kurang
disenangi orang lain
2.4.2.3 Bahaya bermain
Anak yang kurang memiliki dukungan sosial akan merasa
kekurangan kesempatan untuk mempelajari permainandan olah
raga untuk menjadi anggota kelompok, anak dilarang berkhayal,
dilarang melakukan kegiatan kreatif dan bermain akan menjadi
anak penurut yang kaku.
2.4.2.4 Bahaya dalam konsep diri
Anak yang mempunyai konsep diri yang ideal biasanya
merasa tidak puas terhadap diri sendiri dan tidak puas terhadap
perlakuan orang lainbila konsep sosialnya didasarkan pada
pelbagai stereotip, anak cenderung berprasangka dan bersikap
diskriminatif dalam memperlakukan orang lain. Karena
konsepnya berbobot emosi dan cenderung menetap serta terus
menerus akan memberikan pengaruh buruk pada penyesuaian
sosial anak
2.4.2.5 Bahaya moral
Bahaya umum diakitkan dengan perkembangan sikap moral
dan perilaku anak-anak :
a. Perkembangan kode moral berdasarkan konsep teman-
teman atau berdasarkan konsep-konsep media massa
tentang benar dan salah yang tidak sesuai dengan kode
orang dewasa

19
b. Tidak berhasil mengembangkan suara hati sebagai
pengawas perilaku
c. Disiplin yang tidak konsisten membuat anak tidak yakin
akan apa yang sebaiknya dilakukan
d. Hukuman fisik merupakan contoh agresivitas anak
e. Menganggap dukungan teman terhadap perilaku yang salah
begitu memuaskan sehingga menjadi perilaku kebiasaan
f. Tidak sabar terhadap perilaku orang lain yang salah

3. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Keluarga


3.1 Pengkajian
3.1.1 Data umum
Pengkajian terhadap data umum keluarga meliputi :
1. Nama kepala keluarga ( KK )
2. Alamat dan telepon
3. Pekerjaan kepala keluarga
4. Pendidikan kepala keluarga
5. Komposisi keluarga dan genogram
6. Tipe keluarga
Menjelaskan mengenai jenis/tipe keluarga
Kendala mengenai masalah-masalah yang terjadi dengan jenis/tipe
keluarga tersebut.
7. Suku bangsa
Mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut serta mengidentifikasi
budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan
8. Agama
Mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang
dapat mempengaruhi kesehatan
9. Status sosial ekonomi keluarga
Status sosial ekonomi kluarga ditentukan oleh pendapatan baik dari
kepala keluarga maupun dari anggota keluarga lainnya. Selain itu
status sosial ekonomi keluarga ditentukan pula oleh kebutuhan-

20
kebutuhan yang dikeluarkan olh keluarga serta barang-barang yang
dimiliki oleh keluarga.
10. Aktivitas rekreasi keluarga
Rekreasi keluarga tidak hanya dilihat dari kapan saja keluarga
pergi bersama-sama untuk mengunjungi tempat rekreasi tertentu,
namun dengan menonton televisi dan mendegar radio juga
merupakan aktivitas rekreasi.
3.1.2 Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
11. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan keluarga ditentukan dengan anak tertua dari
keluarga inti. Contoh : keluarga bapak A memiliki dua orang anak,
anak pertama berusia tujuh tahun dan anak kedua berusia empat
tahun, maka keluarga bapak A berada pada tahap perkembangan
kelurga dengan usia anak skolah.
12. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Menjelaskan mengenai tugas perkembangan keluarga yang belum
terpenuhi oleh keluarga serta kendala-kendala tersebut blum
terpenuhi.
13. Riwayat keluarga inti
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti,
meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-
masing anggota keluarga, perhatian keluarga terhadap pencegahan
penyakit termasuk imunisasi, sumbr playanan kesehatan yang biasa
digunakan keluarga dan pengalaman terhadap pelayanan kesehatan.
14. Riwayat keluarga sebelumnya.
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga dari pihak
suami dan pihak istri.

3.1.3 Pengkajian lingkungan


15. Karakteristik rumah
Karakteristik rumah diidentifikasi dengan mleihat luas rumah, tipe
rumah, jumlah ruangan, jumlah jendela, jarak septic tank dengan

21
sumber air, sumber air minum yang digunakan serta dilengkapi
dengan denah rumah.
16. Karaktristik tetangga dan komunitas RW
Menjelaskan mengenai karakteristik dari tetangga dan komunitas
setempat meliputi kebiasaan lingkungan fisik, aturan dan
kesepakatan penduduk setempat serta budaya setempat yang
mempengaruhi kesehatan.
17. Mobilitas geografis keluarga
Mobilitas gografis keluarga ditentukan dengan melihat kebiasaan
keluarga berpindah tempat.
18. Perkumpulan kelaurga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk
berkumpul srta perkumpulan kelaurga yang ada dan sejauh mana
interaksi kluarga dngan masyarakat.

3.1.4 Struktur keluarga


19. Sistem pendukung keluarga
Yang termasuk sistem pendukung kluarga adalah jumlah anggota
kelaurga yang sehat, fasilitas-fasilitas yang dimiliki keluarga untuk
menunjang kesehatan mencakup fasilitas fisik, fasilitas psikologis
atau dukungan dari anggota kelaurga dan fasilitas sosial atau
dukugan dari masyarakat setmpat.
20. Pola komunitas klaurga
Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antar anggota kelaurga.
21. Struktur kekuatan kelaurga
Kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi
dan orang lain untuk mengubah perilaku.
22. Struktur peran
Menjelaskan peran dari masig-masing anggota kelaurga baik secra
formal maupun informal.
23. Nilai dan norma keluarga

22
Menjelaskan mngenai nilai dan norma yang dianut oleh keluarga
berhubungan dengan kesehatan.

3.1.5 Fungsi keluarga


24. Fungsi efektif
Hal yang perlu diperhatikan yaitu gambaran dari anggota kelaurga,
perasaan memilki dan dimiliki dalam kelaurga, dukungan kelaurga
terhadap anggota keluarga lainnya, bagaimana kehanggatan tercipta
pada anggota kelaurga dan bagimana kelaurga mengembangkan sikap
saling menghargai.
25. Fungsi sosialisasi
Dikaji bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauh
mana anggota kelaurga belajar disiplin, norma, budaya serta perilaku.
26. Fungsi perawatan kesehatan
Menjelaskan sejauh mana kelaurga menyediakan makanan, pakaian,
pelindung serta merawat anggota kelaurga yang sakit. Kesanggupan
kelaurga didalam melaksanakan lima tugas kesehatan kelaurga, yaitu
kelaurga mampu mengenal masalah kesehatan, mengambil kepuusan
untuk melakukan tindakan, melakukan perawatan terhadap anggota
yang sakit, menciptakan lingkungan yang dapat meningkatkan
kesehatan dan mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang terdapat
ilingkungan setempat. Hal yang perlu dikaji sejauh mana kelaurga
melakukan pemenuhan tugas perawatan kesehatan keluarga adalah :
a. Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah
kesehatan, maka perlu dikaji sejauh mana keluarga mengetahui
fakta-fakta dari masalah kesehatan, meliputi pngertian, tanda dan
gejala, faktor penyebab dan yang mempengaruhinya serta presepsi
keluarga terhadap masalah.
b. Untuk mengtahui kemampuan kelaurga mengambil keputusan
mengenai tindakan kesehatan yang tepat, perlu dikaji :
1. Sejauh mana kemampuan kelaurga mengerti mengenai sifat dan
luasnya masalah?

23
2. Apakah masalah kesehatan yang dirasakan oleh kelaurga?
3. Apakah keluarga merasa menyerah terhadap masasalah
kesehatan yang dialami?
4. Apakah keluarga merasa takut akan akibat dari penyakit?
5. Apakah kelaurga mempunyai sifat ngatif terhadap masalah
kesehatan?
6. Apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas ksehatan yang
ada?
7. Apakah keluarga kurang percaya terhadap tenaga kesehatan?
8. Apakah keluarga mendapat informasi yang salah terhadap
tindakan dalam menghadapai masalah?
c. Untuk mengtahui sejauh mana kemampuan kelaurga merawat
anggota keluarga yang sakit, trmasuk kmampuan memelihara
lingkungan yang mnggunakan sumber/fasilitas kesehatan yang ada
di masyarakat, maka perlu dikaji :
1. Apakah keluarga mengetahui sifat dan perkembangan
perawatan yang dibutuhkan untuk mengulangi masalah
kesehatan atau penyakit ?
2. Apakah keluarga mempunyai sumber daya dan fasilitas yang
diperlukan untuk merawat ?
3. Apakah keterampilan keluarga mengenai macam perawatan
yang diperlukan memadai ?
4. Apakah keluarga mempunyai pandangan negative terhadap
perawatan yang diperlukan ?
5. Apakah keluarga kurang dapat melihat keuntungan dalam
pemeliharaan lingkungan dalam pemeliharaan lingkungan
dimasa mendatang ?
6. Apakayh keluarga mengetahui upaya peningkatan kesehatan
dan pencegahan penyakit ?
7. Apakah keluarga merasa takut akan akibat tindakan (diagnostik,
pengobatan dan rehabilitasi) ?

24
8. Bagaimana falsafah hidup keluarga berkaitan dengan upaya
perwatan dan pencegahan ?
d. Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga memelihara
lingkungan rumah yang sehat, maka perlu dikaji :
1. Sejauh mana keluarga mengetahui sumber-sumber kelaurga
yang dimilki ?
2. Sjauh mana keluarga melihat keuntungan atau manfaat
pemeliharaan lingkungan ?
3. Sejauh mana keluarga mengetahui pentingnya hygine dan
sanitasi ?
4. Sejauh mana keluarga mengetahui upaya pencegahan
penyakit ?
5. Bagaimana sikap dan pandangan keluarga terhadap hygiene
dan sinitasi ?
6. Sejauhmana kekompakan antar anggota keluarga ?
e. Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga
memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan dimasyarakat, maka
perlu dikaji :
1. Sejauhmana keluarga mengetahui keberadaan fasilitas
kesehatan ?
2. Sejauhmana keluarga memahami keuntungan yang dapat
diperoleh dari fasilitas kesehatan ?
3. Sejauh mana tingkat kepercayaan keluarga terhadap petugas
dan fasilitas kesehatan ?
4. Apakah keluarga mempunyai pengalaman yang kurang baik
terhadap petugas kesehatan ?
5. Apakah fasilitas kesehatan yang ada terjangkau oleh keluarga ?

