Anda di halaman 1dari 78

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional

F E B R U A R I 2 019

V O L U M E 14 N O M O R 1 ISSN: 2527 - 435X


Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional

LAPORAN
N U S A N TA R A
F E B R U A R I 2 019
DAFTAR ISI i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR iii

BAGIAN I 1
RINGKASAN PERKEMBANGAN TERKINI DAN PROSPEK EKONOMI DAERAH

BAGIAN II 11
PEREKONOMIAN SUMATERA

BOKS 1 23
STRATEGI DIVERSIFIKASI SUMBER PERTUMBUHAN EKONOMI: STUDI KASUS RIAU

BOKS 2 25
PENGEMBANGAN DANAU TOBA DALAM MENOPANG PENERIMAAN DEVISA
PARIWISATA

BAGIAN III 27
PEREKONOMIAN JAWA

BOKS 3 39
INTEGRASI DESTINASI WISATA DI BANYUWANGI & BOROBUDUR-JOGLOSEMAR
UNTUK MENINGKATKAN PENGELUARAN WISMAN

BAGIAN IV 41
PEREKONOMIAN KAWASAN TIMUR INDONESIA

BOKS 4 55
QUALITY TOURISM SEBAGAI FOKUS STRATEGI PARIWISATA KAWASAN TIMUR
INDONESIA

BAGIAN V 57
ISU STRATEGIS: MEMPERKUAT PERAN PARIWISATA DALAM PERBAIKAN STRUKTUR
NERACA TRANSAKSI BERJALAN

BOKS 5 63
PENGELOLAAN RISIKO KESELAMATAN DAN KEAMANAN DI DESTINASI PARIWISATA

LAMPIRAN 65

i
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Kata Pengantar

D
alam perumusan kebijakan, Dewan Gubernur Bank Indonesia mempertimbangkan
berbagai aspek dalam perekonomian berikut dinamika perkembangan terkininya,
termasuk dari aspek perspektif kewilayahan. Hasil pembahasan tersebut akan
menjadi salah satu dasar perumusan kebijakan Bank Indonesia dan
dikomunikasikan kepada seluruh pemangku kepentingan melalui Laporan Nusantara yang
diterbitkan triwulanan. Laporan Nusantara disusun bersama oleh Departemen Kebijakan
Ekonomi dan Moneter (DKEM), Departemen Regional I (Sumatera), Departemen Regional II
(Jawa), serta Departemen Regional III (Kawasan Timur Indonesia).

Secara umum, perekonomian Indonesia pada triwulan IV 2018 masih melanjutkan tren
peningkatan dari triwulan sebelumnya. Dorongan peningkatan pertumbuhan berasal dari
permintaan domestik. Konsumsi di berbagai daerah masih kuat didukung oleh peningkatan
pendapatan dan realisasi belanja pemerintah, yang cenderung mengalami akselerasi pada
akhir tahun sesuai pola historisnya. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV
2018 terutama disumbang Jawa, Kalimantan, dan Bali Nusra. Dengan perkembangan
tersebut, secara keseluruhan tahun 2018, perekonomian Indonesia masih melanjutkan tren
ekspansi, bahkan capaian pada 2018 merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Bukan hanya Jawa yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional pada 2018,
namun juga Sumatera dan Mapua. Ke depan, perekonomian Indonesia pada 2019
diprakirakan masih tumbuh kuat dalam kisaran 5,0%-5,4% dengan permintaan domestik
yang menjadi sumber utama pertumbuhan.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 2018 tetap terkendali dan berada dalam kisaran
target 3,5%±1% (yoy). Kondisi tersebut dipengaruhi inflasi inti dan bahan makanan yang
terjaga, serta inflasi administered prices yang rendah. Capaian tersebut merupakan hasil dari
konsistensi kebijakan moneter dalam mengelola perekonomian sesuai dengan
fundamentalnya dan koordinasi kebijakan yang kuat bersama Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Nasional. Ke depan, inflasi 2019
diprakirakan akan tetap terjaga dalam kisaran target 3,5±1%, meski tekanan inflasi dari sisi
volatile foods tetap perlu diwaspadai. Untuk itu, Tim Pengendalian Inflasi, baik di pusat
maupun daerah, perlu terus memperkuat koordinasi kebijakan terutama dalam menjaga
ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi bahan pangan.

Selain perkembangan perekonomian terkini, Laporan Nusantara edisi ini juga mengangkat
isu khusus bertema “Strategi Akselerasi Pencapaian Target Devisa Pariwisata 2019 untuk
Mendukung Perbaikan Current Account”. Dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi global,
perdagangan dunia dan harga komoditas yang terbatas, maka upaya menjaga
kesinambungan pertumbuhan ekonomi memerlukan dukungan sumber pertumbuhan
ekonomi baru yang sekaligus perlu diarahkan sebagai sumber penghasil devisa untuk
mendukung perbaikan defisit neraca transaksi berjalan. Laporan Nusantara ini akan
membahas lessons learned dari capaian kinerja pariwisata pada tahun 2018 dan upaya yang
akan dilakukan untuk mengoptimalkan opportunities agar mendukung peningkatan devisa
pariwisata, khususnya pada 2019.
Sebagai penutup, kami berharap buku Laporan Nusantara ini dapat memberi manfaat dan
menjadi acuan bagi para pemangku kepentingan dan pemerhati ekonomi daerah, serta
menjadi salah satu kontribusi Bank Indonesia dalam pembangunan ekonomi daerah.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati langkah kita bersama untuk berkarya
demi nusa dan bangsa.

Jakarta, 1 Maret 2019


Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter

Aida S. Budiman
Direktur Eksekutif
BAGIAN 1
RINGKASAN PERKEMBANGAN TERKINI DAN PROSPEK EKONOMI
DAERAH

Perkembangan Terkini Perekonomian lebih rendah pada triwulan ini.

Daerah Dari sisi Lapangan Usaha (LU), perbaikan pertumbuhan


ekonomi pada triwulan laporan terutama ditopang oleh
Perkembangan Ekonomi Triwulan IV 2018 perbaikan kinerja pertanian, pertambangan, dan jasa-
Tren perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih jasa. Kinerja LU pertanian meningkat di Jawa, Sumatera, dan
berlanjut pada triwulan IV 2018 ditopang permintaan Bali Nusra karena adanya panen padi dan hortikultura.
domestik. Ekonomi nasional tumbuh 5,18% meningkat Sementara LU pertambangan tumbuh membaik di seluruh
dibandingkan triwulan III 2018 yang tumbuh 5,17% (Gambar wilayah, kecuali Mapua, didorong perbaikan harga batu
I.1). Dorongan permintaan domestik terutama berasal dari bara. Adapun LU jasa-jasa tumbuh meningkat, terutama jasa
solidnya konsumsi rumah tangga di semua wilayah sejalan keuangan di Jawa, sejalan dengan perbaikan ekonomi Jawa
dengan meningkatnya pendapatan dan ekspektasi yang masih berlanjut.
masyarakat di tengah inflasi yang terjaga. Selain itu,
Secara spasial, berlanjutnya perbaikan ekonomi
konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah
nasional terkonfirmasi dari meningkatnya pertumbuhan
Tangga (LNPRT) juga tumbuh meningkat di sebagian besar
ekonomi Jawa, Kalimantan, dan Bali Nusra. Sebagian
wilayah didorong oleh persiapan penyelenggaraan Pemilu
besar provinsi di ketiga wilayah ini tumbuh meningkat dari
2019. Konsumsi pemerintah turut menopang pertumbuhan
triwulan sebelumnya, dengan perbaikan pertumbuhan
ekonomi melalui belanja pegawai dan belanja bantuan
tertinggi terjadi di Bali Nusra yang didorong oleh perbaikan
sosial, terutama di Jawa. Investasi tetap tumbuh tinggi
kontraksi perekonomian NTB yang lebih rendah
didorong optimisme investor yang terjaga terhadap
dibandingkan triwulan sebelumnya pasca terjadinya
prospek perekonomian Indonesia, meski pertumbuhan
bencana gempa. Namun, pertumbuhan ekonomi nasional
investasi tidak setinggi triwulan lalu, karena telah
tertahan melambatnya ekonomi Sumatera, Sulawesi, dan
berakhirnya proyek pembangunan infrastruktur dalam
Maluku-Papua (Mapua), dengan penurunan terdalam
rangka Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang.
terjadi di Mapua karena kontraksi pertambangan Papua.
Sejalan dengan kuatnya permintaan domestik, impor Sejumlah 25 dari 34 provinsi di Indonesia mampu tumbuh
juga masih tumbuh tinggi di tengah pertumbuhan di atas nasional, sehingga hal ini menunjukkan perbaikan
ekspor yang terbatas karena melambatnya ekonomi ekonomi di triwulan laporan yang cukup merata di sebagian
dunia. Dorongan permintaan domestik mengakibatkan besar daerah.
impor masih tumbuh tinggi terutama impor konsumsi dan
Perekonomian Jawa tumbuh meningkat dan menjadi
bahan baku, meski cenderung melambat dibandingkan
penopang utama perbaikan ekonomi nasional,
triwulan lalu. Perlambatan impor tersebut disumbang impor
didorong permintaan domestik. Ekonomi Jawa tumbuh
bahan baku karena melambatnya industri pengolahan di
5,82%, merupakan pertumbuhan tertinggi sejak triwulan I
sebagian besar wilayah, sejalan dengan tertahannya kinerja
2015. Tingginya pertumbuhan ekonomi Jawa ditopang
ekspor. Selain itu, aktivitas pembangunan proyek
konsumsi swasta yang tumbuh kuat didorong pola belanja
infrastruktur terutama di Jawa dan Sumatera yang
terkait Natal dan Tahun Baru, serta tingginya aktivitas
melambat pada triwulan ini juga ikut menahan
persiapan Pemilu. Konsumsi pemerintah juga tumbuh
pertumbuhan impor barang modal. Sementara, ekspor
meningkat didorong optimalisasi belanja di akhir tahun,
tumbuh melambat karena pertumbuhan permintaan negara
terutama realisasi Dana Desa dan bantuan sosial. Investasi
mitra dagang utama yang terbatas, terutama pada produk
juga masih tumbuh tinggi, meski tak sekuat triwulan
industri Jawa. Selain itu, melambatnya harga berbagai
sebelumnya, dipengaruhi telah selesainya pembangunan
komoditas SDA utama Indonesia memengaruhi kinerja
terkait Asian Games, berbagai Proyek Strategis Nasional
ekspor CPO dan karet di Sumatera, serta nikel di Sulawesi.
(PSN) yang telah memasuki fase penyelesaian, serta
Namun, membaiknya harga batu bara di triwulan IV 2018
penundaan pembangunan infrastruktur kelistrikan oleh
mampu menahan tekanan lebih dalam pada ekspor di
Pemerintah. Kuatnya permintaan domestik tersebut
Kalimantan. Secara netto, impor yang melambat lebih dalam
mendorong impor yang tumbuh cukup tinggi, meski tidak
dibandingkan ekspor menyumbang negatif net ekspor yang

1
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
sekuat triwulan sebelumnya karena melambatnya impor pertanian yang tumbuh positif setelah terkontraksi sejak
barang modal terkait infrastruktur serta impor bahan baku, triwulan IV 2017 karena panen padi dan hortikultura. Selain
sejalan dengan melambatnya kinerja industri pengolahan. itu, berbagai sektor jasa terutama jasa keuangan juga
Ekspor industri Jawa tertahan karena melemahnya tumbuh membaik di Jawa. Secara spasial, peningkatan
permintaan negara mitra dagang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini terjadi di seluruh
perlambatan ekonomi dunia, terutama untuk ekspor provinsi, kecuali di Jawa Barat karena melambatnya industri
industri tekstil, makanan-minuman, dan alat angkutan. Dari pengolahan.
sisi LU, akselerasi ekonomi Jawa didorong perbaikan LU

Note: Angka dalam (...) adalah % pangsa PDRB wilayah terhadap PDB Nasional
Sumber: BPS, diolah.
Gambar I.1. Peta Pertumbuhan Ekonomi Daerah Triwulan IV 2018 (% yoy)

Di sisi lain, perekonomian Sumatera tumbuh melambat 10 provinsi di Sumatera yang tumbuh meningkat pada
dipengaruhi oleh investasi dan ekspor, namun masih triwulan ini, yaitu Aceh, Sumatera Barat, Lampung, dan
tertahan konsumsi swasta yang menguat. Ekonomi Kepulauan Riau.
Sumatera tumbuh 4,46%; melambat dibandingkan triwulan Permintaan domestik juga menahan perlambatan
lalu yang mencapai 4,71%. Perlambatan tersebut ekonomi di Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang
dipengaruhi oleh selesainya investasi Pemerintah terkait diakibatkan kinerja sektor eksternal. Ekonomi KTI
pembangunan infrastruktur Asian Games, serta tol di tumbuh 3,45%; melambat dari triwulan sebelumnya yang
Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Selain itu, konsumsi mampu tumbuh 4,29%. Perlambatan tersebut dipengaruhi
pemerintah juga melambat karena adanya tunda salur Dana menurunnya kinerja ekspor tembaga di Mapua dan Bali
Bagi Hasil (DBH) dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Nusra, nikel di Sulawesi, dan CPO di Kalimantan. Namun
Daerah Riau, Sumatera Selatan, dan Lampung. Ekspor CPO perlambatan ekspor lebih dalam tertahan perbaikan ekspor
dan karet di Sumatera menurun sejalan dengan penurunan batubara di Kalimantan. Sebagaimana di kawasan lain,
harga. Namun peningkatan konsumsi swasta selama impor bahan baku dan barang modal juga meningkat di KTI
periode liburan akhir tahun, menahan perlambatan akibat permintaan domestik yang kuat, terutama di
ekonomi Sumatera lebih dalam. Dari sisi LU, melambatnya Sulawesi. Dari sisi permintaan domestik, dorongan utama
ekonomi Sumatera dipengaruhi kinerja industri pengolahan berasal dari peningkatan investasi karena beberapa proyek
terkait CPO dan karet, serta LU konstruksi sejalan dengan awal tahun 2019 yang mulai dilaksanakan pada triwulan IV
menurunnya aktivitas pembangunan infrastruktur 2018, realisasi pengerjaan proyek pemerintah dan swasta
pemerintah. Namun, perlambatan lebih dalam yang bersifat multiyears di Sulawesi, rekonstruksi bangunan
perekonomian Sumatera tertahan beberapa LU yang pasca gempa di Bali Nusra, serta penyelesaian pabrik CPO,
tumbuh meningkat. LU pertanian tumbuh didorong oleh power plant, dan bandara di Kalimantan. Sementara
dimulainya periode panen padi dan kopi, sementara konsumsi rumah tangga masih tumbuh kuat namun
peningkatan pertumbuhan LU pertambangan karena cenderung melambat dibandingkan triwulan lalu sejalan
membaiknya harga batu bara dan produksi gas bumi, dengan tertahannya pendapatan masyarakat dari ekspor.
sedangkan peningkatan LU perdagangan mengonfirmasi
Secara kewilayahan, perlambatan pertumbuhan
masih kuatnya konsumsi swasta. Secara spasial, hanya 4 dari
ekonomi KTI terutama karena kontraksi Mapua dan

2
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
melambatnya ekonomi wilayah Sulawesi. Kontraksi pertumbuhan permintaan domestik pada 2018. Namun,
Mapua dipengaruhi penurunan produksi tembaga di kuatnya permintaan domestik berdampak pada
kawasan tambang terbuka Grasberg, sementara produksi meningkatnya impor, baik untuk konsumsi, bahan baku,
dari tambang bawah tanah masih belum optimal. maupun barang modal, sehingga menjadi penahan
Perlambatan ekonomi Sulawesi dipengaruhi menurunnya pertumbuhan lebih tinggi di semua wilayah. Pertumbuhan
kinerja LU pertanian karena gagal panen tabama yang ekspor secara nasional juga relatif tertahan, karena
menahan pendapatan masyarakat sehingga menekan LU menurunnya kinerja ekspor Sumatera, Kalimantan, dan Bali
perdagangan. Bencana gempa juga memengaruhi Nusra.
penurunan LU industri pengolahan Sulawesi.
Berlanjutnya perbaikan ekonomi nasional didorong
Perkembangan Ekonomi Tahun 2018 oleh membaiknya ekonomi Jawa. Peningkatan
Tren perbaikan perekonomian Indonesia berlanjut pada pertumbuhan bersumber dari perbaikan konsumsi dan
2018 ditopang oleh permintaan domestik di seluruh ekspor luar negeri serta masih tingginya investasi.
wilayah, sementara pertumbuhan kinerja net ekspor Peningkatan kinerja ekspor didorong oleh kembali
masih terbatas. Ekonomi nasional tumbuh 5,17% (Gambar dibukanya akses ekspor CBU ke pasar utama (Vietnam),
1.2), merupakan pertumbuhan tertinggi selama lima tahun perluasan ekspor otomotif ke Sri Lanka dan Thailand, serta
terakhir. Sejumlah 22 dari 34 provinsi mampu tumbuh di kenaikan ekspor jasa seiring kedatangan wisman dalam
atas nasional, terutama provinsi di Jawa, Sulawesi, dan rangka Asian Games. Investasi di Jawa pada 2018 masih
Mapua. Dibandingkan tahun 2017, fase ekspansi tumbuh kuat, meski tak setinggi tahun 2017 karena terdapat
perekonomian nasional didukung oleh akselerasi ekonomi 13 Proyek Strategis Nasional (PSN) yang memasuki fase
di 18 provinsi, terutama di Jawa, Sumatera, dan Mapua. penyelesaian, kebijakan Pemerintah terkait penundaan
Permintaan domestik menjadi penopang utama ekonomi beberapa proyek kelistrikan, serta penurunan belanja modal
seluruh wilayah didorong oleh perbaikan daya beli korporasi utama di Jawa. Dari sisi LU, akselerasi ekonomi
masyarakat karena program perluasan bantuan sosial, Jawa terutama didorong LU perdagangan sejalan dengan
meningkatnya penyaluran dana desa, serta dukungan inflasi meningkatnya permintaan domestik, serta pertumbuhan LU
yang rendah dan stabil. Selain itu belanja penyelenggaraan industri pengolahan di mana mengonfirmasi masih kuatnya
Pilkada, persiapan pemilu 2019, serta berlanjutnya investasi kinerja ekspor produk industri.
swasta dan pemerintah juga menjadi penopang

Note: Angka dalam (...) adalah % pangsa PDRB wilayah terhadap PDB Nasional
Sumber: BPS, diolah.
Gambar I.2. Peta Pertumbuhan Ekonomi Daerah Tahun 2018 (% yoy)

Ekonomi Sumatera juga tumbuh membaik didorong dan kopi, serta permintaan CPO dari India yang menurun
meningkatnya permintaan domestik meski tertahan karena kenaikan tarif impor dan tingginya persediaan
kinerja ekspor. Pertumbuhan investasi di Sumatera soybean oil. Dari sisi LU, dorongan pertumbuhan bersumber
merupakan yang tertinggi di seluruh wilayah didorong oleh dari LU pertambangan, industri pengolahan, dan
pembangunan infrastruktur pemerintah terutama jalan tol perdagangan. Pertambangan di Sumatera tumbuh
dan sport venue Asian Games, proyek transmisi Sumatera akseleratif karena meningkatnya produksi batubara untuk
500 KV, dan Pelabuhan Kuala Tanjung. Di sisi lain, ekspor kebutuhan dalam negeri. Industri pengolahan makanan-
Sumatera tertekan karena melemahnya harga CPO, karet, minuman dan LU perdagangan tumbuh sejalan dengan

3
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
permintaan domestik. Selain itu, kinerja industri pengolahan pembangunan di daerah yang terkena bencana, serta
CPO juga tumbuh didorong oleh kebijakan Pemerintah perbaikan konsumsi rumah tangga. Dampaknya terjadi
terkait implementasi B20 domestik, mengingat Sumatera peningkatan impor, yakni impor peralatan dan bahan baku
menjadi pemasok utama. terkait pembangunan tambang bawah tanah Mapua, impor
barang modal untuk mendukung pengembangan kawasan
Sementara itu, ekonomi berbagai wilayah di KTI secara
industri Sulawesi, maupun impor untuk kebutuhan
agregat tumbuh melambat pada 2018 karena tingginya
pembangunan infrastruktur. Sementara pertumbuhan
kenaikan impor, di tengah menguatnya permintaan
ekspor relatif membaik terutama karena peningkatan
domestik. Permintaan domestik tumbuh menguat di
ekspor LNG, di tengah penurunan harga dan permintaan
hampir semua wilayah di KTI, didorong berbagai faktor
batubara. Secara kewilayahan, lebih rendahnya
yakni penyelesaian konstruksi PSN dan non-PSN di hampir
pertumbuhan ekonomi KTI dipengaruhi oleh perlambatan
seluruh wilayah KTI, pembangunan sarana dan prasarana
ekonomi di Sulawesi, Kalimantan, dan Balinusra, utamanya
pelaksanaan IMF-World Bank Annual Meeting di Bali Nusra,
karena kinerja LU pertambangan batubara di Kalimantan.

Tabel I.1. Tendensi Arah Perekonomian Daerah Triwulan I 2019*


SUMATERA JAWA KTI
PDRB NASIONAL
Tendensi Asesmen Tendensi Asesmen Tendensi Asesmen
Di tengah menguatnya sektor Perkiraan perlambatan ekonomi Perlambatan harga komoditas
eksternal, permintaan domestik dunia menahan ekspor di tengah ekspor utama berbagai wilayah di
Pertumbuhan
Sumatera diperkirakan tertahan masih tingginya ekspor serta KTI turut menahan permintaan
Ekonomi melambatnya konsumsi RT. kuatnya permintaan domestik Jawa. domestik serta menurunkan impor
bahan baku.
Kembali normalnya permintaan Kenaikan konsumsi swasta seiring Kembali normalnya permintaan
pasca perayaan Natal dan Tahun naiknya upah minimum, akselerasi pasca perayaan Natal dan Tahun
Baru. Tekanan pendapatan Bansos pada awal triwulan I 2019 Baru. Menurunnya pendapatan
masyarakat akibat musim trek serta persiapan pelaksanaan Pilpres sejalan dengan tekanan harga
Konsumsi RT
kelapa sawit. Namun, tertahan dan Pilleg 2019. komoditas ekspor. Perlambatan
naiknya UMP, akselerasi Bansos, konsumsi masih dapat ditahan
serta persiapan Pileg dan Pilpres. naiknya UMP, akselerasi Bansos,
serta persiapan Pileg dan Pilpres.
Pencairan pembayaran tunda salur Realisasi belanja pemerintah masih Pencairan pembayaran tunda salur
DBH th. 2018. Meningkatnya alokasi terbatas; kenaikan gaji ASN 2018 DBH th. 2018. Meningkatnya alokasi
Konsumsi
bansos dan TKDD. Pencairan dana sebesar 5% baru dibayarkan pada bansos dan TKDD. Pencairan dana
Pemerintah desa tahap 1 di bulan Maret. April 2019. desa tahap 1 di bulan Maret.

Berlanjutnya proyek pembangunan Perbaikan iklim investasi sebagai Selesainya proyek swasta dan
Terminal Petikemas Belawan Phase dampak pembangunan infrastruktur. realisasi belanja modal pemerintah
II, ruas jalan tol Trans Sumatera, Belanja modal korporasi d.r. yang masih rendah di awal tahun.
Investasi (PMTB) Transmisi Sumatera 500 kv (Sumsel pembangunan infrastruktur digital
sampai ke Aceh) dan pengembangan untuk mendukung Pileg dan Pilpres.
Bandara Fatmawati.

Penurunan tarif bea impor CPO India Menurunnya permintaan negara Penurunan produksi tembaga sejalan
dari 44% ke 40%, dan RPO dari 54% mitra dagang utama sejalan dengan masa transisi pertambangan
ke 50%. Kembali berjalan normalnya menurunnya World Trade Volume Grasberg. Pelemahan harga
ekspor timah pasca sempat (WTV). Ekspor barang diprakirakan komoditas ekspor utama, terutama
Ekspor LN
tertahannya izin perdagangan turun seiring belum optimalnya tembaga, batu bara, nikel, dan
beberapa perusahaan di tw IV 2018. kinerja industri pengolahan. aluminium.
Perbaikan harga CPO, karet, timah.

Impor barang modal yang menurun Perlambatan impor bahan baku Impor diperkirakan masih rendah
seiring sikap wait and see pelaku sejalan dengan belum optimalnya seiring belum maraknya investasi
usaha. Terbatasnya pendapatan kinerja industri pengolahan. serta melambatnya konsumsi rumah
Impor LN
masyarakat berdampak pada Kenaikan harga komoditas impor tangga pada awal tahun; serta
menurunnya impor barang seiring apresiasi Rupiah. turunnya impor bahan baku karena
konsumsi. tertahannya ekspor.
* Tendensi arah kondisi ekonomi secara tahunan (year-on-year)
Keterangan: hijau (berkontribusi positif terhadap PDRB), merah (berkontribusi negatif terhadap PDRB)

liburan akhir tahun. Masih kuatnya konsumsi rumah tangga


Tracking Perekonomian Triwulan I 2019
juga didukung oleh terjaganya inflasi yang rendah dan
Pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan tetap kuat
stabil, serta prospek membaiknya pendapatan. Dari sisi
pada triwulan I 2019, masih ditopang permintaan
investasi diyakini masih tetap tumbuh kuat sejalan dengan
domestik. Konsumsi diperkirakan lebih baik terutama
penyelesaian proyek infrastruktur, meski jumlah proyek
berasal dari dorongan belanja LNPRT di semua wilayah,
dengan kontrak baru diperkirakan tidak akan terjadi
terkait penyelenggaraan kampanye. Sementara
peningkatan. Investasi noninfrastruktur diperkirakan
peningkatan konsumsi rumah tangga akan didukung oleh
tumbuh lebih moderat sesuai polanya di periode Pemilu.
front loading belanja subsidi dan bantuan sosial, meski
Sejalan dengan perkembangan tersebut, impor diperkirakan
relatif moderat sesuai pola historis pasca berakhirnya

4
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
masih tumbuh tinggi sehingga berpotensi menahan KTI terutama didorong membaiknya LU pertanian karena
perbaikan defisit net ekspor. Dari sisi sektoral, pertumbuhan panen tabama di Kalimantan, Sulawesi, dan Bali Nusra serta
ekonomi diperkirakan masih ditopang sektor sekunder dan membaiknya perikanan sejalan dengan kondisi cuaca di
tersier. Selanjutnya, terbatasnya dukungan dari eksternal Mapua. Namun, sektor pertambangan diperkirakan tertahan
akan berdampak pada prospek ekspor komoditas SDA di karena menurunnya produksi tembaga sejalan dengan
sektor primer. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi masa transisi pertambangan Grasberg di Mapua serta
nasional akan didukung peningkatan pertumbuhan di KTI, tekanan harga tembaga, batubara, nikel, dan aluminium.
sementara Jawa dan Sumatera masih tumbuh solid, meski
relatif melandai sesuai pola historisnya pada triwulan I. Stabilitas Keuangan Daerah
(Tabel I.1). Ketahanan Sektor Korporasi
Dari sisi LU, pertumbuhan berbagai wilayah masih akan Kinerja korporasi nonkeuangan hingga triwulan III 2018
ditopang oleh LU utamanya. Ekonomi Jawa akan ditopang membaik sejalan dengan berlanjutnya perbaikan
akselerasi perdagangan sejalan dengan masih kuatnya ekonomi. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya rasio
permintaan masyarakat, meski tertahan kinerja industri profitabilitas dan produktivitas korporasi, serta kemampuan
pengolahan karena tekanan permintaan negara mitra aset korporasi dalam membayar utang jangka panjang.
dagang. Ekonomi Sumatera akan didorong industri Korporasi masih melakukan ekspansi dengan menambah
pengolahan terkait CPO karena meningkatnya permintaan pinjaman, tercermin dari Debt to Equity Ratio yang
India pasca penurunan tarif impor serta kebutuhan meningkat di semua wilayah. Hal ini diikuti dengan
pemenuhan domestik terkait B20. Namun, mulai masuknya kemampuan membayar bunga utang yang juga meningkat
musim trek kelapa sawit serta pelemahan harga minyak dan di semua wilayah. Namun, risiko cashflow korporasi dalam
batu bara diperkirakan menahan kinerja pertanian dan membayar utang jangka pendek perlu diwaspadai, terutama
pertambangan di Sumatera. Peningkatan pertumbuhan di di Jawa dan KTI (Grafik I.1).

Sumber: Laporan Keuangan Korporasi di BEI Bloomberg, diolah


Grafik I.1. ROA, ROE, DSR dan DER Wilayah

Memasuki triwulan IV 2018, ketahanan korporasi di Perbaikan kinerja korporasi yang terbatas juga
sebagian besar wilayah membaik terbatas. Di Jawa, tercermin dari melambatnya penyaluran kredit
kinerja industri makanan-minuman, tekstil-produk tekstil, perbankan kepada korporasi1. Pada triwulan IV 2018,
serta kertas relatif membaik, sementara industri alat kredit korporasi nasional tumbuh kuat sebesar 13,5% (yoy),
angkutan, semen, dan tembakau cenderung menurun. Di meski tak setinggi triwulan III 2018 yang mencapai 13,5%.
Sumatera, kinerja korporasi utama di pertanian, industri Perlambatan tersebut terutama terjadi di Jawa dan
pengolahan, dan pertambangan cenderung membaik meski Sumatera, sementara penyaluran kredit ke korporasi di
dengan profit margin yang menurun akibat penurunan berbagai wilayah di KTI cenderung menguat. Meski tumbuh
harga komoditas. Sejalan dengan Sumatera, kinerja melambat, nonperforming loan (NPL) tetap terjaga di bawah
korporasi pertanian dan pertambangan di KTI tumbuh batas aman 5% (Grafik I.2).
meningkat, meski profitabilitas cenderung menurun. Perlu
Ketahanan Sektor Rumah Tangga
diwaspadai risiko melemahnya korporasi terkait batubara di
Sejalan dengan permintaan domestik yang masih kuat,
Kalimantan.
kredit sektor rumah tangga masih tumbuh kuat pada

1
Kredit korporasi merupakan kredit yang disalurkan kepada
lapangan usaha.
5
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
triwulan IV dengan risiko yang terjaga. Kredit ke rumah sepanjang triwulan IV 2018 di semua wilayah yang tumbuh
tangga tumbuh 10,5%, ditopang stabilnya kredit multiguna 59,1% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya
dan kredit kendaraan bermotor (KKR), meski kedit pemilikan yang tumbuh 57,2% (yoy).
rumah (KPR) mulai melambat. Kredit ke rumah tangga masih
tumbuh di atas 10% terutama di Jawa, Sumatera, dan Mapua Perkembangan Inflasi
dengan kualitas kredit yang juga tetap terjaga dengan rasio Hingga akhir 2018, inflasi di semua wilayah terjaga di
NPL di bawah batas aman 5%. kisaran target 3,5%±1% dan secara nasional lebih
rendah dibandingkan inflasi tahun 2017. Penurunan
Sistem Pembayaran dan Pengelolaan inflasi pada 2018 terutama dipengaruhi oleh inflasi
Uang Rupiah administered prices karena kebijakan pemerintah untuk
tidak melakukan penyesuaian tarif listrik daya 900 VA pada
Sejalan dengan perbaikan ekonomi, transaksi keuangan
2018 maupun penyesuaian tarif lainnya. Selain itu, inflasi inti
pada triwulan IV 2018 juga tumbuh meningkat,
juga terjaga karena dukungan kebijakan moneter dalam
terutama melalui kliring maupun transaksi tunai.
pengelolaan permintaan domestik di tengah tekanan
Perputaran transaksi melalui Sistem Kliring Nasional Bank
eksternal yang meningkat, serta ekspektasi inflasi yang
Indonesia (SKNBI) pada triwulan IV 2018 tumbuh membaik.
terjangkar sesuai sasaran inflasi. Inflasi volatile foods juga
Secara nominal, transaksi SKNBI tumbuh 8,1% (yoy) atau
relatif terjaga, meski meningkat dibandingkan tahun 2017
tercatat sekitar Rp977 triliun, meningkat dibandingkan
karena deflasi komoditas hortikultura yang tidak sedalam
triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,28% (yoy). Secara
tahun lalu serta meningkatnya inflasi aneka daging dan
volume, SKNBI juga tumbuh 8,1% atau sebanyak 37,7 juta
telur. Secara spasial, hampir seluruh provinsi mencatatkan
transaksi; membaik dari triwulan lalu 6,9%. Sementara
inflasi yang berada di kisaran target 3,5%±1%. Namun,
nominal transaksi keuangan melalui sistem Real Time Gross
terdapat lima provinsi yang mencatatkan inflasi tahunan di
Settlement (RTGS) sepanjang triwulan IV 2018 tumbuh 6,3%
atas kisaran, yakni Sulawesi Tengah (6,46%), Papua (6,36%),
(yoy) atau mencapai tiga juta transaksi, tidak setinggi
Papua Barat (5,21%), Kalimantan Utara (5,00%), dan
triwulan III 2018 yang tumbuh 7,7%. Namun, dari sisi nilai,
Kalimantan Tengah (4,52%) terutama disebabkan oleh
transaksi RTGS tumbuh membaik dari -2,3% (yoy) menjadi -
peningkatan tarif angkutan udara dan komoditas ikan segar
1,3% atau sebesar Rp31.582 triliun. Kegiatan transaksi tunai
di sepanjang 2018. Selain itu, bencana alam di Sulawesi
uang kartal juga meningkat. Kondisi tersebut tercermin dari
Tengah juga berkontribusi besar terhadap tingginya inflasi
meningkatnya transaksi outflow uang kartal Bank Indonesia
di provinsi tersebut.

Sumber: BPS, diolah


Gambar I.2. Peta Inflasi Daerah, Desember 2018 (yoy)

Inflasi pada awal triwulan I 2019 cenderung menurun di disumbang deflasi harga bensin yang terjadi secara merata
hampir semua wilayah. Penurunan tekanan inflasi tersebut di seluruh daerah. Hingga penghujung triwulan I 2019,
terutama disumbang deflasi cabai merah karena stok yang inflasi diperkirakan masih akan terjaga di kisaran target
melimpah seiring panen yang terjadi di berbagai daerah inflasi 2019 sebesar 3,5%±1%. Hal tersebut didukung
sentra, di antaranya di Jawa Barat, Jawa Timur, dan berbagai adanya panen raya padi di Februari-Maret, nilai tukar Rupiah
daerah di Sumatera dan Sulawesi. Penurunan inflasi juga yang cenderung menguat, serta menurunnya harga minyak.

