Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM

KESEHATAN DAN KESUBURAN TANAH


“PENGARUH PENAMBAHAN PUPUK ORGANIK DAN
PUPUK ANORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN
TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt.)”
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Kesehatan dan
Kesuburan Tanah

Disusun Oleh:
Nama : Reza Maulana Muhammad
NIM : 4442160006
Kelas : IVA
Kelompok : 1 (Satu)

JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2018
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi
sedikit sekali yang kitaingat.Segala puji hanya layak untuk Allah atas segala
berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga
saya dapat menyelesaikan tugas hasil laporan Praktikum ini.
Laporan yang berjudul “pengaruh penambahan pupuk organik dan pupuk
anorganik terhadap pertumbuhan tanaman jagung manis (Zea mays saccharata
Sturt.)” Meskipun saya berharap isi dari laporan praktikum saya ini bebas dari
kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang.Oleh karena itu, saya
mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar tugas Laporan praktikum
ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata saya mengucapkan terima kasih, semoga hasil laporan
praktikum saya ini bermanfaat.

Serang, Mei 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................1
1.2 Tujuan ....................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanah .....................................................................................................3
2.2 Bahan Organik dalam Tanah .................................................................3
2.3 Pengaruh Bahan Organik terhadap Kesuburan Tanah ..........................7
2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bahan Organik Tanah ..................11
2.5 Pupuk ...................................................................................................12
BAB III METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat ...............................................................................15
3.2 Alat dan Bahan .....................................................................................15
3.3 Cara Kerja ............................................................................................15
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil .....................................................................................................19
4.2 Pembahasan ..........................................................................................20
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ..........................................................................................22
5.2 Saran .....................................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Data Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Jagung ....................................19


Tabel 2. Data Hasil Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Jagung ..........................19
Tabel 3. Data Bobot Basah Tanaman Jagung ........................................................19
Tabel 4. Hasil Analisis Tanah Sebelum dan Setelah Perlakuan ............................20

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bahan organik tanah lebih mengacu pada bahan (sisa jaringan
tanaman/hewan) yang telah mengalami perombakan/dekomposisi baik sebagian
atau seluruhnya, yang telah mengalami humufikasi atau belum. BO sendiri
mempunyai fungsi yang cukup besar dalam faktor kesehatan dan kesuburan tanah
karena BO memainkan peran utama dalam pembentukan agragat dan struktur
tanah yang baik, sehingga secara tak langsung akan memperbaiki kondisi fisik
tanah, dan pada gilirannnya akan mempermudah penetrasi air, penyerapan air,
perkembangan akar, serta meningkatkan ketahan terhadap erosi dan tersedianya
BO dalam suatu tanah berarti pula tersedianya sumber karbon dan energi bagi
mikroorganisme tanah yang perannya sangat dominan dalam proses perombakan
BO (Lengkong, 2008).
Apabila ditinjau dari definisinya dapat diketahui bahwa bahan organik
merupakan salah satu komponen esensial yang perlu diperhatikan pada saat
melakukan penanaman atau budidaya. Karena perannya yang sangat besar maka
tidak heran apabila kita harus mengoptimalkan keberadaan bahan organik pada
media tanam yang kita gunakan agar didapatkan hasil yang sesuai dengan
ekspektasi.
Maka praktikum kali dilakukan guna mengetahui kelebihan dan kekurangan
pupuk organik dan anorganik, mengetahui perlakuan yang baik bagi media
tanama, mengetahui kadar bahan organik pada tanah, dan dapat
merekomendasikan kebutuhan pupuk serta memahami langkah-langkah efektif
yang bisa digunakan untuk memelihara kesehatan dan kesuburan tanah.

1.2Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah
1. Agar mahasiswa mengetahui kelebihan dan kekurangan pupuk organik dan
pupuk anorganik

1
2. Agar mahasiswa dapat membandingkan antar perlakuan yang telah
diaplikasikan di praktikum
3. Agar mahasiswa dapat melakukan uji kimia tanah di laboratorium
4. Agar mahasiswa dapat menghitung kebutuhan pupuk
5. Agar mahasiswa memahami pentingnya memelihara kesehatan dan kesuburan
tanah

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanah
Tanah adalah bagian yang terdapat pada kerak bumi yang tersusun atas
mineral dan bahan organik. Tanah merupakan salah satu penunjang yang
membantu kehidupan semua mahluk hidup yang ada di bumi. Tanah sangat
mendukung terhadap kehidupan tanaman yang menyediakan hara dan air di bumi.
selain itu, Tanah juga merupakan tempat hidup berbagai mikroorganisme yang
ada di bumi dan juga merupakan tempat berpijak bagi sebagian mahluk hidup
yang ada di darat. Dari segi klimatologi , tanah memegang peranan penting
sebagai penyimpan air dan mencegah terjadinya erosi. Meskipun tanah sendiri
juga bisa tererosi (Nabilussalam, 2011).
Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai
tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman
dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang
dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan
unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan
secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi
aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi)
bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas
tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman
obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan. Tanah terbentuk dari proses
pelapukan batuan yang dibantu oleh organisme membentuk tekstur unik yang
menutupi permukaan bumi(Nabilussalam, 2011).

2.2 Bahan Organik dalam Tanah


Tanah sebagai media pertumbuhan tanaman berada dalam kondisi yang
optimum jika komposisinya terdiri dari : 25% udara, 25% air, 45% mineral dan
5% bahan organik. Atas dasar perbandingan ini, nampak kebutuhan tanah
terhadap bahan organik adalah paling kecil. Namun demikian kehadiran bahan
organik dalam tanah mutlak dibutuhkan karena bahan organik merupakan bahan

