Anda di halaman 1dari 27
KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Penggunaan Utang dan Keberlanjutan Fiskal Dr. Arif Budimanta Wakil Ketua
KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Penggunaan Utang dan Keberlanjutan Fiskal Dr. Arif Budimanta Wakil Ketua

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Penggunaan Utang dan Keberlanjutan Fiskal Dr. Arif Budimanta Wakil Ketua KEIN
KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Penggunaan Utang dan Keberlanjutan Fiskal Dr. Arif Budimanta Wakil Ketua KEIN

Penggunaan Utang dan Keberlanjutan Fiskal

Dr. Arif Budimanta Wakil Ketua KEIN

Jumat 11 Mei 2018 Sekretariat DPP PA GMNI, Jl. Cikini Raya No 69 Jakarta Pusat

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruh isi paparan ini dengan
KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruh isi paparan ini dengan

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruh isi paparan ini dengan
KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruh isi paparan ini dengan

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruh isi paparan ini dengan mencantumkan sumber kutipan atas nama Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) 2018

seluruh isi paparan ini dengan mencantumkan sumber kutipan atas nama Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN)
KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Pendiri bangsa membangun Indonesia dengan prinsip Keadilan untuk sebesar-besarnya

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

Pendiri bangsa membangun Indonesia dengan prinsip Keadilan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat

Kita mau Indonesia merdeka semua rakyat sejahtera hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh IbuPertiwi Soekarno,
Kita mau Indonesia merdeka semua rakyat sejahtera hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh IbuPertiwi Soekarno,
Kita mau Indonesia merdeka semua rakyat sejahtera hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh IbuPertiwi Soekarno,
Kita mau Indonesia merdeka semua rakyat sejahtera hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh IbuPertiwi Soekarno,

Kita mau Indonesia merdeka

semua rakyat sejahtera

hidup

dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh IbuPertiwi

Soekarno, 1 Juni 1945

Soekarno, 1 Juni 1945

merasa dipangku oleh IbuPertiwi Soekarno, 1 Juni 1945 menciptakan suatu masyarakat Indonesia yang adil dan
merasa dipangku oleh IbuPertiwi Soekarno, 1 Juni 1945 menciptakan suatu masyarakat Indonesia yang adil dan
menciptakan suatu masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, yang memuat dan berisikan kebahagiaan, kesejahteraan,
menciptakan
suatu
masyarakat Indonesia yang
adil dan makmur, yang memuat
dan berisikan kebahagiaan,
kesejahteraan, perdamaian,
dan kemerdekaan

Mohammad Hatta, (1979)

dan makmur, yang memuat dan berisikan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian, dan kemerdekaan Mohammad Hatta, (1979) 3
dan makmur, yang memuat dan berisikan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian, dan kemerdekaan Mohammad Hatta, (1979) 3
dan makmur, yang memuat dan berisikan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian, dan kemerdekaan Mohammad Hatta, (1979) 3

Masyarakat Indonesia yang adil dan makmur merupakan tujuan pendirian Republik Indonesia

Sila ke-5 Pancasila berbunyi : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Sila ke-5 Pancasila berbunyi :
Keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia
Pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
Pemerintah negara Indonesia
yang melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia dan
untuk memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan
sosial
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Pasal 33 UUD 1945

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

Pasal 33 UUD 1945 menekankan politik perekonomian untuk mencapai kemakmuran rakyat: • Ayat 1 :
Pasal 33 UUD 1945 menekankan
politik perekonomian untuk mencapai
kemakmuran rakyat:
• Ayat 1 : Perekonomian disusun
sebagai usaha bersama berdasar
atas asas kekeluargaan
• Ayat 4 : Perekonomian nasional
diselenggarakan berdasar atas
demokrasi ekonomi dengan prinsip
kebersamaan, efisiensi berkeadilan,
berkelanjutan, berwawasan
lingkungan, kemandirian, serta
dengan menjaga keseimbangan
kemajuan dan kesatuan ekonomi
nasional

Implementasi upaya perwujudan cita-cita bangsa dituangkan dalam bentuk rencana pembangunan yang disusun oleh pemerintah.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang

disusun oleh pemerintah. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rencana Kerja Pemerintah

Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Jangka Panjang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rencana Kerja Pemerintah APBN merupakan instrumen nyata

