Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM

BOTANI DAN SISTEMATIKA TANAMAN


“MORFOLOGI BATANG DAN AKAR TANAMAN”
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Botani Dan
Sistematika Tanaman

Disusun oleh
Nama : Reza Maulana Muhammad
NIM : 444216006
Kelas : IIIA
Kelompok : 1(Satu)

JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2017
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi
sedikit sekali yang kitaingat.Segala puji hanya layak untuk Allah atas segala
berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga
saya dapat menyelesaikan tugas hasil laporan Praktikum Biologi Umum ini.
Laporan yang berjudul “MORFOLOGI BATANG DAN AKAR
TANAMAN” Meskipun saya berharap isi dari laporan praktikum saya ini bebas
dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang.Oleh karena itu,
saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar tugas Laporan
praktikum Biologi ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata saya mengucapkan terima kasih, semoga hasil laporan
praktikum saya ini bermanfaat.

Serang, September 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................1
1.2 Tujuan ....................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Morfologi ...............................................................................................2
2.2 Akar ........................................................................................................5
2.3 Batang.....................................................................................................9
BAB III METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat ...............................................................................13
3.2 Alat dan Bahan .....................................................................................13
3.3 Cara Kerja ............................................................................................13
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil .....................................................................................................14
4.2 Pembahasan ..........................................................................................16
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan ..............................................................................................22
5.2 Saran .....................................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tumbuhan merupakan salah satu penopang hidup manusia yang sangat
penting. Di samping itu, tumbuhan juga memiliki peranan yang sangat penting
untuk perkembangan mahluk hidup. Setiap tumbuhan memiliki akar, batang dan
daun. Masing – masing memiliki fungsi utama dalam pertumbuhan sebuah
tumbuhan.
Batang merupakan bagian tubuh tumbuhan yang amat penting. Dan
mengingat tempat serta kedudukan batang bagi tubuh tumbuhan. Batang dapat di
samakan dengan sumbu tubuh tumbuhan,
Pada umumnya batang memiliki sifat – sifat yaitu : umumnya berbentuk
panjang bulat, terdiri atas ruas – ruas yang masing – masing di batasi oleh buku –
buku, tumbuhan biasanya keatas menuju cahaya matahri, selalu bertambah
panjang di ujungnya, mengadakan percabangan, umumnya tidak berwarna hijau.
Batang terdiri atas : bentuk batang, arah tumbuh batang, percabangan batang.
Akar adalah bagian pokok yang nomor tiga setelah daun dan batang bagi
tumbuhan yang tubuhnya telah merupakan kormus. Akar biasanya mempunyai
sifat : selalu tumbuh di bagian dalam tanah dengan arah tumbuh ke pusat bumi,
tidak berbuku – buku, warna tidak hijau, tumbuh terus pada ujungnya, bentuknya
sering kali meruncing hingga lebih mudah untuk menembus tanah.
Pada umumnya akar dapat di bedakan bagian – bagiannya yaitu : leher akar
atau pangkal akar (collum ), ujung akar (apex radicis), batang akar (corpus
radicis), cabang –cabang akar (radix lateralis), serabut akar (fibrilla radicalis),
bulu – bulu akar (pilus radicalis).

1.2Tujuan
Tujuan dari praktikum pergerakan partikel kali ini adalah
1. Mengetahui morfologi batang dan akar
2. Mengetahui bagian-bagian batang dan akar
3. Mengidentifikasi jenis batang dan akar berdasarkan morfologinya

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Morfologi
Morfologi tumbuhan ialah ilmu yang mempelajari struktur organ tumbuhan
baik mengenal akar, daun, batang, bunga, buah, maupun bijinya. Pada dasarnya,
tumbuhan terdiri atas 3 (tiga) organ pokok, yaitu akar (radiks), batang (caulis),
dan daun (folium). Tumbuhan yang mempunyai ketiga unsur pokok tersebut
adalah golongan kormofita (kormofita berasal dari Bahasa Yunani yaitu, cormus
berarti akar, batang dan daun; sedangkan phyta berarti tumbuhan). Selain itu
bagian lain dari tubuh tumbuhan dapat dikatakan sebagai turunan (derivat) dari
salah satu atau dua bagian pokok tersebut yang telah mengalami perubahan
bentuk, sifat dan fungsi (Sambodo, 1996).
A. Jagung
Tanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas.
Tongkol jagung diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletak pada
bagian atas umumnya lebih dahulu terbentuk dan lebih besar dibanding yang
terletak pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10 - 16 baris biji yang
jumlahnya selalu genap (Sumardi, 1993).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Poales
Family : Poaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L (Steenis,2003).
B. Kacang tanah
Kacang Tanah(Arachis hypogaea) memiliki sistem perakaran akar tunggang,
dan merupakan tanaman muda. Kacang Tanah(Arachis hypogaea) memiliki sifat
batang berkayu, bentuk batang bulat, dan arah pertumbuhan batang tegak.

