Anda di halaman 1dari 34

1

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki iklim tropis dan kaya

akan keanekaragaman hayati. Hal ini menunjukan bahwa banyak tanaman yang

digunakan sebagai tanaman obat, sehingga tidak jarang dijumpai beragam pengobatan

tradisional (Dalimartha dan Adrian, 2013). Menurut Utami dan Tim Lentera (2005)

tanaman obat adalah suatu jenis tanaman yang sebagian, seluruh tanaman, dan

eksudat (sel) tanaman tersebut digunakan sebagai obat, bahan, atau ramuan obat-

obatan.

Tanaman pepaya (Carica papaya Linn) merupakan salah satu tanaman yang

digunakan sebagai tanaman obat. Tanaman ini tumbuh di daerah tropis yang berasal

dari Meksiko dan Kosta Rika dan disebarkan oleh pedagang Spanyol ke berbagai

negara. Perkembangan selanjutnya tanaman pepaya dapat hidup dan berkembangbiak

dengan baik di daerah subtropis. Di Indonesia tanaman pepaya masuk sekitar abad

ke- 19 (Suprapti, 2005). Tanaman pepaya mempunyai beragam khasiat dari akar,

batang, daun dan buah karena memiliki beberapa senyawa yang mampu

menyembuhkan berbagai penyakit .

Menurut Latief (2014) daun pepaya dapat digunakan untuk pengobatan

jerawat dengan cara daun dijemur, dilumatkan sambil diberi sedikit air, diperas dan

sari daun pepaya dioleskan pada jerawat. Pada umumnya, masalah jerawat dialami

oleh lebih dari 80% populasi masyarakat yang berusia 12-44 tahun. Jerawat terjadi
2

akibat produksi hormon androgen meningkat drastis dan berimbas pada peningkatan

sekresi keratin dan sebum. Benjolan jerawat terbentuk ketika sekresi sebum melebihi

kemampuan kulit untuk mengeluarkannya melalui pori-pori. Sebum yang lengket

memudahkan bakteri dan kotoran terjebak di dalamnya dan menimbulkan infeksi

(Winarno dan Ahnan, 2014).

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya gel ekstrak daun Pepaya efektif

terhadap Staphyploccus epidermis, sehingga disimpulkan dalam penelitian ini gel

ekstrak daun pepaya bermanfaat untuk mencegah bertambah parahnya jerawat, yaitu

mencegah terjadinya infeksi sekunder oleh Staphyploccus epidermis (Ardina, 2007).

Wagner dan wolff (1976) mengatakan karpein adalah alkaloid berasal dari tanaman

Pepaya, yang mempunyai sifat anti amuba dan anti bakteri.

Krim merupakan obat yang digunakan sebagai obat luar yang dioleskan ke

bagian kulit tubuh. Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau alkohol berantai

dalam air, yang dapat dicuci dengan air serta lebih ditujukan untuk pemakaian

kosmetik dan estetika (Widodo, 2013). Krim memiliki penampakan yang menarik

konsistensi yang menyenangkan serta memudahkan dalam pemakaian (Tranggono

dan Latifa, 2007). Adapun beberapa pengujian sediaan krim yaitu uji organoleptik,

uji homogenitas, uji daya serap, uji ukuran partikel, pengujian dilakukan untuk

memenuhi persyaratan sediaan krim. Dalam pengujian sediaan harus memiliki krim

pembanding, krim pembanding yang akan digunakan yaitu krim Nivea Soft.

Suatu cara untuk menarik satu atau lebih zat dari bahan asal adalah proses

ekstraksi. Maserasi merupakan salah satu metode ekstraksi dengan cara dingin.
3

Pemilihan maserasi didasarkan dari kegunaannya yaitu dapat menyari simplisia yang

mengandung komponen kimia dan mudah larut dalam cairan penyari serta

menggunakan peralatan yang sederhana (Depkes, 1985).

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian

tentang Pembuatan Krim Anti Jerawat dari Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya,

Linn).

B. Rumusan masalah

Apakah Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya, Linn) dapat dibuat menjadi

Krim Anti Jerawat yang memenuhi persyaratan sediaan krim?

C. Tujuan penelitian

1. Untuk membuat sediaan Krim Anti Jerawat dari Ekstrak Daun Pepaya (Carica

papaya, Linn).

2. Untuk menguji Krim Anti Jerawat dari Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya,

Linn) sesuai persyaratan sediaan krim?