3
penting dalam menciptakan kesuburan tanah, baik secara fisika, kimia maupun
dari segi biologi tanah (Lengkong dan Kawulusan, 2008).
Bahan organik adalah kumpulan beragam senyawa-senyawa organik
kompleks yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi, baik berupa
humus hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi
dan termasuk juga mikrobia heterotrofik dan ototrofik yang terlibat dan berada
didalamnya (Nabilussalam, 2011).
Bahan organik adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem
kompleks dan dinamis, yang bersumber dari sisa tanaman atau binatang yang
terdapat di dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena
dipengaruhi oleh faktor biologis, fisika, dan kimia. Bahan organik tanah adalah
semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk fraksi bahan
organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik didalam air, dan bahan
organik yang stabil atau humus. Kadar C-organik tanah cukup bervariasi, tanah
mineral biasanya mengandung C-organik antara 1 hingga 9%, sedangkan tanah
gambut dan lapisan organik tanah hutan dapat mengandung 40 sampai 50% C-
organik dan biasanya < 1% di tanah gurun pasir . Budidaya organik nyata
meningkatkan kandungan karbon tanah. Karbon merupakan komponen paling
besar dalam bahan organik sehingga pemberian bahan organik akan meningkatkan
kandungan karbon tanah. Tingginya karbon tanah ini akan mempengaruhi sifat
tanah menjadi lebih baik, baik secara fisik, kimia dan biologi. Karbon merupakan
sumber makanan mikroorganisme tanah, sehingga keberadaan unsur ini dalam
tanah akanmemacu kegiatan mikroorganisme sehingga meningkatkan proses
dekomposisi tanah dan juga reaksi-reaksi yang memerlukan bantuan
mikroorganisme, misalnya pelarutan P, fiksasi N dan sebagainya. Terdapat
beberapa pengertian mengenai C-organik yakni merupakan bagian dari tanah yang
merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis, yang bersumber dari sisa tanaman
dan atau binatang yang terdapat di dalam tanah yang terus menerus mengalami
perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia. C-
organik juga merupakan bahan organik yang terkandung di dalam maupun pada
permukaan tanah yang berasal dari senyawa karbon di alam, dan semua jenis
senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan

4
organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di dalam air,
dan bahan organik yang stabil atau humus (Supryono dkk, 2009).
Adapun menurut Indranada (1994), sumber-sumber bahan organik adalah:
a. Sumber primer
Sumber primer bahan organik adalah jaringan tanaman berupa akar,
batang.ranting dan buah. Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui
proses fotosintesis sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama dari
bahan organik tersebut. Unsur karbon ini berada dalam bentuk senyawa-
senyawa polisakarida seperti selulosa, hemi-selulosa, pati dan bahan-bahan
pectin dan lignin. Selain itu nitrogen merupakan unsur yang paling banyak
terakumulasi dalam bahan organik karena merupakan unsur yang paling
penting dalam mikroba yang terlibat dalam proses perombakan bahan organik
tanah. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan terangkul ke
lapisan bawah (Sutanto, 2002).Sumber primer diperoleh dari jaringan tanaman
berupa akar, batang, ranting, daun, bunga, dan buah. Jaringan ini akan
mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta
diinkorporasi dengan tanah.
b. Sumber sekunder
Sumbernya adalah binatang. Dalam kegiatannya, binatang terlebih dahulu
harus menggunakan bahan organik tanaman, setelah itu barulah binatang
menyumbang bahan organiknya. Kedua sumber bahan organik tersebut
memiliki pengaruh yang berbeda terhadap tanah. Hal ini dikarenakan
perbedaan komposisi atau susunan dari bahan organik tersebut. Jaringan
binatang berbeda dengan jaringan tumbuhan, oleh sebab itu pada jaringan
binatang umumnya lebih cepat hancur dibandingkan dengan jaringan
tumbuhan (Indranada, 1994).
Beberapa senyawa organik lebih tahan lapuk seperti lignin lemak dan
beberapa senyawa yang mengandung N melalui proses biokimia menghasilkan
suatu kelompok senyawa yang agak stabil, koloid amorf, dan berwarna gelap yang
dikenal dengan humus(Indranada, 1994). Humus merupakan salah satu bentuk
bahan organik.Jaringan asli berupa tubuh tumbuhan atau hewan baru yang belum
lapuk.Terus menerus mengalami serangan jasad-jasad mikro yang

5
menggunakannya sebagai sumber energinya dan bahan bangunan tubuhnya. Hasil
pelapukan bahan asli yang dilakukan oleh jasad mikro disebut humus (Yani,
2003).
Senyawa organik yang mudah lapuk antara lain gula, pati, protein,
hemiselulosa. Adapun hasil dari perubahan bahan organik meliputi energi, air, C,
N, S, P, K, Ca, Mg, dan lain-lain. Kadar bahan organik dalam tanah dipengaruhi
oleh kedalaman, iklim, drainase, dan pengolahan dari bahan tersebut. Mengingat
peranannya, bahan organik tanah perlu dipertahankan melalui suatu pengelolaan
yang baik (Indranada, 1994). Karbon merupakan penyusun bahan organik, oleh
karena itu peredarannya selama pelapukan jaringan tanaman sangat
penting.Sebagian besar energi yang diperlukan oleh flora dan fauna tanah berasal
dari oksidasi karbon, oleh sebab itu CO2 terus dibentuk.Berbagai perubahan yang
terjadi dan siklus yang menyertai reaksi karbon tersebut di dalam atau di luar
sistem tanah disebut peredaran karbon. Pembebasan CO2 antara lain melalui
mekanisme pelapukan bahan organi. Gas tersebut merupakan sumber CO2 tanah,
disamping CO2yang dikeluarkan akar tumbuhan dan yang terbawa oleh air
hujan.CO2yang dihasilkan tanah akhirnya akan dibebaskan ke udara, kemudian
dipakai lagi oleh tanaman (Yani, 2003).
Unsur karbon di dalam tanah berada dalam 4 wujud, yaitu wujud mineral
karbonat, unsur padat seperti arang, grafit dan batubara, wujud humus sebagai
sisa-sisa tanaman dan hewan serta mikroorganisme yang telah mengalami
perubahan, namum relatif tahan terhadap pelapukan dan wujud yang terakhir
berupa sisa-sisa tanaman dan hewan yang telah mengalami dekomposisi di dalam
tanah (Watoni dan Buchari, 2000). Adapun sifat-sifat tanah yang menganudung
organik, diantaranya : mempunyai bobot isi (bulk density) yang rendah;
mempunyai luas permukaan spesifik tinggi; mempunyai kemampuan menyerap
air yang tinggi (sampai 3 kali lipat dari bobot keringnya) ; bersifat agak plastis
tetapi tidak lekat ; mempunyai Kapasitas Tukar Kation (KTK) tinggi hingga 150-
200 me/100 g karena memiliki gugus fungsional yang banyak seperti Hidroksil (-
OH), Karboksil (-COOH), Fenolik dll ; bersifat amfotir (bertindak sebagai basa
pada kondisi asam dan bertindak sebagai asam pada kondisi alkalis) ; bersifat

