Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

GENETIKA TANAMAN
“GEN TERPAUT SEX”
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Genetika Tanaman

Disusun Oleh:
Nama : Reza Maulana Muhammad
NIM : 4442160006
Kelas : IVA
Kelompok : 1(Satu)

JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2018
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi
sedikit sekali yang kitaingat.Segala puji hanya layak untuk Allah atas segala
berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga
saya dapat menyelesaikan tugas hasil laporan Praktikum ini.
Laporan yang berjudul “Gen Terpaut Sex” Meskipun saya berharap isi dari
laporan praktikum saya ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu
ada yang kurang.Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar tugas Laporan praktikum ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata saya mengucapkan terima kasih, semoga hasil laporan
praktikum saya ini bermanfaat.

Serang, April 2018

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

DAFTAR TABEL iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pewarisan Sifat Secara Umum 2
2.2 Hukum Mendel 1 3
2.3 Percobaan Mendel 5
BAB III METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat7
3.2 Alat dan Bahan 7
3.3 Cara Kerja 7
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil 8
4.2 Pembahasan 9
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan 12
5.2 Saran 12
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

2
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Pencatatan Untuk Pengambilan 20x 8


Tabel 2 Pencatatan Untuk Pengambilan 40x 8
Tabel 3 Pencatatan Untuk Pengambilan 60x 8
Tabel 4 Perbandingan Fenotipe Pengamatan/observer (O) dan Perbandingan
nisbah harapan/expected € untuk pengambilan 20x 8
Tabel 5 Perbandingan Fenotipe Pengamatan/observer (O) dan Perbandingan
nisbah harapan/expected € untuk pengambilan 20x 9
Tabel 6 Perbandingan Fenotipe Pengamatan/observer (O) dan Perbandingan
nisbah harapan/expected € untuk pengambilan 20x 9

3
4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Drosophila melanogaster (Lalat buah) merupakan sejenis lalat buah yang biasa
terdapat di buah-buahan dan biasanya digunakan sebagai objek dalam percobaan
genetika karena daur hidupnya sangat cepat. Selain itu, lalat ini sangat subur yang
betina dapat menghasilkan ratusan telur yang dibuahi dalam hidupnya yang
pendek
Gen yang dipengaruhi oleh jenis kelamin adalah gen autosomal yang
membedakan antara laki-laki dan perempuan karena dipengaruhi faktor
lingkungan internal yakni perbedaan kadar hormon kelamin antara laki-laki dan
perempuan
Gen-gen yang terletak pada satu kromosom dinamakan gen berangkai. Jika
kromosom tersebut adalah kromosom kelamin, maka gen-gen yang terdapat di
dalamnya dikatakan sebagai gen rangkai kelamin. Pada garis besarnya terdapat
tiga kelompok gen rangkai kelamin, yaitu gen rangkai X, gen rangkai Y, dan gen
rangkai kelamin tak sempurna. Kelompok yang disebut terakhir ini sebenarnya
kurang tepat untuk dikatakan sebagai gen rangkai kelamin. Hal ini karena gen
tersebut terletak pada bagian kromosom X yang memiliki homologi dengan
bagian kromosom Y sehingga pola pewarisannya tidak bergantung kepada jenis
kelamin, tetapi berlangsung seperti halnya pola pewarisan gen rangkai autosomal.
Gen rangkai Y hanya akan diekspresikan pada individu jantan sehingga sering
juga dinamakan gen holandrik.
Perkawinan resiprok yang melibatkan, baik gen rangkai X maupun Y, akan
menghasilkan keturunan yang berbeda. Dalam hal ini sering kali terjadi peristiwa
yang disebut sebagai pewarisan saling silang (criss-cross inheritance), yaitu
individu jantan akan memiliki fenotipe seperti tetua betinanya, dan sebaliknya,
individu betina akan menyerupai tetua jantannya.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu
1. Mencari angka-angka perbandingan sesuai dengan Hukum Mendel I.