D. Manfaat penelitian

1. Dapat memberikan pengembangan tentang tanaman Pepaya (Carica papaya,

Linn) dalam ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang farmasi.

2. Memberikan informasi tentang pemanfaatan tanaman Pepaya (Carica papaya,

Linn) di masyarakat.
4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Krim

Menurut Lachman dkk (1994) krim merupakan sistem emulsi sediaan semi

padat dengan penampilan tidak jernih, berbeda dengan salep yang tembus cahaya.

Konsistensi dan sifat rheologisnya tergantung pada jenis emulsinya, apakah jenis air

dalam minyak atau minyak dalam air, dan juga pada sifat zat padat dalam fase

internal.

Krim adalah formulasi sediaan yang dapat bercampur dengan sekresi kulit.

Krim dapat diaplikasikan ke kulit atau membran mukus tertentu untuk tujuan

protektif, terapetik atau profilaksis, terutama jika tidak diperlukan efek oklusif . Basis

krim air dalam minyak adalah tipe yang dibuat menggunakan emulgator alami,

seperti beexwax (lemak lebah), alkohol wol atau lemak wol (lemak domba). Basis-

basis ini memiliki sifat emolien yang baik, basis ini memiliki karakter seperti putih,

transparan, dan sedikit kaku dan basis krim minyak dalam air merupakan tipe yang

dibuat menggunakan lemak sintetik, seperti macrogol dan cetamagrocol. Basis-basis

ini merupakan basis terbaik yang digunakan untuk mempercepat penetrasi obat. Basis

ini memiliki karakter tipis, putih, dan konsistensi yang halus (Langley dan Belcher,

2014).
5

B. Syarat Pengujian Krim

1. Persyaratan pengujian krim berdasarkan Farmakope Indonesia Edisi III (1979)

adalah sebagai berikut:

a. Uji organoleptik

Uji organoleptik atau pemerian memuat mengenai sifat zat yang diuraikan

meliputi wujud, rupa, warna, rasa, dan bau. Berguna untuk membantu

pemeriksaan pendahuluan dalam pengujian.

b. Uji homogenitas

Jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan tranparan lain yang cocok,

harus menunjukkan susunan yang homogen.

2. Uji daya serap

Untuk menentukan angka air, basis diaduk terus-menerus pada saat air

ditambahkan, titik akhir dicapai saat air yang di tambahkan tidak dapat diserap

lagi oleh basis (Lachman, dkk. 1994).

3. Uji ukuran partikel

Distribusi ukuran partikel atau uji ukuran partikel ditentukan secara mikroskopik

(Lachman, dkk. 1994).


6

C. Kulit

Kulit merupakan pelindung dari berbagai macam gangguan dan ransangan

luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui sejumlah mekanisme biologis, seperti

pembentukan lapisan tanduk secara terus-menerus, respirasi dan pengaturan suhu

tubuh, produksi sebum dan keringat, dan pembentukan pigmen melanin, sebagai

peraba dan perasa, serta pertahanan terhadap tekanan dan infeksi dari luar

(Tranggono dan Latifa, 2007)

D. Ekstrak

1. Ekstrak

Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia

nabati atau hewani menurut cara yang cocok, diluar pengaruh cahaya matahari

langsung. Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk (Depkes, 1979).

2. Ekstraksi

Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat atau beberapa dari suatu padatan atau

cairan dengan bantuan pelarut. Metode ekstraksi di bagi menjadi dua yaitu cara

dingin dan cara panas. Cara dingin menggunakan metode ekstraksi maserasi dan

perkolasi serta cara panas mengunakan metode ekstraksi refluk dan soxhletasi

(Depkes, 1985).

Tujuan utama ekstraksi ialah mendapatkan atau memisahkan sebanyak mungkin

zat-zat yang memiliki pengobatan (concentrata) dari zat-zat yang tidak berfaedah
7

agar lebih mudah dipergunakan dan disimpan dibandingkan simplisia asal, dan

tujuan pengobatannya lebih terjamin (Syamsuni, 2006).

3. Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan beberapa kali

pengocokan atau pengadukan pada suhu kamar (Depkes, 1985). Pembuatan

maserasi kecuali dinyatakan lain, lakukan sebagai berikut: Masukkan 10 bagian

simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok ke dalam

sebuah bejana, tuangi dengan 75 bagian cairan penyari, tutup, biarkan selama 5

hari terlindung dari cahaya sambil sering diaduk, serkai, peras, cuci ampas dengan

cairan penyari secukupnya hingga di peroleh 100 bagian. Pindahkan ke dalam

bejana tertutup, biarkan di tempat sejuk, terlindung dari cahaya, selama 2 hari.

Enap tuangkan atau saring (Depkes, 1979).


8

E. Uraian tanaman

1. Klasifikasi Tanaman Pepaya

Gambar 1. Tanaman Pepaya Gambar 2. Daun Pepaya


(Anonim, 2012) (Anonim, 2015)

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub-divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Caricales

Famili : Caricaceae

Genus : Carica

Spesies : Carica papaya L (Rukmana, 1995)


9

2. Morfologi

a. Jenis Bunga

Berdasarkan jenis bunga yang dimiliki, tanaman pepaya dapat dibedakan

menjadi 3 jenis yaitu tanaman pepaya betina, tanaman pepaya jantan, dan

tanaman pepaya sempurna.

b. Sistem Perakaran

Tanaman pepaya memiliki sistem perakaran yang berupa akar tunggang dan

akar cabang yang tumbuh mendatar ke semua arah pada ke dalaman 1 m atau

lebih dan menyebar sekitar 60 cm - 150 cm atau lebih dari pusat batang.

c. Batang

Batang tanaman pepaya berbentuk bulat lurus, beruas-ruas, berongga di

bagian tengah dan tidak berkayu (Suprapti, 2005)

d. Daun

Daun pepaya bertulang menjalar (Palmineus) dengan warna hijau muda pada

bagian bawahnya .

e. Bunga

Tanaman pepaya memiliki tiga jenis bunga sebagai berikut

1) Bunga betina (Pestitate)

2) Bunga betina tidak memiliki benang sari, bentuk buah yang dihasilkan

bulat atau bulat telur dengan tepi yang tidak rata.

3) Bunga Jantan

Bunga jantan tidak dapat menghasilkan buah sendiri


10

4) Bunga Sempurna (Hermaprodite)

Bunga sempurna terdapat putik, bakal buah dan benang sari. Bentuk buah

yang dihasilkan pada umumnya bulat panjang/lonjong.

3. Syarat Tumbuh

Tanaman pepaya dapat tumbuh di daerah yang memiliki ketinggian 0m-1500m di

atas permukaan laut (dpl), daerah yang baik untuk berproduksi tanaman pepaya

adalah memiliki persyaratan tumbuh yaitu memiliki ketinggian 0m-700m dpl,

memiliki suhu udara 22°C- 26°C, memiliki curah hujan 1.000mm-1500mm/tahun,

dan merupakan tempat yang terbuka dan mendapatkan sinar matahari secara

penuh. Tanaman Pepaya dapat tumbuh juga pada jenis tanah yang subur, gembur,

banyak mengandung humus, serta memiliki drainase yang baik dan derajat

keasaman (pH) 6-7.

4. Perbanyakan

Perbanyakan dilakukan dengan bibit tanaman pepaya berupa biji-biji yang

disemaikan. Biji yang digunakan sebgai bibit dapat dibeli atau di siapkan sendiri

dari buah yang masak dipohon dan berasal dari varietas yang unggul (Suprapti,

2005).

5. Komposisi Kimia

Daun pepaya mengandung enzim papain, alkaloid karpain dan pseudokarpain,

glikosida, dan saponin. Akar pepaya mengandung alkaloid, saponin, polifenol,

dan flavonoid. Biji pepaya mengandung alkaloid glukotropaelin dan karpain.

Buah pepaya mengandung vitamin A dan C (Latief, 2014). Daun muda atau daun
11

pada bagian pucuk mengandung senyawa aktif dalam kondisi tinggi, sehingga

mempunyai mutu yang terbaik (Depkes, 1985). Senyawa alkaloid karpein yang

terkandung dalam daun pepaya berkhasiat sebagai anti amuba dan bakteri serta

memiliki aktivitas farmakologi yang dapat dibandingkan dengan efek digitalis

(Wagner dan wolff, 1976)

F. Uraian bahan

1. Asam stearat (Depkes, 1979)

Nama resmi : Acidum Stearicum

Nama lain : Asam stearat

Pemerian : Zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur;

putih atau kuning pucat; mirip lemak lilin.