6
hesteriosis jika terjadi pembasahan dan pengeringan ; memiliki titik muatan nol
(pH) sangat rendah ; dan bermuatan variable (Madjid, 2010).
Bahan organik tanah merupakan hasil dekomposisi atau pelapukan bahan-
bahan mineral yang terkandung didalam tanah. Bahan organik tanah juga dapat
berasal dari timbunan mikroorganisme, atau sisa-sisa tanaman dan hewan yang
telah mati dan terlapuk selama jangka waktu tertentu.bahan organik dapat
digunakan untuk menentukan sumber hara bagi tanaman, selain itu dapat
digunakan untuk menentukan klasifikasi tanah (Soetjipto, 1992).
Bahan organik merupakan perekat butiran lepas dan sumber utama nitrogen,
fosfor dan belerang. Bahan organik cenderung mampu meningkatkan jumlah air
yang dapat ditahan didalam tanah dan jumlah air yang tersedia pada tanaman.
Akhirnya bahan organik merupakan sumber energi bagi jasad mikro. Tanpa bahan
organik semua kegiatan biokimia akan terhenti (Doeswono,1983).
Kandungan organik tanah biasanya diukur berdasarkan kandungan C-organik
kandungan karbon (C) bahan organik bervariasi antara 45%-60% dan konversi C-
organik menjadi bahan = % C-organik x 1,724. Kandungan bahan organik
dipengaruhi oleh arus akumulasi bahan asli dan arus dekomposisi dan humifikasi
yang sangat tergantung kondisi lingkungan (vegetasi, iklim, batuan, timbunan,
dan praktik pertanian). Arus dekomposisi jauh lebih penting dari pada jumlah
bahan organik yang ditambahkan. Pengukuran kandung bahan organik tanah
dengan metode walkey and black ditentukan berdasarkan kandungan C-organik
(Foth,1994). Tanah Latosol disebut juga sebagai tanah Inceptisol. Tanah ini
mempunyai lapisan solum tanah yang tebal sampai sangat tebal, yaitu dari 130 cm
sampai 5 meter bahkan lebih, sedangkan batas antara horizon tidak begitu jelas.
Warna dari tanah latosol adalah merah, coklat sampai kekuning-
kuningan.Kandungan bahan organiknya berkisar antara 3-9 %, tapi biasanya
sekitar 5% saja (Soepardi, 2005).

2.3 Pengaruh Bahan Organik terhadap Kesuburan Tanah


Keberadaan bahan organik dalam tanah terhadap tanaman dapat memacu
pertumbuhan tumbuhan karena mengandung auksin dan hormon pertumbuhan,
meningkatkan retensi air yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman, menyuplai

7
energi bagi organisme tanah, dan meningkatkan organisme saprofit dan menekan
organisme parasit bagi tanaman (Madjid, 2010).
Pengaruh bahan organik tidak dapat disangkal terhadap kesuburan tanah.
Bahan organik mempunyai daya serap kation yang lebih besar dari pada kaloid
tanah yang liat. Berarti semakin tinggi kandungan bahan organik suatu tanah,
maka makin tinggi pula kapasitas tukar kationnya. Bahan organik tanah
merupakan penimbunan dari sisa tumbuhan dan binatang yang sebagian telah
mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan yang demikian berada
dalam proses pelapukan aktif dan menjadi mangsa jasad mikro. Sebagai akibat,
bahan itu berubah terus dan tidak mantap, dan selalu diperbaharui melalui
penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang (Soepardi, 2005).
Tanah yang baik merupakan tanah yang mengandung hara. Unsur yang
terpenting dalam tanah agar dapat mendukung kesuburan tanah salah satunya
adalah kandungan c-organik. Dimana kandungan c-organik merupakan unsur
yang dapat menentukan tingkat kesuburan tanah. Bahan organik tanah adalah
semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah,
fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di
dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus. Komponen organik tanah
berasal dari biomassa yang mencirikan suatu tanah aktif. Komponen organik tak
hidup terbentuk dari melalui pelapukan kimia dan biologi, yang dipisahkan ke
dalam bahan-bahan yang anatomi bahan aslinya masih tampak dan bahan-bahan
yang telah terlapuk sempurna.
Bahan organik tanah menjadi salah satu indikator kesehatan tanah karena
memiliki beberapa peranan kunci di tanah. Disamping itu bahan organik tanah
memiliki fungsi – fungsi yang saling berkaitan, sebagai contoh bahan organik
tanah menyediakan nutrisi untuk aktivitas mikroba yang juga dapat meningkatkan
dekomposisi bahan organik, meningkatkan stabilitas agregat tanah, dan
meningkatkan daya pulih tanah (Sutanto, 2002).
Menurut Hardjowigeno (2003), pengaruh bahan organik terhadap sifat-sifat
tanah dan akibatnya juga terhadap pertumbuhan tanaman adalah:
1. Sebagai granulator, yaitu memperbaiki struktur tanah;
2. Sumber unsur hara N, P, S, unsur mikro dan lain-lain;

8
3. Menambah kemampuan tanah untuk menahan air;
4. Menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur-unsur hara;
5. Sumber energi mikroorganisme.
Pengaruh bahan organik terhadap tanah dan kemudian terhadap tanaman
tergantung pada laju proses dekomposisinya. Secara umum faktor-faktor yang
mempengaruhi laju dekomposisi ini meliputi faktor bahan organik dan faktor
tanah. Faktor bahan organik meliputi komposisi kimiawi, nisbah C/N, kadar lignin
dan ukuran bahan, sedangkan faktor tanah meliputi temperatur, kelembaban,
tekstur, struktur dan suplai oksigen, serta reaksi tanah, ketersediaan hara terutama
ketersediaan N P, K dan S (Hanafiah, 2010).
Bahan organik yang masih mentah dengan nisbah C/N tinggi, apabila
diberikan secara langsung ke dalam tanah akan berdampak negatip terhadap
ketersediaan hara tanah. Bahan organik langsung akan disantap oleh mikrobia
untuk memperoleh energi. Populasi mikrobia yang tinggi, akan memerlukan hara
untuk tumbuh dan berkembang, yang diambil dari tanah yang seyogyanya
digunakan oleh tanaman, sehingga mikrobia dan tanaman saling bersaing
merebutkan hara yang ada. Akibatnya hara yang ada dalam tanah berubah menjadi
tidak tersedia karena berubah menjadi senyawa organik mikrobia.Kejadian ini
disebut sebagai immobilisasi hara (Atmojo, 2003).
Nisbah C/N berguna sebagai penanda kemudahan perombakan bahan organik
dan kegiatan jasad renik tanah akan tetapi apabila nisbah C/N terlalu lebar, berarti
ketersediaan C sebagai sumber energi berlebihan menurut bandingannya dengan
ketersediaanya N bagi pembentukan mikroba. Kegiatan jasad renik akanterhambat
(Priambada dkk,2005). Karbon diperlukan mikroorganisme sebagai sumber energi
dan nitrogen diperlukan untuk membentuk protein. Apabila ketersediaan karbon
terbatas (nisbah C/N terlalu rendah) tidak cukup senyawa sebagai sumber energi
yang dapat dimanfaatkan mikroorganisme untuk mengikat seluruh nitrogen
bebas.Apabila ketersediaan karbon berlebihan (C/N > 40) jumlah nitrogen sangat
terbatas sehingga menjadi faktor pembatas pertumbuhan organisme (Wallace and
Teny, 2000). Pada tanah dengan drainase buruk, dimana air berlebih, oksidasi
terhambat karena kondisi aerasi yang buruk. Hal ini menyebabkan kadar bahan
organik dan N tinggi daripada tanah berdrainase baik. Di samping itu vegetasi