6
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Prospek dan Tantangan Ekonomi komitmen pemerintah untuk memperkecil defisit neraca
pembayaran diperkirakan akan mengurangi impor serta
Daerah diharapkan mampu memperbaiki struktur perekonomian
Prospek Ekonomi Triwulan II 2019 nasional. Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi tahun
Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2019 diperkirakan 2019 terutama akan ditopang oleh konstruksi, industri
tetap solid didukung konsumsi rumah tangga, investasi, pengolahan, perdagangan, serta jasa keuangan. Secara
dan ekspor. Setelah sedikit tertahan di triwulan I 2019 spasial, stabilnya ekonomi nasional didukung ekonomi Jawa
sesuai polanya, konsumsi rumah tangga diperkirakan yang solid dan ekonomi Sumatera yang menguat, di tengah
tumbuh menguat sejalan dengan masuknya periode melambatnya ekonomi KTI.
Ramadhan dan Lebaran. Selain itu, investasi akan menguat Perekonomian Jawa secara keseluruhan tahun 2019
pasca wait and see investor menjelang Pemilu. Di sisi lain, diperkirakan tumbuh stabil pada kisaran 5,6%-6,0%.
konsumsi LNPRT diperkirakan melambat pasca persiapan Dorongan pertumbuhan diperkirakan berasal dari Konsumsi
Pemilu. Konsumsi pemerintah juga diperkirakan melambat swasta dan pemerintah yang diperkirakan meningkat karena
pasca front loading belanja subsidi dan bantuan sosial pada kenaikan UMP, penyesuaian gaji PNS, peningkatan alokasi
triwulan I 2019. Ekspor berbagai wilayah diperkirakan relatif dana desa dan bantuan sosial, serta dampak lanjutan dari
membaik di triwulan II 2019. Di Jawa, peningkatan ekspor belanja terkait Pemilu. Sementara investasi diperkirakan
didorong ekspor otomotif ke Vietnam serta ekspor gerbong melambat sejalan dengan telah selesainya berbagai proyek
kereta ke Bangladesh dan ke Filipina. Di Sumatera, ekspor strategis, menurunnya jumlah kontrak pembangunan
CPO dan karet membaik sejalan dengan perkiraan infrastruktur baru, serta belanja modal korporasi yang lebih
meningkatnya harga. Di KTI, ekspor diperkirakan meningkat rendah pada tahun 2019. Kinerja ekspor juga diperkirakan
karena menguatnya permintaan dari Tiongkok terhadap melambat sebagai dampak perlambatan ekonomi di negara
CPO Kalimantan dan Nikel Sulawesi, meningkatnya produksi mitra dagang utama. Di sisi LU, perbaikan ekonomi Jawa
feronikel Mapua, serta meningkatnya wisman ke Balinusra diperkirakan ditopang oleh pertanian karena membaiknya
karena penambahan beberapa rute internasional baru. cuaca pasca El Nino di 2018 serta perdagangan sejalan
Dari sisi LU, pertumbuhan berbagai wilayah masih akan dengan meningkatnya konsumsi. Sementara industri
ditopang oleh LU utama. Perdagangan akan tumbuh kuat pengolahan diperkirakan masih tumbuh kuat ditopang
di semua wilayah sejalan dengan menguatnya konsumsi konsumsi domestik, meski cenderung melambat
rumah tangga, serta sesuai pola historisnya saat Ramadhan dibandingkan tahun lalu karena pertumbuhan ekspor yang
dan Lebaran. Industri pengolahan juga akan menguat di terbatas.
semua wilayah sejalan dengan perbaikan ekspor. Di Jawa, Perekonomian Sumatera pada 2019 diperkirakan juga
berbagai sektor jasa juga diperkirakan tumbuh menguat tumbuh meningkat di kisaran 4,4%-4,8% ditopang
meski tertahan melambatnya pertanian seiring masuknya konsumsi dan perbaikan ekspor. Sejalan dengan Jawa,
masa tanam. Di Sumatera, konstruksi diperkirakan konsumsi Sumatera juga didorong kenaikan UMP, gaji PNS,
meningkat didorong berlanjutnya PSN yang ditargetkan Dana Desa dan Bansos, serta dampak pemilu. Perbaikan
selesai di 2019, beberapa di antaranya Transmisi Sumatera ekspor diperkirakan didorong oleh penurunan tarif CPO dan
500 KV , jalan tol Ruas Pekanbaru-Dumai Seksi I-III dan jalan RPO ke India mulai awal 2019, dimana merupakan negara
tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang. Di KTI, importir utama. Selain itu, dorongan perbaikan ekspor juga
menurunnya kinerja tambang nikel di Sulawesi, serta berasal dari perbaikan harga komoditas CPO, karet dan
tembaga di Bali Nusra dan Mapua diperkirakan menahan timah. Di sisi lain, investasi diperkirakan melambat pasca
pertumbuhan ekonomi KTI untuk meningkat lebih tinggi. selesainya pembangunan dalam rangka Asian Games 2018.
Di sisi LU, perbaikan ekonomi Sumatera diperkirakan
Prospek Ekonomi 2019
didorong oleh akselerasi pertanian, industri pengolahan,
Perekonomian Indonesia tahun 2019 diperkirakan
dan pertambangan. Kinerja pertanian didukung perkiraan
tumbuh di kisaran 5,0%-5,4%, relatif stabil
cuaca yang lebih kondusif serta sejumlah program
dibandingkan 2018. Solidnya pertumbuhan ekonomi
peningkatan produksi pertanian oleh pemerintah. Kinerja
nasional akan didorong oleh menguatnya konsumsi di
industri pengolahan didorong oleh meningkatnya
semua wilayah, di tengah terbatasnya investasi, terutama
kebutuhan akan biodiesel terkait perluasan implementasi
investasi pemerintah, karena postur fiskal 2019 yang lebih
program B20, meningkatnya permintaan CPO oleh negara
konsolidatif. Ekspor juga diperkirakan lebih terbatas seiring
mitra dagang, serta meningkatnya kebutuhan barang dalam
perkiraan perlambatan ekonomi dan perdagangan dunia
rangka Pemilu. Adapun kinerja pertambangan didorong
serta melambatnya pertumbuhan negara mitra dagang
adanya upaya peningkatan lifting migas melalui lelang blok
utama, terutama AS, Eropa, dan Tiongkok. Sementara itu,

7
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
eksplorasi baru. strategi Roadmap Pengendalian Inflasi 2019-2021.
Roadmap tersebut memuat rencana kerja dalam rangka
Di sisi lain, perekonomian KTI pada 2019 diperkirakan
mencapai sasaran inflasi 2019-2021, yaitu sebesar 3,5%±1%
tumbuh melambat pada kisaran 3,9%-4,3% dipengaruhi
untuk tahun 2019 dan 3%±1% untuk tahun 2020 dan 20212.
melemahnya ekspor. Kinerja ekspor KTI diperkirakan
Hasil gap analysis menunjukkan bahwa terdapat 3
melemah karena penurunan produksi dan outlook harga
tantangan pada 2019-2021, yaitu (1) konsistensi dalam
komoditas pertambangan. Namun, perlambatan ekonomi
implementasi reformasi kebijakan energi domestik, (2)
KTI akan tertahan oleh akselerasi investasi karena
ekspansi siklus ekonomi yang perlu dijaga sesuai dengan
percepatan realisasi berbagai proyek infrastruktur
output potensialnya, serta (3) keterbatasan likuiditas global,
konektivitas, berlanjutnya hilirisasi hasil tambang dan
yang dapat berdampak pada volatilitas nilai tukar Rupiah.
pertanian, pembangunan pembangkit listrik, serta
Untuk mengatasi gap tersebut, beberapa arah kebijakan
pengembangan Kawasan Industri (KI) maupun Kawasan
yang akan ditempuh di antaranya adalah kebijakan inflasi
Ekonomi Khusus (KEK). Selain itu, konsumsi juga
AP dengan memperhatikan sasaran inflasi IHK,
diperkirakan masih tumbuh kuat sebagaimana di Jawa dan
kesejahteraan dan daya beli masyarakat serta kebijakan VF
Sumatera. Di sisi LU, kontraksi pertambangan menjadi faktor
dengan target inflasi VF tidak lebih dari 4%. Lebih lanjut di
utama perlambatan, meski masih tertahan oleh
tingkat daerah juga sedang dalam proses perumusan
membaiknya kinerja pertanian, industri pengolahan, dan
roadmap pengendalian inflasi daerah yang mengacu pada
konstruksi. Kontraksi pertambangan terutama dipengaruhi
roadmap nasional, namun lebih difokuskan pada upaya
oleh produksi tembaga yang terbatas karena masa transisi
menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi
pertambangan Papua yang akan berlangsung sepanjang
pangan di daerah.
tahun 2019. Secara kewilayahan, melambatnya ekonomi KTI
dipengaruhi kontraksi yang dalam di Mapua, sementara Tantangan Ke Depan
berbagai wilayah lain masih tumbuh meningkat sehingga Tantangan sektor eksternal yang semakin tinggi,
menahan perlambatan KTI lebih dalam. memerlukan upaya untuk memperkuat struktur
Ke depan, terdapat berbagai risiko yang berpotensi perekonomian nasional. Berlanjutnya perlambatan
menahan akselerasi pertumbuhan ekonomi pada 2019. ekonomi dan volume perdagangan dunia berpengaruh
Risiko dari sisi eksternal di antaranya berlanjutnya signifikan dalam menahan pertumbuhan ekonomi nasional.
perlambatan ekonomi dan volume perdagangan dunia serta Di tengah permintaan domestik yang menguat, impor juga
perlambatan ekonomi mitra dagang utama Indonesia, meski turut meningkat. Hal ini membuat rasio defisit transaksi
di sisi lain trade war Amerika-Tiongkok relatif mulai mereda. berjalan terhadap PDB Indonesia yang cenderung
Adapun risiko di sisi domestik di antaranya konsolidasi fiskal membaik/mengecil sejak 2014, mulai meningkat di 2018;
yang menyebabkan penundaan kontrak baru untuk proyek menjadi -2,98% terhadap PDB. Oleh karena itu, perlu
infrastruktur yang dikerjakan oleh BUMN maupun yang dilakukan penguatan struktur perekonomian melalui
dibiayai oleh APBN, serta penundaan realisasi investasi oleh diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi di berbagai
swasta dan pemerintah terkait dinamika politik menjelang daerah.
Pemilu maupun saat transisi arah kebijakan Pemerintah. Salah satu sektor yang berperan penting dalam
Prospek Inflasi 2019 menopang perbaikan struktur neraca transaksi berjalan
adalah pariwisata. Dengan memanfaatkan berbagai
Inflasi 2019 diperkirakan relatif stabil terjaga di kisaran
endowments yang telah dimiliki Indonesia, pariwisata dapat
target inflasi nasional 3,5%±1%. Terjaganya inflasi
dengan cepat mendatangkan devisa yang bersumber dari
disumbang menurunnya inflasi inti dan administered prices
pengeluaran wisatawan mancanegara (wisman) di berbagai
(AP) karena stabilnya nilai tukar rupiah dan menurunnya
destinasi wisata nasional. Ke depan, perannya sebagai
harga minyak. Sementara tekanan volatile food (VF)
alternatif sumber penerimaan devisa nasional semakin
diperkirakan meningkat didorong naiknya harga pangan
penting, mengingat tekanan permintaan global terhadap
global dan harga komoditas hortikultura. Terdapat
komoditas ekspor nasional masih akan berlanjut. Berbagai
beberapa risiko yang berpotensi mendorong tekanan inflasi
upaya telah dilakukan Pemerintah dalam meningkatkan
pada 2019, di antaranya potensi kenaikan harga emas, LPG,
penerimaan devisa dari pariwisata, dan ke depan perlu terus
cukai rokok, dan tarif listrik.
diperkuat. Berbagai upaya Pemerintah tersebut akan diulas
Pemerintah bersama Bank Indonesia telah menetapkan

2
Peraturan Menteri Keuangan No. 124/PMK.010/2017 tanggal 18
September 2017 tentang Sasaran Inflasi tahun 2019, tahun 2020
dan tahun 2021
8
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
lebih dalam di Bab V Isu Strategis: Memperkuat Peran
Pariwisata dalam Perbaikan Struktur Neraca Transaksi
Berjalan.

9
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
“Halaman ini sengaja dikosongkan”

10
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
BAGIAN 2
PEREKONOMIAN SUMATERA

Perekonomian Sumatera pada triwulan IV 2018 tumbuh positif, meskipun melambat dibandingkan triwulan
sebelumnya. Permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga menjadi penopang pertumbuhan ekonomi
Sumatera di tengah kinerja ekspor yang terbatas. Dari sisi lapangan usaha (LU), pertumbuhan ekonomi Sumatera
ditopang oleh pertanian, perdagangan, dan pertambangan. Meski mengalami perlambatan pada triwulan IV, secara
keseluruhan tahun 2018, perekonomian Sumatera masih meningkat dibandingkan 2017, ditopang oleh konsumsi RT
dan Pemerintah, serta investasi, sementara kinerja ekspor tumbuh terbatas.

Memasuki triwulan I 2019, perekonomian Sumatera diprakirakan tumbuh terbatas karena perlambatan konsumsi RT
sesuai pola historis pasca akhir tahun. Namun pada periode tersebut investasi dan belanja Pemerintah, serta kinerja
ekspor akan mulai membaik. Proses perbaikan tersebut diprakirakan akan berlanjut pada keseluruhan tahun 2019,
terutama dengan mempertimbangkan permintaan ekspor dan perkembangan komoditas utama yang positif,
kebijakan Pemerintah dalam implementasi B20, serta kelanjutan berbagai program belanja sosial maupun event
Pilpres dan Pileg sebagaimana terjadi di seluruh daerah.

Sementara itu, inflasi Sumatera terpantau rendah bahkan dibandingkan dengan rata-rata 3 tahun terakhir.
Pencapaian ini didukung oleh tekanan inflasi bahan pangan yang rendah, khususnya komoditas cabai merah dan
cabai rawit. Memasuki triwulan I 2019, penurunan diprakirakan masih berlanjut seiring periode masa panen
komoditi hortikultura. Namun demikian, inflasi secara keseluruhan tahun 2019 diprakirakan sedikit lebih tinggi dari
realisasi 2018, meski masih berada pada kisaran target inflasi nasional. Untuk memitigasi risiko tersebut, TPID akan
fokus pada upaya untuk menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi sebagaimana Roadmap
Pengendalian Inflasi 2019-2021.

Perekonomian Sumatera pada triwulan IV 2018 masih jenis barang modal, sementara pertumbuhan ekspor masih
tumbuh positif meski melambat dibandingkan triwulan tertahan karena pengaruh kebijakan negara mitra dan
sebelumnya. Dorongan pertumbuhan ekonomi berasal penurunan harga komoditas (CPO, karet, dan kopi). Secara
dari konsumsi RT, didukung oleh masih kuatnya daya beli spasial, pertumbuhan tertinggi wilayah Sumatera terjadi di
masyarakat seiring peningkatan pendapatan di LU Sumatera Selatan, yang merupakan lokasi tempat
pertanian dan pertambangan, serta pola historis pada pelaksanaan Asian Games 2018.
Natal dan akhir tahun. Dari sisi LU, kondisi tersebut
Tabel II.1. Pertumbuhan Ekonomi Daerah di Sumatera (% yoy)
tercermin dari peningkatan pertumbuhan yang terjadi Provinsi
2017
2017
2018
2018
I II III IV I II III IV
pada LU pertanian dan perkebunan, serta pertambangan. Aceh 3.85 4.55 4.79 3.55 4.18 3.22 5.68 4.06 5.43 4.61

Secara spasial, peningkatan pertumbuhan tertinggi terjadi


Sumatera Utara 4.53 5.14 5.24 5.56 5.12 4.73 5.27 5.38 5.30 5.18
Sumatera Barat 5.01 5.36 5.39 5.41 5.29 4.71 5.09 5.24 5.50 5.14
di Kepri akibat perbaikan lifting gas seiring tren kenaikan Riau
Jambi
2.81
4.25
2.49 2.91
4.32 4.76
2.53
5.20
2.68
4.64
2.84
4.61
2.34 2.94
4.70 4.77
1.28
4.77
2.34
4.71
harga. Kep. Riau 1.98 1.06 2.38 2.56 2.00 4.48 4.52 3.74 5.48 4.56
Sumatera Selatan 5.21 5.29 5.57 5.97 5.51 5.86 6.07 6.14 6.07 6.04
Bengkulu 5.19 5.27 4.89 4.59 4.98 5.10 5.11 4.99 4.76 4.99
Secara keseluruhan tahun 2018, pertumbuhan ekonomi Lampung 5.12 5.03 5.20 5.30 5.16 5.09 5.35 5.19 5.38 5.25

Sumatera tumbuh akseleratif dibandingkan 2017 Kep. Bangka Belitung


Sumatera
6.38
4.12
5.14 3.56
4.17 4.45
2.91
4.42
4.47
4.29
2.51
4.34
4.50 7.08
4.64 4.71
3.70
4.46
4.45
4.54
ditopang oleh seluruh komponen permintaan Sumber: BPS, diolah
domestik. Peningkatan konsumsi RT dan belanja
Pemerintah didorong oleh pelaksanaan program sosial Memasuki triwulan I 2019, pertumbuhan ekonomi
Pemerintah, aktivitas belanja untuk Pemilu, Sumatera diprakirakan tumbuh terbatas pasca
penyelenggaraan Asian Games 2018 serta terjaganya daya normalisasi aktivitas konsumsi RT pada akhir tahun.
beli seiring capaian inflasi yang rendah dan stabil. Dari sisi permintaan, dorongan pertumbuhan berasal dari
Sementara, pembangunan infrastruktur Trans Sumatera, investasi dan perbaikan kinerja ekspor, terutama produk
infrastruktur Asian Games 2018 maupun ekspansi sektor CPO seiring perubahan kebijakan negara mitra dagang dan
swasta menjadi pendorong peningkatan kinerja investasi. perbaikan harga. Dari sisi lapangan usaha, dorongan
Namun pertumbuhan permintaan domestik, juga pertumbuhan berasal dari industri pengolahan CPO dan
mengakibatkan tekanan pada net ekspor akibat konstruksi karena kelanjutan beberapa proyek
pertumbuhan impor yang juga meningkat, terutama untuk infrastruktur. Sementara LU pertanian dan LU

11
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
pertambangan melambat karena periode musim trek pada
perkebunan kelapa sawit, serta turunnya permintaan
batubara dari Tiongkok dan India.

Tabel II.2. Pertumbuhan Ekonomi Daerah dari Sisi Penggunaan


(% yoy)
2017 2018
Penggunaan 2017 2018
I II III IV I II III IV
Konsumsi RT 4.75 4.92 4.37 4.60 4.65 4.67 5.16 4.57 4.66 4.76
Konsumsi LNPRT 6.56 6.32 4.34 3.53 5.15 7.22 9.95 11.66 10.54 9.86
Konsumsi Pemerintah 2.45 (1.37) 6.47 5.17 3.37 (1.79) 8.37 10.39 1.10 4.51
PMTB 4.21 3.69 5.99 5.17 4.79 7.48 7.56 5.78 4.48 6.27
Ekspor 16.91 13.77 19.79 12.76 15.76 0.32 5.41 5.72 (2.45) 2.21
Impor 6.79 5.83 16.85 14.43 11.02 13.52 23.45 15.79 6.82 14.58
Sumatera 4.12 4.17 4.45 4.42 4.29 4.34 4.64 4.71 4.46 4.54 Sumber: BPS, diolah
Sumber: BPS, diolah Grafik II.2. Nilai Tukar Petani

Kinerja Sisi Penggunaan


Konsumsi Rumah Tangga
Pada triwulan IV 2018, konsumsi rumah tangga
meningkat sesuai pola musiman pada periode Hari
Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur akhir
tahun. Konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 4,66%
(yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2018 sebesar
4,57% (yoy) (Tabel II.2). Peningkatan konsumsi rumah
tangga, juga didukung oleh perbaikan pendapatan
masyarakat seiring peningkatan kinerja LU pertanian dan Grafik II.3. Realisasi Serapan BPNT dan PKH 2018
perkebunan, serta pertambangan, penyelenggaraan
kegiatan MICE korporasi, dan beberapa festival daerah (a.l Konsumsi Pemerintah
Festival Danau Toba dan Lampung Fair). Perbaikan Konsumsi pemerintah tetap tumbuh meski tidak
pendapatan masyarakat tercermin dari peningkatan Indeks setinggi triwulan III 2018. Perlambatan pertumbuhan
Keyakinan Konsumen (IKK) (Grafik II.1) serta Nilai Tukar antara lain dipengaruhi oleh belum optimalnya penyaluran
Petani (NTP) (Grafik II.2). Dengan perkembangan tersebut, Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan
konsumsi rumah tangga pada 2018 tumbuh lebih tinggi Dana Alokasi Umum (DAU) oleh beberapa Pemda karena
dibandingkan 2017. Daya beli masyarakat terjaga didukung adanya rotasi/mutasi di dalam Organisasi Perangkat
oleh tingkat inflasi yang lebih rendah dan stabil serta Daerah (OPD) pasca pergantian Kepala Daerah hasil
program bantuan sosial Pemerintah baik dalam bentuk Pilkada serentak yang dilaksanakan pada 27 Juni 2018. Hal
Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Program Keluarga ini berdampak pada tunda salur untuk DBH, DAK, maupun
Harapan (PKH), dan cash for work Dana Desa, serta DAU dari Pemerintah Pusat ke beberapa Pemerintah
penyelenggaraan Asian Games 2018. Memasuki triwulan I Daerah di Sumatera. Beberapa daerah yang terdampak
2019, konsumsi rumah tangga diprakirakan melambat adalah Riau, Sumatera Selatan, dan Lampung. Meski
sesuai dengan pola historis pasca akhir tahun. Penurunan demikian, konsumsi pemerintah secara keseluruhan tahun
produksi dan harga beberapa komoditas unggulan seperti pada 2018 tumbuh lebih baik dibandingkan tahun
CPO, dan karet juga berpotensi mengurangi pendapatan sebelumnya karena beberapa faktor, di antaranya
masyarakat pada triwulan I 2019. pelaksanaan Pilkada serentak di 4 provinsi (Sumatera
Utara, Sumatera Selatan, Lampung, dan Riau), 14 kota dan
21 kabupaten dan penyelenggaraan Asian Games 2018 di
Palembang, serta realisasi penyaluran Dana Desa.
Memasuki triwulan I 2019, pola belanja pemerintah
diprakirakan berbeda dari tahun lalu karena peningkatan
belanja pemerintah dalam rangka persiapan Pemilihan
Presiden dan Pemilihan Legislatif yang akan dilaksanakan
pada 17 April 2019 dan pencairan pembayaran tunda salur
DBH tahun 2018, serta pencairan Dana Desa tahap 1 pada
bulan Maret 2019.
Grafik II.1. Survei Konsumen Bank Indonesia

12
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Investasi pembangunan Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu, (v)
Pada triwulan IV 2018, investasi di wilayah Sumatera pembangunan jalur kereta Bandar Tinggi – Kuala Tanjung,
tumbuh lebih rendah dari capaian pada triwulan III lajur layang Medan-Bandar Khalipah, dan jalur KA Binjai-
2018. Kondisi ini disebabkan oleh berakhirnya sejumlah Besitang, (vi) pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air
pembangunan infrastruktur, antara lain proyek Asian (PLTA) Batang Toru di Sumatera Utara, (vii) pembangunan
Games dan tol di Sumatera Utara serta Sumatera Selatan. Bendungan Way Sekampung dan Marga Tiga di Lampung,
Berkurangnya intensitas pembangunan infrastruktur serta (viii) pengembangan KEK Tanjung Kelayang di Kep.
terkonfirmasi dari perlambatan konsumsi semen pada Bangka Belitung yang berhubungan dengan
triwulan IV 2018 (Grafik II.4). Sementara itu, rencana pengembangan destinasi wisata “Bali Baru”.
investasi swasta diprakirakan baru direalisasikan pasca Ekspor Barang dan Jasa LN
Pilpres, berdasarkan hasil liaison Bank Indonesia (Grafik
Kinerja ekspor barang dan jasa LN pada triwulan IV
II.5). Meski melambat pada triwulan IV, pertumbuhan
2018 mengalami kontraksi, lebih rendah dari capaian
investasi pada tahun 2018 tumbuh lebih tinggi
triwulan III 2018. Terbatasnya permintaan dari mitra
dibandingkan tahun 2017. Kondisi ini dipengaruhi oleh
dagang dan masih lemahnya harga komoditas utama,
akselerasi pembangunan infrastruktur pemerintah,
seperti karet dan CPO, mengakibatkan kinerja ekspor
terutama jalan tol dan sports venue untuk penyelenggaraan
barang dan jasa turun cukup tajam. Penurunan permintaan
Asian Games 2018 di Palembang, proyek transmisi
CPO akibat tingginya tarif impor CPO yang diberlakukan di
Sumatera 500KV, dan pembangunan Pelabuhan Kuala
negara mitra dagang, sebagaimana terkonfirmasi dari hasil
Tanjung.
liaison Bank Indonesia (Grafik II.6). Adapun peningkatan
pajak impor Crude Palm Oil (CPO) dan Red Palm Oil (RPO)
oleh India masing-masing dari 30% menjadi 44% (CPO)
dan 40% menjadi 54% (RPO). Secara spasial, terdapat
empat provinsi yang mengalami kontraksi ekspor, yaitu
Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, dan
Kepulauan Bangka Belitung. Kondisi tersebut
mengakibatkan kinerja ekspor barang dan jasa pada 2018
tumbuh lebih rendah dari 2017. Selanjutnya dari sisi harga,
pelemahan harga komoditas utama Sumatera, seperti CPO
Sumber: Asosiasi Semen dan karet yang tumbuh negatif juga menekan kinerja
Grafik II.4. Pertumbuhan Konsumsi Semen
ekspor Sumatera. Pada triwulan I 2019, kinerja ekspor
diprakirakan membaik dibandingkan triwulan IV 2018
akibat penyesuaian pajak impor di India serta permintaan
eksternal yang membaik. Tarif bea impor CPO dan RPO
kembali disesuaikan dari 44% ke 40% dan RPO dari 54% ke
50%. Kondisi ini dapat mendongkrak kinerja ekspor CPO.
Selain itu, konsumsi karet Tiongkok yang meningkat akan
mendorong ekspor karet. Selain CPO dan karet, ekspor
timah juga akan kembali normal setelah sempat
mengalami penurunan ekspor di triwulan IV 2018 akibat
Sumber: Liaison Bank Indonesia permasalah teknis pada izin ekspor.
Grafik II.5. Likert Scale Investasi

Pada triwulan I 2019, investasi diprakirakan meningkat


dibandingkan triwulan IV 2018, seiring masih
berlanjutnya pengerjaan sejumlah proyek infrastruktur
yang dibiayai pemerintah pusat. Beberapa proyek
infrastruktur yang masih akan dikerjakan antara lain (i)
pembangunan Terminal Peti Kemas Belawan Phase II, (ii)
pembangunan ruas jalan tol Trans Sumatera Palembang-
Indralaya (Sumsel), Kualanamu-Tebing Tinggi (Sumut) dan
Bakauheni-Terbanggi Besar (Lampung), (iii) pembangunan Sumber: Liaison Bank Indonesia dan BPS, diolah
transmisi Sumatera 500kV; serta (iv) berlanjutnya Grafik II.6. Likert Scale Penjualan Ekspor dan Ekspor Barang-Jasa

13
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Impor Barang dan Jasa Kondisi ini diakibatkan tekanan dari sisi harga komoditas,
Pertumbuhan impor barang dan jasa LN pada triwulan terutama CPO, karet, dan kopi. Pada triwulan I 2019,
IV 2018 juga melambat, sejalan dengan penyelesaian pertumbuhan LU pertanian diprakirakan sedikit melambat
proyek investasi Pemerintah. Perlambatan pertumbuhan dipengaruhi oleh masuknya musim trek pada komoditas
impor tercermin dari pertumbuhan negatif impor barang CPO dan prakiraan harga karet yang masih belum kuat.
konsumsi dan barang modal dan penurunan impor bahan Secara spasial, perlambatan sektor pertanian akan terjadi di
bahan baku (Grafik II.7). Selain karena investasi dan beberapa sentra penghasil kelapa sawit, seperti Sumatera
implementasi program Bahan Bakar Nabati (BBN) –B20 Utara, Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi.
juga berdampak pada penurunan impor solar. Namun
demikian, secara keseluruhan tahun 2018, pertumbuhan
impor LN meningkat dibandingkan dengan tahun
sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh kebutuhan barang
modal terkait proyek infrastruktur seperti venue Asian
Games dan jalan tol di beberapa wilayah di Sumatera,
seperti Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Perlambatan
impor diperkirakan masih akan berlanjut pada triwulan I
2019 sesuai dengan pola historisnya. Hal ini terutama
terkait dengan kembali normalnya pertumbuhan konsumsi
Sumber: Liaison Bank Indonesia dan BPS
RT dan investasi swasta yang masih terbatas pada triwulan Grafik II.8. Likert Scale Penjualan Ekspor LU Pertanian
I 2019.
Industri Pengolahan
LU industri pengolahan pada triwulan IV 2018 tumbuh
melambat dibandingkan triwulan III 2018. Dari sisi
domestik, pertumbuhan sektor industri pengolahan yang
lebih rendah disebabkan oleh terbatasnya bahan baku
karet (bokar) dari petani akibat cuaca yang kurang
mendukung (musim hujan) dan harga yang rendah di
tingkat petani. Dari sisi eksternal, melemahnya harga CPO
serta dampak masih tingginya tarif impor CPO India juga
turut mendorong perlambatan sektor industri pengolahan.
Sumber: Bea Cukai, diolah
Grafik II.7. Pertumbuhan Impor Barang Konsumsi, Barang Modal Perlambatan kinerja industri pengolahan terkonfirmasi dari
dan Bahan Baku hasil liaison yang menunjukkan penurunan penjualan
domestik industri pengolahan (Grafik II.9), dan Prompt
Kinerja Lapangan Usaha Manufacturing Index (PMI) Survei Kegiatan Dunia Usaha
(SKDU) yang melambat dari 53,69 ke 50,86 (Grafik II.10).
Pertanian
Kinerja LU pertanian Sumatera pada triwulan IV 2018
tumbuh meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya
sejalan dengan siklus panen komoditas tabama,
hortikultura, dan kopi. Pada triwulan IV 2018, merupakan
masa panen padi, cabai merah, dan kopi terutama di
Sumatera Utara. Selain itu, juga terjadi panen gadu beras
di Lampung pada Oktober 2018 dan puncak masa panen
tanaman buah dan sayur tahunan di Sumatera Selatan.
Dorongan terhadap sektor pertanian juga berasal dari
meningkatnya produksi bawang merah dan kakao di Sumber: Liaison Bank Indonesia dan BPS
Sumatera Barat. Produksi yang melimpah untuk bahan Grafik II.9. Likert Scale Penjualan Domestik LU Industri
Pengolahan
pertanian tercermin dari penurunan tekanan inflasi volatile
food di Sumatera pada triwulan IV dan terkonfirmasi dari
Namun secara keseluruhan tahun, kinerja industri
hasil liaison Bank Indonesia (Grafik II.8). Untuk keseluruhan
pengolahan tumbuh lebih tinggi pada tahun 2018
tahun, pertumbuhan kinerja LU pertanian pada 2018
dibandingkan 2017. Hal ini dipengaruhi oleh dampak
tumbuh melambat dibandingkan kinerja pada 2017.

14
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
implementasi perluasan penggunaan B20 yang mendorong prakiraan menurunnya harga komoditas
pertumbuhan kinerja industri pengolahan CPO. pertambangan. Harga batubara pada triwulan I 2019
Peningkatan kinerja industri juga didukung oleh diprakirakan melemah seiring meningkatnya persediaan
peningkatan konsumsi RT, khususnya untuk produk Tiongkok dan meningkatnya pasokan batubara dari
mamin. Memasuki triwulan I 2019, industri pengolahan Amerika Serikat. Sementara harga minyak dunia juga
diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan IV diprakirakan tetap melambat pada triwulan I 2019 seiring
2018. Peningkatan permintaan CPO dari India seiring kenaikan produksi minyak AS.
penurunan tarif impor CPO di negara tersebut per 1
Januari 2019 diprakirakan akan menjadi pendorong utama
perbaikan kinerja industri. Selain itu, implementasi
kebijakan B20 (Bahan Bakar Minyak dengan kadar
campuran minyak sawit/biodiesel 20%) diperkirakan juga
turut mendorong peningkatan kinerja di triwulan I 2019.

Sumber: Bloomberg
Grafik II.12. Harga Minyak WTI

Perdagangan
Pada triwulan IV 2018, kinerja LU perdagangan tumbuh
lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.
Sumber: SKDU Bank Indonesia dan BPS Dorongan pertumbuhan sektor perdagangan pada
Grafik II.10 Realisasi PMI triwulan laporan didukung oleh peningkatan konsumsi RT
selama momen liburan, antara lain di beberapa objek
Pertambangan pariwisata, seperti Danau Toba, Medan, Mandeh,
Melanjutkan tren perbaikan dari periode sebelumnya, Palembang, Tanjung Kelayang, Batam dan Bintan. Selain
LU pertambangan dan penggalian pada triwulan IV itu, insentif belanja akhir tahun menjelang Natal dan tahun
2018 kembali tumbuh meningkat. Perbaikan kinerja baru yang diberikan oleh pelaku usaha juga turut
pertambangan dipengaruhi oleh kenaikan harga batubara mendorong peningkatan kinerja LU ini. Peningkatan kinerja
seiring peningkatan permintaan luar negeri, khususnya LU ini terkonfirmasi dari indeks perdagangan ritel survei
Tiongkok dan Asia Timur lainnya, untuk kebutuhan penjualan eceran Bank Indonesia (Grafik II.13). Dengan
pembangkit tenaga listrik serta peningkatan kebutuhan perkembangan tersebut, secara keseluruhan tahun 2018,
untuk PLTU domestik. Selain batubara, kinerja LU perdagangan tumbuh meningkat dibandingkan 2017.
pertambangan yang membaik juga didorong oleh Pertumbuhan kinerja LU ini didorong oleh aktivitas terkait
meningkatnya produksi minyak Jambi terutama Blok pelaksanaan Pilkada serentak dan Asian Games 2018, serta
Jabung dan meningkatnya lifting gas di Kepulauan Riau. peningkatan konsumsi RT pada 2018. Kinerja LU
Pertumbuhan LU pertambangan yang lebih tinggi tertahan perdagangan diprakirakan tetap kuat pada triwulan I 2019,
oleh lifting minyak Riau yang pada triwulan IV 2018 meskipun tidak setinggi triwulan sebelumnya, seiring
mengalami kontraksi lebih dalam dibandingkan triwulan perlambatan konsumsi masyarakat pasca periode Natal
sebelumnya, karena proses natural declining. Faktor dan libur sekolah pada akhir tahun.
penahan laju pertumbuhan sektor pertambangan dan
penggalian juga dipengaruhi dari harga minyak dunia yang
kembali melambat pada triwulan IV 2018 (Grafik II.12).
Secara keseluruhan tahun, perbaikan kinerja LU
pertambangan juga didukung oleh bertambahnya operasi
angkutan kereta api batubara di Sumsel dan meningkatnya
kapasitas pelabuhan timbun barubara di Tarahan,
Lampung.

Kinerja LU pertambangan dan penggalian pada


triwulan I 2019 diprakirakan masih tumbuh positif, Sumber: Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia dan BPS
namun tidak setinggi triwulan IV 2018 sejalan dengan Grafik II.13. Pertumbuhan Indeks Perdagangan Retail

15
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Fiskal Daerah
Dari sisi penerimaan daerah, realisasi penerimaan dari
Transfer Dana Pusat ke Daerah tahun 2018 meningkat
dibandingkan tahun 2017. Realisasi Transfer ke Daerah
tahun 2018 mencapai Rp197,8 triliun (99,7%), meningkat
dari tahun 2017 sebesar Rp196,3 triliun (87,7%).
Berdasarkan jenisnya, realisasi terbesar disumbang oleh
DAU dan DAK nonfisik masing-masing mencapai Rp108,9
triliun (99,9%) dan Rp28,9 triliun (95,6%) (Grafik II.14).
Sementara itu, penyaluran Dana Desa Sumatera juga Sumber: TEPRA
Grafik II.15. Realisasi APBD Sumatera Hingga Triwulan IV 2018
terealisasikan pada penyerapan yang tinggi yaitu
meningkat dari 99,4% anggaran pada 2017 menjadi 99,6%
pada tahun 2018 dengan Sumbar, Sumsel, dan Riau Perkembangan Inflasi Daerah
menjadi 3 provinsi dengan persentase penyerapan Tekanan inflasi Sumatera pada triwulan IV 2018
terbesar. mereda, lebih rendah dari triwulan III 2018. Pencapaian
ini didukung oleh tekanan inflasi bahan pangan yang
rendah di tengah kenaikan tarif angkutan udara (pola
musiman). Rendahnya tekanan inflasi bahan pangan
dipengaruhi oleh panen raya komoditas cabai merah dan
cabai rawit sehingga kedua komoditas tersebut
mencatatkan deflasi masing-masing sebesar 26,3% (yoy)
dan 21,9% (yoy). Namun pada kelompok komoditas yang
harganya ditetapkan pemerintah, terjadi kenaikan harga
pada tarif angkutan udara, bensin, dan rokok. Capaian
inflasi 2018 lebih rendah dibandingkan 2017, dan lebih
Sumber: TEPRA rendah dibandingkan rata-rata historis inflasi Sumatera
Grafik II.14. Realisasi Transfer Dana Pusat ke Daerah Sumatera
dalam 3 tahun terakhir. Terjaganya tekanan inflasi selama
Tahun 2017 dan 2018
2018 terutama dipengaruhi oleh menurunnya inflasi
Sementara penyerapan belanja APBD tahun 2018 tidak keIompok Bahan Makanan (Grafik II.16), khususnya
setinggi realisasi periode yang sama tahun subkelompok bumbu-bumbuan (cabai merah dan cabai
sebelumnya. Secara nominal, realisasi belanja Pemerintah rawit) seiring melimpahnya pasokan dari sentra produksi di
Daerah di Sumatera hingga triwulan IV 2018 mencapai Sumatera Utara dan Aceh.
Rp200,7 triliun atau menyerap 80,7% dari pagu anggaran, Penurunan inflasi lebih dalam tertahan oleh kenaikan
sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pencapaian inflasi pada subkelompok Transportasi, Komunikasi,
hingga triwulan IV 2017 yang mencapai Rp220,1 triliun dan Jasa Keuangan. Tekanan inflasi pada kelompok
atau 82,4%3. Secara spasial, realisasi APBD tertinggi terjadi tersebut disebabkan kenaikan tarif angkutan udara dan
di Kepulauan Riau (84,7%), disusul oleh Riau (83,4%), serta angkutan antar kota yang didorong oleh peningkatan
Sumatera Selatan (82,0%) (Grafik II.15). Tingginya serapan permintaan pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN)
anggaran di Kepulauan Riau didorong oleh peningkatan dan libur sekolah. Khusus di Bangka Belitung, kenaikan
belanja pegawai untuk pemberian THR Pegawai Negeri inflasi angkutan udara juga dipengaruhi oleh penyesuaian
Sipil (PNS), mengingat komponen pencairan tahun 2018 tarif airport tax serta adanya pengurangan jadwal
ditambahkan beberapa tunjangan lainnya serta perluasan penerbangan.
pemberian THR kepada pensiunan PNS. Sumatera Utara
Memasuki triwulan I 2019, diprakirakan lebih rendah
menjadi provinsi dengan tingkat realisasi belanja APBD
dari triwulan IV 2018, seiring periode masa panen
terendah di Sumatera, atau sebesar 58,8%. Hal ini terutama
komoditi hortikultura. Perkembangan inflasi yang rendah
disebabkan rasionalisasi anggaran Organisasi Perangkat
didukung peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID),
Daerah (OPD) serta adanya pelunasan utang DBH
terutama dalam menjaga ketersediaan pasokan. Melalui
Pemerintah Provinsi kepada Pemerintah
implementasi kalender pola tanam terpadu serta
Kabupaten/Pemerintah Kota.
penyediaan cold atmosphere, serta program kerja sama
3 antardaerah, rantai pasok distribusi menjadi lebih efisien
Data realisasi APBD berasal dari Tim Evaluasi dan Pengawasan
Realisasi APBN dan APBD (TEPRA). dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

16
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
pada perusahaan yang bergerak di sektor industri
pengolahan dan pertambangan. Sejumlah perusahaan
cenderung menambah porsi utang untuk ekspansi usaha
dibandingkan dengan menggunakan laba usahanya.
Kondisi ini tercermin dari meningkatnya Debt to Equity
Ratio (DER) dari 1,34 menjadi 1,35 (Grafik II.18).

