Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI UMUM
“ISOLASI MIKROORGANISME DAN MORFOLOGI
MIKROBA”
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Mikrobiologi Umum

Disusun oleh
Nama : Reza Maulana Muhammad
NIM : 444216006
Kelas : IIA
Kelompok : 2(Dua)

JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2017
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi
sedikit sekali yang kitaingat. Segala puji hanya layak untuk Allah atas segala
berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga
saya dapat menyelesaikan tugas hasil laporan Praktikum Biologi Umum ini.
Laporan yang berjudul “ISOLASI MIKROORGANISME DAN
MORFOLOGI MIKROBA” Meskipun saya berharap isi dari laporan praktikum
saya ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang.
Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar tugas
Laporan praktikum Biologi ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata saya mengucapkan terima kasih, semoga hasil laporan
praktikum saya ini bermanfaat.

Serang, April 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................1
1.2 Tujuan ....................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Isolasi mikroorganisme ..........................................................................3
2.2 Macam-Macam Isolasi Mikroorganisme................................................3
2.3 Metode Isolasi Mikroba .........................................................................4
2.4 Morfologi Mikroba .................................................................................5
2.5 Sterilisasi ................................................................................................7
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat .................................................................................8
3.2 Alat dan Bahan .......................................................................................8
3.3 Cara Kerja ..............................................................................................8
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil .......................................................................................................9
4.2 Pembahasan ..........................................................................................11
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ..........................................................................................13
5.2 Saran .....................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mikroba dapat kita jumpai pada seluruh lingkungan lingkungan normal
maupun ekstrim. Setiap mikroba membutuhkan kondisi lingkungan tertentu
terkait dengan karakter morfologi dan biokimia (metabolisme) yang dimilikinya.
Oleh karena itu, lingkungan hidup suatu mikroba akan berbeda – beda dan ada
kalanya hanya spesifik untuk mikroba tertentu.
Dalam suatu lingkungan, tidak dapat dihindari bahwa mikro akan selalu
berinteraksi dengan organisme lain, baik dengan kelompoknya sendiri maupun
dari kelompok lain. Kondisi lingkungan yang kompleks telah membentuk suatu
pola interaksi dengan organisme lain.
Mikroba memiki berbagai peran penting dalam suatu ekosistem. Peran ini
bisa diemban dalam kapasitasnya sebagai organisme tunggal (sel atau koloni)
maupun dalam kaitannya sebagai organisme yang memiliki kebutuhan dan
kemampuan untuk berinteraksi dengan organisme lain.
Mikroorganisme yang ingin kita tumbuhkan, yang pertama harus dilakukan
adalah memahami kebutuhan dasarnya kemudian memformulasikan suatu
medium atau bahan yang akan digunakan. Air sangat penting bagi organisme
bersel tunggal sebagai komponen utama protoplasmanya serta untuk masuknya
nutrien ke dalam sel. Pembuatan medium sebaiknya menggunakan air suling. Air
sadah umumnya mengandung ion kalsium dan magnesium yang tinggi. Pada
medium yang mengandung pepton dan ektrak daging, air dengan kualitas air
sadah sudah dapat menyebabkan terbentuknya endapan fosfat dan magnesium
fosfat.
Mikroorganisme dapat berkembang biak dengan alami atau dengan bantuan
manusia. Mikroorganisme yang dikembangkan oleh manusia diantaranya melalui
substrat yang disebut media. Untuk melakukan hal ini, haruslah dimengerti jenis-
jenis nutrien yang diisyaratkan oleh bakteri dan juga macam lingkungan fisik
yang menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhannya

1
Organisme hidup memerlukan nutrisi untuk pertumbuhannya. Subtansi kimia
organik dan inorganik diperoleh dari lingkungan dalam berbagai macam bentuk.
Nutrien diambil dari likungan kemudian ditransformasikan melalui membran
plasma menuju sel. Di sel beberapa nutrisi diolah menghasilkan energi yang
digunakan dalam proses seluler.
Medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan
mikroorganisme tersebut harus sesuai susunanya dengan kebutuhan jenis-jenis
mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik
pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di
tambah sumber karbon organik seperti gula. Sedangkan mikroorganime lainnya
memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa medium
ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya.
Memformulasikan suatu medium atau bahan yang akan digunakan untuk
menumbuhkan mikroorganisme di dalamnya harus memperhatikan berbagi
macam ketentuan seperti jika yang ingin kita membuat medium untuk organisme
bersel tunggal, biasanya air sangat penting sebagai komponen utama
protoplasmanya serta untuk masuknya nutrien ke dalam sel. Pembuatan medium
agar padat, digunakan agar-agar, gelatin atau gel silika) agar merupakan media
tumbuh yang ideal yang diperkenalkan melalui metode bacteriaological
1.2 Tujuan
 Agar mahasiswa dapat memisahkan mikroba dari campurannya
 Agar mahasiswa dapat mengenali bentuk dan morologi sel dari koloni
mikroorganisme

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Isolasi Mikroorganisme
Di dalam bidang ilmu mikrobiologi, untuk dapat menelaah bakteri khususnya
dalam skala laboratorium, maka terlebih dahulu kita harus dapat menumbuhkan
mereka dalam suatu biakan yang mana di dalamnya hanya terdapat bakteri yang
kita butuhkan tersebut tanpa adanya kontaminasi dari mikroba lain. Biakan yang
semacam ini biasanya dikenal dengan istilah biakan murni. Untuk melakukan hal
ini, haruslah dimengerti jenis-jenis nutrient yang disyaratkan bakteri dan juga
macam lingkungan fisik yang ,menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhan
bakteri tersebut (Pelczar, 1986).
Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan suatu jenis mikroba dengan
mikroba lain yang berasal dari campuran bermacam -macam mikroba. Hal ini
dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat karena dalam padat
sel-sel mikroba akan membentuk suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya
(Mulyani, 1991).

2.2 Macam-Macam Isolasi Mikroorganisme


Isolasi mikroba dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara penggoresan dan
cara penaburan.
1. Isolasi mikroba dengan cara penggoresan
Tujuan utama dari penggoresan ini adalah untuk menghasilkan koloni-koloni
bakteri yang terpisah dengan baik dari suspensi sel yang pekat. Cara ini lebih
menguntungkan bila ditinjau dari sudut ekonomi dan waktu, tapi memerlukan
ketrampilan yang diperoleh dengan latihan. Penggoresan yang sempurna akan
menghasilkan koloni yang terpisah. Ada beberapa teknik goresan, antara lain :
a) Goresan T
Cara kerja antara lain bagi cawan menjadi 3 bagian menggunakan spidol
marker, inokulasi daerah 1 dengan streak zig-zag, panaskan jarum inokulan dan
tunggu dingin, kemudian lanjutkan streak zig-zag pada daerah 2. Cawan
diputar untuk memperoleh goresan yang sempurna, dan lakukan hal yang sama
pada daerah 3(Dwidjoseputro, 1992).

3
b) Goresan kuadran
Hampir sama dengan goresan T, namun berpola goresan yang berbeda
yaitu dibagi empat. Daerah 1 merupakan goresan awal sehingga masih
mengandung banyak sel mikroorganisma.Goresan selanjutnya dipotongkan
atau disilangkan dari goresan pertama sehingga jumlah semakin sedikit dan
akhirnya terpisah-pisah menjadi koloni tunggal.
 Goresan sinambung
 Sentuhkan inokolum loop pada koloni dan goreskan secara kontinu sampai
setengah permukaan agar
 Jangan pijarkan loop, lalau putar cawan 1800C lanjutkan goreskan sampai
habis.
 Goreskan sinambung umumnya digunakan bukan untuk mendapatkan
koloni tunggal, melainkan untuk peremajaan ke cendawan atau medium
baru. (Dwidjoseputro, 2005)
2. Isolasi mikroba dengan cara penaburan
Cara penaburan (pour plate) merupakan cara yang kedua di samping penggoresan
untuk memperoleh biakan murni dari biakan campuran mikroba. Cara ini berbeda
dari cara penggoresan dimana media agar diinokulasi dalam keadaan tetap cair
yaitu pada suhu 450C, dan demikian pula koloni-koloni akan berkembang di
seluruh media, tidak hanya pada permukaan.