1
2. Memahami pengertian dominan, resesif, fenotipe dan genotype.
3. Menemukan nisbah toritis sama atau mendekati nisbah pengamatan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pewarisan Sifat Secara Umum


Genetika adalah ilmu yang mempelajari tentang perwarisan sifat atau karakter
yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya secara turun temurun.
Penurunan sifat itu melalui gen yang didalamnya terdapat kromosom
(Rosman,dkk.2006).
Drosophila melanogaster (Lalat buah) merupakan sejenis lalat buah yang
biasa terdapat di buah-buahan dan biasanya digunakan sebagai objek dalam
percobaan genetika karena daur hidupnya sangat cepat. Selain itu, lalat ini sangat
subur yang betina dapat menghasilkan ratusan telur yang dibuahi dalam hidupnya
yang pendek (Kimball, 2001).
Drosophila melanogaster, sejenis serangga biasa yang umumnya tidak
berbahaya dan merupakan pemakan jamur yang tumbuh pada buah. Lalat buah
adalah serangga yang mudah berkembangbiak. Dari satu perkawinan saja dapat
dihasilkan ratusan keturunan, dan generasi yang baru dapat dikembangkan setiap
dua minggu. Karasteristik ini menunjukkan lalat buah organisme yang cocok
sekali untuk kajian-kajian genetik (Campbell, 2008).
Kebanyakan penemuan di bidang genetika didapatkan melalui penelitian
dengan menggunakan lalat tersebut sebagai bahan (Suryo,2004).
Pilihan ini tepat sekali karena pertama, lalat ini kecil sehingga suatu populasi
yang besar dapat dipelihara dalam laboratorium. Kedua, daur hidup sangat cepat.
Tiap 2 minggu dapat dihasilkan satu generasi dewasa yang baru. Ketiga, lalat ini
sangat subur yang betina dapat menghasilkan ratusan telur yang dibuahi dalam
hidupnya yang pendek itu (Kimball, 2001).
Berikut merupakan klasifikasi dari Drosophila melanogaster (Borror, 1992):

2
Kingdom : Animalia
Phyllum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Drosophilidae
Genus : Drosophila
Spesies : Drosophila melanogaster
Menurut Borror (1992) menyatakan bahwa telur Drosophila dilapisi oleh dua
lapisan, yaitu satu selaput vitellin tipis yang mengelilingi sitoplasma dan suatu
selaput tipis tapi kuat (Khorion) di bagian luar dan di anteriornya terdapat dua
tangkai tipis. Korion mempunyai kulit bagian luar yang keras dari telur tersebut.
Kemudian pada tahap larva terjadi dua kali pergantian kulit dan periode di antara
masa pergantian kulit dinamakan stadium instar. Di akhir stadium instar, larva
keluar dari media makanan menuju ke tempat yang lebih kering untuk
berkembang menjadi pupa. Tahap pupa berlangsung sekitar 2 hari sampai 4 hari.
Lalat dewasa yang baru keluar dari pupa sayapnya belum mengembang, tubuhnya
berwarna bening. Kemudian akan berkembang hingga tahap imago.
ciri-ciri morfologi yang membedakan Drosophila jantan dan betina antara
lain (Suryo, 2008) yaitu:

Betina Jantan
Ukuran tubuh lebih besar dari jantan Ukuran tubuh lebih kecil dari betina
Sayap lebih panjang dari sayap jantan Sayap lebih pendek dari pada betina
Tidak terdapat sisir kelamin (sex comb) Terdapat sisir kelamin (sex comb)
Ujung abdomen runcing Ujung abdomen tumpul dan lebih hitam

Alasan digunakannya Drosophilla melanogaster sebagai bahan penelitian


adalah karena lalat ini memiliki beberapa keuntungan, antara lain (Suryo, 1984)

2.2 Hukum Mendel I


Gen terpaut sex atau pautan sex (sex linkage) adalah gen yang terletak pada
genosom atau kromosom seks. Kromosom sex atau genosom adalah kromosom
yang menentukan jenis kelamin suatu individu. Thomas Hunt Morgan adalah

