Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR ILMU TANAH


”PENETAPAN PH TANAH DAN KEBUTUHAN KAPUR,
JUMLAH ALUMINIUM YANG DAPAT DITUKARKAN”
Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mata Kuliah Dasar-Dasar Ilmu Tanah

Disusun oleh
Nama : Reza Maulana Muhammad
NIM : 4442160006
Kelas : IIIA
Kelompok : 1 (Satu)

JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2017
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi
sedikit sekali yang kitaingat.Segala puji hanya layak untuk Allah atas segala
berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga
saya dapat menyelesaikan tugas hasil laporan Praktikum ini.
Laporan yang berjudul “Penetapan pH Tanah dan Kebutuhan Kapur,
Jumlah Aluminium Yang Dapat Ditukarkan” Meskipun saya berharap isi dari
laporan praktikum saya ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu
ada yang kurang.Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar tugas Laporan praktikum ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata saya mengucapkan terima kasih, semoga hasil laporan
praktikum saya ini bermanfaat.

Serang, Desember 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................1
1.2 Tujuan ...................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanah ....................................................................................................3
2.2 pH Tanah ..............................................................................................4
2.3 Kebutuhan Kapur Tanah .......................................................................7
2.4 Aluminium Dapat Ditukar (Al-dd) .....................................................11
BAB III METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat ............................................................................13
3.2 Alat dan Bahan ..................................................................................13
3.3 Cara Kerja .........................................................................................13
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil ..................................................................................................14
4.2 Pembahasan .......................................................................................14
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan ...........................................................................................19
5.2 Saran ..................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... iv
LAMPIRAN ..........................................................................................................20

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.2.1 Tingkat Keasaman Tanah......................................................................6


Tabel 2.3.1. Kebutuhan dolomit / CaCO3 / CaSiO3 per ha pada berbagai pH tanah
............................................................................................................10
Table 4.1 Hasil Analisis pH H2O 1:5, Al-dd dan Kebutuhan Kapur.....................14

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanah merupakan bagian permukaan bumi, yang digunakan untuk berbagai
hal.Tempat berdirinya bangunan, hingga kematian, semua itu dilakukan di
tanah.Dalam dunia pertanian sendiri, tanah digunakan sebagai media tumbuh
tanaman, penyedia unsur hara tanaman, penyedia air dan lai-lain.Untuk
mempelajari tentang tanah harus dimulai satu persatu dari yang sederhana hingga
yang kompleks.
Tanah merupakan aspek penting dalam media tumbuh pada tumbuh –
tumbuhan.Mengingat tempat dan kegunaannya bagi tumbuhan, tanah dapat
disamakan dengan rumah tumbuhan. Oleh karena itu untuk mempertahankan
fungsinya kita perlu mempelajari,memperhatikan,dan mengolahnya dengan baik.
pH tanah sangat penting bagi tanaman dalam menentukan mudah tidaknya
unsur-unsur hara diserap oleh tanaman, hal ini menunjukkan kemungkinan adanya
unsur-unsur beracun yang dapat mempengaruhi aktivitas organisme. Tanah-tanah
masam umumnya dijumpai pada daerah beriklim basah.Dalam tanah tersebut
konsentrasi ion H+ melebihi konsentrasi ion OH-.Tanah ini mengandung Al, Fe,
dan Mn terlarut dalam jumlah besar.Akibatnya, reaksi basa dengan tanahnya
hanya mengandung sedikit Al, Fe, dan Mn yang terlarut.
Pengapuran adalah cara untuk menjaga pH tanah agar stabil untuk di tanami
tanaman karena dengan pengapuran pH tanah akan naik jika tanah itu memiliki
pH rendah, pengapuran dapat menggunakan kalsit atau dolomit tergantung
ketersediaan daerah tersebut.
Al-dd merupakan unsur yang sering dijumpai dalam tanah dan sangat
menentukan kualitas tanah, karena ketersediaan unsur ini berpengaruh langsung
terhadap pertumbuhan tanaman dengan cara berinteraksi meracuni perakaran
Maka dari itu kita harus bisamenetapkan Ph Tanah dan Kebutuhan Kapur,
Jumlah Alumunium Yang Dapat Ditukarkan yang dimiliki tanah yang akan
diamati

1
1.2Tujuan
Adapun tujuan pada praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah kali ini yaitu:
1. Agar mahasiswa mengetahui cara menentukan pH aluminium yang dapat
dipertukarkan.
2. Agar mahasiswa menetapkan kebutuhan kapur berdasarkan AL yang
dapat dipertukarkan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanah
Tanah adalah kumpulan dari bagian-bagian padat yang tidak terikat antara
satu dengan yang lain (diantaranya mungkin material organik) dan rongga-rongga
diantara bagian-bagian tersebut berisi udara dan air (Verhoef, 1994).
Menurut Craig (1991), tanah adalah akumulasi mineral yang tidak
mempunyai atau lemah ikatan antar partikelnya, yang terbentuk karena pelapukan
dari batuan.
Tanah didefinisikan oleh Das (1995) sebagai material yang terdiri dari
agregat mineral-mineral padat yang tidak tersementasi (terikat secara kimia) satu
sama lain dan dari bahan-bahan organik telah melapuk (yang berpartikel padat)
disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi ruang-ruang kosong diantara
partikel-partikel padat tersebut.
Sedangkan pengertian tanah menurut Bowles (1984), tanah adalah campuran
partikel-partikel yang terdiri dari salah satu atau seluruh jenis berikut:
a. Berangkal (boulders) adalah potongan batuan yang besar, biasanya lebih
besar dari 250 sampai 300 mm dan untuk ukuran 150 mm sampai 250
mm, fragmen batuan ini disebut kerakal (cobbles/pebbles).
b. Kerikil (gravel) adalah partikel batuan yang berukuran 5 mm sampai 150
mm.
c. Pasir (sand) adalah partikel batuan yang berukuran 0,074 mm sampai 5
mm, yang berkisar dari kasar dengan ukuran 3 mm sampai 5 mm sampai
bahan halus yang berukuran < 1 mm.
d. Lanau (silt) adalah partikel batuan yang berukuran dari 0,002 mm sampai
0,0074 mm.
e. Lempung (clay) adalah partikel mineral yang berukuran lebih kecil dari
0,002 mm yang merupakan sumber utama dari kohesi pada tanah yang
kohesif.
f. Koloid (colloids) adalah partikel mineral yang diam dan berukuran lebih
kecil dari 0,001 mm.