27. Fungsi reproduksi


Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi reproduksi kelaurga adalah :
a. Berapa jumlah anak ?
b. Apa rncana kelaurga berkaitan dengan jumlah anggota keluarga ?

25
c. Mtode yang digunakan keluarga dalam upaya mngendalikan
jumlah anggota kelaurga ?

28. Fungsi ekonomi


Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi ekonomi kelaurga adalah :
a. Sejauhmana keluarga memnuhi kebutuhan sandang, pangan, dan
papan?
b. Sejauhmana keluarga memanfaatkan sumber yang ada
dimasyarakat dalam upaya peningkatan status kesehatan keluarga ?

3.1.6 Stress dan koping keluarga


29. Stressor jangka pendek dan jangka panjang
a. Stressor jangka pendk yaitu stressor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu enam bulan
b. Stressor jangka panjang yaitu stressor yang dialami keluarga
memerlukan penyelesaian dalam waktu lebih dari enam bulan
30. Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor dikaji sejauhmana
keluarga berespon terhadap stressor
31. Strategi koping yang digunakan
Dikaji strategi koping yang digunakan bila mngahadapi
permasalahn/stress
32. Stategi adaptasi difungsional
Dijelaskan mengenai strategi adaptasi disfungsional yang digunakan
keluarga bila menghadapi permasalah/stress

3.1.7 Pemeriksaan fisik


Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga. Motode yang
digunakan sama dengan pemeriksaan fisik diklinik.

3.2 Analisa Data

26
Setelah data terkumpul maka langkah selanjutnya adalah membuat
analisis data dengan menggelompokkan masing-masing data yang
digunakan untuk merumuskan masalah keperawatan keluarga yang terjadi
pada keluarga dengan mengikuti format sebagai berikut: (Andarmoyo,
Sulistyo. 2012)
Tabel 1.3 Contoh Tabel Analisa Data
ANALISA DATA
Nama KK : ……………………………………………..
Umur : ……………………………………………..
No. KELOMPOK DATA MASALAH ETIOLOGI
1. DS :
DO :
2. DS :
DO :

3.3 Diagnosa
Diagnosa keperawatan keluarga dirumuskan berdasarkan data yang
didapatkan pada pengkajian yang terdiri dari masalah keperawatan
(problem/P) yang berkenaan pada individu dalam keluarga yang sakit
berhubungan dengan etiologi (E) yang berasal dari pengkajian fungsi
perawatan keluarga. (Muhlisin, Abi. 2012)
Diagnosa keperawatan keluarga mengacu pada P-E-S dimana untuk
problem (P) dapat digunakan tipologi dari NANDA maupun Doengoes
sebagai masalah individu yang sakit dan etiologi (E) berkenaan dengan 5
tugas keluarga dalam hal kesehatan/keperawatan. (Muhlisin, Abi. 2012)
Tipologi dari diagnosis keperawatan keluarga:
3.3.1 Diagnosis Aktual (terjadi defisit/gangguan kesehatan)
Dari hasil pengkajian didapatkan data mengenai tanda dan
gejala dari gangguan kesehatan, dimana maslah kesehatan yang
dialami oleh keluarga memerlukan bantuan untuk segera ditangani
dengan cepat. Pada diagnosis keperawatan aktual, faktor yang
berhubungan merupakan etiologi, atau faktor penunjang lain yang

27
telah mempengaruhi perubahan status kesehatan, sedangkan faktor
tersebut dapat di kelompokkan kedalam empat kategori, yaitu:
(Harmoko. 2012)
3.3.1.1 Patofisiologi (biologi)
3.3.1.2 Tindakan yang berhubungan
3.3.1.3 Situasional (lingkungan, personal)
3.3.1.4 Maturasional
Secara umum faktor-faktor yang berhubungan atau etiologi dari
diagnosis keperawatan keluarga adanya adanya: (Harmoko. 2012)
a. Ketidaktahuan (kurangnya pengetahuan, pemahaman, dan
kesalahan persepsi)
b. Ketidakmauan (sikap dan motivasi)
c. Ketidakmauan (kurangnya ketrampilan terhadap suatu prosedur
atau tindakan, kurangnya sumber daya keluarga, baik finansial,
fasilitas, sistem pendukung, lingkungan fisik, dan psikologis).
3.3.2 Diagnosis Risiko (ancaman kesehatan)
Sudah ada data yang menunjang namun belum terjadi gangguan,
tetapi tanda tersebut dapat menjadi masalah aktual apabila tidak
segera mendapatkan bantuan pemecahan dari tim kesehatan dan
keperawatan. Faktor-faktor risiko untuk diagnosis risiko dan risiko
tinggi memperlihatkan keadaan dimana kerentangan meningkat
terhadap klien atau kelompok. Faktor ini membedakan klien atau
kelompok risiko tinggi yang lainnya pada populasi yang sama yang
mempunyai risiko. (Harmoko. 2012)
3.3.3 Diagnosis Potensial (keadaan sejahtera “wellness”)
Suatu keadaan dimana keluarga dalam keadaan sejahtera sehingga
kesehatan keluarga dapat ditingkatkan. Diagnosis keperawatan
kesejahteraan tidak mencakup faktor-faktor yang berhubungan.
Perawat dapat memperkirakan kemampuan atau potensi keluarga
dapat ditingkatkan kearah yang lebih baik. Daftar diagnosis
keperawatan keluarga berdasarkan NANDA adalah sebagai
berikut: (Harmoko. 2012)

28
Tabel 1.4 Daftar Diagnosis Keperawatan Keluarga
Sasaran Domain Kelas Kode Rumusan diagnosis keperawatan
Keluarga Domain 1: Kelas 2: 00080 Ketidakefektifan manajemen regimen terapeurik
Promosi Kesehatan Manajemen Kesehatan keluarga
00099 Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan
00188 Perilaku kesehatan cenderung berisiko
Domain 2: Kelas 1: 00106 Kesiapan untuk meningkatkan ASI
Nutrisi Ingesti
Domain 4: Kelas 5: 00098 Gangguan pemeliharaan rumah
Aktivitas/Istirahat Perawatan Diri
Domain 5: Kelas 4: 00222 Ketidakefektifan kontrol impuls
Persepsi/Kognisi Kognisi
Kelas 5: 00157 Kesiapan meningkatkan komunikasi
Komunikasi
Domain 7: Kelas 1: 00061 Ketegangan peran pemberi asuhan
Hubungan Peran Peran caregiver 00062 Risiko ketegangan peran pemberi asuhan
00056 Ketidakmampuan menjadi orang tua
00164 Kesiapan meningkatkan peran menjadi orang tua
00057 Risiko ketidakmampuan menjadi orang tua
Kelas 2: 00058 Risiko gangguan perlekatan
Hubungan Keluarga 00063 Disfungsi proses keluarga
00060 Gangguan proses keluarga
00159 Kesiapan meningkatkan proses keluarga
Kelas 3: 00223 Ketidakefektifan hubungan
Performa peran 00207 Kesiapan meningkatkan hubungan
00229 Risiko ketidakefektifan hubungan
00064 Konflik peran orang tua

29
00055 Ketidakefektifan performa peran
00052 Hambatan interaksi sosial
Domain 9: Kelas 2: 00074 Penurunan koping keluarga
Koping/Toleransi stres Respon koping 00073 Ketidakmampuan koping keluarga
00075 Kesiapan meningkatkan koping keluarga
00199 Ketidakefektifan perencanaan aktivitas
00226 Risiko ketidakefektifan perencanaan aktivitas
00210 Hambatan penyesuaian
00211 Risiko hambatan penyesuaian
00212 Kesiapan meningkatkan penyesuaian
Domain 10: Kelas 3: 00083 Konflik pengambilan keputusan
Prinsip hidup Nilai / 00169 Hambatan religiositas
Keyakinan / 00170 Risiko hambatan religiositas
Aksi kongruen 00171 Kesiapan meningkatkan religiositas
00184 Kesiapan meningkatkan pengambilan keputusan
Domain 11: Kelas 4: 00181 Kontaminasi
Keamanan / Hazard lingkungan 00180 Risiko kontaminasi
Proteksi 00037 Risiko keracunan
Domain 13: Kelas 1: 00113 Risiko pertumbuhan tidak proporsional
Pertumbuhan / Pertumbuhan
Perkembangan
Kelas 2: 00112 Risiko keterlambatan perkembangan
Perkembangan
Carers Carers 10027773 Stres pada pemberi asuhan
10027787 Risiko stres pada pemberi asuhan
10029621 Gangguan kemampuan untuk melakukan
perawatan
10032270 Risiko gangguan kemampuan untuk melakuka

30
perawatan
Emosional / isu 10023370 Gangguan komunikasi
psikologikal 10038411 Gangguan status psikologis
Perawatan keluarga 10029841 Masalah ketenagakerjaan
10023078 Gangguan proses keluarga
10022473 Kurangnya dukungan keluarga
10022753 Masalah dukungan keluarga
10035744 Masalah hubungan
10032364 Risiko gangguan koping keluarga
Promosi kesehatan Health Promotion 10023452 Kemampuan untuk mempertahankan kesehatan
10000918 Gangguan mempertahankan kesehatan
10032386 Risiko bahaya lingkungan
Manajemen perawatan 10021994 Kurangnya pengetahuan tentang penyakit
jangka panjang
Medikasi 10022635 Gangguan kemampuan untuk memanajemen
pengobatan
Perawatan diri 10000925 Gangguan kerumahtanggaan
Manajemen risiko 10029792 Kekerasan rumah tangga
10030233 Keselamatan lingkungan yang efektif
10029856 Masalah keselamatan lingkungan
10032289 Risiko terjadinya penyalahgunaan
10032301 Risiko terjadinya pelecehan anak
10033470 Risiko terjadinya pengabaian anak
10032340 Risiko terjadinya pelecehan lansia
10033489 Risiko terjadinya pengabaian lansia
10015122 Risiko untuk jatuh
10015133 Risiko terinfeksi
10033463 Risiko terjadinya pengabaian