3
orang pertama yang membuktikan adanya gen pautan seks. Fenomena ini dapat
diamati pada persilangan lalat buah (Drosophila melanogaster) jantan mata putih
dengan betina mata normal atau merah (Abdurahman, 2006).
Menurut Suryo (1994), gen rangkai kelamin (Sex linkage) dapat dibedakan
menjadi 3 yaitu :
1. Gen rangkai X, yaitu gen yang terangkai pada kromosom X contohnya
warna mata pada Drosophila melanogaster, penyakit buta warna dan penyakit
hemofilia pada manusia.
2. Gen rangkai Y, yaitu gen yang terangkai pada kromosom Y. Gen yang
tertaut kromosom Y sering disebut holandrik yang berarti sifatnya hanya
diturunkan hanya pada laki-laki saja. Contoh peristiwa ini adalah pada
hypertrichosis (pertumbuhan rambut pada telinga) dan keratoma dissipatum
(penebalan kulit pada tangan dan kaki) (Aryulinda et al., 2005).
3. Gen rangkai tidak sempurna yaitu gen yang terletak pada kromosom X
tetapi memiliki pasangan pada kromosom Y. Contoh dari peristiwa ini adalah bulu
pendek pada D. melanogaster.
Percobaan yang dilakukan oleh Morgan menjelaskan bahwa terdapat sifat
menurun yang terpaut jenis kelamin. Pola tersebut juga berlaku pada gen-gen
yang terletak pada kromosom X. Ketika gen resesif terdapat pada salah satu dari
kromosom X pada indvidu betina. Sifat tersebut dapat terekspresikan dan
dominan pada kromosom lainnya. Tetapi pada individu jantan, semua gen pada
kromosom X akan terekspresikan, karena tidak memiliki kromosom X yang lain
sebagai pasangan alel gen tersebut (Abdurahman, 2006).
Pewarisan kromosom X tertentu dapat dihubungkan dengan pewarisan sifat
yang berpautan seks, dengan kuat mendukung tesis bahwa gen-gen pada
kromosom X bertanggung jawab untuk menimbulkan sifat ini. Gen-gen yang
berpautan seks tidak hanya memisah tetapi juga memilih secara bebas dari gen-
gen yang terdapat pada autosom (Goodenough, 1984).

Determinasi seks merupakan penentuan jenis kelamin suatu


organisme yang ditentukan oleh kromosom seks (gonosom). Untuk lalat buah
dikenal satu pasang kromosom seks yaitu kromosom X dan kromosom Y. Individu

4
jantan terjadi jika terdapat komposisi seks XY sedang betina jika komposisinya
XX (Yatim, 1996).

Pautan seks merupakan suatu sifat yang diturunkan yang tergabung dalam
gonosom. Sebagai contoh adalah lalat buah betina mata merah (dominant)
dikawinkan dengan lalaty buah jantan mata putih (resesif). Maka F1 semuanya
bermata merah tetapi pada F2 semua yang bermata putih adalah jantan. Hal ini
menunjukkan bahwa sifat “berwarna putih” merupakan sifat yang terpaut pada
kromosom Y. Mutasi merupakan perubahan gen dari bentuk aslinya, sedangkan
individu yang mengalami mutasi disebut mutan, jenis-jenis mutasi terdiri dari
mutasi kromosom merupakan proses perubahan susunan atau jumlah dari
kromosom yang menyebabkan perubahan sifat individu lazim disebut aberasi dan
yang kedua adalah mutasi gen yaitu perubahan gen dalam kromosom (letak dan
sifat) yang menyebabkan perubahan sifat individu tanpa perubahan jumlah dan
susunan kromosomnya lazim disebut mutasi saja (Dwijoseputro, 1977).
Genetika merupakan cabang biologi yang penting saat ini. Ilmu ini
mempelajari berbagai aspek yang menyangkut pewarisan sifat dan variasi pada
organisme maupun suborganisme. Adapula dengan singkat mengatakan, genetika
adalah ilmu gen. Terdapat sifat keturunan yang ditentukan oleh gen yang terdapat
Dalam autosom. Seperti halnya pada saat mempelajari menurunnya warna bunga
pada tanaman atau sifat albino pada manusia, keturunan F1 maupun F2 tidak
pernah disebut-sebut jenis kelaminnya. Selain itu pada manusia, sifat-sifat yang
menurun dikenal dengan istilah hereditas. Biasanya gen dominan memperlihatkan
pengaruhnya pada individu laki-laki jantan atau betina. Baru dalam keadaan
homozigot resesif, pengaruh dominan itu akan menampakkan diri dalam fenotipe.
Beberapa contoh dari gen yang dominansinya dipengaruhi oleh jenis kelamin
adalah kepala botak dan jari telunjuk[1].
Penentuan seks pada makhluk hidup ditentukan oleh kromosom seksnya.
Terdapat beberapa macam cara yang digunakan untuk menentukan jenis kelamin
makhluk hidup berdasarkan kromosom seksnya. Contohnya, pada belalang
menggunakan sistem X-0 (22 + X Jantan; 22 + XX Betina), pada ayam sistem Z-
W (76 + ZZ Jantan; 76 + ZW Betina), dan pada lebah sistem haplo-diploid