9
penutup tanah dan adanya kapur dalam tanah juga mempengaruhi kadar bahan
organik tanah. Vegetasi hutan akan berbeda dengan padang rumput dan tanah
pertanian. Faktor-faktor ini saling berkaitan, sehingga sukar menilainya sendiri
(Hakim dkk, 1986).
Bahan organik yang terkandung di dalam tanah lebih tinggi yang
mengakibatkan tanah pada lapisan ini cenderung lebih gelap, terutama pada
lapisan I, karena merupakan lapisan paling atas. Faktor yang mempengaruhi
bahan organik tanah adalah kedalaman lapisan dimana menentukan kadar bahan
organik dan N. Kadar bahan organik terbanyak ditemukan di lapisan atas, setebal
20 cm (15-20) %, makin ke bawah makin berkurang, contohnya pada setiap
lapiasan tanah inseptisol, makin ke bawah (Lapisan II) warnanya lebih muda
daripada lapisan I, dan II. Faktor iklim yang berpengaruh adalah suhu dan curah
hujan. Makin ke daerah dingin kadar bahan organik dan N makin tinggi. Drainase
buruk dimana air berlebih, oksidasi terhambat karena aerasi buruk menyebabkan
kadar bahan organik dan N tinggi daripada tanah berdrainase baik (Hakim dkk,
1986). Pori air tidak tersedia adalah pori tanah dengan garis tengah lebih kecil dari
0,2𝜇𝑚 yang setara dengan kadar air pada pF 4,2. Presentasi pori air tidak tersedia
merupakan air merupakan nilai kadar lengas pada pF 4,2 dikali berat volume
tanah (Putinella, 2011).
Analisis kadar air adalah usaha untuk mengetahui persentase air yang ada
dalam bahan baku pakan unggas. Biasanya bahan baku yang akan diuji
dikeringkan atau kadar air yang ada di dalam bahan baku dikeluarkan (diuapkan).
Selanjutnya ditimbang, dan ada perbedaan beberapa persen dengan bahan baku
sebelum dikeringkan.
Kadar oksigen dalam tanah selalu berlawanan dengan kadar air dalam tanah.
Jika kadar air tinggi, kadar O2 akan rendah. Keberadaan O2 dalam tanah sangat
penting untuk respirasi sel-sel akar yang akan berkaitan dengan penyerapan unsur
hara (transpirasi aktif). Kadar air di hitung dengan menggunakan berat air dan
berat benda uji kering, pada tanah berbutir halus (kohesif), konsistensi tanah yang
diberikan tergantung pada kadar airnya, sedangkan kadar air tanah yang
berhubungan dengan batas cair dan batas palstik digunakan untuk menyatakan
konsistensi relative atau indek kecairan. (Murtidjo, 2006)

10
2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bahan Organik Tanah
Menurut Sutanto (2002) faktor-faktor yang mempengaruhi bahan organik
dalam tanah Alfisol adalah kedalaman tanah, iklim, drainase, tekstur tanah dan
vegetasi. Kadar bahan organik terbanyak ditemukan pada lapisan atas setebal 20
cm, sehingga lapisan tanah makin ke bawah makin kurang bahan organik yang di
kandungnya.
1. Kedalaman Tanah
Dikarenakan karakterisitk bahan-bahan organik yang terkonsentrasi
dipermukaan dari sumber bahan organik yang melimpah. Maka
kandungan bahan organik terbesar ada pada lapisan tanah atas
(horizon A) setebal kira-kira 20 cm (15-20%) dan akan berkurang
dalam bertambahnya kedalaman tanah.
2. Iklim
Iklim merupakan rerata cuaca pada jangka panjang minimal permusim
atau perperiode, dan seterusnya, dan cuaca adalah kondisi iklim pada
suatu waktu berjangka pendek misalnya harian, mingguan, bulanan
dan masimal semusim atau seperiode.
3. Drainase
Drainase yang buruk dan air berlebih akan menjadikan bahan-bahan
organik tersapu dan hilang sehingga biasanya pada tanah dengan
drainase buruk kandungan BO meningkat. Sedangkan pada
tanah/lahan dengan drainase yang baik akan memiliki BO yang
rendah.
4. Tekstur Tanah
BO akan lebih tinggi pada tanah dengan tekstur liat. Pada tanah pasir
karena oksigen dalam tanah banyak (dikarenakan porimakro) maka
oksidasi terhadap bahan organik akan berjalan lebih cepat.
5. Vegetasi
Fungsi vegetasi adalah dalam melindungi lapisan atas tanah (lapisan
yang paling banyak mengandung BO) dari tekanan air hujan.
Sehingga BO tidak tersapu oleh air. Sedangkan kapur sangat

11
mempengaruhi PH tanah padahal organisme pengoksidasi hanya dapat
bekerja pada PH tertentu (Sutanto, 2002).

Pengaruh bahan organik terhadap tanah dan kemudian terhadap tanaman


tergantung pada laju proses dekomposisinya. Secara umum faktor-faktor yang
mempengaruhi laju dekomposisi ini meliputi faktor bahan organik dan faktor
tanah. Faktor bahan organik meliputi komposisi kimiawi, nisbah C/N, kadar lignin
dan ukuran bahan, sedangkan faktor tanah meliputi temperatur, kelembaban,
tekstur, struktur dan suplai oksigen, serta reaksi tanah, ketersediaan hara terutama
N P, K dan S (Hanafiah, 2010).