31
Keadaan sosial 10029860 Masalah finansial
10029887 Tinggal di rumah
10029904 Masalah perumahan
10022563 Pendapatan yang tidak memadai
10022753 Kurangnya dukungan sosial

Etiologi dari diagnosis keperawatan keluarga berdasarkan hasil pengkajian dari tugas perawatan kesehatan keluarga. Khusus
untuk diagnosis keperawatan potensial (sejahtera/”wellness”) menggunakan/ boleh tidak menggunakan etiologi. (Muhlisin, Abi.
2012)

32
3.4 Perencanaan Tindakan Keperawatan
Perencanaan tindakan keperawatan adalah sekumpulan tindakan yang
ditentukan oleh perawat untuk dilaksanakan guna memecahkan masalah
kesehatan dan masalah perawatan yang telah diidentifikasi. Perencanaan
keperawatan keluarga terdiri dari penetaan tujuan yang mencakup tujuan
umum (untuk mengatasi problem/masalah pada individu yang sakit) dan
tujuan khusus (pemecahan masalah dengan mengacu pada 5 tugas
keluarga dalam hal kesehatan/keperawatan) serta dilengkapi dengan
criteria dan standar. Kriteria dan standar merupakan pernyataan spesifik
tentang hasil yang diharapkan dari setiap tindakan keperawatan
berdasarkan tujuan khusus yang ditetapkan. (Muhlisin, Abi. 2012)
Perencanaan mencakup penentuan prioritas masalah, tujuan, dan
rencana tindakan. Tahapan penyusunan perencanaan keperawatan keluarga
adalah sebagai berikut: (Riasmini, Ni Made. 2017)
3.4.1 Menetapkan prioritas masalah
Tabel 1.5 Skala Menentukan Prioritas Masalah (Riasmini, Ni Made.
2017)
No. Kriteria Skor Bobot Perhitungan Pembenaran
Sifat masalah Argumen
Skala: Wellness terhadap
3
1. Aktual penentuan
3
Risiko 1 skala
2
Potensial
1
Kemungkinan masalah
dapat diubah
2. Skala: Mudah
2
Sebagian
1
Tidak dapat 2
0
Potensi masalah untuk
dicegah
3
3. Skala: Tinggi
2
Cukup 1
1
Rendah

Menonjolnya masalah
2
4. Skala: Segera
1
Tidak perlu 1
0
Tidak dirasakan

33
Cara Skoring:
1. Tentukan skor untuk setiap kriteria
2. Skor dibagi dengan makna tertinggi dan kalikanlah dengan bobot
Skor
× Bobot
Angka Tertinggi
3. Jumlahkanlah skor untuk semua kriteria

3.4.2 Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penentuan prioritas


masalah:
1) Kriteria yang pertama, yaitu sifatnya masalah, bobot yang lebih
berat diberikan pada tidak/kurang sehat karena yang pertama
memerlukan tindakan segera dan biasanya disadari dan dirasakan
oleh keluarga. (Muhlisin, Abi. 2012)
2) Kriteria kedua, yaitu untuk kemungkinan masalah dapat diubah
perawat perlu memperhatikan terjangkaunya fakor-faktor sebagai
berikut: (Muhlisin, Abi. 2012)
a. Pengetahuan yang ada sekarang, teknologi dan tindakan untuk
menangani masalah.
b. Sumber daya keluarga: dalam bentuk fisik, keuangan dan
tenaga.
c. Sumber daya perawat: dalam bentuk pengetahuan,
keterampilan dan waktu.
d. Sumber daya masyarakat: dalam bentuk fasilitas, organisasi
dalam masyarakat: dalam bentuk fasilitas, organisasi dalam
masyarakat dan sokongan masyarakat.
3) Kriteria ketiga, yaitu potensial masalah dapat dicegah, faktr-faktor
yang perlu diperhatikan adalah: (Muhlisin, Abi. 2012)
a. Kepelikan dari masalah yang berhubungan dengan penyakit
atau masalah
b. Lamanya masalah yang berhubungan dengan jangka waktu
masalah itu ada.

34
c. Tindakan yang sedang dijalankan adalah tindakan-tindakan
yang tepat dalam memperbaiki masalah.
d. Adanya kelompok “high risk” atau kelompok yang sangat peka
menambah potensial untuk mencegah masalah.
4) Kriteria keempat, yaitu menonjolnya masalah perawat perlu
menilai perspsi atau bagaimana keluarga melihat masalah
kesehatan tersebut. Nilai skor yang tertinggi yang terlebih dahulu
dilakukan intervensi keperawatan keluarga. (Muhlisin, Abi. 2012)

35
Tabel 1.6 Contoh Perencanaan Asuhan Keperawatan Keluarga dengan NANDA, NIC, NOC
Diagnosis keperawatan NOC NIC
Analisa Data
Kode Diagnosis Kode Hasil Kode Intervensi
DS : Domain : TUK 1 Keluarga mampu
Kelas : Setelah dilakukan intervensi mengenal masalah:
DO : Diagnosa : keluarga mampu mengenal
masalah dengan kriteria Level 1 : Domain
hasil: Level 2 : Kelas
Level 3: Intervensi
Level 1 : Domain
Level 2 : Kelas
Level 3: Outcomes
TUK 2 Keluarga mampu
Setelah dilakukan ntervensi memutuskan tindakan
keluarga mampu perawatan:
memutuskan tindakan
perawatan dengan kriteria Level 1 : Domain
hasil: Level 2 : Kelas
Level 3: Intervensi
Level 1 : Domain
Level 2 : Kelas
Level 3: Outcomes
TUK 3 Keluarga mampu merawat
Setelah dilakukan intervensi anggota keluarga yang
keluarga mampu merawat sakit
anggota keluarga yang sakit
dengan kriteria hasil: Level 1 : Domain
Level 2 : Kelas

36
Level 1 : Domain Level 3: Intervensi
Level 2 : Kelas
Level 3: Outcomes
TUK 4 Keluarga mampu
Setelah dilakukan intervensi memodifikasi lingkungan:
keluarga mampu
memodifikasi lingkungan Level 1 : Domain
dengan kriteria hasil : Level 2 : Kelas
Level 3: Intervensi
Level 1 : Domain
Level 2 : Kelas
Level 3: Outcomes
TUK 5 Keluarga mampu
Setelah dilakukan intervensi memanfaatkan pelayanan
keluarga mampu kesehatan.
memanfaatkan pelayanan
kesehatan dengan kriteria Level 1 : Domain
hasil: Level 2 : Kelas
Level 3: Intervensi
Level 1 : Domain
Level 2 : Kelas
Level 3: Outcomes

37
3.5 Implementasi
Pelaksanaan atau implementasi keperawatan merupakan salah satu
tahap dari proses keperawatan keluarga dimana perawat mendapatkan
kesempatan ntuk membangkitkan minat keluarga dalam mengadakan
perbaikan ke arah perilaku hidup sehat. Adanya kesulitan, kebingungan,
serta ketidakmampuan yang dihadapi keluarga harus dijadikan perhatian.
Oleh karena itu, diharapkan perawat dapat memberikan kekuatan dan
membantu mengembangkan potensi-potensi yang ada, sehingga keluarga
mempunyai kepercayaan diri dan mandiri dalam menyelesaikan masalah.
(Harmoko. 2012)
Tindakan keperawatan keluarga mencakup hal-hal berikut ini:
3.5.1 Menstimulasi kesehatan atau penerimaan keluarga mengenai
kebutuhan kesehatan dengan cara memberikan informasi,
mengidentifikasi kebutuhan dan haraan tentang kesehatan, serta
mendorong sikap emosi yang sehat terhadap masalah. (Harmoko.
2012)
3.5.2 Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang
tepat dengan cara mengidentifikasi konsekuensi ntuk tidak melakukan
tindakan, menidentifikasi sumber-sumber yang dimiliki keluarga, dan
mendiskusikan konsekuensi setiap tindakan. (Harmoko. 2012)
3.5.3 Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga
yang sakit dengan cara mendemonstrasikan cara perawatan,
menggunakan alat dan fasilitas yang ada di rumah, dan mengawasi
keluarga melakukan perawatan. (Harmoko. 2012)
3.5.4 Membenatu keluarga utuk menemukan cara membuat lingkungan
menjadi sehat dengan menemukan sumber-sumber yang dapat
digunakan keluarga dan melakukan perubahan lingkungan keluarga
seoptimal mungkin. (Harmoko. 2012)
3.5.5 Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehata
dengan cara mengenalkan fasilitas kesehatan yang ada dilingkungan
keluarga cara menggunakan fasilitas tersebut. (Harmoko. 2012)

38
3.6 Evaluasi
Sesuai dengan rencana tindakan yang telah diberikan, tahap penilaian
diberikan untuk melihat keberhasilannya. Bila tidak/belum berhasil, maka
perlu disusun rencana baru yang sesuai. Semua tindakan keperawatan
mungkin tidak dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan keluarga. Oleh
karena itu, kunjungan dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan
waktu dan kesediaan keluarga. (Harmoko. 2012)
Langkah-langkah dalam mengevaluasi pelayanan keperawatan yang
diberikan, baik kepada individu maupun keluarga adalah sebagai berikut:
(Harmoko. 2012)
3.6.1 Tentukan garis besar masalah kesehatan yang dihadapi dan
bagaimana keluarga mengatasi masalah tersebut.
3.6.2 Tentukan bagaimana rumusan tujuan perawatan yang akan dicapai
3.6.3 Tentukan kriteria dan standar untuk evaluasi. Kriteria dapat
berhubungan dengan sumber-sumber proses atau hasil, bergantung
kepada dimensi evaluasi yang diinginkan.
3.6.4 Tentukan metode atau teknik evaluasi yang sesuai serta sumber-
sumber data yang di perlukan.
3.6.5 Bandingkan keadaan yang nyata (sudah perawatan) dengan kriteria
dan standar untuk evaluasi.
3.6.6 Identifikasi penyebab atau alasan penampilan yang tidak optimal
atau pelaksanaan yang kurang memuaskan.
3.6.7 Perbaiki tujuan berikutnya. Bila tujuan tidak tercapai, perlu
ditentukan alasan kemungkinan tujuan tidak relistis, tindakan tidak
tepat, atau kemungkinan ada faktor lingkungan yang tidak dapat diatasi.