2.3 Metode Isolasi Mikroba


Ada dua metode yang dilakukan untuk memperoleh biakan murni yaitu.
1. Metode cawan gores
Metode ini mempunyai dua keuntungan, yanti menghemat bahan dan
waktu.metode cawan gores yang dilaksanakan dengan baik kebanyakan akan
menyebabkan terisolasinya mikroorganisme yang diinginkan (hadioetomo,
1993).
2. Metode cawan tuang
Cara lain untuk memperoleh koloni murni dari populasi campuran
mikroorganisme adalah dengan mengencerkan specimen dalam medium agar
yang telah dicairkan dan didinginkan (±500C) yang kemudian dicawankan.

4
Karena konsentrasi sel-sel mikroba di dalam specimen pada umumnya tidak
diketahui sebelumnya, maka pengenceran perku dilakukan beberapa tahap
sehingga sekurang-kurangnya satu diantara cawan tersebut mengandung
koloni terpisah diatas permukaan ataupun di dalam agar.Metode ini
memboroskan bahan dan waktu namun tidak memerlukan keterampilan yang
tinggi. (hadioetomo, 1993)

2.4 Morfologi Mikroba


Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan
sifat-sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak
berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan.
Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah untuk
diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan. Hal tersebut juga
berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding
sel bakteri melalui serangkaian pengecatan (Volk, 1993).
Isolat bakteri yang diperoleh diamati morfologi koloni dengan melihat bentuk
koloni, warna, tepian dan elevasi pada medium agar lempeng, agar tegak dan agar
miring. Sedangkan morfologi sel ditentukan dengan melihat olesan biakan yang
sudah diwarnai dibawah mikroskop dan melihat bagaimana bentuk sel, sifat gram,
dan kemampuan membentuk spora dari bakteri tersebut (Pelczar, 2006).
Kebanyakan sel bakteri tidak berwarna, sehingga jika dilarutkan dalam air
dan diperlihatkan di bawah mikroskop tidak memperlihatkan warna kontras
dengan medium disekelilingnya. Beberapa zat yang digunakan untuk mengamati
struktur bagian dalam sel. Dalam pewarnaan mikroba, dapat digunakan satu jenis
warna, cara ini disebut pewarnaan sederhana. Zat-zat warna yang biasa digunakan
untuk pewarnaan bakteri dapat dibedakan atas beberapa golongan yaitu:
pewarnaan sederhana, pewarnaan diferensial, pewarnaan strukturan dan
pewarnaan untuk menguji adanya komponen tertentu di dalam sel (Waluyo,
2008).
Struktur di dalam sel pada tempat-tempat yang khas dibentuk oleh spesies ini
disebut endospora. Endospora dapat bertahan hidup dalam keadaan kekurangan
nutrien, tahan terhadap panas, kekeringan, radiasi UV serta bahan-bahan kimia.

5
Ketahanan tersebut disebabkan oleh adanya selubung spora yang tebal dan keras.
Sifat-sifat ini menyebabkan dibutuhkannya perlakuan yang keras untuk
mewarnainya. Hanya bila diperlukan panas yang cukup, pewarna yang sesuai
dapat menembus endospora. Tetapi sekali pewarna memasuki endospora, sukar
untuk dihilangkan. Ukuran dan letak endospora di dalam sel merupakan ciri-ciri
yang digunakan untuk membedakan spesies-spesies bakteri yang membentuknya
(Irianto, 2006).
Bentuk bakteri bermacam-macam. Ada yang bulat (tipe kokus) dengan garis
tengah 0,15-1mikorn. Ada yang berbentuk batang atau slindris panjang atau
pendek (tipe basil) dan ada yang berbentuk slindris, spiral panjang atau pendek
(spirillum) yang garis tengahnya 0,3-3 mikron, sedangkan panjangnya 1 sampai
lebih dari 6 mikron. Umumnya bakteri bersel tunggal tidak mempunyai klorofil
serta berkembang biak dengan cara membelah dan spora. Tiap sel dikelilingi oleh
dinding sel atau membrane yang menyerupai lendir. Jika berkelompok, wujudnya
seperti lendir yang kental dan berbentuktidak teratur, ada yang panjang, bulat,
atau lapisan tipis seperti buih. Bakteri itu ada yang inaktif atau tidak dapat
bergerak. Ada pula bakteri yang bisa berenang atau bergerak akibat adanya bulu-
bulu yang bisa bergetar (Hadioetomo,1993).
Bakteri gram positif lebih peka terhadap fenol, penisilin, dan resisten
terhadap streptomisin. Ciri khas ini dipergunakan dalam penggolongan bakteri
(Dwidjoseputro, 2005).
Bakteri gram positif mengandung peptidoglikan kira-kira 90% dari bobot
kering dinding selnya. Namun biasanya terdiri dari selapis sel yang sangat tebal
(10-50 nm). Selain peptidoglikan dijumpai pula berbagai polimer polisakarida
serta poliposfat yang dikenal sebagai asam teitkoat (Panagan,2011).
Dinding sel bakteri gram negatif mempunyai susunan kimiawi yang lebih
kompleks dibandingkan dengan dinding sel bakteri gram positif. Dinding sel
bakteri gram negatif mengandung peptidoglikan yang terhitung rendah, jarang
melebihi 10% dari bobot kering dindingnya (Hafsan, 2011).
Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan
sifat-sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak
berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan.

