Anda di halaman 1dari 8

Pembangunan Jembatan V Dibiayai APBN

Pembangunan jembatan V pada 2015 segera terealisasi dengan menggunakan dana APBN sebesar
Rp40 Miliar. Hal ini dikatakan Ketua DPRD Kota Palu Iqbal Andi Magga kepada Sulteng Post, Kamis
(11/12).

“Insya Allah kita dapat bantuan APBN untuk pembangunan jembatan Palu V karena hasil reses Wakil
Ketua Komisi V Pak Muhidin Said di Sulawesi Tengah kebetulan saya yang mendampingi beberapa
program pembangunan infrastruktur Kota membutuhkan pembiayaan dari APBN karena APBD Kota
Palu tidak cukup kuat untuk mendanai mega proyek tersebut,” kata Iqbal

Iqbal yang juga politisi Golkar tersebut mengatakan, bahwa selain telah mengamini bantuan dana
pembangunan jembatan Palu V yang bersumber dari dana APBN, anggota Komisi V DPR RI, Muhidin
M Said telah mengutus perwakilan dari Balai Jalan dan Jembatan Kementerian PU untuk melakukan
peninjauan lokasi pembangunan jembatan Palu V.
“Tadi (kemarin) saya yang mendampingi Balai Besar Jalan Nasional VI Makassar Kementerian
Pekerjaan Umum untuk meninjau lokasi pembangunan,” ujarnya.

Iqbal menjelaskan bahwa estimasi anggaran untuk pembangunan jembatan palu V sebesar Rp40
Miliar akan dibiayai secara penuh oleh APBN.

“Insya allah pada pembahasan APBN proyek pembangunan jembatan Palu V itu sudah bisa didanai
oleh APBN,” tuturnya.
Selaku ketua DPRD Kota Palu, Iqbal telah meminta kepada Dinas PU Kota Palu untuk membuat
konsultan desain dengan panjang sekitar 300 meter.

Pembangunan jembatan Palu V yang menghubungkan Maesa dan Ujuna tersebut merupakan
program prioritas pemerintah Kota Palu untuk mengurai kemacetan. Olehnya Iqbal mengatakan
bahwa dibutuhkan ruang-ruang baru untuk mengurai kepadatan kendaraan yang ada di kota Palu.

“Itu untuk jangka pendeknya jembatan Palu V, sedangkan untuk jangka panjangnya kita juga akan
mengusulkan pembangunan jembatan Palu VI,” ujarnya.

Dengan adanya bantuan dana APBN secara penuh tersebut, Iqbal menjelaskan bahwa Alokasi
anggaran RP15 M yang dimasukkan pada APBD tahun 2015 akan dialihkan ke beberapa program
lainnya seperti pembebasan lahan untuk KEK serta tambahan dana untuk program Palu Zero
Poverty.
Selain pembangunan jembatan Palu V, wakil ketua komisi V DPR RI juga telah mengamini anggaran
APBN untuk membantu peningkatan jalan Negara yang ada di Kota Palu berupa pembangunan
drainase dan trotoar.

Iqbal mengatakan bahwa pembangunan drainase dan trotoar sangat penting untuk mengatur
sirkulasi air, karena selama ini yang air merupakan penyebab tidak kuatnya badan jalan menampung
beratnya Volume kendaraan.

Sebelumnya, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Palu, Syarifuddin memastikan
pembangunan jembatan V akan dimulai awal 2015. Kepastian tersebut menyusul rampungnya
proses Detail Engineering Design (DED) yang dilakukan Dinas PU bersama pihak yang terkait.

“Pembangunan jembatan V yang rencananya dimulai awal tahun depan bisa terlaksana sesuai
dengan harapan. Karena proses DED telah selesai,” katanya kepada Sulteng Post beberapa waktu
yang lalu.

Dia mengatakan, DED merupakan produk dari konsultan perencana untuk digunakan dalam
membuat sebuah perencanaan detail bangunan sipil seperti gedung, jalan, jembatan dan bendungan
serta yang lainya.

Selanjutnya kata Syarifuddin, proses DED tersebut meliputi gambar detail pembangunan, rencana
anggaran biaya (RAB), rencana kerja dan syarat (RKS) serta laporan akhir tahap perencanaan.
WAN/ROIN

Proyek LRT Dibiayai APBN, Adhi Karya Cari


Utang Rp 10 Triliun

PT Adhi Karya menyatakan kebutuhan dana untuk pembangunan proyek Kereta Listrik Ringan alias
light rail transit (LRT) mencapai Rp 22 triliun. Dana tersebut akan bersumber dari Anggaran
Pendapatan Belanja Negara (APBN). Namun untuk tahap awal, perseroan akan mencari utang.