39
4. Evidence Based in Nursing
4.1 Jurnal 1
Status Kebersihan Gigi dan Mulut dengan Status Karies Gigi (Kajian pada
Murid Kelompok Umur 12 Tahun di Sekolah Dasar Negeri Kota
Bukittinggi)
Syukra Alhamda, 2011

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian cross sectional.


Setiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan faktor risiko,
serta efek diukur menurut keadaan atau status saat diobservasi. Subjek
penelitian adalah murid kelompok umur 12 tahun SDN kota Bukittinggi
dengan populasi seluruh murid kelompok umur 12 tahun SDN kota
Bukittinggi yang berjumlah 1.760 orang. Pengambilan sampel dalam
penelitian ini menggunakan teknik cluster sampling dan dengan sistem
gugus per kecamatan, besar sampel sebanyak 20% sehingga didapatkan
jumlah sampel 352 orang dengan kriteria inkluisi murid yang giginya
sudah permanen semua.
Penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah murid dengan status
kebersihan gigi dan mulut yang baik dan tidak mempunyai karies sebesar
29,55%, sedangkan jumlah murid status kebersihan gigi dan mulut yang
sedang dan buruk yang tidak mempunyai karies sebesar 13,64% dan
1,13%. Semakin baik kebersihan gigi dan mulut murid maka akan semakin
baik juga status karies giginya. Status kebersihan gigi dan mulut pada
murid termasuk kategori sedang dan prevalensi karies gigi pada murid
tinggi (55,58%) dengan rerata DMF-T 1,35. Rerata DMF-T murid
perempuan lebih tinggi dari pada murid laki-laki.

40
4.2 Jurnal 2
PENGALAMAN KARIES GIGI SERTA POLA MAKAN DAN MINUM
PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DESA KIAWA KECAMATAN
KAWANGKOAN UTARA
1 2 3
Indry Worotitjan, Christy N. Mintjelungan, Paulina Gunawan
2013

Penelitian yang dilakukan yaitu penelitian deksriptif dengan


menggunakan pendekatan desain penelitian cross sectionalstudy. Populasi
pada penelitian yaitu seluruh anak sekolah dasar kelas VIdi SD GMIM I,
SD GMIM II, SD Katolik dan SD Negeri Inpres yang rata-rata berusia 10-
11 tahun di desa Kiawadengan jumlah populasi 60 orang. Sampel pada
penelitian ini ialah anak-anak sekolah dasar kelas VI yang terdaftar dan
aktif sebagai murid SD di desa Kiawa yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi. Kriteria inklusi yaitu sampel bersedia secara sukarela dan telah
mendapatkan ijin dari orang tua mengikuti penelitian ini secara penuh dan
sebagai subyek penelitian melalui informed consent, bersifat kooperatif
selama pengambilan data. Kriteria eksklusi yaitu anak-anak sekolah dasar
di desa Kiawayang bersedia sebagai subyek penelitian namun tidak berada
di tempat saat dilakukan penelitian karena ijin atau sakit dan anak-anak
sekolah periode gigi bercampur.
Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik Total
Sampling. Seluruh populasi menjadi sampel pada penelitian ini dengan
besar sampel yaitu 60 anak sekolah. Variabel penelitian yaitu pengalaman
karies gigi dan pola makan dan minum.Definisi operasional variable
pengalaman karies gigi yaitu karies pada anak-anak sekolah dasar yang
dinyatakan melalui perhitungan menggunakan indeks DMF-T. Indeks
DMF-T adalah angka yang menyatakan adanya karies gigi (decayed),
kehilangan gigi(missing) dan tumpatan (filling) pada seluruh gigi
permanen.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian karies pada kedua
kelompok usia tersebut memiliki pengalaman karies gigi yang sama.
Kejadian ini juga bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor lain seperti

41
kebersihan gigi dan mulut, serta pemilihan makanan yang dikonsumsi
yang dapat menyebabkan terjadinya karies gigi. Hal ini disebabkan
kurangnya perhatian orang tua dalam merawat kesehatan gigi dan mulut
anaknya sehingga anak-anak tersebut tidak pernah memeriksakan gigi dan
mulut ke dokter gigi.
Hal lain yang berhubungan dengan itu yaitu pengetahuan tentang
menjaga kebersihan gigi dan mulut masih kurang karena sekolah-sekolah
dasar di desa Kiawa belum pernah dilakukan penyuluhan tentang
kesehatan gigi dan mulut serta program UKGS yang belum dilaksanakan.
Anak-anak sekolah dasar memiliki pengalaman karies gigi kategori sedang
dengan jumlah rata-rata DMF-T yaitu 3,71 yang artinya anak-anak rata-
rata mengalami karies empat gigi. Pola makan makanan karbohidrat
kariogenik tertinggi pada anak sekolah dasar yaitu snackpada frekuensi
waktu 2-3 kali per hari. Pola minum minuman kariogenik tertinggi pada
anak sekolah dasar yaitu minuman isotonikpada frekuensi 1-3 kali per
minggu.

42
BAB 2
HASIL

Asuhan Keperawatan Keluarga


1. Pengkajian
1.1 Data Umum
1. Nama Kepala Keluarga (KK) : Bpk N
2. Alamat : Sidoarjo
3. Pekerjaan Kepala Keluarga : Swasta
4. Pendidikan Kepala Keluarga : SMA
5. Komposisi Keluarga :

Status Imunisasi
Hub
Hepa Ca k
No Nama JK dengan Umur Pendidikan Polio DPT
BCG titis mp et
keluarga
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 ak
1. Bpk N Lk Ayah 40 th SMA √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
2. Ibu S Pr Ibu 36 th SD √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
3. An N Pr Anak 7 th - √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

Genogram:
Keluarga dari pihak ayah Keluarga dari pihak ibu

Bpk N Ibu S
(40 th) (36 th)

An N
(7 th)

Gambar 2.1
Genogram

43
Ket :
: Laki- laki

: Perempuan

: Meninggal

: Menikah

: Pasien di keluarga yang bermasalah

: Tinggal 1 rumah

: Anak

6. Tipe Keluarga :
Nuclear Family, dimana keluarga ini terdiri dari ayah, ibu dan anak.
7. Suku bangsa :
Keluarga berasal dari suku yang sama, Bpk N suku Jawa maupun Ibu
S. Dalam kehidupan sehari-hari keluarga mengikuti kebiasaan adat
Jawa.
8. Agama :
Keluarga ini memeluk agama islam, keluarga menjalan ibadah sesuai
ajaran agama, dan tidak ada masalah dalam menjalankan ibadah.
9. Status Sosial ekonomi keluarga :
Ayah dan ibu merupakan pencari nafkah di keluarga. Menurut Ibu S,
mereka mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka juga
mempunyai tabungan yang dikhususkan untuk kesehatan dan masa
depan anaknya.

44
10. Aktivitas Rekreasi keluarga :
Mereka biasanya menghabiskan waktu untuk berkumpul sambil
menonton televisi dan mengobrol. An N terkadang melakukan
kegiatan di luar rumah seperti bermain dengan teman-temannya. Ibu S
biasanya juga mengisi waktu luangnya dengan mengobrol dengan
tetangga.

1.2 Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga


11. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga berada dalam tahap IV keluarga dengan anak usia sekolah

12. Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi


Bpk N dan Ibu S sudah melaksanakan tugas-tugas perkembangan
keluarga anak usia sekolah, dimana keluarga sudah mengajarkan
anaknya bersosialisasi termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan
mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sehat.

13. Riwayat kesehatan keluarga inti


Bpk N mengatakan belum pernah sakit serius, paling batuk pilek,
kecapekan karena setelah seharian bekerja. Apabila sakit beli obat
sendiri di apotek, mungkin kalau belum juga sembuh Bpk N pergi ke
dokter. Bpk N biasa merokok sehari 2-3 batang dan tidak pernah sakit
serius akibat merokok, setiap pagi Bpk N juga suka minum kopi. Ibu S
mengatakan Bpk N kalau merokok selalu diluar rumah.

Bpk S mengatakan tidak ada penyakit kronis dan belum pernah


opname karena penyakit tertentu. Saat ini masih menggunakan KB
dengan jenis pil. Beliau mengatakan semua anggota keluarganya tidak
ada yang sakit.

45
An N: Ibu S mengatakan kalau An N tidak menderita penyakit yang
serius, hanya batuk pilek. An N masih minum susu dengan botol susu
dan masih suka mengempeng jika hendak tidur dan saat bersantai. Ibu
S pernah mencoba menghentikan agar An N tidak minum susu dengan
botol tetapi menggantinya dengan gelas dan mencoba untuk
menghentikan agar tidak mengempeng, tetapi An N tidak mau dan
menangis. An N jarang menggosok gigi, jika disuruh selalu
menghindar.

14. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya


Keluarga tidak mempunyai riwayat penyakit seperti asma, diabetes
melitus, hipertensi. Penyakit menular seperti TBC, hepatitis. Penyakit
menahun seperti hipertensi, diabetes melitus, jantung.

1.3 Pengkajian Lingkungan


15. Karakteristik rumah
a. Kepemilikan rumah : rumah milik sendiri
b. Luas bangunan: 17 m x 7 m
c. Jenis bangunan : permanen, lantai keramik
d. Sarana kesehatan lingkungan :
Sumur dan kondisi air: mandi dan mencuci menggunakan air sumur
gali, tidak bau, tidak berwarna dan tidak berasa. Dan untuk memasak
memakai air PDAM.
WC/Jamban : jarak septic tank dengan sumur (sumber air) sekitar 14 m
Tempat sampah: jarak rumah dengan tempat pembuangan sampah
sekitar 3 meter.
SPAL : Ada, tertutup dan dialirkan ke got disamping dan depan rumah.
Jendela : di ruang tamu ada jendela yang cukup besar.
Ventilasi dan pencahayaan : ventilasi ada disetiap kamar dan pakai
kawat kasa. Pencahayaan disiang hari diruangan utama cukup, dan
pencahayaan disetiap kamar juga cukup karena disetiap kamar terdapat
genting kaca sehingga cahaya matahari bisa masuk.