2.5 Pupuk
Senyawa yang mengandung unsur hara yang diberikan pada tanaman disebut
dengan pupuk. Suatu pupuk umumnya terdiri komponen-komponen yang
mengandung unsur hara, zat penolak air, pengisi, pengatur konsistensi, kotoran,
dll. Bagian yang tidak mengandung unsur hara tersebut akan menurunkan kadar
hara dalam pupuk tersebut. Pengelompokan pupuk dapat dilakukan dengan tiga
cara, yaitu menurut Sambodo, J. (1996):
1. Pupuk alam dan pupuk buatan
2. Pupuk menurut unsur-unsur yang dikandungnya
3. Pupuk organik dan pupuk nonorganik.
Sedangkan pemupukan adalah usaha menambah atau mengganti hilangnya
beberapa jenis unsur yang hilang bersama proses bercocok tanam. Proses yang
menyebabkan hilangnya beberapa unsur adalah menurut Sambodo, J. (1996):
a. Pemanenan dengan cara pencabutan sampai ke akar
b. Hanyut bersama dengan air saat penyiraman.
Macam-macam pupuk yang dapat digunakan antara lain. Menurut Sambodo, J.
(1996):
1. Pupuk Kandang
Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran ternak.
2. Pupuk Kompos

12
Pupuk kompos adalah pupuk yang berasal dari pembusukan sampah organik.
Misalnya dari sisa pembusukan daun atau bagian tanaman lain yang sudah
mati.
3. Pupuk Hijau
Pupuk hijau adalah pupuk yang berasal dari tumbuhan yang sengaja dicabut,
kemudian ditanam disekitar lahan pertanian. Tanaman yang sering ditanam
adalah tanaman jenis kacang-kacangan.( Fachrudin, 2000)
4. Pupuk Anorganik atau Pupuk Buatan
Pupuk anorganik adalah macam-macam pupuk yang dibuat oleh pabrik (Basri,
2012). Contohnya:
a. Amonium Sulfat (NH4)2SO4 atau sering disebut ZA
Pupuk ZA adalah pupuk kimia buatan yang dirancang untuk memberi
tambahan hara nitrogen dan belerang bagi tanaman. Nama ZA adalah singkatan
dari istilah bahasa Belanda, zwavelzure ammoniak, yang berarti amonium sulfat
(NH4SO4). Wujud pupuk ini butiran kristal mirip garam dapur dan terasa asin di
lidah. Pupuk ini higroskopis (mudah menyerap air) walaupun tidak sekuat pupuk
urea. Karena ion sulfat sangat mudah larut dalam air sedangkan ion amonium
lebih lemah, pupuk ini berpotensi menurunkan pH tanah yang terkena aplikasinya
sehingga hanya cocok digunakan pada tanah alkalin. Dibandingkan pupuk lain
(misal amonium nitrat), pupuk ini mengandung lebih sedikit kadar nitrogen
sehingga mampu meningkatkan biaya pemupukan per massa nitrogen yang
diberikan pada usaha pertanian.
b. Nitrogen Posfor Kalium (NPK)
Pupuk NPK merupakan pupuk majemuk yang mengandung unsur hara utama
lebih dari dua jenis. Dengan kandungan unsur hara Nitrogen 15 % dalam bentuk
NH3, fosfor 15 % dalam bentuk P2O5, dan kalium 15 % dalam bentuk K2O. Sifat
Nitrogen (pembawa nitrogen ) terutama dalam bentuk amoniak akan menambah
keasaman tanah yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman.
c. Urea
Urea diberikan dengan dosis yang berbeda pada setiap perlakuan yaitu 90 kg N
Ha-1 pada perlakuan J1N1 dan J2N1 serta 135 kg N Ha-1 pada perlakuan J1N2
dan J2N2. Pengaruh dari unsur nitrogen terhadap tanaman adalah merangsang

13
pertumbuhan. Urea yang diberikan dalam percobaan ini adalah urea dalam bentuk
kristal. Karakter dari urea adalah cepat menghilang baik melalui pencucian dalam
bentuk ion nitrat (NO3-), penguapan, denitrifikasi, maupun terkena erosi. Untuk
mengurangi penguapan urea ke atmosfer, pemberian urea dilakukan dengan cara
dibenamkan dalam tanah.
d. ASN atau Amonium Sulfat Nitrat
Ammonium Sulfat Nitrat adalah pupuk yang diproduksi oleh Ruhr-sticstoff A.
G. Jerman, merupakan garam rangkap dari ammonium sulfat dan ammonium
nitrat. Pupuk ini diperdagangkan dalam bentuk kristal berwarna seperti kuning
kemerah-merahan
e. SP-18 (18% P2O5)
Unsur makro yang didapat dari pupuk ini adalah fosfor (P) yang berperan
dalam pembelahan sel, pembentukan bunga, buah, dan biji; mempercepat
pematangan; memperkuat batang; perkembangan akar; serta berperan dalam
transfer energi. Dalam tanah masam banyak unsur P baik yang telah berada di
dalam tanah maupun yang diberikan ke tanah sebagai pupuk. Karena P mudah
difiksasi maka pemberian pupuk P tidak disebarkan tetapi diberikan dalam larikan
agar kontak dengan tanah seminimum mungkin sehingga kemungkinan fiksasi P
oleh Al dan Fe dapat dikurangi. Dosis SP-18 yang diberikan untuk petakan seluas
10 m x 7,5 m dibutuhkan 540 gr SP-18.
f. KCL
Unsur makro yang didapatkan adalah kalium (K) yang berperan dalam
pembentukan pati, pengaktifan enzim, pengaturan stomata, berperan dalam proses
fisiologis dan metabolik sel serta berperan dalam perkembangan akar. Dosis
pupuk KCL yang diberikan adalah untuk luasan 10 m x 7,5 m adalah sebanyak
450 gr KCL. Beberapa gangguan baik berupa penyakit ataupun hama yang
mengganggu pertumbuhan tanaman jagung pada percobaan kami antara lain
serangan hama (ulat, belalang, rayap, dan kutu daun) dan gejala kekurangan
fosfor. Serangan hama dicegah dengan penyemprotan insektisida Supracide 25 wp
12 gr yang disemprotkan pada tanaman saat berumur 6 MST.

