Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

BOTANI DAN SISTEMATIKA TANAMAN


MORFOLOGI BUNGA DAN RUMUS BUNGA
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Botani Dan
Sistematika Tanaman

Disusun oleh
Nama : Reza Maulana Muhammad
NIM : 444216006
Kelas : IIIA
Kelompok : 2(Dua)

JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2017
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi
sedikit sekali yang kitaingat.Segala puji hanya layak untuk Allah atas segala
berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga
saya dapat menyelesaikan tugas hasil laporan Praktikum ini.
Laporan yang berjudul “Morfologi Bunga” Meskipun saya berharap isi
dari laporan praktikum saya ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun
selalu ada yang kurang.Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar tugas Laporan praktikum ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata saya mengucapkan terima kasih, semoga hasil laporan
praktikum saya ini bermanfaat.

Serang, Oktober 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................1
1.2 Tujuan ....................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bunga Secara Umum .............................................................................2
2.2 Bagian-bagian Bunga .............................................................................3
2.3 Kelamin Bunga ......................................................................................4
2.4 Diagram Bunga ......................................................................................5
2.5 Rumus Bunga .........................................................................................6
BAB III METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat ...............................................................................10
3.2 Alat dan Bahan .....................................................................................10
3.3 Cara Kerja ............................................................................................10
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil .....................................................................................................11
4.2 Pembahasan ..........................................................................................14
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ..........................................................................................18
5.2 Saran .....................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1.1 Hasil Pengamatan Morfologi Bunga ...................................................11

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bagian tumbuhan yang sering dideskripsikan adalah bunga. Dalam
mendeskripsikan bunga selain dengan kata-kata dapat ditambahkan dengan
gambar-gambar yang melukiskan bagian-bagian bunga atau berupa diagram
bunga. Kecuali dengan diagram, susunan bunga dapat dinyatakan dengan sebuah
rumus yang terdiri atas lambang-lambang, huruf-huruf dan angka-angka yang
semua itu dapat memberikan gambaran mengenai berbagai sifat bunga beserta
bagian-bagiannya. Bunga juga memiliki diagram bunga yaitu susuan dari bagian-
bagian bunga yang menjelaskan dari bunga paling luar sampai yang paling dalam
dan diagram bunga juga berkaitan dengan rumus bunga dimana rumus bunga
menjelaskan bagian-bagian bunga dan jumlahnya masing-masing.
Bunga juga merupakan salah satu organ tubuh tumbuhan yang berfungsi
sebagai alat reproduksi dan sebagai alat perkembangbiakan secara generatif yang
memiliki bentuk dan susunan yang berbeda-beda menurut jenisnya, tetapi bagi
tumbuhan yang berbiji, alat tersebut lazimnya merupakan bagian tumbuhan yang
kita kenal sebagai bunga. Jika kita memperhatikan suatu bunga, mudahlah
diketahui bahwa bunga adalah penjelmaan suatu tunas (batang dan daun-daun)
yang bentuk, warna dan susunannya disesuaikan dengan kepentingan tumbuhan,
sehingga pada bunga ini dapat berlangsung penyerbukan dan pembuahan, dan
akhirnya dapat dihasilkan alat-alat perkembangbiakan. Mengingat pentingnya
bunga pada tumbuhan, Oleh karena itu melalui praktikum ini pula kita dapat
mengetahui dan lebih memahami tentang bunga serta dapat mengetahui antara
rumus bunga dan diagram bunga.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum morfologi bunga ini adalah
1. untuk mengetahui morfologi bunga dan bagian-bagian bunga
2. Mengetahui dan dapat menghitung rumus bunga

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bunga Secara Umum


Bunga adalah struktur pembiakan pada tumbuhan berbunga, yaitu tumbuhan-
tumbuhan dalam divisi Magnoliophyta. Bunga mengandung organ-organ
tumbuhan, dan fungsinya ialah untuk menghasilkan biji-biji melalui pembiakan.
Untuk tumbuhan-tumbuhan yang bertaraf lebih tinggi, biji-biji merupakan
generasi berikutnya, dan bertindak sebagai cara yang utama untuk penyebaran
individu-individu spesies secara luas (Lakitan, 2010).
Diagram bunga merupakan gambaran proyeksi pada bidang datar dari semua
bagian yang dipotong melintang jadi pada diagram itu digambarkan penampang -
penampang melintang daun, daun kelopak, tajuk bunga, benang sari, dan putik,
juga bagian lain yang masih ada selain keempat bagian utama tesebut (Sulasmi,
2009 ).
Berdasarkan jumlah bunga, tumbuhan dapat dibedakan menjadi tumbuhan
berbunga tunggal (planta uniflora) dan tumbuhan berbunga banyak (planta
multiflora). Berdasarkan letaknya, bunga dibedakan menjadi bunga terminal bila
letaknya di ujung cabang atau ujung batang dan bunga aksiler apabila bunga
terletak di ketiak daun (Allard, 2011).
Bunga majemuk tidak terbatas dibedakan menjadi bunga majemuk dengan
ibu tangkai tidak bercabang dan bunga majemuk dengan ibu tangkai bercabang.
Contoh yang pertama adalah bunga bulir, tongkol, untai, tandan, cawan, payung,
bongkol, dan bunga periuk. Contoh yang kedua adalah bunga malai, thyrse, malai
rata, bulir majemuk, tongkol majemuk dan payung majemuk (Muzayyinah, 2008).
Bagian-bagian bunga tunggal terdiri atas tangkai bunga (pedicel), dasar
bunga (receptacle), kelopak (calyx), mahkota (corolla), benang sari (stamen), dan
putik (pistil). Bagian-bagian bunga majemuk terdiri atas ibu tangkai bunga
(peduncle), daun pelindung (bract), daun tangkai (bracteola), tangkai daun dan
bunga (Widya, 2012).
Dalam membuat diagram bunga perlu diperhatikan letak bunga pada
tumbuhan (Iaxillaries atau terminalis) dan bagian - bagian bunga (jumlah, bentuk,