46
Denah
17 m

7
4 5 6
2 7m
1
8
3 12 11 10
9
Gambar 2.2 Denah Rumah

Ket:
1. Teras rumah
2. Ruang tamu
3. Garasi
4. Kamar tidur orang tua dan An. N
5. Kamar tidur
6. Tempat sholat / Musholla
7. Dapur
8. Kamar mandi
9. Kamar mandi
10. Sumur
11. Kamar tidur
12. Ruang keluarga / ruang tv

16. Karakteristik tetangga dan komunitas


Lingkungan dimana keluarga tinggal merupakan tempat hunian yang
padat. Jarak antara rumah satu dengan rumah lainnya kurang dari 1
meter. Terdapat banyak kos-kosan di sekitar rumah Bpk N. antar
tetangga terlihat sangat rukun, mereka terkadang mengobrol di teras
salah satu rumah. Jarak musholla dengan rumah sekitar 100 meter.
Jarak rumah dengan tempat praktik bidan sekitar 150 meter. Kegiatan

47
posyandu biasanya diadakan di tempat praktik bidan yang berjarak
sekitar 150 meter.

17. Mobilitas geografis keluarga


Sejak menikah mereka sudah tinggal di lingkungan saat ini mereka
tempati.

18. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat


Hubungan keluarga dengan masyarakat sangat baik, Ibu S selalu
mengikuti istighosah RT dan mengikuti arisan PKK setiap 1 bulan
sekali. Begitu pula dengan Bpk N, beliau selalu mengikuti istighosah
di musholla setiap 1 bulan sekali.

1.4 Struktur Keluarga


19. Sistem pendukung keluarga
Keharmonisan keluarga menjadi pendukung utama keluarga, dukungan
dari keluarga besar dangat membantu Bpk N dan Ibu S. Apabila ada
anggota keluarga yang sakit mereka merawatnya.

20. Pola komunikasi keluarga


Komunikasi antar anggota keluarga tidak mengalami kesulitan, apabila
terdapat hal-hal yang penting dibicarakan biasanya mereka langsung
membicarakannya. Bpk N dan Ibu S sangat dekat dengan anaknya.

21. Struktur kekuatan keluarga


Perubahan perilaku anggota keluarga paling sering dengan affektif
power, dimana lebih menekankan kepada kasih saying dan saling
mendukung.

22. Struktur Peran


Bpk N : sebagai suami dan ayah, ia bukan merupakan pencari nafkah
satu-satunya bagi keluarga dan ia merupakan pemimpin di keluarganya.

48
Bpk N selalu berusaha menjadi ayah dan suami yang baik. Ia selalu
berusaha memenuhi keinginan istri dan anaknya. Bpk N selalu
memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk dekat dengan keluarga.
Ibu S : sebagai istri, ibu rumah tangga, dan juga membantu suami
dalam hal mencari nafkah. Saat pagi Ibu S bekerja dari pagi sampai
sore, sebelum bekerja Ibu S memasak untuk anak dan suami. Pada
malam hari Ibu S membantu An N untuk menyelesaikan PR dari
sekolah. Ibu S membagi waktu sebaik mungkin agar kasih sayang yang
diberikan pada anaknya tidak kurang
An N : anak dari Bpk N dan Ibu S, kegiatan An N adalah sekolah,
mengaji pada sore hari, pada malam hari selalu mengerjakan pr dan
belajar, bermain dengan teman di sekitar rumah, dan pada sabtu malam
ia selalu mengikuti kegiatan jam’iyah di musholla.

23. Nilai atau norma keluarga


Nilai yang dianut dalam keluarga adalah keterbukaan dan harus
melaksanakan ibadah sesuai dengan waktunya. Tidak boleh ada
pembedaan dalam kualitas makanan, kalau ada masalah harus
didiskusikan bersama.

1.5 Fungsi Keluarga


24. Fungsi afektif
Keluarga telah menjalankan fungsi kasih sayang dengan baik,
kebutuhan anak lebih diutamakan dan sopan santun dengan siapa saja
lebih diutamakan.

25. Fungsi Sosialisasi


Bpk N dan Ibu S mencoba untuk menerapkan kedisiplinan kepada
anak mereka. Sosialisasi keluarga dengan lingkungan sekitar berjalan
dengan baik. Begitu pula dengan anak mereka yang suka bermain
dengan teman sebaya di sekitar rumahnya.

49
26. Fungsi Perawatan Kesehatan
a) Keluarga mengenal masalah kesehatan
Bpk N dan Ibu S kurang mengetahui mengenai masalah kesehatan
yang ada di keluarganya, beliau menganggap bahwa tidak ada
masalah terkait kesehatan sebab semua anggota keluarga dalam
kondisi sehat.
b) Keluarga membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat
Apabila ada anggota keluarga yang sakit, Ibu S selalu mengobati
dan segera membeli obat di apotek sebelum membawanya ke
puskesmas.
c) Merawat anggota keluarga yang sakit
Ibu S selalu menjaga kesehatan anggota keluarganya, saat ada
anggota keluarga yang sakit beliau selalu merawat dan
mengobatinya begitu pula sebaliknya.
d) Kemampuan keluarga untuk mempertahankan suasana rumah yang
sehat
Keluarga mengetahui bagaimana memodifikasi lingkungan rumah
yang sehat. Sehingga disetiap kamar rumah Bpk N dan Ibu S
terdapat ventilasi dan penerangan yang cukup. Mereka
menganggap sanitasi lingkungan yang buruk bisa menyebabkan
berbagai macam penyakit.
e) Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang ada
Apabila ada anggota keluarga yang sakit biasanya keluarga
memeriksakannya ke puskesmas atau tempat praktik bidan atau
pergi ke dokter terdekat untuk mendapatkan pengobatan dan
perawatan. Dan mereka mempunyai persiapan obat dirumah.

27. Fungsi Reproduksi


Ibu S mengatakan bahwa ia dan suami sejak awal menikah susah
mendapatkan anak selama menunggu 10 tahun hingga akhirnya beliau
di karuniai seorang anak. Dikarenakan faktor usia, ibu S dan suami
tidak merencanakan untuk menambah momongan, beliau hanya ingin

50
mempunyai anak 1 dan menyekolahkannya setinggi mungkin hingga
menjadi anak yang sukses. Saat ini Ibu S menggunakan alat
kontrasepsi jenis pil.

28. Fungsi Ekonomi


Menurut Ibu S, mereka mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mereka juga mempunyai tabungan yang dikhususkan untuk kesehatan
dan masa depan anaknya. Seluruh anggota keluarga sudah mempunyai
kartu BPJS yang biasa digunakan ketika akan berobat.

1.6 Stres dan Koping Keluarga


29. Stresor jangka pendek dan panjang
Bpk N dan Ibu S hanya takut jika sudah mengalami pensiun, dan tidak
bisa membiayai sekolah anaknya.

30. Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor


Keluarga mencoba tenang jika ada masalah selalu di bicarakan
bersama untuk mencari penyelesaiannya dan menyerahkannya pada
Allah SWT.

31. Strategi koping yg digunakan


Koping yang digunakan ialah berdoa dan berdiskusi dengan anggota
keluarga.

32. Strategi adaptasi disfungsional


Tidak ada strategi adaptasi disfungsional seperti amarah, setiap ada
masalah selalu dibicarakan baik-baik antar anggota keluarga.

51
1.7 Pemeriksaan Fisik
No ASPEK Bpk N Ibu S An N
1. Tekanan darah 120/60 120/80 -
(Mm/Hg)
2. Suhu (0C) 36,5 37 36,8
3. Nadi (x/menit) 90 88 85
4. Pernafasan 20 24 26
5. Rambut/ kepala Normal Normal Normal
6. Mata, telinga, mulut, Tidak pakai Tidak pakai Tidak pakai
hidung, tenggorokan kacamata, kacamata, kacamata,
pendengaran pendengaran pendengaran
normal, mulut normal, mulut normal, mulut
tidak bau, gigi tidak bau, gigi tidak bau, gigi
bersih, lidah bersih, lidah berlubang, lidah
bersih, nyeri bersih, nyeri bersih, nyeri
menelan tidak ada menelan tidak ada menelan tidak
ada
7. Leher Tidak ada Tidak ada Tidak ada
pembesaran pembesaran pembesaran
kelenjar, kelenjar, kelenjar,
pembesaran vena pembesaran vena pembesaran
jugularis tidak jugularis tidak vena jugularis
ditemui ditemui tidak ditemui
8. Dada dan punggung Thoraks normal, Thoraks normal, Thoraks normal,
irama nafas irama nafas irama nafas
teratur, suara teratur, suara teratur, suara
nafas vesikuler, nafas vesikuler, nafas vesikuler,
tidak ada nyeri payudara simetris, tidak ada nyeri
pada daerah tidak ada pada daerah
perkusi punggung benjolan, tidak perkusi
ada nyeri pada punggung
daerah perkusi
punggung
10. Abdomen Datar, bising usus Datar, bising usus
Datar, bising
normal, perkusi normal, perkusiusus normal,
abdomen abdomen perkusi
tympani, tidak tympani, tidak
abdomen
ada nyeri tekan ada nyeri tekantympani, tidak
abdomen abdomen ada nyeri tekan
abdomen
11. Ekstermitas atas dan Kuku bersih dan Kuku bersih dan Kuku bersih dan
bawah pendek, tidak ada pendek, tidak ada pendek, tidak
kelainan kelainan ada kelainan
pergerakan pergerakan pergerakan

52
2. Analisa Data
No. KELOMPOK DATA ETIOLOGI MASALAH
1. DS : Merokok Perilaku
a. Bpk N mengatakan bahwa ia Kesehatan
biasa merokok sehari 2-3 batang Cenderung
b. Bpk N mengatakan bahwa ia Berisiko
tidak pernah sakit serius akibat
merokok
c. Bpk N mengatakan kalau setiap
pagi ia juga suka minum kopi.
d. Ibu S mengatakan Bpk N kalau
merokok selalu diluar rumah

DO :
Mukosa mulut Bpk N terlihat
gelap, setelah dilakukan pengkajian
Bpk N terlihat merokok di depan
rumahnya.
2. DS : Kurang Kerusakan gigi
a. Ibu S mengatakan bahwa An N hygiene oral
suka makan permen, coklat dan
es susu
b. Ibu S mengatakan bahwa An N
masih minum susu dengan botol
susu
c. Ibu S mengatakan bahwa An N
suka mengempeng jika hendak
tidur dan saat bersantai.
d. Ibu S mengatakan pernah
mencoba menghentikan agar An
N tidak minum susu dengan
botol tetapi menggantinya
dengan gelas dan mencoba
untuk menghentikan agar tidak
mengempeng, tetapi An N tidak
mau dan menangis.
e. Ibu S mengatakan bahwa An N
jarang menggosok gigi kadang
1x sehari, jika disuruh
menggosok gigi selalu
menghindar.