6
Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah untuk
diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan. Hal tersebut juga
berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding
sel bakteri melalui serangkaian pengecatan (Yuliana, 2008).

2.5 Sterilisasi
Adanya pertumbuhan mikroorganisme menunjukkan bahwa pertumbuhan
bakteri masih berlangsung dan tidak sempurnanya proses sterilisasi. Jika sterilisasi
berlangsung sempurna, maka spora bakteri yang merupakan bentuk paling resisten
dari kehidupan mikrobia akan diluluhkan (Lay,1992).
Autoklaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang
digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan. Tekanan
yang digunakan pada umumnya 15 Psi atau sekitar 2 atm dan dengan suhu 121oC
(250oF). Jadi tekanan yang bekerja ke seluruh permukaan benda adalah 15 pon
tiap inchi2 (15 Psi = 15 pounds per square inch). Lama sterilisasi yang dilakukan
biasanya 15 menit untuk 121oC (Novel, 2008).
Alat-alat dari gelas,logam dapat di sterilkan dengan auto klaf seperti
pinset,gagang skalpel,petridish dan botol kultur.Proses sterilisasi dimulai dengan
mencuci alat-alat tersebut dengan menggunakan deterjen sampai bersih dan
dibilas dengan air,setelah bersih alat-alat tersebut di simpan agar kering,kemudian
dimasukkan ke dalam autoklaf,untuk beberapa alat sebelumnya harus dibungkus
dengan kertas,adapun alat-alat tersebut adalah pinset,gagang skalpel,dan petridish.
Temperatur yang digunakan untuk sterilisasi dengan autoklaf adalah suhu
121°C,tekanan 15 psi selama 15 menit. Kemudian alat-alat ini diterilisasi lagi
dengan cara mengovennya selama 1 jam dengan suhu 65°C. Setelah di oven,alat-
alat ini bisa langsung digunakan atau disimpan dalam lemari.
(Nurmayulis,dkk.,2011).

7
BAB III
METOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum pengenalan alat-alat mikrobiologi ini dilaksanakan pada hari
Selasa, 19 April 2017, pukul 13.00 – 15.00 WIB. Bertempat di Laboratorium
Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2 Alat dan bahan


Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah Erlenmeyer, Gelas
Beker,Cawan Petri, Pengaduk, Hot Plate dan Magnetic Stirrer. Bahan yang
digunakan pada praktikum ini adalah Plastic Wrap, Alumunium Foil, Media PDA,
Media NA, Aquades dan Alkohol 70%
3.3 Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Alat disterlisasi memakai alkohol
3. Ditimbang PDA sebanyak 16 gram dan NA sebanyak 25 gram di alumunium
foil
4. Dimasukan NA 25 gr kedalam erlenmeyer 1
5. Kemudian dimasukan aquades sebanyak 500 ml
6. Dihomogenkan dengan hot plate & sterrer
7. Dimasukan PDA 36 gr kedalam erlenmeyer 2
8. Dimasukan aquades sebanyak 500 ml
9. Dihomogenkan hot plate & sterrer
10. Dimasukan PDA & NA ke cawan petri
11. Dibungkus dengan wrapping plastik
Disimpan di laf