3
Tanah terjadi sebagai produk pecahan dari batuan yang mengalami pelapukan
mekanis atau kimiawi.Pelapukan mekanis terjadi apabila batuan berubah menjadi
fragmen yang lebih kecil tanpa terjadinya suatu perubahan kimiawi dengan faktor-
faktor yang mempengaruhi, yaitu pengaruh iklim, eksfoliasi, erosi oleh angin dan
hujan, abrasi, serta kegiatan organik. Sedangkan pelapukan kimiawi meliputi
perubahan mineral batuan menjadi senyawa mineral yang baru dengan proses
yang terjadi antara lain seperti oksidasi, larutan (solution), pelarut (leaching)
(hardiyatmo, 2002).

2.2 pH Tanah
pH tanah merupakan suatu ukuran intensitas kemasaman, bukan ukuran total
asam yang ada ditanah tersebut. Pada tanah-tanah tertentu seperti tanah liat berat,
gambut yang mampu menahan perubahan pH atau kemasaman yang lebih besar
dibandingkan dengan tanah yang berpasir.Tanah yang mampu menahan
kemasaman tersebut dikenal sebagai tanah yang berpenyangga baik (Mukhlis,
2014).
Dalam sistem tanah, pH tanah cenderung dikaitkan dengan kumpulan dari
berbagai kondisi tanah, salah satunya adalah ketersediaan hara bagi
tanaman.Banyak proses-proses yang mempengaruhi pH suatu tanah, diantaranya
adalah keberadaan salah satunya asam sulfur dan asam nitrit sebagai komponen
alami dari air hujan (Foth, 1995).
Nilai pH tanah sangat mempengaruhi kelarutan unsur yang cenderung
berseimbang dengan fase padat.Kelarutan oksida-oksida atau hidroksida Fe dan
Al secara langsung bergantung pada konsentrasi ion hidroksil (OH) dan
kelarutannya menurun jika pH meningkat. Kelarutan Fe-fosfat, Al-fosfat, dan Ca
fosfat amat bergantung pada pH, demikian juga kelarutan anion-anion molibat
(MoO4) dan SO4 yang terjerap (Damanik, 2011).
Reaksi tanah (pH) dapat dijadikan indikator kesuburan tanah. Kondisi pH
tanah optimum untuk ketersediaan unsur hara adalah sekitar 6,0−7,0. Pada pH
kisaran 7 semua unsur hara makro dapat tersedia secara maksimum dan unsur hara
mikro tersedia tidak maksimum. Unsur hara mikro dibutuhkan dalam jumlah yang
relatif sedikit sehingga pada pH kisaran 7,0 akan menghindari toksisitas. Pada

4
reaksi tanah (pH) di bawah 6,5 akan terjadi defisiensi P, Ca, Mg dan toksisitas B,
Mn, Cu dan Fe. Sementara itu pada pH 7,5 akan terjadi defisiensi P, B, Fe, Mn,
Cu, Zn, Ca, Mg dan toksisitas B juga Mo (Hanafiah, 2005).
Nilai pH tanah tidak sekedar menunjukkan suatu tanah asam atau alkali,
tetapi juga memberikan informasi tentang sifat-sifat tanah yang lain, seperti
ketersediaan fosfor, status kation-kation basa, status kation atau unsur racun,
dsb.Kebanyakan tanah-tanah pertanian memiliki pH 4 hingga 8.Tanah yang lebih
asam biasanya ditemukan pada jenis tanah gambut dan tanah yang tinggi
kandungan aluminium atau belerang.Sementara tanah yang basa ditemukan pada
tanah yang tinggi kapur dan tanah yang berada di daerah arid dan di kawasan
pantai.pH tanah merupakan suatu ukuran intensitas keasaman, bukan ukuran total
asam yang ada di tanah tersebut. Pada tanah-tanah tertentu, seperti tanah liat berat,
gambut yang mampu menahan perubahan pH atau keasaman yang lebih besar
dibandingkan dengan tanah berpasir (Mukhlis, 2007).
Tingkat kemasaman setiap tanah berbeda dan nilainya sangat dinamis.Nilai
pH tanah selalu berubah sesuai perubahan-perubahan reaksi kimiawi yang terjadi
didalam tanah.Perubahan reaksi kimia didalam tanah dapat disebabkan oleh
pengaruh tindakan budidaya pertanian, pengelolaan tanah dan atau di pacu oleh
faktor tanah dan faktor iklim. Meningkatnya kemasaman pada lahan pertanian
dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti: 1) pegunaan pupuk komersial
khususnya pupuk NH4+ yang menghasilkan H+ selama nitrifikasi, 2)
pengambilan kation-kation oleh tanaman melalui pertukaran dengan H+, 3)
pencucian kation-kation yang digantikan oleh H+ dan Al3+, 4) dekomposisi
residu organik (Damanik, 2011).
Menurut penelitian Intara (2011), terbukanya lahan menyebabkan penurunan
kandungan bahan organik tanah dan intensifnya pencucian hara oleh air hujan.
Hal ini mengakibatkan leaching kation-kation basa, sehingga akan menurunkan
kejenuhan basa yang menyebabkan pH tanah menurun.
Reaksi tanah sangat mempengaruhi ketersediaan unsur hara bagi tanaman.
Pada reaksi tanah yang netral, yaitu pH 6,5-7,5, maka unsur hara tersedia dalam
jumlah yang cukup banyak (optimal). Pada pH tanah kurang dari 6,0 maka
ketersediaan unsur-unsur fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan molybdenum