Sumber: BPS, diolah


Grafik II.16. Realisasi Inflasi Sumatera

Stabilitas Keuangan Daerah


Ketahanan Sektor Korporasi
Stabilitas Keuangan Daerah pada triwulan IV 2018
wilayah Sumatera masih terjaga. Kondisi kestabilan Sumber: Bloomberg
tersebut tercermin dari peningkatan indikator current ratio Grafik II.18. DSR dan DER Korporasi Sumatera

meskipun profit margin dan rasio rentabilitas4 mengalami


Kredit korporasi masih tumbuh positif pada triwulan IV
sedikit tekanan (Grafik II.17). Hal ini terutama terjadi pada
2018, meskipun tidak setinggi triwulan sebelumnya.
tiga korporasi lapangan usaha (LU) utama, yaitu pertanian,
Penyaluran kredit tumbuh 15,56% (yoy) pada triwulan IV
pertambangan, dan industri pengolahan. Penurunan
2018, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya
rentabilitas terutama dipengaruhi oleh pelemahan harga
sebesar 19,22% (yoy) (Grafik II.19). Meskipun pertumbuhan
komoditas perkebunan, sementara indikator sales growth
kredit melambat, risiko kredit sektor korporasi masih
masih menunjukkan perbaikan. Selain itu, dalam rangka
terjaga dengan baik, tercermin dari rasio Non Performing
memenuhi permintaan dan persaingan usaha yang relatif
Loan (NPL) yang masih di bawah ambang batas 5%, meski
ketat, korporasi disinyalir bersaing dengan melakukan
naik dari 2,70% pada triwulan III 2018 menjadi 3,19% pada
efisiensi sehingga profit margin yang diterima berkurang.
triwulan IV 2018. Secara sektoral, peningkatan NPL terjadi
Penjualan pada triwulan III 2018 tercatat meningkat dari
pada korporasi di LU pertambangan, pertanian, industri
11,7% (yoy) menjadi 20,0% (yoy), sementara profit margin
pengolahan, dan perdagangan (Grafik II.20).
tergerus menjadi 7,3% dari sebelumnya 10,1%.

Grafik II.19. Pertumbuhan Kredit Sektoral Korporasi


Sumber: Bloomberg
Grafik II.17. Profit Margin, ROA dan ROE Korporasi Sumatera

Kendati profit margin perusahaan menurun,


kemampuan korporasi untuk menyelesaikan
kewajibannya masih cukup baik. Kemampuan membayar
dari korporasi sebagaimana indikator Interest Coverage
Ratio (ICR) dan Debt Service Ratio (DSR) masih pada level
yang aman kendati terkoreksi masing-masing dari 5,6%
menjadi 4,9% dan 3,5% ke 3,4%. Penurunan DSR terjadi

4 Grafik II.20. Pertumbuhan NPL Kredit Korporasi Sektoral


Data rasio keuangan menggunakan periode triwulan III 2018.

17
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Di sisi lain, DPK korporasi di perbankan terus
mengalami peningkatan. Simpanan korporasi di
perbankan meningkat dari 4,96% (yoy) di triwulan III 2018
menjadi 9,45% (yoy) pada triwulan IV 2018. Pertumbuhan
DPK korporasi terjadi pada jenis deposito (Grafik II.21).
Naiknya deposito diindikasikan seiring dengan kenaikan
suku bunga deposito. Secara nominal, nilai DPK korporasi
Sumatera pada akhir triwulan IV 2018 mencapai Rp122,9
triliun dengan pangsa terbesar terdapat di provinsi
Sumatera Utara (Grafik II.22).
Grafik II.23. Pertumbuhan Pembiayaan Sektor Rumah Tangga per
Jenis Penggunaan

Grafik II.21. Pertumbuhan DPK Korporasi Sumatera

Grafik II.24. Pertumbuhan Kredit dan NPL Sektor Rumah Tangga

Grafik II.22. Porsi DPK Korporasi di Perbankan Sumatera

Grafik II.25. Perkembangan Pertumbuhan DPK Perseorangan


Ketahanan Sektor Rumah Tangga
Penyaluran kredit rumah tangga masih tumbuh positif Kredit Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
dan diimbangi dengan risiko kredit yang terjaga. Kredit (UMKM)
rumah tangga pada triwulan IV 2018 tumbuh 11,39% (yoy),
sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya
sebesar 12,60% (yoy). Perlambatan terjadi pada seluruh
jenis kredit rumah tangga, baik multiguna, KPR, dan KKB
(Grafik II.23). Secara spasial, melambatnya pertumbuhan
kredit terjadi di sebagian besar provinsi, kecuali di
Sumatera Utara. Meskipun tumbuh melambat, rasio NPL
kredit rumah tangga masih terjaga dengan baik, yaitu
sebesar 1,43% pada triwulan IV 2018 (Grafik II.24).

Pertumbuhan DPK rumah tangga juga tercatat tumbuh Grafik II.26. Pertumbuhan Kredit UMKM dan Kredit TotaI
positif. Penghimpunan DPK perseorangan pada akhir 2018
tumbuh 5,15% (yoy) pada triwulan IV 2018, sedikit Pertumbuhan penyaluran kredit UMKM di Sumatera
melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar meningkat pada triwulan IV 2018, dibandingkan
6,12% (yoy), sejalan dengan peningkatan konsumsi rumah triwulan III 2018 (Grafik II.26). Selain itu porsi penyaluran
tangga selama perayaan Natal dan periode libur akhir kredit UMKM Sumatera pada triwulan IV 2018 yang juga
tahun (Grafik II.25). meningkat menjadi 25,72% dari total kredit yang

18
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
disalurkan. Dari sisi kualitas, penyaluran kredit UMKM juga sebesar Rp77,74 miliar. Peningkatan transaksi juga sejalan
terjaga dengan baik, tercermin dari NPL yang masih di dengan kenaikan jumlah uang elektronik di wilayah
bawah batas indikatif 5% (4,28%). Sumatera yang sudah mencapai 271.337, dibandingkan
triwulan sebelumnya yang hanya 81.440. Secara spasial,
Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Sumatera Utara masih menjadi provinsi dengan porsi
Uang Tunai Rupiah terbanyak untuk jumlah uang elektronik (Grafik II.29).

Sistem Pembayaran Non-Tunai


Secara nominal, transaksi menggunakan Sistem Kliring
Nasional Bank Indonesia (SKNBI) lebih rendah
dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan IV
2018, nilai transaksi tercatat sebesar Rp99,5 triliun,
menurun dibandingkan triwulan III 2018 (Grafik II.27). Total
nilai transaksi SKNBI tertinggi terjadi di Sumatera Utara,
sementara total nilai transaksi terendah tercatat di
Bengkulu. Sementara itu, transaksi non tunai melalui kartu
kredit pada triwulan laporan mengalami perbaikan, meski Grafik II.29. Perkembangan Jumlah Unik Spasial Sumatera
masih dalam pertumbuhan negatif.

Grafik II.30. Perkembangan Utilisasi Agen LKD


Grafik II.27. Transaksi Kliring Sumatera
Selanjutnya, program Layanan Keuangan Digital (LKD)
juga mengalami peningkatan di Sumatera. Jumlah agen
pada triwulan IV 2018 tercatat sebesar 67.606 agen,
meningkat dibandingkan triwulan III 2018 sebanyak 43.067
agen (Grafik II.30). Saat ini, cakupan LKD terluas terdapat di
Aceh, terindikasi dari jumlah agen LKD terbesar di
Sumatera yang berada di wilayah tersebut. Agen LKD Aceh
sampai bulan Desember mencapai 10.745 agen atau
15,89% dari total agen LKD di wilayah Sumatera. Bank
Indonesia berupaya memperluas penetrasi LKD melalui
Grafik II.28. Pangsa Transaksi Uang Elektronik kerja sama antar lembaga. Upaya tersebut di antaranya
dilakukan dengan sosialisasi produk dan jasa keuangan
Selain itu, transaksi dengan menggunakan uang elektronik
kepada siswa, mahasiswa, pelaku usaha UMKM, dan pelaku
mengalami peningkatan signifikan dibandingkan triwulan
usaha lainnya.
sebelumnya, dipengaruhi oleh berbagai penawaran dan
promosi menarik oleh penerbit berupa potongan harga Pengelolaan Uang Rupiah
dan cash back dari transaksi yang dilakukan pada merchant Sejalan dengan pola historisnya, aliran uang kartal ke
terafiliasi. Secara spasial, pada triwulan IV 2018 Bank Indonesia pada triwulan IV 2018 mengalami net-
peningkatan paling tinggi terjadi di provinsi Bangka outflow. Secara total, net-outflow uang kartal selama
Belitung, Aceh, dan Kepulauan Riau. Sebagian besar triwulan IV 2018 mencapai Rp16,21 triliun, setelah pada
transaksi uang elektronik digunakan untuk top up dan triwulan sebelumnya mencatat net-inflow Rp8,91 triliun
pembayaran (Grafik II.28). Transaksi menggunakan uang (Grafik II.31). Net-outflow uang kartal yang terjadi di
elektronik selama triwulan IV 2018 mencapai Rp151,75 triwulan laporan didorong pola siklikal periode HBKN Natal
miliar, meningkat dua kali lipat dari triwulan III 2018 dan libur akhir tahun 2018. Secara spasial, mayoritas

19
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
provinsi di Sumatera mencatatkan kondisi net-outflow, Indonesia juga bekerja sama dengan penegak hukum dan
kecuali Sumatera Barat. Net-outflow tertinggi terjadi di perbankan untuk terus menurunkan risiko Upal yang
Sumatera Utara yang mencapai Rp3,34 triliun, diikuti Riau beredar dimasyarakat.
sebesar Rp3,13 triliun.
Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan
Bank (KUPVA BB)
Transaksi KUPVA BB Berizin pada triwulan IV 2018
mengalami peningkatan, baik transaksi beli maupun
transaksi jual. Transaksi jual KUPVA pada triwulan IV 2018
tercatat sebesar Rp8,20 triliun atau tumbuh 58,67% (yoy),
lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar
Rp6,96 triliun atau tumbuh 36,38% (yoy). Sedangkan
transaksi beli melalui KUPVA BB di Sumatera sebesar
Rp8,29 triliun atau tumbuh 60,47% (yoy) pada triwulan IV
Grafik II.31. Aliran Uang Kartal 2018, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya
sebesar Rp6,95 triliun atau tumbuh 36,41% (yoy). Secara
Bank Indonesia terus berupaya menjamin ketersediaan spasial, kenaikan transaksi tertinggi terjadi di Kepulauan
uang layak edar di masyarakat. Sebagai bentuk Riau, yang merupakan pintu masuk utama wisatawan
peningkatan pelayanan distribusi uang rupiah kepada mancanegara di Sumatera.
masyarakat dan mendukung kebijakan ketersediaan uang
Bank Indonesia berupaya untuk menertibkan Kegiatan
bersih (clean money policy), Kantor Perwakilan Bank
Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank (KUPVA
Indonesia (KPwBI) di wilayah Sumatera terus melakukan
BB), khususnya di destinasi wisata. Secara spasial, jumlah
distribusi uang, baik melalui pelayan kas di Bank Indonesia
KUPVA BB berizin tertinggi berada di Kepulauan Riau,
maupun melalui kas keliling dan kas titipan. Total frekuensi
Sumatera Utara, dan Riau yang merupakan pintu-pintu
kas keliling Sumatera pada triwulan IV 2018 tercatat
utama kedatangan wisman di Sumatera. Secara
sebanyak 172 kas keliling. Frekuensi kas keliling tertinggi
keseluruhan, jumlah KUPVA BB berizin di Sumatera tercatat
terjadi di wilayah Sumatera Selatan dan Lampung dengan
sebanyak 286 unit sampai dengan triwulan IV 2018. Ke
frekuensi sebanyak 25 kali. Total transaksi kas keliling di
depan, pengembangan KUPVA BB berizin akan didorong di
Sumatera pada triwulan laporan sebesar Rp122,1 miliar,
Kepulauan Bangka Belitung utamanya lokasi wisata untuk
dengan capaian transaksi tertinggi berada di Sumatera
mendukung program Pemerintah terkait pariwisata di
Selatan sebesar Rp24,7 miliar.
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Kelayang sebagai
salah satu dari 10 destinasi Bali baru. Hal ini mengingat
KUPVA BB berizin belum tersedia di provinsi tersebut.

Prospek Pertumbuhan Ekonomi


Pada triwulan II 2019, perekonomian Sumatera
diprakirakan meningkat dibanding triwulan I 2019.
Dorongan pertumbuhan ekonomi diprakirakan berasal dari
konsumsi RT karena dipengaruhi pencairan PKH tahap 2
(April 2019) yang lebih besar, serta pola musiman bulan
puasa dan Hari Raya Idul Fitri 2019. Selain itu, peningkatan
Grafik II.32. Rasio Upal Terhadap Inflow
konsumsi rumah tangga juga diperkirakan bersumber dari
Selain melakukan distribusi uang, Bank Indonesia juga peningkatan pendapatan dari panen Tabama dan
terus melakukan edukasi Ciri Keaslian Uang Rupiah berakhirnya musim trek CPO. Sementara investasi
(CIKUR) untuk melindungi masyarakat dari peredaran diperkirakan sedikit tertahan sejalan dengan penurunan
uang palsu (Upal). Upaya pemberian edukasi kepada jumlah hari kerja selama periode libur HBKN dan
masyarakat dilakukan antara lain melalui iklan layanan keputusan pelaku usaha realisasi investasi hingga setelah
masyarakat, sosialisasi, dan talkshow ke berbagai kalangan pelaksanaan Pileg dan Pilpres 2019. Dari sisi ekspor,
masyarakat. Sejalan dengan pelaksanaan edukasi tersebut, perlambatan diprakirakan berasal dari berlanjutnya tren
pada triwulan IV 2018, rasio jumlah Upal yang ditemukan penurunan harga komoditas batubara, penurunan harga
di wilayah Sumatera lebih rendah dibandingkan dengan minyak bumi dan natural declining lifting minyak bumi.
triwulan yang sama tahun sebelumnya (Grafik II.32). Bank Perlambatan ekspor lebih dalam tertahan oleh ekspor CPO.

20
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi bidang elektronik dan peralatan listrik di Batam, mulainya
diprakirakan ditopang oleh LU pertanian, industri eksplorasi minyak dan gas bumi di Sumatera Barat, serta
pengolahan dan perdagangan. LU pertanian diprakirakan kenaikan produksi timah seiring peningkatan eksplorasi
tumbuh meningkat didorong oleh masuknya panen raya dan penambangan di laut menjadi pendorong LU industri
tabama dan hortikultura, berakhirnya musim trek, dan pengolahan dan pertambangan. Dalam jangka menengah,
membaiknya harga komoditas CPO, karet, dan kopi. LU untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk SDA,
industri pengolahan juga diperkirakan tumbuh meningkat sinergi pengembangan pariwisata di Sumatera perlu terus
didorong meningkatnya produksi industri pengolahan dilakukan agar menjadikan pariwisata sebagai new source
makanan dan minuman seiring kenaikan permintaan of growth Sumatera. Saat ini upaya peningkatan kualitas
Ramadhan dan Idul Fitri. Selanjutnya, LU perdagangan juga atraksi dan amenitas wisata Danau Toba sebagai destinasi
diprakirakan tumbuh meningkat seiring masuknya periode bertaraf internasional sedang diupayakan oleh Pemerintah
HBKN, panen raya, penyelenggaraan Pilpres dan Pileg, (Boks 2).
pencairan Bansos, dan dana kelurahan tahap 1 (bulan Mei).
Prospek Inflasi
Lebih lanjut, LU konstruksi juga diprakirakan meningkat
sejalan dengan berlanjutnya pembangunan sejumlah Inflasi Sumatera pada triwulan II 2019 diprakirakan
Proyek Strategis Nasional (PSN). lebih tinggi dari triwulan sebelumnya, namun tetap
berada pada kisaran sasaran inflasi nasional. Tekanan
Secara keseluruhan tahun 2019, pertumbuhan ekonomi inflasi akan didorong oleh kelompok bahan makanan
Sumatera diprakirakan meningkat dibandingkan maupun kelompok transportasi yang disebabkan oleh
dengan tahun 2018 terutama didukung perbaikan meningkatnya permintaan pada bulan puasa dan Idul Fitri.
kinerja konsumsi dan ekspor. Perbaikan kinerja ekspor Meskipun demikian, program pengendalian inflasi di setiap
2019 diprakirakan didorong oleh penurunan tarif impor daerah berupa kegiatan pasar murah dan Operasi Pasar
CPO dan RPO India dari 44% dan 54% menjadi 40% dan dari TPID ataupun pemerintah daerah dalam rangka
50% yang disertai membaiknya harga CPO. menjaga stabilitas harga komoditas pangan strategis
Operasionalisasi tambang gas alam di Solok Selatan diprakirakan akan mampu meredam tekanan inflasi pada
(Sumatera Barat) diprakirakan juga turut mendorong triwulan mendatang, khususnya untuk komoditi pangan.
perbaikan kinerja ekspor. Selain kedua faktor di atas,
rencana masuknya 3 perusahaan PMA di Batamindo – Inflasi Sumatera pada keseluruhan tahun 2019
Kepri pada Februari 2019 yang bergerak di bidang diprakirakan lebih tinggi dibandingkan 2018, namun
manufaktur untuk elektronik dengan pasar ekspor juga tetap berada pada kisaran sasaran inflasi nasional,
memperkuat potensi peningkatan ekspor dari Sumatera. yaitu 3,5%±1,0%. Tekanan inflasi pada tahun 2019 akan
Dengan perkembangan tersebut, diprakirakan memberi didorong oleh kelompok bahan makanan, kelompok
dorongan perbaikan konsumsi rumah tangga, selain transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Tekanan pada
beberapa faktor tambahan seperti (i) kenaikan UMP kelompok ini diprakirakan akan bersumber dari
sebesar 8,03% dan gaji ASN/TNI/POLRI sebesar 5%, (ii) penyesuaian batas bawah tarif angkutan udara. Sementara
peningkatan nominal bantuan sosial PKH dan BPNT, (iii) itu, inflasi kelompok bahan makanan diprakirakan
kenaikan alokasi dana desa padat karya sebesar 9%, serta meningkat karena pengaruh El Nino dalam skala ringan
peningkatan aktivitas pada saat Pileg dan Pilpres serentak. yang mempengaruhi produksi bahan makanan. Sementara
Sementara dari sisi konsumsi Pemerintah, juga akan di kelompok makanan jadi, minuman, dan rokok/tembakau
meningkat seiring peningkatan alokasi TKDD 2019 serta diperkirakan akan menjadi penahan tekanan inflasi pasca
belanja persiapan dan penyelenggaraan Pileg dan Pilpres. pembatalan cukai rokok sepanjang tahun 2019. Untuk
memitigasi risiko kenaikan inflasi ke depan tersebut, TPID
Dari sisi LU, perekonomian Sumatera tahun 2019 di Sumatera akan fokus terhadap 3 kebijakan utama yaitu
diprakirakan masih didorong oleh sektor berbasis meredam volatilitas harga, memperpendek rantai
Sumber Daya Alam (SDA) dan pendukungnya. distribusi, dan memperkuat basis data. Upaya peredaman
Implementasi kebijakan Pemerintah terkait program B20, volatilitas harga dilakukan dengan menjaga ketersediaan
intensifikasi pertanian (seperti replanting, pembangunan pasokan dengan Pasar Murah bekerja sama dengan Bulog
embung/waduk, sistem irigasi, bibit unggul, pemupukan) dan Toko Tani Indonesia (TTI). Penguatan sinergi dengan
menjadi pendorong pertumbuhan LU pertanian. Demikian Satgas Pangan akan terus dilakukan untuk memantau dan
pula perkembangan harga internasional, khususnya CPO memperpendek rantai distribusi. Selanjutnya untuk
dan penurunan tarif impor CPO oleh India diperkirakan penguatan basis data diperlukan sinergi dengan
turut memberikan dorongan pada LU pertanian. Kementerian dan Organisasi Perangkat Daerah yang
Selanjutnya rencana beroperasinya 3 perusahaan PMA terkait. Selain itu mengacu pada Roadmap Pengendalian

21
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Inflasi Daerah 2019-2021, terdapat 8 program strategis
yang menjadi fokus utama selama tiga tahun kedepan,
yaitu (1) stabilitas harga, (2) pengelolaan permintaan, (3)
penguatan produksi, (4) penguatan kelembagaan, (5)
penguatan kerjasama antardaerah, (6) peningkatan
infrastruktur, (7) peningkatan kualitas data, dan (8)
penguatan koordinasi.

22
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
BOKS 1

STRATEGI DIVERSIFIKASI SUMBER PERTUMBUHAN EKONOMI: STUDI


KASUS RIAU

Gambaran Perekonomian Riau menunjukkan tren yang semakin lebar. Pada 2012,
pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 6,0%, atau lebih
Riau merupakan salah satu backbone produksi minyak
tinggi 0,3% dibandingkan pertumbuhan ekonomi
bumi nasional sejak mulai berproduksi pada 1952. Pada
Sumatera yang tercatat 5,7%. Akan tetapi, pada 2018 gap
puncak periode commodity boom tahun 2008, produksi
antara pertumbuhan ekonomi nasional dengan Sumatera
minyak Riau mencapai sekitar 143,8 juta barrel atau sekitar
semakin melebar menjadi sekitar 0,6%.
42,3% produksi minyak bumi nasional. Namun seiring
berjalannya waktu terjadi natural declining cadangan
minyak bumi sehingga mengakibatkan produksi minyak
Riau pada tahun 2018 hanya mencapai sekitar 80,2 juta
barrel atau sekitar 29,7% produksi minyak bumi nasional.
Sejumlah upaya inovasi teknologi telah dilakukan untuk
tetap mempertahankan kinerja lifting minyak bumi Riau, di
antara melalui injeksi uap (steam flood) di lapangan Duri
dan injeksi air (water flood) di lapangan Minas. Namun,
natural declining tetap tidak terelakkan hingga saat ini.
Sumber: BPS, diolah
Grafik II.34. Perkembangan Pangsa 3 Provinsi Besar di Sumatera

Sumber: BPS, diolah


Grafik II.33. Perkembangan Pangsa Sektor Pertambangan Riau

Penurunan lifting minyak menyebabkan pertumbuhan


ekonomi Riau menjadi terbatas. Hal ini disebabkan oleh Sumber: BPS dan SKK Migas, diolah
sektor pertambangan dan penggalian yang terkontraksi Grafik II.35. Kinerja Minyak Bumi Riau dan Pertumbuhan Ekonomi
Riau, Sumatera, dan Nasional
rata-rata 4,86% per tahun. Dampaknya sumbangan sektor
tersebut dalam perekonomian Riau menurun signifikan.
Sebagai gambaran, pada 2010 sektor pertambangan dan Upaya Diversifikasi Sumber
penggalian Riau menyumbang sekitar 32,6% Pertumbuhan Ekonomi Riau
perekonomian Riau. Seiring dengan menurunnya lifting
Pemda Riau telah berupaya mendorong perbaikan
minyak, andil sektor pertambangan dan penggalian
kinerja perekonomian melalui berbagai kebijakan.
tersebut turun menjadi 19,1% pada 2018 (Grafik II.33).
Harga minyak dunia yang terus menunjukkan perlambatan
Selain dari sisi produksi lifting minyak yang terus menurun,
sejak 2011 dan mengalami kontraksi terdalam pada 2015
tren penurunan harga minyak juga menambah tekanan
direspon dengan memperbesar alokasi anggaran pada dua
pada pertumbuhan ekonomi Riau. Rata-rata pertumbuhan
bidang urusan, yakni (i) urusan industri dan perdagangan,
ekonomi Riau periode 2010 – 2018 hanya mencapai 2,99%
dan (ii) urusan sosial. Pada rentang 2011 – 2015, porsi
per tahun. Akibatnya, sejak tahun 2016 posisi Riau dalam
APBD untuk belanja urusan industri dan perdagangan
ekonomi Sumatera tidak lagi memberikan kontribusi
berangsur-angsur meningkat dari 1,4% menjadi 2,1%. Pada
terbesar (Grafik II.34). Kondisi tersebut membuat selisih
2015, kenaikan porsi anggaran paling besar dalam APBD
antara pertumbuhan ekonomi Sumatera dan nasional

23
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
ditujukan untuk mendukung pembangunan industri penyaluran biodiesel tahun 2018 3,47 juta KL berasal dari
pengolahan melalui hilirisasi produk SDA. Secara konkrit Riau, sementara pada 2019 ditargetkan akan terjadi
dilakukan pengembangan wilayah industri dengan penambahan penyaluran menjadi sebesar 6,19 juta KL atau
dukungan dana sebesar Rp145,1 miliar, naik dibandingkan dengan porsi 51% dari kapasitas industri biodiesel
tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp72,7 miliar. nasional. Dengan perkiraan kebutuhan FAME yang cukup
besar di masa mendatang (proyeksi produksi CPO dunia
Lebih lanjut, upaya hilirisasi produk turunan minyak
oleh World Bank yang berkisar 73,6 juta MT), maka insentif
kelapa sawit di kawasan industri menjadi alternatif.
dari sisi harga akan mendorong perkembangan hilirisasi
Salah satu kawasan industri yang telah cukup berkembang
CPO di masa mendatang. Dengan demikian, implementasi
adalah Kawasan Industri Dumai (KID) yang berdiri sejak
program B20 diperkirakan akan mendorong perekonomian
2010 di Pelintung. Dalam kawasan industri tersebut,
Riau, sekaligus perekonomian Sumatera secara
setidaknya terdapat 10 perusahan industri berbasis minyak
keseluruhan. Di sisi nasional, peningkatan suplai FAME
kelapa sawit dan turunannya yang telah beroperasi, salah
untuk proses produksi biodiesel juga akan mengurangi
satunya adalah pabrik pupuk NPK (Nitrogen Phosfat
kebutuhan impor minyak dan/atau solar yang selama ini
Kalium). Selain itu, KID juga dilengkapi satu dermaga
turut memengaruhi defisit neraca transaksi berjalan.
ekspor dengan kapasitas sandar mencapai tiga kapal
tanker dalam waktu bersamaan. Untuk memastikan
hilirisasi dapat berjalan dengan baik, suplai listrik PLTU
berkapasitas 2 X 150 MW menjadi sumber energi utama,
selain suplai gas yang juga telah tersedia di kawasan ini.
Dari sisi akses, untuk menuju ke KID, dari Kota Dumai
dapat melalui jalan provinsi dengan kondisi yang baik.
Pengembangan kawasan industri lainnya juga sedang
dilakukan pemerintah daerah, yakni Kawasan Industri
Tanjung Buton (KITB) (Gambar II.1). KITB pada awalnya
diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Siak pada 2004
melalui Perda No.8 tahun 2004, yang kemudian
dikembangkan bersama dengan melibatkan Pemerintah
Daerah Riau dan Pemerintah Pusat.

Sumber: berbagai sumber, diolah


Gambar II.1. Denah Pengembangan Kawasan Industri Turunan
CPO di Riau

Program B20 Pemerintah Pusat berdampak positif


pada berkembangnya industri refinery berbasis minyak
kelapa sawit. Di Riau terdapat 7 perusahaan aktif bahan
bakar nabati (biodiesel) dengan kapasitas produksi sekitar
5
4,52 juta KL . Dibandingkan dengan wilayah lainnya,
Sumatera memiliki kapasitas produksi fatty acid methyl
esters (FAME) terbesar di Indonesia yaitu 60,8% dari total
kapasitas produksi nasional. Pada 2018, dari realisasi

5
Sumber: Kementerian ESDM, 2018
24
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
BOKS 2

PENGEMBANGAN DANAU TOBA DALAM MENOPANG


PENERIMAAN DEVISA PARIWISATA

Perkembangan Pariwisata Sumatera mengakses Danau Toba melalui Bandara Kualanamu dan
dilanjutkan dengan jalur darat atau melalui Bandara
Utara Silangit yang posisinya relatif lebih dekat dengan Danau
Sumatera Utara merupakan salah satu pintu masuk utama Toba. Kendati kunjungan wisman pada 2018 menurun,
wisatawan mancanegara (Wisman) setelah Bali, Jakarta – penerimaan devisa yang tercatat untuk Danau Toba masih
6 7
Banten, dan Kepulauan Riau . Berdasarkan data BPS, cukup besar yaitu sekitar USD254 juta .
jumlah kunjungan wisman ke Sumatera Utara terus
meningkat hingga tahun 2017 dengan pertumbuhan 2016- Pengembangan Danau Toba
2017 sebesar 15,9% (yoy). Pada 2018 kunjungan wisman ke Dalam rangka meningkatkan penerimaan devisa dari
Sumatera Utara turun 14,5% (yoy) menjadi sekitar 231 ribu sektor pariwisata, Pemerintah melalui Badan Otorita
8
orang (Grafik II.36), karena bencana meletusnya Gunung Pengelolaan Kawasan Pariwisata Danau Toba (BPODT)
Sinabung yang berlokasi di Kabupaten Karo sekitar 70 km telah melakukan pengembangan Danau Toba mulai dari
barat daya Danau Toba pada Februari 2018, tanah longsor perbaikan akses, penyediaan amenitas, penambahan
di jalan utama menuju Toba (Siantar-Parapat) pada akhir atraksi, serta metode promosi dan penyiapan sumber daya
tahun 2018, serta tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar manusia, bekerja sama dengan kementerian/lembaga
Bangun di kawasan Danau Toba pada Juni 2018. Namun, terkait.
dampak beberapa bencana alam tersebut diperkirakan
hanya bersifat temporer ditandai dengan tetap adanya
Perbaikan Akses
pertumbuhan jumlah kunjungan wisman dari beberapa Bandara Silangit sebagai bandara yang lokasinya
negara seperti Malaysia, Singapura, dan India pada 2018 paling dekat dengan Danau Toba telah dikembangkan.
dan diprakirakan terus meningkat pada 2019, Jumlah penumpang yang melalui Bandara Silangit terus
meningkat dalam 3 tahun terakhir. Pada 2016 Bandara
Silangit melayani 155 ribu penumpang, kemudian pada
2017 meningkat menjadi 282 ribu, dan pada 2018 hampir
9
mencapai 500 ribu penumpang . Dengan perkembangan
tersebut, maka Pemerintah melalui PT Angkasa Pura II
telah meningkatkan kapasitas terminal penumpang yang
mampu menampung hingga 1 juta penumpang per
tahunnya. Selain kapasitas di sisi darat (land side), PT
Angkasa Pura II juga meningkatkan kapasitas sisi udara (air
side) dengan memperpanjang landasan pacu (run way) dan
Sumber: BPS-diolah memperluas apron (area parkir pesawat). Kemudian untuk
Grafik II.36. Perkembangan Wisman ke Sumatera Utara
Berdasarkan Asal Negara
menyiasati kondisi cuaca yang sering berkabut di wilayah
tersebut, maka PT Angkasa Pura II saat ini sedang
melakukan penambahan Instrument Landing System (ILS) di
Salah satu objek wisata utama di Sumatera Utara
Bandara Silangit. Dengan penyediaan ILS tersebut, proses
adalah Danau Toba. Wisman yang datang ke Danau Toba
take off dan landing pesawat pada saat cuaca berkabut
didominasi oleh wisatawan asal Malaysia, Singapura, dan
Thailand dengan pangsa 69%. Sementara porsi wisman
7
asal negara lain relatif kecil, yakni asal Hongkong, India, Pendekatan perhitungan devisa menggunakan data Neraca
Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Tiongkok (pangsa 9%), Pembayaran Indonesia, Bank Indonesia (termasuk spending
wisman yang transit).
diikuti turis dari kawasan Eropa (pangsa 8%), serta Amerika 8
BPODT dibentuk oleh Presiden pada tanggal 1 Juni 2016 untuk
Serikat dan Australia (pangsa 4%). Wisatawan dapat melaksanakan pengembangan Kawasan Pariwisata Danau Toba.
Badan ini berada dibawah dan bertanggung jawab kepada
Presiden.
6 9
Pintu masuk melalui pelabuhan udara dan pelabuhan laut. Sumber: Angkasa Pura 2
25
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
atau malam hari tetap dapat dilakukan dengan aman, melakukan pembersihan air dengan penggunaan nano
sehingga penambahan frekuensi dan rute penerbangan, teknologi. Selain upaya perbaikan lingkungan, Pemda dan
termasuk untuk rute internasional, dapat meningkat BPODT juga menyiapkan atraksi berupa 17 kegiatan
melengkapi penerbangan dari Kuala Lumpur yang saat ini tahunan yang sudah menjadi calendar of event Pariwisata
telah beroperasi. Selain perbaikan akses di sisi udara, Indonesia. Lebih lanjut, pada 2018 juga telah dilakukan
kemudahan transportasi di sekitar destinasi juga diperkuat, inisiasi pengembangan desa wisata kerja sama BPODT,
antara lain kerja sama BPODT dengan DAMRI terkait Pemda dan Bank Indonesia.
penyediaan shuttle Silangit – Parapat, Silangit – Huta
Penyiapan Sumber Daya Manusia (Pelaku)
Ginjang, Silangit – Balige; kerja sama dengan moda
transportasi daring untuk mendorong digitalisasi; serta Peningkatan kualitas SDM juga telah dilakukan untuk
penyediaan KMP Ihan Batak dengan kapasitas 300 GT memperkuat hospitality kepada wisman. Beberapa
untuk transportasi di Danau Toba, di mana pada 2019 pelatihan SDM pendukung pariwisata yang telah dilakukan
masih akan dilakukan penambahan. Ke depan, peningkatan antara lain berupa pelatihan bahasa Inggris kepada
akses ke Danau Toba dari Medan yang merupakan pintu masyarakat Desa Sigapiton, pelatihan Go Digital kepada
masuk utama wisman di Sumatera Utara juga sedang UMKM di wilayah Danau Toba, dan program beasiswa
dalam tahap pengembangan. Selain itu dalam jangka kepada warga bekerja sama dengan Politeknik Pariwisata,
pendek, Tol Kualanamu-Tebing Tinggi sepanjang 61 km Bandung. Ke depan program pengembangan kompetensi
ditargetkan beroperasi pada akhir 2019. SDM tersebut akan terus diperkuat dan diperluas.

Penyediaan Amenitas dan Pengembangan


Atraksi
Area pengembangan atraksi pendukung dan
penyediaan amenitas di Danau Toba sedang
dipersiapkan oleh BPODT. Lebih dari 380 ha lahan
sedang dalam proses penyediaan dan pembebasan, di
mana 279 ha di antaranya telah selesai proses pengurusan
dokumen. Lahan tersebut akan menjadi lokasi
pengembangan atraksi pendukung dan amenitas,
termasuk akomodasi. Bahkan dalam Pertemuan Tahunan
IMF-World Bank pada Oktober 2018, terdapat 7 investor
yang telah berkomitmen untuk membangun hotel dan
sarana pendukung lainnya. Sembari mempersiapkan hal
tersebut, BPODT juga akan menginisiasi pengembangan
fasilitas Nomadic Tourism dan Homestay (Ecopod), dengan
beragam amenitas pendukungnya antara lain Tourist
Information Centre (TIC), Amphitheatre, Bell Tent Area,
Caravan Area, dan Cabin Villa. Pengembangan tersebut
sejalan dengan preferensi wisman advanced countries
berdasarkan hasil Survei Preferensi Wisatawan
Internasional di Sumatera Utara yang dilakukan oleh
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara,
yang menunjukkan bahwa preferensi wisatawan asal Eropa
terhadap daerah wisata alam, antara lain wisata agro,
wisata petualangan, wisata air, tur keliling desa, dan
pertunjukan budaya.

Selain Danau Toba yang merupakan atraksi utama,


atraksi pendukung juga dipersiapkan untuk
meningkatkan length of stay. Terdapat setidaknya 16
situs Geo-Site yang berada di sekitar kawasan Danau Toba.
Dalam kaitan tersebut, untuk mendapatkan predikat Global
Geopark diperlukan penataan untuk sustainability kondisi
lingkungan di kawasan Danau Toba, di antaranya dengan

26
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
BAGIAN 3
PEREKONOMIAN JAWA

Pertumbuhan ekonomi Jawa pada triwulan IV 2018 menguat dibandingkan triwulan sebelumnya, ditopang oleh
permintaan domestik. Dorongan permintaan domestik terutama berasal dari akselerasi belanja pemerintah pada akhir
tahun. Sementara konsumsi swasta dan investasi tetap tumbuh kuat meski tidak setinggi triwulan sebelumnya. Dari
sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi Jawa didorong oleh pertanian seiring berlangsungnya panen padi dan
produk hortikultura di beberapa daerah. Dengan perkembangan tersebut, maka secara keseluruhan 2018,
pertumbuhan ekonomi Jawa lebih tinggi dari 2017. Peningkatan pertumbuhan bersumber dari perbaikan konsumsi
dan ekspor luar negeri, serta investasi yang masih tumbuh tinggi meski tidak sebesar 2017. Perbaikan ekspor didorong
oleh perluasan pasar dan peningkatan permintaan produk alat transportasi. Pertumbuhan ekspor dan investasi yang
tetap tinggi menjadi sumber peningkatan konsumsi selain dukungan stimulus belanja Pemerintah terkait dengan
Asian Games dan Pilkada serentak, serta program sosial.

Pada triwulan I 2019 ekonomi Jawa diprakirakan tetap tumbuh kuat meski tidak setinggi triwulan sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut akan ditopang oleh penguatan konsumsi rumah tangga karena front loading belanja subsidi
dan bantuan sosial, serta belanja persiapan pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres) maupun Pemilihan Legislatif
(Pileg) 2019. Sementara kinerja ekspor dan realisasi belanja pemerintah daerah diperkirakan belum optimal pada
awal tahun. Secara keseluruhan 2019 perekonomian Jawa diprakirakan juga tetap tumbuh kuat didorong oleh
konsumsi swasta karena meningkatnya penghasilan (UMP & gaji PNS, kenaikan alokasi bansos Pemerintah), maupun
peningkatan belanja pemerintah untuk dana desa dan kelurahan serta penyelenggaraan Pemilu. Sementara,
permintaan produk ekspor industri di Jawa berpotensi tumbuh melambat, sejalan dengan pelambatan pertumbuhan
ekonomi negara mitra dagang utama.

