Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berfikir kritis merupakan konsep dasar yang terdiri dari konsep berfikir
yang berhubungan dengan proses belajar dan kritis itu sendiri berbagai sudut
pandang selain itu juga membahas tentang komponen berfikir kritis dalam
kebidanan yang di dalamnya dipelajari karakteristik, sikap dan standar berfikir
kritis, analisis pertanyaan kritis, hubungan pemecahan masalah, pengambilan
keputusaan dan kreatifitas dalam berfikir kritis serta factor-faktor yang
mempengaruhi berfikir kritis.
Bidan sebagai bagian dari pemberi pelayanan kesehatan, yaitu memberi
asuhan kebidanan dengan menggunakan proses kebidanan akan selalu dituntut
untuk berfikir kritis dalam berbagai situasi. Penerapan berfikir kritis dalam
proses kebidanan dengan kasus nyata yang akan memberi gambaran kepada
bidan tentang pemberian asuhan kebidanan yang komprehensif dan bermutu.
Seorang yang berfikir dengan cara kreatif akan melihat setiap masalah dengan
sudut yang selalu berbeda meskipun obyeknya sama, sehingga dapat dikatakan,
dengan tersedianya pengetahuan baru, seorang profesional harus selalu
melakukan sesuatu dan mencari apa yang paling efektif dan ilmiah dan
memberikan hasil yang lebih baik untuk kesejahteraan diri maupun orang lain.
Dalam proses memberikan asuhan kebidanan dibutuhkan keahlian bidan
untuk dapat melakukan critical thinking (berfikir kritis). Proses critical thinking
(berfikir kritis) merupakan kerangka dasar bidan dalam memberikan asuhan
kebidanan, dalam bingkai manajemen kebidanan. Sehingga, apabila bidan
memberikan asuhan kebidanan kepada klien dengan menerapkan prinsip-
prinsip manajemen kebidanan dengan sistematis dan terpola, maka bidan
tersebut telah menerapkan proses critical thinking (berfikir kritis).
Melaksanakan post natal care sesuai dengan program yang telah
disepakati sebagai upaya pencegahan dan penanganan secara dini penyulit dan
kegawatdaruratan yang mungkin terjadi pada saat postnatal, dengan
menerapkan manajemen kebidanan, sehingga diharapkan proses postnatal

1
dapat berjalan dengan baik, ibu dapat menjalani proses postnatal dengan sehat
dan selamat.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan critical thinking dalam kebidanan?
2. Bagaimana penerapan critical thinking dalam asuhan masa nifas?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui yang dimaksud dengan critical thinking dalam kebidanan.
2. Mengetahui penerapan critical thinking dalam asuhan masa nifas.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Critical Thinking
1. Definisi
Bertfikir kritis adalah suatu proses dimana seseorang atau individu
dituntut untuk menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi untuk
membuat sebuah penilaian atau keputusan berdasarkan kemampuan,
menerapkan ilmu pengetahuan dan pengalaman (Pery dan Potter, 2005).
Kemampuan memberi alasan secara terorganisasi dan mengevaluasi
kualitas suatu alasan secara sistematis (Hassoubah, 2007).
Proses berfikir secara aktif dalam menerapkan, menganalisis,
mensintesis, dan mengevaluasi informasi yang dikumpulkan dan atau
dihasilkan melalui observasi, pengalaman, refleksi, penalaran, atau
komunikasi, sebagai acuan dalam meyakini suatu konsep dan atau dalam
melakukan tindakan (Elder, 2008).
Proses berpikir ini dilakukan sepanjang waktu sejalan dengan
keterlibatan kita dalam pengalaman baru dan menerapkan pengetahuan yang
kita miliki, kita menjadi lebih mampu untuk membentuk asumsi, ide-ide dan
membuat kesimpulan yang valid, semua proses tersebut tidak terlepas dari
sebuah proses berpikir dan belajar. Berfikir kritis dalam kebidanan adalah
komersial untuk kebidanan professional karena cara berfikir ini terdiri dari
atas pendekatan holisik untuk pemecahan masalah.

2. Kunci Utama Critical Thinking


Singkatnya, tiga kunci utama untuk dapat berfikir kritis: RED
(Recognize assumptions, Evaluate arguments dan Draw conclusions), yaitu
mengenali masalah, menilai beberapa pendapat, dan menarik kesimpulan.
a. Mengenali masalah
Kemampuan untuk menguraikan suatu materi sehingga mudah untuk
dipahami.