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air; larut dalam 20 bagian etanol

(95%), dalam 2 bagian kloroform P dan dalam 3 bagian eter

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

Kegunaan : Sebagai zat pengemulsi

2. Setil alkohol (Depkes, 1995)

Nama resmi : Alcoholum Cetylicum

Nama lain : Setil alkohol

Pemerian : Serpihan putih, licin, granul atau kubus, putih; bau khas

lemah; rasa lemah.


12

Kelarutan : Tidak larut dalam air; larut dalam etanol dan dalam eter,

kelarutan bertambah dengan naiknya suhu.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

Kegunaan : Sebagai zat pengemulsi

3. Gliseril monostearat (Depkes, 1980)

Nama resmi : Gliseril monostearat

Nama lain : Self- emulsying glyceryl monostearat

Pemerian : Lemak padat mirip lilin; warna putih hingga cokelat

muda; bau lemah, khas lemak.

Kelarutan : Dapat terdispersi dalam air panas; larut dalam etanol mutlak

P panas, dalam parafin cair P panas. Dalam minyak nabati

panas pada kadar lebih rendah dari 20% b/v larutan menjadi

keruh

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan : Sebagai zat pengemulsi

4. Trietanolamin (Depkes, 1979)

Nama resmi : Triaethanolaminum

Nama lain : Trietanolamina

Pemerian : Cairan kental; tidak berwarna hingga kuning pucat;

bau lemah mirip ammonia; higroskopik.

Kelarutan : Mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%) P;

larut dalam kloroform P.


13

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya.

Kegunaan : Sebagai zat pengemulsi

5. Mineral oil (Depkes, 1979)

Nama resmi : Parafin Liquidum

Nama lain : Parafin cair, mineral oil

Pemerian : Cairan kental, transparan, tidak berfluoresensi; tidak

berwarna hampir tidak berbau; hampir tidak mempunyai

rasa.

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95 %) P;

larut dalam kloroform P dan dalam eter P.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.

Kegunaan : Sebagai zat pengemulsi

6. Gliserin (Depkes, 1995)

Nama resmi : Glycerolum

Nama lain : Gliserin

Pemerian : Cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna; rasa

manis; hanya boleh berbau khas.

Kelarutan : Dapat bercampur dengan air dan dengan etanol, tidak

larut dalam klorofom, dalam eter, dalam minyak lemak

dan dalam minyak menguap.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.

Kegunaan : Sebagai humektan


14

7. Nipagin (Depkes, 1979)

Nama resmi : Methylis Parabenum

Nama lain : Metil Paraben, Nipagin

Pemerian : Serbuk hablur halus; putih; hampir tidak berbau; tidak

mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa

tebal.

Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih,

dalam 3,5 bagian etanol (95 %) P, dan dalam 3 bagian aseton

P; mudah larut dalam eter.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya.

Kegunaan : Sebagai zat pengawet

8. Nipasol (Depkes, 1979)

Nama resmi : Propylis Parabenum

Nama lain : Propil Paraben, Nipasol

Pemerian : Serbuk hablur putih; hampir tidak berbau; tidak berasa.

Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air; larut dalam 3,5 bagian etanol

(95%) P, dalam 3 bagia aseton, dalam 140 bagian gliserol P

dan dalam 40 bagian minyak lemak mudah larut dalam

larutan alkali hidroksida

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

Kegunaan : Sebagai zat pengawet


15

9. Asam askorbat (Depkes, 1979)

Nama resmi : Acidum Ascorbicum

Nama lain : Asam askorbat, Vitamin C

Pemerian : Serbuk atau hablur; putih atu agak kuning; tidak berbau

rasa asam. Oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi gelap.

Dalam keadaan kering, mantap diudara dalam larutan cepat

teroksidasi.

Kelarutan : Mudah larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol

(95%) P; Praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam

eter P dan dalam benzen P.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya

Kegunaan : Sebagai antioksidan.