2
Kacang Tanah(Arachis hypogaea)memiliki susunan daunnya yaitu dua helai
daun tunggal, bentuk daun bulat memanjang (oblongus), ujung daun meruncing
(accuminatus), pangkal daun tumpul (obtutus),tepi daun bergerigi.
Klasifikasi
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Filu : Magnoliophyta
Super divisi : Spermatophyta
Kelas :Magnoliopsida
Ordo :Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Arachis
Species : Arachis hypogae) (Steenis,2003).
C. Singkong
singkong (M. esculenta), memiliki ujung daun meruncing, pangkal daun
romping rata, tipe daun yang berbagi menjari (palmatipartitus), yaitu tepi daun
berbagi, sedangkan daunnya mempunyai susunan tulang yang menjari. Daging
daun memilki sifat seperti kertas (papyraceus dan chartaceus), karena daunnya
tipis tetapi cukup tegar (koko saat di sobek). Permukaan daun singking berbentuk
gundul (glaber). Batang singkong kering, dan tata letak daun tersebar
Kerajaan: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Ordo: Malpighiales

Famili: Euphorbiaceae

Upafamili: Crotonoideae

Bangsa: Manihoteae

Genus: Manihot(Steenis,2003).

3
D. Kacang hijau
Tanaman kacang hijau termasuk famili Leguminosae yang banyak
varietasnya. Susunan morfologi kacang hijau terdiri atas akar, batang, daun,
bunga, dan biji. Perakaran tanaman kacang hijau bercabang banyak dan
membentuk bintil-bintil (nodula) akar. Makin banyak nodula akar, makin tinggi
kandungan nitrogen (N) sehingga menyuburkan tanah ( Rukmana, 1997).
Klasifikasi
Kingdom :Plantae
Divisio :Spermatophyta
Sub Divisio :Angiospermae
Kelas :Dicotyledoneae
Ordo :Rosales
Famili :Papilionaceae
Genus :Phaseolus (Steenis,2003).
E. Mawar
Dari klasifikasi diatas dapat diterjemahkan bahwa bunga mawar merupakan
salah satu tumbuhan dikotil, yang masuk pada jenis tumbuhan angiospermae.
Sukunya Rosaceae merupakan bagian dari keluarga besar tumbuhan dengan
memiliki spesies sekitar 3000-4000 spesies yang terdapat pada 100-120
marganya. Adapun beberapa jenis tumbuhan yang masuk suku ini diantaranya
adalah apel, pir, cerry dan arbei. Genusnya Rosa didasarkan pada marga yang
diberikan pada tumbuhan tersebut.
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Kelas : Dicotyledonae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Famili : Rosaceae
Ordo : Rosanales
Genus : Rosa
Spesies : Rosa Hiproida atau Rosa sp(Steenis,2003).

4
2.2 Akar
Akar merupakan bagian bawah dari sumbu tanaman dan biasanya berkembang
di bawah permukaan tanah, meskipun ada pula akar yang tumbuh di atas tanah
(Sutejo, 2007).
Sebagai salah satu organ tanaman, akar berperan penting pada saat tanaman
merespons kekurangan air dengan cara mengurangi laju transpirasi untuk
menghemat air. Pada umumnya tanah mengering dari permukaan tanah hingga
ke lapisan tanah bawah selama musim kemarau (Torrey, 2013).
Berdasarkan asalnya dikenal dua macam akar, yaitu : akar primer yang berasal
dari embrio dan akan tetap bertahan sepanjang hidupnya, serta akar liar yang
berasal dari batang atau daun. Akar tersebut dapat bersifat permanen dan
sementara. Peranan akar adalah untuk menyerap air dan garam-garam dari dalam
tanah serta menambatkan tumbuhan pada tanah atau makanan seperti Daucus,
Manihot, Dioscorea, dan Ipomoea. Peranan akar liar bervariasi, sesuai dengan
peranan akarnya. Akar liar dapat berfungsi sebagai akar tunjang, akar gantung,
akar nifas, akar pelekat, akar pembelit, dan sebagai penunjang (Saktiono, 1989).
Akar juga merupakan bagian pokok yang nomor tiga (di samping batang dan
daun) bagi tumbuhan yang tumbuhnya telah merupakan kormus. Bagi tumbuhan,
akar berfungsi untuk memperkuat berdirinya tumbuhan, untuk menyerap air dan
zat-zat makanan yang terlarut di dalam air tadi dari dalam tanah, untuk
mengangkut air dan zat-zat makana tadi ke tempat-tempat pada tubuh tumbuhan
yang memerlukan dan kadang-kadang sebagai tempat untuk penimbunan makanan
(Estiti,1985) Irisan memanjang ujung akar muda menunjukkan 4 daerah
pertumbuhan yang batasnya tidak terlalu jelas. Yaitu : tudung akar, daerah
pembelahan sel, daerah pemanjangan, dan daerah diferensiasi sel. Daerah-daerah
pertumbuhan ini dapat berhimpitan karena dipengaruhi oleh jenis tumbuhnya serta
keadaan lingkungan yang menentukan aktifitasnya (Lubis,2005).
Bagian bawah dari sumbu tumbuhan sering dikenal dengan sebutan akar dan
umumnya berkembang di bawah permukaan tanah, meskipun ada akar yang
tumbuh di luar tanah. Akar pertama pada tumbuhan berbiji berkembang dari
meristem apeks di ujung akar embrio dalam biji yang berkecambah. Pada