3
b. Menilai beberapa pendapat pendapat
Kemampuan untuk mengintegrasikan beberapa informasi sehingga
membentuk sesuatu yang baru.
c. Menarik kesimpulan
Kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu, sesuai tujuan
yang telah ditentukan. Penilaian dilakukan dengan member batasan
criteria yang digunakan.
Dalam menyimpulkan hasil pemikiran kritis, diperlukan upaya gigih
untuk memeriksa setiap keyakinan atau pemahaman akan pengetahuan
berdasarkan dukungan bukti ilmiah (evidence based) yang mendukung
kecenderungan pengambilan kesimpulan tersebut.

3. Proses Critical Thinking


Proses berfikir kritis memerlukan komunikasi yang efektif dan
kemampuan pemecahan masalah serta komitmen untuk mengatasi sikap
egois dan tertutup, dengan prosedur:
a. Mengenali masalah untuk menemukan cara-cara yang bisa diterapkan
guna memecahkan masalah tersebut
b. Memahami pentingnya prioritas dan urutan prioritas dalam pemecahan
masalah
c. Mengumpulkan dan menyusun informasi yang terkait (relevan)
d. Mengenali asumsi yang tak tertulis dan nilai-nilai
e. Memahami dan menggunakan bahasa dengan akurat, jelas, dan tajam
f. Menafsirkan data untuk menilai bukti dan mengevaluasi argument/
pendapat
g. Menyadari keberadaan hubungan logis antara proposisi
h. Menarik kesimpulan dan generalisasi yang dibenarkan
i. Menguji kesimpulan dan generalisasi masalah
j. Merekonstruksi pola yang telah diyakini atas dasar pengalaman yang
lebih luas
k. Memberikan penilaian yang akurat tentang hal-hal tertentu dan kualitas
dalam kehidupan sehari-hari.

4
4. Manfaat Dari Proses Critical Thinking
Dengan adanya proses berfikir kritis diharapkan dapat:
a. Menimbulkan pertanyaan penting terkait topik/masalah yang sedang
dipikirkan, kemudian dapat merumuskan masalah dengan jelas dan tepat
b. Mengumpulkan dan menilai informasi yang relevan, menggunakan ide-
ide abstrak untuk menafsirkan secara efektif terkait kesimpulan yang
beralasan dan solusi pemecahan masalah, menguji alternatif pemecahan
masalah terhadap kriteria dan standar yang relevan
c. Berpikir terbuka dalam sistem pemikiran alternatif, mampu mengakui
dan menilai setiap permasalahan dengan asumsi yang beralasan, dapat
menimbulkan implikasi, dan konsekuensi praktis
d. Berkomunikasi secara efektif dengan orang lain dalam mencari tahu
solusi untuk masalah yang kompleks.

B. Penerapan Critical Thinking Pada Masa Nifas


Dalam proses memberikan asuhan kebidanan dibutuhkan keahlian bidan
untuk dapat melakukan critical thinking (berfikir kritis). Proses critical thinking
(berfikir kritis) merupakan kerangka dasar bidan dalam memberikan asuhan
kebidanan, dalam bingkai manajemen kebidanan. Sehingga, apabila bidan
memberikan asuhan kebidanan kepada klien dengan menerapkan prinsip-
prinsip manajemen kebidanan dengan sistematis dan terpola, maka bidan
tersebut telah menerapkan proses critical thinking (berfikir kritis).
Melaksanakan post natal care sesuai dengan program yang telah
disepakati sebagai upaya pencegahan dan penanganan secara dini penyulit dan
kegawatdaruratan yang mungkin terjadi pada saat postnatal, dengan
menerapkan manajemen kebidanan, sehingga diharapkan proses postnatal
dapat berjalan dengan baik, ibu dapat menjalani proses postnatal dengan sehat
dan selamat.

1. Kasus
Ny. Reni unur 24 tahun pasca melahirkan anak keduanya 1 jam yang
lalu, ibu mengeluh luka jahitan episiotomi jalan lahirnya terasa nyeri.