Rencana Kerja Pemerintah

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rencana Kerja Pemerintah APBN merupakan instrumen nyata yang menunjukan arah
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rencana Kerja Pemerintah APBN merupakan instrumen nyata yang menunjukan arah
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rencana Kerja Pemerintah APBN merupakan instrumen nyata yang menunjukan arah
APBN merupakan instrumen nyata yang menunjukan arah kebijakan pembangunan bangsa
APBN merupakan instrumen nyata yang menunjukan arah kebijakan pembangunan bangsa
APBN merupakan instrumen nyata yang menunjukan arah kebijakan pembangunan bangsa
APBN merupakan instrumen nyata yang menunjukan arah kebijakan pembangunan bangsa
APBN

APBN

APBN merupakan instrumen nyata yang menunjukan arah kebijakan pembangunan bangsa
APBN merupakan instrumen nyata yang menunjukan arah kebijakan pembangunan bangsa
merupakan instrumen nyata yang menunjukan arah kebijakan pembangunan bangsa
merupakan instrumen nyata yang menunjukan arah kebijakan pembangunan bangsa

merupakan instrumen nyata yang menunjukan arah kebijakan pembangunan bangsa

merupakan instrumen nyata yang menunjukan arah kebijakan pembangunan bangsa
nyata yang menunjukan arah kebijakan pembangunan bangsa KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL UU No. 25 Tahun

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional

UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

APBN merupakan kesepakatan bersama antara eksekutif dan legislatif dalam menentukan

bersama antara eksekutif dan legislatif dalam menentukan KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL • Asumsi dasar

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

Asumsi dasar ekonomi makro

Target pendapatan serta rencana kebijakan

Alokasi belanja

Pembiayaan

serta rencana kebijakan • Alokasi belanja • Pembiayaan UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Pasal 12 Ayat 3 “Dalam hal anggaran diperkirakan defisit, ditetapkan sumber-sumber pembiayaan untuk menutup defisit tersebut…”

pembiayaan untuk menutup defisit tersebut…”   APBN Pengeluaran/ Belanja Penerimaan Pembiayaan
pembiayaan untuk menutup defisit tersebut…”   APBN Pengeluaran/ Belanja Penerimaan Pembiayaan
pembiayaan untuk menutup defisit tersebut…”   APBN Pengeluaran/ Belanja Penerimaan Pembiayaan
 
 
  APBN

APBN

APBN

Pengeluaran/

Belanja

Penerimaan

Pembiayaan

Pembiayaan

Pembiayaan
Pembiayaan

Utang

APBN Pengeluaran/ Belanja Penerimaan Pembiayaan Utang Utang merupakan salah satu instrumen pembiayaan yang

Utang merupakan salah satu instrumen pembiayaan yang digunakan untuk menutupi defisit APBN. Utang ditujukan untuk menopang belanja negara dalam meningkatkan kondisi sosial dan ekonomi bangsa.

Definisi Utang Sektor Publik Menurut Bank Indonesia

Definisi Utang Sektor Publik Menurut Bank Indonesia KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL   Utang   Sektor

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

 

Utang

 

Sektor Publik

Luar

Dalam

 

Negeri

Negeri

 

Pemerintah Pusat

 

Ya

Ya

Pemerintah

Pemerintah Daerah dan BUMD

 

Tidak

Tidak

   

Bank Sentral

Ya

Ya

Lembaga Keuangan Publik

Bank BUMN

Ya

Ya

Lembaga Publik

Lembaga Keuangan Bukan Bank - BUMN

Ya

Ya

BUMN BUkan Lembaga Keuangan

Ya

Ya

Paparan ini hanya membahas utang oleh Pemerintah Pusat akibat defisit anggaran yang ditetapkan melalui UU APBN.

Defisit fiskal dalam kondisi yang wajar

Perkembangan Postur APBN (Rp Triliun)

kondisi yang wajar Perkembangan Postur APBN (Rp Triliun) KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL 2,500 2,000 1,500

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

2,500

2,000

1,500

1,000

500

0

-500

-1,000

2,221 1,895 -40 -24 -35 -24 -14 -29 -4 -50 -47 -89 -84 -153 -212
2,221
1,895
-40
-24
-35
-24
-14
-29
-4
-50
-47
-89
-84
-153
-212
-227
-298
-308
-346
-326
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017*
2018**
Pendapatan Negara dan Hibah
Belanja Negara
Defisit/Surplus Anggaran
KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Menjaga disiplin fiskal (tingkat defisit dan utang) menjadi perhatian utama

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

Menjaga disiplin fiskal (tingkat defisit dan utang) menjadi perhatian utama pemerintah.