8
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1. Hasil Pengamatan Morfologi Mikroba
Perlakuan
No Media Morfologi
Lingkungan
1. Ukuran: Moderate (Sedang)
Bentuk: Irregular
Permukaan: Berkerut
Ruang Lab Margin: Lobate

PDA
2. Ukuran: Pinpoint (titik)
Bentuk: Irregular
Permukaan: Berkerut
Margin: Undulate
Ruang Lab

NA
3. Ukuran: Small (Kecil)
Bentuk: Irregular
Permukaan: Berkerut
Margin: Lobate
Kamar Mandi

PDA

9
4. Ukuran: Large (Besar)
Bentuk: Irregular
Permukaan: Berkerut
Margin: Lobate
Kamar Mandi

NA
5. Ukuran: Large (Besar)
Bentuk: Irregular
Permukaan: Halus
Mengkilap
Vegetasi
Margin: Undulate

PDA
6. Ukuran: Moderate (Sedang)
Bentuk: Circular
Permukaan: Berkerut
Margin: Serrate
Vegetasi

NA

10
4.2 Pembahasan
Percobaan kali ini tentang pengamatan pertumbuhan mikroorganisme, yaitu
menganalisis mikroorganisme yang didimkan 7 hari di dalam medium. Medium
adalah suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi yang dipakai untuk
menumbuhkan mikroba. Selain untuk menumbuhkan mikroba, medium dapat
digunakan pula untuk isolasi, memperbanyak, pengujian sifat-sifat fisiologi dan
perhitungan mikroba. Medium yang digunakan dalam percobaan ini adalah
Nutrient agar (NA), dan Potato Dextrosa Agar (PDA).

Nutrient Agar (NA) merupakan suatu medium yang berbentuk padat, yang
merupakan perpaduan antara bahan alamiah dan senyawa-senyawa kimia. Dalam
hal ini agar digunakan sebagai pemadat, karena sifatnya yang mudah membeku
dan mengandung karbohidrat yang berupa galaktam sehingga tidak mudah
diuraikan oleh mikroorganisme. Medium Nutrient Agar (NA) merupakan medium
yang berwarna coklat muda yang memiliki konsistensi yang padat dimana
medium ini berasal dari sintetik dan memiliki kegunaan sebagai medium untuk
menumbuhkan bakteri .

Medium PDA (Potato Dekstrosa Agar) berdasarkan susunannya merupakan


medium organik semi alamiah atau semi sintetis sebab terdiri dari bahan alamiah
yang ditambah dengan senyawa kimia; berdasarkan konsistensinya merupakan
medium padat karena mengandung agar yang memadatkan medium; berdasarkan
kegunaannya merupakan medium untuk pertumbuhan jamur.

Pada praktikum kali ini mengenai pengamatan pertumbuhan mikroorganisme,


penelitin berawal dari NA dan PDA yang dimasukan kedalam Erlenmeyer yang
berbeda, dan dipanaskan menggunakan hot plate agar media menjadi cair. Lalu
NA dan PDA dituangkan pada cawan petri, dan disterilisasi kembali. Kemudian
NA dan PDA dibiarkan terbuka selama 15 menit dengan tidak melakukan
percakapan di dekat media agar tidak terkontaminasi, setelah selesai 15 menit NA
dan PDA ditutup dengan rapat dan diberi solatip. Lalu NA dan PDA diamati
hingga 24 jam atau didiamkan diruangan. Terkhir amati apa saja mikroorganisme
yang tumbuh dalam medium tersebut.