16

G. Kerangka Konsep

Tanaman obat

Produk Kosmetik

Kosmetik

Bahan Alam Bahan Kimia

Kosmetik Kosmetik
Ekstrak Daun Pepaya

Kosmetik
Dibuat Krim Anti Jerawat

Kosmetik
Pengujian Krim Anti
Jerawat:

1. Uji organoleptik
2. Uji homogenitas
3. Uji daya serap
4. Uji ukuran partikel

Memenuhi Syarat
17

BAB III. METODELOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian yang digunakan bersifat deskriptif dilakukan di Laboratorium.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmasetika Jurusan Farmasi, Politeknik

Kesehatan Kementrian Kesehatan Manado.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei -Juni 2016

C. Definisi Operasional

1. Ekstrak adalah ekstrak kental yang diperoleh dari daun pepaya muda

menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol (95 %) diuapkan pada

rotavapor dan dipekatkan di atas Waterbath.

2. Krim Anti Jerawat adalah krim yang berasal dari ekstrak daun pepaya dengan

basis minyak dalam air, diformulasikan untuk kulit wajah sebagai pengobatan

jerawat serta memenuhi persyaratan sediaan krim.


18

D. Sampel

Daun pepaya yang digunakan yaitu daun pepaya yang tumbuh pada bagian

pucuk tanaman pepaya, yang diambil dari Desa Laikit Kecamatan Dimembe,

Kabupaten Minahasa Utara, Manado.

E. Instrumen Penelitian

1. Alat

a. Batang pengaduk

b. Cawan

c. Gelas ukur

d. Rotavapor

e. Termometer

f. Timbangan

g. Toples

h. Wadah

i. Waterbath

2. Bahan

a. Asam stearat

b. Setil alkohol

c. Gliseril monostearat

d. Trietanolamin

e. Mineral oil
19

f. Gliserin

g. Asam askorbat

h. Nipagin

i. Nipasol

j. Air

F. Jalan penelitian/ Prosedur kerja

1. Pengolahan Sampel

a. Daun pepaya dibersihkan dengan cara dicuci bersih dengan air mengalir.

b. Daun pepaya yang telah dibersihkan, dirajang dan dikeringkan dengan cara

diangin-anginkan tanpa terkena sinar matahari langsung kemudian

dihaluskan dengan menggunakan blender.

G. Acuan formula (Keithler, 1956)

Stearic Acid 12 %

Cetyl alkohol 2%

Glyceril monostearat 6%

Mineral oil 1%

Glycerin 2%

Triethanolamin 0,6 %

Water 76,4 %
20

H. Rancangan formula

1. Ekstrak daun pepaya 10 %

2. Basis Krim 90 %
90
a. Asam stearat 𝑥 12 = 10,8 %
100

90
b. Setil alkohol 𝑥 2 = 1,8 %
100

90
c. Gliseril monostearat 100
𝑥 6 = 5,4 %

90
d. Mineral oil 𝑥1 = 0,9 %
100

90
e. Gliserin 𝑥2 = 1,8 %
100

90
f. Trietanolamin 𝑥 0,6 = 0,54 %
100

g. Asam askorbat 0,1 %

h. Nipagin 0,18 %

i. Nipasol 0,05 %

j. Air 68,43 %

I. Alasan Penambahan

1. Ekstrak daun papaya

Ekstrak daun pepaya dapat mencegah infeksi sekunder dari bakteri

Staphylococcus epidermis (Ardina, 2007).


21

2. Asam stearat

Asam stearat digunakan dalam krim yang basisnya dapat dicuci dengan

air, sebagai pengemulsi untuk memperoleh konsistensi krim serta untuk

memperoleh efek yang tidak menyilaukan pada kulit (Lachman dkk, 1994).

3. Setil alkohol

Setil alkohol dapat membentuk massa krim dan juga meningkatkan

kosentrasi krim serta menambah rasa halus dan licin. Kosentrasi yang digunakan

melebihi dari 1-2 % akan dapat menyebabkan pengerasan krim (Wade dan

Weller, 1994).

4. Gliseril monostearat

Pengemulsi yang memiliki sifat emolient yang sangat baik. Dalam

kosentrasi yang kecil, dapat dianggap sebagai humektan yang mencegah

kehilangan air yang dapat menyebabkan volume atau jumlah krim berkurang

selama penyimpanan(Wade dan Weller, 1994).

5. Mineral oil

Digunakan untuk membentuk viskositas krim yang diinginkan, juga dapat

memberikan rasa halus atau licin pada saat pemakaian (Keithler, 1956).

6. Gliserin

Gliserin dapat mencegah krim menjadi kering serta memperbaiki

konsistensi mutu terhapusnya krim jika digunakan pada kulit sehingga

memungkinkan krim dapat menyebar tanpa digosok (Lachman dkk, 1994).