Berdasarkan Penjelasan atas UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara pasal 17 ayat 3:

3%

Rasio defisit anggaran terhadap PDB

60%

Rasio utang terhadap PDB

Kondisi fiskal indonesia dalam keadaan sustainable 1

Kondisi fiskal indonesia dalam keadaan sustainable 1 KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Indikator Aktual

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

Indikator

Aktual

Estimasi*

2016

2017

2018

PDB Nominal (Miliar Rupiah)

12,406,774

13,588,797

14,798,200

Total Utang Akhir Periode (Miliar Rupiah)

3,515,460

3,938,454

4,389,843

Suku Bunga Utang Nominal

5.20%

5.50%

5.20%

Inflasi

3.02%

3.61%

3.50%

Pertumbuhan Ekonomi

5.03%

5.07%

5.40%

Jumlah Uang Beredar-M1 (Miliar Rupiah)

1,237,643

1,390,807

1,567,842

Ambang Batas Keseimbangan Primer per PDB untuk menjaga kesinambungan fiskal

-1.52%

-1.71%

-1.92%

Nilai Keseimbangan Primer per PDB

-1.01%

-0.95%

-0.59%

Ket :

1 Kalkulasi berdasarkan konsep Craig Burnside *Tahun 2018 menggunakan asumsi APBN Sumber : Hasil Estimasi KEIN.

Pendekatan untuk mengukur Fiscal Sustainability

Pendekatan untuk mengukur Fiscal Sustainability KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Sutsainabilitas Fiskal suatu negara

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

Sutsainabilitas Fiskal suatu negara dapat diukur dengan menggunakan persamaan :

suatu negara dapat diukur dengan menggunakan persamaan : Sumber : Craig Burnside . FISCAL SUSTAINABILITY IN
suatu negara dapat diukur dengan menggunakan persamaan : Sumber : Craig Burnside . FISCAL SUSTAINABILITY IN

Sumber : Craig Burnside. FISCAL SUSTAINABILITY IN THEORY AND PRACTICE A HANDBOOK . The World Bank, 2005

Pokok-pokok Kebijakan Fiskal sesuai UU APBN dan Nota Keuangan

Pokok-pokok Kebijakan Fiskal sesuai UU APBN dan Nota Keuangan KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN KONDOLIDASI

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

APBN dan Nota Keuangan KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN KONDOLIDASI Melakukan transformasi fundamental ekonomi
APBN dan Nota Keuangan KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN KONDOLIDASI Melakukan transformasi fundamental ekonomi
APBN dan Nota Keuangan KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN KONDOLIDASI Melakukan transformasi fundamental ekonomi
APBN dan Nota Keuangan KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN KONDOLIDASI Melakukan transformasi fundamental ekonomi
APBN dan Nota Keuangan KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN KONDOLIDASI Melakukan transformasi fundamental ekonomi
APBN dan Nota Keuangan KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN KONDOLIDASI Melakukan transformasi fundamental ekonomi
APBN dan Nota Keuangan KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN KONDOLIDASI Melakukan transformasi fundamental ekonomi
APBN dan Nota Keuangan KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN KONDOLIDASI Melakukan transformasi fundamental ekonomi
APBN dan Nota Keuangan KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN KONDOLIDASI Melakukan transformasi fundamental ekonomi
APBN dan Nota Keuangan KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN KONDOLIDASI Melakukan transformasi fundamental ekonomi
APBN dan Nota Keuangan KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN KONDOLIDASI Melakukan transformasi fundamental ekonomi
APBN dan Nota Keuangan KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN KONDOLIDASI Melakukan transformasi fundamental ekonomi

TAHUN KONDOLIDASI

Melakukan transformasi

fundamental ekonomi Indonesia:

Mengubah dari ekonomi berbasis konsumsi ke ekonomi berbasis produksi

Pelaksanaan subsidi tepat sasaran untuk pengentasan kemiskinan

Mendorong pembangunan yang lebih merata di laur Pulau Jawa

TAHUN PERCEPATAN PEMBANGUNAN NASIONAL

Percepatan infrastruktur

Percepatan pembangunan kemanusiaan

Percepatan kebijakan deregulasi ekonomi

TAHUN PEMERATAAN

Menurunkan angka kesenjangan, baik kesenjangan antar wilayah ataupun kesenjangan antara kaya dan miskin

Mempercepat pembangunan infrastruktur

Memperlancar konektivitas antar daerah

Memperbesar transfer dana ke daerah dan tarnsfer dana ke desa

PEMANTAPAN PENGELOLAAN FISKAL UNTUK MENGAKSELERASI PERTUMBUHAN YANG BERKEADILAN

Pembangunan infrastuktur

Pengurangan kemiskinan serta kesenjangan antar- pendapatan dan antar- wilayah

Perluasan kesempatan kerja

Realokasi anggaran menjadi lebih produktif dan berkualitas

Realokasi anggaran menjadi lebih produktif dan berkualitas KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Alokasi Anggaran

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

Alokasi Anggaran Pendidikan, Infrastruktur dan Subsidi BBM (Rp Triliun)

450

400

350

300

250

200

150

100

50

-

444 411 267 256 114 47
444
411
267
256
114
47

2011

2012

250 200 150 100 50 - 444 411 267 256 114 47 2011 2012 2013 Anggaran

2013

Anggaran Pendidikan

2014

2015

256 114 47 2011 2012 2013 Anggaran Pendidikan 2014 2015 Anggaran Infrastruktur 2016 2017* Subsidi BBM

Anggaran Infrastruktur

2016

2017*

Pendidikan 2014 2015 Anggaran Infrastruktur 2016 2017* Subsidi BBM 2018** Keterangan: *Realisasi sementara **APBN

Subsidi BBM

2018**

Keterangan:

*Realisasi sementara **APBN 2018 Sumber: Kemenkeu.

INFRASTRUKTUR

INFRASTRUKTUR KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL 341.500 unit* Rumah susun, khusus,

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

341.500 unit*

Rumah susun, khusus, swadaya

INDUSTRI NASIONAL 341.500 unit* Rumah susun, khusus, swadaya 9.544 km jalan* Rekonstruksi, pelebaran, pembangunan 388
INDUSTRI NASIONAL 341.500 unit* Rumah susun, khusus, swadaya 9.544 km jalan* Rekonstruksi, pelebaran, pembangunan 388

9.544 km jalan*

Rekonstruksi, pelebaran, pembangunan

388 km’sp**

km jalan* Rekonstruksi, pelebaran, pembangunan 388 km’sp** *Sumber: Paparan DJPPR dalam FGD Mengukur dan Menjaga
km jalan* Rekonstruksi, pelebaran, pembangunan 388 km’sp** *Sumber: Paparan DJPPR dalam FGD Mengukur dan Menjaga

*Sumber: Paparan DJPPR dalam FGD Mengukur dan Menjaga Sustainabilitas Utang Indonesia oleh KEIN, Mei 2018 **Sumber: Kementerian Perhubungan

Pendidikan di Indonesia semakin baik yang ditunjukkan dengan meningkatnya Angka Partisipasi Sekolah, Angka Partisipasi

Pendidikan di Indonesia semakin baik yang ditunjukkan dengan meningkatnya Angka Partisipasi Sekolah, Angka Partisipasi Kasar dan Angka Partisipasi Murni

Sekolah, Angka Partisipasi Kasar dan Angka Partisipasi Murni KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Angka Partisipasi Kasar

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

Angka Partisipasi Kasar 1994 - 2017

Angka Partisipasi Sekolah 1994 - 2017

100.00 90.00 80.00 70.00 60.00 50.00 40.00 30.00 20.00 10.00 0.00 Angka Partisipasi Sekolah (APS)
100.00
90.00
80.00
70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
Angka Partisipasi Sekolah (APS) 7-12 th
Angka Partisipasi Sekolah (APS) 13-15 th
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011***)
2012
2013
2014
2015
2016
2017

Angka Partisipasi Sekolah (APS) 16-18 th2009 2010 2011***) 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Sumber : BPS (diolah) Angka Partisipasi Sekolah