5
(haploid Jantan, diploid Betina). Sedangkan pada manusia, sistem yang digunakan
adalah X-Y. Betina normal akan dihasilkan jika kromosom seksnya XX dan jantan
normal jika kromosom seksnya XY. Tanda-tanda jenis kelamin manusia secara
anatomi baru akan mulai terlihat pada umur embrio sekitar dua bulan, karena
sebelum waktu itu, bentuk gonadnya cenderung sama dan masih bisa berubah
menjadi ovarium atau testis, terkandung pada kondisi hormon di tubuh embrio
tersebut elain untuk menentukan jenis kelamin, kromosom seks pada manusia
juga memiliki banyak gen, khususnya pada kromosom X. Cara pewarisan sifatnya
sama dengan pewarisan yang lain. Namun perlu dicatat, bahwa alel terpaut seks
dari seorang ayah akan diwariskan kepada seluruh anak perempuannya, tetapi
anak laki-lakinya tidak akan memperoleh satupun dari alel tersebut. Berbeda
sekali dengan seorang ibu yang bisa mewariskan alel terpaut seksnya kepada anak
laki-laki dan perempuannya. Umumnya, penurunan sifat terpaut seks pada
manusia ditentukan oleh kromosom X, walaupun pada beberapa kasus terdapat
juga pada kromosom Y[2].
Penentuan seks pada makhluk hidup ditentukan oleh kromosom seksnya.
Terdapat beberapa macam cara yang digunakan untuk menentukan jenis kelamin
makhluk hidup berdasarkan kromosom seksnya. Misalnya pada manusia sistem
yang digunakan yaitu X-Y. Akan dihasilkan betina normal jika kromosom seksnya
XX dan dihasilkan jantan normal jika kromosom seksnya XY. Umumnya,
penentuan sifat terpaut seks pada manusia ditentukan oleh kromosom X,
walaupun pada beberapa kasus terdapat juga pada kromosom Y[3].
Selain gen-gen yang terdapat pada kromosom kelamin dikenal pula gen-gen
yang dipengaruhi oleh jenis kelamin. Sifat akan tampak dikedua jenis kelamin,
tetapi salah satu jenis kelamin menampakkan ekspresi yang lebih besar
dibandingkan dengan jenis kelamin lainnya. keadaan yang demikian disebut
dengan sex influence genes atau biasa disebut dengan gen yang dipengaruhi jenis
kelamin[4].
Semua jenis keturunan atau kejadian yang diterangkan di muka ditentukan
oleh gen yang terdapat pada autosom. Selain gen-gen dikenal pula gen-gen yang
demikian ini disebut gen-gen terangkai kelamin. Peristiwa dinamakan rangkai
kelamin atau dalam inggrisnya disebut Sex Lingkange. Biasanya gen dominan

6
memperlihatkan pengaruhnya pada individu laki-laki atau jantan maupun
perempuan atau betina. Baru dalam keadaan homozigot resesif pengaruh dominan
itu tidak akan menampakkan diri dalam fenotif. Apabila kita meletakkan tangan
kanan atau kanan kiri pada suatu alas yang terdapat suatu garis mendatar
sedemikian rupa sehingga ujung jari manis menyentuh garis tersebut, maka kita
dapat ketahui apakah jari telunjuk kita akan lebih panjang atau apakah lebih
pendek dari jari manis. Pada kebanyakan orang jari telunjuk tidak akan mencapai
garis tersebut yang mengidentifikasi bahwa suatu individu-individu mungkin
mempunyai kandungan gen absolute yang sama ketidakaktifan kromosom
menciptakan sub populasi dengan membedakan kandungan gen aktif[5].