Direktur Keuangan dan Legal Adhi Karya Haris Gunawan menuturkan pembangunan LRT Jakarta ini
masih terkendala izin dari Kementerian Perhubungan. Akibatnya, proses pencarian dana belum bisa
dilakukan. Padahal, perusahaan telah menyusun skema pembiayaan proyek LRT.
“Total kebutuhan sampai dengan selesai, sampai 2019, kurang lebih Rp 22 triliun. Itu termasik
signaling,” kata Haris saat ditemui di Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Jakarta, Senin, 24
Oktober 2016. (Baca: Peraturan Presiden Percepat Pembangunan Kereta Ringan LRT).

Sebenarnya, proyek ini secara keseluruhan dibiayai oleh APBN. Namun, APBN tidak sanggup
memikul beban dana sebesar ini. Adhi Karya pun akan mencari kredit sindikasi dari perbankan di
Indonesia.

Menurut Haris, kredit sindikasi untuk modal pembangunan ini sebesar Rp 10 triliun. Namun jumlah
tersebut akan berbentuk tunai 60 persen dan nontunai 40 persen. “Lead-nya Bank Mandiri. Tapi
nanti kami akan ikutkan di situ BNI, BRI, kemudian PT SMI,” ujarnya.

Pihaknya berharap kredit sindikasi ini bisa cair paling lambat akhir 2016. Dengan demikian, Adhi
Karya dapat mempercepat pembangunan LRT agar selesai pada 2019. Oleh karenanya, Haris
meminta Kementerian Perhubungan segera menandatangani kontrak pembangunan proyek
infrastruktur ini. (Baca: Permasalahan Selesai, LRT Jakarta Dibangun Bulan Ini).

Dalam hitungannya, seluruh kebutuhan dana akan ditanggung pemerintah melalui APBN. Namun,
dana APBN kemungkinan cari pada 2018. Sehingga, pada saat pembangunan proyek selesai pada
2019, seluruh utang Adhi Karya ditanggung oleh pemerintah.

Terkait kemajuan pengerjaan proyek LRT, sampai saat ini pembangunannya baru mencapai -rata 6,5
persen. Misalnya, jalur Cibubur - Cawang sudah berjalan 12,7 persen, Cawang - Dukuh Atas tiga
persen, dan Cawang - Bekasi 4,8 persen. “Target kita akhir tahun rata-rata semua sudah sampai 15
persen,” ujar Haris.

Anggaran pembangunan gedung baru DPR masuk


APBN 2018

Jakarta - Setelah ramai dibahas, pembangunan gedung baru DPR akhirnya dapat diwujudkan.
Anggaran pembangunan gedung baru DPR masuk APBN 2018, yang baru disahkan dalam sidang
paripurna siang tadi.

"Itu masuk ke dalam nomenklatur Kesetjenan DPR," ujar Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan di
gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (25/10/2017).

Secara terpisah, Wakil Ketua Banggar Jazilul Fawaid menyebut anggaran pembangunan gedung baru
berada dalam anggaran Rp 5,7 triliun DPR. Pembangunan gedung baru termasuk program penataan
kawasan parlemen yang memakan dana Rp 601 miliar.

"Iya, bagian dari Rp 5,7 T, salah satunya pembangunan gedung. Cuma, kalau di Banggar, cuma bicara
besarannya saja yang diusulkan. Sebab, yang disebut dengan RAPBN itu dibuat oleh pemerintah.
Tugas DPR memberikan persetujuan, membahas dan memberikan persetujuan," jelas Jazilul.

Jazilul menegaskan anggaran pembangunan gedung baru diajukan pemerintah, dalam hal ini
Sekretariat Jenderal DPR. Pembangunan gedung baru rencananya dikerjakan Kementerian PUPR.

"Pelaksanaannya kemungkinan PU. Kalau yang mengajukan itu satkernya (satuan kerja) Setjen," ucap
Jazilul.

Jazilul menyebut pembangunan gedung baru memang perlu diawasi. Dia mengatakan anggaran
pembangunan gedung baru tak bersifat multiyears.

"Setahu kami nggak (multiyears), langsung aja. Kalau besok bangunnya kurang, ya dimintakan lagi.
Tidak ditetapkan sebagai multiyears. Kalau multiyears lebih bagus sebenarnya. Cuma draf yang
dibuat sesuai kebutuhan. Sesuai kebutuhan tahun ini apa, dibangun itu," tutur dia.

"Kalau multiyears nggak. Jadi semua dirancang di depan, anggaran sesuai anggaran dimasukkan,"
imbuhnya.

Seperti diketahui, Ketua BURT DPR Anton Sihombing pernah menjelaskan bahwa pembangunan
gedung baru menelan biaya Rp 320,44 miliar. Jika ditotal dengan pembangunan alun-alun demokrasi
yang termasuk program penataan kawasan parlemen, dananya mencapai Rp 600 miliar.