Sumber : BPS (diolah)

Angka Partisipasi Sekolah (APS) 19-24 thPartisipasi Sekolah (APS) 16-18 th Sumber : BPS (diolah) 120.00 100.00 80.00 60.00 40.00 20.00 0.00

120.00 100.00 80.00 60.00 40.00 20.00 0.00 Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI Angka Partisipasi Kasar
120.00
100.00
80.00
60.00
40.00
20.00
0.00
Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI
Angka Partisipasi Kasar (APK) SMP/MTs
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017

Angka Partisipasi Kasar (APK) SM/MA2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Angka Partisipasi Kasar (APK) PT Angka

Angka Partisipasi Kasar (APK) PT2014 2015 2016 2017 Angka Partisipasi Kasar (APK) SM/MA Angka Partisipasi Murni 1994 - 2017 100.00

Angka Partisipasi Murni 1994 - 2017

100.00

90.00

80.00

70.00

60.00

50.00

40.00

30.00

20.00

10.00

0.00

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs Angka Partisipasi

Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs2015 2016 2017 Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI Angka Partisipasi Murni (APM) SM/MA Angka Partisipasi Murni

Angka Partisipasi Murni (APM) SM/MA2016 2017 Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs Angka Partisipasi Murni (APM)

Angka Partisipasi Murni (APM) PT2017 Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs Angka Partisipasi Murni (APM) SM/MA

Peningkatan proporsi transfer ke daerah KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL dan dana desa 1,600,000 1,400,000

Peningkatan proporsi transfer ke daerah KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL dan dana desa

1,600,000

1,400,000

1,200,000

1,000,000

800,000

600,000

400,000

200,000

-

Keterangan:

*Realisasi sementara **APBN 2018 Sumber: Kemenkeu.

Belanja Pemerintah Pusat dan Transfer Daerah 68.9 67.8 67.7 65.5 65.5 62.9 61.9 38.1 37.1
Belanja Pemerintah Pusat dan Transfer Daerah
68.9
67.8
67.7
65.5
65.5
62.9
61.9
38.1
37.1
34.5
34.5
31.8
32.2
31.1 32.3
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017*
2018**
Belanja Pemerintah Pusat (Miliar Rp)
% Belanja Pusat per Belanja Negara (Axis Kanan)
Transfer ke Daerah dan Dana Desa (Miliar Rp)
% Transfer Daerah per Belanja Negara (Axis Kanan)

80.0

70.0

60.0

50.0

40.0

30.0

20.0

10.0

-

Pemanfaatan Dana Desa

2015-2017

JALAN DESA
JALAN DESA

109,3 ribu km

SAMBUNGAN AIR BERSIH

303.473 unit

JEMBATAN

852,2 km

DRAINASE DAN IRIGASI

182.919 unit

unit JEMBATAN 852,2 km DRAINASE DAN IRIGASI 182.919 unit Sumber: DJPPR Kemenkeu (2018) *Paparan DJPPR dalam

Sumber: DJPPR Kemenkeu (2018) *Paparan DJPPR dalam FGD Mengukur dan Menjaga Sustainabilitas Utang Indonesia oleh KEIN, Mei 2018

dalam FGD Mengukur dan Menjaga Sustainabilitas Utang Indonesia oleh KEIN, Mei 2018 KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

Proporsi anggaran penanggulangan kemiskinan dalam APBN terus meningkat.

penanggulangan kemiskinan dalam APBN terus meningkat. KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL 250 200 150

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

250

200

150

100

50

-

Anggaran Kemiskinan 2012-2017

11.0 10.2 9.5 228 212 7.4 7.2 173 6.3 131 119 94 2012 2013 2014
11.0
10.2
9.5
228
212
7.4
7.2
173
6.3
131
119
94
2012
2013
2014
2015
2016*
2017**
Anggaran Kemiskinan (Triliun Rp)
% Anggaran Kemiskinan per Belanja Negara (Axis Kanan)

Keterangan:

*APBNP **APBN Sumber: Kemenkeu.

12.0

10.0

8.0

6.0

4.0

2.0

-

2017

**APBN Sumber: Kemenkeu. 12.0 10.0 8.0 6.0 4.0 2.0 - 2017 2014 Peningkatan anggaran penanggulangan kemiskinan

2014

Peningkatan anggaran penanggulangan kemiskinan sebesar 74%

Kebijakan anggaran kemiskinan lebih tepat sasaran.