5
gymnospermae dan dikotil, akar tersebut berkembang dan membesar menjadi akar
primer dengan cabang yang berukuran lebih kecil. System akar tersebut
dinamakan akar tunggang. Pada monokotil, akar primer tidak lama bertahan
dalam kehidupan tumbuhan dan segera mengering. Dari dekat pangkalnya atau di
dekatnya akan muncul akar baru yang disebut akar tambahan atau adventif (estiti,
1995).
Irisan memanjang ujung akar muda menunjukkan 4 daerah pertumbuhan yang
batasnya tidak terlalu jelas. Yaitu : tudung akar, daerah pembelahan sel, daerah
pemanjangan, dan daerah diferensiasi sel. Daerah-daerah pertumbuhan ini dapat
berhimpitan karena dipengaruhi oleh jenis tumbuhnya serta keadaan lingkungan
yang menentukan aktifitasnya (sutrian,2004).
Akar juga merupakan bagian pokok yang nomor tiga (di samping batang dan
daun) bagi tumbuhan yang tumbuhnya telah merupakan kormus. Bagi tumbuhan,
akar berfungsi untuk memperkuat berdirinya tumbuhan, untuk menyerap air dan
zat-zat makanan yang terlarut di dalam air tadi dari dalam tanah, untuk
mengangkut air dan zat-zat makana tadi ke tempat-tempat pada tubuh tumbuhan
yang memerlukan dan kadang-kadang sebagai tempat untuk penimbunan makanan
(Estiti,1985)
A. Macam-Macam Akar
Keragaman bentuk dan struktur akar sering terkait dengan fungsinya. Karena
itu dikenal akar penyimpan, akar sukulen, akar udara, pneumatofur, akar panjat,
akar pembelit, akar tunjang, dan akar yang hidup bersimbiosis dengang jamur.
Kondisi lingkungan sering mempengaruhi sistem akar. Ditanah kering tumbuhan
biasanya memiliki sistem akar yang berkembang dengan lebih baik. Banyak
tumbuhan yang tumbuh ditanah berpasir menghasilkan akar lateral yang
horizontal dan tidak dalam, menyebar dekat dibawah permukaan tanah hingga
berpuluh meter panjangnya minsalnya pada tamarix (estiti, 1995).
B. Susunan Jaringan Akar Primer
1. Tudung Akar
Tudung akar terdapat diujung akar dan melindungi promeristem akar serta
membantu penembusan tanah oleh akar, yang terdiri dari sel hidup yang saling
mengandung pati, terkadang selnya tersusun dalam deretan radial yang berasal

6
dari pemula tudung akar, pada kebanyakan tumbuhan sel sentral ditudung akar
membentuk struktur yang lebih jelas dan disebut kolumela
(Tjitrosoepomo,2003).
2. Epidermis
Lapisan terluar akar tersusun dari sel-sel yang rapat satu sama lain tanpa
antar sel, berdinding tipis. Namun kadang-kadang dinding sel paling luar
berkutikula. Pada akar yang terendah pada udara dan bagian akar dalam tanah
yang mempertahankan epidermisnya, dinding luar menebal, dapat berisi lignin
dan zat lain. Tebal epidermis biasanya satu lapisan sel, tetapi terdapat
perkecualian misalnya akar udara tumbuhan anggota Orchidaceae dan Araceae
yang bersifat epifit, epidermisnya berlapis banyak dan terspesialisasi
membentuk jaringan khusus disebut velamen (fahn,1992).
3. Korteks Akar
Pada umumnya korteks akar terdiri dari sel-sel parenkim. Sel-sel korteks
akar sering mengandung tepung, kadang-kadang kristal kalsium oksalat. Pada
sejumlah besar monokotil sering membentuk serabut sklerenkim dan berbagai
sel yang berdinding tebal sebagai penguat. Lapisan terluar korteks yang
langsung berbatasan dengan epidermis, dapat mengadakan differensiasi
menjadi hipodermis yang dinding-dindingnya mengandung mengandung
suberin atau lignin yang disebut eksodermis.
Eksodermis dapat terdiri dari selapis sel atau lebih, terdiri dari sel panjang
dan sel pendek bergantian atau hanya semacam saja. Sedangakan lapisan
paling dalam korteks akar berkembang dan berdifferensiasi menjadi
endodermis.
Endodermis merupakan selapis sel dan struktur anatominya berbeda
dengan jaringan di sebelah luar maupun di sebelah dalamnya. Sel endodermis
selain mengalami penebalan dinding yang tersusun dari selulose dan lignin.
Pada awal perkembangannya, sel-sel endodermis membentuk pita Caspary,
yaitu penebalan dari suberin dan lignin pada sisi radial dan tranversal. Ada
tiga tipe endodermis, yaitu :
1. tipe pertama, selnya berdinding tipis yang ada pada dinding radial dan
tranversialnya mengalami penebalan pita dari zat gabus.

7
2. tipe kedua, disampng dinding primer, dinding juga dilapisi dengan
gabus dan selulose.
3. tipe ketiga, penebalan dindingnya yang berlignin. Pada tipe ketiga,
penebalan dinding dapat terjadi pada dinding radial, tranversal, dan tangensial
bagian dalam atau luar (Savitri 2008).
Rambut akar berkembang dari sel epidermis yang khusus, dan sel tersebut
mempunyai ukuran yang berbeda dengan sel peidermis, dinamakan trikoblas.
Rambut akar merupakan sel epidermis yang memanjang ke luar, tegak lurus
permukaan akar, dan membentuk tabung. Selnya biasa terdapat dekat di
belakang apeks akar sepanjang satu sampai beberapa sentimeter (sumardi,
1993).
4. Eksodermis
Pada kebanyakan tumbuhan dinding sel pada lapisan sel terluar
membentuk gabus sehingga terbentuk jaringan pelindung baru yakni
eksodermis yang akan menggantikan epidermis, struktur dan sifat sitokimiawi
sel eksodermis mirip sel endodermis, dinding primer dilapisi oleh suberin
yang juga dilapisi oleh selulosa, ditemukan juga lignin, contoh tanaman yang
memiliki eksodermis adalah smilax, oryza, phoenix ( Istanti,1999).
5. Endodermis
untuk penyerapan pada daerah akar dinding sel mengandung selapis
suberin didinding antiklinal yakni pada dinding radial dan melintang,
kerampingan lapisan ini menyebabkan disebut pita kaspari, yang merupakan
kesatuan antara lamella tengah dan dinding primer tempat suberin dan lignin
tersimpan. Bila sel terplasmolisis maka protoplas melepaskan diri dari dinding
namun tetap melekat pada pita kaspari (fahn,1991).
6. Silinder Pembuluh
Silinder pembuluah terdiri dari jaringan pembuluh dengan satu atau
beberapa lapisan sel disebelah luarnya yaitu perisikel. Sel trakeal terluar
paling pendek garis tengahnya namun paling dulu menjadi dewasa, sel-sel itu
merupakan protoxilem dan memiliki dinding skunder berpenebalan spiral atau
cincin (sumardi, 1993).
C. Pertumbuhan Sekunder