2
kedudukan) itu sendiri. Pembuatannya sendiri dapat secara empirik (keadaan
sesungguhnya) atau teoritik (keadaan seharusnya) (Savitri, 2009).
Bagian-bagian bunga juga bermacam – macam, bunga tunggal terdiri atas
tangkai bunga (pedicellus), dasar bunga(receptaculum), kelopak (calyx), mahkota
(corolla), benang sari (stamen), dan putik (pistillum). Bagian-bagian bunga
majemuk terdiri atas ibu tangkai bunga (pedunculus), daun pelindung (bractea),
daun tangkai (bracteola), tangkai daun (pedicellus), dan bunga (flos) (Parwata,
2009).
secara umum tahapan perkembangan reproduktif tanaman terdiri atas:
Tahap i: Inisiasi bunga; dimana terjadi perubahan fisiologi internal dalam
meristem sebelum terjadi perubahan morfologi
Tahap ii: Pembentukan bunga yang merupakan inisiasi / awal bagian bunga yang
terlihat.
Tahap iii: Perkembangan bunga, yaitu diferensiasi struktur bunga mulai dari
pembentukan bunga hingga mekar (anthesis).
Syarat terjadinya pembungaan pada suatu tumbuhan tergantung pada
beberapa hal yaitu kemampuan fisiologis (telah melewati masa juvenil) serta
kontrol pembungaan yang dikendalikan oleh beberapa struktur gen (Rahayu,
2007)

2.2 Bagian-Bagian Bunga


Bunga pada umumnya mempunyai bagian berikut:
A. Tangkai bunga (pedicellus), yaitu bagian bunga yang masih jelas bersifat
batang, padanya seringkali terdapat daun-daun peralihan, yaitu bagian-
bagian yang menyerupai daun, berwarna hijau, yang seakan-akan
merupakan peralihan dari daun biasa ke hiasan bunga.
B. Dasar bunga (receptaculum), yaitu ujung tangkai yang seringkali
melebar, dengan ruas-ruas yang amat pendek, sehingga daun-daun yang
telah mengalami metamorfosis menjadi bagian-bagian bunga yang
duduk amat rapat satu sama lain, bahkan biasanya tampak duduk dalam
satu lingkaran.

3
C. Hiasan bunga (perianthium), yaitu bagian bunga yang merupakan
penjelmaan daun yang masih tampak berbentuk lembaran dengan tulang-
tulang atau urat-urat yang masih jelas. Biasanya hiasan bunga dapat
dibedakan dalam dua bagian yang masing-masing duduk dalam satu
lingkaran. Jadi bagian hiasan bunga itu umumnya tersusun dalam dua
lingkaran:
1. Kelopak (kalyx), yaitu bagian hiasan bunga yang merupakan
lingkaran luar, biasanya berwarna hijau, dan sewaktu bunga masih
kuncup merupakan selubungnya, yang melindungi kuncup tadi
terhadap pengaruh-pengaruh dari luar. Kelopak terdiri atas beberapa
daun kelopak (sepala). Daun-daun kelopak pada bunga dapat
berlekatan satu sama lain, dapat pula terpisah-pisah.
2. Tajuk bunga atau mahkota bunga (corolla), yaitu bagian hiasan
bunga yang merupakan lingkaran dalam, biasanya tidak berwarna
hijau lagi. Warna bagian inilah yang lazimnya merupakan warna
bunga. Mahkota bunga terdiri atas sejumlah daun mahkota (petala),
yang seperti halnya dengan daun-daun kelopak dapat berlekatan atau
tidak (Tjitrosoepomo, 2007).