DO :
Gigi An N terlihat berwarna coklat
kehitaman, 2 buah gigi geraham
berlubang
3. DS : Kemampuan

53
a. Bpk N mengatakan apabila ada untuk
anggota keluarga yang sakit ia Mempertahankan
membawanya ke puskesmas atau Kesehatan
tempat praktik bidan atau pergi ke
dokter terdekat untuk mendapatkan
pengobatan dan perawatan.
b. Ibu S mengatakan jika di rumah
sudah ada persediaan obat

DO :
Saat dilakukan pengkajian tidak
ada anggota keluarga yang sakit

3. Diagnosa Keperawatan
No Diagnosa
1. Perilaku Kesehatan Cenderung Berisiko berhubungan dengan
merokok
2. Kerusakan Gigi berhubungan dengan kurang hygiene oral yang
ditandai dengan karies gigi
3. Kemampuan untuk Mempertahankan Kesehatan

4. Prioritas Masalah
1) Perilaku Kesehatan Cenderung Berisiko
No. Kriteria Skor Bobot Perhitungan Hasil Pembenaran
1. Sifat masalah 1 2/3 x 1 = 2/3 Merokok dapat
Skala: mengakibatkan
Wellness 3 berbagai masalah
Aktual 3 kesehatan baik untuk
Risiko 2 perokok aktif
Potensial 1 maupun perokok
pasif. Risiko penyakit
yang dapat timbul
karena merokok
sangat banyak
diantaranya ISPA,
bronchitis sampai
kanker paru

54
2. Kemungkinan 2 ½x2= 1 Keluarga memiliki
masalah dapat sumber daya
diubah diantaranya pola
Skala: komunikasi yang
Mudah 2 baik dalam keluarga
Sebagian 1 dan hubungan
Tidak dapat 0 keluarga yang
harmonis. Namun
terdapat faktor
penghambat
diantaranya perilaku
merokok Bpk N
sudah sangat lama
sehingga tidak
mudah untuk diubah.
3. Potensi masalah 1 1/3 x 1 = 1/3 Perilaku merokok ini
untuk dicegah sudah lama. Keluarga
Skala: tidak pernah
Tinggi 3 memanfaatkan
Cukup 2 fasilitas kesehatan
Rendah 1 untuk mengurangi
perilaku merokok
karena belum ada
motivasi yang kuat
untuk berhenti
merokok.
4. Menonjolnya 1 0/2 x 1 = 0 Keluarga tidak
masalah merasakan adanya
Skala: masalah karena
Segera 2 selama ini Bpk N
Tidak perlu 1 tidak pernah
Tidak 0 menderita sakit yang
dirasakan diakibatkan oleh
merokok.
JUMLAH 2

2) Kerusakan Gigi
No. Kriteria Skor Bobot Perhitungan Hasil Pembenaran
1. Sifat masalah 1 3/3 x 1 = 1 Kurang mampu
Skala: memelihara
Wellness 3 kesehatannya sendiri
Aktual 3 sehingga terjadi
Risiko 2 karies gigi.
Potensial 1

55
2. Kemungkinan 2 2/2 x 2 = 2 Kemajuan teknologi
masalah dapat serta adanya fasilitas
diubah kesehatan yang
Skala: memadai dalam
Mudah 2 penanganan masalah
Sebagian 1 karies gigi mudah di
Tidak dapat 0 dapat sehingga
keluarga mampu
mengubah kebiasaan
sikat gigi dengan
baik.
3. Potensi masalah 1 3/3 x 1 = 1 Berbagai sumber
untuk dicegah daya perawat dalam
Skala: bentuk pengetahuan
Tinggi 3 dan keterampilan
Cukup 2 dapat membantu
Rendah 1 keluarga dalam
melakukan tindakan
yang tepat dalam
memperbaiki
masalah terutama
pada masalah karies
gigi.
4. Menonjolnya 1 2/2 x 1 = 1 An N sudah
masalah mengalami karies
Skala: gigi sejak umur 2
Segera 2 tahun, oleh karena itu
Tidak perlu 1 perlu dilakukan
Tidak dirasakan 0 perawatan yang lebih
optimal agar masalah
kerusakan pada
giginya segera
teratasi dengan baik
tanpa ada keluhan
apapun.
JUMLAH 5

3) Kemampuan untuk Mempertahankan Kesehatan


No. Kriteria Skor Bobot Perhitungan Hasil Pembenaran
1. Sifat masalah 1 3/3 x 1 = 1 Keluarga tidak ada
Skala: yang sakit
Wellness 3
Aktual 3
Risiko 2
Potensial 1

56
2. Kemungkinan 2 2/2 x 1 = 2 Masalah mudah
masalah dapat diatasi dengan
diubah anggota keluarga
Skala: saling mengingatkan
Mudah 2 untuk selalu
Sebagian 1 mempertahankan
Tidak dapat 0 pola hidup sehat
sehingga tidak terjadi
sebuah masalah
kesehatan.
3. Potensi masalah 1 3/3 x 1 = 1 Dengan mendapatkan
untuk dicegah informasi yang cukup
Skala: jelas dan lengkap
Tinggi 3 tentang memelihara
Cukup 2 kesehatan dari
Rendah 1 petugas kesehatan,
maka potensi
masalah kesehatan
yang akan timbul
lebih sedikit
dibanding
sebelumnya.
4. Menonjolnya 1 0/2 x 1 = 0 Saat ini keluarga
masalah tidak mengalami
Skala: sakit. Keluarga
Segera 2 sedang dalam tahap
Tidak perlu 1 yang sehat
Tidak 0
dirasakan
JUMLAH 4

5. Diagnosa Keperawatan Prioritas


No Diagnosa
1. Kerusakan Gigi berhubungan dengan kurang hygiene oral yang
ditandai dengan karies gigi
2. Kemampuan untuk Mempertahankan Kesehatan
3. Perilaku Kesehatan Cenderung Berisiko berhubungan dengan
merokok

57
6. Intervensi
Diagnosis keperawatan NOC NIC
Analisa Data
Kode Diagnosis Kode Hasil Kode Intervensi
DS : Domain 11 : TUK 1 Keluarga mampu
a. Ibu S mengatakan Keamanan / Setelah dilakukan intervensi mengenal masalah:
bahwa An N suka perlindungan keluarga mampu mengenal
makan permen, coklat masalah dengan kriteria Level 1 : Domain 2
dan es susu Kelas 2 : hasil: Perilaku
b. Ibu S mengatakan Cedera fisik
bahwa An N masih Level 1 : Domain IV Level 2 : Kelas S
minum susu dengan Diagnosa : Pengetahuan tentang Pendidikan pasien
botol susu 00048 Kerusakan gigi kesehatan & perilaku
c. Ibu S mengatakan Level 3: Intervensi
bahwa An N suka Level 2 : Kelas S 5602 Pengajaran : Proses penyakit
mengempeng jika Pengetahuan tentang
hendak tidur dan saat kesehatan a. Jelaskan pengertian karies
bersantai. gigi
d. Ibu S mengatakan Level 3: Outcomes b. Jelaskan patofisiologi atau
pernah mencoba 1803 Pengetahuan : proses penyakit perjalanan penyakit
menghentikan agar An karies gigi
N tidak minum susu Pengetahuan dan pemehaman c. Jelaskan tanda dan gejala
dengan botol tetapi keluarga meningkat dari skala yang umum dari karies
menggantinya dengan 2 (pengetahuan terbatas) gigi
gelas dan mencoba menjadi skala 4 (pengetahuan d. Jelaskan penyebab dari
untuk menghentikan banyak) tentang : karies gigi
agar tidak a. Mengetahui faktor
mengempeng, tetapi 180303 penyebab karies gigi
An N tidak mau dan b. Mengetahui faktor risiko

58
menangis. 180304 karies gigi
e. Ibu S mengatakan c. Mengetahui tanda dan
bahwa An N jarang 180306 gejala karies gigi
menggosok gigi TUK 2 Keluarga mampu
kadang 1x sehari, jika Setelah dilakukan ntervensi memutuskan tindakan
disuruh menggosok keluarga mampu perawatan:
gigi selalu memutuskan tindakan
menghindar. perawatan dengan kriteria Level 1 : Domain 5
hasil: Keluarga
DO :
Gigi An N terlihat Level 1 : Domain VI Level 2 : Kelas X
berwarna coklat Kesehatan keluarga Perawatan sepanjang hidup
kehitaman, 2 buah gigi
geraham berlubang Level 2 : Kelas X Level 3: Intervensi
Kesejahteraan keluarga 7110 Peningkatan keterlibatan
keluarga
Level 3: Outcomes a. Dorong anggota keluarga
2605 Partisipasi keluarga dalam dan pasien untuk
perawatan professional membantu dalam
mengembangkan rencana
Bpk N dan keluarga mampu perawatan, termasuk hasil
memutuskan untuk yang diharapkan dan
berpartisipasi dalam pelaksanaan rencana
penanganan karies gigi dari perawatan.
skala 3 (kadang-kadang b. Monitor keterlibatan
menunjukkan) menjadi skala anggota keluarga dalam
4 (sering menunjukkan) : perawatan pasien
260501 a. Berpartisipasi dalam

59
perencanaan perawatan
karies
260503 b. Menyediakan informasi
yang relevan
260504 c. Memperoleh informasi
yang diperlukan
260506 d. Bekerja sama dalam
menentukan perawatan
karies gigi
TUK 3 Keluarga mampu merawat
Setelah dilakukan intervensi anggota keluarga yang
keluarga mampu merawat sakit
anggota keluarga yang sakit
dengan kriteria hasil: Level 1 : Domain 1
Fisiologi : Dasar
Level 1 : Domain I
Fungsi kesehatan Level 2 : Kelas F
Fasilitas perawatan diri
Level 2 : Kelas D
Perawatan diri Level 3: Intervensi
1720 Peningkatan kesehatan mulut
Level 3: Outcomes a. Ajarkan pasien dan
0308 Perawatan diri : kebersihan keluarga mengenai
mulut frekuensi menyikat gigi
b. Ajarkan pasien dalam
Bpk N dan keluarga mampu kegiatan menyikat gigi
merawat anggota keluarga c. Bantu pasien dan keluarga
yang sakit dari skala 2 untuk mengidentifikasi