8
pada Akar Dalam akar yang mempunyai penebalan sekunder, kambiumnya
berasal dari benang-benang meristem dalam jaringan prokambium atau jaringan
parenkimatis yang terletak di antara kelompok-kelompok floem priem dan pusat
stele. Disini dibentuk deretan tangensial pendek initial kambium yang akan
membentuk sel-sel xilem sekunder dan floem sekunder. Dari batas-batas strip
kambium yang terbentuk pertama ini, satu lapisan initial diperluas ke arah lateral
dengan diferensiasi initial baru dalam parenkima di antara benang-benang xilem
dan floem primer sampai segmen kambium bertemu dalam perisikel di antara
xilem dan endodermis. Sehingga terbentuklah silinder kambium yang utuh
sebagaimana gambar di bawah ini : Kambium pada permukaan dalam floem aktif
terlebih dahulu dibandingkan dengankan dengan kambium di dekat perisikel
membentuk xilem sekunder yaitu kambium terdorong ke luar. Kambium dari
pesikel membentuk parenkim jari-jari empulur. Periderm terbentuk dari sel-sel
perisikel yang membelah secara periklinal dan antiklinal. Pembelahan periklinal
membentuk perluasan radial dari perisikel (Issrep, 1993).
Pembentukan periderm mengikuti aktivitas kambium pembuluh dan biasanya
mulai dibentuk pertama kali dalam perisikel.. Pada tumbuhan parenial, keaktifan
kambium akar akan diiringi keaktifan periderm untuk jangka waktu lama.
Periderm yang telah di bentuk tidak akan bertahan lama karena volume dari sel
baru yang ada di sebelah dalam bertambah besar, dan akhirnya periderm baru
dibentuk di bawahnya. Hal itu dapat berlangsung berulang kali sehingga diperoleh
ritidom. Pada akar yang bertugas menyimpan cadangan makanan , parenkim
menjadi bagian terbesar pada xilem maupun floem sekunder (Hidayat, 1995).

2.3 Batang
Batang biasanya digunakan untuk proses percabangan bagian tumbuhan yang
terletak di atas tanah. Namun, ditinjau dari sudut botani, bagian batang yang
tumbuh keudara, melainkan hanya bagian yang berdaun. Bagian ini dapat dibagi
menjadi buku (yaitu tempat daun melekat) dan ruas (yaitu bagian di antara dua
buku). Sebuah penampang melintang yang dilengkapi dengan penampang
membujur melalui ruas muda yang telah berhenti memanjang, memberi gambaran
yang tepat dari susunan batang dikotil pada tahap pertumbuhan (Kamajaya, 1996).

9
Jika kita membandingkan berbagai jenis tumbuhan, ada diantaranya yang
jelas kelihatan batangnya, tetapi ada pula yang tampaknya tidak berbatang.
A. Tumbuhan yang tidak berbatang (Planta acaulis).
Tumbuh-tumbuhan yang benar tidak berbatang sesungguhnya tidak ada,
hanya tampaknya saja tidak ada. Hal itu disebabkan karena batang amat pendek,
sehingga semua daunnya seakan-akan keluar dari bagian atas akarnya dan
tersusun rapat satu sama lain merupakan suatu roset (rosula). Tumbuhan semacam
ini akan memperlihatkan batang dengan nyata pada waktu berbunga.
B. Tumbuhan yang jelas berbatang
1. Jenis Batang
Batang tumbuhan yang jelas berbatang dapat dibedakan sebagai barikut.
a. Batang basah (herbaceous), yaitu batang yang lunak dan berair,
misalnya pada bayam (Amaranthus spinosus L.).
b. Batang berkayu (Lignosus), yaitu batang yang biasa keras dan kuat,
karena sebagian besar terdiri atas kayu, yang terdapat pada pohon-
pohon (arbores) dan semak-semak (frutices) pada umumnya.
Pohon adalah tumbuhan yang tinggi besar, batang berkayu dan bercabang
jauh dari permukaan tanah, sedang semak adalah tumbuhan yang tak seberapa
besar, batang berkayu, bercabang-cabang dekat permukaan tanah atau
malahan dalam tanah. Contoh pohon mangga (Mangifera indica L.).
1. Batang rumput (calmus), yaitu batang yang tidak keras, mempunyai
ruas-ruas yang nyata dan seringkali berongga, misalnya pada padi
(Oryza sativa L.)
2. Batang mendong (calamus), seperti batang rumput, tetapi memnpunyai
ruas-ruas yang lebih panjang, misalnya pada tumbuhan sebangsa teki
(Cyperaceae) dan yang lainnya (Tjitrosoepomo, 1995).
2. Bentuk Batang
Bentuk batang jika dilihat dari sudut bentuk penampang melintangnya ini
dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Bulat (teres), seperti bambu (Bambusa sp.)
2. Bersegi (angularis) segitiga seperti, teki (Cyperus fotumdus) segi
empat seperti markisa (Posiflora quadrangularis).