2.3 Kelamin Bunga


Bunga biasanya mempunyai dua macam alat kelamin, dan justru alat-alat
itulah yang sesungguhnya merupakan bagian-bagian bunga yang terpenting,
karena dengan adanya alat-alat tersebut dapat kemudian dihasilkan alat
perkembangbiakan atau calon tumbuhan baru (Steenis, 2006).
Bardasarkan alat-alat kelamin yang terdapat pada masing-masing bunga,
bunga dapat dibedakan menjadi (Tjitrosoepomo, 2007).
A. Bunga banci atau berkelamin dua (hermaphroditus), yaitu bunga yang
padanya terdapat benang sari (alat kelamin jantan) maupun putik (alat
kelamin betina). Bunga ini seringkali dinamakan pula bunga sempurna
atau bunga lengkap, kerena biasanya pun jelas mempunyai hiasan bunga
yang terdiri atas kelopak dan mahkota, misalnya pada bunga terung
(Solanum melongena L.) ditunjukkan dengan lambang ☿.

4
B. Bunga berkelamin tunggal (unisexualis), jika pada bunga hanya terdapat
salah satu dari kedua macam alat kelaminnya. Berdasarkan alat kelamin
yang ada padanya dapat dibedakan lagi dalam:
1. Bunga jantan (flos masculus), jika pada bunga hanya terdapat benang
sari tanpa putik, misalnya bunga jagung yang terdapat di bagian atas
tumbuhan. Bunga jantan seringkali ditunjukkan dengan lambang ♂.
2. Bunga betina (flos feminieus), yaitu bunga yang tidak mempunyai
banang sari, melainkan hanya putik saja, misalnya bunga jagung yang
tersusun dalam tongkolnya. Bunga betina ditunjukkan dalam lambang
♀.
C. Bunga mandul atau tidak berkelamin, jika pada bunga tidak terdapat
benang sari maupun putik. Misalnya bunga pinggir (Hellianthus annuus
L).

2.4 Diagram Bunga


Diagram bunga merupakan gambaran proyeksi pada bidang datar dari semua
bagian yang dipotong melintang, jadi pada diagram itu digambarkan penampang-
penampang melintang daun-daun kelopak, tajuk bunga, benang sari, dan putik,
juga bagian-bagian lain yang masih ada selain keempat bagian utama tesebut.
Dalam membuat diagram bunga perlu diperhatikan letak bunga pada
tumbuhan (Iaxillaries atau terminalis) dan bagian-bagian bunga (jumlah, bentuk,
kedudukan) itu sendiri. Pembuatannya sendiri dapat secara empirik (keadaan
sesungguhnya) atau teoritik (keadaan seharusnya) (Hidayat, 1995).
Diagram bunga merupakan gambar yang melukiskan keadaan bunga dan
bagian-bagiannya secara skematis, dengan memproyeksikan suatu bunga ke
dalam bidang datar. Diagaram bunga berisi simbol-simbol yang melukiskan
letaknya, apakah diujung batang, atau diketiak daun. Juga melukiskan jumlah
perhiasan dan kelamin bunga, secara berurutan dari bagian terluar hingga bagian
yang paling dalam, yang ditunjukan oleh rumus bunga (Rosanti, 2013).
Bagian–bagian bunga duduk diatas dasar bunga, masing–masing teratur
dalam satu lingkaran atau lebih. Dalam diagram bunga, masing–masing bagian
harus digambarkan sedemikian rupa, sehingga tidak mungkin dua bagian bunga

5
yang berlainan digambarkan dengan lambing yang sama. Mengingat bahwa yang
digambar pada diagram itu penampang–penampang melintang masing–masing
bagian bunga, maka kemungkinan adanya persamaan gambar hanyalah mengenai
daun daun kelopak dan daun tajuk bunga, sedangkan mengenai benang sari dan
putiknya rasanya tidak akan terjadi kekeliruan (Moertolo, 2004).
Bagian bunga yang akan diproyeksi, dibuat dalam bentuk lingkaran,
sebanyak jumlah perhiasan dan kelamin bunga tersebut. Biasanya terdiri dari
empat atau lebih lingkaran. Setiap lingkaran menggambarkan letak perhiasan
(kelopak dan mahkota) bunga, serta alat kelamin bunga (benang sari dan putik),
dengan jumlah masing-masing. Urutan terluar adalah kelopak, mahkota, benang
sari dan putik (Rosanti, 2013).