2.3 Percobaan Mendel


Telah diketahui bahwa individu itu memiliki dua macam kromosom, yaitu
autosom dan seks kromosom. Oleh karena individu betina dan jantan biasanya
mempunyai autosom yang sama, maka sifat keturunan yang ditentukan oleh gen
pada autosom diwariskan dari orang tua kepada anak-anaknya tanpa membedakan
seks (Suryo, 2005).
Walaupun banyak perbedaan anatomis dan fisiologis antara perempuan dan
laki-laki, dasar kromosomal penentuan jenis kelamin cukup sederhana. Pada
manusia dan mamalia lain, ada dua macam kromosom seks, disimbolkan X dan Y.
Kromosom Y jauh lebih kecil daripada kromosom X. Seseorang yang mewarisi
dua kromosom X, satu dari masing-masing orang tua, biasanya berkembang
menjadi perempuan. Laki-laki berkembang dari zigot yang mengandung
kromosom X dan satu kromosom Y (Campbell, dkk., 2008).
Penentuan seks pada makhluk hidup ditentukan oleh kromosom seksnya.
Terdapat beberapa macam cara yang digunakan untuk menentukan jenis kelamin
makhluk hidup berdasarkan kromosom seksnya. Contohnya, pada belalang
menggunakan sistem X-0 (22 + X Jantan; 22 + XX Betina), pada ayam sistem Z-
W (76 + ZZ Jantan; 76 + ZW Betina), dan pada lebah sistem haplo-diploid
(haploid Jantan, diploid Betina). Sedangkan pada manusia, sistem yang digunakan
adalah X-Y. Betina normal akan dihasilkan jika kromosom seksnya XX dan jantan
normal jika kromosom seksnya XY. Tanda-tanda jenis kelamin manusia secara

7
anatomi baru akan mulai terlihat pada umur embrio sekitar dua bulan, karena
sebelum waktu itu, bentuk gonadnya cenderung sama dan masih bisa berubah
menjadi ovarium atau testis, terkandung pada kondisi hormon di tubuh embrio
tersebut elain untuk menentukan jenis kelamin, kromosom seks pada manusia
juga memiliki banyak gen, khususnya pada kromosom X. Cara pewarisan sifatnya
sama dengan pewarisan yang lain. Namun perlu dicatat, bahwa alel terpaut seks
dari seorang ayah akan diwariskan kepada seluruh anak perempuannya, tetapi
anak laki-lakinya tidak akan memperoleh satupun dari alel tersebut. Berbeda
sekali dengan seorang ibu yang bisa mewariskan alel terpaut seksnya kepada anak
laki-laki dan perempuannya. Umumnya, penurunan sifat terpaut seks pada
manusia ditentukan oleh kromosom X, walaupun pada beberapa kasus terdapat
juga pada kromosom Y (Bohari, Mega, 2011).
Selain gen-gen yang terdapat pada kromosom kelamin dikenal pula gen-gen
yang dipengaruhi oleh jenis kelamin. Sifat akan tampak dikedua jenis kelamin,
tetapi salah satu jenis kelamin menampakkan ekspresi yang lebih besar
dibandingkan dengan jenis kelamin lainnya. keadaan yang demikian disebut
dengan sex influence genes atau biasa disebut dengan gen yang dipengaruhi jenis
kelamin (Suryo, 2005).
Ekspresi dari beberapa gen yang diketahui terletak di autosom dapat dibatasi
atau dipengaruhi oleh seks dari seseorang yang memilikinya. Ada banyak contoh
sifat keturunan yang ditentukan oleh gen autosomal yang ekspresinya dipengaruhi
oleh seks. Sifat itu tampak pada kedua macam seks, tetapi pada salah satu seks
ekspresinya lebih besar daripada untuk seks lainnya (Suryo, 2005).
Semua jenis keturunan atau kejadian yang diterangkan di muka ditentukan
oleh gen yang terdapat pada autosom. Selain gen-gen dikenal pula gen-gen yang
demikian ini disebut gen-gen terangkai kelamin. Peristiwa dinamakan rangkai
kelamin atau dalam inggrisnya disebut Sex Lingkage. Biasanya gen dominan
memperlihatkan pengaruhnya pada individu laki-laki atau jantan maupun
perempuan atau betina. Baru dalam keadaan homozigot resesif pengaruh dominan
itu tidak akan menampakkan diri dalam fenotif. Apabila kita meletakkan tangan
kanan atau kanan kiri pada suatu alas yang terdapat suatu garis mendatar
sedemikian rupa sehingga ujung jari manis menyentuh garis tersebut, maka kita

8
dapat ketahui apakah jari telunjuk kita akan lebih panjang atau apakah lebih
pendek dari jari manis. Pada kebanyakan orang jari telunjuk tidak akan mencapai
garis tersebut yang mengidentifikasi bahwa suatu individu-individu mungkin
mempunyai kandungan gen absolute yang sama ketidakaktifan kromosom
menciptakan sub populasi dengan membedakan kandungan gen aktif (Kimball,
2005).