10
3. Pipih, biasanya lalu melebar menyerupai daun dan mengambil alih
tugas daun pula. Batang yang bersifat demikian dinamakan flokladia
(phyllocladium), jika amat pipih dan mempunyai pertumbuhan yang
terbatas. Dan kladodia (cladodium), jika masih tumbuh terus dan
mengadakan percabangan (Frank, 1991).
3. Arah Tumbuh
Arah tumbuh batang, batang umumnya tumbuh kearah cahaya, meninggalkan
tanah dan air, tetapi mengenai arahnya dapat memperlihatkan variasi dan
bertaliatn dengan sifat ini dibedakan batang yang tumbuhnya :
1. Tegak lurus (arectus), yaitu jika arahnya lurus keatas, misalnya papaya
(Carica papaya L.)
2. Menggantung (dependens, pendulus), ini tentu saja hanya mungkin
untuk tumbuh-tumbuhan yang tumbuhnya di lereng-lereng atau tepi
jurang, misalnya Zebrina pendula Schnitzl, atau tumbuh-tumbuhan
yang hidup diatas pohon sebagai epifet, misalnya jenis anggrek
(Orchidaceae).
3. Berbaring (humifusus), jika batang terletak pada permukaan tanah,
hanya ujungnya saja yang sedikit membengkok ke atas, misalnya pada
semangka (Citrullus vulgaris Schrad).
4. Menjalar atau merayap (repens), batang berbaring, tetapi dari buku-
bukunya keluar akar-akar, misalnya batang ubi jalar (Ipomoea batatas
Poir.)
5. Serong ke atas atau condong (ascendens), pangkal batang seperti
hendak berbaring, tetapi bagian lainnya lalu membelok keatas,
misalnya pada kacang tanah (Arachis hypogaea L.)
6. Mengangguk (nutans), batang tumbuh tegak lrus keatas, tetapi
ujungnya lalu membengkok kembali ke bawah, misalnya pada bunga
matahari (Helianthus annuus L.)
7. Memanjat (scandens), yaitu jika batang tumbuh ke atas dengan
menggunakan penunjang. Penunjang dapat berupa benda mati ataupun
tumbuhan lain.

11
8. Membelit (volubilis), jika batang naik ke atas dengan menggunakan
penunjang seperti batang yang memanjat, akan tetapi tidak
dipergunakan alat-alat khusus, melainkan batangnya sendiri naik
dengan melilit penunjangnya (Kamajaya, 1996).
4. Permukaan Batang
Pada permukaan batang, batang tumbuh-tumbuhan juga memperlihatkan sifat
yang bermacam-macam yaitu:
1. Licin (laevis), misalnya batang jagung (Zea mays L.)
2. Berusuk (costatus), jika pada permukaannya terdapat rigi-rigi yang
membujur, misalnya iler (Coleus scutellarioides Benth.)
3. Beralur (sulcatus), jika membujur batang terdapat alur-alur yang jelas,
misalnya pada Cereus peruvianus (L.)
4. Bersayap (alatus), biasanya pada batang yang bersegi, tetapi pada
sudut-sudutnya terdapat pelebaran yang tipis, misalnya pada ubi
(Dioacorea alata L.) (Purnomo, 2000).

12
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum botani dan sistematika tanaman mengenai Morfologi Batang dan
Akar Tumbuhan ini dilakukan pada hari Rabu, tanggal 13 September 2017 pukul
11.00 WIB sampai dengan selesai di Laboratorium Bioteknologi Jurusan
Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2 Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan pada saat praktikum, yaitu alat tulis dan kertas
HVS.
Bahan-bahan yang digunakan pada saat praktikum, yaitu batang singkong,
batang jagung, batang mawar, batang euphorbia, akar jagung, akar kacang tanah,
dan akar kacang hijau.

3.3 Cara Kerja


1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum.
2. Diamati morfologi atau bagian terluar dari bahan yang ada.
3. Digambarkan sesuai dengan bentuk terluar yang ada pada tiap bagian.
4. Diberikan keterangan dan dijelaskan bagian-bagian yang ada pada bahan
praktikum.

13
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1. Hasil Pengamatan Morfologi Mikroba
No Gambar Keterangan

Batang Euphorbia (Euphorbia mili)

1. batang tak berkayu


2. permukaan batang berduri
1 3. bentuk batang bulat
4. tidak terdapat ruas pada
batang

Batang Mawar (Rosa sp.)