22

7. Trietanolamin

Merupakan emulsifying agent membentuk campuran yang baik dan stabil

(Wade dan Weller, 1994).

8. Asam askorbat

Asam askorbat atau vitamin C merupakan antioksidan alami dan dapat

digunakan juga sebagai anti inflamasi (Sadick dkk, 2010) Pemilihan antioksidan

didasarkan pada beberapa faktor, yaitu: toksisitas, iritasi, potensi, tercampurkan,

tidak menimbulkan bau yang tidak diinginkan, perubahan warna, kelarutan dan

kestabilan (Anwar, 2012). Kosentrasi asam askorbat yang digunakan yaitu 0,01-

0,1 % (Rowe dkk, 2006).

9. Nipagin dan nipasol

Nipagin dan nipasol merupakan zat pengawet yang ditambahkan dan

dimaksudkan untuk meningkatkan stabilitas dari suatu sediaan dengan mencegah

terjadinya pertumbuhan mikroorganisme (Anwar, 2012). Bahan pengawet yang

sering digunakan umumnya metil paraben (nipagin) 0,12 %-0,18 %, propil

paraben (nipasol) 0,02 %-0,05 % (Syamsuni, 2006).


23

J. Penimbangan

Dibuat dalam 6 wadah ( 6 x 25g = 150g)

a. Ekstrak daun pepaya : 10/100 x 150g = 15g

b. Asam stearat : 10,8/100 x 150g = 16,2g +(16,2 x 20%)

= 19,53g

c. Setil alkohol : 1,8/100 x 150g = 2,7g +(2,7 x 20%)

= 3,24g

d. Gliseril monostearat : 5,4/100 x 150g = 8,1g +(8,1 x 20%)

= 9,72g

e. Mineral oil : 0,9/100 x 150g =1,35g +(1,35 x 20%)

=1,62g

f. Gliserin : 1,8/100 x 150g = 2,7g +(2,7 x 20%)

= 3,24g

g. Trietanolamin : 0,54/100 x 150 = 0,81 g + (0,81x 20 %)

= 0,972 g

h. Asam askorbat : 0,1/100 x 150 g = 0,15 g+(0,15 x 20 %)

= 0,18 g

i. Nipagin : 0,18/100 x 150 g = 0,27 g +(0,27 x 20 %)

= 0,324 g

j. Nipasol :0,05/100 x 150 g = 0.075 g +(0,075 x

20 %) = 0,09 g
24

k. Air : 68,43/100 x 150 g = 102,645 ml +

(102,645 x 20 %) = 123,174 ml

= 123 ml + 4 tetes

K. Cara Kerja

1. Pembuatan ekstrak daun pepaya

a. Simplisia di timbang sebanyak 100 g dan dimasukkan ke dalam toples

kemudian dimaserasi dengan menggunakan pelarut etanol (95 %) sebanyak

750 ml sampai serbuk simplisia terendam seluruhnya, ditutup dan dibiarkan

selama 5 hari sambil sesekali diaduk, maserat kemudian disaring.

b. Ampas kemudian dibilas menggunakan etanol (95 %) ke dalam toples sampai

memperoleh maserat 1000 ml. Wadah ditutup dan biarkan ditempat sejuk,

terlindung dari sinar matahari selama 2 hari.

c. Maserat disaring kemudian diuapkan pelarutnya menggunakan rotavapor.

d. Maserat dipekatkan di atas penangas air hingga diperoleh ekstrak kental.

2. Pembuatan sediaan krim anti jerawat

a. Alat dan bahan disiapkan

b. Di timbang bahan sesuai dengan perhitungan penimbangan

c. Asam stearat, setil alkohol, mineral oil, nipasol dimasukkan ke dalam cawan

penguap, lalu dileburkan di atas waterbath pada suhu 75°C (fase minyak)
25

d. Leburkan juga gliseril monostearat, gliserin, nipagin dan air di atas

Waterbath pada suhu 75°C (fase air)

e. Setelah kedua fase (fase minyak dan air) suhunya sama, ditambahkan

trietanolamin ke dalam fase air, kemudian dimasukkan fase cair ke dalam fase

minyak aduk sampai homogen.

f. Krim diangkat lalu diaduk sampai dingin, ditambahkan asam askorbat aduk

sampai tercampur seluruhnya .