5
menurun dengan cepat. Sedangkan pH tanah lebih besar dari 8,0 akan
menyebabkan unsur-unsur nitrogen, besi, mangan, borium, tembaga, dan seng
ketersediaannya relatif menjadi sedikit (Sarief, 1986).
Menurut Hardjowigeno (2003) pentingnya pH tanah untuk diketahui adalah
untuk menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap tanaman.Pada
umumnya unsur hara mudah diserap akar tanaman pada pH tanah sekitar netral,
karena pada pH tersebut kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air.Pada tanah
masam unsur hara P tidak dapat diserap tanaman karena diikat (difiksasi) oleh Al,
sedang pada tanah alkalis unsur P juga tidak dapat diserap tanaman karena
difiksasi oleh Ca.
Nilai pH tanah tidak sekedar menunjukkan suatu tanah asam atau alkali,
tetapi juga memberikan informasi tentang sifat-sifat tanah yang lain, seperti
ketersediaan fosfor, status kation-kation basa, status kation atau unsur
racun.Kebanyakan tanah-tanah pertanian memiliki pH 4 hingga 8.Tanah yang
lebih asam biasanya ditemukan pada jenis tanah gambut dan tanah yang tinggi
kandungan aluminium atau belerang.Sementara tanah yang basa ditemukan pada
tanah yang tinggi kapur dan tanah yang berada didaerah arid dan dikawasan pantai
(Mukhlis, 2014).
Tanah dapat dipilahkan berdasarkan reaksi tanah atau pH sebagai berikut:
Tabel 2.2.1 Tingkat Keasaman Tanah

Reaksi Tanah pH

Luar biasa masam <4,0


Sangat masam 4,0-5,0
Masam 5,0-6,0
Agak masam 6,0-7,0
Agak basa 7,0-8,0
Basa 8,0-9,0
Sangat basa 9,0-10,0
Luar biasa basa >10,0

Kebanyakan tanah mempunyai pH antara 5,0 dan 8,0. Di kawasan basah,


tanah permukaan biasanya mempunyai pH 4,0 sampai 6,0. Secara umum pH

6
optimum tanah mineral ialah sekitar 6,5 sedangkan pada tanah organik ialah
sekitar 5,5. Namun perkecualian, misalnya tanaman teh lebih suka pH antara 4,0
dan 5,0 dan tanaman legum pada umumnya lebih suka pH yang mendekati 7,0
(Notohadiprawiro, 1998).
Pengaruh terbesar yang umum dari pH terhadap pertumbuhan tanaman adalah
pengaruhnya terhadap ketersedian unsur hara.pH tanah dihubungkan dengan
persentase kejenuhan Basa. Jika kejenuhan basa kurang dari 100%, suatu
penigkatan pH tanah dikaitkan dengan suatu peningkatan jumlah kalsium dan
magnesium didalam larutan tanah(Prasetyo, 2009).
Kemasaman tanah dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain bahan
induk tanah, reaksi oksidasi terhadap mineral tertentu, bahan organik, dan
pencucian basa-basa. Tanah yang diteliti berasal dar bahan induk yang bersifat
intermedier, tidak terdapat mineral yang bila teroksidasi bahan organik
rendah.Dalam hal ini pencucian basa-basa merupakan penyebab utama
kemasaman tanah (Prasetyo, 2001).

2.3 Kebutuhan Kapur Tanah


Pengapuran merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan kestabilan
keasaman (pH) tanah dan air, sekaligus memberantas hama penyakit. Jenis kapur
yang digunakan untuk pengapuran kolam ada beberapa macam diantaranya adalah
kapur pertanian, yaitu kapur carbonat : CaCO3 atau [CaMg(CO3)]2 dan kapur
tohor/kapur aktif (CaO). Kapur pertanian yang biasa digunakan adalah kapur
karbonat yaitu kapur yang bahannya dari batuan kapur tanpa lewat proses
pembakaran tapi langsung digiling. Kapur pertanian ada dua yaitu kalsit dan
Dolomit. Kalsit bahan bakunya lebih banyak mengandung karbonat,
magnesiumnya sedikit (CaCO3), sedangkan dolomit bahan bakunya banyak
mengandung kalsium karbonat dan magnesium karbonat [CaMg(CO3)]2. Dolomit
merupakan kapur karbonat yang dimanfaatkan untuk mengapuri lahan bertanah
masam. Kapur tohor adalah kapur yang pembuatannya lewat proses pembakaran.
Kapur ini dikenal dengan nama kapur sirih, bahannya adalah batuan tohor dari
gunung dan kulit kerang (Bowles, 1991).