2.5 Rumus Bunga


Menurut Rosanti (2013), rumus bunga merupakan gambaran tentang keadaan
suatu bunga. Rumus bunga menunjukkan keadaan kelopak bunga, mahkota bunga,
organ-organ reproduktifnya, dan simetrinya. Bila bunga merupakan bunga
majemuk, untuk menghitung rumus bunga dilakukan terhadap satu bunga saja,
yang mewakili keseluruhan bunga majemuk. Susunan rumus bunga menyatakan
posisi bunga mulai dari tangkai bunga sampai ke putik. Secara berturut-turut,
rumus bunga dimulai dari kelamin bunga tersebut, yang ditunjukkan oleh organ
reproduktifnya. Lambang-lambang yang dipakai dalam rumus bunga
memberitahukan sifat bunga yang bertalian dengan simetrisnya atau jenis
kelaminnya, huruf-huruf merupakan singkatan nama bagian bunga, sedang angka-
angka menunjukkan jumlah masing-masing bagian bunga. Disamping itu masih
terdapat lambang-lambang lain lagi yang memperlihatkan hubungan bagian-
bagian bunga satu sama lain. Oleh suatu rumus bunga hanya dapat ditunjukkan
hal-hal mengenai 4 bagian pokok bunga sebagai berikut.
1. Kelopak, yang dinyatakan dengan huruf K singaktan kata kalix (calix),
yang merupakan istilah ilmiah untuk kelopak.
2. Tajuk atau mahkota, yang dinyatakan dengan huruf C singkatan kata
corolla(istilah untuk mahkota bunga)

6
3. Benang-benang sari yang dinyatakan dengan huruf A singkatan
kataandroecium (istilah ilmiah untuk alat-alat jantan pada bunga).
4. Putik yang dinyatakan dengan huruf G singakatan kata gymnaecium
(istilah untuk alat betina pada bunga).
Jika kelopak dan mahkota sama, baik bentuk maupun warnanya, kita lalu
mempergunakan huruf lain untuk menyatakan bagian tersebut, yaiut huruf P
singkatan kata perigonium (tenda bunga). Dibelakang huruf-huruf tadi lalu
ditaruhkan angka-angka yang menunjukkan jumlah masing-masing bagian tadi
dan diantara dua bagian bunga yang digambarkan dengan huruf dan angka itu
ditaruh koma. Jika bunga misalnya mempunyai 5 daun kelopak, 5 daun mahkota,
10 benang sari dan putik yang terjadi dari sehelai daun buah. Maka rumusnya
adalah (Tjitrosoepomo, 2009).

K 5. C 5. A 10. G 1

Jika kita mengambil contoh lain yaitu bunga yang mempunyai tenda bunga.
Misalnya, lilia gereja (Lilium longiflorum Thunb.) yang mempunyai 6 daun tenda
bunga, 6 benang sari dan sebuah putik yang terjadi dari 3 daun buah. Maka
rumusnya adalah (Tjitrosoepomo, 2009).

P 6. A 6. G 3

Didepan rumus hendaknya diberi tanda yang menunjukkan simetrei bunga.


Biasanya hanya diberikan dua macam tanda simetri. Yaitu, ‘ untuk bunga yang
bersimetri banyak (octinomorphus) dan tanda  untuk bunga yang bersimetri satu
(zygomorphus). Jadi, dalam hal rumus bunga merak yang bersifat zigomorf,
rumusnya menjadi:

K 5. A 5. A 10. G 1

Sedangkan, bunga lilia gereja yang bersifat aktinomorf rumusnya menjadi:

P 6. A 6. G 3

Selain lambang-lambang yang telah diuraikan di atas dalam menyusun suatu


rumus bunga masih ada lambang lain lagi, yaitu lambang untuk menyatakan

7
duduknya bakal buah (jadi juga putiknya). Untuk bakal buah yang menumpang di
bawah angka yang menunjukkan bilangan daun buah, dibuat suatu garis (bilangan
yang menunjukkan jumlah daun buah terletak di atas garis), sedangkan untuk
bakal buah yang tenggelam garis ditaruh di ats angka tadi. Untuk bakal buah yang
setengah tenggelam tidak ada tanda khusus, atau dapat ditafsirkan sebagai
setengah tenggelam, jika untuk bakal buah tidak ada pernyataan menumpang
(Setjo, 2004).
Bunga terdiri atas bagian yang steril dan bagian yang fertil (reproduktif).
Bagian steril meliputi sejumlah helai daun kelopak (sepal), kumpulannya disebut
kaliks, dan sejumlah helai daun mahkota (petal), kumpulannya disebut korola.
Kaliks dan korola, bersama-sama disebut perhiasan bunga (periant). Jika periant
tidak terbagi menjadi kaliks dan korola, setiap helaiannya disebut tepal. Bagian
reproduktif adalah benang sari atau stamen (mikrosporofil) dan daun buah atau
karpel (megasporofil). Keseluruhan stamen disebut andresium dan keseluruhan
karpel disebut ginesium. Kelopak bunga dan mahkota bunga disebut perhiasan
bunga. Warna perhiasan dan aroma bunga serta kelenjar madu berfungsi sebagai
alat pemikat agen penyerbuk. Agen penyerbuk dapat berupa serangga, burung
atau manusia. Alat kelamin berfungsi menghasilkan sel kelamin. Sel kelamin
jantan dihasilkan oleh benangsari, sedangkan sel kelamin betina dihasilkan oleh
putik. Kepala putik adalah tempat peristiwa jatuhnya serbuk sari ke kepala putik.
Tangkai putik merupakan saluran bagi serbuk sari menuju ovarium.di dalam
ovarium terdapat bakal biji yang di dalamnya terdapat sel telur. Dalam ovarium
terdapat satu atau lebih bakal biji bergantung pada jenis tumbuhannya. Ovarium
sekaligus merupakan bakal buahnya (Mulyani, 2006).
Bunga merupakan alat perkembangbiakan pada tumbuhan Angiospermae.
Bunga dibentuk oleh meristem ujung khusus yang berkembang dari ujung pucuk
vegetatif setelah dirangsang oleh faktor- faktor internal dan eksternal untuk
keperluan itu. Bunga mengandung organ-organ tumbuhan, dan fungsinya ialah
untuk menghasilkan biji-biji melalui pembiakan. Untuk tumbuhan-tumbuhan yang
bertaraf lebih tinggi, biji-biji merupakan generasi yang berikut, dan bertindak
sebagai cara yang utama untuk penyebaran individu-individu sesuatu spesies
secara luas (Rafi, 2006).