Dari sisi harga, inflasi Jawa pada 2018 tercatat 3,24% (yoy), lebih rendah dari realisasi 2017 dan berada dalam kisaran
target inflasi tahun 2018 sebesar 3,5±1%. Tekanan inflasi Jawa yang mereda pada tahun 2018 didorong oleh inflasi
Administered Price (AP) yang rendah seiring dengan terbatasnya dampak kenaikan harga minyak dunia dan
berlalunya dampak kenaikan inflasi listrik pada 2017. Memasuki triwulan I 2019, tekanan inflasi diprakirakan lebih
rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Penurunan inflasi dipengaruhi oleh peningkatan pasokan akibat
masuknya periode musim panen untuk komoditas pangan seperti beras dan tanaman hortikultura. Secara keseluruhan
2019, inflasi diprakirakan tetap berada dalam kisaran target inflasi 3,5±1% dan berada di bawah angka inflasi 2018,
utamanya didukung oleh penurunan tekanan inflasi kelompok bahan makanan karena peningkatan pasokan akibat
kondisi cuaca yang lebih kondusif.

Perekonomian Jawa tumbuh meningkat pada triwulan triwulan sebelumnya karena impor barang modal terkait
IV 2018 didorong oleh peningkatan konsumsi infrastruktur serta impor bahan baku mulai melambat.
pemerintah. Akselerasi konsumsi pemerintah terutama Sementara ekspor tumbuh terbatas, khususnya produk
didorong oleh realisasi penyerapan belanja pemerintah, industri karena melemahnya permintaan negara mitra
khususnya transfer ke daerah, di antaranya Dana Desa yang dagang sejalan dengan perlambatan ekonomi dunia. Secara
pada triwulan IV 2018 mencapai 99,4% dan realisasi belanja spasial, pertumbuhan Jawa ditopang oleh akselerasi
pemerintah daerah. Pertumbuhan ekonomi Jawa pada perekonomian yang terjadi di hampir seluruh daerah di
triwulan IV 2018 tertahan oleh perlambatan investasi dan Jawa, kecuali Jawa Barat akibat perlambatan kinerja industri
konsumsi rumah tangga (Grafik III.1). Investasi Jawa (Tabel III.1).
mengalami perlambatan seiring dengan penyelesaian
Tabel III.1. Pertumbuhan Ekonomi Daerah di Jawa
beberapa proyek infrastruktur strategis antara lain Tol Provinsi
2017
2017
2018
2018
I II III IV I II III IV
Becakayu (80%), Tol Bogor Ring Road, Tol Solo-Ngawi dan DKI Jakarta 6.47 6.08 6.41 5.84 6.20 5.95 5.92 6.38 6.41 6.17
Tol Semarang-Solo. Sementara konsumsi swasta, meski Jawa Barat 5.36 5.24 5.13 5.69 5.35 5.90 5.61 5.57 5.50 5.64
Banten 5.95 5.55 5.65 5.78 5.73 5.84 5.54 5.89 5.98 5.81
masih tumbuh kuat didorong pola musiman belanja terkait Jawa Tengah 5.31 5.17 5.15 5.40 5.26 5.37 5.43 5.21 5.28 5.32
Natal dan Tahun Baru, namun tidak setinggi triwulan DI Yogyakarta 5.16 5.21 5.42 5.25 5.26 5.41 5.92 6.04 7.39 6.20
Jawa Timur 5.37 5.05 5.64 5.76 5.46 5.42 5.55 5.37 5.65 5.50
sebelumnya pasca penyelenggaraan Asian Games. Masih Jawa 5.70 5.44 5.66 5.71 5.62 5.70 5.65 5.72 5.82 5.72
kuatnya dorongan permintaan domestik tersebut, Sumber: BPS (diolah)
mendorong pertumbuhan impor namun tidak sekuat

27
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Dari sisi LU, perekonomian Jawa pada 2018 didorong
oleh industri pengolahan dan perdagangan. Peningkatan
kinerja LU industri pengolahan didukung permintaan luar
negeri dan domestik. Peningkatan permintaan luar negeri
tercermin dari kinerja ekspor hingga triwulan IV 2018.
Akselerasi LU industri pengolahan tersebut sejalan dengan
peningkatan kapasitas produksi melalui pembangunan
pabrik baru dan penambahan mesin produksi oleh
beberapa pabrikan besar Jawa. Selanjutnya peningkatan
kinerja LU perdagangan didorong oleh penyelenggaraan
Sumber: BPS (diolah)
Grafik III.1. Pertumbuhan Ekonomi Menurut Penggunaan beberapa event internasional Pemerintah dan peningkatan
konsumsi RT yang terkonfirmasi dari nilai transaksi
Dari sisi LU, peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa penjualan ritel dan on line di sepanjang tahun 2018.
pada triwulan IV 2018 ditopang kinerja pertanian dan
jasa keuangan. Peningkatan kinerja pertanian ditopang Sisi Penggunaan
oleh peningkatan produksi komoditas pertanian, sementara Konsumsi
perbaikan kinerja lapangan usaha jasa keuangan ditopang Dorongan pertumbuhan konsumsi, terutama berasal
oleh peningkatan aktivitas pasar modal. Sementara, LU dari konsumsi Pemerintah. Konsumsi pemerintah
industri pengolahan melambat sejalan dengan perlambatan mengalami akselerasi sejalan dengan pemenuhan target
pertumbuhan ekspor produk industri, kemudian LU belanja daerah. Kenaikan konsumsi pemerintah didorong
konstruksi melambat sejalan dengan penyelesaian proyek oleh kenaikan alokasi Dana Desa sebesar 3,1% dari Rp18,65
infrastruktur Pemerintah, serta pelambatan perdagangan triliun pada 2017 menjadi Rp19,23 triliun pada 2018. Hingga
mengonfirmasi perlambatan konsumsi RT. triwulan IV 2018, realisasi Dana Desa mengalami akselerasi
cukup tinggi dari triwulan sebelumnya sehingga berhasil
mencapai realisasi sebesar 99%. Pertumbuhan konsumsi
pemerintah yang tinggi juga dipengaruhi oleh base effect
triwulan IV 2017 akibat shortfall penerimaan pajak.

Sumber: BPS (diolah)


Grafik III.2. Pertumbuhan Lapangan Usaha Utama Jawa

Secara keseluruhan 2018, perekonomian Jawa tumbuh


5,72% (yoy), lebih tinggi dari 2017. Pertumbuhan
tersebut didorong oleh peningkatan konsumsi swasta, Sumber: Bank Indonesia dan Gaikindo
Grafik III.3. Perkembangan Indikator Konsumsi RT
pemerintah, dan ekspor luar negeri. Dorongan
pertumbuhan ekspor barang dan jasa dipengaruhi oleh
Sementara konsumsi Rumah Tangga (RT) tetap tumbuh kuat
perluasan pasar ekspor otomotif ke Sri Lanka, Bangladesh,
meskipun tidak setinggi triwulan sebelumnya, pasca
dan Thailand, serta peningkatan kunjungan wisman pada
penyelenggaraan Asian Games. Selain itu, penurunan
event Asian Games dan IMF-World Bank Annual Meeting.
konsumsi RT juga dikarenakan kecenderungan untuk
Sedangkan, kenaikan belanja pemerintah didorong oleh
menahan pembelian barang tahan lama, yang terkonfirmasi
penyelenggaraan event Asian Games dan Pilkada serentak
dari perlambatan penjualan mobil, dan perlambatan
pada tahun 2018. Dorongan peningkatan ekspor,
penyaluran Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) dari triwulan
peningkatan alokasi belanja pemerintah, termasuk program
sebelumnya (Grafik III.3). Namun secara keseluruhan tahun
bantuan sosial, memengaruhi perbaikan tingkat
2018, baik konsumsi Rumah Tangga (RT) maupun
pendapatan masyarakat. Selain itu, inflasi yang rendah dan
Pemerintah tumbuh lebih tinggi dari 2017. Kenaikan
terkendali juga mendukung peningkatan konsumsi pada
pendapatan masyarakat dikarenakan peningkatan UMP dan
keseluruhan 2018.
gaji ASN, peningkatan alokasi bansos nontunai baik

28
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan khususnya sektor telekomunikasi untuk pembangunan
Non Tunai (BPNT) sebesar 17%, serta terjaganya inflasi yang infrastruktur digital dalam mendukung pelaksanaan Pemilu
rendah dan stabil. Sementara, kenaikan belanja pemerintah dan Pilpres 2019. Sementara investasi bangunan pada
2018 didorong oleh peningkatan, penyelenggaraan event triwulan I 2019 masih akan tumbuh lebih rendah seiring
Asian Games dan Pilkada serentak pada tahun 2018. penundaan rencana belanja modal korporasi pasca Pilpres
2019.
Pada triwulan I 2019, konsumsi rumah tangga dan
pemerintah diprakirakan tumbuh lebih tinggi dari
triwulan IV 2018. Beberapa faktor menjadi pendorong
konsumsi RT pada triwulan I 2019, antara lain kenaikan upah
minimum dan penyaluran bantuan sosial Program Keluarga
Harapan (PKH) pada Januari 2019. Secara umum, Upah
Minimum Provinsi (UMP) 2019 di Jawa meningkat sebesar
8,03%. Upah Minimum Sektoral (UMS), khususnya di
kabupaten/kota yang merupakan basis industri mengalami
peningkatan yang lebih tinggi, misal UMS DKI Jakarta 2019
naik sekitar + 28% dari UMP. Indikasi penguatan daya beli
Sumber: Bank Indonesia dan Dirjen Bea Cukai (diolah)
rumah tangga tercermin dari hasil Survei Konsumen Bank Grafik III.4. Perkembangan Indikator Investasi
Indonesia. Sementara untuk belanja Pemerintah
diperkirakan meningkat karena belanja persiapan Kinerja Ekspor-Impor
pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan
Legislatif (Pileg) pada April 2019.

Investasi
Pertumbuhan investasi pada triwulan IV 2018 melambat
seiring penyelesaian beberapa Proyek Strategis
Nasional (PSN). Beberapa PSN yang memasuki fase
finishing tersebut antara lain adalah Tol Ngawi-Kertosono di
Jawa Timur yang resmi beroperasi pada 20 Desember 2018,
proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta fase I, dan double
track railway Jawa bagian selatan. Selain itu, penundaan Sumber: Bea Cukai (diolah)
Grafik III.5. Perkembangan Ekspor dan Impor Barang
pembangunan sejumlah infrastruktur kelistrikan antara lain
Non Migas Luar Negeri
PLTU Indramayu dan PLTA Lodoyo, juga turut berkontribusi
pada perlambatan investasi pada triwulan IV 2018. Ekspor luar negeri (LN) tumbuh melambat pada triwulan
Perlambatan investasi terkonfirmasi oleh hasil Survei IV 2018. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh perlambatan
Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang menunjukkan pertumbuhan permintaan dari negara mitra dagang utama
penurunan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) investasi dan yaitu Tiongkok, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang
melambatnya pertumbuhan penyaluran kredit investasi sebagaimana terindikasi dari penurunan PMI pada triwulan
(Grafik III.3). Dengan perkembangan tersebut, maka laporan. Perlambatan ekspor terjadi pada seluruh sektor
investasi secara keseluruhan tahun 2018 tumbuh melambat unggulan Jawa seperti tekstil dan produk tekstil (TPT),
karena menurunnya belanja investasi bangunan pemerintah makanan dan minuman, serta elektronik. Sementara
dan swasta, dibandingkan tahun 2017. Hal ini tercermin dari pertumbuhan impor melambat dibandingkan triwulan
selesainya beberapa Proyek Strategis Nasional (PSN) yang sebelumnya karena perlambatan impor barang modal
telah memasuki fase finishing dan penurunan belanja modal sejalan dengan pelambatan investasi bangunan
beberapa korporasi utama. infrastruktur, dan impor bahan baku sejalan dengan
Investasi diprakirakan mengalami akselerasi pada melambatnya kinerja industri pengolahan, antara lain
triwulan I 2019 didukung oleh perbaikan iklim investasi. sebagaimana terjadi pada industri elektronik dan TPT.
Beberapa faktor yang mendorong perbaikan investasi Secara keseluruhan 2018, kinerja ekspor LN meningkat
tersebut adalah perbaikan aksesibilitas seiring penyelesaian didorong perluasan ekspor otomotif ke Sri Lanka dan
pembangunan infrastruktur konektivitas, seperti Tol Trans Thailand serta pembukaan akses ekspor CBU ke Vietnam
Jawa dan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan pada awal tahun. Selain ekspor barang, ekspor jasa juga
pelayanan pengurusan izin berinvestasi. Peningkatan meningkat karena peningkatan wisman peserta Asian
investasi terutama berasal dari jenis investasi nonbangunan, Games 2018.

29
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Pada triwulan I 2019, kinerja ekspor LN diprakirakan Perlambatan ekspor tersebut karena perlambatan
melambat, demikian pula dengan impor LN. Perlambatan permintaan dari sejumlah negara mitra dagang. Adapun
ekspor seiring dengan volume perdagangan internasional perlambatan kinerja industri pengolahan terpantau dari
yang diprakirakan melambat karena pertumbuhan ekonomi Prompt Manufacturing Index (PMI) yang lebih rendah
global yang lebih rendah. Dengan kondisi tersebut, maka dibanding triwulan IV 2018. Kondisi tersebut juga
kinerja industri pengolahan berorientasi ekspor diprakirakan dikonfirmasi oleh data penurunan pertumbuhan produksi
belum optimal pada awal tahun, sehingga kebutuhan impor mobil dari 11,2% pada triwulan III 2018 menjadi 18,2% pada
industri juga diprakirakan tumbuh melambat. triwulan IV 2018 (Grafik III.7). Namun demikian, beberapa
produk ekspor industri pengolahan masih tercatat
Sisi Lapangan Usaha mengalami peningkatan khususnya produk otomotif, kertas,
Pertanian dan TPT.
LU pertanian pada triwulan IV 2018 tumbuh positif Secara keseluruhan 2018, kinerja industri pengolahan
setelah triwulan sebelumnya mengalami kontraksi. didorong oleh membaiknya permintaan domestik dan
Pertumbuhan LU pertanian Jawa ditopang oleh ekspor LN. Kondisi ini direspon oleh sektor riil melalui
berlangsungnya panen komoditas pangan antara lain peningkatan kapasitas produksi, baik melalui pembangunan
bawang merah dan beras di beberapa daerah pada akhir pabrik baru maupun penambahan mesin produksi oleh
tahun 2018. Peningkatan kinerja LU pertanian juga industri BUMN strategis dan korporasi utama. Perluasan
dikonfirmasi oleh peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) yang pasar ekspor terjadi pada sub sektor TPT, kertas, dan
tercatat tertinggi selama lima tahun terakhir dan otomotif baik di pasar Asia maupun Timur Tengah.
peningkatan pertumbuhan kredit pertanian (Grafik III.6).
Secara keseluruhan 2018, kinerja LU pertanian melambat
dibandingkan tahun 2017 seiring penurunan di subsektor
peternakan. Peningkatan biaya produksi akibat kebijakan
terkait penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) pada
ternak unggas menjadi salah satu penyebab tertekannya
kinerja peternakan. Selain itu, kemarau yang berlangsung
lebih panjang juga mengakibatkan terjadinya gagal panen
di beberapa daerah.

Sumber: BPS diolah


Grafik III.7. Perkembangan Indikator Industri Pengolahan

Kinerja industri pengolahan diprakirakan akan tumbuh


moderat pada triwulan I 2019. Perbaikan kinerja industri
pengolahan periode ini didorong oleh kenaikan ekspor LN
untuk produk TPT, kertas, dan makanan minuman ke
ASEAN, Cina, dan Amerika Serikat. Di sisi lain, permintaan
semen dan kertas domestik melemah karena kondisi
oversupply. Penurunan permintaan semen domestik turut
Grafik III.6. Perkembangan Kredit Pertanian
dipengaruhi oleh berakhirnya beberapa proyek strategis
Kinerja LU pertanian diperkirakan akan tertekan pada pemerintah dan belum pulihnya permintaan properti
triwulan I 2019 sebagai dampak perubahan cuaca. Curah residensial.
hujan yang cukup tinggi pada triwulan I 2019 diprakirakan
Konstruksi
akan berdampak negatif pada kelancaran produksi pangan.
Pertumbuhan LU konstruksi mengalami perlambatan
Sampai dengan Februari 2019, setidaknya telah terjadi banjir
pada triwulan IV 2018. Hal ini dikarenakan sejumlah
di sejumlah area pertanian di Banten, Kudus, Pati, dan
proyek infrastruktur telah memasuki tahap finishing. Pada
Banyumas yang merupakan sentra produksi hortikulura dan
triwulan IV 2018 setidaknya tercatat 13 Proyek Strategis
beras.
Nasional (PSN) yang telah memasuki tahap finalisasi dengan
Industri Pengolahan nilai investasi mencapai Rp43 Triliun. Adapun PSN yang
Kinerja LU industri pengolahan mengalami perlambatan sudah diresmikan dan mulai beroperasi pada triwulan IV
seiring dengan melandainya permintaan pasar ekspor. 2018 antara lain jalan Tol Solo-Ngawi, Tol Pejagan-
Pemalang, dan Tol Batang-Semarang. Perlambatan kinerja
30
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
LU konstruksi tercermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Kawasan Jawa pada triwulan IV 2018 dari 13,1 menjadi 10,5,
Usaha (SKDU) Bank Indonesia yang menunjukkan adanya serta menurunnya pertumbuhan kredit pada sektor ini dari
penurunan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) konstruksi pada 18,22 menjadi 15,47 (Grafik III.9).
triwulan IV 2018 (Grafik III.8). Kondisi tersebut,
Namun secara keseluruhan 2018, kinerja perdagangan
mengakibatkan pertumbuhan LU konstruksi tertahan pada
masih meningkat. Dorongan perbaikan kinerja bersumber
keseluruhan tahun 2018. Beberapa proyek infrastruktur
dari penyelenggaraan beberapa event di antaranya Pilkada
pemerintah yang telah selesai antara lain jalan tol, waduk,
serentak dan Asian Games, serta peningkatan konsumsi RT.
dan infrastruktur Asian Games 2018. Selain itu, perlambatan
Peningkatan LU perdagangan juga tercermin dari nilai
LU konstruksi juga dipengaruhi oleh peningkatan kapasitas
transaksi e-commerce di Indonesia yang mencapai Rp100
produksi LU industri pengolahan lebih didominasi oleh
triliun pada tahun 2018 atau tumbuh 17,6% dibandingkan
belanja penambahan mesin produksi seperti yang dilakukan
2017. Adapun perputaran transaksi tertinggi berasal dari
oleh beberapa korporasi di subsektor TPT dan alat
Kawasan Jawa yaitu mencapai 85%. Kinerja LU perdagangan
transportasi, bukan untuk investasi bangunan.
diprakirakan meningkat pada triwulan I 2019 sejalan dengan
peningkatan konsumsi RT pasca kenaikan upah minimum
dan penyaluran bansos PKH tahap I pada Januari 2019, serta
belanja pemerintah terkait persiapan penyelenggaraan
pemilihan umum pada April 2019.

Sumber: SKDU Bank Indonesia


Grafik III.8. Perkembangan Indikator LU Konstruksi

Perlambatan kinerja LU konstruksi diprakirakan masih


berlanjut pada triwulan I 2019. Beberapa proyek yang
telah memasuki tahap finalisasi dan akan beroperasi pada Grafik III.9. Perkembangan Indikator LU Perdagangan

tahun 2019, antara lain proyek MRT Jakarta Tahap I,


pembangunan Tol Ngawi-Kertosono, dan double track Fiskal Daerah
railway. Di samping itu, beberapa proyek infrastruktur
Realisasi belanja APBD di wilayah Jawa sampai dengan
kelistrikan antara lain PLTU Indramayu, PLTA Lodoyo dan
triwulan IV 2018 mengalami peningkatan bila
PLTA Kesamber di Jawa diperkirakan akan mengalami
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
penundaan seiring dengan upaya Pemerintah untuk
Hal ini tercermin dari realisasi Transfer ke Daerah dan Dana
mengendalikan impor. Namun, sejumlah proyek
Desa (TKDD) di wilayah Jawa yang mencapai 97% dari
pembangunan lainnya tetap masih berlanjut antara lain alokasi anggaran. Realisasi ini meningkat dibandingkan
pembangunan bandara New Yogyakarta International
tahun sebelumnya yang hanya sebesar 86%. Peningkatan ini
Airport (NYIA), penambahan runway III Bandara
terutama disumbang oleh realisasi Dana Bagi Hasil dan
Internasional Soekarno Hatta dan beberapa ruas jalan tol di
Dana Alokasi Khusus (Tabel III.3). Realisasi belanja
wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
pemerintah pada triwulan laporan didorong juga oleh
Perdagangan penyerapan Dana Desa yang mencapai 99,4% (yoy) dari
alokasi dan baseline effect akibat shortfall pajak pada
LU perdagangan mengalami perlambatan seiring
triwulan IV 2017. Sementara itu, angka realisasi belanja
konsumsi RT yang tidak sekuat triwulan sebelumnya.
Provinsi dan Kabupaten/Kota di Jawa mencapai 78,5% atau
Perlambatan ini disebabkan oleh melemahnya transaksi
Rp380,7 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan tahun
ekspor impor luar dan dalam negeri. Pelemahan ekonomi
sebelumnya (Tabel III.2).
Kawasan Timur Indonesia dan Sumatera turut memengaruhi
volume perdagangan antarpulau, sebagaimana tercermin Realisasi belanja daerah di tingkat provinsi tercatat
dari penurunan volume bongkar dan muat pelabuhan lebih baik dibandingkan tingkat kabupaten/kota.
masing-masing sebesar 26,92% dan 22,25% pada triwulan Realisasi belanja daerah di tingkat provinsi tercatat 79,0%,
IV 2018. Perlambatan kegiatan usaha perdagangan lebih tinggi dari realisasi APBD tingkat Kabupaten/Kota
terkonfirmasi dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang sebesar 78,2%. Secara spasial, realisasi belanja daerah

31
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
tertinggi terjadi di Provinsi/Kota/Kabupaten D.I. Yogyakarta 2018. Selain itu, penyesuaian harga bahan bakar minyak
yang mencapai 86,44%, sedangkan realisasi terendah (BBM) non subsidi pada akhir 2018 mengakibatkan tekanan
berada di Provinsi Jawa Timur sebesar 77,07% dan lebih inflasi kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan
rendah dari tahun sebelumnya (88,14%). Perbaikan kinerja meningkat.
belanja daerah dipengaruhi oleh kenaikan alokasi bansos,
Tabel III.4. Perkembangan Inflasi Spasial
gaji Aparat Sipil Negara (ASN), dan penyerapan dana desa. 2017 2018
Provinsi 2016
Selain itu, penyelenggaraan Pilkada di tiga provinsi dan 45 I II III IV I II III IV
DKI Jakarta 2.73 3.43 3.94 3.69 3.72 3.23 3.31 2.88 3.27
kabupaten/kota di Jawa serta Asian Games 2018 yang Jawa Barat 2.96 3.37 4.31 3.87 3.63 3.91 3.09 3.17 3.54
mendorong peningkatan belanja daerah. Banten 2.90 3.45 4.60 4.17 3.98 3.55 3.00 3.42 3.42
Jawa Tengah 2.53 3.30 4.61 3.58 3.71 3.39 2.72 2.79 2.82
Tabel III.2. Realisasi Belanja Daerah DI Yogyakarta 2.87 3.40 4.29 3.64 4.20 3.29 2.69 2.77 2.66
Q4 2017 Q3 2018 Q4 2018 Jawa Timur 3.03 3.84 4.66 3.83 4.04 3.17 2.67 2.76 2.86
Provinsi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Realisasi Jawa 2.59 3.47 4.30 3.80 3.78 3.47 3.04 2.98 3.24
(Rp T) (Rp T) (%) (Rp T) (Rp T) (%) (Rp T) (%)
Banten 35.7 30.5 85.5% 37.7 16.8 44.7% 30.5 81.1%
Sumber: BPS, diolah
DKI Jakarta 61.8 51.2 82.9% 71.2 30.9 43.4% 46.7 65.7%
Jawa Barat 125.6 106.6 84.9% 129.0 63.3 49.0% 107.5 83.3%
DI Yogyakarta 15.2 13.6 89.8% 16.2 8.5 52.4% 14.0 86.4%
Jawa Tengah 103.4 88.7 85.7% 108.3 53.4 49.3% 87.3 80.6%
Jawa Timur 117.7 103.7 88.1% 122.8 60.1 48.9% 94.6 77.1%
Jawa 459.4 394.4 85.8% 485.1 232.9 48.0% 380.7 78.5%
Keterangan: APBD Provinsi dan Kabupaten Kota
Sumber: Biro Ekonomi dan TEPRA, diolah

Tabel III.3. Persentase Realisasi Dana Transfer Daerah


DAK Non
Propinsi DBH DAU DD DAK Fisik DID
Fisik
Banten 92% 100% 100% 92% 94% 94%
DIY 71% 100% 104% 92% 96% 100%
DKI Jakarta 83% - 84% -
Jawa Barat 92% 100% 99% 92% 96% 98% Sumber: BPS (diolah)
Jawa Tengah 84% 99% 99% 91% 97% 98% Grafik III.10. Disagregasi Kelompok Inflasi
Jawa Timur 125% 100% 99% 89% 95% 96%
Jawa 94% 100% 99% 91% 95% 97%
Memasuki triwulan I 2019, tekanan inflasi diprakirakan
Sumber: Simtrada – DJPK, diolah
menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi ini
didorong oleh penurunan harga komoditas pangan seperti
Perkembangan Inflasi beras dan hortikultura seiring dengan peningkatan pasokan
Tekanan inflasi Jawa pada triwulan IV 2018 masih di masa musim panen. Selain itu, kembali normalnya pola
berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional 3,5±1%. konsumsi pasca Hari Besar Keagamaan Natal dan Tahun
Inflasi Jawa pada triwulan IV 2018 tercatat 3,24% (yoy), Baru turut mengurangi tekanan inflasi. Sementara itu, inflasi
meningkat dibandingkan triwulan III 2018 yang sebesar tarif angkutan udara dan emas perhiasan berpotensi
2,98% (yoy). Namun, inflasi Jawa tersebut lebih rendah mengalami peningkatan seiring dengan kebijakan
dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 3,78% (yoy). penyesuaian tarif oleh maskapai penerbangan dan
Menurunnya tekanan inflasi pada sepanjang 2018 kecenderungan peningkatan harga emas dunia. Selain itu,
dipengaruhi oleh rendahnya inflasi kelompok transpor, kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan aktivitas
komunikasi, dan jasa keuangan seiring dengan terbatasnya konsumsi selama masa kampanye pemilihan legislatif dan
dampak kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, dampak pemilihan presiden berpotensi meningkatkan tekanan
kenaikan inflasi listrik pada 2017 yang semakin minim dan inflasi pada triwulan I 2019.
inflasi rokok yang melambat turut berkontribusi pada
Capaian inflasi 2018 tidak lepas dari upaya
pencapaian inflasi Jawa 2018. Secara spasial, capaian inflasi
pengendalian inflasi yang dilakukan bersama oleh Tim
Jawa yang cukup rendah pada triwulan IV 2018 ditopang
Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Upaya untuk
oleh inflasi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta
menjaga keterjangkauan harga antara lain dilakukan melalui
(Tabel III.4).
penyelenggaraan operasi pasar murah komoditas pangan
Tekanan inflasi Jawa pada triwulan IV 2018 tetap strategis dan penguatan peran Toko Tani Indonesia.
terkendali, meski meningkat dibandingkan triwulan Sementara itu, sejumlah upaya untuk memastikan
sebelumnya (Grafik III.10). Peningkatan tersebut didorong kelancaran distribusi dilakukan melalui pengembangan
oleh inflasi kelompok rumah, air, listrik, gas dan bahan bakar model bisnis kerjasama perdagangan antar daerah dan
seiring kenaikan sewa dan kontrak rumah serta biaya koordinasi dalam rangka realisasi perbaikan jalan di sentra
pendidikan di tahun ajaran baru yang berlangsung pada produksi pertanian. Terkait dengan upaya peningkatan
triwulan III 2018, namun berdampak hingga triwulan IV pasokan, TPID Jawa telah mengupayakan pembentukan

32
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
sentra peternakan rakyat di Jawa Timur dan pemberian Debt to Equity Ratio (DER) juga membaik seiring
bantuan bibit ikan serta penyuluhan intensifikasi padi peningkatan kemampuan korporasi untuk membayar
menggunakan metode Hazton. Selain itu, upaya kewajiban. Penurunan DER ini sejalan dengan rasio NPL
pengendalian inflasi daerah juga dilakukan melalui kredit korporasi yang mengalami perbaikan pada triwulan III
komunikasi intensif kepada masyarakat terkait informasi 2018. Secara sektoral, DER korporasi terpantau stabil pada
harga maupun jumlah pasokan dalam rangka memelihara seluruh sektor usaha.
ekspektasi inflasi.

Stabilitas Keuangan Daerah


Ketahanan Sektor Korporasi
Kinerja dan ketahanan sektor korporasi di wilayah Jawa
tetap terjaga pada triwulan III 201810. Hal ini terindikasi
dari rasio rentabilitas11 dan repayment capacity12 yang
meningkat. Likuiditas13 dan rasio solvabilitas14 korporasi
tercatat stabil, terlihat dari current ratio dan solvability ratio
yang stabil dibanding periode sebelumnya. Kinerja
Sumber: IDX dan Bloomberg (diolah)
korporasi yang terjaga dipengaruhi oleh permintaan Grafik III.12. Perkembangan Rasio Solvabilitas Korporasi
domestik dan pertumbuhan perekonomian yang stabil,
serta realisasi investasi yang masih berada dalam tren Rasio rentabilitas korporasi meningkat seiring
meningkat. terjaganya profit margin perusahaan pada triwulan III
Rasio likuiditas korporasi tetap stabil pada triwulan III 2018 (Grafik III.13). Kemampuan korporasi dalam
2018. Hal ini tercermin dari Debt Service Ratio (DSR) yang menghasilkan laba mengalami peningkatan sebagaimana
stabil pada level 1,05. Indikator rasio likuiditas yang tercermin dari indikator Return on Assets (ROA) yang
tercermin dari current ratio juga terlihat meningkat menjadi meningkat dari 6,92% menjadi 7,51%, indikator Return on
1,54 atau berada di atas 1, mengindikasikan bahwa Equity (ROE) yang meningkat dari 13,32% menjadi 14,45%,
perusahaan dapat memenuhi kewajiban jangka pendek dan profit margin yang meningkat dari 8,76% menjadi
(Grafik III.11). 9,89%. Secara sektoral, peningkatan rasio ROA dan ROE
terjadi khususnya pada industri TPT, kimia dan sejenisnya,
otomotif dan komponennya, serta tembakau.

Sumber: IDX dan Bloomberg (diolah)


Grafik III.11. Perkembangan Rasio Likuiditas Korporasi
Sumber: IDX dan Bloomberg (diolah)
Pada triwulan III 2018, kemampuan membayar seluruh Grafik III.13. Perkembangan Rasio Rentabulitas Korporasi
kewajiban korporasi membaik terindikasi dari rasio
solvabilitas yang berada pada angka 2,04, dibanding Secara sektoral, seluruh sektor korporasi mengalami
2,01 pada triwulan sebelumnya (Grafik III.12). Rasio ini perbaikan kinerja, terutama pada aspek rentabilitas
menunjukkan bahwa perusahaan memiliki aset dua kali lipat (Tabel III.5). Rasio DER sebagian besar industri cenderung
lebih banyak dari total kewajibannya. Sementara itu, rasio stabil, dengan tingkat DER tertinggi dimiliki oleh industri

10 12
Korporasi di Jawa diwakili oleh 40 (empat puluh) perusahaan Repayment capacity adalah kemampuan korporasi dalam
manufaktur terbesar di Jawa dan tercatat dalam Bursa Efek membayar bunga pinjaman dan juga cicilan pokoknya
Indonesia (IDX). 13
Likuiditas adalah kemampuan korporasi dalam memenuhi
11
Rentabilitas adalah kemampuan korporasi dalam menghasilkan kewajiban finansial jangka pendek
laba atau keuntungan 14
Solvabilitas adalah kemampuan korporasi dalam memenuhi
seluruh kewajibannya

33
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
TPT. Dari sisi rentabilitas, ROA, dan ROE pada hampir dan konstruksi yang merupakan sektor ekonomi utama
seluruh sektor industri meningkat, kecuali industri logam Jawa tercatat membaik. Kualitas kredit yang membaik juga
dan sejenisnya yang mencatatkan angka negatif. Rasio terjadi pada LU pertanian dan transportasi.
solvabilitas seluruh industri masih berada di atas 1
mengindikasikan kemampuan perusahaan yang baik untuk
membayar hutang jangka panjangnya. Selain itu, DSR
seluruh industri relatif stabil sejalan dengan ketahanan
korporasi di Jawa yang masih kuat.

Tabel III.5. Perkembangan Kinerja Korporasi Sektoral


ROA ROE DER
Sektor
Q1 '18 Q2 '18 Q3 '18 Q1 '18 Q2 '18 Q3 '18 Q1 '18 Q2 '18 Q3 '18
Automotive & Components 5.76 6.03 6.98 11.24 11.68 13.31 0.91 0.94 0.49
Food & Beverage 7.25 7.07 7.31 13.40 13.01 13.23 0.81 0.90 0.43
Pulp& Paper 5.61 7.26 8.35 13.73 17.63 20.14 1.43 1.41 1.16
Tobacco Manufacturers 15.78 16.34 27.64 23.73 24.68 39.95 0.44 0.61 0.00
Cement 2.42 2.43 3.08 3.76 3.79 4.85 0.56 0.59 0.31
Metal & Allied Products (1.35) (0.85) 0.05 (3.05) (1.98) 0.12 1.32 1.43 1.09
Chemicals
Pharmaceuticals
10.32
15.12
8.52
14.74
7.95
14.83
17.45
18.16
14.31
17.79
13.76
17.85
0.70
0.17
0.70
0.28
0.33
0.01
Grafik III.15. Rasio NPL Kredit Sektoral Korporasi
Textile, Garment 1.74 2.37 5.38 7.91 18.53 13.93 1.33 30.91 1.22
Plastics & Packaging 0.42 0.57 1.42 0.79 1.12 2.47 0.96 1.08 0.41
Total

Sektor
6.57
Solvability 6.82
Solvability
Ratio
Solvability
7.51
Solvability
Ratio 12.54
DSR
Ratio 13.14 DSR
DSR
14.45 Current
0.85 Ratio0.99 0.55 Ratio
Current
Current Ratio Ketahanan Sektor Rumah Tangga
Q1 '18 Q2 '18 Q3 '18 Q1 '18 Q2 '18 Q3 '18 Q1 '18 Q2 '18 Q3 '18
Automotive & Components 2.10 2.06 2.03 1.40 1.75 1.51 1.37 1.32 1.24 Pada triwulan IV 2018 pertumbuhan Dana Pihak Ketiga
Food & Beverage 2.23 2.11 2.23 1.02 1.45 0.80 1.81 1.50 1.34
Pulp& Paper
Tobacco Manufacturers
1.70
3.28
1.71
2.63
1.73
2.77
1.92
0.25
2.18
0.42
1.33
0.01
1.73
2.69
2.10
2.06
2.13
2.67
(DPK) perseorangan perbankan Jawa melambat (Grafik
Cement
Metal & Allied Products
2.77
1.76
2.70
1.70
2.71
1.72
0.66
8.92
0.85
10.44
0.53
6.67
1.73
0.82
1.51
0.80
1.65
1.37
III.16). DPK perserorangan tumbuh 6,63% (yoy), melambat
Chemicals
Pharmaceuticals
2.42
6.73
2.42
4.59
2.41
6.42
0.27
0.05
0.40
0.06
0.34
0.08
2.78
4.92
2.51
3.13
2.56
4.43 dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar
7,65% (yoy). Perlambatan DPK tersebut terjadi utamanya
Textile, Garment 1.75 1.03 1.63 0.85 1.51 0.71 2.21 0.90 4.10
Plastics & Packaging 2.04 1.92 2.29 3.66 4.22 2.24 1.10 1.04 1.24
Total 2.18 2.01 2.04 1.06 1.39 1.05 1.71 1.52 1.54

Sumber: IDX dan Bloomberg, diolah pada jenis tabungan dan giro, sementara deposito
mengalami peningkatan pertumbuhan. Pertumbuhan DPK
Penyaluran kredit untuk korporasi pada triwulan IV tertinggi terjadi pada deposito yaitu sebesar 5,38% (yoy),
2018 tumbuh melambat (Grafik III.14). Kredit korporasi meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat
tumbuh 14,12% (yoy), melambat dibandingkan triwulan III tumbuh sebesar 3,73%. Adapun suku bunga DPK untuk
2018 sebesar 14,93% (yoy). Pertumbuhan kredit korporasi seluruh jenis DPK mengalami penurunan. Suku bunga
terutama disumbang oleh LU utama di Jawa, yaitu industri tabungan dan giro masing-masing mengalami penurunan
pengolahan dan konstruksi yang masing-masing memiliki sebesar 5 bps dan 2 bps. Di sisi lain, suku bunga deposito
share terhadap total kredit sebesar 30% dan 7%. Penyaluran mengalami peningkatan sebesar 2 bps.
kredit ke sektor industri pengolahan tumbuh 13,30% (yoy),
sementara sektor konstruksi tumbuh 28,04% (yoy).
Peningkatan pertumbuhan kredit sektor industri
pengolahan ini sejalan dengan peningkatan kinerja LU
industri pengolahan.