7
Pengapuran adalah pemberian kapur ke dalam tanah yang pada umumnya
bukan karena kekurangan unsure Ca tetapi karena tanah terlalu
masam.(Hardjowigeno, 1987).
Pengapuran merupakan penetralan tanah asam menjadi basa dengan
menggunakan kapur pertanian sehingga tanaman produksi tetap melimpah.
(Rahardis, 2007)
Pengapuran adalah pemberian kapur ke tanah yang bertujuan menetralkan
kemasaman tanah dan meningkatkan atau menurunkan ketersediaan unsur-unsur
hara bagi pertumbuhan tanaman (Sukra, 1986)
Dosis kapur yang akan ditebarkan harus tepat karena jika berlebihan kapur
akan menyebabkan kolam tidak subur, sedangkan bila kekurangan kapur dalam
kolam akan menyebabkan tanah dasar kolam menjadi asam. Peningkatan
kandungan alkalinitas total pada kolam pemeliharaan ikan dapat digunakan kapur
pertanian. Kolam pemeliharaan ikan sebelum digunakan dilakukan proses
pengapuran dengan menggunakan beberapa jenis batu kapur yang disesuaikan
dengan kualitas tanah dasar kolam pemeliharaan (Winarso, 2009).
Hasil pengapuran akan lebih baik jika dikombinasikan dengan alumunium
[Al2(SO2)3. H2O]. Pemberian pupuk dilakukan pada saat cuaca cerah dan tidak ada
angin, agar gumpalan-gumpalan yang telah terbentuk tidak lepas lagi. Pengapuran
akan menjadikan susunan tanah menjadi lebih baik sehingga proses pertukaran
dan peredaran udara di dalam tanah dapat berlangsung dengan baik. Pengapuran
dapat merangsang aktivitas organisme tanah sehingga akan meningkatkan fungsi
bahan organik dan nitrogen di dalam tanah. Jumlah kapur (CaO) yang ditaburkan
pada proses pengapuran tanah dasar tambak tergantung dari tingkat kemasaman
tanah (Bambang, 1985).
Pengapuran adalah pemberian kapur kedalam tanah yang pada umumnya
bukan karena kekurangan unsur Ca tetapi karena tanah terlalu masam
(Hardjowigeno, 1987).
Pengapuran merupakan penetralan tanah asam menjadi basa dengan
menggunakan kapur pertanian sehingga tanaman produksi tetap melimpah
(Rahardis, 2007).

8
Pengapuran adalah pemberian kapur ke tanah yang bertujuan menetralkan
kemasaman tanah dan meningkatkan atau menurunkan ketersediaan unsur-unsur
hara bagi pertumbuhan tanaman (Sukra, 1986).
Pengapuran adalah pemberian kapur ke dalam tanah pada umumnya bukan
karena tanah kekurangan unsur Ca tetapi karena tanah terlalu masam.Oleh karena
itu pH tanah perlu dinaikkan agar unsur-unur hara seperti P mudah diserap
tanaman dan keracunan Al dapat dihindarkan.
Pengapuran dinyatakan sebagai teknologi yang paling tepat dalam
pemanfaatan tanah masam di dasarkan atas beberapa pertimbangan.pertama,
reaksi kapur sangat cepat dalam menaikkan pH tanah dan menurunkan kelarutan
Al yang meracun. Kedua, respons tanaman sangat tinggi terhadap pemberian
kapur pada tanah masam.Ketiga, efek sisa kapur atau manfaat kapur dapat
dinikmati selama 3 sampai 4 tahun berikutnya.Keempat, bahan kapur cukup
tersedia dan relatif murah, termasuk di Indonesia (Rahardis, 2007).
Untuk mendukung pernyataan di atas, uraian tentang teknologi pengapuran
terpadu berikut ini meliputi 5 hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan
pengapuran tanah, diantaranya adalah:
A. Prinsip Pengapuran.
Hal yang merupakan prinsip dasar dalam pengapuran tanah yang harus
diperhatikan adalah
1. Pemberian kapur harus sesuai dengan dosis anjuran daerah setempat.
2. Penaburan, pembenaman dan pencampuran kapur ketanah harus dalam
dan rata.
B. Jenis kapur
Kapur yang digunakan untuk pengapuran tanah adalah kapur pertanian yang
berupa bahan alamiah yang menqanduna senyawa Kalsium (Ca) atau Magnesium
(Mg).disebut KALSIT bila bahan alamiah kapur sedikit mengandung Magnesium
disebut DOLOMIT jika jumlah Magnesiumnya meningkat. Kapur pertanian dapat
berupa kapur tohor, kapur tembok, kapur karbonat (kalsit Dolomit), kulit kerang
dan terak baja.
a. Manfaat Pengapuran
Menurut Rahardis (2007), manfaat pengapuran sebagai berikut :

9
1. Menaikkan pH tanah atau mengurangi derajat kemasaman tanah.
2. Meningkatkan jumlah Ca dan Mg sampai kondisi netral.
3. Mengurangi kadar besi dan fosfor dalam tanah.
4. Mengurangi keracunan logam Al dan pH rendah.
b. Kebutuhan Pengapuran
Tabel 2.3.1. Kebutuhan dolomit / CaCO3 / CaSiO3 per ha pada berbagai
pH tanah
Dosis pe ha

pH CaCO3 Dolomit CaSiO3


Tanah (ton / ha) (ton / ha) (ton / ha)