1. batang berkayu
2. permukaan batang berduri
2 3. bentuk batang bulat
4. tidak terdapat ruas pada
batang

Batang Jagung (Zea mays)

1. batang rumput
2. permukaan batang licin
3 3. bentuk batang bulat
4. terdapat ruas-ruas (buku)
pada batang

14
4 Batang Singkong (Manihot 1. batang berkayu
utilisima) 2. permukaan batang
memperlihatkan bekas-
bekas tangkai daun
3. bentuk batang bulat
4. terdapat ruas-ruas (buku)
pada batang

Akar Jagung (Zea mays) 1. sistem perakaran serabut


2. tudung akar
3. ujung akar
4. batang akar
5
5. cabang akar
6. serabut akar
7. leher akar
8. rambut akar
Akar Kacang Tanah (Arachis 1. sistem perakaran serabut
hypogaea)
2. tudung akar
3. ujung akar
4. batang akar
6
5. cabang akar
6. serabut akar
7. leher akar
8. bintil akar
Akar Kacang Hijau (Phaseolus 1. sistem perakaran
radiatus)
tunggang
2. tudung akar
3. ujung akar
4. batang akar
5. cabang akar
1. serabut akar
2. leher akar

15
4.2 Pembahasan
Pada praktikum Botani dan Sistematika Tanaman tentang “Morfologi Batang
dan Akar Tumbuhan” ini bertujuan agar praktikan mengetahui morfologi batang
dan akar tumbuhan, perlu diketahui bahwa morfologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang bagian-bagian pada tumbuhan beserta fungsinya. Sehingga
setelah praktikum, para praktikan telah mengerti apa saja bagian-bagian pada
tumbuhan beserta fungsinya.
Sesuai apa yang dikemukakan oleh (Setiawan, 2010) Morfologi tumbuhan
ialah ilmu yang mempelajari struktur organ tumbuhan baik mengenal akar, daun,
batang, bunga, buah, maupun bijinya. Pada dasarnya, tumbuhan terdiri atas 3
(tiga) organ pokok, yaitu akar (radiks), batang (caulis), dan daun (folium).
Tumbuhan yang mempunyai ketiga unsur pokok tersebut adalah golongan
kormofita (kormofita berasal dari Bahasa Yunani yaitu, cormus berarti akar,
batang dan daun; sedangkan phyta berarti tumbuhan). Selain itu bagian lain dari
tubuh tumbuhan dapat dikatakan sebagai turunan (derivat) dari salah satu atau dua
bagian pokok tersebut yang telah mengalami perubahan bentuk, sifat dan fungsi.
Praktikum kali ini praktikan membawa bahan berupa batang dan akar
tumbuhan antara lain yaitu batang singkong, batang euphorbia, batang mawar,
batang jagung, akar kacang tanah, akar kacang hijau, dan akar jagung. Praktikan
dituntut untuk mengamati morfologi bahan-bahan berupa tumbuhan yang telah
dibawa tersebut.
Morfologi pada tumbuhan tersebut diamati dengan keterangan seperti
tumbuhan berbatang basah, batang berkayu batang rumput, atau batang mending.
Permukaan batang yang licin, berusuk, bersayap, beralur, berduri, berambut,
memperlihatkan bekas daun, memiliki banyak lentisel, lepas kerak atau
memperlihatkan bekas daun penumpu. Arah tumbuh batang yang tegak lurus,
menggantung, berbaring, menjalar, serong ke atas, mengangguk, memanjat atau
membelit. Bentuk penampang batang yang bulat, bersegitiga, segiempat, atau
pipih. Sistem perakaran yang serabut atau akar tunggang. Serta bagian-bagian
pada akar seperti leher/pangkal akar, ujung akar, batang akar, cabang akar, serabut
akar, rambut/bulu akar, dan tudung akar.

16
Menurut (Kamajaya, 1996), Batang biasanya digunakan untuk proses
percabangan bagian tumbuhan yang terletak di atas tanah. Namun, ditinjau dari
sudut botani, bagian batang yang tumbuh keudara, melainkan hanya bagian yang
berdaun. Bagian ini dapat dibagi menjadi buku (yaitu tempat daun melekat) dan
ruas (yaitu bagian di antara dua buku). Sebuah penampang melintang yang
dilengkapi dengan penampang membujur melalui ruas muda yang telah berhenti
memanjang, memberi gambaran yang tepat dari susunan batang dikotil pada tahap
pertumbuhan.
Batang tumbuhan dapat dibedakan seperti Batang basah (herbaceous), yaitu
batang yang lunak dan berair, batang berkayu (lignosus), yaitu batang yang biasa
keras dan kuat, karena sebagian besar terdiri atas kayu, batang rumput (calmus),
yaitu batang yang tidak keras, mempunyai ruas-ruas yang nyata dan seringkali
berongga,batang mendong (calamus), seperti batang rumput, tetapi mempunyai
ruas-ruas yang lebih panjang.
Bentuk Batang, tumbuhan biji belah (Dycotyledoneae) pada umumnya
mempunyai batang yang di bagian bawahnya lebih besar dan ke ujung semakin
mengecil, jadi batangnya dapat dipandang sebagai suatu kerucut atau limas yang
amat memanjang, yang dapat mempunyai percabangan atau tidak. Tumbuhan biji
tunggal (Monocotyledoneae) sebaliknya mempunyai batang yang dari pangkal
sampai ke ujung boleh dikata tak ada perbedaan besarnya. Hanya pada beberapa
golongan saja yang pangkalnya tampak membesar, tetapi selanjutnya ke atas tetap
sama, seperti terlihat pada bermacam-macam palma (Palmae).
Jika kita berbicara tentang bentuk batang biasanya yang dimaksud ialah
bentuk batang pada penampang melintangnya. Dan dilihat dari sudut bentuk
penampang melintangnya ini dapat dibedakan bermacam-macam bentuk batang
antara lain bulat (teres), bersegi (angularis);bangun segitiga (triangularis); segi
empat (quadrangularis), pipih dan biasanya lalu melebar menyerupai daun dan
mengambil alih tugas daun pula.
Dilihat permukaannya, batang tumbuh-tumbuhan juga memperlihatkan
sifat yang bermacam-macam. Kita dapat membedakan permukaan batang yang
licin (laevis), Berusuk (costatus) jika pada permukaannya terdapat rigi-rigi yang
membujur, beralur (sulcatus)jika membujur batang terdapat alur-alur yang jelas,