14
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum “Penambahan Pupuk Organik dan Anorganik Terhadap
Pertumbuhan Tanaman Jagung Manis” dilaksanakan pada hari Senin 22 Maret -
17 Mei 2018 pukul 14:40 – 16:10 WIB bertempat di Laboratorium Bioteknologi
Agroekoteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2 Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum dengan judul
“Penambahan Pupuk Organik dan Anorganik Terhadap Pertumbuhan Tanaman
Jagung Manis” adalah pengayak tanah, polybag, emrat, penggaris, pipet
volumetrik, sendok spatula, erlenmeyer, tabung reaksi, neraca analitik, pipet tetes,
rak tabung, label, pengaduk, botol semprot, pH meter, shaker, stirrer, tisu, tanah
kontrol, pupuk kotoran hewan/kandang, pupuk NPK, larutan P-1 30 tetes/1,5 ml,
bubuk P-2 seujung spatula/5 butir, larutan C-1 0,5 ml/10 tetes, larutan C-2 2 tetes,
larutan K-1 2 ml, larutan K-2 1 tetes, larutan K-3 1 tetes, larutan pH-1 sebanayak
2ml/40 tetes, larutan pH-2 sebanyak 1 tetes, larutan H2O sebanyak 25 ml, dan
larutan KCl sebanyak 25 ml.

3.3 Cara Kerja


Adapun cara kerja dalam praktikum ini diantaranya sebagai berikut:
3.3.1 Penanaman Jagung Manis
Adapun cara kerja dari penanaman jagung manis pada praktikum kali ini
adalah:
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan,
2. Direndam benih jagung manis untuk mendapatkan hasil benih yang
baik untuk ditanam,
3. Ditimbang tanah sebanyak 1 kg untuk 4 perlakuan,
4. Ditimbang pupuk kandang 1 kg untuk 2 kali dan pupuk NPK 1 kg untuk
2 kali,

15
5. Dicampurkan tanah dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1
dan dimasukkan ke dalam polibag
6. Dicampurkan tanah dengan pupuk NPK dengan perbandingan 1:1 dan
dimasukkan ke dalam polibag
7. Dicampurkan tanah dengan pupuk kandang dan pupuk NPK dengan
perbandingan 1:1 dan dimasukkan ke dalam polibag
8. Ditanami benih jagung manis 2-3 benih pada masing-masing perlakuan,
9. Diberikan perawatan pada tiap perlakuan dengan penyiraman 2x sehari
pada pagi dan sore hari,
10. Diamati tinggi dan jumlah daun pada 10 HST, 20 HST, 30 HST, dan 40
HST
11. Setelah 40 HST, tanaman jagung manis dipanen dan dipisahkan tiap
bagiannya dan ditimbang dengan neraca analitik.
3.3.2 Uji P
Adapun cara kerja dari pengujian P pada praktikum kali ini adalah:
1. Sampel contoh tanah diambil sebanyak ¼ sendok spatula atau sekitar
0,25 ml dan ditaruh di tabung reaksi
2. Larutan perangkat P-1 ditambah sebanyak 1,5 ml, lalu dikocok dengan
vortex
3. Ditambahkan perangkat P-2 sebanyak 5 butir, lalu dikocok selama 1
menit dengan bantuan stopwatch
4. Tanah yang sudah tercampur dengan semua perangkat tersebut
didiamkan selama 10 menit,
5. Warna yang muncul pada larutan dibandingkan dengan bagan warna uji
P pada tanah
3.3.3 Uji K
Adapun cara kerja dari pengujian K pada praktikum kali ini adalah:
1. Sampel contoh tanah diambil sebanyak ¼ sendok spatula atau sekitar
0,25 ml dan ditaruh di tabung reaksi
2. Perangkat K-1 ditambahkan sebanyak 2 ml, lalu bersama sampel tanah
dikocok dengan vortex dan selanjutnya didiamkan selama 5 menit
hingga larutannya berubah menjadi jernih

16
3. Perangkat K-2 ditambahkan sebanyak 1 tetes, lalu dikocok dengan alat
4. Perangkat K-3 ditambahkan sebanyak 1 ml dengan lewat dinding
tabung, setelah itu kabut yang muncul diamati dan dibandingkan
dengan bagan
3.3.4 Uji pH
Adapun cara kerja dari pengujian pH pada praktikum kali ini adalah:
1. Sampel contoh tanah diambil sebanyak ¼ sendok spatula atau sekitar
0,25 ml dan ditaruh di tabung reaksi
2. Perangkat pH-1 ditambahkan sebanyak 2 ml, lalu beserta sampel tanah
tersebut dikocok dengan alat pengaduk atau vortex
3. Perangkat pH-2 ditambahkan sebanyak 1 tetes
4. Sampel tanah dan semua perangkat yang telah tercampur tersebut
didiamkan selama 10 menit, lalu dibandingkan dengan bagan warna
5. Larutan diukur pHnya dengan alat pH meter, lalu data dicatat.
3.3.5 Uji C-Organik
Adapun cara kerja dari pengujian C-Organik pada praktikum kali ini adalah:
1. Sampel contoh tanah diambil sebanyak ¼ sendok spatula atau sekitar
0,25 ml dan ditaruh di tabung reaksi
2. Perangkat C-1 ditambahkan sebanyak 0,5 ml, lalu beserta sampel tanah
tersebut dikocok dengan alat pengaduk atau vortex
3. Perangkat C-2 ditambahkan sebanyak 2 tetes, dan jangan diaduk
4. Sampel tanah dan semua perangkat yang telah tercampur tersebut
didiamkan selama 10 menit, lalu diamati dan dibandingkan dengan
bagan warna.
3.3.6 Uji pH H2O
Adapun cara kerja dari pengujian pH H2O pada praktikum kali ini adalah:
1. Ditimbang sampel tanah seberat 5 gram
2. Ditambahkan larutan H2O sebanyak 25 ml
3. Di shaker sampel tanah beserta larutan H2O selama 15 menit,
4. Setelah di shaker, larutan yang sudah tercampur tersebut ditunggu
selama 5 menit,
5. Larutan diukur pHnya dengan pH meter lalu dicatat

17
3.3.7 Uji pH KCl
Adapun cara kerja dari pengujian pH KCl pada praktikum kali ini adalah:
1. Ditimbang sampel tanah seberat 5 gram
2. Ditambahkan larutan KCl sebanyak 25 ml
3. Di shaker sampel tanah beserta larutan KCl selama 15 menit
4. Setelah di shaker, larutan yang sudah tercampur tersebut ditunggu
selama 5 menit,
5. Larutan diukur pHnya dengan pH meter lalu dicatat