5
Keadaan Ny. Reni sehat. Dari hasil pemeriksaan TFU 2 jari dibawah pusat,
terlihat pengeluaran lochea rubra, area jahitan luka jalan lahir tampak
kemerahan, perineum terasa nyeri saat disentuh. Pada pemeriksaan tanda-
tanda vital didapatkan tekanan darah 110/70 mmhg, sushu 37ᵒC, respirasi 20
x/menit dan nadi 80 x/menit.

2. Masalah
Nyeri pada area luka jahitan perineum.

3. Solusi
a. Melakukan perawatan luka perineum
b. Menjaga personal hygiene
c. Mengonsumsi makanan yang bergizi terutama tinggi protein
d. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik dan atibiotik
e. Salep kayumanis (Cinnamomum zeylanicum)

4. Bukti-bukti
a. Melakukan teknik relaksasi
Teknik relaksasi napas dapat mengurangi ketegangan otot dan
memberikan rasa nyaman bagi ibu. Relaksasi merupakan metode yang
efektif untuk mengurangi nyeri dengan cara napas dalam dengan cara
mengurangi ketegangan otot, sehingga menurunkan intensitas nyeri an
meningkatkan toleransi nyeri, dengan cara mengajarkan klien untuk
menggunakan pernapasan abdomen berirama dan lambat enam sampai
Sembilan kali permenit, dan dapat mempertahankan irama yang lambat
dan konstan. Dalam keadaan kaya akan oksigen, metabolism didalam
tubuh akan berjalan dengan baik dan otak akan relaksasi sehingga impuls
nyeri yang diterima akan diolah dengan baik an diterjemahkan menjadi
persepsi nyeri yang berkurang (Mender dalam Imanah dkk, 2009)
b. Melakukan perawatan luka perineum
Perawatan luka perineum dengan melepas pembalut dengan
gerakan ke bawah mengarah ke rectum dan meletakkan pembalu tersebut

6
ke dalam kantong plastik atau tempat sampah, BAK dan BAB di toilet,
siram air bersih pada daerah kewanitaan dari depan ke belakang,
keringkan perineum denan handuk bersih atau tissue, pasang pembalut
baru, jaga agar perineum tetap bersih dan tidak lembab, cuci tangan
sebelum dan setelah melakukannya.
Menurut Rukiyah (2011), perawatan luka perineum yang dilakukan
adalah saat mandi ibu post partum melepas pembalut, kemungkinan
terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada pembalut,
maka perlu dilakukan penggantian pembalut, demikian pula pada
perineum ibu perlu dibersihkan. Kemudian saat setelah BAK dan BAB
iperlukan proses pembersihan perineum secara keseluruhan.
c. Menjaga personal hygiene
Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan
meningkatkan perasaan nyaman pada ibu. Anjurkan ibu untuk menjaga
kebersihan diri dengan cara mandi 2 kali sehari, mengganti pakaian dan
alas tempat tidur serta lingkungan dimana ibu tinggal harus tetap bersih
(Sitti, 2009).
d. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik dan atibiotik
Antibiotik berfungsi mencegah terjadinya infeksi, analgetik untuk
mengurangi rasa sakit yang dirasakan ibu.
e. Salep kayumanis (Cinnamomum zeylanicum)
Penggunaan obat-obat non steroid anti inflamasi (NSAID)
merupakan obat-obat yang umum digunakan untuk mengurangi nyeri
episiotomi, walaupun beberapa obat tersebut dilaporkan dapat
menyebabkan beberapa efek samping seperti tukak lambung. Betadine
(Yodium) juga biasa digunakan untuk mencegah infeksi dan membantu
penyembuhan luka episiotomi. Namun, berbagai penelitian menunjukkan
bahwa itu tidak memiliki efek signifikan pada pengurangan
mikroorganisme. Banyak wanita menemukan metode yang tersedia saat
ini tidak memuaskan dan mencari opsi efektif dan aman lainnya
(Mohammadi, 2014).