11
Setelah 1 hari mulai terliat dengan jelas pertumbuhan mikroorganisme pada
media PDA dan NA yang tumbuh dalam cawan petri, seperti; tumbuhnya
misselium, bakteri, khamir, kapang, dan lain-lain.
Pada PDA yang diletakkan di ruang lab, ukurannya moderate atau sedang,
bentuknya irregular, permukaannya berkerut, dan marginnya lobate. Kemudian
pada NA yang diletakkan di ruang lab, ukurannya pinpoint atau titik, bentuknya
irregular, permukaan berkerut, dan marginnya undulate.
Pada PDA yang diletakkan di kamar mandi, ukurannya small atau kecil,
bentuknya irregular, permukaan berkerut, dan marginnya lobate. Kemudian pada
NA yang diletakkan di kamar mandi, ukurannya large atau besar, bentuk irregular,
permukaan berkerut, dan marginnya lobate.
Pada PDA yang diletakkan di lingkungan bervegetasi, ukurannya large atau
besar, bentuknya irregular, permukaan halus mengkilap, dan marginnya undulate.
Kemudian pada NA yang diletakkan di lingkungan yang bervegetasi, ukurannya
moderate atau sedang, bentuk circular, permukaan berkerut, dan marginnya
serrate.
Kita hanya mendiamkan media dalam waktu 24 jam,apabila media didiamkan
dalam waktu 7 hari di dalam kondisi baik ruangan,kamar mandi dan lingkungan
maka mikroorganisme yang terbentuk dalam media PDA dan NA akan terlihat
jelas dan lebih banyak berbagai macam mikroorganisme

12
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Pertumbuhan adalah pertambahan secara teratur semua komponen di dalam
sel Hidup. Pada organisme multiseluler, yang disebut pertumbuhan adalah
peningkatan jumlah sel per organisme, dimana ukuran sel juga menjadi lebih
besar.
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari
campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk
pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekul
molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media
pertumbuhan dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan
juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya.
Setelah 24 jam mulai terliat dengan jelas mikroorganisme yang tumbuh dalam
cawan petri, seperti; tumbuhnya misselium, bakteri, khamir dan kapan.

5.2 Saran
Adapun saran dari praktikum mikrobiologi adalah sebagai berikut:
sebelum melakukan praktek mikrobiologi diharapkan untuk menyeterilkan
alat-alat dan diri kita masing-masing agar media atau bahan yang diuji tidak
terkontaminasi oleh mikroorganisme. Sebaiknya pada saat praktikum, dilakukan
dengan tidak berisik agar ketika medium (cawan petri) terbuka tidak
terkontaminasi. Diharapkan untuk memakai sarung tangan dan baju laboratorium,
dan berhati- hati dalam melakukan percobaan agar tidak terjadi kecelakan atau
meminimalisir kecelakaan yang tidak diinginkn.

13
DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan: Jakarta


Dwidjoseputro.1998.Dasar – dasar Mikrobiologi.Djambatan: Jakarta
Hadioetomo. Ratna Siri. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: P.T.
Gramedia Pustaka Utama
Hafsan. 2011.Mikrobiologi UmumAlauddin University Press: . Makassar
Irianto, Koes.2006.Mikrobiologi Jilid 1. CV. Yrama Widya: Bandung
Irianto. 2006.Koes.Mikrobiologi Jilid 1. CV. Yrama Widya. Bandung
Lay BW. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. PT Raja Grafindo Persada:
Jakarta
Novel, Sinta S., Asri, Peni W., Ratu, Safitri, 2008, Praktikum Mikrobiologi Dasar,
Erlangga, Jakarta
Nurmayulis.,Susiyanti dan Ali,Z.A.,2011,Pemberian Benzil Amino Purin Dan Air
Kelapa Pada Perbanyakan Krisan (Chrysanthemum daisy L.) Secara In
Vitro,JurnalJerami,Vol 4 No 2
Panagan, Almunady T. 2011. Isolasi Mikroba Penghasil Antibiotika dari Tanah
Kampus Unsri Indralaya menggunakan media ekstrak tanah. Jurnal
Penelitian Sains Vol 14 No.3.
Pelczar, Michael, J. Jr.2006.Dasar-Dasar Mikrobiologi.UI-Press:Jakarta
Pelezar,chan. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press: Jakarta
Waluyo. 2008. Mikrobiologi Umum. UMM PRESS: Malang.
Yuliana, Neti. 2008. Kinetika Pertumbuhan Bakteri Asam Laktat Isolat TS yang
berasal dari Tempoyak. Jurnal Teknologi Industri dan Hasil Pertanian
Vol.13 No.2.

14