8
Pada bunga terdapat organ reproduksi (benang sari dan putik). Bunga
majemuk adalah kumpulan bunga-bunga yang terkumpul dalam satu karangan.
Peneliti seperti Wolff dan Goethe di abad 18, de Candolle pada awal abad 19, dan
penelitilain menyatakan bahwa organ bunga merupakan turunan langsung dari
helaian daun. Namun, pendapat yang diterima sampai sekarang adalah daun dan
batang merupakan satu unit tunggal yang disebut shoot. Perkembangan bunga
paralel dengan cabang vegetatif, jadi tidak sebagai turunannya. Bunga disebut
bunga sempurna bila memiliki alat jantan (benang sari) dan alat betina (putik)
secara bersama-sama dalam satu organ. Bunga yang demikian disebut bunga
banci atau hermafrodit. Suatu bunga dikatakan bunga lengkap apabila memiliki
semua bagian utama bunga. Ditinjau dari homologinya, bunga diinterpretasikan
sebagai suatu pucuk yang termodifikasi daunnya. Bunga tediri atas sebuah sumbu
tempat daun-daun (organ) bunga tumbuh. Bagian sumbu batang atau ranting yang
merupakan ruas yang berakhir dengan bunga disebut tangkai bunga (Rosanti,
2011)
Ujung distal tangkai bunga ini menggembung dengan panjang yang beragam
dan bagian ini disebut dasar bunga. Sebuah bunga yang khas mempunyai empat
macam organ. Bunga yang mempunyai organ kelopak, mahkota, stamen, dan
putik disebut bunga yang lengkap. Namun kebanyakan bunga mempunyai struktur
yang tidak lengkap, misalnya tidak mempunyai salah satu alat kelamin atau
keduanya. Bila hanya memiliki alat kelamin jantan saja disebut bunga jantan, dan
sebaliknya bila hanya memiliki putik saja disebut bunga betina. Bila kedua
macam bunga uniseksual itu terdapat pada satu tumbuhan maka disebut berumah
satu, bila terpisah disebut berumah dua. Tumbuhan yang mempunyai bunga
sempurna (biseksualis), bunga jantan dan bunga betina disebut poligam (Mulyani,
2006).

9
BAB III
METOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum pengenalan alat-alat mikrobiologi ini dilaksanakan pada hari Rabu,
27 September 2017, pukul 11.00 – 13.00 WIB. Bertempat di Laboratorium
Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2 Alat dan bahan


Adapun alat yang digunakan pada saat praktikum yaitu alat tulis dan kertas
hvs. Sedangkan bahan yang digunakan untuk praktikum yaitu bunga sepatu,
bunga adenium, bunga kertas, bunga sirsak, bunga padi, dan bunga jagung.

3.3 Cara Kerja


Adapun cara kerja yang dilakukan pada saat praktikum adalah:
1. Alat dan bahan untuk praktikum disiapkan
2. Bahan berupa bunga diamati karateristiknya oleh praktikan
3. Bunga digambar dan diberi keterangan sesuai yang telah ditulis oleh
asisten laboratorium di papan tulis
4. Hasil dibuat laporan.