Grafik III.16. Pertumbuhan DPK Perseorangan

Penyaluran kredit ke sektor Rumah Tangga (RT)


mengalami akselerasi pada triwulan IV 2018 (Grafik
III.17). Pertumbuhan kredit RT tercatat 13,31% (yoy), lebih
Grafik III.14. Penyaluran Kredit Sektoral Korporasi tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar
13,16% (yoy). Peningkatan kredit rumah tangga salah
Pertumbuhan penyaluran kredit korporasi pada satunya didorong oleh peningkatan kebutuhan untuk
triwulan IV 2018 didukung dengan kualitas kredit yang kegiatan-kegiatan seperti liburan ataupun pernikahan,
membaik. Rasio Non Performing Loan (NPL) tercatat pada sebagaimana tercermin dari kenaikan pertumbuhan kredit
level 2,17%, membaik dibandingkan triwulan III 2018. Secara multiguna. Berdasarkan jenisnya, peningkatan kredit RT
khusus, rasio NPL sektor industri pengolahan, perdagangan, terutama disumbang oleh peningkatan pertumbuhan pada
jenis kredit multiguna sebesar 13,66% (yoy), lebih tinggi dari
34
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
triwulan sebelumnya yang sebesar 11,48%. Sementara, untuk kendaraan roda empat dan kendaraan niaga jenis
Kredit Pemilikan Rumah atau Apartemen (KPR/KPA) tumbuh truk. Sementara, permintaan KKB untuk kendaraan roda
melambat sebesar 14,47% (yoy) terlepas dari langkah empat mengalami peningkatan.
kebijakan pelonggaran LTV per 1 Agustus 2018.
Sistem Pembayaran
Sistem Pembayaran Nontunai
Pada triwulan IV 2018, transaksi nontunai melalui SKNBI
mengalami peningkatan secara nominal (Grafik III.20).
Peningkatan transaksi tersebut sejalan dengan akselerasi
perekonomian Jawa yang ditopang oleh pertumbuhan
kinerja konsumsi pemerintah dan rumah tangga. Dari sisi
nominal, transaksi SKNBI meningkat 10,34% (yoy) pada
triwulan IV 2018, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya
sebesar 9,01% (yoy). Selain itu, pada triwulan IV 2018
Grafik III.17. Pertumbuhan Kredit Rumah Tangga
volume transaksi SKNBI per hari dan secara keseluruhan
mengalami peningkatan terutama disumbang oleh DKI
Jakarta (Grafik III.21).

Grafik III.18. Perkembangan KPR

Grafik III.20. Nominal Transaksi SKNBI

Grafik III.19. Rasio NPL Kredit Rumah Tangga

Pertumbuhan penyaluran KPR/KPA mengalami


Grafik III.21. Volume Transaksi SKNBI
perlambatan, demikian pula dengan penyaluran KKB.
Pertumbuhan KPR/KPA ditopang oleh peningkatan
Transaksi nontunai melalui Real Time Gross Settlement
permintaan kredit perumahan tipe menengah.
(RTGS) mengalami perlambatan, melanjutkan tren yang
Pertumbuhan KPR tertinggi tercatat terjadi untuk rumah
terjadi dalam empat triwulan terakhir. Perlambatan
tipe menengah (22-70 m2) yaitu sebesar 17,92% (yoy),
pertumbuhan nominal RTGS terjadi di semua daerah,
meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar
kecuali Banten. Sementara itu, transaksi transfer dana
17,77% (yoy) (Grafik III.18). Kualitas penyaluran kredit (rasio
nonbank dari dan ke wilayah Jawa mengalami net inflow.
NPL) tercatat membaik dibandingkan triwulan sebelumnya,
Posisi net inflow terjadi baik pada transfer dana domestik
terutama untuk jenis KPR pada tipe 21, tipe 22-70, dan tipe
maupun luar negeri. Transaksi transfer dana nonbank yang
di atas 70 (Grafik III.19). Sementara, permintaan KPR untuk
tercatat net inflow tersebut terkait dengan kondisi
ruko/rukan masih mengalami penurunan, melanjutkan tren
perekonomian Indonesia masih terpusat di Jawa khususnya
yang terjadi pada triwulan sebelumnya. Adapun penyaluran
DKI Jakarta.
Kredit Kepemilikan Kendaraan (KKB) di Jawa mengalami
perlambatan, disumbang oleh perlambatan permintaan KKB
35
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
sebanyak 13,87 ribu lembar (Grafik III.23). Penemuan
tersebut sebagian besar berasal dari Jawa Timur dan Jawa
Tengah. Penemuan tertinggi berasal dari laporan kepolisian
daerah Kabupaten Karanganyar sebanyak 597 lembar uang
palsu pecahan 100.000.

Grafik III.22. Nilai Transaksi RTGS

Sistem Pembayaran Tunai


Pada triwulan IV 2018 Jawa mengalami net outflow
uang Rupiah. Net outflow uang Rupiah di wilayah Jawa
tercatat sebesar Rp0,89 triliun, berbalik arah dari triwulan Grafik III.24. Perkembangan Temuan Uang Palsu
sebelumnya yang mengalami net inflow sebesar Rp39,21
triliun. Hal tersebut sejalan dengan kebutuhan uang kartal Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Jawa secara
masyarakat yang cenderung meningkat menjelang Hari konsisten melakukan upaya menjaga kualitas uang
Raya Natal, akhir tahun, dan libur sekolah. Posisi net outflow Rupiah yang beredar. Terkait dengan hal tersebut, Bank
di Jawa, utamanya terjadi di DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, Indonesia melakukan kegiatan pemusnahan Uang Tidak
dan DIY. Di sisi lain, Jabar dan Jateng masih mengalami net Layak Edar (UTLE). Jumlah pemusnahan UTLE pada triwulan
inflow. IV 2018 mencapai 33,7% dari inflow. Selain itu, aktivitas
kegiatan kas keliling dan kas titipan terus dilakukan oleh
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa pada triwulan IV
2018 sebanyak 372 kegiatan, sebagai upaya untuk
memenuhi kebutuhan uang tunai yang meningkat serta
meningkatkan kualitas uang beredar di masyarakat
menjelang Hari Raya Natal, akhir tahun, dan libur sekolah.

Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan


Bank (KUPVA BB)

Grafik III.23. Perkembangan Inflow dan Outflow

Bank Indonesia melalui seluruh Kantor Perwakilan di


Jawa terus memperkuat edukasi CIKUR (Ciri-ciri
Keaslian Uang Rupiah) kepada masyarakat untuk
mengurangi peredaran uang palsu di daerah. Berbagai
upaya penanggulangan uang palsu terus dilakukan oleh
Bank Indonesia dengan berkoordinasi dengan pihak
berwajib sebagai upaya preventif. Kantor Perwakilan Bank
Grafik III.25. Perkembangan Transaksi KUPVA BB Berizin
Indonesia di wilayah Jawa juga telah bekerja sama dengan
perbankan, Penyelenggara Jasa Pengolahan Uang Rupiah
Jumlah KUPVA BB Berizin di wilayah Jawa mengalami
(PJPUR), dan instansi pemerintah terkait untuk memberikan
penurunan. Pada triwulan IV 2018, jumlah KUPVA BB
edukasi kepada masyarakat mengenai ciri-ciri keaslian uang
berizin berkurang menjadi 624 KUPVA, dari 692 KUPVA
rupiah. Selain itu, Bank Indonesia memberikan pelatihan
pada triwulan sebelumnya. Sejumlah KUPVA BB
Training of Trainers (ToT) kepada penegak hukum dan pihak
memutuskan tidak memperpanjang izin karena
lain yang membutuhkan keahlian mendeteksi uang yang
menghadapi sejumlah kendala berusaha antara lain terkait
diragukan keasliannya. Pada triwulan IV 2018, jumlah uang
keterbatasan modal, kesulitan pengurusan akta pendirian,
yang diragukan keasliannya dan dilaporkan kepada Bank
dan kesulitan dalam penyusunan studi kelayakan.
Indonesia di wilayah Jawa sebanyak 14,80 ribu lembar,
Berdasarkan nilai transaksi, pada triwulan IV 2018 KUPVA BB
meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang

36
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
berizin di Jawa mengalami perlambatan nilai transaksi Pemerintah. Peningkatan konsumsi RT didukung oleh
dibandingkan triwulan sebelumnya, baik transaksi jual perkiraan peningkatan pendapatan seiring dengan
maupun beli. Total nominal transaksi jual tercatat Rp49,4 penyesuaian UMP dan penambahan penyaluran bansos
triliun, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya pemerintah, dan peningkatan permintaan seiring
yang sebesar Rp56,8 triliun. Sementara itu, transaksi beli penyelenggaraan pemilihan umum. Namun demikian,
juga mengalami peningkatan dari Rp56,7 triliun menjadi pertumbuhan ekonomi lebih lanjut tertahan kinerja ekspor
Rp45,0 triliun. yang melandai seiring perlambatan ekonomi dunia,
terutama AS dan Tiongkok sebagai salah satu mitra dagang
Prospek Perekonomian utama.
Prospek Pertumbuhan Ekonomi Secara sektoral, perekonomian Jawa pada 2019 akan
Perekonomian Jawa pada triwulan II 2019 diprakirakan ditopang oleh peningkatan kinerja LU perdagangan dan
meningkat didorong oleh peningkatan konsumsi. pertanian. Kinerja LU perdagangan didukung oleh
Peningkatan konsumsi diprakirakan terjadi seiring periode peningkatan permintaan dari rumah tangga maupun
Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri serta libur sekolah. lembaga non profit rumah tangga. Kinerja LU pertanian
Rencana pencairan pemberian rapel kenaikan gaji PNS pada ditopang oleh upaya peningkatan produksi melalui
April 2019 dan tunjangan hari raya (THR), serta ekspektasi intensifikasi pertanian serta kondisi cuaca pada tahun 2019
risiko kenaikan harga BBM Nonsubsidi yang minim akan yang diprakirakan kondusif. Dukungan intensifikasi
meningkatkan daya beli masyarakat. Selain itu, konsumsi pertanian antara lain berupa dukungan dalam bentuk
pemerintah dan Lembaga Non Profit terkait pelaksanaan peningkatan kualitas infrastruktur, sarana produksi
Pilpres 2019 juga diprakirakan akan menopang konsumsi pertanian, alat dan mesin pertanian serta perbaikan pola
triwulan II 2019. budidaya pertanian. Penerapan upaya tersebut difokuskan
Kinerja ekspor pada triwulan II 2019 diprakirakan akan pada komoditas padi, jagung, kedelai, gula, daging
menopang pertumbuhan ekonomi Jawa, sementara sapi/kerbau, cabai dan bawang merah, serta percepatan
investasi masih akan terbatas. Peningkatan ekspor peningkatan produksi bawang putih. Namun pertumbuhan
terutama ditopang oleh ekspor industri otomotif yaitu lebih lanjut tertahan oleh kinerja LU industri pengolahan
rencana ekspor New Honda Brio ke Vietnam dan ekspor dan LU konstruksi yang diperkirakan melambat.
gerbong kereta api ke Bangladesh dan Filipina yang akan Perlambatan kinerja LU industri pengolahan terindikasi dari
dilakukan pada semester I 2019. Sementara, investasi yang penurunan belanja modal korporasi manufaktur besar pada
terbatas dipengaruhi oleh kebijakan pelaku usaha menakar tahun 2019 dan ekspektasi peningkatan biaya overhead.
risiko terkait proses transisi kepemimpinan seiring dengan Sementara itu, perlambatan LU konstruksi dipengaruhi oleh
pelaksanaan Pileg dan Pilpres. Hal ini diprakirakan penyelesaian sejumlah proyek besar infrastruktur pada
mempengaruhi rencana realisasi investasi non bangunan tahun 2018, meski pada 2019 beberapa proyek strategis
dan belanja capex korporasi besar. masih berjalan dan akan memasuki tahap penyelesaian
(finishing). Kinerja konstruksi properti juga diperkirakan
Dari sisi lapangan usaha, kenaikan pertumbuhan masih rendah, terkonfirmasi dari perkiraan penjualan
ekonomi Jawa pada triwulan II 2019 dipengaruhi oleh properti residensial pada Survei Harga Properti Residensial
peningkatan kinerja LU industri pengolahan dan (SHPR) yang masih terbatas.
perdagangan. Peningkatan kinerja kedua LU tersebut
ditopang oleh upaya pemenuhan peningkatan permintaan Prospek ekonomi Jawa dibayangi oleh beberapa risiko
domestik pada momen Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri dan eksternal maupun internal. Dari sisi eksternal, peningkatan
libur sekolah. Selain itu, peningkatan kinerja LU industri ketidakpastian global akibat trade war di tengah stagnasi
pengolahan juga didukung oleh rencana peningkatan pertumbuhan ekonomi dunia berpotensi menahan kinerja
kapasitas industri baja dan tekstil serta rencana ekspor ekspor industri-industri unggulan Jawa. Selain itu, fluktuasi
komoditas otomotif dan kereta api. Sementara itu, harga minyak dunia berpotensi berdampak pada harga BBM
pertumbuhan ekonomi Jawa lebih lanjut ditahan oleh sehingga berisiko meningkatkan biaya produksi manufaktur
perlambatan pertumbuhan kinerja LU Pertanian dan dan mempengaruhi daya beli masyarakat. Dari sisi internal,
konstruksi. Perlambatan terjadi seiring dengan masuknya risiko kendala pembebasan lahan berpotensi menghambat
masa tanam pada awal triwulan II 2019 dan penyelesaian progress pembangunan infrastruktur di daerah.
proyek infrastruktur pemerintah. Prospek Inflasi
Pada keseluruhan tahun 2019, perekonomian Jawa Tekanan inflasi pada triwulan II 2019 diprakirakan
diprakirakan tetap tumbuh kuat pada kisaran meningkat sejalan dengan masuknya bulan Ramadhan
5,5% - 5,9%, terutama ditopang oleh konsumsi RT dan dan Hari Raya Idul Fitri. Tekanan inflasi berisiko didorong
37
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
oleh komoditas pangan yaitu kenaikan harga daging ayam
ras dan telur ayam ras seiring peningkatan permintaan.
Selain itu, inflasi turut disumbang oleh peningkatan harga
komoditas hortikultura seiring potensi perubahan masa
panen yang semula umumnya berlangsung pada
pertengahan triwulan menjadi akhir triwulan. Sementara,
inflasi administered price diperkirakan akan terjaga, meski
terdapat tekanan kenaikan tarif angkutan udara maupun
darat pada masa peak season.

Inflasi Jawa pada 2019 diprakirakan tetap berada dalam


kisaran target inflasi 3,5 ± 1%, lebih rendah
dibandingkan capaian tahun 2018. Tekanan inflasi yang
lebih rendah terutama disumbang oleh inflasi bahan
makanan yang lebih rendah dari tahun 2018 antara lain
pada komoditas beras dan jagung. Hal ini tidak terlepas dari
kondisi cuaca tahun 2019 yang diprakirakan lebih kondusif
bagi peningkatan produksi pertanian.

Tekanan inflasi Jawa pada tahun 2019 diprakirakan


berasal dari kelompok transportasi, komunikasi dan jasa
keuangan. Komoditas administered prices berisiko
mengalami peningkatan harga sejalan dengan tren
kenaikan harga minyak dunia dan rencana penyesuaian
batas bawah tarif angkutan udara. Selain itu, pelaksanaan
Pilpres dan Pileg tahun 2019 berpotensi mendorong inflasi
kelompok inti, khususnya sandang dan perlengkapan lain.

Sesuai Program Kerja TPIP 2019, upaya pengendalian


inflasi oleh TPID wilayah Jawa difokuskan pada
ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi. Strategi
kegiatan ketersediaan pasokan setiap provinsi dilakukan
dengan cara penguatan kapasitas produksi, cadangan
pangan pemerintah, dan pengelolaan impor-ekspor
pangan. Sementara, strategi menjaga kelancaran distribusi
dilakukan dengan mendorong implementasi kerjasama
perdagangan antardaerah dan peningkatan kualitas
infrastruktur perdagangan. Optimalisasi kerjasama antar
daerah dan efisiensi distribusi memiliki peran penting
mengingat beberapa daerah yang merupakan sentra
produksi justru terindikasi memiliki tingkat inflasi yang
relatif tinggi. Strategi pengendalian inflasi daerah tersebut
termasuk upaya penguatan kelembagaan dan perbaikan
data akan dituangkan roadmap pengendalian inflasi hingga
tahun 2021.

38
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
BOKS 3

INTEGRASI DESTINASI WISATA DI BANYUWANGI & BOROBUDUR-


JOGLOSEMAR UNTUK MENINGKATKAN PENGELUARAN WISMAN
Dalam tiga tahun terakhir, Borobudur-Joglosemar dengan sejumlah atraksi utama yaitu Kawah Ijen (Blue Fire),
(Yogyakarta, Solo, Semarang) dan Banyuwangi menjadi Pulau Merah, Taman Nasional Alas Purwo, dan Bangsring
salah satu destinasi wisata bagi wisatawan mancanegara Underwater. Untuk mengakselerasi pertumbuhan sektor
(wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus). Pada pariwisata di kedua kawasan tersebut (Joglosemar dan
tahun 2018, jumlah wisman di kedua kawasan ini mencapai Banyuwangi), Pemerintah dan Pemerintah Daerah secara
1,38 juta orang (Grafik III.26). Pada tahun 2019, destinasi simultan telah mengupayakan peningkatan kualitas akses,
Joglosemar ditargetkan untuk meraih kunjungan sebanyak amenitas, atraksi, serta memperkuat promosi dan pelaku
2 juta wisman dan Banyuwangi sebanyak 130 ribu wisman. usaha pada 2018. Secara khusus, perbaikan akses menjadi
fokus utama pada 2018 untuk mendukung peningkatan
jumlah kunjungan wisman baik melalui jalur udara, darat,
maupun laut.

Perbaikan Akses
Akses melalui jalur udara merupakan pintu masuk
utama wisman ke Indonesia. Sejak 2017, keberadaan
direct flight dari Jakarta telah mendorong perkembangan
pariwisata di Banyuwangi. Sampai dengan Februari 2019,
telah terdapat setidaknya 4 (empat) direct flight domestik
Sumber: Disbudpar Prov.Jawa Timur & Prov. Jawa Tengah regular yang dioperasikan oleh tiga maskapai dari Jakarta
Grafik III.26. Jumlah Kunjungan Wisman (Juta kunjungan)
yang merupakan pintu masuk wisman terbesar setelah
Bandara Ngurah Rai. Seiring dengan meningkatnya jumlah
penerbangan, maka peningkatan kapasitas fasilitas bandara
telah direalisasikan sepanjang 2017-2018. Lebih lanjut,
untuk meningkatkan kemudahan akses wisman secara
langsung ke Banyuwangi, pada akhir 2018 Bandara
Banyuwangi telah resmi melayani rute internasional Kuala
Lumpur-Banyuwangi (PP) menggunakan armada pesawat
Airbus A320. Pada 2019, ditargetkan rute internasional
tersebut mampu memobilisasi sekitar 100.000 orang
penumpang.
Sumber : Google Trend (diolah, 2018)
Grafik III.27. Tren Popularitas Banyuwangi dan Borobudur Peningkatan kapasitas bandara juga dilakukan di
Yogyakarta. Saat ini, traffic penumpang di Bandara Adi
Popularitas destinasi di kedua kawasan ini secara konsisten Sucipto Yogyakarta sudah melampaui kapasitas
menunjukkan peningkatan (Grafik III.27). Kawasan maksimalnya sehingga peningkatan frekuensi penerbangan
Joglosemar memiliki beberapa Kawasan Strategis Pariwisata sudah tidak memungkinkan, baik untuk penerbangan
Nasional (KSPN), yaitu komplek Candi Borobudur yang domestik maupun penerbangan internasional. Dengan
meliputi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko. Kawasan kondisi tersebut, maka upaya peningkatan kunjungan
ini merupakan atraksi utama bagi wisman yang berkunjung wisman ke Borobudur menjadi terbatas, meski sudah
ke Joglosemar, di mana pangsa jumlah pengunjung wisman mempertimbangkan dukungan jalur menuju Yogyakarta
sekitar 30% dari total wisman Joglosemar atau mencapai melalui Jakarta maupun Bali sebagai pintu masuk utama
540 ribu wisman. Borobudur sebagai obyek utama, saat ini wisman. Dengan pembangunan New Yogyakarta
mendapatkan review yang cukup baik menurut wisatawan, International Airport (NYIA) yang direncanakan mulai dapat
dengan rating excellent mencapai 69%. Demikian pula beroperasi pada 2019, maka akan terbuka tambahan
Banyuwangi yang memiliki rating excellent mencapai 81,4% kapasitas penerbangan baru termasuk penerbangan

39
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
internasional. Bahkan beberapa maskapai di antaranya saat Banyuwangi telah direncanakan 99 event, termasuk event
ini sudah akan melakukan penambahan frekuensi. berskala internasional.

Peningkatan akses antara Banyuwangi dengan destinasi


Promosi
wisata terdekat lainnya juga dilakukan, baik melalui
Promosi berbagai event internasional dapat
peningkatan kualitas jalur darat maupun laut. Salah satu
mengoptimalkan social media, endorser, maupun
destinasi pariwisata utama terdekat dengan Banyuwangi
dengan mengintegrasikan paket wisata melalui
adalah Bali. Penguatan konektivitas antara Banyuwangi-Bali
penjualan online. Beberapa event untuk jenis sport tourism
dilakukan melalui jalur laut. Saat ini layanan Banyuwangi-
antara lain Tour de Banyuwangi Ijen, Banyuwangi
Bali melalui moda transportasi laut telah tersedia berupa
International BMX, dan Borobudur Marathon. Selanjutnya
layanan kapal ferry dengan frekuensi sebanyak 12 kali per
untuk bidang seni, terdapat International Art Perform
minggu dan kapal cepat setiap hari. Selain itu, untuk
Festival di Banyuwangi, serta Dieng Culture Festival dan
peningkatan akses darat menuju Banyuwangi juga akan
Jogjakarta International Heritage Walk. Berbagai event
dikembangkan Tol Probolinggo-Banyuwangi, sehingga
tersebut akan dikombinasikan dengan promosi penawaran
dengan demikian Banyuwangi juga akan terintegrasi melalui
paket wisata di low season dengan diskon khusus. Lebih
jalur darat dengan Joglosemar melalui koridor Tol Trans
lanjut, promosi paket terintegrasi Joglosemar dan
Jawa. Pemda juga melakukan perbaikan akses langsung ke
Banyuwangi kepada wisman melalui pintu masuk utama
destinasi wisata di sekitar Banyuwangi, antara lain: (i) jalan
Jakarta dan Bali akan lebih dioptimalkan sejalan dengan
wisata Pasaranyar-Kutorejo (0,6 km); (ii) Trianggulasi-Pancur
operasional bandara NYIA.
(3,3 km); (iii) jalan Taman Nasional Alas Purwo (18,8 km); dan
(iv) jalan ke kawasan wisata Kawah Ijen (7,9 km).
Pelaku Pariwisata
Perbaikan Amenitas Penguatan pelaku usaha pariwisata di kedua destinasi
juga telah dilakukan oleh Pemda bekerja sama dengan
Peningkatan ketersediaan amenitas yang berkualitas di
pihak terkait. Untuk wilayah Joglosemar, agar pelaksanaan
destinasi wisata juga terus dilakukan. Investasi hotel di
pelatihan SDM dapat terintegrasi, maka telah diinisiasi nota
Banyuwangi terus berkembang dalam dua tahun terakhir.
kesepahaman bersama kerja sama pendidikan vokasi
Selain hotel, Pemda juga mendorong perkembangan
kepariwisataan antara Pemprov Jawa Tengah, BOB, Taman
homestay yang terintegrasi dengan e-commerce, agar
Wisata Candi (TWC), Perhimpunan Hotel dan Restoran
perkembangan pariwisata yang pesat di Banyuwangi turut
Indonesia (PHRI), Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI),
melibatkan pemberdayaan masyarakat lokal. Hal serupa
dan Association of Indonesian Tours and Travel Agencies
juga dilakukan di sekitar Borobudur, Pemerintah Daerah
(ASITA). Sementara di Banyuwangi, Pemda juga telah
bekerjasama dengan sejumlah BUMN menginisiasi
memberikan pelatihan layanan prima kepada pemilik
pengembangan homestay milik desa sebagai bagian dari
homestay di Desa Tamansari, serta sertifikasi tour guide. Ke
program Balai Ekonomi Desa (Balkondes). Selain homestay,
depan, pengembangan vokasi kepariwisataan secara
Badan Otoritas Borobudur (BOB) juga telah membuka
terpadu lintas instansi akan terus dilakukan secara
Borobudur Highland dengan atraksi utama glamping.
terintegrasi guna memastikan standarisasi hospitality yang
Perbaikan Atraksi diberikan.

Pengembangan atraksi pendukung di sekitar destinasi


utama juga dipersiapkan. Untuk kawasan Joglosemar,
upaya mengintegrasikan beberapa destinasi pendukung
Borobudur telah dilakukan di antaranya integrasi industri
ekonomi kreatif, desa wisata, dan balai ekonomi desa serta
Borobudur Highland15. Sementara, integrasi
pengembangan destinasi wisata di Banyuwangi difokuskan
pada diamond triangle yaitu Kawah Ijen, Pulau Merah dan
Alas Purwo. Pengembangan ketiga lokasi tersebut didukung
melalui pelaksanaan kegiatan festival regular berskala
nasional maupun internasional. Pada tahun 2019 di

15
Pengembangan Borobudur Highland akan meliputi lahan 259 ha
termasuk atraksi berupa glamourous camping (50 ha) dan berada di
antara New Yogyakarta International Airport (NYIA) dan Borobudur.
40
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
BAGIAN 4
PEREKONOMIAN KAWASAN TIMUR INDONESIA

Pertumbuhan ekonomi Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang mencakup wilayah Kalimantan, Sulawesi, Mapua
(Maluku-Papua), serta Bali Nusra (Bali dan Nusa Tenggara) masih tumbuh positif sebesar 3,45% (yoy), lebih rendah
dibanding triwulan III 2018 yang tumbuh 4,29% (yoy). Melambatnya ekonomi KTI dipengaruhi oleh kontraksi yang
terjadi pada ekspor, seiring dengan menurunnya ekspor komoditas pertambangan utama. Dari sisi lapangan usaha,
perlambatan terjadi di hampir seluruh lapangan usaha (LU) utama khususnya pertambangan, sebagai dampak dari
menurunnya produksi tambang tembaga.

Pertumbuhan Ekonomi meningkat, terutama untuk jenis barang modal, sementara


pertumbuhan ekspor masih tertahan karena pengaruh
Perekonomian KTI masih tumbuh positif pada triwulan
permintaan negara mitra dan perkembangan harga
IV 2018 meski melambat dibandingkan triwulan
komoditas.
sebelumnya. Dari sisi permintaan domestik, dorongan
pertumbuhan ekonomi berasal dari perbaikan investasi di Tabel IV.1. Pertumbuhan Ekonomi Daerah di KTI
2017 2018
seluruh wilayah, dengan laju pertumbuhan paling tinggi
Provinsi 2017 2018
I II III IV I II III IV
Kalimantan 5.00 4.40 4.63 3.37 4.34 3.24 3.35 3.52 5.49 3.91
terjadi di Papua dan Kalimantan Timur, karena kegiatan Kalimantan Barat 4.93 4.77 5.14 5.81 5.17 5.06 5.15 4.97 5.07 5.06

investasi usaha pertambangan tembaga, serta


Kalimantan Tengah 9.51 6.10 6.13 5.28 6.72 4.47 5.57 6.40 6.12 5.64
Kalimantan Selatan 5.25 4.96 6.42 4.46 5.28 4.98 4.60 5.14 5.78 5.13
penyelesaian pabrik CPO dan pembangkit listrik milik Kalimantan Timur 3.87 3.60 3.47 1.62 3.13 1.77 1.92 1.83 5.14 2.67
Kalimantan Utara 7.07 6.48 6.59 7.04 6.79 5.76 5.00 5.62 7.69 6.04
swasta. Selain investasi, konsumsi LNPRT juga ikut Sulawesi 6.91 6.53 6.89 7.49 6.96 6.83 6.74 6.88 6.18 6.65
Sulawesi Selatan 7.74 6.75 6.65 7.74 7.21 7.35 7.33 7.17 6.47 7.07
menopang permintaan domestik sejalan dengan Sulawesi Barat 7.62 5.28 7.10 6.54 6.62 5.57 6.52 7.52 5.32 6.23
Sulawesi Tenggara 7.76 6.82 6.51 6.08 6.76 6.15 6.13 7.14 6.23 6.42
peningkatan aktivitas belanja terkait kegiatan Pemilu. Sulawesi Tengah 3.93 6.57 8.68 9.12 7.10 6.63 6.20 7.05 5.37 6.30

Sementara konsumsi RT cenderung melambat, pasca Gorontalo


Sulawesi Utara
7.35
6.43
6.63 5.23
5.78 6.49
7.79
6.53
6.73
6.31
6.13 7.44 5.25 7.25
6.62 5.77 5.59 6.10
6.51
6.01
terjadinya bencana di beberapa wilayah seperti Sulteng Mapua 4.40 5.31 4.38 5.42 4.89 17.15 17.56 6.64 (9.43) 6.99
Maluku 6.64 5.77 5.83 5.11 5.82 5.39 5.53 6.38 6.41 5.94
dan NTB. Perlambatan ekonomi KTI pada triwulan IV Maluku Utara 7.61 6.99 7.76 8.30 7.67 7.90 7.31 8.21 8.25 7.92
Papua 3.71 6.26 3.87 4.78 4.64 26.48 23.58 6.35 (17.79) 7.33
terutama karena dipengaruhi kinerja perdagangan luar Papua Barat 3.63 2.09 3.78 6.32 4.01 5.87 12.83 6.92 0.18 6.24

negeri. Perlambatan ekspor bersumber dari kontraksi


Balinusra 2.88 3.35 5.30 3.21 3.71 3.77 3.56 (0.74) 4.36 2.68
Bali 6.25 5.92 6.18 4.01 5.57 5.58 6.05 6.15 7.59 6.35
pertumbuhan ekspor tembaga di Mapua dan Bali Nusra NTB (3.25) (1.53) 4.25 0.61 0.12 0.06 (1.26) (14.12) (1.43) (4.56)
NTT 4.86 5.26 5.00 5.29 5.11 5.01 5.03 5.13 5.32 5.13
serta perlambatan pertumbuhan ekspor perikanan di KTI 5.16 4.99 5.37 4.84 5.09 6.05 6.14 4.29 3.45 4.94

Sulawesi. Sementara di sisi lain, tekanan impor barang Sumber: BPS, data realisasi periode sebelumnya direvisi

modal justru mengalami peningkatan, khususnya untuk


Pada triwulan I 2019, kinerja perekonomian KTI
proyek rehabilitasi bencana dan investasi pertambangan.
diperkirakan membaik dibanding triwulan IV 2018.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi KTI pada triwulan IV
Peningkatan pertumbuhan diperkirakan berasal dari
tercermin dari kinerja pertumbuhan sektor utama,
konsumsi RT dan LNPRT seiring persiapan pelaksanaan
pertanian, pertambangan, dan industri pengolahan. Secara
pemilihan umum presiden dan legislatif di bulan April
spasial, dorongan pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV
2019. Sementara tekanan dari sisi ekspor masih akan
terutama berasal dari Kalimantan dan Bali Nusra.
berlanjut, terutama karena belum optimalnya produksi
Secara keseluruhan tahun 2018 perekonomian KTI tambang tembaga seiring transisi pertambangan open pit
masih tumbuh kuat, meski melambat dibandingkan ke underground mining di Papua. Dari sisi LU, dorongan
2017, ditopang oleh seluruh komponen permintaan pertumbuhan diperkirakan berasal dari peningkatan kinerja
domestik. Konsumsi RT tumbuh meningkat di seluruh LU pertanian karena kondisi cuaca yang membaik sehingga
wilayah, di antaranya didorong oleh program sosial mendukung kinerja sub LU perikanan dan tanaman
Pemerintah, serta aktivitas belanja untuk Pemilu. Selain pangan. Selain itu, outlook produksi CPO juga positif,
konsumsi, investasi di KTI juga tumbuh karena dipengaruhi terutama didukung oleh kebijakan tarif negara mitra dan
oleh penyelesaian konstruksi PSN dan non PSN, termasuk kebijakan Pemerintah dalam melakukan implementasi
infrastruktur pendukung IMF-World Bank Annual Meeting, Biodiesel 20%.
serta investasi swasta terkait pengembangan kelapa sawit
dan pertambangan. Namun pertumbuhan konsumsi
domestik yang tinggi, juga mengakibatkan tekanan pada
kinerja net ekspor akibat pertumbuhan impor yang juga
41
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Kinerja Sisi Penggunaan belanja untuk Pemilu, serta pelaksanaan berbagai event
internasional, di antaranya di destinasi wisata. Memasuki
Konsumsi triwulan I 2019, konsumsi diperkirakan meningkat,
Konsumsi rumah tangga mengalami perlambatan didorong oleh peningkatan konsumsi pemerintah karena
pertumbuhan pada triwulan IV 2018. Perlambatan persiapan pemilihan presiden dan legislatif secara serentak.
konsumsi RT terutama terjadi di wilayah Sulawesi karena Namun, konsumsi RT diperkirakan melambat pasca
dampak bencana gempa di Sulawesi Tengah yang juga perayaan HBKN Natal dan Tahun Baru sesuai pola historis,
memengaruhi Sulawesi Barat, serta penurunan pendapatan terindikasi oleh indikator Indeks Tendensi Konsumen (ITK)
karena berakhirnya periode panen raya di Sulawesi yang melambat pada triwulan I 2019 (Grafik IV.3).
Tenggara. Konsumsi rumah tangga di KTI tumbuh 4,95%
(yoy) dari 5,06% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Kondisi
ini dikonfirmasi dengan perkembangan Indeks Keyakinan
Konsumen (IKK) KTI yang menunjukkan tren penurunan
pada dua bulan pertama triwulan laporan (Grafik IV.I). Pola
konsumsi pemerintah pada triwulan IV masih relatif sama
dengan pola historis yang melambat dibandingkan
triwulan III. Melambatnya konsumsi pemerintah juga
tercermin dari meningkatnya pertumbuhan giro milik
pemerintah daerah di perbankan (Grafik IV.2). Khusus di
Bali Nusra, perlambatan juga terjadi karena optimalisasi Sumber: BPS, diolah
Grafik IV.3. Indeks Tendensi Konsumen
belanja pada triwulan sebelumnya selama persiapan dan
penyelenggaraan event internasional IMF-World Bank
Annual Meeting. Investasi
Investasi KTI tumbuh meningkat pada triwulan IV 2018
menjadi 5,80% (yoy), dari 4,89% (yoy) pada triwulan
sebelumnya. Akselerasi investasi terjadi di seluruh wilayah
KTI. Pertumbuhan investasi di Kalimantan terutama
didorong oleh penyelesaian pabrik CPO, penyelesaian
proyek PLTU, serta pembangunan Bandara Syamsudin
Noor. Kemudian, kenaikan investasi di wilayah Bali Nusra
didorong oleh rekonstruksi bangunan pasca gempa di NTB
dan penyelesaian infrastruktur terkait persiapan acara IMF-
World Bank Annual Meeting di Bali. Untuk wilayah Sulawesi,
Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia peningkatan kinerja investasi didorong oleh kelanjutan
Grafik IV.1. Indeks Keyakinan Konsumen ekspansi bisnis pembangunan smelter nikel di Morowali,
pembangkit listrik di Poso, serta rekonstruksi bangunan
pasca gempa di Sulawesi Tengah. Secara keseluruhan,
membaiknya investasi KTI juga tercermin dari perbaikan
kinerja investasi swasta, khususnya penanaman modal
dalam negeri (Grafik IV.4).

Sumber: Laporan Bank Umum, diolah


Grafik IV.2. Giro Pemerintah di Perbankan KTI

Secara keseluruhan 2018 kinerja konsumsi tetap


meningkat. Konsumsi tumbuh 4,90% lebih tinggi
dibanding tahun 2017 yang sebesar 4,38%, didorong oleh
Sumber: Badan Koordinasi Penanaman Modal, diolah
peningkatan pendapatan karena kenaikan UMP, program Grafik IV.4. Realisasi PMA dan PMDN di KTI
bantuan sosial dan cash for work Pemerintah, aktivitas

42
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Membaiknya investasi pada triwulan IV 2018 tersebut Mapua karena belum optimalnya produksi tambang bawah
mendukung peningkatan investasi secara keseluruhan tanah. Sementara di Kalimantan, kecenderungan
tahun 2018 dibandingkan 2017, terutama karena investasi penurunan harga komoditas batubara juga berpotensi
pengembangan infrastruktur dasar oleh Pemerintah dan menekan kinerja ekspor luar negeri. Pada komponen
investasi swasta terkait hilirisasi. Peningkatan investasi impor, perlambatan diperkirakan terjadi di seluruh wilayah
diperkirakan masih berlanjut pada triwulan I 2019. karena masih minimnya proyek investasi baik swasta
Dorongan pertumbuhan investasi terutama berasal dari maupun pemerintah, dan melambatnya konsumsi RT.
Sulawesi karena realisasi Proyek Strategis Nasional seperti
pembangunan kereta api Makassar-Pare-Pare, Makassar
New Port, dan Bendungan Karalloe berpotensi mendorong
akselerasi kinerja investasi di Sulawesi. Sementara di
wilayah lain relatif melambat pasca pembangunan proyek
infrastruktur IMF-World Bank Annual Meeting di Bali Nusra,
serta proses konstruksi industri pengolahan pertambangan
yang mulai selesai di Maluku Utara.