"Dananya itu Rp 320,44 miliar kalau untuk gedung. Untuk alun-alun demokrasi Rp 280 miliar. Jadi
semua itu Rp 601 miliar. Itu alun-alun Rp 280 M sekian, gedung Rp 320,44 miliar," jelas Anton.

Dibiayai APBN, Rusun di Ungaran Ini Telan


Investasi Rp 66 M
Ungaran -Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono hari ini
meresmikan Rumah Susun Sederha Sewa (Rusunawa) Gedang Anak di Ungaran Timur, Kabupaten
Semarang, Jawa Tengah. Rusun ini merupakan proyek pertama dalam program 1 Juta Rumah yang
digagas Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Rusun ini menelan biaya Rp 66 Miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) tahun 2015.

"Rumah Susun Sederhana Sewa ini pertama kali diresmikan Presiden Jokowi pembangunannya pada
29 April 2015. Proyek ini menelan biaya investasi Rp 66 miliar," ujar Direktur Penyediaan Perumahan
Kementerian PUPR, Syarif Burhanuddin dalam laporannya pada acara penyerahan Rusunawa Gedang
Anak kepada Pemerintah di Ungaran Jawa Tengah, Minggu (7/2/2016).

Dengan dana tersebut, kontraktor yang diberi tanggungjawab yakni PT Brantas Abipraya berhasil
membangun rusun yang terdiri dari 2 menara setinggi 5 lantai.

"Khusus diperuntukkan bagi buruh industri di kawasan sekitar lokasi rusun," tutur dia.

Pembangunan rusun ini dilakukan dengan teknologi konstruksi terkini yakni menggunakan precast
alias beton cetak yang membuat proses pembangunan lebih cepat dibanding cara konvensional.

"Prosesnya lebih cepat 1 bulan dari yang direncanakan. Tapi tidak mengurangi kualitas
konstruksinya," tutur dia.

Proyek ini sendiri dianggap sebagai wujud nyata sinergi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Pemkab Semarang berperan dalam penyediaan lahan rusun sedangkan Kementerian PUPR
menyediakan dana pembangunan rusun.
(dna/feb)

Dibiayai APBN, Tol Milik Rakyat tak Boleh


Dikuasai Taipan
JAKARTA) – Pengamat Politik dari AEPI Salamudin Daeng mengaku tidak sepakat dengan langkah
pemerintah yang akan menjual jalan tol ke pihak swasta.

“Tol dibangun dengan uang negara. Pemerintah melalui APBN membiayai pembangunan tol. Dengan
demikian tol sebetulnya adalah milik rakyat. Tol yang dibangun dengan dana pajak tidak boleh
disewakan kepada rakyat,” tandas Salamudin pada wartawan di Jakarta, Kamis (09/11/2017).

Tak hanya itu, jelas dia, tol dibangun dengan utang BUMN dalam jumlah besar. Sampai saat ini
BUMN adalah aset negara. BUMN adalah milik rakyat.

“Namun belakangan ini BUMN menjadi bancakan oligarki penguasa. Mereka memperalat BUMN
untuk mendapatkan proyek. Proyek-proyek yang dikerjakan BUMN adalah proyek dengan biaya
super mahal,” katanya.

Sebagai contoh, terang dia, biaya pembangunan tol Becakayu adalah Rp. 7,2 triliun, panjang 21 km,
harga per meter Rp. 350 juta.

“Harga tol termahal di seluruh dunia dan mungkin akhirat,” selorohnya.

Yang aneh, kata dia, dana dari APBN disebut sebagai penerimaan (revenue) perusahaan BUMN
padahal itu adalah utang BUMN kepada rakyat.

“Lalu dilanjutkan dengan kontrak pembangunan jalan tol dengan pemerintah. Lalu dibuatlah tol
dengan harga super mahal. Paling mahal sedunia, tanpa amdal, tanpa studi kelayakan, yang penting
buat. Toh uang rakyat yang dipakai, begitu pikiran licik penguasa,” tandasnya.

“Akibatnya utang BUMN membengkak. Sampai dengan Juli 2017 posisi utang 4 BUMN infrastruktur
amat mengkhawatirkan,” bebernya.

“Itulah mengapa? utang BUMN pembuat jalan tol yang mendapat PMN melambung setinggi langit.
Tapi jalan tol satu persatu dikuasai taipan dan asing. Ini skandal murahan sekte pemburu harta.
Penjualan jalan tol kepada Taipan swasta dan asing adalah skandal yang dipikirkan dan dorancang
sejak awal. Ini adalah kejahatan terhadap konstitusi dan rakyat,” pungkasnya. (icl)
TUGAS EKONOMI

OLEH

NAMA : FAULINA
KELAS : XI MIPA 5

TP. 2018/2019

SMA NEGERI 7 PADANG

TUGAS EKONOMI
OLEH

NAMA : FADILA
KELAS : XI MIPA 7

TP. 2018/2019

SMA NEGERI 7 PADANG