10
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 4.1.1 Hasil Pengamatan Morfologi Bunga
No Gambar Ket

 Bagian-bagian bunga:
 Putik (kepala putik, tangkai
putik dan bakan biji)
 Benang sari (kepala dan
tangkai sari)
1.
 Mahkota
 Kelopak
 Tangkai
 Rumus :
☿*K(7+5)C(5)A~G(5)
Bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis)

 Bagian-bagian bunga:
 Putik (kepala putik, tangkai
putik dan bakan biji)
 Benang sari (kepala dan
2. tangkai sari)
 Mahkota (luar dan dalam)
 Kelopak
 Tangkai
 Rumus : ☿↑K3C3+3A(~)G(~)

Bunga sirsak (Annona muricata)

11
 Rumus Bunga
♂*K1C2A3G0
 Bagian-bagian bunga:
3.  Kelopak Bunga
 Mahkota Bunga
 Benang Sari
 Tangkai

Bunga jagung jantan (Zea mays)

 Rumus Bunga
☿↑K0C(5)A5G1

 Bagian-bagian bunga:
 Putik (kepala putik, tangkai
putik dan bakan biji)
4.  Benang sari (kepala dan
tangkai sari)
 Mahkota (luar dan dalam)
 Tenda bunga
 Tangkai

Bunga kertas (Bougainillea glabra)

12
 Rumus Bunga
☿*K(5)C(5)A(5)G(2
̅)

 Bagian-bagian bunga:
 Putik (kepala putik, tangkai
putik dan bakan biji)
5.
 Benang sari (kepala dan
tangkai sari)
 Mahkota (luar dan dalam)
 Kelopak
 Tangkai

Bunga adenium (Adenium obesium)

 Rumus Bunga
☿ ↑ K 1. + (2). C 2 + 0, A 3, G 1
 Bagian-Bagian Bunga :
 Putik(Kepala Putik dan
6.
tangkai putik)
 Benang Sari (Kepala
sari dan tangkai sari)
 Tngkai

Bunga Padi (Oryza Sativa)

13
4.2 Pembahasan
Pada praktikum Botani dan Sistematika Tanaman tentang “Morfologi Bunga
dan Rumus Bunga” ini bertujuan agar praktikan mengetahui morfologi bunga atau
bagian-bagian bunga dan rumus bunga., perlu diketahui bahwa morfologi adalah
ilmu yang mempelajari tentang bagian-bagian pada tumbuhan beserta fungsinya.
Sehingga setelah praktikum, para praktikan telah mengerti apa saja bagian-bagian
pada tumbuhan beserta fungsinya.
Praktikum kali ini praktikan membawa bahan beberapa bunga tumbuhan
antara lain yaitu bunga adenium, bunga jagung, bunga padi, bunga sirsak, bunga
kertas, dan bunga sepatu. Bahan yang dibawa tersebut diidentifikasikan
morfologinya serta dirumuskan rumus bunganya
Setiap tumbuhan memiliki akar, batang dan daun. Masing-masing memiliki
fungsinya masing-masing dalam proses pertumbuhan dari suatu tumbuhan. Selain
memiliki ketiganya, tumbuhan juga memiliki bunga.
Bunga menurut yang dikemukakan oleh (Lakitan, 2010), Bunga adalah
struktur pembiakan pada tumbuhan berbunga, yaitu tumbuhan-tumbuhan dalam
divisi Magnoliophyta. Bunga mengandung organ-organ tumbuhan, dan fungsinya
ialah untuk menghasilkan biji-biji melalui pembiakan. Untuk tumbuhan-tumbuhan
yang bertaraf lebih tinggi, biji-biji merupakan generasi berikutnya, dan bertindak
sebagai cara yang utama untuk penyebaran individu-individu spesies secara luas.
Bagian-bagian bunga seperti yang dikemukakan oleh (Widya, 2012), Bagian-
bagian bunga tunggal terdiri atas tangkai bunga (pedicel), dasar bunga
(receptacle), kelopak (calyx), mahkota (corolla), benang sari (stamen), dan putik
(pistil). Bagian-bagian bunga majemuk terdiri atas ibu tangkai bunga (peduncle),
daun pelindung (bract), daun tangkai (bracteola), tangkai daun dan bunga.
Pada Tabel 1 nomor 1 yaitu Bunga Tanaman Sepatu/ Hibiscus rosa-sinensis
merupakan tanaman berbunga tunggal (planta uniflora), yaitu bunga pada
tumbuhan ini hanya menghasilkan satu bunga saja. Berdasarkan tata letaknya,
bunga kembang sepatu terletak di ketiak daun (flos lateralis) dan bunganya
terpencar dan terpisah-pisah (flores sparsi). Bunga kembang sepatu terdiri dari
pedicellus (tangkai bunga), yaitu cabang ibu tangkai yang mendukung bunganya.
Selain pedicellus terdapat perianthium (hiasan bunga) yaitu bagian bunga yang