Kinerja Ekspor Impor


Ekspor luar negeri KTI pada triwulan IV 2018 Sumber: Bea Cukai, diolah
mengalami perlambatan. Ekspor luar negeri pada Grafik IV.5. Nilai Ekspor KTI

triwulan IV 2018 tercatat tumbuh 7,34% (yoy), melambat


dibandingkan triwulan III 2018 yang tumbuh 15,90% (yoy).
Perlambatan ekspor luar negeri terutama terjadi di Mapua,
Sulawesi, dan Kalimantan. Di Mapua, perlambatan ekspor
disebabkan karena produksi hasil tambang Papua yang
mengalami penurunan, serta menurunnya permintaan dari
Tiongkok terhadap komoditas LNG Papua Barat.
Selanjutnya perlambatan ekspor Sulawesi, disebabkan oleh
penurunan produksi ikan komoditas ekspor karena
pengaruh salinitas air laut, serta harga rata-rata crude
coconut oil (CNO) yang menurun. Di sisi lain, kinerja ekspor Sumber: Bea Cukai, diolah
Grafik IV.6. Impor Menurut Kategori Barang
wilayah Bali Nusra mulai membaik, meski masih mengalami
konstraksi, didorong oleh peningkatan kinerja ekspor jasa
pariwisata karena penyelenggaraan MICE internasional dan
serta pembukaan rute penerbangan langsung baru (Grafik
IV.5). Sejalan dengan permintaan domestik yang kuat,
pertumbuhan impor luar negeri KTI triwulan IV 2018 juga
mengalami peningkatan (Grafik IV.6). Pertumbuhan impor
KTI meningkat dari 15,64% (yoy) pada triwulan III 2018
menjadi 30,88% (yoy) pada triwulan IV 2018. Sebagian
besar akselerasi impor didorong impor swasta untuk mesin
dan bahan baku serta penyelesaian beberapa proyek
Sumber: Bloomberg
pemerintah. Dampaknya secara keseluruhan tahun 2018, Grafik IV.7. Purchasing Managers Index
kinerja net ekspor mengalami penurunan dibandingkan
2017.
Kinerja Lapangan Usaha
Pada triwulan I 2019, pertumbuhan ekspor maupun
impor KTI diperkirakan mengalami perlambatan.
Pertanian
Perlambatan kinerja ekspor diperkirakan disebabkan oleh Pada triwulan IV 2018, kinerja LU pertanian,
penurunan permintaan, sebagaimana tercemin dari kehutanan, dan perikanan KTI mengalami perlambatan,
perlambatan purchasing managers’ index (PMI) mitra terutama di Sulawesi dan wilayah Mapua. Di Sulawesi,
dagang utama KTI yaitu Tiongkok, AS, dan Zona Eropa perlambatan kinerja LU pertanian dipengaruhi oleh faktor
(Grafik IV.7). Selain itu, penurunan pertumbuhan ekspor cuaca yang berdampak pada penurunan produksi tanaman
juga dipengaruhi oleh penurunan produksi tembaga di bahan makanan (tabama) di Sulawesi Tenggara dan

43
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Sulawesi Barat. Di wilayah Mapua, curah hujan dan positif. Penurunan kinerja tambang di Mapua disebabkan
gelombang laut yang tinggi menyebabkan produksi ikan oleh penurunan produksi hasil tambang di kawasan
tangkap menurun. Perlambatan lebih dalam tertahan oleh tambang terbuka Grasberg di Papua (Grafik IV.10). Kondisi
peningkatan LU pertanian Bali Nusra seiring beroperasinya tersebut berlangsung sepanjang tahun 2018, sehingga
bendungan baru (Grafik IV. 8). Tren penurunan berdampak terhadap kinerja tambang secara keseluruhan
pertumbuhan pada triwulan IV, berdampak pada kinerja tahun yang juga melambat. Memasuki triwulan I 2019, LU
keseluruhan tahun 2018 yang juga mengalami pertambangan di Mapua diperkirakan masih akan
perlambatan di hampir seluruh wilayah kecuali Kalimantan. mengalami kontraksi, karena proses transisi ke tambang
Beberapa faktor penyebab perlambatan tersebut di bawah tanah (underground) masih berlangsung. Selain
antaranya bencana alam, penurunan harga komoditas, Mapua, kondisi yang sama juga terjadi pada
serta faktor cuaca. Memasuki triwulan I 2019, kinerja LU pertambangan tembaga di NTB karena sedang dalam
pertanian diperkirakan mengalami peningkatan. Di wilayah tahap persiapan eksplorasi. Sementara itu, wilayah
Kalimantan, outlook positif pada industri CPO serta Kalimantan diperkirakan juga melambat dibandingkan
kebijakan Pemerintah terkait B20 diperkirakan akan triwulan sebelumnya karena tren perkembangan harga
mendorong perkembangan harga tandan buah segar (TBS) yang menurun, serta kebijakan Pemerintah yang belum
pada triwulan I 2019. Kemudian, di Sulawesi dan Mapua menetapkan tambahan kuota produksi batubara
kinerja LU pertanian juga akan meningkat karena musim sebagaimana terjadi pada triwulan IV-2018.
panen tabama. Peningkatan kinerja LU pertanian juga
tercermin dari tren Nilai Tukar Petani (NTP) yang naik di
beberapa daerah pertanian KTI pada awal triwulan I 2019
(Grafik IV.9).

Sumber: Produsen, diolah


Grafik IV.10. Pertumbuhan Produksi Mineral di KTI

Industri Pengolahan
Sumber: Produsen dan Dinas Pemda terkait, diolah
Kinerja pertumbuhan LU industri pengolahan
Grafik IV.8. Pertumbuhan Produksi Pertanian KTI
melambat pada triwulan IV 2018 sejalan dengan
melambatnya pertumbuhan ekspor. Pertumbuhan
industri pengolahan KTI tercatat sebesar 2,03% (yoy) pada
triwulan IV 2018, lebih rendah dibandingkan triwulan
sebelumnya yang tumbuh 2,90% (yoy). Perlambatan
industri pengolahan terutama dipengaruhi oleh kinerja
industri pengolahan di wilayah Sulawesi dan Mapua. Di
Sulawesi, penurunan kinerja industri dipengaruhi oleh
penurunan permintaan feronikel dari Tiongkok sehingga
menahan peningkatan produksi di Sulawesi Tenggara dan
Sulawesi Tengah. Selain permintaan feronikel, permintaan
Sumber: BPS
Grafik IV.9. Nilai Tukar Petani LNG dari Tiongkok ke Sulawesi Tengah dan Papua Barat
juga menurun. Namun perlambatan lebih dalam tertahan
Pertambangan
oleh peningkatan kinerja industri pengolahan karet dan
Kinerja LU pertambangan masih melanjutkan tren
CPO di Kalimantan karena faktor harga jual pada triwulan
kontraksi pada triwulan sebelumnya. LU pertambangan
IV 2018, serta indusri pengolahan Bali Nusra karena
triwulan IV 2018 terkontraksi sebesar -3,73% (yoy), lebih
dorongan permintaan terhadap barang tekstil, furnitur, dan
dalam dibandingkan triwulan III 2018 yang sebesar -0,97%
olahan kayu dari Amerika, Eropa, dan sebagian negara Asia
(yoy). Penurunan kinerja LU pertambangan terjadi di
(Grafik IV.11). Melambatnya pertumbuhan industri
wilayah Mapua dan Bali Nusra, sementara di wilayah
pengolahan pada triwulan IV 2018 berdampak terhadap
Kalimantan dan Sulawesi masih menunjukkan kinerja yang

44
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
penurunan kinerja selama 2018 dibandingkan 2017 di wilayah Sulawesi, antara lain: pembangunan Jalan
hampir seluruh wilayah, kecuali Kalimantan dan Bali Nusra. Gorontalo Outer Ring Road (GORR), pengembangan
Beberapa faktor penyebab perlambatan tersebut yaitu Rumah Sakit Provinsi Ainun Habibie Gorontalo,
faktor harga komoditas utama kelapa sawit dan stainless- pembangunan Waduk Randangan Gorontalo, dan
steel yang menurun, serta kendala regulasi perdagangan revitalisasi Danau Limboto Gorontalo. Selain itu, proyek
CPO dan permintaan LNG yang menurun dari negara mitra. revitalisasi pasca bencana gempa yang terjadi di Palu dan
Memasuki triwulan I 2019, LU industri pengolahan KTI NTB pada triwulan III, pembangunan pabrik dan
diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan IV peningkatan kapasitas dermaga di Sumba Timur oleh PT
2018, terutama di wilayah Sulawesi dan Mapua. Sejumlah Pelindo III, serta pembangunan proyek multiyears seperti
faktor yang menjadi pendukung antara lain kenaikan harga pembangunan jembatan, jalan, dan kilang LNG di Papua
CNO yang mampu mendorong produksi CNO di Sulawesi Barat juga turut mendorong kinerja LU konstruksi. Di sisi
Utara, serta kenaikan produksi LNG pasca maintenance lain, peningkatan LU juga terlihat dari capaian kredit
yang dilakukan di tahun 2017 dan 2018 di Papua Barat. konstruksi KTI yang tumbuh sebesar 8,74% (yoy) pada
Perkiraan peningkatan kinerja LU industri terindikasi dari triwulan IV 2018, lebih tinggi dibanding triwulan III 2018
hasil survei kegiatan dunia usaha pada triwulan IV 2018, di yang sebesar 7,20% (yoy) (Grafik IV.13). Namun secara
mana Saldo Bersih Tertimbang (SBT) Perkiraan Harga Jual keseluruhan tahun 2018, kinerja LU konstruksi sedikit
dan Investasi diperkirakan akan mengalami peningkatan melambat dibanding 2017, karena perlambatan
(Grafik IV.12). pertumbuhan yang terjadi di Kalimantan pasca berakhirnya
beberapa proyek PSN.

Sumber: Produsen, diolah


Grafik IV.11. Pertumbuhan Produksi Komoditas Industri Sumber: LBU, diolah
Pengolahan di KTI Grafik IV.13. Kredit ke Beberapa Sektor Utama KTI

Sumber: Survei Kegiatan Dunia Usaha Bank Indonesia Keterangan: p: Proyeksi


Grafik IV.12. Perkembangan Kegiatan Dunia Usaha Industri Sumber: Liaison Bank Indonesia
Pengolahan KTI Grafik IV.14. Likert Scale Kinerja Konstruksi KTI

Konstruksi Pada triwulan I 2019, kinerja LU konstruksi di KTI


diperkirakan sedikit melambat dibandingkan triwulan
Pertumbuhan kinerja LU konstruksi pada triwulan IV
IV 2018. Perlambatan pertumbuhan LU konstruksi KTI
2018 mengalami akselerasi, terutama didukung oleh
triwulan I 2019 terutama terjadi di wilayah Kalimantan, Bali
penyelesaian pembangunan infrastruktur Pemerintah.
Nusra dan Sulawesi, akibat minimnya realisasi belanja
Peningkatan kinerja tersebut didorong oleh percepatan
modal pemerintah dan investasi swasta serta telah
penyelesaian PSN (Proyek Strategis Nasional), realisasi
berakhirnya beberapa proyek pemerintah, antara lain
belanja Pemda serta berlanjutnya pengerjaan proyek
proyek infrastruktur pemerintah di Bali terkait IMF-World
swasta yang bersifat multiyears. Beberapa proyek di
Bank Annual Meeting 2018 yaitu proyek underpass Ngurah
45
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Rai, proyek patung GWK, dan proyek perluasan apron Akomodasi
Bandara I Gusti Ngurah Rai tahap I. Perkiraan dimaksud Kinerja LU penyediaan akomodasi (termasuk makanan
juga terkonfirmasi dari hasil liaison Bank Indonesia (Grafik dan minuman) tumbuh meningkat pada triwulan IV
IV.14). 2018, didukung oleh penyelenggaraan MICE

Perdagangan internasional dan pulihnya kinerja pariwisata pasca


bencana. Akselerasi pertumbuhan LU akomodasi tertinggi
Sejalan dengan perlambatan konsumsi RT,
terjadi di Bali Nusra, dipengaruhi oleh penyelenggaraan
pertumbuhan LU perdagangan juga melambat
IMF-World Bank Annual Meeting pada bulan Oktober 2018.
dibanding triwulan sebelumnya. Perlambatan kinerja LU
Selain itu, juga terjadi peningkatan aktivitas oleh wisatawan
perdagangan KTI tercermin dari pertumbuhan bongkar
nusantara pada libur Natal dan tahun baru, serta
muat barang di pelabuhan utama KTI yang menunjukan
wisatawan mancanegara karena liburan musim dingin
penurunan pada akhir tahun 2018 (Grafik IV. 15). Selain
Eropa dan AS. Namun secara keseluruhan tahun 2018,
itu, perlambatan LU perdagangan juga dipengaruhi
kinerja LU penyediaan akomodasi melambat dibandingkan
perlambatan kinerja sektor utama di KTI, seperti pertanian,
tahun 2017 akibat faktor bencana alam yang terjadi pada
pertambangan, dan industri pengolahan. Secara spasial
paruh kedua tahun 2018. Memasuki triwulan I 2019, kinerja
perlambatan terutama terjadi di Kalimantan dan Sulawesi.
LU akomodasi diperkirakan sedikit meningkat dibanding
Secara keseluruhan tahun 2018, kinerja LU perdagangan
triwulan IV 2018, sejalan dengan perayaan HKBN (Imlek
meningkat dibanding 2017, terutama bersumber dari Bali
dan Cap Go Meh) dan kegiatan persiapan Pilpres dan Pileg.
Nusra yang terkait pelaksanaan kegiatan MICE
Namun, pertumbuhan tersebut tertahan oleh penurunan
internasional pada paruh kedua tahun 2018 dan Pilkada
aktivitas liburan pasca berakhirnya periode peak season
serentak.
pariwisata di Bali.

Sumber: BPS, diolah


Grafik IV.15. Volume Bongkar Muat di Pelabuhan Utama KTI Sumber: BPS, diolah
(Makassar) Grafik IV.17. Jumlah Wisatawan Mancanegara

Fiskal Daerah
Realisasi pendapatan daerah dalam APBD di KTI pada
triwulan IV 2018 lebih baik dibandingkan 2017, namun
belum diikuti dengan kinerja belanja daerah.
Peningkatan realisasi pendapatan dipengaruhi oleh
Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Perimbangan
(Tabel IV.2). Secara spasial, realisasi PAD meningkat di
sebagian besar wilayah kecuali Maluku-Papua yang relatif
stabil. Realisasi Dana Perimbangan meningkat di semua
Sumber: Liaison Bank Indonesia wilayah kecuali Bali Nusra yang relatif stabil. Di sisi lain,
Grafik IV.16. Perkembangan Penjualan Domestik dan Harga Jual
penyerapan anggaran belanja tercatat lebih rendah
dibanding tahun sebelumnya, karena turunnya tingkat
Memasuki triwulan I 2019, LU perdagangan di KTI
realisasi belanja operasional (termasuk transfer) yang
diperkirakan mengalami akselerasi terutama di wilayah
mendominasi pangsa belanja daerah hingga 79,88%.
Kalimantan dan Sulawesi, karena beberapa faktor antara
Secara spasial, hampir semua wilayah mencatat realisasi
lain HBKN seperti Imlek dan Cap Go Meh, peningkatan
belanja operasional dan transfer yang lebih rendah kecuali
UMP, serta belanja untuk persiapan pelaksanaan Pemilu
Sulawesi yang meningkat hingga mencapai 98,28%. Akan
Pileg dan Pilpres. Perkiraan pertumbuhan LU perdagangan
tetapi, belanja modal di KTI tercatat meningkat di semua
juga terkonfirmasi dari hasil liaison Bank Indonesia.
46
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
wilayah kecuali Sulawesi, seiring pembangunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada
infrastruktur yang masif di wilayah timur Indonesia seperti triwulan tersebut, inflasi KTI tercatat 3,58% (yoy),
jalan tol di wilayah Kalimantan serta Trans Maluku dan meningkat dari triwulan III 2018 sebesar 2,89% (yoy).
Trans Papua di wilayah Maluku-Papua. Realisasi belanja Peningkatan inflasi pada triwulan IV 2018 disumbang oleh
modal tertinggi dicapai oleh kawasan Bali Nusra sebesar tekanan inflasi pada kelompok bahan makanan, sandang,
96,58% yang didorong oleh percepatan penyelesaian pendidikan, dan transportasi (Grafik IV.19). Peningkatan
proyek infrastruktur terutama yang terkait event IMF-World harga berbagai barang ini dipengaruhi oleh meningkatnya
Bank Annual Meeting 2018. Penyerapan belanja di KTI pada permintaan pada periode akhir tahun perayaan Natal,
triwulan IV 2018 tercatat sebesar 90,64%, lebih rendah Tahun Baru, dan liburan akhir tahun. Secara khusus,
dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya peningkatan inflasi bahan makanan juga disebabkan oleh
sebesar 93,72%. keterbatasan pasokan akibat produksi dan distribusi yang
terganggu karena kondisi cuaca yang ekstrim. Sementara
Tabel IV.2. Realisasi Agregat APBD Provinsi di KTI
Realisasi (%)* itu, untuk kelompok transport, komunikasi, dan jasa
Komponen APBD 2017 Q4 2018 Q4 keuangan, tekanan inflasi disebabkan oleh naiknya tarif
Agregat KTI angkutan udara di berbagai daerah di KTI karena
Pendapatan APBD Provinsi 97.04 98.76 permintaan yang tinggi.
Pendapatan Asli Daerah 99.99 104.18
Secara spasial, kenaikan inflasi terjadi di seluruh
Dana Perimbangan 96.12 100.31
wilayah, kecuali Bali Nusra. Inflasi Kalimantan meningkat
Lain-lain Pendapatan yang Sah 107.41 99.72
didorong oleh kenaikan harga komoditas dari kelompok
Belanja APBD Provinsi 93.72 90.64
transport, komunikasi, dan jasa keuangan, yaitu tarif
Belanja Operasional + Transfer 96.03 94.25
angkutan udara dan tarif pulsa ponsel. Selanjutnya Inflasi
Belanja Modal 85.07 87.14
Belanja Tidak Terduga 136.15 16.27 di wilayah Sulawesi lebih tinggi dari triwulan sebelumnya
Sumber: SKPD masing-masing provinsi akibat peningkatan pada kelompok bahan makanan karena
*) angka sementara keterbatasan pasokan ikan segar, sayur-sayuran, dan
bumbu-bumbuan. Kemudian inflasi di wilayah Maluku-
Tabel IV.3. Realisasi Agregat APBD Provinsi di Kalimantan dan
Sulawesi Papua lebih tinggi dari periode sebelumnya terutama
Realisasi (%)* disumbang oleh naiknya harga komoditas kelompok bahan
Komponen APBD 2017 Q4 2018 Q4 2017 Q4 2018 Q4
makanan dan transport, komunikasi, dan jasa keuangan.
Kalimantan Sulawesi
Pendapatan APBD Provinsi 98.05 107.43 98.97 100.51 Sementara di Bali Nusra penurunan inflasi dipengaruhi
Pendapatan Asli Daerah 103.40 109.66 100.66 102.97 oleh kelompok bahan makanan, karena ketersediaan
Dana Perimbangan 92.08 105.30 98.17 98.97
Lain-lain Pendapatan yang Sah 305.87 131.67 107.63 178.83 pasokan yang mencukupi. Dinamika perkembangan di
Belanja APBD Provinsi 99.45 91.23 92.67 96.55 masing-masing wilayah pada triwulan IV mengakibatkan
Belanja Operasional + Transfer 101.26 92.79 92.92 98.28
secara tahunan inflasi KTI pada tahun 2018 mengalami
Belanja Modal 92.48 86.12 89.08 88.81
Belanja Tidak Terduga 12.44 7.18 408.53 8.46 peningkatan dibandingkan 2017, dari 3,35% (yoy) menjadi
Sumber: SKPD masing-masing provinsi 3,58% (yoy). Peningkatan inflasi terutama didorong oleh
*) angka sementara
peningkatan harga daging ayam ras, bawang merah, dan
Tabel IV.4. Realisasi Agregat APBD Provinsi di Mapua dan Bali cabai rawit. Selain itu, tarif angkutan udara juga mengalami
Nusra peningkatan pada tahun 2018 yang didorong oleh
Realisasi (%)*
kenaikan biaya operasional maskapai.
Komponen APBD 2017 Q4 2018 Q4 2017 Q4 2018 Q4
Mapua Balinusra
Pendapatan APBD Provinsi 93.85 88.82 97.90 97.85
Pendapatan Asli Daerah 85.88 85.70 98.53 101.62
Dana Perimbangan 96.67 97.82 97.63 97.38
Lain-lain Pendapatan yang Sah 99.80 100.25 91.91 32.21
Belanja APBD Provinsi 87.81 82.75 94.54 94.04
Belanja Operasional + Transfer 93.74 92.04 95.29 93.84
Belanja Modal 71.79 83.27 90.76 96.58
Belanja Tidak Terduga 24.65 29.03 1.83 20.03
Sumber: SKPD masing-masing provinsi
*) angka sementara

Perkembangan Inflasi Sumber: BPS, diolah


Inflasi KTI pada triwulan IV 2018 terkendali dalam Grafik IV.18. Perkembangan Inflasi KTI secara Spasial

rentang sasaran inflasi, meski mengalami peningkatan

47
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
sesuai dengan kerangka peta jalan pengendalian inflasi
daerah periode 2019-2021 yang mencakup upaya untuk
menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan,
kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif (4K). Dari sisi
ketersediaan pasokan, implementasi program TPID
terutama fokus pada pasokan komoditas beras, daging
ayam ras, ikan segar, cabai rawit, cabai merah, serta
bawang merah. Beberapa program yang telah dan akan
terus dilakukan antara lain adalah: (1) sistem pertanian
tanaman bahan makanan dan unggas yang terintegrasi di
Sumber: BPS, diolah
Grafik IV.19. Inflasi KTI per Kelompok Pengeluaran Bali Nusra, (2) perluasan urban farming di Sulawesi,
Kalimantan, dan Bali Nusra, (3) kerja sama penyediaan
Memasuki triwulan I 2019, inflasi KTI pada Januari pasokan ikan dengan pelaku industri ke pasar tradisional di
2019 tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata Mapua, (4) pemberian bantuan teknis dan sarana-
historisnya. Secara tahunan, inflasi Januari 2019 tercatat prasarana penangkapan ikan di Mapua dan Sulawesi, (5)
sebesar 3,58% (yoy), lebih rendah dari rata-rata historis pengembangan klaster ikan bandeng dan aneka bumbu di
tiga tahun sebelumnya (2016-2018) sebesar 3,66% (yoy). Sulawesi, serta (6) penguatan distribusi pasokan daging
Perkembangan harga terkini mengindikasikan adanya ayam ras beku sebagai alternatif daging ayam ras segar di
penurunan inflasi pada triwulan I 2019. Survei Pemantauan Kalimantan. Sementara untuk menjaga kelancaran
Harga (SPH) yang diselenggarakan Bank Indonesia sampai distribusi, TPID menjalankan berbagai program untuk
dengan minggu kedua Februari 2019 mengindikasikan memperkuat kerjasama antardaerah serta memastikan
adanya potensi penurunan harga secara umum, khususnya tersedianya infrastruktur transportasi yang memadai.
untuk komoditas beras, daging ayam ras, telur ayam ras, Penguatan perdagangan antardaerah dilakukan baik
cabai merah, cabai rawit, ikan layang, ikan cakalang, antarprovinsi di KTI, antara provinsi di luar KTI,
maupun angkutan udara (Grafik IV.20). Penurunan antarkabupaten dalam satu provinsi, maupun antara
terutama dipengaruhi oleh pasokan yang membaik karena kabupaten di dua provinsi yang berbeda. Penguatan
cuaca yang lebih kondusif dan dimulainya musim panen di infrastruktur transportasi dan konektivitas ditempuh oleh
daerah sentra. Di samping itu, tekanan permintaan juga TPID melalui pembangunan dan perbaikan jalan serta
mulai menurun pasca liburan akhir tahun. Dengan jembatan untuk memastikan kelancaran distribusi barang
demikian, inflasi triwulan I 2019 diprakirakan berada dalam dari daerah asal ke daerah tujuan.
rentang 3,30% - 3,70% (yoy). Namun beberapa risiko tetap
harus diwaspadai, antara lain kemungkinan cuaca ekstrim Stabilitas Keuangan Daerah
yang dapat menyebabkan banjir atau longsor khususnya di Ketahanan Sektor Korporasi
Sulawesi dan Mapua, peningkatan harga emas
Kinerja keuangan korporasi pada triwulan III 2018
internasional, serta peningkatan permintaan menjelang
cenderung menurun dibandingkan triwulan II 2018
Pilpres dan Pileg tahun 2019.
akibat mulai terbatasnya peningkatan harga komoditas
ekspor utama KTI. Penurunan kinerja korporasi pada
triwulan III 2018 terindikasi dari melemahnya rasio
profitabilitas dan likuiditas. Namun kemampuan membayar
utang atau repayment capacity korporasi membaik
tercermin dari penurunan indikator Debt Service Ratio
(DSR) dan kemampuan untuk membayar cicilan bunga
(Interest Coverage Ratio atau ICR) masih dalam threshold
yang aman.

Kondisi solvabilitas korporasi di KTI pada triwulan III


Sumber: Survei Pemantauan Harga 2018 membaik. Peningkatan kinerja solvablitas tersebut
Grafik IV.20. Perkembangan Harga Beberapa Komoditas tercermin oleh penurunan Debt to Equity Ratio (DER) yaitu
pada level 0,80, lebih rendah dari triwulan sebelumnya
Untuk meminimalisir risiko peningkatan tekanan inflasi
yang tercatat sebesar 0,82 (Grafik IV.21). Untuk korporasi
2019, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) telah
penghasil produk logam dan produsen batubara, rasio DER
menyiapkan beberapa kebijakan strategis. Beberapa
relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya.
program baru pada tahun 2019 akan segera diinisiasi

48
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
revenue yang ada. Berdasarkan komoditas yang dihasilkan,
peningkatan profit margin korporasi terutama terjadi pada
korporasi penghasil batubara dan produk logam.

Sumber: Bloomberg (45 korporasi listed yang beroperasi di KTI)


Grafik IV.21. DER Korporasi di KTI

Pada triwulan III 2018, rasio rentabilitas korporasi di


KTI mengalami penurunan, khususnya korporasi Sumber: Bloomberg (49 korporasi listed yang beroperasi di KTI)
Grafik IV.24. ROA Korporasi di KTI
pertambangan batubara. Return on Asset (ROA) yang
mencerminkan kinerja korporasi dalam menghasilkan laba
mengalami penurunan dari 5,31% menjadi 4,93% pada
triwulan III 2018 (Grafik IV.24). Penurunan ROA terjadi pada
sebagian besar korporasi terutama pada korporasi yang
bergerak di pertambangan batubara seiring dengan
pelemahan harga komoditas batubara sepanjang triwulan
III 2018. Sementara itu, profitabilitas korporasi penghasil
produk logam mengalami perbaikan.

Sumber: Bloomberg (45 korporasi listed yang beroperasi di KTI)


Grafik IV.25. Profit Margin Korporasi KTI

Eksposur Perbankan pada Sektor Korporasi


Penyaluran kredit perbankan kepada sektor korporasi
pada triwulan IV 2018 meningkat sejalan dengan
perbaikan repayment capacity korporasi. Pertumbuhan
kredit kepada debitur korporasi juga diiringi dengan
Sumber: Bloomberg (47 korporasi listed yang beroperasi di KTI) penurunan risiko kredit. Pertumbuhan kredit kepada
Grafik IV.22. DSR Korporasi di KTI debitur korporasi meningkat dari 17,98% (yoy) pada
triwulan III 2018 menjadi 19,57% (yoy) pada triwulan IV
2018 (Tabel IV.5). Dari sisi jenis penggunaan kredit,
akselerasi terjadi pada kredit investasi, sementara menurut
lapangan usaha (LU), percepatan pertumbuhan kredit di
KTI terutama terjadi pada LU pertambangan nikel dan
tembaga, serta LU industri pengolahan. Secara spasial,
akselerasi pertumbuhan kredit korporasi terjadi di Sulawesi
dan Maluku-Papua (Mapua). Penurunan risiko kredit yang
disalurkan perbankan tercermin dari NPL korporasi yang
lebih rendah pada triwulan IV 2018. Meski terdapat dua LU
Sumber: Bloomberg (51 korporasi listed yang beroperasi di KTI) yang memiliki rasio NPL di atas 5%, yaitu LU konstruksi
Grafik IV.23. CR Korporasi di KTI (9,36%) dan LU perdagangan (5,17%) Penurunan rasio NPL
tersebut merupakan dampak dari perbaikan repayment
Dalam periode yang sama, profit margin korporasi
capacity.
masih tercatat meningkat menjadi 7,46% pada triwulan
III 2018 (Grafik IV.25). Kenaikan profit margin terutama Peningkatan penyaluran kredit juga didukung dengan
disebabkan oleh efisiensi yang dilakukan korporasi penyerapan dana pihak ketiga (DPK) yang bersumber
sehingga dapat mengoptimalkan tingkat laba dari sales dari nasabah korporasi. Penghimpunan DPK nasabah

49
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
korporasi tumbuh meningkat pada triwulan IV 2018 dan Bali Nusra (Grafik IV.27). Peningkatan pertumbuhan
menjadi 10,40% (yoy), lebih tinggi dari triwulan DPK ini ditengarai karena pencairan gaji ke-13 pegawai
sebelumnya yang tumbuh sebesar 10,26% (yoy). negeri sipil sejak awal triwulan laporan. Akselerasi
Peningkatan DPK terjadi pada jenis simpanan giro dan pertumbuhan DPK rumah tangga khususnya terjadi pada
deposito. Adapun secara spasial, meningkatnya jenis simpanan deposito.
pertumbuhan DPK korporasi hanya terjadi di wilayah
Tabel IV.6. Pertumbuhan Kredit dan Rasio NPL Sektor Rumah
Kalimantan. Tangga
gKredit (% yoy) NPL (%)
Tabel IV.5. Pertumbuhan Kredit dan Rasio NPL Korporasi Indikator &
2017 2018 2017 2018
gKredit (% yoy) NPL (%) Wilayah
Indikator & IV III IV IV III IV
2017 2018 2017 2018 Total Kredit 11.41 11.16 8.83 1.69 1.83 1.62
Wilayah
I IV I I IV I KPR + KPA 7.36 11.92 10.45 3.68 4.05 3.49
Total Kredit 3.00 12.87 17.19 5.70 4.80 4.40 Tipe ≤ 21 (16.18) 12.65 5.27 2.51 2.71 1.87
- Modal Kerja (0.97) 18.02 24.42 7.19 6.25 5.60 Tipe 22 sd 70 17.29 14.94 16.55 3.38 3.53 3.01
- Investasi 6.45 9.14 11.96 4.58 3.62 3.40 Tipe > 70 (0.66) 10.21 1.77 4.18 4.95 4.42
- Konsumsi (24.89) (33.21) (42.09) 1.74 1.39 1.46 KKB 0.29 16.86 17.24 1.68 1.97 2.13
- Pertanian 26.44 13.25 8.83 0.16 0.17 0.29 Roda 4 1.04 16.19 16.34 1.46 1.82 1.54
- Tambang (10.46) 73.75 100.25 19.34 5.25 3.92 Roda 2 4.69 22.98 20.28 1.80 1.87 5.21
- Industri (6.30) (11.40) (2.26) 4.57 4.10 3.70 Peralatan RT 58.91 58.24 50.60 1.34 2.13 1.27
- Konstruksi (7.72) 6.61 14.99 7.04 15.44 13.48 Multiguna 15.06 13.20 11.18 0.80 0.88 0.83
- Perdagangan (0.22) 10.83 12.66 5.68 4.12 4.62 RT Lainnya 10.94 1.42 (3.78) 1.14 1.20 0.94
- Akomodasi 8.98 5.16 1.68 5.13 8.98 7.01 Kalimantan 9.18 12.30 12.82 2.79 2.07 2.89
Kalimantan 4.95 9.71 13.22 6.70 3.55 3.40 Sulawesi 10.73 10.54 10.44 2.32 1.81 2.31
Sulawesi (1.02) 10.06 14.83 3.32 8.31 7.71 Mapua 12.50 13.89 12.75 2.25 2.18 1.81
Mapua 4.48 38.08 36.58 5.82 2.55 2.40 Balinusra 8.01 9.61 10.04 1.94 1.38 1.84
Balinusra 1.51 20.61 29.12 5.21 5.19 4.08
Sumber: Laporan Bank Umum, diolah
Sumber: Laporan Bank Umum, diolah

Sumber: Laporan Bank Umum, diolah


Sumber: Laporan Bank Umum, diolah
Grafik IV.27. Pertumbuhan DPK Milik Perseorangan per Wilayah
Grafik IV.26. Pertumbuhan DPK Milik Korporasi

Pembiayaan Sektor Usaha Mikro, Kecil dan


Ketahanan Sektor Rumah Tangga
Menengah (UMKM)
Pertumbuhan kredit kepada sektor rumah tangga pada
Kinerja penyaluran kredit kepada sektor UMKM
triwulan IV 2018 mengalami perlambatan (Tabel IV.6)
mengalami peningkatan pada triwulan IV 2018 (Tabel
sejalan dengan perlambatan konsumsi RT. Berdasarkan
IV.7). Berdasarkan jenis penggunaannya, akselerasi kredit
jenis penggunaannya, perlambatan pertumbuhan kredit
UMKM didorong oleh seluruh jenis kredit, yaitu kredit
rumah tangga terutama terjadi pada Kredit Pemilikan
modal kerja (KMK) maupun kredit investasi (KI).
Rumah (KPR) serta apartemen (KPA) dan kredit multiguna.
Berdasarkan lapangan usaha (LU), akselerasi kredit
Secara spasial, perlambatan pertumbuhan kredit rumah
perbankan kepada UMKM didorong oleh LU utama yakni
tangga terjadi di wilayah Sulawesi dan Mapua, sejalan
pertanian, pertambangan, serta akomodasi dan makan-
dengan penurunan pertumbuhan ekonomi di wilayah
minum. Akselerasi kredit LU pertanian sejalan dengan
tersebut. Sementara itu, rasio NPL pada sektor rumah
ekspansi usaha perkebunan sawit di beberapa daerah
tangga pada triwulan IV 2018 sedikit membaik dan tercatat
seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan
masih di level yang rendah. Penurunan rasio NPL tersebut
Sulawesi Barat.
didukung oleh terjaganya NPL untuk kredit jenis KPR,
peralatan rumah tangga, maupun kredit multiguna. Selanjutnya, kredit pertambangan juga tumbuh meningkat
karena ekspansi bisnis pertambangan batubara yang
Dari sisi DPK, pertumbuhan DPK perseorangan
mayoritas berada di Kalimantan. Sementara itu, kredit
meningkat pada triwulan IV. Secara spasial, akselerasi
akomodasi dan makan-minum meningkat didorong oleh
pertumbuhan DPK terutama terjadi di Sulawesi, Mapua,
ekspansi bisnis pariwisata di Bali. Peningkatan penyaluran
50
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
kredit UMKM tetap didukung dengan risiko kredit yang sedikit menurun dibandingkan triwulan III 2018 yang
membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. tercatat sebanyak 2,23 juta lembar kliring dengan nilai
Sepanjang tahun 2018, rasio NPL UMKM menunjukkan tren nominal sebesar Rp81,70 triliun.
menurun yang mengindikasikan adanya perbaikan kinerja
UMKM di KTI didukung penyaluran kredit yang tumbuh
meningkat. Secara spasial, perbaikan rasio NPL terjadi
merata di seluruh wilayah KTI.

Tabel IV.7. Pertumbuhan Kredit dan NPL UMKM


gKredit (% yoy) NPL (%)
Indikator &
2017 2018 2017 2018
Wilayah
IV III IV IV III IV
Total Kredit 9.17 7.10 7.85 4.31 4.29 3.69
- Modal Kerja 10.49 8.36 9.15 4.42 4.48 3.79
- Investasi 6.21 4.22 4.81 4.07 3.85 3.44
- Pertanian 26.07 9.53 9.85 2.08 2.00 1.67
- Tambang (3.70) 34.04 143.98 4.74 3.09 1.83 Grafik IV.29. Volume Transaksi Kliring
- Industri 10.61 6.75 6.53 4.08 3.85 3.43
- Konstruksi 2.48 6.85 5.88 10.22 10.22 10.22
- Perdagangan 6.00 5.89 4.89 4.14 4.33 3.71
- Akomodasi 12.77 7.38 10.52 4.28 3.81 3.27
Kalimantan 9.63 5.89 8.36 4.27 4.51 3.86
Sulawesi 10.04 7.70 7.88 4.59 4.56 4.02
Mapua 0.77 3.06 1.73 7.39 4.26 3.69
Balinusra 10.92 9.32 9.44 2.89 3.71 3.09
Sumber: Laporan Bank Umum, diolah

Sistem Pembayaran dan Pengelolaan


Uang Rupiah
Sistem Pembayaran Nontunai Grafik IV.30. Nominal Transaksi Kliring
Pada triwulan IV-2018, aktivitas sistem pembayaran
non tunai di KTI melalui RTGS mengalami akselerasi. Selama triwulan IV 2018, aliran transfer dana melalui

Secara nominal, aliran keuangan nontunai melalui Bank Perusahaan Transfer Dana (PTD) nonbank luar negeri

Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) di wilayah ke KTI mengalami penurunan. Dalam periode ini, transfer

KTI menunjukkan peningkatan dari Rp109,37 triliun pada dana dari luar negeri tercatat Rp2,07 triliun, dimana

triwulan III-2018 menjadi Rp111,24 triliun pada triwulan IV sebagian besar ditujukan ke wilayah Bali Nusra Rp1,40
triliun yang merupakan kantong utama TKI (NTB).
2018. Dengan demikian, secara tahunan, pertumbuhan
nominal transaksi RTGS tercatat mengalami peningkatan, Sementara itu, aliran dana dari KTI ke luar negeri melalui

yaitu dari 23,16% (yoy) pada triwulan III 2018 menjadi PTD tercatat Rp0,11 triliun. Dengan demikian, posisi aliran

34,95% (yoy) pada triwulan IV 2018 (Grafik IV.28). Namun, transfer dana asing ke KTI pada triwulan IV 2018 tercatat
net in sebesar Rp1,95 triliun, tumbuh sebesar 12,26% (yoy).
volume transaksi dan nilai nominal kliring pada triwulan IV
2018 tercatat lebih rendah dibandingkan triwulan Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibanding triwulan

sebelumnya. sebelumnya yang tumbuh sebesar 36,99% (yoy) dengan


nominal net in sebesar Rp2,02 triliun.

Grafik IV.28. Nominal Transaksi RTGS

Volume transaksi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia


Grafik IV.31. Transfer Dana Internasional PTD Nonbank
(SKNBI) pada triwulan IV 2018 tercatat sebanyak 2,19 juta
lembar kliring dengan nilai nominal sebesar Rp81,91 triliun,
51
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
(Rp50 ribu dan Rp100 ribu). Temuan uang palsu paling
banyak terjadi di wilayah Bali Nusra (972 lembar),
sementara yang terendah di wilayah Maluku Papua dengan
jumlah temuan 29 lembar. Tren penurunan temuan jumlah
uang palsu tersebut tidak terlepas dari upaya peningkatan
layanan penukaran, kas keliling, kas titipan, sosialisasi ciri-
ciri keaslian uang Rupiah kepada masyarakat, serta kerja
sama dengan perbankan dan pihak yang berwenang.