60
(banyak terganggu) menjadi dan memperoleh produk-
skala 4 (sedikit terganggu) : produk kebersihan mulut
030801 a. Menyikat gigi yang sesuai kebutuhan.
030802 b. Membersihkan sela-sela
gigi
030803 c. Membersihkan mulut, gusi,
dan lidah
TUK 4 Keluarga mampu
Setelah dilakukan intervensi memodifikasi lingkungan:
keluarga mampu
memodifikasi lingkungan Level 1 : Domain 1
dengan kriteria hasil : Fisiologi : Dasar

Level 1 : Domain II Level 2 : Kelas F


Kesehatan fisiologi Fasilitas perawatan diri

Level 2 : Kelas L Level 3: Intervensi


Integritas jaringan 1730 Pemulihan kesehatan mulut
a. Instruksikan kepada
Level 3: Outcomes keluarga dan pasien
1100 Kesehatan mulut untuk menggunakan sikat
gigi yang lembut
Bpk N dan keluarga mampu b. Instruksikan kepada
memodifikasi lingkungan dari keluarga dan pasien
skala 3 (cukup terganggu) mengenai frekuensi
menjadi skala 4 (sedikit perawatan mulut yang
terganggu) : tepat
110001 a. Kebersihan mulut

61
110002 b. Kebersihan gigi
110006 c. Kebersihan peralatan gigi
110008 d. Kesesuaian peralatan gigi
TUK 5 Keluarga mampu
Setelah dilakukan intervensi memanfaatkan pelayanan
keluarga mampu kesehatan.
memanfaatkan pelayanan
kesehatan dengan kriteria Level 1 : Domain 6
hasil: Sistem Kesehatan

Level 1 : Domain IV Level 2 : Kelas Y


Pengetahuan tentang Mediasi Sistem Kesehatan
kesehatan & perilaku
Level 3: Intervensi
Level 2 : Kelas Q 7400 Panduan sistim pelayanan
Perilaku sehat kesehatan
a. Bantu pasien dan
Level 3: Outcomes keluarga memilih
1603 Perilaku pencarian kesehatan profesional kesehatan
yang tepat
Bpk N dan keluarga mampu b. Anjurkan pasien atau
memanfaatkan pelayanan keluarga mengenai jenis
kesehatan dari skala 3 layanan yang bisa
(kadang-kadang menunjukkan diharapkan dari setiap
menjadi skala 4 (sering jenis penyedia layanan
menunjukkan): kesehatan
160313 a. Mendapat bantuan dari
professional kesehatan

62
160314 b. Melakukan perilaku
kesehatan dengan inisiatif
sendiri
160308 c. Melakukan perilaku
kesehatan yang disarankan
160316 d. Mencari bantuan bila
diperlukan

63
7. Implementasi
Tanggal IMPLEMENTASI Paraf
11 Maret 1. Mendiskusikan kepada keluarga tentang karies gigi KEL
2018 2. Mendiskusikan kepada keluarga tentang patofisiologi 7
10.00 WIB karies gigi
3. Mendiskusikan kepada keluarga tentang tanda dan
gejala karies gigi
4. Mendiskusikan kepada keluarga tentang penyebab
karies gigi
11 Maret 1. Mendiskusikan bersama keluarga dengan KEL
2018 menggunakan leaflet mengenai cara menyikat gigi 7
10.15 WIB yang baik dan benar
2. Mendiskusikan bersama keluarga mengenai frekuensi
menyikat gigi
18 Maret 1. Mendiskusikan kepada keluarga agar berpartisipasi KEL
2018 dalam perawatan gigi An N 7
10.00 WIB 2. Mendiskusikan kepada keluarga agar memantau An N
dalam melakukan sikat gigi
18 Maret 1. Menganjurkan keluarga dan pasien untuk KEL
2018 menggunakan sikat gigi yang lembut 7
11.00 WIB 2. Menganjurkan keluarga dan pasien untuk
menggunakan sikat gigi berkarakter sesuai keinginan
anak
3. Menganjurkan keluarga dan pasien untuk
menggunakan pasta gigi khusus anak-anak
4. Mengajari pasien menyikat gigi dengan baik dan benar
18 Maret 1. Menganjurkan keluarga agar memanfaatkan layanan KEL
2018 kesehatan yang ada, seperti klinik gigi dan puskesmas 7
11.00 WIB

64
8. Evaluasi
Tanggal EVALUASI Paraf
11 Maret S : Keluarga mengatakan bahwa sekarang telah KEL 7
2018 mengetahui tentang karies gigi, tanda gejala serta
10.30 WIB penyebab dari karies gigi.
O : Keluarga mampu menjelaskan kembali tanda dan
gejala karies gigi. Keluarga mampu menjelaskan
kembali penyebab dari karies gigi.
A : Masalah teratasi.
P : Intervensi dihentikan.
11 Maret S : Keluarga mengatakan bahwa telah mengetahui cara KEL 7
2018 menyikat gigi yang baik dan benar serta mengetahui
10.30 WIB kapan waktunya untuk menyikat gigi.
O : Keluarga mampu mempraktekkan cara menyikat
gigi yang baik dan benar.
A : Masalah teratasi.
P : Intervensi dihentikan.
18 Maret S : Ibu S mengatakan bahwa sering mengingatkan An N KEL 7
2018 untuk menyikat giginya setiap hari.
11.30 WIB O : Ibu S mendukung An N dalam melakukan
perawatan menyikat gigi dan seing memantau anaknya.
A : Masalah teratasi.
P : Intervensi dihentikan.
18 Maret S : Ny S mengatakan bahwa sudah membelikan An N KEL 7
2018 sikat gigi yang lembut tetapi tidak berkarakter sesuai
11.30 WIB keinginan An N dan sudah menggunakan pasta gigi
khusus anak-anak.
O : An N mampu mempraktekkan cara menyikat gigi
dengan baik dan benar menggunakan sikat gigi yang
lembut dan menggunakan pasta gigi khusus untuk anak-
anak.
A : Masalah teratasi.
P : Intervensi dihentikan.
18 Maret S : Ibu S mengatakan sudah mempunyai rencana untuk KEL 7
2018 membawa anaknya ke dokter gigi, tetapi belum ada
11.30 WIB waktu.
O : Ibu S terlihat antusias dalam perawatan gigi An N
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan

65
CATATAN PERKEMBANGAN

TANGGAL IMPLEMENTASI EVALUASI (SOAP) PARAF


11 Maret TUK 1 Subjektif : KEL 7
2018 Keluarga mampu mengenal masalah karies 1. Keluarga menjelaskan kembali tentang karies
10.00 WIB 1. Menjelaskan kepada keluarga tentang gigi skala (skala 4 = pengetahuan banyak)
pengertian karies gigi 2. Ibu S menjelaskan kembali penyebab dari
2. Menjelaskan kepada keluarga tentang tanda karies gigi yaitu sisa-sisa makanan yang
dan gejala karies gigi terlalu lama mengendap di gigi dan tidak
3. Menjelaskan kepada keluarga tentang penyebab segera menyikat gigi (skala 4 = pengetahuan
karies gigi banyak)
3. Ibu S mengatakan tanda dan gejala dari
karies gigi : terdapat tanda putih seperti
kapur pada permukaan gigi, tampak lubang
kecil pada gigi (skala 4 = pengetahuan
banyak)
Objektif :
1. Bpk N dan Ibu S sangat antusias
2. Bpk N dan Ibu S kooperatif saat diskusi
berlangsung
3. Bpk N dan Ibu S tampak mengerti dengan
yang sudah dijelaskan (dari skala 2 =
pengetahuan terbatas menjadi skala 4 =
pengetahuan banyak)
Analisa :
TUK 1 tercapai, dimana keluarga mampu
mengetahui karies gigi
Perencanaan :

66
Lanjutkan pada perencanaan di TUK 2 tentang
cara keluarga untuk memutuskan tindakan
perawatan yang tepat
11 Maret TUK 2 Subjektif : KEL 7
2018 Keluarga mampu memutuskan tindakan Ibu S mengatakan bahwa sering mengingatkan
10.30 WIB perawatan An N untuk menyikat giginya setiap hari.
1. Mendiskusikan kepada keluarga agar Objektif :
berpartisipasi dalam perawatan gigi An N Ibu S mendukung An N dalam melakukan
2. Mendiskusikan kepada keluarga agar perawatan menyikat gigi dan sering memantau
memantau An N dalam melakukan sikat gigi anaknya
Analisa :
TUK 2 tercapai, dimana keluarga mampu
memutuskan tindakan perawatan
Perencanaan :
Lanjutkan pada perencanaan di TUK 3 tentang
cara keluarga untuk merawat anggota keluarga
yang sakit
18 Maret TUK 3 Subjektif : KEL 7
2018 Keluarga mampu merawat anggota keluarga 1. Ibu S menjelaskan kembali cara menyikat
10.15 WIB yang sakit gigi yang baik dan benar
1. Mendiskusikan bersama keluarga dengan 2. Ibu S mengatakan telah mengetahui kapan
media leaflet mengenai cara menyikat gigi waktunya untuk menyikat gigi.
yang baik dan benar Objektif :
2. Mendiskusikan bersama keluarga mengenai 1. Ibu S tampak antusias
frekuensi menyikat gigi 2. Ibu S tampak mengerti dengan apa yang
sudah dijelaskan
3. Bpk N dan Ibu S mampu mempraktekkan
cara menyikat gigi yang baik dan benar.

