Anda di halaman 1dari 2

LQ

Metode LQ bertujuan untuk melihat keunggulan komparatif sektor-sektor


ekonomi ditiap kecamatan di Kabupaten Magelang dengan mengukur konsentrasi
suatu kegiatan dalam suatu daerah dengan cara membandingkan peranannya
dalam perekonomian daerah itu dengan peranan kegiatan atau industri sejenis
dalam perekonomian regional ataupun nasional. Kriteria pengukuran LQ menurut
Bendavid-Val (dikutip oleh Widodo, 2006) yaitu : (1) LQ > 1 berarti tingkat
spesialisasi sektor tertentu di tingkat wilayah studi lebih besar dari sektor yang
sama di tingkat wilayah referensi, sektor tersebut merupakan sektor yang memiliki
keunggulan komparatif dan sebagai pendorong perekonomian daerah. (2) LQ < 1
berarti tingkat spesialisasi sektor tertentu di tingkat wilayah studi lebih kecil dari
sektor yang sama di tingkat wilayah referensi, sektor tersebut tidak memiliki
keunggulan komparatif dan kurang potensial untuk dikembangkan sebagai
penggerak perekonomian daerah. (3) LQ = 1 berarti tingkat spesialisasi sektor
tertentu di tingkat wilayah studi sama dengan sektor yang sama di tingkat wilayah
referensi (Adhitama, 2012).

Adhitama, Rifki. 2012. Pengembangan Sektor-Sektor Ekonomi di Tiap


Kecamatan di Kabupaten Magelang. Economics Development Analysis Journal.
Vol. 1, No. 2, Hal. 1 – 9.

Analisis LQ memiliki kelebihan antara lain merupakan alat analisis sederhana


yang dapat menunjukkan struktur perekonomian suatu daerah dan industri
substitusi impor potensial atau produkproduk yang bisa dikembangkan untuk
ekspor dan menunjukkan industri-industri potensial (sektoral) untuk dianalisis
lebih lanjut. Sedangkan kelemahannya antara lain merupakan indikator kasar yang
deskriptif, merupakan kesimpulan sementara dan tidak memperhatikan struktur
ekonomi setiap daerah. Ini mengingat bahwa hasil produksi dan produktivitas
tenaga kerja di setiap daerah adalah berbeda, juga adanya perbedaan sumber daya
yang bisa dikembangkan di setiap daerah. Analisis LQ ini juga digunakan untuk
menghitung potensi produk unggulan dari hasil pemanfaatan sumber daya alam
pada sector-sekor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, kehutanan dan
pariwisata pada beberapa wilayah dan dapat diketahui wilayah mana yang paling
potensi untuk produk-produk tertentu sehingga dapat ditetapkan sebagai
wilayah/daerah basis atau non basis (Kartikaningdyah, 2013).

Kartikaningdyah, Eli. 2013. Analisis Location Quotient dalam Penentuan Produk


Unggulan pada Beberapa Sektor di Kabupaten Lingga Kepulauan Riau. Jurnal
Integrasi. Vol. 2, No. 3, Hal 30 – 44.
Analisis LQ sering digunakan untu mengestimasi industry ekspor atau
basic industry, di mana industry tersebut memiliki karakteristik dapat membawa
sejumlah unit uang kepada masyarakat melalui ekspor barang dan jasa, industry
yang seperti ini kemudian dikenal dengan nama industri basis (basic industries).
Sementara itu industri yang bergerak memasok barang dan jasa untuk kegunaan
konsumsi lokal/wilayah dinamakan sebagai industri nonbasis. Seperti yang telah
kita ketahui di atas bahwa pada dasarknya teori basis ekonomi menekankan pada
aktivitas ekspor (basis) yang akan mendorong perekonomian dan aktivitas
ekonomi wilayah bergantung pada pertumbuhan (atau pengurangan) dari aktivitas
ekspor tersebut (Muljarijadi, 2011).
Muljarijadi. 2011. Pembangunan Ekonomi Wilayah: Pendekatan Analisis Tabel
Input – Output. Sumedang : UNPAD Press.

LQ adalah metode pengukuran tidak langsung untuk menentukan sektor basis dan
non basis dengan menggunakan data sekunder dari indikator ekonomi di suatu
daerah terutama dari PDRB, jumlah penduduk, dan tenaga kerja per sektor. Data
sekunder akan diambil dari buku-buku, catatan publik seperti Laporan Statistik
Tahunan, kebijakan, dan laporan pemerintah. LQ adalah rasio antara dua proporsi.
LQ membandingkan fungsi relatif nilai dari PDRB sektor komoditas produksi di
suatu daerah dengan fungsi relatif dari seluruh nilai PDRB (Berawi et al., 2017).
Berawi, Mohammed Ali et al. 2017. Producing Alternatives Concept for the
Trans-Sumatra Toll Road Project Development Using Location Quotient Method.
Procedia Engineering. 171 ( 2017 ) 265 – 273.