Kebijakan anggaran kemiskinan lebih tepat sasaran. KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Anggaran Kemiskinan 2012-2017 250

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

Anggaran Kemiskinan 2012-2017 250 23.2 200 22.0 9.6 16.0 13.8 61.4 150 50.9 23.4 2.9
Anggaran Kemiskinan 2012-2017
250
23.2
200
22.0
9.6
16.0
13.8
61.4
150
50.9
23.4
2.9
10.6
10.2
15.0
100
4.8
18.4
1.5
11.3
16.8
133.9
130.2
3.2
125.5
50
100.9
88.8
62.3
0
2012
2013
2014
2015
2016*
2017**
Klaster 1
Klaster II
Klaster III
Klaster IV
Total
Sumber: Kemenkeu

Anggaran kemiskinan diklasterkan.

250

200

150

100

50

0

Klaster 1 Program Keluarga Harapan, Subsidi

Pangan, Bantuan Operasional Sekolah, Bantuan Operasional Kesehatan

Klaster 2 Infrastruktur perdesaan, perluasan

lapangan kerja, Dana Desa

Klaster 3

Kredit Usaya Rakyat dan Pemberdayaan Koperasi

Klaster 4 Program listrik dan rumah murah

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL KESEHATAN Persentase persalinan ditolong tenaga kesehatan (dokter, bidan dan
KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL KESEHATAN Persentase persalinan ditolong tenaga kesehatan (dokter, bidan dan
KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL
KESEHATAN
Persentase persalinan ditolong tenaga kesehatan
(dokter, bidan dan tenaga medis) 1995 - 2017
Kartu Indonesia Sehat
92,1 juta
100.00
93.25
90.00
80.00
70.00
60.00
50.00
46.13
40.00
Tidak termasuk Aceh dan Maluku ** Tidak termasuk Aceh, Maluku dan Papua (hanya
kota dan provinsi) *** Tidak termasuk Aceh **** Backcasting
Kartu Indonesia Sehat menunjukkan cakupan pelayanan kesehatan universal di Indonesia.
Kartu ini diberikan untuk penerima bantuan iuran BPJS Kesehatan.
Sumber: BPS (diolah)
1995
1996
1997
1998
1999
2000*
2001
2003
2004
2005**
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2011***
2012
2012
2013
2013 4)
2014
2015
2016
2017
2003 2004 2005** 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2011*** 2012 2012 2013 2013 4) 2014
PENDIDIKAN DAN SOSIAL KARTU INDONESIA PINTAR* BEASISWA BANTUAN BIDIK MISI OPERASIONAL SEKOLAH 2017 2017 2017
PENDIDIKAN DAN SOSIAL
KARTU
INDONESIA PINTAR*
BEASISWA
BANTUAN
BIDIK MISI
OPERASIONAL
SEKOLAH
2017
2017
2017
19,8 juta siswa
364 ribu siswa
54,6 juta siswa
*Program Indonesia Pintar (melalui KIP): pemberian bantuan tunai pendidikan kepada anak usia anak
sekolah (6-21 tahun) yang berasal dari keluaga miskin.
anak sekolah (6-21 tahun) yang berasal dari keluaga miskin. KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL PKH 2017

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

PKH 2017 6 juta keluarga penerima manfaat
PKH
2017
6 juta keluarga
penerima manfaat

Sumber: DJPPR Kemenkeu (2018)* *Paparan DJPPR dalam FGD Mengukur dan Menjaga Sustainabilitas Utang Indonesia oleh KEIN, Mei 2018

Tahun 2018 pemerintah mengalokasikan Rp 283.7 Triliun untuk program penanggulangan kemiskinan sebagai dukungan pada Masyarakat Berpendapatan Rendah yang lebih tepat sasaran, tepat jumlah, dan tepat waktu

Program

Alokasi Anggaran

Sasaran Penerima

Program keluarga harapan (PKH)