67
Analisa :
TUK 3 tercapai, dimana keluarga mampu
merawat karies gigi pada An N
Perencanaan :
Lanjutkan pada perencanaan di TUK 4 tentang
cara keluarga untuk memodifikasi lingkungan
18 Maret TUK 4 Subjektif : KEL 7
2018 Keluarga mampu memodifikasi lingkungan 1. Ny S mengatakan bahwa sudah membelikan
10.30 WIB 1. Menganjurkan keluarga dan pasien untuk An N sikat gigi yang lembut tetapi tidak
menggunakan sikat gigi yang lembut berkarakter sesuai keinginan
2. Menganjurkan keluarga dan pasien untuk 2. Ibu S sudah menganjurkan An N untuk
menggunakan sikat gigi berkarakter sesuai menggunakan pasta gigi khusus anak-anak.
keinginan anak Objektif :
3. Menganjurkan keluarga dan pasien untuk 1. An N mampu mempraktekkan cara menyikat
menggunakan pasta gigi khusus anak-anak gigi dengan baik dan benar menggunakan
4. Mengajari pasien menyikat gigi dengan baik sikat gigi yang lembut dan menggunakan
dan benar pasta gigi khusus untuk anak-anak.
Analisa :
TUK 4 tercapai, dimana keluarga mampu
memodifikasi lingkungan
Perencanaan :
Lanjutkan pada perencanaan di TUK 5 tentang
cara keluarga untuk memanfaatkan pelayanan
kesehatan yang ada
18 Maret TUK 5 Subjektif : KEL 7
2018 Keluarga mampu memanfaatkan pelayanan Ny S mengatakan sudah mempunyai rencana
11.40 WIB kesehatan untuk membawa anaknya ke dokter gigi, tetapi
1. Menganjurkan keluarga agar memanfaatkan belum ada waktu dikarenakan bekerja

68
layanan kesehatan yang ada, seperti klinik gigi Objektif :
dan puskesmas Ny S terlihat antusias dalam perawatan gigi An
N
Analisa :
TUK 5 tercapai, dimana keluarga mampu
memnfaatkan pelayanan kesehatan yang ada
Perencanaan :
Intervensi dihentikan

69
70
BAB 3
SIMPULAN DAN SARAN
3.1 Simpulan
Keluarga merupakan suatu perkumpulan orang yang terdiri dari suami,
istri, dan anak. Keluarga juga merupakan pusat perkembangan anak untuk
dapat berkembang dengan baik atau tidak, keluarga yang baik dapat
mendukung anak dapat berkembang dengan baik pula.
Keluarga dengan tahap perkembangan anak usia sekolah mempunyai tugas
perkembangan yaitu mensosialisasikan anak untuk dapat meningkatkan
prestasi sekolahnya, meningkatkan komunikasi terbuka agar anak mau
bercerita tentang pengalaman yang dialaminya, selain itu orang tua juga harus
bisa melepaskan anak-anaknya untuk bisa bergaul dan bermain dengan teman
sebayanya.
Perkembangan keluarga merupakan bagian penting dalam konsep keluarga.
Perawat keluarga perlu memahami setiap tahap perkembangan keluarga dan
tugas-tugas perkembangannya. Pengkajian dilakukan untuk mengetahui sejauh
mana keluarga memenuhi tugas-tugas perkembangannya. Tindakan promosi
terutama dilakukan jika keluarga belum memenuhi seluruh tugas
perkembangan. Tindakan preventif bertujuan agar keluarga mampu mencegah
munculnya masalah pada perkembangan berikutnya.
3.2 Saran
1. Dalam melakukan pengkajian, mahasisawa/perawat harus membina trust
terlebih dahulu untuk melakukan rencana asuhan keperawatan.
2. Dalam melakukan pengkajian diharapkan mahasiswa dapat menyimpulkan
apakah keluarga sudah mampu memenuhi tugas perkembangan anak usia
sekolah atau belum.

71
DAFTAR PUSTAKA

Alhamda, Syukra. 2011. Status Kebersihan Gigi dan Mulut dengan Status Karies
Gigi (Kajian pada Murid Kelompok Umur 12 Tahun di Sekolah Dasar
Negeri Kota Bukittinggi) Vol. 27, No. 2, Juni 2011 halaman 108 – 115. Di
akses di google scholar pada tanggal 12 Maret 2018

Andarmoyo, Sulistyo. 2012. Keperawatan Keluarga: Konsep Teori, Proses dan


Praktik Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Bulechek, Gloria M, et al, Editor Bahasa Indonesia: Intansari Nurjannah dan


Roxsana Devi Tumanggor. 2016. Nursing Outcomes Classification (NIC).
Singapore: Elsevier.

Harmoko: editor Sujono Riyadi. 2012. Asuhan Keperawatan Keluarga.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Herdman, T. Heather. 2015. Nanda International Inc. diagnosis keperawatan:


definisi & klasifikasi 2015-2017 Ed. 10 / editor, T. Heather Herdman,
Shigemi Kamitsuru ; alih bahasa, Budi Anna Keliat … [et al.]. Jakarta:
Monica Ester

Muhlisin, Abi. 2012. KEPERAWATAN KELUARGA. Yogyakarta: Gosyen


Publishing.

Padila. 2012. Buku Ajar: KEPERAWATAN KELUARGA. Yogyakarta: Nuha


Medika.

Riasmini, Ni Made, [et al]: editor Junaiti Sahar, Riyanto, Wiwin Winarsih. 2017.
Panduan asuhan keperawatan individu, keluarga, kelompok, dan komunitas
dengan modifikasi NANDA, ICNP, NOC, NIC di puskesmas dan masyarakat.
Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).

Sue, Moohead et al, Editor Bahasa Indonesia: Intansari Nurjannah dan Roxsana
Devi Tumanggor. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC).
Singapore: Elsevier.

Wong, L. Donna. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Volume 2. Jakarta:


EGC.

Worotitjan, Indry, Christy N. Mintjelungan, Paulina Gunawan. 2013.


PENGALAMAN KARIES GIGI SERTA POLA MAKAN DAN MINUM PADA
ANAK SEKOLAH DASAR DI DESA KIAWA KECAMATAN
KAWANGKOAN UTARA Jurnal e-GiGi (eG), Volume 1, Nomor 1, Maret
2013, hlm. 59-68. Di akses di google scholar pada tanggal 12 Maret 2018

72
73
Lampiran 1
Lembar Pernyataan

Dengan ini kami menyatakan bahwa:


Kami mempunyai copy dari makalah ini yang bisa kami reproduksi jika makalah
yang dikumpulkan hilang atau rusak
Makalah ini adalah hasil karya kami sendiri dan bukan merupakan karya orang
lain kecuali yang telah dituliskan dalam referensi, serta tidak ada seorangpun yang
membuatkan makalah ini untuk kami.
Jika dikemudian hari terbukti adanya ketidakjujuran akademik, kami bersedia
mendapatkan sanksi sesuai peraturan yang berlaku.
22 Maret 2018

NAMA NIM TANDA TANGAN


Sinta Dwi Purwanti 1130015045

Selvya Alamsyah 1130015093


Lampiran 2
Lembar Penilaian Makalah (15%)
Nilai Nilai
No Uraian
Maksimal Kelompok
1. Kelengkapan isi makalah dan kerapian 10
sesuai petunjuk pengerjaan
2. Ketepatan aspek teoritis dengan kasus 10
binaan
3. PENGKAJIAN : 20
a. Kelengkapan data, relevansi dan
akurat
b. Analisa data
c. Rumusan masalah
d. Diagnosa keperawatan (minimal 3)
4. PERENCANAAN : 20
a. Prioritas masalah (skoring)
b. Tujuan dan kriteria hasil (SMART)
c. Rencana tindakan sesuai dengan
EBN
5. IMPLEMENTASI : 15
a. Tindakan sesuai dengan
perencanaan
b. Berbentuk narasi
c. Respon dari tindakan
d. Adanya waktu (jam dan tanggal)
e. Nama dan paraf perawat
6. EVALUASI : 15
a. Menilai efektivitas tindakan sesuai
perencanaan
b. Catatan perekembangan klien
(SOAPIER)
7. Ketepatan referensi dan kebaruan 10
referensi yang digunakan
TOTAL 100
Lampiran 3
Lembar Penilaian Presentasi Kelompok (15%)
Nilai Nilai
No Uraian
Maksimal Kelompok
1. Kesiapan makalah 5
2. Kesiapan power point 5
3. Kesiapan kelompok 5
4. Salam pembuka 5
5. Salam penutup 5
6. Mengendalikan audience 5
7. Ada eye contact dengan audience 5
8. Tutur kata 5
9. Sikap 5
10. Cara Penyampaian 5
11. Intonasi 5
12. Power point sesuai ketentuan (Awal, 5
Bahasa, Akhir)
13. Tulisan terbaca jelas 5
14. Komposisi gambar dan tulisan baik 5
15. Materi menarik perhatian (bukan 5
sekedar teori)
16. Materi sesuai dengan yang dipelajari 5
17. Kemampuan menjawab 5
18. Jawaban dikaitkan dengan teori 5
19. Singkat, padat, jelas, tepat sasaran 5
20. Waktu presentasi tepat 5
TOTAL 100

Konversi Penilaian
Skore Nilai Huruf Nilai Mutu
≥ 75,0 A 4
70,0 – 74,9 AB 3,5
65,0 – 69,9 B 3
60,0 – 64,9 BC 2,5
55,0 – 59,9 C 2
40,0 – 54,9 D 1
< 40,0 E 0

Fasilitator,

(Ima Nadatien, SKM.,M.Kes.)


Lampiran 4
Lembar penilaian video simulasi

Nilai Nilai
No Uraian
Maksimal Kelompok
1. Kesiapan lingkungan (video, speaker, 10
lcd)
2. Kesiapan lembar penilaian bagi 5
fasilitator dan tim penilai dari kelompok
lain
3. Video memenuhi kaidah 5 sesi dalam 25
proses asuhan keperawatan keluarga :
pengkajian, analisa data, perencanaan,
implementasi dan evaluasi
4. Gambar video jelas 10
5. Suara terdengar jelas oleh audience 10
6. Inovasi dalam proses asuhan 15
keperawatan
7. Komunikasi terapeutik dalam 15
melakukan asuhan keperawatan
8. Adil dalam pembagian tugas dan peran 10
dalam melaksanakan asuhan
keperawatan di video yang dibuat
TOTAL 100

TOTAL NILAI = Penilai 1 + penilai 2 + penilai 3 + dst = ..................................


Jumlah tim penilai

Skore Nilai Huruf Nilai Mutu


≥ 75,0 A 4
70,0 – 74,9 AB 3,5
65,0 – 69,9 B 3
60,0 – 64,9 BC 2,5
55,0 – 59,9 C 2
40,0 – 54,9 D 1
< 40,0 E 0
Lampiran 5

78

Anda mungkin juga menyukai