4 11,16 10,24 12,98


4,1 10,64 9,76 12,37
4,2 10,12 9,28 11,77
4,3 9,61 9,82 11,17
4,4 9,09 8,34 10,57
4,5 8,58 7,87 9,98
4,6 8,06 7,39 9,38
4,7 7,53 6,91 8,76
4,8 7,03 6,45 8,17
4,9 6,52 5,98 7,58
5 5,98 5,49 6,95
5,1 5,47 5,02 6,36
5,2 4,95 4,54 5,76
5,3 4,45 4,08 5,17
5,4 3,92 3,6 4,56
5,5 3,4 3,12 3,95
5,6 2,89 2,65 3,36
5,7 2,37 2,17 2,76
5,8 1,84 1,69 2,14
5,9 1,34 1,23 1,56
6 0,82 0,75 0,95

10
Sumber : Rahardis, 2007
Tujuan utama pengapuran adalah menaikkkan pH tanah hingga tingkat yang
dikehendaki dan mengurangi atau meniadakan keracunan Al. Di samping itu juga
meniadakan keracunan Fe dan Mn serta hara Ca. Pengaruh utama kapur terhadap
tanah adalah menaikkan pH, mengurangi kandungan dan kejenuhan Al serta
meningkatkan serapan hara dan produksi tanaman pangan pada umumnya (padi,
kedelai, jagung, kacangan lainnya, tomat, cabai). Pengaruh kapur dapat dinikmati
selama beberapa kali panen (4-5 kali) (Komprat, 1970).

2.4 Aluminium Dapat Di Tukar (Al-dd)


Aldd adalah kadar Aluminium dalam tanah. Al dalam bentuk dapat
ditukarkan (Al-dd) umumnya terdapat pada tanah-tanah yang bersifat masam
dengan pH < 5,0. Aluminium ini sangat aktif karena berbentuk Al3+ ,monomer
yang sangat merugikan dengan meracuni tanaman atau mengikat fosfor. Oleh
karena itu untuk mengukur sejauh mana pengaruh Al ini perlu ditetapkan
kejenuhannya. Semakin tinggi kejenuhan aluminium, akan semakin besar bahaya
meracun terhadap tanaman. Kandungan aluminium dapat tukar (Al3+)
mempengaruhi jumlah bahan kapur yang diperlukan untuk meningkatkan
kemasaman tanah dan produktivitas tanah (Winarso, 2005).
Aluminium dapat ditukar dapat diekstrak dari contoh tanah dengan garam
KCl sehingga menjadi AlCl3.Selanjutnya terhidrolisis menjadi HCl lalu dititrasi
basa.Ditambahkan NaF dan ion OH- yang bebas dititrasi dengan asam. Sementara
itu, keasaman tanah (pH) , ditetapkan dengan menukar ion H+ dan Al3+ yang
berada dalam kompleks absorpsi dengan KCl. Jumlah ion H+ dan Al3+ dilakukan
dengan cara penambahan NaF untuk membebaskan NaOH yang kemudian dititer
dengan larutan HCl standard. Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh pada pH 4 - 6,5
dengan pH optimum 5 - 5,5. Sedangkan pada lahan gambut pH asam, miskin hara
mikro, drainase buruk, kering tidak balik (irreversible drying), dan kesuburan
yang relatif rendah. Selain itu, risiko hama dan penyakit juga banyak terdapat di
lahan ini (Kartasapoetra, 1980).
Dalam kisaran pH 6,0 - 7,0 hampir semua hara tumbuhan tersediakan dalam
jumlah optimum. Pada pH di bawah 6,0 dapat terjadi kekahatan hara Ca, Mg, dan

11
K. Sebaliknya dalam tanah sangat masam sampai luar biasa masam unsur-unsur
Al, Fe, Mn, Cu, dan Zn dapat meningkatkan ketersediaanya dalam kadar sangat
tinggi sehingga meracun. Sebaliknya, pada reaksi tanah sangat basa, kadar unsur
hara mikro terlarutkan sangat rendah yang dapat menjadi kahat. Kerendahan
ketersediaan berkaitan dengan kecendrungan unsur-unsur terendapkan sebagai
senyawa hidroksida yang tidak larut berupa Al (OH)3, Fe(OH)3, Mn(OH)4, Cu
(OH)2, Zn(OH)2 (Notohadiprawiro,1998).
Pengaruh keracunan Al terutama membatasai kedalaman maupun
percabangan akar, sehingga akan menghambat daya serap tanman terhadap hara
lain. Pada beberapa tanaman, keracunan Al memperlihatkan gejala daun yang
mirip defisiensi P, kekerdilan menyeluruh, dedaunan mengecil berwarna hijau
gelap dan lambat matang, batang, daun dan urat berwarna ungu, ujung daun
menguning dan mati(Sutaryo, 2005).
Secara fisiologis dan biokimiawi, keracunan Al menyebabkan: (1)
terganggunya pembelahan sel pada pucuk akar dan akar lateralnya; (2) pengerasan
dinding sel akibat terbentuknya jalinan peptin abnormal; (3) berkurangnya
replikasi DNA akibat meningkatnya kekerasan helix ganda DNA; (4) terjadinya
penyematan (fiksasi) P dalam tanah menjadi tidak tersedia atau pada permukaan
akar; (5) menurunnya respirasi akar; (6) terganggunya enzim-enzim regulator
fosforilasi gula; (7) terjadinya penumpukan polisakarida dinding sel; (8)
terganggunya penyerapan, pengangkutan dan penggunaan beberapa unsur esensial
seperti Ca, Mg, K, P dan Fe ( Hanafiah, 2005).