Grafik IV.32. Transaksi E-Commerce KTI

Transaksi e-commerce terus mengalami peningkatan di


wilayah KTI. Pada triwulan IV 2018, transaksi e-commerce
di KTI tercatat mencapai Rp1,315 triliun atau tumbuh
192,81% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang
tumbuh 139,90% (yoy). Secara spasial, Bali Nusra dan
Kalimantan merupakan daerah dengan transaksi e-
commerce terbesar dengan pangsa masing-masing 41,61%
Grafik IV.34. Temuan Uang Palsu
dan 36,77% dari total transaksi e-commerce KTI (Grafik
IV.32). Jika dilihat dari jenis produknya, transaksi penjualan
KUPVA Bukan Bank
produk dalam e-commerce di KTI didominasi oleh produk
fashion (22,26%) dan produk handphone & aksesoris Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank
(16.53%). (KUPVA BB) berizin di wilayah KTI mengalami
peningkatan dari sisi volume usaha. Pada triwulan IV
Pengelolaan Uang Rupiah 2018, jumlah transaksi penjualan valuta asing melalui
Sesuai pola historisnya, aliran uang kartal di KTI pada KUPVA BB di KTI tercatat sebesar Rp6,7 triliun, sementara
triwulan IV 2018 mengalami net outflow seiring transaksi pembelian sebesar Rp6,62 triliun. Dibandingkan
dengan meningkatnya permintaan uang bersamaan periode yang sama di tahun 2017, jumlah tranksaksi
dengan momen HBKN dan tahun baru 2019 (Grafik penjualan dan pembelian tersebut meningkat sebesar 6%
IV.33). Pada triwulan IV 2018, aliran uang kartal ke Bank (yoy). Peningkatan tersebut sejalan dengan meningkatnya
Indonesia tercatat net outflow sebesar Rp26,1 triliun, pertumbuhan jumlah wisman yang berkunjung ke wilayah
setelah pada triwulan III 2018 mengalami net inflow KTI pada triwulan IV 2018. Secara spasial, jumlah transaksi
sebesar Rp2,48 triliun. Dalam kaitan tersebut, upaya valuta asing tertinggi terjadi di Provinsi Bali sebagai pintu
penyediaan uang Rupiah layak edar dan berkualitas di KTI masuk utama wisman di KTI, dengan total transaksi
terus dilakukan oleh Bank Indonesia, termasuk upaya untuk penjualan dan pembelian mencapai Rp9,03 triliun. Bank
memitigasi peredaran uang palsu. Indonesia bekerja sama dengan pihak berwajib terus
meningkatkan upaya penertiban KUPVA BB tidak berizin
guna memberikan perlindungan kepada konsumen
sekaligus mendukung pengembangan pariwisata di
Indonesia. Ke depan, pengembangan Kegiatan Usaha
Penukaran Valuta Asing (KUPVA) berizin di beberapa
destinasi pariwisata prioritas nasional seperti Sulawesi
Tenggara, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa
Tenggara Barat akan terus ditingkatkan.

Prospek Perekonomian
Grafik IV.33. Aliran Uang Kartal
Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Temuan uang palsu yang dilaporkan kepada Bank Perekonomian KTI pada triwulan II 2019 diperkirakan
mengalami peningkatan dibandingkan triwulan I 2019
Indonesia di KTI menurun. Temuan uang palsu pada
ditopang oleh konsumsi swasta dan konsumsi
triwulan IV 2018 tercatat sebanyak 2.066 lembar, turun
dibandingkan 3.760 lembar pada triwulan sebelumnya, pemerintah. Konsumsi swasta diperkirakan meningkat

dengan temuan paling banyak pada denominasi besar menjelang periode hari besar keagamaan dan pelaksanaan

52
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
pemilihan Presiden dan Legislatif 2019. Konsumsi pemerintah, selain realisasi belanja terkait Dana Kelurahan
pemerintah juga diperkirakan meningkat seiring dengan yang melengkapi Dana Desa. Aktivitas investasi
adanya pengeluaran belanja pegawai untuk tunjangan hari diprakirakan masih tumbuh, khususnya pada semester II
raya dan peningkatan realisasi Dana Desa dan Dana didorong oleh percepatan realisasi berbagai proyek
Kelurahan. Ekspor luar negeri diperkirakan mengalami infrastruktur konektivitas, berlanjutnya hilirisasi hasil
sedikit perbaikan terutama berasal dari komoditas nikel tambang dan pertanian, pembangunan pembangkit listrik,
dan turunannya (feronikel atau nickel pig iron/NPI) seiring serta pengembangan Kawasan Industri (KI) maupun
dengan masih tingginya permintaan negara mitra dagang, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Namun demikian,
terutama dari Tiongkok. Namun investasi diperkirakan turunnya produksi tembaga dan outlook harga komoditas
mengalami perlambatan, khususnya berasal dari investasi pertambangan yang tidak setinggi tahun 2018 akan
korporasi dan investasi yang berupa non-bangunan. menyebabkan pertumbuhan ekspor KTI lebih lambat
Sementara investasi terkait infrastruktur Pemerintah masih dibandingkan tahun sebelumnya. Secara spasial,
akan berlanjut, antara lain Tol Balikpapan-Samarinda, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 diprakirakan
Pelabuhan Benoa Bali, Bendungan Ladongi Sulawesi ditopang oleh seluruh wilayah, kecuali Maluku-Papua.
Tenggara, Pelabuhan Kijing Kalbar, proyek kelistrikan di
Kontraksi pertambangan menjadi faktor utama
Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan serta Pelabuhan
perlambatan ekonomi pada 2019. Masa transisi
Gilimas NTB.
operasional pertambangan di Papua mengakibatkan
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi akan penurunan produksi tembaga sehingga berpengaruh
ditopang oleh LU pertanian, industri pengolahan, terhadap kinerja sektor pertambangan KTI secara agregat.
konstruksi, perdagangan, dan akomodasi. Kondisi cuaca Selain pertambangan tembaga, pertambangan batubara di
yang diperkirakan lebih kondusif akan mendorong Kalimantan juga diperkirakan melambat karena penurunan
peningkatan produksi pertanian seperti tanaman padi, outlook harga batubara dan permintaan Tiongkok sebagai
kelapa sawit, kakao, karet maupun aktivitas penangkapan negara mitra utama perdagangan, serta belum adanya
ikan. Industri pengolahan, terutama pengolahan CPO dan tambahan kuota produksi batubara sebagaimana tahun
karet, diperkirakan tumbuh lebih tinggi karena adanya 2018. Di sisi lain, sejalan dengan masih cukup kuatnya
potensi peningkatan harga komoditas internasional untuk pertumbuhan investasi, LU konstruksi diperkirakan masih
komoditas tersebut. Peningkatan pertumbuhan pada LU tumbuh meningkat di berbagai wilayah di KTI.
perdagangan dan akomodasi dipengaruhi oleh Penyelesaian proyek infrastruktur konektivitas seperti jalan
peningkatan konsumsi menjelang HBKN dan kegiatan dan jembatan, penambahan kapasitas kilang LNG di Papua
Pemilu. Namun kinerja LU pertambangan masih akan Barat, rehabilitasi pasca bencana di NTB dan Sulawesi
mengalami kontraksi karena penurunan produksi Tengah, pembangunan sarana olahraga dalam rangka
konsentrat tembaga dan emas karena transisi produksi penyelenggaraan PON tahun 2020 di Papua, serta
tambang dari yang sebelumnya penambangan terbuka pembangunan beberapa smelter baru di Sulawesi
(open pit) menjadi penambangan bawah tanah diprakirakan menjadi penopang kinerja LU konstruksi.
(underground mining), dan penurunan harga komoditas Selain LU konstruksi, LU pertanian juga diperkirakan
nikel. Namun untuk produksi batubara di Kalimantan meningkat dipengaruhi oleh program Pemerintah untuk
diproyeksikan mengalami peningkatan karena kondisi peningkatan produktivitas di 2019, seperti pencetakan
cuaca yang kondusif dan meningkatnya permintaan dari sawah baru, dan perluasan kewajiban penggunaan bahan
negara mitra dagang. bakar B20.

Untuk keseluruhan tahun 2019, ekonomi KTI Beberapa risiko dari eksternal dan internal tetap perlu
diprakirakan tetap tumbuh positif, meski lebih rendah menjadi perhatian ke depan. Dari aspek eksternal,
dari 2018. Perekonomian KTI diprakirakan tumbuh pada beberapa faktor di antaranya pertumbuhan ekonomi
kisaran 3,9%-4,3% (yoy) pada tahun 2019. Dari sisi negara mitra dagang yang lebih rendah dari perkiraan, dan
permintaan, pertumbuhan ekonomi KTI akan ditopang tren penurunan harga komoditas ekspor utama. Hal
oleh konsumsi yang tumbuh kuat di tengah melambatnya tersebut dapat berdampak negatif pada kinerja ekspor
ekspor luar negeri. Konsumsi rumah tangga diperkirakan maupun investasi di daerah. Dari sisi internal, pelaksanaan
meningkat seiring event pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan presiden dan legislatif dapat menyebabkan
legislatif (Pileg) yang dilaksanakan serentak pada triwulan II pelaku usaha melakukan penyesuaian timing realisasi
2019, serta kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) yang investasi. Selain itu, faktor cuaca juga dapat memengaruhi
telah ditetapkan Pemerintah sebesar 8,03%. Kegiatan kinerja produksi komoditas pertanian. Namun, terdapat
Pilpres dan Pileg juga akan mendorong konsumsi beberapa peluang yang berpotensi meningkatkan

53
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
pertumbuhan ekonomi KTI, seperti peningkatan produksi
CPO karena kebijakan B20 Pemerintah, realisasi investasi
proyek pendukung pariwisata sebagai sumber
pertumbuhan ekonomi baru, serta operasionalisasi
beberapa semelter dan pabrik baru.

Prospek Inflasi
Tekanan inflasi di KTI pada triwulan II 2019
diprakirakan menurun. Penurunan tekanan inflasi
dipengaruhi oleh peningkatan ketersediaan pasokan
karena adanya peningkatan produksi komoditas bahan
makanan. Secara spasial, penurunan tekanan inflasi terjadi
di hampir seluruh wilayah kecuali Bali Nusra. Peningkatan
inflasi di Bali Nusra dipengaruhi oleh peningkatan
permintaan domestik karena peningkatan jumlah
kunjungan wisatawan nusantara maupun wisatawan
mancanegara. Dengan berbagai perkembangan tersebut,
tekanan inflasi KTI pada 2019 diprakirakan relatif stabil dan
berada dalam rentang 3,5+1%, (yoy). Inflasi KTI tahun 2019
diprakirakan masih berada dalam kisaran 3,30% - 3,70%
(yoy). Berdasarkan kelompok pengeluaran, terjaganya
tekanan inflasi terutama didukung oleh kelompok bahan
makanan dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan
bahan bakar. Inflasi kelompok bahan makanan
diperkirakan terjaga seiring dengan semakin intensifnya
program kerja sama perdagangan antara daerah surplus
dengan daerah defisit. Selain itu, berbagai upaya
peningkatan luas lahan tanam dan panen juga menjadi
faktor pendukung inflasi pangan yang terkendali di
berbagai daerah. Terjaganya inflasi kelompok perumahan
dipengaruhi oleh kebijakan Pemerintah untuk tidak
menaikkan bahan bakar maupun tarif listrik.

Secara spasial, wilayah Kalimantan dan Mapua


diprakirakan menjadi penyumbang utama penurunan
laju inflasi 2019. Inflasi yang lebih rendah di Kalimantan
dipengaruhi oleh prospek produksi bahan makanan yang
lebih baik pada tahun 2019. Sementara di Mapua terutama
karena penurunan inflasi angkutan udara dibandingkan
tahun lalu. Dengan level harga yang sudah tinggi, inflasi
angkutan udara pada tahun 2019 diprakirakan tidak
setinggi tahun 2018. Sementara itu, untuk Sulawesi dan
Bali Nusra, beberapa daerah diprakirakan mengalami
peningkatan terutama karena gangguan pasokan ikan
segar dan produksi tabama. Beberapa risiko pencapaian
inflasi harus tetap diwaspadai, antara lain potensi kenaikan
harga beras pada periode akhir tahun, tren peningkatan
harga pangan global, serta tingginya permintaan terhadap
angkutan udara.

54
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
BOKS 4

QUALITY TOURISM SEBAGAI FOKUS STRATEGI PARIWISATA


KAWASAN TIMUR INDONESIA

Peluang Quality Tourism Pengembangan Quality Tourism


Pariwisata merupakan sumber pertumbuhan ekonomi Tren kunjungan quality tourism fokus pada wisatawan
baru potensial bagi Indonesia. Pariwisata Indonesia yang milenial. Saat ini demografi quality tourism menunjukkan
selama ini sudah sangat dikenal di pasar internasional dominasi wisatawan milenial dengan rentang usia antara
16
utamanya adalah Bali. Adapun upaya pengembangan 25-34 tahun . Karakteristik wisatawan milenial tersebut
destinasi wisata baru secara intensif sudah dilakukan pada diantaranya (1) mementingkan konektivitas internet, (2)
beberapa tahun terakhir yang terdiri dari 10 destinasi mengedepankan interaksi, (3) sharing economy, (4) mencari
prioritas. Empat diantara destinasi tersebut berada di pengalaman yang otentik, dan (5) selective spending.
Indonesia Timur dengan keunggulan alam pantai dan Dengan demikian, upaya meningkatkan kunjungan quality
bawah laut yaitu Mandalika, Labuan Bajo, Morotai dan tourism berbasis milenial harus mempertimbangkan ke-5
Wakatobi. aspek tersebut.

Mandalika
Mandalika merupakan salah satu destinasi yang
diunggulkan untuk menjadi new Bali dengan fokus
quality tourism. Konsep pengembangan Mandalika saat
17
ini berupa whole leisure and entertainment complex
dipadukan dengan konsep halal tourism. Atraksi yang
sedang dikembangkan merupakan kombinasi antara alam,
leisure dan entertainment eksklusif antara lain sirkuit moto-
GP. Sementara, pengembangan amenitas yang saat ini
Sumber : UNWTO, diolah
sedang berlangsung terutama akomodasi, difokuskan pada
Grafik IV.35. Pertumbuhan Jumlah dan Spending Wisatawan
akomodasi berstandar internasional dan merupakan
Pengembangan destinasi juga perlu menyasar quality bagian dari chain hotel internasional. Berbagai proyek
tourism. Perkembangan quality tourism dalam sepuluh pengembangan tersebut diprakirakan akan beroperasi
tahun terakhir tercatat cukup baik. Pasar quality tourism penuh pada tahun 2021. Selain berbagai proyek tersebut,
umumnya berasal dari Eropa, Amerika dan Australia terdapat potensi atraksi budaya lokal yang dapat
dengan spending yang konsisten lebih tinggi dari rata-rata dikembangkan lebih lanjut, antara lain upacara
dan meningkat dalam 10 tahun terakhir (Grafik IV.35). adat/keagamaan, kelas tenun, traditional cooking class, dll.
Sementara, wisman yang berasal dari India dan Tiongkok Selain itu, pengembangan fasilitas amenitas yang family
juga berpotensi memiliki pasar quality tourism seiring friendly, baik dari sisi akomodasi, restoran, sarana hiburan
dengan peningkatan pengeluarannya yang melebihi Eropa, dan berbelanja dapat dipersiapkan. Pengembangan serupa
Amerika dan Australia. Pemerintah telah menetapkan sudah dilakukan di Dubai yang fokus pada family friendly
target kunjungan dari setiap negara, namun porsi negara tourism dan mampu menarik kunjungan wisatawan
18
dengan pengeluaran per kunjungan yang tinggi masih keluarga mencapai 35% dari total wisatawan .
relatif kecil. Dengan kata lain target yang ditetapkan oleh Upaya penguatan akses di Mandalika oleh Pemerintah
pemerintah belum memiliki fokus tertentu terhadap pasar juga sedang dilakukan. Beberapa proyek peningkatan
quality tourism. Kondisi tersebut berpotensi kualitas infrastruktur konektivitas sudah dalam tahap
menghilangkan peluang pendapatan devisa yang lebih
besar dari quality tourism. Beberapa daerah di Kawasan 16
Sumber: UNWTO
Timur Indonesia memiliki potensi pengembangan quality 17
Whole entertainment complex merupakan pengembangan suatu
tourism karena kekayaan destinasi pariwisata Indonesia kompleks kawasan wisata yang sudah dilengkapi dengan berbagai
yang berbasis lingkungan. kebutuhan hiburan dan relaksasi.
18
Sumber: Dubai Tourism Report-Eye of Riyadh
55
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
pembangunan, yaitu peningkatan kapasitas bandara dan kunjungan di Raja Ampat didominasi oleh wisman dimana
pembangunan jalan akses ke Mandalika. Peningkatan mencapai 85% dari total kunjungan, dengan ketertarikan
kapasitas Bandara Internasional Lombok (BIL) berupa utama untuk melakukan diving dan snorkeling. Wisman
perpanjangan runway masih on-track dan ditargetkan yang mengunjungi Raja Ampat terutama berasal dari
selesai pada tahun 2019. Pembangunan akses by pass dari Amerika, Eropa, Australia dan Asia lainnya.
bandara menuju Mandalika juga sudah menjadi bagian
Batasan carrying capacity telah ditetapkan untuk
dari rencana pengembangan. Selain itu, untuk mendukung
menjaga kelestarian alam di Raja Ampat. Dalam setahun
peningkatan kualitas ketersediaan jaringan komunikasi
carrying capacity Raja Ampat ditetapkan maksimal 90 ribu
dalam rangka mengakomodir kebutuhan social-
orang pengunjung. Dengan batasan tersebut, maka
connectedness wisatawan milenial, pembangunan palapa
menjadi dasar penitngnya re-focusing Raja Ampat sebagai
ring di wilayah timur Indonesia juga ditargetkan selesai
destinasi untuk quality tourism. Untuk mengoptimalkan
2019.
carrying capacity, wisata liveaboard eksklusif menjadi salah

Labuan Bajo satu opsi yang dioptimalkan. Saat ini telah terdapat cukup
19
banyak paket wisata liveaboard di Raja Ampat dengan
Kesinambungan lingkungan menjadi fokus utama
harga cukup bersaing. Minat paket liveaboard ini tergolong
dalam pengembangan atraksi Labuan Bajo.
cukup tinggi terindikasi dari waktu antri pemesanan dapat
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa Labuan Bajo
mencapai 6-18 pada salah satu perusahaan kapal
merupakan pintu masuk untuk mengunjungi Pulau
liveaboard. Hal ini karena, secara total hanya terdapat 44
Komodo yang merupakan habitat bagi Komodo. Saat ini
kapal dari 20 operator yang beroperasi di Raja Ampat.
Pemerintah sedang dalam proses mengkaji carrying
Sementara pertumbuhan minat liveaboard dapat mencapai
capacity yang akan ditetapkan guna tetap menjaga
25% setiap tahun. Selain itu, wisatawan peminat liveaboard
kesinambungan dan keberlanjutan atraksi utama tersebut.
umumnya merupakan golongan berpendapatan tinggi
Selain itu, atraksi pendukung Komodo juga tetap perlu
dengan rata-rata tingkat spending yang cukup tinggi.
dilestarikan. Selain mengunjungi Komodo, wisman yang
Dengan kondisi tersebut maka potensi investasi untuk
berkunjung juga melakukan mengeksplorasi wisata bahari,
penyediaan paket liveabroad masih sangat terbuka.
utamanya diving. Untuk menjaga kebersihan laut di sekitar
Labuan Bajo, Pemerintah telah menyelesaikan penataan
daerah Kampung Ujung yang berlokasi di bibir pantai
Labuan Bajo, yang ke depan masih akan terus dilakukan.
Berbagai upaya tersebut perlu diperkuat dengan edukasi
terkait kelestarian alam bawah laut dan hewan kepada
wisman. Bahkan program edukasi dapat menjadi bagian
dari paket wisata sebagaimana dikembangkan taman
nasional di Afrika, Amerika maupun Amerika Latin.

Selain atraksi, standarisasi kualitas amenitas juga terus


diperbaiki. Perbaikan kualitas amenitas, utamanya
akomodasi, secara tidak langsung juga akan menjaga
kelestarian lingkungan sekitar, seperti penggunaan waste
& water management. Untuk memastikan implementasi hal
tersebut, saat ini sedang dilakukan moratorium
pembangunan hotel melati sebagai strategi untuk
membangun citra quality tourism. Selain itu, di saat yang
bersamaan, sejumlah proyek pembangunan hotel
berbintang dengan standart internasional tengah
dilakukan di dan secara bertahap ditargetkan beroperasi
pada pertengahan tahun 2019.

Raja Ampat
Raja Ampat merupakan salah satu destinasi wisata
bahari dengan kekayaan dan keunikan alam bawah 19
Liveaboard merupakan konsep wisata menggunakan kapal
laut. Bahkan karena keindahan alamnya, Raja Ampat juga
mewah sebagai akomodasi sekaligus transportasi yang dilengkapi
menjadi salah satu world heritage UNESCO. Saat ini dengan layanan diving dan snorkeling serta hop on hop off island.
56
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
BAGIAN 5
ISU STRATEGIS: MEMPERKUAT PERAN PARIWISATA DALAM
PERBAIKAN STRUKTUR NERACA TRANSAKSI BERJALAN

Peran pariwisata dalam menopang perbaikan struktur neraca transaksi berjalan terus meningkat. Hal ini tercermin
dari penerimaan devisa pariwisata pada 2018 yang mencapai US$15,6 miliar, lebih tinggi dari tahun 2017 sebesar
US$14,1 miliar, yang didorong oleh meningkatnya jumlah kunjungan wisman. Setidaknya terdapat dua pelajaran
penting yang dapat diambil dari peningkatan kinerja pariwisata 2018, yakni pentingnya mitigasi dan komunikasi
penanganan bencana, serta pentingnya optimalisasi event MICE (meeting, incentive, conference, exhibition)
internasional besar untuk promosi wisata leisure. Agar penerimaan devisa pariwisata terus meningkat, Pemerintah
telah melakukan berbagai upaya untuk memperkuat destinasi wisata, promosi pariwisata, serta pelaku usaha
pariwisata. Terkait penguatan akses ke destinasi wisata, sedang berlangsung proyek peningkatan kapasitas bandara
dua pintu masuk utama wisman ke Indonesia, yakni Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Ngurah Rai. Selain itu,
masih terdapat peluang meningkatkan akses wisman melalui jalur laut, khususnya untuk kapal pesiar. Dari sisi
amenitas dan atraksi di destinasi wisata, sedang berlangsung pembangunan chain hotels di beberapa daerah,
walaupun saat ini masih terpusat di Jawa dan Bali. Guna menjaga kesinambungan pengembangan destinasi wisata
ke depan, pengesahan rencana peruntukan lahan di setiap daerah penting untuk segera diselesaikan. Untuk destinasi-
destinasi yang sudah siap dari sisi akses, amenitas, dan atraksi, intensifikasi promosi dapat menjadi fokus untuk
meningkatkan kedatangan wisman dan meningkatkan length of stay. Berbagai strategi promosi telah dilaksanakan
Pemerintah pada 2018, antara lain low season program yang akan terus digalakkan pada 2019. Lebih lanjut, promosi
wisata leisure pada event-event MICE internasional dapat terus dilanjutkan sebagaimana yang telah dilaksanakan
pada IMF-World Bank Annual Meeting 2018. Penguatan lapangan usaha pendukung pariwisata juga menjadi salah
satu fokus Pemerintah. Beberapa kebijakan yang dapat mendukung penguatan pelaku usaha pariwisata ke depan
antara lain pemberian insentif untuk investasi maupun fasilitas pembiayaan, khususnya untuk UMKM.

Latar Belakang
Pariwisata telah menjadi salah satu penopang perbaikan
struktur neraca transaksi berjalan. Dengan
memanfaatkan berbagai endowments yang telah dimiliki
Indonesia, pariwisata dapat dengan cepat mendatangkan
devisa yang bersumber dari pengeluaran wisatawan
mancanegara (wisman) di berbagai destinasi wisata
nasional. Ke depan, perannya sebagai alternatif sumber
penerimaan devisa nasional semakin penting, mengingat
tekanan permintaan global terhadap komoditas ekspor Sumber: Neraca Pembayaran Indonesia, Bank Indonesia
Grafik V.1. Penerimaan Devisa Pariwisata
nasional masih akan berlanjut.

Berbagai upaya Pemerintah dalam meningkatkan Setidaknya terdapat 2 (dua) pelajaran penting dari
penerimaan devisa dari pariwisata telah mulai berbagai peristiwa yang memengaruhi kinerja
menunjukkan hasil. Pada tahun 2018, penerimaan devisa pariwisata nasional pada 2018. Pertama, mitigasi dan
pariwisata mencapai US$15,6 miliar20, lebih tinggi komunikasi aktif Pemerintah pasca bencana penting untuk
dibandingkan tahun 2017 sebesar US$14,1 miliar (Grafik menjaga persepsi wisman terhadap Indonesia sebagai
V.1.). Capaian tersebut didukung oleh meningkatnya jumlah tempat yang aman untuk berwisata. Bencana yang terjadi
kunjungan wisman ke Indonesia pada 2018. Berdasarkan pada akhir 2017 dan paruh kedua 2018 (erupsi Gunung
rilis BPS, kunjungan wisman mencapai 15,8 juta, tumbuh Agung dan Gempa Lombok) memiliki dampak signifikan
12,58% (yoy) dibandingkan kunjungan wisman 2017 sebesar terhadap kunjungan wisman ke Indonesia. Pada periode
14,0 juta. tersebut, kunjungan wisman ke Bali dan Lombok menurun

20
Terdiri dari jasa transportasi penumpang dan jasa perjalanan.
Sumber: Neraca Pembayaran Indonesia, Bank Indonesia.

57
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
cukup dalam, khususnya wisman asal Tiongkok dan India. yang siap untuk dipromosikan ataupun destinasi yang
Meskipun demikian, dengan berbagai upaya Pemerintah masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Bagi
melalui sinergi bersama para pelaku usaha pariwisata destinasi-destinasi dengan atraksi dan amenitas yang sudah
nasional, kunjungan wisman ke Indonesia pada 2018 tetap siap, peningkatan aksesibilitas bagi wisman dapat segera
dapat tumbuh positif dibandingkan tahun sebelumnya. menjadi prioritas. Sementara itu, untuk destinasi lainnya
Kedua, promosi paket wisata leisure kepada peserta event peningkatan daya tarik atraksi dan ketersediaan amenitas
MICE (meeting, incentive, conference, and exhibition) berkualitas menjadi prioritas sebelum melakukan upaya
internasional terindikasi efektif untuk meningkatkan length penguatan aksesibilitas.
of stay. Terdapat dua event MICE besar yang dilaksanakan di
Indonesia pada 2018, yakni Asian Games di Jakarta dan
Palembang, serta IMF-World Bank Annual Meeting di Bali.
Rata-rata length of stay wisman yang datang ke kedua event
tersebut cukup tinggi, yakni berturut-turut 13 hari dan 7,4
hari (Gambar V.1.). Kondisi tersebut tidak terlepas dari
intensifnya upaya promosi paket wisata, baik secara online
maupun offline, kepada para peserta sebelum event
dilaksanakan.

Sumbe: BPS, diolah.


Grafik V.2. Kunjungan Wisman Berdasarkan Pintu Masuk

Saat ini tengah dilaksanakan berbagai upaya oleh


Pemerintah untuk meningkatkan kapasitas bandara
internasional yang merupakan infrastruktur utama
pintu masuk wisman ke Indonesia. Sampai saat ini,
Bandara Internasional Ngurah Rai dan Soekarno Hatta
masih menjadi dua pintu masuk wisman yang memiliki porsi
paling tinggi, dengan pangsa masing-masing sebesar 38%
dan 18% pada 2018 (Grafik V.2.). Oleh karena itu,
optimalisasi dan efisiensi lalu lintas di kedua bandara
tersebut penting untuk terus dijaga, seiring dengan terus
meningkatnya jumlah kunjungan wisman ke Indonesia.
Beberapa proyek peningkatan air side capacity di kedua
Keterangan: *2.969 delegasi, 5.382 non delegasi; ** Infrastruktur bandara sedang dilaksanakan, dan sebagian di antara
Rp3,05 triliun, pengeluaran peserta Rp0,5 triliun. proyek tersebut akan selesai pada 2019. Di Bandara Ngurah
Sumber: Bappenas, LPEM UI.
Rai, tengah dilaksanakan pembangunan rapid exit taxiway
Gambar V.1. Dampak Penyelenggaraan Asian Games dan IMF-
World Bank Annual Meeting 2018 dengan tujuan untuk mengurangi antrian pesawat yang
akan mendarat, atau dengan kata lain untuk meningkatkan
Ke depan, penguatan peran pariwisata dapat terus intensitas pergerakan pesawat. Proyek tersebut ditargetkan
difokuskan untuk meningkatkan penerimaan devisa. selesai pada 2019 sehingga dapat menopang peningkatan
Berbagai upaya pemerintah mencakup penguatan destinasi, kunjungan wisman tahun ini. Selain itu, proyek
promosi, dan pelaku usaha perlu mendapat dukungan perpanjangan landasan pacu sepanjang 400 m dan
berbagai pihak sehingga dapat terus berperan dalam pembangunan 5 apron (tempat parkir pesawat) juga sedang
meningkatkan jumlah wisman maupun pengeluarannya. Hal dalam proses penyelesaian. Di Bandara Soekarno Hatta,
ini sangat baik untuk mendorong penerimaan devisa yang sedang dilaksanakan pembangunan landasan pancu ketiga,
akan membantu upaya perbaikan struktur neraca transaksi yang dapat mengurangi antrian pesawat lepas landas
berjalan nasional. maupun mendarat. Untuk melengkapi jalur lalu lintas
pesawat di bandara, dibangun pula east cross taxiway yang
Pengembangan Destinasi Wisata merupakan penghubung antar landasan pacu. Kedua
Penguatan destinasi wisata nasional perlu senantiasa proyek di Bandara Soekarno Hatta tersebut diperkirakan
dilakukan untuk menjaga daya tarik wisata Indonesia di selesai pada pertengahan 2019.
mata wisman. Penguatan-penguatan tersebut mencakup
Peningkatan kapasitas bandara juga perlu dibarengi
penguatan akses, amenitas, dan atraksi, baik di destinasi

58
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
dengan insentif untuk meningkatkan jumlah pelabuhan kapal pesiar dapat menjadi alternatif pintu
penerbangan internasional menuju Indonesia. Dalam masuk wisman ke Indonesia sehingga kunjungan wisman ke
kaitan tersebut, telah tersedia berbagai insentif yang Indonesia lewat jalur laut dapat terus meningkat.
diberikan oleh Pemerintah dan pengelola bandara kepada
Untuk destinasi-destinasi berorientasi quality tourism
maskapai penerbangan. Pemerintah telah menjalin kerja
yang masih dalam tahap pengembangan, penyediaan
sama dengan 15 maskapai penerbangan dan 8 wholeseller
amenitas berkualitas tinggi berupa hotel berjaringan
terkait pemberian insentif untuk pembukaan rute-rute
domestik maupun global (chain hotels) menjadi
tertentu. Selain itu, diberikan pula insentif kepada maskapai
prioritas. Berdasarkan online review wisman, terindikasi
yang memarkirkan pesawatnya (parking base) di luar
bahwa kepuasan wisman terhadap pelayanan chain hotels di
Bandara Soekarno Hatta, mengingat keterbatasan kapasitas
sekitar destinasi wisata prioritas meningkat dibandingkan
parkir pesawat di bandara tersebut. Lebih lanjut, diberikan
2017 (Grafik V.4). Chain hotels akan terus meningkatkan
pula insentif berupa pembebasan biaya (antara lain biaya
kualitas layanan di manapun hotel tersebut berada,
landing, aktivitas promosi, serta inauguration fee) untuk rute
mengingat dampak dari pelayanan yang buruk di satu
internasional baru selama 1 tahun di beberapa bandara.
destinasi akan berdampak pada reputasinya di destinasi lain.
Pada 2019, telah direncanakan penambahan sekitar 13.00022
kamar hotel di berbagai destinasi wisata di Indonesia.
Penambahan jumlah kamar terbesar akan berlokasi di
Jakarta dan Bali (37% dari total penambahan kamar), diikuti
oleh Jawa selain Jakarta (37%), Sumatera (15%), dan
Kawasan Timur Indonesia (11%). Ke depan, Pemerintah
dapat terus mendorong penambahan jumlah kamar hotel di
destinasi-destinasi wisata prioritas pengembangan lainnya,
antara lain dengan meningkatkan kemudahan dan
kepastian dalam berinvestasi.
Sumber: Asia Cruise Trends 2018, Cruise Lines International
Association, diolah
Grafik V.3. Compound Annual Growth Rate (CAGR) Kunjungan
Kapal Pesiar ke Negara ASEAN, 2013-2018

Walaupun bandara masih menjadi pintu masuk utama


wisman, terdapat peluang besar untuk meningkatkan
aksesibilitas wisman dari jalur laut, khususnya dengan
kapal pesiar. Sepanjang 2013-2018, pertumbuhan
kunjungan kapal pesiar ke Indonesia mencapai 20% per
tahun (Grafik V.3), jauh lebih tinggi dibandingkan negara-
negara ASEAN lainnya seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, Keterangan: pangsa review “excellent” terhadap total review, top 5
dan Singapura. Pada tahun 2019, rencana kunjungan kapal hotel berjaringan global dan domestik yang berlokasi di beberapa
pesiar Indonesia diperkirakan sebanyak 593 kunjungan, destinasi wisata prioritas.
Sumber: TripAdvisor, diolah.
meningkat signifikan dibandingkan 2018 sebanyak 495
Grafik V.4. Review Wisman terhadap Hotel Berjaringan Global dan
kunjungan21. Dukungan Pemerintah untuk mendorong Domestik
peningkatan kedatangan kapal pesiar ke Indonesia antara
lain mencakup penguatan infrastruktur dan insentif fiskal. Rencana peruntukan dan penyediaan lahan merupakan
Terkait penguatan infrastruktur, sudah dilakukan salah satu faktor penting dalam meningkatkan
perpanjangan dermaga timur Pelabuhan Benoa di Bali (dari kemudahan investasi. Terkait hal tersebut, rencana
290 m menjadi 340 m), agar kapal pesiar besar dapat peruntukan lahan di setiap daerah telah tercantum pada
bersandar. Selain itu, sedang dilaksanakan pula perluasan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) baik di tingkat
pelabuhan Gili Mas, Nusa Tenggara Barat. Dari sisi insentif nasional, provinsi, maupun kabupaten/kota. Rencana
fiskal, akan diberikan penghapusan pajak penjualan atas peruntukan lahan yang lebih terperinci tercantum pada
barang mewah (PPnBM) bagi yacht atau kapal pesiar asing Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) kabupaten/kota (Gambar
yang masuk ke Indonesia, dengan target efektif pada 2019. V.2). Peran RDTR sangat penting untuk penguatan seluruh
Dengan berbagai upaya Pemerintah tersebut, diharapkan sektor ekonomi yang membutuhkan pembangunan fisik,

21 22
Sumber: Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Bahari Sumber: STR Global, Indonesia Hotel Performance 2018.

59
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
termasuk di antaranya pariwisata dalam rangka terjangkau. Salah satu contoh sukses implementasi program
pengembangan atraksi dan amenitas. Sudah terdapat 41 ini adalah di Kepulauan Riau. Pada 2017, target penjualan
RDTR23 kabupaten/kota yang telah disahkan dalam bentuk paket wisata dalam program low season tersebut adalah 100
peraturan daerah (Perda). Ke depan, pengesahan RDTR di ribu pax, sementara yang terjual mencapai 105 ribu.
destinasi-destinasi wisata prioritas yang masih perlu Kemudian pada 2018, program tersebut dilanjutkan dengan
dikembangkan dapat dipercepat untuk memberi kepastian target yang lebih tinggi yakni 500 ribu pax, dan terealisasi
bagi pengembang dalam membangun atraksi dan amenitas mencapai 689 ribu. Tingginya efektivitas program tersebut
di wilayah tersebut. mengakibatkan pada 2019 program ini diperluas ke
destinasi lainnya, yakni Banyuwangi dengan target
penjualan 100 ribu pax. Diharapkan, perluasan program ini
dapat mendukung peningkatan kunjungan wisman dan
penerimaan devisa pariwisata pada 2019.