14
merupakan penjelmaan daun dan masih tampak berbentuk lembaran dengan
tulang-tulang yang masih jelas. Hiasan bunga yang ada pada kembang sepatu
yaitu calyx (kelopak) yaitu bagian hiasan bunga yang merupakan lingkaran luar,
biasanya berwarna hijau, dan sewaktu bunga masih kuncup merupakan
selubungnya, yang melindungi kuncup tadi terhadap pengaruh-pengaruh dari luar.
Selain calyx, ditemukan pula corolla (mahkota) yaitu bagian hiasan bunga yang
terdapat pada lingkaran dalam, biasanya tidak berwarna hijau lagi. Warna bagian
inilah yang lazimnya merupakan warna bunga. Fungsi dari corolla adalah sebagai
alat yang mempunyai daya penarik dan pelindung alat-alat persarian (benangsari
dan putik). Kembang sepatu memiliki corolla yang bersifat diapetalae.
Kembang sepatu termasuk bunga lengkap (flos completus) karena terdiri dari
calyx, corolla, stamen dan pistilum. Kembang sepatu memiliki kelamin bunga
yaitu berkelamin dua atau bunga banci (hermaphroditus) yang di simbolkan ☿,
yaitu androcium (alat kelamin jantan) yang berupa benang sari (stamen) dan
gynacium (alat kelamin betina) berupa putik (pistilum). Adapun rumus bunga
pada tumbuhan ini yaitu ☿*K(7+5)C(5)A~G(5), G5. Dimana * adalah mempunyai
banyak simetri K5 adalah calyx (kelopak) yang berjumlah 5 dan ditambahkan
dengan 5, karena kembang sepatu memiliki epycalyx (kelopak tambahan) yang
berjumlah 5, pada kembang sepatu memiliki androecium (alat kelamin jantan)
yang banyak sehingga dilambangkan ( ∞ ) atau tak terhingga dan gynaecium (alat
kelamin betina) yang berjumlah 5.
Pada Tabel 1 nomor 2 yaitu Bunga Tanaman sirsak (Annona muricata L ),
bunga ini memiliki warna kuning yang cukup menarik. Setelah praktikum
dilakukan pada bunga sirsak ini, bunga sirsak mempunyai bagian - bagian bunga
yaitu diantaranya: mahkota bunga, kelopak bunga, putik dan benang sari.
Sedangkan bunga pukul empat ini berjenis kelamin banci karena memiliki alat
kelamin jantan dan alat kelamin betina pada satu bunga, adapun rumus bunga dari

bunga sirsak yaitu : ☿* K(3), C3, 3A(~), G(-)

Pada Tabel 1 nomor 3 yaitu Bunga Tanaman Jagung (Zea mays) ,Ditinjau
dari kelengkapan bunganya masuk ke dalam bunga tidak lengkap atau bunga tidak
sempurna (Flos incompletus), karena salah bagian benang sari tidak ada di dalam
bunga betina jagung dan putik tidak ada pada bunga jantan jagung.

15
Dalam satu tumbuhan jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina
sehingga disebut Planta monoecius. Berdasarkan letak dan susunan bagian bunga,
bunga jagung betina dan bunga bunga jantan tersusun dalam lingkaran (cyclis).
Bertalian dengan simetrinya bunga betina pada jagung termasuk asymetricus
karena pada bunga betina tidak dapat dibuat satu bidang simetri. Sedangkan pada
bunga jantan jagung termsuk dalam aktinomorphus karena dapat dibuat banyak
bidang simetris. Bunga betina dan jantan pada jagung sebenarnya memiliki
kelopak dan mahkota tetapi diantara keduanya tidak dapat dibedakan dalam
kelopak dan mahkota, hiasan bunga seperti ini disebut dengan tenda bunga
perigonium. Letak antar perigonium adalah adalah politepalus, karena tidak
berlekatan.
Alat kelamin betina pada bunga jagung memiliki lebih dari dua daun buah
sehingga disebut putik tunggal (simplex). Menurut letak ginesium terhadap dasar
bunga, bakal buah duduk di atas dasar bunga (superus). Perlekatan daun-daun
buah yang membentuk putik pada bunga betina jagung disebut apokarp karena
perlekatan daun buah membentuk satu ruang saja. Letak tembuni (plasenta)
termasuk tipe marjinalis, yaitu terletak di tepi daun buah (Tjitrosoepomo, 2005).
Alat kelamin jantan pada bunga jagung termasuk dalam diadelhus karena
benang sari terbagi menjadi dua kelompok dengan tangkai yang berlekatan
dengan masing-masing dalam masing-masing kelompok.
Pada Tabel 1 nomor 4 yaitu Bunga Tanaman Kertas (Bougainillea glabra),
Tumbuhan ini merupakan tumbuhan berbunga majemuk tak terbatas
(inflorescentia centripetal) yaitu bunga majemuk yang ibu tangkainya dapat
tumbuh terus menerus dengan cabang – cabang yang dapat bercabang lagi
Mempunyai ibu tangkai bunga yang berfungsi mendukung bunga majemuk yang
ada. Kemudian mempunyai tangkai daun (pedicellus) yang berfungsi sebagai
cabang ibu tangkai yan mendukung bunganya. Susunan daun majemuknya
berbentuk bunga tandan. Ibu tangkai bercabang, dan cabang-cabangnya masing-
masing mendukung satu bunga pada ujungnya. Masing-masing cabang
mempunyai suatu daun pelindung pada pangkalnya dan karena pangkal daun sama
tinggi letaknya, maka tampak seakan-akan pada pangkal cabang-cabang tadi
seperti terdapat daun-daun pembalut. Kembang kertas mempunyai mahkota