12
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah telah dilaksanakan pada hari Selasa, 28
November 2017 pada pukul 15.00 s.d 16.00 WIB.Bertempat di Lahan
Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat tulis, labu Erlenmeyer,
gelas ukur, gelas beaker, pipet ukur, filter, statif, pipet ukur, corong, pipet
volumetric, cawan porselen, pH meter, Indikator universal, gunting, pencapit,
botol kocok, vacuum pamp. Sedangkan bahan yang digunakan adalah sampel
tanah, HCL, NAOH 0,1 N.

3.3 Cara Kerja


Cara kerja pada praktikum ini yaitu:
3.3.1 Pegukuran Ph Tanah
1. Tanah ditimbang sebanyak 10 gr dan dimasukkan ke dalam botol
kocok
2. Ditambahkan 50 ml air destilata (1:5).
3. Dikocok selama 30 menit dengan mesin pengocok.
4. Didiamkan selama 5 menit dan diukur menggunakan kertas lakmus
dan pH meter.

3.3.2 Penetapan Jumlah Aluminium Yang Dapat Dipertukarkan.


1. Ditimbang 5 gr tanah dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer.
2. Ditambahkan larutan 1,0 N KCL, lalu dikocok dengan mesin
pengocok selama 30 menit.
3. Disaring dan ditampung filtratnya.

13
4. Diambil 25 ml filtrate dengan pipet dan dimasukkan ke dalam
erlenmeyer
5. Ditambahkan 5 tetes larutan indicator fenolptalein.
6. Dititrasi dengan 0,1 N NaOH sampai timbul warna merah muda
permanen.
7. Ditambahkan kurang lebih 1 tets 0,1 N HCL sampai warna merah
muda lenyap kembali.
8. Ditambahkan 10 ml NaF 4% dan warna merah sampai timbul
kembali.
9. Dititrasi lagi dengan 0,1 N HCL sampai warna merah tadi hilang
kembali.

14
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Table 4.1 Hasil Analisis pH H2O 1:5, Al-dd dan Kebutuhan Kapur
pH H2O AL-dd Kebutuhan CaCO3
NO Sampel tanah
1:5 (me AL/100g) (ton/ha)
1. Horizon A 5,975 0,855 0,92
2. Horizon B 5,9 2,81 1,08
3. Horizon E 6 0.51 0.78

4.2 Pembahasan
Pada praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah tentang “Penetapan pH Tanah dan
Kebutuhan Kapur, Jumlah Aluminium Yang Dapat Ditukarkan” yang bertujuan
Agar mahasiswa mengetahui cara menentukan pH aluminium yang dapat
dipertukarkan, Agar mahasiswa menetapkan kebutuhan kapur berdasarkan AL
yang dapat dipertukarkan.
Praktikum kali ini Alat yang digunakan adalah alat tulis, labu Erlenmeyer,
gelas ukur, gelas beaker, pipet ukur, filter, statif, pipet ukur, corong, pipet
volumetric, cawan porselen, pH meter, Indikator universal, gunting, pencapit,
botol kocok, vacuum pamp. Sedangkan bahan yang digunakan adalah sampel
tanah, HCL, NAOH 0,1 N.
Tanah merupakan media tanam yang digunakan oleh para petani untuk
menanam dan merupakan aspek terpenting yang harus di perhatikan, tanah seperti
yang dikemukakan olehVerhoef (1994), Tanah adalah kumpulan dari bagian-
bagian padat yang tidak terikat antara satu dengan yang lain (diantaranya mungkin
material organik) dan rongga-rongga diantara bagian-bagian tersebut berisi udara
dan air.
Pada table diatas kita menghitung pH tanah, jumlah kapur dan jumlah
aluminium tanah, karena 3 hal tersebut sangat penting bagi dunia pertanian,
karena kita harus mengetahui hal tersebut untuk mengetahui apakah tanah itu
cocok untuk dijadikan media tanam.

15
pH tanah seperti yang dikemukakan oleh Mukhlis (2014), pH tanah
merupakan suatu ukuran intensitas kemasaman, pH sangatlah enting untuk
diketahui jika kita ingin menanam atau meneliti suatu tanah karena pH merupakan
factor terpenting untuk mengetahui kesuburan suatu tanah seperti pendapat
Hanafiah (2005), Reaksi tanah (pH) dapat dijadikan indikator kesuburan tanah.
Kondisi pH tanah optimum untuk ketersediaan unsur hara adalah sekitar 6,0−7,0.
Pada pH kisaran 7 semua unsur hara makro dapat tersedia secara maksimum dan
unsur hara mikro tersedia tidak maksimum. Unsur hara mikro dibutuhkan dalam
jumlah yang relatif sedikit sehingga pada pH kisaran 7,0 akan menghindari
toksisitas. Pada reaksi tanah (pH) di bawah 6,5 akan terjadi defisiensi P, Ca, Mg
dan toksisitas B, Mn, Cu dan Fe. Sementara itu pada pH 7,5 akan terjadi defisiensi
P, B, Fe, Mn, Cu, Zn, Ca, Mg dan toksisitas B juga Mo.
Pertama kita akan membahas table tentang pH Tanah, pada horizon A tanah
memiliki nilai pH sebesar 5,975 sehingga dikategorikan tanah tersebut tanah
asam, pada horizon B tanah memiliki nilai pH sebesar 5,9 sehingga dikategorikan
tanah tersebut tanah asam dan Horizon E tanah memiliki nilai pH sebesar 6
sehingga dikategorikan tanah tersebut tanah asam, dn tanah pada horizon B
memiliki tingkat keasaman yang tinggi dibandingkan horizon A dan C.
Dari data diatas pun dapat dikategorikan tingkat pH tiap-tiap horizon Tabel
seperti tabel Notohadiprawiro (1998),
Tabel 2.2.1 Tingkat Keasaman Tanah