Ke depan, salah satu kunci untuk mendukung


peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara adalah
digital tourism. Pentingnya peningkatan akses terhadap
informasi dan promosi terkait wisata secara digital tercermin
dari meningkatnya pangsa internet sebagai media
pemesanan wisata oleh wisatawan, dari 38% pada 2007
menjadi 74% dari 2018 (Grafik V.5). Hal tersebut tercermin
pula pada penyelenggaraan IMF-World Bank Annual
Sumber: PermenPUPR No.20/PRT/M/2011, turunan dari UU
Meeting 2018. Dilihat dari nilai transaksinya, sekitar 97% dari
No.26/2007 dan PP No.15/2010
Gambar V.2. RDTR dalam Perencanaan Tata Ruang Nasional nilai transaksi penjualan paket wisata pada event
internasional besar tersebut merupakan penjualan online.
Maka dari itu, intensifikasi promosi melalui media digital
Intensifikasi Promosi Destinasi Wisata
sangat diperlukan untuk mendukung peningkatkan
Nasional kunjungan wisman ke Indonesia.
Untuk destinasi-destinasi yang sudah siap dari sisi akses,
amenitas, dan atraksi, penguatan strategi promosi
dapat menjadi fokus untuk meningkatkan kunjungan
wisman. Strategi promosi perlu terus dikembangkan, baik
untuk menghadapi persaingan dengan negara-negara lain,
maupun untuk menjaga kontinuitas kedatangan wisman ke
Indonesia pada saat low season. Selain itu, beberapa trend
pariwisata terkini dapat dimanfaatkan untuk memperluas
dan memperdalam target pasar sehingga dapat
meningkatkan kunjungan maupun length of stay wisman di
Indonesia. Sumber: IPK International, diolah.
Grafik V.5. Media Pemesanan Wisata
Dalam menjaga kontinuitas kunjungan wisman
sepanjang tahun, Pemerintah telah Trend terkini lainnya dalam pariwisata adalah
mengimplementasikan program khusus low season di merangkai wisata bisnis dengan wisata leisure, yang
beberapa destinasi. Pemerintah melakukan business secara signifikan dapat meningkatkan length of stay dan
matching antar pelaku usaha pariwisata di beberapa pengeluaran wisman. Wisata bisnis tersebut dikenal pula
destinasi wisata untuk menyusun paket wisata murah, yang dengan sebutan meeting, incentive, conference, and events
kemudian ditawarkan kepada wisman pada saat low season (MICE). Berdasarkan survei sebuah perusahaan di bidang
di destinasi bersangkutan. Paket wisata tersebut sengaja pariwisata, saat ini sekitar 60% dari perjalanan bisnis
disusun oleh pelaku bisnis untuk mengisi kapasitas dirangkai dengan wisata leisure (Grafik V.7). Rangkaian
terpasang yang tidak dioptimalkan pada low season wisata leisure tersebut dapat memperpanjang length of stay
sehingga harga paket wisata yang ditawarkan lebih hingga 2,9 hari tambahan dari perjalanan bisnis yang hanya

23
Setiap kabupaten kota dapat memiliki lebih dari 1 RDTR. Sumber:
Badan Informasi Geospasial, per Juni 2018.

60
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
3,9 hari. Dengan tambahan length of stay tersebut, Pelaku usaha pendukung pariwisata secara umum
pengeluaran wisman tentunya juga akan meningkat. Di mendukung pengembangan destinasi wisata dari sisi
Indonesia, trend tersebut terjadi pula saat penyelenggaraan penyediaan amenitas. Jenis-jenis usaha yang termasuk
IMF-World Bank Annual Meeting dan Asian Games 2018 lapangan usaha pendukung pariwisata tersebut sudah
sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya. diatur dalam Undang-Undang No. 10 tahun 2009, serta
Peraturan Menteri Pariwisata No. 10 tahun 2018. Ke depan,
penetapan klasifikasi jenis usaha pariwisata akan lebih
diperinci dengan menggunakan klasifikasi baku sesuai
standar yang berlaku dalam rangka memudahkan
implementasi berbagai insentif untuk pelaku usaha
pariwisata, termasuk pembiayaan, insentif investasi, dan
sebagainya.

Beberapa insentif untuk mendorong pengembangan


bagi pelaku usaha pariwisata sudah diimplementasikan
oleh Pemerintah. Insentif tersebut terutama diberikan di
Sumber: Bappenas, diolah.
Grafik V.6. Penjualan Paket Wisata pada IMF-World Bank Annual Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata. Sama dengan
Meeting KEK lainnya, insentif yang diberikan pada KEK pariwisata
antara lain adalah berbagai fasilitas dan kemudahan dalam
perizinan, perpajakan, kepabeanan dan cukai, lalu lintas
barang, keimigrasian untuk WNA, ketenagakerjaan, serta
pertanahan. Beberapa skema insentif yang diberikan oleh
negara-negara lain untuk mendorong lapangan usaha
pariwisata juga dapat diadopsi, termasuk yang disesuaikan
dengan jenis wisata yang akan dikembangkan. Di Malaysia
dan Thailand, diberikan insentif pembebasan pajak dan bea
impor untuk lapangan usaha terkait pembuatan film dan
kesehatan, sejalan dengan fokus kedua negara untuk
mendorong kedua jenis wisata tersebut. Sementara itu di
Sumber: Expedia Group, 2017. Vietnam, lapangan usaha yang mendukung high quality
Grafik V.7. Rangkaian Perjalanan Bisnis dan Wisata Leisure tourism ditetapkan sebagai sektor prioritas untuk
penanaman modal 2018-2023 dan diberikan insentif antara
Masih terdapat ruang yang cukup besar guna lain berupa pembebasan pajak penghasilan badan.
mengoptimalkan event MICE internasional di Indonesia
untuk promosi wisata leisure. Pada 2018, pengeluaran
wisman di Indonesia dengan tujuan bisnis secara rata-rata
sebesar US$841 per kunjungan, lebih kecil dari wisman
leisure yang sebesar US$1.229. Hal tersebut mencerminkan
bahwa tidak banyak wisman peserta MICE yang merangkai
kegiatan bisnisnya dengan wisata leisure. Untuk
mengoptimalkannya, wisman peserta MICE tersebut dapat
menjadi target promosi paket-paket wisata leisure yang
berlokasi di sekitar lokasi tersebut. Promosi dapat dilakukan
jauh hari sebelum kedatangan, antara lain melalui media Sumber: Survey Bank Indonesia.
internet (digital), agar wisman dapat merencanakan Grafik V.8. Media Pemasaran Online UMKM di Destinasi Wisata

kegiatan leisure setelah perjalanan bisnisnya berakhir.


UMKM turut berperan penting dalam pengembangan
Meningkatkan Investasi Lapangan destinasi-destinasi wisata, khususnya dalam
meningkatkan pengeluaran wisman. Berdasarkan hasil
Usaha Pendukung Pariwisata dan survey Bank Indonesia, UMKM yang berlokasi di beberapa
Optimalisasi Peran UMKM destinasi wisata nasional telah mengikuti trend digitalisasi.
Pengembangan destinasi wisata tentunya tidak terlepas Sekitar 85% dari media pemasaran online yang digunakan
dari peran pelaku usaha pariwisata, termasuk UMKM. adalah media sosial (Grafik V.8). Selain itu, pembayaran

61
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
nontunai juga sudah dapat diakomodir, baik untuk
pemasaran yang dilakukan secara online maupun offline
(Grafik V.9). Untuk mendorong penguatan UMKM di
destinasi wisata, Pemerintah telah memberikan insentif
pembiayaan berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi
lapangan usaha pariwisata. Berdasarkan Peraturan Menteri
Koordinator Bidang Perekonomian (Permenko) No. 8 tahun
2018, telah ditetapkan bahwa salah satu sektor yang dapat
menjadi target penyaluran KUR adalah kredit ke sektor
pariwisata. Dengan adanya peraturan tersebut, diharapkan
pelaku usaha pariwisata, khususnya UMKM, tidak akan
menemui kendala dalam mengakses pembiayaan dalam
memulai ataupun menjalankan kegiatan operasional
usahanya di destinasi-destinasi wisata prioritas.

Sumber: Survey Bank Indonesia.


Grafik V.9. Alat Pembayaran Untuk Transaksi UMKM di Destinasi
Wisata

62
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
BOKS 5

PENGELOLAAN RISIKO KESELAMATAN DAN KEAMANAN DI


DESTINASI PARIWISATA
Pariwisata Indonesia mengalami perkembangan yang Untuk itu, potensi risiko tersebut harus dipetakan dan
cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan persepsi
menempati peringkat ke-9 dari 185 negara sebagai salah negatif yang dapat mempengaruhi ekosistem dan kinerja
satu negara dengan pertumbuhan pariwisata tertinggi di pariwisata.
24
dunia dalam kurun waktu 2011 hingga 2017.
Pertumbuhan pariwisata Indonesia dalam periode tersebut
bahkan mengalahkan Thailand (12), Singapura (16) dan
Malaysia (13). Perkembangan yang pesat tersebut
didukung oleh komitmen dan peran aktif pemerintah
dalam mengembangkan pariwisata nasional, serta
keragaman dan potensi luar biasa dari berbagai destinasi
wisata yang dimiliki Indonesia. Ke depan, pariwisata dapat
menjadi salah satu sektor penyumbang devisa terbesar.
Sumber: World Risk Report 2018
Gambar V.3. Peta Kerentanan Terhadap Bencana Alam*

Melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),


pemerintah menyusun prioritas aksi dalam memitigasi
risiko bencana dengan mengadaptasi konsep Sendai
26
Framework For Disaster Risk Reduction yang mencakup:

1. Memahami Risiko Bencana, melakukan pemetaan


daerah rawan bencana, estimasi potensi dampak dan
meningkatkan aksesibilitas terhadap informasi tersebut
Sumber: WTTC (2018) serta rekomendasi tindakan melalui aplikasi Inarisk.
Grafik V.10. Peringkat Komponen Travel & Tourism Countries
Power Ranking
2. Memperkuat Tata Kelola Risiko Bencana dan
Manajemen Risiko Bencana, dilakukan melalui
Pengembangan pariwisata perlu memperhatikan aspek penetapan regulasi, penguatan kelembagaan (BNPB
keamanan dan keselamatan sehingga menciptakan dan BPBD), dan kapabilitas terkait penanggulangan
persepsi positif kepada wisman. Berdasarkan publikasi bencana.
25
World Risk Report , Indonesia memiliki paparan dan 3. Investasi Untuk Pengurangan Risiko Bencana,
kerentanan yang cukup tinggi terhadap bencana alam. dilakukan melalui mitigasi yang bersifat struktural yaitu
Kondisi ini terkait dengan posisi geografis Indonesia yang pembangunan fisik (bangunan, pengembangan Early
terletak pada pertemuan tiga lempeng utama dunia warning System) maupun mitigasi non struktural yaitu
sehingga risiko terhadap peristiwa gempa dan eruspsi peningkatan kesadaran terhadap penanggulangan
gunung berapi tidak terelakkan. Namun demikian, kondisi bencana.
tersebut pula yang menyebabkan Indonesia dianugerahi 4. Respon, Rehabilitas dan Rekonstruksi, dilakukan
kekayaan bentang alam yang sangat beragam dan indah. melalui aktivasi command/crisis center, aksi cepat
tanggap bencana, kerjasama rehabilitasi dan
24
Travel & Tourism Countries Power Ranking dipublikasikan oleh rekonstruksi kembali daerah terdampak bencana oleh
World Travel and Tourism Council (2018). Peringkat tersebut
pemerintah-swasta.
didasarkan pada kinerja indikator seperti kontribusi pariwisata
terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), pengeluaran wisatawan
mancanegara (wisman), pengeluaran wisata domestik, dan
26
investasi Sendai Framework For Disaster Risk Reduction disusun
25
World Risk Report (2018) dipublikasikan secara tahunan pada World Conference on Disaster Risk Reduction ke-3 di
oleh Ruhr University Bochum Sendai, Jepang
63
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Pada tahun 2018, bencana alam yang terjadi di
beberapa destinasi pariwisata mampu ditangani oleh
pemerintah dengan segera. Penanganan bencana Bali,
Lombok, Banten dan Lampung dilakukan dengan
melibatkan berbagai elemen pemerintah dan masyarakat.
Khusus terkait wisman, telah dilakukan aksi cepat tanggap
mencakup layanan terhadap wisatawan dalam bentuk
informasi, akomodasi, konsumsi, trauma healing serta
imigrasi untuk mobilisasi wisman. Selain itu, komunikasi
terkait penanganan bencana juga dilakukan secara satu
pintu, berkala dan terbuka agar dapat memberikan
informasi yang akurat. Lebih lanjut, hal tersebut dapat
memberikan persepsi positif pada kondisi terkini sehingga
meminimalisir dampak travel warning oleh negara lain.

Ke depan, penguatan upaya pre-emptive terhadap Sumber: berbagai sumber


Gambar V.4. Upaya Pemulihan Pariwisata Pasca Bencana
risiko bencana perlu terus didorong sehingga
kerentanan terhadap dampak bencana dapat
diminimalisir. Penetapan tata ruang pengembangan
destinasi yang mengantisipasi kemungkinan bencana dan
pembangunan fisik yang mampu beradaptasi dengan
kondisi bencana merupakan langkah mitigasi yang dapat
segera diterapkan. Selain itu, penyusunan contingency plan
dan SOP penanggulangan bencana untuk setiap destinasi
wisata perlu terus didorong dan di-review secara berkala,
disertai dengan penguatan kemampuan tanggap bencana
masyarakat. Harmonisasi dan kolaborasi yang kuat antara
kementerian/lembaga terkait dengan Pemerintah Daerah
dalam cara pandang mitigasi bencana merupakan hal yang
mutlak, antara lain terkait komitmen peruntukan tata ruang
dalam perizinan pengembangan destinasi wisata,
pemeliharaan fasilitas tanggap bencana dan aktivasi crisis
center pada masa tanggap bencana.

Upaya pemulihan pariwisata pasca bencana perlu


dilakukan secara komprehensif. Selain terkait dengan
pemulihan secara fisik, strategi pemulihan pariwisata juga
perlu melibatkan pola komunikasi, marketing dan selling
yang lebih agresif (Gambar V.xx). Stimulus untuk
mengunjungi daerah terdampak bencana dapat diberikan
kepada wisatawan nusantara dalam rangka untuk
mengembalikan kepercayaan terhadap kondisi keamanan
dan keselamatan di lokasi tersebut. Selain itu, stimulus
paket wisata khusus ataupun insentif bagi pelaku usaha
pariwisata, misal terkait akomodasi dan transportasi dapat
diberikan diskon khusus untuk menarik kembali minat
wisatawan ke daerah terdampak. Strategi tersebut telah
diterapkan oleh sejumlah negara seperti Jepang, Taiwan
dan Turki yang terdampak bencana maupun aksi terorisme.
Lebih lanjut, strategi diversifikasi promosi kepada destinasi
selain daerah terdampak bencana dapat ditempuh untuk
meminimalkan dampak bencana terhadap kinerja
pariwisata secara keseluruhan.

64
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
LAMPIRAN

65
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
TABEL INDIKATOR EKONOMI MAKRO WILAYAH SUMATERA

Tahun Dasar 2010


2017 2018
Indikator Makroekonomi Daerah 2017 2018 2019p
I II III IV I II III IV
PDRB (%,yoy) 4.12 4.17 4.45 4.42 4.29 4.34 4.64 4.71 4.46 4.54 4.5 - 5.0
Sisi Permintaan
Konsumsi Rumah Tangga 4.75 4.92 4.37 4.60 4.65 4.67 5.16 4.57 4.66 4.76 4.6 - 5.1
Konsumsi LNPRT 6.56 6.32 4.34 3.53 5.15 7.22 9.95 11.66 10.54 9.86 9.0 - 9.5
Konsumsi Pemerintah 2.45 (1.37) 6.47 5.17 3.37 (1.79) 8.37 10.39 1.10 4.51 6.2 - 6.7
Pembentukan Modal Tetap Bruto 4.21 3.69 5.99 5.17 4.79 7.48 7.56 5.78 4.48 6.27 4.6 - 5.1
Ekspor Luar Negeri 16.91 13.77 19.79 12.76 15.76 0.32 5.41 5.72 (2.45) 2.21 2.6 - 3.1
Impor Luar Negeri 6.79 5.83 16.85 14.43 11.02 13.52 23.45 15.79 6.82 14.58 1.5 - 2.0
Net Ekspor Antar Daerah 109.67 54.59 97.40 23.14 54.68 (18.47) (6.06) 4.01 (23.61) (13.00) 11.6 - 12.1
Sisi Produksi
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 3.82 3.61 3.67 4.43 3.88 3.25 3.11 3.42 4.16 3.48 3.4 - 3.9
Pertambangan dan Penggalian (1.83) (0.21) (0.38) (0.32) (0.69) 0.67 0.99 2.16 2.98 1.70 1.6 - 2.1
Industri Pengolahan 4.94 4.12 4.10 3.35 4.11 3.50 4.11 5.80 3.82 4.32 4.5 - 5.0
Pengadaan Listrik dan Gas 6.18 6.86 10.71 10.39 8.56 6.32 3.46 3.29 (2.71) 2.49 1.8 - 2.3
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
6.67 6.43 5.36 4.72 5.78 4.40 3.97 3.45 3.46 3.81 3.2 - 3.7
Limbah dan Daur Ulang
Konstruksi 5.55 4.57 7.90 6.89 6.26 7.48 7.70 4.83 4.43 6.03 5.8 - 6.3
Perdagangan Besar, Eceran, dan Reparasi
6.59 6.88 5.83 5.38 6.16 6.29 6.66 6.09 6.35 6.35 5.9 - 6.4
Mobil dan Sepeda Motor
Transportasi dan Pergudangan 6.10 7.47 5.43 7.47 6.62 6.41 6.67 4.24 4.41 5.41 6.5 - 7.0
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 6.91 7.70 8.03 9.41 8.04 8.88 9.84 8.25 7.88 8.70 4.9 - 5.4
Informasi dan Komunikasi 7.29 8.94 7.71 8.31 8.07 7.61 7.24 8.05 8.35 7.82 9.1 - 9.6
Jasa Keuangan dan Asuransi 1.67 3.17 0.58 1.48 1.72 3.20 2.25 3.00 0.62 2.26 3.2 - 3.7
Real Estate 7.51 6.87 5.95 5.39 6.41 5.04 5.09 5.40 5.24 5.19 5.0 - 5.5
Jasa Perusahaan 6.16 6.62 6.35 6.10 6.31 6.13 6.89 6.36 5.66 6.26 5.1 - 5.6
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan
2.95 0.95 7.16 6.47 4.39 4.36 6.40 5.92 4.17 5.21 5.3 - 5.8
dan Jaminan Sosial Wajib
Jasa Pendidikan 3.91 4.75 6.08 5.74 5.13 5.70 6.69 5.47 5.19 5.76 4.4 - 4.9
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 5.71 6.26 8.71 8.29 7.26 5.90 5.47 5.30 5.43 5.52 3.4 - 3.9
Jasa lainnya 6.89 8.08 7.21 6.57 7.18 7.64 8.61 7.77 8.14 8.04 5.7 - 6.2
PDRB (%,yoy)
Provinsi Aceh 3.85 4.55 4.79 3.55 4.18 3.22 5.68 4.06 5.43 4.61 5.1 - 5.6
Provinsi Sumatera Utara 4.53 5.14 5.24 5.56 5.12 4.73 5.27 5.38 5.30 5.18 5.0 - 5.5
Provinsi Sumatera Barat 5.01 5.36 5.39 5.41 5.29 4.71 5.09 5.24 5.50 5.14 5.1 - 5.6
Provinsi Riau 2.81 2.49 2.91 2.53 2.68 2.84 2.34 2.94 1.28 2.34 2.2 - 2.7
Provinsi Jambi 4.25 4.32 4.76 5.20 4.64 4.61 4.70 4.77 4.77 4.71 4.6 - 5.1
Provinsi Kepulauan Riau 1.98 1.06 2.38 2.56 2.00 4.48 4.52 3.74 5.48 4.56 5.2 - 5.7
Provinsi Sumatera Selatan 5.21 5.29 5.57 5.97 5.51 5.86 6.07 6.14 6.07 6.04 5.5 - 6.0
Provinsi Bengkulu 5.19 5.27 4.89 4.59 4.98 5.10 5.11 4.99 4.76 4.99 4.9 - 5.4
Provinsi Lampung 5.12 5.03 5.20 5.30 5.16 5.09 5.35 5.19 5.38 5.25 5.0 - 5.5
Provinsi Kep. Bangka Belitung 6.38 5.14 3.56 2.91 4.47 2.51 4.50 7.08 3.70 4.45 4.5 - 5.0
Inflasi IHK (%,yoy) 3.92 4.65 3.63 3.30 3.30 3.70 3.38 2.52 2.40 2.40 2.7 - 3.2
Provinsi Aceh 3.45 4.03 3.85 4.25 4.25 3.90 3.94 2.33 1.84 1.84 3.0 - 3.5
Provinsi Sumatera Utara 3.91 3.75 3.86 3.20 3.20 3.91 3.37 1.63 1.23 1.23 2.6 - 3.1
Provinsi Sumatera Barat 3.82 5.00 2.33 2.03 2.03 2.33 3.17 2.69 2.60 2.60 2.7 - 3.2
Provinsi Riau 5.03 6.18 5.08 4.20 4.20 3.62 3.32 2.46 2.45 2.45 2.6 - 3.1
Provinsi Kepulauan Riau 3.08 4.73 3.78 4.02 4.02 5.05 4.06 3.18 3.47 3.47 2.7 - 3.2
Provinsi Jambi 2.85 3.82 2.49 2.83 2.83 4.17 4.23 3.34 2.97 2.97 3.3 - 3.8
Provinsi Sumatera Selatan 3.71 4.31 3.00 2.96 2.96 3.35 2.93 2.60 2.74 2.74 2.8 - 3.3
Provinsi Bengkulu 6.01 5.44 3.54 3.56 3.56 3.18 3.77 2.87 2.35 2.35 2.7 - 3.2
Provinsi Lampung 3.67 4.91 5.12 3.02 3.02 3.23 2.80 2.87 2.73 2.73 2.8 - 3.3
Provinsi Kep. Bangka Belitung 6.40 7.11 3.59 3.12 3.12 3.01 2.55 3.46 3.19 3.19 3.1 - 3.6

66
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
TABEL INDIKATOR EKONOMI MAKRO WILAYAH JAWA

Tahun Dasar 2010


2017 2018
Indikator Makroekonomi Daerah 2017 2018 2019p
I II III IV I II III IV
PDRB (%,yoy) 5.71 5.48 5.66 5.66 5.62 5.70 5.65 5.72 5.82 5.72 5.5 - 5.9
Sisi Permintaan
Konsumsi Rumah Tangga 5.04 5.38 4.54 4.73 4.92 4.92 5.74 5.15 4.99 5.20 5.1 - 5.5
Konsumsi LNPRT 10.99 10.83 5.10 4.53 7.75 6.69 7.95 9.55 9.87 8.53 9.2 - 9.6
Konsumsi Pemerintah (3.46) (0.13) 2.52 10.71 3.69 3.31 5.19 2.91 19.63 9.64 10.7 - 11.1
Pembentukan Modal Tetap Bruto 4.98 5.05 7.79 7.98 6.49 6.83 5.62 6.54 4.57 5.86 5.3 - 5.7
Ekspor Luar Negeri 0.98 (9.35) 15.62 4.41 2.57 6.01 6.33 6.18 4.30 5.69 4.5 - 4.9
Impor Luar Negeri 7.51 0.83 15.85 8.54 8.07 6.84 11.04 13.37 7.05 9.54 9.2 - 9.6
Net Ekspor Antar Daerah 12.33 38.13 16.17 9.80 19.20 17.52 16.01 23.60 (6.63) 13.37 13.9 - 14.3
Sisi Produksi
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 6.75 0.44 0.90 (1.21) 1.76 (0.89) (0.24) (0.51) 5.32 0.65 1.8 - 2.2
Pertambangan dan Penggalian 8.64 6.19 1.43 3.32 4.75 1.72 2.48 (0.99) 1.14 1.06 0.0 - 0.4
Industri Pengolahan 4.74 4.92 5.66 6.08 5.35 6.44 6.02 6.44 5.20 6.02 5.4 - 5.8
Pengadaan Listrik dan Gas 0.96 (9.02) 5.36 1.33 (0.36) 4.56 15.47 3.83 0.50 5.80 3.8 - 4.2
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
6.27 6.24 5.86 5.88 6.06 5.21 5.49 5.09 5.79 5.40 5.5 - 5.9
Limbah dan Daur Ulang
Konstruksi 5.02 5.80 7.34 7.48 6.45 6.89 4.53 6.23 5.30 5.72 4.9 - 5.3
Perdagangan Besar, Eceran, dan Reparasi
5.31 5.56 6.34 5.40 5.66 6.02 6.11 5.83 5.20 5.78 6.2 - 6.6
Mobil dan Sepeda Motor
Transportasi dan Pergudangan 6.49 7.46 5.96 7.34 6.81 6.44 7.78 6.80 7.17 7.05 6.9 - 7.3
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 7.77 7.96 6.14 6.49 7.07 6.89 6.76 7.51 6.76 6.98 6.7 - 7.1
Informasi dan Komunikasi 8.21 10.62 9.59 10.56 9.76 9.68 8.96 9.26 8.30 9.04 9.3 - 9.7
Jasa Keuangan dan Asuransi 6.97 6.38 4.50 2.23 4.99 1.74 1.57 3.41 7.09 3.44 3.7 - 4.1
Real Estate 4.73 5.10 5.40 6.38 5.41 6.11 5.94 5.67 5.53 5.81 5.3 - 5.7
Jasa Perusahaan 9.87 10.12 9.44 9.41 9.71 8.45 8.13 8.46 9.26 8.58 8.3 - 8.7
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan
0.78 0.01 0.01 0.03 0.20 2.73 10.44 5.40 6.06 6.18 6.4 - 6.8
dan Jaminan Sosial Wajib
Jasa Pendidikan 4.51 4.76 5.34 4.19 4.70 5.67 5.91 6.46 6.89 6.24 5.9 - 6.3
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 7.23 7.36 6.97 6.59 7.03 6.94 7.11 7.16 7.56 7.20 6.2 - 6.6
Jasa lainnya 7.76 8.63 8.62 8.21 8.31 8.00 8.02 7.17 7.05 7.55 6.1 - 6.5
PDRB (%,yoy)
DKI Jakarta 6.47 6.08 6.41 5.84 6.20 5.95 5.92 6.38 6.41 6.17 6.0 - 6.4
Jawa Barat 5.93 5.52 5.63 5.82 5.73 5.84 5.54 5.89 5.98 5.81 5.3 - 5.7
Banten 5.38 5.41 5.16 5.45 5.35 5.90 5.61 5.57 5.50 5.64 5.6 - 6.0
Jawa Tengah 5.31 5.17 5.15 5.40 5.26 5.37 5.43 5.21 5.28 5.32 5.2 - 5.6
DI Yogyakarta 5.16 5.21 5.42 5.26 5.26 5.41 5.92 6.04 7.39 6.20 7.0 - 7.4
Jawa Timur 5.37 5.05 5.64 5.76 5.46 5.42 5.55 5.37 5.65 5.50 5.3 - 5.7
Inflasi IHK (%,yoy) 3.47 4.30 3.80 3.78 3.78 3.47 3.04 2.98 3.24 3.24 2.9 - 3.3
DKI Jakarta 3.43 3.94 3.69 3.72 3.72 3.23 3.31 2.88 3.27 3.27 2.9 - 3.3
Jawa Barat 3.37 4.31 3.87 3.63 3.63 3.91 3.09 3.17 3.54 3.54 2.8 - 3.2
Banten 3.45 4.60 4.17 3.98 3.98 3.55 3.00 3.42 3.42 3.42 3.4 - 3.8
Jawa Tengah 3.30 4.61 3.58 3.71 3.71 3.39 2.72 2.79 2.82 2.82 3.0 - 3.4
DI Yogyakarta 3.40 4.29 3.64 4.20 4.20 3.29 2.69 2.77 2.66 2.66 2.9 - 3.3
Jawa Timur 3.84 4.66 3.83 4.04 4.04 3.17 2.67 2.76 2.86 2.86 2.9 - 3.3

67
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
TABEL INDIKATOR EKONOMI MAKRO WILAYAH
KAWASAN TIMUR INDONESIA

Tahun Dasar 2010


2017 2018
Indikator Makroekonomi Daerah 2017 2018 2019p
I II III IV I II III IV
PDRB (%,yoy) 5.16 4.99 5.37 4.84 5.09 6.05 6.14 4.29 3.45 4.94 3.9 - 4.3
Sisi Permintaan
Konsumsi Rumah Tangga 4.58 5.06 4.55 4.84 4.76 4.71 5.35 5.06 4.95 5.02 4.9 - 5.3
Konsumsi LNPRT 7.75 7.63 6.65 6.54 7.12 11.31 10.73 8.33 9.51 9.95 7.9 - 8.3
Konsumsi Pemerintah 5.82 0.05 6.07 0.50 2.77 2.30 4.73 5.25 3.28 3.95 8.5 - 8.9
Pembentukan Modal Tetap Bruto 4.54 5.15 4.60 6.91 5.33 5.89 7.61 4.89 5.80 6.03 5.6 - 6.0
Ekspor Luar Negeri 7.36 12.11 7.38 5.92 8.10 11.55 9.49 15.90 7.34 10.99 1.0 - 1.4
Impor Luar Negeri 9.16 2.64 7.63 4.14 5.77 21.91 16.22 15.64 30.88 21.55 1.2 - 1.6
Sisi Produksi
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 7.61 4.91 4.73 3.92 5.26 4.51 5.98 4.99 4.54 5.01 5.3 - 5.7
Pertambangan dan Penggalian 2.01 3.04 2.88 0.17 1.99 6.96 6.12 (0.97) (3.73) 1.90 (4.4) - (4.0)
Industri Pengolahan 6.09 3.93 4.92 4.36 4.82 3.47 3.14 2.90 2.03 2.87 3.0 - 3.4
Pengadaan Listrik dan Gas 4.55 2.31 6.07 8.60 5.41 5.70 8.07 5.98 3.80 5.85 5.8 - 6.2
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
4.85 5.46 6.16 5.74 5.56 5.45 5.70 4.13 4.62 4.96 5.6 - 6.0
Limbah dan Daur Ulang
Konstruksi 4.67 5.87 7.13 8.27 6.54 5.55 4.97 7.20 7.67 6.41 8.4 - 8.8
Perdagangan Besar, Eceran, dan Reparasi
6.52 7.61 7.14 8.66 7.50 7.95 8.63 7.80 7.29 7.91 7.9 - 8.3
Mobil dan Sepeda Motor
Transportasi dan Pergudangan 5.88 7.46 7.38 6.76 6.88 8.42 8.92 5.53 6.40 7.27 7.0 - 7.4
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 8.19 9.02 9.69 7.39 8.57 7.78 7.47 5.12 7.02 6.82 7.8 - 8.2
Informasi dan Komunikasi 7.96 9.77 8.87 9.23 8.97 8.42 6.81 8.27 8.30 7.95 7.5 - 7.9
Jasa Keuangan dan Asuransi 5.00 5.45 4.10 4.71 4.81 7.78 6.44 3.72 (0.94) 4.16 6.5 - 6.9
Real Estate 3.99 4.59 5.06 5.37 4.76 4.93 4.97 5.44 5.27 5.15 5.3 - 5.7
Jasa Perusahaan 5.42 5.96 5.69 6.17 5.82 7.01 7.36 6.81 6.35 6.87 5.3 - 5.7
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan
2.06 0.45 5.46 6.43 3.64 4.63 6.28 6.34 6.47 5.97 6.2 - 6.6
dan Jaminan Sosial Wajib
Jasa Pendidikan 5.76 6.20 6.47 7.24 6.44 6.70 7.09 6.94 6.62 6.84 5.8 - 6.2
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 6.70 6.99 6.89 6.99 6.89 7.94 8.13 8.24 7.52 7.95 5.8 - 6.2
Jasa lainnya 6.21 6.39 7.62 7.33 6.90 8.00 8.48 8.06 8.65 8.30 5.2 - 5.6
PDRB (%,yoy)
Provinsi Kalimantan Barat 4.93 4.77 5.14 5.81 5.17 5.06 5.15 4.97 5.07 5.06 4.9 - 5.3
Provinsi Kalimantan Tengah 9.51 6.10 6.13 5.28 6.72 4.47 5.57 6.40 6.12 5.64 5.8 - 6.2
Provinsi Kalimantan Selatan 5.25 4.96 6.42 4.46 5.28 4.98 4.60 5.14 5.78 5.13 5.0 - 5.4
Provinsi Kalimantan Timur 3.87 3.60 3.47 1.62 3.13 1.77 1.92 1.83 5.14 2.67 2.5 - 2.9
Provinsi Kalimantan Utara 7.07 6.48 6.59 7.04 6.79 5.76 5.00 5.62 7.69 6.04 5.9 - 6.3
Provinsi Sulawesi Selatan 7.74 6.75 6.65 7.74 7.21 7.35 7.33 7.17 6.47 7.07 7.1 - 7.5
Provinsi Sulawesi Barat 7.62 5.28 7.10 6.54 6.62 5.57 6.52 7.52 5.32 6.23 6.0 - 6.4
Provinsi Sulawesi Tenggara 7.76 6.82 6.51 6.08 6.76 6.15 6.13 7.14 6.23 6.42 6.8 - 7.2
Provinsi Sulawesi Tengah 3.93 6.57 8.68 9.12 7.10 6.63 6.20 7.05 5.37 6.30 6.0 - 6.4
Provinsi Gorontalo 7.35 6.63 5.23 7.79 6.73 6.13 7.44 5.25 7.25 6.51 6.7 - 7.1
Provinsi Sulawesi Utara 6.43 5.78 6.49 6.53 6.31 6.62 5.77 5.59 6.10 6.01 6.1 - 6.5
Provinsi Maluku 6.64 5.77 5.83 5.11 5.82 5.39 5.53 6.38 6.41 5.94 5.9 - 6.3
Provinsi Maluku Utara 7.61 6.99 7.76 8.30 7.67 7.90 7.31 8.21 8.25 7.92 7.8 - 8.2
Provinsi Papua 3.71 6.26 3.87 4.78 4.64 26.48 23.58 6.35 (17.79) 7.33 (9.3) - (8.9)
Provinsi Papua Barat 3.63 2.09 3.78 6.32 4.01 5.87 12.83 6.92 0.18 6.24 3.9 - 4.3
Provinsi Bali 6.25 5.92 6.18 4.01 5.57 5.58 6.05 6.15 7.59 6.35 6.1 - 6.5
Provinsi Nusa Tenggara Barat (3.25) (1.53) 4.25 0.61 0.12 0.06 (1.26) (14.12) (1.43) (4.56) 1.4 - 1.8
Provinsi Nusa Tenggara Timur 4.86 5.26 5.00 5.29 5.11 5.01 5.03 5.13 5.32 5.13 5.0 - 5.4

68
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Tahun Dasar 2010
2017 2018
Indikator Makroekonomi Daerah 2017 2018 2019p
I II III IV I II III IV
Inflasi IHK (%,yoy) 3.76 4.27 3.60 3.35 3.35 2.85 3.14 2.89 3.58 3.58 3.3 - 3.7
Provinsi Kalimantan Barat 5.02 4.72 4.70 4.09 4.09 3.44 3.46 2.91 3.85 3.85 4.0 - 4.4
Provinsi Kalimantan Tengah 4.10 4.97 3.81 3.18 3.18 2.31 3.08 3.72 4.52 4.52 2.9 - 3.3
Provinsi Kalimantan Selatan 4.02 4.19 4.01 3.72 3.72 3.04 2.74 2.12 2.63 2.63 2.4 - 2.8
Provinsi Kalimantan Timur 3.89 4.55 3.65 3.14 3.14 2.58 2.60 3.61 3.24 3.24 3.0 - 3.4
Provinsi Kalimantan Utara 4.34 4.39 3.61 2.77 2.77 2.18 3.02 2.82 5.00 5.00 3.1 - 3.5
Provinsi Sulawesi Selatan 3.42 4.49 4.17 4.44 4.44 3.70 4.14 3.09 3.50 3.50 4.2 - 4.6
Provinsi Sulawesi Barat 4.10 4.19 4.53 3.79 3.79 2.62 2.68 1.95 1.80 1.80 2.1 - 2.5
Provinsi Sulawesi Tenggara 2.25 5.21 3.18 2.97 2.97 2.39 1.79 1.40 2.65 2.65 3.0 - 3.4
Provinsi Sulawesi Tengah 4.05 5.23 4.61 4.33 4.33 2.71 3.61 2.52 6.46 6.46 3.2 - 3.6
Provinsi Gorontalo 2.73 3.69 4.41 4.34 4.34 2.83 1.88 1.79 2.15 2.15 3.2 - 3.6
Provinsi Sulawesi Utara 3.93 3.59 3.42 2.44 2.44 1.12 3.46 1.45 3.83 3.83 3.8 - 4.2
Provinsi Maluku 3.97 5.82 3.85 0.78 0.78 0.89 (0.11) (0.59) 3.35 3.35 2.3 - 2.7
Provinsi Maluku Utara 2.41 3.92 1.60 1.97 1.97 3.28 3.91 3.67 4.12 4.12 3.2 - 3.6
Provinsi Papua 3.90 3.11 1.42 2.10 2.10 3.16 4.09 5.31 6.36 6.36 3.7 - 4.1
Provinsi Papua Barat 3.66 3.93 1.71 1.44 1.44 1.55 3.42 4.13 5.21 5.21 3.3 - 3.7
Provinsi Bali 4.40 4.02 2.69 3.32 3.32 3.10 3.47 3.60 3.13 3.13 3.4 - 3.8
Provinsi Nusa Tenggara Barat 2.58 3.38 3.46 3.69 3.69 3.30 3.01 3.09 3.17 3.17 2.8 - 3.2
Provinsi Nusa Tenggara Timur 2.95 2.45 3.46 2.00 2.00 2.25 2.89 1.90 3.07 3.07 2.4 - 2.8

69
LAPORAN NUSANTARA FEBRUARI 2019
Penanggung Jawab dan Editor
TIM PENYUSUN
Aida S. Budiman

Penasehat

Suhaedi
Dwi Pranoto
Wiwiek S. Widayat

Koordinator Penyusun
Reza Anglingkusumo
Bambang Pramono
Nugroho Joko Prastowo

Tim Penulis
Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter
Grup Asesmen Ekonomi
Maximilian T. Tutuarima
Neva Andina
Rakhmat Pratama
Ikhsan Utama
Ide Mahendra
Ragil Misas Fuadi

Departemen Regional I (Sumatera)


Agung Budilaksono
Bambang Irwanto

Departemen Regional II (Jawa)


Nurkholisoh Ibnu Aman
Komalia Rahmayani

Departemen Regional III (Kawasan Timur Indonesia)


Erwin Syafii
Evy Marya Deswita Siburian
Donny Hendri Pratama

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter


Grup Asesmen Ekonomi Regional
Ph. 021-2981 8119, 2981 8868
Fax. 021-3452 489, 231 0553
Jl. MH. Thamrin No.2 Jakarta 10350 – Indonesia www.bi.go.id