9
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum dilakukan pada tanggal 29 Maret 2018 pada pukul 10.50-12.30
WIB dan bertempat di Gedung A Lantai 3 Ruang 329 Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa.

3.2 Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan pada praktikum adalah alat tulis dan kertas binder.
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah kancing warna hijau dan kancing
warna kuning, plastic hitam.

3.3 Cara Kerja


Adapun cara kerja pada praktikum kali ini adalah
1. Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan
2. Kacing genetika diambil sebanyak 60 biji, 30 pasang biji merah dan 30
pasang biji putih
3. Pasangan biji merah dan putih dipisah
4. Sebanyak 10 pasang biji merah dan 10 pasang biji putih dimasukkan ke
dalam kantong plastik lalu kocok secara perlahan
5. Sebanyak 2 biji kancing atau 1 pasang biji diambil dari dalam kantong
dan warna yang diambil dicatat
6. Cara di atas dilakukan hingga kancing genetika dalam kantong plastik
habis
7. Selanjutnya, cara kerja nomor 4 sampai nomor 6 diulangi untuk 20
pasang biji merah dan 20 pasang biji putih serta 30 pasang biji merah dan
30 pasang biji putih
8. Hasil pengamatan diamati dan dicatat

10
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1 Pencatatan untuk pengambilan 20 kali
No Pasangan Tabulasi Ijiran Jumlah
1 Merah-Merah 5
2 Merah-Putih 1 : 2 :1 7
3 Putih-Putih 8

Tabel 2 Pencatatan untuk pengambilan 40 kali


No Pasangan Tabulasi Ijiran Jumlah
1 Merah-Merah 7
2 Merah-Putih 1:2:1 22
3 Putih-Putih 11

Tabel 3 Pencatatan untuk pengambilan 60 kali


No Pasangan Tabulasi Ijiran Jumlah
1 Merah-Merah 13
2 Merah-Putih 1:2:1 31
3 Putih-Putih 16

Tabel 4 Perbandingan/nisbah f enotipe pengamatan/observer (O) dan


perbandingan/nisbah harapan/teoritis/expected (E) untuk pengambilan 20 kali
Pengamatan/observer Harapan/expected Deviasi
No Fenotipe
(O) (E) (O-E)
1 Merah 12 15 3
2 Putih 8 2,5 5,5
Total 20 17,5 2,5

Tabel 5 Perbandingan/nisbah fenotipe pengamatan/observer (O) dan


perbandingan/nisbah harapan/teoritis/expected (E) untuk pengambilan 40 kali
Pengamatan/observer Harapan/expected Deviasi
No Fenotipe
(O) (E) (O-E)
1 Merah 29 30 -1
2 Putih 11 10 -1

11
Total 40 40 -2

Tabel 6 Perbandingan/nisbah fenotipe pengamatan/observer (O) dan


perbandingan/nisbah harapan/teoritis/expected (E) untuk pengambilan 60 kali
Pengamatan/observer Harapan/expected Deviasi
No Fenotipe
(O) (E) (O-E)
1 Merah 44 45 -1
2 Putih 16 15 -1
Total 60 60 -2

4.2 Pembahasan
Pada praktikum Genetika Tanaman tentang “Hukum Mendel 1” ini bertujuan
Mencari angka-angka perbandingan sesuai dengan Hukum Mendel I, Memahami
pengertian dominan, resesif, fenotipe dan genotype dan Menemukan nisbah toritis
sama atau mendekati nisbah pengamatan.
Praktikum kali ini praktikan membawa adalah alat tulis dan kertas binder.
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah kancing warna hijau dan kancing
warna kuning, plastic hitam.. Dari praktikum diatas paktikan akan mencari angka
perbandingan yang sesuai hokum mandel 1.
Hukum Mandel 1 Seperti yang dikemukakan oleh Syamsuri (2004), Hukum
Mendel I ini sering dikenal sebagai hukum Segregasi. Selama proses meiosis
berlangsung, pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah dan tidak
berpasangan lagi. Setiap set kromosom itu terkandung di dalam satu sel gamet.
Proses pemisahan gen secara bebas dikenal sebagai segregasi bebas. Hukum
Mendel I dikaji dari persilangan monohibrid.