18
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1. Data Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Jagung
MST
Perlakuan 10 20 30 40
U1 U2 U1 U2 U1 U2 U1 U2
Kontrol 17,7 18,9 31 38 - - - -
Tanah + Kohe 31,8 23 58 53 - - - -
Tanah + NPK - - - - - - - -
Tanah + Kohe + NPK - - - - - - - -
Rata-rata - - - - - - - -

Tabel 2. Data Hasil Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Jagung

MST
Perlakuan
10 20 30 40
U1 U2 U1 U2 U1 U2 U1 U2
Kontrol 3 3 4 4 - - - -
Tanah + Kohe 4 3 6 6 - - - -
Tanah + NPK - - - - - - - -
Tanah + Kohe + NPK - - - - - - - -
Rata-rata 16,28 - - - - - - -

Tabel 3. Data Bobot Basah Tanaman Jagung


Perlakuan Berat Basah Tanaman Jagung (Kg)
Kontrol 0,010
Tanah + Kohe 0,025
Tanah + NPK -
Tanah + Kohe + NPK -

19
Tabel 4. Hasil Analisis Tanah Sebelum dan Setelah Perlakuan

Hasil Tanah pH 1:5 Status PUTK

Perlakuan
H2O KCL pH P K C-Organik

Kontrol 5,21 5,44 Agak masam Sedang Sedang Rendah


Tanah + Kohe 6,39 5,57 Agak masam Tinggi Tinggi Rendah
Tanah + NPK 5,94 5,29 Agak masam Tinggi Sedang Rendah
Tanah + Kohe
6,37 5,48 Agak masam Sedang Tinggi Rendah
+ NPK

4.1 Pembahasan
Pengambilan sampel tanah digunakan untuk suatu metode analisis tanah.
Analisis tanah dilakukan terhadap suatu sampel yang ada di lapangan. Praktikum
kali ini mendapatkan hasil dengan pengambilan sampel., praktikum ini telah
melakukan pengambilan sampel dengan metode sampel tanah utuh. Hal ini
dilakukan agar mendapatkan sampel tanah yang kondisinya sesuai dengan kondisi
dilapangan. Selanjutnya sampel tanah utuh ini digunakan untuk menganalisis sifat
fisik tanah yaitu untuk menentukan nilai bulk density dan kadar air lapang..
Sampel diambil secara langsung dari badan tanah yang di daerah Karangkitri.
Sampel ini hanya menggambarkan karakteristik tanah pada saat pengambilan
sampel. Kelebihan cara ini adalah mudah dan hemat waktu dan perlatan. Namun
kelemahannya adalah kurang akurat.
Menurut Madjid (2010) keberadaan bahan organik dalam tanah terhadap
tanaman dapat memacu pertumbuhan tumbuhan karena mengandung auksin dan
hormon pertumbuhan, meningkatkan retensi air yang dibutuhkan bagi
pertumbuhan tanaman, menyuplai energi bagi organisme tanah, dan meningkatkan
organisme saprofit dan menekan organisme parasit bagi tanaman.
Dari data diatas dpat diketahui bahwa pertumbuhan terbaik terdapat pada
perlakuan tanah + kompos yaitu untuk 10 HST pada U1 yaitu 17,7 cm dan U2
yaitu 23 cm, pada 20 HST sampel U1 58 cm dan U2 53 cm. hasil tersebut lebih
baik dibandingkan perlakuan lainnya.

20
Pada perlakuan tanah + NPK dan Tanah+NPK+kohe tidak terjadi
perkecambahan sama sekali, dan pada 30 HST semua tanaman mati, hal tersebut
mungkin diakibatkan kurangnya penyiraman oleh praktikan.
Peranan dari media tanamn juga disini sangat penting karena menunjang
pertumbuhan dan perkembangan bagi tanaman maka media tanam dijadika salah
satu faktor yang unsur di dalamnya perlu diperhatikan. Seperti kandungan pupuk
yang diberikan pada sampel tanah NPK mungkin kandungan nya terlalu banyak
dengan perbandingan 1:1 – tanah:NPK, maka dibutuhkan jumlah rekomendasi
pupuk yang baik pada jumlah tanah sepersekian sehingga menghasilkan tanaman
dengan pertumbuhan yang optimal. Hal tersebut pun dinyatakan pada literatur
menurut Sambodo (1996) bahwa senyawa yang mengandung unsur hara yang
diberikan pada tanaman disebut dengan pupuk. Suatu pupuk umumnya terdiri
komponen-komponen yang mengandung unsur hara, zat penolak air, pengisi,
pengatur konsistensi, kotoran, dll. Bagian yang tidak mengandung unsur hara
tersebut akan menurunkan kadar hara dalam pupuk tersebut.
Seharusnya tanaman mengalami pertumbuhan dengan baik pupuk yang
ditambahkan pada tanah memiliki sifat untuk melengkapi nutrisi yang dibutuhkan
oleh tanaman, seperti yang dinyatakan oleh Basri (2012) bahwa pupuk NPK
merupakan pupuk majemuk yang mengandung unsur hara utama lebih dari dua
jenis. Dengan kandungan unsur hara Nitrogen 15 % dalam bentuk NH3, fosfor 15
% dalam bentuk P2O5, dan kalium 15 % dalam bentuk K2O. Sifat Nitrogen
(pembawa nitrogen ) terutama dalam bentuk amoniak akan menambah keasaman
tanah yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman. Namun, seperti yang sudah
dinyatakan sebelumnya bahwa dikarenakan kelalaian praktikan banyak sampel
jagung manis yang tidak tumbuh sebagaimana mestinya. Hal ini semoga dapat
dijadikan acuan ke depannya guna lebih menghargai setiap sampel pada
praktikum apa pun untuk lebih diperhatikan dan lebih banyak bertanya pada
asisten laboratorium mengenai apa saja yang harus dilakuna agar mendapat hasil
yang optimal.