7
Hanya beberapa penelitian telah dilakukan pada perawatan luka
yang sangat umum ini. Beberapa penelitian telah meneliti efek dari
pengobatan herbal seperti lavender, minyak zaitun, atau curcumim pada
nyeri dan penyembuhan luka episiotomi. Namun, efek definitif dari
metode ini belum diverifikasi melalui uji klinis, dan studi yang lebih luas
masih diperlukan.
Kayu manis adalah rempah yang banyak digunakan di seluruh
dunia. Telah diuji memiliki banyak sifat termasuk anti-inflamasi,
antioksidan, dan antimikroba. Efek analgesik dan penyembuhan luka dari
ekstrak etanolnya telah diujikan pada tikus laboratorium. Juga, tidak ada
efek merugikan yang signifikan dari kayu manis telah ditemukan dalam
penelitian pada manusia (Mohammadi, 2014).
Penggunaan salep kayumanis ini dilakukan 1 jam setelah
episiotomi selesai dilakukan. Dilakukan perawatan salep kayu manis
sejumlah 2 ml yang digunakan setiap 12 jam selama 10 hari. Hasil
penelitian menunjukkan skor nyeri pada kelompok yang diberikan salep
kayu manis secara signifikan lebih rendah dibanding dengan kelompok
placebo, baik untuk nyeri maupun proses kesembuhan luka
(Mohammadi, 2014).

5. Kesimpulan
Dari kasus tersebut masalah yang ditemukan adalah nyeri pada area
jahitan luka perineum. Agar nyeri yang dirasakan ibu berkurang maka ibu
diajarkan untuk relaksasi napas dalam. Selain itu untuk mempercepat proses
penyembuhan luka dan mencegah infeksi ibu harus melakukan perawatan
perineum dengan benar dan menjaga personal hygienenya, serta jika
berkolaborasi dengan dokter akan diberikanan algesik dan antibiotik.
Alternatif lain selain analgesik dan antibiotik dengan berdasarkan evidence
base practice maka salep kayumanis dapat digunakan sebagai analgesik dan
antibiotik alami. Kayu manis dapat digunakan untuk mengurangi nyeri
perineum dan meningkatkan penyembuhan luka sayatan episiotomi

8
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bertfikir kritis adalah suatu proses dimana seseorang atau individu
dituntut untuk menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi untuk
membuat sebuah penilaian atau keputusan berdasarkan kemampuan,
menerapkan ilmu pengetahuan dan pengalaman.
Dalam proses memberikan asuhan kebidanan dibutuhkan keahlian bidan
untuk dapat melakukan critical thinking (berfikir kritis). Proses critical
thinking (berfikir kritis) merupakan kerangka dasar bidan dalam memberikan
asuhan kebidanan, dalam bingkai manajemen kebidanan.
Melaksanakan post natal care sesuai dengan program yang telah
disepakati sebagai upaya pencegahan dan penanganan secara dini penyulit dan
kegawatdaruratan yang mungkin terjadi pada saat postnatal, dengan
menerapkan manajemen kebidanan, sehingga diharapkan proses postnatal
dapat berjalan dengan baik, ibu dapat menjalani proses postnatal dengan sehat
dan selamat.
Dalam menyimpulkan hasil pemikiran kritis, diperlukan upaya gigih
untuk memeriksa setiap keyakinan atau pemahaman akan pengetahuan
berdasarkan dukungan bukti ilmiah (evidence based) yang mendukung
kecenderungan pengambilan kesimpulan tersebut.

B. Saran
Bidan sebagai pemberi layanan kesehatan akan selalu untuk selalu
berpikir kritis dalam berbagai situasi. Oleh sebab itu, setiap bidan harus dapat
berpikir kritis dalam mengambil keputusan yang tepat untuk memecahkan
masalah kebidanan.

9
DAFTAR PUSTAKA

Ai Yeyeh, Rukiyah. 2011. Asuhan Kebidanan III (Nifas). Jakarta: CV. Trans Info
Media
Elder, Linda dan Richard Paul. 2008. The Miniature Guide To Critical Thinking
“CONCEPTS & TOOLS”. The Foundation Of Critical Thinking: California
Hassoubah, I.Z. 2007. Mengasah Pikiran Kreatif dan Kritis; Disertai Ilustrasi dan
Latihan. BandunG: Nuansa Candia
Imanah, Evi Nur dkk. 2009. Pengaruh Teknik Relaksasi Terhadap Penurunan
Nyeri Luka Jahitan Perineum Pada Ibu Post Partum. Lamongan
Mohammadi, A et al. 2014. Effects of Cinnamon On Perianal Pain and Healing of
Episiotomy: A Randomized Placebo Controlled Trial. Tabriz University of
Medical Sciences, Tabriz, Iran
Perry & Potter. 2005. Fundamental Of Nursing. USA: Mosby Company
Saleha, Sitti. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba
Medika

10