Pada praktikum ini kita menggunakan 2 jenis Kancing yaitu kancing


berwarna hijau dan kancing berwarna merah dengan mengambil masing masing
kancing secara acak sebanyak 20x, 40x dan 60x, Kombinasi yang terbentuk pada
percobaan ini adalah hijau-hijau (KK), hijau- kuning (Kk) dan kuning-kuning
(kk).
Pada saat kancing dipisahkan kancing tersebut dikocok kedalan plastic,
dimana pada saat kancing didalam plastik kancing tersebut akan mengalami

12
proses perpaduan bebas dan kancing kancing tersebut akan bersatu kembali
dengan kombinasi alel yang bervariasi. Sehingga pada praktikum ini dapat dilihat
bahwa hanya ada satu sifat yang berbeda yaitu perbedaan warna antara warna
hijau dan warna kuning.
Pada tabel hasil dapat dilihat percobaab I yaitu saat pencatatan
pengambilan 20 kancing hasil yang didapatkan adalah 5:7:8 dengan kombinasi
alel KK : Kk : kk, kemudian pada percobaan II saat pencatatan pengambilan 40
kancing hasil yang didapatkan adalah 7 : 12 : 11 dengan kombinasi alel KK : Kk :
kk, dan yang terakhir pada percobaan III saat pencatatan pengambilan 60 kancing
hasil yang didapatkan adalah 13 : 31 : 16 dengan kombinasi alel KK : Kk : kk.
Pada percobaan ini tidak ada hasil yang akurat dengan rasio perbandingan hukum
mendel yaitu 1 : 2 : 1 oleh karena itu kita menggunakan perhitungan dengan Chi
kuadrat.
Pada Tabel Perbandingan/nisbah f enotipe pengamatan/observer (O) dan
perbandingan/nisbah harapan/teoritis/expected (E) untuk pengambilan 20 kali
Pada warna fenotipe merah di dapat hasil pengamatan yaitu 12 dengan harapan 15
maka deviasi yang didapat yaitu 3, Pada warna fenotipe putih di dapat hasil
pengamatan yaitu 8 dengan harapan 2,5 maka deviasi yang didapat yaitu 5,5 dan
total yang di dapat yaitu pengamatan 20 dengan harapan 17,5 maka deviasi yaitu
2,5.
Pada Tabel Perbandingan/nisbah f enotipe pengamatan/observer (O) dan
perbandingan/nisbah harapan/teoritis/expected (E) untuk pengambilan 40 kali
Pada warna fenotipe merah di dapat hasil pengamatan yaitu 29 dengan harapan 30
maka deviasi yang didapat yaitu -1, Pada warna fenotipe putih di dapat hasil
pengamatan yaitu 11 dengan harapan 10 maka deviasi yang didapat yaitu -1 dan
total yang di dapat yaitu pengamatan 40 dengan harapan 40 maka deviasi yaitu -2.
Pada Tabel Perbandingan/nisbah f enotipe pengamatan/observer (O) dan
perbandingan/nisbah harapan/teoritis/expected (E) untuk pengambilan 60 kali
Pada warna fenotipe merah di dapat hasil pengamatan yaitu 44 dengan harapan 45
maka deviasi yang didapat yaitu -1, Pada warna fenotipe putih di dapat hasil
pengamatan yaitu 16 dengan harapan 15 maka deviasi yang didapat yaitu -1 dan
total yang di dapat yaitu pengamatan 60 dengan harapan 60 maka deviasi yaitu -2.