21
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Dalam praktikum ini dapat disimpulkan bahwa pengamatan pada perlakuan
tanah+kohe mendapatkan hasil pertumbuhan tinggi tanaman yang terbaik
dibandingkan perlakuan control, Kemudian banyaknya benih jagung manis yang
tidak tumbuh pada beberapa tanah perlakuan yang kami berikan pada sampel
kemungkinan disebabkan kurangnya perawatan terhadap kriteria tumbuh tanaman
dimana tanaman jagung membutuhkan sinar matahari optimal maka seharusnya
kami sering melakukan cek terhadap sampel tanaman namun karena kesibukan
yang sama kami tidak melakukan hal tersebut dan lalai dalam pengujian sampel
tanaman jagung manis kali ini

5.2 Saran
Dalam praktikum ini saran yang bisa diberikan adalah sebaiknya tanaman
yang akan diamati diperhatikan kebutuhan air dan sinar matahari agar dapat
tumbuh optimal

22
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, M. 2010. Kajian Sifat FisikaTanah dan Berbagai Penggunaan Lahan dalam
Hubungannya dengan Pendugaan Erosi Tanah. Jurnal Pertanian MAPETA
Vol.XII.(2) : 72 –144
Atmojo, S.W. 2003. Peranan Bahan Organik Terhadap Kesuburan Tanah Dan
Upaya Pengolahannya. Sebelas Maret University Press: Surakarta.
Bachtiar, E.,2006. Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian USU, Medan.
Basri, Hasan. 2012. Dasar-Dasar Agronomi Edisi Revisi. Jakarta: PT Grafindo
Doeswono,1983. Ilmu-Ilmu Terjemahan. Bhtara Karya Aksara : Jakarta.
Fachrudin, Lisdiana. 2000. Budidaya Kacang-Kacangan. Yogyakarta: penerbit
Foth, H. D, 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Jilid ke Enam . Erlangga. Jakarta.
Hakim. N, Yusuf Nyakpa, A. M Lubis, S. G. Nugroho, Rusdi Saul, Amin Diha,
Go Bang Hong, H. H. Bailey, 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas
Lampung: Lampung.
Hanafiah, Ali Kemas. 2010. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Raja Grafindo Persada:
Jakarta.
Hardjowigeno, S., 2003. Ilmu Tanah. Akademika Presindo, Jakarta.
Indranada K. Henry. 1994. Pengelolaan Kesuburan Tanah. Bumi Aksara.
Jakarta.
Lengkong, J.E., dan Kawulusan R.I. 2008. Pengelolaan Bahan Organik Untuk
Memelihara Kesuburan Tanah. Soil Environment, Vol. 6, No. 2, Hal : 91-
97.
Madjid. 2010. Sifat dan Ciri Tanah. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor:
Bogor.
Murtidjo.B., 2006. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
Nabilussalam. 2011. C-Organik Dan Pengapuran. Pesantren Luhur Malang:
Malang.
Priambada,I.D., J.Widodo dan R.A. Sitompul. 2005. Impact of Landuse Intency
on Microbal Community in Agrocosystem of Southern Sumatra
International Symposium on Academic Exchange Cooperation Gadjah
Mada University and Ibraki University. Gadjah Mada University Press :
Yogyakarta
Putinella.J. A. 2011. Perbaikan Sifat Fisik Tanah Regosol dan Pertumbuhan
Tanaman Sawi (Brassica juncea L.). Universitas Pattimura. Ambon.

23
Rayes, M.L. 2006. Deskripsi Profil Tanah di Lapangan. Unit Penerbitan Fakultas
Pertanian Universitas Brawijaya
Rosmarkam Afandie dan Nasih Widya Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah.
Kanisius : Yogyakarta
Sambodo, J. 1996. Kehidupan Tumbuhan. PT. Gramedia. Jakarta.
Soepardi. 2005. Masalah Kesuburan Tanah di Indonesia. Departemen Ilmu Tanah
Fakultas Pertanian IPB: Bogor.
Soetjipto, dkk. 1992. Dasar - Dasar Irigasi. Erlangga: Jakarta.
Supryono, dkk. 2009. Kandungan C-Organik Dan N-Total Pada Seresah Dan
Tanah Pada 3 Tipe Fisiognomi (Studi Kasus Di Wanagama I, Gunung
Kidul, Diy). JurnalIlmu Tanah dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 p: 49-57
Sutanto, R. 2002. Pertanian Organik. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.
Tan, Kim. H. 1996. Soil Sampling, Preparation and Analysis. Marcel Dekker, Inc:
New York
Wallace, A., R.G and Teny. 2000. Handbook of Soil Conditioners Subsistance
That Enhance the Physical Properties of Soil.Marcell Pecker Inc. New
York: Amerika.
Watoni, A.H., dan Buchari. 2000. Studi Aplikasi Metode Potensiometri Pada
PenentuanKandungan Karbon Organik Total Tanah. JMS Vol. 5 No. 1,
hal. 23 – 40.
Yani, A. 2003. Beberapa Pendekatan Pengukuran Karbon Tanah Gambut Di
Jambi. Institut Pertanian Bogor:

24
LAMPIRAN

Penanaman dan pengukuran tinggi jagung

Gambar 1. Pembuatan Gambar 2 Gambar 3 Pengukuran


media tanaman Penanaman benih tinggi tanaman jagung
jagung dengan jagung pada semua setelah 40 HST
perbandingan 1:1dan perlakuan
1;1:1 pada tanah
campuran

Cara kerja Uji P

Gambar 4. Gambar 5. Pemberian Gambar 6. Proses


Pemasukkan tanah cairan p1 pada uji P stirrer uji P
kedalam cuvet

Gambar 7 Penambahan Gambar 8. Perbandingan


p2 pada uji P dengan bagan warna
25
Cara kerja uji K

Gambar 9. Pemasukkan Gambar 10. Gambar 11. Penetesan


tanah kedalam cuvet Penambahan cairan K1 cairan K2

Gambar 12. Proses Gambar 13. Gambar 14.


stirrer uji K Penambahan k3pada Perbandingan dengan
uji K bagan warna
Cara kerja uji C Organik

Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17. Proses


Pemasukkan tanah Penambahan cairan stirrer uji C
kedalam cuvet C1

26
Gambar 18. Penetesan Gambar 19.
cairan C2 Pengukuran tinggi
unsur hara c organic

Cara kerja uji pH Cara kerja uji C Organik

Gambar 21. Gambar 22. Proses


Gambar 20.
Penambahan cairan stirrer uji pH
Pemasukkan tanah
pH1
kedalam cuvet

Gambar 23. Gambar 24. Proses Gambar 25.


Pemasukkan tanah pendiaman larutan Perbandingan dengan
kedalam cuvet hingga berubah warna bagan warna

27
Cara kerja uji pH menggunakan pH meter

Gambar 26. Penimbangan Gambar 27. Pemberian Gambar 28.


sampel tanah sebanyak 5 25 ml H2O Pemberian 25 ml
gram KCl

Gambar 29. Proses Gambar 30. Larutan Gambar 3. Pengujian


shaker selama 15 yang sudah di menggunakan alat
menit shakker pH meter

28