Anda di halaman 1dari 3

Nama : Ulfah Nur Hidayah

NIM : H0815129
Kelas : Agribisnis B

MANAJEMEN SYARIAH

Pertanyaan :
Uraikan dengan detail mengapa manusia diciptakan dan ditugasi bekerja di
muka bumi, namun rezeki manusia ada dalam kekuasaan mutlak Allah SWT (sudah
tertulis di lauhul mahfudz atau kalau ada perubahan rezeki bukan disebabkan karena
usaha manusia (mutlak prerogatif Allah SWT))?
Jawaban :
Segala sesuatu dari ketika Allah menciptakan pena sampai Hari Kebangkitan
tertulis dalam Lauhul Mahfudz bahwa ketika janin dalam rahim berusia empat bulan,
Allah mengirimkan seorang malaikat untuk menghirup jiwa ke dalamnya dan
menuliskan ketentuannya, masa hidup, perbuatan, dan kematiannya, seperti tertera
dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ubadah bin Shomit bahwasanya Rasulullah saw
bersabda :

ّ‫ل ِإن‬ َّّ ‫ل ْالقَلَ َّم‬


َّ ‫ّللاه َخلَقَّ َما أ َ َّو‬ َّ ‫ْاْلَبَ ِّد ِإلَى َكائِنّ هه َّو ِب َما فَ َج َرى ا ْكتهبّْ لَ ّهه فَقَا‬

“Sesungguhnya pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena, kemudian Allah

berfirmanّ kepadanya:ّ “Tulislah.”ّ Makaّ terjadilahّ apa yang akan terjadi hingga
selamanya. (HR. Tirmidzi).
Allah telah menetapkan baginya jatah rezeki hingga seseorang meninggal
dunia. Berdasarkan hadits di atas, ketetapan itu sudah tercatat di Lauhul Mahfudz
secara lengkap dan detail. Jika sesuatu sudah ditakdirkan sebagai rezeki bagi seorang
hamba, maka rezeki itu akan sampai, meski seluruh makhluk mencoba untuk
menghalangi rezeki tersebut. Sebaliknya, jika bukan rezekinya, maka upaya seluruh
makhluk untuk mendatangkan rezeki bagi hamba tersebut mustahil berhasil. Seperti
yang tertera dalam Surat Hud ayat 6:

ّ ِ ‫َل ْاْل َ ْر‬


‫ض فِي دَابَّةّ ِمن َو َما‬ ّ َّ ِ‫ّللاِ َعلَى إ‬
َّّ ‫َو هم ْست َ ْودَ َع َها هم ْستَقَ َّرهَا َويَ ْعلَ هّم ِر ْزقه َها‬
ّ‫ُّم ِبينّ ِكتَابّ ِفي هكل‬

“Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak

dijamin Allah rezekinya.”


Bagaimana dengan orang yang mencuri? Orang yang mencuri dianggap
sebagai orang yang tidak yakin adanya jaminan Allah terhadap hidupnya bahwa
rezeki akan sampai kepadanya. Apabila seseorang tahu akan jaminan Allah terhadap
hidupnya, tentu dia tidak akan mengambil pekerjaan yang haram. Ketetapan Allah
tidak bisa diubah oleh siapapun, kecuali Ia. Dialah Yang Mahakuasa atas segala
sesuatu.
Dunia dan seisinya sudah ada ketetapannya, hukuman yang menunggu di
akhirat pun sudah tertulis, oleh karena itu Allah tidak memerintahkan kita untuk
terlalu mengejar hal-hal duniawi, namun Allah memerintahkan dan mewajibkan atas
manusia untuk selalu meningkatkan amal baik di muka bumi, salah satunya adalah
dengan bekerja. Bekerja merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT. Ibadah, amal
saleh, kebaikan adalah cara kita memantaskan diri di hadapan-Nya.
Islam menempatkan bekerja sebagai bentuk dalam beribadah itu sendiri.
Meskipun beberapa orang percaya bahwa mereka tidak berkewajiban untuk bekerja
karena mendedikasikan diri untuk menyembah Tuhan, ini sebenarnya persepsi yang
keliru tentang konsep ibadah. Cendekiawan Muslim Imam Al-Ghazali menyebutkan
dalam bukunya Ihyaa '`Ulum Ad-Deen (Kebangkitan Ilmu Agama) bahwa Nabi Isa as
pernah melihat seorang pria yang sepenuhnya mengabdikan diri untuk beribadah.
Ketika dia bertanya bagaimana dia mendapatkan roti tiap hari, pria itu menjawab
bahwa saudaranya yang bekerja, memberinya makanan. Kemudian Nabi Isa as
berkataّkepadanya,ّ“Saudaramu itu lebih religius daripada kamu”.
Seperti kisah Siti Hajar yang mencari rezeki dengan berlari dari Safa sampai
Marwah, ternyata Allah memberikan rezeki dari tempat yang tidak terduga, dimana
rezeki itu malah datang di balik kaki putranya. Demikianlah Allah memberikan rezeki
bagi orang yang bertaqwa dari jalan yang tidak terduga, tidak selalu melalui jalan
ikhtiarnya, dimana tempat rezeki itu berada terserah Allah. Tugas kita hanya
beribadah dan bekerja sesuai dengan arahan Allah.

Anda mungkin juga menyukai