13
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Pada praktikum Hukum Mendel dapat disimpulkan bahwa sampel yang
digunakan adalah warna kuning dan hijau. Dari tiga kali percobaan yaitu
pengambilan 20x, 40x, dan 60x diperoleh hasil yang sesuai tetapi tdak akurat
dengan teori baik perbandingan fenotip maupun genotip. Gen hijau bersifat

14
dominant terhadap gen kuning, sehingga gen kunng tertutupi oleh gen hijau
karena gen kuning bersifat resesif. Dominan adalah sifat yang selalu muncul pada
setiap generasi dan selalau diturunkan oleh induk kepada anaknya. Resesif adalah
tidak selalu tampak perwujudannya, walaupun sifat tersebut sebenarnya dimiliki
oleh indivudu tersebut. Fenotipe adalah sifat yang dapat dilihat atau tampak, misal
warna mata. Genotipe adalah sifat yang tidak tampak dari luar misalnya (KK) atau
(kk)

5.2 Saran
Adapun saran dari praktikum Genetika Tanaman adalah sebaiknya Kancing
hijau dilepaskan terlebih dahulu agar pada saat pengabilan tidak ada kancing yang
menyatu.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Deden. 2006. Biologi. Bandung : Grafindo Media Pratama.

15
Aryulinda., Diah., Muslim., Choirul., Manaf., Syalinaf., Winarni dan Endang.
2005. Biologi. Jakarta : Esis.
Kusdiarni, N. 1999. Genetika. Jakarta : Erlangga.
Kusdiarti, Lilik. 2006. Genetika Tumbuhan cetakan ke-5. Yogyakarta : Gadjah
Mada Press.
Pai, A.C. 1992. Dasar-Dasar Genetika Ilmu untuk Masyarakat. Jakarta : Erlangga.
Sisundar. 20011. Penuntun Praktikum Genetika. Purwokerto : UMP.
Suryo. 1994. Genetika Strata 1. Yogyakarta : Gadjah Mada Press.
Campbell, Neil A., dkk., 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Penerbit Erlangga.
Jakarta.
Goodenough, Ursula.1988. Genetika. Erlangga. Jakarta.
Kimball, W. John. 2005. Biologi Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta
Nio,Tjan Kwiauw. 1990. Genetika Dasar. ITB Press. Bandung.
Suryo. 2005. Genetika Manusia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Agus, Rosana dan Sjafaraenan. 2013. Penuntun Praktikum Genetika. Universitas
Hasanuddin. Makassar.
Borror, D.j., Triplehorn, C.A dan Johnson, N.F. 1993. Pengenalan Pelajaran
Serangga. Gadjah Mada univ press : Yogyakarta.
Brown, T.A.. 1993. Genetics A Molecular Approach. Department of Biochemistry
And Applicd Molecular, Umist, Manchester : United Kingdom.
Campbell, N.A., J.B. Reece, dan L.W. Mitchell. 2002. Biologi, edisi kelima.
Penerbit
Erlangga : Jakarta.
Crowder, L.V. 1990. Genetika Tumbuhan. UGM : Yokyakarta.
Dwijoseputro. 1977. Pengantar Genetika untuk Perguruan Tinggi. Bhrata : Jakarta.
Elrod, S. dan W. Stansfield. 2007. Genetika, edisi keempat. Penerbit Erlangga :
Jakarta.
Erik. 2009. Persilangan Dihibrid. Blot WordPress.com. 28 Desember 2009.
Ganawati, D. 2009. Pewarisan Sifat. http://www. crayonpedia.org/mw/ Pewarisan
Sifat . 21 Desember 2009.
Goodenough. 1984. Genetika Jilid I. Erlangga : Jakarta.
Imania, M. 2008. Pengenalan Lalat Buah Drosophila melanogaster.
http://www.bloogge.com/imania. 21 Desember 2009

16
Kimball, J. W. 1998. Biologi Jilid 1. Erlangga : Jakarata.
Miller, C. 2000. Drosophila melanogaster. Michigan: University of Michigan.
http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/accounts/information/Drosoph
ila_melanogaster.html . 26 September 2009.
Stricberger.1985. Genetics. Macmilan Publishing Company : New York.
Suryo. 1996. Genetika. UGM Press : Yogyakarta.
Tjan, Kiauw Nio. 1995. Genetika Dasar (Diktat). Penerbit ITB : Bandung.
Yatim, wildan. 1986. Genetika. Penerbit Tarsito : Bandung.

17