g. Basis krim ditimbang lalu dimasukkan ekstrak daun pepaya, aduk kembali

sampai homogen.

h. Krim ditimbang sebanyak 25 g dan masukkan ke dalam wadah.

i. Kemudian krim dilanjutkan dengan pengujian sediaan krim

3. Pengujian krim

a. Uji organoleptik

Dilihat secara langsung bau, bentuk, warna, dari sediaan krim.

b. Uji homogenitas

Pengujian dilakukan dengan cara mengambil sediaan krim dari wadah bagian

atas, tengah dan bawah kemudian dioleskan pada objek glass, dan harus

menunjukkan susunan yang homogen. Sediaan krim yang homogen adalah

sediaan krim dimana dasar krim dan bahan-bahan lainnya tercampur rata

dengan baik.
26

c. Uji daya serap

Timbang 1 gram sediaan krim kemudian ditetesi air (jumlah air dihitung)

sambil diaduk sampai dasar krim memisah dengan air (krim tidak mampu

menyerap air lagi). Daya serap maksimum dihitung dari jumlah air yang dapat

diserap oleh sediaan krim, sampai air tidak dapat bercampur dengan sediaan

krim lagi (Lachman, dkk. 1994).

d. Uji ukuran partikel

Membandingkan ukuran partikel krim dengan sediaan krim yang ada di

pasaran dengan cara melihat dibawah mikroskop (Lachman, dkk. 1994).


27

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Pembuatan krim dari ekstrak daun pepaya

Berdasarkan penelitian, daun pepaya dikeringkan dengan cara diangin-anginkan

kemudian dihaluskan dengan menggunakan blender, di timbang 100 g daun

pepaya lalu di maserasi menggunakan pelarut etanol 95 % sebanyak 1000 ml.

Proses maserasi dilakukan dengan sesekali diaduk selama 5 hari, kemudian di

rendam selama 2 hari dan disaring. Ekstrak kental daun pepaya diperoleh 10,2 g

dengan rendemen ekstrak terhadap semplisia 10 %.

a b c

Gambar 3. Pembuatan ekstrak daun pepaya (a) Daun pepaya segar, (b) Maserasi,
(c) Ekstrak kental
28

2. Uji organoleptik

Gambar 4. Hasil organoleptik

Dari pengujian organoleptik diperoleh

Bentuk : Setengah padat

Bau : Bau ekstrak daun pepaya

Warna : Hijau Keabuan

3. Uji homogenitas

Pengujian dilakukan dengan cara mengambil sediaan krim dari wadah pada

bagian atas, tengah dan bawah kemudian dioleskan pada objek gelas. Hasil

pengujian menunjukkan susunan yang homogen.

a b c

Gambar 5. Hasil Uji homogenitas (a) bagian atas, (b) bagian tengah, (c) bagian
bawah
29

4. Uji daya serap

Krim di timbang 1 g lalu ditetesi dengan air, hasil penelitian menunjukkan bahwa

krim ekstrak tercampur baik dengan air sehingga air dan minyak tidak terpisah.

Gambar 6. Hasil Uji daya serap


30

5. Uji ukuran partikel

Diambil sedikit krim ekstrak daun pepaya dan krim pembanding yaitu Nivea

Soft,masing-masing dioleskan pada kaca objek dan diencerkan dengan air

kemudian dilihat pada mikroskop perbandingan ukuran partikel kedua krim

tersebut. Hasil yang dilihat dari mikroskop ukuran partikel dari krim pembanding

Nivea Soft lebih kecil dari krim ekstrak daun pepaya.

a b

Gambar 7. Hasil Uji ukuran partikel (a) Krim ekstrak daun pepaya, (b) Krim
pembanding Nivea soft.
31

B. Pembahasan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan proses penyarian zat aktif dari daun

pepaya digunakan metode maserasi, metode ini dipilih didasarkan dari kegunaannya

yaitu dapat menyari simplisia yang mengandung komponen kimia dan mudah larut

dalam cairan penyari serta menggunakan peralatan yang sederhana (Depkes, 1985).

Pelarut yang digunakan adalah etanol 95 % karena umumnya etanol adalah pelarut

yang baik untuk alkaloid.