Reaksi Tanah pH

Luar biasa masam <4,0


Sangat masam 4,0-5,0
Masam 5,0-6,0
Agak masam 6,0-7,0
Agak basa 7,0-8,0
Basa 8,0-9,0
Sangat basa 9,0-10,0
Luar biasa basa >10,0
Horizon A yaitu 5,975 termasuk kedalam masam, horizon B yaitu 5,9
termasuk kedalama Masam dan horizon C yaitu 6 termasuk agak masam/masam.

16
Dan hal lain bisa juga berpengaruh seperti tekstur tanah seperti
liat,berpasir,dll. Karena setiap tekstur tanah akan membantu dalam kita
menentukan pH tanah seperti pendapat Mukhlis (2014), Pada tanah-tanah tertentu
seperti tanah liat berat, gambut yang mampu menahan perubahan pH atau
kemasaman yang lebih besar dibandingkan dengan tanah yang berpasir.Tanah
yang mampu menahan kemasaman tersebut dikenal sebagai tanah yang
berpenyangga baik.
Kedua Kita akan membahas tentang jumlah aluminium yang dapat
ditukar/Al-dd, seperti yang dikemukakan oleh Winarso (2005), Aldd adalah kadar
Aluminium dalam tanah. Al dalam bentuk dapat ditukarkan (Al-dd) umumnya
terdapat pada tanah-tanah yang bersifat masam dengan pH < 5,0, dari literature
diatas diketahui bahwa Al-dd hanya terdapat pada tanah yang masam karena Al
akan mengikat unsure hara yang akan mengakibatkan menurunnya pertumbuhan
tanaman
Pada Horizon A jumlah Al yang diketahui adalah 0,855, Pada Horizon B
jumlah Al yang diketahui adalah 2,81 dan Pada Horizon E jumlah Al yang
diketahui adalah 0,78 dari data diatas dapat diketahui bahwa pada horizon B
memiliki jumlah Al yang besar dan pH nya 5,9 hal tersebut sama seperti pendapat
Winarso (2005), Aldd adalah kadar Aluminium dalam tanah. Al dalam bentuk
dapat ditukarkan (Al-dd) umumnya terdapat pada tanah-tanah yang bersifat
masam. Karena pH pada horizon B paling masam sehingga jumlah Al pun lebih
banyak dibandingkan pada horizon lainnya, dan Horizon E memiliki kandungan
Al yang sedikit dibandingkan horizon lainnya.
Terakhir kita akan membahas Kebutuhan kapur suatu tanah, Pengapuran
seperti pendapat Bowles (1991), Pengapuran merupakan salah satu upaya untuk
mempertahankan kestabilan keasaman (pH) tanah dan air, sekaligus memberantas
hama penyakit. Jadi pemberian kapur adalah upaya kita untuk menaikan pH suatu
tanah jika tanah tersebut dikeahui asam dan untuk menjaga unsure hara yang
terdapat pada tana tersebut.
Pada horizon A jumlah kapur yang dibutuhkan adalah 0,92 karena jumlah
aluminium yang terdapat pada tanah tersebut adalah 0,855 dan Ph nya yaitu 5,975,
Pada horizon B jumlah kapur yang dibutuhkan adalah 1,08 karena jumlah

17
aluminium yang terdpat pada tanah tersebut adalah 2,81 dan Ph nya yaitu 5,9 dan
Pada horizon E jumlah kapur yang dibutuhkan adalah 0.78 karena jumlah
aluminium yang terdapat pada tanah tersebut adalah 0,51 dan Ph nya yaitu 6, dari
data diatas dapat diketahui bahwa horizon B membutuhkan jumlah kapur yang
besar dari pada horizon A dan horizon E, hal tersebut dikarenakan jumlah Al yang
lebih banyak dibandingkan horizon A dan horizon E, jadi horizon B
membutuhkan jumlah kapur yang banyak.
Dari tiga data diatas dapat di ketahui bahwa pH tanah sangat berpengaruh
dalam menentukan jumlah aluminium dan kebutuhan kapur karena tanah yang
masam memiliki jumlah Al yang besar dari pada tanah yang memiliki pH basa,
karena aluminium memiliki sifat mengikat unsur hara yang akan menghambat
pertumbuhan tanaman dan tanah akan kekurangan unsur hara dan pengapuranlah
cara untuk membuattanah menjadi netral