17
bersayap (alatus), biasanya pada batang yang bersegi, tetapi pada sudut-sudutnya
terdapat pelebaran yang tipis. Selain dari itu permukaan batang dapat pula
berambut (pilosus), berduri (spinosus), memperlihatkan bekas-bekas daun,
memperlihatkan bekas-bekas daun penumpu, memperlihatkan banyak lentisel,
keadaan-keadaan lain, misalnya lepasnya kerak.
Batang umumnya tumbuh ke arah cahaya, meninggalkan tanah dan air,
tetapi mengenai arahnya dapat memperlihatkan variasi, dan bertalian dengan sifat
ini dibedakan batang yang tumbuhnya:
1. Tegak lurus (arectus), yaitu jika arahnya lurus keatas, misalnya papaya
(Carica papaya L.)
2. Menggantung (dependens, pendulus), ini tentu saja hanya mungkin untuk
tumbuh-tumbuhan yang tumbuhnya di lereng-lereng atau tepi jurang,
misalnya Zebrina pendula Schnitzl, atau tumbuh-tumbuhan yang hidup diatas
pohon sebagai epifet, misalnya jenis anggrek (Orchidaceae).
3. Berbaring (humifusus), jika batang terletak pada permukaan tanah, hanya
ujungnya saja yang sedikit membengkok ke atas, misalnya pada semangka
(Citrullus vulgaris Schrad).
4. Menjalar atau merayap (repens), batang berbaring, tetapi dari buku-
bukunya keluar akar-akar, misalnya batang ubi jalar (Ipomoea batatas Poir.)
5. Serong ke atas atau condong (ascendens), pangkal batang seperti hendak
berbaring, tetapi bagian lainnya lalu membelok keatas, misalnya pada kacang
tanah (Arachis hypogaea L.)
6. Mengangguk (nutans), batang tumbuh tegak lrus keatas, tetapi ujungnya
lalu membengkok kembali ke bawah, misalnya pada bunga matahari
(Helianthus annuus L.)
7. Memanjat (scandens), yaitu jika batang tumbuh ke atas dengan
menggunakan penunjang. Penunjang dapat berupa benda mati ataupun
tumbuhan lain.
8. Membelit (volubilis), jika batang naik ke atas dengan menggunakan
penunjang seperti batang yang memanjat, akan tetapi tidak dipergunakan
alat-alat khusus, melainkan batangnya sendiri naik dengan melilit
penunjangnya.

18
Menurut arah melilitnya dibedakan lagi batang yang :
- Membelit ke kiri (Sinistrorsum volubilis), jika dilihat dari atas arah belitan
berlawanan dengan arah putaran jarum jam. Dapat pula dikatakan demikian: jika
kita mengikuti jalannya batang yang membelit itu, penunjang akan selalu di
sebelah kiri kita.
- Membelit ke kanan (Dextrorsum volubilis). Jika arah belitan sama dengan
arah gerakan jarum jam, atau jika kita mengikuti arah belitan, penunjang akan
selalu di sebelah kanan kita. Batang tumbuhan yang membelit ke kanan tidak
banyak ditemukan.
Batang merupakan bagian tubuh tumbuhan yang ada di atas tanah, serta
tempat melekatnya daun, bunga dan buah. Fungsi batang antara lain yaitu untuk
penyokong tubuh tumbuhan, mengangkut zat makanan ke seluruh tubuh
tumbuhan, mengangkut air dan mineral dari akar ke daun, serta zat makanan hasil
fotosintesis ke seluruh bagian tubuh, alat respirasi / pernafasan (melalui lentisel) ,
menghubungkan daun dengan akar, sebagai tempat cadangan makanan (bagi
sebagian tumbuhan), alat perkembangbiakan vegetatif buatan.
Perlu diketahui pula bahwa menurut (Sutejo, 2007), Akar merupakan
bagian bawah dari sumbu tanaman dan biasanya berkembang di bawah
permukaan tanah, meskipun ada pula akar yang tumbuh di atas tanah.
Sistem akar tunggang jika akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok
yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil. Akar pokok yang
berasal dari akar lembaga disebut akar tunggang (radix primaria). Susunan akar
tunggang biasanya terdapat pada tumbuhan dikotil (dikotiledoneae) dan tumbuhan
biji telanjang (Gymnospermae).
Perlu diingat, bahwa akar tunggang hanya dijumpai jika tumbuhan
ditanam dengan biji. Walaupun dari golongan dikotil (dikotiledoneae), suatu
tumbuhan tak akan mempunyai akar tunggang jika tidak ditanam dari biji.
Misalnya pada berbagai jenis tanaman budibaya yang diperbanyak dengan
cangkokan atau turusan (stek).
Sesuai apa yang dikemukakan oleh (estiti, 1995). Keragaman bentuk dan
struktur akar sering terkait dengan fungsinya. Karena itu dikenal akar penyimpan,
akar sukulen, akar udara, pneumatofur, akar panjat, akar pembelit, akar tunjang,