Pembuatan krim dari ekstrak daun pepaya sebagai zat berkhasiat untuk

pengobatan jerawat menggunakan basis krim sebanyak 90 % dan ekstrak daun

pepaya sebanyak 10 %. Basis krim mempunyai komposisi yaitu Asam stearat, Setil

alkohol, Gliseril monostearat , Trietanolamin, Mineral oil dan Gliserin. Krim ekstrak

daun pepaya memiliki tipe krim minyak dalam air, tipe ini digunakan untuk

mempercepat penetrasi obat pada kulit. Asam stearat dan Trietanolamin digunakan

sebagai emulgator, emulgator merupakan zat yang mampu mengadsorbsi fase air

serta menurunkan tegangan antar muka, sehingga fase air dan fase minyak dapat

tercampur. Gliserin monostearat merupakan emolien yang berfungsi merubah sifat

pembawa atau kondisi kulit untuk meningkatkan penetrasi zat aktif yang bertujuan

lokal maupun sistemik (Anwar, 2012). Setil alkohol dapat membentuk massa krim

dan juga meningkatkan kosentrasi krim serta menambah rasa halus dan licin(Wade

dan Weller, 1994). Gliserin dapat mencegah krim menjadi kering serta memperbaiki

konsistensi mutu terhapusnya krim jika digunakan pada kulit (Lachman dkk, 1994).
32

Mineral oil digunakan untuk membentuk viskositas krim yang diinginkan (Keithler,

1956). Basis-basis ini bertujuan agar zat berkhasiat dapat diabsorbsi dengan baik pada

kulit.

Bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan krim ekstrak daun pepaya

ini adalah Asam askorbat, Nipagin, dan Nipasol. Asam askorbat digunakan sebagai

antioksidan yang didasarkan pada beberapa faktor, yaitu: toksisitas, iritasi, potensi,

tercampurkan, tidak menimbulkan bau yang tidak diinginkan, perubahan warna,

kelarutan dan kestabilan. Nipagin dan nipasol merupakan zat pengawet yang

dimaksudkan untuk meningkatkan stabilitas dari suatu sediaan dengan mencegah

terjadinya pertumbuhan mikroorganisme (Anwar, 2012).

Uji organoleptik merupakan pengujian terhadap penampilan fisik dari sediaan

krim yang meliputi bentuk sediaan, bau dan warna. Bentuk sediaan krim yaitu

setengah padat, memberikan bau ekstrak daun pepaya dan memiliki warna hijau

keabuan yang merupakan hasil dari ekstrak daun pepaya. Hasil pegujian

menunjukkan bahwa krim ekstrak daun pepaya telah memenuhi persyaratan.

Sediaan krim yang homogen adalah sediaan krim yang tidak terjadi

penggumpalan dan dapat tercampur merata antara basis krim, bahan aktif dan bahan

tambahan. Pada pengujian homogenitas sediaan krim ekstrak daun pepaya

menunjukkan susunan sediaan yang homogen dilihat dari hasil yang diolesi sediaan

krim, sehingga pada pengujian homogenitas telah memenuhi persyaratan.

Penelitian ini juga dilakukan uji daya serap, sediaan krim harus mencapai titik

akhir yaitu sampai air tidak dapat menyerap sediaan krim lagi. Hasil penelitian
33

menunjukkan bahwa krim ekstrak tercampur dengan baik dengan air sehingga tidak

mencapai titik akhir (air dan minyak tidak terpisah). Hal ini disebabkan karena krim

ekstrak daun pepaya memiliki tipe krim minyak dalam air.

Pengujian ukuran partikel dilakukan dengan membandingkan ukuran partikel

krim ekstrak daun pepaya dan krim pembanding yang dijual dipasaran. Krim

pembanding yang digunakan yaitu Nivea Soft. Berdasarkan hasil pengamatan terlihat

ukuran partikel pada krim pembanding lebih kecil daripada krim ekstrak daun

pepaya. Semakin kecil ukuran partikel suatu zat dalam sediaan krim maka semakin

cepat bahan obat masuk atau terabsorsi kedalam kulit sehingga dapat menghasilkan

efek yang diinginkan.


34

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian krim ekstrak daun pepaya telah dilakukan

beberapa pengujian yaitu uji organoleptik, uji homogenitas, uji daya serap dan uji

ukuran partikel sehingga hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa krim dari ekstrak

daun pepaya dapat dibuat menjadi sediaan krim yang memenuhi syarat pengujian

krim.

B. Saran

Untuk peneliti selanjutnya perlu dilakukan pengembangan dalam pemanfaatan

daun pepaya di bidang kosmetik .