18
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Simpulan dari praktikum yang sudah dilakukan yaitu Tanah adalah kumpulan
dari bagian-bagian padat yang tidak terikat antara satu dengan yang lain
(diantaranya mungkin material organik) dan rongga-rongga diantara bagian-
bagian tersebut berisi udara dan air.
Tanah yang digunakan memiliki tingkat keasaman yang tinggi yaitu pH 5,95
sehingga memiliki jumlah aluminium, karena aluminium terdapat di tanah yang
memiliki ph yang rendah, karena unsur hara akan diikat oleh aluminium sehingga
akan menghambat pertumbuhan tanaman menjadi tidak baik, cara yang dapat
digunakan untuk menaikan ph tanah agar tidak asam yaitu menggunakan
pengapuran dengan menggunakan kapur sebanyak 0,03 ton/ha agar tanah kembali
normal ph nya.
Dalam melakukan penetapan ph tanah, kebutuhan kapur dan jumlah
aluminium yang dapat ditukarkan tidaklah rumit tetapi harus memilki ketelitian
dan kesabaran dalam melakukan kegiatan dengan sampel tanah. Pada praktikum
ini terdapat 3 lapisan horison, yaitu horizon A, horizon B, Horizon C. tiap-tiap
lapisan horison tersebut kita penetapan ph tanah dan kebutuhan kapur, jumlah
aluminium yang dapat ditukarkan di tiap-tiap horizon

5.2 Saran
Adapun saran dari praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah ini adalah sebaiknya
dalam pemasukan larutan untuk mengetahui jumlah aluminium harus berhati-hati
agar jumlah larutan tidak terlalu banyak

19
DAFTAR PUSTAKA

Bambang S. Ranoemihardjo dan ivonne F. Lantang. 1985. Pupuk dan Teknik


Pemupukan Tambak. Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta.
Bowles, J.E., 1991, Sifat-sifat Fisis dan Geoteknis Tanah, Edisi Kedua, Penerbit
Erlangga, Jakarta.
Bowles, Joseph E. Johan K. Helnim. 1991. Analisis dan Desain Pondasi I. PT.
Erlangga. Jakarta.
Craig, R.F. 1991. Mekanika Tanah. PT. Erlangga. Jakarta.
Damanik, M. M. B., B. E. Hasibuan., Fauzi., Sarifuddin dan H. Hanum. 2011.
Kesuburan Tanah dan Pemupukan.USU Press. Medan.
Das, B. M. 1995. Mekanika Tanah (Prinsip-Prinsip Rekayasa Geoteknis) Jilid I .
PT. Erlangga. Jakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebuda yaan, Jakarta
Foth, H. D. 1995. Dasar - Dasar Ilmu Tanah. Edisi ketujuh. Terjemahan
Purbayanti, dkk. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.PT. Raja Grafindo
Persada.Jakarta.
Hardiyatmo, H. C. 2002. Mekanika Tanah 2. PT.Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo. Jakarta.
Hardjowigeno. 1987. Ilmu Pertanian. Yogyakarta.Kanisius.
Intara, Y. I., Sapei, A., Erizal, Sembiring, N., Dan Djoefrie, M.H.B.
2011.Pengaruh Pemberian Bahan Organik Pada Tanah Liat Dan
LempungBerliat Terhadap Kemampuan Mengikat Air. Jurnal Ilmu
PertanianIndonesia, Vol. 16, No.2
Kartasapoetra, A. G., 1989. Kerusakan Tanah Pertanian dan Usaha Untuk
Merehabilitasinya. Penerbit Bina Aksara, Jakarta
Komprat, E. J. 1970. Exchange Able Alumunium as Creation for Liming Leached
Mineral Soils. Soilsci, soc. Amer Proc.
Mukhlis, 2007. Analisis Tanah Tanaman. USU Press. Medan.
Mukhlis. 2014. Analisis Tanah Tanaman. Edisi kedua.USU Press. Medan.

iv
Notohadiprawiro. T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Direktorat Jendral
Prasetyo, B. H. 2009. Tanah Merah dari Berbagai Bahan Induk diIndonesia:
Prospek dan Strategi Pengelolaannya. J. Sumberdaya Lahan. Vol. 3(1).
Prasetyo, B. H., D. Subardja., dan B. Kaslan. 2005. Ultisols Bahan Volkan
Andesitik: Diferensiasi Potensi Kesuburan dan Pengelolaannya. J. Tanah
dan Iklim. No. 23
Prasetyo, B. H., N. Suharta., H. Subagyo., and Hikmatullah. 2001. Chemical and
Mineralogical Properties of Ultisols of Sasamba Area, East Kalimantan.
Indo. J. of Agri. Sci. Vol. 2(2)
Rahardis. 2007. Teknologi Pengapuran. Jakarta. Erlangga.
Rahardis. 2007. Teknologi Pengapuran. Jakarta. Erlangga.
Sarief, S. 1986. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung.
Sukra. 1986. Kimia Tanah. Jakarta. Swadaya.
Sutaryo, B., A. Purwantoro., dan Nasrullah. 2005. Seleksi Beberapa Kombinasi
Persilangan Padi Untuk Ketahanan Terhadap Keracunan Aluminium. J.
Ilmu Pertanian. Vol. 12(1)
Verhoef, P.N.W. 1994. Geologi Untuk Teknik Sipil. PT. Erlangga. Jakarta.
Winarso, S. 2005. Kesuburan Tanah: Dasar Kesehatan dan Kualitas Tanah.
Penerbit Gaya Media.Yogyakarta.
Winarso, S., Handayanto, E., Syekhfani., Sulistyanto, D. 2009. Pengaruh
Kombinasi Senyawa Humik dan CaCO3 terhadap Alumunium dan Fosfat
Typic Paleudult Kentrong Banten. J. Tanah Trop. 14 (2)

v
LAMPIRAN

Gelas ukur Larutan Hcl Tanah Horizon A

NaOH 0,1 N Pengocokan Tanah Cawan Porselen

Gelas Beaker Corong Gelas Kocok

vi
Erlenmeyer Indikator Universal Pengukuran pH tanah

pH meter Tirtasi NaOH Penetesan Hcl

vii