19
dan akar yang hidup bersimbiosis dengang jamur. Kondisi lingkungan sering
mempengaruhi sistem akar.
Pada bahan pertama yaitu batang jagung (Zea mays) diamati bahwa batang
tersebut memiliki morfologi yaitu batang tersebut terdapat ruas pada batang, jenis
batangnya yaitu mending, batang jagung memiliki bentuk batang bulat dan
permukaan batangnya yang licin dana rah tumbuh batang jagung tegak lurus.
Kemudian pada batang singkong (Manihot utillisima) diamati bahwa
batang tersebut memiliki arah tumbuh batang yang tegak lurus, kemudian batang
tersebut tidak memiliki ruas, batang singkong berkayu dan permukaan batangnya
memiliki bekas-bekas tumbuhnya daun, batang singkon berbuku-buku dan
batangnya berbentuk bulat.
Kemudian pada batang Euphorbia morfologinya batang jenis berkayu,
tidak memiliki ruas dan tidak berbuku-buku, jenis permukaan batang berduri asli,
bentuk permukaan batang bulat, dan arah tumbuh batang tersebut adalah tegak
lurus.
Kemudian pada batang mawar dengan nama latin Rosa sp. memiliki
morfologi antara lain yaitu tidak terdapat ruas dan tidak berbuku-buku,
permukaan batang berduri, bentuk penampang batang bulat, jenis batang berkayu
dan arah tumbuh batang tersebut tegak lurus.
Selanjutnya praktikan juga mengamati morfologi akar dari bahan-bahan
yang telah dibawa antara lain adalah akar kacang hijau, akar jagung, dan akar
kacang tanah.
Pada akar kacang hijau (Vigna radiata) memiliki bagian-bagian akar antara
lain yaitu pangkal akar, serabut batang, cabang akar, ujung akar, tudung akar dan
sistem perakarannya yaitu akar serabut.
Pada akar jagung (Zea mays) memiliki bagian-bagian akar antara lain
yaitu pangkal akar, batang akar, serabut batang, cabang akar, ujung akar, Tudung
akar dan sistem perakarannya yaitu serabut.
Pada akar kacang tanah (Arachis hypogea) memiliki bagian-bagian akar
yaitu pangkal akar, batang akar, akar rambut, bulu akar, ujung akar, dan tudung
akar, dan memiliki sistem perakarannya yang tunggang.

20
Morfologi tumbuhan berguna untuk mengidentifikasi tumbuhan secara
visual, dengan begitu keragaman tumbuhan yang sangat besar dapat dikenali dan
diklasifikasikan serta diberi nama yang tepat untuk setiap kelompok yang
terbentuk, ilmu yang mempelajari klasifikasi serta pemberian nama tumbuhan
adalah taksonomi tumbuhan.

21
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Morfologi tumbuhan ialah ilmu yang mempelajari struktur organ tumbuhan
baik mengenal akar, daun, batang, bunga, buah, maupun bijinya. Pada dasarnya,
tumbuhan terdiri atas 3 (tiga) organ pokok, yaitu akar (radiks), batang (caulis),
dan daun (folium).
Setiap tumbuhan memiliki morfologi yang sama satu sama lain, tanaman
memiliki ciri khas khusus untuk menentukan masuk ke ordo mana tumbuhan
tersebut,keragaman dapat membantu kita dalam mengamati keragaman makhluk
hidup yang ada.

5.2 Saran
Adapun saran dari praktikum mikrobiologi adalah sebagai berikut: sebaiknya
bahan yang sudah dibawa dibersihkan terlebih dahulu, seperti pengamatan
morfologi akar yang masih terdapat tanah sehingga menyulitkan praktikan dalam
mengamati bentuk asli akar

22
DAFTAR PUSTAKA

Estiti B.1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : ITB

Fahn, 1991. Anatomi Tumbuhan. Jogjakarta.: UGM Press Hidayat,

Frank B Salisbury dan Cleon W Ross. 1991. Fisiologi Tumbuhan jilid 3. Institut
Tehknologi Bandung. Bandung.

Kamajaya. 1996. Sains biologi. Ganesa Exact. Bandung.

lubis, K. 2005. Morfologi Ultrastruktur Akar Kultur Embrio Beberapa Varietas


Kedelai (Glycine max L. Merr) pada Berbagai Konsentrasi NaCl. Jurnal
Ilmiah Pertanian Kultura, Vol. 40(02)

Purnomo, Much. Timbul, dkk. 2000. Biologi Edisi Kedua. Jakarta.

Saktiono. 1989. Biologi Umum. Gramedia. Jakarta.

Sambodo, J. 1996. Kehidupan Tumbuhan. PT. Gramedia. Jakarta.

Somaatmadja, S., 1993. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 1 Kacang-Kacangan.


PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Steenis, C.G.G.J.Van, Dr. 2003. Flora.Jakarta: Pradnya Paramita.

Sumardi, Issrep. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Jogjakarta : UGM

Sutejo, J. 2007. Morfologi Tumbuhan. Bandung: penebar.

Sutrian, yayan. 1992. Pengantar anatomi tumbuhan tentang sel dan jaringan.
Jakarta: Tiga Serangkai

Tjitrosoepomo, G. 2003. Morfologi Tumbuhan Edisi ke-14. Gajah Mada


University Press. Yogyakar

Tjitrosoepomo, Gembong. 1995. Morfologi Tumbuhan. Gajah Mada University


Press. Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, Gembong. 2007. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University


Press: Yogyakarta.

Torrey, P. 2013. Karakter morfologi akar sebagai indikator kekurangan air pada
tanaman (Root morphological characters as water-deficit indicators in
plants). Jurnal bioslogos, Vol. 3(01)

23

Anda mungkin juga menyukai