Rp 17,3 Triliun

10 Juta RTS

Program Indonesia Pintar

Rp 10,5 Triliun

19,7 Juta Siswa

JKN bagi warga miskin/PBI

Rp 25,5 Triliun

92,4 Juta Jiwa

Bantuan pangan

Rp 20,8 Triliun

16,6 Juta KPM

Bidik Misi

Rp 4,1 Triliun

401.700 Mahasiswa

Dana desa

Rp 60,0 Triliun

74.958 Desa

Subsidi*

Rp 145,5 Triliun

117.700 KK

Sumber: Kemenkeu Ket: di luar subusidi pajak

Rp 145,5 Triliun 117.700 KK Sumber: Kemenkeu Ket: di luar subusidi pajak KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

Rp 145,5 Triliun 117.700 KK Sumber: Kemenkeu Ket: di luar subusidi pajak KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI

LAMPIRAN

LAMPIRAN KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL 23

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

Defisit anggaran terjadi di kebanyakan negara. Bagi Indonesia, defisit selalu dijaga kurang dari 3% terhadap total PDB. Di tahun 2018, pemerintah menargetkan defisit pada level 2.19%.

tahun 2018, pemerintah menargetkan defisit pada level 2.19%. KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Defisit Anggaran

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

Defisit Anggaran Pemerintah (% terhadap PDB)

2

- 0.309 0 - 0.597 -2 - 2.5 - 3.052 -4 -6 - 6.396 -8
-
0.309
0
-
0.597
-2
-
2.5
-
3.052
-4
-6
-
6.396
-8
-10
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
India
Indonesia
Malaysia
Philippines
Thailand
Sumber: World Economic Outlook Database, IMF, April 2018
Data Defisit Indonesia 2017: Laporan Perekonomian Indonesia, Bank Indonesia, Maret 2018

Rasio utang pemerintah terhadap PDB Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara-negara lain.

masih lebih rendah dibandingkan negara-negara lain. KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Perkembangan Rasio

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

Perkembangan Rasio Utang Pemerintah Terhadap PDB (persen)

90.0

80.0 70.0 70.2
80.0
70.0
70.2
60.0 54.2 50.0 41.9 40.0 37.8 30.0 29.0 20.0 10.0 0.0 2006 2007 2008 2009
60.0
54.2
50.0
41.9
40.0
37.8
30.0
29.0
20.0
10.0
0.0
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
2017
India
Indonesia
Malaysia*
Philippines
Thailand
Ket :
* Tahun 2017 angka sementara
** Tahun 2016 dan 2017 angka sementara
Sumber : World Economic Outlook Database, IMF, April 2018.

Walaupun berada pada posisi negatif dalam 5 tahun teakhir, keseimbangan primer Indonesia dibandingkan dengan negara-negara peer tidak begitu buruk.

dibandingkan dengan negara-negara peer tidak begitu buruk. KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL 6.00 4.00 2.00 0.00

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

6.00

4.00

2.00

0.00

-2.00

-4.00

-6.00

-8.00

Primary Balance to GDP Ratio (%)

-2.00 -4.00 -6.00 -8.00 Primary Balance to GDP Ratio (%) 2000 2001 2002 2003 2004 2005

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017

INDONESIA

MALAYSIA

Sumber: CEIC, diakses 30 April 2018

THAILAND

FILIPINA

VIETNAM

INDIA

Terima Kasih

Terima Kasih KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Dr. Arif Budimanta Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri
Terima Kasih KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL Dr. Arif Budimanta Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri

KOMITE EKONOMI DAN INDUSTRI NASIONAL

Dr. Arif Budimanta

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional Republik Indonesia

Arif Budimanta menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Universitas Indonesia, kemudian mengambil studi mengenai keuangan di University of Chicago serta mengikuti Senior Executive Program di Harvard Business School, Harvard University dan ASEAN-ROK Next Generation Opinion Leaders Program yang diselenggarakan oleh The Korea Foundation pada tahun 2015.

Selain menjabat sebagai wakil ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional, saat ini ia juga menjabat sebagai Anggota Dewan Direktur Indonesia Eximbank. Di sela-sela kesibukannya, ia aktif sebagai pengajar pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Arif merupakan pendiri dan penasihat senior bagi Indonesia Center for Sustainable Development (ICSD). Ia juga termasuk kedalam anggota dari Royal Economic Society (RES) London. Pada Periode 2009-2014, Arif Budimanta terpilih sebagai Anggota DPR RI dan ditugaskan di Komisi XI yang membidangi Perencanaan Pembangunan, Keuangan dan Perbankan.