16
(corolla), memiliki benang sari (stamen), memiliki putik (pistillum) sehingga
dikatakan bunga tidak lengkap karena tidak memiliki kelopak (calyz) dan daun
pelindung (bractea). Bunga kembang kertas mempunyai rumus bunga
☿↑K0C(5)A5G1. Dimana K0 adalah calyx (kelopak) yang jumlahnya 0 sehingga
dituliskan dengan lambang K0 kemudian C5 adalah corolla (mahkota) yang mana
pada kembang kertas terdiri dari dua lingkaran, pada lingkaran pertama terdapat 5
helaian kedua terdapat 5 helaian pula. Pada kembang kertas ini memiliki
androecium (alat kelamin jantan) yang berjumlah 8 sehingga dituliskan dengan A8
dan memiliki gynaecium (alat kelamin betina) yang berjumlah 1 sehingga
dituliskan G1.
Pada Tabel 1 nomor 5 yaitu Bunga Tanaman adenium (Adenium obesum),
bunga ini memiliki warna pink yang bagus serta menarik. Setelah praktikum
dilakukan pada bunga adenium, bunga adenium mempunyai bagian - bagian
bunga yaitu diantaranya: mahkota bunga, kelopak bunga, benang sari, putik dan
tangkai bunga Sedangkan bunga adenium ini berjenis banci, karena mempunyai 2
alat kelamin yaitu benang sari dan putik, adapun rumus bunga dari bunga adenium
yaitu ☿*K(5)C(5)A(5)G(2̅)
Pada Tabel 1 nomor 6 yaitu Bunga Tanaman Bunga padi (Oryza sativa)
adalah bunga telanjang artinya mempunyai perhiasan bunga. Berkelamin dua jenis
dengan bakal buah yang diatas. Jumlah benang sari ada 6 buah, tangkai sarinya
pendek dan tipis, kepala sari besar serta mempunyai dua kandung serbuk. Putik
mempunyai dua tangkai putik, dengan dua buah kepala putik yang berbentuk
malai dengan warna pada umumnya putih atau ungu.

17
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Bunga merupakan organ yang sangat penting bagi tumbuhan Magnoliophyta
(tumbuhan berbuga), karena bunga merupakan organ reproduksi bagi tumbuhan
tersebut. Bentuk-bentuk bunga sangat beragam tergantung pada jenis tumbuhan
tersebut.
Bunga memiliki bagian-bagian seperti, kelopak bunga, putik, mahkota dan
benang sari. Bunga juga memiliki tiga jenis kelamin yaitu alat kelamin betina,
jantan dan banci (Hermafrodit).

5.2 Saran
Adapun saran dari praktikum Botani dan Sistematika Tanaman adalah
sebaiknya Bahan-bahan dipersiapkan agar tidak ada bahan yang tidak terbawa
karena akan mempersulit proses praktikum.

18
DAFTAR PUSTAKA

Allard, 2011. Materi Pokok Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan, Jakarta Universitas
Terbuka.
Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : ITB.
Lakitan, 2010. Identifikasi Bunga. PT. Rineka Cipta. Jakarta.
Moertolo. 2004. Daun Dan Alat Tambahan. Malang: UM Press.
Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisus
Muzayyinah. 2008.Terminologi Tumbuhan. Surakarta: PT. Lembaga
Pengembangan Pendidikan.
Parwarta, Oka Adi, Dkk.2009. Isolasi dan Uji Anti Radikal Bebas Minyak Atrisi
Pada Bunga Anggrek Secara Spektrokopi Ultra Violet-Tampak. Jurusan
Kimia, Vol 3(01): 7-13.
Rafi. 2006. Morfologi tumbuhan. Bandung: penebar.
Rahayu,sri.2007. Biologi Bunga Picis Kecil (Hoya lacunosa Bl.)di Kebun Raya
Bogor.Jurnal BIODIVERSITAS Vol. 8, No. 1
Rosanti, Dewi. 2011. Morfologi Tumbuhan. Jakarta : Erlangga.
Rosanti, Dewi. 2013. Morfologi Tumbuhan. Jakarta: Erlangga.
Savitri, 2009. Morfologi Tumbuhan,Yogyakarta : Gajah Mada University press
Setjo, susetyoadi, dkk.2004. Anatomi Tumbuhan. Malang: JICA.
Steenis Van. 2006. Flora. Jakarta: PT Pradnya Paramita
Sulasmi, 2009. Biologi. Erlangga. Jakarta.
Tjitrosoepomo, G. 2007 . Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.
Tjitrosoepomo, G. 2009 . Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.
Widya, 2012. Morfologi tumbuhan, Gajah Mada University press Yogyakarta

19

Anda mungkin juga menyukai